Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


EFUSI PLEURA DI RUANG ANTURIUM
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

disusun guna memenuhi tugas pada Program Profesi Ners (P2N)


Stase Keperawatan Medikal

oleh
Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep.
NIM 122311101074

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan berikut dibuat oleh:


Nama : Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep
NIM : 122311101074
Judul : Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Efusi
Pleura Di Ruang Anturium RSD dr. Soebandi Jember
telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:
Hari :
Tanggal: November 2016

Jember, November 2016

TIM PEMBIMBING

Pembimbing Akademik, Pembimbing Klinik,

NIP ................................................ NIP .............................................


LAPORAN PENDAHULUAN
EFUSI PLEURA
Oleh: Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep

A. Anatomi danFisiologi Paru


1. Anatomi Paru
Paru manusia terbentuk setelah embrio mempunyai panjang 3 mm.
Pembentukan paru di mulai dari sebuah Groove yang berasal dari Foregut.
Selanjutnya pada Groove ini terbentuk dua kantung yang dilapisi oleh suatu
jaringan yang disebut Primary Lung Bud. Bagian proksimal foregut membagi diri
menjadi 2 yaitu esophagus dan trakea.
Pada perkembangan selanjutnya trakea akan bergabung dengan primary lung
bud. Primary lung bud merupakan cikal bakal bronchi dan cabang-cabangnya.
Bronchial-tree terbentuk setelah embrio berumur 16 minggu, sedangkan alveoli
baru berkembang setelah bayi lahir dan jumlahnya terus meningkat hingga anak
berumur 8 tahun. Ukuran alveol bertambah besar sesuai dengan perkembangan
dinding toraks. Jadi, pertumbuhan dan perkembangan paru berjalan terus menerus
tanpa terputus sampai pertumbuhan somatic berhenti.

Gambar 1. Anatomi Paru-paru


Saluran pernafasan terdiri dari rongga hidung, rongga mulut, faring, laring,
trakea, dan paru. Laring membagi saluran pernafasan menjadi 2 bagian, yakni
saluran pernafasan atas dan saluran pernafasan bawah. Pada pernafasan melalui
paru-paru atau pernafasan external, oksigen di pungut melalui hidung dan mulut.
Pada waktu bernafas, oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli
dan dapat erat hubungan dengan darah didalam kapiler pulmunaris.
Hanya satu lapis membran yaitu membran alveoli, memisahkan oksigen dan
darah oksigen menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah
merah dan dibawa ke jantung. Dari sini dipompa didalam arteri kesemua bagian
tubuh. Darah meninggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100 mm hg dan
tingkat ini hemoglobinnya 95%. Di dalam paru-paru, karbon dioksida, salah satu
hasil buangan. Metabolisme menembus membran alveoli, kapiler dari kapiler
darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronchial, trakea, dinafaskan keluar
melalui hidung dan mulut.

2. Fisiologi Paru
Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih tekanan yang
terdapat antara atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Seperti yang
telah diketahui, dinding toraks berfungsi sebagai penembus. Selama inspirasi,
volume toraks bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat
kontraksi beberapa otot yaitu sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas
dan otot seratus, skalenus dan interkostalis eksternus mengangkat iga-iga (Price,
2004)
Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif akibat
elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis eksternus
relaksasi, dinding dada turun dan lengkung diafragma naik ke atas ke dalam
rongga toraks, menyebabkan volume toraks berkurang. Pengurangan volume
toraks ini meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan intrapulmonal.
Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfir menjadi terbalik, sehingga udara
mengalir keluar dari paru-paru sampai udara dan tekanan atmosfir menjadi sama
kembali pada akhir ekspirasi (Price, 2004)
Tahap kedua dari proses pernapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi
membrane alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 μm). Kekuatan
pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan
fase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfir pada permukaan laut besarnya
sekitar 149 mmHg. Pada waktu oksigen diinspirasi dan sampai di alveolus maka
tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekiktar 103 mmHg.
Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan fakta bahwa udara inspirasi
tercampur dengan udara dalam ruangan sepi anatomic saluran udara dan dengan
uap air. Perbedaan tekanan karbondioksida antara darah dan alveolus yang jauh
lebih rendah menyebabkan karbondioksida berdifusi kedalam alveolus.
Karbondioksida ini kemudian dikeluarkan ke atmosfir (Price, 2004).

Gambar 2. Gambar C menunjukkan Pertukaran Gas di Alveolus


Dalam keadaan beristirahat normal, difusi dan keseimbangan oksigen di
kapiler darah paru-paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total
waktu kontak selama 0,75 detik. Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru-paru
normal memiliki cukup cadangan waktu difusi. Pada beberapa penyakit misal;
fibosis paru, udara dapat menebal dan difusi melambat sehingga ekuilibrium
mungkin tidak lengkap, terutama sewaktu berolahraga dimana waktu kontak total
berkurang. Jadi, blok difusi dapat mendukung terjadinya hipoksemia, tetapi tidak
diakui sebagai faktor utama (Pearce, 2013).

