Anda di halaman 1dari 27

BAB III

TUGAS KHUSUS
USULAN PERBAIKAN EFEKTIVITAS MESIN PARUT DENGAN
MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT
EFFECTIVENESS (OEE) DI KILANG MINYAK
UD. HIDUP BARU II

3.1. Pendahuluan
3.1.1. Latar Belakang Masalah
UD. Hidup Baru merupakan suatu industry kilang minyak yang
bergerak dibidang produksi minyak kelapa dengan bahan baku utamanya adalah
kopra. Sistem kerja yang diterapkan oleh UD. Hidup Baru yang beroperasi selama 24
jam, mengharuskan semua mesin yang digunakan harus dalam keadaan baik.
Sehingga tidak menggangu produksi dari perusahaan.
Mesin parut adalah mesin yang digunakan untuk menmarut kelapa menjadi
lebih halus.Mesin kukur merupakan salah satu mesin yang sangat penting dalam
proses produksi dari UD. Hidup Baru dikarenakan mesin ini menjadi mesin pertama
dalam proses produksi minyak kelapa. Kondisi dari mesin ini harus selalu dalam
keadaan baik atau tidak rusak. Apabila rusak maka proses produksi akan terhenti.
Saat ini perawatan mesin di UD. Hidup Baru II hanya dilakukan pada saat
keadaan mesin rusak, atau dengan kata lain perusahaan hanya memperbaiki mesin
pada saat rusak. Padahal seharusnya mesin harus selalu dirawat atau servis, sehingga
mesin tidak terlalu sering rusak, yang menyebabkan biaya perbaikan mesin
meningkat.
Oleh karena hal yang diatas maka penulis akan melakukan “Usulan
Perbaikan Efektivitas Mesin Parut Dengan Menggunakan Metode Overall
Equipment Effectiveness (OEE) Di Kilang Minyak UD. Hidup Baru II”

3.1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka rumusan masalah
adalah “Bagaimana mengukur kinerja mesin dengan mengetahui nilai availability,
performance, dan quality ratio serta nilai OEE dari peralatan produksi pada parut”.

12
13

3.1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian


a. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian yang dilakukan mengukur kinerja mesin dengan mengetahui nilai
availability, performance, dan quality ratio serta nilai OEE dari peralatan produksi
pada parut.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
mengukur kinerja mesin dengan mengetahui nilai availability, performance,
dan quality ratio serta nilai OEE dari peralatan produksi pada parut.

b. Manfaat penelitian
penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak,
yaitu:
1. Bagi Mahasiswa
a. Mendapat pengalaman dalam mengaplikasikan ilmu-ilmu teknik
industri.
b. Menambah pengalaman dalam memahami dunia kerja khususnya
pada perusahaan manufaktur.
2. Bagi perusahaan
a. Sebagai masukkan bagi perusahaan dalam melakukan perawatan
mesin.
3. Bagi lembaga penelitian
Sebagai salah satu bahan bacaan dalam bidang perawatan mesin pabrik.

3.1.4 Batasan Masalah


Dalam melakukan penelitian, dilakukan beberapa pembatasan masalah,
seperti:
1. Bagian yang akan dianalisa yaitu mesin parut untuk memarut kelapa.
2. Biaya-biaya perawatan mesin tidak di analisa.
3. Faktor-faktor penyebab kerusakan tidak diteliti.
4. Unit-unit kerusakan tidak diteliti
14

3.1.5 Asumsi yang Digunakan


Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Cara penggunaan, perawatan maupun cara beroperasi pelaksanaan mesin
dianggap normal sesuai panduan teknis dari mesin tersebut.
2. Mesin yang beroperasi ditangani oleh tenaga operator yang benar-benar mahir
dan pengalaman dalam bidangnya.
3. Seluruh data yang diperoleh dari perusahaan maupun sumber lainnya adalah
benar dan telah diteliti kewajarannya.

3.2 LANDASAN TEORI


3.2.1 Efektivitas Mesin
Fungsi mesin-mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi
akan mengalami penurunan efektifitas sejalan dengan semakin bertambahnya usia
mesin dan penurunan kemampuan mesin dan peralatan tersebut. Oleh karena itu,
untuk menunjang kelancaran proses produksi dan meningkatkan efektifitas mesin,
perlu adanya pemeliharaan yang dilakukan secara continous dan berkesinambungan
(Assauri, 1999). Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan salah satu
metode yang dkembangkan di Jepang yang dapat digunakan untuk menghitung
tingkat efektifitas dari penggunaan mesin/peralatan sebagai usaha untuk
mengeleminasi kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh tidak efektifnya
penggunaan mesin/peralatan.
Mesin merupakan perubahan energi yang beroperasi berdasarkan prinsip-
prinsip logis, rasional, dan bahkan benar-benar matematis. untuk mendukung
aktifitas produksi secara lebih berhasil dan berdaya guna, maka keberadaan suatu
organisasi perawatan mesin cukup mempunyai arti tersendiri. Pada dasarnya apa
yang diharapkan dari keberadaan perawatan mesin tidak lain adalah untuk
meningkatkan efektifitas mesin serta porsi keuntungan bagi pemilik perusahaan
(Suharto, 1991). Hal ini bisa dimungkinkan, karena dengan perawatan mesin maka
dapat ditekan ongkos produksi disamping dapat pula ditingkatkan kapasitas produksi
suatu mesin hingga estimate umur ekonomisnya.
Perbaikan efektivitas mesin merupakan suatu sistem pemeliharaan peralatan
secara menyeluruh yang melibatkan pertisipasi karyawan dan departemen melalui
penerapan berbagai metode pemeliharaan dengan mempertimbangkan aspek
15

ekonomi, efektivitas dan efisiensi biaya pemeliharaan. Efektivitas (tepat sasaran)


merupakan upaya untuk mencapai tujuan dengan waktu yang cepat dan tepat yaitu
upaya yang dilakukan dengan perbaikan yang diorganisir dan dilaksanakan
berdasarkan orientasi kemasa depan, dengan pengendalian dan dokumentasi
mengacu pada rencana yang telah disusun sebelumnya. Sedangkan efisiensi (tepat
guna) merupakan upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan
memperhatikan segala aspek, atau faktor-faktor yang ditimbulkan dan melakukan
penyelesaian masalah (Cut lisna, 2009).

