Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat

dan karunia-Nya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah sebagai tugas

mata kuliah Perekonomian Indonesia yang berjudul “Utang Luar Negeri Indonesia” ini

dalam bentuk maupun isinya yang masih sangat sederhana. Semoga makalah ini bisa

dipergunakan sebagai salah satu media pembelajaran.

Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu kami

mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran guna untuk

memperbaiki makalah ini agar menjadi lebih baik kedepannya.

Makassar, Maret 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................................1


Daftar Isi .............................................................................................................................2
BAB I: Pendahuluan ..........................................................................................................3
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah .....................................................................................................4
1.3 Tujuan…………… ...................................................................................................4
BAB II: Pembahasan .........................................................................................................5
2.1 Sejarah Utang Luar Negeri Indonesia ........................................................................5
2.2 Penyebab Terjadinya Utang Luar Negeri Indonesia..................................................7
2.3 Kondisi Utang Luar Negeri Indonesia .....................................................................10
2.4 Dampak Utang Luar Negeri Terhadap Perkembangan Indonesia ...........................16
2.5 Solusi Utang Luar Negeri Indonesia .......................................................................17
BAB III: Kesimpulan .......................................................................................................21
Daftar Pustaka .................................................................................................................22

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, utang merupakan jumlah

yang wajib dibayar oleh pemerintah pusat dan/atau kewajiban pemerintah pusat yang

dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,

perjanjian, atau berdasarkan sebab lain yang sah. Secara umum, terdapat dua jenis

pinjaman, yakni pinjaman luar negeri dan pinjaman dalam negeri. Di dalam makalah

ini secara khusus akan membahas mengenai pinjaman luar negeri atau utang luar

negeri.

Utang luar negeri ataupun pinjaman luar negeri merupakan sebagian dari total

utang suatu negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negeri. Pinjaman luar

negeri dapat berasal dari World Bank, kreditor bilateral, ataupun kredit ekspor.

Bentuk pinjamannya dapat berupa pinjaman program yang digunakan untuk

mencapai MDG’s (pengentasan kemiskinan, pendidikan, pemberantasan korupsi),

pemberdayaan masyarakat, dan policy yang terkait dengan perubahan iklim serta

pembangunan infrastruktur. Bentuk pinjaman lainnya yakni pinjaman proyek yang

digunakan untuk pembiayaan proyek infrastruktur di berbagai sektor.

Dewasa ini, salah satu beban ekonomi Indonesia adalah utang luar negeri yang

terus membengkak, Utang ini sudah begitu berat mengingat pembayaran cicilan dan

bunganya yang begitu besar. Biaya ini sudah melewati kapasitas yang wajar sehingga

biaya untuk kepentingan-kepentingan yang begitu mendasar dan mendesak menjadi

sangat minim yang berimplikasi sangat luas. Sebagai negara berkembang yang

3
sedang membangun, Indonesia sendiri tidak terlepas dari masalah utang luar negeri,

dalam kurun waktu 25 tahun terakhir,utang luar negeri telah memberikan sumbangan

yang cukup besar bagi pembangunan di Indonesia. Oleh karena itu, penulis ingin

mengetahui perkembangan utang luar negeri Indonesia dan pengaruhnya terhadap

pertumbuhan ekonomi Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah sejarah utang luar negeri Indonesia?

2. Apakah yang menjadi penyebab terjadinya utang luar negeri Indonesia?

3. Bagaimanakah kondisi utang luar negeri Indonesia saat ini?

4. Bagaimanakah dampak utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi

Indonesia?

5. Bagaimanakah solusi yang tepat untuk menangani utang luar negeri

Indonesia?

1.3 Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan dan menambahkan

wawasan mengenai pengaruh utang luar negeri terhadap ekonomi Indonesia bagi

penulis dan pembaca, sehingga lebih memahami pertumbuhan ekonomi dari sebelum

mempunyai utang sampai saat ini.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Utang Luar Negeri Indonesia

Pembahasan mengenai sejarah utang luar negeri Indonesia, dapat dibagi

berdasarkan era pemerintahan Indonesia.

