Anda di halaman 1dari 22

A.

Limabh Domestik
Limbah Organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai
menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos).Kompos
merupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang,
sampah, rumput, dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya dipercepat oleh bantuan
manusia. Sampah pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah, atau pasar ikan, jenisnya
relatif seragam, sebagian besar (95%) berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani.
Pengertian di atas saya peroleh dari Wikipedia. Jika anda mencari contoh dari sampah organik
juga saya sertakan pada artikel ini , silahkan di simak di bawah ini :

Limbah organik mudah membusuk, seperti sisa makanan, sayuran, daun-daunan kering,
potongan-potongan kayu, dan sebagainya. Limbah organik terdiri atas bahan-bahan yang besifat
organik seperti dari kegiatan rumah tangga maupun kegiatan industri.

Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses yang alami. Limbah ini mempunyai
sifat kimia yang stabil sehingga zat tersebut akan mengendap kedalam tanah, dasar sungai,
danau, serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup didalamnya.

Limbah organik relatif lebih aman dibandingkan limbah anorganik dan limbah berbahaya.
Bahkan sebagian dari limbah organik tersebut ada yang dapat dimanfaatkan secara langsung.
Misalnya, ampas tahu, ampas gabah, kotoran ternak, dan eceng gondok.
Ampas Tahu. Ampas Tahu dapat digunakan sebagai bahan makanan ternak. Limbah tersebut
biasanya mengandung gizi tinggi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan hewan
ternak. Ampas Gabah. Ampas gabah dalam bentuk dalam bentuk serbuk halus (dedak) sering
dimanfaatkan peternak sebagai makanan ternak.

Kotoran ternak. Kotoran ternak bersama dedak dikenal sebagai pupuk kandang. Penggunaan
pupuk kandang telah dikenal luas oleh para petani, jauh sebelum ditemukannya pupuk buatan.
Serbuk Kayu. Serbuk kayu (serbuk gergaji) dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan dan
pembudidayaan jamur. Dalam hal ini, dicampur dengan bahan lainnya seperti dedak dan kapur.
Eceng Gondok. Eceng gondok merupakan limbah yang terdapat diperairan. Eceng gondok dapat
dimanfaatkan untuk pembuatan barang kerajinan, seperti tas.

1. Bahan-Bahan Organik Mudah Terurai (Biodegradable)


Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik
aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.

2. Yutrofikasi
Eutrofikasi adalah suatu proses di mana suatu tumbuhan tumbuh dengan sangat cepat
dibandingkan pertumbuhan yang normal. Proses ini juga sering disebut dengan blooming.
Dengan kata lain merupakan pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang
berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP)
dalam air berada dalam rentang 35-100 µg/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses
alamiah dimana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi
tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik.

 Penyebab Terjadinya Euterofikasi


Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh di
danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah
domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara pasti unsur kimiawi yang sesungguhnya
berperan besar dalam munculnya eutrofikasi ini. Melalui penelitian jangka panjang pada
berbagai danau kecil dan besar, para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor
merupakan elemen kunci di antara nutrient utama tanaman (karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor
(P)) di dalam proses eutrofikasi.

Eutrofikasi dapat dikarenakan beberapa hal di antaranya karena ulah manusia yang tidak ramah
terhadap lingkungan. Hampir 90 % disebabkan oleh aktivitas manusia di bidang pertanian. Para
petani biasanya menggunakan pestisida atau insektisida untuk memberantas hama tanaman agar
tanaman tidak rusak. Akan tetapi botol – botol bekas pestisida itu dibuang secara sembarangan
baik di sekitar lahan pertanian atau daerah irigasi. Hal inilah yang mengakibatkan pestisida dapat
berada di tempat lain yang jauh dari area pertanian karena mengikuti aliran air hingga sampai ke
sungai – sungai atau danau di sekitarnya. Mengacu pada buku Phosphorus Chemistry in
Everyday Living, manusia memang berperan besar sebagai penyumbang limbah fosfat. Secara
fisiologis, jumlah fosfat yang dikeluarkan manusia sebanding dengan jumlah yang
dikonsumsinya. Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti
rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan yang berupa bahan
organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan
mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk
padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam bentuk
padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan bentuk lainnya berada di
badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob.

 Proses Terjadinya Euterofikasi


Limbah organik kebanyakan akan mengair ke sungai, danau atau perairan lainnya melalui aliran
air hujan. Limbah organik yang masuk ke badan air yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai
(dekomposisi) oleh mikroba anaerobik atau fakultatif (BAN); dengan proses seperti pada reaksi
(3) dan (4):
COHNS + BAN è CO2 + H2S + NH3 + CH4 + produk lain + energi … ….(3)
COHNS + BAN + enerji è C5H7O2 N (sel MO baru) …..(4)
Kedua proses tersebut diatas mengungkapkan bahwa aktifitas mikroba yang hidup di bagian
badan air yang anaerob selain menghasilkan sel-sel mikroba baru juga menghasilkan senyawa-
senyawa CO2, NH3, H2S, dan CH4 serta senyawa lainnya seperti amin, PH3 dan komponen
fosfor. Asam sulfide (H2S), amin dan komponen fosfor adalah senyawa yang mengeluarkan bau
menyengat yang tidak sedap, misalnya H2S berbau busuk dan amin berbau anyir. Selain itu telah
disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu
adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk ikan.

Selain menghasilkan senyawa yang tidak bersahabat bagi lingkungan seperti tersebut diatas, hasil
dekomposisi di semua bagian badan air menghasilkan CO2 dan NH3 yang siap dipakai oleh
organisme perairan berklorofil (fitoplankton) untuk aktifitas fotosintesa; yang dapat digambarkan
sebagai reaksi.
Pengaruh pertama proses dekomposisi limbah organik di badan air aerobik adalah terjadinya
penurunan oksigen terlarut dalam badan air. Fenomena ini akan mengganggu pernafasan fauna
air seperti ikan dan udang-udangan; dengan tingkat gangguan tergantung pada tingkat penurunan
konsentrasi oksigen terlarut dan jenis serta fase fauna. Kesulitan fauna karena penurunan oksigen
terlarut sebenarnya baru dampak permulaaan, sebab jika jumlah pencemar organik dalam badan
air bertambah terus maka proses dekomposisi organik memerlukan oksigen lebih besar dan
akibatnya badan air akan mengalami deplesi oksigen bahkan bisa habis sehingga badan air
menjadi anaerob.

