Anda di halaman 1dari 23

LABA DITAHAN

1. PENGERTIAN LABA DITAHAN


Sumber dasar laba ditahan untuk digunakan dalam aktivitas bisnis adalah laba dari operasi.
Setiap laba yang tidak dibagikan kepada pemegang saham akan menjadi tambahan ekuitas
pemegang saham. Laba bersih berasal dari berbagai sumber laba yang dapat dipertimbangkan,
termasuk dari operasi utama perusahaan (seperti -manufaktur dan penjualan produk tertentu),
ditambah setiap kegiatan yang bersifat meniadakan (seperti menghapuskan penyewaan ruang
kantor yang tidak terpakai).
Transaksi yang dapat mempengaruhi laba ditahan, seperti gambar dibawah ini:

Laba Ditahan
1. Rugi Bersih 1. Laba bersih
2. Penyesuaian tahun sebelumnya 2. Penyesuaian tahun sebelumnya
3. Dividen 3. Penyesuaian reorganisasi semu
4. Transaksi saham treasury

Keterangan :
Debit : Kredit :
1. Rugi bersih 1. Laba bersih
2. Penyesuaian tahun sebelumnya 2. Penyesuaian tahun sebelumnya
3. Dividen 3. Penyesuaian reorganisasi semu
4. Transaksi saham treasuri

1. Pencadangan Laba Ditahan


Merupakan penyisihan/pencadangan sebagian dari laba ditahan untuk keperluan khusus,
seperti reinvestasi, ekspansi, dsb. Diatur dengan FASB Statement No. 5 "Accounting for
Contingencies": Pembatasan laba ditahan merupakan praktik yang dapat diterima, namun harus
disajikan sebagai bagian dari kelompok rekening modal di dalam Neraca, dan harus
diidentifikasikan dengan jelas sesuai dengan tujuan pencadangan tersebut.
Pada dasarnya hanya merupakan reklasifikasi laba ditahan, yang mencerminkan keinginan
manajemen untuk tidak membagikan "bagian yang dicadangkan" untuk dibagikan sebagai

1
dividen, karena perusahaan ingin menggunakannya untuk keperluan khusus. Apabila
pencadangan dipandang tidak diperlukan lagi, maka saldo laba ditahan yang disisihkan tersebut
harus dikembalikan ke rekening laba ditahan.
Contoh :
Dibentuk cadangan untuk perluasan pabrik sebesar Rp800.000.000,00 per tahun selama 5 tahun
dengan cara mentransfer dari laba ditahan.
Jurnalnya adalah ;
Laba ditahan Rp 800.000.000,00
Laba ditahan yang dicadangkan
untuk perluasan pabrik Rp 800.000.000,00

Pada akhir tahun ke-5 cadangan itu akan memiliki saldo sebesar Rp 200.000.000 jika
diasumsikan bahwa rencana ekspansi dipenuhi, maka apropriasi tidak lagi dibutuhkan dan dapat
dikembalikan ke laba ditahan, ayat jurnalnya :
Laba ditahan ang dicadangkan
untuk perluasan pabrik Rp 200.000.000

Laba ditahan Rp 200.000.000

Pengembalian cadangan seperti itu ke laba ditahan akan menambah laba ditahan yang tidak
dicadangkan tanpa mempengaruhi aktiva atau posisi masa berjalan. Sebenarnya selama 5 tahun
perusahaan telah melakukan ekspansi dengan mereinvestasi aktiva yang diperoleh melalui proses
mencari laba.

2. Pengungkapan Pembatasan Laba Ditahan


Pembatasan atas laba ditahan paling tidak harus diungkapkan dalam catatan. Catatan dalam
tanda kurung kadang-kadang digunakan, tetapi pembatasan yang ditentukan menurut kontrak
obligasi atau perjanjian kredit biasanya memerlukan penjelasan lebih lanjut, catatan yang
memberikan media penjelasan yang lebih lengkap da nmembebaskan laporan keauangan dari
notasi singkatan. Pengungkapan catatan harus menjelaskan sumber pembatasan, ketentuan yang
berkaitan, dan jumlah laba ditahan yang terkena pembatasan, atau jumlah yang tidak dibatasi.

2
Contoh :

Pengungkapan Pembatasan Laba Ditahan dan Dividen:


Dean Food Company
Catatan atas Laporan Konsolidasi
Perjanjian Kredit. Pada tanggal 31 Mei 2006, perusahaan
menyepakati perjanjian kredit sebagai berikut: aktiva bersih
minimum $175 juta, modal kerja minimum $60 juta, dan
current ratio minimum 1.25 harus dijaga; kira-kira $63 juta laba
ditahan harus dibatasi untuk pembayaran dividen tunai dan
pembelian kembali saham; dan Perusahaan tidak boleh
memiliki utang jangka panjang lebih dari 40% dari jumlah
modal

2. KEBIJAKAN DAN LEGALITAS DEVIDEN


Dividen
1.1 Pengertian Dividen
Dividen berasal dari bahasa Latin yaitu divendium yang artinya sesuatu untuk dibagi.
Dividen adalah proporsi laba atau keuntungan yang dibagikan kepada para pemegang saham
dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah lembar saham yang dimilikinya (Baridwan,
2000:434). Semua keuntungan ataupun kerugian yang diperoleh perusahaan selama berusaha
dalam satu periode tersebut dilaporkan oleh direksi kepada para pemegang saham dalam suatu
rapat pemegang saham. Yang termasuk dalam pengertian Dividen adalah:
1. Pembagian laba secara langsung atau tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
2. Pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal disetor.
3. Pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran, termasuk yang berasal dari
kapitalisasi agio saham.

