Anda di halaman 1dari 42

KONSEP DASAR DAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)

LAPORAN PENDAHULUAN

oleh
Suhariyati, S.Kep
NIM 112311101001

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. KONSEP DASAR BPH

1.1 Konsep Dasar BPH


1.1.1 Anatomi
Kelenjar prostat terletak dibawah kandung kemih, mengelilingi uretra
posterior dan disebelah proksimalnya berhubungan dengan buli-buli, sedangkan
bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital yang
sering disebut sebagai otot dasar panggul (Wibowo & Paryana, 2009).

Gambar 1. Anatomi Kelenjar Prostat

Prostat terdiri atas kelenjar majemuk, saluran-saluran, dan ototpolos.


Prostat dibentuk oleh jaringan kelenjar dan jaringan fibromuskular. Prostat
dibungkus oleh kapsula fibrosa dan bagian lebih luar oleh fascia prostatica yang
tebal. Diantara fascia prostatica dan kapsula fibrosa terdapat bagian yang berisi
anyaman vena yang disebut plexus prostaticus. Fascia prostatica berasal dari
fascia pelvicyang melanjutkan diri ke fascia superior diaphragmatic urogenital,
dan melekat pada os pubis dengan diperkuat oleh ligamentum puboprostaticum.
Bagian posterior fascia prostatica membentuk lapisan lebar dan tebal yang disebut
fascia Denonvilliers. Fascia ini sudah dilepas dari fascia rectalis dibelakangnya.
Hal ini penting bagi tindakan operasi prostat (Purnomo, 2011).
Gambar 2. Anatomi prostat
Kelenjar prostat merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30-50 kelenjar
yang terbagi atas empat lobus, lobus posterior, lobus lateral, lobus anterior, dan
lobus medial. Lobus posterior yang terletak di belakang uretra dan dibawah
duktus ejakulatorius, lobus lateral yangterletak dikanan uretra, lobus anterior atau
isthmus yang terletak di depan uretra dan menghubungkan lobus dekstra dan
lobus sinistra, bagian ini tidak mengandung kelenjar dan hanya berisi otot polos,
selanjutnya lobus medial yang terletak diantara uretra dan duktus ejakulatorius,
banyak mengandung kelenjar dan merupakan bagian yang menyebabkan
terbentuknya uvula vesicae yang menonjol kedalam vesica urinaria bila lobus
medial ini membesar. Sebagai akibatnya dapat terjadi bendungan aliran urin pada
waktu berkemih. Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah
walnut atau buah kenari besar. Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4
cm, dan tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm dengan berat sekitar 20 gram. Bagian-
bagian prostat terdiri dari 50 – 70 % jaringan kelenjar, 30 – 50 % adalah jaringan
stroma (penyangga) dan kapsul/muskuler (Wibowo dan Paryana, 2009).

Gambar 3. Bagian Prostat

Vaskularisasi pada prostat berasal dari arteri dan vena. Arteri vesikal
inferior,arteri pudendal interna, dan arteri hemoroid menyuplai darah ke prostat.
Sedangkan vena dari prostat akan berlanjut ke pleksus periprostatik yang
terhubung dengan venadorsal dalam dari penis dan vena iliaka interna (Wibowo
dan Paryana, 2009).
Prostat merupakan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari
pleksus prostatikus atau pleksus pelvikus yang menerima masukan serabut
parasimpatik dari korda spinalis dan simpatik dari nervus hipogastrikus.
Rangsangan parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat,
sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat kedalam
uretra posterior, seperti pada saat ejakulasi. System simpatik memberikan inervasi
pada otot polos prostat, kapsula prostat, dan leher buli-buli. Ditempat itu terdapat
banyak reseptor adrenergiK. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankan
tonus otot tersebut. Pada usia lanjut sebagian pria akan mengalami pembesaran
kelenjar prostat akibat hiperplasi jinak sehingga dapat menyumbat uretra posterior
dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih (Purnomo, 2011).
Purnomo (2011) mengatakan bahwa fisiologi prostat adalah suatu alat
tubuh yang tergantung kepada pengaruh endokrin. Bagian yang peka terhadap
estrogen adalah bagian tengah, sedangkan bagian tepi peka terhadap androgen,
oleh karena itu pada orang tua bagian tengahlahyang mengalami hiperplasi karena
sekresi androgen berkurang sehingga kadar estrogen relatif bertambah. Sel-sel
kelenjar prostat dapat membentuk enzim asam fosfatase yang paling aktif bekerja
pada pH 5. Cairan yang dikeluarkan kelenjar prostat mengandung asam sitrat,
asam fosfatase, kalsium dan koagulase serta fibrinolisis. Selama pengeluaran
cairan prostat, kapsul kelenjar prostat akan berkontraksi bersamaan dengan
kontraksi vas deferen dan cairan prostat keluar bercampur dengan semen yang
lainnya. Cairan prostat merupakan 70% volume cairan ejakulat dan berfungsi
memberikan makanan spermatozon dan menjaga agar spermatozon tidak cepat
mati di dalam tubuh wanita, dimana sekret vagina sangat asam (pH: 3,5-4). Cairan
ini dialirkan melalui duktus skretorius dan bermuara di uretra posterior untuk
kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi.
Sperma dapat hidup lebih lama dan dapat melanjutkan perjalanan menuju tuba
uterina dan melakukan pembuahan pada pH 6-6,5 (Wibowo dan Paryana, 2009).

1.1.2 Definisi BPH


Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) merupakan perbesaran kelenjar
prostat, memanjang ke atas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin
dengan menutupi orifisium uretra akibatnya terjadi dilatasi ureter (hidroureter)
dan ginjal (hidronefrosis) secara bertahap (Smeltzer dan Bare, 2002). Price &
Wilson (2006) menjelaskan bahwa BPH merupakan pertumbuhan nodul-nodul
fibroadenomatosa majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari
bagian periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan
kelenjar normal yang tersisa, prostat tersebut mengelilingi uretra dan, dan
pembesaran bagian periuretral menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan
uretra parsprostatika (Price dan Wilson, 2006).
BPH sering terjadi pada pria umur 50 tahun atau lebih yang ditandai
dengan prostat mengalami atrofi dan menjadi nodular, pembesaran dari beberapa
bagian kelenjar ini dapat mengakibatkan obstruksi urine (Baradero dan Dayrit,
2007). Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan, bahwa Benigna
Prostate Hiperplasia (BPH) adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh
pembesaran kelenjar prostat yang dapat menyumbat aliran urin dengan menutupi
orifisium uretra akibat terjadinya dilatasi ureter dan ginjal, sehingga menghambat
pengosongan kandung kemih dan menyebabkan gangguan perkemihan.

