Anda di halaman 1dari 38

ASKEP FILARIASIS

DI

OLEH

MIRANDA KARMILA

1512210007

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)


GETSAMPENA LHOKSUKON

Tahun ajaran 2017-2018


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dimana atas karuniaNya kami
dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ASKEP FILARIASIS”dengan baik. kami
juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada dosen kami yang telah memberikan arahan
dan bimbingan demi menyelesaikan makalah ini dengan baik.Sebelumnya saya meminta
maaf apabila di dalam makalah ini banyak kesalahan-kesalahan dalam pengetikan.Semoga
makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat bagi kita semua.Sekian dan terima
kasih.
DAFTAR ISI

JUDUL .......................................................................................................

KATA PENGANTAR ...............................................................................

DAFTAR ISI ..............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .....................................................................

1.2 Tujuan.................................................................

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi filariasis..........................................................................

2.2 Etiologi.............................................................

2.3 Patofisiologi......................................................................

2.4 Manifestasi klinis..................................................

2.5 Komplikasi................................................

2.6 Pemeriksaan diagnostik...........................................

2.7 Penata laksanaan.................................................

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN..........................................................

3.1 Pengkajian.................................................

3.2 Diagnosa keperawatan...................................

3.3 Intervensi...............................................

3.4 Landasan kasus.....................................................

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan...........................................................................

4.2 Saran.................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian


integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang berbentuk
pelayanan biopsikososial dan spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada individu,
keluarga, masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencankup seluruh siklus kehidupan
manusia. Pelayanan keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan,
pencegahan penyakit, penyembuhan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan serta
pemeliharaan kesehatan khususnya pada klien. (Perry, Potter. 2005)

Filariasis atau yang dikenal dengan penyakit kaki gajah mulai ramai diberitakan sejak
akhir tahun 2009, akibat terjadinya kematian pada beberapa orang. Sebenarnya penyakit ini
sudah mulai dikenal sejak 1500 tahun oleh masyarakat, dan mulai diselidik lebih mendalam
ditahun 1800 untuk mengetahui penyebaran, gejala serta upaya mengatasinya. Baru ditahun
1970, obat yang lebih tepat untuk mengobati filarial ditemukan. Rubrik ini berusaha
menjelaskan mengapa hal tersebut dapat terjadi dan mengapa penanggulangan Penyakit Kaki
Gajah harus segera dilaksanakan. Penyakit filaria yang disebabkan oleh cacing khusus cukup
banyak ditemui di negeri ini dan cacing yang paling ganas ialah Wuchereria bancrofti,
Brugia, malayi, Brugia timori, Penelitian di Indonesia menemukan bahwa cacing jenis Brugia
dan Wuchereria merupakan jenis terbanyak yang ditemukan di Indonesia, sementara cacing
jenis Brugia timori hanya didapatkan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di pulau Timor. Di
dunia, penyakit ini diperkirakan mengenai sekitar 115 juta manusia, terutama di Asia Pasifik,
Afrika, Amerika Selatan dan kepulauan Karibia. Penularan cacing Filaria terjadi melalui
nyamuk dengan periodisitas subperiodik (kapan saja terdapat di darah tepi) ditemukan di
Indonesia sebagian besar lainnya memiliki periodisitas nokturnal dengan nyamuk Culex,
nyamuk Aedes dan pada jenis nyamuk Anopheles. Nyamuk Culex juga biasanya ditemukan
di daerah-daerah urban, sedangkan Nyamuk Aedes dan Anopheles dapat ditemukan di
daerah-daerah rural. (Riyanto,harun.2010)

Filariasis merupakan penyakit menular (penyakit kaki gajah) yang disebabkan oleh
cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.penyakit ini bersifat menahun, dan
bila tidak dapat pengobatan daapt menimbulakan cacat menetap berupa pembesaran kaki,
lengan, dan alat kelamin, baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat
bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehinggamenjadi
beban keluarga. Berdasarkan laporan dari hasil survey pada tahun 2000 yang lalu tercatat
sebanyak 1553 desa di 647 puskesmas tersebar di 231 kabupaten sebagai lokasi endemis,
dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survei laboratorium, melalui pemeriksaan
darah jari, rata-rata mikrofilaria rate (Mf Rate) 3,1%berarti sekitar 6 juta orang sudah
terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang memepunyai resiko tinggi untuk ketularan
karena nyamuk penularannya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas.
(Chairufatah,alex.2009)
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan penyakit filariasis adalah penyakit endemis yang
apabila tidak ditangani secara cepat akan memperluas penyebaran dan penularannya kepada
manusia. Oleh karena itu kita perlu mengetahui apa itu filariasis, serta hal-hal yang terkait
dengannya. Berdasarkan paparan dari fakta inilah maka saya selaku penulis tertarik untuk
membahas kasus mengenai penyakit filariasis. (Riyanto, harun.2005)

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami konsep dan melaksanakan Asuhan Keperawatan pada


pasien dengan penyakit filarisis.

