Anda di halaman 1dari 8

MATA KULIAH : ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN

DOSEN PEMBIMBING :RIZA TSALATSATUL MUFIDA , SST., M.Keb

CONTOH KASUS MALPRAKTIK BIDAN

OLEH :

NURISTA FITRIA WARDHANI ARFAN

1741A0015

PROGRAM STUDY DIV BIDAN KLINIK

STIKES SURYA MITRA HUSADA

KEDIRI

2017
MAL PRAKTIK

A. Pengertian Malpraktik

Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu

berkonotasi yuridis. Secara harfiah “mal” mempunyai arti “salah” sedangkan

“praktek” mempunyai arti “pelaksanaan” atau “tindakan”, sehingga malpraktek

berarti “pelaksanaan atau tindakan yang salah”. Meskipun arti harfiahnya demikian

tetapi kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan

yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi. Sedangkan difinisi malpraktek

profesi kesehatan adalah “kelalaian dari seseorang dokter atau tenaga keperawatan

(perawat danbidan) untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu

pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan

terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama”

(Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California,

1956).

Menurut Hanafiah dan Amir (1999) kelalaian adalah sikap yang kurang

hati-hati, yaitu tidak melakukan sesuatu yang seharusnya seseorang lakukan dengan

sikap hati-hati dan wajar, atau sebaliknya melakukan sesuatu yang dengan sikap

hati-hati, tetapi tidak dilakukannya dalam situasi tersebut.

Guwandi (1994) mengatakan bahwa kelalaian adalah kegagalan untuk

bersikap hati-hati yang pada umumnya wajar dilakukan seseorang dengan hati-hati

dalam keadaan tersebut.


Dari pengertian di atas, dapat diartikan bahwa kelalaian lebih bersifat ketidak

sengajaan, kurang teliti, kurang hati-hati, acuh tak acuh, sembrono, tidak peduli

terhadap kepentingan orang lain, tetapi akibat, yang ditimbulkan bukanlah

tujuannya.

Malpraktik tidak sama dengan kelalaian. Malpraktik. sangat spesifik dan

terkait dengan status profesional dan pemberi pelayanan dan standar pelayanan

profesional. Malpraktik adalah kegagalan seorang profesional (misalnya, dokter

dan perawat) untuk melakukan praktik sesuai dengan standar profesi yang berlaku

bagi seseorang yang karena memiliki keterampilan dan pendidikan (Vestal, K.W,

1995). Malpraktik lebih luas daripada negligence karena selain mencakup arti

kelalaian, istilah malpraktik pun mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan

dengan sengaja (criminal malpractice) dan melanggar undang-undang. Di dalam

arti kesengajaan tersirat adanya motif (guilty mind) sehingga tuntutannya dapat

bersifat perdata atau pidana.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan malpraktik adalah :

1. Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang tenaga

kesehatan;

2. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan kewajibannya.

(negligence)

3. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan perundang-

undangan.
B. Masalah Kasus Kesehatan dalam bidang Kebidanan

 Contoh Kasus

Seorang Bidan menolong persalinan pada Ny. W, G3 P2 A0, cara persalinan

terakhir spontan, umur anak usia terakhir 2 tahun, HPHT (Hari Pertama Haid

terakhir) lupa, tidak pernah dirujuk selama kehamilan. Saat ditolong umur

kehamilan 24 minggu, diagnosa sewaktu datang letak kepala, lahir spontan tidak

ada kelainan, komplikasi persalinan ketuban pecah dini,lama persalinan 4 jam,

dalam kala 1 lama persalinan 30 menit, tempat persalinan di rumah Bidan, keadaan

ibu sampai pulang hidup. Tanggal lahir bayi 08-03-2010, berat lahir 700 gr, jenis

kelamin bayi perempuan, asfiksia berat, kematian bayi akibat dari premature.

 Pembahasan Kasus

Bidan pada kasus di atas tidak memberikan informasi tentang keadaan pasiennya

serta bidan tidak merujuk pasien yang bukan wewenangnya atau kompetensinya.

Kesimpulan sementara, Bidan tersebut melanggar kode etik, wewenang bidan dan

peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1464/MENKES/

PER/X/2010, tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan Indonesia.

1. Menurut Hukum

Pada pasal 18 ayat (1) dalam praktik/kerja, bidan berkewajiban untuk

menghormati hak pasien, memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien

dan pelayanan yang dibutuhkan, merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau

tidak dapat ditangani dengan tepat waktu, meminta persetujuan tindakan yang akan

segera dilakukan, menyimpan rahasia pasien yang sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan, melakukan pencatatan asuhan kebidanan dan


pelayanan lainya secara sistematis, mematuhi standar; dan melakukan pencatatan

dan pelaporan penyelenggaraan praktik kebidanan termasuk pelaporan kelahiran

dan kematian.

Secara spesifik pemerintah mengatur hak atas pelayanan dan perlindungan

kesehatan bagi ibu dan anak di dalam Pasal 126 dan Pasal 131 UU No.36 tahun

2009 tentang Kesehatan. Adapun dalam desain pelaksanaannya, hak tersebut

diarahkan melalui kebijakan strategi dan aktivitas untuk menurunkan Angka

Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA).

