Anda di halaman 1dari 7

1.

PELAPORAN KOREKSI KESALAHAN


Kesalahan tertentu, misalnya mengklasifikasikan neraca dalam laporan keuangan tidak
sesignifikan bagi investor dibanding kesalahan lain. Kesalahan signifikan akan menyebabkan
lebih saji atas aktiva atau laba, namun para investor perlu mengetahui potensi pengaruh dari
semua kesalahan. Bahkan mengklasifikasikan yang “tidak berbahaya” dapat berpengaruh rasio
yang penting, dan juga kesalahan tertentu dapat menandakan kelemahan dalam kendali internal
yang dapat memicu kesalahan lain yang lebih signifikan.
Berikut ini adalah contoh-contoh dari kesalahan akuntansi :
a. Perubahan dari prinsip akuntansi yang tidak berlaku umum ke prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Dasar pemikiran dari hal ini adalah bahwa periode sebelumnya telah
disajikan secara tidak benar. Contoh, perubahan dari akuntansi dasar kas atau pajak ke
penghasilan dasar akrual.
b. Kesalahan matematis yang diakibatkan oleh penjumlahan, pengurangan, dan sebagainya.
Contoh, penjumlahan kartu perhitungan persediaan yang salah dalam menentukan nilai
persediaan.
c. Perubahan estimasi yang terjadi karena estimasi-estimasi itu tidak dibuat dengan jujur.
Contoh, penggunaan tarif penyusutan yang secara jelas tidak realistis.
d. Kelalaian, seperti kegagalan untuk megakrualkan atau menangguhkan beban atau
pendapatan tertentu di akhir periode.
e. Penggunaan fakta yang tidak benar, seperti kegagalan untuk menggunakan nilai sisa dalam
menghitung dasar penyusutan untuk pendekatan garis lurus.
f. Klasifikasi biaya yang tidak tepat sebagai beban dan bukan sebagai aktiva serta sebaliknya.

Kesalahan akuntansi memiliki berbagai penyebab. Gambar di bawah ini akan menyajikan 11
kategori utama kesalahan akuntansi yang menyebabkan pelaporan ulang.
Kategori Akuntansi Jenis Pelaporan Ulang
Pengakuan biaya Mencatat biaya pada periode atau dalan bilai
yang tidak tepat
Pengakuan pendapatan Penghitungan tidak tepat atas pendapatan.
Kategori ini mencakup pengakuan tidak tepat
atas pendapatan, pengakuan atas pendapatan
yang diragukan, atau sejumlah kesalahan lain
yang menyebabkan kesalahan atas pelaporan

1
pendapatan.
Misklasifikasi Misklasifikasi pos akuntansi yang signifikan
dalam neraca,laporan laba rugi, atau laporan
arus kas. Mencakup pelaporan ulang akibat
misklasifikasi akun jangka pendek atau
panjang atau akun yang berpengaruh terhadap
arus kas operasi.
Ekuitaslain-lain Penghitungan tidak tepat atas EPS, saham
terbatas, waran, dan instrumen ekuitas lain.
Cadangan/kontijensi Kesalahan yang mencakup piutang usaha,
utang tak tertagih, cadangan persediaan,
penyisihan untuk pajak penghasilan, dan
kontijensi rugi.
Aktiva berusia panjang Penurunan nilau aktiva properti, pabrik, dan
peralatan, goodwill, atau aktiva terkait lainnya.
Perpajakan Kesalahan yang mencakup koreksi atas provisi
pajak, penanganan tidak tepat atas kewajiban
pajak, dan pos-pos yang lain terkait pajak.
Ekuitas laba komprehensif lainnya Penghitungan tidak tepat atas transaksi ekuitas
yang terkait yang terkait laba komprehensif
antara pos mata uang asing, penyesuaian
kewajiban minimum atas pensiun, keuntungan
dan kerugian yang tidak diakui atas investasi
tertentu dalam utang, sekuritas ekuitas, dan
derivatif.
Persediaan Penilaian biaya persediaan, isu kuantitas, dan
biaya penyesuaian penjualan.
Ekuitas opsi saham Penghitungan tidak tepat atas opsi saham
karyawan.
Lain-lain Semua pelaporan ulang yang tidak tercakup
dalam kategori di atas antara lain yang terkait
penghitungan tidak tepat atas akuisisi atau
merger.