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada psien dengan penyakit filarisis


b. Mahasiswa mampu menganalisa data sesuai dengan pengkajian pada pasien dengan
penyakit.
c. Mahasiswa mampu membuat diagnosa keperawatan pada pasien dengan penyakit
filarisis.
d. Mahasiswa mampu membuat rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan
penyakit filarisis.
e. Mahasiswa mampu melakukan implementasi asuhan keperawatan pada pasien dengan
penyakit filarisis.
f. Mahasiswa mampu mengevaluasi intervensi keperawatan yang telah dilakukan pada
pasien dengan penyakit filarisis.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI FILARIASIS

Filariasis ialah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria
yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk pada kelenjar getah bening, Penyakit ini bersifat
menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap
berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.
(Witagama,dedi.2009)

2.2 ETIOLOGI

Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia
Malayi, Brugia Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia
terutama dalam kelenjar getah bening dan darah. infeksi cacing ini menyerang jaringan
viscera, parasit ini termasuk kedalam superfamili Filaroidea, family onchorcercidae.Cacing
ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia selama 4 - 6 tahun dan dalam tubuh
manusia cacing dewasa betina menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria) yang beredar
dalam darah terutama malam hari.

Ciri-ciri cacing dewasa atau makrofilaria :

 Berbentuk silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe.
 Ukuran 55 – 100 mm x 0,16 mm.
 Cacing jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm
 Berkembang secara ovovivipar

Mikrofilaria :

 Merupakan larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu


 Mempunyai sarung. 200 – 600 X 8 um

Faktor yang mempengaruhi perkembangan makrofilaria:

 Lingkungan fisik : Iklim, Geografis, Air dan lainnnya,


 Lingkungan biologic : lingkungan Hayati yang mempengaruhi penularan; hutan,
reservoir, vector
 Lingkungan sosial ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat
 Istiadat, Kebiasaan dsb,
 Ekonomi: Cara Bertani, Mencari Rotan, Getah Dsb

2.3 PATOFISIOLOGI
Parasit

Menuju pemb. Limfa

Perubahan dari larva

Stadium3

Parasit Dewasa

Berkembang biak ↓ Menyebabkan antigen

↓ Meyebabkan dilatasi Parasit

Kumpulan Pemb. Limfa ↓ Mengangktifkan

Cacing filaria ↓ Mengaktifkan Sel T Dewasa Penyebab


Pembengkakan pemb. Limfa ↓

Penyumbatan Pemb. Limfa ↓

↓ Kerusakan struktur IgE berikatan

NYERI

↓ ↓

KERUSAKAN INTEGRITAS Mediator Inflamasi

KULIT ↓

Kelenjar getah bening

Adanya inflamasi pada kulit ↓

↓ HIPERTERMI

HARGA DIRI RENDAH

2.4 MANIFESTASI KLINIS


Manifestasi gejala klinis filariasis disebabkan oleh cacing dewasa pada sistem limfatik
dengan konsekuensi limfangitis dan limfadenitis. Selain itu, juga oleh reaksi hipersensitivitas
dengan gejala klinis yang disebut occult filariasis.

Dalam proses perjalanan penyakit, filariasis bermula dengan limfangitis dan


limfadenitis akut berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem
limfatik. Perjalanan penyakit berbatas kurang jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya,
tetapi bila diurutkan dari masa inkubasi dapat dibagi menjadi:

1. Masa prepaten

Merupakan masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia


yang memerlukan waktu kira-kira 3¬7 bulan. Hanya sebagian tdari penduduk di daerah
endemik yang menjadi mikrofilaremik, dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua
kemudian menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok yang
asimtomatik baik mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik.

2. Masa inkubasi

Merupakan masa antara masuknya larva infektif hingga munculnya gejala klinis yang
biasanya berkisar antara 8-16 bulan.

3. Gejala klinik akut

Gejala klinik akut menunjukkan limfadenitis dan limfangitis yang disertai panas dan
malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. Penderita dengan gejala klinis akut dapat
mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik.

4. Gejala menahun

Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Mikrofilaria
jarang ditemukan pada stadium ini, sedangkan limfadenitis masih dapat terjadi. Gejala kronis
ini menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani
keluarganya.

2.5 KOMPLIKASI

 Cacat menetap pada bagian tubuh yang terkena


 Elephantiasis tungkai
 Limfedema : Infeksi Wuchereria mengenai kaki dan lengan, skrotum, penis,vulva
vagina dan payudara,
 Hidrokel (40-50% kasus), adenolimfangitis pada saluran limfe testis berulang:
 pecahnya tunika vaginalisHidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di
antaralapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan
yang berada di dalam rongga itu memang adadan berada dalam keseimbangan antara
produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.Kiluria : kencing seperti
susu karena bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing dewasa yang
menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih.

2.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

a. Diagnosis Klinik

Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Diagnosis


klinik penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and Chronic
Disease Rate).Pada keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis
filariasis adalah gejala dan tanda limfadenitis retrograd, limfadenitis berulang dan gejala
menahun.

b. Diagnosis Parasitologik

Diagnosis parasitologik ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria pada


pemeriksaan darah kapiler jari pada malam hari. Pemeriksaan dapat dilakukan siang hari, 30
menit setelah diberi DEC 100 mg. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat ditentukan
species cacing filaria.

c. Radiodiagnosis

Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar limfe inguinal
penderita akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dance sign).

Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang dilabel dengan
radioaktif akan menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik, sekalipun pada penderita
yang mikrofilaremia asimtomatik.

d. Diagnosis Immunologi

Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten, inkubasi,


amikrofilaremia dengan gejala menahun, occult filariasis, maka deteksi antibodi dan/atau
antigen dengan cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis.Adanya
antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremia, tidak membedakan
infeksi dini dan infeksi lama. Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit, ekskresi dan
sekresi parasit tersebut, sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik. Gib 13, antibodi
monoklonal terhadap O. gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik dengan
mikrofilaremia W. bancrofti di Papua New Guinea.
2.7 PENTA LAKSANAAN

Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh, baik untuk
filariasis bancrofti maupun brugia, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini
ampuh, aman dan murah, tidak ada resistensi obat, tetapi memberikan reaksi samping
sistemik dan lokal yang bersifat sementara. Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam,
berupa sakit kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, persendian, pusing, anoreksia,
kelemahan, hematuria transien, alergi, muntah dan serangan asma. Reaksi lokal dengan atau
tanpa demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi, limfedema transien, hidrokel, funikulitis
dan epididimitis. Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama, hilang
spontan setelah 2-5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik. Reaksi
samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian dosis pertama, hilang spontan setelah
beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering ditemukan pada penderita dengan gejala
klinis. Reaksi sampingan ini dapat diatasi dengan obat simtomatik.

1. Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas:

 Pemberantasan nyamuk dewasa


 Anopheles : residual indoor spraying
 Aedes : aerial spraying

2. Pemberantasan jentik nyamuk

 Anopheles : Abate 1%
 Culex : minyak tanah
 Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan, mengeringkan rawa dan
saluran air

3. Mencegah gigitan nyamuk

 Menggunakan kawat nyamuk/kelambu


 Menggunakan repellent

Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu dilaksanakan sehingga


terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk menunjang penanggulangan filariasis.

Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk daerah
endemis, dengan harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera
memeriksakan diri ke Puskesmas, bersedia diperiksa darah kapiler jari dan minum obat DEC
secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk.. Evaluasi hasil
pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun, dengan melakukan pemeriksaan vektor dan
pemeriksaan darah tepi untuk deteksi mikrofilaria.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian

a. Riwayat kesehatan

Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Cacing
filariasis menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva
stadium III. Gejala yang timbul berupa demam berulang-ulang 3-5 hari, demam ini dapat
hilang pada saat istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat.

b. Aktifitas / Istirahat

Gejala : Mudah lelah, intoleransi aktivitas, perubahan pola tidur.

Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktivitas ( Perubahan
TD, frekuensi jantung)

c. Sirkulasi

Tanda : Perubahan TD, menurunnya volume nadi perifer, perpanjangan pengisian kapiler.

d. Integritas dan Ego

Gejala : Stress berhubungan dengan perubahan fisik, mengkuatirkan penampilan, putus


asa, dan sebagainya.

Tanda : Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah.

e. Integumen

Tanda : Kering, gatal, lesi, bernanah, bengkak, turgor jelek.

f. Makanan / Cairan

Gejala : Anoreksia, permeabilitas cairan

Tanda : Turgor kulit buruk, edema.

g. Hygiene

Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS


Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.

h. Neurosensoris

Gejala : Pusing, perubahan status mental, kerusakan status indera peraba, kelemahan
otot.

Tanda : Ansietas, refleks tidak normal.

i. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala.

Tanda : Bengkak, penurunan rentang gerak.

j. Keamanan

Gejala : Riwayat jatuh, panas dan perih, luka, penyakit defisiensi imun, demam berulang,
berkeringat malam.

Tanda : Perubahan integritas kulit, pelebaran kelenjar limfe.

k. Seksualitas

Gejala : Menurunnya libido

Tanda : Pembengkakan daerah skrotalis

l. Interaksi Sosial

Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian.

Tanda : Perubahan interaksi, harga diri rendah, menarik diri.

m. Pemeriksaan diagnostic

Menggunakan sediaan darah malam, diagnosis praktis juga dapat menggunakan


ELISA dan rapid test dengan teknik imunokromatografik assay. Jika pasien sudah terdeteksi
kuat telah mengalami filariasis limfatik, penggunaan USG Doppler diperlukan untuk
mendeteksi pengerakan cacing dewasa di tali sperma pria atau kelenjer mamae wanita.
3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening

2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe

3. Kurang pengetahuan berhubungan inefektif informasi

4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit

6. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik

3.3 Intervensi

1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening

No.

Intervensi

Rasional

1. Berikan kompres pada daerah frontalis dan axial

Mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus, mengurangi panas tubuh yang


mengakibatkan darah vasokonstriksi sehingga pengeluaran panas secara konduksi.

2. Monitor vital sign, terutama suhu tubuh

Untuk mengetahui kemungkinan perubahan tanda-tanda vital.

3. Pantau suhu lingkungan dan modifikasi lingkungan sesuai kebutuhan, misalnya


sediakan selimut yang tipis

Dapat membantu dalam mempertahankan / menstabilkan suhu tubuh pasien.

4. Anjurkan kien untuk banyak minum air putih

Diharapkan keseimbangan cairan tubuh dapat terpenuhi.