3. Sistem Pertahanan Paru


Paru-paru mempunyai pertahanan khusus dalam mengatasi berbagai
kemungkinan terjadinya kontak dengan aerogen dalam mempertahankan tubuh.
Sebagaimana mekanisme tubuh pada umumnya, maka paru-paru mempunyai
pertahanan seluler dan humoral. Beberapa mekanisme pertahanan tubuh yang
penting pada paru-paru dibagi atas(Pearce, 2013) :
1. Filtrasi udara
Partikel debu yang masuk melalui organ hidung akan :
a) Yang berdiameter 5-7 μ akan tertahan di orofaring.
b) Yang berdiameter 0,5-5 μ akan masuk sampai ke paru-paru
c) Yang berdiameter 0,5 μ dapat masuk sampai ke alveoli, akan tetapi dapat
pula di keluarkan bersama sekresi.
2. Mukosilia
Baik mucus maupun partikel yang terbungkus di dalam mucus akan digerakkan
oleh silia keluar menuju laring. Keberhasilan dalam mengeluarkan mucus ini
tergantung pada kekentalan mucus, luas permukaan bronkus dan aktivitas silia
yang mungkin terganggu oleh iritasi, baik oleh asap rokok, hipoksemia maupun
hiperkapnia.
3. Sekresi Humoral Lokal
zat-zat yang melapisi permukaan bronkus antara lain, terdiri dari :
a) Lisozim, dimana dapat melisis bakteri
b) Laktoferon, suatu zat yang dapat mengikat ferrum dan bersifat
bakteriostatik
c) Interferon, protein dengan berat molekul rendah mempunyai kemampuan
dalam membunuh virus.
d) Ig A yang dikeluarkan oleh sel plasma berperan dalam mencegah
terjadinya infeksi virus. Kekurangan Ig A akan memudahkan terjadinya
infeksi paru yang berulang.
4. Fagositosis
Sel fagositosis yang berperan dalam memfagositkan mikroorganisme dan
kemudian menghancurkannya. Makrofag yang mungkin sebagai derivate monosit
berperan sebagai fagositer. Untuk proses ini diperlukan opsonim dan komplemen.
Faktor yang mempengaruhi pembersihan mikroba di dalam alveoli adalah :
a) Gerakan mukosiliar.
b) Faktor humoral lokal.
c) Reaksi sel.
d) Virulensi dari kuman yang masuk.
e) Reaksi imunologis yang terjadi.
f) Berbagai faktor bahan-bahan kimia yang menurunkan daya tahan paru,
seperti alkohol, stress, udara dingin, kortekosteroid, dan sitostatik.
Paru sendiri memiliki kemampuan recoil, yakni kemampuan untuk
mengembang dan mengempis dengan sendirinya. Elastisitas paru untuk
mengembang dan mengempis ini di sebabkan karena adanya surfactan yang
dihasilkan oleh sel alveolar tipe 2. Namun selain itu mengembang dan
mengempisnya paru juga sangat dibantu oleh otot – otot dinding thoraks dan otot
pernafasan lainnya, serta tekanan negatif yang teradapat di dalam cavum pleura
(Pice & Wilson, 2005).
5. Cavum thoraks
Paru terletak pada sebuah ruangan di tubuh manusia yang di kenal sebagai
cavum thoraks. Karena paru memiliki fungsi yang sangat vital dan penting, maka
cavum thoraks ini memiliki dinding yang kuat untuk melindungi paru, terutama
dari trauma fisik. Cavum thoraks memiliki dinding yang kuat yang tersusun atas
12 pasang costa beserta cartilago costalisnya, 12 tulang vertebra thoracalis,
sternum, dan otot – otot rongga dada. Otot – otot yang menempel di luar cavum
thoraks berfungsi untuk membantu respirasi dan alat gerak untuk extremitas
superior(Pice & Wilson, 2005).
6. Pleura
Pleura adalah membran tipis dan transparan yang melapisi paru. Pleura
terdiri atas dua yaitu pleura parietalis dan pleura visceralis. Diantara kedua lapisan
pleura tersebut terbentuk suatu rongga (celah) tertutup disebut cavum pleurae,
yang memungkinkan pulmo bebas bergerak pada waktu respirasi (Gibson, 2002).
Pleura normal memiliki permukaan licin, mengkilap dan semi transparan. Luas
permukaan pleura viseral sekitar 4.000 cm persegi pada laki-laki dewasa .
1) Pleura Viseralis
Bagian permukaan luarnya terdiri atas selapis sel mesotial yang tipis
(tebalnya tidak lebih dari 30 µ), diantara celah-celah sel ini terdapat beberapa
sel limfosit. Terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit dibawah sel
mesotelial. Struktur lapisan tengah memiliki jaringan kolagen dan serat-serat
elastik, sedangkan lapisan terbawah terdapat jaringan intertisial subpleural
yang sangat banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari arteri
pulmonalis dan brachialis serta kelenjar getah bening. Keseluruhan jaringan
pleura viseralis ini menempel dengan kuat pada parenkim paru.
2) Pleura Parietalis
Lapisan pleura parietalis merupakan lapisan jaringan yang lebih tebal atas sel-
sel mesotelial serta jaringan ikat (jaringan kolagen dan serat-serat elastik).
Dalam jaringan ikat ini terdapat pembuluh kapiler dari arteri intercostalis dan
mammaria interna, kelenjar getah bening, banyak reseptor saraf sensorik yang
peka terhadap rangsangan nyeri. Di tempat ini juga terdapat perbedaan
temperatur. Sistem persarafan berasal dari nervus intercostalis dinding dada
dan alirannya sesuai dengan dermatom dada. Keseluruhan jaringan pleura
parietalis ini menempel dengan mudah, tetapi juga mudah dilepaskan dari
dinding dada diatasnya.