Pada badan air yang anaerob dekomposisi bahan organik menghasilkan gas-gas, seperti H2S,
metan dan amoniak yang bersifat racun bagi fauna seperti ikan dan udang-udangan. Seperti
penurunan oksigen terlarut; senyawa-senyawa beracun inipun dalam konsentrasi tertentu akan
dapat membunuh fauna air yang ada.bInteraksi kompleks antara nutrien, fitoplankton dan
zooplankton tersebut menyebabkan badan air yang mengalami eutrofikasi pada akhirnya akan
didominasi oleh sejenis fitoplankton tertentu yang pada umumnya tidak bisa dimakan oleh fauna
air terutama zooplankton dan ikan termasuk karena beracun.

 Dampak Eutrofikasi
Selain menurunkan konsentrasi oksigen terlarut, menghasilkan senyawa beracun dan menjadi
tempat hidup mikroba patogen yang menyengsarakan fauna air; dekomposisi juga menghasilkan
senyawa nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan. Nutrien merupakan unsur
kimia yang diperlukan alga (fitoplankton) untuk hidup dan pertumbuhannya. Sampai pada
tingkat konsentrasi tertentu, peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air akan meningkatkan
produktivitas perairan, karena nutrien yang larut dalam badan air langsung dimanfaatkan oleh
fitoplankton untuk pertumbuhannya sehingga populasi dan kelimpahannya meningkat.
Peningkatan kelimpahan fitoplankton akan diikuti dengan peningkatan kelimpahan zooplankton,
yang makanan utamanya adalah fitoplankton. Akhirnya karena fitoplankton dan zooplankton
adalah makanan utama ikan, maka kenaikan kelimpahan keduanya akan menaikan kelimpahan
(produksi) ikan dalam badan air tersebut. Akan tetapi peningkatan konsentrasi nutrien yang
berkelanjutan dalam badan air, apalagi dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan
badan air menjadi sangat subur atau eutrofik dan akan merangsang fitoplankton untuk tumbuh
dan berkembang-biak dengan pesat sehingga terjadi blooming sebagai hasil fotosintesa yang
maksimal dan menyebabkan peningkatan biomasa perairan tersebut.

Sehubungan dengan peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air, setiap jenis fitoplankton
mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkannya sehingga kecepatan tumbuh
setiap jenis fitoplankton berbeda. Selain itu setiap jenis fitoplankton juga mempunyai respon
yang berbeda terhadap perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam badan air (Kilham dan.
Fenomena ini menyebabkan komunitas fitoplankton dalam suatu badan air mempunyai struktur
dan dominasi jenis yang berbeda dengan badan air lainnya.

Selain merugikan dan mengancam keberlanjutan fauna akibat dominasi fito-plankton yang tidak
dapat dimakan dan beracun; blooming yang menghasilkan biomasa (organik) tinggi juga
merugikan fauna; karena fenomena blooming selalu diikuti dengan penurunan oksigen terlarut
secara drastis akibat pe-manfaatan oksigen yang ber lebihan untuk de-komposisi biomasa
(organik) yang mati. Seperti pada analisis dampak langsung tersebut diatas maka rendahnya
konsentrasi oksigen terlarut apalagi jika sampai batas nol akan menyebabkan ikan dan fauna
lainnya tidak bisa hidup dengan baik dan mati. Selain menekan oksigen terlarut proses
dekomposisi tersebut juga menghasilkan gas beracun seperti NH3 dan H2S yang pada
konsentrasi tertentu dapat membahayakan fauna air, termasuk ikan. Selain badan air didominasi
oleh fitoplankton yang tidak ramah lingkungan seperti tersebut diatas, eutrofikasi juga
merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya, baik yang hidup di tepian (eceng gondok)
maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itulah maka di rawa-rawa dan danau-danau yang
telah mengalami eutrofikasi tepiannya ditumbuhi dengan subur oleh tanaman air seperti eceng
gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air lainnya.
Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui
mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan
hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi,
estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga dibutuhkan biaya
sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya
 Cara Menanggulangi Eutrofikasi
Menyadari bahwa senyawa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi, maka
perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup semakin meningkat
terhadap permasalahan ini. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan
melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat, seperti detergen dan limbah manusia,
ada juga kelompok yang secara tegas melarang keberadaan fosfor dalam detergen. Program
miliaran dollar pernah dicanangkan lewat institusi St Lawrence Great Lakes Basin di AS untuk
mengontrol keberadaan fosfat dalam ekosistem air. Sebagai implementasinya, lahirlah peraturan
perundangan yang mengatur pembatasan penggunaan fosfat, pembuangan limbah fosfat dari
rumah tangga dan permukiman. Upaya untuk menyubstitusi pemakaian
fosfat dalam detergen juga menjadi bagian dari program tersebut.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit
membuahkan hasil
yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas peternakan yang intensif dan hemat
lahan, konsumsi bahan kimiawi yang mengandung unsur fosfat yang berlebihan,pertumbuhan
penduduk Bumi yang semakin cepat, urbanisasi yang semakin tinggi, dan lepasnya senyawa
kimia fosfat yang telah lama terakumulasi dalam sedimen menuju badan air.

3. Detergen
Detergen adalah pembersih sintetis campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu
pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Yaitu senyawa kimia
bernama alkyl benzene sulfonat (ABS) yang direaksikan dengan natrium hidroksida
(NaOH). Dibanding dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai
daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Akan tetapi sabun lebih
mudah diurai oleh mikroorganisme.