5. Anjurkan klien memakai pakaian tipis dan menyerap keringat jika panas tinggi

Dengan pakaian tipis dan menyerap keringat maka akan mengurangi penguapan.

6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (anti piretik).

Diharapkan dapat menurunkan panas dan mengurangi infeksi.


2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe

No.

Intervensi

1) Berikan tindakan kenyamanan (pijatan / atur posisi), ajarkan teknik relaksasi.

Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dapat meningkatkan


koping.

2) Observasi nyeri (kualitas, intensitas, durasi dan frekuensi nyeri).

Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya dalam mengatasi nyeri

3) Anjurkan pasien untuk melaporkan dengan segera apabila ada nyeri

Rasional : Nyeri berat dapat menyebabkan syok dengan merangsang sistem syaraf simpatis,
mengakibatkan kerusakan lanjutan

4) Alihkan perhatian klien dari nyeri yang dialami

Rasinal : Untuk Mengatasi nyeri

5) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (obat


anelgetik).

Diberikan untuk menghilangkan nyeri.

3. Kurang pengetahuan berhubungan inefektif informasi

No

Intervensi

1. Kaji apakah klien memahami dan mengerti tentang penyakitnya

Rasinal : Klien memperoleh informasi untuk dapat melakukan pengobatan secara mandiri
2. Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki kesalahan
konsepsi/informasi

Klien dapat informasi yang benar dari perawat untuk dapat merasakan manfaat
penanganannya lebih baik

3.Nasehati klien agar selalu menjaga hygiene pribadi juga lingkungan

Rasional : Dengan terjaganya hygiene, tidak memperparah komplikasi yang timbul

4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh

Intervensi

1.Lakukan Retang Pergerakan Sendi (RPS)

Rasinal : Meningkatkan kekuatan otot dan mencegah kekakuan sendi

2.Tingkatkan tirah baring / duduk

Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan enegi untuk penyembuhan

3.Berikan lingkungan yang tenang

Rasional : tirah baring lama dapat meningkatkan kemampuan

4.Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi

Rasional : Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi

5.Observasi ukuran diameter pada tungkai kaki klien

Rasional : untuk mengetahui perubahan ukuran pada tungkai kaki klien

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit

Intervensi

1.Ubah posisi tempat tidur dan kursi sesering mungkin

Rasional : Mengurangi resiko abrasi kulit dan penurunan tekanan yang dapat menyebabkan
kerusakan aliran darah seluler
2.Gunakan pelindungan kaki, bantalan busa atau air pada waktu berada di tempat tidur dan
pada waktu duduk dikursi

Rasional : Tingkatkan sirkulasi darah pada permukaan kulit untuk mengurangi panas atau
kelembaban

3.Periksa permukaan kulit kaki yang bengkak secara rutin

Rasional : Kerusakan kulit dapat terjadi dengan cepat pada daerah yang bereksiko yang
terinfeksi dan nekrotik

4.Anjurkan pasien untuk melakukan rentang gerak

Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan meningkatkan partisipasi pasien

5.Kolaborasi: Rujuk pada ahli kulit. Meningkatkan sirkulasi dan mencegah terjadinya
decubitus

Rasional :Mungkin membutuhkan perawatan professional untuk masalah yang dialami

3.4. Landasan Kasus

KASUS PEMICU FILARIASIS

Ibu S. Usia 39 tahun, agama Islam, alamat tinggal lorong Mawar no 30 Jambi,
pekerjaan Ibu Rumah Tangga. Masuk RS pada tanggal 13/03/2011, diruang perawatan
penyakit dalam kelas III/A. dengan keluhan demam berulang-ulang selama 4 hari, demam
hilang bila istirahat dan demam akan muncul kembali ketika bekerja berat. Klien selalu
bertanya kepada perawat tentang penyakit yang dideritanya.Klien tampak cemas.Klien juga
mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki kearah ujung kaki dan klien
mengatakan nyeri semakin terasa jika kaki yang sakit dibawa bergerak. Klien mengatakan
kakinya yang sakit tampak lebih besar dari yang satunya. Saat pengkajian didapat klien masih
mengeluh demam dan Wajah klien tampak memerah, klien juga mengeluh terasa panas dan
sakit yang menjalar dari pangkal kaki keujung kaki, skala nyeri 7. Nyeri terasa berulang-
ulang, nyeri tekan (+), non piting oedema (+), klien tampak meringis ketika berjalan. data
yang di dapat ukuran tungkai kaki klien 30cm.Dari pemeriksaan TTV TD : 130/60 mmHg,
RR : 24 x/i, N : 110 x/i, S : 38,5°C. Dari hasil pemeriksaan darah diperoleh data Hb 10,8
gr/dl, Leukosit 9500/mm3;.Dari pemeriksaan darah jari kaki ditemukan parasit mikrofilaria
inti tubuh teratur, ujung ekor runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.