 Masa Orde Lama

Mengingat Indonesia merupakan negara yang baru merdeka, keadaan

ekonomi pada masa awal kemerdekaan amat buruk sebagai dampak dari

kolonialisme. Kolonialisme telah mengakibatkan taraf kesejahteraan rakyat

terpuruk, ketiadaan infrastruktur, dan rusaknya sebagian besar kapasitas produksi

seperti ladang minyak, yang membuat penerimaan negara dari sumber domestik

belum bisa diandalkan. Oleh karena itu, salah satu tindakan yang diambil oleh

pemerintahan saat itu adalah pinjaman luar negeri. Sebab disadari bahwa utang

luar negeri merupakan sumber pembiayaan yang sangat dibutuhkan Indonesia saat

itu. Akibatnya, pada era pemerintahan Soekarno, pemerintah republik Indonesia

memiliki utang luar negeri sebesar US$6.3 milliar yang terdiri dari US$4 milliar

yang merupakan warisan dari pemerintah Hindia Belanda dan US$2.3 milliar

yang merupakan utang baru.

 Masa Orde Baru

Faktor pendorong Utang Luar Negeri (ULN) pemerintah Indonesia pada

masa Orde Baru dilandasi oleh dua faktor yaitu:

5
1) Faktor internal meliputi pertumbuhan ekspor Indonesia, defisit tabungan

dan investasi yang semakin besar, defisit anggaran pemerintah yang

semakin membengkak, strategi pembangunan, dan perubahan rezim.

2) Faktor eksternal meliputi: adanya kesamaan ideologi dengan negara

pendonor, pembentukan lembaga bantuan internasional untuk negara

berkembang, menguatnya globalisasi (kebutuhan investasi), adanya krisis

minyak dunia (oil boom), dan krisis nilai tukar mata uang yang

mengakibatkan peningkatan utang luar negeri.

Utang luar negeri pada masa Orde Baru sebesar Rp1.500 triliun atau sekitar

US$171,8 miliar yang jika dirata-ratakan selama 32 tahun utang negara bertambah

sekitar Rp. 46,88 triliun tiap tahun. Dari seluruh utang luar negeri Indonesia,

sekitar 73% yang dapat disalurkan ke dalam bentuk proyek dan program,

sedangkan sisanya (27%) menjadi pinjaman yang tidak efektif.

 Masa Reformasi

Pada masa pemerintahan Habibie, utang luar negeri Indonesia sebesar

US$178,4 miliar dengan yang terserap ke dalam pembangunan sebesar 70%, dan

sisanya idle. Terjadinya penurunan penyerapan utang, yaitu dari 73% pada 1998

menjadi 70% pada 1999, disebabkan pada 1999 berlangsung pemilihan umum

yang menjadi tonggak peralihan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Banyak

keraguan baik di kalangan investor domestik maupun investor asing terhadap

kestabilan perekonomian, sementara pemerintah sendiri saat itu tampak lebih

“disibukkan” dengan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Pada masa Gus Dur, rating kredit Indonesia mengalami fluktuasi, dari

6
peringkat CCC turun menjadi DDD lalu naik kembali ke CCC. Salah satu

penyebab utamanya adalah imbas dari krisis moneter pada 1998 yang masih

terbawa hingga pemerintahannya. Saat itu utang pemerintah mencapai Rp.

1.234,28 triliun yang menggerogoti 89% PDB Indonesia. Porsi yang cukup

membahayakan bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Selain porsi utang yang besar pada PDB, terjadi pula peningkatan porsi

bunga utang terhadap pendapatan dan belanja negara. Rasio bunga utang terhadap

pendapatan pada 2001 meningkat sekitar 4,6%, dari 24,4% menjadi 29%,

sedangkan terhadap belanja meningkat sebanyak 2,9% menjadi 25,5% pada tahun

yang sama. Saat itu Indonesia dikhawatirkan akan jatuh ke dalam perangkap

utang (debt trap). Pemerintahan Gus Dur mencatatkan hal yang positif dalam hal

utang, yaitu terjadi penurunan jumlah utang luar negeri sebesar US$21,1 miliar,

dari US$178 miliar pada 1999 menjadi US$157,3 miliar pada 2001.

