Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

E
DENGAN DIAGNOSA HEMATEMESIS DIRUANG FLAMBOYAN RST
DR.SOEPRAOEN MALANG

DISUSUN OLEH:

HILMATUL IZZA (NIM: 161099)

2B KEPERAWATAN

PRODI KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN RS DR. SOEPRAOEN MALANG

TAHUN 2018
LAPORAN PENDAHULUAN
HEMATEMESIS
A. KONSEP DASAR HEMATEMESIS
1. DEFINISI
Hematemesis adalah muntah darah dan melena adalah pengeluarn feses atau tinja
yang berwarna hitam seperti ter yang disebabkan oleh adanya perdarahan saluran
makan bagian atas. Warna hematemesis tergantung pada lamanya hubungan atau
kontak antara darah dengan asam lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga
dapat berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal. ( Nettina,
Sandra M. 2012)
Hematemesis adalah muntah darah dan biasanya disebabkan oleh penyakit
saluran cerna bagian atas. Melena adalah keluarnya feses berwarna hitam per rektal
yang mengandung campuran darah, biasanya disebabkan oleh perdarahan usus
proksimal (Grace & Borley, 2007).
Hematemesis melena merupakan suatu perdarahan saluran cerna bagian atas
(SCBA) yang termasuk dalam keadaan gawat darurat yang dapat terjadi karena
pecahnya varises esofagus, gastritis erosif, atau ulkus peptikum. (Arief Mansjoer,
2014).
Biasanya terjadi hematemesis bila ada perdarahan di daerah proksimal
jejunum dan melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan
hematemesis. Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru di
jumpai keadaan melena. Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau
melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga besra kecilnya perdarahan
saluran makan bagian atas. Hematemesis dan melena merupakan suatu keadaan
yang gawat dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit.

2. ETIOLOGI
Menurut (Arief Mansjoer, 2014)
1. Kelainan di esophagus
a. Varises esophagus
Penderita dengan hematemesis melena yang disebabkan pecahnya varises
esophagus, tidak pernah mengeluh rasa nyeri atau pedih di epigastrium. Pada
umumnya sifat perdarahan timbul spontan dan massif. Darah yang dimuntahkan
berwarna kehitam-hitaman dan tidak membeku karena sudah bercampur dengan
asam lambung.
b. Karsinoma esophagus
Karsinoma esophagus sering memberikan keluhan melena daripada
hematemesis. Disamping mengeluh disfagia, badan mengurus dan anemis, hanya
sesekali penderita muntah darah dan itupun tidak massif.
c. Sindroma Mallory – Weiss
Sebelum timbul hematemesis didahului muntah-muntah hebat yang pada
akhirnya baru timbul perdarahan. misalnya pada peminum alcohol atau pada
hamil muda. Biasanya disebabkan oleh karena terlalu sering muntah-muntah
hebat dan terus-menerus.
d. Esofagitis dan tukak esophagus
Esophagus bila sampai menimbulkan perdarahan lebih sering intermitten atau
kronis dan biasanya ringan, sehingga lebih sering timbul melena daripada
hematemesis. Tukak di esophagus jarang sekali mengakibatkan perdarahan jika
dibandingka dengan tukak lambung dan duodenum.
2. Kelainan di lambung
a. Gastritis erisova hemoragika
Hematemesis bersifat tidak masif dan timbul setelah penderita minum obat-
obatan yang menyebabkan iritasi lambung. Sebelum muntah penderita mengeluh
nyeri ulu hati.
b. Tukak lambung
Penderita mengalami dispepsi berupa mual, muntah , nyeri ulu hati dan sebelum
hematemesis didahului rasa nyeri atau pedih di epigastrium yang berhubungan
dengan makanan. Sifat hematemesis tidak begitu masif dan melena lebih
dominan dari hematemesis.
3. Kelainan darah : polisetimia vera, limfoma, leukemia, anemia, hemofili,
trombositopenia purpura.
4. Penyakit sistemik lainnya: uremik, dan lain-lain.
5. Pemakaian obat-obatan yang ulserogenik: golongan salisilat, kortikosteroid,
alkohol, dan lai-lain.
Penting sekali menentukan penyebab dan tempat asal perdarahan saluran makan
bagian atas, karena terdapat perbedaan usaha penanggulangan setiap macam
perdarahan saluran makan bagian atas. Penyebab perdarahan saluran makan bagian
atas yang terbanyak dijumpai di Indonesia adalah pecahnya varises esofagus dengan
rata-rata 45-50 % seluruh perdarahan saluran makan bagian atas.

