Anda di halaman 1dari 17

Rangkuman Teori Investasi dan Portofolio

Opsi dan Model Perhitungan Return Taknormal

Disusun oleh :
Arum Puspitosari (F0315014)
Bunga Maharani (F0315023)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2017
BAB 13
OPSI
13.1 PENDAHULUAN
Opsi (option) adalah turunan dari suatu aktiva, bukan aktivanya. Misal untuk opsi
saham, maka opsi adalah haknya (dapat hak membeli atau hak menjual suatu saham)
bukan sahamnya sendiri. Opsi saham adalah turunan dari sahamnya, sehingga masuk
dalam kelompok turunan (derivative) dan opsi ini biasanya ditransaksikan di pasar
turunan (derivative market).
13.2 DEFINISI OPSI
Opsi (option) adalah suatu tipe kontrak antara dua pihak yang satu memberikan
hak kepada yanglain untuk membeli atau menjual suatu aktiva pada harga yang
tertentu dalam jangka waktu tertentu. Disebut opsi karena pemegang atau pembeli
opsi mempunyai pilihan untuk menggunakan opsi tersebut kapan saja selama masih
berlaku.
Pihak yang mendapatkan hak disebut pembeli opsi (option buyer). Pihak yang
menjual opsi danharus bertanggung jawab terhadap keputusan pembeli opsi kapan
opsi tersebut akan digunakan disebutpenerbit opsi (option writer).
13.3 TIPE KONTRAK OPSI
Ada dua tipe macam kontrak opsi, yaitu opsi beli dan opsi jual. Ada dua macam
tipe dari opsi beli dan opsi jual ini, yaitu opsi Eropa dan opsi Amerika. Opsi Eropa
hanya dapat digunakan pada saat jatuh tempo saja. Sedangkan opsi Amerika dapat
digunakan setiap saat atau sebelum jatuh tempo. kontrak opsi saham (KOS) yang dijual
di BEI adalah tipe opsi Amerika.
13.3.1 Opsi Beli (Call Option)
Opsi beli yaitu suatu tipe kontrak yang memberikan hak kepada pembeli opsi
untukmembeli (call) dari penjual opsi sejumlah lembar saham tertentu pada harga
tertentu dalam jangkawaktu tertentu. Kontrak opsi berisi empat hal berikut :
1. Nama perusahaan yang sahamnya dapat dibeli
2. Jumlah lembar saham yang dapat dibeli
3. Harga pembelian sahamnya yang disebut dengan exercise price atau strike price
4. Tanggal opsi kadaluarsa
13.3.2 Opsi Jual (Put Option)
Opsi jual adalah suatu tipe kontrak yang memberikan hak kepada pembeli opsi
untuk menjual (put) kepada penjual opsi sejumlah lembar saham tertentu pada harga
tertentu dalam jangkawaktu tertentu. Isi kontrak opsi jual sama dengan isi kontrak
opsi beli yang telah disebutkan.
13.4 TERMINOLOGI DASAR OPSI
Berikut adalah istilah-istilah dasar opsi :
1. Harga saham di pasar (stock price) yang diberi notasi P
2. Harga saham jika menggunakan opsi yang disebut dengan exercise price atau
strike price yang diberinotasi E
3. Harga dari opsi yang diberi notasi HO
4. Tanggal kadaluwarsa opsi yaitu tanggal terakhir opsi dapat digunakan yang disebut
dengan expirationdate.
Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan harga saham di pasar (P) dan
exercise price(E) untuk opsi beli dan opsi jual yaitu sebagai berikut :
Istilah dasar
Hubungan
Opsi Beli Opsi Jual
Jika P > E In the money Out the money
Jika P = E At the money At the money
Jika P < E Out the money In the money
Misal harga saham jika opsi digunakan (exercise price) di suatu opsi beli adalah
sebesar Rp 1.100. Tabel berikut menunjukkan posisi opsi beli tergantung dari harga
pasar dari saham :