Gambar 3. Pleura
a. Cairan Pleura
Cavum pleurae terdapat sedikit cairan serous yang membuat
permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis menjadi licin sehingga
mencegah terjadinya gesekan. Cairan ini diproduksi oleh pleura parietalis
dan diserap oleh pembuluh darah pleura viseralis, dialirkan ke pembuluh
limfa dan kembali ke darah. Pada orang normal, cairan di rongga pleura
sebanyak 10-20 mL (Price & Wilson, 2006).
Cairan pleura mengandung 1.500-4.500 sel/ mL terdiri dari makrofag
(75%), limfosit (23%), eritrosit dan mesotel bebas. Cairan pleura normal
mengandung protein 1-2 g/100 mL. Elektroforesis cairan pleura
menunjukkan bahwa kadar protein cairan pleura setara dengan kadar
protein serum, namun kadar protein berat molekul rendah seperti albumin,
lebih tinggi dalam cairan pleura. Kadar molekul bikarbonat cairan pleura
20-25% lebih tinggi dibandingkan kadar bikarbonat plasma, sedangkan
kadar ionatrium lebih rendah 3-5% dan kadar ion klorida lebih rendah 6-
9% sehingga pH cairan pleura lebih tinggi dibandingkan dengan pH
plasma.
b. Fisiologi Pleura
Pleura berperan dalam sistem pernapasan melalui tekanan pleura
menimbulkan tekanan transpulmonar yang selanjutnya mempengaruhi
pengembangan paru dalam proses respirasi. Pengembangan paru terjadi
bila kerja otot dan tekanan transpulmoner berhasil mengatasi rekoil elastik
(elastic recoil) paru dan dinding dada sehingga terjadi proses respirasi.
Jumlah cairan rongga pleura diatur keseimbangan starling (laju filtrasi
kapiler di pleura parietal) yang ditimbulkan oleh tekanan pleura dan
kapiler, kemampuan sistem penyaliran limfatik pleura serta keseimbangan
elektrolit (Price & Wilson, 2006). Ketidakseimbangan komponen-
komponen gaya ini menyebabkan penumpukan cairan sehingga terjadi
efusi pleura. Bila terserang penyakit, pleura mungkin akan meradang,
selain itu udara atau cairan dapat masuk ke dalam rongga pleura sehingga
menyebabkan paru tertekan atau kolaps.
B. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana penumpukan cairan dalam pleura
berupa transudat dan eksudat yang diakibatkan terjadinya ketidakseimbangan
antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis. Efusi pleura bukanlah
diagnosis dari suatu penyakit, melainkan hanya merupakan gejala atau komplikasi
dari suatu penyakit (Muttaqin, 2008). Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan
abnormal dalam kavum pleura (Mansjoer dkk, 2009).
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak
diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi
tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara
normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (10 sampai 20ml)
berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak
tanpa adanya friksi (Brunner & Suddarth, 2002).
Efusi pleura adalah penimbunan cairan dalam rongga pleura. Efusi pleura
dapat berupa transudate atau eksudat. Transudate terjadi pada peningkatan tekanan
vena pulmonalis, misalnya pada gagal jantung kongestif. Pada gagal jantung
kongestif keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran cairan dari
pembuluh darah. Transudasi juga dapat terjadi pada hipoproteinemia, seperti pada
penyakit hati dan ginjal. Sedangkan penimbunan eksudat disebabkan oleh
peradangan atau keganasan pleura, dan akibat peningkatan permeabilitas kapiler
atau gangguan absorbsi getah bening (Price & Wilson, 2006).