3
4. Beberapa defenisi diatas, dapat disimpulkan: “Dividen adalah laba yang diperoleh perusahaan
untuk dibagikan kepada pemegang saham”.

1.2 Jenis-Jenis Deviden


a. Dividen Tunai (cash dividend)
Dividen yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk uang tunai dan dikenai
pajak pada tahun pengeluarannya. Dividen ini yang paling umum dan banyak digunakan dalam
pembagian saham.
b. Dividen Saham (stock dividend)
Dividen yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham dalam bentuk saham
perusahaan sehingga jumlah saham perusahaan menjadi bertambah. Jadi, pemberian stock
dividen ini dilakukan dengan cara mengubah sebagian laba ditahan (retained earnings) menjadi
modal saham yang pada dasarnya tidak mengubah jumlah modal sendiri.
c. Dividen Saham Pecahan (stock split)
Pemecahan selembar saham menjadi n lembar saham. Harga per lembar saham baru
setelah stock split adalah sebesar 1/n dari harga sebelumnya. Dengan demikian, sebenarnya stock
split tidak menambah nilai dari perusahaan atau dengan kata lain stock split tidak mempunyai
nilai ekonomis.
d. Dividen Script
Dalam bentuk perjanjian tertulis untuk membayar dalam jumlah tertentu pada waktu yang
disepakati.
e. Dividen Property (property dividend)
Dividen yang dibagikan dalam bentuk aktiva lain selain kas atau saham, misalnya aktiva
tetap dan surat-surat berharga.
f. Dividen Likuidasi (liquidating dividend)
Dividen yang diberikan kepada pemegang saham sebagai akibat dilikuidasikannya
perusahaan. Dividen diperoleh dari selisih antara nilai realisasi aset perusahaan dikurangi dengan
semua kewajibannya.

2. Kebijakan Deviden
2.1 Pengertian Kebijakan Deviden

4
Pengertian kebijakan dividen menurut Agus Sartono menyatakan bahwa : “Kebijakan
dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada
pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan
investasi di masa datang”.
Sedangkan pengertian kebijakan dividen menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti
menyatakan bahwa : “Kebijakan dividen adalah kebijakan yang menyangkut tentang masalah
penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, pada dasarnya laba tersebut bisa
dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk diinvestasikan kembali”.
Laba ditahan (retained earning) dengan demikian merupakan salah satu dari sumber dana
yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan sedangkan dividen merupakan
aliran kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham atau “equity investors”.
Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka akan
mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana interen
atau internal financing. Sebaliknya jika perusahaan memilih untuk menahan laba yang diperoleh,
maka kemampuan pembentukan dana interen akan semakin besar.
2.2 Beberapa Teori Kebijakan Dividen
Manajemen mempunyai 2 alternatif perlakuan terhadap penghasilan bersih sesudah pa
jak ( EAT ) perusahaan yaitu :
1. Dibagi kepada para pemegang saham perusahaan dalam bentuk dividen
2. Diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan (retaired earning).
Pada umumnya sebagian EAT (Earning After Tax) dibagi dalam bentuk dividen dan
sebagian lagi diinvestasikan kembali, artinya manajemen harus membuat keputusan tentang
besarnya EAT yang dibagikan sebagai dividen. Pembuat keputusan tentang dividen ini dis
ebut kebijakan dividen ( dividen policy ).

Persentase dividen yang dibagi dari EAT disebut “ Dividend Payout Ratio” ( DPR ).
DPR = deviden yang dibagi
EAT

Prosentasi laba ditahan dari EAT adalah 1 –


DPR. Ada berbagai pendapat atau teori tentang kebijakan dividen a.l:

5
a. Teori “Dividen Tidak Relevan“ dari Modigliani dan Miller
b. Teori “The Bird in the Hand“
c. Teori Perbedaan Pajak
d. Teori “Signaling Hypothesis“
e. Teori “Clientele Effect“.

2.3 Macam Macam Kebijakan Dividen


Kebijakan dividen yang dilakukan perusahaan bentuknya bisa bermacam-macam. Menurut
Bambang Riyanto (2001:269) menyatakan bahwa ada macam-macam kebijakan dividen yang
dilakukan oleh perusahaan antara lain sebagai berikut :
a. Kebijakan dividen yang stabil
Banyak perusahaan yang menjalankan kebijakan dividen yang stabil, artinya jumlah dividen
per lembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun
pendapatan per lembar saham setiap tahunnya berfluktuasi.

b. Kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu
Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar saham tiap tahunnya.
Dalam keadaan keuangan yang lebih baik perusahaan akan membayarkan dividen ekstra diatas
jumlah minimal tersebut.
c. Kebijakan dividen dengan penetapan dividend payout ratio yang konstan
Jenis kebijakan dividen yang ketiga adalah penetapan dividend payout ratio yang konstan.
Perusahaan yang menjalankan kebijakan ini menetapkandividen payout ratio yang konstan
misalnya 50%. Ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap
tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan perkembangan keuntungan netto yang diperoleh setiap
tahunnya.
d. Kebijakan dividen yang fleksibel
Kebijakan dividen yang terakhir adalah penetapan dividen payout ratioyang fleksibel, yang
besarnya setiap tahun disesuaikan dengan posisi financialdan kebijakan financial dari perusahaan
yang bersangkutan.
2.4 Rasio Pembayaran Dividen

