Anda di halaman 1dari 361

SIFAT FISIK BATUAN DAN FLUIDA

SEMESTER III – 2015/2016


Author/Instructor:
Pudji Permadi
Muhammad Nur Ali Akbar

1
Petrofisika dan Sejarahnya
• Petrofisika adalah cabang ilmu kebumian yang
mempelajari sifat-sifat fisik batuan.
• Usaha memahami sifat-sifat fisik batuan berpori
sudah dimulai sejak awal munculnya industri migas.
• Para pelopor penelitian mengenai sifat-sifat fisik
batuan berpori: Kozeny (1927), Tickel et al. (1933),
Schlumberger et al. (1936), Hassler et al. (1936),
Wyckoff and Botset (1936), Leverett (1941), Benner
and Bartell (1941), Archie (1942, 1950), Patnode and
Wyllie (1950).
• Aliran fluida dalam media berpori (Darcy, 1856,
saringan pasir; Slichter, 1899, ground water).
2
Silabus
• Mempelajari teori mengenai sifat-sifat fisik
batuan reservoir dan konsep pengukurannya
di laboratorium; karakteristik batuan berpori;
porositas; permeabilitas absolut, efektif dan
relatif; saturasi fluida; kompresibilitas
batuan; interaksi fluida-batuan; tekanan
kapiler; resistivitas batuan berpori yang
mengandung fluida; pengaruh tekanan dan
temperatur pada sifat-sifat fisik batuan.

3
EVALUASI HASIL BELAJAR
• Pekerjaan rumah : 15%
• Ujian Tengah Semester : 35% (bahan ujian dari
awal kuliah sampai dengan bahan kuliah
menjelang UTS)
• Ujian Akhir Semester : 50% (bahan ujian
semua bahan kuliah yang dibahas setelah UTS)

4
Pustaka Acuan
• Petroleum Reservoir Engineering: Physical
Properties (author: J. W. Amyx, D. M. Bass, Jr.,
and R. L. Whiting).
• Properties of Reservoir Rocks: Core Analysis
(aouthor: R. P. Monicard)
• Coring and Core Analysis Handbook (author:
G. Anderson).

5
Sumber Data Sifat Fisik Batuan
• Sifat-sifat fisik batuan diperoleh melalui:
(i) pengukuran langsung atas contoh-contoh
batuan (core samples), atau
(ii) cara tidak langsung dg memakai alat Well LOGS yg
mengukur sifat fisik tertentu dari batuan untuk
kemudian dianalisis dan diinterpretasikan.

• Mata kuliah TM2209 membahas dasar-dasar sifat-


sifat fisik batuan dan terutama yg berkaitan dg butir
(i) diatas.

6
Topik-Topik yang Dibahas
• Batuan reservoir dan perangkap
• Pori-pori dan porositas
• Saturasi fluida
• Permeabilitas absolut
• Sifat kebasahan batuan
• Tekanan kapiler
• Permeabilitas efektif dan relatif
• Kompresibilitas
• Sifat hantar arus listrik (electrical properties)
batuan berpori yang berisi fluida
7
Batuan Reservoir
dan
Perangkap

8
Batuan Reservoir
Batuan reservoir adalah batuan atau lapisan batuan
yang memiliki pori-pori (dan/atau rekahan-rekahan)
melalui mana fluida dapat mengalir.
Reservoir hidrokarbon berada jauh dibawah permukaan
tanah. Hidrokarbon (minyak dan gasbumi) telah
terperangkap jutaan tahun lalu didalam pori-
pori/rekahan batuan. Mengapa hidrokarbon dapat
terperangkap?
Pori-pori/rekahan (pore space atau pore void) itu pada
mulanya berisi air sebelum hidrokarbon bermigrasi
dan ada air-tersisa yang terperangkap dalam pori-
pori itu. Mengapa ada air yang tersisa?
9
Migrasi dan pemerangkapan
minyak dan gas bumi

Bentuk struktur
perlapisan
batuan yg
membentuk
perangkap

Reservoir
minyak dg
tudung gas
(hanya sebagai
contoh saja.)

Tidak semua reservoir minyak


ada tudung gas (gas cap).10
Lima Jenis Utama Perangkap (Petroleum Traps)

• Perangkap Struktural (pelipatan, pengangkatan,


intrusi)
• Perangkap Stratigrafi (perubahan facies,
perubahan permeabilitas, pinch out)
• Perangkap patahan (fault trap)
• Perangkap ketidakselarasan (unconformity trap)
• Perangkap kombinasi.

11
Berbagai Perangkap Hidrokarbon
Bidang
Pergerakan unconformity
basement
ke atas.

Pergerakan
basement arah Pendesakan
lateral. kompresif

Pergerakan lapisan
arah lateral diatas
basement.

Perenggangan
dan penurunan Pendesakan oleh
lapisan. kubah garam

12
Bagaimana kita mengimajinasikan batuan reservoir dan karakteristiknya

Oil and water


Reservoir Rock Scales
didalam pori-pori
(skala mikron, 10-4cm)
Pori antar butiran

Rock grains Core-plug

(skala cm/inci)

(skala 10 - 100ft/m)


(skala reservoir 1000m)

13
Dimana Peran Petrofisika?
Rangkaian kegiatan Geology, Geophysics, dan Engineering dalam industri migas
Alur siklus

Alur siklus
(Pemodelan) (Pengelolaan) 14
Core dan Kegunaannya

15
Log analysis & Kalibrasi (Saturasi Air dan Porositas)

16
Pengambilan whole core
(subsurface coring)

Core yang diperoleh.

