Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


MENINGITIS DI RUANG MELATI
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

disusun guna memenuhi tugas pada Program Profesi Ners (P2N)


Stase Keperawatan Medikal

oleh
Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep.
NIM 122311101074

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan berikut dibuat oleh:


Nama : Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep
NIM : 122311101074
Judul : Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan
Meningitis Di Ruang Melati RSD dr. Soebandi Jember
telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:
Hari :
Tanggal: Desember 2016

Jember, Desember 2016

TIM PEMBIMBING

Pembimbing Akademik, Pembimbing Klinik,

NIP ................................................ NIP .............................................


LAPORAN PENDAHULUAN
MENINGITIS
Oleh: Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep

A. Review Anatomi dan Fisiologi


1) Bagian-bagian otak
Sistem saraf pusat (SSP) terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. SSP
dilindungi oleh tulang-tulang yaitu sumsum tulang belakang dilindungi oleh ruas
tulang belakang dan otak dilindungi oleh tengkorak. Sebagian besar otak terdiri
dari neuron, glia, dan berbagai sel pendukung. Otak manusia mempunyai berat
2% dari berat badan orang dewasa (3 pon), menerima 20% curah jantung,
memerlukan 20% pemakaian oksigen tubuh, dan sekitar 400 kilokalori energi
setiap harinya. Otak merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi
dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme
oksidasi glukosa (Price & WIlson, 2006).

Gambar 1. Bagian-bagian otak

Otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu cerebrum, cerebellum, brainstem


(batang otak), dan limbic system (sistem limbik).
a) Cerebrum
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut
dengan nama cerebral cortex, forebrain, atau otak depan. Cerebrum membuat
manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran,
perencanaan, memori dan kemampuan visual. Cerebrum secara terbagi
menjadi 4 (empat) bagian yang disebut lobus yaitu lobus frontal, lobus
parietal, lobus occipital dan lobus temporal.
1) Lobus frontal merupakan bagian lobus yang terletak pada bagian
depan cerebrum. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat
alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian
masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol
perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.
2) Lobus parietal berhubungan dengan proses sensor perasaan seperti
tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
3) Lobus temporal berhubungan dengan kemampuan pendengaran,
pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara.
4) Lobus occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan
rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan
interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata (Muttaqin,
2008)..

Gambar 2. Lobus-lobus pada cerebrum

b) Cerebellum
Cerebellum atau otak kecil adalah bagian dari sistem saraf pusat yang
terletak di bagian belakang tengkorak (fossa posterior cranial). Semua aktivitas
pada bagian ini di bawah kesadaran (involuntary). Fungsi utama cerebelum yaitu
mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot serta mengubah tonus dan
kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh.
Apabila terjadi cedera pada cerebelum, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap
dan koordinasi gerak otot sehingga gerakan menjadi tidak terkoordinasi (Price
dalam Muttaqin, 2008).

c) Brainstem
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga
kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum
tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk
pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan,
dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari)
saat datangnya bahaya (Puspitawati, 2009).
Batang otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1) Mesencephalon atau otak tengah (mid brain) adalah bagian teratas dari
batang otak yang menghubungkan cerebrum dan cerebelum. Mesencephalon
berfungsi untuk mengontrol respon penglihatan, gerakan mata, pembesaran
pupil mata, mengatur gerakan tubuh, dan fungsi pendengaran.
2) Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri
badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla
oblongata mengontrol fungsi involuntary otak (fungsi otak secara tidak
sadar) seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.
3) Pons disebut juga sebagai jembatan atau bridge merupakan serabut yang
menghubungkan kedua hemisfer serebelum serta menghubungkan midbrain
disebelah atas dengan medula oblongata. Bagian bawah pons berperan dalam
pengaturan pernapasan. Nukleus saraf kranial V (trigeminus), VI (abdusen),
dan VII (fasialis) terdapat pada bagian ini.
d) Limbic system (sistem limbik)
Sistem limbik merupakan suatu pengelompokan fungsional yang mencakup
komponen serebrum, diensefalon, dan mesensefalon. Secara fungsional sistem
limbik berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut.
1) Suatu pendirian atau respons emosional yang mengarahkan pada tingkah
laku individu
2) Suatu respon sadar terhadap lingkungan
3) Memberdayakan fungsi intelektual dari korteks serebri secara tidak sadar
dan memfungsikan batang otak secara otomatis untuk merespon keadaan
4) Memfasilitasi penyimpanan suatu memori dan menggali kembali simpanan
memori yang diperlukan
5) Merespon suatu pengalaman dan ekspresi suasana hati, terutama reaksi
takut, marah, dan emosi yang berhubungan dengan perilaku seksual
(Muttaqin, 2008).

2) Meninges
Otak merupakan bagian tubuh yang sangat penting yang dilindungi oleh
tulang tengkorak yang keras, jaringan pelindung, dan cairan otak. Dua macam
jaringan pelindung utama yaitu meninges dan sistem ventrikular. Meninges terdiri
dari tiga lapisan yaitu
a. Durameter
Durameter merupakan lapisan paling luar yang tebal, keras, dan fleksibel
tetapi tidak dapat diregangkan (unstrechable).
b. Arachnoid membran
Arachnoid membran merupakan lapisan bagian tengah yang bentuknya
seperti jaringan laba-laba. Sifat lapisan ini lembut, berongga-rongga, dan
terletak dibawah lapisan durameter.
c. Piameter
Piameter merupakan lapisan pelindung yang terletak pada lapisan paling
bawah (paling dekat dengan otak, sumsum tulang belakang, dan melindungi
jaringan-jaringan saraf lain). Lapisan ini mengandung pembuluh darah yang
mengalir di otak dan sumsum tulang belakang. Antara piameter dan
membran arachnoid terdapat bagian yang disebut dengan subarachnoid
space (ruang sub-arachnoid) yang dipenuhi oleh cairan serebrospinal (CSS)
(Puspitawati, 2009).