Air sadah merupakan air yang mengandung garam kalsium dan magnesium yang larut dari
batuan yang dialiri air. Kesadahan dibedakan menjadi dua jenis yaitu kesadahan sementara dan
kesadahan tetap. Kesadahan sementara disebabkan garam kalsium hidrogen karbonat (CaHCO3)
yang larut dalam air. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan pendidihan dan menghasilkan zat
padat putih tak larut yaitu kalsium karbonat (CaCO3) atau kerak air. Kesadahan tetap disebabkan
garam kalsium dan magnesium yang larut dalam air. Kesadahan ini tidak dapat dihilangkan
dengan pendidihan tetapi dengan distilasi. Nah, untuk menghindari hal tersebut, saat ini dipakai
detergen sebagai pengganti sabun. Detergen mengandung zat aktif permukaan yang serupa
dengan sabun, misalnya natrium benzensulfonat (Na-ABS). Garam kalsium atau magnesium
yang larut dalam air sadah jika bereaksi dengan Na-ABS tetap larut dalam air dan tidak
mengendap.

Molekul sabun terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang bersifat hidrofilik dan yang
bersifat hidrofobik. Bagian hidrofilik adalah bagian yang menyukai air atau bersifat polar.
Adapun bagian hidrofobik adalah bagian yang tidak suka air atau bersifat nonpolar. Kotoran
yang bersifat polar biasanya larut dalam air, sehingga kotoran jenis ini tidak perlu dibersihkan
dengan menggunakan sabun. Kotoran yang bersifat nonpolar, seperti minyak atau lemak tidak
akan hilang jika hanya dibersihkan menggunakan air. Oleh karena itu, diperlukan detergen
sebagai pembersihnya. Ujung hidrofob detergen yang bersifat nonpolar mudah larut dalam
minyak atau lemak dari bahan cucian. Ketika kamu menggosok atau memeras pakaian membuat
minyak atau lemak menjadi butiran-butiran lepas yang dikelilingi oleh lapisan molekul detergen.
Gugus polarnya berada di luar lapisan sehingga butiran itu larut di air.

Kebersihan merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan masyarakat. Untuk menjaga
kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal serta tempat umum dibutuhkan produk pembersih atau
sabun cuci yang dapat diandalkan. Ibu rumah tangga, rumah sakit, sarana umum lain hingga
hotel berbintang lima pasti menjadikan produk yang satu ini sebagai bagian kehidupan sehari-
hari untuk mencuci pakaian maupun peralatan rumah tangga.
2.Bahan-bahan Detergen
Pada umumnya, detergen mengandung bahan-bahan sebagai berikut:
1) Surfaktan
Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda
yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Surfaktan ialah molekul organik dengan
bagian lifofilik dan bagian polar, yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga
dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktan membentuk bagian
penting dari semua detergen komersial.
2) Builder
Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara
menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Bahan ini ditambahkan untuk menyingkirkan
ion kalsium dan magnesium (kesadahan) dari air pencuci. Pembangun dapat melakukan hal ini
lewat pengkelatan (pembentukan kompleks) atau lewat pertukaran ion-ion ini dengan natrium.
Pembangun juga meningkatkan pH untuk membantu emulsifikasi minyak dan bufer terhadap
perubahan pH. Pembangun yang paling lazim ialah natrium tripolifosfat (5Na+ P3O105-), tetapi
karena limbah fosfat dapat mencemari lingkungan, jumlah yang digunakan dibatasi oleh
peraturan; baru-baru ini, natrium sitrat, natrium karbonat, dan natrium silikat mulai
menggantikan natrium tripolifosfat sebagai pembangun.
3) Zeolit
Zeolit (natrium aluminosilikat) digunakan sebagai penukar ion, terutama untuk ion kalsium.
4) Filler
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan Detergen yang tidak mempunyai kemampuan
meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat.
5) Bahan antiredeposisi (antiedeposition agent)
Bahan antiredeposisi ialah senyawa yang ditambahkan ke detergen pakaian untuk mencegah
pengendapan kembali kotoran pada pakaian. Contoh yang paling lazim ialah selulosa eter atau
ester.
6) Aditif
Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya
pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci Detergen.
Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzim, Boraks,
Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).
3. Jenis-Jenis Detergen
Kita tentu sudah akrab dengan detergen, selama ini kita mengenal detergen sebagai bubuk
pembersih pakaian. Sebenarnya Detergen adalah senyawa organik, yang memiliki dua kutub dan
bersifat non-polar karakteristik. Ada tiga jenis Detergen yaitu anionic, kationik, dan non-ionik.
Anionic dan permanen kationik memiliki muatan negatif dan positif yang melekat pada non-
polar (hidrofobik) CC rantai. Detergen non-ionik tidak mempunyai muatan ion tetap, hal ini
terjadi karena mereka memiliki jumlah atom yang lemah elektropositif dan elektronegatif yang
disebabkan oleh kekuatan menarik elektron atom oksigen.

Ada dua jenis karakteristik detergen yang berbeda yaitu fosfat Detergen dan surfaktan Detergen.
Pada umumnya Detergen yang mengandung fosfat akan terasa panas ditangan, sedangkan
surfaktan adalah jenis Detergen yang sangat beracun. Perbedaan kedua jenis detergen itu adalah
Detergen surfaktan lebih berbusa dan bersifat emulsifying Detergen. Disisi lain fosfat detergen
adalah Detergen yang membantu menghentikan kotoran dalam air. Zat yang terkandung didalam
detergen juga digunakan dalam formulasi dalam pestisida. Degradasi alkylphenol
polyethoxylates (non-ion) dapat menyebabkan pembentukan alkylphenols (terutama
nonylphenols) yang bertindak sebagai endokrin pengganggu jika limbah detergen bercampur
dengan air limbah lain di saluran air.

Berdasarkan bentuk fisiknya, Detergen dibedakan atas:


Detergen Cair, secara umum Detergen cair hampir sama dengan Detergen bubuk. Yang
membedakan cuma bentuk fisik. Di indonesia setahu saya Detergen cair ini belum
dikomersilkan, biasanya digunakan untuk laundry modern menggunakan mesin cuci yang
kapasitasnya besar dengan teknologi canggih.
Detergen krim, bentuk Detergen krim dengan sabun colek hampir sama tetapi kandungan
formula bahan baku keduanya berbeda.
Detergen bubuk, jenis Detergen bubuk ini yang beredar dimasyarakat atau dipakai sewaktu
mencuci pakaian. Berdasarkan keadaan butirannya, Detergen bubuk dapat dibedakan menjadi
dua yaitu Detergen bubuk berongga dan Detergen bubuk padat. Perbedaan bentuk butiran kedua
kelompok tersebut disebabkan oleh perbedaan proses pembuatannya.