6
Kebijakan dividen merupakan bagian yang menyatu dengan keputusan pendanaan
perusahaan. Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menentukan jumlah laba yang
dapat ditahan sebagai sumber pendanaan. Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah
laba yang dialokasikan untuk pembayaran dividen.
Pengertian rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menurut Agus Sartono
(2001:491) menyatakan bahwa : “Rasio pembayaran dividen adalah persentase laba yang
dibayarkan dalam bentuk dividen, atau rasio antara laba yang dibayarkan dalam bentuk dividen
dengan total laba yang tersedia bagi pemegang saham”.
DPR = Deviden per lembar saham x 100%
Laba per lembar saham
Rasio ini dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
Sumber : Zaki Baridwan (2004:444)

1. Dividen Per Lembar Saham (Dividend Per Share)


Pengertian dividen per lembar saham (DPS) menurut Susan Irawati (2006:64) menyatakan
bahwa : “Dividen per lembar saham (DPS) adalah besarnya pembagian dividen yang akan
dibagikan kepada pemegang saham setelah dibandingkan dengan rata-rata tertimbang saham
biasa yang beredar”.
DPS = Total Deviden yang Dibagikan
Jumlah lembar saham yg beredar
Besarnya dividen per lembar saham dapat dicari dengan rumus:
2. Laba Per Lembar Saham (Earning Per Share)
Pengertian laba per lembar saham menurut Zaki Baridwan (2004:443) menyatakan bahwa
: “Yang dimaksud dengan laba per lembar saham adalah jumlah pendapatan yang diperoleh
dalam suatu periode tertentu untuk setiap jumlah saham yang beredar”.
Informasi mengenai laba per lembar saham dapat digunakan oleh pimpinan perusahaan
untuk menentukan dividen yang akan dibagikan. Informasi ini juga berguna bagi investor untuk
mengetahui perkembangan perusahaan selain itu juga dapat digunakan untuk mengukur tingkat
keuntungan suatu perusahaan.
Perhitungan laba per lembar saham diatur dalam SAK No.56 yang menyatakan dua macam
laba per lembar saham :

7
a. Laba Per lembar saham dasar, adalah jumlah laba pada suatu periode yang tersedia untuk setiap
saham biasa yang beredar dalam periode pelaporan.
b. Laba per lembar saham dilusian, adalah jumlah laba pada suatu periode yang tersedia untuk
setiap saham biasa yang beredar selama periode pelaporan dan efek lain yang asumsinya
diterbitkan bagi semua efek berpotensi saham biasa yang sifatnya dilutif yang beredar sepanjang
periode pelaporan.
EPS = Laba Bersih Setelah Pajak
Jumlah Lembar Saham yg Beredar
Laba per lembar saham (EPS ) dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:
1.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Kebutuhan Dana Untuk Membayar Utang
Apabila suatu perusahaan akan memperoleh utang baru atau menjual obligasi untuk
membiayai perusahaan, sebelumnya harus sudah direncanakan bagaimana caranya untuk
membayar kembali utang tersebut. Utang dapat dilunasi pada hari jatuhnya dengan mengganti
utang tersebut dengan utang baru. Atau alternatif lain ialah perusahaan harus menyediakan dana
sendiri yang berasal dari keuntungan untuk melunasi utang tersebut.
Apabila perusahaan menetapkan bahwa pelunasan utangnya akan diambilkan dari laba
ditahan, berarti perusahaan harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk keperluan
tersebut, ini berarti bahwa hanya sebagian kecil saja dari pendapatan atau earning yang
dibayarkan sebagai dividen. Dengan kata lain perusahaan harus menetapkan dividend payout
ratio yang rendah.

2. Likuiditas
Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak kebijakan dividen.
Karena dividen bagi perusahaan merupakan kas keluar, maka semakin besar posisi kas dan
likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk
membayar dividen. Perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan dan profitable akan
memerlukan dana yang cukup besar untuk membiayai investasinya, oleh karena itu mungkin
akan kurang likuid karena dana yang diperoleh lebih banyak diinvestasikan pada aktiva tetap dan