Gambar 3. Lapisan meninges

3) Sistem Ventrikulus
Otak sangat lembut dan kenyal sehingga sangat mudah rusak. Selain lapisan
meninges, otak juga dilindungi oleh cairan serebrospinal (CSS) di subarachnoid
space. Cairan ini menyebabkan otak dapat mengapung sehingga mengurangi
tekanan pada bagian bawah otak yang dipengaruhi oleh gravitasi dan juga
meilndungi otak dari guncangan yang mungkin terjadi. CSS ini terletak dalarn
ruang-ruang yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Ruang-ruang ini
disebut dengan ventrikel (ventricles). Ventrikel berhubungan dengan bagian
subarachnoid dan juga berhubungan dengan bentuk tabung pada canal pusat
(central canal) dari tulang belakang. Ruang terbesar yang berisi cairan terutama
ada pada pasangan ventrikel lateral (lateral ventricle). Ventrikel lateral
berhubungan dengan ventrikel ketiga (third ventricle) yang terletak di otak bagian
tengah (midbrain). Ventrikel ketiga dihubungkan ke ventrikel keempat oleh
cerebral aqueduct yang menghubungkan ujung caudal ventrikel keempat dengan
central canal. Ventrikel lateral juga membentuk ventrikel pertama dan ventrikel
kedua (Puspitawati, 2009).
CSS merupakan konsentrasi dari darah dan plasma darah yang diproduksi
oleh choroid plexus yang terdapat dalam keempat ventrikel tersebut. Sirkulasi
CSS dimulai dalam ventrikel lateral ke ventrikel ketiga, kemudian mengalir ke
cerebral aqueduct ke ventrikel keempat. Dari ventrikel keempat mengalir ke
lubang-lubang subarachnoid yang melindungi keseluruhan SSP. Volume total CSS
sekitar 125 ml dan daya tahan hidupnya (waktu yang dibutuhkan oleh sebagian
CSS untuk berada pada sistem ventrikel agar diganti oleh cairan yang baru)
sekitar 3 jam. Apabila aliran CSS ini terganggu, misalnya karena cerebral
aqueduct diblokir oleh tumor dapat menyebabkan tekanan pada ventrikel karena
dipaksa untuk mengurangi cairan yang terus menerus diproduksi oleh choroid
plexus sementara alirannya untuk keluar terhambat. Dalam kondisi ini, dinding-
dinding ventrikel akan mengembang dan menyebabkan kondisi hydrocephalus.
Bila kondisi ini berlangsung terus menerus, pembuluh darah juga akan mengalami
penyempitan dan dapat menyebabkan kerusakan otak (Puspitawati, 2009).

Gambar 4. Sistem ventrikel otak


B. Konsep Teori tentang Penyakit
1. Pengertian
Meningitis merupakan inflamasi yang terjadi pada lapisan arahnoid dan
piamatter di otak serta spinal cord. Inflamasi ini lebih sering disebabkan oleh
bakteri dan virus meskipun penyebab lainnya seperti jamur dan protozoa juga
terjadi, (Donna D.,1999). Meningitis adalah radang pada selaput otak yang dapat
disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, jamur, dan keadaan non infeksi seperti
neoplasma (Arydina, Triono, & Herini, 2014).
Meningitis adalah peradangan pada meningen (membran yang mengelilingi
otak dan medulla spinalis/sumsum tulang belakang) yang disebabkan oleh virus,
bakteri, atau jamur (Smeltzer, 2001). Meningitis merupakan infeksi akut dari
meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme
Meningokokus, Stafilokokus, Streptokokus, Hemophilus influenza dan bahan
aseptis (virus), (Long, 1996). Meningitis adalah peradangan pada selaput
meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses
infeksi pada sistem saraf pusat, (Suriadi & Rita, 2001). Jadi dapat diambil
kesimpulan bahwa meningitis adalah peradangan yang terjadi pada selaput otak
(meningen), cairan serebrospinal dan spinal column yang disebabkan oleh virus,
bakteri atau organ-organ jamur.