Pengkajian

Unit : perawatan penyakit dalam

Tanggal masuk : 13 maret 2011

Ruang /kamar : III / A

1. Identitas klien

a. Nama : Ibu S

b. Umur : 39 tahun

c. Jenis kelamin : perempuan

d. Agama : islam

e. Suku/bangsa : Indonesia

f. Alamat : Lrg. Mawar

Penanggung Jawab

a. Nama : Tn. A

b. Alamat ruma :Lrg. Mawar

c. Hubungan dengan klien : suami

2. Data medik

Diagnosa Medik

Saat masuk : Filariasis

Saat pengkajian : Filariasis


3. Alasan masuk rumah sakit

Klien masuk rumah sakit dengan keluhan demam berulang-ulang selama 4 hari, demam
hilang bila istirahat dan demam akan muncul lagi ketika bekerja berat.

4. Riwayat kesehatan saat ini : Klien merasakan nyeri, panas, dan sakit yang menjalar dari
pangkal kaki kearah ujung kaki dengan skala nyeri , nyeri terasa berulang-ulang

5. Riwayat kesehatan masa lalu

1. penyakit yang pernah diderita : tidak ada

2. pernah dirawat : tidak

3. pernah dioperasi : tidak

4. alergi terhadaap obat : tidak ada

6. Riwayat kesehatan keluarga

1. Genogram :tidak ada

2. Penyakit yang pernah diderita : tidak ada

3. Kesehatan orang tua : baik

4. Saudara kandung : baik

5. Hubungan keluarga dengan klien : baik

7. Faktor resiko penyakit tertentu dalam keluarga (kanker, hipertensi, diabetes mellitus,
penyakit jantung, epilepsy, TBC) : tidak ada

8. Kebiasaan Sehari-hari

1. Nutrisi-Cairan

a. Keadaan sejak sakit

a) Nafsu makan : baik


b) Frekuensi makan : 3x/sehari

c) Jumlah makan yang masuk : satu piring

d) Diet : tidak ada

e) Ketaatan terhadap diet tertentu : tidak ada

f) Mual/enek : tidak ada

g) Muntah : tidak ada

h) Nyeri ulu hati : tidak ada

i) Jumlah minum/24 jam : 600 ml/24 jam

j) Jenis minum : susu formula, air putih

k) Keluhan makan dan minum : tidak ada

2. Eliminasi

a. Keadaan sejak sakit

a) Frekuensi BAB/24 jak : 1x/24 jam

b) Waktu BAB : pagi

c) Warna feses : kuning

d) Konsistensi : semi solid

e) Bentuk feses : lunak

f) Penggunaaan pencahar : tidak ada

g) Keluhan BAB : tidak ada

h) Frekuensi BAK/24 jam : 4-6x/24 jam

i) Warna urine : kuning

j) Volume urine : 200-300 ml

k) Bau urine : khas

l) Melena : tidak ada

m) Konstipasi : tidak ada

n) Kolostomi : tidak ada

o) Sering menahan BAK : tidak


p) Keluhan BAK : tidak ada

3. Tidur istirahat

a. keadaan sejak sakit

1) Tidur siang : tidak ada

2) Bila ya berapa jam :-

3) Tidur malam : 4 jam

4) Kebisaan sebelum tidur : minum susu

5) Keluhan tidur : sering terbangun(nyeri)

6) Ekspresi wajah mengantuk : ada

7) Banyak menguap : ada

4. Data Psikologis

1. Persepsi tentang penyakit : tidak mengetahui penyakit

2. Suasana hati : sedih

3. Daya konsentrasi : kurang

4. Koping : baik

5. Konsep diri : baik

6. Data sosial

1. tempat tinggal : Lrg. mawar

2. hubungan dengan keluarga : baik

3. hubungan dengan klien : baik

4. hubungan dengan perawat : baik.

7. Data spritual

1. Agama yang dianut : islam


2. Apakah agama sangat penting : ya

3. Kegiatan keagamaan selama dirawat : berdoa

4. Apakah berdoa untuk kesembuhan : ya

8. Pemeriksaan fisik

1. Keadan sakit : klien tampak sakit pada kaki

Alasan : klien masih dapat berinteraksi dengan baik,hanya terkadang tampak meringis saat
nyeri pada kakinya kembali dirasakan.