8
aktiva lancar yang permanen. Likuiditas perusahaan sangat besar pengaruhnya terhadap investasi
perusahaan dan kebijakan pemenuhan kebutuhan dana. Keputusan investasi akan menentukan
tingkat ekspansi dan kebutuhan dana perusahaan, sementara itu keputusan pembelanjaan akan
menentukan pemilihan sumber dana untuk membiayai investasi tersebut.
3. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan
Makin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, makin besar kebutuhan akan dana untuk
membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut. Makin besar kebutuhan dana untuk waktu
mendatang untuk membiayai pertumbuhannya, perusahaan tersebut biasanya lebih senang untuk
menahan earning nya daripada dibayarkan sebagai dividen kepada para pemegang saham dengan
mengingat batasan-batasan biayanya. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa makin cepat
tingkat pertumbuhan perusahaan makin besar dana yang dibutuhkan, makin besar kesempatan
untuk memperoleh keuntungan, makin besar bagian dari pendapatan yang ditahan dalam
perusahaan, yang ini berarti makin rendah dividend payout rationya.
Apabila perusahaan telah mencapai tingkat pertumbuhan sedemikian rupa sehingga
perusahaan telah well established, dimana kebutuhan dananya dapat dipenuhi dengan dana yang
berasal dari pasar modal atau sumber dana eksteren lainnya, maka keadaannya adalah berbeda.
Dalam hal yang demikian perusahaan dapat menetapkan dividend payout ratio yang tinggi.
4. Keadaan Pemegang Saham
Jika perusahaan itu kepemilikan sahamnya relatif tertutup, manajemen biasanya mengetahui
dividen yang diharapkan oleh pemegang saham dan dapat bertindak dengan tepat. Jika hampir
semua pemegang saham berada dalam golongan high tax dan lebih suka memperoleh capital
gains, maka perusahaan dapat mempertahankan dividend payout ratio yang rendah.
Dengan dividend payout ratio yang rendah tentunya dapat diperkirakan apakah perusahaan akan
menahan laba untuk kesempaan investasi yang profitable. Untuk perusahaan yang jumlah
pemegang sahamnya besar hanya dapat menilai dividen yang diharapkan pemegang saham
dalam konteks pasar.
5. Pembatasan Hukum, Pembatasan hukum tertentu bisa membatasi jumlah dividen yang bisa
dibayarkan perusahaan.
Menurut Arthur J Keown, at al menyatakan bahwa batasan hukum yaitu Pembatasan
menurut Undang-Undang, dapat mengahalangi perusahaan dalam membayar dividen.
6. Pengawasan Terhadap Perusahaan

9
Ada perusahaan yang mempunyai kebijakan hanya membiayai ekspansinya dengan dana
yang berasal dari sumber interen saja. Kebijakan tersebut dijalankan atas dasar pertimbangan
bahwa kalau ekspansi dibiayai dengan dana yang berasal dari hasil penjualan saham baru akan
melemahkan control dari kelompok dominan di dalam perusahaan. Demikian pula kalau
membiayai ekspansi dengan uang akan memperbesar risiko financialnya. Mempercayakan pada
pembelanjaan interen dalam usaha mempertahankan control terhadap perusahaan, berarti
mengurangi dividen payout rationya.

Kesimpulan
Dividen adalah proporsi laba atau keuntungan yang dibagikan kepada para pemegang
saham dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah lembar saham yang dimilikinya. Jenis-
jenisnya: dividen tunai, dividen saham,dividen saham pecahan, dividen saham pecahan (stock
split), dividenscript dan dividen property (property dividend).
Kebijakan dividen adalah kebijakan yang menyangkut tentang masalah penggunaan laba
yang menjadi hak para pemegang saham, pada dasarnya laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen
atau ditahan untuk diinvestasikan kembali. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu:
Kebutuhan dana untuk membayar hutang
Likuiditas
Tingkat pertumbuhan perusahaan
Pembatasan hukum
Pengawasan terhadap perusahaan.

Saran
Penulis berharap agar perusahaan selalu memperhatikan Kebijakan dividen, karena secara
langsung mempengaruhi nilai perusahaan dan secara tidak langsung keputusan investasi
mempengaruhi nilai perusahaan melalui kebijakan dividen dan keputusan pendanaan.

3. BENTUK-BENTUK DIVIDEN

Pembagian deviden umumnya didasarkan atas akumulasi laba(yaitu laba ditahabn) atau
atas beberapa pos modal lainnya seperti tambahan modal disetor. Dividen memeiliki beberapa
jenis, diantaranya :

10
 Dividen tunai
 Dividen properti
 Dividen likuiditas
 Dividen saham

Dividen Tunai

Dewan direksi melakukan pemungutan suara untuk mengumumkan dividen tunai (cash
dividend), dan jika hasilnya telah disetujui maka dividen akan segera diumumkan sebelum
dividen dibayarkan, daftar pemegang saham terakhir harus disiapkan. Karena itu, biasanya dapat
tenggang waktu antara saat pengumuman dan pembayaran. Pengumuman dividen tunai
merupakan kewajiban dan, karena pembayaran biasa dilakukan dengan segera, maka biasanya
disebut sebagai kewajiban lancer.

Dividen Properti

Hutang dividen dalam bentuk aktiva perusahaan selain kas disebut sebagai dividen
property atau dividen in kind. Dalam dividen property dapat berupa barang dagang, real estat,
atau investasi, atau dalam bentuk lainnya yang telah dirancang oleh dewan direksi. Ketka dividen
property diumumkan , perusahaan harus menetapkan kembali nilai wajar property yang akan
dibagikan, dengan mengakui setiap keuntungan atau kerugian sebagai perbedaan antara nilai
wajar dan nilai buku property pada tanggal pengumuman.

Dividen Likuidasi

Dividen yang tidak didasarkan pada laba ditahan kadang-kadang disebut sebagai dividen
likuidasi (liquidating dividend), yang mengisyaratkan bahwa dividen ini merupakan kembalian
dari investasi para pemegang saham dan bukan dari laba. Dengan kata lain, setiap dividen yang
tidak didasarkan pada laba merupakan pengurangan modal disetor oleh perusahaan dan, sejauh
itu merupakan dividen likuidasi. Perusahaan dalam industry ekstaktif bisa membayar dividen
yang sama dengan total akumulasi laba dan deplesi. Bagian dari dividen itu yang melebihi
akumulasi laba merupakan pengambilan sebagian dari investasi pemegang saham.