Namun, utang nasional secara keseluruhan tetap meningkat, sebesar

Rp38,9 triliun, dari Rp1.234,28 triliun pada 2000 menjadi Rp1.273,18 triliun pada

2001. Sementara itu, porsi utang terhadap PDB juga mengalami penurunan, dari

89% pada 2000 menjadi 77% pada 2001.

2.2 Penyebab Terjadinya Utang Luar Negeri Indonesia

Setidaknya terdapat dua alasan secara umum mengapa pemerintah di negara-

negara berkembang seperti Indonesia tetap membutuhkan utang luar negeri. Pertama,

utang luar negeri dibutuhkan sebagai tambahan modal bagi pembangunan prasarana fisik.

Infrastruktur merupakan investasi yang mahal dalam pembangunan. Kedua, utang luar

7
negeri dapat digunakan sebagai penyeimbang neraca pembayaran. Selain dari hal-hal

yang disebutkan sebelumnya, terdapat alasan lain suatu negara melakukan pinjaman luar

negeri antara lain:

1. Defisit Transaksi Berjalan (TB)

Transaksi Berjalan (TB) merupakan perbandingan antara jumlah pembayaran

yang diterima dari luar negeri dengan jumlah pembayaran yang dikeluarkan ke luar

negeri. Artinya, operasi total perdagangan luar negeri, neraca perdagangan, dan

keseimbangan antara ekspor dan impor, serta pembayaran transfer.

Dalam hal ini defisit yang semakin meningkat akan menjadi penyebab semakin

meningkatnya atau bertambahnya utang luar negeri, termasuk Indonesia. Dengan kata

lain, pengeluaran yang dikeluarkan oleh Negara lebih besar daripada pemasukan yang

diterima oleh Negara sendiri. Sedemikian sehingga defisit antara pengeluaran dan

pemasukan semakin besar dan salah satu solusi untuk bisa menutupi defisit tersebut ialah

dengan melakukan utang luar negeri.

2. Meningkatnya Kebutuhan Investasi

Investasi merupakan penanaman modal yang dilakukan untuk satu atau lebih

aktivitas yang dimiliki oleh Negara, di mana biasanya memiliki jangka waktu lama

dengan harapan mendapatkan keuntungan pada masa yang akan datang. Kasus yang

terjadi di Indonesia setiap tahunnya pun hampir serupa, yaitu kekurangan dana untuk

melakukan investasi tersebut. Padahal hampir setiap tahun pula kebutuhan investasi

semakin meningkat. Sedemikian sehingga dengan semakin meningkatnya kebutuhan

investasi sedangkan modal investasinya tidak dimiliki, maka akan memicu Negara untuk

8
melakukan utang luar negeri. Dengan kata lain, kekurangan modal dengan kebutuhan

investasi yang semakin meningkat tiap tahunnya akan menyebabkan utang luar negeri

semakin meningkat pula. Selain kebengkakan dana yang dibutuhkan, utang luar negeri

yang meningkat juga disebabkan dengan berbedanya tingkat suku bunga yang diterapkan

oleh masing-masing Negara lain selaku pemberi pinjaman.

3. Meningkatnya Inflasi

Inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum, di mana

hal tersebut secara terus-menerus memiliki kaitan dengan mekanisme pasar yang dapat

disebabkan oleh berbagai faktor. Yang mana, laju inflasi mempengaruhi tingkat suku

bunga nominal. Kasus yang terjadi di Indonesia ialah trand inflasi yang meningkat

sehingga memaksa Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga. Sedemikian sehingga

dengan rendahnya suku bunga, maka minat orang ataupun Negara lain untuk melakukan

investasi di Indonesia semakin rendah pula. Dengan keadaan tersebutlah, maka

pemerintah mengambil tindakan untuk memenuhi belanja Negaranya melalui utang luar

negeri.

4. Struktur Perekonomian Tidak Efisien

Struktur perekonomian yang tidak efisien, dalam hal ini di Indonesia, tampak dari

tidak efisiennya pemakaian modal yang dikeluarkan sehingga memerlukan investasi

besar. Hal inilah yang kemudian akan mendorong pemerintah mengambil tindakan utang

luar negeri untuk memenuhi investasi besar tersebut akibat pemakaian modal yang tidak

efisien.