3.2.2 Pengertian Maintenance


Maintenance merupakan suatu fungsi dalam suatu industri manufaktur yang
sama pentingnya dengan fungsi-fungsi lain seperti produksi. Hal ini karena apabila
kita mempunyai mesin/peralatan, maka biasanya kita selalu berusaha untuk tetap
dapat mempergunakan mesin/peralatan sehingga kegiatan produksi dapat berjalan
lancar. Dalam usaha untuk dapat menggunakan terus mesin/peralatan agar
kontinuitas produksi dapat terjamin, maka dibutuhkan kegiatan kegiatan
pemeliharaan dan perawatan yang meliputi (Suharto, 1991):
a. Kegiatan pengecekan.
b. Meminyaki (lubrication).
c. Perbaikan/reparasi atas kerusakan-kerusakan yang ada.
d. Penyesuain/penggantian spare part atau komponen.
Ada dua jenis penurunan kemampuan mesin/peralatan yaitu (Suharto, 1991) :
a. Natural Deterioration yaitu menurunnya kinerja mesin/peralatan secara alami
akibat terjadi pemburukan/keausan pada fisik mesin/peralatan selama waktu
pemakaian walaupun penggunaan secara benar.
b. Accelerated Deterioration yaitu menurunnya kinerja mesin/peralatan akibat
kesalahan manusia (human error) sehingga dapat mempercepat keausan
mesin/peralatan karena mengakibatkan tindakan dan perlakuan yang tidak
seharusnya dilakukan terhadap mesin/peralatan.
Dalam usaha mencegah dan berusaha untuk menghilangkan kerusakan yang
timbul ketika proses produksi berjalan, dibutuhkan cara dan metode untuk
mengantisipasinya dengan melakukan kegiatan pemeliharaan mesin/peralatan.
16

Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga


mesi/peralatan dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian/penggantian yang
diperlukan agar terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai
dengan apa yang direncanakan. Jadi dengan adanya kegiatan maintenance maka
mesin/peralatan dapat dipergunakan sesuai dengan rencana dan tidak
mengalami kerusakan selama dipergunakan untuk proses produksi atau sebelum
jangka waktu tertentu direncanakan tercapai (Assauri, 1999).
Hasil yang diharapakan dari kegiatan pemeliharaan mesin/peralatan (equipment
maintenance) merupakan berdasarkan dua hal sebagai berikut (Suharto, 1991):
1. Condition maintenance yaitu mempertahankan kondisi mesin/peralatan agar
berfungsi dengan baik sehingga komponen-komponen yang terdapat dalam
mesin juga berfungsi dengan umur ekonomisnya.
2. Replecement maintenance yaitu melakukan tindakan perbaikan dan
penggantian komponen mesin tepat pada waktunya sesuai dengan jadwal yang
telah diencanakan sebelum kerusakan terjadi.

3.2.3 Tujuan Maintenance


Maintenance adalah kegiatan pendukung bagi kegiatan komersil, maka seperti
kegiatan lainnya, maintenance harus efektif, efisien dan berbiaya rendah. Dengan
adanya kegiatan maintenance ini, maka mesin/peralatan produksi dapat digunakan
sesuai dengan rencana dan tidak mengalami kerusakan selama jangka waktu tertentu
yang telah direncanakan tercapai.
Beberapa tujuan maintenance yang utama antara lain (Suharto, 1991):
1. Kemampuan berproduksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana
produksi.
2. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang
dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak
terganggu.
3. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang diluar
batas dan menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan selama
waktu yang ditentukan sesuai dengan kebijakan perusahaan mengenai
investasi tersebut.
17

4. Untuk mencapai tingkat biaya maintenance secara efektif dan efisien


keseluruhannya.
5. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut.
6. Memaksimumkan ketersedian semua peralatan sistem produksi (mengurangi
downtime).
7. Untuk memperpanjang umur/masa pakai dari mesin/peralatan.

3.2.4 Jenis-Jenis Maintenance


3.2.4.1 Planned Maintenance (Pemeliharaan Terencana)
Planned maintenance (pemeliharaa terencana) adalah pemeliharaan yang
terorganisir dan dilakukan dengan pemikiran ke masa depan, pengendalian dan
pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu
program maintenance yang akan dilakukan harus dinamis dan memerlukan
pegawasan dan pengendalian secara aktif dari bagian maintenance melalui informasi
dari catatan riwayat mesin/peralatan.
Konsep planned maintenance ditujukan untuk dapat mengatasi masalah yang
dihadapi manajer dengan pelaksanaan kegiatan maintenance. Komunikasi dapat
diperbaiki dengan informasi yang dapat memberi data yang lengkap untuk
mengambil keputusan. Adapun data yang penting dalam kegiatan maintenance antara
lain laporan permintaan pemeliharaan, laporan pemeriksaan, laporan perbaikan, dan
lain-lain. Pemeliharaan terencana (planned maintenance) terdiri dari tiga bentuk
pelaksanaan, yaitu (Cut lisna, 2009):
a. Preventive maintenance (pemeliharaan pencegahan)
Preventive maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang
dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan yang tidak terduga dan
menemukan kondisi atau keadaan yang dapat menyebabkan fasilitas produksi
mengalami kerusakan pada waktu digunakan dalam proses produksi. Dengan
demikian semua fasilitas produksi yang diberikan preventive maintenance akan
terjamin kelancarannya dan selalu diusahakan dalam kondis atau keadaan yang siap
dipergunakan untuk setiap operasi atau proses produksi pada setiap saat. Sehingga
dapatlah dimungkinkan pembuatan suatu rencana dan jadwal pemeliharaan dan
perawatan yang sangat cermat dan rencana produksi yang lebih tepat.
b. Corrective maintenance (Pemeliharaan Perbaikan )
18

Corrective maintenance adalah suatu kegiatan maintenance yang dilakukan


setelah terjadinya kerusakan atau kelalaian pada mesin/peralatan sehingga tidak
dapat berfungsi dengan baik.
c. Predictive maintenance
Predictive maintenance adalah tindakan-tindakan maintenance yang
dilakukan pada tanggal yang ditetapkan berdasarkan prediksi hasil analisa dan
evaluasi data operasi yang diambil untuk melakukan predictive maintenance itu
dapat berupa data getaran, temperatur, vibrasi, flow rate, dan lain-lainnya.
Perencanaan predictive maintenance dapat dilakukan berdasarkan data dari operator
di lapangan yang diajukan melalui work order ke departemen maintenance untuk
dilakuakan tindakan tepat sehingga tidak akan merugikan perusahaan.