Jika P Posisi opsi beli


Rp 1.250 In the money
Rp 1.200 In the money
Rp 1.100 At the money
Rp 1.000 Out the money
Rp 900 Out the money

Misal harga saham jika opsi digunakan (exercise price) di suatu opsi jual adalah
sebesar Rp 900. Tabel berikut menunjukkan posisi opsi jual tergantung dari harga
pasar dari saham :
Jika P : Posisi opsi beli
Rp 1.100 Out the money
Rp 1.000 Out the money
Rp 900 At the money
Rp 800 In the money
Rp 700 In the money
13.5 PAYOFF DAN LABA DARI OPSI
Payoff adalah keuntungan akibat menggunakan (exercise) dari opsi. Payoff masih
menunjukankeuntungan kotor dari selisih harga saham di pasar dengan harga
penggunaan opsi (exercise price). Laba(profit) adalah keuntungan bersih yaitu payoff
dikurangi dengan harga pembelian opsi.
13.5.1 Payoff dan Laba untuk Opsi Beli
Laba dari pembeli adalah rugi bagi penjual dan sebaliknya. Untuk pembeli opsi
beli, payoff dapat diperhitungkan sebagai berikut. Pembeli opsi beli akan
menggunakan opsi untuk membeli saham pada harga yang sudah ditentukan (exercise
price). Jika harga opsi tidak diperhitungkan, maka pembeli tidak akan menggunakan
opsi untuk membeli saham jika harga saham dipasar lebih rendah atau sama dengan
exercise price. Jika harga saham di pasar (P) lebih rendah atau sama dengan nilai
exercise (E) opsi, maka akan lebih murah membeli saham langsung di pasar
dibandingkan dengan menggunakan opsi, jadi opsi tidak digunakan dan payoff sama
dengan 0. (P ≤ E , maka Payoff = 0 ).
Pembeli opsi diuntungkan menggunakan opsi jika harga pasar saham lebih besar
dibandingkan harga exercise dengan payoff sebesar (P – E). Jika P> E , maka Payoff = (
P - E ). Dan sebaliknya penjual opsi beli akan rugi sebesar nilai yang sama, yaitu
sebesar payoff (P-E) yang didapat pembeli opsi.
(a) Payoff untuk pembeli opsi beli

(b) Payoff untuk penjual opsi beli

Laba dari menggunakan opsi beli dihitung dengan cara sebagai berikut :
Laba = Payoff – harga opsi beli (HOB)
Atau
Laba = -HOB jika P ≤ E
Laba = (P-E-HOB) jika P ≥ E
13.5.2 Payoff dan laba untuk opsi jual
Untuk pembeli opsi jual, payoff dapat diperhitungkan sebagai berikut. Pembeli
opsi akan menggunakan opsi untuk menjual saham pada harga yang sudah ditentukan
(exercise price). Jika harga opsi tidak diperhitungkan, makapembeli tidak akan
menggunakan opsi. Jika harga saham di pasar (P) lebih tinggi atau sama dengan nilai
exercise (E) opsi, maka akan lebih murah menjua saham langsung di pasar
dibandingkan dengan menggunakan opsi jualnya. Untuk kasus harga saham di pasar
lebih tinggi atau sama dengan harga exercise, maka opsi jual tidak digunakan sehingga
tidak terjadi payoff atau nilai payoff adalah nol ( P ≥ E, maka Payoff = 0 ).

Pembeli opsi jual akan diuntungkan menggunakan opsi jualnya jika P < E dengan
payoff sebesar (E-P). Dan bagi penjual opsi jual akan rugi sebesar payoff yang didapat
pembeli yaitu sebesar (E-P). Laba dari menggunakan opsi jual dihitung dengan cara :
Laba = payoff – harga opsi jual (HOJ)
Atau
Laba = -HOJ jika P ≥ E
Laba = (E – P - HOJ) jika P < E

