Anda di halaman 1dari 4

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyadari pentingnya melahirkan generasi cemerlang

berkualitas pemimpin. generasi yang tidak hanya unggul dalam sains dan teknologi, melainkan juga
memiliki kepribadian yang khas (istimewa). Yakni, kepribadian yang terpancar dari kesatuan pola
pikir dan pola sikap yang benar yang senantiasa melahirkan prilaku soleh dan takwa. Kepribadian
seperti ini tidak hanya membuat kagum bangsanya, melainkan juga musuh-musuhnya. Generasi
seperti ini yang bisa di harapkan menjadi penerus bangsa, yang akan membawa bangsanya menjadi
bangsa besar, kuat dan terdepan. Generasi seperti ini bila menjadi pemimpin tidak akan
menggadaikan negerinya diperas dan di jajah oleh penjajah asing demi memperkaya dirinya dan
keluarganya, tetapi sebaliknya mereka rela berkorban untuk melindungi dirinya dari cengkeraman
penjajahan dalam bentuk apapun.
Mewujudkan itu semua maka tidak bisa berharap pada sistem kapitalis yang telah menjadikan
pendidikan sebagai komoditas ekonomi, siapa yang mampu bayar akan mendapatkan pendidikan.
Satu-satunya yang dapat diandalkan adalah sistem pendidikan Islam yang didasarkan kepada
ideology Islam, karena bersumber dari wahyu Allah SWT, Sang Pencipta manusia dan alam semesta.
Terdapat tiga pihak yang bertanggung jawab untuk menghasilkan generasi Islam, yaitu: pertama
keluarga, yang menjadi wadah pertama pembentukan generasi Islam melalui ayah dan ibu

b. Pendidikan di keluarga
Pendidikan di dalam keluarga pada hakikatnya merupakan proses pendidikan sepanjang hayat.
Pembinaan dan pengembangan kepribadian, penguasaan dasar-dasar tsaqofah Islam dilakukan
melalui pengalaman hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di keluarga,
utamanya orang tua.
Peran penting pendidikan dalam keluarga tercermin dalam Hadist Rasulullah SAW:
“Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang
menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (H.R. Muslim)
Itulah sebabnya, proses pendidikan dalam keluarga disebut sebagai pendidikan yang pertama
dan utama, karena ia menjadi pondasi kepribadian anak. Keluarga adalah wadah pembinaan
keislaman untuk setiap anggotanya yang sekaligus akan membentenginya dari pengaruh-pengaruh
negatif yang berasal dari luar. Dalam dakwah pun, sebelumnya menyeru masyarakat luas, seorang
muslim diperintahkan untuk berdakwah terlebih dulu kepada anggota keluarga dan kerabat
dekatnya.
“Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Qs. Asy-syu’ara: 214)
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” (QS.At-
Tahrim: 6)
Pendidikan dalam keluarga semestinya telah dimulai sejak usia dalam kandungan hingga
menginjak usia baligh dan memasuki jenjang pernikahan; dan bahkan akan terus berlangsung hingga
usia tua. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul SAW:
“Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan ibu hingga liang lahat.”(Al Hadist)
Pertama, pendidikan pada saat anak dalam kandungan (prenatal). Pada saat anak berada dalam
kandungan, menjelang turunnya malaikat untuk meniupkan roh, disertai catatan tentang empat
perkara, yakni rezeki, umur, amal dan nasib, sang ibu mendidik bayi tersebut dengan memperbanyak
doa kepada Allah SWT agar anaknya menjadi pribadi saleh, berbakti pada orang tua dan bermanfaat
bagi umat dan agamanya.
“Sesungguhnya, seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya alam rahim ibu selama 40 hari
menjadi mani. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula. Menjadi segumpal daging selama
itu pula. Selanjutnya diutuslah malaikat untuk meniupkan roh atasnya serta menulis empat empat
ketetapan, yakni rezeki, umur, amal dan nasibnya.”(HR Bukhari dan Muslim)
Istri Imran ketika mengandung Maryam, digambarkan al-Quran, mendoakan putrinya agar menjadi
wanita salehah. Sejarah kemudian membuktikan bahwa Maryam adalah wanita pilihan Allah yang
dari rahimnya lahir Nabi Isa AS.
