Anda di halaman 1dari 5

Deixis

Deiksis (deixis) merupakan cabang dari ilmu bahasa yakni Pragmatik, kata deiksis berasal
dari bahasa Yunani Deiktitos yang berarti "hal penunjukan secara langsung". Sebuah kata
dikatakan bersifat deiktis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung
pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. (Kaswanti Purwo: 1983:1-2); (Parker, 1986:38).

Deixis bisa juga diartikan sebagai kata yang referennya selalu berubah tergantung pada
konteks. Deixis juga merupakan bagian dari ilmu bahasa (lingusitic) yakni bagian dari
pragmatik yang memiliki hubungan dengan kata-kata atau kalimat yang berubah karena
situasi dan konteks kalimat tersebut.

Menurut Bambang Kaswanti Purwo dalam bukunya 'Pragmatik dan Pengajaran Bahasa'
(1984:17). Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata yang deiktis. Kata-kata seperti
ini tidak memiliki referen yang tetap. Berbeda halnya dengan kata seperti kursi, rumah,
kertas. Siapapun yang mengucapkan kata kursi, rumah, kertas,di tempat manapun, pada
waktu kapanpun, referen yang diacu tetaplah sama. Akan tetapi, referen dalam kata saya, sini,
sekarang barulah dapat diketahui jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan pada waktu
kapan kata-kata itu diucapkan.

Levinson (1983:62) menyebutkan bahwa dalam bahasa Inggris deiksis dapat diklasifikasikan
menjadi lima bagian, yaitu deiksis personal 'personal deixis', deiksis ruang 'place deixis'
deiksis waktu 'time deixis', deiksis sosial 'social deixis', dan deiksis wacana 'discourse deixis'.
Seperti yang dijelaskan dalam buku Levinson (Pragmatics) seperti berikut:

1. Deiksis Personal (Personal Deixis)

Personal deixis concerns the encoding of the participants in the speech event in which the
utterance in question is delivered. The category of personal divided into three: the category
are first person is the grammatically of the speaker`s reference himself, second person the
encoding of the speaker`s reference to one or more addresses. Third persons encode of
reference to person and entities that are neither speakers nor addressees of the utterance in
question.
Levinson (1983:62).

("Deiksis personal berhubungan dengan pemahaman mengenai peserta pertuturan dalam


situasi pertuturan di mana tuturan tersebut dibuat. Kategori dari personal deiksis dibagi
kedalam tiga bagian: kategorinya adalah orang pertama adalah tata bahasa dari referensi
pembicara sendiri. Orang kedua adalah pemahaman pada referensi pembicara pada satu atau
lebih tujuan. Orang ketiga adalah pemahaman referensi untuk orang dan entitas penutur dan
petutur dari ucapan tersebut dalam pertanyaan").

Sebagai contohnya, penggunaan kata ganti orang pertama adalah referensi penutur untuk
penutur untuk dirinya sendiri, orang kedua untuk menunjuk kepada satu arah atau lebih lawan
tuturnya, sedangkan orang ketiga untuk menunjuk selain diri penutur maupun lawan tuturnya.
(Nadar F.X.:2009:56).

Personal deiksis adalah referensi deiktis pada fungsi referensi, yakni penutur, petutur dan
referen yang bukan penutur atau petutur.
Lyon, (1968:276) "Person deixis is not only referring someone or somebody, but also it can
refer something"

("Personal deiksis tidak hanya mengacu pada seseorang atau lainnya, deiksis juga bisa
mengacu pada sesuatu")

Oleh karena itu, dengan menggunakan deiksis personal petutur bisa mengacu pada apapun.
Bisa seseorang (manusia) atau sesuatu (benda).

Kata-kata deiksis personal termasuk ke dalam subject pronoun (I, you, we, they, he, she, it),
object pronoun (me, you, him, her, it, us, you, them), possessive adjective (my, your, his, her,
its, our, their), possessive pronoun (mine, yours, his, hers, ours, and theirs) dan reflexive
pronoun (myself, yourself, himself, herself, itself, ourselves, yourselves, themselves).

Untuk lebih jelas, kita lihat contoh deiksis personal di bawah ini:

"She wants to get the best score in the final exam"

Dalam kata she penutur adalah seorang perempuan, tapi bisa saja mengacu pada perempuan
lain ketika perempuan lain mengatakan hal yang sama. Kata she tidak dapat berubah, tapi
referennya bisa berubah tergantung pada siapa yang mengucapkannya. Kata she adalah
bentuk tunggal dari subject pronoun dari kata ganti orang ketiga.

"He burned himself"

Dari contoh di atas, ada dua bentuk deiksis personal. Pertama adalah he dan yang kedua
adalah himself. Dua kata tersebut mengacu pada penutur. Kata he adalah bentuk tunggal dari
subject pronoun dari kata ganti orang ketiga, sedangkan kata himself mengacu pada singular
reflexive pronoun dari kata he.

2. Deiksis Waktu (Time Deixis)

Deiksis waktu mengacu pada waktu yang relatif pada waktu pembicaraan atau percakapan
berlangsung.

Time deixis makes ultimate reference to participant-role, so it is important to distinguish the


moment of utterance from the moment of reception (Levinson, 1983:73).

("Deiksis waktu membuat keistimewaan mengacu pada fungsi peserta, deiksis waktu sangat
penting untuk membedakan saat percakapan berlangsung dan penerimaan percakapan").