2. Tanda tanda vital :

a. Kesadaran

1) Kualitatif : kompos mentis

2) Kuantitatif : Glaslow coma scale

Respon motorik ( M ) :6

Respon verbal ( V ) :5

Respon eyes ( E ) :4

Jumlah : : 15

Kesimpulan : Composmentis

b. Nadi

Frekuensi : 110 x/menit

Irama : Teratur

c. Suhu :38,50C daerah Axila

3. Kepala

a. Bentuk kepala : simetris asimetris

b. Cephalon hematome : tidak ada

c. Warna rambut : hitam

d. Keadaan rambut : baik


e. Kulit kepala : kotor dan bau

f. Lesi : bersih ketombe

g. Bengkak/benjolan : tidak ada

h. Nyeri/pusing : tidak ada

i. Keluhan lain : tidak ada

4. Mata/Penglihatan

a. Ketajaman penglihatan : baik

b. Alis : tebal dan lebat

c. Simetris : ya

d. Sclera : putih dan jernih kebiruan kuning/ikterik

e. Pupil : baik

f. Konjungtiva : an anemis

g. Bola mata : baik

h. Gerakan bola mata : baik

i. Lapang pandang : baik

j. Kornea dan iris : baik

k. Peradangan : tidak ada

l. Keluhan penglihatan : tidak ada

5. Hidung/penciuman

a. Ukuran : kecil

b. Bentuk : mancung

c. Kesimetrisan : simestris

d. Warna : kemerahan

e. Fungsi penciuman : baik

f. Perdarahan : tidak ada


6. Telinga pendengaran

a. Warna : merah muda

b. Lesi : tidak ada

c. Cerumen : dalam batas normal

d. Membran timpani : baik

e. Fungsi pendengaran : baik

f. Nyeri : tidak ada

7. Pengecapan

a. Warna lidah : merah muda

b. Kelembapan lidah : lembab

c. Keadaan lidah : normal

d. Caries : tidak ada

e. Keadaan gusi : normal

f. Fungsi pengunyah : belum sempurna

g. Fungsi mengecap : normal

h. Fungsi bicara : normal

i. Bau mulut : normal

j. Reflek menelan : baik

8. Dada/pernafasan

a. bentuk : simetris

b. suara nafas : tidak ada bunyi tambahan

c. perkusi dada : bronkovesikuler

d. ekspansi paru : baik

e. batuk : tidak ada


f. sputum : tidak ada

g. nyeri dada : tidak ada

h. pergerakan ronggga dada : retraksi

9. kardiovaskuler

a. Ukuran jantung : normal

b. Bunyi jantung I : normal (lup)

c. Bunyi jantung II : normal (dup)

d. Bunyi jantung tambahan : tidak ada

e. Nyeri dada : tidak ada

f. Palpitasi : tidak ada

g. Edema : tidak ada

h. Jari-jari tabuh : tidak ada

10. Abdomen/pencernaan

a. bising usus : 10X/menit

b. keadaan hepar : normal

c. keadaan limfa : normal

d. nyeri tekan : tidak ada

e. benjolan-benjolan : tidak ada

f. ascietas : tidak ada

11. Muskuloskeletal

a. Kekuatan otot :2

b. Tonus otot : buruk

c. Kaku sendi : ada

d. Atropi : tidak ada


e. Trauma/lesi : tidak ada

f. Nyeri : panas dan sakit pada bagian pangkal sampai ujung kaki

g. Kecacatan/deformitas : tidak ada

h. Eksermitas atas : baik

i. Ekstermitas bawah : kaki klien tampak besar sebelah, nyeri tekan (+), non piting
edema (+), klien mengatakan panas dan sakit yang menjalar dari pangkal hingga ujung kaki.
Klien tampak meringis ketika berjalan, nyeri bertambah saat kaki klien bergerak.

12. Keadaan neurologi

a. Tingkat kesadaran : komposmetis

b. Koordinasi : baik

c. Memory/daya ingat : baik

d. Orientasi ( tempat, orang, waktu ) : baik

e. Tremor : tidak ada

f. Gangguan motorik/ lumpuh : tidak ada

g. Kejang : tidak ada

13. Sensasi terhadap ransangan

a. Rasa Nyeri : baik

b. Rasa suhu : baik

c. Rasa raba : baik

14. Integumen kulit

a. Warna : normal

b. Tekstur : halus / licin, fleksibel, lunak

c. Kelembapan : baik

d. Suhu kulit : hangat normal

e. kelainan warna : tidak ada


f. Pucat : tidak

g. Bau kulit : khas

h. Pigmentasi : normal

i. keadaan kuku : panjang

j. kebersihan kuku : baik

15. hasil laboratorium

a. pemeriksaan darah

Hb 10,8 gr/dl, leukosit 12.000/mm3, Ht 36,80%, trombosit 423.000/mm3, eosinofil 20%,


basofil 4%, netrofil batang 40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.

i. Interpretasi laboratorium

Nilai Normal Kasus Keterangan

Hb 12-16 g/dl 10,8 g/dl ↓

Ht 37-47 % 36,80 % ↓

Leukosit 5.000-10.000/mm³ 12.000/mm³ naik

Trombosit 150-450 x 103/mm³ 423.000/mm³ Normal

ii. Interpretasi hasil kajian leukosit

Diftel Nilai Normal Kasus Keterangan

Eosinofil 1-3 20 ↑↑

Basofil 0-1 4 ↑

Neutrofil batang 2-6 40 ↑↑

Neutrofil segmen 50-70 20 ↓

Limfosit 20-40 15 ↓

Monosit 2-8 1 ↓
Dari pemeriksaan darah jari ditemukan Parasit → Mikrofilaria : inti tubuh teratur, ujung ekor
runcinng, tidak berinti, dan seluruh tubuh (W. bancrofti) transparan.

Klasifikasi Data

Data Subjektif / DS :

· Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung
kaki.

· Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya

· Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak

· Klien mengatakan demam berulang selama 4 hari

· Demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali bekerja berat.

· klien mengatakan kakinya yang sakit tampak besar sebelah

· Klien selalu bertanya kepada perawat tentang penyakit yang dideritanya.

Data objektif / DO :

· Klien tampak meringis ketika berjalan.

· Skala nyeri 7

· nyeri tekan (+)

· non pitting oedema (+)

· Nadi: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHgSuhu 38,5°c

· Obstruksi kelenjar getah bening pada daerah tungkai

· Data yang di dapat ukuran tungkai kaki klien 30cm.

· Wajah klien tampak memerah

· Kulit klien teraba hangat Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening

· Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.