3.2.4.2 Unplanned Maintenance (Pemeliharaan Tak Terencana)


Unplanned maintenance biasanya berupa breakdown/emergency
maintenance. Breakdown/emergency maintenance (pemeliharaan darurat) adalah
tindakan maintenance yang tidak dilakukan pada mesin peralatan yang masih dapat
beroperasi, sampai mesin/peralatan tersebut rusak dan tidak dapat berfungsi lagi.
Melalui bentuk pelaksanaan pemeliharaan tak terencana ini, diharapkan penerapan
pemeliharaan tersebut akan dapat memperpanjang umur dari mesin/peralatan, dan
dapat memperkecil frekuensi kerusakan.

3.2.4.3 Autonomous Maintenance (Pemeliharaan Mandiri)


Autonomous maintenance atau pemeliharaan mandiri merupakan suatu
kegiatan untuk dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi mesin/peralatan
melalui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh operator untuk memelihara
mesin/peralatan yang mereka tangani sendiri. Prinsip-prinsi yang terdapat pada lima
S, merupakan prinsip yang mendasari kegiatan autonomous maintenance yaitu :
a. Seiri (clearing up): Menyingkirkan benda-benda yang tidak diperlukan.
b. Seiton (organazing): Menempatkan benda-benda yang diperlukan dengan
rapi.
c. Seiso (cleaning): Membersikan peralatan dan tempat kerja.
d. Seikatsu(standarizing): Membuat standar kebersihan, pelumasan dan
inspeksi.
19

e. Shitsuke (training and discipline): Meningkatkan skill dan moral.


Autonomous maintenance diimplementasikan melalui 7 langkah yang akan
membangun keahlian yang dibutuhkan operator agar mereka mengetahui tindakan
apa yang harus dilakukan.
Tujuh langkah kegiatan yang terdapat dalam autonomous maintenance adalah :
1. Membersihkan dan memeriksa (clean and inspect).
2. Membuat standar pembersihan dan pelumasan.
3. Menghilangkan sumber masalah dan area yang tidak terjangkau (eliminet
e problem and anaccesible area).
4. Melaksanakan pemeliharaan mandiri (conduct autonomous maintenance).
5. Melaksanakan pemeliharaan menyeluruh (conduct general inspection).
6. Pemeliharaan mandiri secara penuh (fully autonomous maintenance).
7. Pengorganisasian dan kerapian (organization and tidines).

3.2.4.4 Tugas dan Pelaksanaan Kegiatan Maintenance


Semua tugas-tugas atau kegiatan dari pada maintenance dapat digolongkan ke
dalam salah satu dari lima tugas pokok yang berikut:
1. Inspeksi (Inspections)
Kegiatan inpeksi meliputi kegiatan pengecekan dan pemeriksaan secara
berkalas (routine schedule check) terhadap mesin/peralatan sesuai dengan
rencana yang bertujuan untuk mengetahui apakah perusahaan selalu
mempunyai fasilitas mesin/peralatan yang baik untuk menjamin kelancaran
proses produksi.
2. Kegiatan Teknik (Engineering)
Kegiatan teknik meliputi kegiatan percobaan atas peralatan yang baru dibeli
dan kegiatan pengembangan komponen atau peralatan yang perlu diganti,
serta melakukan penelitian-penelitian terhadap kemungkinan pengembangan
komponen atau peralatan, juga berusaha mencegah terjadinya kerusakan.
3. Kegiatan Produksi
Kegiatan produksi merupakan kegiatan pemeliharaan yang sebenarnya yaitu
dengan memperbaiki seluruh mesin/peralatan produksi.
4. Kegiatan Administrasi
20

Kegiatan administrasi merupakan kegiatan yang berhubungan dengan


pencatatan-pencatatan mengenai biaya-biaya yang terjadi dalam melakukan
kegiatan pemeliharaan, penyusunan planning dan schedulling, yaitu rencana
kapan kegitan suatu mesin/peralatan tersebut harus diperiksa, diservice dan
diperbaiki.
5. Pemeliharaan Bangunan
Kegiatan pemeliharaan bangunan merupakan kegiatan yang tidak termasuk
dalam kegiatan teknik dan produksi dari bagian maintenance.

3.2.5 OEE (Overall Equipment Effectiveness)


Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan pengukuran kritis yang
digunakan dalam penerapan TPM untuk mengevaluasi kapabilitas sebuah peralatan
dalam sebuah sistem produksi. OEE terdiri dari tiga komponen utama yaitu
availability, performance, dan quality. Ketiga nilai komponen tersebut mencakup
seluruh pokok permasalahan yang dapat mempengaruhi seberapa banyak produk
yang dapat dihasilkan oleh peralatan dan operator sistem yang digunakan (Borris,
2006).
Nakajima dalam Amalia (2006) mendefinisikan Overall Equipment
Effectiveness (OEE) adalah metode yang digunakan sebagai alat ukur (metric) dalam
penerapan TPM guna menjaga peralatan pada kondisi ideal dengan menghapuskan
six big losses peralatan. Nakajima. (1988) mendefinisikan six big losses sebagai
berikut :
1. Equipment failure/breakdown losses, dikategorikan sebagai kerugian waktu
akibat penurunan produktivitas dan kerugian kualitas akibat adanya defect.
2. Set-up/adjustment time losses, merupakan hasil dari downtime dan defect
yang terjadi ketika produksi dari item yang terakhir dan peralatan ditentukan
sebagai prasyarat dari item yang lainnya.
3. Idling and minor stop losses, terjadi ketika produksi diinterupsi oleh
temporary malfunction atau mesin yang sedang berhenti.
4. Reduced speed losses, merupakan perbedaan antara design speed dengan
actual operating speed.
5. Reduced yield, merupakan losses yang terjadi selama tahap-tahap awal dari
produksi ketika start up mesin hingga mencapai kondisi stabil.
21

6. Quality defects and rework, merupakan losses di dalam kualitas


yangdisebabkan oleh malfunctioning production equipment.

