Anda di halaman 1dari 15

Tugas Klipping

ARTIKEL KERUSAKAN HUTAN

DISUSUN OLEH :

NAMA : NURUL FADILAH ATIK

NIM : M111 15 304

KELAS :B

LABORATORIUM PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2017
Dampak Kebakaran Hutan
Posted on 27 Agustus 2011 by alamendah

Dampak yang ditimbulkan kebakaran hutan ternyata sangat kompleks. Kebakaran hutan
tidak hanya berdampak terhadap ekologi dan mengakibatkan kerusakan lingkungan saja. Namun
dampak dari kebakaran hutan ternyata mencakup bidang-bidang lain.

Menurut Rully Syumanda (2003), menyebutkan ada 4 aspek yang terindikasi sebagai dampak
dari kebakaran hutan. Keempat dampak tersebut mencakup dampak terhadap kehidupan sosial,
budaya, dan ekonomi, dampak terhadap ekologis dan kerusakan lingkungan, dampak terhadap
hubungan antar negara, serta dampak terhadap perhubungan dan pariwisata.

Dampak Terhadap Sosial, Budaya, dan Ekonomi. Kebakaran hutan memberikan dampak
yang signifikan terhadap kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi yang diantaranya meliputi:

1. Terganggunya aktivitas sehari-hari; Asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan secara
otomatis mengganggu aktivitas manusia sehari-hari, apalagi bagi yang aktivitasnya
dilakukan di luar ruangan.
2. Menurunnya produktivitas; Terganggunya aktivitas manusia akibat kebakaran hutan
dapat mempengaruhi produktivitas dan penghasilan.
3. Hilangnya sejumlah mata pencaharian masyarakat di dan sekitar hutan; Selain itu, bagi
masyarakat yang menggantungkan hidup dari mengolah hasil hutan, dengan terbakarnya
hutan berarti hilang pula area kerja (mata pencarian).
4. Meningkatnya hama; Kebakaran hutan akan memusnahkan sebagian spesies dan merusak
kesimbangan alam sehingga spesies-spesies yang berpotensi menjadi hama tidak
terkontrol. Selain itu, terbakarnya hutan akan membuat sebagian binatang kehilangan
habitat yang kemudian memaksa mereka untuk keluar dari hutan dan menjadi hama
seperti gajah, monyet, dan binatang lain.
5. Terganggunya kesehatan; Kebakaran hutan berakibat pada pencemaran udara oleh debu,
gas SOx, NOx, COx, dan lain-lain dapat menimbulkan dampak negatif terhadap
kesehatan manusia, antara lain infeksi saluran pernafasan, sesak nafas, iritasi kulit, iritasi
mata, dan lain-lain.
6. Tersedotnya anggaran negara; Setiap tahunnya diperlukan biaya yang besar untuk
menangani (menghentikan) kebakaran hutan. Pun untuk merehabilitasi hutan yang
terbakar serta berbagai dampak lain semisal kesehatan masyarakat dan bencana alam
yang diambilkan dari kas negara.
7. Menurunnya devisa negara. Hutan telah menjadi salah satu sumber devisa negara baik
dari kayu maupun produk-produk non kayu lainnya, termasuk pariwisata. Dengan
terbakarnya hutan sumber devisa akan musnah. Selain itu, menurunnya produktivitas
akibat kebakaran hutan pun pada akhirnya berpengaruh pada devisa negara.
Gambar : Dampak kebakaran hutan sangat komplek

Dampak Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan. Kebakaran hutan memberikan


dampak langsung terhadap ekologi dan lingkungan yang diantaranya adalah:

1. Hilangnya sejumlah spesies; selain membakar aneka flora, kebakaran hutan juga
mengancam kelangsungan hidup sejumlah binatang. Bebrabagai spesies endemik
(tumbuhan maupun hewan) terancam punah akibat kebakaran hutan.
2. Erosi; Hutan dengan tanamannya berfungsi sebagai penahan erosi. Ketika tanaman
musnah akibat kebakaran hutan akan menyisakan lahan hutan yang mudah terkena erosi
baik oleh air hujan bahkan angin sekalipun.
3. Alih fungsi hutan; Kawasan hutan yang terbakar membutuhkan waktu yang lama untuk
kembali menjadi hutan. Bahkan sering kali hutan mengalami perubahan peruntukan
menjadi perkebunan atau padang ilalang.
4. Penurunan kualitas air; Salah satu fungsi ekologis hutan adalah dalam daur hidrologis.
Terbakarnya hutan memberikan dampak hilangnya kemampuan hutan menyerap dan
menyimpan air hujan.
5. Pemanasan global; Kebakaran hutan menghasilkan asap dan gas CO2 dan gas lainnya.
Selain itu, dengan terbakarnya hutan akan menurunkan kemampuan hutan sebagai
penyimpan karbon. Keduanya berpengaruh besar pada perubahan iklim dan pemansan
global.
6. Sendimentasi sungai; Debu dan sisa pembakaran yang terbawa erosi akan mengendap di
sungai dan menimbulkan pendangkalan.
7. Meningkatnya bencana alam; Terganggunya fungsi ekologi hutan akibat kebakaran hutan
membuat intensitas bencana alam (banjir, tanah longsor, dan kekeringan) meningkat.

Dampak Terhadap Hubungan Antar Negara; Asap hasil kebakaran hutan menjadi masalah
serius bukan hanya di daerah sekitar hutan saja. Asap terbawa angin hingga ke daerah lain
bahkan mencapai berbagai negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Dampak Terhadap Perhubungan dan Pariwisata; Kebakaran hutan pun berdampak pada
pariwisata baik secara langsung ataupun tidak. Dampaknya seperti ditutupnya obyek wisata
hutan dan berbagai sarana pendukungnya, terganggunya transportasi, terutama transportasi
udara. Kesemunya berakibat pada penurunan tingkat wisatawan secara nasional.

Mengingat sedemikian kompleknya dampak yang diakibatkan oleh kebakaran hutan sudah
selayaknya kita semua mewaspadai. Sekalipun tinggal jauh dari hutan, menumbuhkan kesadaran
akan bahaya kebakaran hutan mungkin salah satunya.
Kerusakan Lingkungan Hidup di Indonesia
dan Penyebabnya
Posted on 1 Agustus 2014 by alamendah

Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia semakin hari kian parah. Kondisi tersebut secara
langsung telah mengancam kehidupan manusia. Tingkat kerusakan alam pun meningkatkan
risiko bencana alam. Penyebab terjadinya kerusakan alam dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu
akibat peristiwa alam dan akibat ulah manusia.

Kerusakan lingkungan hidup dapat diartikan sebagai proses deteriorasi atau penurunan mutu
(kemunduran) lingkungan. Deteriorasi lingkungan ini ditandai dengan hilangnya sumber daya
tanah, air, udara, punahnya flora dan fauna liar, dan kerusakan ekosistem.

Kerusakan lingkungan hidup memberikan dampak langsung bagi kehidupan manusia. Pada tahun
2004, High Level Threat Panel, Challenges and Change PBB, memasukkan degradasi
lingkungan sebagai salah satu dari sepuluh ancaman terhadap kemanusiaan. World Risk Report
yang dirilis German Alliance for Development Works (Alliance), United Nations University
Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS) dan The Nature Conservancy (TNC)
pada 2012 pun menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan menjadi salah satu faktor penting
yang menentukan tinggi rendahnya risiko bencana di suatu kawasan.

Kerusakan lingkungan
Penyebab Kerusakan Lingkungan Hidup

Penyebab kerusakan lingkungan hidup secara umum bisa dikategorikan dalam dua faktor yaitu
akibat peristiwa alam dan akibat ulah manusia.

Letusan gunung berapi, banjir, abrasi, tanah longsor, angin puting beliung, gempa bumi, dan
tsunami merupakan beberapa contoh bencana alam. Bencana-bencana tersebut menjadi penyebab
rusaknya lingkungan hidup akibat peristiwa alam. Meskipun jika ditelaah lebih lanjut, bencana
seperti banjir, abrasi, kebakaran hutan, dan tanah longsor bisa saja terjadi karena adanya campur
tangan manusia juga.

Penyebab kerusakan lingkungan yang kedua adalah akibat ulah manusia. Kerusakan yang
disebabkan oleh manusia ini justru lebih besar dibanding kerusakan akibat bencana alam. Ini
mengingat kerusakan yang dilakukan bisa terjadi secara terus menerus dan cenderung meningkat.
Kerusakan ini umumnya disebabkan oleh aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan seperti
perusakan hutan dan alih fungsi hutan, pertambangan, pencemaran udara, air, dan tanah dan lain
sebagainya.