Gambar 4. Efusi pleura


2. Klasifikasi
Efusi pleura dapat dibedakan menurut cairan yang mengisi pleura, yaitu
sebagai berikut (Price & Wilson, 2006):
a. Hidrotoraks
Penimbunan transudate pada pleura.
b. Empiema
Efusi pleura yang mengandung nanah. Empiema disebabkan oleh perluasan
infeksi dari struktur yang berdekatan dan dapat merupakan komplikasi dari
pneumonia, abses paru, atau perforasi karsinoma ke dalam rongga pleura.
Empiema yang tidak ditangani dengan drainase yang baikdapat
membahayakan rangka toraks.
c. Hemotoraks
Perdarahan sejati ke dalam rongga pleura, bukan merupakan efusi pleura yang
yang berdarah. Penyebab paling sering yaitu trauma. Trauma dapat dibedakan
sebagai trauma tembus (luka tusuk) dan trauma tumpul (fraktur iga yang
selanjutnya menyebabkan laserasi paru atau pembuluh darah intercostal).
d. Kilotoraks
Terisinya rongga pleura oleh getah bening yang disalurkan oleh duktus
torasikus sebagai akibat trauma atau keganasan.
Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, efusi dibagi menjadi unilateral
dan bilateral. Efusi unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan
penyakit penyebabnya, tetapi efusi bilateral ditemukan pada penyakit kegagalan
jantung kongestif, sindrom nefrotik, asites, infark paru, lupus eritematosus
sistemis, tumor dan tuberculosis (Muttaqin, 2008).

3. Etiologi
Penyebab terjadinya efusi pleura menurut Somantri (2009) adalah sebagai
berikut:
a. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung
kiri), sindrom nefrotik, sirosis hepatik dan tumor
b. Eksudat disebabkan oleh infeksi tuberculosis, pneumonia, tumor, infark
paru, radiasi dan penyakit kolagen
c. Efusi hemorargi dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark paru
dan tuberculosis
Tabel 1. Perbedaan Transudate dan Eksudat
4. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang dapat muncul pada efusi pleura yaitu (Price &
Wilson, 2006):
a. Dispnea bervariasi
b. Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura
c. Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi
d. Ruang intercostal menonjol (efusi yang berat)
e. Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena
f. Perkusi meredup di atas efusi pleura
g. Egofoni di atas paru yang tertekan dekat efusi
h. Suara nafas berkurang di atas efusi pleura
i. Vocal fremitus berkurang.
Menurut Nurarif dan Kusuma (2013) tanda dan gejala yang dapat muncul
pada klien yang mengalami efusi pleura adalah:
a. Nyeri dan sesak nafas
Adanya timbunan cairan menimbulkan rasa nyeri akibat pergesekan, setelah
cairan cukup banyak rasa nyeri hilang, namun menimbulkan sesak nafas.
b. Adanya gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, banyak
mengeluarkan keringat, batuk, dan meningkatnya produksi dahak.
c. Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi penumpukan pleural
yang signifikan.
d. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan karena
cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak saat
pernafasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah
pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis
melengkung (garis ellis damoiseu).
e. Didapatkan segitiga garkand yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani di
bagian atas garis ellis domiseu. Segitiga grocco-yaitu daerah pekak karena
caira mendorong mediatinum ke sisi lain, pada auskultasi daerah ini akan
didapati vesikuler melemah dengan ronkhi.

5. Patofisiologi
Efusi pleura adalah akumulasi cairan pleura akibat peningakatn kecepatan
produksi cairan pleura, penurunan kecepatan pengeluaran cairan, dan atau
keduanya yang disebabkan oleh mekanisme di bawah ini yaitu:
a. Peningakatan tekanan pada kapiler subpleura
b. Peningakatan permeabilitas kapiler
c. Penurunan tekanan osmotik koloid darah
d. Peningkatan negatif intrapleura
e. Kerusakan drainase ilmfatik ruang pleura
Didalam rongga pleura terdapat + 5 ml cairan yang cukup untuk
membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini
dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hidrostatik,
tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh
kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir
kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya.
Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila
keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia
akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotik (hipoalbuminemia), peningkatan
tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas
transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung
karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis
hepatis karena tekanan osmotik koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan
antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler
sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung
banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau
nihil sehingga berat jenisnya rendah (Nurarif dan Kusuma, 2013).

6. Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh efusi pleura yaitu:
a. Fibrotoraks
Yaitu perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan viseralis sebagai akibat
dari eksudat yang mengalami peradangan akan mengalami organisasi
sehingga menimbulkan fibrotoraks. Fibrotoraks yang meluas dapat
menimbulkan hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang
terdapat di bawahnya (Price & Wilson, 2006).
b. Infeksi
Adanya cairan abnormal pada pleura dapat mengakibatkan infeksi.
c. Fibrosis paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat
paru dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan
jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan
peradangan. Pada efusi pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat
menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan
fibrosis.
d. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik
pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan
mengakibatkan kolaps paru.