3.2.6 Tujuan Penerapan Overall Equipment Effectiveness (OEE)


OEE dapat diterapkan diberbagai tingkat dalam lingkungan manufaktur untuk
berbagai tujuan, seperti (Nakajima, 1998):
1. Digunakan sebagai “benchmark” untuk mengukur performa awal dari suatu
pabrik secara keseluruhan. Dalam hal ini ukuran OEE awan dapat
dibandingkan dengan ukuran OEE berikutnya, sehingga mengkuantifikasikan
tingkat perbaikan yang dibuat.
2. Suatu nilai OEE, yang dihitung untuk satu lini produksi, dapat digunakan
untuk membandingkan performa lini untuk seluruh pabrik, sehingga
memfokuskan diri pada setiap lini produksi yang buruk.
3. Jika mesin beroperasi sendiri, suatu ukuran OEE dapat mengetahui performa
mesin yang buruk, dan kemudian menunjukkan dimana harus memfokuskan
sumber daya TPM.
Selain untuk mengetahui performa peralatan, suatu ukuran OEE dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk keputusan pembelian peralatan baru.
Dalam hal ini, pihak pengambilan keputusan mengetahui jelas kapasitas peralatan
yang ada sehingga keputusan yang tepat dapat diambil dalam rangka memenuhi
permintaan pelanggan.

3.2.7 Pengukuran Nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE)


Nilai Overall Equipment Effectiveness diperoleh dari perkalian ketiga faktor
OEE, yaitu availability, performance rate, dan quality rate. Rumus perkalian ketiga
faktor tersebut adalah sebagai berikut (Cut lisna, 2009):

OEE(%) = (Availability x Performance x Quality)% ..................... (3.1)

Kondisi operasi mesin/peralatan produksi tidak akan akurat ditunjukkan jika


hanya didasarkan pada perhitungan satu faktor saja, misalnya performance efficiency
saja. Enam faktor pada six big losses baru minor stoppages saja yang dihitung pada
performance efficiency mesin/peralatan. Rugi-rugi lainnya belum dihitung. Keenam
22

faktor dalam six big losses harus diikutkan dalam perhitungan OEE, kemudian
kondisi aktual dari mesin/peralatan dapat dilihat secara akurat.
1. Ketersediaan (Availability)
Availability merupakan rasio operation time terhadap waktu loading time
nya. Sehingga untuk dapat menghitung availability mesin dibutuhkan nilai-nilai dari
(Cut lisna, 2009):
a. Waktu operasi (Operation time)
b. Waktu persiapan (Loading time)
c. Waktu tidak bekerja (Downtime)
Nilai avaibility dihitung dengan rumus sebagai berikut:
𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝐴𝑣𝑎𝑖𝑙𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = 𝑥 100%
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒−𝑑𝑜𝑤𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒
= 𝑥 100% ................... (3.2)
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒

Loading time adalah waktu yang tersedia (availability time) perhari atau
perbulan dikurangi dengan waktu downtime mesin yang direncanakan (planned
downtime).

Loading time = Total availability – Planned downtime ................. (3.3)

Planned downtime adalah jumlah waktu downtime yang telah direncanakan


dalam rencana produksi termasuk didalamnya waktu downtime mesin untuk
pemeliharaan (scheduled maintenance) atau kegiatan manajemen lainnya.
Operation time merupakan hasil pengurangan loading time dengan waktu
downtime mesin (non-operation time), dengan kata lain operation time adalah waktu
operasi yang tersedia (available time) setelah waktu-waktu downtime mesin
dikeluarkan dari total available time yang direncanakan. Downtime mesin adalah
waktu proses yang seharusnya digunakan mesin akan tetapi karena adanya gangguan
pada mesin/peralatan (equipment failures) mengakibatkan tidak ada output yang
dihasilkan. Downtime mesin berhenti beroperasi akibat kerusakan mesin/peralatan,
penggantian cetakan (dies), pelaksanaan prosedur set-up dan adjusment dan lain
sebagainya.
2. Performance Effienciency
23

Performance Effienciency merupakan hasil perkalian dari operating speed


rate dan net operating speed, atau rasio kuantitas produk yang dihasilkan dikalikan
dengan waktu siklus idealnya terhadap waktu yang tersedia untuk melakukan proses
produksi (operation time).
Operating speed rate merupakan perbandingan antara kecepatan ideal mesin
sebenarnya (theoretichal/ideal cycle time) dengan kecepatan aktual mesin (actual
cycle time). Persamaan matematikanya dapat ditunjukan sebagai berikut (Cut lisna,
2009):
𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑠𝑝𝑒𝑒𝑑 𝑟𝑎𝑡𝑒 = ............................ (3.4)
𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑁𝑒𝑡 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑟𝑎𝑡𝑒 = ......................... (3.5)
𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑚𝑒

Net operation time merupakan perbandingan antara jumlah produk yang


diproses (Processed amount) dikalikan dengan actual cycle time dengan actual cycle
time dengan operation time. Net operation time berguna untuk menghitung rugi-rugi
yang diakibatkan oleh minor stoppages dan menurunnya kecepatan produksi
(reduced speed). Tiga faktor penting yang dibutuhkan untuk menghitung
performance efficiency:
a. ideal cycle time (waktu siklus ideal/waktu standar)
b. processed amount (jumlah produk yang diproses)
c. operation time (waktu operasi mesin)
Performancy efficiency dapat dihitung sebagai berikut:
Performancy efficiency = net operating x operating speed rate

𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑥 𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒


= 𝑥
𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒

𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑥 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒


𝑃𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑛𝑐𝑒𝑒𝑓𝑓𝑖𝑐𝑖𝑒𝑛𝑐𝑦 = 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑥 100% .. . (3.6)