Gambar 5. Perbedaan meninges normal dan meningitis


2. Etiologi
Adapun etiologi menurut Alpers, (2006) adalah sebagai berikut.
a. Meningitis Bakterial (Meningitis sepsis)
Sering terjadi pada musim dingin, saat terjadi infeksi saluran pernafasan.
Jenis organisme yang sering menyebabkan meningitis bacterial adalah
Streptokokus pneumonia dan neisseria meningitis. Meningococal
meningitis adalah tipe dari meningitis bakterial yang sering terjadi pada
daerah penduduk yang padat, sepert asrama maupun penjara. Klien yang
mempunyai kondisi seperti otitis media, pneumonia, sinusitis akut atau
sickle sell anemia yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadi
meningitis. Fraktur tulang tengkorak atau pembedahan spinal dapat juga
menyebabkan meningitis . Selain itu juga dapat terjadi pada orang dengan
gangguan sistem imun, seperti: AIDS dan defisiensi imunologi baik yang
congenital ataupun yang didapat.
Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon
dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan
limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit
terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak
sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan
pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal
ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.
b. Meningitis Virus (Meningitis aseptic)
Meningitis virus adalah infeksi pada meningen yang cenderung jinak dan
bisa sembuh sendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya
infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian
menyebar kesistem saraf pusat melalui sistem vaskuler.
Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus seperti campak,
mumps, herpes simplek dan herpes zoster. Virus herpes simplek
mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami nekrosis.
Jenis lainnya juga mengganggu produksi enzim atau neurotransmitter yang
dapat menyebabkan disfungsi sel dan gangguan neurologic.
c. Meningitis Jamur
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem
saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung
dari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi.
Respon inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem
imun antara lain: bisa demam atau tidak, sakit kepala, mual, muntah dan
menurunnya status mental.

3. Tanda dan Gejala


Baughman & Hackley (2003) menjelaskan bahwa tanda dan gejala
meningitis adalah sebagai berikut.
a. Sakit kepala
b. Demam merupakan gejala awal yang sering timbul.
c. Muntah
d. Peka rangsang
e. Kejang (seringkali merupakan tanda awal)
f. Kaku kuduk (stiff neck) merupakan tanda awal meningitis. Usaha untuk
memfleksikan kepala sangat sulit pada penderita meningitis karena
mengalami kejang otot pada leher.
g. Tanda kernig positif (Kernig’s sign) yaitu ketika pasien berbaring dengan
paha difleksikan ke abdomen, pasien akan merasa kesakitan.

Gambar 6. Kernig Sign


h. Tanda Brudzinki positif (Brudzinski’s sign) yaitu ketika leher pasian
dibungkukkan ke arah dada, pasien secara spontan menekuk lututnya ke atas.

Gambar 7. Brudzinki Sign

i. Fotofobia yaitu peka terhadap cahaya.


j. Ruam kulit berupa bintik-bintik merah yang tersebar (tidak terjadi pada
semua orang).
k. Perubahan tingkat kesadaran berkaitan dengan tipe bakteri yang menyerang.
l. Disorientasi dan kerusakan memori merupakan hal yang umum pada awal
penyakit.
m. Letargi, tidak memberikan respons, dan koma dapat berkembang sejalan
dengan perkembangan penyakit.
n. Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) merupakan gejala sekunder akibat
akumulasi eksudat purulen.

4. Klasifikasi
Diagnosis pasti penyakit meningitis ditegakkan dengan pemeriksaan cairan
serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal. Klasifikasi meningitis dapat
dibedakan menurut penyebabnya sebagai berikut (Mesranti, 2011).
a. Meningitis karena virus (aseptik)
Meningitis karena virus ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih
serta rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Umumnya meningitis virus
dapat sembuh tanpa perawatan khusus dan jarang berakibat fatal. Meningitis
virus paling sering disebabkan oleh enterovirus. Meningitis virus dapat
menyebar melalui pernapasan dan sekret tenggorokan seperti saat berciuman,
batuk, bersin, pinjam atau meminjam cangkir, lipstik atau rokok. Periode
inkubasi meningitis virus dapat berkisar beberapa hari sampai beberapa
minggu sejak penderita terinfeksi sampai munculnya gejala (Meningitis
Foundation of America Inc., 2013).
b. Meningitis karena bakteri (septik)
Meningitis bakteri ditandai dengan cairan serebrospinal yang tampak kabur,
keruh atau purulen. Meningitis bakteri sangat berbahaya dan mengancam
kehidupan karena dapat menyebabkan kerusakan otak, pendengaran, dan
disabilitas. Pada meningitis bakteri, sangat penting untuk mengetahui jenis
bakteri yang menjadi penyebab meningitis sehingga dapat diberikan
antiobiotik tertentu untuk pengobatannya. Seseorang dengan penurunan
kekebalan tubuh atau sedang menjalani prosedur pembedahan sangat
beresiko tertular meningitis bakteri. Gejala pada meningitis bakteri dapat
muncul dengan cepat dalam waktu 3-7 hari. Kejang dan koma merupakan
gejala yang umum dari infeksi bakteri yang sudah parah (Mesranti, 2011;
Meningitis Foundation of America Inc., 2013).
c. Meningitis jamur
Meningitis jamur terjadi apabila jamur telah menyebar dalam aliran darah.
Bentuk umun dari meningitis jamur yaitu meningitis jamur kriptokokus.
Meningitis jamur biasanya terjadi pada seseorang dengan sistem imun yang
lemah seperti pasien kanker dan AIDS. Meningitis jamur tidak menular dari
orang ke orang tetapi menular melalui injeksi obat-obatan seperti steroid.
Meningitis jamur juga dapat menular melalui inhalasi pada lingkungan yang
terkontaminasi feses burung (Meningitis Foundation of America Inc., 2013).