7. Penatalaksanaan
Pengelolahan efusi pleura ditujukan untuk pengobatan penyakit dasar dan
pengosongan cairan.
a. Penatalaksanaan Farmakologis
Tujuan pengobatan adalah menemukan penyebab dasar, untuk mencegah
penumpukan kembali cairan. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab
dasar seperti gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis. Bila penyebab
dari malignasi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu.
b. Penatalaksanaan Non Farmakologis
1) Thorakosintesis
Aspirasi cairan pleura selain bermanfaat untuk memastikan diagnosis,
aspirasi juga dapat dikerjakan dengan tujuan terapeutik. Pengambilan
pertama cairan pleura, tidak boleh sebaiknya tidak melebihi 1000-1500
ml pada aspirasi guna mencegah terjadinya edema paru yang ditandai
dengan batuk dan sesak. Efusi pleura dapat ditangani dengan aspirasi
jarum (torakosintesis), hal ini penting untuk dilakukan apabila efusi
merupakan eksudat, karena dapat mengakibatkan fibrotoraks. Efusi
pleura yang ringan dan tidak berupa peradangan (transudate) dapat
direabsorbsi ke dalam kapiler setelah penyebab efusi sudah diatasi
(Price & Wilson, 2006)
Indikasi :
a) Menghilangkan sesak napas yang disebakan oleh akumulasi cairan
dalam rongga pleura.
b) Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal.
c) Bila terjadi akumulasi cairan.

Kerugian :
a) Dapat menyebabkan kehilangan protein yang berada dalam cairan
pleura.
b) Dapat menimbulkan infeksi di rongga pleura.
c) Dapat terjadi pneumothoraks.

Gambar 5. Torakosintesis

2) Pemasangan Water Seal Drainage (WSD)


Jika jumlah cairan cukup banyak, sebaiknya dipasang selang thoraks
dihubungkan dengan WSD, sehingga cairan dapat dikeluarkan secara
lambat dan aman.
Indikasi :
a) Hematothoraks
b) Pneumothoraks
Tujuan pemasangan WSD:
a. Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura.
b. Untuk mengembalikan tekanan negatif pada rongga pleura.
c. Untuk mengembangkan kembali paru yang kolaps.
d. Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

3) Pleurodesis
modalitas terapi yang bekerja dengan cara memasukkan substansi
kimiawi pada dinding bagian dalam pleura parietal, dengan tujuan
merekatkan hubungan antara pleura visceral dan pleura parietal.
Dengan harapan celah pada cavum pleura akan sangat sempit dan tidak
bisa terisi oleh substansi abnormal. Dan dengan harapan supaya paru
yang kolaps bisa segera mengembang dengan mengikuti gerakan
dinding dada.

8. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Dilakukan analisis cairan efusi yang diambil melalui torakosintesis,
dengan pemeriksaan laboratorium dapat ditentukan cairan efusi berupa
transudat atau eksudat (Mansjoer dkk, 2009).
Dalam pemeriksaan cairan pleura terdapat beberapa pemeriksaan antara lain :
1) Pemeriksaan Biokimia
Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang
perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Perbedaan transudat dan eksudat
Pembeda Transudat Eksudat
Kadar protein dalam efusi (g/dl) <3 >3
Kadar protein dalam efusi < 0,5 >0,5
Kadar protein dalam serum
Kadar LDH dalam efusi (IU) < 200 >200
Kadar LDH dalam efusi < 0,6 >0,6
Kadar LDH serum
Berat jenis cairan efusi < 1,016 >1,016
Hasil tes rivalta Negatif Positif

Disamping pemeriksaan tersebut diatas, secara biokimia diperiksakan juga


cairan pleura
- Kadar pH dan glukosa, biasanya merendah pada penyakit-penyakit
infeksi, arthritis reumatoid dan neoplasma
- Kadar amylase, biasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis
adenocarcinona (Soeparman, 1998).
2) Analisa cairan pleura
- Transudat: jernih, kekuningan
- Eksudat: kuning, kuning-kehijauan
- Hilothorax: putih seperti susu
- Empiema: kental dan keruh
- Empiema anaerob: berbau busuk
- Mesotelioma: sangat kental dan berdarah
3) Perhitungan sel dan sitologi
- Leukosit 25.000 (mm3): empiema
- Netrofil: pneumonia, infark paru, pankreatilis, TB paru
- Limfosit: tuberculosis, limfoma, keganasan.
- Eosinofil meningkat: emboli paru, poliatritis nodosa, parasit dan
jamur
- Eritrosit: mengalami peningkatan 1000-10000/ mm3 cairan tampak
kemorogis, sering dijumpai pada pankreatitis atau pneumoni. Bila
erytrosit > 100000 (mm3 menunjukkan infark paru, trauma dada dan
keganasan.
- Misotel banyak: Jika terdapat mesotel kecurigaan TB bisa
disingkirkan.
- Sitologi: hanya 50 - 60 % kasus-kasus keganasan dapat ditemukan
sel ganas. Sisanya kurang lebih terdeteksi karena akumulasi cairan
pleura lewat mekanisme obstruksi, preamonitas atau atelektasis
(Alsagaff, 2005)

4) Bakteriologis
Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneamo
cocclis, E-coli, klebsiecla, pseudomonas, enterobacter. Pada pleuritis TB
kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang
positif sampai 20 % (Soeparman, 1998).
b. Pemeriksaan radiologi
Dalam foto toraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat
permukaan yang melengkung jika jumlah cairan efusi lebih dari 300 ml,
pergeseran mediastinum kadang ditemukan (Mansjoer dkk, 2009).

