Anda di halaman 1dari 9

PHARMACY, Vol.13 No.

01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

FORMULASI SIRUP ANTIMALARIA EKSTRAK KULIT BATANG KAYU SUSU


(Alstonia scholaris (L.) R. Br.)

FORMULATION OF EXTRACT OF MILKWOOD BARK AS ANTIMALARIAL SYRUP


(Alstonia scholaris (L.) R. Br.)

Elsye Gunawan, Eva Susanty Simaremare

Program Studi Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA,


Universitas Cenderawasih, Jayapura
Email: elsye001@gmail.com (Elsye Gunawan)

ABSTRAK

Malaria merupakan penyakit endemik di Papua. Pemerintah Indonesia menetapkan


bahwa pada tahun 2030 Papua bebas dari malaria. Timbulnya masalah baru, yaitu
banyaknya resistensi plasmodium terhadap obat antimalaria membuat penyakit ini
semakin sulit diberantas. Banyak peneliti mencari senyawa baru sebagai alternatif
antimalaria, salah satunya kayu susu Papua (Alstonia scholaris (L.) R.Br.). Dari hasil isolasi
kulit batang kayu susu diperoleh bahwa tanaman ini mengandung senyawa aktif
golongan alkaloid, flavonoid, polifenol, dan terpenoid/steroid yang efektif sebagai
antimalaria. Penelitian lain yang menguji aktifitas senyawa kulit batang kayu susu secara
in vitro dan in vivo menyatakan bahwa senyawa ini sangat berpotensi digunakan sebagai
obat antimalaria. Sampai saat ini belum ada formulasi sediaan ekstrak kulit batang kayu
susu yang digunakan sebagai obat antimalaria. Tujuan penelitian ini adalah membuat
formulasi sirup dari ekstrak kulit batang kayu susu dan menguji kualitas sirup ekstrak
kulit batang kayu susu. Pengujian kelayakan sediaan sirup ekstrak kulit batang kayu susu
menggunakan beberapa jenis pengujian yaitu uji organoleptik, homogenitas, dan pH.
Dari hasil penelitian ini didapatkan formula sirup ekstrak kulit batang kayu susu yang
kualitasnya baik yaitu homogen, bau khas aromatik kayu susu, warna kuning muda, rasa
manis-pahit, dan pH 7.

Kata kunci: sirup, antimalaria, kulit batang kayu susu.

ABSTRACT

Malaria is an endemic disease in Papua. Indonesia’s goverment established that in 2030


Papua will be free from malaria. There was a new problem of plasmodium resistance to
antimalarial drugs had made this disease is more difficult to be overcome. Researches
discover new active compounds that could be used as alternative for antimalarial drug,
one of them milkwood (Alstonia scholaris (L.) R.Br.) from Papua. The screening
photochemical showed that this plant contained active compounds alkaloids, flavonoids,

1
PHARMACY, Vol.13 No. 01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

polyphenols, and terpenoids/steroids that were effective as antimalarial. The other in


vitro and in vivo research resulted that this plant was potential as antimalarial drug. To
date, there was not research on formulation of extract of milkwood bark as antimalarial.
The aim of this study was to formulate extract of milkwood bark as syrup and test its
quality. The test consist of organoleptic, homogenity, and pH test. The result showed
that syrup of milkwood’s bark extract had good quality i.e: homogen, aromatic smell,
light yellow, bitter-sweet, and had pH 7.

Key words: syrup, antimalarial, milkwood bark.