4. Bahaya Detergen
Tanpa mengurangi makna manfaat Detergen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, harus
diakui bahwa bahan kimia yang digunakan pada Detergen dapat menimbulkan dampak negatif
baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari pembentuk Detergen
yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung
terhadap manusia dan lingkungannya.
Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami yang ada
pada permukan kulit dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar. Hasil pengujian
memperlihatkan bahwa kulit manusia hanya mampu memiliki toleransi kontak dengan bahan
kimia dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan akibat iritasi ‘sedang’ pada kulit. Surfaktan
kationik bersifat toksik jika tertelan dibandingkan dengan surfaktan anionik dan non-ionik. Sisa
bahan surfaktan yang terdapat dalam Detergen dapat membentuk chlorbenzene pada proses
klorinisasi pengolahan air minum PDAM. Chlorbenzene merupakan senyawa kimia yang bersifat
racun dan berbahaya bagi kesehatan. Pada awalnya surfaktan jenis ABS banyak digunakan oleh
industri Detergen. Namun karena ditemukan bukti-bukti bahwa ABS mempunyai risiko tinggi
terhadap lingkungan, bahan ini sekarang telah digantikan dengan bahan lain yaitu LAS.

Builders, salah satu yang paling banyak dimanfaatkan di dalam Detergen adalah phosphate.
Phosphate memegang peranan penting dalam produk Detergen, sebagai softener air. Bahan ini
mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion kalsium dan magnesium. Berkat
aksi softenernya, efektivitas dari daya cuci Detergen meningkat. Phosphate yang biasa dijumpai
pada umumnya berbentuk Sodium Tri Poly Phosphate (STPP). Phosphate tidak memiliki daya
racun, bahkan sebaliknya merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup.
Tetapi dalam jumlah yang terlalu banyak, phosphate dapat menyebabkan pengkayaan unsur hara
(eutrofikasi) yang berlebihan di badan air, sehingga badan air kekurangan oksigen akibat dari
pertumbuhan algae (phytoplankton) yang berlebihan yang merupakan makanan bakteri. Populasi
bakteri yang berlebihan akan menggunakan oksigen yang terdapat dalam air sampai suatu saat
terjadi kekurangan oksigen di badan air dan pada akhirnya justru membahayakan kehidupan
mahluk air dan sekitarnya. Di beberapa negara, penggunaan phosphate dalam Detergen telah
dilarang. Sebagai alternatif, telah dikembangkan penggunaan zeolite dan citrate sebagai builder
dalam Detergen.

Detergen yang selama ini kita gunakan untuk mencuci pakaian sebenarnya merupakan hasil
sampingan dari proses penyulingan minyak bumi yang diberi berbagai tambahan bahan kimia
seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. Generasi awal Detergen pertama kali
muncul dan mulai diperkenalkan ke masyarakat sekitar tahun 1960-an dengan menggunakan
bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) sebagai penghasil
busa.(Wikipedia, 2009).

Polusi atau pencemaran adalah keadaan dimana suatu lingkungan sudah tidak alami lagi karena
telah tercemar oleh polutan. Misalnya air sungai yang tidak tercemar airnya masih murni dan
alami, tidak ada zat-zat kimia yang berbahaya, sedangkan air sungai yang telah tercemar oleh
detergen misalnya, mengandung zat kimia yang berbahaya, baik bagi organisme yang hidup di
sungai tersebut maupun bagi makhluk hidup lain yang tinggal di sekitar sungai tersebut.
Polutan adalah zat atau substansi yang mencemari lingkungan. Air limbah detergen termasuk
polutan karena didalamnya terdapat zat yang disebut ABS. Jenis Detergen yang banyak
digunakan di rumah tangga sebagai bahan pencuci pakaian adalah Detergen anti noda. Detergen
jenis ini mengandung ABS (alkyl benzene sulphonate) yang merupakan Detergen tergolong
keras. Detergen tersebut sukar dirusak oleh mikroorganisme (nonbiodegradable) sehingga dapat
menimbulkan pencemaran lingkungan (Rubiatadji, 1993). Lingkungan perairan yang tercemar
limbah Detergen kategori keras ini dalam konsentrasi tinggi akan mengancam dan
membahayakan kehidupan biota air dan manusia yang mengkonsumsi biota tersebut.

Awalnya inovasi yang dianggap cemerlang ini ini mendapatkan respon yang menggembirakan.
Namun seiring berjalannya waktu, ABS setelah diteliti lebih lanjut diketahui mempunyai efek
destruktif (buruk) terhadap lingkungan yakni sulit diuraikan oleh mikroorganisme. Hal ini
menjadikan sisa limbah Detergen yang dikeluarkan setiap hari oleh rumah tangga akan menjadi
limbah berbahaya dan mengancam stabilitas lingkungan hidup kita.Beberapa negara di dunia
secara resmi telah melarang penggunaan zat ABS ini dalam pembuatan Detergen dan
memperkenalkan senyawa kimia baru yang disebut Linier Alkyl Sulfonat, atau lebih sering jika
kita lihat di berbagai label produk Detergen yang kita pakai dengan nama LAS yang relatif lebih
ramah lingkungan. Akan tetapi penelitian terbaru oleh para ahli menyebutkan bahwa senyawa ini
juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit terhadap lingkungan. Menurut data yang
diperoleh bahwa dikatakan alam lingkungan kita membutuhkan waktu selama 90 hari untuk
mengurai LAS dan hanya 50% dari keseluruhan yang dapat diurai.
Efek paling nyata yang disebabkan oleh limbah Detergen rumah tangga adalah terjadinya
eutrofikasi (pesatnya pertumbuhan ganggang dan enceng gondok). Limbah Detergen yang
dibuang ke kolam ataupun rawa akan memicu ledakan pertumbuhan ganggang dan enceng
gondok sehingga dasar air tidak mampu ditembus oleh sinar matahari, kadar oksigen berkurang
secara drastis, kehidupan biota air mengalami degradasi, dan unsur hara meningkat sangat pesat.
Jika hal seperti ini tidak segera diatasi, ekosistem akan terganggu dan berakibat merugikan
manusia itu sendiri, sebagai contoh saja lingkungan tempat pembuangan saluran selokan. Secara
tidak langsung rumah tangga pasti membuang limbah Detergennya melalui saluran selokan ini,
dan coba kita lihat, di penghujung saluran selokan begitu banyak eceng gondok yang hidup
dengan kepadatan populasi yang sangat besar.