Gambar 6. Pemeriksaan radiologi pada klien efusi pleura


9. Prognosis
Prognosis efusi pleura bervariasi dan bergantung dari etiologi yang
mendasarinya, derajat keparahan saat pasien masuk, serta analisa biokimia cairan
pleura. Namun demikian, pasien yang lebih dini memiliki kemungkinan lebih
rendah untuk terjadinya komplikasi. Pasien pneumonia yang disertai dengan efusi
memiliki prognosa yang lebih buruk ketimbang pasien dengan pneumonia saja.
Namun begitupun, jika efusi parapneumonia ditangani secara cepat dan tepat,
biasanya akan sembuh tanpa sekuele yang signifikan. Namun jika tidak ditangani
dengan tepat, dapat berlanjut menjadi empiema, fibrosis konstriktiva hingga
sepsis (Muttaqin, 2008).
Efusi pleura maligna merupakan pertanda prognosis yang sangat buruk,
dengan median harapan hidup 4 bulan dan rerata harapan hidup 1 tahun. Pada pria
hal ini paling sering disebabkan oleh keganasan paru, sedangkan pada wanita
lebih sering karena keganasan pada payudara. Median angka harapan hidup adalah
3-12 bulan bergantung dari jenis keganasannya. Efusi yang lebih respon terhadap
kemoterapi seperti limfoma dan kanker payudara memiliki harapan hidup yang
lebih baik dibandingkan kanker paru dan mesotelioma. Analisa sel dan analisa
biokimia cairan pleura juga dapat menentukan prognosa. Misalnya cairan pleura
dengan pH yang lebih rendah biasanya berkaitan dengan massa keadaan tumor
yang lebih berat dan prognosa yang lebih buruk (Muttaqin, 2008).
C. Pathways

Obstruksi vena cava, Peradangan pleura


obstruksi traktus
urinarius, ascites pada Cairan protein dari
sirosis hepatis, Permeablitas membrane getah bening masuk
kapiler meningkat rongga pleura

Terdapat jaringan nekrotik


Peningkatan kapiler sistemik
pada septa
pulmonal, penurunan
tekanan osmotic pleura, Konsentrasi protein
penurunan tekanan cair pleura meningkat
Kongesti pada pembuluh intrapleura
limfe

Gangguan tekanana kapiler hidrostatik Eksudat


Reabsorbsi cairan dan koloid osmotic intrapleural
terganggu
Transudat

Penumpukan cairan pada rongga pleura


Kurang terpapar
informasi

Peradangan Desakan pada Drainase


Ekspansi Kurang
rongga dinding pleura Penekanan
paru pengetahuan
pleura Resiko tinggi pada abdomen
menurun
tindakan drainase
Nyeri akut
Hipertermi Anoreksia
Resiko infeksi
Sesak nafas
Insufisiensi
oksigen Kompensasi tubuh Ketidakseimbangan
untuk bernafas nutrisi kurang dari
Ketidakefektifan kebutuhan tubuh
pola nafas
Gangguan Ketidaknyamanan
metabolisme saat tidur terlentang

Energi berkurang Gangguan pola tidur

Ansietas
Intoleransi
aktivitas
Defisit perawatan
diri

D. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas Klien: nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat,
pekerjaan, status perkawinan. Laki-laki lebih beresiko mengalami efusi
pleura.
b. Riwayat kesehatan: diagnosa medis, keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, riwayat kesehatan terdahulu terdiri dari penyakit yang pernah
dialami, alergi, imunisasi, kebiasaan/pola hidup, obat-obatan yang digunakan,
riwayat penyakit keluarga.
Keluhan utama yang biasanya dirasakan klien yaitu sesak nafas, rasa berat
pada dada, nyeri pleuritis akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan
terlokalisasi terutama padasaat batuk dan bernafas, batuk yang dialami klien
efusi pleura adalah batuk non produktif.
c. Riwayat penyakit saat ini
Klien dengan efusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya keluhan
seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritis, rasa berat pada dada, dan berat
badan menurun. Kaji sejak kapan keluhan-keluhan tersebut muncul, dan apa
saja tindakan yang telah dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan tersebut,
termasuk riwayat penggunaan obat.
d. Riwayat penyakit dahulu
Kaji faktor predisposisi yang mungkin dapat menyebabkan efusi pleura
seperti TB paru, pneumonia, gagal jantung, trauma, dan asites.
e. Riwayat penyakit keluarga
Adakah keluarga yang mengalami TB paru, asma atau kanker paru, penyakit-
penyakit tersebut dapat menyebabkan efusi pleura.
f. Genogram
g. Pengkajian Keperawatan:
1) Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan
Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan berbeda pada setiap klien.