2
PHARMACY, Vol.13 No. 01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

Pendahuluan bidang medis sudah melakukan


Papua adalah salah satu pulau di penelitian tentang tumbuhan ini dan
Indonesia yang memiliki beberapa ditemukan manfaat yang sangat banyak
penyakit endemik yang mematikan, (Pratap et al., 2013). Observasi klinis
salah satunya adalah malaria (Sorontou seduhan serbuk kulit batang kayu susu
et al., 2007; Punjabi et al., 2012). kepada subyek penelitian dengan
Berdasarkan API (Annual Parasite takaran 1 gram serbuk simplisia dalam
Incidence), dilakukan stratifikasi wilayah segelas air panas diminum beserta
di mana Indonesia bagian Timur masuk ampasnya untuk sekali minum,
dalam stratifikasi malaria tertinggi. pemakaian 3x sehari selama 5 hari,
Dalam rencana strategis kementerian terbukti bahwa kepadatan parasit
kesehatan tahun 2010-2014 menurun pada pemeriksaan darah
pengendalian malaria merupakan salah tebal/tipis diikuti berkurangnya keluhan
satu penyakit yang ditargetkan untuk penyakit (Rezeki dan Ratna, 2012). Kayu
diturunkan angka kesakitannya dari 2 susu mengandung metabolit sekunder
menjadi 1 per 1000 penduduk. Dan alkaloid, flavonoid, polifenol, dan
tahun 2009 pemerintah telah terpenoid/steroid (Marliana dan Ismail,
menetapkan melalui keputusan menteri 2011), berpotensi sebagai antikolesterol
Kesehatan No.293/ MENKES/SK/IV/2009 (Zuraida et al., 2010), antibakteri (Khan
tanggal 28 April 2009 mengenai upaya et al., 2003), antioksidan (Marliana dan
pengendalian malaria dalam rangka Ismail, 2011), dan antidiabetes (Stevina,
eliminasi malaria di Indonesia. Ada 2009). Uji toksisitas pemberian berulang
empat tahapan pengendalian malaria pada mencit selama 14 hari
dimana tahapan keempat adalah tahun menunjukkan tingkat toksik sampai 650
2030 pembebasan malaria di Papua, mg/kg mencit (10xDM) (Depkes, 2012).
Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Tumbuhan ini mengandung senyawa
NTT (Laihad, 2011). aktif di dalam kulit seperti pikrinin,
Secara etnofarmakologi, salah alstonin, ekitamin, dan akuamisin yang
satu tanaman yang ada di Papua yaitu mempunyai struktur dasar yang sama
pohon kayu susu (Alstonia scholaris (L.) dengan klorokuin (Pankti et al., 2012).
R. Br.), yang dapat digunakan sebagai Penelitian tersebut membuktikan bahwa
obat malaria. Beberapa peneliti di senyawa aktif dalam kandungan

3
PHARMACY, Vol.13 No. 01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

tanaman ini dapat digunakan sebagai menggunakan blender dan siap untuk
alternatif antimalaria. diekstraksi.
Sirup adalah sediaan cair berupa 3. Pembuatan ekstrak kulit batang kayu
susu
larutan yang mengandung sakarosa
Proses ekstraksi dilakukan
(Depkes RI, 1979). Kecuali dinyatakan
dengan menggunakan metode
lain, kadar sakarosa, C12H22O11, tidak
maserasi. Sebanyak 500 gram serbuk
kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari
kulit batang kayu susu ditimbang dan
66,0%. Dalam penelitian ini, ekstrak kulit
dimasukkan ke dalam beker gelas dan
batang kayu susu yang mempunyai
ditambah etanol 96% 1L. Setelah 24
aktivitas sebagai antimalaria diformulasi
jam, larutan tersebut disaring
dalam bentuk sediaan sirup, kemudian
menggunakan kertas saring untuk
dilakukan pengujian kualitas sirup.
mendapatkan ekstrak cair dari kulit
batang kayu susu. Proses maserasi
Metode Penelitian
dilakukan sebanyak tiga kali. Ekstrak
1. Pengambilan sampel kulit batang
kayu susu cair dari etanol kulit batang kayu susu
Sampel kulit batang kayu susu dikumpulkan dan diuapkan sampai
diambil di daerah Skyline, Jayapura. kering menggunakan alat rotary
Sampel diambil dari 2 pohon dengan evaporator sehingga diperoleh
diameter pohon ± 10 cm dan diambil ekstrak pekat etanol kulit batang
sebanyak 1 m tiap pohon. kayu susu.
2. Pembuatan simplisia kulit batang kayu 4. Skrining fitokimia
susu
Penapisan fitokimia dilakukan
Kulit batang kayu susu dicuci
terhadap simplisia, ekstrak, dan fraksi
bersih dengan air, ditiriskan,
aktif meliputi pemeriksaan terhadap
kemudian ditimbang berat simplisia
golongan alkaloid, flavonoid, saponin,
basahnya. Simplisia dipotong-potong
kuinon, tanin, dan triterpenoid/
kecil dengan menggunakan gunting
steroid (Franswort, 1969).
dan pisau, kemudian dikeringkan
5. Pembuatan sirup ekstrak kulit batang
dengan menggunakan oven suhu 50 kayu susu
°C. Setelah kering, kulit kayu Sirup ekstrak kulit batang kayu
ditimbang sebagai berat simplisia susu dibuat dengan formulasi seperti
kering. Simplisia dihaluskan dengan pada Tabel 1.