17
Coring bit

18
Alat untuk side wall coring

19
Whole core (bukan side wall core)

20
Whole core yg telah dikeluarkan dari core barrel
Carbonate

21
Whole core yg telah dikeluarkan dari core barrel
Sandstone

Common low resistivity low contrast lithofacies observed in the MTJDA include
Bioturbated Muddy Sandstone (Sbm), Rippled Heterolithic (Hr) and Bioturbated
Heterolithic (Hb). Occasionally these intervals are also associated with Bioturbated
22
Sandstone (Sb) and Rippled Sandstone (Sr).
Foto contoh batuan yang memiliki rekahan (fractures)

23
Berikut adalah slides yg menunjukkan
hasil dari analisa core sample

24
Contoh foto hitam-putih sayatan tipis batupasir menunjukkan
susunan antar butir yg membentuk pori-pori dan jenis
mineral dan fragmen penyusun batuan.

Thin section
(Sandstone)

25
Thin section juga untuk mencirikan rentang ukuran dan
bentuk butir, jenis pori-pori serta diagenesa yang pernah
terjadi pada batuan.

26
Contoh foto thin section (Carbonate)

27
Contoh thin section (Sandstone)

MTJDA reservoirs can be extremely heterogeneous at a mm-cm scale.


Reservoirs are often fine grained, clay rich and grade into each other. 28
Contoh hasil XRD Analysis
CALCULATED WHOLE ROCK MINERAL WEIGHT PERCENT RELATIVE CLAY ABUNDANCE

ZONE
SAMPLE LITHOL
No. WELL PLAG. ALK. ANKERIT FE ILL. CHLORIT
DEPTH OGY QTZ. CALCITE SID. PYR. ARAGONITE CLAYS ILLITE KAOL. SMEC.
FELD. FELD. E DOLO. SMEC. E

1 5N-63B 366.00 R2 Shale 24.1 0.9 3.4 0.0 0.0 0.2 2.6 0.3 0.0 68.5 69.60 20.70 0.0 3.0 6.7
2 5R-63B 504.00 P Shale 32.0 2.1 3.4 0.0 0.0 0.0 3.3 0.1 0.0 59.1 54.80 30.50 0.0 14.7 0.0
3 5R-63B 623.00 K Shale 18.0 0.0 2.4 0.0 0.0 0.0 3.2 1.0 0.0 75.4 56.20 37.40 0.0 6.4 0.0
4 5R-63B 730.00 D Shale 26.6 1.9 0.7 1.70 0.0 0.0 0.6 1.6 0.0 66.9 44.70 44.70 0.0 10.6 0.0
5 5R-63B 754.00 D Shale 30.1 0.0 1.1 0.0 0.0 0.0 0.6 0.6 0.0 67.6 45.00 37.90 0.0 17.1 0.0
6 3P-55B 600.00 P4 Shale 47.7 1.4 6.9 0.0 0.0 0.0 0.9 3.3 0.0 39.8 59.80 23.80 0.0 5.1 11.3
7 5G-21Z 471.70 R3 Shale 62.0 2.0 3.0 1.0 0.0 1.0 3.0 3.0 0 25 40.00 32 12 0 16
8 5G-21Z 480.75 R4 Shale 62.0 2.0 3.0 1.0 0.0 1.0 3.0 2.0 0 25 48.00 32 12 0 8
9 5G-21Z 595.40 R5 Shale 63.0 0.0 2.0 3.0 0.0 1.0 3.0 3.0 0 23 43.48 43.48 0 0 13.04
10 5G-21Z 612.50 PR Shale 73.0 0.0 3.0 3.0 0.0 1.0 5.0 2.0 0 12 50.00 50 0 0 0
11 5G-21Z 834.56 KD1 Shale 75.0 0.0 6.0 1.0 0.0 1.0 2.0 3.0 0 11 36.36 63.64 0 0 0
12 5G-21Z 844.36 KD1 Shale 72.0 0.0 3.0 0.0 0.0 1.0 3.0 2.0 0 18 33.33 66.67 0 0 0
13 5G-21Z 922.24 KD3 Shale 53.0 1.0 2.0 2.0 0.0 0.0 3.0 3.0 0 36 44.44 55.56 0 0 0
14 5G-21Z 968.03 KD3 Shale 46.0 0.0 1.0 6.0 0.0 0.0 5.0 3.0 0 36 38.89 61.11 0 0 0
15 5G-21Z 1050.77 BJ Shale 51.0 0.0 3.0 2.0 0.0 30.0 2.0 2.0 0 10 40.00 60 0 0 0
16 5G-21Z 1063.96 BJ Shale 55.0 0.0 2.0 0.0 0.0 32.0 2.0 1.0 0 8 37.50 62.50 0 0 0
17 5G-21Z 1079.10 JG Shale 53.0 0.0 3.0 34.0 0.0 1.0 5.0 0.0 0 4 50.00 50 0 0 0
18 5G-21Z 1129.90 JG Shale 48.0 1.0 1.0 1.0 0.0 0.0 7.0 4.0 0 38 42.11 57.89 0 0 0
19 5G-21Z 1145.30 JG Shale 43.0 0.0 1.0 7.0 0.0 0.0 12.0 5.0 0 32 37.50 62.50 0 0 0
20 5G-21Z 1226.12 DL Shale 53.0 0.0 1.0 1.0 0.0 0.0 5.0 3.0 0 33 45.45 54.54 0 0 0
21 5G-21Z 1243.98 DL Shale 43 1 1 0 0 0 1.0 5 0 46 34.78 65.22 0 0 0
29
Contoh gabungan sebagian data core analysis
RCA Corrected
No Depth, Clay content Clay
Well Sub - Zone Lithology Gr, size Depth
. (ft) Distribution
f (ft)
(Illite, Kaol, Smect, Ill-Smec, Chlor) Gr. Dens (g/cc)
(%)
1 5N-63B 483 PR2 sandstone m-cgr 15.8% (71, 14, 0, 5, 10); 0.6% Fe-Dolo Structural 2.66 35.2 484