Selain merusak lingkungan alam, efek buruk Detergen yang dirasakan tentu tak lepas dari para
konsumennya. Dampaknya juga dapat mengakibatkan gangguan pada lingkungan kesehatan
manusia. Saat seusai kita mencuci baju, kulit tangan kita terasa kering, panas, melepuh, retak-
retak, gampang mengelupas hingga mengakibatkan gatal dan kadang menjadi alergi.

Detergen sangat berbahaya bagi lingkungan karena dari beberapa kajian menyebutkan bahwa
Detergen memiliki kemampuan untuk melarutkan bahan bersifat karsinogen, misalnya 3,4
Benzonpyrene, selain gangguan terhadap masalah kesehatan, kandungan detergen dalam air
minum akan menimbulkan bau dan rasa tidak enak. Sedangkan tinja merupakan jenis vektor
pembawa berbagai macam penyakit bagi manusia. Bagian yang paling berbahaya dari limbah
domestik adalah mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja, karena dapat menularkan
beragam penyakit bila masuk tubuh manusia, dalam 1 gram tinja mengandung 1 milyar partikel
virus infektif, yang mampu bertahan hidup selama beberapa minggu pada suhu dibawah 10
derajat Celcius.

Dalam jangka panjang, air minum yang telah terkontaminasi limbah Detergen berpotensi sebagai
salah satu penyebab penyakit kanker (karsinogenik). Proses penguraian Detergen akan
menghasilkan sisa benzena yang apabila bereaksi dengan klor akan membentuk senyawa
klorobenzena yang sangat berbahaya. Kontak benzena dan klor sangat mungkin terjadi pada
pengolahan air minum, mengingat digunakannya kaporit (dimana di dalamnya terkandung klor)
sebagai pembunuh kuman pada proses klorinasi.

Pada percobaan tersebut dapat dianalisa bahwa Detergen itu memang mempunyai dampak buruk
terhadap berbagai lingkungan kehidupan kita. Baik itu lingkungan terrestrial dimana kita hidup,
kemudian lingkungan perairan termasuk organisme yang hidup di dalamnya, atau bahkan juga
lingkungan kesehatan manusia sendiri yang sebenarnya tanpa kita sadari mulai perlahan-lahan
menyerang kesehatan kita.

Detergen fosfat tinggi seperti tri-natrium fosfat (TSP) dapat dibeli di beberapa toko cat dan
perangkat keras. Pembersihan secara teratur dengan Detergen fosfat tinggi telah terbukti efektif
dalam mengurangi debu di yang terdapat di jendela dan di sekitar pintu.Apa yang terjadi jika
limbah Detergent bercampur dengan air?Detergent memiliki efek beracun dalam air. Semua
Detergent menghancurkan lapisan eksternal lendir yang melindungi ikan dari bakteri dan parasit,
selain itu detergent dapat menyebabkan kerusakan pada insang. Kebanyakan ikan akan mati bila
konsentrasi Detergent 15 bagian per juta. Detergent dengan konsentrasi rendah pun sebanyak 5
ppm tetap dapat membunuh telur ikan. Surfaktan Detergen pun tak kalah berbahaya karena jenis
detergent ini terbukti mengurangi kemampuan perkembangbiakan organisme perairan.

Detergen juga memiliki andil besar dalam menurunkan kualitas air. Bahan kimia organik seperti
pestisida dan fenol akan mudah diserap oleh ikan, dengan konsentrasi Detergen hanya 2 ppm
dapat diserap ikan dua kali lipat dari jumlah bahan kimia lainnya.Detergent juga memberi efek
negatif bagi biota air. Fosfat dalam Detergen dapat memicu ganggang air tawar bunga untuk
melepaskan racun dan menguras oksigen di perairan. Ketika ganggang membusuk, mereka
menggunakan oksigen yang tersedia untuk mempertahankan hidupnya.

Dalam sebuah literatur disebutkan, ada fakta yang menarik seputar air di bumi ini. Jumlah total
air di bumi saat ini relatif sama dengan jumlah total air tercipta. Yaitu 70 persen permukaan
bumi kita adalah air. Komposisinya adalah 67 persen terdiri dari air asin dan tiga persen air
tawar. Prosentasi air tawar itu terdiri dari es, air tanah, air permukaan, dan uap air. Jumlah airnya
saat ini memang sama akan tetapi yang berubah bentuknya. Tidak semua air tawar tersebut dapat
di pakai, penyebabnya adalah pencemaran lingkungan yang dibuat oleh manusia sendiri seperti
limbah dari pemakaian detergen.

5. Pencegahan Bahaya Detergen


Kesadaran masyarakat pengguna Detergen mesin akan dampak dibalik manfaat Detergen mesin
cuci perlu ditingkatkan. Peran serta masyarakat dalam mengurangi dampak negatif yang
ditimbulkan oleh penggunaan Detergen sangat diharapkan. Banyaknya pilihan produk yang
diinformasikan melalui iklan memang bisa menguntungkan konsumen. Tetapi konsumen tetap
perlu berhati-hati, karena kesalahan memilih produk akan merugikan konsumen sendiri.
Sebaiknya konsumen memilih Detergen yang pada kemasannya mencantumkan penandaan nama
dagang, isi / netto, nama bahan aktif, nama dan alamat pabrik, nomor ijin edar, nomor kode
produksi, kegunaan dan petunjuk penggunaan, juga tanda peringatan serta cara penanggulangan
bila terjadi kecelakaan. Selain itu dianjurkan bagi konsumen untuk memilih produk yang
mencantumkan bahan aktif yang lebih aman dan ramah lingkungan. Informasi mengenai produk
ramah lingkungan dapat dilihat pada label baik berupa logo hijau maupun klaim ramah
lingkungan. Selain itu produsen sebaiknya memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai
produknya.