6. PATOFISIOLOGI
Usaha mencari penyebab perdarahan saluran makanan dapat dikembalikan
kepada factor-faktor penyebab perdarahan, antara lain : factor pembuluh darah
(vasculopathy) seperti pada tukak peptic, pecahnya varises esophagus; factor trobosit
(thrombopathy) seperti pada ITP, factor kekurangan zat-zat pembentuk darah
(coagulopathy) seperti pada hemophilia, sirosis hati dan lain-lain. Malahan pada
serosis hati dapat terjadi ketiganya : vasculopathy, pecahnya varises esophagus,
thrombopathy, terjadinya pengurangan trombosit di sirkulasi perifer akibat
hipersplenisme, dan terdapat pula coagulophaty akibat kegagalan sel-sel hati. Khusus
pada pecahnya varises esophagus ada 2 teori, yaitu teori erosi yaitu pecahnya
pembuluh darah karena erosi dari makanan yang kasar (berserat tinngi dan kasar), atau
minum OAINS (NSAID), dan teori erupsi karena tekanan vena porta yang terlalu
tinggi, yang dapat pula dicetuskan oleh peningkatan tekanan intra abdomen yang tiba-
tiba seperti pada mengejan, mengangkat barang berat, dan lain-lain.
Perdarahan saluran makan dapat pula dibagi menjadi perdarahan primer, seperti
pada : hemophilia, ITP, hereditary haemorrhagic telangiectasi, dan lain-lain. Dapat
pula secara sekunder, seperti pada kegagalan hati, uremia, DIC, dan iatrigenic seperti
penderita dengan terapi antikoagulan, terapi fibrinolitik, drug-induce
thrombocytopenia, pemberian transfuse darah yang massif, dan lain-lain. (I Made
Bakta, 2013:55)
Adanya riwayat dyspepsia memperberat dugaan ulkus peptikum. Begitu juga
riwayat muntah-muntah berulang yang awalnya tidak berdarah, konsumsi alkohol
yang berlebihan mengarahkan ke dugaan gastritis serta penyakit ulkus peptikum.
Adanya riwayat muntah-muntah berulang yang awalnya tidak berdarah lebih kearah
Mallory-Weiss. Konsumsi alkohol berlebihan mengarahkan dugaan ke gastritis (30-
40%), penyakit ulkus peptikum (30-40%), atau kadang-kadang varises. Penurunan
berat badan mengarahkan dugaan ke keganasan. Perdarahan yang berat disertai
adanya bekuan dan pengobatan syok refrakter meningkatkan kemungkinan varises.
Adanya riwayat pembedahan aorta abdominalis sebelumnya meningkatkan
kemungkinan fistula aortoenterik. Pada pasien usia muda dengan riwayat perdarahan
saluran cerna bagian atas singkat berulang (sering disertai kolaps hemodinamik) dan
endoskopi yang normal, harus dipertimbangkan lesi Dieulafoy (adanya arteri
submukosa, biasanya dekat jantung, yang dapat menyebabkan perdarahan saluran
pencernaan intermitten yang banyak).
7. PATHWAY
8. MANIFESTASI KLINIK
Gejala yang ada berdasarkan (Mubin, 2010) yaitu :
1. Muntah darah (hematemesis)
2. Mengeluarkan tinja yang kehitaman (melena)
3. Mengeluarkan darah dari rectum (hematoskezia)
4. Denyut nadi yang cepat, TD rendah
5. Akral teraba dingin dan basah
6. Nyeri perut
7. Nafsu makan menurun
8. Jika terjadi perdarahan yang berkepanjangan dapat menyebabkan
terjadinya anemia, seperti mudah lelah, pucat, nyeri dada dan pusing.

9. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pengobatan penderita perdarahan saluran makan bagian atas harus sedini mungkin
dan sebaiknya diraat di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan yang teliti dan
pertolongan yang lebih baik. Pengobatan penderita perdarahan saluran makan bagian
atas menurut meliputi :
1. Pengawasan dan pengobatan umum
a. Penderita harus diistirahatkan mutlak, obat-obat yang menimbulkan efek sedatif
morfin, meperidin dan paraldehid sebaiknya dihindarkan.
b. Penderita dipuasakan selama perdarahan masih berlangsung dan bila perdarahan
berhenti dapat diberikan makanan cair.
c. Infus cairan langsung dipasang & diberilan larutan garam fisiologis slama
belum ada darah.
d. Pengawasan tekanan darah, nadi, kesadaran penderita dan bila perlu dipasang
CVP monitor.
e. Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit perlu dilakukan untuk mengikuti
keadaan perdarahan.
f. Transfusi darah diperlukan untuk menggati darah yang hilang dan
mempertahankan kadar hemoglobin 50-70 % harga normal.
g. Pemberian obat hemostatik seperti vitamin K, 4 x 10 mg/hari, karbasokrom
(Adona AC), antasida dan golongan H2 reseptor antagonis (simetidin atau
ranitidin) berguna untuk menanggulangi perdarahan.
h. Dilakukan klisma atau lavemen dgn air biasa disertai pemberian antibiotika yg
tidak diserap oleh usus, sebagai tindadakan sterilisasi usus. Tindakan ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan produksi amoniak oleh
bakteri usus, dan dapat menimbulkan ensefalopati hepatik.
2. Pemasangan pipa naso-gastrik
Tujuan pemasangan pipa naso gastrik adalah untuk aspirasi cairan lambung,
lavage (kumbah lambung) dengan air , dan pemberian obat-obatan. Pemberian air
pada kumbah lambung akan menyebabkan vasokontriksi lokal sehingga
diharapkan terjadi penurunan aliran darah di mukosa lambung, dengan demikian
perdarahan akan berhenti. Kumbah lambung ini akan dilakukan berulang kali
memakai air sebanyak 100- 150 ml sampai cairan aspirasi berwarna jernih dan bila
perlu tindakan ini dapat diulang setiap 1-2 jam. Pemeriksaan endoskopi dapat
segera dilakukan setelah cairan aspirasi lambung sudah jernih.
3. Pemberian pitresin (vasopresin)
Pitresin mempunyai efek vasokoktriksi, pada pemberian pitresin per infus akan
mengakibatkan kontriksi pembuluh darah dan splanknikus sehingga menurunkan
tekanan vena porta, dengan demikian diharapkan perdarahan varises dapat berhenti.
Perlu diingat bahwa pitresin dapat menrangsang otot polos sehingga dapat terjadi
vasokontriksi koroner, karena itu harus berhati-hati dengan pemakaian obat tersebut
terutama pada penderita penyakit jantung iskemik. Karena itu perlu pemeriksaan
elektrokardiogram dan anamnesis terhadap kemungkinan adanya penyakit jantung
koroner/iskemik.
4. Pemasangan balon SB Tube
Dilakukan pemasangan balon SB tube untuk penderita perdarahan akibat
pecahnya varises. Sebaiknya pemasangan SB tube dilakukan sesudah penderita
tenang dan kooperatif, sehingga penderita dapat diberitahu dan dijelaskan makna
pemakaian alat tersebut, cara pemasangannya dan kemungkinan kerja ikutan yang
dapat timbul pada waktu dan selama pemasangan.
Beberapa peneliti mendapatkan hasil yang baik dengan pemakaian SB tube ini
dalam menanggulangi perdarahan saluran makan bagian atas akibat pecahnya
varises esofagus. Komplikasi pemasangan SB tube yang berat seperti laserasi dan
ruptur esofagus, obstruksi jalan napas tidak pernah dijumpai.
5. Pemakaian bahan sklerotik
Bahan sklerotik sodium morrhuate 5 % sebanyak 5 ml atau sotrdecol 3 %
sebanyak 3 ml dengan bantuan fiberendoskop yang fleksibel disuntikan
dipermukaan varises kemudian ditekan dengan balon SB tube. Tindakan ini tidak
memerlukan narkose umum dan dapat diulang beberapa kali. Cara pengobatan ini
sudah mulai populer dan merupakan salah satu pengobatan yang baru dalam
menanggulangi perdarahan saluran makan bagian atas yang disebabkan pecahnya
varises esofagus.
6. Tindakan operasi
Bila usaha-usaha penanggulangan perdarahan diatas mengalami kegagalan dan
perdarahan tetap berlangsung, maka dapat dipikirkan tindakan operasi . Tindakan
operasi yang basa dilakukan adalah : ligasi varises esofagus, transeksi esofagus,
pintasan porto-kaval. Operasi efektif dianjurkan setelah 6 minggu perdarahan
berhenti dan fungsi hari membaik.
Selain cara-cara tersebut diatas, adapula metode lain untuk menghentikan
perdarahan varises esophagus, antara lain :
a. Cyanoacrylate glue injection, memakai semacam lem jaringan (His-toacryl R)
yang langsung disuntikkan intravena.
b. Endoscopic band ligator
Sedangkan pada perdarahan non variceal, dapat dilakukan tindakan-tindakan
sebagai berikut :
a. Laser photo coagulation
b. Diathermy coagulation
c. Adrenalin injection
d. Sclerotheraphy injection. (I Made Bakta, 2013)

10. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan radiologik dilakukan dengan pemeriksaan esofagogram untuk daerah
esofagus dan diteruskan dengan pemeriksaan double contrast pada lambung dan
duodenum. emeriksaan tersebut dilakukan pada berbagai posisi terutama pada
daerah 1/3 distal esofagus, kardia dan fundus lambung untuk mencari ada/tidaknya
varises. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, dianjurkan pemeriksaan
radiologik ini sedini mungkin, dan sebaiknya segera setelah hematemesis berhenti.
2. Pemeriksaan endoskopik
Dengan adanya berbagai macam tipe fiberendoskop, maka pemeriksaan secara
endoskopik menjadi sangat penting untuk menentukan dengan tepat tempat asal dan
sumber perdarahan. Keuntungan lain dari pemeriksaan endoskopik adalah dapat
dilakukan pengambilan foto untuk dokumentasi, aspirasi cairan, dan biopsi untuk
pemeriksaan sitopatologik. Pada perdarahan saluran makan bagian atas yang sedang
berlangsung, pemeriksaan endoskopik dapat dilakukan secara darurat atau sedini
mungkin setelah hematemesis berhenti.
3. Pemeriksaan ultrasonografi dan scanning hati
Pemeriksaan dengan ultrasonografi atau scanning hati dapat mendeteksi penyakit
hati kronik seperti sirosis hati yang mungkin sebagai penyebab perdarahan saluran
makan bagian atas. Pemeriksaan ini memerlukan peralatan dan tenaga khusus yang
sampai sekarang hanya terdapat dikota besar saja. (Nettina, Sandra M. 2012)