2 5N-63B 496 PR2 sandstone m-cgr 10.6% (62, 22, 0, 6, 10); no Fe-Dolo Structural 2.65 35 497

3 7P-43B 536 PR1 sandstone vf-fgr 6% (32, 29, 0, 19, 0);51.9% Fe-Dolo Structural 2.79 6.4 536

4 7P-43B 541.5 PR1 sandstone vf-fgr 7.7% (40, 47, 0, 11, 0);47.7% Fe-Dolo Structural 2.77 23.7 541

5 7P-43B 565.5 PR1 sandstone vfgr 11.4% (30, 43, 0, 6, 0);20% Fe-Dolo Structural 2.64 37.4 565

6 7P-43B 566 PR1 sandstone vfgr 10% (30, 40, 0, 9, 0); 27% Fe-Dolo Structural 2.76 17 566

7 7P-43B 569 PR1 sandstone vfgr 11% (55, 36, 0, 9, 0); 18.4% Fe-Dolo Structural 2.6 39.8 570

8 7P-43B 585 PR2 sandstone vfgr 5.2% ( 45, 47, 0, 8, 0); 42.4% Fe-Dolo Structural 2.78 7.6 585

9 7P-43B 612.5 PR3 sandstone vfgr 5.5% (38, 46, 0, 16, 0); 27.7% Fe-Dolo Structural 2.63 37.9 613

10 7P-43B 623 PR4 sandstone vf-fgr 7.7% (55, 28, 0, 18, 0); 25% Fe-Dolo Structural 2.79 6.9 623

11 7P-43B 671.5 PR5 sandstone f-mgr 4.7% (22, 77, 0, Tr, 0); no Fe-Dolo Structural 2.64 35.1 671

12 6J-47A 160.1 D140 sandstone vf-cgr 25.9% (32, 13, 49, 0, 6) Patchy N/A 33.6 160

13 3P-55B 547.5 PR1 Sandstone f-mgr 15.2% (66, 11, 0, 17, 6); 10% Fe-Dolo Structural 2.76 20.6 548

14 3P-55B 630 PR5 Sandstone f-mgr 12.8% (44, 31, 0, 10, 14); no Fe-Dolo Structural 2.66 36.7 631

15 3P-55B 657.2 KD1 Sandstone m-cgr 17.3% (47, 27, 0, 11, 15); no Fe-Dolo Structural 2.65 33 658
30
Permeability versus Porosity
10000

1000

100
Permeability, md

10

0.1

0.01
0 5 10 15 20 25 30 35
Porosity, %
31
Perbandingan properties dari
conventional dan sidewall cores
Chart Title
30

25

20
Porosity (%)

15

10

Conventional Sidewall

0
1 10 100 1000

Permeability (mD)

32
Tekanan Kapiler versus Saturasi Air
140

120

112
100
Capillary Pressure (psi)

204
206
80
308
333
60
451
504
40
619
727
20
1114

0
0 20 40 60 80 100
Water saturaion (%)

33
Permeabilitas Relative versus Saturasi Air
1

kro

0.8
Relative Permeability (fraction)

0.6

krw
0.4

7
0.2 13
20
21
41
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Water Saturation, fraction
34
Sifat kelistrikan batuan berpori yg berisi air

Formation Resistivity Factor vs Porosity

1000
Formation Resistivity Factor

100

10

1
0.01 0.1 1
Porosity, fraction

35
Jenis-Jenis Batuan Reservoir

• Batupasir (sandstones): consolidated , unconsolidated,


dan loose
• Batuan karbonat (carbonates): limestone dan
dolomite
• Batuan tuffa (tuff) (umumnya fractured)
• Batuan beku/basement (fractured): igneous rock,
granitic, washed granite
• Batuan metamorf (fractured)
• Batu serpih (shale) (fractured)

Catatan: Jenis batuan yang umum dijumpai sebagai batuan


reservoir komersial adalah batupasir (sandstones) dan
batuan karbonat (carbonates). Batuan jenis ini pada
umumnya telah mengalami proses diagenesa. 36
Diagenesa
• Diagenesa adalah proses geologi yg dialami oleh
batuan setelah sedimentasi. Perubahan secara fisik
dan atau kimiawi terjadi pada batuan itu.
• Diagenetic prosesses:
- cementation
- phase transformation
- dissolution/leaching
- infiltration
- natural fracturing
- pressure solution
• Akibat dari proses diagenesa : memperbaiki atau
bahkan memperburuk sifat-sifat fisik batuan.
37
Reservoir pada umumnya bersifat heterogen
• Baik lateral maupun vertikal
• Perubahan sedimentasi/deposisi
• Perbedaan lingkungan pengendapan
• Perbedaan diagenesa dan intensitasnya
• Perbedaan kekuatan fisik butiran terhadap
perubahan.
• Perubahan facies/litologi. (Istilah facies
digunakan bila satu bagian batuan dengan
bagian yg lain dapat dibedakan berdasarkan
hasil proses geologinya.
38
Batupasir (sandstones)
• Batupasir adalah batuan endapan klastik yang
terbentuk dari butir-butir pasir dengan ukuran
butir yang dapat bervariasi (< 2 mikron hingga 2
mm)
• Material penyusun batupasir dapat bervariasi,
kombinasi dari kwarsa (sebagai komponen
utama), mineral lempung atau clays (smectite,
illite, chlorite, kaolinite), karbonat, fragmen
batuan, beberapa mineral batuan lain spt siderit,
pirit, glaukonit, mica, dlsb. .
• Batupasir consolidated memiliki bahan sementasi
pengikat kuat antar butiran; batupasir
unconsolidated memiliki sementasi yang lemah;
loose sand untuk butiran pasir tidak tersemen.
39
Contoh komposisi batupasir