Gambar 4. BPH

1.1.3 Etiologi
Penyebab pasti BPH belum diketahui. Smeltzer dan Bare (2002)
menyebutkan bahwa beberapa bukti yang dapat menyebabkan BPH adalah
hormon yang menyebabkan hyperplasia jaringan dan penuaan. Beberapa bukti
lain menyebutkan bahwa penyebab BPH ini berhubungan dengan adanya
beberapa teori, yaitu Teori Dehidrotestosteron (DHT), teori hormon
(ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron), faktor interaksi stroma dan
epitel-epitel, teori berkurangnya kematian sel (apoptosis), teori sel stem.
a. Teori Dehidrotestosteron (DHT)
Dehidrotestosteron (DHT) adalah hormon pria yang aktif dalam kelenjar
prostat. Hormon ini dibuat ketika enzim 5-alpha reduktase mengubah
testosteron menjadi dehidrotestosteron, yang merangsang pertumbuhan
kelenjar prostat.DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Aksis hipofisis testis dan reduksi
testosteron menjadi dehidrotestosteron (DHT) dalam sel prostat merupakan
faktor terjadinya penetrasi DHT kedalam inti sel yang dapat menyebabkan
gangguan pada RNA, sehingga dapat menyebabkan terjadinya sintesis protein
yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. Pada berbagai penelitian dikatakan
bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat
normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5alfa–reduktase dan jumlah
reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat
pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak
terjadi dibandingkan dengan prostat normal.
b. Teori Hormon (Ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron)
Penurunan kadar testosteron sering terjadi pada pria dengan usia lanjut.
Penurunan produksi testosteron dan konversi testosteron menjadi estrogen pada
jaringan adiposa di perifer dapat merangsang terjadinya hiperplasia pada
stroma. Estrogen berberan dalam perkembangan stroma yang awalnya terjadi
akibat proliferasi sel oleh testosteron. Pada keadaan normal hormon
gonadotropin hipofise akan menyebabkan produksi hormon androgen testis
yang akan mengontrol pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia,
akan terjadi penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan
menyebabkan penurunan yang progresif dari sekresi androgen yang dapat
berpengaruh pada estrogen dan testosteron.
c. Faktor interaksi Stroma dan Epitel
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol
oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator yang disebut Growth factor. Setelah
sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma
mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma
itu sendiri. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya poliferasi sel-sel epitel
maupun sel stroma. Basic Fibroblast Growth Factor (bFGF) dapat
menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih besar
pada pasien dengan pembesaran prostat jinak. bFGF dapat diakibatkan oleh
adanya mikrotrauma karena miksi, ejakulasi atau infeksi.
d. Teori berkurangnya kematian sel (apoptosis)
Apoptosis pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik untuk
mempertahankan homeostatis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi
kondensasi dan fragmentasi sel, yang selanjutnya sel-sel yang mengalami
apoptosis akan difagositosis oleh sel-sel di sekitarnya, kemudian didegradasi
oleh enzim lisosom. Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju
poliferasi sel dengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat
sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan
yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat baru
dengan prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat
secara keseluruhan menjadi meningkat, sehingga terjadi pertambahan masa
prostat.
e. Teori Sel Stem
Sel-sel yang telah apoptosis selalu dapat diganti dengan sel-sel baru. Didalam
kelenjar prostat istilah ini dikenal dengan suatu sel stem, yaitu sel yang
mempunyai kemampuan berpoliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini
sangat tergantung pada keberadaan hormone androgen, sehingga jika hormon
androgen kadarnya menurun, akan terjadi apoptosis. Terjadinya poliferasi sel-
sel BPH dipercayai sebagai ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga terjadi
produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel epitel.
1.1.4 Klasifikasi
Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4
stadium:
a. Stadium I: ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan
urine sampai habis.
b. Stadium II: ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine
walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak
enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia.
c. Stadium III: setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
d. Stadium IV: retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine
menetes secara periodik (over flowin continent).

Pembagian berdasarkan tingkat keparahan penderita BPH dapat diukur


dengan skor IPSS (Internasional Prostate Symptom Score) untuk membantu
diagnosis dan menentukan tingkat beratnya penyakit Sjamsuhidajat (2005).
Tabel 1. Tingkatan Keparahan BPH
No Keluhan pada bulan Tidak <1x <dari Kadang- >dari Hampir
terakhir pernah dalam 5 setengah kadang setengah Selalu
kali sekitar
(50%)

1 Seberapa sering anda 0 1 2 3 4 5


merasa tidak puas saat
selesai berkemih?
2 Seberapa sering 0 1 2 3 4 5
anda harus kencing dalam
waktu <2 jam setelah
selesai berkemih?
3 Seberapa sering 0 1 2 3 4 5
anda mendapatkan
kencing anda terputus-putus?
4 Seberapa sering 0 1 2 3 4 5
anda mendapatkan bahwa
anda sulit menahan kencing?
5 Seberapa sering pancaran 0 1 2 3 4 5
kencing anda lemah?
6 Seberapa sering anda 0 1 2 3 4 5
harus mengedan untuk
mulai berkemih?
7 Seberapa sering anda 0 1 2 3 4 5
harus bangun untuk
berkemih sejak mulai
tidur pada malam hari
hingga bangun di pagi
hari?
Total IPSS Score :
1. Ringan (Mild) : 0 – 7
2. Sedang (Moderate) : 8-19
3. Berat (Severe) : 20 - 35

1.1.5 Tanda dan gejala


Manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan oleh BPH salah satunya adalah
adanya obstuksi. Obstruksi prostat ini dapat menimbulkan keluhan pada saluran
kemih maupun keluhan diluar saluran kemih. Purnomo (2011) mengatakan bahwa
manifestasi klinis BPH adalah keluhan pada saluran kemih bagian bawah dan
gejala pada saluran kemih bagian atas.
a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
1) Gejala obstruksi meliputi retensi urin (urin tertahan dikandung kemih
sehingga urin tidak bisa keluar), straining/harus mengejan, hesitansi (sulit
memulai miksi), pancaran miksi lemah, Intermiten (kencing terputus-putus),
dan miksi tidak puas (menetes setelah miksi/terminal dribling);
2) Gejala iritasi meliputi frekuensi, nokturia, urgensi (perasaan ingin miksi
yang sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi).
b. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat hiperplasi prostat pada sluran kemih bagian atas berupa adanya
gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan dipinggang (merupakan tanda
dari hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda infeksi atau urosepsis.
Gambar 5. Tanda gejala BPH

1.1.6 Patofisiologi
Hiperplasi prostat adalah pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa
majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral
sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal
yang tersisa. Jaringan hiperplastik terutama terdiri dari kelenjar dengan stroma
fibrosa dan otot polos yang jumlahnya berbeda-beda. Proses pembesaran prosta
terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi
secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostad,
resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostatmeningkat, serta otot destrusor
menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan
destrusor disebut fase kompensasi, keadaan berlanjut, maka destrusor menjadi
lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk
berkontraksi/terjadi dekompensasi sehingga terjadi retensi urin. Pasien tidak bisa
mengosongkan vesika urinaria dengan sempurna, maka akan terjadi statis urin.
Urin yang statis akan menjadi alkalin dan media yang baik untuk pertumbuhan
bakteri (Baradero et al, 2007).
Obstruksi urin yang berkembang secara perlahan-lahan dapat
mengakibatkan aliran urin tidak deras dan sesudah berkemih masih ada urin yang
menetes, kencing terputus-putus (intermiten), dengan adanya obstruksi maka
pasien mengalami kesulitan untuk memulai berkemih (hesitansi). Gejala iritasi
juga menyertai obstruksi urin. Vesika urinarianya mengalami iritasi dari urin yang
tertahan tertahan didalamnya sehingga pasien merasa bahwa vesika urinarianya
tidak menjadi kosong setelah berkemih yang mengakibatkan interval disetiap
berkemih lebih pendek (nokturia dan frekuensi), dengan adanya gejala iritasi
pasien mengalami perasaan ingin berkemih yang mendesak/ urgensi dan nyeri saat
berkemih /disuria (Purnomo, 2011).
Tekanan vesika yang lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan obstruksi,
akan terjadi inkontinensia paradox (keadaan dimana tekanan vesika urinaria
menjadi lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan terjadi obstruksi). Retensi
kronik menyebabkan refluk vesika ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal
ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi
pasien harus mengejan sehingga lama kelamaan menyebabkan hernia atau
hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urin, dapat menyebabkan terbentuknya batu
endapan didalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan
menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat juga menyebabkan sistitis
(peradangan kandung kemih) dan bila terjadi refluk akan mengakibatkan
pielonefritis (inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang disebabkan
karena adanya infeksi oleh bakteri) (Sjamsuhidajat 2005; De jong, 2004).
1.1.7 Pemeriksaan
Untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain
sebagai berikut (Sjamsuhidajat 2005; De jong, 2004).
a. Anamnesa.
Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract
Symptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, terminal
dribbling, terasa adasisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan gejala
iritatif dapat berupa urgensi, frekuensi serta disuria.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Rectal touch atau pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan
konsistensi sistem persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat.
Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
a) 0 – 1 cm …………. = grade 0
b) 1 – 2 cm …………. = grade 1
c) 2 – 3 cm …………. = grade 2
d) 3 – 4 cm …………. = grade 3
e) > 4 cm…………… = grade 4