Dividen Saham

11
Dividen saham (stock dividend) merupakan penerbitan oleh suatu perseroan atas saham
yang dimilikinya sendiri pada pemegang saham dengan atas dasar prorate. Beberapa akuntan
berpendapat bahwa nilai pari dari saham yang diterbitkan sebagai dividen harus ditransfer dari
laba ditahan ke modal saham. Sementara yang lainnya berpendapat bahwa nilai wajar (fair value)
dari saham yang diterbitkan yaitu nilai ypasarnya pada tanggal pengumuman harus ditranfer dari
laba ditahan ke modal saham dan tambahan modal disetor

4. PEMECAHAN SAHAM

Pengertian Pemecahan saham (stock split)

Definisi / Penegertian Stock Split menurut Agus Sartono (1996; 391-392), stock split
adalah pemecahan nilai nominal saham kedalam nilai nominal yang lebih kecil. Dengan
demikian jumlah lembar saham yang beredar akan meningkat proporsional dengan penurunan
nilai nominal saham.Dengan adanya pemecahan saham maka nilai pari atau nilai yang ditetapkan
menjadi berubah tetap dilain pihak jumlah lembar saham yang beredar bertambah pula. Oleh
karena itu jumlah nilai pari atau nilai yang ditetapkan secara keseluruhan tidak mengalami
perubahan.

Haryono Yusuf (2001;346) mengemukakan bahwa salah satu alasan perseroan melakukan
Pemecahan saham adalah untuk menurunkan harga pasar saham-sahamnya. Hal ini terjadi
apabila perseroan tidak menghendaki harga pasar yang terlalu tinggi, sebab hal ini dapat
mengurangi minat para investor terhadap saham yang dikeluarkan perseroan yang bersangkutan.

Stock splityang dilakukan oleh perusahaan emiten dapat berupa stock split atas dasar satu
jadi dua (two for one stock) dimana setiap pemegang saham akan menerima dua lembar saham
untuk setiap lembar saham yang dipegang sebelumnya, nilai nominal saham baru adalah
setengah dari nilai nominal saham sebelumnya. Begitu juga jika dilakukan Pemecahan
saham atas dasar satu jadi tiga (three for one stock), pemegang saham akan menerima tiga
lembar saham untuk setiap satu lembar saham yang dimiliki sebelumnya, nilai nominal saham
baru adalah sepertiga dari nilai nominal saham sebelumnya.

12
Pada dasarnya ada dua jenis Pemecahan saham yang dapat dilakukan (Ewijaya, Nur Indrianto,
1999), yaitu :

1. Split up (pemecahan saham naik)

Adalah penurunan naik nominal per lembar saham yang mengakibatkan bertambahnya
jumlah lembar yang beredar. Misalnya pemecahan saham dengan faktor pemecahan 3:1. Pada
awalnya nilai nominal per lembar saham sebelum melakukan stock split sebesar seribu lima ratus
rupiah, maka setelah dilakukan split up dengan perbandingan 3:1, nilai nominal per lembar
saham yang banx adalah lima ratus rupiah, sehingga awalnya satu lembar menjadi tiga lembar.

2. Split down (pemecahan saham turun)

Adalah peningkatan nilai nominal per lembar saham yang mengakibatkan berkurangnya
jumlah lembar saham yang beredar. Misalnya split down dengan faktor pemecahan 1:3 yang
merupakan kebalikan dari split up. Awalnya nilai nominal per lembar saham seribu rupiah,
kemudian dilakukan split down dengan perbandingan 1:3, maka nilai nominal per lembar saham
baru adalah tiga ribu rupiah dan jumlah lembar saham yang pada awalnya tiga lembar saham
menjadi satu lembar saham.

Reaksi pasar terhadap stock split dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang. Ada
sebagai peneliti yang mengukur reaksi pasar stock split berdasarkan Likuiditas saham, beta
saham dan harga saham (Wildhan, 2003). Sedangkan dalam tulisan ini mengambil empat reaksi
pasar, yaitu :

1. Pengaruh stok split pada Likuiditas

Salah satu faktor yang menentukan nilai saham suatu perusahaan adalah tingkat
Likuiditas saham tersebut. Dalam manajemen keuangan, Likuiditas suatu aset menunjukkan
seberapa cepat aset tersebut dapat dikonversi menjadi uang tunai (kas). Semakin cepat aset
tersebut berubah menjadi kas, maka semakin tinggi likuiditasnya.

Begitu pula halnya saham yang juga merupakan aset bagi para pemegangnya. Saham
yang sudah diperdagangkan dalam waktu yang relatif singkat akan dimintai oleh banyak

13
investor. Agar mudah diperjualbelikan. Saham-saham tersebut harus mempunyai daya tarik
tersendiri. Misalnya harga saham yang murah dan biaya komisi untuk transaksi jual beli yang
relatif kecil.

2. Pengaruh pemecahan saham pada harga saham

Harga saham yang dimaksud adalah harga pasarnya. Harga pasar saham lebih sering
dipakai dalam berbagai penelitian pasar modal, karena harga pasar saham yang paling
dipentingkan oleh investor. Harga pasar saham mencerminkan nilai suatu perusahaan tersebut
dan sebaliknya. Oleh karena itu setiap perusahaan yang menerbitkan saham sangat
memperhatikan harga pasar sahamnya. Harga saham yang terlalu rendah sering diartikan bahwa
kinerja perusahaan kurang baik. Namun bila harga saham terlalu tinggi juga menimbulkan
dampak yang kurang baik. Harga saham yang terlalu tinggi akan mengurangi kemampuan
investor untuk membelinya, sehingga menyebabkan harga saham tersebut sulit untuk
meningkatkan lagi. L7ntuk mengantisipasi hal tersebut, banyak perusahaan melakukan stock
split. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya beli investor dan meningkatkan harga saham
tersebut. Berbagai penelitian empiris telah dilakukan untuk menguji kebenaran bahwa stock split
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Para peneliti tersebut memperoleh
kesimpulan yang sama bahwa sebenarnya stock split tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap harga saham. Perubahan saham yang terjadi di sekitar periode stock split semata-mata
hanya dipengaruhi oleh ekspektasi para investor terhadap deviden yang telah dibagikan.