3. Rasio Kualitas Produk (rate of quality product)


Rate of quality product adalah rasio jumlah produk yang baik terhadap jumlah total
produk yang diproses. Jadi rate of quality product adalah hasil perhitungan dengan
menggunakan dua faktor berikut (Cut lisna, 2009):
a. Processed amount (jumlah produk yang diproses)
b. Defect amount (jumlah produk yang cacat)
24

Rate of quality product dapat dihitung sebagai berikut:

𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑥 𝑑𝑒𝑓𝑒𝑐𝑡 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡


𝑅𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑞𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑦 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑠 = 𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡
𝑥 100 .. (3.7)

OEE memiliki standar world class untuk semua indikator sebagai berikut:
1. Avaibility rate 90% atau lebih
2. Performance rate 95% atau lebih
3. Quality rate 99% atau lebih
4. OEE 85% atau lebih

3.2.8 Mesin Parut


Didalam melaksanakan kegiatan produksinya, UD. Hidup Baru II
menggunakan mesin-mesin buatan luar negeri. Pada umumnya semua mesin dapat
dioperasikan, tetapi untuk meningkatkan produktivitas dilakukan modifikasi-
modifikasi terhadap mesin yang dilakukan oleh bagian peralatan. Adapun mesin
yang digunakan menjadi objek penelitian adalah mesin parut. Mesin ini berfungsi
untuk memarut kelapa hingga menjadi halus. Dengan merek Teco 3-Phase Induction
Motor. Dengan tegangan 415 V, daya 30 KW, putaran 1460 rpm, buatan China.

3.3 Metodelogi Penelitian


3.3.1 Data dan sumber data
1. lokasi penelitian
Sasaran penelitian dilaksanakan di UD. Hidup Baru II bertempat di Jl. B.
Aceh-Medan Km. 238 No 88, Desa Paya Rangkuluh, Kec Kuta Blang, Kab. Bireuen.
Objek penelitian adalah pada perawatan mesin parut.
2. Data primer
Data primer data yang diperoleh melalui pengamatan, dan wawancara dengan
pihak UD. Hidup Baru II yang hasil datanya aktual dan dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya.
3. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang berasal dari sumber-sumber lain dari objek
yang dalam hal ini dimasukkan untuk menggali teori yang mendukung kerja praktek
25

dalam memecahkan masalah. Data ini diperoleh dari laporan atau referensi yang
berhubungan dengan kerja praktek, seperti masalah efektivitas mesin.

3.3.2 Teknik Pengumpulan Data


Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat penelitian penjelasan
(explanatory research) yaitu penelitian yang berusaha mengetahui efektivitas mesin
kukur di UD. Hidup Baru dengan metode OEE.

1. Penelitian lapangan (Field research), pengumpulan data yang dilakukan


dengan mendatangi lokasi penelitian dan melakukan kegiatan pengumpulan
data yang terdiri atas kegiatan berikut:

a. Wawancara (Interview )

Memberikan sejumlah pertanyaan terstruktur kepada beberapa sampel


karyawan maupun orang-orang yang bekerja di sana. Pertanyaan terkait
mengenai informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.

b. Pengamatan Langsung Terhadap Objek (Observasi).

2. Library research penulis mengadakan penelitian dengan membaca buku-buku


dan karya-karya ilmiah yang berhubungan dengan penulisan ini.

3.3.3 Definisi Operasional Variabel

Beberapa vaiabel-variabel operasional yang digunakan dalam penelitian ini


adalah:

1. Efektivitas (tepat sasaran) merupakan upayauntuk mencapai tujuan dengan


waktu yang cepat dan tepat yaitu upaya yang dilakukan dengan perbaikan
yang diorganisir dan dilaksanakan berdasarkan orientasi kemasa depan,
dengan pengendalian dan dokumentasi mengacu pada rencana yang telah
disusun sebelumnya.
2. Efisiensi (tepat guna) merupakan upaya yang dilakukan untuk mencapai
tujuan dengan memperhatikan segala aspek, atau faktor-faktor yang
ditimbulkan dan melakukan penyelesaian masalah
3. Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga
mesi/peralatan dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian/penggantian
26

yang diperlukan agar terdapat suatu keadaan operasi produksi yang


memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.

3.3.4 Metode analisis


Dengan melihat permasalahan yang ada pada perusahaan maka penelitian ini
dianalisis dengan melakukan analisis terhadap perbaikan efektivitas menggunakan
metode Overall Equipment Effectiveness (OEE). Adapun rumus yang digunakan
dalam penelitian ini adalah:
1. Ketersediaan (Availability)
𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝐴𝑣𝑎𝑖𝑙𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = 𝑥 100%
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒−𝑑𝑜𝑤𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒
= 𝑥 100%
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒

2. Performance Effienciency
𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑥 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑃𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑛𝑐𝑒 𝑒𝑓𝑓𝑖𝑐𝑖𝑒𝑛𝑐𝑦 = 𝑥 100%
𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒

3. Rasio Kualitas Produk (rate of quality product)


𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑥 𝑑𝑒𝑓𝑒𝑐𝑡 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡
𝑅𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑞𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑦 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑠 = 𝑥 100
𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡

3.4 Hasil Penelitian Dan Pembahasan


3.4.1 Hasil Penelitian
a. Data waktu breakdown time
Data pembelian bahan baku yang dilakukan oleh UD. Hidup Baru II selama
satu tahun terakhir adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1. Data Total Waktu Kerusakan (Breakdown) Mesin Parut
Total Waktu Total Waktu
No Periode 2015 Kerusakan Kerusakan
(Menit) (Jam)
1 Januari 190 3.17
2 Februari 185 3.08
3 Maret 215 3.58
4 April 220 3.67
5 Mei 150 2.5
27