Gambar 6. Colok dubur

2) Clinical grading
Patokan banyaknya sisa urine dilakukan dengan cara pagi hari pasien
bangun tidur disuruh kencing sampai selesai kemudian masukkan kateter
VU mengukur sisa urine
a) Sisa urine 0 cc …………. = normal
b) Sisa urine 0 – 50 cc …… = grade 1
c) Sisa urine 50 – 150 cc…. = grade 2
d) Sisa urine > 150 cc ……. = grade 3
c. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula
digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien.
2) Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
3) PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan
adanya keganasan. Distribusi konsentrasi PSA dalam sampel yang berbeda.
Prostat spesifik antigen konsentrasi (PSA) dalam serum pasien dengan PC,
BPH dan pria sehat diukur dengan ELISA. PSA lebih tinggi terdeteksi pada
serum pasien kelompok (PC dan BPH) dibandingkan dengan orang yang
sehat. Konsentrasi rata-rata PSA pada pasien PC sedikit lebih tinggi
dibandingkan pasien BPH (p <0,03) (Habibagahi et al, 2009).

Gambar 7. Pemeriksaan Prostatik Spesific Antigen

d. Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara objektif
pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian:
1) Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.
2) Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
3) Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif.

Gambar 8. Pemeriksaan uroflowmetri

e. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik


1) BOF (buik overzich foto) untuk melihat adanya batu.

Gambar 9. BOF batu buli

2) USG (ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan


besar prostat juga keadaan buli–buli termasuk residual urin. Pemeriksaan
dapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan suprapubik. Pada
pemeriksaan USG akan ditemukan volume prostat > 30 ml.
Gambar 10. Hasil USG pada pasien BPH

3) IVP (Pielografi Intravena), digunakan untuk melihat fungsi ekskresi ginjal


dan adanya hidronefrosis.

Gambar 11. IVP pada pasien BPH

1.2.6 Komplikasi
Sjamsuhidajat (2005) dan De Jong (2004) menyebutkan bahwa komplikasi
BPH adalah sebagai berikut:
a. retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi;
b. infeksi saluran kemih;
c. involusi kontraksi kandung kemih;
d. refluk kandung kemih;
e. hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin terus berlanjut
maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urin yang akan
mengakibatkan tekanan intravesika meningkat;
f. gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi;
g. hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga dapat terbentuk batu
endapan dalam buli-buli, batu ini akan menambah keluhan iritasi. Batu tersebut
dapat pula menibulkan sistitis, dan bila terjadi refluks dapat mengakibatkan
pielonefritis;
h. hernia atau hemoroid lama-kelamaan dapat terjadi dikarenakan pada waktu
miksi pasien harus mengedan.

1.1.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan tergantung dengan penyebab,
keparahan obstruksi, dan kondisi pasien (Smeltzer dan Bare, 2002).
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Pasien
dianjurkan untuk mengurangi minum setelah makan malam yang ditujukan
agar tidak terjadi nokturia, menghindari obat-obat dekongestan
(parasimpatolitik), mengurangi minum kopi, dan tidak diperbolehkan minum
alkohol agar tidak terlalu sering miksi. Pasien dianjurkan untuk menghindari
mengangkat barang yang berat agar perdarahan dapat dicegah. Anjurkan pasien
agar sering mengosongkan kandung kemih (jangan menahan kencing terlalu
lama) untuk menghindari distensi kandung kemih dan hipertrofi kandung
kemih. Pasien dianjurkan untuk melakukan kontrol keluhan, pemeriksaan
laboratorium, sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur (Purnomo, 2011).
Pemeriksaan derajat obstruksi prostat menurut Purnomo (2011) dapat
diperkirakan dengan mengukur residual urin dan pancaran urin.
1) Residual urin: jumlah sisa urin setelah miksi. Sisa urin dapat diukur dengan
cara melakukan kateterisasi setelah miksi atau ditentukan dengan
pemeriksaan USG setelah miksi.
2) Pancaran urin (flow rate): dapat dihitung dengan cara menghitung jumlah
urin dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau dengan alat
urofometri yang menyajikan gambaran grafik pancaran urin.
b. Terapi medikamentosa
Baradero et al (2007) megatakan bahwa tujuan dari obat-obat yang diberikan
pada pasien BPH adalah sebgai berikut:
1) mengurangi pembesaran prostat dan membuat otot-otot berelaksasi untuk
mengurangi tekanan pada uretra;
2) mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan alfa
blocker (penghambat alfa adrenergenik);
3) mengurangi volum prostat dengan menentuan kadar hormone testosterone
atau disebut dengan dehidrotestosteron (DHT).

Adapun obat-obatan yang sering digunakan pada pasien BPH, menurut


Purnomo (2011) diantaranya adalah sebagai penghambat adrenergenik alfa,
penghambat enzin 5 alfa reduktase, dan fitofarmaka.
1) Penghambat adrenergenik alfa
Obat-obat yang sering dipakai diantaranya adalah prazosin,
doxazosin,terazosin,afluzosin atau yang lebih selektif alfa 1a (Tamsulosin).
Dosis dimulai 1mg/hari sedangkan dosis tamsulosin adalah 0,2-0,4 mg/hari.
Penggunaaan antagonis alfa 1 adrenergenik karena secara selektif dapat
mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas detrusor.
Obat ini menghambat reseptor-reseptor yang banyak ditemukan pada otot
polos di trigonum, leher vesika, prostat, dan kapsul prostat sehingga terjadi
relakasi didaerah prostat. Obat-obat golongan ini dapat memperbaiki
keluhan miksi dan laju pancaran urin. Hal ini akan menurunkan tekanan
pada uretra pars prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-
gejala berkurang. Biasanya pasien mulai merasakan berkurangnya keluhan
dalam 1-2 minggu setelah ia mulai memakai obat. Efek samping yang
mungkin timbul adalah pusing, sumbatan di hidung dan lemah. Ada
beberapa obat-obat yang menyebabkan ekasaserbasi retensi urin maka perlu
dihindari seperti antikolinergenik, antidepresan, transquilizer, dekongestan,
obatobat ini mempunyai efek pada otot kandung kemih dan sfingter uretra.
2) Penghambat enzim 5 alfa reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis 1X5 mg/hari.
Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat
yang membesar akan mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat dari
golongan alfa bloker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang besar.
Efektifitasnya masih diperdebatkan karena obat ini baru menunjukkan
perbaikan sedikit atau 28 % dari keluhan pasien setelah 6-12 bulan
pengobatan bila dilakukan terus menerus, hal ini dapat memperbaiki
keluhan miksi dan pancaran miksi. Efek samping dari obat ini diantaranya
adalah libido, impoten dan gangguan ejakulasi.
3) Fitofarmaka atau fitoterapi
Penggunaan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat.
Substansinya misalnya pygeum africanum, saw palmetto, serenoa repeus.
Efeknya diharapkan terjadi setelah pemberian selama 1- 2 bulan dapat
memperkecil volum prostat.
c. Terapi bedah
Pembedahan adalah tindakan pilihan, keputusan untuk dilakukan pembedahan
didasarkan pada beratnya obstruksi, adanya ISK, retensio urin berulang,
hematuri, tanda penurunan fungsi ginjal, ada batu saluran kemih dan perubahan
fisiologi pada prostat. Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi
tergantung pada beratnya gejala dan komplikasi. Smeltzer dan Bare (2002)
mengatakan bahwa intervensi bedah yang dapat dilakukan meliputi
pembedahan terbuka dan pembedahan endourologi.
1) Pembedahan terbuka
Beberapa teknik operasi prostatektomi terbuka yang biasa digunakan adalah
sbegai berikut:
a) Prostatektomi suprapubik
Adalah salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi abdomen.
Insisi dibuat dikedalam kandung kemih, dan kelenjar prostat diangat dari
atas. Teknik demikian dapat digunakan untuk kelenjar dengan segala
ukuran, dan komplikasi yang mungkin terjadi ialah pasien akan
kehilangan darah yang cukup banyak dibanding dengan metode lain,
kerugian lain yang dapat terjadi adalah insisi abdomen akan disertai
bahaya dari semua prosedur bedah abdomen mayor.
b) Prostatektomi perineal
Adalah suatu tindakan dengan mengangkat kelenjar melalui suatu insisi
dalam perineum. Teknik ini lebih praktis dan sangat berguan untuk
biopsy terbuka. Pada periode pasca operasi luka bedah mudah
terkontaminasi karena insisi di lakukan dekat dengan rektum. Komplikasi
yang mungkin terjadi dari tindakan ini adalah inkontinensia, impotensi
dan cedera rectal.
c) Prostatektomi retropubik
Adalah tindakan lain yang dapat dilakukan, dengan cara insisi abdomen
rendah mendekati kelenjar prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung
kemih tanpa memasuki kandung kemih. Teknik ini sangat tepat untuk
kelenjar prostat yang terletak tinggi dalam pubis. Meskipun jumlah darah
yang hilang lebih dapat dikontrol dan letak pembedahan lebih mudah
dilihat, akan tetapi infeksi dapat terjadi diruang retropubik.