5. Patofisiologi
Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu duramater, arachnoid, dan piamater.
Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak atau
mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan
sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur
seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid. Organisme masuk ke dalam aliran
darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks,
yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan
serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis
dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula
spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Cairan
hidung (sekret hidung) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang
tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara
cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat
berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme
yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid,
cairan otak dan ventrikel.
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan
septikemia (multiplikasi bakteri dalam sel), yang menyebar ke meningen otak
dan medula spinalis bagian atas. Meningitis bakteri dihubungkan dengan
perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas
pada darah-daerah pertahanan otak (barier otak), edema serebral dan
peningkatan TIK. Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas,
otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur
bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang
melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju
otak dan dekat saluran vena-vena meningen semuanya ini penghubung yang
menyokong perkembangan bakteri.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi
meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps
sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi sebagai akibat terjadinya
kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh
meningokokus.
Selain dari adanya invasi bakteri, virus, jamur maupun protozoa, point
d’entry masuknya kuman juga bisa melalui trauma tajam, prosedur operasi, dan
abses otak yang pecah, penyebab lainnya adalah adanya rinorrhea, otorrhea pada
fraktur bais cranii yang memungkinkan kontaknya CSF dengan lingkungan luar,
(Corwin, 2003).

6. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita meningitis yaitu gangguan
penglihatan, gangguan pendengaran (tuli), kejang, kelumpuhan, hidrosefalus,
septic shock, dan kematian (Baughman & Hackley, 2003)
Adapun komplikasi Meningitis menurut (Betz, 2009) adalah sebagai berikut:
a. Hidrosefalus obstruktif
Hidrosefalus Obstruktif merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan
penumpukan cairan pada otak, yaitu cerebro spinal fluid sehingga terjadi
pembengkakan akibat adanya gangguan aliran cairan serebro spinal
(CSS) dalam sistim ventrikel atau pada jalan keluar ke ruang
subarakhnoid. Obstruksi disini merupakan istilah yang digunakan untuk
membandingkan hidrosefalus yang disebabkan oleh produksi berlebih
dari cairan serebro spinal (CSS).
b. Meningococcal septicemia (mengingocemia)
Kondisis dimana didalam darah terdapat bakteri.
c. Sindrom Water Friderichsen (septic syok, DIC, perdarahan adrenal
bilateral)
d. SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic Hormone)
e. Efusi subdural
f. Kejang
g. Edema dan herniasi serebral
h. Cerebral Palsy
i. Gangguan mental
j. Gangguan belajar
k. Attention deficit disorder

7. Prognosis
Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme spesifik yang
menimbulkan penyakit, banyaknya organisme dalam selaput otak, jenis meningitis
dan lama penyakit sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia neonatus, anak-
anak dan dewasa tua mempunyai prognosis yang semakin buruk, yaitu dapat
menimbulkan cacat berat dan kematian.

8. Pemeriksaan Penunjang
Meningitis dapat ditegakkan berdasarkan riwayat medis, pemeriksaan fisik,
dan tes diagnostik tertentu. Tes diagnostik yang dapat dilakukan untuk penegakan
diagnosa adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein
cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan
tekanan intrakranial.
1) Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel
darah putih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-).
2) Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh,
jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur (+)
beberapa jenis bakteri.
b. Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju Endap
Darah (LED), kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.
1) Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Disamping
itu, pada Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
2) Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.
c. Pemeriksaan Radiologis
1) Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin
dilakukan CT Scan.
2) Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid, sinus
paranasal, gigi geligi) dan foto dada
9. Penatalaksanaan
Adapun pengobatan yang dapat dilakukan adaah sebagai berikut:
a. Farmakologis
1) Obat anti inflamasi
a) Meningitis tuberkulosa
- Isoniazid 10 – 20 mg atau kg atau 24 jam oral, 2 kali sehari
maksimal 500 gram selama 1 ½ tahun.
- Rifamfisin 10 – 15 mg atau kg atau 24 jam oral, 1 kali sehari
selama 1 tahun.
- Streptomisin sulfat 20 – 40 mg atau kg atau 24 jam sampai 1
minggu, 1 – 2 kali sehari, selama 3 bulan.
b) Meningitis bacterial, umur < 2 bulan
- Sefalosporin generasi ke 3
- ampisilina 150 – 200 mg (400 gr) atau kg atau 24 jam IV, 4 – 6
kali sehari.
- Koloramfenikol 50 mg atau kg atau 24 jam IV 4 kali sehari.
c) Meningitis bacterial, umur > 2 bulan
- Ampisilina 150-200 mg (400 mg) atau kg atau 24 jam IV 4-6 kali
sehari
- Sefalosforin generasi ke 3.
2) Pengobatan simtomatis
- Diazepam IV : 0.2 – 0.5 mg atau kg atau dosis, atau rectal 0.4 – 0.6
atau mg atau kg atau dosis
- kemudian klien dilanjutkan dengan Fenitoin 5 mg atau kg atau 24 jam,
3 kali sehari.
- Turunkan panas antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg atau kg
atau dosis.
- Kompres air PAM atau es
3) Pengobatan suportif
- Cairan intravena
- Zat asam, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar antara 30 – 50%.
b. Perawatan
1) Pada waktu kejang
a) Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.
b) Hisap lender
c) Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi.
d) Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya jatuh).
2) Bila penderita tidak sadar lama.
a) Beri makanan melalui sonda.
b) Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah posisi
penderita sesering mungkin.
c) Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau saleb antibiotika.
3) Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi.
Pada inkontinensia alvi lakukan lavement.
4) Pemantauan ketat
a) Tekanan darah
b) Respirasi
c) Nadi
d) Produksi air kemih
e) Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini adanya DC.