40
Beberapa jenis batuan endapan klastik lainnya

• Lanau (Silt): batuan dengan ukuran butiran 5 < d < 62


mikron dan komposisi utama kwarsa dan feldspar, plus
clays.
• Serpih (shale): batuan berbutir sangat halus (d < 5 mikron)
dengan komposisi utama clays dan kwarsa, plus lain-lain
berbutir sangat halus.
• Clays (lempung): komponen utama mineral clays, ukuran
butiran d < 3 mikron.
• Lain-lain: Clastic carbonate.

41
Persentase butiran berdasarkan ukuran butir

Ukuran butir mengecil

Ukuran butir mengecil

42
Mineral lempung (clays) dan
karakteristiknya

• Clays sangat penting bagi petroleum engineers:


1. pengaruhnya terhadap permeabilitas
2. formation damage dan produktivitas
3. disain lumpur dan fluida komplesi
4. analisa dan interpretasi logs

43
Simbol :

K40 = radioactive

44
Foto SEM dari mineral smectite

45
Foto SEM dari mineral illite (bridging di dalam pori-pori)

46
Foto SEM dari mineral chlorite (pore lining)

47
Foto SEM dari mineral kaolinite (disperse atau structural)

48
Contoh sebaran clay didalam pori-pori

49
Pengaruh jenis dan distribusi Clay pada Permeabilitas sandstone
Pengaruh

50
Luas Permukaan Spesifik

Hanya
pembanding

Mineral
lempung
(Clays)

51
Cation Exchange Capacity (CEC) – meq/100gram

- Definisi: kapasitas partikel mineral lempung (clay)


untuk melakukan pertukaran kation (counter balance
ion).
- CEC tinggi, clay mudah swelling.
- Swelling adalah mengembangnya partikel clay akibat
pengikatan air oleh partikel clay.
- Jumlah molekul air yang diikat oleh clay tergantung
pada jenis kation (Na+, Ca++, K+, NH4+, Mg++) yang
dimiliki/terikat dalam struktur partikel clay.
- Na+ lebih mudah dan banyak mengikat molekul air
dibandingkan kation yg lain.
- K+, NH4+, Ca++ mudah menggantikan Na+ yang diikat
52
oleh partikel-partikel clay.
Contoh harga-harga CEC

Jenis clay CEC (meq/100 gram)


Montmorilonite 80 – 150
Illite 10 - 40
Chlorite 10 - 40
Kaolinite 1 - 10
Mixed layer illite-smectite 80 - 140

53
Hubungan antara Specific Surface Area dan CEC

54
Swelling dan Deflokulasi/Dispersi dan
Pencegahannya
• Swelling telah dijelaskan diatas
• Deflokulasi atau dispersi yaitu proses lepasnya
ikatan antar partikel-partikel clay (lihat slide
berikutnya) sebagai akibat perubahan kondisi
(salinitas dan pH) air didalam pori-pori. Kaolinite
adalah salah satu yang mudah mengalami
deflokulasi/dispersi pada pH > 8.
• Pencegahannya dengan penggunaan air berkadar
garam tertentu (lihat slide berikutnya).
55
Gambar proses swelling dan deflokulasi/dispersi

(Swelling)

56
Swelling dan Dispersi

57
Bilamana penyumbatan pori-pori akibat deflokulasi/dispersi?

58
Pencegahan Swelling dan Deflokulasi

59
Pengaruh mineral clays pada
Spontaneous Potential (SP) Log
• SP log merupakan log listrik arus searah, merekam potential
listrik alami yg terjadi secara spontan antara elektroda pada
alat didalam lubang sumur dan elektroda di permukaan.
• Potential listrik akan timbul bila ada perbedaan konsentrasi
ion dalam fluida didalam sumur dengan ion dalam fluida yg
terkandung di pori-pori batuan.
• Potential listrik yang dapat terekam oleh alat log hanya dalam
skala millivolt.
• Kegunaan SP Log yaitu
- mencirikan sifat permeable dari lapisan batuan
- mencirikan batas-batas lapisan yang permeable
- memperkirakan resistivitas air formasi
- memperkirakan kandungan shale didalam lapisan
permeable 60
Track - 1 Track - 2 Track - 3

15 mV

Clean sand
baseline

Shale
baseline

Ada berapa
lapisan yg
permeable dan yg
impermeable?
Istilah impermeable
disini dipakai
terhadap fluida,
bukan terhadap ion-
ion.
61
Pengaruh kadar dan jenis clay pada SP response
- SP + - SP + - SP +

CEC
?
CEC
?
CEC

62
Penentuan Vshale atau Vclay berdasarkan SPlog

• Vshale = 1 – (PSP/SSP)
• Vshale = (SSP – PSP)/(SSP)
PSP = pseudostatic SP, harga SP pada lapisan yang Vshale-
nya ingin ditentukan; PSP < SSP.
SSP = static SP, harga SP pada clean sand yang tebal.

SSP CleanSand

SP log respons
Shale

63
Alat Gamma Ray Log mendeteksi radioaktivitas batuan

Dampak mineral radioaktif yaitu pada respons Gamma Ray Log.


