Anda di halaman 1dari 60

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah usia lanjut dan osteoporosis semakin menjadi perhatian dunia

hal ini dilator belakangi oleh meningkatnya usia harapan hidup. Keadaan ini

menyebabkan peningkatan penyakit menua yang menyertainya diantaranya

osteoporosis. Masalah osteoporosis di Indonesia dihubungkan dengan masalah

hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia

pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat usia 60 tahun. Mulai berkurangnya

paparan terhadap sinar matahari, kurangnya asupan kalsium, perubahan gaya

hidup seperti merokok, alcohol dan berkurangnya latihan fisik,penggunaan obat

steroid jangka panjang serta risiko osteoporosis tanpa gejala klinis.

Menurut WHO (1994), angka kejadian patah tulang (fraktur) akibat

osteoporosis di seluruh dunia mencapai angka 1,7 juta orang dan diperkirakan

angka ini akan terus meningkat hingga mencapai 6,3 juta orang pada tahun 2050

dan 71% kejadian ini akan terdapat di negara –negara berkembang. Di Indonesia

19,7 % dari jumlah lansia atau sekitar 3,6 juta orang diantaranya menderita

osteoporosis (klinik medis, 2008). Lima provisi dengan risiko osteoporosis lebih

tinggia adalah Sumatra selatan (27,7%), jawa tengah (24,02%), Yogyakarta

(23,5%), Sumatra utara (22,82%), jawa timur (21,42%), Kalimantan timur

(10,5%) (depkes,2005). Patah tulang osteoporosis telah hampir 24% dari ansia

yang mengalami patah tulang pinggul meninggal dunia pada tahun pertama
sedangkan 50% mempunyai risiko tidak bias melakukan aktivitas seumur hidup

dan 25% memerlukan perawatan jangka panjang dan butuh dana yang besar serta

tidak akan bias hidup tanpa bantuan orang lain (Lane, 2001 dan Yatim 2000).

Osteoporosis sebenarnya dapat dicegah sejak dini atau paling sedikit

ditunda kejadiannya dengan membudayakan perilaku hidup sehat yang intinya

mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan

nutrisi dengan unsure kaya serat, rendah lemak dan kaya kalsium (1000-1200 mg

kalsium per hari), berolahraga secara teratur, tidak merokok,dan tidak

mengkonsumsi alkohol karena rokok dan alcohol meningkatkan risiko

osteoporosis dua kali lipat, namun kurangnya pengetahuan masyarakat yang

memadai tentang osteoporosis dan pencegahannya sejak dini cenderung

meningkat angka kejadian osteoporosis (Depkes, 2004).

Meilani (2007) dan Ashar (2008) dalam penelitiannya mengenai

pengaruh pengetahuan dan upaya lansia terhadap osteoporosis menyatakan

bahwa terdapat hubungan substansial antara pengetahuan dan upaya pencegahan

dini osteoporosis. Lansia yang kurang pengetahuannya mengenai osteoporosis

dan upaya yang kurang tepat mempunyai resiko lebih tinggi untuk meningkatnya

derajat osteoporosis, dengan meningkatkan pengetahuan lansia tentang

osteoporosis dapat mencegah meningkatnya osteoporosis (Ashar, 2008).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari Osteoporosis?

2. Bagaimana proses pembentukan tulang?


3. Bagaimana klasifikasi dari Osteoporosis?

4. Bagaimana etiologi dari Osteoporosis?

5. Bagaimana manifestasi klinis dari Osteoporosis?

6. Bagaimana patofisiologi dari Osteoporosis?

7. Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada pasien dengan

Osteoporosis?

8. Bagaimana penatalaksanaan dari Osteoporosis?

9. Apa saja komplikasi dari Osteoporosis?

10. Bagaimana prognosis dari Osteoporosis?

11. Bagaimana woc (web of caution) dari Osteoporosis?

12. Bagaimana pelaksanaan senam Osteoporosis?

13. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteoporosis?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Menjelaskan pengertian dari Osteoporosis, senam osteoporosis dan

asuhan keperawatan pada klien dengan Osteoporosis.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menjelaskan definisi dari Osteoporosis.

2. Menjelaskan proses pembentukan tulang.

3. Menjelaskan klasifikasi dari Osteoporosis.

4. Menjelaskan etiologi dari Osteoporosis.

5. Menjelaskan manifestasi klinis dari Osteoporosis.


6. Menjelaskan patofisiologi dari Osteoporosis.

7. Menjelaskan pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada pasien

dengan Osteoporosis.

8. Menjelaskan penatalaksanaan dari Osteoporosis.

9. Menjelaskan komplikasi dari Osteoporosis.

10. Menjelaskan prognosis dari Osteoporosis.

11. Menjelaskan WOC (web of caution) dari Osteoporosis.

12. Menjelaskan pelaksanaan senam Osteoporosis.

13. Menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteoporosis.

1.4 Manfaat

Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami

tentang osteoporosis, asuhan keperawatan pada klien dengan osteoporosis dan

senam osteoporosis serta mampu mengimplementasikannya dalam proses

keperawatan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Osteoporosis

2.1.1. Definisi Osteoporosis

Osteoporosis yang lebih dikenal dengan keropos tulang menurut WHO adalah

penyakit skeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang rendah dan

perubahan mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya fragilitas

tulang dan meningkatnya kerentanan terhadap patah tulang. Osteoporosis adalah

kelainan dimana terjadi penurunan massa tulang total (Lukman dan Nurna Ningsih,

2012).

Osteoporosis adalah suatu keadaan penyakit yang ditandai dngan rendahnya

massa tulang dan memburuknya mikrostruktural jaringan tulang, menyebabkan

kerapuhan tulang sehingga meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Keadaan tersebut

tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur. Pada

osteoporosis, terjadi penurunan kualitas tulang dan kuantitas kepadatan tulang,

padahal keduanya sangat menentukan kekuatan tulang sehingga penderita

Osteoporosis mudah mengalami patah tulang atau fraktur (Helmi, 2012).

Osteoporosis (pengeroposan tulang) merupakan gangguan metabolic tulang

dengan meningkatkan kecepatan resorpsi tulang tetapi kecepatan pembentukannya

berjalan lambat sehingga terjadi kehilangan massa tulang. Tulang yang terkena

gangguan ini akan kehilangan garam-garan kalsium serta fosfat dan menjadi porous,

rapuh serta secara abnormal rentan terhadap fraktur (Kowalak, 2011).


Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total.

Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang

lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa

tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang

menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada

tulang normal (Brunner & Suddarth, 2000).

2.1.2 Proses Pembentukan Tulang

Modeling tulang adalah suatu kondisi saat proses resorpsi dan

pembentukan tulang terjadi pada permukaan tulang yang berlainan (pembentukan dan

resorpsi tidak berpasangan). Contohnya pada pertambahan panjang dan diameter

tulang panjang. Modeling tulang terjadi sejak kelahiran hingga dewasa dan proses ini

berperan dalam penambahan massa dan perubahan bentuk kerangka. Pada

kondisi ini proses pembentukan tulang lebih dominan terjadi daripada proses

resorpsi tulang.

Remodeling tulang adalah pergantian jaringan tulang tua dengan jaringan

tulang muda. Kondisi ini sebagian besar terjadi pada kerangka hewan dewasa

untuk mempertahankan massa tulang. Proses ini mencakup pembentukan dan

resorpsi tulang secara bersamaan (berpasangan). Remodeling merupakan sebuah

proses yang dinamis termasuk penggantian dan pengisian kembali baik tulang

kompak maupun trabekular. Proses ini terus-menerus terjadi untuk

mempertahankan massa tulang serta integritas dan fungsi kerangka. Proses ini

kompleks dan dikendalikan oleh susunan syaraf pusat melalui hormon dan oleh
tekanan mekanis. Proses ini bergantung pada keterpaduan aksi dari osteoblas,

osteosit, dan osteoklas. Secara bersamaan, ketiga sel ini membentuk BMU (Basic

Multicellular Unit) atau unit remodeling tulang yang berperan dalam proses

remodeling pada hewan dewasa (Mills 2007).

Proses remodeling tulang terjadi dalam beberapa fase (Gambar 1), yaitu:

1. Aktivasi

pre-osteoklas terstimulasi menjadi osteoklas dewasa yang aktif.

2. Resorpsi

osteoklas mencerna matriks tulang tua.

3. Pembalikan

akhir dari proses resorpsi, saat osteoklas digantikan

oleh osteoblas.

4. Pembentukan

osteoblas menghasilkan matriks tulang yang baru.