Kemampuan Detergen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang menempel pada kain atau
objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri yang menyebabkan infeksi dan
meningkatkan umur pemakaian kain, karpet, alat-alat rumah tangga dan peralatan rumah lainnya,
sudah tidak diragukan lagi. Oleh karena banyaknya manfaat penggunaan Detergen, sehingga
menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern.

Ada dua ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana produk kimia aman di lingkungan
yaitu daya racun (toksisitas) dan daya urai (biodegradable). ABS dalam lingkungan mempunyai
tingkat biodegradable sangat rendah, sehingga Detergen ini dikategorikan sebagai ‘non-
biodegradable’. Dalam pengolahan limbah konvensional, ABS tidak dapat terurai, sekitar 50%
bahan aktif ABS lolos dari pengolahan dan masuk dalam sistem pembuangan. Hal ini dapat
menimbulkan masalah keracunan pada biota air dan penurunan kualitas air. LAS mempunyai
karakteristik lebih baik, meskipun belum dapat dikatakan ramah lingkungan. LAS mempunyai
gugus alkil lurus / tidak bercabang yang dengan mudah dapat diurai oleh mikroorganisme.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh konsumen dalam menggunakan Detergen adalah cara
penggunaan yang benar. Pada beberapa Detergen bubuk ternyata terdapat petunjuk yang tidak
tepat. Yaitu ketika konsumen dianjurkan menggunakan takaran genggam. Hal ini sungguh
berisiko karena Detergen bersifat basa yang berarti korosif terhadap kulit. Apalagi jika kulit
pengguna bersifat sensitif, maka takaran Detergen yang menggunakan istilah ‘genggam’ tersebut
akan langsung memberikan reaksi pada kulit berupa gatal, mengering dan pecah-pecah. Selain
itu, takaran genggam bukan ukuran yang bersifat pasti, karena hanya berupa kira-kira yang
sangat tergantung kepada ukuran tangan seseorang. Jadi kecenderungan konsumen untuk
menggunakan berlebihan memang besar. Disamping itu, karena slogan-slogan pada iklan produk
Detergen baik di media elektronik maupun media cetak, timbul persepsi konsumen bahwa busa
banyak bisa mencuci lebih bersih. Padahal busa yang terlalu banyak bukan berarti Detergen
menjadi lebih efektif, malah sebaliknya, daya cucinya terhambat. Selain itu keberadaan busa-
busa di permukaan badan air menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga
menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan
oksigen dan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu sebaiknya konsumen menggunakan
takaran khusus untuk Detergen dan produsen menyediakan alat takar tersebut di dalam kemasan
produknya.

Air yang tercemari detergen dapat mengancam kehidupan organisme yang hidup di dalamnya,
salah satunya adalah ikan. Selain ikan masih banyak organisme lain, seperti fitoplankton,
zooplankton/protozoa, cyanobacteria, dan lain-lain. Jika organisme-organisme seperti
fitoplankton mati, maka zooplankton akan mati karena tidak ada makanan, ikan-ikan pun akan
mati karena zooplankton yang biasa dimakan tidak ada. Dengan kata lain detergen dan polutan
lainnya yang mencemari air dapat memusnahkan seluruh organisme yang hidup
di dalamnya.Besar tidaknya pengaruh detergen dan polutan lainnya pada ikan dan makhluk
hidup lain tergantung pada konsentrasi polutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi polutan,
semakin besar pengaruhnya.
Sabun dan detergen dapat menjadikan lemak dan minyak yang tadinya tidak dapat bercampur
dengan air menjadi mudah bercampur. Sabun dan detergen dalam air dapat melepaskan sejenis
ion yang memiliki bagian yang suka air (hidrofilik) sehingga dapat larut dalam air dan bagian
yang tidak suka akan air (hidrofobik) sehingga larut dalam minyak atau lemak.Jika dalam
pakaian yang dicuci dengan detergen terdapat kotoran lemak maka bagian ion yang bersifat
hidrofobik masuk ke dalam butiran lemak atau minyak dan bagian ion tersebut yang bersifat
hidrofilik akan mengarah ke pelarut air. Keadaan ini menyebabkan butiran-butiran minyak akan
saling tolak-menolak karena menjadi bermuatan sejenis. Akibatnya, kotoran lemak atau minyak
yang telah lepas dari pakaian tidak dapat saling bersatu lagi dan tetap berada dalam larutan.

Kita perlu hati-hati dalam memilih bahan pembersih, bahan tersebut jangan sampai menimbulkan
pengaruh yang buruk terhadap lingkungan. Beberapa jenis detergen sukar diuraikan oleh
pengurai. Jika detergen ini bercampur dengan air tanah yang dijadikan sumber air minum
manusia atau binatang ternak maka air tanah tersebut akan membahayakan kesehatan. Oleh
karena itu, kita sebaiknya memilih detergen yang limbahnya dapat diuraikan oleh mikrorganisme
(biodegradable). Pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan oleh pemakaian detergen yang tidak
selektif atau tidak hati-hati adalah:
 rusaknya keindahan lingkungan perairan;
 terancamnya kehidupan hewan-hewan yang hidup di air; dan
 merugikan kesehatan manusia.
 Gunakanlah detergen sebijaksana mungkin, jangan buang air cucian ke perairan yang
banyak organisme yang hidup di dalamnya. Gunakanlah ilmu pengetahuan kita untuk
menciptakan solusi masalah ini, misalnya detergen yang ramah lingkungan.

B. Limbah Pertanian
Limbah pertanian adalah bagian tanaman pertanian diatas tanah atau bagian pucuk, batang yang
tersisa setelah dipanen atau diambil hasil utamanya. Berdasarkan artinya pengertian limbah
pertanian dapat diartikan sebagai bahan yang dibuang di sector pertanian.
1. Pupuk
Pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara bagi tanaman. Bahan
tersebut berupa mineral atau organik, dihasilkan oleh kegiatan alam atau diolah oleh manusia di
pabrik. Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman adalah: C, H, O (ketersediaan di alam masih
melimpah), N, P, K, Ca, Mg, S (hara makro, kadar dalam tanaman > 100 ppm), Fe, Mn, Cu, Zn,
Cl, Mo, B (hara mikro, kadar dalam tanaman < 100 ppm).