Para emiten mempunyai pendapat bahwa stock split memiliki berbagai macam manfaat,
diantaranya :

1. Harga yang lebih rendah setelah stock split akan meningkatkan daya tarik investor untuk
membeli sejumlah saham yang lebih besar.
2. Meningkatkan daya tarik investor kecil untuk melakukan investasi
3. Meningkatkan jumlah pemegang saham sehingga pasar akan menjadi likuid
4. Sinyal yang positif bagi pasar bahwa kinerja manajemen perusahaan bagus dan memiliki
prospek yang bagus.

3. Pengaruh Return Saham Terhadap Keputusan Pemecahan Saham

14
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (1996 : 300), return saham disebut juga
sebagai pendapatan saham dan merupakan perubahan nilai harga saham periode t dengan t-1.
Dan berarti bahwa semakin tinggi perubahan harga saham maka semakin tinggi return saham
yang dihasilkan.

Fatma et. al (1969) dalam Ewijaya dan Nur Indriantoro (1999 : 54) melakukan penelitian
yang menunjukkan bahwa harga saham meningkat pada periode menjelang pemecahan saham
dilakukan. Ini berarti terjadi perolehan atau return saham yang besar pada periode sebelum
pemecahan saham dilakukan. Hal tersebut akan memberikan ketertarikan bagi investor untuk
melakukan investasi.

Pemecahan saham biasanya dilakukan setelah harga saham mengalami kenaikan atau
perubahan harga saham yang tinggi (Ewijaya dan Nur Indriantoro, 1999). Hal tersebut dapat
dikatakan pula perusahaan yang melakukan pemecahan saham mengalami perolehan return
saham yang besar sebelum pemecahan saham dilakukan. Dengan melihat kemampuan suatu
perusahaan untuk menghasilkan return yang tinggi maka investor akan berminat untuk
menanamkan modal atau membeli saham perusahaan tersebut dan akan mendorong dan
mempengaruhi perusahaan untuk melakukan pemecahan saham.

Signaling theory menyatakan bahwa pemecahan saham memberikan informasi kepada


investor tentang prospek peningkatan return masa depan yang substantial (Marwata, 2001 ; 753).
Dengan memandang bahwa perusahaan akan memberikan return (tingkat pengembalian) yang
tinggi, akan memberikan daya tarik investor untuk berinvestasi dan akan mendorong perusahaan
untuk melakukan pemecahan saham.

Dari uraian diatas berarti bahwa return saham merupakan salah satu faktor yang dapat
mendorong investor untuk berinvestasi dan menjadi faktor yang memotivasi perusahaan untuk
melakukan pemecahan saham. Jadi dapat disimpulkan bahwa return saham dapat mempengaruhi
keputusan pemecahan saham yaitu semakin tinggi return saham yang diperoleh perusahaan maka
semakin tinggi pula keputusan perusahaan untuk melakukan pemecahan saham.

4. Pengaruh Kinerja Keuangan 'I'erhadap Keputusan Pemecahan Saham

15
Bar - Yosep dan Brown (1977) dan Asquith at. A1 (1989) dalam Marwata (2001 : 753)
Menemukan adanya reaksi positif atas pengumuman pemecahan saham. Ewijaya dan Indriantoro
(1999) menyatakan bahwa reaksi pasar tersebut sebenarnya bukan karena respon terhadap
tindakan pemecahan saham itu sendiri, namun terhadap prospek perusahaan yang disinyalkan
oleh pemecahan saham tersebut. Sinyal yang ditunjukkan dalam pemecahan saham tersebut
adalah bahwa perusahaan yang melakukan pemecahan saham merupakan perusahaan yang
mempunyai kinerja keuangan yang baik.

Copeland (1979 : 116) dalam Marwata (2001) menyatakan bahwa salah satu gambaran
yang menunjukkan prospek bagus adalah kinerja keuangan yang bagus. Perusahaan yang
melakukan pemecahan saham memerlukan biaya, oleh karena itu hanya perusahaan yang
mempunyai prospek bagus saja yang mampu melakukannya.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan mempunyai


pengaruh terhadap keputusan pemecahan saham yaitu investor akan lebih cenderung tertarik
pada perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang bagus untuk berinvestasi, dan hal tersebut
akan mempengaruhi perusahaan untuk melakukan pemecahan saham.

Teori Pemecahan Saham

 Signaling Theory

Menurut teori ini kegiatan pemecahan saham memberikan informasi kepada investor tentang
prospek return masa depan yang substansial. Pengumuman stock split dianggap sebagai sinyal
yang diberikan oleh pihak manajemen kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek bagus
di masa depan.