10. Pencegahan
Pencegahan meningitis dalam jurnal dari Universitas Sumatera Utara adalah
sebagai berikut:
a. Pencegahan primer
Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resiko
meningitis bagi individu yang belum mempunyai faktor resiko dengan
melaksanakan pola hidup sehat.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi meningitis
pada bayi agar dapat membentuk kekebalan tubuh. Vaksin yang dapat
diberikan seperti Haemophilus influenzae type b (Hib), Pneumococcal
conjugate vaccine (PCV7), Pneumococcal polysaccaharide vaccine (PPV),
Meningococcal conjugate vaccine (MCV4), dan MMR (Measles dan
Rubella). Imunisasi Hib Conjugate vaccine (Hb-OC atau PRP-OMP)
dimulai sejak usia 2 bulan dan dapat digunakan bersamaan dengan jadwal
imunisasi lain seperti DPT, Polio dan MMR. Vaksinasi Hib dapat
melindungi bayi dari kemungkinan terkena meningitis Hib hingga 97%.
Pemberian imunisasi vaksin Hib yang telah direkomendasikan oleh WHO,
pada bayi 2-6 bulan sebanyak 3 dosis dengan interval satu bulan, bayi 7-
12 bulan di berikan 2 dosis dengan interval waktu satu bulan, anak 1-5
tahun cukup diberikan satu dosis. Jenis imunisasi ini tidak dianjurkan
diberikan pada bayi di bawah 2 bulan karena dinilai belum dapat
membentuk antibodi.
Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kontak
langsung dengan penderita dan mengurangi tingkat kepadatan di
lingkungan perumahan dan di lingkungan seperti barak, sekolah, tenda dan
kapal. Meningitis juga dapat dicegah dengan cara meningkatkan personal
hygiene seperti mencuci tangan yang bersih sebelum makan dan setelah
dari toilet.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menemukan penyakit sejak awal,
saat masih tanpa gejala (asimptomatik) dan saat pengobatan awal dapat
menghentikan perjalanan penyakit. Pencegahan sekunder dapat dilakukan
dengan diagnosis dini dan pengobatan segera. Deteksi dini juga dapat
ditingkatan dengan mendidik petugas kesehatan serta keluarga untuk
mengenali gejala awal meningitis.
Dalam mendiagnosa penyakit dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik,
pemeriksaan cairan otak, pemeriksaan laboratorium yang meliputi test
darah dan pemeriksaan X-ray (rontgen) paru .Selain itu juga dapat
dilakukan surveilans ketat terhadap anggota keluarga penderita, rumah
penitipan anak dan kontak dekat lainnya untuk menemukan penderita
secara dini. Penderita juga diberikan pengobatan dengan memberikan
antibiotik yang sesuai dengan jenis penyebab dari meningitis.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tertier merupakan aktifitas klinik yang mencegah kerusakan
lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit berhenti. Pada tingkat
pencegahan ini bertujuan untuk menurunkan kelemahan dan kecacatan
akibat meningitis, dan membantu penderita untuk melakukan penyesuaian
terhadap kondisi-kondisi yang tidak diobati lagi, dan mengurangi
kemungkinan untuk mengalami dampak neurologis jangka panjang
misalnya tuli atau ketidakmampuan untuk belajar. Fisioterapi dan
rehabilitasi juga diberikan untuk mencegah dan mengurangi cacat.
C. Clinical Pathway
D. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut.
I. Identitas Klien
Nama : No. RM :
Umur : Pekerjaan :
JenisKelamin : Status Perkawinan :
Agama : Tanggal MRS :
Pendidikan : TanggalPengkajian :
Alamat : SumberInformasi :

II. RiwayatKesehatan
1. Keluhan utama
Pada pasien meningitis dapat ditemukan keluhan utama berupa Panas
badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
2. Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien meningitis dapat ditemukan riwayat penyakit seperti gelisah,
muntah-muntah, panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari, sakit
kepala.
3. Riwayat kesehatan terdahulu
a. Penyakit yang pernah dialami
b. Alergi (obat, makanan, plester,dll)
c. Imunisasi
Kapan terakhir diberi imunisasi DTP karena ensafalitis dapat terjadi
post imunisasi pertusis.
d. Kebiasaan
Menunjukkan adanya kebiasaan yang dapat menyebabkan penyakit
meningitis.
e. Obat-obat yang digunakan
Menunjukkan adanya penyakit terdahulu yang dapat berpengaruh pada
penyakit sekarang.
f. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus
contoh: Herpes dan lain-lain. Bakteri contoh: Staphylococcus Aureus,
Streptococcus , E. Coli , dan lain-lain.
g. Genogram
Menunjukkan adanya keterlibatan anatara pasien dengan lingkungan
dirumah yang dapat menyebabkan penyakit
III. Pengkajian Keperawatan
1. Persepsi & pemeliharaan kesehatan
Menunjukkan adanya pemeiliharaan dan pengetahuan akan penyakit yang
dideritanya.
2. Pola nutrisi atau metabolik
Menunjukkan adanya asupan nutrisi baik atau buruk.
3. Pola eliminasi
Menunjukkan keadaan eliminasi yang baik atau tidak.
4. Pola aktivitas & latihan
Mengetahui tingkat aktivitas dan kebiasaan pasien sehai-hari yang
memungkinkan dapat terpengaruh oleh penyakit yang dialami.
5. Pola tidur & istirahat
Menunjukkan adanya perubahan pola tidur dan istirahat di rumah dengan
dirumah sakit sebagai pengaruh akibat adanya penyakit.
6. Pola kognitif & perceptual
Menujukkan adanya pengetahuan dan pesepsi sehat sakitnya, sehingga
menunjukkan adanya pencegahan atau penanganan terhadap penyakit baik
di rumah ataupun rumah sakit.
7. Pola persepsi diri
Cara pandang mengenai persepsi akan dirinya terhadap penyakit yang
diderita
8. Pola seksualitas & reproduksi
Menunjuukan adanya perubahan sebelum masuk rumah sakit dan saat
dirumah sakit terkait dengan seksualitas serta reproduksi pasien.
9. Pola peran & hubungan
Menunjuukan adanya perubahan sebelum masuk rumah sakit dan saat
dirumah sakit terkait dengan speran dan hubungan pasien dengan
lingkungan sekitar.
10. Pola manajemen koping-stress
Menunjuukan adanya perubahan sebelum masuk rumah sakit dan saat
dirumah sakit terkait dengan tingkat sress menghadapi penyakit.
11. System nilai & keyakinan
Menunjuukan adanya perubahan sebelum masuk rumah sakit dan saat
dirumah sakit terkait dengan pemenuhan aktivitas yang erat kaitannya
dengan tuhannya dan nilai-nilai yang dianutnya.