11. KOMPLIKASI
1. Syok hipovolemik
Disebut juga dengan syok preload yang ditandai dengan menurunnya volume
intravaskuler oleh karena perdarahan. dapat terjadi karena kehilangan cairan tubuh
yang lain. Menurunnya volume intravaskuler menyebabkan penurunan volume
intraventrikel. Pada klien dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang
sampai lebih dari 30% dan berlangsung selama 24-28 jam.
2. Gagal Ginjal Akut
Terjadi sebagai akibat dari syock yang tidak teratasi dengan baik. Untuk mencegah
gagal ginjal maka setelah syock, diobati dengan menggantikan volume
intravaskuler.
3. Penurunan kesadaran
Terjadi penurunan transportasi O2 ke otak, sehingga terjadi penurunan
kesadaran.
4. Ensefalopati
Terjadi akibat kersakan fungsi hati di dalam menyaring toksin di dalam
darah. Racun-racun tidak dibuang karena fungsi hati terganggu. Dan suatu kelainan
dimana fungsi otak mengalami kemunduran akibat zat-zat racun di dalam
darah, yang dalam keadaan normal dibuang oleh hati (Sylvia, A Price.
2015)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
Asuhan keperawatan berdasarkan (Muttaqin, Arif. 2014) adalah suatu metode
yang sistematik dan terorganisir yang difokuskan pada reaksi atau respon manusia
yang unik pada suatu kelompok atau perorangan terhadap gangguan kesehatan yang
dialami baik actual maupun potensial.
Tahap-tahap melakukan asuhan keperawatan antara lain pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap ini dilakukan
pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik pada sasaran
yang dituju. Selain itu pengumpulan data dapat diperoleh dari klien, keluarga, tenaga
kesehatan, catatan medis, medical record, dan literature. Hal-hal yang dikaji pada
klien antara lain :
Adapun pengkajian pada pasien hematemesis melena antara lain :
1. Aktivitas / Istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
2. Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah darah kronis, mis : GI kronis, ektremitas pucat
pada kulit dan membran mukosa, pengisian kapiler melambat.
3. Eliminasi
Gejala : hematemesis, feses dengan darah segar, melena, distensi abdomen.
4. Makanan / cairan
Gejala : anoreksia, mual.
5. Neurosensori
Gejala : penurunan kesadaran, sakit kepala.
6. Nyeri
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala.
7. Pernafasan
Gejala : pernafasan pendek pada istirahat dan aktivitas.
8. Integumen
Gejala : kulit dingin, kering dan pucat, pengisian kapiler ≥3 detik.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko keseimbangan elektrolit dengan factor resiko muntah
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
3. Nyeri berhubungan dengan agens cidera (biologis)
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
5. Resiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan
hipovolemia.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
3. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa NOC NIC
Resiko Setelah dilakukan 1. Monitor serum
tindakan keperawatan elektrolit abnormal
ketidakseimbangan
selama 3 jam, tanda-tanda 2. Monitor manifestasi
elektrorit dengan factor vital normal dengan imbalance cairan
kriteria hasil : 3. Pertahankan kepatenan
resiko Muntah
1. Temperature akses IV
2. Denyut nadi 4. Berikan cairan sesuai
apical kebutuhan
3. Denyut nadi radial 5. Catat intake dan output
4. Pernapasan secara akurat
5. Tekanan darah 6. Berikan cairan
intravena yang berisi
elektrolit dengan aliran
yang konstan
7. Berikan suplemen
elektrolit (oral, NG, IV)
sesuai anjuran
8. Konsultasikan dengan
dokter tentang medikasi
elektrolit
( spiranolactone,)
9. Ambil spesimen untuk
analisis labor (AGD, urin,
serum)
10. Monitor hilangnya
cairan yang kaya elektrolit
(NGT suction drainase,
illeosomi, diare, drainase
luka, diaforesis)
11. Minimalkan konsumsi
oral
12. Berikan diet yang tepat
untuk mengatasi
imbalance cairan
13. Ajarkan pasien/
keluarga tentang
modifikasi diet
14. Berikan lingkungan
yang aman pada pasien
dengan manifestasi
neurologis dan atau
neuromuskular
15. Berikan orientasi
16. Ajarkan pasien dan
keluarga tentang tipe,
penyebab, dan perawatan
imbalance cairan.
17. Konsultasikan dengan
dokter tanda dan gejala
imbalance cairan
18. Monitor respon cairan
untuk pemberian terapi
elektrolit
19. Monitor efek samping
pemberian suplemen
elektrolit (iritasi
gastrointestinal)
20. Monitor secara ketat
serum K pada pasien
dengan obat digitalis dan
diuretik
21. Monitor cardiac
Gangguan pemenuhan NOC Pengelolaan nutrisi (Nutrion
Management ) :
kebutuhan nutrisi kurang Setelah dilakukan 1. Monitor catatan masukan
dari kebutuhan tubuh tindakan keperawatan kandungan nutrisi dan
kalori.
berhubungan dengan status nutrisi adekuat
dengan kriteria hasil : 2. Anjurkan masukan kalori
intake yang tidak yang tepat sesui dengan
1. Intake nutrisi baik tipe tubuh dan gaya hidup.
adekuat.
2. Intake makanan 3. Berikan makanan pilihan.
baik 4. Anjurkan penyiapan dan
3. Asupan cairan penyajian makanan
cukup dengan teknik yang aman.
4. Peristaltic usus 5. Berikan informasi yang
normal tepat tentang kebutuhan
5. Berat badan nutrisi dan bagaimana cara
meningkat memperolehnya
6. Kaji adanya alergi
makanan
7. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien
8. Yakinkan diet yang
dimakan
mengandungtinggi serat
untuk mencegah
konstipasi
9. Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian
10. Monitor adanya
penurunan BB dan
g u l a darah
11. Monitor lingkungan
selama makan
12. Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidakselama jam
makan
13. Monitor turgor kulit
14. Monitor kekeringan,
rambut kusam,
totalprotein, Hb dan
kadar Ht
15. Monitor mual dan muntah
16. Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
17. Monitor intake nuntrisi
Nutrition Monitoring