Tabel 3.1. Data Total Waktu Kerusakan (Breakdown) Mesin Parut (lanjutan)
Total Waktu Total Waktu
No Periode 2015 Kerusakan Kerusakan
(Menit) (Jam)
6 Juni 285 4.75
7 Juli 182 3.03
8 Agustus 187 3.12
9 September 210 3.5
10 Oktober 215 3.58
Sumber: UD. Hidup Baru II
b. Planned Downtime
Planned Downtime merupakan waktu yang sudah dijadwalkan dalam rencana
produksi, termasuk pemeliharaan terjadwal dan kegiatan manajemen yang lain
seperti pertemuan. Pemeliharaan terjadwal dilakukan oleh pihak perusahaan untuk
menjaga agar mesin tidak rusak saat proses produksi berlangsung. Pemeliharaan ini
dilakukan secara rutin dan sesuai jadwal yang telah ditetapkan perusahaan. Data
waktu pemeliharaan dapat dilihat di table 3.2 dibawah ini.
Tabel 3.2. Data waktu Pemeliharaan Mesin Parut
Total Waktu Total Waktu
No Periode
Pemeliharaan (Menit) Pemeliharaan (Jam)
1 Januari 90 1.5
2 Februari 135 2.25
3 Maret 120 2
4 April 115 1.92
5 Mei 95 1.58
6 Juni 158 2.63
7 Juli 130 2.17
8 Agustus 90 1.5
9 September 95 1.58
10 Oktober 120 2
Sumber: UD. Hidup Baru II

c. Data Waktu Setup Mesin parut


28

Waktu setup adalah waktu produksi untuk memproduksi suatu jenis produk
setelah jenis produk lain selesai dilaksanakan. Waktu yang dibutuhkan untuk
melaksanakan setup mesin mulai dari waktu berhenti mesin sampai proses untuk
kegiatan produksi berikutnya. Data waktu setup mesin kukur dapat dilihat pada tabel
3.3.
Tabel 3.3. Data Waktu Setup Mesin Parut

No Periode Total Set Up (Jam)


1 Januari 18,36
2 Februari 18,48
3 Maret 16,02
4 April 18,56
5 Mei 15,22
6 Juni 18
7 Juli 17,2
8 Agustus 15
9 September 18
10 Oktober 16,30
Sumber: UD. Hidup Baru II

d. Data Produksi
Data produksi mesin kukur adalah:
a. Machine work time (waktu kerja mesin) adalah total waktu proses untuk
memarut bahan baku kelapa pada setiap bulan dalam satuan jam.
b. Speed rate adalah rata-rata kecepatan mesin kukur untuk memarut bahan
baku kelapa pada setiap bulan dalam satuan kg/menit.
c. Jumlah produksi adalah jumlah masa produk yang diproses dalam satuan kg.
d. Total broke (jumlah produk cacat) adalah jumlah massa produk yang ditolak
karena cacat pada produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi kualitas
produk yang telah ditentukan dalam satuan kg.
29

Tabel 3.4. Data Produksi Mesin Parut


Machine Jumlah
Speed Rate Jumlah Produksi
Bulan Working Time Produk Cacat
(Kg/Menit) (Kg)
(Jam) (Kg)
1 360 85.56 756.000 800
2 320 91.45 783.000 600
3 325 76 776.000 700
4 300 83.52 751.000 950
5 280 85.56 782.000 850
6 280,5 92.5 764.000 800
7 308 83.56 767.000 550
8 316 74.56 786.000 650
9 345 72.8 791.000 700
10 290 69.65 788.000 750
Sumber: UD. Hidup Baru II

e. Data Jumlah Jam Kerja (availabel time)


Total available time adalah total waktu mesin kukur yang tersedia untuk
melakukan proses produksi dalam satuan jam. Data jumlah jam kerja tersedia
(available time) tiap bulan dapat dilihat pada tabel 3.5.
Tabel 3.5. Data Available Time
Available Time
Periode 2015
(jam)
Januari 360
Februari 352
Maret 305
April 352
Mei 352
Juni 360
Juli 320
Agustus 358
September 355
Oktober 360
Sumber: UD. Hidup Baru II
30

1. Penentuan Ideal Cycle Time (ICT)


Penentuan ideal cycle time adalah berdasarkan kecepatan mesin parut untuk
memarut kelapa, dimana dalam sehari rata-rata mesin dapat memarut kelapa
sebanyak 40.000 kg. Sehingga ideal cycle time/kg adalah 0,93 jam/40.000 kg =
0,000023 jam/kg. Hasil perhitungan ideal cycle time dapat dilihat pada tabel 3.6.

Tabel 3.6. ideal Cycle Time Di Mesin Parut


Speed Rate Speed Rate Ideal Cycle
No Periode
(Kg/Menit) (Kg/Jam) time (jam/kg)
1 Januari 85.56 1.43 0.00035
2 Februari 91.45 1.52 0.00038
3 Maret 76 1.27 0.00031
4 April 83.52 1.39 0.00034
5 Mei 85.56 1.43 0.00035
6 Juni 92.5 1.54 0.00038
7 Juli 83.56 1.39 0.00034
8 Agustus 74.56 1.24 0.00031
9 September 72.8 1.21 0.0003
10 Oktober 69.65 1.16 0.00029
Sumber: Pengolahan Data

2. Perhitungan Availability
Availability adalah rasio waktu operation time terhadap loading time-nya.
Untuk menghitung nilai availability digunakan rumus sebagai berikut:
𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝐴𝑣𝑎𝑖𝑙𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = 𝑥 100%
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒−𝑑𝑜𝑤𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒
= 𝑥 100%
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒

 Loading Time
31

Loading time adalah waktu yang tersedia per hari atau per bulan dikurangi
dengan downtime mesin yang direncanakan. Perhitungan loading time ini
dapat dihitung dengan rumus berikut:
Loading time = Total Available Time – Planned down time
Loading time = 360 – 1,5 = 358,5
Hasil loading time setiap bulan dapat dilihat pada tabel 3.7.
Tabel 3.7 Loading Time setiap bulan pada mesin parut
Planned
Total Available Loading time
Periode Downtime
Time (jam) (jam)
(Jam)
Januari 360 1.5 358.5
Februari 352 2.25 349.75
Maret 305 2 303
April 352 1.92 350.08
Mei 352 1.58 350.42
Juni 360 2.63 357.37
Juli 320 2.17 317.83
Agustus 358 1.5 356.5
September 355 1.58 353.42
Oktober 360 2 358
Sumber: Pengolahan Data

 Down Time
Down time adalah waktu yang seharusnya digunakan untuk melakukan
proses produksi akan tetapi karena adanya gangguan pada mesin maka
mengakibatkan mesin tidak dapat melaksanakan proses produksi sebagai
mestinya.
Downtime = Breakdown + Set Up
Downtime = 3,17 + 18,36 = 21,53
Hasil Downtime setiap bulan produksi dapat dilihat pada tabel 3.8.
32