Kerusakan lingkungan

Beberapa fakta terkait tingginya kerusakan lingkungan di Indonesia akibat kegiatan manusia
antara lain:

 Laju deforestasi mencapai 1,8 juta hektar/tahun yang mengakibatkan 21% dari 133 juta
hektar hutan Indonesia hilang. Hilangnya hutan menyebabkan penurunan kualitas
lingkungan, meningkatkan peristiwa bencana alam, dan terancamnya kelestarian flora
dan fauna.
 30% dari 2,5 juta hektar terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan. Kerusakan
terumbu karang meningkatkan resiko bencana terhadap daerah pesisir, mengancam
keanekaragaman hayati laut, dan menurunkan produksi perikanan laut.
 Tingginya pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran laut di
Indonesia. Bahkan pada 2010, Sungai Citarum pernah dinobatkan sebagai Sungai Paling
Tercemar di Dunia oleh situs huffingtonpost.com. World Bank juga menempatkan Jakarta
sebagai kota dengan polutan tertinggi ketiga setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City.
 Ratusan tumbuhan dan hewan Indonesia yang langka dan terancam punah. Menurut
catatan IUCN Redlist, sebanyak 76 spesies hewan Indonesia dan 127 tumbuhan berada
dalam status keterancaman tertinggi yaitu status Critically Endangered (Kritis), serta 205
jenis hewan dan 88 jenis tumbuhan masuk kategori Endangered, serta 557 spesies hewan
dan 256 tumbuhan berstatus Vulnerable.

Alam dan lingkungan hidup menjadi tempat tinggal dan hidup manusia. Kondisi lingkungan
akan berpengaruh langsung terhadap kondisi manusia. Karena itu sudah selayaknya kita menjaga
bumi satu-satunya ini dari kerusakan lingkungan.
Gambar Kerusakan Hutan | Foto Kerusakan Hutan
Posted on 13 Februari 2011 by alamendah

Gambar kerusakan hutan ini adalah foto kerusakan hutan yang dirilis oleh Greenpeace.
Dalam rangkaian foto ini terlihat pembabatan hutan besar-besaran yang terjadi di Kalimantan,
Indonesia.

Rangkaian gambar ini merupakan hasil foto udara yang dilakukan oleh Greenpeace pada Juli
2010. Menurut Greenpeace, kerusakan hutan ini dilakukan untuk pembukaan lahan kelapa sawit
yang dilakukan oleh anak anak perusahaan dari PT Sinar Mas Group di Kalimantan.

Foto ini meneguhkan tingkat deforestasi di Indonesia yang mencapai 1,17 juta hektar pertahun.
Bahkan menurut State of the World’s Forests 2007 yang dikeluarkan The UN Food &
Agriculture Organization (FAO) angka kerusakan hutan Indonesia mencapai 1,8 juta
hektar/tahun. Akibatnya, dari 133 juta ha luas hutan Indonesia, hanya 23 % saja yang masih
berupa hutan primer dan terbebas dari kerusakan.

Dan inilah 12 gambar kerusakan hutan hasil foto udara tersebut.


Kerusakan Hutan

Melihat rangkaian foto dan gambar kerusakan hutan ini, kita semua pasti akan merasa miris. Dan
tanya pun menyeruak, sampai kapan ini akan berlangsung, sampai habis hutan Indonesia?.

Foto: beritalingkungan.com/foto/2010-07/rusaknya-hutan-kalimatan
Illegal Logging / Penebangan Liar
Diposting oleh Welcome Adeek Abel's Blog di 10/03/2010 // Label: Our Earth

Pembalakan liar
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pembalakan liar atau penebangan liar (bahasa Inggris: illegal logging) adalah kegiatan
penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak memiliki izin dari
otoritas setempat.
Walaupun angka penebangan liar yang pasti sulit didapatkan karena aktivitasnya yang tidak sah,
beberapa sumber tepercaya mengindikasikan bahwa lebih dari setengah semua kegiatan
penebangan liar di dunia terjadi di wilayah-wilayah daerah aliran sungai Amazon, Afrika
Tengah, Asia Tenggara, Rusia dan beberapa negara-negara Balkan.