· Adanya pembengkakan pada kelenjar limfe di daerah tungkai (inguinal)


· Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil 20%, basofil 4%, netrofil batang
40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.

· Dari pemeriksaan darah jari kaki ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur,
ujung ekor runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.

· kaki klien tampak besar sebelah Pemajanan penularan melalui vektor

· Klien tampak cemas.

Analisa Data

Nama : Ny. S

Umur : 39 tahun

1.Syimptom :

DS:

· Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung
kaki.

· Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya

· Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak

DO:

· Klien tampak meringis ketika berjalan.

· Skala nyeri 7

· nyeri tekan (+)

· non pitting oedema (+)

· N: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHg

· Suhu 38,5°c

· Leukosit 9500/mm³

Etiologi :

Parasite dewasa

Berkembang biak

Kumpulan cacing Filaria dewasa penyebab penyumbatan pemb.limfa

Nyeri

Problem :

Nyeri

2. Syimptom

DS:

· Klien mengatakan demam berulang selama 4 hari

· Demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali bekerja berat.

· Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung
kaki.

DO:

· Suhu 38,5°c

· RR 24x/i

· N 110x/

· TD 130/60 mmHg

· Wajah klien tampak memerah

· Kulit klien teraba hangat

· Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil 20%, basofil 4%, netrofil batang
40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.

IgE berikatan dengan parasite


Mediator inflamasi

Adanya inflamasi pada kelenjar getah bening

Hipertermi

Hipertermi

DS:

· Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki

· Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak.

DO:

· Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.

· Klien tampak meringis saat berjalan.

· N 110x/i

· RR 24x/i

· Data yang di dapat ukuran tungkai kaki klien 30cm.

Etiologi :

Parasit dewasa


Berkembang biak

Kumpulan cacing Filaria dewasa

Gangguan mobilitas Fisik

Problem :Gangguan mobilitas fisik

3. Symptom

DS:

· Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya

· klien mengatakan kakinya yang sakit tampak besar sebelah

DO:

· Kulit klien teraba hangat Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening

· Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.

· Adanya pembengkakan pada kelenjar limfe di daerah tungkai (inguinal)

· Dari pemeriksaan darah jari kaki ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur,
ujung ekor runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.

· kaki klien tampak besar sebelah Pemajanan penularan melalui vektor

Etiologi :

Parasite dewasa


Menyebabkan dilatasi pembuluh limfa

Pembengkakan pemb. Limfa

Kerusakan struktur

Kerusakan Integritas Kulit

Problem : Kerusakan integritas kulit

4. Symptom

DS:

· Klien selalu bertanya kepada perawat tentang penyakit yang dideritanya.

DO:

· Klien tampak cemas.

Inefektif Informasi

Kurangnya pengetahuan

Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri b.d cacing Firaria penyebab penyumbatan pemb. Limfa d.d Klien mengatakan
terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki, klien mengatakan kaki
nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya, klien mengatakan nyeri bertambah jika
kaki yang sakit dibawa bergerak, klien tampak meringis ketika berjalan, Skala nyeri 7, nyeri
tekan (+), non pitting oedema (+), N: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHg, Suhu 38,5°c,
Leukosit 9500/mm³.

2. Hipertermi b.d Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening d.d Klien mengatakan
demam berulang selama 4 hari, demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali
bekerja berat, klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah
ujung kaki, Suhu 38,5°c, RR 24x/I, N 110x/I, TD 130/60 mmHg, wajah klien tampak
memerah, kulit klien teraba hangat.Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil
20%, basofil 4%, netrofil batang 40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.

3. Gangguan mobilitas fisik b.dcacing Firaria penyebab penyumbatan pemb. Limfa d.d
Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki, klien
mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak, kaki klien tampak lebih
besar dari yang satunya, klien tampak meringis saat berjalan, N 110x/I, RR 24x/i.data yang di
dapat ukuran tungkai kaki klien 30cm.

4. Kerusakan integritas kulit b.d Pembengkakan menyebabkan kerusakan struktur d.d


Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya, klien
mengatakan kakinya yang sakit tampak besar sebelah, Kulit klien teraba hangat Adanya
Inflamasi pada kelenjar getah bening, Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya,
Adanya pembengkakan pada kelenjar limfe di daerah tungkai (inguinal), Dari pemeriksaan
darah jari kaki ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor runcing dan tidak
berinti dan selubung tubuh transparan, kaki klien tampak besar sebelah Pemajanan penularan
melalui vektor

5. Kurangnya pengetahuan b.d Inefektif Informasi d.d Klien selalu bertanya kepada
perawat tentang penyakit yang dideritanya, Klien tampak cemas.

BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Filariasis adalah kelompok penyakit yang mengenai manusia dan binatang yang
disebabkan oleh parasit kelompok nematode yang disebut filaridae., dimana cacing
dewasanya hidup dalam cairan san saluran limfe, jaringan ikat di bawah kulit dan dalam
rongga badan. Cacing dewasa betina mengeluarkan mikrofilaria yang dapat ditemukan dalam
darah, hidrokel, kulit sesuai dengan sefat masing-masing spesiesnya.