Berdasarkan Pasal 13 ayat (1), selain kewenangan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12, bidan yang menjalankan program

Pemerintah berwenang melakukan pelayanan kesehatan meliputi: butir

melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi

Menular Sek-sual (IMS) termasuk pemberian kondom dan penyakit lainnya.

Pada kasus ini, bidan melanggar KepMenkes No.

1464/MenKes/per/X/2010. Bidan melanggar wewenangnya dimana menolong

persalinan dengan kondisi janin premature, sedangkan dalam peraturan

KepMenKes ataupun wewenang bidan diatas su-dah jelas bahwasannya bidan

hanya menolong kehamilan, persalinan fisiologis dan mendeteksi dini komplikasi

persalinan serta dilanjutkan rujukan. Setelah melakukan diagnosa kebidanan

bahwa usia kehamilan masih tergolong premature bidan tersebut tidak melakukan

rujukan hal ini selain diatur dalam KepMenKes diatas dan wewenang bidan

dijelaskan juga pada UU No. 44 Tahun 2009 Pasal 41 dan Pasal 42. Ketiga,

bertentangan dengan kesusilaan. Keempat, bertentangan dengan keharusan yang


diindahkan dalam pergaulan masyarakat mengenai orang lain atau benda milik

orang lain. Unsur ketiga dan empat ini tidak terpenuhi dalam kasus diatas. Jadi

kesimpulan sementara pada kasus di atas, bidan tersebut memenuhi unsur pertama

dan kedua.

2. Menurut Kode Etik Bidan

Bidan memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di

bidang kesehatan. Bidan sebagai tenaga kesehatan memilki tiga hal tanggung

jawab di dalam upaya pelayanan kesehatan meliputi: tanggung jawab etis yang

landasannya adalah kode etik, yang pada dasarnya memuat bahwa kewajiban

umum, kewajiban terhadap penderita, kewajiban terhadap sejawat dan terhadap diri

sendiri. Tanggung jawab profesi yang didasarkan pendidikan, pengalaman, derajat

resiko perawatan, peralatan perawatan dan fasilitas perawatan. Tanggung jawab

hukum, yang didasarkan pada hu-kum perdata, hukum administrasi, dan hukum

pidana

Pada kasus diatas, Bidan telah melanggar Kode Etik bidan yang ke 2 yaitu

Kewajiban bidan terhadap tugasnya (3 butir), pada butir 1 dan butir 2, dimana:

a. Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna terhadap klien,

keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya

berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.

b. Setiap bidan berhak memberikan pertolongan dan mempunyai kewenangan

dalam mengambil keputusan dalam tugasnya termasuk keputusan mengadakan

konsultasi dan atau rujukan.


Bidan tidak melaksanakan tugasnya sesuai Kode Etik Bidan. Bidan dalam

memberikan pelayanan bukan sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya,

yakni Bidan hanya melakukan pertolongan persalinan yang normal. Kasus diatas

juga, Bidan tidak cermat dalam mengambil keputusan. Yaitu, keputusan

mengadakan konsultasi atau melakukan rujukan.

Kemudian, kasus diatas juga melanggar Kode Etik Bidan yang ke 7 yaitu

Kewajiban Bidan terhadap Pemerintah, Bangsa dan Tanah Air (2 butir). Pada butir

1, dimana : Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan

ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam

pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga dan masyarakat.

3. Solisi Yang Diberikan Pada Kasus Tersebut

Dalam menjalankan kewenangan yang diberikan bidan harus;

melaksanakan tugas kewenangannya sesuai dengan standar profesi, memiliki

ketrampilan dan kemampuan untuk tindakan yang dilakukannya, mematuhi dan

melaksanakan protap yang berlaku diwilayahnya, bertanggung jawab atas

pelayanan yang diberikan dan berupaya secara optimal dalam mengutamakan

keselamatan ibu calon bayi atau janin.

Tenaga kesehatan yang melakukan kelalaian sama dengan melakukan

malpraktik. Malpraktik yang dilakuakan oleh tenaga kesehatan, dapat berupa

malpraktik medik yaitu yang dilaksanakan ketika ia menjalankan profesinya

dibidang medik dalam hal ini dapat berupa perbuatan yang dapat disengaja seperti

pada mis condact tertentu, tindakan kelalaian atau ketidak kompetenan diluar
kompetennya yang tidak beralasan yang berupa luka atau menderita kerugian pada

pihak yang ditangani.

Telah ditentukan secara jelas bahwasannya tugas atau wewenang bidan

sudah diatur oleh pemerintah sebagai berikut: pemberian kewenangan lebih luas

kepada bidan dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan kegawatdaruratan

obstetri dan neonatal kepada setiap ibu hamil/bersalin, nifas dan bayi baru lahir (0

– 28 hari) agar penanganan dini atau pertolongan pertama sebelum rujukan dapat

dilakukan secara cepat dan tepat waktu.

4. Saran

Seorang bidan harus selalu memperhatikan apa yang dibutuhkan pasien

sehingga kita mampu memberikan pelayanan yang komprehesif dan berkualitas.

Bidan harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup mendalam agar

setiap tindakannya sesuai dengan standar profesi dan kewenangannya.

5. Kebijakan Untuk Meminimalisir Mal Praktik

a. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.

b. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.

c. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.

d. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala

kebutuhannya.

e. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat

sekitarnya.