5. Fase pasif

osteoblas selesai menghasilkan matriks dan terbenam

di dalamnya. Beberapa osteoblas membentuk sederet

sel yang berjejer di permukaan tulang yang baru

(IPB, tt).

Gambar 1: Proses

remodeling tulang (IOF

2009)
2.1.3 Klasifikasi Osteoporosis

Menurut Farida Mulyaningsih (2008), osteoporosis diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Osteoporosis Postmenopausal

Terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang

membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.

Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa

mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki

risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih

dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

2. Osteoporosis Senilis

Merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia

dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan

pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi

pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali

lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis

dan postmenopausal.

3. Osteoporosis Sekunder

Dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh

keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit osteoporosis bisa

disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid,

paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat,

anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang

berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis.


4. Osteoporosis Juvenil Idiopatik

Merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya belum diketahui. Hal ini

terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi

hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab

yang jelas dari rapuhnya tulang (Mulyaningsih, 2008).

2.1.4 Etiologi Osteoporosis

Osteoporosis postmenopause terjadi karena kekurangan estrogen (hormone

utama pada wanita), yang membantu mengatur pengankutan kalsium ke dalam tulang

pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia dintara 53 – 73 tahun,

tetapi bisa muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki

risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopause, pada wanita kulit

putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada kulit hitam.

Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium

yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya

tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis yaitu keadaan penurunan massa

tulang yang hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasnya terjadi pada usia

lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan dua kali lebih

sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis postmenopause

dan senilis.

Kurang dari lima persen penderita osteoporosis juga menngalami osteoporosis

sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.

Penyakit ini bisa diakibatkan oleh gagal ginjal kronik dan kelainan hormonal
(terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid,

barbiturate, antikejang, dan hormone tiroid yang berlebihan). Pemakaian alcohol yang

berlebihan dan kebiasaan merokok bisa memperburuk keadaan ini.

Osteoporosis juvenile idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang tidak

diketahui penyebabnya. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang

memiliki kadar dan fungsi hormone yang normal, kadar vitamin yang normal dan

tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang (Lukman dan Nurna

Ningsih, 2012).

Faktor resiko terjadinya osteoporosis:

1. Wanita

Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan

pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak

usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi

pada usia 45 tahun.

2. Usia

Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada

usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam

mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan

kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.

3. Ras/Suku

Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia

memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium

wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa
dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan

hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.

5. Keturunan Penderita Osteoporosis

Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah.

Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti

kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga

pasti punya struktur genetik tulang yang sama.

6. Gaya Hidup Kurang Baik

a. Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung

fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab

pelepasan kalsium dari dalam darah.

b. Minuman berkafein dan beralkohol.

Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan

tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan

Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di

Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan

keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih

banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan

tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses

pembentukan massa tulang (osteoblas).

c. Malas Olahraga

Mereka yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses

osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa


tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan

memacu tulang untuk membentuk massa.

d. Merokok

Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis.

Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya

mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga

membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang

sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses

pelapukan. Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami

hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh.

Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi.

Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara langsung tidak

langsung. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak

akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat

melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses

pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti.

e. Kurang Kalsium

1) Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang

akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di

tulang.

f. Mengkonsumsi Obat

1) Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada

penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit


osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi

massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain

itu, obat heparin dan anti kejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis.

Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar

dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.

Tulang adalah jaringan dinamis yang diatur oleh faktor endokrin,

nutrisi, dan aktivitas fisik. Biasanya penanganan gangguan tulang

terutama osteoporosis hanya fokus pada masalah hormon dan kalsium,

jarang dikaitkan dengan olahraga. Padahal, Wolff sejak 1892

menyarankan bahwa olahraga sangatlah penting.

Osteoporosis (kekeroposan tulang) adalah proses degenerasi

pada tulang. Mereka yang sudah terkena perlu berolahraga atau

beraktivitas fisik sebagai bagian dari pengobatan. Olahraga teratur dan

cukup takarannya tidak hanya membentuk otot, melainkan juga

memelihara dan meningkatkan kekuatan tulang. Dengan demikian, latihan

olahraga dapat mengurangi risiko jatuh yang dapat memicu fraktur (patah

tulang) (Mulyaningsih, 2008).

2.1.5 Manifestasi Klinis Osteoporosis

1. Patah tulang

2. Punggung yang semakin membungkuk

3. Penurunan tinggi badan


4. Postur tubuh kelihatan memendek akibat dari Deformitas vertebra

thorakalis

5. Nyeri punggung

6. Nyeri tulang akut. Nyeri terutama terasa pada tulang belakang, nyeri dapat

dengan atau tanpa fraktur yang nyata dan nyeri timbul mendadak

7. Nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur

8. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan

aktivitas

9. Deformitas tulang. Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan

menyebabkan kifosis angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan

sehingga dapat terjadi paraparesis

10. Gambaran klinis sebelum patah tulang, klien (terutama wanita tua)

biasanya datang dengan nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah

menopause sedangkan gambaran klinis setelah terjadi patah tulang, klien

biasanya datang dengan keluhan punggung terasa sangat nyeri (nyeri

punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau bengkak pada pergelangan

tangan setelah jatuh

Kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita

osteoporosis senilis), sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan

gejala pada beberapa penderita. Jika kepadatan tulang sangat berkurang yang

memnyebabkan tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan tibul nyeri tulang

dan kelainan bentuk. Tulang-tulang yang terutama terpengaruh pada osteoporosis

adalah radius distal, kaput vertebra terutama mengenai T8-L4, dan kollum
femoris.

Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang

belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera

ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasaklan di daerah tertentu

dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan.

Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan

menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika

beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang

abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan terjadinya

ketegangan otot dan rasa sakit.

Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang

ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah

tulang panggul. Selain itu yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan

(radius) di daerah persambungan dengan pergelangan tangan, yang disebut

fraktur Colles. Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung mengalami

penyembuhan secara perlahan (Lukman dan Nurna Ningsih, 2012).

Osteoporosis mengakibatkan patah tulang yang paling sering adalah pada

punggung, paha, dan lengan bawah. Menurut Susan J. G dialihbahasakan oleh

Anton C. W (2001: 205-206), tulang yang pertama kali terkena osteoporosis

biasanya pada vertebra spinalis dan tipikalnya mengenai vertebra torakalis

bawah dan vertebra lumbalis atas. Vertebra torakalis menyokong terjadinya

fraktur berbentuk baji, sedangkan fraktur yang remuk sering mengenai vertebra

lumbalis. Fraktur baji vertebra torakalis membentuk punuk wanita tua


(dowager’s hump). Proporsi lengan dan tungkai terhadap kerangka aksial

tubuh tidak normal dan tampak lebih panjang. Penurunan tinggi badan karena

osteoporosis bisa mencapai 5 sampai 8 inchi. Keadaan ini dapat berlangsung

terus, sehingga rongga rusuk bagian bawah menyentuh crista iliaca anterior.

Gambar 2: Bagian osteoporosis pada punggung

Keterangan: Perubahan kerangka pada osteoporosis pasca-menopause.

Pada bagian paha, yang biasanya patah adalah bagian leher femur

dan trochanterica, dimana usia penderita pada leher femur rata-rata adalah

75 tahun. Penderita patah tulang trochanterica umumnya berusia lima

tahun lebih tua dari penderita pada leher femur. Di negara maju, masalah

patah tulang pangkal paha sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Patah tulang pangkal paha pada penderita osteoporosis merupakan salah satu

komplikasi yang serius. Penderita penyakit ini mempunyai risiko 50% tidak

bisa melakukan aktivitas seumur hidup, 25% memerlukan perawatan jangka


panjang, dan kematian dalam tahun pertama setelah patah tulang sebesar 20%

(Faisal Yatim, 2000: 3).

Patah tulang lengan bawah terjadi pada bagian distal radius (ujung

tulang, tepat sebelum sendi pergelangan tangan) yang biasanya disebut

Colles fractures. Resiko wanita mengalami Colles fractures adalah kira-kira

15%, biasanya terjadi setelah menopause tetapi ada juga yang terjadi pada

pra-menopause (Prasetyo, tt).

Gambar 3: Bagian osteoporosis pada paha dan lengan bawah

Keterangan: Pada paha yaitu di leher femur dan trochanterica, sedangkan bagian

lengan bawah adalah di distal radius. (Prasetyo, tt)


2.1.6 Patofisiologi Osteoporosis

Didalam kehidupan, tulang akan selalu mengalami proses perbaharuan.