GR readings umumnya digunakan juga untuk menentukan kadar clays atau
shale. Karena itu ada alat Spectral GR Log yg dapat membedakan respons GR
dari clays/shale dengan respons GR dari mineral radioaktif lain.
64
GR readings
tinggi.
SHALE

SP readings GR readings
SAND
rendah.
SHALE

65
Contoh respons Gamma Ray Log

Total gamma ray

Corrected gamma ray

GR readings pada
lapisan SHALE
GRmax

GRmi
GR readings
n pada
lapisan CleanSAND

66
Korelasi empirik untuk memperkirakan Vclay/shale
berdasarkan GR log

• Larionov (1969), batuan umur tersier:


Vsh = 0,083(23.7IGR – 1)
• Larionov (1969), batuan lebih tua:
Vsh = IGR/(3 – 2IGR)
• Steiber (1970):
Vsh = 1,7 - 3,38 – (IGR – 0,7)20,5
• Clavier (1971):
Vsh = 0,33(22IGR - 1)
dimana IGR = (GRlog – GRmin)/(GRmax – GRmin)
67
Batuan Karbonat (Carbonates)
• Batuan karbonat (carbonates) pada umumnya
merupakan batuan non-klastik dan butirannya
tersusun dari sisa-sisa (cangkang)
binatang/tumbuhan atau fosil.

• Batuan karbonat : Limestone (CaCO3) dan


Dolomite (Ca-Mg(CO3)2).

68
Istilah untuk Clean and Dirty Rocks
• Kandungan atau kadar clays (lempung), silt
(lanau), shale (serpih) sangat mempengaruhi
kualitas (sifat fisik) reservoir
• Istilah clean rock digunakan untuk suatu
batuan apabila batuan dimaksud mengandung
sangat sedikit komponen tersebut diatas
• Istilah dirty rock digunakan untuk suatu
batuan apabila batuan dimaksud mengandung
cukup banyak komponen tersebut diatas.

69
Istilah Jenis batuan sesuai kandungannya

70
Pori-Pori
dan
Porositas Batuan

71
Pori-pori batuan reservoir
Catatan:
- Pori-pori adalah ruang atau rongga kecil diantara
butir-butir (solid materials atau matrix) pembentuk batuan.
- Rekahan (fractures) adalah Bagian dari whole core
celah retakan pada batuan.
Tidak semua batuan berpori
memiliki rekahan.

Thin section

Macro fractures

Contoh batuan yang memiliki


pori-pori (tidak kasat mata) dan
Micro fractures
fractures.
72
Rentang ukuran butiran dan pori-pori

Skala mikron

73
Katagori ukuran pori-pori
• Macropores: pori-pori berukuran (diameter) >
5 mikron
• Mesopores: pori-pori berukuran antara 2 – <5
mikron
• Micropores: pori-pori berukuran < 2 mikron.

74
Contoh sistem pori-pori batupasir

75
Skema pori-pori antar batuan
Aliran fluida berkelok-kelok: tortuous

Connected pores

Pore throat

Tortuosity, T = ℓa/ℓ
Tortuosity Factor,
1 2 τ = (ℓa/ℓ)2
Pore body
76
(Jarak tempuh rata-rata fluida dari 1 ke 2 )
Skema aliran fluida pada skala mikrosopik
Aliran fluida berkelok-kelok: tortuous

Connected pores

Pore throat

Tortuosity, T = ℓa/ℓ
Tortuosity Factor,
1 2 τ = (ℓa/ℓ)2
Pore body
77
(Jarak tempuh rata-rata fluida dari 1 ke 2 )
Beberapa jenis clay didalam pori-pori

78
SEM dari pori-pori (close up)

79
Luas permukaan beberapa jenis butiran/partikel
pembentuk batuan

80
Distribusi ukuran pori dari data mercury
injection capillary pressure

81
Contoh ukuran pore body dan pore throat

82
Pengaruh perbandingan ukuran pore body dan
pore throat terhadap recovery efficiency

83
Contoh sistem pori-pori batuan karbonat

84
Sistem pori-pori batupasir sebagai
pembanding

85
Skema Channel dan vugs dalam
batuan karbonat
Porositas lebih besar

86
3 Perbedaan utama rongga/ruang (pore spaces)
didalam batuan reservoir
• Rongga/ruang pori-pori diantara butir-butir
batuan (intergranular pores), terutama batupasir
dan karbonat (matrix system)
• Vugs, yaitu rongga pori-pori yang telah
membesar akibat proses pelarutan sebagian
butiran, terjadi pada batuan karbonat
• Rekahan (fractures): microfractures/fissures
(opening size beberapa micron) dan
macrofractures (opening size 10 – 200 mikron).
• Catatan: Tidak semua batuan reservoir memiliki ketiga jenis
rongga (dalam pengertian skala mikro) tersebut.
87
Reservoir Rekah Alami
• Ada banyak (tetapi tidak semua) reservoir
hidrokarbon yang memiliki rekahan (fractures
network) secara alami
• Reservoir rekah alami dapat terbagi atas:
- reservoir yang memiliki matrix pores,
vugs, dan jaringan rekahan
- reservoir yang memiliki matrix pores dan
jaringan rekahan
- reservoir yang memiliki hanya jaringan
rekahan.
88
POROSITAS

89
Porositas
• Porositas menyatakan prosentase (atau fraksi)
volume batuan yang dapat diisi oleh fluida. Yang
dapat diisi fluida yaitu tentunya pori-pori (dan
atau rekahan). Jadi, porositas yaitu perbandingan
volume pori-pori (dan atau rekahan) terhadap
volume batuan itu.
• Bila volume pori-pori tersebut dinyatakan dengan
simbol Vp dan volume batuan dinyatakan dengan
simbol Vb, serta porositas batuan dinyatakan
dengan simbol ф maka:
Porositas, ф = Vp/Vb