Beberapa pendapat yang berkaitan dengan signaling theory telah dikemukakan oleh
peneliti-peneliti sebagai berikut :

1. Marwata (2001) menyatakan bahwa return yang meningkat tersebut dapat diprediksi dan
memberikan sinyal tentang laba jangka pendek dan jangka panjang, dan analis yang

16
menangkap sinyal tersebut dan menggunakannya untuk memprediksi peningkatan
earning jangka panjang.
2. Marwata (2001) menyatakan bahwa salah satu gambaran yang menunjukkan prospek
bagus adalah kinerja keuangan yang bagus, perusahaan melakukan stock split
memerlukan biaya, oleh karena itu hanya perusahaan yang mempunyai prospek bagus
saja yang mampu melakukan stock split.
3. Menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan stock split mengalami peningkatan
laba yang signifikan untuk empat tahun sebelum stock split dilakukan, peningkatan
terbesar terjadi pada tahun pertama sebelum stock split dilakukan (Marwata, 2001)

Stock split merupakan upaya untuk menarik perhatian investor, dengan memberikan sinyal
bahwa perusahaan memiliki kondisi yang bagus. Pasar akan merespon sinyal secara positif jika
pemberian sinyal kredibel. Oleh karena itu perusahaan harus menunjukkan kredibilitasnya. Salah
satu caranya adalah dengan menunjukkan kinerja keuangan yang bagus.

 Trading Range Theory

Menyatakan bahwa manajemen melakukan stock split didorong oleh praktisi pasar yang
konsisten dengan anggapan bahwa melakukan stock split dapat menjaga harga saham tidak
terlalu mahal, dimana saham dipecah karena batas harga optimal untuk saham dan untuk
meningkatkan daya beli investor sehingga tetap banyak orang yang ingin memperjualbelikan
yang pada akhirnya akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham.

Beberapa pendapat yang mendukung teori ini telah dikemukakan oleh peneliti, sebagai berikut:

Merupakan hasil dari survei yang telah dilakukan yaitu manajer cenderung menyebut
alasan likuiditas sebagai motivasi dari stock split (Marwata, 2001). Marwata (2001) menyatakan
bahwa stock split merupakan upaya manajemen untuk menata kembali harga saham pada rentang
tertentu, diharapkan semakin banyak partisipasi pasar akan terlibat dalam perdagangan.

Jadi dapat disimpulkan, bahwa menurut teori ini, perusahaan melakukan stock split
karena memandang harga sahamnya terlalu tinggi. Dengan kata lain, harga saham yang terlalu
tinggi merupakan pendorong bagi perusahaan untuk melakukan stock split.

17
5. PENYAJIAN LABA DITAHAN
Ø Pembatasan Laba Ditahan untuk Memenuhi Perjanjian utang jangka
Agar pengeluaran obligasi dapat lebih menarik kreditur, biasanya dengan perjanjian
yang mewajibkan perusahaan untuk membuat dana pelunasan obligasi yang disimpan oleh
pihak ketiga. Dana ini bisa merupakan setoran periodik dengan jumlah tertentu, atau mungkin
juga jumlahnya tidak sama. Untuk mengimbangi adanya dana pelunasan obligasi biasanya
laba dithan juga diminta untuk dibatasai penggunaannya. Jurnal yang dibuat untuk membatasi
laba ditahan adalah sebagai berikut:
Laba Ditahan Rp. xx
Laba Ditahan untuk pelunasan Obligasi Rp. xx
Jurnal ketika obligasi dilunasi pembatasan laba ditahan dihapuskan.:
Laba Ditahan untuk pelunasan Obligasi Rp. xx
Laba Ditahan Rp. xx

Pembatasan Laba Ditahan untuk Perencanaan Keuangan


Pembatasan laba ditahan untuk tujuan perluasan perusahaan dapat ditunjukkan dalam
rekening-rekening sebagai berikut:
· Laba ditahan untuk investasi pabrik
· Laba ditahan untuk modal kerja
· Laba ditahan untuk pembelian mesin
Sesudah tujuan pembatasan ini tercapai, rekening yang dibatasi dikembalikan ke
rekening laba ditahan, berarti jumlahnya dapat diminta sebagai dividen.
Ø Pembatasan Laba Ditahan untuk Kemungkinan Timbulnya Kerugian di Masa yang
akan Datang
Untuk menjaga timbulnya kerugian dimasa yang akan datang pimpinan perusahaan dapat
membatasi laba ditahan dan mencatatnya dalam rekening-rekening sebagai berikut:
· Laba ditahan untuk ketidakpastian
· Laba ditahan untuk kemungkinan turunya harga persdiaan
· Laba ditahan untuk kemungkinan kerugian dalam sengketa hokum
· Laba ditahan untuk asuransi sendiri
Ø Pengukuran-Pengukuran yang Dihitung dari Laporan Keuangan PT