“Ingatlah ketika istri Imran berdo’a, “Tuhanku, sungguh aku memohon kapada-Mu, agar anak yang
ada dalam kandunganku ini menjadi anak yang saleh dan berkhidmat”(QS. Ali Imran:35)
Besarnya korelasi pengaruh doa dan harapan ibu terhadap anak telah dibuktikan oleh penelitian.
Diantaranya hasil penelitian Emile Coue sebagaimana dikutip oleh Wohjoetomo (1997) dalam buku
Perguruan Tinggi Pesantren, Pendidikan Alternatif Masa Depan, tentang bagaimana ibu-ibu Spanyol
dan Athena dapat melahirkan anak-anak ‘pilihan’. Ibu-ibu Spanyol melahirkan anak-anak yang kuat
dan tumbuh menjadi prajurit-prajurit ulung karena pada saat kehamilannya, mereka sangat
berhasrah dan berdoa untuk menyumbangkan ahli-ahli perang dan prajurit pilihan bagi negaranya.
Begitupun ibu-ibu Athena melahirkan anak-anak yang cerdas karena berhasrat dan berdoa untuk
dapat menyumbangkan ahli-ahli pengetahuan bagi negaranya.
Kedua, pendidikan anak pasca lahir hingga baligh (postnatal). Ketika seorang anak lahir, Islam
mengerjakan untuk mendidik dan mengembangkan aspek tauhid, antara lain dengan membacakan
azan ditelinga kanan dan iqamat di telinga kirinya.
“…Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (rasa dan pikiran) agar kamu
bersyukur…” (QS.An Nahl: 78)
Ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa panca indra manusia yang pertama kali berfungsi
adalah pendengaran. Menurut hasil penelitian diketahui bahwa satu menit setelah kelahiran, bayi
mulai dapat menangkap bunyi-bunyian yang membuatnya segera memalingkan wajah kea rah
datangnya suara.
Islam menuntunkan, pendidikan berikutnya berupa pemberian nama yang baik, pemberian air susu
ibu (ASI), dan penanaman keteladanan kepribadian Islam serta pemberian tuntunan untuk berumah
tangga.
“Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberi nama yang baik dan mendidiknya dengan
adab yang mulia.”(HR. Hakim)
“Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan…”(QS. Al Baqarah:233)
“Seorang anak hendaknya disembelihkan akikah setelah hari ke-7 dari kelahirannya dan diberi nama
(dengan nama yang baik) dan di cukur rambutnya. Setelah anak tersebut mencapai umur 6 tahun,
hendaknya dididik tentang sopan santun. Setelah berusia 9 tahun hendaknya dipisahkan tempat
tidurnya. Dan bila telah mencapai 10 tahun, hendaknya dipukul bila meninggalkan shalat. Kemudian
setelah dewasa dinikahkan. Maka pada saat itu, ayah menjabat tangan anaknya dan
mengatakan,’saya telah mendidik, mengajar, dan menikahkan kamu. Karena itu, saya memohon
kepada Allah agar dijauhkan dari fitnah dunia dan azab di akhirat kelak’.” (Imam Al Ghazali, Ihya
Ulumuddin)

Pendidikan seorang ibu terhadap anaknya merupakan pendidikan dasar yang tidak dapat diabaikan
sama sekali. Maka dari itu seorang ibu hendaklah seorang yang bijaksana dan pandai mendidik anak-
anaknya. Baik dan buruknya pendidikan ibu terhadap anak-anaknya berpengaruh besar terhadap
perkembangan dan watak anaknya di kemudian hari Oleh karena itu pendidikan yang dimiliki oleh
seorang ibu sangat penting sebagai modal dalam mendidik anaknya. Ibu yang baik akan memberikan
satu tradisi yang baik dan berguna bagi anak-anaknya. Tradisi tersebut seperti melekatkan hati sang
anak dengan masyarakatnya melalui berbagai aktivitas yang berguna.