Tabel 3.8. Downtime setiap bulan mesin parut


Breakdown Time Downtime
Periode Set Up (Jam)
(jam) (jam)
Januari 3.17 18,36 21.53
Februari 3.08 18,48 21.56
Maret 3.58 16,02 19.6
April 3.67 18,56 22.23
Mei 2.5 15,22 17.72
Juni 4.75 18 22.75
Juli 3.03 17,2 20.23
Agustus 3.12 15 18.12
September 3.5 18 21.5
Oktober 3.58 16,30 19.88
Sumber: Pengolahan Data

 Operation Time
Operation time adalah total waktu proses yang efektif. Dalam hal ini
operation time adalah hasil pengurangan loading time dengan downtime
mesin. Formula matematikanya adalah:
Operation time = loading time – downtime
Operation time = 358,5 – 21,53 = 336,97
Hasil operation time setiap bulan produksi dapat dilihat pada tabel 3.9.
Tabel 3.9 Hasil Operation Time Setiap Bulan
LoadingTime Downtime Operation
Periode
(jam) (Jam) time (jam)
Januari 358.5 21.53 336.97
Februari 349.75 21.56 328.19
Maret 303 19.6 283.4
April 350.08 22.23 327.85
Mei 350.42 17.72 332.7
Juni 357.37 22.75 334.62
Juli 317.83 20.23 297.6
Agustus 356.5 18.12 338.38
September 353.42 21.5 331.92
33

Tabel 3.9 Hasil Operation Time Setiap Bulan (lanjutan)


LoadingTime Downtime Operation
Periode
(jam) (Jam) time (jam)
Oktober 358 19.88 338.12
Sumber: Pengolahan Data

 Nilai Availability
Nilai availability mesin parut pada bulan januari dapat dihitung dengan
rumus:
𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝐴𝑣𝑎𝑖𝑙𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = 𝑥 100%
𝑙𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒
336,97
𝐴𝑣𝑎𝑖𝑙𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = 𝑥 100%
358,5
= 93,99 %
Hasil perhitungan nilai availability periode januari sampai dengan oktober
2015 dapat dilihat pada tabel 3.10.
Tabel 3.10 Availability Mesin Parut Periode Januari-Oktober 2015
Operation time LoadingTime
Periode Availability (%)
(jam) (jam)
Januari 336.97 358.5 93.99
Februari 328.19 349.75 93.84
Maret 283.4 303 93.53
April 327.85 350.08 93.65
Mei 332.7 350.42 94.94
Juni 334.62 357.37 93.63
Juli 297.6 317.83 93.63
Agustus 338.38 356.5 94.92
September 331.92 353.42 93.92
Oktober 338.12 358 94.44
Sumber: Pengolahan Data
Dari tabel 3.10 diatas dapat dilihat bahwa nilai availability dari mesin parut
berada diatas standar. Nilai standar availabiliti adalah sebesar 90%. Nilai availability
dari mesin parut yang tertinggi ada pada bulan Mei yaitu sebesar 94,94 %.
Sedangkan yang terendah ada pada bulan Maret yaitu sebesar 93,53 %. Dari tabel
34

diatas dapat disimpulkan bahwa ketersediaan atau kesiapan mesin parut dalam proses
produksi dalam keadaan baik.

2. Perhitungan Performance Efficiency


Performance effeciency adalah rasio kuantitas produk yang dihasilkan
dikalikan dengan waktu siklus idealnya terhadap waktu yang tersedia untuk
melakukan proses produksi (operation time). Untuk menghitung nilai performance
effeciency digunakan rumus sebagai berikut:
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑥 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒
𝑃𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑛𝑐𝑒 𝑒𝑓𝑓𝑖𝑐𝑖𝑒𝑛𝑐𝑦 = 𝑥 100%
𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒

Mesin parut pada bulan januari memiliki Performace Effeciency sebagai berikut:

756000 𝑥 0,00065
𝑃𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑛𝑐𝑒 𝑒𝑓𝑓𝑖𝑐𝑖𝑒𝑛𝑐𝑦 = 𝑥 100%
336,97
= 51,60 %
Dengan perhitungan yang sama untuk menghitung Performance Efficiency bulan
januari sampai dengan oktober 2015 dapat dilihat pada tabel 3.11.
Tabel 3.11. Performance Efficiency Mesin Parut periode januari – oktober 2015
Jumlah Ideal Cycle Performance
Operation
Periode produksi (kg) Time Efficiency
Time (jam)
(jam/kg) (%)
Januari 756.000 0.00035 336.97 78.52
Februari 783.000 0.00038 328.19 90.66
Maret 776.000 0.00031 283.4 84.88
April 751.000 0.00034 327.85 77.88
Mei 782.000 0.00035 332.7 82.26
Juni 764.000 0.00038 334.62 86.76
Juli 767.000 0.00034 297.6 87.62
Agustus 786.000 0.00031 338.38 72.01
September 791.000 0.0003 331.92 71.49
Oktober 788.000 0.00029 338.12 67.58
Sumber: Pengolahan Data
Dari Tabel 3.11 diatas dapat dilihat bahwa nilai Performance Rate mesin
parut masih berada dibawah standar, nilai standar untuk performance rate adalah
35

95%. Mesin parut mempunyai nilai Performance Rate dibawah standar bulan
oktober terdapat nilai paling rendah yaitu sebesar 67,58, dan bulan februari terdapat
nilai paling tinggi yaitu sebesar 90,66. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil dari
perhitungan Performance Rate yang terdapat nilai paling rendah diantara kelima
mesin parut sebesar 67,58, kemudian hasil perhitungan di atas belum bisa diambil
sebuah keputusan untuk menjadi fokus perawatan mesin parut di UD. Hidup Baru II.