Pupuk diberikan agar tanaman (tumbuhan yang diusahakan manusia) dapat tumbuh,
berkembang dan menghasilkan sesuai yang diharapkan. Manusia selalu menuntut lebih terhadap
kemampuan tanaman. Rekayasa genetik dan lingkungan di lakukan agar tanaman memberikan
kinerja yang lebih baik. Dengan bantuan hasil tanaman tersebut, unsur yang semula berada
dalam tanah masuk ke dalam tubuh manusia.

Tumbuhan tidak memerlukan pupuk. Karena tumbuhan mampu mengambil unsur hara yang
tersedia di lingkungan hidupnya. Pada lahan yang tidak terusik manusia, kesuburan tanah selalu
meningkat, karena terjadi pelonggokan materi dan energi di tempat tersebut. Mineral dari jeluk
yang lebih dalam diangkut ke daun dan digugurkan ke permukaan tanah. Gas-gas di udara
terutama CO2 dijerat dan digunakan sebagai penyusun tubuh tumbuhan. Tumbuhan selalu hidup
bersama dengan lelembut (mikrobia). Serasah tumbuhan menjadi makanan dan sumber energi
bagi lelembut tersebut untuk terus bekerja. Hasil perombakan digunakan kembali oleh tumbuhan.
Interaksi mineral dan bahan organik yang terus menerus itu, akan diikuti ketersedian hara dan
lengas yang makin besar, sehingga memberikan lingkungan yang terbaik bagi tumbuhan.

Semakin berkurang usikan manusia terhadap suatu lahan, maka lahan tersebut akan bertambah
subur. Sebaliknya, semakin banyak usikan semakin banyak pula masukan yang harus diberikan
agar lahan tetap subur. Semakin intensif lahan dikelola, semakin banyak pula pupuk yang
diperlukan.

Bahan pupuk selain mengandung hara tanaman umumnya mengandung bahan lain, yaitu:
Zat pembawa atau karier (carrier). Double superfosfat (DS): zat pembawanya adalah CaSO4 dan
hara tanamannya fosfor (P).
Senyawa-senyawa lain berupa kotoran (impurities) atau campuran bahan lain dalam jumlah
relatif sedikit. Misalnya ZA (zwavelzuure amoniak) sering mengandung kotoran sekitar 3%
berupa khlor, asam bebas (H2SO4) dan sebagainya.

Bahan mantel (coated) ialah bahan yang melapisi pupuk dengan maksud agar pupuk mempunyai
nilai lebih baik misalnya kelarutannya berkurang, nilai higroskopisnya menjadi lebih rendah dan
mungkin agar lebih menarik. Bahan yang digunakan untuk selaput berupa aspal, lilin, malam,
wax dan sebagainya. Pupuk yang bermantel harganya lebih mahal dibandingkan tanpa mantel.
Filler (pengisi). Pupuk majemuk atau pupuk campur yang kadarnya tinggi sering
diberi filler agar ratio fertilizer nya dapat tepat sesuai dengan yang diinginkan, juga dengan
maksud agar mudah disebar lebih merata Dalam praktek perlu diketahui istilah-istilah khusus
yang sering digunakan dalam pupuk antara lain ialah:
Mutu pupuk atau grade fertilizer artinya angka yang menunjukkan kadar hara tanaman utama
(N,P, dan K) yang dikandung oleh pupuk yang dinyatakan dalam prosen N total, P2O5 dan K2O.
Misalnya pupuk Rustika Yellow 15-10-12 berarti kadar N 15%, P2O5 10% dan K2O 12%.
Perbandingan pupuk atau ratio fertilizer ialah perbandingan unsur N,P dan K yang dinyatakan
dalam N total, P2O5 dan K2O merupakan penyederhanaan dari grade ferilizer. Misalnya grade
fertilizer 16-12-20 berarti ratio fertilizernya 4:3:5.

Mixed ferilizer atau pupuk campuk ialah pupuk yang berasal dari berbagai pupuk yang kemudian
dicampur oleh pemakainya. Misalnya pupuk Urea, TSP dan KCl dicampur menjadi satu dengan
perbandingan tertentu sesuai dengan mutu yang diinginkan. Hal ini berbeda dengan pupuk
majemuk yaitu pupuk yang mempunyai dua atau lebih hara tanaman dibuat langsung dari
pabriknya.

2. Pestisida
Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan perkembangan/pertumbuhan
dari hama, penyakit dan gulma. Tanpa menggunakan pestisida akan terjadi penurunan hasil
pertanian. Pestisida banyak digunakan karena mempunyai kelebihan-kelebihan antara lain dapat
diaplikasikan dengan mudah dan hasilnya dapat dirasakan dalam waktu yang relatif singkat dan
dapat diaplikasikan dalam areal yang luas. Namun, dalam penggunaannya sering menyalahi
aturan seperti melebihi dosis takaran dan mencampur beberapa jenis pestisida dengan alasan
unutuk meningkatkan daya racun pada hama tanaman. Sehingga dapat mengakibatkan terjadinya
pencemaran lingkungan dengan meningkatnya residu racun baik pada tanaman maupun pada
lingkungan sekitarnya. Untuk itu perlu adanya usaha-usaha dalam penanggulangan pencemaran
akibat penggunaan pestisida. Dengan demikian diharapkan dapat mengurangi ketidakefisienan
penggunaan pestsida pada lingkungan dan mengurangi sekecil mungkin pencemaran yang
terjadi.

 PERANAN PESTISIDA DALAM PERTANIAN


Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan perkembangan/pertumbuhan
dari hama, penyakit dan gulma. Tanpa menggunakan pestisida akan terjadi penurunan hasil
pertanian. Pestisida secara umum digolongkan kepada jenis organisme yang akan dikendalikan
populasinya. Insektisida, herbisida, fungsida dan nematosida digunakan untuk mengendalikan
hama, gulma, jamur tanaman yang patogen dan nematoda. Jenis pestisida yang lain digunakan
untuk mengendalikan hama dari tikus dan siput (Alexander, 1977). Berdasarkan ketahanannya di
lingkungan, maka pestisida dapat dikelompokkan atas dua golongan yaitu yang resisten dimana
meninggalkan pengaruh terhadap lingkungan dan yang kurang resisten. Pestisida yang termasuk
organochlorines termasuk pestisida yang resisten pada lingkungan dan meninggalkan residu yang
terlalu lama dan dapat terakumulasi dalam jaringan melalui rantai makanan, contohnya DDT,
Cyclodienes, Hexachlorocyclohexane (HCH), endrin.