Gambar 12. Prostatektomi


2) Pembedahan endourologi
Pembedahan endourologi transurethral dapat dilakukan dengan memakai
tenaga elektrik diantaranya:
a) Transurethral Prostatic Resection (TURP): tindakan operasi yang paling
banyak dilakukan, reseksi kelenjar prostat dilakukan dengan transuretra
menggunakan cairan irigan (pembilas) agar daerah yang akan dioperasi
tidak tertutup darah. Indikasi TURP ialah gejala-gejala sedang sampai
berat, volume prostat kurang dari 90 gr.Tindakan ini dilaksanakan
apabila pembesaran prostat terjadi dalam lobus medial yang langsung
mengelilingi uretra. Setelah TURP yang memakai kateter threeway.
Irigasi kandung kemih secara terus menerus dilaksanakan untuk
mencegah pembekuan darah. Manfaat pembedahan TURP antara lain
tidak meninggalkan atau bekas sayatan serta waktu operasi dan waktu
tinggal dirumah sakit lebih singkat.Komplikasi TURP adalah rasa tidak
enak pada kandung kemih, spasme kandung kemih yang terus menerus,
adanya perdarahan, infeksi, fertilitas (Baradero et al, 2007).
b) Transurethral Incision of the Prostate (TUIP): tindakan ini dilakukan
apabila volume prostat tidak terlalu besar atau prostat fibrotic. Indikasi
dari penggunan TUIP adalah keluhan sedang atau berat, dengan volume
prostat normal atau kecil (30 gram atau kurang). Teknik yang dilakukan
adalah dengan memasukan instrument kedalam uretra. Satu atau dua
buah insisi dibuat pada prostat dan kapsul prostat untuk mengurangi
tekanan prostat pada uretra dan mengurangi konstriksi uretral.
Komplikasi dari TUIP adalah pasien bisa mengalami ejakulasi retrograde
(0-37%) (Smeltzer dan Bare, 2002).
c) Terapi invasive minimal: dilakukan pada pasien dengan resiko tinggi
terhadap tindakan pembedahan. Terapi invasive minimal diantaranya
Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT), Transuretral Ballon
Dilatation (TUBD), Transuretral Needle Ablation/Ablasi jarum
Transuretra (TUNA), Pemasangan stent uretra atau prostatcatt (Purnomo,
2011).
d) Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT): dilakukan dengan
cara pemanasan prostat menggunakan gelombang mikro yang disalurkan
ke kelenjar prostat melalui transducer yang diletakkan di uretra pars
prostatika, yang diharapkan jaringan prostat menjadi lembek.
e) Transuretral Ballon Dilatation (TUBD): tehnik ini dilakukan dilatasi
(pelebaran) saluran kemih yang berada di prostat dengan menggunakan
balon yang dimasukkan melalui kateter. Teknik ini efektif pada pasien
dengan prostat kecil, 23 kurang dari 40 cm3. Meskipun dapat
menghasilkan perbaikan gejala sumbatan, namun efek ini hanya
sementar, sehingga cara ini sekarang jarang digunakan.
f) Transuretral Needle Ablation (TUNA): teknik ini memakai energy dari
frekuensi radio yang menimbulkan panas mencapai 100 derajat selsius,
sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. Pasien yang menjalani
TUNA sering kali mengeluh hematuri, disuria, dan kadang-kadang
terjadi retensi urine (Purnomo, 2011).
g) Pemasangan stent uretra atau prostatcatth yang dipasang pada uretra
prostatika untuk mengatasi obstruksi karena pembesaran prostat, selain
itu supaya uretra prostatika selalu terbuka, sehingga urin leluasa
melewati lumen uretra prostatika. Pemasangan alat ini ditujukan bagi
pasien yang tidak mungkin menjalani operasi karena resiko pembedahan
yang cukup tinggi.

1.2.9 Transurethral Resection of Prostatic (TUR P)


Transurethral Resectionof Prostatic (TURP) adalah prosedur bedah yang
paling umum dan dapat dilakukan malalui endoskopi pada pasien dengan BPH
(Smaltzer dan Bare, 2002).TURP merupakan tindakan operasi yang paling banyak
dilakukan, reseksi kelenjar prostat dilakukan dengan transuretra menggunakan
cairan irigan (pembilas) agar daerah yang akan dioperasi tidak tertutup darah
(Marzalek et al, 2009). TURP adalah sebuah sebuah penghilangan bagian dari
prostat yang menekan uretra, dengan cara pembedahan yang dilakukan oleh
dokter bedah dengan memasukkan instrument up penis melalui uretra dan
memotong jaringan prostat sampai bagian ini terbuka dengan baik, serta jaringan
yang dipotong akan mengalir keluar melalui kateter. Tidak ada sayatan yang
dibuat dalam operasi ini, dan akan sembuh dengan membutuhkan waktu 8-12
minggu (Quinte Health Care, ____ ). Dari beberapa pengertian diatas dpat
disimpulkan bahwa Transurethral Resectionof Prostatic (TURP) adalah sebuah
prosedur bedah yang paling sering dilakukan pada pasien BPH, tanpa
pembedahan dengan menggunakan cairan irigan yang dimasukkan menggunakan
instumen up penis melalui uretra dan memotong jaringan prostat sampai terbuka
dan mengalirkannya melalui kateter.