Segera setelah ditemukan, kesalahan-kesalahan tersebut harus dikoreksi dengan


ayat jurnal yang tepat dalam akun dan dilaporkan dalam laporan keuangan. Profesi akuntansi
mensyaratkan bahwa koreksi kesalahan diperlakukan sebagai penyesuaian periode sebelumnya,
dicatat dalam tahun di mana kesalahan itu ditemukan, dan dilaporkan pada laporan keuangan
sebagai penyesuaian atas saldo awal laba ditahan. Jika laporan komparatif disajikan, maka
laporan periode sebelumnya yang terpengaruh harus dinyatakan kembali untuk mengoreksi
kesalahan. Pengungkapan ini tidak perlu diulang dalam laporan keuangan periode berikutnya.

2
Contoh :
Untuk mengilustrasikannya, misalkan pada tahun 2008 petugas pembukuan Selectric Company
menemukan bahwa pada tahun 2007 perusahaan lalai mencatat dalam akun beban penyusutan
sebesar $20.000 atas gedung yang baru dibangun. Penyusutan ini telah secara tepat dimasukan
dalam SPT pajak. Gambar di bawah ini menyajikan laporan laba rugi Selectric tahun 2007
(dimulai dari laba sebelum beban penyusutan) dengan dan tanpa kesalahan.

Gambar 1. Laporan Laba Rugi Selectric Company Tahun 2007

Ilustrasi di bawah ini menyajikan ayat jurnal yang harus disusun dan terlanjur disusun oleh
Selectric Company dalam rangka mencatat beban penyusutan dan pajak penghasilan.
Ayat Jurnal yang Harus Dibuat Perusahaan Ayat Jurnal yang Dibuat Perusahaan
(Tanpa Kesalahan) (Dengan Kesalahan)
Beban Penyusutan 20.000
Tidak ada ayat jurnal untuk penyusutan
Akumulasi Penyusutan-
Bangunan 20.000
Beban Pajak Penghasilan 40.000
Beban Pajak Penghasilan 20.000 Kewajiban Pajak yang
Utang Pajak Penghasilan 20.000 Ditangguhkan 8.000
Utang Pajak Penghasilan 32.000
Sebagai akibat dari kesalahan tidak memasukkan beban sebesar $20.000 di tahun 2007 :
 Pengaruh terhadap Laporan Laba Rugi
 Beban penyusutan tahun 2007 telah dinyatakan terlalu rendah 20.000
 Beban pajak penghasilan tahun 2007 telah dinyatakan terlalu tinggi sebesar $8.000
($20.000 x 40%)
 Laba bersih tahun 2007 telah dinyatakan terlalu tinggi sebesar $12.000 ($20.000 -
$8.000)

3
 Pengaruh terhadap Neraca
 Akumulasi penyusutan-bangunan telah dinyatakan terlalu rendah sebesar $20.000
 Kewajiban pajak yang ditangguhkan telah dinyatakan terlalu tinggi sebesar $8.000
($20.000 x 40%).