4
PHARMACY, Vol.13 No. 01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

Tabel 1. Formulasi sirup ekstrak kulit batang kayu susu


Bahan Konsentrasi
Ekstrak kulit batang kayu susu 1,5 g
Sakarosa 36 g
Akuades Ad 60 ml

6. Evaluasi sirup ekstrak kulit batang didapatkan berat simplisia basah


kayu susu
1950 g dan berat kering 800 g.
a. Uji organoleptik
Pengeringan dengan oven bertujuan
Pengujian organoleptik dilakukan
untuk mendapatkan pengeringan
dengan mengamati sediaan sirup
simplisia yang merata. Suhu yang
dari bentuk, rasa, bau, dan warna
digunakan tidak terlalu tinggi karena
sediaan.
penggunaan suhu yang terlalu tinggi
b. Uji homogenitas
dapat merusak komponen senyawa
Pengujian dilakukan dengan
yang ada di dalam simplisia.
mengamati sediaan, apakah ada
Pengeringan bertujuan untuk
partikel/endapan pada larutan
menghentikan proses enzimatik dan
sirup.
juga mencegah timbulnya mikroba
c. Uji pH sirup
yang dapat merusak kandungan
Sebanyak 0,5 mL sirup diencerkan
kimia simplisia. Simplisia tersebut
dengan 5 mL akuades, kemudian
kemudian dihaluskan dengan
diukur nilai pH dari larutan
blender dengan tujuan memperluas
tersebut.
permukaan partikel yang
berinteraksi dengan pelarut
Hasil dan Pembahasan
sehingga proses penyarian dapat
1. Preparasi sampel dan pembuatan
berlangsung efektif. Simplisia yang
simplisia kering
Sampel kulit batang kayu susu telah dihaluskan siap untuk

yang telah dikumpulkan dan dicuci diekstraksi.

bersih, kemudian ditimbang dan

5
PHARMACY, Vol.13 No. 01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

Gambar 1. Simplisia kulit batang kayu susu.

2. Ekstraksi kulit batang kayu susu 3. Hasil skrining fitokimia


Serbuk simplisia diekstraksi Efek antimalaria yang
dengan metode maserasi selama ditimbulkan oleh pohon kayu susu
3x24 jam dengan menggunakan diduga karena senyawa aktif yang
pelarut etanol 96%. Metode maserasi terkandung di dalam kulit batang
(ekstraksi cara dingin) dipilih untuk kayu susu yaitu flavonoid, saponin,
menghindari senyawa yang bersifat dan polifenol, yang merupakan
termolabil (tidak tahan terhadap senyawa kimia yang mampu
panas, yang dapat rusak karena menghambat pertumbuhan
pemanasan. Etanol 96% dipilih Plasmodium berghei (Kakisina dan
sebagai pelarut karena senyawa yang Ukratalo, 2011). Pendapat ini sesuai
akan diekstrak adalah senyawa polar. dengan Narayana (2011) yang
Selain itu etanol dapat mencegah menyatakan bahwa senyawa-
pertumbuhan mikroba pada ekstrak senyawa metabolit sekunder seperti
dibandingkan dengan air serta mudah flavonoid, saponin, dan polifenol
dalam proses penguapan. Setelah dapat menghambat pertumbuhan
didestilasi, hasil ekstraksi diperoleh parasit malaria.
sebanyak 61,25 g dari 500 g, sehingga
perolehan rendemen sebanyak
12,25%.

6
PHARMACY, Vol.13 No. 01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

Tabel 2. Hasil skrining fitokimia ekstrak kulit batang kayu susu

Kandungan Kimia Hasil


Alkaloid ++
Flavonoid +
Kuinon -
Saponin ++
Tanin -
Triterpenoid/ steroid +
Keterangan:
+ Ada
- Tidak ada

4. Hasil evaluasi sirup ekstrak kulit rasa pahit karena sirup kayu susu
batang kayu susu
pada dasarnya mempunyai rasa
a. Hasil uji organoleptik sirup ekstrak
sepat dan pahit. Sebanyak 34%
kulit batang kayu susu
Uji organoleptik dilakukan panelis mengatakan rasa sirup

terhadap 50 panelis dan hasilnya pahit dan 4% panelis mengatakan

dapat dilihat pada Tabel 3. manis. Dari uji bau, 100% panelis

Tabel 3 menunjukkan bahwa mengatakan bau sirup khas kayu

sirup yang sudah dibuat (Gambar susu.

2) pada uji warna, 68% panelis b. Uji homogenitas dan pH

mengatakan warna kuning dan Dari hasil uji homogenitas

32% panelis mengatakan warna sediaan sirup, didapatkan bahwa

kuning muda. Pengujian rasa, 62% sediaan sirup ekstrak kulit batang

panelis mengatakan rasa sirup kayu susu homogen, terlihat dari

manis-pahit. Hal ini disebabkan tidak ada endapan pada sirup.

rasa sakarosa pada sirup pada awal Hasil uji pH didapat pH sediaan

minum, kemudian akan tertinggal sirup dengan pH 7.