Gambar 13. TUR P

Indikasi dilakukannya TURP adalah gejala-gejala BPH sedang sampai


gejala yang berat, volume prostat kurang dari 90 gr.Tindakan ini dilaksanakan
apabila pembesaran prostat terjadi dalam lobus medial yang langsung
mengelilingi uretra. Setelah TURP selesai dilakukan maka pengalirannya
menggunakan kateter threeway.
Saat ini tindakan TURP merupakan standar tindakan operasi yang paling
banyak dikerjakan di seluruh dunia. Selama 20 tahun terakhir perkembangan
kesehatan khususnya pilihan tindakan TURP banyak dipilih oleh dokter bedah di
Eropa dibandingkan prosedur Transurethral Microwave Thermotherapy(TUMT)
atau prosedur laser, dan terjadi penurunan jumlah kasus komplikasi pembedahan
di Amerika Serikat akibat pilihan operasi dengan menggunakan TURP. Adapun
keuntungan dan kerugian TURP menurut Smeltzer dan Bare (2002) adalah
sebagai berikut.
a. Keuntungan menggunakan TURP
1) Menghindari insisi pembedahan
2) Lebih aman pada pasien dengan risiko bedah
3) Hospitalisasi dan pemulihan lebih singkat
4) Angka morbiditas lebih rendah yaitu 0,99%.
5) Nyeri yang ditimbulkan relative sedikit
6) Prostat fibrous mudah diangkat
7) Perdarahan mudah dilihat dan dikontrol
b. Kerugian menggunakan TURP
1) Membutuhkan dokter bedah yang ahli
2) Risiko merusak uretra
3) Tidak dianjurkan untuk BPH besar
4) Alat yang digunakan mahal
5) Obstruksi kambuhan trauma uretral dapat terjadi striktur uretral (dysuria,
mengejan, aliran urin lemah).

Peralatan yang perlu dipersiapkan untuk prosedur TUR P adalah sebagai


berikut.
a. (Set dasar)
1) Desinfeksi Klem 1
2) Doek Klem 5
3) Krom 1
b. Set tambahan
1) Linen set TUR
2) Handschoen (sesuai ukuran operator)
3) Desinfektan bethadin 1%
4) Kasa, deper, cucing, bengkok, korentang pada tempatnya

c. Alat/ Set khusus


1) Kran air untuk spoel (irrigator)
2) Selang irigasi (pipa air dengan luer lock)
3) Kabel lampu storz (kabel cahaya fiber optik)
4) Kabel ces diathermi endoscopy
5) Sikat steril
6) Jelly k-y
7) Bugie roser 3 biji (no.21, 23, 25)
8) Sheath no.27
9) Working elemen yang sudah di set dengan cutting loop no.27 (no.24, 27)
beserta optiknya (30°) (0° atau 30°)/ telescope
10) Elix evacuator + balon karet
11) Three way catheter 24 F
12) Urobag
13) Spuit 20 cc
14) Blood set
15) Kamera + kabel.
.
Prosedur pelaksanaan TUR P,sebagai berikut.
a. Persiapan Pre Operasi
1) Mengkaji kecemasan klien, memberikan informasi yang akurat pada
klienterkait kondisi saat ini dan pentingnya tindakan operasi
2) Klien dilarang merokok beberapa minggu sebelum operasi dan klien
dianjurkan untuk makan-makanan bergizi, dan menghindari makanan
berlemak.
3) Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula darah, Elektrolit
4) Pemeriksaan EKG
5) Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG
6) Pemeriksaan Uroflowmetri bagi penderita yang tidak memakai kateter.
7) Pemasangan infus dan puasa
8) Pencukuran rambut pubis dan lavemen
9) Pemberian Antibiotik
10) Surat Persetujuan Operasi (Informed Consent).
b. Prosedur Operasi
1) Pasang foto pada light box
2) Lakukan SGG(Scrubbing, Gowning, dan Gloving)
3) Setelah dilakukan anestesi general pasien diletakkan dalam posisi lithotomi
4) Untuk menghindari komplikasi orchitis dilakukan vasektomi tanpa Pisau
(VTP)
5) Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine didaerah penis scrotum dan
sebagian dari kedua paha dan perut sebatas umbilicus
6) Persempit lapangan operasi dengan memasang sarung kaki dan duk panjang
berlubang untuk bagian supra pubis ke kranial.
7) Dilatasi uretra dengan bougie roser 25 F sampai 29 F
8) Sheath 24F / 27F dengan obturator dimasukkan lewat uretra sampai masuk
buli-buli.
9) Obturator dilepas, diganti optik 30 dan cutting loop sesuai dengan ukuran
sheatnya.
10) Evaluasi buli-buli apakah ada tumor, batu, trabekulasi dan divertikel buli
11) Working element ditarik keluar untuk mengevaluasi prostat (panjangnya
prostat yang menutup uretra, leher buli dan verumontanu )
12) Selanjutnya dilakukan reseksi prostat sambil merawat perdarahan
13) Sebaiknya adenoma prostat dapat direseksi semuanya, waktu reseksi
paling lama 60 menit (bila menggunakan irigan aquades) dan waktu bisa
lebih lama bila menggunakan irigan glisin. Hal ini untuk menghindari
terjadinya Sindroma TUR.
14) Bila terjadi pembukaan sinus, operasi dihentikan, untuk menghindari
sindroma TUR
15) Chips prostat dikeluarkan dengan menggunakan ellik evakuator sampai
bersih, selanjutnya dilakukan perawatan perdarahan.
16) Setelah selesai, dipasang three way kateter 24F dan dipasang Spoel NaCl
0,9% atau Aquades.
c. Perawatan post Operasi
1) Pasien akan ditempatkan di recovery room selama kurang lebih 1-2 jam
untuk memonitor efek anastesi
2) Asupan cairan dan obat-obatan diberikan melalui infus
3) perawat perlu melakukan Continuous Bladder Irrigation(CBI) untuk
mencegah terjadinya bekuan darah
4) Lakukan manajemen nyeri dengan teknik rekalsasi nafas dalam dan
lakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret pada saluaran nafas
5) Lakukan latihan ankle pump (10 kali per jam)
6) Hari pertama post operasi klien dperbolehkan duduk namun dalam waktu
singkat, anjurkan klien untuk banyak minum, anjurkan klien untuk
melakukan ankle pump.
7) Klien tidak diperbolehkan untuk minum-minuman beralkhohol dan
makanan pedas
8) Klien dianjurkan untk banyak minum dan makan makanan yang tinggi
serat untuk menghindari sembelit
9) Hindari berolahraga selama 4-6 minggu
10) Hindari bekerja berat seperti mengangkat beban berat kurang lebih 10 kg
selama satu bulan
11) Lakukan latihan dengan mengencangkan otot-otot paha dan pantat lalu
menariknya ke atas kemudian tahan dan 2-3 detik, ulangi 10 kali sehari

Komplikasi yang ditimbulkan TUR P meliputi:


a. Ejakulasi retrograde (60-90%)
b. Infeksi saluran kemih (2%)
c. Persistent urinary retention ketika pulang dari rumah sakit dengan terpasang
kateter (2.5%)
d. Striktur bladder (2- 10%)
e. Hiponatremia
PATHWAY

Perubahan keseimbangan antara hormon


testosteron dan etrogen

Testosterone bebas + enzim 5 reduktase

Dehidrotestosteron (DHT)

Diikat reseptor (dalam sitoplasma sel


prostat
Proses menua
Mempengaruhi inti sel (RNA)
Ketidakseimbangan Peningkatan Interaksi sel epitel Inflamasi
hormon sel stem Proliferasi sel dan stroma

Hiperplasia pada epitel dan


stroma pada kelenjar prostat

Statis urin
Penyempitan lumen uretra
pars prostatika
Media Hiperplasia pada epitel dan
bekembangnya stroma pada kelenjar prostat
bakteri Menghambat aliran urin

