Anda di halaman 1dari 8

BENTUK-BENTUK LAPISAN BATUBARA DAN

CADANGAN BATUBARA

1. GAMBAR DAN JELASKAN BENTUK-BENTUK LAPISAN


BATUBARA

Pada kegiatan eksplorasi batubara, kita selalu menginginkan utk mendapatkan


lapisan batubara yang tebal. Dalam bentuk lapisan menerus dgn ketebalan yang sama
kesemua arah dan kualitas batubaranya baik.
Bentuk cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah
proses pembentukan batubara akan menentukan bentuk lapisan batubara.
Mengetahui bentuk lapisan batubara sangat menentukan dalam menghintung
cadangan dan merencanakan cara penambangannya. Beberapa bentuk lapisan batu
baru, yaitu :

Sebagai catatan, hasil pengamatan pada singkapan batubara yang diperoleh


dilapangan, dikombinasikan dengan hasil pemboran eksplorasi, akan dapat diketahui
berbagai macam bentuk lapisan batubara yang ada diantara lapisan batuan sedimen.

Untuk hal tesebut, dalam melakukan interpretasi geologi yang berkaitan dalam
usaha memahami bentuk lapisan batubara, di anjurkan memadukan semua data
geologi yang diperoleh pada saat melakukan pemetaan permukaan (surface) dan
pemetaan bawah permukaan (sub surface).

Bentuk cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah


proses coalification akan menentukan bentuk lapisan batubara. Mengetahui bentuk
lapisan batubara sangat menentukan dalam menghitung cadangan dan merencanakan
cara penambangannya.

Beberapa bentuk lapisan batubara yaitu :

1.1. Bentuk Horse Back

Bentuk ini dicirikan oleh lapisan batubara dan lapisan batuan sedimen yang
menutupinya melengkung ke arah atas, akibat adanya gaya kompresi. Tingkat
perlengkungan sangat ditentukan oleh besaran gaya kompresi. Makin kuat gaya
kompresi yang berpengaruh, makin besar tingkat perlengkungannya. Ke arah lateral
lapisan batubara mungkin akan sama tebalnya atau menjadi tipis. Kenampakan ini
dapat terlihat langsung pada singkapan lapisan batubara yang tampak/dijumpai di
lapangan (dalam skala kecil), atau dapat diketahui dari hasil rekontruksi beberapa
lubang pemboran eksplorasi pada saat dilakukan coring secara sistematis. Akibat
dari perlengkungan ini lapisan batubara terlihat terpecah-pecah akibatnya batubara
menjadi kurang kompak.

Pengaruh air hujan, yang selanjutnya menjadi air tanah, akan mengakibatkan
sebagian dari butiran batuan sedimen yang terletak di atasnya, bersama air tanah
akan masuk di antara rekahan lapisan batubara. Kejadian ini akan megakibatkan
apabila batubara tersebut ditambang, batubara mengalami pengotoran (kontaminasi)
dalam bentuk butiran-butiran batuan sedimen sebagai kontaminan anorganik,
sehingga batubara menjadi tidak bersih. Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan,
apabila batubara tersebut akan dipergunakan sebagai bahan bakar.
1.2. Bentuk Pinch

Bentuk ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis di bagian tengah. Pada
umumnya bagian bawah (dasar) dari lapisan batubara merupakan batuan yang plastis
misalnya batulempung sedang di atas lapisan batubara secara setempat ditutupi oleh
batupasir yang secara lateral merupakan pengisian suatu alur. Sangat dimungkinkan,
bentuk pinch ini bukan merupakan penampakan tunggal, melainkan merupakan
penampakan yang berulang-ulang. Ukuran bentuk pinch bervariasi dari beberapa
meter sampai puluhan meter. Dalam proses penambangan batubara, batupasir yang
mengisi pada alur-alur tersebut tidak terhindarkan ikut tergali, sehingga keberadaan
fragmen-fragmen batupasir tersebut juga dianggap sebagai pengotor anorganik.
Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan apabila batubara tersebut akan
dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
1.3. Bentuk Clay Vein

Bentuk ini terjadi apabila di antara dua bagian lapisan batubara terdapat urat
lempung ataupun pasir. Bentuk ini terjadi apabila pada satu seri lapisan batubara
mengalami patahan, kemudian pada bidang patahan yang merupakan rekahan
terbuka terisi oleh material lempung ataupun pasir. Apabila batubaranya ditambang,
bentukan Clay Vein ini dipastikan ikut tertambang dan merupakan pengotor
anorganik (mineral matter) yang tidak diharapkan. Pengotor ini harus dihilangkan
apabila batubara tersebut akan dikonsumsi sebagai bahan bakar.
1.4. Bentuk Burried Hill

Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana batubara semula terbentuk suatu
kulminasi sehingga lapisan batubara seperti “terintrusi”. Sangat dimungkinkan
lapisan batubara pada bagian yang “terintrusi” menjadi menipis atau hampir hilang
sama sekali. Bentukan intrusi mempunyai ukuran dari beberapa meter sampai
puluhan meter. Data hasil pemboran inti pada saat eksplorasi akan banyak membantu
dalam menentukan dimensi bentukan tersebut. Apabila bentukan intrusi tersebut
merupakan batuan beku, pada saat proses penambangan dapat dihindarkan, tetapi
apabila bentukan tersebut merupakan tubuh batupasir, dalam proses penambangan
sangat dimungkinkan ikut tergali. Oleh sebab itu ketelitian dalam perencanaan
penambangan sangat diperlukan, agar fragmen-fragmen intrusi tersebut dalam
batubara yang dihasilkan dari kegiatan penambangan dapat dikurangi sehingga
keberadaan pengotor anorganik tersebut jumlahnya dapat diperkecil.
1.5. Bentuk Fault (Patahan)

Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara mengalami


beberapa seri patahan. Apabila hal ini terjadi, akan mempersulit dalam melakukan
perhitungan cadangan batubara. Hal ini disebabkan telah terjadi pergeseran
perlapisan batubara ke arah vertikal. Dalam melaksanakan eksplorasi batubara di
daerah yang memperlihatkan banyak gejala patahan, diperlukan tingkat ketelitian
yang tinggi, tidak dibenarkan hanya berpedoman pada hasil pemetaan geologi
permukaan saja. Oleh sebab itu, di samping kegiatan pemboran inti, akan lebih baik
bila ditunjang oleh data hasil penelitian geofisika.

Dengan demikian rekonstruksi perjalanan lapisan batubara dapat diikuti


dengan bantuan hasil interpretasi dari data geofisika. Apabila patahan-patahan secara
seri didapatkan, keadaan batubara pada daerah patahan akan ikut hancur. Akibatnya
keberadaan kontaminan anorganik pada batubara tidak terhindarkan. Makin banyak
patahan yang terjadi pada satu seri sedimentasi endapan batubara, makin banyak
kontaminan anorganik yang terikut pada batubara pada saat ditambang.
1.6. Bentuk Fold (Perlipatan)

Bentuk ini terjadi apabila di daerah endapan batubara, mengalami proses


tektonik hingga terbentuk perlipatan. Perlipatan tersebut dimungkinkan masih dalam
bentuk sederhana, misalnya bentuk antiklin atau bentuk sinklin, atau sudah
merupakan kombinasi dari kedua bentuk tersebut. Lapisan batubara bentuk fold,
memberi petunjuk awal pada kita bahwa batubara yang terdapat di daerah tersebut
telah mengalami proses coalification relatif lebih sempurna, akibatnya batubara yang
diperoleh kualitasnya relatif lebih baik. Sering sekali terjadi, lapisan batubara bentuk
fold berasosiasi dengan lapisan batubara berbentuk fault. Dalam melakukan
eksplorasi batubara di daerah yang banyak perlipatan dan patahan, kegiatan
pemboran inti perlu mendapat prioritas utama agar ahli geologi mampu membuat
rekonstruksi struktur dalam usaha menghitung jumlah cadangan batubara.

2. CADANGAN BATUBARA INDONESIA DAN DUNIA

Dengan tingkat produksi saat ini (dan apabila cadangan baru tidak ditemukan),
cadangan batubara global diperkirakan habis sekitar 112 tahun ke depan. Cadangan
batubara terbesar ditemukan di Amerika Serikat, Russia, Republik Rakyat Tiongkok
(RRT), dan India.

Produsen Batubara Terbesar pada Tahun 2018

Negara VolumeProduksi
(setara juta ton minyak)
China 1685.7
Amerika Serikat 364.8
Australia 299.3
India 288.5
Indonesia 255.7
Russia 192.8
Afrika Selatan 142.4

Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2017

Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia.
Sejak tahun 2005, ketika melampaui produksi Australia, Indonesia menjadi eksportir
terdepan batubara thermal. Porsi signifikan dari batubara thermal yang diekspor
terdiri dari jenis kualitas menengah (antara 5100 dan 6100 cal/gram) dan jenis
kualitas rendah (di bawah 5100 cal/gram) yang sebagian besar permintaannya
berasal dari Cina dan India. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, cadangan batubara
Indonesia diperkirakan habis kira-kira dalam 83 tahun mendatang apabila tingkat
produksi saat ini diteruskan.
Berkaitan dengan cadangan batubara global, Indonesia saat ini menempati
peringkat ke-9 dengan sekitar 2.2 persen dari total cadangan batubara global terbukti
berdasarkan BP Statistical Review of World Energy. Sekitar 60 persen dari cadangan
batubara total Indonesia terdiri dari batubara kualitas rendah yang lebih murah (sub-
bituminous) yang memiliki kandungan kurang dari 6100 cal/gram.