7
PHARMACY, Vol.13 No. 01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

Tabel 3. Hasil uji organoleptik sirup ekstrak kulit batang kayu susu
Uji Organoleptik Panelis (orang) Persen (%)
Uji Warna
Kuning 34 68
Kuning muda 16 32
Uji Rasa
Manis 2 4
Manis-pahit 31 62
Pahit 17 34
Uji Bau
Khas 50 100

Daftar Pustaka
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia.
Edisi III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI. 2012. Efek antimalaria


falcifarum in vitro dan
mekanisme kerja ekstrak
metanol dan fraksi kloroform
korteks Alstonia scholaris (L.)
R.Br. dan daun Cassia siamea
Lamk. Jakarta: Direktorat
Pengendalian Penyakit
Bersumber Binatang Direktorat
Jenderal PP dan PL. Hal. 3-14.
Gambar 2. Sediaan sirup ekstrak kulit
batang kayu susu. Franswort, N.R. 1969. Biological and
phytochemical screenings of
plant. J. Pharm. Sci., 55(3):225-
265.
Kesimpulan
Kakisina, P. dan Ukratalo, A.M. 2011.
Dari hasil penelitian ini Efek ekstrak metanol kulit
didapatkan formula sirup ekstrak kulit batang pohon pule (Alstonia
scholaris L. R. Br) terhadap
batang kayu susu yang kualitasnya baik, penurunan parasitemia mencit
yaitu homogen, bau khas aromatik kayu (Mus musculus) terinfeksi
Plasmodium berghei anka secara
susu, warna kuning muda, rasa manis- in vivo. Molucca Medica, 4(1):49-
pahit, dan pH 7. 60.

8
PHARMACY, Vol.13 No. 01 Juli 2016 ISSN 1693-3591

Keyser, A.A., Litchman, H.J., dan Pober,


S. 2000. Cellular and molecular Punjabi, N.H, Taylor, W.R.J., Murphy,
immunology. Philadelphia: W.B. G.S., Purwaningsih, S., Picarima,
Saunders Co. Hal. 240 –247. H., Sisson, J., Olson, S., Baso, S.,
Khan, M.R., Omosolo, A.D., dan Kihara, Wangsasaputra, F., Lesmana, M.,
M. 2003. Antibacterial activity of Oyofo, B.A., Simanjuntak, C.H.,
Alstonia scholaris and Leea Subekti, D., Corwin, A.L., dan
tetramera. Fitoterapi, 74(7- Richie, T.L. 2012. Etiology of
8):736-740. acute, non malaria, febrile illness
in Jayapura, Northeastern Papua,
Laihad, F.J. 2011. Tata laksana malaria Indonesia. The American Journal
untuk Indonesia. Buletin Jendela of Tropical Medicine and
Data dan Informasi Kesehatan, Hygiene, 1:1-10.
1(1):22-28.
Rezeki dan Ratna, S. 2012. Observasi
Marliana, E. dan Ismail, S. 2011. Studi klinis seduhan serbuk kulit
kandungan kimia dan bioaktifitas batang kayu susu (Alstonia
ekstrak etanol kulit batang scholaris (L.) R. Br.) sebagai
Alstonia scholaris (L). Prosiding antimalaria di Manokwari.
Seminar Nasional Kimia Bahan Journal of Pharmaceutics and
Alam. Universitas Mulawarwan, Pharmacology, 1(2):95–103.
Samarinda. 11-12 Oktober 2011.
Hal. 47. Sorontou, Y., Asih, P.B.S., Wanandi, A.I.,
Ramelan, W., Syafruddin, D.
Narayana, K. 2011. Manfaat pohon pule 2007. Malaria in Jayapura
(Alstonia schlaris L.R.Br.) sebagai District, Papua Province,
obat herbal. Indonesia and resistance to
http://kristantonarayana.blogsp sulfadoxine-pyrimethanamine.
ot.com/2011/01/manfaat- Med J. Indones., 16(1):32-40.
pohon-pule-alstoniascholaris
l.html. Data diakses pada 09 Stevina, Y. 2009. Efek ekstrak etanol
Agustus 2015. Alstonia scholaris (kulit kayu
pulai) terhadap penurunan
Pankti, K., Payal, G., Manodeep, C., dan glukosa darah mencit betina
Jagadish, K. 2012. A galur Swiss Webster yang
phytopharmacological review of diinduksi aloksan. Bandung:
Alstonia shcolaris: a panoramis Universitas Kristen Maranata.
herbal medicine. IJrap Journal,
3(3):367-371. Zuraida, Efendi, R., dan Lelana, N.E.
2010. Prospek pulai (Alstonia sp)
Pratap, B., Chakrabothy, G.S., dan sebagai bahan baku industri
Mogha, N. 2013. Complete obat antikolesterol. Bogor:
aspects of Alstonia scholaris. Kementrian Kehutanan.
International Journal of
PharmTech Research, 5(1):17-26.

Anda mungkin juga menyukai