Resiko infeksi Bendungan vesica urinaria Retensi urin

Peningkatan tekanan intra vesikal

Hiperiritabel pada bladder


Peningkatan tekanan intra vesikal

Peningkatan kontraksi otot


destrusor dan buli-buli
Peningkatan tekanan intra vesikal

Kontraksi otot
suprapubik

Tekanan mekanis

Merangsang nosiseptor

Persepsi nyeri

Nyeri akut
Pembedahan

Pre Operasi Intra operasi Post operasi

vvvvv
Kurang informasi Tindakan invasif Efek anastesi Efek anastesi
akan kondisi hilang
penyakit dan Pendarahan Menumpuknya
pembedahan
sekret di jalan Sakit pada
Tidak terkontrol nafas bekas reseksi
Khawatir akan
prosedur Bersihan
Resiko Syok
pembedahan jalan nafas Nyeri akut
tidak efektif
Ansietas Resiko Cedera

Kurang Resiko
Pengetahuan Kekurangan
volume cairan

Pemasangan kateter

Bekuan darah

Retensi urin

Resiko infeksi
BAB 2. ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian Fokus


a. Anamnesa
a) Data demografi
Dikaji terkait data nama, umur, usia, jenis kelamin (laki-laki), pekerjaan
(pekerjaanberisiko tinggi terjadinya BPH adalah orang yang pekerjaanya
mengangkat barang-barang berat), ras (Orang dari ras kulit hitam memiliki
risiko 2 kali lebih besar untuk terjadi BPH dibanding ras lain), penddikan,
dan status perkawinan
b) Riwayat Penyakit Klien
Kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh BPH: pancar urin lemah,
intermitensi, terasa ada sisa setelah selesai miksi, urgensi, frekuensi dan
disuria. Perlu ditanyakan mengenai permulaan timbulnya keluhan, hal-hal
yang dapat menimbulkan keluhan dan ketahui pula bahwa munculnya gejala
untuk pertama kali atau berulang.
Dikaji riwayat penyakit dahulu klien yaitu penyakit yang dapat
menyebabkan BPH salah satunya adalah pasien pernah mengalami ISK atau
pembedahan prostat atau hernia sebelumnya
c) Keluhan Utama
Keluhan utama yang biasa muncul pada klien BPH adalah sering miksi pada
siang hari dan nokturia, urgensi, disuria, dan rasa tidak puas saat miksi.
b. Pola Fungsi Kesehatan
Pengkajian pada klien dengan BPH menurut 11 Pola Fungsional Gordon
adalah sebagai berikut :
1) Pola persepsi dan Manajemen kesehatan
Biasanya kasus BPH terjadi pada pasien laki-laki yang sudah tua, dan pasien
biasanya tidak memperdulikan hal ini, karena sering mengatakan bahwa
sakit yang dideritanya pengaruh umur yang sudah tua. Perawat perlu
mengkaji apakah klien mengetahui penyakit apa yang dideritanya? Dan apa
penyebab sakitnya saat ini?
2) Pola nutrisi dan metabolik
Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena efek
penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi), maupun efek dari anastesi
pada postoperasi BPH, sehingga terjadi gejala: anoreksia, mual, muntah,
penurunan berat badan, tindakan yang perlu dikaji adalah awasi masukan
dan pengeluaran baik cairan maupun nutrisinya.
3) Pola eliminasi
Gangguan eliminasi merupakan gejala utama yang seringkali dialami oleh
pasien dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan dalam memulai aliran
urin, aliran urin berkurang, pengosongan kandung kemih inkomplit,
frekuensi berkemih, nokturia, disuria dan hematuria. Sedangkan pada
postoperasi BPH yang terjadi karena tindakan invasif serta prosedur
pembedahan sehingga perlu adanya obervasi drainase kateter untuk
mengetahui adanya perdarahan dengan mengevaluasi warna urin. Evaluasi
warna urin, contoh : merah terang dengan bekuan darah, perdarahan dengan
tidak ada bekuan, peningkatan viskositas, warna keruh, gelap dengan
bekuan. Selain terjadi gangguan eliminasi urin, juga ada kemugkinan
terjadinya konstipasi. Pada post operasi BPH, karena perubahan pola makan
dan makanan.
4) Pola latihan- aktivitas
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah dan
terpasang traksi kateter selama 6 – 24 jam. Pada paha yang dilakukan
perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan, klien
juga merasa nyeri pada prostat dan pinggang. Klien dengan BPH
aktivitasnya sering dibantu oleh keluarga.
5) Pola istirahat dan tidur
Pada pasien dengan BPH biasanya istirahat dan tidurnya terganggu,
disebabkan oleh nyeri pinggang dan BAK yang keluar terus menerus
dimana hal ini dapat mengganggu kenyamanan klien.
6) Pola konsep diri dan persepsi diri
Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu integritas egonya
karena memikirkan bagaimana akan menghadapi pengobatan yang dapat
dilihat dari tanda-tanda seperti kegelisahan, kacau mental, perubahan
perilaku.
7) Pola kognitif- perseptual
Psien BPH umumnya adalah orang tua, maka alat indra klien biasanya
terganggu karena pengaruh usia lanjut. Namun tidak semua pasien
mengalami hal itu.
8) Pola peran dan hubungan
Pada pasien dengan BPH merasa rendah diri terhadap penyakit yang diderita
nya. Sehingga hal ini menyebabkan kurangnya sosialisasi klien dengan
lingkungan sekitar. Perawat perlu mengkaji bagaimana hubungan klien
dengan keluarga dan masyarakat sekitar? apakah ada perubahan peran
selama klien sakit?
9) Pola reproduksi- seksual
Pada pasien BPH baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalami
masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya, takut
inkontinensia/menetes selama hubungan intim, penurunan kekuatan
kontraksi saat ejakulasi, dan pembesaran atau nyeri tekan pada prostat.
10) Pola pertahanan diri dan toleransi stres
Klien dengan BPH mengalami peningkatan stres karena memikirkan
pengobatan dan penyakit yang dideritanya menyebabkan klien tidak bisa
melakukan aktivitas seksual seperti biasanya, bisa terlihat dari perubahan
tingkah laku dan kegelisahan klien.
11) Pola keyakinan dan nilai
Pasien BPH mengalami gangguan dalam hal keyakinan, seperti gangguan
dalam beribadah shalat, klien tidak bisa melaksanakannya, karena BAK
yang sering keluar tanpa disadari.
c. Pemeriksaan fisik
1) Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat
meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai
syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik.
2) Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk
mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra
simfiser padakeadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya
ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk
mengetahui ada tidaknya residual urin.
2) Rectal touch atau pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan
konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat.
Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
a) 1. 0 – 1 cm …………. = grade 0
b) 2. 1 – 2 cm …………. = grade 1
c) 3. 2 – 3 cm …………. = grade 2
d) 4. 3 – 4 cm …………. = grade 3
e) 5. > 4 cm…………… = grade 4
3) Clinical grading
Patokan banyaknya sisa urine dilakukan dengan cara pagi hari pasien
bangun tidur disuruh kencing sampai selesai kemudian masukkan
kateter VU mengukur sisa urine
1. Sisa urine 0 cc …………. = normal
2. Sisa urine 0 – 50 cc …… = grade 1
3. Sisa urine 50 – 150 cc…. = grade 2
4. Sisa urine > 150 cc ……. = grade 3

d. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula
digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien.
2) Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
3) PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai
kewaspadaanadanya keganasan.
4) Pemeriksaan Uroflowmetri: Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya
pancaran urin. Secara objektif pancaran urin dapat diperiksa dengan
uroflowmeter dengan penilaian:
a) Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.
b) Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
c) Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif.
5) Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
a) BOF (Buik Overzich Foto ): untuk melihat adanya batu dan metastase
pada tulang.
b) USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume
dan besar prostat juga keadaan buli–buli termasuk residual urin.
Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan
suprapubik.
c) IVP (Pielografi Intravena), digunakan untuk melihat fungsi ekskresi
ginjal dan adanya hidronefrosis.
2.2 Diagnosa Keperawatan
Menurut NANDA (2012), diagnose yang mungkin muncul pada klien
dengan BPH, antara lain.
a. Pre Operasi
1) Retensi urin berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat,
dekompensasi otot destrusor, ketidakmampuan kandung kemih untuk
berkontraksi dengan adekuat.
2) Nyeri akut berhubungan dengan peregangan dari terminal saraf, distensi
kandung kemih, infeksi urinaria, efek mengejan saat miksi sekunder dari
pembesaran prostat dan obstruksi uretra.
3) Ansietas/cemas berhubungan dengan krisis situasi, perubahan status
kesehatan, kekhawatiran tentang pengaruhnya pada ADL atau menghadapi
prosedur bedah.
4) Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi.
5) Resiko infeksi berhubungan dengan statis urin.
b. Intra Operatif
1) Resiko cedera berhubungan dengan tindakan operasi.
2) Resiko syok berhubungan dengan tindakan operasi.
3) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan tindakan operasi.
c. Pasca Operasi
1) Retensi urin berhubungan dengan obstruksi mekanik: bekuan darah, edema,
trauma, prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter.
2) Nyeri akut berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi sekunder
pada pembedahan.
3) Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan antesi GA
4) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih.
c. Perencanaan Keperawatan
1. Pre Operasi
Diagnosa
No Tujuan Kriteria hasil Intervensi keperawatan Rasional
keperawatan
1. Retensi urin Setelah dilakukan Pasien menunjukkan 1. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2- 1. Meminimalkan retensi urin distensi
berhubungan tindakan residu pasca berkemih 4 jam atau bila tiba-tiba dirasakan berlebihan pada kandung kemih
dengan obstruksi keperawatan kurangdari 50 ml, 2. Observasi aliran urin, perhatikan 2. berguna untuk mengevaluasi obstruksi
mekanik, selama … x24 dengan tidak adanya ukuran dan kekuatan. dan pilihan intervensi
pembesaran jam diharapkan tetesan atau kelebihan 3. Awasi dan catat waktu tiap berkemih 3. retensi urine meningkatkan tekanan
prostat, nyeri dapat cairan. dan jumlah tiap berkemih, perhatikan dalam saluran perkemihan atas, yang
dekompensasi berkurang penurunan haluaran urin dan dapat mempengaruhi fungsi ginjal.
otot destrusor, perubahan berat jenis. adanya deficit aliran darah keginjal
ketidakmampuan NOC 4. Lakukan perkusi/palpasi suprapubik menganggu kemampuanya untuk
kandung kemih Kontinensi Urin 5. Dorong masukan cairan sampai 3000 memfilter dan mengkonsentrasi substansi
untuk Eliminasi Urin ml sehari 4. distensi kandung kemih dapat dirasakan
berkontraksi 6. Monitoring tanda-tanda vital, timbang diarea suprapubik
dengan adekuat. BB tiap hari, pertahankan pemasukan 5. peningkatan aliran cairan
dan pengeluaran yang akurat mempertahankan perfusi ginjal dan
7. Lakukan rendam duduk sesuai indikasi membersihkan ginjal dan kandung kemih
8. Kolaborasi pemberian obat: dari pertumbuhan bakteri
a. Supositorial rectal 6. kehilangan fungsi ginjal mengakibatkan
b. Antibiotic dan antibakteri penurunan eliminasi cairan dan akumulasi
c. Fenoksibenzamin (Dibenzyline) sisa toksik, dapat berlanjut ke penuruan
ginjal total
7. meningkatkan relaksasi otot, penuruan
edema, dan dapat meningkatkan upaya
berkemih.
8. rasional :
a. supositorial dapat diabsorbsi dengan
mudah melalui mukosa kedalam
jaringan kandung kemih untuk
menghasilkan relaksasi
otot/menghilangkan spasme
b. digunakan untuk melawan infeksi
c. diberikan untuk mempermudah
berkemih dengan merelaksasi otot
polos prostat dan menurunkan tahanan
terhadap aliran urine
2. Nyeri akut Setelah dilakukan 1. Mampu Paint management
berhubungan tindakan mengontrol nyeri a. Kaji nyeri secara komprehensif a. Mengetahui kondisi umum pasien dan
dengan keperawatan (tahu penyebab (lokasi, karakteristik, durasi, pertimbangan tindakan selanjutnya
peregangan dari selama … x24 nyeri, mampu frekuensi, kualitas, dan faktor b. Pasien memahami keadaan sakitnya
terminal saraf, jam diharapkan menggunakan presipitasi) c. Respon nonverbal terkadang lebih
distensi kandung nyeri dapat tehnik b. Beri penjelasan mengenai penyebab menggambarkan apa yang pasien rasakan
kemih, infeksi berkurang nonfarmakologi nyeri d. Mempertahankan posisi fungsional tulang
urinaria, efek untuk mengurangi c. Observasi reaksi nonverbal dari e. Memperlancar arus balik vena
mengejan saat NOC: nyeri, mencari ketidaknyamanan f. Mengatasi nyeri misalnya kompres
miksi sekunder 1. Pain level bantuan) d. Segera immobilisasi daerah fraktur hangat, mengatur posisi untuk mencegah
dari pembesaran 2. Pain control 2. Melaporkan bahwa e. Tinggikan dan dukung ekstremitas kesalahan posisi pada tulang/jaringan
prostat dan 3. Comfort level nyeri berkurang yang terkena yang cedera
obstruksi uretra. dengan f. Ajarkan pasien tentang alternative g. Memfokuskan kembali perhatian,
menggunakan lain untuk mengatasi dan meningkatkan rasa kontrol dan
manajemen nyeri mengurangi rasa nyeri meningkatkan kemampuan koping dalam
3. Mampu mengenali g. Ajarkan teknik manajemen stress manajemen nyeri yang mungkin menetap
nyeri (skala, misalnya relaksasi nafas dalam untuk periode lebih lama
intensitas, h. Kolaborasi dengan tim kesehatan h. Mengontrol atau mengurangi nyeri pasien
frekuensi, dan lain dalam pemberian obat analgeik
tanda nyeri) sesuai indikasi
4. Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang
3. Ansietas/cemas Setelah dilakukan a. Mampu Anxiety Reduction
berhubungan tindakan mengidentifikasi a. Identifikasi tingkat kecemasan pasien a. Mengidentifikasi seberapa jauh penyakit
dengan krisis keperawatan dan b. Jelaskan semua prosedur dan apa yang menyebabkan kecemasan pada pasien dan
situasi, perubahan selama 1 x mengungkapkan dirasakan selama prosedur merupakan pedoman dalam menentukan
status kesehatan, 30menit, ansietas gejala cemas c. Pahami perspektif pasien terhadap intervensi yang tepat bagi pasien
kekhawatiran berkurang b. Mengidentifikasi, kecemasan b. Memfasilitasi pengetahuan pasien
tentang mengungkapkan d. Dorong keluarga untuk senantiasa terhadap tindakan yang akan dilakukan
pengaruhnya pada NOC : dan menunjukkan menemani pasien dan memberikan dan memberi ketenangan pada pasien
ADL atau Anxiety self- teknik untuk ketenangan pada pasien c. Membantu menentukan teknik untuk
menghadapi control mengontrol cemas e. Bantu pasien untuk mengenal situasi mengurangi kecemasan pada pasien
prosedur bedah Anxiety level c. Tanda-tanda vital yang dapat menyebabkan cemas d. Mencegah pasien mengalami ansietas
dalam rentang f. Berikan informasi mengenai kondisi yang berlebihan
normal penyakit pasien e. Mencegah pasien mengalami cemas yang
d. Postur tubuh g. Dorong pasien untuk mengungkapkan berulang akibat ketidakmampuan dalam
ekspresi wajah, perasaan, ketakutan, dan persepsi mengenal situasi
bahasa tubuh dan terhadap rasa sakit yang dialaminya f. Memfasilitasi pengetahuan pasien
tingkat aktivitas h. Kolaborasikan pemberian obat untuk mengenai kondisi penyakitnya dan
menunjukkan menenangkan pasien memberi ketenangan pada pasien
berkurangnya g. Mengurangi beban pasien terhadap
kecemasan ansietas yang dirasakan
h. Mengurangi ansietas yang dirasakan
pasien
2. Intra operasi
Diagnosa
No Tujuan Kriteria hasil Intervensi keperawatan Rasional
keperawatan
1. Resiko cedera Setelah dilakukan Tidak ada komplikasi Surgical precaution
berhubungan tindakan perawatan pembedahan pada 1. Tidurkan klien pada meja
dengan tindakan sealama 1x24 jam jaringan daerah sekitar operasi dengan posisi sesuai 1. Mencegah jatuhnya klien.
operasi pasien akan Risiko cedera berkurang kebutuhan 2. Dapat mengetahuipemakaian
terhindar dari risiko atau hilang 2. Monitor penggunaan instrumen instrumen, jarum dan kasa.
cedera 3. Pastikantidak ada instrumen 3. Dengan tertinggalnya benda asing
yang tertinggal dalam tubuh dalam tubuh klien dapat
NOC klien menimbulkan bahaya.
Surgical precaution
2 Resiko syok Setelah dilakukan a. Tidak ada hematuria Bleeding Precautions
berhubungan tindakan dan hematemesis a. Monitor tanda-tanda vital a. Mengetahui kondisi umum pasien
dengan keperawatan b. Kehilangan darah b. Monitor ketat tanda-tanda b. Mencegah terjadinya perdarahan
hipovolemia selama1 x24 jam, yang terlihat perdarahan berlebihan yang tidak terlihat
pasien tidak beresiko c. Tekanan darah dalam c. Monitor kebutuhan cairan c. Untuk mempertahankan
syok batas normal baik pasien keseimbangan cairan tubuh pasien
sistol maupun diastole d. Lindungi pasien dari trauma d. Prosedur pembedahan terkadang
NOC : d. Tidak ada perdarahan atau prosesur pembedahan yang dapat menyebabkan perdarahan yang
- Blood lose severity pervagina maupun dapat menyebabkan perdarahan berlebihan
- Blood koagulation internal bleeding berlebihan e. Kadar Hb dan Ht menjadi indikasi
e. Hemoglobin dan e. Catat nilai Hb dan Ht sebelum berkurangnya volume darah
hematokrit dalam dan sesudah terjadinya f. Mengganti volume darah yang
batas normal perdarahan hilang
f. Kolaborasi dalam pemberian
transfusi darah
3. Post Operasi
Diagnosa
No Tujuan Kriteria hasil Intervensi keperawatan Rasional
keperawatan
1. Nyeri Setelah dilakukan a. Mampu mengontrol NIC :
berhubungan tindakan nyeri (tahu penyebab Pain Management
dengan insisi keperawatan nyeri, mampu a. Kaji karakteristik pasien secara
a. Membantu dalam menentukan status
bedah, selama 1 x 24 menggunakan teknik PQRST nyeri pasien dan menjadi data dasar
pemasangan jam, nyeri yang nonfarmakologi b. Lakukan manajemen nyeri sesuai untuk intervensi dan monitoring
kateter, dan dirasakan pasien untuk mengurangi skala nyeri misalnya pengaturan keberhasilan intervensi
spasme kandung berkurang. nyeri) posisi fisiologis b. Meningkatkan rasa nyaman dengan
kemih b. Melaporkan bahwa c. Ajarkan teknik relaksasi seperti mengurangi sensasi tekan pada area
NOC : nyeri berkurang nafas dalam pada saat rasa nyeri yang sakit
- Pain level dengan datang c. Peningkatan suplai oksigen pada
- Pain control menggunakan d. Ajarkan metode distraksi area nyeri dapat membantu
- Comfort level manajemen nyeri e. Beri manajemen sentuhan berupa menurunkan rasa nyeri
c. Mampu mengenali pemijatan ringat pada area sekitar
d. Pengalihan rasa nyeri dengan cara
nyeri (skala, nyeri distraksi dapat meningkatkan respon
intensitas, frekuensi f. Beri kompres hangat pada area nyeri
pengeluaran endorphin untuk
dan tanda nyeri) g. Kolaborasi dengan pemberian memutus reseptor rasa nyeri
d. Menyatakan rasa analgesik secara periodic e. Meningkatkan respon aliran darah
nyaman setelah nyeri pada area nyeri dan merupakan salah
berkurang satu metode pengalihan perhatian
f. Meningkatkan respon aliran darah
pada area nyeri
g. Mempertahankan kadar obat dan
menghindari puncak periode nyeri
2. Risiko infeksi Setelah dilakukan a. tidak ada tanda a. Monitor tanda dan gejala infeksi a. Untuk mencegah terjadinya infeksi
berhubungan tindakan infeksi sistenik dan lokal, Monitor b. Mendeteksi adanya infeksi
dengan insisi keperawatan b. penyembuhan luka kerentanan terhadap infeksi c. Nutrisi yang baik, cairan yang
operasi selama … x baik b. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah cukup, serta istirahat yang cukup
24jam, resiko c. Dorong masukkan nutrisi yang dapat meningkatkan sistem imun
ineksi terkontrol cukup, masukan cairan, dan istirahat tubuh sehingga mencegah terjadiny
NOC : d. Laporkan kecurigaan infeksi, infeksi.
Risk Control Laporkan kultur positif d. Agar segera dapat diambil tindakan
- untuk mencegah infeksi semakin
buruk.
DAFTAR PUSTAKA