13.6 PENGGUNAAN OPSI UNTUK LINDUNG NILAI


Tujuan membeli opsi adalah untuk perlindungan (hedging) dari aktiva yang akan
dilindungi dan untuk spekulasi. Hedge adalah satu cara menggunakan turunan-turunan
(derivatives) untuk mengurangi atau kalau mungkin saling menghilangkan (offset)
risiko dari aktiva yang akan dilindungi.
Opsi jual digunakan untuk melindungi dari penurunan harga saham yang dimiliki
investor. Sedangkan opsi beli untuk melindungi dari kenaikan harga saham yang harus
dibeli oleh investor yang melakukan transaksi penjualan pendek.
13.6.1 Perlindungan Penurunan Harga Saham
Investor membeli suatu saham dengan harapan harganya akan naik, namun
kenyataannya harga dapat turun. Untuk menghindari kerugian akibat penurunan harga
investor dapat menggunakan opsi jualnya. Strategi lindung nilai harga saham dengan
opsi jual ini disebut dengan jual terproteksi (protected put).
13.6.2 Perlindungan Kenaikan Harga Saham
Opsi beli digunakan untuk melindungi harga saham yang naik. Opsi beli banyak
digunakan untuk lindung nilai penjualan pendek. Untuk penjualan pendek investor
berharap menjual terlebih dulu suatu saham sementara harganya masih tinggi dan
membelinya kembali ketika harganya turun, sehingga dapat diperoleh laba. Tapi
kenyataannya harga saham dapat mengalami kenaikan, maka opsi beli dapat
digunakan untuk menghindari kerugian akibat kenaikan harga ini.
13.7 MELINDUNGI OPSI
Penerbit atau penjual opsi beli dapat juga melindungi opsi belinya. Penerbit opsi
akan mengalami kerugian jika harga saham naik. Pembeli opsi beli akan menggunakan
haknya untuk membeli sahamnya dengan harga lebih murah dibandingkan dengan
pasar saham yang naik tersebut.
Penjual opsi beli harus menyediakan saham ini dan membelinya di pasar dengan
harga yang lebih tinggi. Untuk mengatasi kerugian, penjual opsi beli dapat membeli
terlebih dahulu sahamnya dan pada saat bersamaan menjual opsi belinya. Strategi ini
disebut dengan covered call.
13.8 PENGGUNAAN OPSI UNTUK SPEKULASI
Selain digunakan untuk lindung nilai aktiva lain, pembelian opsi juga digunakan
untuk spekulasi. Spekulasi terjaid karena harga opsi bisa naik melambung tinggi, tetapi
bisa juga turun drastic bahkan bernilai Rp 0,- jika sampai jatuh temponya.
13.8.1 Spekulasi Membeli Opsi Jual
Spekulan membeli opsi jual dengan harapan harga saham yang diacu akan turun.
Jikaharga saham naik, pemegang opsi akan langsung menjual ke pasar dengan harga
yang tinggi, tidak menggunakan opsinya. Dan sebaliknya jika harga turun maka
pemegang opsi akan menggunakan opsi untuk menjual dengan harga yang lebih tinggi
dari yang ditetapkan. Dengan demikian nilai opsi akan naik jika harga saham yang
diacunya nilainya naik.
13.8.2 Spekulasi Membeli Opsi Beli
Nilai opsi akan turun jika harga saham yang diacunya nilainya turun, karena
investor lebih baik membeli saham di pasar yang lebih murah. Nilai opsi beli akan naik
jika harga saham yang diacu nilainya bnaik, karena investor akan lebih murah membeli
saham dengan menggunakan opsi beli.
13.9 VALUASI DARI OPSI
Mengetahui nilai sebenarnya dari suatu opsi adalah hal penting, agar nilai pasar
dari opsi dapat ditentukan.
a. Nilai instrinsik opsi beli
Jika harga saham (P) lebih besar dari exercise price (E) dari opsi beli atau posisi
opsi beli adalah in the money maka nilai intrinsik opsi jual adalah P-E.
b. Nilai instrinsik opsi jual
Jika harga pasar saham lebih kecil dari exercise price dari opsi jual atau posisi opsi
jual adalah in the money maka nilai intrinsic opsi jual adalah E-P.
c. Nilai waktu opsi
Nilai pasar dari opsi tidak mungkin lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Jika terjadi
arbitrageurs, yaitu spekulator-spekulator yang memanfaatkan keuntungan akibat
penyimpangan tidak berisiko akibat penyimpangan, akan membeli opsi ini dan
menggunakan opsi tersebut untuk mendapatkan keuntungan.
13.10 MODEL BLACK-SCHOLES
Black-scholes merupakan salah satu model untuk menghitung nilai pasar dari
opsi, dengan menggunakan beberapa asumsi, yaitu:
1. Saham yang dihubungkan dengan opsi tidak pernah membayar dividen selama
umur dari opsi
2. Tidak ada biaya transaksi untuk membeli dan menjual opsi dan sahamnya
3. Tingkat suku bunga bebas risiko konstan selama umur opsi
4. Pembeli saham dapat meminjam pinjaman jangka pendek dengan tingkat suku
bunga bebas risiko.
5. Penjualan pendek diijinkan dan penjual pendek akan menjual sahamnya dengan
harga pasar saat itu
6. Opsi hanya dapat digunakan pada saat jatuh tempo
7. Pasar likuid dan perdagangan semua sekuritas dapat terjadi di terus-menerus
8. Harga pasar saham-saham bergerak secara acak
Berikut rumus penilaian opsi Black-Scholes untuk opsi beli :
E
HOB = P [N(d1 ) − [N(d2 )]]
en