90
Porositas absolut/total dan
Porositas efektif

• Memperhatikan slide yang lalu, posisi satu pori dengan


pori-pori yang lain didalam suatu batuan ada yang saling
connected, ada yang isolated, dan ada yang buntu (dead
ends atau blind pores).
• Karena itu porositas dapat terbagi atas 2 katagori:
porositas total dan porositas efektif.
• Porositas absolut/total = porositas yang
memperhitungkan seluruh pori-pori batuan itu.
• Porositas efektif = porositas yang memperhitungkan
pori-pori tanpa yang isolated. Pori-pori yang
diperhitungkan untuk porositas effektif tentunya adalah
pori-pori yang memungkinkan hidrokarbon dapat
terakumulasi. Artinya juga bahwa pori-pori isolated tidak
mungkin mengandung hidrokarbon, tetapi hanya berisi
air saja. 91
Storage capacity

• Seringkali ruang pori-pori, rongga, maupun


rekahan dinyatakan “memiliki” storage
capacity.
• Storage capacity dapat diartikan sebagai
kapasitas batuan untuk dapat ditempati dan
melepaskan fluida. Jadi tidak termasuk yang
terisolasi.

92
Volume batuan, volume pori, dan
volume butiran
• Batuan berpori terdiri dari padatan atau butiran dan
pori-pori.
• Volume butiran (grains volume, Vg) plus volume pori-
pori (pore volume, Vp) = volume batuan (bulk volume,
Vb). Jadi,
Vb = Vg + Vp

• Bila pori-pori tersebut adalah semua pori-pori baik


yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan
maka Vp-nya adalah volume pori total Vpt.
• Dapat juga dituliskan: Vpt = Vpef + Vpisolated

фt = Vpt/Vb dan фef = Vpef/Vb


93
Gambaran ideal susunan butir-butir bundar sempurna
dan porositasnya

94
Contoh kegunaan porositas
• Porositas mengindikasikan besarnya volume pori-pori
yang dapat terisi oleh hidrokarbon bila diketahui
prosentase volume pori-pori yang diisi oleh connate
water.
• Harga porositas batuan reservoir berkisar antara 5 –
37%. Reservoir hidrokarbon pada umumnya bersifat
heterogen; artinya porositas didalam suatu tubuh
reservoir bisa bervariasi dari satu posisi ke posisi lain.
• Connate water atau kadang disebut interstitial water
adalah air yang mengisi pori-pori batuan reservoir
bersama-sama hidrokarbon (lihat slide). Kisaran harga
dalam zona produktif: 10 – 70%.
• Contoh: suatu reservoir minyak dengan ukuran
1000x2000x6 m3 memiliki porositas effektip 29% dan
connate water 40%, maka volume minyak = 2,088x106
m3. 95
Skema pori-pori diantara butiran (grains)
diisi oleh air dan minyak

96
Skema rekahan diisi oleh air dan minyak

Matriks
batuan
Matriks
batuan
Skema fracture (skala mikron) diisi
oleh minyak (hitam) dan air (water
film, biru)
Jika dibandingkan dengan sistem matriks seperti ditunjukkan
pada slide sebelumnya, volume air mula-mula didalam rekahan
per satuan volume pori-pori jauh lebih kecil .
97
Jenis Porositas berdasarkan hasil diagenesa

• Porositas primer, yaitu porositas yang


terbentuk sejak pengendapan lapisan batuan
itu.
• Porositas sekunder, yaitu porositas yang telah
mengalami perubahan akibat terjadinya
proses diagenesa pada batuan itu.

98
Porositas Batuan Rekah Alami
• Ruang pori-pori/rongga batuan rekah alami
seperti disebutkan diatas secara garis besar dapat
terbagi atas matrix pores dan fractures.
• Karena itu porositas batuan rekah alami seperti
itu memiliki фmatrix dan фfracture
sehingga: фmatrix + фfracture = фtotal
• Pada umumnya, batuan rekah alami yang
memiliki matrix system dan fractures:
фfracture << фtotal Storage Capacity dari fracture <<
Storage Capacity matrix sytem
• Batuan reservoir rekah alami yang bagaimanakah
bila фfracture = фtotal ?
99
Low intensity Matrix system of
of fractures zero porosity
network

100
(Vbt – Vf)

Vbt

101
102
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Porositas

• Bentuk butiran (angularity & roundness)


• Susunan butiran (packing) Berkaitan dg jumlah bidang/titik
sentuhan antar butiran.

• Variasi ukuran butiran


• Derajat sementasi
• Vugs (umumnya dalam batuan karbonat)
• Kompaksi/beban overburden/kedalaman
(depth)

103
(Plus fracture if any)