IV. Pemeriksaan Fisik


a. Keadaan umum
Menunjukkan adanya pengaruh penyakit terhadap tingkat kesadaran pasien.
b. Tanda vital
Tergantung kondisi dan keadaan pasien.
c. Kepala
1. Mata
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, bentuk, kebersihan, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, dan kemampuan untuk menggerakkan bola
mata, adanya benjolan dan nyeri tekan.
2. Telinga
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, dan kemampuan untuk mendengar dengan
baik, adanya benjolan dan nyeri tekan.
3. Hidung
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, dan kemampuan untuk mencium aroma
dengan baik, adanya benjolan dan nyeri tekan.

4. Mulut
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, ada karies, menggunakan gigi pasangan atau
tidak, adanya benjolan dan nyeri tekan.
5. Leher
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, adanya pembesaran kelenjar getah bening,,
adanya benjolan dan nyeri tekan.
6. Dada
Lakukan berdasarkan pemeriksaan jantung dan paru-paru.
7. Abdomen
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, pembesaran hati dan limfe, adanya ascites,
pembesaran vena, adanya benjolan dan nyeri tekan.
8. Urogenital
Terpasang kateter atau tidak.
9. Ekstremitas
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, kebersihan, bentuk, kesimetrisan,
ada lesi dan jejeas atau tidak, kemampuan untuk bergerak dengan baik,
kekuatan otot, adanya edema, adanya benjolan dan nyeri tekan.
10. Kulit dan kuku
Lakukan pemeriksaan mulai dari warna, sianosis atau tidak, CRT kurang
atau lebih dari 2 dtik, kebersihan, bentuk, kesimetrisan, ada lesi dan jejeas
atau tidak, adanya benjolan dan nyeri tekan.
11. Keadaan lokal
Terpasang alat invasive atau tidak.
Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic rutin pada klien meningitis meliputi laboratorium
klinik rutin (HB, Leukosit, LED, trombosit, retikulosit, glukosa ).

b. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisis
cairan otak. Lumbal fungsi tidak bisa dilakukan pada pasien dengan
peningkatan tekanan intrakranial. Analisis cairan otak diperiksa untuk
mengetahui jumlah sel, protein dan konsentrasi glukosa. Kadar glukosa
darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya, kadar
glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien
meningitis kadar glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal. Untuk
mengetahui jenis mikroba, maka organism penyebab infeksi dapat
diidentifikasi melalui kultur kuman pada cairan serebrospinal dan darah.
c. Pemeriksaan lainnya meliputi foto rontgen paru, CT scan kepala. CT scan
dilakukan untuk menentukan adanya edema serebri atau penyakit saraf
lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah
sangat parah.
d. Lumbal Pungsi
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan
protein, cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya
peningkatan TIK.
Meningitis bakteri: tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, leukosit dan
protein meningkat, glukosa menurun, kultur posistif terhadap beberapa
jenis bakteri.
Meningitis virus: tekanan bervariasi, CSS jernih, leukositosis, glukosa dan
protein normal, kultur biasanya negative
Glukosa & LDH : meningkat
LED : meningkat
(Muttaqin, 2008)