pabila perempuan terdidik dengan baik niscaya pemerataan pendidikan telah mencapai sasaran
sebab ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Minim sekali orang yang terlepas
dari jangkauan ibunya. Ibu adalah pendidik dan sekolah bagi rakyat yang mau mengajar dan
mendidik tanpa mengenal lelah. Ibu mencurahkan semua waktu, tenaga, emosi, dan ekonomi untuk
mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Di samping ibu, seorang ayah juga memegang peranan yang penting pula. Dalam ilmu pendidikan,
peranan ayah dalam pendidikan anak-anaknya antara lain :
1. Sumber kekuasaan di dalam keluarganya.
2. Penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar.
3. Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga
4. Pelindung terhadap ancaman luar
5. Hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan.
6. Pendidik dalam segi-segi rasional.
Ada beberapa ikhtiar yang bisa dilakukan oleh ayah untuk mendidik anak dalam mengembangkan
karakternya, antara lain :
1. Selalu menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan anak walaupun hanya sebentar.
Keterlibatan ayah ini dapat dilakukan melalui permainan, pemberian pujian, dukungan, dan
menanyakan kejadian-kejadian yang dialami anak pada hari itu.
2. Menghindari tingkah laku menghina, meremehkan, memarahi, dan memerintah anak karena hal
ini akan menimbulkan perilaku agresif dan tidak kooperatif pada anak.
3. Mengusahakan ikut terlibat secara aktif dalam mentransfer nilai-nilai yang baik bersama anak.
4. Mengupayakan diri sebagai figur idola bagi anak-anaknya. Misalnya dengan istiqomah dalam
memberikan kasih sayang, perhatian, sikap tulus, supporting, dan kehangatan
Bagi anak laki-laki, ayah dapat menjadi contoh yang baik baginya untuk belajar bagaimana berkata,
bersikap, berperilaku, dan berfikir sebagai seorang laki-laki. Melalui ayahnya, anak laki-laki belajar
tentang cara memperlakukan perempuan, cara menyelesaikan masalah, dan cara mempertahankan
pendapat. Bagi anak perempuan, ayah merupakan tempat dia belajar tentang hal-hal yang biasanya
dominan pada laki-laki, seperti kekuatan, ketegaran, keruntutan berfikir, pengendalian emosi, dan
lain-lain.
Metode mauizah merupakan metode dalam mendidik anak yang ditawarkan oleh al-Qur’an melalui
lisan seorang ayah yang bernama Luqman Hakim. Al-Qur’an mengungkapkan kisah Luqman Hakim
yang mengindikasikan signifikansi mendidik anak dengan cara menyampaikan pesan-pesan moral
untuk mempersiapkan anak menjadi orang yang berkualitas dan sempurna baik iman, akhlak, jiwa
dan juga rasa kepekaan sosialnya. Tahapan-tahapan dalam menyampaikan metode mauizah yang
disampaikan oleh Luqman Hakim antara lain :
1. Menyampaikan pesan-pesan agar senantiasa memiliki perasaan takut kepada Allah.
2. Mengajak melakukan kebajikan dengan disertai peringatan.
3. Memberi mauizah hasanah.
4. Memberi motivasi dengan nasehat.
5. Menyampaikan anjuran untuk mengikuti jalan yang benar.
6. Memberikan dorongan agar senang melakukan kebajikan.
7. Menyampaikan janji dan ancaman (dengan agak keras) seperti yang terdapat dalam al-Qur’an.
Metode Luqman Hakim di atas dapat dijadikan sebagai metode dalam mendidik anak bukan hanya
bagi seoarang ayah tapi juga seorang ibu. Sayangnya kegiatan seorang ayah terhadap pekerjaannya
sehari-hari sungguh besar pengaruhnya kepada anak-anaknya, lebih-lebih anak yang agak besar.
Karena kesibukannya, kadang ayah tidak ada waktu untuk bercengkerama dengan anak-anaknya.
Dengan demikian keluarga merupakan kawah candra dimuka pertama di mana sifat-sifat kepribadian
anak tumbuh dan terbentuk. Anak yang masih dalam keadaan fitroh menerima pengaruh dan
kecenderungan terhadap orang tuanya. Jika orang tuanya Islam maka anaknya akan cenderung
masuk Islam, Jika anak lahir dalam keluarga Nasrani maka dia akan cenderung memeluk agama
Nasrani. Dan keluarga yang mendidik anaknya dengan berbuat baik maka akan menghasilkan pribadi
anak yang baik, sebaliknya keluarga yang mendidik anaknya dengan buruk akan menghasilkan
pribadi anak yang buruk. Maka pendidikan agama merupakan pendidikan yang utama di dalam
keluarga.