Baradero, M. et al. 2007. Seri Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Sistem


Reproduksi & Seksualitas. Jakarta: EGC.

Basler, J. 2007. Bladder Stones. Emedicine Journal. Sited by


http://www.emedicine.com. [diakses pada 8 November 2015].

De Jong, W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:EGC.

Habibagahi, M. et al. 2009. High Concentration of Soluble Form of Vascular


Endothelial Cadherin in Sera of Patient s with Prostate Cancer. Iranian
Red Crescent Medical Journal. Vol. 11(4): 377-381.

Marszalek, M. et al. 2009. Transurethral Resection of the Prostate. http://eu-


acme.org/europeanurology/upload_articles/Marszalek.pdf. [diakses pada 8
November 2015].

NANDA. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta: EGC.

Price, S & Wilson, L, 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


Edisi 6. Jakarta: EGC.

Purnomo, B. 2011. Dasar-dasar Urologi,. Jakarta: Sagung Seto.

Smeltzer, SC., Bare B.G. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan
Suddarth. Jakarta : EGC.

Sudoyo, A. W. et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Sjamsuhidajat, R. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Quint Health Care (QHC). tanpa tahun. Transurethral Resection of Prostate


(TURP).
http://www.qhc.on.ca/photos/custom/QHCTransurethral%20Resection%2
0of%20Prostate%20(TURP).pdf. [diakses pada 8 November 2015].

Wibowo, D dan Paryana, W. 2009. Anatomi Tubuh Manusia. Yogyakarta: Graha


Ilmu.

Wilkison, J. M. dan Ahern. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Diagnosis


NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.