9
2.3 Kondisi Utang Luar Negeri Indonesia

Berdasarkan informasi dari Bank Indonesia yang mengacu pada IMF,

pengklasifikasian utang berdasarkan sektor dilakukan menurut sektor debitor, bukan

sektor penjamin utang (guarantor) serta berdasarkan sektor debitor langsung (immediate

borrower). Sektor institusi debitor terdiri dari pemerintah, bank sentral, dan swasta (bank

dan bukan bank).

 Utang luar negeri pemerintah adalah utang yang dimiliki oleh pemerintah pusat,

terdiri dari utang bilateral/multilateral, fasilitas kredit ekspor (FKE), utang

komersial, dan leasing, termasuk pula Surat Berharga Negara (SBN) (yang

diterbitkan di luar maupun di dalam negeri) yang dimiliki oleh bukan penduduk.

SBN terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara

(SBSN). SUN terdiri dari Obligasi Negara yang berjangka waktu lebih dari 12

(dua belas) bulan dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang berjangka

waktu sampai dengan dua belas bulan. SBSN terdiri dari SBSN jangka panjang

(Ijarah Fixed Rate/IFR) dan Global Sukuk.

 Utang luar negeri bank sentral adalah utang yang dimiliki oleh Bank Indonesia

dalam rangka mendukung neraca pembayaran dan cadangan devisa. Termasuk

dalam utang luar negeri Bank Indonesia adalah kewajiban dalam bentuk

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang dimiliki oleh bukan penduduk serta

simpanan (deposits) bukan penduduk di Bank Indonesia.

 Utang luar negeri swasta adalah utang luar negeri penduduk (selain pemerintah

dan bank sentral) kepada bukan penduduk dalam valuta asing dan atau rupiah

berdasarkan perjanjian utang (loan agreement) atau perjanjian lainnya,

10
simpanan, dan kewajiban lainnya. Termasuk dalam komponen utang luar negeri

swasta adalah kewajiban berupa surat utang yang diterbitkan di dalam negeri

dan dimiliki oleh bukan penduduk. Sektor swasta meliputi bank dan bukan bank.

Swasta bukan bank terdiri dari Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dan

perusahaan bukan lembaga keuangan, serta perorangan.

 Pinjaman Bilateral – Pemerintah merupakan pinjaman luar negeri yang berasal

dari pemerintah suatu negara melalui suatu lembaga keuangan dan/atau lembaga

nonkeuangan yang ditunjuk oleh pemerintah negara yang bersangkutan untuk

melaksanakan pemberian pinjaman.

 Pinjaman Komersial – Pemerintah merupakan pinjaman luar negeri yang

diperoleh dengan persyaratan yang berlaku di pasar dan tanpa adanya

penjaminan dari lembaga penjamin kredit ekspor.

 Pinjaman Multilateral – Pemerintah merupakan pinjaman luar negeri

pemerintah yang berasal dari lembaga multilateral.

 Pinjaman Official Development Assistence (ODA) atau Concessional loan

merupakan pinjaman luar negeri yang berasal dari suatu negara atau lembaga

multilateral, yang ditujukan untuk pembangunan ekonomi atau untuk

peningkatan kesejahteraan sosial bagi negara penerima dan memiliki komponen

hibah. Pinjaman oleh lembaga kredit ekspor yang bertujuan untuk meningkatkan

ekspor tidak termasuk dalam pengertian ODA.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2017 tercatat sebesar

USD320,3 miliar atau tumbuh 3,4% (yoy). Berdasarkan kelompok peminjam,

11
pertumbuhan tahunan ULN sektor publik meningkat, sedangkan pertumbuhan tahunan

ULN sektor swasta menurun. ULN sektor publik pada Januari 2017 tercatat sebesar

USD161,2 miliar atau tumbuh 12,4% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan di bulan

sebelumnya yang sebesar 11,0% (yoy). Sementara itu, posisi ULN sektor swasta pada

Januari 2017 tercatat sebesar USD159,0 miliar atau turun 4,3% (yoy), lebih kecil

dibandingkan penurunan bulan sebelumnya yang sebesar 5,9% (yoy). (Tabel 2.3.1)

Menurut sektor ekonomi, posisi ULN akhir Januari 2017 terkonsentrasi di sektor

keuangan, sektor industri pengolahan, sektor pertambangan, serta sektor listrik, gas dan

air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai

76,6%. Pertumbuhan ULN di sektor sektor listrik, gas dan air bersih meningkat

dibandingkan dengan Desember 2016. Sementara itu, pertumbuhan tahunan ULN sektor

pertambangan, sektor industri pengolahan, dan sektor keuangan masih mengalami

kontraksi pertumbuhan. (Tabel 2.3.2)

Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada Januari 2017 tetap sehat,

namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional. Bank Indonesia

terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Hal ini

dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal

dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang berpotensi

memengaruhi stabilitas makroekonomi.