Tulang memiliki2 sel, yaitu osteoklas (bekerja untukmenyerap dan

menghancurkan/merusak tulang) dan osteoblas (sel yang bekerja untuk

membentuk tulang). (Compston, 2002). Tulang yang sudah tua dan pernah

mengalami keretakan, akan dibentuk kembali. Tulang yang sudah rusak tersebut

akan diidentifikasi oleh sel osteosit (sel osteoblas menyatu dengan matriks tulang).

(Cosman, 2009) Kemudian terjadi penyerapan kembali yang dilakukan oleh sel

osteoklas dan nantinya akan menghancurkan kolagen dan mengeluarkan asam.

(Tandra, 2009) Dengan demikian, tulang yang sudah diserap osteoklas akan

dibentuk bagian tulang yang baru yang dilakukan oleh osteoblas yang berasal dari

sel prekursor di sumsum tulang belakang setelah sel osteoklas hilang. (Cosman,

2009) Proses remodelling tulang tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 4: Siklus remodelling tulang, Cosman, 2009

Menurut Ganong, ternyata endokrin mengendalikan proses remodeling


tersebut. Dan hormon yang mempengaruhi yaitu hormon paratiroid (resorpsi tulang

menjadi lebih cepat) dan estrogen (resorpsi tulang akan menjadi lama). Sedangkan

pada osteoporosis, terjadi gangguan pada osteoklas, sehingga timbul

ketidakseimbangan antara kerja osteoklas dengan osteoblas. Aktivitas sel osteoclas

lebih besar daripada osteoblas. Dan secara menyeluruh massa tulang pun akan

menurun, yang akhirnya terjadilah pengeroposan tulang pada penderita osteoporosis.

(Ganong, 2008) Gambar 2.2 menunjukan perbedaan tulang yang normal dan tulang

yang sudah mengalami pengeroposan.

Gambar 5: Tulang Normal dan Keropos

Tulang terdiri atas sel dan matriks. Terdapat dua sel yang penting

pada pembentukan tulang yaitu osteoclas dan osteoblas. Osteoblas

berperan pada pembentukan tulang dan sebaliknya osteoklas pada proses

resorpsi tulang. Matriks ekstra seluler terdiri atas dua komponen, yaitu

anorganik sekitar 30-40% dan matrik inorganik yaitu garam mineral sekitar 60-70
%. Matrik inorganik yang terpenting adalah kolagen tipe 1 ( 90%), sedangakan

komponen anorganik terutama terdiri atas kalsium dan fosfat, disampinh

magnesium, sitrat, khlorid dan karbonat.

Dalam pembentukan massa tulang tersebut tulang akan mengalami perubahan

selama kehidupan melalui tiga fase: Fase pertumbuhan, fase konsolodasi dan

fase involusi. Pada fase pertumbuhan sebanyak 90% dari massa tulang dan akan

berakhir pada saat epifisi tertutup. Sedangkan pada tahap konsolidasi yang terjadi

usia 10-15 tahun. Pada saat ini massa tulang bertambah dan mencapai puncak ( peak

bone mass ) pada pertengahan umur tiga puluhan. Serta terdapat dugaan bahwa pada

fase involusi massa tulang berkrang ( bone Loss ) sebanyak 35-50 tahun.

Secara garis besar patofisiologi osteoporosis berawal dari Adanya

massa puncak tulang yang rendah disertai adanya penurunan massa tulang. Massa

puncak tulang yang rendah ini diduga berkaitan dengan faktor genetic, sedangkan

faktor yang menyebabkan penurunan massa tulang adalah proses ketuaan,

menopause, faktor lain seperi obat obatan atau aktifitas fisik yang kurang serta

faktor genetik. Akibat massa puncak tulang yang rendah disertai adanya

penurunan massa tulang menyebabkan Densitas tulang menurun yang merupakan

faktor resiko terjadinya fraktur.

Kejadian osteoporosis dapat terjadi pada setiap umur kehidupan. Penyebabnya

adalah akibat terjadinya penurunan bone turn over yang terjadi sepanjang

kehidupan. Satu dari dua wanita akan mengalami osteoporosis, sedangkan pada

laki-laki hanya 1 kasus osteoporsis dari lebih 50 orang laki-laki. Dengan demikian

insidensi osteoporosis pada wanita jauh lebih banyak daripada laki-laki. Hal ini di
duga berhubungan dengan adanya fase masa menopause dan proses kehilangan pada

wanita jauh lebih banyak.

Gambar 6: Percepatan Pertumbuhan Tulang

Gambar diatas menunjukan bahwa terjadi percepatan pertumbuhan

tulang, yang mencapai massa puncak tulang pada usia berkisar 20 - 30 tahun,

kemudian terjadi perlambatan formasi tulang dan dimulai resorpsi tulang yang

lebih dominan. Keadan ini bertahan sampai seorang wanita apabila mengalami

menopause akan terjadi percepatan resorpsi tulang, sehingga keadaan ini tulang

menjadi sangat rapuh dan mudah terjadi fraktur.

Setelah usia 30 tahun, resorpsi tulang secara perlahan dimulai akhirnya

akan lebih dominan dibandingkan dengan pembentukan tulang. Kehilanga

massa tulang menjadi cepat pada beberapa tahun pertama setelah menopause dan

akan menetap pada beberapa tahun kemudian pada masa postmenopause.

Proses ini terus berlangsung pada akhirnya secara perlahan tapi pasti terjadi
osteoporosis. Percepat osteoporosis tergantung dari hsil pembentukan tulang sampai

tercapainya massa tulang puncak.

Massa tulang puncak ini terjadi sepanjang awal kehidupan sampai

dewasa muda. Selama ini, tulang tidak hanya tumbuh tetapi juga menjdai solid. Pada

usia rata-rata 25 tahun tulang mencapai pembentuk massa tulang puncak.

Walaupun demikian massa puncak tulang ini secara individual sangat bervariasi

dan pada umumnya pada laki-laki lebih tinggi dibanding pada wanita. Massa

puncak tulang ini sangatlah penting, yang akan menjadi ukuran seseorang

menjadi risiko terjadinya fraktur pada kehidupannya. Apabila massa puncak

tulang ini rendah maka akan mudah terjadi fraktur kan saja, tetapi apabila tinggi

makan akan terlindung dari ancaman fraktur. Faktor faktor yang menentukan tidak

tercapainya massa tulang puncak sampai saai ini belum dapat dimengerti

sepenuhnya tetapi diduga terdapat beberapa faktor yang berperan, yaitu

genetik, asupan kalsium, aktifitas fisik, dan hormon seks. Untuk memelihara

dan mempertahan massa puncak tulang adalah dengan diet, aktifitas fisik, status

reproduktif, rokok, kelebiham konsumsi alkohol, dan beberapa obat (Permana, 2009).

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostic Pada Pasien dengan Osteoporosis

Seseorang yang ingin menentukan terjadinya osteoporosis atau tidak,

biasanya diagnosis yang digunakan yaitu dengan pemeriksaan densitas mineral

tulang (DMT) agar mengetahui kepadatan tulang pada orang tersebut. (Hartono,

2004). Untuk menentukan kepadatan tulang tersebut, ada 3 teknik yang biasa

digunakan di Indonesia, antara lain :


1. Densitometri DXA (dual-energy x-ray absorptiometry)

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling tepat dan mahal.

Orang yang melakukan pemeriksaan ini tidak akan merasakan nyeri dan

hanya dilakukan sekitar 5 - 15 menit. Menurut Putri, DXA dapat digunakan

pada wanita yang mempunyai peluang untuk mengalami osteoporosis,

seseorang yang memiliki ketidakpastian dalam diagnosa, dan penderita yang

memerlukan keakuratan dalam hasil pengobatan osteoporosis. (Putri, 2009).

Keuntungan yang didapatkan jika melakukan pemeriksaan ini yaitu dapat

menentukan kepadatan tulang dengan baik (memprediksi resiko patah tulang

pinggul) dan mempunyai paparan radiasi yang sangat rendah. Akan tetapi alat

ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan koreksi berdasarkan volume

tulang (secara bersamaan hanya menghitung 2 dimensi yaitu tinggi dan lebar)

dan jika pada saat seseorang melakukan pengukuran dalam posisi yang tidak

benar, maka akan mempengaruhi hasil pemeriksaan tersebut. (Cosman, 2009)

Hasil dari DXA dapat dinyatakan dengan T-score, yang dinilai dengan

melihat perbedaan BMD dari hasil pengukuran dengan nilai rata-rata BMD

puncak. (Tandra, 2009) Hasil dari pemeriksaan BMD dapat dilihat pada

gambar 2.3.
Gambar 7: Hasil Pemeriksaan Osteoporosis Berdasarkan BMD

Menurut WHO, kriteria T-score dibagi menjadi 3, yaitu T-score > -1

SD yang menunjukkan bahwa seseorang masih dalam kategori normal. T-score

<-1 sampai -2,5 dikategorikan osteopenia, dan < - 2,5 termasuk dalam kategori

osteoporosis, apabila disertai fraktur, maka orang tersebut termasuk dalam

osteoporosis berat. (WHO, 1994)

2. Densitometri US (ultrasound)

Kerusakan yang terjadi pada tulang dapat didiagnosis dengan

pengukuran ultrsound, yaitu dengan mengunakan alat quantitative ultrasound

(QUS). Hasil pemeriksaan ini ditentukan dengan gelombang suara, karena cepat

atau tidaknya gelombang suara yang bergerak pada tulang dapat terdeteksi

dengan alat QUS. Jika suara terasa lambat, berarti tulang yang dimiliki padat.