Fakta penebangan liar

Dunia
Sebuah studi kerjasama antara Britania Raya dengan Indonesia pada 1998 mengindikasikan
bahwa sekitar 40% dari seluruh kegiatan penebangan adalah liar, dengan nilai mencapai 365 juta
dolar AS
Studi yang lebih baru membandingkan penebangan sah dengan konsumsi domestik ditambah
dengan elspor mengindikasikan bahwa 88% dari seluruh kegiatan penebangan adalah merupakan
penebangan liar.
Malaysia merupakan tempat transit utama dari produk kayu ilegal dari Indonesia.

Amerika
Di Brasil, 80% dari penebangan di Amazon melanggar ketentuan pemerintah. Korupsi menjadi
pusat dari seluruh kegiatan penebangan ilegal tersebut.
Produk kayu di Brasil sering diistilahkan dengan "emas hijau" dikarenakan harganya yang mahal
(Kayu mahogani berharga 1.600 dolar AS per meter kubiknya).
Mahogani ilegal membuka jalan bagi penebangan liar untuk spesies yang lain dan untuk
eksploitasi yang lebih luas di Amazon.

Dampak pembalakan liar

Data yang dikeluarkan Bank Dunia menunjukkan bahwa sejak tahun 1985-1997 Indonesia telah
kehilangan hutan sekitar 1,5 juta hektar setiap tahun dan diperkirakan sekitar 20 juta hutan
produksi yang tersisa. Penebangan liar berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan kayu di pasar
internasional, besarnya kapasitas terpasang industri kayu dalam negeri, konsumsi lokal,
lemahnya penegakan hukum, dan pemutihan kayu yang terjadi di luar kawasan tebangan.
Berdasarkan hasil analisis FWI dan GFW dalam kurun waktu 50 tahun, luas tutupan hutan
Indonesia mengalami penurunan sekitar 40% dari total tutupan hutan di seluruh Indonesia. Dan
sebagian besar, kerusakan hutan (deforestasi) di Indonesia akibat dari sistem politik dan ekonomi
yang menganggap sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan dan bisa dieksploitasi untuk
kepentingan politik serta keuntungan pribadi.
Menurut data Departemen Kehutanan tahun 2006, luas hutan yang rusak dan tidak dapat
berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan di
Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektar per tahun.
Bila keadaan seperti ini dipertahankan, dimana Sumatera dan Kalimantan sudah kehilangan
hutannya, maka hutan di Sulawesi dan Papua akan mengalami hal yang sama. Menurut analisis
World Bank, hutan di Sulawesi diperkirakan akan hilang tahun 2010.
Praktek pembalakan liar dan eksploitasi hutan yang tidak mengindahkan kelestarian,
mengakibatkan kehancuran sumber daya hutan yang tidak ternilai harganya, kehancuran
kehidupan masyarakat dan kehilangan kayu senilai US$ 5 milyar, diantaranya berupa pendapatan
negara kurang lebih US$1.4 milyar setiap tahun. Kerugian tersebut belum menghitung hilangnya
nilai keanekaragaman hayati serta jasa-jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari sumber daya
hutan.
Penelitian Greenpeace mencatat tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 3,8 juta
hektar pertahun, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas illegal logging atau penebangan
liar (Johnston, 2004). Sedangkan data Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukan
angka Rp. 83 milyar perhari sebagai kerugian finansial akibat penebangan liar (Antara, 2004).
GAMBAR - GAMBAR PENEBANGAN LIAR
Dampak dan Penyebab Illegal Logging

 terjadi kerusakan hutan


 lapisan ozon berkurang
 menyebabkan banjir karena kurang penyerapan air hujan oleh akar
 merusak habitat hewan yang tinggal di sana
 dll

Penyebab
Banyak yang berteriak-teriak mengecam illegal logging. Banyak yang mengutuk-ngutuk semua
yang berhubungan dengan kegiatan nista ini. Banyak yang mencibir melihat para penjaga hutan
yang setuju menutup mata ketika diberi uang oleh pengusaha korup. Banyak yang ingin
menggantung para pejabat yang diam-diam (konon) mengeruk keuntungan besar dari
perampokan hutan.