104
Jenis-Jenis batuan reservoir dan Porositasnya

• Batupasir: intergranular porosity,


microporosity, dissolution porosity.
• Batuan karbonat: intergranular porosity, intra-
granular porosity, intercrystaline porosity,
moldic porosity, vuggy porosity.
• Batuan rekah alami: kombinasi jenis porosity
diatas dan fracture porosity atau hanya
fracture porosity.
• Catatan: Batuan rekah alami dapat berupa batupasir,
batuan karbonat, atau batuan lain. 105
Keterangan jenis-jenis porositas
• Intergranular porosity = porositas untuk batuan didalam mana pori-porinya
terbentuk antar butir-butir penyusun batuan.
• Microporosity = porositas untuk batuan atau bagian batuan didalam mana pori-
porinya berukuran kurang dari 2 mikron.
• Dissolution porosity = porositas untuk batuan didalam mana sebagian atau
seluruh pori-porinya membesar akibat adanya bagian butir-butir yang telah
terlarutkan. Bila istilahnya adalah pressure dissolution maka yang terjadi yaitu
pori-pori mengecil akibat menyatunya antar butiran pada bidang kontak antar
butiran tsb.
• Intragranular porosity = porositas untuk batuan atau bagian batuan dengan
butiran yang memiliki lubang pori. Umumnya ada pada batuan karbonat.
• Intercrystalline porosity = porositas untuk batuan atau bagian batuan dengan pori-
pori yang terbentuk antar kristal-kristal penyusun batuan.
• Vuggy porosity = porositas untuk batuan atau bagian batuan dengan pori-pori
yang telah membesar akibat sebagian butiran telah mengalami proses pelarutan.
• Moldic porosity = porositas batuan atau bagian batuan dengan pori-porinya
terbentuk akibat proses pelarutan sebagian butiran secara selektif.
• Fracture porosity = porositas batuan atau bagian batuan yang hanya
memperhitungkan rekahan.
• Boring = lubang pori yang terbentuk oleh organisme. Burrow = lubang pori yang
telah digali oleh binatang dan berisi kotoran berbutir sangat halus.

106
Pengukuran Porositas
Data porositas dapat diperoleh dari 2 sumber:
1. Pengukuran di laboratorium (pengukuran
langsung pada contoh batuan),
2. Hasil interpretasi logs (pengukuran tidak
langsung di lapangan dengan
menggunakan alat logging yang diturunkan
melalui lubang sumur); disebut tidak langsung
karena alat logging ini hanya mampu mengukur
sifat2 fisik lainnya yang kemudian diinterpretasikan
untuk harga porositas.
107
1. Pengukuran porositas di laboratorium
Core sample atau contoh batuan harus sudah bersih,
yaitu core cleaning atau ekstraksi dengan
menggunakan cairan pelarut (solvent) pada
temperatur diatas titik didih air, kemudian core
sample dikeringkan.

• Porositas total. Ini dilakukan dengan mengukur


volume core sample (bulk volume, Vb) terlebih
dahulu, kemudian sample digerus tanpa
memecah butiran dan selanjutnya volume
seluruh butiran diukur (grain volume, Vg). Kita
tahu bahwa (Vb – Vg) adalah volume pori-pori
total, maka:
Porositas total, фt = (Vb – Vg)/Vb 108
Pengukuran porositas di laboratorium (lanjutan-1)
• Porositas efektif. Porositas efektif adalah
porositas yang diperlukan untuk keperluan
penentuan volume hidroarbon, karena pori-
pori yg terisolasi tidak mengandung
hidrokarbon, hanya berisi air. Ada 4 cara
pengukuran porositas efektif di laboratorium:
- prinsip hukum Boyle
- metoda penjenuhan dengan air garam
- Mercury injection
- solvent extraction.
109
Pengukuran porositas di laboratorium (lanjutan-2)

- Prinsip hukum Boyle: (lihat slide berikutnya)


- Metoda penjenuhan dg air garam. Air garam
digunakan untuk menghindari mineral lempung dari
swelling. Tentukan densitas air garam dahulu, ρw.
Core sample kering diukur volumenya Vb dan ditimbang,
berat Wd, lalu core dijenuhkan dg air garam pada kondisi
vakum; bila sudah jenuh lalu core ditimbang (misal
beratnya Ws) maka Vp = (Ws – Wd)/ρw dan porositas
efektif dapat dihitung: фe = Vp/Vb
- Mercury injection. Mercury porosimeter digunakan dengan
menginjeksikan air raksa kedalam core yg ditempatkan dalam
core holder. Yg terukur adalah volume pori-pori Vp. 110
Pengukuran porositas di laboratorium (lanjutan-3)

- Solvent extraction. Apabila proses penimbangan Ws


dianggap tidak akurat maka core sample yang sudah
jenuh air garam dipanaskan (destilasi) dalam labu
gelas berisi pelarut (solvent, toluene) pada
temperatur titik didih air garam. Air garam yg
diuapkan terkondensasi setelah melalui kondenser
dan tertampung di graduate tube didalam mana
volume air itu dapat dibaca. Volume ini sama dengan
Vp. Jadi porositas efektif dapat ditentukan: фe =
Vp/Vb.

111
Penggunaan Prinsip Hukum Boyle
dalam pengukuran porositas

Volume masing2 Tabung = V


(sudah termasuk pipa penghubung) P1

V2 tidak termasuk Ke pompa


solid core. V2 vakum
(V – V2 = Vsolid core)
V1 =V Pressure
regulator
CORE Valve-2
P2 Ke sumber He
Valve-4 Valve-3 Valve-1 atau N2
Vb sudah ditentukan.

Bila tekanan P = tekanan ekuilibrium setelah kedua silinder dihubungkan dengan


menutup valve-3 dan membuka valve-4, maka: P1V1 + P2V2 = P(V1 +V2).
Bila P1 = 100 psi dan P2 = 0 maka: V2 = V1(100 – P)/P , dan (V – V2) = Vsolid core
112
Vsolid core
• Vgrain + Vpori = Vbulk atau Vp = Vb - Vgrain

• Bila silinder ke-2 diganti dengan core holder


sehingga core sample dapat diberikan
overburden (confining pressure) maka V2
bukan lagi V tetapi volume pori Vp

• Porositas, dalam fraksi : f = Vp/Vb


dalam persen: f = Vp/Vb  100
• Yg terukur porositas total atau porositas efektif?
113
Exercise:
• Diketahui core sample yang berbentuk silinder
dengan diameter 7 cm dan panjang 4 cm. setelah
sudah bersih dan kering kemudian ditimbang
dengan massa sebesar 30 gram. Kemudian
sampel core tersebut dijenuhi dengan air garam
(brine) dengan asumsi semua pori-pori telah terisi
oleh air garam tersebut dan ditimbang kembali
beratnya menjadi 36 gram. Bila densitas air
garam adalah 1.04 gr/cc, hitunglah porositas core
sample tersebut! (keterangan cc= cm3)

114
2. Porositas hasil interpretasi Logs
• Sumber utama data porositas batuan reservoir
diperoleh dari hasil interpretasi rekaman logs sumuran
(well logs) atau wireline logs.
• Jenis logs untuk penentuan porositas disebut porosity
logs: Density log, Sonic log, dan Neutron log.
• Porositas dari logs umumnya dikalibrasi dahulu dengan
menggunakan routine core data (conventional ).