Untuk memuat jurnal koreksi yang tepat pada tahun 2008, Selectric Company harus
mengakui laba bersih tahun 2007 dinyatakan terlalu tinggi sebesar $12.000, Kewajiban pajak
yang ditangguhkan telah dinyatakan terlalu tinggi sebesar $8.000, Akumulasi penyusutan-
bangunan telah dinyatakan terlalu rendah sebesar $20.000. Ayat jurnal untuk mengoreksi
kesalahan ini pada tahun 2008 adalah:
Laba ditahan 12.000
Kewajiban Pajak yang Ditangguhkan 8.000
Akumulasi Penyusutan-Bangunan 20.000

Pendekatan ke akun laba ditahan terjadi karena laba bersih tahun 2007 lebih saji. Pendebetan
ke akun kewajiban pajak tertunda dibuat untuk menghapus akun ini, yang merupakan akun yang
salah. Pengkreditan ke akun akumulasi penyusutan bangunan mengurangi nilai buku bangunan
ke nilai yang tepat.
1.1 Laporan Periode Tunggal
Asumsikan Selectric Company memiliki saldo laba ditahan awal per 1 Januari 2008 sebesar
$350.000. Perusahaan melaporkan laba bersih $400.000 pada tahun 2008.

Gambar 2. Laporan Laba Ditahan Selectric Company Tahun 2008

Neraca tahun 2008 tidak akan menyertakan kewajiban pajak yang ditangguhkan terkait
dengan bangunan, dan akumulasi penyusutan bangunan kini dilaporkan ulang dengan nilai yang
lebih besar. Laporan laba rugi tidak akan terpengaruh.

4
1.2 Laporan Komparatif
Laporan keuangan komparatif dibuat, maka penyesuaian harus dilakukan guna mengoreksi
jumlah semua akun yang terpengaruh yang dilaporkan dalam laporan keuangan untuk semua
periode pelaporan. Data dari setiap tahun yang telah disajikan harus dinyatakan kembali sampai
benar, dan setiap penyesuaian susulan (cacth-up) harus ditampilkan sebagai penyesuaian periode
sebelumnya atas laba ditahan selama periode terdahulu yang dilaporkan.
Contoh:
Kasus Selectric Company, kesalahan mengabaikan penyusutan tahun 2007 sebesar $20.000,
yang ditemukan pada tahun 2008, mengharuskan pernyataan kembali laporan keuangan tahun
2007, apabila disajikan sebagai perbandingan dengan laporan keuangan tahun 2008. Akun-akun
berikut ini dalam laporan keuangan tahun 2007 (disajikan sebagai pembanding dengan laporan
tahun 2008) akan dinyatakan kembali:
Dalam neraca :
Akumulasi penyusutan bangunan $20.000 meningkat
Kewajiban pajak yang ditangguhkan $ 8.000 menurun
Laba ditahan, saldo akhir $12.000 menurun
Dalam laporan laba rugi :
Beban penyusutan bangunan $20.000 meningkat
Beban pajak penghasilan $ 8.000 menurun
Laba bersih $12.000 menurun
Dalam laporan laba ditahan
Laba ditahan, saldo akhir (akibat laba bersih $12.000 menurun
yang lebih rendah selama perode tersebut)

Laporan keuangan tahun 2008 dalam bentuk komparatif dengan laporan keuangan tahun
2007 dibuat seolah-olah kesalahan tidak terjadi. Minimal, laporan komparatif semacam ini dalam
tahun 2008 harus mencakup catatan atas laporan keuangan untuk mengarahkan perhatian pada ke
pernyataan kembali laporan keuangan tahun 2007 serta pengungkapan dampak koreksi terhadap
laba sebelum pos-pos luar biasa, laba bersih, dan jumlah per saham yang terkait.

2. IKHTISAR PERUBAHAN AKUNTANSI DAN KOREKSI KESALAHAN


Perkembangan pedoman untuk pelaporan perubahan akutansi dan koreksi kesalahan telah
membantu memecahkan beberapa masalah akuntansi yang signifikan dan sudah lama. Perubahan
prinsip akuntansi akan dianggap tepat hanya apabila perusahaan menunjukkan bahwa prinsip
akuntansi alternatif yang berlaku umum yang telah diadopsi lebih disukai daripada prinsip

5
sebelumnya. Dalam menerapkan pedoman profesi akuntansi, preferensi di antara prinsip
akuntansi harus ditentukan atas dasar apakah prinsip yang baru dapat mem[erbaiki pelaporan
keuangan bukan atas dasar dampak pajak penghasila semata.

Gambar 3. Ikhtisar Pedoman untuk Perubahan Akuntansi dan Kesalahan

3. MOTIVASI UNTUK MENGUBAH METODE AKUNTANSI


Sangatlah sulit untuk menentukan standar akuntansi mana yang memliki dukungan
konseptual yang kuat, sementara komplikasi lainnya telah membuat prosesnya menjadi semakin
kompleks.Komplikasi ini berasal dari kenyataan bahwa manajer (dan pihak lainnya) memiliki
kepentingan pribadi atas bagaimana laporan keuangan mempengaruhi perusahaan.Para manajer
tentunya ingin memperlihatkan kinerja keuangannya yang baik.Suatu angka laba yang
menguntungkan dapat mempengaruhi impestor, dan posisi likuiditas yang kuat dapat
mempengaruhi kreditor.Akan tetapi, angka laba yang terlalu menguntungkan dapat memberi
amunisi kepada para negosiator serikat pekerja dan pembuat kebijakan pemerintah selama
membicarakan tawar-menawar.Oleh sebab itu, para manajer mungkin memiliki motif laba yang
berbeda-beda tergantung pada waktu dan siapa yang ingin mereka pengaruhi.
Penelitian yang dilakukan telah memberikan masukan tambahan tentang mengapa
perusahaan lebih memilih metode akuntansi tertentu. Beberapa alasannya adalah sebagai berikut:

6
1. Biaya politik. Semakin besar perusahaan dan terlihat lebih bersifar politis, semakin besar
para politisi serta pembuat peraturan mencurahkan perhatian kepada perusahaan tersebut.
Banyak pihak berpendapat bahwa ara politisi dan pembuat peraturan ini dapat “membuat
sarang” dengan menetapkan peraturan-peraturan dalam organisasi tersebut guna meraih
manfaat bagi pemilih mereka. Jadi semakin besar perusahaan, semakin besar
ketergantungan pada peraturan seperti antitrust dan semakin besar kemungkinannya
untuk membayar pajak yang lebih besar.
2. Struktur modal. Sejumlah studi telah mengindikasikan bahwa struktur modal perusahaan
dapat mempengaruhi pemilihan metode akuntansi. Sebagai contoh, perusahaan dengan
rasio hutang terhadap ekuitas yang tinggi akan sangat tergantung pada perjanjian hutang.
Yaitu, perusahaan mungkin memiliki perjanjian hutang yang mengindikasikan bahwa
perusahaan tidak dapat membayar dividen jika laba ditahan berada di bawah tingkat
tertentu. Sebagai akibatnya, perusahaan jenis ini cenderung memilih metode akuntansi
yang akan menaikan laba bersih. Sebagai contoh, sekelompok penulis mengindikasikan
bahwa struktur modal perusahaan mempengaruhi keputusan apakah akan membebankan
atau mengkapitalisasi bunga. Pihak lainnya mengindikasi bahwa akuntansi biaya penuh
lebih dipilih dibandingkan upaya yang berhasil oleh perusahaan yang memiliki rasio
hutang terhadap ekuitas yang tinggi.
3. Pembayaran bonus. Jika pembayaran bonus dilakukan kepada manajemen berkaitan
dengan laba, maka dapat dikatakan bahwa manajemen akan memilih metode akuntansi
yang memaksimalkan pembayaran bonus mereka. Jadi, dalam memilih meotde akuntansi,
manajemen memperhatikan kepentingannnya berkaitan dengan dampak perubahan laba
akuntansi terhadap rencana kompensasinya.
4. Memperlancar laba. Kenaikan laba yang substansial dapat mengundang perhatian dari
para politisi, pembuat peraturan, dan pesaing. Selain itu, kenaikan laba yang besar juga
dapat menciptakan masalah bagi manajemen karena hasil yang sama akan sulit dicapai
pada tahun berikutnya.