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat diangkat pada kasus meningitis sesuai
dengan pathway adalah sebagai berikut (NANDA, 2015).
a. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan
peradangan dan edema pada otak dan selaput otak.
b. Hipertermia berhubungan dengan inflamasi pada meningen dan
peningkatan metabolisme tubuh
c. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan tingkat
kesadaran
e. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran
f. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kontraksi otot sekitar saraf
servikal
g. Gangguan citra tubuh berhubungan penumpukan cairan serebrospinal
dalam otak
h. Resiko cedera berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran
3. Nursing Care Plan
Diagnosa
No. Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
keperawatan
1 Resiko NOC NIC
ketidakefektifan 1. Status sirkulasi Monitor tekanan intrakanial 1. Mengetahui perubahan respon
perfusi jaringan 2. Perfusi jaringan serebral 1. Catat perubahan respon klien
Kriteria Hasil: klien terhadap
otak berhubungan
1. Tekanan darah sistolik dan stimulus/rangsangan
dengan
diastolik dalam rentang 2. Monitor TIK klien dan 2. Mengetahui perfusi jaringan
peningkatan TIK
normal respon neurologis serebral klien
dan edema serebral 2. Tidak ada ortostatik terhadap aktivitas
hipotensi 3. Monitor intake dan output 3. Mengetahui keseimbangan
3. Tidak ada tanda peningkatan intake dan output
tekanan intrakranial yaitu 4. Pasang restrain bila perlu 4. Menjaga keamanan pasien
klien mampu komunikasi bila pasien gelisah
dengan jelas dan sesuai 5. Monitor suhu 5. Mengetahui kondisi pasien
6. Kaji adanya kaku kuduk 6. Menunjukkan adanya
kemampuan, klien
peningkatan tekanan
menunjukkan perhatian
intrakranial
konsentrasi dan orientasi, 7. Monitor ukuran, 7. Menunjukkan adanya
klien mampu memproses kesimetrisan reaksi dan peningkatan tekanan
informasi, tingkat kesadaran bentuk pupil intrakranial
klien membaik. 8. Kelola pemberian antibiotic 8. Mengurangi kesakitan yang
dirasakan pasien
9. Berikan posisi dengan
9. Jalan nafas pasien agar lebih
kepala elevasi 30 derajat
paten
10. Minimalkan stimulus dari 10. Lingkungan yang nyaman
lingkungan membuat pasien rileks
11. Kolaborasi pemberian obat- 11. Menunjang kesembuhan
obatan untuk pasien
mempertahankan TIK
dalam batas spesifik
2 Hipertermia Setelah dilakukan tindakan NIC
berhubungan keperawatan selama ...x24 jam Penanganan demam
dengan inflamasi pengaturan suhu tubuh pasien 1. Monitor suhu sesering 1. Hipertermi dapat
pada meningen dan normal dengan kriteria hasil: mungkin meningkatkan resiko
peningkatan a) Suhu tubuh dalam rentang dehidrasi
metabolisme tubuh normal (36,5-37,5oC) 2. Monitor IWL (Insensible 2. Mencegah hilangnya cairan
b) Nadi dan RR dalam rentang Water Loss)
normal (Nadi 80-100x/menit, 3. Monitor tekanan darah, nadi, 3. Peningkatan tekanan darah
RR 16-20x/menit) dan RR dapat menyebabkan
c) Melaporkan kenyamanan peningkatan TIK
suhu tubuh 4. Selimuti pasien 4. Mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
5. Berikan cairan IV 5. menurunkan edema serebri,
menurunkan tekanan darah
dan TIK
6. Anjurkan untuk kompres 6. Menurunkan suhu tubuh
pada lipatan paha dan ketiak secara non-farmakologi
7. Kolaborasi pemberian obat 7. Menurunkan suhu tubuh
antipiretik
3 Nyeri akut NOC NIC
berhubungan 1. Tingkat nyeri Manajemen nyeri
dengan iritasi 2. Kontrol nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri 1. Mengetahui karakteristik
selaput dan 3. Tingkat kenyamanan secara komprehensif nyeri secara menyeluruh
jaringan otak Kriteria Hasil : termasuk lokasi, untuk menentukan intervensi
1. Mampu mengontrol nyeri karakteristik, durasi, selanjutnya
(tahu penyebab nyeri, frekuensi, kualitas dan faktor
mampu menggunakan tehnik presipitasi 2. Mengetahui perkembangan
nonfarmakologi untuk 2. Observasi reaksi nonverbal
respon nyeri
mengurangi nyeri, mencari dari ketidaknyamanan 3. Mengurangi peningkatan
bantuan) 3. Kurangi faktor presipitasi
nyeri
2. Melaporkan bahwa nyeri nyeri 4. Meniminalkan nyeri yang
berkurang dengan 4. Ajarkan tentang teknik non
dirasakan
menggunakan manajemen farmakologi 5. Mengetahui keefektifan
nyeri 5. Evaluasi keefektifan kontrol
intervensi
3. Mampu mengenali nyeri nyeri 6. Pengobatan medis untuk
(skala, intensitas, frekuensi 6. Kolaborasikan dengan dokter
mengurangi nyeri
dan tanda nyeri) jika ada keluhan dan tindakan
4. Menyatakan rasa nyaman nyeri tidak berhasil
setelah nyeri berkurang
5. Tanda vital dalam rentang
normal