Akan tetapi, jika suara cepat, maka tulang kortikal luar dan trabekular interior

tipis. Pada beberapa penelitian,menyatakan bahwa dengan QUS dapat

mengetahui kualitas tulang, akan tetapi QUS dan DXA sama-sama dapat

memperkirakan patah tulang . (Lane, 2003)

Dengan alat ini, seseorang tidak akan terpapar radiasi karena


tidak menggunakan sinar X. Kelemahan alat ini, yaitu tidak memiliki

ketelitian yang baik (saat dilakukan pengukuran ulang sering terjadi

kesalahan), tidak baik dalam mengawasi pengobatan (perubahan massa tulang)

(Cosman, 2009).

3.Pemeriksaan CT (computed tomography)

Pemeriksaan CT merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium

yang dilakukan dengan memeriksa biokimia CTx (C-Telopeptide).

Dengan pemeriksaan ini dapat menilai kecepatan pada proses pengeroposan

tulang dan pengobatan antiesorpsi oral pun dapat dipantau. (Putri, 2009)

Kelebihan yang didapatkan jika menggunakan alat ini yaitu kepadatan

tulang belakang dan tempat biasanya terjadi patah tulang dapat diukur dengan

akurat. Akan tetapi pada tulang yang lain sulit diukur kepadatannya dan

ketelitian yang dimiliki tidak baik serta tingginya paparan radiasi. (Cosman,

2009) (Agustin, 2009).

Penilaian langsung densitas tulang untuk memngetahui ada tidaknya

osteoporosis dapat dilakukan secara:

a. Radiologic

b. Radioisotope

c. QCT (Quantitative Computerized Tomography)

d. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

e. Densitometer (X-ray absorpmetry)

f. Penilaian osteoporosis secara laboratorik dilakukan dengan melihat

patanda biokomia untuk osteoblas, yaitu osteokalsin, prokolagen I


peptide dan alkali fosfatase total serum. Petanda kimia untuk osteoklas;

dioksipiridinolin (D-pyr), piridinolin (Pyr) Tartate Resistant Acid

Phosfotase (TRAP), kalisium urin, hidroksisiprolin dan hidroksi

glikosida. Secara bioseluler, penilaian biopsi tulang dilakukan secara

histopometri dengan menilai aktivitas osteoblas dan osteoklas secara

langsung. Namun pemeriksaan diatas biayanya masih mahal.

2.1.8 Penatalaksanaan Osteoporosis

1. Pengobatan

Pengobatan osteoporosis di fokus kan kepada memperlambat atau

menghentikan kehilangan mineral, meningkatkan kepadatan tulang, dan

mengontrol nyeri sesuai dengan penyakitnya. tujuan dari pengobatan ini

adalah mencegah terjadinya fraktur (patah tulang).

2. Penanganan terkini

Secara teoritis osteoporosis dapat diobati dengan cara menghambat

kerja osteoklas dan atau meningkatkan kerja osteoblas. Akan tetapi saat ini

obat-obat yang beredar pada umumnya bersifat anti resorpsi. Yang

termasuk obat antiresorpsi misalnya: estrogen, kalsitonin, bisfosfonat.

Sedangkan Kalsium dan Vitamin D tidak mempunyai efek antiresorpsi

maupun stimulator tulang, tetapi diperlukan untuk optimalisasi

meneralisasi osteoid setelah proses pembentukan tulang oleh sel osteoblas.


3. Estrogen

Mekanisme estrogen sebagai antiresorpsi, mempengaruhi aktivitas

sel osteoblas maupun sel osteoklas, telah dibicarakan diatas. Pemberian

terapi estrogen dalam pencegahan dan pengobatan osteoporosis dikenal

sebagai Terapi Sulih Hormon (TSH). Estrogen sangat baik diabsorbsi

melalui kulit, mukosa vagina, dan saluran cerna. Efek samping estrogen

meliputi nyeri payudara (mastalgia), retensi cairan, peningkatan berat

badan, tromboembolisme, dan pada pemakaian jangka panjang dapat

meningkatkan risiko kanker payudara. Kontraindikasi absolut penggunaan

estrogen adalah: kanker payudara, kanker endometrium, hiperplasi

endometrium, perdarahan uterus disfungsional, hipertensi, penyakit

tromboembolik, karsinoma ovarium, dan penyakit hait yang berat Beberapa

preparat estrogen yang dapat dipakai dengan dosis untuk anti resorpsi,

adalah estrogen terkonyugasi 0,625 mg/hari, 17-estradiol oral 1 Ð 2mg/

hari, 17-estradiol perkutan 1,5 mg/hari, dan 17-estradiol subkutan 25 Ð 50

mg setiap 6 bulan.46 Kombinasi estrogen dengan progesteron akan

menurunkan risiko kanker endometrium dan harus diberikan pada setiap

wanita yang mendapatkan TSH, kecuali yang telah menjalani histerektomi.

Saat ini pemakaian fitoestrogen (isoflavon) sebagai suplemen

mulai digalakkan pemakaiannya sebagai TSH. Beberapa penelitian

menyatakan memberikan hasil yang baik untuk keluhan defisiensi estrogen,

atau mencegah osteoporosis.34 Fitoestrogen terdapat banyak dalam kacang

kedelai, daun semanggi.


Ada golongan preparat yang mempunyai efek seperti estrogen

yaitu golongan Raloksifen yang disebut juga Selective Estrogen Receptor

Modulators (SERM). Golongan ini bekerja pada reseptor estrogen-b

sehingga tidak menyebabkan perdarahan dan kejadian keganasan payudara.

Mekanisme kerja Raloksifen terhadap tulang diduga melibatkan TGF yang

dihasilkan oleh osteoblas yang berfungsi menghambat diferensiasi sel

osteoklas.

4. Bisfosfonat

Bisfosfonat merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan

osteoporosis. Bifosfonat merupakan analog pirofosfat yang terdiri dari 2

asam fosfonat yang diikat satu sama lain oleh atom karbon. Bisfosfonat

dapat mengurangi resorpsi tulang oleh sel osteoklas dengan cara berikatan

dengan permukaan tulang dan menghambat kerja osteoklas dengan cara

mengurangi produksi proton dan enzim lisosomal di bawah osteoklas.

Pemberian bisfosfonat secara oral akan diabsorpsi di usus halus dan

absorpsinya sangat buruk (kurang dari 55 dari dosis yang diminum).

Absorpsi juga akan terhambat bila diberikan bersama-sama dengan

kalsium, kation divalen lainnya, dan berbagai minuman lain kecuali air.

Idealnya diminum pada pagi hari dalam keadaan perut kosong. Setelah itu

penderita tidak diperkenankan makan apapun minimal selama 30 menit,

dan selama itu penderita harus dalam posisi tegak, tidak boleh berbaring.

Sekitar 20 Ð 50% bisfosfonat yang diabsorpsi, akan melekat pada

permukaan tulang setelah 12 Ð 24 jam. Setelah berikatan dengan tulang


dan beraksi terhadap osteoklas, bisfosfonat akan tetap berada di dalam

tulang selama berbulan-bulan bahkan bertahuntahun, tetapi tidak aktif lagi.

Bisfosfonat yang tidak melekat pada tulang, tidak akan mengalami

metabolism di dalam tubuh dan akan diekresikan dalam bentuk utuh

melalui ginjal, sehingga harus hati-hati pemberiannya pada penderita gagal

ginjal..

Generasi Bisfosfonat adalah sebagai berikut:

1) Generasi I : Etidronat, Klodronat

2) Generasi II: Tiludronat, Pamidronat, Alendronat

3) Generasi III: Risedronat, Ibandronat, Zoledronat

Hormon lain: hormon-hormon ini akan membatu meregulasi

kalsium dan fosfat dalam tubuh dan mencegah kehilangan jarungan tulang.

1) Kalsitonin

2) Teriparatide

Kalsium: kalsium dan vtamin D diperlukan untuk meningkatkan

kepadatan tulang.

1) Konsumsi perhari sebanyak 1200-1500 mg (melalui makanan dan

suplemen).

2) Konsumsi vitamin D sebanyak 600-800 IU diperlukan untuk

meningkatkan kepadatan tulang.

5. Latihan pembebanan (olahraga)

Olahraga merupakan bagian yang sangat penting pada pencegahan

maupun pengobatan osteoporosis. Program olahraga bagi penderita


osteoporosis sangat berbeda dengan olahraga untuk pencegahan

osteoporosis. Gerakan-gerakan tertentu yang dapat meningkatkan risiko

patah tulang harus dihindari.48 Jenis olahraga yang baik adalah dengan

pembebanan dan ditambah latihanlatihan kekuatan otot yang disesuaikan

dengan usia dan keadaan individu masing-masing. Dosis olahraga harus

tepat karena terlalu ringan kurang bermanfaat, sedangkan terlalu berat pada

wanita dapat menimbulkan gangguan pola haid yang justru akan

menurunkan densitas tulang. Jadi olahraga sebagai bagian dari pola hidup

sehat dapat menghambat kehilangan mineral tulang, membantu

mempertahankan postur tubuh dan meningkatkan kebugaran secara umum

untuk mengurangi risiko jatuh. Monoklonal antibodi RANK-Ligand.

Seperti diketahu terjadinya osteoporosis akibat dari jumlah dan

aktivitas sel osteoklas menyerap tulang. Dalam hal ini secara biomolekuler

RANK-L sangat berperan. RANK-L akan bereaksi dengan reseptor RANK

pada osteoklas dan membentuk RANK- RANKL kompleks, yang lebih

lanjut akan mengakibatkan meningkatnya deferensiasi dan aktivitas

osteoklas. Untuk mencegah terjadinya reaksi tersebut digunakanlah

monoklonal antibodi (MAbs) dari RANK-L yang dikenal dengan:

denosumab. Besarnya dosis yang digunakan adalah 60 mg dalam 3 atau 6

bulan (Kawiyana, 2009).

6. Pencegahan

a. Mengurangi asupan protein hewani: Protein hewani meningkatkan

kehilangan kalsium.
Studi lintas budaya telah menemukan hubungan yang kuat antara

asupan protein hewani dan risiko patah tulang pinggul. Tingginya asupan

daging (lima atau lebih porsi per minggu) secara signifikan meningkatkan

risiko retak tulang lengan bawah pada perempuan, dibandingkan dengan

makan daging kurang dari sekali per minggu. Wanita lansia yang

mengkonsumsi sejumlah besar daging kehilangan tulang lebih cepat dan

risiko lebih besar terkena retak tulang pinggul.Risiko masalah tulang

tampaknya berkurang ketika protein hewani diganti dengan protein dari

sumber nabati, terutama kedelai. Dalam studi klinis dengan wanita

menopause, makanan kedelai telah ditemukan mencegah keropos tulang.

Penelitian telah menunjukkan hubungan positif antara protein kedelai dan

kepadatan mineral tulang pada wanita menopause. Hal ini mungkin karena

konsentrasi senyawa yang relatif tinggi yang disebut isoflavon dalam

protein nabati.

b. Peningkatan konsumsi buah dan sayuran

Penelitian telah menunjukkan bahwa diet kaya buah-buahan dan

sayur-sayuran berkaitan dengan kepadatan mineral tulang lebih tinggi pada

pria dan wanita. Asosiasi ini mungkin karena kalium, magnesium, dan

vitamin K dalam buah-buahan dan sayuran.

c. Mengurangi asupan natrium

Beberapa studi telah menemukan bahwa asupan tinggi natrium

menyebabkan hilangnya kalsium dari tubuh. Namun, efek dari pembatasan


natrium terhadap integritas tulang jangka panjang dan risiko patah tulang

masih belum jelas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

d. Pola makan rendah lemak

Studi telah menemukan bahwa asupan lemak yang lebih tinggi

dikaitkan dengan kehilangan tulang yang lebih besar dan risiko patah

tulang lebih besar. Mekanisme yang mungkin meliputi kecenderungan

asupan lemak yang berlebihan mengurangi penyerapan kalsium dan

mempengaruhi produksi hormon. Secara khusus, asam lemak omega-6

dapat menyebabkan hilangnya tulang dengan mengorbankan pembentukan

tulang baru.

e. Moderasi dalam penggunaan kafein

Penelitian telah menemukan bahwa perempuan yang

mengkonsumsi paling banyak kafein telah mempercepat kehilangan tulang

belakang dan hampir tiga kali lipat risiko terkena patah tulang pinggul.

Resiko kehilangan tulang tampak tertinggi pada wanita yang

mengkonsumsi lebih dari 18 ons kopi per hari, atau 300 mg kafein dari

sumber lain.

f. Membatasi suplemen vitamin A

Penelitian telah menunjukkan bahwa asupan vitamin A yang terlalu

tinggi, baik dengan makanan atau suplemen, dapat menyebabkan

penurunan kepadatan tulang dan peningkatan risiko fraktur pinggul.

Asupan sehat dan cukup vitamin A dapat dipastikan dengan beta-karoten

dari sumber tanaman, sayuran terutama oranye dan kuning.


g. Kombinasi suplemen vitamin D dan kalsium

Pada pasien dengan obat-yang menyebabkan osteoporosis,

kombinasi dari kedua nutrisi tampaknya bermanfaat signifikan dalam

mengurangi kehilangan tulang lebih lanjut. Suplemen vitamin D (500

sampai 800 IU/hari) dan kalsium (1200-1300 mg/hari) juga telah

ditemukan meningkatkan kepadatan tulang dan penurunan kehilangan

tulang dan risiko patah tulang pada wanita dewasa yang lebih tua. Pasien

wanita dengan diagnosa osteoporosis harus mendapatkan asupan kalsium

total dari pola makan dan suplemen sekitar 1500 mg/hari dalam dosis

terbagi tiga atau lebih, ditambah sedikitnya 400 sampai 800 IU vitamin D

setiap hari. Namun, pasien yang tidak berisiko tinggi untuk osteoporosis

mungkin tidak memerlukan suplemen kalsium. Hal ini terutama berlaku

untuk pria, yang mungkin memiliki peningkatan risiko terkena kanker

prostat jika mereka mengkonsumsi terlalu banyak kalsium atau susu.

2.1.9 Komplikasi Osteoporosi

Komplikasi osteoporosis yang mungkin meliputi:

1. Fraktur spontan ketika tulang kehilangan densitasnya dan menjadi rapuh

serta lemah

2. Syok, perdarahan, atau emboli lemak (komplikasi fraktur yang fatal)

(Kowalak, 2011).

Komplikasi osteoporosis merupakan kondisi sekunder, gejala maupun

keadaan lain yang disebabkan oleh osteoporosis. Pada banyak kasus, cukup
sulit umtuk membedakan gejala osteoporosis maupun komplikasi osteoporosis

sehingga keduanya sering disamakan. Hal ini disebabkan karena osteoporosis

disebut dengan silent disease, yang tidak menunjukkan manifestasi klinis

berarti sampai munculnya fraktur. Gejala awal dari osteoporosis yang dapat

dilihat antara lain rasa sakit punggung yang berat, tinggi badan berkurang dan

terjadi kelainan bentuk tulang belakang seperti kifosis.

Berbagai fraktur yang terjadi akibat komplikasi dari osteoporosis antara lain :

a. Fraktur-lebih dari 1,5 juta orang setiap tahun mengalami osteoporosis di

USA

b. Fraktur vertebrae, sekitar 700.000 orang setiap tahunnya mengalami

fraktur ini di USA

c. Fraktur pinggul, sekitar 300.000 orang terkena fraktur yang dikarenakan

osteoporosis di USA

d. Fraktur pergelangan tangan, sekitar 250.000 fraktur pergelangan tangan

dilaporkan di USA.

e. Fraktur lain, lebih dari 300.000 fraktur tulang lainnya di USA.

f. Dowager’s hump, kondisi kifosis akibat osteoporosis tingkat lanjut. Spinal

vertebrae menjadi keropos dan lemah sehingga menyebabkan fraktur

spontan. Proses yang terjadi antara lain: wedge fracture: depan vertebra

kolaps, biconcave fracture: bagian medial vertebra kolaps, dan crush

fracture: seluruh vertebra kolaps (Wahyuningtyas, 2010).


2.1.10 WOC (web of caution) Osteoporosis

Malas
Wanita Keturuna Ras Usia
Lifestyle Olahraga
n
Penderita
Osteo- Kulit putih Usia (+)
H. estrogen porosis Konsumsi
↓ Daging Minuman Merokok Kurang Ca
obat
merah dan berkafein
Konsumsi Fungsi minuman dan
Struktur organ bersoda beralkohol nikotin Ca tubuh
Ca,
Ca tubuh genetic terutama tubuh ↓ (−) Kortikosteroid
(−) tulang yg pd
sama wanitanya
rendah a. a.
Mengan- Mengeluar Mempercepa Tubuh Dikonsumsi
dung kan urin yg t penyerapan mengeluar
tulang dlm jmlh tinggi
fosfor mengandun kan
Kesamaan Resiko g Ca b. H. hormon
besar b. Toksin, estrogen ↓
perawakan
menghamb c. Ht, Peny.
dan bentuk (-) massa
at jantung,
tulang Merang- tersumbatnya tulang
pembentuk Mengambil
tubuh sang an massa aliran darah
pemben- Ca dr bag.
tulang
Malas tukan PTH tubuh lain
Olahraga
Menghambat
proses
osteoblas
b. Susunan Termsuk
Melepas Ca sel tidak dari tulang
Menghambat
dari dalam kuat
proses
darah c. darah
pembentukan tersumbat
tulang
c. Sulit terjadi
Kepadatan Massa
proses
massa tulang ↓ pembentukan tulang (-)
tulang

Penyerapan tulang lebih banyak


daripada pembentukan baru

Penurunan massa tulang

OSTEOPOROSIS

Tulang menjadi rapuh dan mudah patah Kolaps bertahap tulang vertebra

Fraktur Fraktur Fraktur kompresi Fraktur kompresi Kifosis progresif


Colles Femur lumbalis vertebra torakalis
↓ tinggi badan

Kompresi saraf Perubahan postural


Ggn fungsi ekstremitas atas Perubahan postural
pencernaan ileus
bawah; pergerakan fragmen
paralitik
tulang, spasme otot Deformitas skelet
Relaksasi otot abdominal,
Konstipasi perut menonjol
MK: Nyeri dowager’s hump
MK: Ggn Insufisiensi paru
MK: Hambatan eliminasi alvi MK: Ggn citra
mobilitas fisik diri, Ansietas
dipsnea
↓ kemepuan pergerakan
MK: Pola nafas tidak efektif
MK: Risiko tinggi taruma
2.2 ASUHAN KEPERAWATAN

2.2.1 Pengkajian

1. Anamnesis

a. Identitas pasien

b. Keluhan pasien

c. Riwayat kesehatan

Anamnesis memegang peranan penting pada evaluasi klien

osteoporosis. Kadang- kadang keluhan utama mengarahkan ke diagnosa (

mis., fraktur colum femoris pada osteoporosis). Faktor lain yang

diperhatikan adalah usia, jenis kelamin, ras, status haid, fraktur pada trauma

minimal, imobilisasi lama, penurunan tinggi badan pada orang tua,

kurangnya paparan sinar matahari, asupan kalsium, fosfat dan vitamin D,

latihan yang teratur dan bersifat weight bearing. Obat-obatan yang diminum

pada jangka panjang harus diperhatikan seperti kortikosteroid, hormon

tiroid, anti konvulsan, antasid yang mengandung aluminium, natrium

flourida dan etidronat bifosfonat, alkohol dan merokok merupakan faktor

risiko terjadinya osteoporosis. Penyakit lain yang harus dipertanyakan dan

berhubungan dengan osteoporosis adalah penyakit ginjal, saluran cerna,

hati, endokrin, dan insufiensi pankreas. Riwayat haid, usia menarke dan

menopause, penggunaan obat kontrasepsi juga diperhatikan. Riwayat

keluarga dengan osteoporosis juga harus diperhatikan karena ada beberapa

penyakit tulang metabolik yang bersifat herediter.

d. Pengkajian psikososial.
Gambaran klinis pasien dengan osteoporosis adalah wanita

pascamenopause dengan keluhan nyeri punggung yang merupakan faktor

predisposisi adanya fraktur multiple karena trauma. Perawat perlu mengkaji

konsep diri klien terutama citra diri, khususnya klien dengan kifosis berat.

Klien mungkin membatasi interaksi sosial karena perubahan yang tampak atau

keterbatasan fisik, tidak mampu duduk di kursi, dan lain-lain. Perubahan

seksual dapat terjadi karena harga diri atau tidak nyaman selama posisi

interkoitus. Osteoporosis dapat menyebabkan fraktur berulang sehingga

perawat perlu mengkaji perasaan cemas dan takut pada klien.

e. Pola aktifitas sehari-hari.

Pola aktifitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olah raga,

pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan toilet.

Olah raga dapat membentuk pribadi yang baik dan individu akan merasa

lebih baik. Selain itu, olah raga dapat mempertahankan tonus otot dan

gerakan sendi. Lansia memerlukan aktifitas yang adekuat untuk

mempertahankan fungsi tubuh. Aktifitas tubuh memerlukan interaksi yang

kompleks antara saraf dan muskulosekeletal. Beberapa perubahan yang

terjadi sehubungan dengan menurunnya gerak persendian adalah agility

(kemampuan gerak cepat dan lancar) menurun, stamina menurun, koordinasi

menurun dan dexterity (kemampuan memanipulasi ketrampilan motorik

halus) menurun.

f. Pemeriksaan Fisik

 B1 (Breathing)
• Inspeksi: ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang

belakang.

• Palpasi : taktil fremitus seimbang kanan dan kiri.

• Perkusi: cuaca resonan pada seluruh lapang paru.

Auskultasi: pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki

 B2 ( Blood)

• Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin

dan pusing. Adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan

pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat.

 B3 ( Brain)

• Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah,

klien dapat mengeluh pusing dan gelisah.

• Kepala dan wajah: ada sianosis

• Mata: Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis.

• Leher: Biasanya JVP dalam normal

 B4 (Bladder)

• Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan

pada sistem perkemihan.

 B5 ( Bowel)

• Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun perlu

di kaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses.

 B6 ( Bone)
• Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis. Klien

osteoporosis sering menunjukan kifosis atau gibbus (dowager’s hump)

dan penurunan tinggi badan dan berat badan. Ada perubahan gaya

berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal.

Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara vertebra torakalis 8

dan lumbalis 3.

g. Analisa data

• Data subjektif :

- klien mengeluh nyeri punggung

- klien mengatakan sulit BAB

- klien mengatakan mudah lelah

- Adanya riwayat jatuh

• Data objektif

- kekuatan otot menurun

- kekakuan sendi

- deformitas

- kifosis

- fraktur baru

- ketidakseimbangan tubuh

- keletihan

h. Diagnosa Keperawatan

• Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi


• Nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan spasme otot

• Konstipasi yang berhubungan dengan imobilitasi atau terjadinya ileus

(obstruksi usus)

• Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang

osteoporotic

i. Renvcana keperawatan

DIAGNOSA TUJUAN DAN


NO INTERVESI
KEPERAWATAN KRITERIA HASL

1. Kurang NOC NIC

pengetahuan • Knowledge : Teaching: disease Process

mengenai proses disease process • Berikan penilaian

osteoporosis dan • Knowledge : health tentang tingkat

program terapi behaviour pengetahuan pasien

Kriteria Hasil : tentang proses penyakit

• Pasien dan keluarga yg spesifik

menyatakan • Jelaskan patofisiologi

pemahaman tentang dari penyakit dan

penyakit, kondisi, bagaimana hal ini

prognosis dan berhubungan dengan

program anatomi dan fisiologi,

pengobatan dengan cara yg tepat


• Pasien dan keluarga • Gambarkan tanda dan

mampu melakukan gejala yg biasa muncul

prosedur yang pada penyakit, dengan

dijelaskan secara cara yg tepat.

benar • Gambarkan proses

Pasien dan keluarga penyakit

mampu menjelaskan • Identifikasi penyebab

kembali apa yang • Sediakan informasi

dijelaskan perawat/tim pada pasien tentang

kesehatan lainnya. kondisinya

• Diskusikan perubahan

gaya hidup untuk

mencegah komplikasi

• Rujuk pasien pada grup

atau agensi di

komunitas lokal.

2. Nyeri kronis yang NOC NIC

berhubungan • Pain level Pain management

dengan fraktur dan • Pain control • Lakukan pengkajian

spasme otot • Comfort level nyeri secara

Kriteria Hasil komprehensif termasuk

• Mampu mengontrol lokasi, karakteristik,


nyeri durasi, frekuensi,

• Melaporkan nyeri kualitas dan faktor

berkurang dengan presipitasi

menggunakan • Observasi reaksi

manajemen nyeri nonverbal dari ketidak

• Mampu mengenali nyamanan

nyeri • Gunakan teknik

• Menyatakan rasa komunikasi terapiutik

nyaman setelah untuk mengetahui

nyeri berkurang pengalaman pasien

• Kaji kultur yang

mempengaruhi respon

nyeri

• Evaluasi pengalaman

nyeri masa lampau

• Kaji tipe dan sumber

nyeri untuk menentukan

intervensi

• Ajarkan teknik non

farmakologi

• Tingkatkan istirahat

3. Konstipasi yang NOC NIC


berhubungan • Bowel elimination Constipation/impaction

dengan imobilitasi • Hydration management

atau terjadinya Kriteria Hasil • Monitor tanda dan gejala

ileus (obstruksi • Mempertahankan konstipasi

usus) bentuk feses lunak • Monitor bising usus

setiap 1-3 hari • Monitor feses : frekuensi,

• Bebas dari ketidak konsistensi dan volume

nyamanan dan • Monitor tanda dan gejala

konstipasi ruptur usus/peritonitis

• Mengidentifikasi • Dukung intake cairan

indikator untuk • Anjurkan pasien untuk

mencegah diet tinggi serat.

konstipasi • Menyarankan pasien

• Feses lunak dan untuk berkonsultasi

berbentuk. dengan dokter jika

sembelit atau impaksi

terus ada

• Lepaskan impaksi tinja

secara manual, jika perlu

• Timbang secara teratur

• Ajarkan pasien tentang

proses pencernaan yang


normal.

4. Risiko terhadap NOC NIC

cedera : fraktur, • Risk kontrol Infironmant management

yang berhubungan Kriteria Hasil (manajemen

dengan tulang • Klien terbebas dari lingkungan)

osteoporotik cedera • Sediakan lingkungan

• Klien mampu yang aman untuk pasien

menjelaskan • Identifikasi kebutuhan

cara/metode untuk keamanan pasien, sesuai

mencegah dengan kondisi fisik dan

injuri/cedera fungsi kognitif dan

• Klien mampu riwayat penyakit

menjelaskan factor terdahulu pasien

resiko dari • Menghindarkan

lingkungan/prilaku lingkungan yang

personal berbahaya

• Mampu memodifikasi • Memasang side rall

gaya hidup untuk tempat tidur

mencegah injuri • Menganjurkan keluarga

• Menggunakan untuk menemani pasien

fasilitas kesehatan • Berikan penjelasan pada

yang ada pasien dan keluarga


• Mampu mengenali atau pengunjung adanya

perubahan status perubahan status

kesehatan kesehatan dan penyebab

penyakit.

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Uraian Kasus

Ny. M umur 59 tahun datang ke RSU Sutomo dengan keluhan ngilu

pada persendian daerah kaki yang sering dirasakan sejak 3 bulan yang lalu, rasa

ngilu itu sudah dirasakan sejak beberapa tahun yang lalu, namun Ny. M tidak

memperdulikannya. Ketika memeriksakan diri ke dokter Ny. M dianjurkan untuk

tes darah dan rongent kaki. Hasil rongent menunjukkan bahwa Ny. M menderita

osteoporosis diperkuat lagi dengan hasil BMD (Bone Mineral Density) T-score -

3. Klien mengalami menopause sejak 7 tahun yang lalu. Menurut klien dirinya

tidak suka minum susu sejak usia muda dan tidak menyukai makanan laut. Klien

beranggapan bahwa keluhan yang dirasakannya karena usianya yang bertambah

tua. Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak pernah

mengalami penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS.

Pola aktifitas diketahui klien banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya
bekerja di perkantoran. Riwayat penggunaan KB hormonal dengan metode pil.

Pemeriksaan TB 165 cm, BB 76 kg (BB sebelumnya 78 kg).

3.2 Pengkajian

1. Data demografi

Nama : Ny. M

Umur : 59 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan : IRT

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Ny. M umur 59 tahun datang ke RSU Sutomo dengan keluhan ngilu

pada persendian daerah kaki yang sering dirasakan sejak 3 bulan yang lalu,

rasa ngilu itu sudah dirasakan sejak beberapa tahun yang lalu, namun Ny.

M tidak memperdulikannya.

3. Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi

Klien terlihat bungkuk (kifosis), penurunan berat badan, perubahan

gaya berjalan.

b. Palpasi

Klien merasakan nyeri saat dilakukan palpasi pada area punggung.

4. Riwayat Psikososial

Klien cemas untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang berat.

5. Hasil pemeriksaan laboratorium


BMD T-score -3

3.3 Analisis Data

Data Etiologi Masalah

keperawatan

DS: Nyeri

1. Klien mengatakan ngilu di bagian Penurunan massa tulang /

sendi didaerah kaki sejak beberapa osteoporosis

tahun lalu.

2. Klien mengatakan banyak beraktifitas Fraktur vertebra

duduk karena dulu dirinya bekerja di

perkantoran Deformitas

3. Klien mengatakan terasa sakit pada Vertebra

sendi ketika berjalan

4. Klien mengatakan aktivitas sehari-hari Teregangnya ligamentum dan otot/

terhambat spasme otot

DO : Nyeri

1. Klien mengalami menopause sejak 6

tahun yang lalu.

2. Riwayat penggunaan KB hormonal

dengan metode pil.


3. Wajah klien terlihat meringis.

4. Sering terlihat memegang area yang

sakit

5. Skala nyeri 7

DS: Mobilitas fisik

1. Klien mengatakan ngilu di bagian Penurunan massa tulang /

sendi sejak beberapa tahun lalu. osteoporosis

2. Klien mengatakan banyak beraktifitas

duduk karena dulu dirinya bekerja di Fraktur vertebra

perkantoran

3. Klien mengatakan terasa sakit pada Deformitas

sendi ketika berjalan Vertebra

4. Klien mengatakan aktivitas sehari-hari

terhambat Bungkuk

5. Klien mengatakan merasakan ngilu

saat beraktivitas yang berat. Hambatan mobilitas fisik

DO :

1. Ny. M umur 59 tahun

2. Hasil rongent menunjukkan bahwa

Ny. M menderita osteoporosis.

3. Hasil BMD T-score -3.

4. Hasil darah lengkap dalam (ca: 9,98


mg/dL, na: 142 mmol/L, K: 47

mmol/L, Cl: 108 mmol/L )

5. Pemeriksaan TB 165 cm, BB 76 kg.

6. Kifosis

DS : Penurunan massa Resiko cedera

Klien mengatakan merasakan ngilu saat tulang/osteoporosis

beraktivitas yang berat.

Resiko cedera

DO :

1. Klien terlihat sangat berhati-hati

berjalan.

2. Klien terlihat kifosis ( bungkuk)

3. Hasil rongent menunjukkan bahwaNy.

M menderita osteoporosis

4. Hasil BMD T-score -3.

3.4 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Intervensi Keperawatan Rasionalisasi

Keperawatan

Nyeri 1. Pantau tingkat nyeri pada punggung, 1. tulang dalam peningkatan jumlah

berhubungan nyeri terlokalisasi atau menyebar pada trabekular, pembatasan gerak

dengan dampak abdomen atau pinggang. spinal.


sekunder dari 2. Ajarkan pada klien tentang alternative 2. Alternatif lain untuk mengatasi

fraktur, spasme lain untuk mengatasi dan mengurangi nyeri, pengaturan posisi, kompres

otot, deformitas rasa nyerinya. hangat dan sebagainya.

tulang 3. Kaji obat-obatan untuk mengatasi 3. Keyakinan klien tidak dapat

nyeri. menoleransi obat yang adekuat

4. Rencanakan pada klien tentang atau tidak adekuat untuk

periode istirahat adekuat dengan mengatasi nyerinya.

berbaring dalam posisi telentang 4. Kelelahan dan keletihan dapat

selama kurang lebih 15 menit menurunkan minat untuk aktivitas

sehari-hari.

Hambatan 1. Kaji tingkat kemampuan klien yang 1. Dasar untuk memberikan

mobilitas fisik masih ada. alternative dan latihan gerak

berhubungan 2. Rencanakan tentang pemberian yang sesuai dengan

dengan disfungsi program latihan kemapuannya.

sekunder akibat 3. Bantu klien jika diperlukan latihan 2. Latihan akan meningkatkan

perubahan skeletal 4. Ajarkan klien tentang aktivitas hidup pergerakan otot dan stimulasi

(kifosis), nyeri sehari hari yang dapat dikerjakan sirkulasi darah.

sekunder atau 5. Ajarkan pentingnya latihan. 3. Aktifitas hidup sehari-hari secara

fraktur baru. 6. Bantu kebutuhan untuk beradaptasi mandiri

dan melakukan aktivitas hidup sehari 4. Dengan latihan fisik:

hari, rencana okupasi . 5. Masa otot lebih besar sehingga

7. Peningkatan latihan fisik secara memberikan perlindungan pada


adekuat: osteoporosis

dorong latihan dan hindari tekanan 6. Program latihan merangsang

pada tulang seperti berjalan pembentukan tulang

8. instruksikan klien untuk latihan selama 7. Gerakan menimbulkan kompresi

kurang lebih 30menit dan selingi vertical dan fraktur vertebra.

dengan istirahat dengan berbaring

selama 15 menit

9. hindari latihan fleksi, membungkuk

tiba– tiba,dan penangkatan beban berat

Risiko cedera 1.Ciptakan lingkungan yang bebas dari


2. Menciptakan lingkungan yang

berhubungan bahaya: aman dan mengurangi risiko

dengan dampak a) Tempatkan klien pada tempat tidur terjadinya kecelakaan.

sekunder rendah.

perubahan skeletal b) Amati lantai yang membahayakan

dan klien.

ketidakseimbangan c) Berikan penerangan yang cukup

tubuh. d) Tempatkan klien pada ruangan yang

tertutup dan mudah untuk diobservasi.

e) Ajarkan klien tentang pentingnya

menggunakan alat pengaman di

ruangan.

2. Berikan dukungan ambulasi sesuai Ambulasi yang dilakukan tergesa-


dengan kebutuhan: gesa dapat menyebabkan mudah

a) Kaji kebutuhan untuk berjalan. jatuh.

b) Konsultasi dengan ahli therapist.

c) Ajarkan klien untuk meminta bantuan

bila diperlukan.

d) Ajarkan klien untuk berjalan dan

keluar ruangan.

e) Bantu klien untuk melakukan aktivitas

hidup sehari-hari secara hati-hati.

6.

3.Ajarkan pada klien untuk berhenti


6. Penarikan yang terlalu keras akan

secara perlahan, tidak naik tanggga, dan menyebabkan terjadinya fraktur.

mengangkat beban berat. 7.

8. 4.Ajarkan pentingnya diet untuk Pergerakan yang cepat akan lebih

mencegah osteoporosis: memudahkan terjadinya fraktur

a) Rujuk klien pada ahli gizi kompresi vertebra pada klien

b) Ajarkan diet yang mengandung osteoporosis.

banyak kalsium 8. Diet kalsium dibutuhkan untuk

c) Ajarkan klien untuk mengurangi atau mempertahankan kalsium serum,

berhenti menggunakan rokok atau mencegah bertambahnya kehilangan

kopi tulang. Kelebihan kafein akan


d) Ajarkan tentang efek rokok terhadap meningkatkan kalsium dalam urine.

pemulihan tulang Alcohol akan meningkatkan asidosis

yang meningkatkan resorpsi tulang

Rokok dapat meningkatkan

terjadinya asidosis.

1 5. Observasi efek samping obat-obatan


9. Obat-obatan seperti diuretic,

yang digunakan fenotiazin dapat menyebabkan

pusing, megantuk, dan lemah yang

merupakan predisposisi klien untuk

jatuh.

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Osteoporosis adalah suatu keadaan penyakit yang ditandai dngan

rendahnya massa tulang dan memburuknya mikrostruktural jaringan tulang,

menyebabkan kerapuhan tulang sehingga meningkatkan risiko terjadinya fraktur.

Keadaan tersebut tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi

fraktur. Pada osteoporosis, terjadi penurunan kualitas tulang dan kuantitas

kepadatan tulang, padahal keduanya sangat menentukan kekuatan tulang

sehingga penderita Osteoporosis mudah mengalami patah tulang atau fraktur

(Helmi, 2012).

Faktor resiko terjadinya osteoporosis: Wanita, Usia, Ras/Suku, Keturunan

Penderita, Osteoporosis, Gaya Hidup Kurang Baik, Mengkonsumsi Obat. Kolaps

tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Osteoporosis

mengakibatkan patah tulang yang paling sering adalah pada punggung, paha, dan

lengan bawah. Fraktur baji vertebra torakalis membentuk punuk wanita tua

(dowager’s hump).

Pengobatan osteoporosis di fokus kan kepada memperlambat atau

menghentikan kehilangan mineral, meningkatkan kepadatan tulang, dan

mengontrol nyeri sesuai dengan penyakitnya. tujuan dari pengobatan ini adalah

mencegah terjadinya fraktur (patah tulang).Pengobatannya bisa dengan

pemberian estrogen, bisfosfonat, latihan pembebanan (olahraga). Untuk

pencegahannya, dapat dilakukan dengan mengurangi asupan protein

hewani: Protein hewani meningkatkan kehilangan kalsium, peningkatan

konsumsi buah dan sayuran, mengurangi asupan natrium, pola makan rendah
lemak, moderasi dalam penggunaan kafein, membatasi suplemen vitamin A,

kombinasi suplemen vitamin D dan kalsium.

4.2 Saran

Sebagai seorang perawat hendaknya kita mampu memahami dengan baik

tentang penyakit osteoporosis mulai dari pengertian hingga penatalaksanaannya

hingga mampu menerapkan asuhan keperawatan secara langsung kepada pasien

yang menderita osteoporosis.

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Ratih. 2009. Hubungan Status Gizi. Diakses dari http://www.lontar.

ui.ac.id/file?file=digital/125633-S-5641-Hubungan%20status-Literatur.pdf

Tanggal 9 Oktober 2012 Pukul 06.15 WIB

Brunner, Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3,

Jakarta: EGC

Cosman, Felicia. 2009. Osteoporosis. Jogjakarta: B First

Helmi, Zairin. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jarkarta: Salemba

Medika

IPB. tt. Tulang. Diakses dari

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46666/

BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka_%20B11abe.pdf?sequence=5, Tanggal 10

Oktober 2012 Pukul 08.05 WIB


Junaidi, I, 2007. Osteoporosis - Seri Kesehatan Populer. Cetakan Kedua, Penerbit PT

Bhuana Ilmu Populer.

Kawiyana, I Ketut Siki. 2009. Osteoporosis Patogeneis Diagnosis dan Penanganan

Terkini. Jurnal Penyakit Dalam, Vol. 10 (Nomor 2), Halaman 157-170

Kowalak, Jennifer. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC

Lippincott dkk. 2011. Nursing Memahami Berbagai Macam Penyakit. Jakarta : PT

Indeks.

Lukman dan Nurna Ningsih. 2012. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan

Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika

Mulyaningsih, Farida. 2008. Mencegah dan Mengatasi Osteoporosis dengan

Berolahraga. Diakses dari

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/131808341/Mencegah%20dan%20Meng

atasi% 20Osteoporosis.pdf Tanggal 9 Oktober 2012, Pukul 06.25 WIB

Permana, Hikmat. 2009. Patogenesis dan Metabolisme Osteoporosis pada Manula.

Diakses dari

http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/09/patogenesis_dan_metabo

lisme_osteoporosis_pada_manula.pdf Tanggal 9 Oktober 2012 Pukul 06.08

WIB

Prasetyo, Yudik. tt. Latihan Beban Bagi Penderita Osteoporosis. Diakses dari

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132308484/yudik_medikora_LATIHAN

_BEBAN_BAGI_PENDERITA_OSTEOPOROSIS.pdf Tanggal 9 Oktober

2012 Pukul 06.35 WIB


Sudoyo, Aru dkk. 2009. Buku Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3 Edisi 5. Jakarta : Internal

Publishing.

Suryati, A, Nuraini, S. 2006. Faktor Spesifik Penyebab Penyakit Osteoporosis Pada

Sekelompok Osteoporosis Di RSIJ, 2005. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan,

Vol.2, No.2, Juli 2006:107-126.

Tandra, Hans, 2009. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang

Osteoporosisi Mengenal, Mengatasi, Dan Mencegah Tulang Keropos. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama

Wahyuningtyas, Riska. 2010. Komplikasi Osteoporosis dan Fraktur Osteoporosis.

Diakses dari http://www.scribd.com/doc/45879603/Komplikasi-Osteoporosis.

Tanggal 8 Oktober 2012 Pukul 20.05 WIB

Widianti, Tri 2009. Senam Kesehatan. Jakarta: Muha Medika