Pestisida kelompok organofosfat adalah pestisida yang mempunyai pengaruh yang efektif sesaat
saja dan cepat terdegradasi di tanah, contohnya Disulfoton, Parathion, Diazinon, Azodrin,
Gophacide, dan lain-lain (Sudarmo, 1991). Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana
untuk membunuh jasad pengganggu tanaman. Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu,
pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian, yang mana harus sejalan dengan
komponen pengendalian hayati, efisien untuk mengendalikan hama tertentu, mudah terurai dan
aman bagi lingkungan sekitarnya.
Penerapan usaha intensifikasi pertanian yang menerapkan berbagai teknologi, seperti
penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta usaha pembukaan
lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang sering kali diikuti dengan timbulnya
masalah serangan jasad penganggu. Cara lain untuk mengatasi jasad penganggu selain
menggunakan pestisida kadang-kadang memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang besar dan
hanya dapat dilakukan pada kondisi tertentu. Sampai saat ini hanya pestisida yang mampu
melawan jasad penganggu dan berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil (Sudarmo,
1991). Informasi yang terperinci tentang tingkat keracunan, keberadaan dalam tanah, jalan
pengangkutan yang lebih dominan dari berbagai herbisida, insektisida dan fungisida hendaknya
diketahui. Kondisi cuaca penting diperhatikan pada saat pengaplikasian (Loehr, 1984).

 DAMPAK NEGATIF PESTISIDA TERHADAP LINGKUNGAN PERTANIAN


Peningkatan kegiatan agroindustri selain meningkatkan produksi pertanian juga menghasilkan
limbah dari kegiatan tersebut. Penggunaan pestisida, disamping bermanfaat untuk meningkatkan
produksi pertanian 3 tapi juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan pertanian dan
juga terhadap kesehatan manusia. Dalam penerapan di bidang pertanian, ternyata tidak semua
pestisida mengenai sasaran. Kurang lebih hanya 20 persen pestisida mengenai sasaran sedangkan
80 persen lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi residu pestisida tersebut mengakibatkan
pencemaran lahan pertanian. Apabila masuk ke dalam rantai makanan, sifat beracun bahan
pestisida dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS
(Chemically Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya (Sa’id, 1994).

Pada masa sekarang ini dan masa mendatang, orang lebih menyukai produk pertanian yang alami
dan bebas dari pengaruh pestisida walaupun produk pertanian tersebut di dapat dengan harga
yang lebih mahal dari produk pertanian yang menggunakan pestisida (Ton, 1991). Pestisida yang
paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah
pestisida sintetik, yaitu golongan organoklorin. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh
senyawa organoklorin lebih tinggi dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka terhadap
sinar matahari dan tidak mudah terurai (Sa’id, 1994).
Penyemprotan dan pengaplikasian dari bahan-bahan kimia pertanian selalu berdampingan
dengan masalah pencemaran lingkungan sejak bahanbahan kimia tersebut dipergunakan di
lingkungan. Sebagian besar bahanbahan kimia pertanian yang disemprotkan jatuh ke tanah dan
didekomposisi oleh mikroorganisme. Sebagian menguap dan menyebar di atmosfer dimana akan
diuraikan oleh sinar ultraviolet atau diserap hujan dan jatuh ke tanah (Uehara, 1993). Pestisida
bergerak dari lahan pertnaian menuju aliran sungai dan danau yang dibawa oleh hujan atau
penguapan, tertinggal atau larut pada aliran permukaan, terdapat pada lapisan tanah dan larut
bersama dengan aliran air tanah. Penumpahan yang tidak disengaja atau membuang bahanbahan
kimia yang berlebihan pada permukaan air akan meningkatkan konsentrasi pestisida di air.
Kualitas air dipengaruhi oleh pestisida berhubungan dengan keberadaan dan tingkat
keracunannya, dimana kemampuannya untuk diangkut adalah fungsi dari kelarutannya dan
kemampuan diserap oleh partikel-partikel tanah. Berdasarkan data yang diperoleh Theresia
(1993) dalam Sa’id (1994), di Indonesia kasus pencemaran oleh pestisida menimbulkan berbagai
kerugian. Di Lembang dan Pengalengan tanah disekitar kebun wortel, tomat, kubis dan buncis
telah tercemar oleh residu organoklorin yang cukup tinggi. Juga telah tercemar beberapa sungai
di Indonesia seperti air sungai Cimanuk dan juga tercemarnya produk-produk hasil pertanian.

 UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN PESTISIDA


Pencemaran dari residu pestisida sangat membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan,
sehingga pelu adanya pengendalian dan pembatasan dari penggunaan pestisida tersebut serta
mengurangi pencemaran yang diakibatkan oleh residu pestisida. Kebijakan global pembatasan
penggunaan pestisida sintetik yang mengarah pada pemasyarakatan teknologi bersih (clean
technology) yaitu pembatasan penggunaan pestisida sintetik untuk penanganan produk-produk
pertanian terutama komoditi andalan untuk eksport (Suwahyono, 1996). Dalam hal ini berbagai
upaya dilakukan untuk mengatasi dampak negatif pestisida dan mencegah pencemaran lebih
berlanjut lagi.
Daftar Pustaka:
http://www.pengertianilmu.com/2015/03/pengertian-limbah-organik.html
http://www.dosenpendidikan.com/pengertian-dan-10-jenis-sampah-organik-serta-an-organik/
https://babyastoninspired.wordpress.com/2011/11/10/dampak-eutrofikasi/
https://yulianaputrisari.wordpress.com/2014/05/18/limbah-rumah-tangga/
https://hartina97.blogspot.co.id/2012/12/limbah.html
https://sivitasakademika.wordpress.com/2017/03/06/dampak-penggunaan-pestisida-terhadap-
lingkungan-pertanian/
https://punyanyavika.wordpress.com/2011/12/25/dampak-penggunaan-detergen-sebagai-
pembersih-pakaian-dalam-kehidupan/
https://nasih.wordpress.com/2010/06/08/pengertian-pupuk/