4. Hambatan NOC NIC


mobilitas fisik 1. Gerakan: aktif Latihan Kekuatan
berhubungan 2. Tingkat mobilitas 1. Ajarkan dan berikan 1. Pasien dapat termotivasi untuk
dengan penurunan 3. Perawatan diri: ADL dorongan pada klien untuk melakukan program latihan
tingkat kesadaran Kriteria Hasil : melakukan program latihan
1. Klien meningkat dalam secara rutin
aktivitas fisik 2. Mencegah resiko cedera
Latihan untuk ambulasi
2. Mengerti tujuan dari 1. Ajarkan teknik ambulasi &
peningkatan mobilitas perpindahan yang aman 3. Memudahkan pasien untuk
3. Memverbalisasikan perasaan
kepada klien dan keluarga. melakukan mobilisasi
dalam meningkatkan 2. Sediakan alat bantu untuk
kekuatan dan kemampuan klien seperti kruk, kursi roda, 4. Pasien terus termotivasi untuk
berpindah dan walker tetap melakukan ambulasi
4. Memperagakan penggunaan 3. Beri penguatan positif untuk
alat Bantu untuk mobilisasi berlatih mandiri dalam
(walker) batasan yang aman.
Latihan mobilisasi dengan 5. Klien dan keluarga memahami
kursi roda mobilisasi dengan benar
1. Ajarkan pada klien &
keluarga tentang cara 6. Klien termotivasi untuk
pemakaian kursi roda & cara memperkuat anggota tubuh
berpindah dari kursi roda ke
tempat tidur atau sebaliknya. 7. Klien tidak akan mengalami
2. Dorong klien melakukan kekakuan sendi dan keluarga
latihan untuk memperkuat dapat membantu klien untuk
anggota tubuh mobilisasi
3. Ajarkan pada klien/ keluarga
tentang cara penggunaan
kursi roda

5 Defisit perawatan NOC NIC


diri berhubungan 1. Perawatan diri: berpakaian Perawatan diri: Mandi
dengan tirah baring 2. Perawatan diri: makan 1. Tempatkan alat-alat mandi di Agar klien mampu belajar untuk
dan penurunan 3. Perawatan diri: mandi tempat yang mudah dikenali melakukan aktivitasnya sendiri
kesadaran Kriteria Hasil: dan mudah dijangkau klien, walaupun hanya minimal dan
1. Pasien mengerti cara 2. libatkan klien dan dampingi diberikan bantuan sedikit agar
memenuhi ADL secara 3. berikan bantuan selama klien tidak bergantung seterusnya
bertahap tidak mampu mengerjakan kepada keluarga dan petugas
2. Pasien mampu berpartisipasi sendiri
Dengan memberikan pakaian
dalam pemenuhan ADL
Perawatan diri: Berpakaian yang disukai klien maka klien
1. informasikan pada klien akan lebih nyaman dalam
dalam memilih pakaian memakai.
selama perawatan Letakkan baju pada tempat yang
2. sediakan pakaian di tempat mudah dijangkau pasien untuk
yang mudah dijangkau mengurangi resiko injury serta
3. bantu berpakaian yang sesuai dengan kenyamanan maka akan
4. jaga privacy klien membantu proses kesembuhan
5. berikan pakaian pribadi yang pasien
digemari dan sesuai
Dengan mendampingi pasien
Perawatan diri: Makan makan maka keamanan juga
1. anjurkan duduk dan berdoa terjaga serta lingkungan yang
bersama teman baik dapat membuat pasien
2. dampingi saat makan semakin rileks.
3. bantu jika klien belum
mampu dan berikan contoh
4. berikan lingkungan nyaman
saat makan
4. Discharge Planning
Sebelum pasien pulang, perawat hendaknya memberikan rencana tindak lanjut
atau discharge planning kepada pasien agar penyakit pasien tidak bertambah
buruk. Rencana tindak lanjut yang dapat diberikan kepada pasien meningitis
yaitu sebagai berikut.
a) Anjurkan untuk minum obat sesuai petunjuk dokter dan menghubungi
petugas kesehatan terdekat apabila obat dirasa tidak dapat memperbaiki
gejala yang dirasakan. Bawalah obat saat melakukan kontrol ke pusat
kesehatan.
b) Anjurkan untuk istirahat yang cukup dengan pencahayaan yang redup
apabila kepala terasa nyeri.
c) Jangan berbagi makanan, minuman, alat makan, atau alat mandi.
d) Hubungi petugas kesehatan terdekat apabila terdapat gejala pasien susah
bangun, kaku kuduk, atau kejang.
e) Anjurkan keluarga untuk memberikan dukungan kepada pasien untuk
mempercepat proses penyembuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Alpers, Ann. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph. Ed.20. Jakarta: EGC.

Arydina, Triono, A., & Herini, E. 2014. Bacterial Meningeal Score (BMS)
Sebagai Indikator Diagnosis Meningitis Bakterialis di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta. Jurnal Sari Pediatri, Vol. 15, No. 5, 274-280.

Baughman, D., & Hackley, J. 2003. Medical Surgical Nursing 10th Edition.
Philadelphia.

Bulechek, Gloria, Howard K, Joanne M., Cheryl M. 2012. Nursing Interventions


Classification (NIC) Sixth Edition. Elsevier Mosby.

Hidayat, A. A. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan


Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses


Holistik. Bandung: YIAPK Padjajaran.

Mayo Clinic Staff. 2015. Diseases and Conditions Meningitis.


http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/meningitis/basics/tests-
diagnosis/con-20019713 [5 Desember 2016]

Meningitis Foundation of America inc. 2013. Understanding Meningitis.


http://www.musa.org/understanding_meningitis [5 Desember 2016]

Moorhead, Sue, Marion Johnson, Meridean L. Maas, Elizabeth Swanson. 2012.


Nursing Ooutcomes Classification (NOC): Measurement of Health
Outcomes Fifth Edition. Elsivier Mosby.

Muttaqin, A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

NANDA. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.


Jakarta: EGC.

Price, S, Wilson L. M. 2006. Patofisiologi Edisi 6. Jakarta: EGC