1. BB pasien dalam batas


normal
2. Monitor adanya
penurunan berat badan
3. Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa
dilakukan
4. Monitor interaksi anak
atau orangtua selama
makan
5. Monitor lingkungan
selama makan
6. Jadwalkan pengobatan
dan tindakan tidak selama
jam makan
7. Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
8. Monitor turgor kulit
9. Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan mudah
patah
10. Monitor mual dan muntah
11. Monitor kadar albumin,
total protein, Hb, dan
kadar Ht
12. Monitor makanan
kesukaan
13. Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
14. Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
15. Monitor kalori dan intake
nuntrisi
16. Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas
oral.
17. Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
Weight Management
1. Diskusikan bersama
pasien mengenai
hubungan antara intake
makanan, latihan,
peningkatan BB dan
penurunan BB
2. Diskusikan bersama
pasien mengani kondisi
medis yang dapat
mempengaruhi BB
3. Diskusikan bersama
pasien mengenai
kebiasaan, gaya hidup dan
factor herediter yang dapat
mempengaruhi BB
4. Diskusikan bersama
pasien mengenai risiko
yang berhubungan dengan
BB berlebih dan
penurunan BB
5. Dorong pasien untuk
merubah kebiasaan makan
6. Perkirakan BB badan ideal
pasien
Nyeri b.d agens cidera Setelah dilakukan MANAJEMEN NYERI
biologis tindakan keperawatan 1. lakukan pengkajian nyeri
selama 4x 24 jam secara komprehensif
diharapkan jam pasien termasuk lokasi,
dapat mengontrol nyeri karakteristik, durasi,
dengan indikator: frekuensi, kualitas dan
 Mengenali faktor faktor presipitasi
2. observasi reaksi non
penyebab
 Mengenali onset verbal dari
(lamanya sakit) ketidaknyamanan
 Menggunakan 3. gunakan teknik
metode pencegahan komunikasi terapeutik
 Menggunakan untuk mengetahui
metode nonanalgetik pengalaman nyeri pasien
untuk mengurangi 4. kaji kultur yang

nyeri mempengaruhi respon


 Menggunakan nyeri
analgetik sesuai 5. evaluasi pengalaman

kebutuhan nyeri masa lampau


 Mencari bantuan 6. evaluasi bersama pasien

tenaga kesehatan dan tim kesehatan lain


 Melaporkan gejala tentang ketidakefektifan
pada tenaga kontrol nyeri masa lampau
7. bantu pasien dan keluarga
kesehatan
  Menggunakan untuk mencari dan
sumber-sumber yang menemukan dukungan
8. kontrol lingkungan yang
tersedia
 Mengenali gejala- dapat mempengaruhi nyeri
gejala nyeri seperti suhu ruangan,
 Mencatat pengalaman pencahayaan dan
nyeri sebelumnya kebisingan
 Melaporkan nyeri 9. kurangi faktor presipitasi
sudah terkontrol 10. pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
11. kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi
12. ajarkan tentang teknik non
farmakologi
13. berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
14. evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
15. tingkatkan istirahat
DAFTAR PUSTAKA

Nettina, Sandra M. 2012. Pedoman Praktik Keperawatan. Edisi 4.Jakarta : EGC


Grace & Borley, 2007. At a Glance Medicine (36-37). Jakarta: Erlangga.
Mansjoer, Arif 2014. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1(3rd ed.). Jakarta: Media.
Aesculapius.
I Made Bakta, 2013.Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah, Brunner and Suddarth’s, Ed 8
Vol 1. Jakarta: EGC.

Mubin (2006).Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: Diagnosis Dan Terapi(2ndEd.).


Jakarta: EGC.
Sylvia, A Price. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Keperawatan.Edisi
6.Jakarta : EGC
Muttaqin, Arif. 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.