2) Pola nutrisi/metabolik
Klien biasanya mengalami penurunan nafsu makan dan mengalami
penurunan berat badan.
3) Pola eliminasi
Tidak ada gangguan pada pola eliminasi klien.
4) Pola aktivitas & latihan
Klien biasanya mengalami penurunan pada pola aktivitas dan latihannya
karena sesak nafas yang dialami.
5) Pola tidur & istirahat
Klien bisa mengalami gangguan pada pola tidur dan istirahat, karena rasa
nyeri dan sesak nafas yang dialami.
6) Pola kognitif & perceptual
Tidak ada gangguan pada pola kognitif dan perceptual klien.
7) Pola persepsi diri
Tidak ada gangguan pada pola persepsi diri klien.
8) Pola seksualitas & reproduksi
Tidak ada gangguan pada pola seksualitas dan reproduksi.
9) Pola peran & hubungan
Klien dapat mengalami ganggguan pada pola peran dan hubungannya
dengan orang lain maupun lingkungannya.
10) Pola manajemen & koping stres
Klien dapat mengalami gangguan pada pola ini karena gangguan
kesehatan yang dialaminya.
11) Sistem nilai dan keyakinan
Kaji pola ibadah klien, biasanya klien yang lebih dekat dengan Tuhannya
maka akan lebih berpikiran positif.
h. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum, tanda vital
2) Pengkajian Fisik (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi): kepala, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, urogenital, ekstremitas, kulit
dan kuku, dan keadaan lokal.
Paru-paru
Inspeksi : Peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan yang disertai
penggunaan otot bantu pernafasan. Gerakan pernafasan
ekspansi dada yang asimetris (pergerakan dada tertinggal pada
sisi yang sakit), iga melebar, rongga dada asimetris (cembung
pada sisi yang sakit).
Palpasi : Pendorongan mediastinum kearah hemithoraks kontralateral
yang diketahui dari posisi trachea dan ictus cordis. Vokal
fremitus menurun terutama untuk efusi pleura yang jumlah
cairannya >300 cc. Pergerakan dinding dada yang tertinggal
pada dada yang sakit.
Perkusi : Perkusi terdengar redup hingga pekak,tergantung dari jumlah
cairannya.
Auskultas : Suara nafas berkurang pada sisi yang sakit. Pada posisi duduk,
cairan semakin ke atas semakin tipis.
Jantung
Inspeksi : letak ictus cordis normal berada pada ICS 5 pada linea
mid klavikula kiri. Pemriksaan ini bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya pergeseran jantung.
Palpasi : untuk menghitung frekuensi jantung (heart rate) dan
harus memerhatikan kedalaman dan teratur tidaknya
denyut jantung. Selain itu, perlu juga memeriksa adanya
thrill, yaitu getaran ictus cordis.
Perkusi : dilakukan untuk menetukan batas jantung daerah mana
yang terdengar pekak. Hal ini bertujuan untuk menetukan
apakah terjadi pergeseran jantung karena pendorongan
cairan efusi pleura.
Auskultasi : dilakukan untuk menentukan bunyi jantung I dan II
tunggal atau gallop dan adakah bunti jantung III yang
merupakan gejala payah jantung, serta adakah murmur
yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi
darah.
i. Terapi, pemeriksaan penunjang & laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium cairan pleura didapatkan kadar protein yang
rendah untuk jenis efusi transudat dan kadar protein yang tinggi untuk jenis
efusi eksudat.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien yang mengalami efusi
pleura adalah sebagai berikut:

a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan peningkatan cairan dalam