Deiksis waktu akan sangat mudah diketahui jika penutur dan petutur mengerti waktu
percakapan dan berlangsungnya percakapan serta maksud dari percakapan tersebut. Ada
beberapa kata yang termasuk deiksis waktu, diantaranya: now, yesterday, tomorrow, today,
months, afternoon, etc.

"Tomorrow is Sunday"

Kata tomorrow termasuk pada deiksis waktu karena mengacu pada hari yang relevan. Dari
pembicaraan, waktu ketika percakapan dibicarakan adalah pada hari Jum`at (Friday) karena
kata tomorrow mengacu pada hari Sabtu (Saturday).

"I saw him last week"

Kata last week (minggu depan) termasuk pada deiksis waktu, kata last week mengacu pada
waktu yang pasti terjadi ketika percakan dibicarakan.

3. Deiksis Ruang (Place Deixis)

Deiksis ruang adalah hubungan tempat antara penutur dan hal yang dimaksud. Levinson
mengatakan dalam Pragmatics

Place deixis concerns the encoding of spatial locations relative to the location of the
participants in the speech. (Levinson, 1983:62).

("Deiksis tempat behubungan dengan pemahaman lokasi ruang atau tempat yang digunakan
pada lokasi tempat peserta pembicara dalam pembicaraan")

Tempat atau lokasi dapat menjadi deiksis jika tempat atau lokasi dapat terlihat dari lokasi
orang-orang yang melakukan komunikasi dalam kegiatan pembicaraan.

Deiksis tempat bisa terlihat dari penggunaan demonstrative pronoun seperti kata: "this" dan
"that", dan juga bisa dilihat sebagai demonstrative adverbs yang menyatakan tempat seperti:
"here" dan "there".

"There you go"

Kata "there" adalah sebuah adverb of place (kata keterangan tempat) yang mengacu pada
sesuatu tempat yang diketahui oleh penutur dan penutur tersebut mengetahui maksud dari
tempat tersebut.

4. Deiksis Sosial (Social Deixis)

Deiksis sosial adalah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara
pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembicara dengan topik atau rujukan yang
dimaksud dalam pembicaraan itu (Agustina, 1995:50).

Fillmore in Levinson states that social dexis concerns that aspect of sentences, which reflect
or establish are determine by certain realities of the social situation in which the speech act
occurs (1983:89).

("Fillmore dalam Levinson menyatakan bahwa deiksis sosial berhubungan dengan


pemahaman aspek dari kalimat-kalimat, yang mana menggambarkan atau menentukan
perbandingan realita sosial dalam kejadian tindak tutur").

There are also in many languages forms reserved for authorized receipients, including
restriction on most titles of address like your honor, your royal hignes, Mr. President, etc.
(Haas in Levinson, 1983:91).
("Adapula beberapa contoh dalam bahasa yang termasuk kedalam deiksis sosial dalam bentuk
penghormatan untuk orang yang diagungkan termasuk pembatasan pada gelar yang dituju
seperti kata your honor, your royal highnes, Mr. President").

Contoh lain dari deiksis sosial misalnya penggunaan kata mati, wafat, meninggal, mangkat
untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda
pemakaiannya.

5. Deiksis Wacana (Discourse Deixis)

Discourse deixis refers to such matters the use of this the point to future discourse element
(Cruise, 2000:323). According to Levinson (1983:85), discourse deixis concern the use of
expressions within some utterance to refer to some portion of the discourse contents that
utterance (including the use of the utterance itself)

("Deiksis wacana mengacu pada beberapa masalah yang digunakan untuk menunjuk element
wacana (Cruise, 2000:323), menurut Levinson (1983:85), deiksis wacana berhubugan dengan
pemahaman penggunaan ungkapan dalam beberapa percakapan mengacu pada porsi dari isi
wacana dalam percakapan (termasuk penggunaan perckapan itu sendiri).

Deiksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah
diberikan atau yang sedang dikembangkan (Agustina, 1995:47). Deiksis wacana ditunjukan
oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat anafora apabila perujukan atau
penggantinya merujuk kepada hal yang sudah disebutkan. Sementara itu, sebuah rujukan atau
referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal yang akan
disebutkan.

Sebuah kata bisa disebut sebagai deiksis wacana jika kata tersebut mengacu pada bagian pasti
dari teks tersebut dimana referen dibuat menjadi wacana saat ini. Contoh deksis wacana
adalah yang terdahulu, yang pertama,yang berikut, next thursday, in the last paraagraph, dan
in the next chapter.

Pronoun bisa termasuk ke dalam deiksis wacana jika pronoun tersebut digunakan untuk
mengacu pada referen sebagai bagian dari wacana atau pronoun pula bisa dikatakan sebagai
co-referential

"I was born in Indonesia and I have lived here all my life"

"That was an amazing day"

"This is a great story"

Kata here mengacu pada Indonesia sejak penutur dilahirkan dan telah tinggal di Indonesia,
sedangkan kata that mengacu pada hari dan this mengacu pada cerita. Ada perbedaan antara
bentuk demonstrative: that dan this. Kadang, that digunakan pada porsi utama dalam wacana,
sedangkan this digunakan pada porsi berikutnya dari wacana.

Referensi
Agustina. 1995. Pragmatik Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang.

Cruise, Alan. 2000. Meaning in Language: An Introduction to Semantics and Pragmatics.


New York: Oxford University Press

Levinson, Stephen C. 1983. Pragmatics. Cambridge, England: Cambridge University Press

Nadar F.X. 2009. Pragmatik & Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu

Parker, Frank. 1986. Linguistics for Non-Linguistics. London: Taylor and Francis, Ltd.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka