Anda di halaman 1dari 30

Makalah :

TEORI-TEORI DALAM LOGIKA


D

Oleh :

Nama : Helmi Desi Natalia Br Tambunan

Prodi : PAK (Pendidikan Agama Kristen)

T/S : I/2

Mata Kuliah : Logika

Dosen : Drs. Tumpak Manurung, S.H., M,Si

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI OIKUMENE INJILI

SIDIKALANG 2018

1
KATA PENGANTAR

Segala Puji Syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala kemurahan dan
rahmat-Nya, serta segala hikmat yang diberikan-Nyalah kami dapat menyusun makalah ini dengan
baik sampai akhirnya.

Adapun judul makalah ini adalah TEORI-TEORI DALAM LOGIKA, yang bertujuan yaitu
Arti penting dari suatu teori teori penting karena merupakan suatu dasar atau acuan dalam
melakukan suatu tindakan. Sehingga Teori itu merupakan sumber bagi kerangka penalaran dalam
penyusunan hipotesis.

Saya berterimakasih kepada Bapak Drs.Tumpak Manurung S.H , M.si sebagai dosen pengampu
mata kuliah ini, karena dukungan dan dorongan motivasi yang diberikan saya boleh menyusun
makalah ini dengan baik sampai akhirnya, sehingga kami boleh membagikan apa yang kami dapat
dari makalah ataupun dari judul makalah kami ini.

Saya berterimakasih kepada teman-teman yang telah mendukung saya dalam


penyempurnaan makalah ini, sudah memberikan pertanyaan, kritik, dan saran untuk mengarahkan
makalah kami ini, ke hal yang lebih baik di masa yang akan datang.

Saya sadar bahwa makalah yang saya buat ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu,
saya masih sangat membutuhkan saran dan kritik dari semua pembaca makalah ini, kami harap
makalah ini boleh berarti bagi kita semua.

Tuhan Yesus Memberkati

Syalom

Penulis,

Helmi Desi Natalia Br Tambunan

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN 4

1.1.Latar Belakang Masalah 4


1.2.Rumusan Masalah 4
1.3.Tujuan 4

BAB II PEMBAHASAN 5

A. PENGERTIAN LOGIKA 5
B. SEJARAH LOGIKA 6
C. PEMBAGIAN LOGIKA 11
D. LOGIKA DAN BAHASA 12
E. ALIRAN-ALIRAN LOGIKA 13
F. DASAR-DASAR LOGIKA 17
G. MACAM-MACAM TEORI 18
H. PENGUJIAN HIPOTESIS 21
I. TEORI DAN METODE ILMIAH 23
J. OBJEK KAJIAN LOGIKA 25
K. MANFAAT MEMPELAJARI LOGIKA 26

BAB III PENUTUP 29

KESIMPULAN 29

DAFTAR PUSTAKA 30

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah


Logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu
pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.
Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan
mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam
tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

1.2.Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan logika?
2. Apa tujuan mempelajari logika?
3. Kapan logika lahir dan mulai digunakan?
4. Mulai dari mana Logika disebut sebagai ilmu?

1.3.Tujuan
Kata Logika berasal dari bahasa Yunani Logike dari kata Logos artinya ucapan atau
pengartian. Ucapan berarti yang diucapkan, dilisankan, disebutkan. Ucapan merupakan hasil
proses berpikir. Sehingga Logika atau Berpikir artinya menggunakan akal budi untuk
mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN LOGIKA

Apakah Logika itu? Kata Logika berasal dari bahasa Yunani Logike dari
kata Logos artinya ucapan atau pengartian. Ucapan berarti yang diucapkan, dilisankan,
disebutkan. Ucapan merupakan hasil proses berpikir. Berpikir artinya menggunakan akal budi
untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Kata pengartian berarti proses, cara,
perbuatan memberi arti. Dengan demikian maka logika merupakan hasil pertimbangan akal
pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika dengan demikian
bersangkut paut dengan pengetahuan tentang kaidah berpikir Kaidah berpikir artinya rumusan
asas-asas yang menjadi hukum atau aturan yang tentu yang menjadi patokan dalam berpikir.
Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu
logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan
teratur. Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan
mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata
logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.
 Logika sebagai ilmu pengetahuan: Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan di mana
obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek
formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.
 Logika sebagai cabang filsafat: Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis
di sini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
 Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk
memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno
tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan
penalarannya.
 Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang
bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai

5
cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. logika tidak bisa
dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran

Dengan kata lain logika adalah ajaran tentang berfikir tertib dan benar, atau perumusan
lebih teliti, ilmu penarikan kesimpulan dan penalaran tanpa meninggalkan keabsahan. Logika
tidak menelaah urutan berfikir sebagai gejala psikologi dan tidak pula mempersoalkan isi
pemikiran, tetapi mempermasalahkan tata tertib yang harus menjadi panutan jalan pemikiran
agar memperoleh hasil yang benar. Dalam percakapan sehari-hari kita sering mendengar ucapan:
“Itu betul dalam teori, tetapi tidak dapat dilaksanakan dalam praktek”. Banyak orang kita jumpai
begitu memandang rendah teori dan pertimbangan teoritis, meraka bangga dengan dirinya
sebagai orang berpendirian praktis dan bahkan berucap “wah tidak ada waktu bagiku untuk
menekuni buku dan berteori. Kami mencukupkan diri apa yang berguna dan bisa dipraktekkan.
Berteori terlalu banyak membuang waktu.”
Terhadap ucapan serupa hanya cukup dengan jawaban sederhana bahwa apabila tidak
dapat dilaksanakan dalam praktek, maka itu bukan teori yang benar. Tidak ada teori itu disebut
benar apabila ia tidak relevan dengan fakta-fakta. Karena itu orang yang berkata seperti itu
adalah mereka yang tidak mengerti arti teori atau orang yang kurang pengertiannya akan teori.
Orang yang masih dibawah taraf rata-rata kecerdasan umum, sebab teori itu tidak lain adalah
interpretasi dari fakta-fakta. Kecuali pemikiran deduktif, semua penalaran, juga semua pemikiran
intelek kita adalah merupakan penyusunan dan pengujian dari teori. Terhadap orang yang hanya
tertarik kepada fakta-fakta dan mengesampingkan teori harus diterangkan kepada mereka, bahwa
sesungguhnya tidak ada perbedaan yang nyata antara fakta dan teori, karena setiap teori yang
benar adalah merupakan pernyataan suatu fakta dalam hubungannya dengan fakta lain.

B. SEJARAH LOGIKA

Logika dimulai sejak Thales (624 SM–548 SM), filsuf Yunani pertama yang
meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada
akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta. Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe
(Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah
mengenalkan logika induktif. Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang

6
kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan
bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.
Menurut sejarah, dasar–dasar ilmu mantik (logika) sudah dipelajari semenjak zaman
Luqman Hakim atau zaman Nabi Daud As. Dari Luqman hakim turun kepada filosof Benduples,
kemudian turun kepada filosof Sabqarates dan Baqrates, lalu turun kepada Aflathun, dan
akhirnya sampai kepada filosof Aristoteles yang dikenal sebagai bapak logika. Logika
merupakan cabang dari llmu filsafat, maka sejarah lahirnya logika tidak bisa lepas dari
bagaimana filsafat itu muncul. Filsafat pertama kali muncul di yunani, yaitu pada abad ke 6 SM.
Pada waktu itu orang - orang Yunani mulai kritis terhadap alam sekitar dan mulai memikirkan
segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Merekalah orang–orang yang berusaha keras menganalisis
dan menyusun kaidah–kaidah berpikir agar terhindar dari kesalahan dalam membuat kesimpulan.

Sejarah singkat logika dari masa pertumbuhannya hingga kurun perkembangannya, dapat
kita lihat diantaranya ialah:

 Dunia Yunani Tua: Menurut sebagian kisah sejarah Zeno dari Citium (±340-265)
disebutkan bahwa yang pertama kali menggunakan istilah logika adalah tokoh Stoa.
Meskipun demikian, akar logika sudah terdapat dalam pikiran dialektis para filsuf
mazhab Elea. Mereka telah melihat masalah identitas dan perlawanan asas dalam realitas.
Tetapi kaum Sofis-lah yang menjadikan pikiran manusia sebagai titik pemikiran secara
eksplisit. Sokrates (470-399) dengan metodenya ironi dan maieutika, defacto
mengembangkan metode induktif. Dalam metode ini dikumpulkan contoh dan peristiwa
konkret untuk kemudian dicari ciri umumnnya. Plato mengumumkan metode Sokrates
tersebut menjadi teori ide, yaitu teori Dinge an sich. Menurut Plato, ide adalah
bentuk mulyajadi atau model yang bersifat umum dan sempurna yang disebut prototypa,
sedangkan benda individual duniawi hanya merupakan bentuk tiruan yang tidak
sempurna, yang disebut ectypa. Gagasan plato ini banyak memberikan dasar pada logika,
terutama pada masalah ideogenesis dan masalah penggunaan bahasa dalam pemikiran.
Akan tetapi logika yang ilmiah sesungguhnya baru terwujud berkat karya Aristoteles
(384-322). Ialah Ahli pikir yang mempelopori perkembangan logika sejak awal lahirnya
Ia menghimpun dasar–dasar ilmu mantiq agar tidak punah sebab sulitnya ilmu ini. Maka
dari itu ia dipandang sebagai peletak ilmu mantiq (logika) dalam sejarah. Karya

7
Aristoteles tentang logika, kemudian diberi nama To Organon oleh muridnya yang
bernama Andronikos dan Rhodos. Karya Aristoteles mencakup:Kategoria (mengenai
logika istilah dan predikasi), Peri Hermeneis (tentang logika proposisi), Analytica
Protera (tentang silogisme dan pemikiran), Analytica Hystera (tentang
pembuktian), Topica (tentang metode berdebat), Peri Sophistkoon Elechoon (tentang
kesalahan berpikir). Pola ini hingga kini masih digunakan oleh kebanyakan penulis jika
berbicara tentang logika. Setelah masa Aristoteles, logika diteruskan oleh muridnya, yaitu
Theopratus dan Porphyrius. Keduanya berperan penting dalam kemajuan logika.
Theopratus memimpin aliran peripatetic (warisan gurunya). Ia menyumbangkan
pemikiran tentang pengertian yang mungkin dan sifat asasi dari setiap kesimpulan (harus
mengikuti pangkal terlemah dalam berpikir). Maksud dari pengertian yang mungkin
adalah pengertian yang tidak mengandung kontradiksi atau pertentangan dalam dirinya.
Sedangkan Porphyrtius adalah ahli pikir dari Iskandariyah yang amat terkenal dalam
bidang logika. Ia telah menambahkan satu bagian baru dalam pelajaran baru dalam
logika, yaitu eisagogy. Eisagogy membahas tentang lingkungan zat dan sifat di dalam
alam yang sering disebut klasifikasi.

 Dunia Abad Pertengahan: Pada mulanya, yaitu pada tahun 1141, pembahasan logika
hanya berkisar pada karya Aristoteles yang berjudul Kategoria dan Peri
Hermeneias. Karya Aristoteles tersebut bersama Eisagogen karya Porphyrius biasa
disebut logika lama. Baru sesudah tahun 1141, keempat karya Aritoteles lainnya dikenal
lebih luas oleh masyarakat. Keempat karya tersebut disebut dengan logika baru. Logika
lama dan logika baru kemudian disebut sebagai logika antik. Di dalam logika ini ditunjuk
pentingnya pendalaman tentang suposis, untuk menerangkan kesesatan logis, dan tekanan
terletak pada ciri–ciri term sebagai simbol tata bahasa dari konsep–konsep. Pada abad
XIII–XV berkembanglah logika modern. Tokohnya adalah Petrus Hispanus, Roger
Bacon, W. Ockham, dan Raymond Lullus yang menemukan metode logika baru yang
disebut Ars Magna, yakni semacam aljabar pengertian dengan tujuan untuk membuktikan
kebenaran–kebenaran tertinggi. Abad pertengahan mencatat bebagai pemikiran yang
sangat penting bagi perkembangan logika. Karya Boethius yang orisinil di bidang
silogisme hipotesis berpengaruh bagi perkembangan teori konsekuensi yang merupakan

8
salah satu hasil terpenting dari logika. Munculnya teori suposisi, adanya diskusi tentang
universalia, munculnya logika hubungan, penyempurnaan teori silogisme, penggarapan
logika modal, dan yang lainnya penyempurnaan teknis.

 Dunia Modern: Logika Aristoteles, selain mengalami perkembangan yang murni, juga
dilanjutkan oleh sebagian pemikir, tetapi dengan penekanan–penekanan yang berbeda.
Meskipun mengikuti tradisi Aristoteles, Thomas Hobbes (1588–1679) dan John Locke
(1632–1704) doktrin–doktrinnya dalam logika sangat dikuasai oleh paham nominalisme.
Pemikiran dipandang sebagai suatu proses manipulasi tanda–tanda verbal dan mirip
operasi–operasi dalam matematika. Kedua tokoh ini memberikan interpretasi tentang
kedudukan bahasa di dalam pengalaman. Diantara tokoh lain yang berperan dalam
perkembangan logika pada era ini adalah Francis Bacon (London, 1620) dengan
karyanya Novum Organum yang membahas tentang logika fisika induktif murni, Rene
Decartes (1637) dengan karyanya Discours de la Methode yang membahas tentang logika
matematika deduktif murni, Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716) dengan rencana
calculus universalnya yang mendasari munculnya logika simbolis, John Stuart Mill
(1806–1873) dengan karyanya System of Logic yang membahas tentang logika induktif
dan Henry Newman (1870) dengan karyanya Essay i Aid of a Grammar of Assent yang
meganalisis fenomenologis yang tajam tentang pikiran manusia. Selama abad ke-20,
banyak karya dalam bidang logika memfokuskan perhatian pada formalitas sistem logika
dan pada pertanyaan tentang kekomplitan dan konsistensi sistem–sistem tersebut. Suatu
teori yang terkenal, yang dikemukakan oleh Kurt Goedel (1906-1978), menyatakan
bahwa dalam sistem formal apa pun yang memadai bagi sejumlah teori terdapat suuatu
formula yang tidak dapat ditentukan, yaitu semacam formula, bukan formula itu bukan
juga negasinya yang dapat di asalkan dari aksioma–aksioma dari sistem itu.
Perkembangan–perkembangan lain mencakup logika multi nilai dan formalisasi logika
modal. Yang paling mutakhir, logika berandil besar bagi teknologi dengan menyediakan
fondasi konseptual bagi sirkuit elektronik komputer–komputer digital.

 Perkembangan Logika dalam Islam: Logika mulai berkembang dalam dunia islam sejak
adanya kegiatan penerjemahan buku–buku oleh para ilmuan Islam. Pada saat itu upaya

9
untuk mengembangkan logika terlihat dari upaya beberapa penerjemah yang menyalin
buku–buku karya Aristoteles kedalam bahasa arab. Diantara tokoh yang berperan adalah
Johana bin Pafk yang menyalin buku Aristoteles menjadi Manqulatul Assyarat li Aristu,
Ibn Sikkit Jakub Al-Nahwi yang memberi komentar dan tambahan dalam bukunya Ishlah
Fil Mantiq, Jakub bin Ishaq Al-Kindi menyalin bagian–bagian logika Aristoteles dan
memberi komentar satu persatu. Al-Farabi juga telah melakukan penerjemahan secara
menyeluruh karya Aristoteles. Ia menguasai bahasa Yunani tua (Greek), sehingga mampu
mengulas dan mengomentari karya Aristoteles. Oleh karena itu ia disebut sebagai guru
kedua Aristoteles. Ahli pikir muslim yang juga ikut mengembangkan logika adalah Abu
Abdillah al-Khawarizmi, yang telah menciptakan aljabar serta buku Mafaatihul Ulum fil
Mantiqi yang berisi komentar tentang logika. Ibnu Sina juga membahas tentang logika
sebagaimana terdapat pada salah satu bagian bukunya yaitu As-Syifa. Ia juga membahas
secara spesifik tentang logika pada bukunya yang berjudul Isyarat Wal Tanbibat fil-
Mantiqi. Pada abad ke-14 muncul reaksi terhadap ilmu logika orang yang belajar logika
dianggap terlalu memuja akal dalam mencari kebenaran. Ahmad Ibnu Taimiah
menentang logika melalui karyanya yang berjudul Fasbibtu ahlil-Iman fil-roddi ‘ala
Mantiqi Yunani (ketangkasan pendukung keimanan menangkis logika Yunani). Adapun
Sa’aduddin Al-Taftazani (1322-1389M) mengharamkan bagi orang yang mempelajari
logika. Setelah runtuhnya kejayaan Islam di Andalusia pada pertengahan abad ke-15,
perkembangan logika semakin meredup. Hingga abad ke-20 hanya beberapa tokoh saja
yang mahir dalam logika,seperti Ibnu Khaldun, Al-Duwani, dan Al-Akhdari. Diantara
karya logika yang banyak dipakai sebagai pelajaran dasar logika di dunia Islam, termasuk
Indonesia adalah karya Al-Akhdari, yaitu Sullam Al-Munauraqi fil Mantiqi. Namun
demikian jiwa semangat untuk mempelajari logika mulai bangkit lagi pada abad ke-20
dengan munculnya gerakan pembaharuan Islam di Mesir yang dipelopori oleh
Jamaluddin Al-Afgani dan Muhammad Abduh.

Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles
disimpulkan dari:
 Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
 Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
 Air jugalah uap

10
 Air jugalah es

Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.
Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan.
Kaum Sofis beserta Plato (427 SM–347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran
dalam bidang ini. Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara
khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar,
dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang
masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.

Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, dapat kita lihat diantaranya yaitu:
1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
4. Analytica Priora tentang Silogisme.
5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
6. De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.

Pada 370 SM 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum,
melanjutkan pengembangn logika. Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno
dari Citium 334 SM–226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus
(130 M–201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan
logika dengan menerapkan metode geometri.

C. PEMBAGIAN LOGIKA

Terbagi ke dalam berapa macamkah logika itu apabila dilihat dari segi hakikatnya?
Secara hakiki logika dapat dibagi menjadi dua macam yaitu logika alamiah
(kodratiah) dan logika Ilmiah (Logika Saintifika). Logika alamiah adalah kinerja akal budi
manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan
kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak

11
lahir. Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi
ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat
pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih
mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling
tidak, dikurangi.

Logika ilmiah memiliki dua cabang kajian, yakni logika sebagai ilmu pengetahuan dan
logika sebagai cabang filsafat. Logika sebagai ilmu pengetahuan merupakan sebuah ilmu
pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran)
dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Logika
sebagai cabang filsafatadalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika
dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

D. LOGIKA DAN BAHASA

Mulai dari mana logika sebagai ilmu dipelajari? Sudah dijelaskan di atas bahwa logika
merupakan hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam
bahasa. Jelaslah bahwa logika memiliki pertalian yang erat dengan bahasa. Jadi apabila kita ingin
mempelajari logika, mulailah dengan melihat hubungan antara bahasa dan logika atau
sebaliknya.

Bahasa (yang diucapkan) adalah bentuk lahir dari proses berfikir yang bersifat batiniah.
Dalam konteks ini berpikir dapat dirumuskan sebagai ‘berbicara dengan diri sendiri di dalam
batin’. Proses berbicara sendiri di dalam batin tidak dapat dilihat. Apa yang dipikirkan oleh
seseorang tidak dapat diketahui. Hanya apabila seseorang telah mengatakan atau mengucapkan
apa yang dipikirkannyalah dapat diketahui isi pikiran orang itu. Jadi, bahasa adalah ungkapan
pikiran. Bahasa yang diungkapkan dengan baik merupakan hasil dari proses berpikir yang baik
dan tertib. Demikian pula bahasa yang diungkapkan dengan berbelit-belit, tidak tertata
merupakan penanda proses berfikir yang rancu.

Karena berfikir dapat dipahami melalui bahasa yang diungkapkan maka sangat penting
sekali dipahami aneka ungkapan berupa:

12
 Kata
 Term
 Pengertian (Arti-Isi-Luas)
 Pembagian kata (Nilai rasa dan kata-kata emosional)
 Penggolongan (Aturan-aturan penggolongan dan beberapa kesulitannya
 Defenisi (Jenis-jenis defenisi dan aturan-aturan defenisi)

E. ALIRAN-ALIRAN LOGIKA

Terdapat 5 aliran besar dalam logika, dapat kita lihat diantaranya ialah sebagai berikut :

1. Aliran Logika Tradisional Logika ditafsirkan sebagai suatu kumpulan aturan praktis
yang menjadi petunjuk pemikiran. Logika tradisional pertama kali dikembangkan
oleh Aristoteles dan mensistematisasi (agak berbeda) dengan orang-orang abad
pertengahan sekolah. Dianggap menjadi semua ada untuk logika oleh sebagian besar
sampai akhir abad ke-19 (sampai G. Frege, misalnya, keluar dengan versi modern
logi8c dalam tulisannya konsep (Begriffsschrift). Asumsi tradisional logika adalah
bahwa semua proposisi (kalimat) adalah subjek - bentuk predikatif (ketat, SUBJEK
istilah + KOPULA PREDIKAT istilah: misalnya, tinju adalah + bertulang mamalia).
Ini eksklusif penekanan pada subjek - bentuk predikatif adalah meskipun
menyesatkan, dan mendasari penyebab keliru metafisika oleh banyak modern adalah
(sebaliknya untuk beberapa kritik baru-baru ini dari logika modern). Tradisional
logika yang bersangkutan dengan segera dan mediate kesimpulan antara proposisi
(subjek - predikatif). Segera kesimpulan dari salah satu (premis) ke salah satu
(kesimpulan) dengan dua istilah premis kedua muncul dalam kesimpulan.
Kesimpulan mediate melibatkan lebih lokal dengan menggunakan "mediasi", atau
tengah, istilah-istilah yang tidak muncul dalam kesimpulan. Sylloquism, studi utama
tradisional logika, adalah argumen di mana tempat menghubungkan subjek dan
predikat kesimpulan oleh cara dari jangka menengah.
2. Aliran Logika Metafisis Susunan pikiran itu dianggap kenyataan, sehingga logika
dianggap seperti metafisika. Kata "metafisika" dicatut dari set karya Aristoteles yang

13
terdiri dari 14 kelompok karya tentang problem-problem filosofis. Pada mulanya
tidak terdapat nama untuk merujuk kajian kefilsafatan ini, hingga Andronikus dari
Rodesia menyusun karya-karya filsafat Aristotelian dengan delapan buku di luar label
"Fisika" dinamai τὰ μετὰ τὰ φυσικά βιβλία (tà metà tà Physika biblia; buku/karya
(yang adalah) setelah/disamping Φυσικὴ ἀκρόασις (Phusike akroasis)).[butuh
rujukan]
Sehingga timbul istilah "Metafisika" yang, secara turun temurun berbelok
maknanya dan dimengerti sebagai "sesuatu/ilmu di balik fisika/kulit terluar (yang
menutupi sesuatu)". Terdapat berbagai pemahaman atas maksud kata Metafisika
sebenarnya dan menjadi problem bagi para filsuf dan sejarawan hingga kini. Sehingga
makna sebenarnya masih belum jelas, mengingat Arisoteles pun tidak menggunakan
istilah tersebut untuk menamai teori-teori metafisikanya. Kata "Metafisika" tidak
pernah pun jika pernah ada di masa Aristotelian dipakai oleh Aristoteles sendiri,
melainkan sering kali ia rujuk sebagai "filsafat awal". Akan tetapi, para cendekiawan
dan komentator mulai mempertanyakan dan mencari arti intrinsik di balik kepantasan
atas kesesuaian nama yang diberikannya. Kegiatan beberapa cendekiawan abad ke-20
turut mengarahkan arti alternatif atas metafisika itu sendiri. Pemahaman-pemahaman
abad Renaisans melahirkan ide-ide baru seperti ‘meta-bahasa’ atau ‘penyangga
korpus kefilsafatan’ dan membuat metafisika dipahami sebagai "ilmu atas dunia di
luar physis (φύσις, biasanya diterjemahkan sebagai 'alam')."[3] Kajian physis yang
dimaksud umumnya berkenaan dengan hal-hal yang melampaui hal-hal keduniaan
yang, secara umum, dapat dipahami sebagai ilmu atas hal-hal imaterial (seperti alam
kajian Newton, Einstein, atau Heisenberg). Lain halnya dengan Thomas
Aquinas yang merujuk metafisika sebagai ilmu tinggi dari urutan kronologi atau
pedagogi tahap studi filsafat. Sehingga ilmu metafisika dipahami sebagai "hal yang
dipelajari setelah menguasai ilmu-ilmu yang berurusan dengan hal-hal fisik."[4] Akan
tetapi, dari semua konsepsi yang telah disebutkan, tidak ada suatu definisi yang
disepakati di lintas ilmu kefilsafatan. Dalam karya Aristoteles, bagian karya yang
disebut pasca Fisika tersebut menggambarkan hal yang "tidak mengalami perubahan."
Tugas pokok logika adalah menafsirkan pikiran sebagai suatu tahap dari struktur
kenyataan. Sebab itu untuk mengetahui kenyataan, orang harus belajar logika lebih
dahulu.

14
3. Aliran Logika Epistemologis Dipelopori oleh Francis Herbert Bradley (1846-1924)
dan Bernard Bosanquet (1848-1923). Logika yakni merupakan cabang ilmu yang sulit
dipisahkan dari epistemologi. Akan tetapi, secara universal dianggap sebagai disiplin
yang berbeda. Logika ialah studi tentang berbagai jenis proposisi berbeda yang
hubungan diantara mereka yang mejustifikasi kesimpulan beberapa bagian dari studi
ini berhubungan erat dengan matematika, dan sebagiannya diklasifikasikan termasuk
kedalam epistemologi. Sedangkan epistemologi sendiri Adalah cabang filsafat yang
membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha
pemikiran yang sistematik dan metodik untuk menentukan prinsip kebenaran yang
terdapat pada suatu objek kajian ilmu. Dalam pengertian lain epistemologi
membahas persoalan pengetahuan. Mungkinkan pengetahuan diperoleh atau tidak?
Dapatkan kita memiliki pengetahuan yang benar? Kita mengharapkan pengetahuan
yang benar, bukan pengetahuan yang khilaf, yang mendasarkan pada khayalan
belaka. Dalam epistemologi, yang paling pokok perlu didiskusikan, adalah apa yang
menjadi sumber pengetahuan, bagaimana struktur pengetahuan. Hal ini akan
berkaitan dengan macam atau jenis pengetahuan, dan bagaimana kita memperoleh
pengetahuan tersebut. J. F. Farrier pada tahun 1854 adalah orang yang pertamakali
menggunakan istilah epistimologi. Karena pada saat itu banyak orang yang
menyebutnya filsafat pengetahuan karena ia membicarakan tentang pengetahuan.
Untuk dapat mencapai pengetahuan yang memadai, pikiran logis dan perasaan harus
digabung. Demikian juga untuk mencapai kebenaran, logika harus dihubungkan
dengan seluruh pengetahuan lainnya.

4. Aliran Logika Instrumentalis (Aliran Logika Pragmati Dipelopori oleh John Dewey
(1859-1952). Logika dianggap Sebagai alat (instrumen) untuk memecahkan masalah.
5. Aliran Logika Simbolis Dipelopori oleh Leibniz, Boole dan De Morgan. Sangat
menekankan penggunaan bahasa symbol untuk mempelajari secara terinci, bagaimana
akal harus bekerja. Banyak menggunakan metode-metode dalam mengembangkan
matematikan. Berkembang sangat teknis dan ilmiah serta bercorak matematika.
Disebut Logika Matematika (Mathematical Logic). G.W. Leibniz (1646-1716)
dianggap sebagai matematikawan pertama yang mempelajari Logika Simbolik.
George Boole (1815-1864) berhasil mengembangkan Logika Simbolik (abad 19).

15
Bukunya yang berjudul Law of Though mengembangkan logika sebagai sistem
matematika yang abstrak. Aliran Logika Simbolis Dipelopori oleh Leibniz, Boole
dan De Morgan. Aliran ini sangat menekankan penggunaan bahasa simbol untuk
mempelajari secara terinci, bagaimana akal harus bekerja. Metode-metode dalam
mengembangkan matematika banyak digunakan oleh aliran ini, sehingga aliran ini
berkembang sangat teknis dan ilmiah serta bercorak matematika, yang kemudian
disebut Logika Matematika (Mathematical Logic). G.W. Leibniz (1646-1716)
dianggap sebagai matematikawan pertama yang mempelajari Logika Simbolik. Pada
abad kesembilan belas, George Boole (1815-1864) berhasil mengembangkan Logika
Simbolik. Bukunya yang berjudul Low of Though mengembangkan logika sebagai
sistem matematika yang abstrak. Logika Simbolik ini merupakan logika formal yang
semata-mata menelaah bentuk dan bukan isi dari apa yang dibicarakan. Karena akan
dibahas banyak mengenai Logika Simbolik maka berikut ini disampaikan dua
pendapat tentang Logika Simbolik yang merangkum keseluruhan maknanya. Logika
simbolik adalah ilmu tentang penyimpulan yang sah (absah), khususnya yang
dikembangkan dengan penggunaan metode-metode matematika dan dengan bantuan
simbol-simbol khusus sehingga memungkinkan seseorang menghindarkan makna
ganda dari bahasa sehari-hari (Frederick B. Fitch dalam bukunya “Symbolic Logic”).
Pemakaian simbol-simbol matematika untuk mewakili bahasa. Simbol-simbol itu
diolah sesuai dengan aturan-aturan matematika untuk menetapkan apakah suatu
pernyataan bernilai benar atau salah. Studi tentang logika berkembang terus dan
sekarang logika menjadi ilmu pengetahuan yang luas dan yang cenderung mempunyai
sifat teknis dan ilmiah. Aljabar Boole, salah satu topik yang merupakan perluasan
logika (dan teori himpunan), sekarang ini digunakan secara luas dalam mendesain
komputer. Penggunaan simbol-simbol Boole dapat mengurangi banyak kesalahan
dalam penalaran. Ketidakjelasan berbahasa dapat dihindari dengan menggunakan
simbol-simbol, karena setelah problem diterjemahkan ke dalam notasi simbolik,
penyelesaiannya menjadi bersifat mekanis. Tokoh-tokoh terkenal lainnya yang
menjadi pendukung perkembangan logika simbolik adalah De Morgan, Leonard Euler
(1707-1783), John Venn (1834-1923), Alfred North Whitehead dan Bertrand Russell
(1872-1970).

16
Dua pendapat tentang Logika Simbolik yang merangkum keseluruhan maknanya.

 Logika simbolik adalah ilmu tentang penyimpulan yang sah (absah), khususnya yang
dikembangkan dengan penggunaan metode-metode matematika dan dengan bantuan
simbol-simbol khusus sehingga memungkinkan seseorang menghindarkan makna ganda
dari bahasa sehari-hari (Frederick B. Fitch dalam bukunya “Symbolic Logic”).
 Pemakaian simbol-simbol matematika untuk mewakili bahasa. Simbol-simbol itu diolah
sesuai dengan aturan-aturan matematika untuk menetapkan apakah suatu pernyataan
bernilai benar atau salah. Studi tentang logika berkembang terus dan sekarang logika
menjadi ilmu pengetahuan yang luas dan yang cenderung mempunyai sifat teknis dan
ilmiah. Aljabar Boole, salah satu topik yang merupakan perluasan logika (dan teori
himpunan), sekarang ini digunakan secara luas dalam mendesain komputer. Penggunaan
simbol-simbol Boole dapat mengurangi banyak kesalahan dalam penalaran.
Ketidakjelasan berbahasa dapat dihindari dengan menggunakan simbol-simbol, karena
setelah problem diterjemahkan ke dalam notasi simbolik, penyelesaiannya menjadi
bersifat mekanis. Tokoh-tokoh terkenal lainnya yang menjadi pendukung perkembangan
logika simbolik adalah De Morgan, Leonard Euler (1707-1783), John Venn (1834-1923),
Alfred North Whitehead dan Bertrand Russell (1872-1970).

F. DASAR DASAR LOGIKA

Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan
bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya.
Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara
kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional
Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal. Dasar
penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Penalaran deduktif kadang disebut
logika deduktif adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif.
Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan

17
konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid,
bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika
kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Contoh argumen deduktif:


1. Setiap mamalia punya sebuah jantung
2. Semua kuda adalah mamalia
3. Setiap kuda punya sebuah jantung

Penalaran induktif kadang disebut logika induktif adalah penalaran yang berangkat dari
serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Contoh argumen induktif:
1. Kuda Sumba punya sebuah jantung
2. Kuda Australia punya sebuah jantung
3. Kuda Amerika punya sebuah jantung
4. Kuda Inggris punya sebuah jantung
5. Setiap kuda punya sebuah jantung

G. MACAM-MACAM TEORI

Apa itu teori? hasil dari perwujudan suatu hipotesis (tes empiris atau mengevaluasi
sebuah hubungan) atau penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi (alasan
untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan terhadap suatu hal dan
mampu menghasilkan fakta). Ada dua macam teori, teori umum dan teori khusus. Teori umum
adalah suatu pernyataan apabila ia benar maka ia benar secara universal. Ia berlaku bagi semua
waktu, semua tempat dan semua keadaan serta semua permasalahan dalam kelas yang
dinyatakannya. Sebuah generalisasi adalah merupakan teori yang bersifat umum, demikian juga
sebuah penjelasan (explanation) manakala ia berlaku bagi semua peristiwa, keadaan, waktu dan
tempat sesuai dengan permasalahan yang diterangkannya. Pernyataan seperti: Apabila semua
keadaan lain tetap, bertambahnya permintaan akan menaikkan harga barang. Bertambahnya
penduduk itu menurut deret ukur sedangkan bertrambahnya makanan seperti deret hitung;
Negara akan aman apabila pemegang kekuasaan dan para cendekiawannya bersatu; perjalanan
kebudayaan itu melalui tahapan tumbuh, berkembang, mencapai puncak kejayaan, mundur dan

18
akhirnya runtuh; dan semua yang kita dapati sekarang ini merupakan perkembangan yang lebih
sempurna dari keadaan yang mendahuluinya, adalah merupakan teori-teori umum.

Teori khusus adalah teori yang berkaitan dengan sejumlah fakta-fakta pertikular tertentu.
Ia berusaha untuk menjelaskan fakta-fakta itu dalam hubungannya yang satu dengan lainnya. Ia
harus sesuai dengan fakta-fakta yang diketahuinya, tetapi juga harus berhasil
mengidentifikasikan beberapa fakta atau sejumlah fakta yang selama itu belum diketahui. Bila
seorang dokter setelah memeriksa tubuh seorang pasien ia menetapkan bahwa pasiennya
menderita sakit ini dan untuk mengobatinya dengan cara begini, maka ia membuat teori yang
bersifat khusus. Seorang pedagang yang mengetahui dagangannya merosot ia akan berusaha
mencari sebabnya. Apa yang menyebabkan berkurangnya langganan dan bagaimana hal itu
diatasi. Maka kemudian ia menganalisa untuk menemukan sebab dari kemerosotan bisnisnya.
Kemudian ia membuat teori yang tepat bagi semua fakta yang berkaitan serta teori bagaimana
yang seharusnya dikerjakan untuk mengatasi kemerosotan itu. Teori yang diambilnya adalah
teori khusus karena berusaha memecahkan masalah yang khusus dan hanya dapat diaplikasikan
untuk masalah ini saja.

Suatu teori dikatakan bersifat dinamis. Mengapa? Meskipun Teori itu merupakan analisis
hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta, teori
berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan
kesimpulan pada pembuktian matematika, (dikatakan demikian dikarenakan manusia itu tumbuh
dan berkembang sesuai perkembangan peradaban dunia, dalam hal kehidupan, kebutuhan hidup,
ilmu pengetahuan dan masih banyak lagi dampaknya, dan inilah yang memberikan suatu
perkembangan daripada teori-teori). Merriam-Webster.com Merriam-Webster Dictionary.

Arti penting dari suatu teori teori penting karena merupakan suatu dasar atau acuan dalam
melakukan suatu tindakan. Teori itu merupakan sumber bagi kerangka penalaran dalam
penyusunan hipotesis. Tidak ada teori itu disebut benar apabila ia tidak relevan dengan fakta-
fakta. Dengan cara berpendirian praktis menjadikan kita merupakan orang-orang yang merugi.
Mengapa demikian? Karena penjelasan mereka tentang suatu hal hanya mencukupkan diri apa
yang berguna dari segi kegunaan dan tujuan yang sederhana ataupun bisa dipraktekkan. Padahal
suatu teori itu adalah interprestasi dari fakta-fakta. Kecuali pemikiran deduktif, penalaran, juga
pemikiran intelek kita yang merupakan penyusunan dan pengujian dari teori. A.E. Mander,

19
Clearer Thinking, London, Watts & Co, 1949, hlm. 101-2. Mengapa Sebuah teori bermula dari
hipotesis? Karena hipotesis juga merupakan interprestasi dari fakta, ia juga disusun berdasarkan
fakta, tetapi kebenarannya belum diuji. Sedangkan teori kebenarannya telah teruji.

Setiap teori selalu bermula dari hipotesis. Keduanya tidak ada perbedaan prinsip, kecuali
hanya graduasi saja. Hipotesis juga merupakan interpretasi dari fakta ia juga disusun berdasarkan
fakta, tetapi kebenarannya belum diuji, sedangkan teori kebenarannya telah teruji. Oleh karena
itulah maka dalam arti kasar, teori mencakup juga hipotesis.

Marilah kita ambil satu contoh. Dua buah mobil rusak didapati pada sebuah perempatan
jalan yang sepi. Dua orang meninggal dunia, seorang dari mereka tergeletak di tempat duduk
kemudi dan seorang lagi terbaring di jalan. Tidak ada saksi mata yang dapat memberi kesaksian.
Karena itu polisi harus menyusun sebuah teori untuk menentukan sebab kematian dari dua orang
tersebut. Dari fakta yang ada teori apakah yang paling tepat dikemukakan.

Hanya ada dua tubuh yang ditemui; maka dapat disimpulkan bahwa masing-masing
kendaraan disetir oleh dua orang itu, yang kedua-duanya berpergian sendirian. Dengan melihat
posisi kendaraan serta kerusakan yang ada pada bagian kendaraan menunjukkan bahwa salah
satu darinya dikemudikan dengan kecepatan sangat tinggi. Ada tanda menggores bekas ban yang
menunjukkan mobil telah diusahakan direm dengan paksa. Sebuah arloji ditemukan dalam saku
salah seorang darinya, dalam keadaan mati dan jarum menunjukkan waktu 2.45. Satu dosin fakta
tambahan dikumpulkan, satu dosin kesimpulan sederhana ditarik, akhirnya suatu hipotesis
tentang sebab terjadinya kematian dua orang itu disusun sebagai suatu gambaran sementara yang
paling tepat. Bila fakta-fakta tambahan yang muncul pada penyelidikan lebih lanjut ternyata
menunjukkan bahwa kedua orang itu memang meninggal karena kecelakaan kendaraan yang
dikemudikan oleh mereka berdua dan tidak ada dugaan lain yang lebih tepat, maka hipotesis tadi
(mereka meninggal karena kecelakaan), merupakan teori yang dapat dipakai untuk menjelaskan
peristiwa kematian dua orang tadi.

Tetapi bila ternyata dalam penyelidikan lebih lanjut ditemukan adanya dua bekas tapak
kaki yang menunjukkan adanya orang keluar dari mobil yang satu, dan kemudian pada mobil
yang satu lagi ada bekas lipstick pada kursi kemudi, maka hipotesis bahwa mereka mati karena
kecelakaan tidak didukung oleh fakta pembenar yang kuat. Dari kenyataan itu dapat diambil

20
kesimpulan bahwa masing-masing mobil itu dinaiki oleh dua orang, mobil pertama dinaiki oleh
dua orang laki-laki dan mobil kedua oleh seorang perempuan. Diketemukan juga adanya obat
bius pada masing-masing kendaraan. Kenyataan baru ini menimbulkan hipotesis baru, bahwa
kematian dari dua orang tadi bukan karena kecelakaan, tetapi dibunuh oleh orang lain dengan
renvcana matang. Oleh karena itulah hipotesis mana yang bisa kita pegangi tergantung manakah
yang paling relevan dengan fakta yang ada. Hipotesis masih merupakan dugaan sementara, yang
kebenarannya perlu pengujian lebih lanjut. Dalam suatu peristiwa yang sama bisa muncul
beberapa hipotesis, tetapi akhirnya toh juga tidak mungkin mereka mempunyai pembuktian yang
sama kuat.

H. PENGUJIAN HIPOTESIS

Sederhana, Penjelasannya tidak terlalu rumit dan dapat diterima oleh pengetahuan
manusia. Mempunyai daya ramal. Interprestasi yang dibuatnya mampu untuk menjelaskan fakta-
fakta sejenis yang tidak diketahui atau belum diselidiki. Manusia serta dihargai sebagai sesuatu
yang bernilai tinggi. Mampu untuk diuji. Menguji disini adalah bahwa hipotesis itu harus ada
hubungannya dengan data empirik dari fakta yang hendak diterangkannya. Bersesuaian dengan
hipotesis yang telah diterima sebagai pengetahuan yang benar. Secara logis diterima oleh
Relevansi. Hipotesis harus relevan dengan fakta yang hendak dijelaskan. Bagaimana cara
Pengujian Hipotesis sehingga hipotesis tersebut bisa dijadikan suatu teori? Generalisasi,
hubungan kasual dan analogi merupakan metode untuk menentukan pengetahuan baru.
pengetahuan yang diperoleh secara ilmiah dinamakan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Karena
ilmu adalah apa yang telah kita alami dan rasakan sendiri. Sedangkan pengetahuan adalah apa
yang kita dapatkan dari orang lain yang belum pernah kita alami dan rasakan sendiri.

Oleh karena dimungkinkan adanya beberapa hipotesis terhadap suatu peristiwa yang
sama, maka sudah barang tertentu akan ada hipotesis yang lebih baik dari lainnya. Ukuran-
ukuran yang dapat kita gunakan untuk menilai suatu hipotesis adalah:

1. Relevansi: Tidak ada sebuah hipotesis diajukan kecuali berusaha menerangkan fakta yang
dihadapi. Oleh karena itu hipotesis tentulah harus relevan dengan fakta yang hendak
dijelaskan. Hipotesis yang diajukan harus dapat ditarik darinya kesimpulan deduktif

21
dengan fakta-fakta yang menjadi permasalahan. Hipotesis yang tidak relevan dengan
faktanya akan gagal berfungsi sebagai interpretator fakta-fakta, karena itu sebuah
hipotesis yang baik tentulah relevan dengan faktanya.
2. Mampu Untuk Diuji: Ciri utama yang membedakan hipotesis ilmiah dengan hipotesis non
ilmiah adalah kemampuannya diuji dengan fakta-fakta inderawi atau perhitungan logis.
Sutu hipotesis harus memungkinkan kita mengujinya dengan observasi untuk
membuktikan benar dan tidaknya. Sudah barang tertentu tidak seluruhnya harus dengan
observasi langsung sebagaimana kita melihat meja dan kursi. Hipotesis bahwa bumi itu
bulat, melainkan dengan perhitungan misalnya dengan mata kepala bahwa kapal yang
mendatang ke pantai lebih dahulu kelihatan tiangnya atau cerobong asapnya,
menunjukkan bahwa bumi bulat. Mampu diuji disini adalah bahwa hipotesis itu harus ada
hubungannya dengan data empiric dari fakta yang hendak diterangkannya.
3. Bersesuaian dengan Hipotesis yang Telah Diterima Sebagai Pengetahuan yang Benar:
Suatu hal yang perlu diperhatikan bahwa suatu hi[potesis itu dapat diterima apabila ia
koheren dengan hipotesis yang lebih dahulu dinyatakan dan disusun secara logis diterima
oleh manusia, serta dihargai sebagai sesuatu yang bernilai tinggi. Sebuah hipotesis tidak
akan bertahan kalau ia tidak cocok dengan pengetahuan manusia yang meyakkinkan.
4. Mempuyai Daya Ramal: Hipotesis yang baik tidak saja mendeskripsikan fakta-fakta,
tetapi interpretasi yang dibuatnya mampu untuk menjelaskan fakta-fakta sejenis yang
tidak diketahui atau belum diselidiki.
5. Sederhana: Mungkin sekali dua hipotesis atas satu fakta yang sama, sama-sama
memenuhi empat syarat yang pertama, jadi sama-sama baiknya. Tetapi yang pertama
lebih rumit daripada yang kedua, maka bila demikian hipotesis yang lebih sederhana
adalah lebih baik. Kita ambil contoh hipotesis Ptolomeus dan hipotesis Copernicus
tentang pusat jagat raya ini. Menurut Ptolomeus pusat jagat raya adalah bumi; matahari,
dan benda-benda langit lainnya beredar mengelilinginya, menurut orbitnya masing-
masing membutuhkan penjelasan geometri yang sangat rumit. Sedangkan menurut
Copernicus matahari inilah yang menjadi pusat jagat raya, bumi dan benda-benda lainnya
beredar mengelilinya menurut orbit masing-masing tanpa membutuhkan penjelasan
geometri yang terlalu rumit. Kedua Hipotesis ini sama-sama relevan, sama-sama dapat
diuji, sama-sama bersesuaian dengan hipotesis yang telah diterima dan juga sama-sama

22
mempunyai daya ramal. Tetapi bila dikembalikan pada criteria kelima hipotesis
Copernicus lebih sederhana maka hipotesisnya bernilai lebih tinggi dan sebagaimana kita
ketahui sumbangannya diterima oleh astronom-astronom modern.

I. TEORI DAN METODE ILMIAH

Generalisasi, hubungan kausal dan analogi merupakan metode untuk menemukan


pengetahuan baru. Sekarang apakah fungsi teori? Untuk menjawab ini kita lebih dahulu
berbicara tentang metode ilmiah.

Metode ilmiah adalah cara untuk mendapatkan pengetahuan dengan cara ilmiah.
Pengretahuan yang diperoleh dengan cara ilmiah adalah pengetahuan ilmiah, atau secara pendek
disebut ilmu. Dalam prosesnya untuk menemukan pengetahuan baru, ada beberapa langkah yag
kesemuanya saling kait-mengait. Langkah-langkah itu adalah:

1. Penemuan atau Penentuan Masalah: Pada tahap inikita secara sadar mengetahui masalah
yang akan kita telaah dengan ruang lingkup dan batas-batasnya. Kalau seandainya kita
menghadapi penyakit yang sedang mengganas maka permasalahannya yang kita hadapi
adalah masalah penyakit dan pengobatannya. Penyakit apa yang sedang kita hadapi juga
supaya dibatasi apakah tentang penyakit kulit, penyakit dalam atau demam berdarah. Jadi
yang kita hadapi adalah jelas, bukan masalah ekonomi atau politik atau seni, tetapi
masalah pengobatan taruhlah tentang penyakit kulit/
2. Perumusan Masalah: Merupakan usaha untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi
dengan lebih jelas. Pada tahap ini kita mengidentifikasikan semua factor-faktor yang
terlibat dalam masalah yang dihadapi. Factor tersebut membentuk kerangkan masalah
yang berupa gejala yang sedang kita hadapi. Factor tersebut membentuk kerangka
masalah yang berupa gejala yang sedang kita hadapi. Didalam masalah yang kita hadapi
tentu terkait factor-faktor beraneka ragam yang saling terkait. Jika penyakit kulit
merupakan masalah yang sedang kita hadapi maka kita melihat kaitan antara penyakit
dengan kebersihan badan penderitanya, jenis makanan yang dimakan dan lingkungan
hidupnya. Hubungan semacam inilah yang membentuk kerangka permasalahan.
3. Pengajuan Hipotesis: Pada tahap ini kita berusaha untuk memberikan penjelasan
sementara mengenai hubungan sebab akibat dari factor-faktor yang membentuk kerangka

23
masalah yang sedang kita hadapi. Hipotesis ini sebagaimana kita ketahui disusun
berdasarkan penalaran induktif. Dalam hal penyakit kulit, maka hipotesisnya berisi
penjelasan tentang argumentasi yang menyatakan hubungan antara factor kebersihan,
jenis makanan yang dipilih dengan penyakit kulit. Bagaimana hubungan kebersihan
dengan penyakit kulit, bagaimana hubungan jenis makanan yang dipilih dengan penyakit
kulit serta bagaimana pula hubungannya dengan lingkungan hidup.
4. Deduksi dan Hipotesis: Tahap ini merupakan langkah perantara untuk pengujian
hipotesis yang kita ajukan. Deduksi hipotesis merupakan identifikasi fakta-fakta apa saja
yang dapat kita lihat dala hubungannya dengan hipotesis yang diajukan. Kalau sekiranya
telah terbukti bahwa penyakit kulit ada hubungannya dengan daya taha tubuh dan daya
tahan ada kaitannya dengan jenis makanan yang dipilih, maka secara deduksi dapat
disimpulkan bahwa penyakit kulit ada hubungannya dengan jenis makanan yang dipilih.
5. Pembuktian Hipotesis: Pada tahap ini kita mengumpulkan fakta-fakta untuk
membuktikan hipotesis yang telah kita ajukan. Kalau fakta-fakta itu memang ada maka
hipotesis yang diajukan itu benar. Jika dalam kenyataan empiris dapat kita buktikan
bahwa orang yang memilih makanan tertentu tidak terkena penyakit kulit sedangkan yang
tidak makan-makanan tertentu itu terkena penyakit kulit jenis ini disebabkan oleh karena
orang tidak memilih makanan jenis yang dapat menangkal tadi, adalah terbukti (benar).
6. Penerimaan Hipotesis menjadi Teori Ilmiah: Hipotesis yang telah terbukti kebenarannya
diterima sebagai pengetahuan baru dan dianggap sebagai bagian dari ilmu. Hipotesis
sekarang dianggap sebagai suatu teori ilmiah, yaitu sebagai suatu penjelasan teoritis yang
dapat dipertanggungjawabkan mengenai suatu gejala tertentu. Hipotesis ita bahwa
pemilihan makanan mempengaruhi terserangnya penyakit kulit menjadi penjelasan yang
dapat dipertanggungjawabkan dalam hubungannya dengan penyakit kulit.

Teori yang telah kita terima dapat kita gunakan untuk penelaahan selanjutnya, yaitu
sebagai dasar berpikir (premis) dalam usaha kita menjelaskan berbagai gejala lainnya. Demkian
selanjutnya maka proses kegiatan ilmiah mulai lagi melalui tahapan yang telah disebut dan
setelah ditemukan teori baru lagi, maka teori baru ini juga menjadi dasar bagi pengembangan
ilmu selanjutnya, demikian selanjutnya, perkembangan ilmu pengetahuan itu berproses dari teori
ke teori. Jadi teori itu merupakan sumber bagi kerangka penalaran dalam penyusunan hipotesis.

24
J. OBJEK KAJIAN LOGIKA

Dalam pembahasan sebelumnya logika memperbicangkan hakikat dan menyelidiki


penalaran yang tepat, lurus, dan semestinya sehingga dapat dibedakan dari penalaran yang tidak
tepat. Logika menyelidiki, menyaring dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar
serta bertujuan mendapatkan kebenaram, terlepas dari segala kepentingan dan keinginan
perorangan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek.

Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan atau sasaran dari penelitian atau
pembentukan pengetahuan. Dilihat dari segi objeknya, objek logika ada dua yaitu objek material
(Mantiq As-Suwari) dan objek formal (Mantiq Al-Maddi). Objek material adalah suatu bahan
yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan, yang diselidiki, dipandang,
atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Sedangkan objek formal adalah sudut pandang yang
ditujukan pada bahan dari penelitian atau pementukan pengetahuan itu, atau dari sudut pandang
apa objek materia itu disoroti (Surajiyo, 1005: 11).Oleh karena yang berpikir itu manusia, maka
yang menjadi objek atau lapangan penyelidikan logika secara materia (sebagai sasaran umum)
ialah manusia itu sendiri. Tetapi manusia ini disoroti dari sudut tertentu (secara khusus) sebagai
objek forma, ialah budinya (Poedjawijatana, 1992: 14). Cara pemikiran dalam objek-objek logika
secara radikal dibagi menjadi dua. Cara pertama disebut berpikir deduktif (umum ke khusus)
dipergunakan dalam Logika Formal yang mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya
pertentangan) dalam pemikiran dengan mempergunakan hukum-hukum, rumus-rumus dan
patokan–patokan yang benar. Cara kedua, berpikir induktif (khusus ke umum) dipergunakan
dalam Logika Materia, yang mempelajari dasar-dasar persusaian pikiran dengan kenyataan.
Logika Materia menilai hasil pekerjaan Logika Forma dan menguji benar tidaknya dengan
kenyataan empiris.

Secara garis besar, objek bahasan - bahasan logika (mabahis ilm al-mantiq), dapat
dikelompokkan menjadi tiga aspek, yaitu bahasan ‘kata-kata’ (al-alfadh), bahasan proposisi (al-
qadliyah) dan bahasan pemikiran atau penalaran (al-istidlal). Sesuai dengan objek bahasan
logika, pertama-tama yang harus dipelajari adalah bahasan kata-kata, kemudian bahasan
proposisi dan diakhiri bahasan penalaran. Karena tidak mungkin seseorang dapat melakukan

25
penalaran atau berpikir tanpa mengetahui proposisi suatu kegiatan berpikir, begitu juga tidak
mungkin mengetahui proposisi berpikir tanpa mengetahui kata-kata yang sesuai. Tujuan yang
paling utama dari pelajaran ilmu mantiq (logika) adalah tentang al-istidlal (penalaran), tetapi
sesungguhnya penalaran itu tersusun dari beberapa kata-kata.

K. MANFAAT MEMPELAJARI LOGIKA

Untuk apa logika dipelajari? Logika dipelajari agar orang yang mempelajarinya memiliki
kecerdasan logika dan mampu secara cerdas menggunakan logikanya. Kecerdasan logika adalah
kemampuan untuk memecahkan suatu masalah atau menjawab suatu pertanyaan ilmiah. Dalam
hubungan ini logika digunakan untuk memecahkan suatu masalah saat seseorang menjabarkan
masalah itu menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, dan menyelesaikannya sedikit demi
sedikit, serta membentuk pola/ menciptakan aturan-aturan (rumus). Logika juga digunakan agar
mampu menggunakan metode ilmiah dalam menjawab suatu pertanyaan. Metode ilmiah ini
secara singkat berarti membuat hipotesa, menguji hipotesa dengan mengumpulkan data untuk
membuktikan atau menolak suatu teori, dan mengadakan eksperimen untuk menguji hipotesa
tersebut.

Seseorang yang memiliki kecerdasan logika akan dengan cerdas pula menggunakan
logikanya sehinggga akan memiliki salah satu atau lebih kemampuan di bawah ini:

o Memahami angka serta konsep-konsep matematika (menambah, mengurangi, mengali,


dan membagi) dengan baik.
o Mengorganisasikan/ mengelompokkan kata-kata/ materi (barang)
o Mahir dalam menemukan pola-pola dalam kata-kata dan bahasa.
o Menciptakan, menguasai not-not musik, dan tertarik mendengarkan pola-pola dalam jenis
musik yang berbeda-beda.
o Menyusun pola dan melihat bagaimana sebab-akibat bekerja dalam ilmu pengetahuan.
Hal ini termasuk kemampuan untuk memperhatikan detil, melihat pola-pola dalam
segalanya, mulai dari angka-angka hingga perilaku manusia, dan mampu menemukan
hubungannya Contoh 1: seseorang yang menghabiskan waktu di dapur menggunakan
logikanya untuk menerka berapa lama waktu untuk memanggang sesuatu, menakar

26
bumbu, atau merenungkan bagaimana caranya menghidangkan semua makanan agar siap
dalam waktu yang bersamaan. Contoh 2: seorang detektif kriminal menggunakan
logikanya untuk mereka ulang kejadian pada kasus kejahatan dan mengejar tersangka
pelaku.
o Menciptakan visual (gambar) untuk melukiskan bagaimana ilmu pengetahuan bekerja,
termasuk menemukan pola-pola visual dan keindahan ilmu pengetahuan (contohnya:
menguraikan spektrum cahaya dalam gambar, menggambarkan bentuk-bentuk
butiran salju, dan mahluk bersel satu dari bawah mikroskop), mengorgansisasikan
informasi dalam tabel dan grafik, membuat grafik untuk hasil-hasil eksperimen,
bereksperimen dengan program animasi komputer.
o Menentukan strategi dalam permainan-permainan yang memerlukan penciptaan strategi
(contohnya catur, domino) dan memahami langkah-langkah lawan.
o Memahami cara kerja dan bahasa komputer termasuk menciptakan kode-kode,
merancang program komputer, dan mengujinya.

Banyak sekali kegunaan dan kentungan yang kita peroleh jika kita mempelajari logika,
diantara manfaat itu ialah:

 Membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan
kebenaran dan menghindari kekeliruan. Logika sebagai ilmu yang banyak menyajikan
dalil–dalil dan hukum berpikir logis. Logika adalah ilmu normatif, karena logika
membicarakan tentang berpikir sebagaimana seharusnya bukan sebagaimana adanya
dalam ilmu–ilmu positif, seperti fisika, psikologi, dan sebagainya. Dengan berpikir
sebagaimana seharusnya, ini berarti logika memberikan syarat–syarat yang harus
dipenuhi dalam berpikir untuk mencapai gagasan tentang kebenaran.
 Mendidik manusia bersikap objektif, tegas, dan berani; suatu sikap yang dibutuhkan
dalam segala suasana dan tempat. Itu karena logika menyampaikan kepada berpikir
benar, lepas dari pelbagai prasangka, emosi, dan keyakinan seseorang.
 Melatih kekuatan akal pikiran dan perkembangannya dengan latihan dan selalu
membahas dengan metode–metode berpikir.

27
 Akal menjadi semakin tajam dan tinggi kemampuannya dalam hal imajinasi logis.
Imajinasi logis adalah kemampuan akal untuk menggambarkan kemungkinan terjadinya
sesuatu sebagai keputusan akal yang benar dan runtut
 Dapat meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya dan melaksanakan pekerjaan tepat pada
waktunya.

28
BAB III

PENUTUP

Kata Logika berasal dari bahasa Yunani Logike dari kata Logos artinya ucapan atau
pengartian. Ucapan berarti yang diucapkan, dilisankan, disebutkan. Ucapan merupakan hasil
proses berpikir. Berpikir artinya menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan
memutuskan sesuatu. Kata pengartian berarti proses, cara, perbuatan memberi arti. Dengan
demikian maka logika merupakan hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata
dan dinyatakan dalam bahasa. Logika dengan demikian bersangkut paut dengan pengetahuan
tentang kaidah berpikir Kaidah berpikir artinya rumusan asas-asas yang menjadi hukum atau
aturan yang tentu yang menjadi patokan dalam berpikir.
Dengan kata lain logika adalah ajaran tentang berfikir tertib dan benar, atau perumusan
lebih teliti, ilmu penarikan kesimpulan dan penalaran tanpa meninggalkan keabsahan. Logika
tidak menelaah urutan berfikir sebagai gejala psikologi dan tidak pula mempersoalkan isi
pemikiran, tetapi mempermasalahkan tata tertib yang harus menjadi panutan jalan pemikiran
agar memperoleh hasil yang benar.

Mulai dari mana logika sebagai ilmu dipelajari? Sudah dijelaskan di atas bahwa logika
merupakan hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam
bahasa. Jelaslah bahwa logika memiliki pertalian yang erat dengan bahasa. Jadi apabila kita ingin
mempelajari logika, mulailah dengan melihat hubungan antara bahasa dan logika atau
sebaliknya.

Arti penting dari suatu teori teori penting karena merupakan suatu dasar atau acuan dalam
melakukan suatu tindakan. Teori itu merupakan sumber bagi kerangka penalaran dalam
penyusunan hipotesis. Tidak ada teori itu disebut benar apabila ia tidak relevan dengan fakta-
fakta. Dengan cara berpendirian praktis menjadikan kita merupakan orang-orang yang merugi.
Mengapa demikian? Karena penjelasan mereka tentang suatu hal hanya mencukupkan diri apa
yang berguna dari segi kegunaan dan tujuan yang sederhana ataupun bisa dipraktekkan. Padahal
suatu teori itu adalah interprestasi dari fakta-fakta. Kecuali pemikiran deduktif, penalaran, juga
pemikiran intelek kita yang merupakan penyusunan dan pengujian dari teori.

29
DAFTAR PUSTAKA

30