pleura, penurunan ekspansi paru
b. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan dinding pleura, gesekan pleura
akibat cairan berlebih
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen dan kebutuhan
d. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kelelahan, anoreksia
e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan sesak nafas yang dialami
f. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan, ancaman
kematian, ketidaktahuan tentang pengobatan
g. Hipertermi berhubungan dengan peradangan pada rongga pleura
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
mengenai penyakit
i. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
j. Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan drainase
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Ketidakefektifan Pola nafas NOC: NIC: Airway Management
pola nafas klien menjadi Respiratory Oxygen therapy
berhubungan efektif status 1. Kaji fungsi pernapasan, 1. Untuk menentukan dosis
dengan setelah Indikator: catat klien, sianosis dan pemeberian oksigen pada klien
peningakatan dilakukan 1. Frekuensi perubahan tanda vital
2. Posisi semi fowler dapat
cairan dalam tindakan pernafasan 2. Berikan posisi semi
memaksimalkan ekspansi paru-
pleura, penurunan keperawatan dalam fowler
paru klien
ekspansi paru selama 1 x rentang 3. Pemberian oksigen yang berlebihan
24 jam normal (RR 3. Berikan terapi oksigen
dapat mengakibatkan keracunan
= 16- sesuai dosis
oksigen, dan dapat menimbulkan
24x/menit) kebutaan pada klien
2. Kedalaman 4. Cemas yang dialami klien dapat
pernafasan 4. Monitor adanya memperburuk keadaan klien, dapat
dalam kecemasan pasien meningkatkan RR klien
rentang terhadap oksigenasi 5. Mengambil cairan yang berada di
normal 5. Kolaborasi dalam pleura, agar fungsi paru-paru dapat
tindakan torakosintesis maksimal
2. Nyeri akut Nyeri akan NOC: NIC: Pain management
berhubungan berkurang a. Pain control 1. Kaji karakteristik nyeri 1. Karakteristik nyeri dikaji agar
dengan penekanan setelah b. Pain level secara komprehensif intervensi yang diberikan sesuai
dinding pleura dilakukan Indikator: dengan tipe nyeri
akibat cairan perawatan a. Mampu 2. Gunakan komunikasi 2. Komunikasi terapeutik diguanakan
berlebih sesuai mengontrol terapeutik untuk menggali agar klien merasa lebih nyaman
indikasi 1x24 nyeri yang pengalaman klien tentang dan rasa saling percaya dapat
jam dialami nyeri yang dirasakan dibina, sehingga klien bersedia
b. Melaporkan mengungkapkan pengalamannya
bahwa nyeri 3. Observasi respon non 3. Respon non verbal yang
yang dialami verbal klien ditunjukkan klien menggambarkan
berkurang apa yang dirasakan klien
4. Evaluasi ketidakefektifan 4. Evaluasi dilakukan sebagai bahan
pengobatan yang pernah evaluasi agar tidak memberikan
dilakukan terhadap nyeri terapi yang sama
5. Gunakan pendekatan 5. Analgesik diberikan untuk
multidisipliner untuk mengurangi nyeri yang dialami
manajemen nyeri: klien
penggunaan analgesik
6. Ajarkan tentang teknik 6. Teknik kontrol nyeri non
pengontrolan nyeri non farmakologis dapat membantu
farmakologis menurunkan rasa nyeri yang
dialami klien
3. Gangguan pola Setalah NOC : NIC: sleep enhancement
tidur berhubungan dilakukan anxiety 1. Jelaskan pentingnya tidur 1. Memotivasi pasien agar bisa tidur
dengan nyeri dan tindakan reduction yang adekuat
2. Meningkatkan kualitas tidur pasien
sesak nafas yang keperawatan comfort level 2. Ciptakan lingkungan yang
dialami 1x24 jam sleep: extent nyaman
3. Melibatkan keluarga dalam
pasien akan and pattern 3. Diskusikan dengan pasien
perawatan pasien
dapat tidur Indikator: dan keluarga tentang
seperti pola a. jumlah jam teknik tidur pasien 4. Memantau jam tidur pasien
tidur tidur dalam 4. Instruksikan untuk
sebelumnya batas normal memonitor tidur pasien 5. Keadaan stress dapat mengganggu
6-8 jam 5. Bantu pasien untuk pasien untuk memulai tidurnya
b. pola tidur, menghindari keadaan
kualitas stress sebelum waktu tidur 6. Mencegah terganggunya waktu
dalam batas 6. Monitor waktu tidur pasien
normal makan/minum yang dapat
c. perasaan mengganggu waktu tidur
segar setelah
bangun tidur
4. Discharge Planning
a. Kaji kemampuan klien untuk
meninggalkan RS
b. Kolaborasikan dengan
terapis, dokter, ahli gizi, atau petugas kesehatan lain tentang kebelanjutan
perawatan klien di rumah
c. Identifikasi bahwa pelayanan
kesehatan tingkat pertama (puskesmas atau petugas kesehatan di rumah
klien) mengetahui keadaan klien
d. Identifikasi pendidikan
kesehatan apa yang dibutuhkan oleh klien yaitu hindari penyebab
kambuhnya pneumonia, cara penularan, dan pencegahan kekambuhan,
melakukan gaya hidup sehat.
e. Komunikasikan dengan klien
tentang perencanaan pulang
f. Dokumentasikan
perencanaan pulang
g. Anjurkan klien untuk
melakukan pengontrolan kesehatan secara rutin
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, D.C. 2000. Keperawatan Medikal Bedah: Buku Saku untuk Brunner
dan Suddarth. Jakarta: EGC.

Bulechek, G.M, et al. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC). United


Sates of America: Elsevier.

Davey, P. 2006. At a glance Medicine. Jakarta: Erlangga.

NANDA. 2014. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.


Jakarta: EGC.

Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluan Napas Pneumonia pada Anak, Orang
Dewasa, Usia Lanjut, Penumonia Atipik & Pneumonia Atypik
Mycobacterium. Jakarta: Pustaka Obor Populer.
Moorhead, S., et al. 2013. Nursing Outcome Classification (NOC). United Sates
of America: Elsevier.
Muttaqin, A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Penapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Pearce, E.C. 2013. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT.
Gramedia. Jakarta: Erlangga.

Price, A & Wilson, L. 2004. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.


Jakarta: EGC.

Soemantri, I. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada


Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.