ln(P⁄E) + (r + 0,5σ2 )t
d1 =
σ√t

d2 = d1 − σ√t
Notasi :
HOB = Harga opsi beli
P = harga pasar saham
N(d1 ) = luas area dibawah kurva normal untuk nilai d1
N(d2 ) = luas area dibawah kurva normal untuk nilai d2
𝐸 = exercise price dari opsi
𝑒 = bilangan natural, basis dari logaritma natural, yaitu sebesar 2,71823
𝑟 = tingkat suku bunga bebas resiko
𝑡 = waktu sisa dari opsi sampai jatuh tempo, diukur dengan pecahan tahun
𝑙𝑛 = logaritma natural
σ2 = varian dari return saham
σ = deviasi standar dari return saham
Nilai N(d1 ) menunjukkan rasio lindung nilai (hedge ratio), yaitu banyaknya
saham yang harus dibeli untuk melindungi opsi yang akan dijual. Ratio ini
menunjukkan berapa perubahan harga opsi akibat perubahan harga dari sahamnya.
13.11 PENENTU-PENENTU HARGA OPSI
Dari rumus harga opsi black-scholes, maka dapat diketahui penentu-penentu
harga opsi, yaitu:
1. Harga saham bersangkutan: Memiliki hubungan positif dengan nilai opsi beli,
karena meningkatkan nilai intrinsik.
2. Exercise price: Jika exercise price naik akan menurunkan nilai instrinsik opsi beli
dan akibatnya menaikkan posisi out the money dari opsi beli.
3. Waktu sisa jatuh tempo opsi: Waktu sisa jatuh tempo opsi mempengaruhi nilai
opsi beli dan opsi jual secara positif.
4. Deviasi standar return saham: Semakin besar variabilitas return saham, semakin
besar nilai opsi beli dan opsi jual.
5. Tingkat suku bunga : Memiliki hubungan positif dengan opsi beli, dan negatif
dengan opsi jual
6. Dividen kas: Pengeluaran dividen kas oleh perusahaan akan mempengaruhi secara
negatif opsi beli dan positif terhadap opsi jual.
13.12 OPSI INDEKS
Opsi indeks saham adalah opsi yang dihubungkan dengan nilai nilai indeks pasar.
Investor dapat membeli opsi beli ataupun opsi jual untuk opsi indeks-saham ini.
Dengan opsi indeks-saham ini investor dapat bertransaksi berdasarkan pergerakan dari
pasar. Dengan membeli opsi indeks-saham ini, investor hhanya perlu mengambil
keputusan berdasarkan pergerakan dari pasar saja. Jika ekspektasi pasar akan
membaik, investor akan membeli opsi beli, sebaliknya jika ekspektasi pasar akan
menurun, investor akan membeli opsi jual.
BAB 17
PERHITUNGAN RETURN TAKNORMAL