18
Dari laporan PT dapat dilakukan beberapa perhitungan yang dipakai sebagai alat
pengukuran terhadap kemampuan perusahaan yaitu;
1) Nilai buku per lembar saham
2) Pendapatan per lembar saham
§ Nilai buku per lembar saham ( Book Value Per Share)
Nilai buku per lembar saham adalah jumlah rupiah yang menjadi milik tiap-tiap lembar
saham dalam modal PT. Nilai buku ini adalah jumlah yang akan dibayarkan kepada para
pemegang saham pada waktu pembubaran (likuidasi) PT. Apabila saham yang beredar itu
hanya satu macam, yaitu saham biasa maka nilai buku per lembar saham dihitung sebagai
berikut:
Nilai buku per lembar saham =
Nilai buku per lembar saham prioritas adalah bagian modal saham prioritas dibagi
dengan jumlah saham prioritas yang beredar. Nilai buku per lembar saham biasa adalah
bagian modal saham biasa dibagi dengan jumlah lembar saham biasa yang beredar. Untuk
menghitung bagian modal yang menjadi milik saham prioritas perlu dipertimbangkan hal-hal
berikut:
- Nilai likuidasi yaitu jumlah yang akan dibayarkan kepada pemegang saham prioritas pada
saat perusahaan dilikuidasi.
- Hak dividen. Saham prioritas mungkin mempunyai hak-hak tertentu, misalnya laba ditahan
sesuai dengan perjanjian tentang dividen.
§ Pendapatan Per Lembar Saham (Earnings Per Share /EPS)
Pendapatan per lembar saham (EPS) adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam
satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar. Apabila dividen yang dibayarkan pada
setiap lembar saham dibandingkan dengan pendapatan per lembar saham dalam periode yang
sama, maka akan diperoleh persentase pembayaran (Pay out percentage). Data earnings per
share yang ditunjukan adalah untuk penghasilan sebelum elemen-elemen luar biasa dan untuk
penghasilan bersih. Saham biasa ekuivalen adalah surat berharga yang karena perjanjian-
perjanjian yang dibuat pada saat surat berharga itu dikeluarkan, bersifat ekuivalen terhadap
saham biasa. Perusahaan- perusahaan yang mempunyai struktur modal yang kompleks.
Struktur modal kompeks adalah struktur modal yang terdiri dari berbagai macam surat
berharga seperti saham biasa, saham prioritas, surat-surat berharga yang dapat ditukarkan

19
(convertible) seperti convertible preferred stocks, convertible bonds, juga adanya options atau
warrants. Menurut Accounting Standard untuk struktur modal yang kompleks menghendaki
dua penyajian data per lembar saham:
1. Primary earnings per share
Adalah Jumlah pendapatan yang diperoleh oleh setiap lembar saham biasa yang beredar,
termasuk saham biasa ekuivalen.
Primary EPS =
2. Fully diluted earnings per share
Adalah jumlah pendapatan per lembar saham yang menunjukan maksimum dilution yang akan
terjadi dari petukaran, penggunaan, dan pengeluaran bersyarat yang secara individual akan
mengurangi earnings dan secara keseluruhan mempunyai akibat dilutive.
surat
Pendapatan bersih -Deviden berharga
saham prioritas selain saham
biasa
Fully diluted EPS Akibat ekuivalen
- -
= Rata-rata tertimbang saham dari yang
biasa yang beredar saham mempunyai
biasa akibat
ekuivalen diluative

LAPORAN LABA DITAHAN


Laba ditahan ( retained earning ) merupakan laba bersih yang tidak didistribusikan
kepada para pemegang saham. Maksud laba yang ditahan (retained earning) menurut
pendapat Martono dan Agus Harjito (2005:201) yaitu “Laba yang tidak dibagi”.
Ada beberapa unsur yang mempengaruhi (faktor) perubahan laba ditahan, antara lain:
a. adanya laba bersih (net income) atau rugi bersih ( net loss)
b. adanya penyesuaian periode sebelumnya ( prior period adjusment) dan perubahan kebijakan
akuntansi ( change in accounting policy)
c. adanya deviden ( cash devicend, stock devidend, property dividend dan scrip dividend)
d. adanya transaksi atas treasury stock

20
e. adanya penyesuaian akibat quasi reorganization
Laporan laba ditahan berisikan informasi mengenai perubahan laba ditahan perusahaan
yang menyebabkan terjadinya perubahan modal sendiri perusahaan. Perhitungan laba ditahan
adalah laba bersih dikurangi deviden yang dibagikan. Laba ditahan diinvestasikan kembali
dengan harapan peningkatan laba perusahaan pada tahun mendatang. Laporan ini digunakan
investor untuk menilai usulan kebijakan manajemen perusahaan mengenai deviden.
Pembagian deviden yang merupakan hak pemegang saham yang diatur dalam Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) biasanya tidak dibagikan seluruhnya, tetapi sebagian digunakan
kembali untuk berinvestasi. Sebagian yang digunakan untuk berinvestasi inilah menjadi laba
ditahan perusahaan. Semakin besar laba ditahan perusahaan akan semakin besar aset
perusahaan, dan dapat dikatakan perusahaan tersebut “sehat”.

PENYAJIAN LABA DITAHAN

21
22
DAFTAR PUSTAKA

KIESO INTERMEDIATE 2

http://karyatulisilmiah.com (diakses 26 Oktober 2016, 22:10)

http://akuntan-si.blogspot.co.id/2012/04/laba-ditahan-retained-earnings.html (diakses pada 25


Oktober 2016. Pukul 9:39PM)

http://www.materiakuntansi.com/pengertian-laba-ditahan-dalam-akuntansi/ (diakses pada 25


Oktober 2016. Pukul 9:40pm)

https://www.scribd.com/doc/247135623/Bahan-Kuliah-Laba-Ditahan-doc (diakses pada tanggal


26 Oktober 2016)

http://modul.mercubuana.ac.id/files/pbael/pbaelmercubuanaacid/Modul%20Backlink/Modul%20
Ganjil%202012 (diakses pada tanggal 26 Oktober 2016)

23