12
Tabel 2.3.1

13
Tabel 2.3.2

14
Adapun rencana pembayaran utang luar negeri Indonesia berdasarkan data dari

Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementrian Keuangan bulan

Maret 2017 dapat dilihat pada tabel berikut:

15
2.4 Dampak Utang Luar Negeri Terhadap Perkembangan Indonesia

Adanya utang luar negeri menimbulkan dampak bagi negara Indonesia. Dampak

ini dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu sisi positif dan sisi negatif. Dari dua sisi tersebut,

jarang terlihat dampak positif dari utang luar negeri. Karena sudah kita ketahui sejak

dahulu bahwasanya namanya berhutang pasti itu negatif, kesannya pemerintah tidak

bisa membiayai negaranya sendiri sampai harus berhutang ke negara lain. Namun,

dari berbagai sumber banyak yang menyatakan bahwa dampak positif dari utang luar

negeri yaitu terhadap pembangunan ekonomi dan peningkatan tabungan masyarakat.

Sebab, alirannya dapat meningkatkan pendapatan dan tabungan domestik sehingga

utang luar negeri menghasilkan multiplier effect positif terhadap perekonomian.

Aliran bantuan luar negeri dapat meningkatkan investasi yang selanjutnya

meningkatkan pendapatan dan tabungan domestik dan seterusnya. Sampai di situ,

secara teori, bantuan luar negeri justru menghasilkan dampak pengganda (multiplier

effects) yang positif pada perekonomian. Pinjaman luar negeri dalam jangka pendek

dapat menutup defisit APBN, sehingga memungkinkan pemerintah untuk

melaksanakan pembangunan dengan dukungan modal yang relatif lebih besar, tanpa

disertai efek peningkatan tingkat harga umum. Dengan demikian pemerintah dapat

melakukan ekspansi fiskal untuk mempertinggi laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi berarti meningkatnya pendapatan nasional,

yang selanjutnya memungkinkan untuk meningkatnya pendapatan perkapita.

Dampak negative dari utang luar negeri yaitu timbulnya krisis ekonomi yang

makin lama makin meluas dan mendalam. Kemudian krisis ekonomi ini memperkuat

krisis yang lain dan begitu seterusnya sehingga terjadilah vicious circle. Pemerintah

16
akan terbebani dengan pembayaran utang tersebut sehingga hanya sedikit dari APBN

yang digunakan untuk pembangunan, Cicilan bunga yang makin memberatkan

perekonomian Indonesia, kemudian bantuan tersebut negara akan dicap sebagai

negara miskin dan tukang utang karena tidak mampu untuk mengatasi perekonomian

negara sendiri sampai membutuhkan campur tangan dari pihak lain. Selain itu, dalam

jangka panjang utang luar negeri dapat menimbulkan berbagai macam persoalan

ekonomi negara Indonesia, salah satunya dapat menyebabkan nilai tukar rupiah jatuh

(Inflasi) dan yang pasti akan mengakibatkan ketergantungan dari penerima bantuan

(dalam negeri) terhadap pemberi bantuan (luar negeri).

2.5 Solusi Utang Luar Negeri Indonesia

Jika ingin bangkit dari ketergantungan dari negara asing harus ada perubahan

yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, yaitu:

Pertama, meningkatkan daya beli masyarakat, yakni melalui pemberdayaan

ekonomi pedesaan dan pemberian modal usaha kecil seluasnya. Dengan peningkatan

daya beli masyarakat ini membuat barang-barang hasil buatan dalam negeri terjual

habis tentu akan memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Apalagi yang

terjual dan laku terbeli itu yaitu produk hasil ekonomi pedesaaan dan usaha kecil,

tentu akan membuat perkembangan yang signifikan bagi kemajuan usaha pedesaan

dan usaha kecil sehingga mampu bersaing perusahaan besar milik swasta.