3. Perhitungan Rate of Quality Product


Rate of quality product adalah rasio produk yang baik yang sesuai dengan
spesifikasi kualitas produk yang telah ditentukan terhadap jumlah produk yang
diproses. Perhitungan rate of quality product menggunakan data produksi yang ada
pada tabel 3.4 diatas, yaitu jumlah produksi dan jumlah produk cacat. Dalam
perhitungan rasio rate of quality product ini process amount adalah jumlah produksi
sedangkan defect amount adalah jumlah produk cacat, dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:

𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑥 𝑑𝑒𝑓𝑒𝑐𝑡 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡


𝑅𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑞𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑦 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑠 = 𝑥 100%
𝑝𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝑎𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡
Untuk mesin parut bulan januari adalah sebesar:
756000 𝑥 800
𝑅𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑞𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑦 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑠 = 𝑥 100
756000
= 99,89 %
Dengan perhitungan yang sama untuk menghitung rate of quality product
mesin parut dari periode januari sampai oktober 2015 dapat dilihat pada tabel 3.12.
Tabel 3.12 Rate of Quality Product Mesin Parut Periode Januari – Oktober 2015
Jumlah Jumlah
Rate of
Periode produksi (kg) Produk cacat
Quality (%)
(kg)
Januari 756.000 800 99.89
Februari 783.000 600 99.92
Maret 776.000 700 99.91
April 751.000 950 99.87
Mei 782.000 850 99.89
Juni 764.000 800 99.89
36

Tabel 3.12 Rate of Quality Product Mesin Parut Periode Januari – Oktober 2015
(lanjutan)
Jumlah Jumlah
Rate of
Periode produksi (kg) Produk cacat
Quality (%)
(kg)
Juli 767.000 550 99.92
Agustus 786.000 650 99.91
September 791.000 700 99.91
Oktober 788.000 750 99.90
Sumber: Pengolahan Data
Dari Tabel 3.12 diatas dapat dilihat bahwa nilai rate of quality product mesin
parut masih berada diatas standar, nilai standar untuk performance rate adalah 99%.
Mesin parut mempunyai nilai rate of quality product dibawah standar bulan april
terdapat nilai paling rendah yaitu sebesar 99,87, dan bulan februari dan bulan juli
terdapat nilai paling tinggi yaitu sebesar 99,92. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil
dari perhitungan rate of quality product yang terdapat nilai paling rendah diantara
kelima mesin parut sebesar 99,87, bahwa rasio hasil kelapa yang diparut dlam keadaan
baik atau bagus seperti yang diharapkan oleh perusahaan.

4. Perhitungan Overall Equipment Effectivenes (OEE)


Setelah nilai availability, performance efficiency, dan rate of quality product
pada mesin parut diperoleh maka dilakukan perhitungan nilai overall equipment
effectiveness (OEE) untuk mengetahui besarnya efektivitas penggunaan mesin parut
di UD. Hidup Baru II.
Perhitungan OEE adalah perkalian nilai-nilai availability, performance
efficiency, dan rate of quality product yang sudah diperoleh.
OEE (%) = availability (%) x performance efficiency (%) x quality rate (%)
Mesin parut pada bulan januari memiliki Overall Equipment Effectiveness (OEE)
sebesar:
OEE = (0,9399 x 0,7852 x 0,9989 ) x 100% = 73,72 %
Dengan perhitungan yang sama, maka nilai OEE mesin parut dari bulan januari
sampai oktober 2015 dapat dilihat pada tabel 3.13.
37

Tabel 3.13 Nilai OEE Periode Januari-Oktober 2015


Overall
Performance
Availability Rate of Equipment
Periode Effeciency
(%) Quality (%) Effectiveness
(%)
(%)
Januari 93.99 78.52 99.89 73.72
Februari 93.84 90.66 99.92 85.02
Maret 93.53 84.88 99.91 79.31
April 93.65 77.88 99.87 72.83
Mei 94.94 82.26 99.89 78.011
Juni 93.63 86.76 99.89 81.14
Juli 93.63 87.62 99.92 81.97
Agustus 94.92 72.01 99.91 68.29
September 93.92 71.49 99.91 67.08
Oktober 94.44 67.58 99.90 63.75
Sumber: Pengolahan Data
Dari tabel 3.13 diatas dapat dilihat bahwa nilai OEE mesin parut ada yang
berada pada standar dan juga ada yang berada dibawah standar dibawah. Nilai
standar untuk OEE adalah 85%. Nilai OEE<65% tidak dapat diterima, 65-75%
cukup baik dengan hanya ada kecenderungan adanya peningkatan tiap kuartalnya,
dan 75-85% berarti sangat bagus untuk terus ditingkatkan hingga world class.

Mesin parut mempunyai nilai OEE yang memenuhi standar hanya ada pada
bulan februari yakni sebesar 85,02 %, sedangkan bulan lainnya memiliki nilai OEE
dibawah standar. Nilai OEE yang berada dibawah standar memiliki nilai OEE
tertinggi selama 4 bulan yaitu pada bulan maret, mei, juni, juli yang berada antara
75-85%, dapat disimpulkan kinerja mesin parut selama 4 bulan pada periode 2015
sangat bagus untuk terus ditingkatkan hingga world class, dan 4 bulan berada antara
65-75% yaitu pada januari, april, agustus, september berarti cukup baik dengan
hanya ada kecenderungan adanya peningkatan tiap kuartalnya, dan 1 bulan yaitu
bulan oktober mempunyai nilai OEE <65%, berarti tidak dapat diterima.

3.4.2 Pembahasan
Perhitungan Overall Equipment Effectiveness dilakukan untuk melihat tingkat
efektivitas penggunaan mesin parut selama periode Januari 2015 – Oktober 2015.
38

Pengukuran Overall Equipment Effectiveness ini merupakan kombinasi dari faktor


waktu, kualitas pengoperasian mesin dan kecepatan produksi mesin.
1. Tingginya nilai OEE mesin parut pada priode Februari 2015 yaitu 85,02 %
dipengaruhi oleh tingginya rasio Rate of Quality Product mesin yang
besarnya mencapai 99,92 % dan tingginya rasio Availability mesin sebesar
93,84 %, sedangkan Performance Efficiency hanya sebesar 90,66 %.
2. Rendahnya nilai OEE mesin parut pada periode Oktober 2015 disebabkan
oleh rasio Performance Efficiency yang hanya sebesar 67,58 %, sedangkan
rasio Availability dan Rate of Quality Product sudah cukup tinggi yaitu
sebesar 94,44 % dan 99,90 %.