17.1 Market-adjusted model


Model sesuaian pasar (market adjusted model) menganggap bahwa penduga yang
terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat
tersebut. Dengan model ini, maka tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk
membentuk model estimasi, karena return sekuritas yang diestimasi adalah sama
dengan return indeks pasar.
17.2 Rata-rata return tak normal
Pengujian adanya abnormal return tidak dilakukan untuk tiap-tiap sekuritas, tetapi
dilakukan secara agregat dengan menguji rata-rata return taknormal seluruh sekuritas
secara cross-section untuk tiap-tiap hari di periode peristiwa. Rata-rata return taknormal
(average abnormal return) untuk hari ke-t dapat dihitung berdasarkan rata-rata
aritmatika sebagai berikut :

∑𝑘
𝑖=1 𝑅𝑇𝑁𝑖,𝑡
RRTNt =
𝑘

Notasi :
RRTNt = rata-rata return tak normal (average abnormal return) pada hari ke-t
RTNit = return tak normal untuk sekuritas ke-I pada hari ke-t
K = jumlah sekuritas yang terpengaruh oleh pengumuman peristiwa
17.3 AKUMULASI RETURN TAKNORMAL
Akumulasi return tak normal (ARTN) atau cumulative abnormal return (CAR)
merupakan penjumlahan return taknormal hari sebelumnya didalam periode peristiwa
untuk masing-masing sekuritas sebagai berikut:
ARTN i,t = ∑𝑡𝑎=𝑡3 𝑅𝑇𝑁𝑖, 𝑎
Notasi :
ARTN i,t = akumulasi return taknormal sekuritas ke-I pada hari ke-t, yang
diakumulasi darireturn taknormal (RTN) sekuritas ke-i mulai awalperiode
peristiwa (t3) sampai hari ke-t.
RTNi,a = return taknormal untuk sekuritas ke-i pada harike-a , yaitu mulai t3 (hari
awal periode jendela) sampai hari ke-t.
Jika terdapat k buah sekuritas, maka akumulasi rata-rata return taknormal (ARRTN)
atau cumulative average abnormal return (CAAR) dapat dihitung sebagai berikut :
∑𝑘
𝑖=1 𝐴𝑅𝑇𝑁𝑡
ARRTNt = 𝐾

Notasi :
ARRTNt = akumulasi rata-rata return tak normal pada hari ke-t
ARTNi,t = akumulasi return taknormal sekuritas ke-I pada hari ke-t
K = jumlah sekuritas yang terpengaruh olehpengumuman peristiwa.
Akumulasi rata-rata return taknormal (ARRTN) dapat juga dihitung denga
mengakumulasi rata-rata return taknormal hari ke-t adalah ARTNt, maka akumulasi
rata-rata return taknormal hari ke-t (ARRTNt) dapat dihitung sebesar :
ARRTNt =∑𝑡𝑎=𝑡3 𝑅𝑅𝑇𝑁𝑡
Notasi :
ARRTNt = akumulasi rata-rata return tak normal padahari ke-t
ARTNa = rata-rata return taknormal pada hari ke-a, yaitu mulai t3 (hari awal periode
jendela) sampai hari ke-t.
17.4 PENGUJIAN STATISTIK TERHADAP RETURN TAKNORMAL
Pengujianstatistik terhadap return taknormal mempunyai tujuan untuk melihat
signifikansi return taknormal yang ada di periode peristiwa. Signifikansi yang dimaksud
adalah bahwa abnormal return tersebut secara statistik signifikan tidak sama dengan nol
(positif untuk kabar baik dan negative untuk kabar buruk). Pengujian (t-test) digunakan
untuk maksud ini.Secara umum, pengujian-t yang menguji hipotesis nol adalah sebagai
berikut :
𝛽
t = 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝐸𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖

Notasi :
t = t-hitung
β = parameter yang akan diuji signifikansinya (misalnya adalah koefisien dari regresi,
rata-rata suatu nilai dan sebagainya).
Dengan demikian pengujian-t ini dilakukan dengan cara standarisasi dari nilai return
taknormal. Standarisasi yang dilakukan adalah dengan membagi nilai return taknormal
dengan nilai standar estimasinya. Kesalahan standar estimasi merupakan kesalahan
standar pada waktu mengestimasi nilai abnormal returnya. Standarisasi dilakukan untuk
return taknormal masing-masing sekuritas. Return taknormal standarisasi untuk
sekuritas ke-I dapat ditulis sebagai berikut :
𝑅𝑇𝑁𝑖𝑡
RTNSi,t = 𝐾𝑆𝐸𝑖

Notasi :
RTNSi,t = return taknormal standarisasi sekuritas ke-I pada hari ke-t diperiode
peristiwa.
RTNi,t = return taknormal sekuritas ke-i pada hari ke-tdi periode peristiwa
KSEi = kesalahan standar estimasi untuk sekuritas ke-i
Permasalahan yang timbul adalah nilai kesalahan standar estimasi bagaimana yang
dapat digunakan. Beberapa cara telah digunakan untuk menentukan kesalahan standar
estimasi yang akan digunakan yaitu sebagai berikut :
1. Kesalahan standar estimasi ditentukan berdasarkan deviasi standar return-return
selama periode estimasi dengan nilai standarnya yang digunakan adalah nilai rata-
rata returnnya.
2. Kesalahan standar estimasi ditentukan berdasarkan deviasi standar return-return
selama periode estimasi dengan nilai standar yang digunakan adalah nilai prediksi
returnnya.
3. Kesalahan standar estimasi ditentukan berdasarkan deviasi standar return-return
hari ke-t secara cross-section selama periode peristiwa.
Cara pertama dan kedua dilakukan untuk masing-masing sekuritas ke-i.Cara kesatu
dan kedua ini membutuhkan periode estimasi, sehingga hanya dapat diterapkan untuk
model pasar (market model) dan model sesuaian rata-rata dan tidak sesuai untuk model
sesuaian pasar karena model ini tidak menggunakan peride estimasi.
Cara ketiga dilakukan secara agregat untuk semua sekuritas.Cara ketiga ini hanya
membutuhkan periode peristiwa dan tidak membutuhkan periode estimasi. Oleh karena
itu, model sesuaian pasar tepat digunakan untuk cara ketiga ini. Model-model yang
lainnya, yaitu market-model dan mean-adjusted model dapat juga menggunakan cara
ketiga ini.
17.5 KESALAHAN STANDAR ESTIMASI BERDASARKAN RATA-RATA RETURN PERIODE
ESTIMASI
Cara pertama menghitung kesalahan standar estiamasi berdasarkan deviasi niali-
nilai return dari nilai rata-rata returnnya selama periode estimasi dan dapat dirumuskan
sebagai berikut :

∑𝑡2
𝑖=1(𝑅𝑛−Ṝ)²
KSEi = √ 𝑇1−2
Notasi :
KSEi = kesalahan standar estimasi untuk sekuritas ke- i
Ri,j = return sekuritas ke-I untuk hari ke-j selama periode estimasi
Ri = rata-rata return sekuritas ke-I selama periode estimasi.
T1 = jumlah hari di periode estiamsi, yaitu hari ke- t1 sampai dengan hari ke-t2
Pengujian-t umumnya dilakukan untuk return portofolio (rata-rata return semua k-
sekuritas) pada hari-t di periode peristiwa. Portofolio sekuritas ini terdiri dari k-buah
sekuritas yang terpengaruh oleh pengumuman peristiwa bersangkutan. Besarnya return
taknormal standarisasi untuk portofolio k-buah sekuritas ini untuk hari ke-t, adalah
sebesar :
∑𝑘
𝑖=1 𝑅𝑇𝑁𝑆𝑖𝑡
RTNSt =
√𝑘