Keuntungan lain dari peningkatan daya beli masyarakat yaitu perputaran uang akan

lebih banyak terdapat di dalam negeri sehingga uang ini akan menambah pendapatan

negara dengan pajak.

17
Kedua, meningkatkan pajak secara progresif terhadap barang mewah dan impor.

Realitas yang ada saat ini pemerintah mengambil pajak barang mewah.

Ketiga, konsep pembangunan yang berkesinambungan, berlanjut dan mengarah

pada satu titik maksimalisasi kekuatan ekonomi nasional, melepaskan secara bertahap

ketergantungan utang luar negeri. Telah di jelaskan pada awal prinsip pembangunan

yang diusung orde baru yakni mengutang untuk pembangungan, sekarang saatnya

membangun Indonesia dari keringat peluh yang dihasilkan diri sendiri Indonesia

walaupun harus bertahap sesuai dengan pendapatan yang diraih. Jangan asal cepat-

cepat membangun negeri sehingga kita selalu bertumpu pada utang/investasi luar

negeri tapi membangun negeri perlu proses sehingga dibutuhkan sikap sabar yang

tinggi pemerintah untuk membangun negeri. Masyarakat sebagai rakyat harus

mendukung setiap tindakan pemerintah yang benar.

Keempat, menggalakan kebanggaan akan produksi dalam negeri, meningkatkan

kemauan dan kemampuan ekspor produk unggulan dan membina jiwa kewirausahaan

masyarakat. Hal yang memprihatinkan dengan televisi atau surat kabar di negeri ini

yakni banyaknya iklan swasta produk luar negeri berkembang di dalam negeri, sadar

atau tidak iklan-iklan ini mempengaruhi pergaulan masyarakat di negeri ini, para

remaja lebih suka makanan produk luar negeri daripada produk-produk dalam negeri

seperti kacang rebus, ketela godok. Sehingga hasil jual lebih banyak keluar daripada

ke dalam negeri. Padahal dari segi kandungan zat makanan tradisional inilah lebih

banyak di banding produk luar negeri. Negeri ini kaya akan sumber daya alam

unggulan sehingga bila kita manfaatkan secara maksimal maka akan memberikan

devisa negara, akhir-akhir ini negeri kita mampu dengan “swasembada pangan”

18
mengapa kita tidak swasembada kehutanan, pertambangan atau seterusnya.

Permasalahan yang ada adalah terkendala dana dan teknologi peralatan, sebenarnya

ini dapat disiasati dengan memanfaatkan dana terbatas dan peralatan kurang itu untuk

mendukung produksi hasil pada potensi yang sangat besar.

Kelima, mengembangkan sumber daya manusia berkualitas dan menempatkan

kesejateraan yang berkeadilan dan merata sebagai landasan penyusunan

operasionalisasi pembangunan ekonomi. Pepatah ada yang bilang “orang yang bodoh

dekat dengan kemiskinan” ini tentu sesuai dengan realitas yang ada di Indonesia,

banyak anak kecil di kolong-kolong jembatan dan perhentian lampu merah tidak

bersekolah malah mencari nafkah membantu orang tua-nya. Ditambah lagi dengan

harga pendidikan Indonesia yang mahal tentu akan menambah daftar panjang orang-

orang bodoh baru yang akan bernasib sama. Padahal negara kita akan menghadapi

perdagangan bebas sungguh sangat ironi bila negara kita hanya bergantung dengan

bangsa lain. Bila kita cermati dengan tingkat pendidikan tinggi rata-rata penduduknya

akan memberikan penghasilan yang besar bagi penduduk akan memperkuat ekonomi

nasional melalui pengurangan tenaga kerja luar negeri. Bila kesejateraan penduduk

besar tentu akan memberikan pajak sangat besar sehingga negeri ini memperoleh

pendapatan yang besar.