Penyakit filariasis banayak ditemukan di berbagai negara tropik dan subtropik, termasuk
Indonesia. Prevalensi tidak banyak berbeda menurut jenis kelamin, usia maupun ras.

Penyakit filariasis dapat disebabkan oleh berbagai macam spesies, sehingga gambaran
klinisnya spesifik untuk masing-masing spesies, misalnya bentuk limfatik biasnya digunakan
sebagai tanda bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh Wuchereria bancrofti, Brugia malayi,
dan Brugia timori, dimana parasit dapat menyumbat saluran limfe dengan manifestasi
terbentuknya elefantiasis, sedangkan Loa loa ditandai dengan calabar swelling. Onchocerca
volvulus menyebabkan kebutaan dan pruritus pada kulit.

Diagnosis penyakit ini dengan ditemukannya mikrofilaria dalam darah, sedangkan bila tidak
ditemukan mikrofilaria maka diagnosis dapat berdasarkan riwayat asal penderita, biopsi
kelenjar limfe, dan pemeriksaan serologis.

Prinsip terapi ialah dengan menggunakan kemoterapi untuk membunuh filaria dewasa dan
mikrofilarianya serta mengobati secara simpotomatik terhadap reaksi tubuh yang timbul
akibat cacing yang mati. Dapat juga dilakukan pembedahan.Pencegahan penularan penyakit
ini dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan seperti DEC ataupun dengan
mengontrol vektor. Penyakit ini sangat berbahaya dan hampir diseluruh dunia
dapatditemukan penyakit ini karena mudahnya dalam penyebaran penyakit ini. Beberapa
asuhan keperawatan secara teoritis yang mungkin yang mungkin muncul pada penderita
penyakit ini yaitu :

1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening

2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe

3. Kurang pengetahuan berhubungan inefektif informasi

4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit

6. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik

Namun pada kasus Ny. S yang dibahs kelompok, diagnosa yang dapat diangkat berupa :

1. Nyeri b.d cacing Firaria penyebab penyumbatan pemb. Limfa d.d Klien mengatakan
terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki, klien mengatakan kaki
nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya, klien mengatakan nyeri bertambah jika
kaki yang sakit dibawa bergerak, klien tampak meringis ketika berjalan, Skala nyeri 7, nyeri
tekan (+), non pitting oedema (+), N: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHg, Suhu 38,5°c,
Leukosit 9500/mm³.

2. Hipertermi b.d Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening d.d Klien mengatakan
demam berulang selama 4 hari, demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali
bekerja berat, klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah
ujung kaki, Suhu 38,5°c, RR 24x/I, N 110x/I, TD 130/60 mmHg, wajah klien tampak
memerah, kulit klien teraba hangat.Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil
20%, basofil 4%, netrofil batang 40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.

3. Gangguan mobilitas fisik b.dcacing Firaria penyebab penyumbatan pemb. Limfa d.d
Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki, klien
mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak, kaki klien tampak lebih
besar dari yang satunya, klien tampak meringis saat berjalan, N 110x/I, RR 24x/i.data yang di
dapat ukuran tungkai kaki klien 30cm.

4. Kerusakan integritas kulit b.d Pembengkakan menyebabkan kerusakan struktur d.d Klien
mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya, klien mengatakan
kakinya yang sakit tampak besar sebelah, Kulit klien teraba hangat Adanya Inflamasi pada
kelenjar getah bening, Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya, Adanya
pembengkakan pada kelenjar limfe di daerah tungkai (inguinal), Dari pemeriksaan darah jari
kaki ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor runcing dan tidak berinti
dan selubung tubuh transparan, kaki klien tampak besar sebelah Pemajanan penularan melalui
vektor

5. Kurangnya pengetahuan b.d Inefektif Informasi d.d Klien selalu bertanya kepada
perawat tentang penyakit yang dideritanya, Klien tampak cemas.

Dari kasus yang kita dapatkan diatas dapat dipastikan bahwa Ny. S mengalami fialriasis. Dan
setelah dilakukan intervensi didapati keadaan klien tampak mulai membaik, masalah teratasi
sebagian dan beberapa intervensi masih harus dilanjutkan.

4.2 Saran

Demikianlah makalah ini yang penulis susun dengan penuh keikhlasan. Diharapkan
dengan adanya makalah opini mahasiswa dapat menambah wawasan mengenai penyakit
Filariasis. Selain itu mahasiswa juga mampu memahami secara teoritis mengenai penyakit ini
serta mampu membuat asuhan keperawtan tentang kasus Filariasis.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah referensi akademik untuk
melengkapi bahan pembelajaran dan motivasi mahasiswa untuk mengetahui lebih banyak lagi
tentang penyakit Filariasis.

Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan,
saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk dapat memperbaiki penulisan
makalah ini selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

· http://v3aza.blogspot.com/2011/05/askep-filariasis.html
· http://yaya-ryuta.blogspot.com/2011/04/makalah-asuhan-keperawatan-pada-klien.html

· Widoyono. Penyakit TropisEpidemiologi, penularan pencegahan dan


pemberantasannya.Edisi kedua.Jakarta: Penerbit Erlangga.

· Muttaqin,Arif dan Kumala Sari.2010.Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem


Integumen. Jakarta:Salemba Medika.