Notasi :
RTNSt = return taknormal standarisasi portofolio untuk hari ke-t di periode peristiwa.
RTNSit = return taknormal standarisasi sekuritas ke-I untuk hari ke-t di periode
peristiwa.
K = jumlah sekuritas
Jika return taknormal masing-masing sekuritas pada hari ke-t (RTNSit) merupakan
return yang independen dan terdistribusi secara identik, maka return tak normal
standarisasinya (RTNSt) mempunyai distribusi normal untuk nilai k yang besar.
Implikasinya adalah return taknormal standarisasinya (RTNSt) yang merupakan t-hitung
adalah juga merupakan z-hitung untuk nilai k yang besar.
Brown dan Warner (1980) menggunakan metode yang disebut dengan crude
dependence adjustment untuk mengatasi masalah return sekuritas-sekuritas yang
melanggar asumsi independen. Kesalahan standar estimasi berdasarkan metode crude
dependence adjustment adalah sebesar :
𝑘 𝑡2 𝑘
√∑𝑡2 (∑𝑖=1 𝑅𝑇𝑁𝑖𝑡− ∑𝑡=𝑡1 ∑𝑖=1 𝑅𝑇𝑁𝑖𝑡)²
𝑡=𝑡1 𝑘 𝑘
KSEi = 𝑇1−1

Notasi :
KSEi = kesalahan standar estimasi hari ke-t di periode peristiwa.
RTNit = return taknormal sekuritas ke-i hari ke-t di periode peristiwa
T1 = jumlah hari diperiode estimasi
K = jumlah sekuritas
17.6 KESALAHAN STANDAR ESTIMASI BERDASARKAN PREDIKSI RETURN PERIODE
ESTIMASI
Cara kedua menghitung kesalahan standar estimasi berdasarkan deviasi nilai-nilai
return dari nilai estimasinya selama periode estimasi. Dengan demikian perbedaan cara
pertama dan kedua dalam menghitung kesalahan standar estimasi adalah terletak
distandar yang digunakan untuk mengukur penyimpangan return-returnnya selama
periode estimasi. Di cara pertama, nilai standar yang digunakan adalah nilai rata-rata
returnnya, sedangkan dicara kedua, nilai standar yang digunakan adalah nilai estimasi
returnnya. Cara kedua ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
∑𝑡2
𝑖=𝑡1 𝑅𝑖𝑗−𝐸(𝑅𝑖,𝑗)
KSEi = 𝑇1−2

Notasi :
KSEi = kesalahan standar estimasi untuk sekuritas ke- i
Ri,j = return sekuritas ke-I untuk hari ke-j selama periode estimasi.
E(Ri,j) = estimasi return sekuritas ke-I untuk hari ke-j selama periode estimasi.
T1 = jumlah hari diperiode estimasi, yaitu dari hari ke-t1 sampai dengan hari ke-
t2.
Kesalahan standar estimasi, baik dengan cara pertama atau cara kedua, dihitung
dengan nilai-nilai diperiode estimasi. Kesalahan estimasi ini dapat disesuaikan dengan
nilai return indeks pasar di periode peristiwa. Hasil dari penyesuaian ini disebut dengan
kesalahan standar peramalan (standard error of the forecast) sebagai berikut :
1 (𝑅𝑀𝑡−Ṝ𝑀)²
KSPi,t = KSEi√1 + 𝑇1 + ∑𝑡2
𝑗=𝑡1(𝑅𝑀𝑗 −Ṝ𝑀)²