Dari solusi ekonomi nasionalis populis tersebut akan berhasil bila ada sinergi

antara legislatif, eksekutif dan yudikatif. Tidak lupa hal terpenting yakni adanya

kemauan rakyat untuk berubah (change will) dan bergerak bersama untuk

menghasilkan negara Indonesia yang mandiri dan bertekad bangkit serta mengakhiri

utang luar negeri.

19
Beberapa hal yang bisa diusahakan pemerintah untuk mengurangi utang luar

negeri, diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Memperketat regulasi impor, dan mengupayakan penggunaan barang-barang

dalam negeri.

2. Mempermudah regulasi ekspor guna meningkatkan gairah perekonomian negara.

3. Menghilangkan subsidi BBM (kecuali untuk kendaraan angkutan massal)

4. Meningkatkan daya beli masyarakat melalui pemberian Kredit Usaha Rakyat dan

program-program sejenis.

5. Mengawasi pemungutan pajak dan menghukum dengan berat pihak manapun

yang melanggar.

6. Mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak terlalu penting (seperti:

memotong gaji anggota DPR/DPRD). Miris, negara berkembang sekelas

Indonesia malah bisa menduduki peringkat ke-4 dunia sebagai pemberi gaji

terbesar untuk anggota legislatif.

20
BAB III

KESIMPULAN

Keterbatasan kapasitas fiskal yang dihadapi suatu negara seperti Indonesia

menyebabkan negara tersebut membutuhkan bantuan dari negara lain, yakni berupa

bantuan pinjaman atau utang luar negeri. Bantuan pinjaman ini sendiri memiliki pro

dan kontra tersendiri dari tiap sudut pandang yang berbeda. Dari satu sisi, Indonesia

sebagai negara yang masih memerlukan pembangunan sangat membutuhkan asupan

dana demi kelancaran pembangunan dalam negeri namun disisi lain, kebiasaan

Indonesia yang terlalu sering mengandalkan pinjaman luar negeri yang tidak hanya

digunakan untuk pembangunan yang terkadang dinilai kurang efektif dan efisien,

tetapi juga untuk menutupi utang-utang terdahulu dengan pinjaman-pinjaman yang

lain telah memberikan akibat pada menumpuknya pinjaman yang ditambah dengan

bunga pinjaman yang sangat besar. Dalam perkembangannya, kebutuhan akan utang

luar negeri tidak hanya diartikan dalam ruang ekonomi saja, tetapi sudah mulai

merambat ke dalam ruang politik. Kebijakan utang luar negeri dijadikan sebagai

salah satu bargain power yang dimiliki oleh negara-negara kreditur (pada umumnya

negara-negara maju) untuk melakukan ekspansi politik luar negeri berdasarkan self-

interest-nya masing-masing terhadap negara-negara peminjam (biasanya negara-

negara berkembang). Oleh karena itu, menyadari akan hal ini, Indonesia harus

mengurangi ketergantungan terhadap utang luar negeri dan lebih mengusahakan pada

potensi dalam negeri.

21
DAFTAR PUSTAKA

Malik, Abdul. “Sejarah Singkat Utang Pemerintah Indonesia”. 17 Maret 2017.


https://malikmakassar.wordpress.com/2008/12/16/sejarah-singkat-utang-pemerintah-
indonesia/
Resta, Lutvia. “Solusi Mengatasi Utang Luar Negeri Indonesia”. 22 Maret 2017.
https://lutviaresta.wordpress.com/2016/12/27/solusi-mengatasi-utang-luar-negeri-
indonesia/
Sari, Maya. “Penyebab Utang Luar Negeri”. 22 Maret 2017.
http://guruppkn.com/penyebab-utang-luar-negeri
Wahyuningsih, Anik. “Pengaruh Utang Luar Negeri”. 22 Maret 2017.
http://anikwahyuningsih.blogspot.co.id/2013/02/pengaruh-utang-luar-negeri-
terhadap.html
Blog Bamz. “Sejarah Hutang Indonesia Mulai dari Masa Soekarno”. 17 Maret 2017.
http://jendelaperistiwa.blogspot.co.id/2013/02/sejarah-hutang-indonesia-mulai-
dari.html

Buku Statistik Utang Luar Negeri Indonesia oleh http://www.djppr.kemenkeu.go.id/

http://www.bi.go.id/id/Default.aspx

22