Notasi :
KSPi,t = kesalahan standart pemilihan peramalan sekuritas ke-I hari ke-t di periode
peristiwa.
KSEi = kesalahan peristiwa estimasi untuk sekuritaske-i
RMt = return indeks pasar hari ke-t di periode peristiwa
RMj = return indeks pasar hari ke-j di periode estimasi
RM = rata-rata return indeks pasar selama di periodeestimasi,
T1 = jumlah hari di periode estimasi, yaitu dari hari ke-t1 sampai dengan hari ke-t2
Dari rumus tersebut dapat dilihat bahwa kesalahan standar peramalan (KSPi,t)
nilainya berbeda untuk hari yang berbeda di periode peristiwa, sedangkan kesalahan
standar estimasi nilainya sama untuk tiap hari diperiode peristiwa untuk masing-masing
sekuritas. Kedua kesalahan standart ini banyak digunakan diberberapa penelitian.
Beberapa penelitian menggunakan kesalahan satandar estimasi dan beberapa yang
lainnya menggunakan kesalahan standar peramalan. Penggunaan kesalahan standar
peramalan lebih mencerminkan keadaan pasar di hari ke-t di periode peristiwa.
17.7 KESALAHAN STANDAR ESTIMASI SECARA CROSS-SECTION
Cara ketiga dari kesalahan perhitungan standar estimasi didasarkan pada deviasi
standar return-return tak normal dari k-sekuritas secara cross-section untuk setiap hari
di periode peristiwa. Cara ketiga ini menghitung kesalahan standar estimasi langsung di
peride peristiwa, tidak menggunakan periode estimasi. Cara ketiga ini lebih tepat
digunakan untuk model sesuaian-pasar yang hanya menggunakan periode peristiwa dan
tidak menggunakan periode estimasi. Kesalahan standar estimasi ini adalah:

∑𝐾
𝐼=1(𝑅𝑇𝑁𝑖𝑡 −Ṝ𝑇𝑁)² 1
KSEi = √ 𝑘−1

√𝑘

Keteranagan :
KSEi = kesalahan standar estimasi untuk hari ke-t di periode peristiwa.
RTNit = return taknormal sekuritas ke-I untuk hari ke-tdi periode peristiwa.
RTNt = rata-rata return taknormal k-sekuritas untukhari ke-t di periode peristiwa.
K = jumlah sekuritas
17.8 PENJELAS RETURN TAK NORMAL
Beberapa penelitian berusaha untuk menemukan factor-faktor spesifik-perusahaan
yang dapat menjelaskan terjadinya abnormal return tersebut. Untuk menjawab
pertanyaan ini, teknik regresi banyak digunakan. Akumulasi return taknormal (ARTN)
digunakan sebagai dependen variabel dan factor-faktor spesifik-perusahaan digunakan
sebagai independen variabel sebagai berikut :
ARTNi,t4 = f(factor-faktor spesifik-perusahaan)
Keterangan :
RTNi,t4 =akumulasi return taknormal pada hari terakhir di periode jendela, yaitu pada
hari ke-t4 untuk perusahaan ke-i. akumulasi return taknormal ini juga dapat
dihitung dengan menjumlahkan semua return taknormal dalam periode
jendela untuk masing-masing perusahaan ke-i.A
Misalnya suatu studi peristiwa tentang pengumuman perusahaan laba menemukan
bahwa perubahan laba mengandung informasi, yaitu terdapat adanya abnormal return
disekeliling tanggal pengumuman perubahan laba tersebut. Hasil ini hanya menunjukan
bahwa perubahan laba mengakibatkan adanya reaksi pasar, tetapi tidak menjelaskan
seberapa besar respon pasar tersebut berhubungan dengan besarnya dari perubahan
labanya. Untuk mengetahui hubungan ini, umumnya digunakan persamaan regresi
sebagai berikut ini.
ARTNi = β0 + β1▲EPSi + εi
ARTNi adalah akumulai return taknormal perusahaan ke-I dan ▲EPSi adalah
perubahan laba perlembar saham perusahaan ke-i. koefisien regresi β1 menunjukan
koefisien respon laba terhadap return taknormal (earnings response coefficient atau
ERC). Jika koefisien β1 ini signifikan, dapat diartikan bahwa tidak hanya pengumuman
perubahan laba saja yang menimbulkan abnormal return, tetapi juga besarnya
(magnitude) dari perubahan laba tersebut mempengaruhi besarnya abnormal return.