115
Wireline logging unit

116
Density Log
Sonde atau alat logging menggunakan sumber sinar gamma dengan energi
menengah. Ketika sinar gamma yang dipancarkan bertabrakan dengan elektron-
elektron dalam lapisan batuan, hasil benturan ini kemudian menyebabkan
kehilangan energi partikel-partikel sinar gamma. Alat detector merekam sinar
gamma yang kembali dan ini sebanding dengan bulk density batuan. Bulk density
batuan sangat tergantung dari density matriks, porositas, dan fluida dlm pori maka :
 ma  b
fD 
 ma   fl
dimana f D = porositas, fraksi
 ma = densitas matriks batuan (didapatkan dari routine core atau
ada harga standar untuk masing-masing jenis batuan), gr cc
b = bulk density terbaca dari rekaman log, gr cc
 fl = densitas fluida yang mengisi pori-pori batuan (dengan
anggapan ada invasi mud filtrate), gr cc
(fresh water = 1,0 dan salt water = 1,15; bila ada mineral
berat dalam zona gas,  fl  0,75 gr cc )
117
Matrix/Grain Densities (gram/cc)
Anhydrite 2,95
Dolomite 2,85
Calcite 2,71
Limestone 2,70
Quartz 2,66
Sandstone 2,65
Kaolinite 2,63
Illite 2,76
Montmorillonite 2,00
Halite 2,17
Chlorite 2,77
Coal 1,0 – 1,80

119
Sonic Log
Alat log ini terdiri dari ultrasonic transmitter dan receiver. Transmitter
melepas gelombang suara kompresif ke formasi batuan dan kemudian
gelombang suara kembali ditangkap oleh receiver. Interval transit time (yaitu
kebalikan dari kecepatan gelombang suara kompresif) dicatat oleh alat dalam
satuan  sec ft
Interval transit time Δt dipengaruhi oleh jenis batuan (matrix), porositas, dan
jenis fluida dalam pori-pori.

a. Consolidated formations. tlog  tma


1. Persamaan Wyllie (1958) : fs 
t fl  tma

5 tlog  tma
2. Persaman Raymer et al. (1980) : fs  
8 tlog

120
 tlog  tma  t shale
b. Unconsolidated dan shaly formations : fs   

 t fl  t ma  100
dimana
fs = porositas, fraksi
tlog = interval transit time dari log,  sec ft

tma = interval transit time untuk matriks (table standar),  sec ft


t fl = interval transit time fluida formasi (fresh water mud filtrate
= 189  sec ft & salt water mud filtrate = 185  sec ft ),
t shale = interval transit
. time untuk shale (didekatnya), sec ft

Koreksi untuk zona gas dan minyak :


- zona gas : f  fs  0,7 :
- zona minyak : f  fs  0,9 :

121
Interval transit time, Δt (μsec/ft)
Litologi Δtma Δtfl
Sandstone 52 – 56 -
Limestone 47,6 – 49,0 -
Dolomite 43,5 – 44,0 -
Anhydrite 50,0 -
Freshwater mud filtrate - 189
Salt water mud filtrate - 185
Casing (iron) 57 -

122
Gas
Zona porous
Air

123
Neutron Log

Alat log ini menggunakan material unsur americium & beryllium


yang dapat memancarkan neutron secara terus menerus.

Kehilangan energi terbesar akibat benturan terjadi antara neutron


dan atom hydrogen. Konsentrasi atom hydrogen terbesar terutama
dimiliki oleh fluida dalam pori-pori. Benturan itu menimbulkan
sinar gamma yang dicatat oleh alat detector. Sinar gamma ini
sebanding dengan jumlah atom H dalam pori-pori batuan.

Data log disajikan dalam skala porosity unit hasil transform dari
sinar gamma yang terekam ke satuan porositas.

124
Pengaruh Gas dan Shale pada Density log dan Neutron log
Adanya gas dalam pori-pori menyebabkan respons log neutron
menghasilkan porositas rendah. Karakter respons log ini disebut
sebagai gas effect. Bila ini dikombinasikan dengan respons density
log, karakter adanya “separasi” biasanya secara kualitatif
mengindikasikan zona gas. Pada zona gas, porositas dari neutron log
terbaca kecil. Namun demikian, adanya kandungan shale dalam
sandstone maupun limestone dapat memperkecil separasi itu dengan
membesarnya porositas hasil neutron log (shale effect).

Khususnya untuk zona gas, porositas ditentukan sebagai berikut :


0,5
f f
2 2

fND  
N D

 2 
gas

125
Bulk density
mengecil dengan
adanya gas
dalam pori-pori.
Separasi lebar
menunjukkan zona
gas.

?
126
Perata-rataan harga porositas

• Seringkali engineers perlu 1 atau lebih nilai


porositas untuk suatu keperluan (mis. Vp
reservoir, dalam model analitik, model
numerik, dll.).
• Secara alamiah porositas memiliki distribusi
normal.
• Harga rata-rata: aritmatik ter-bobot.

127
Basic Philosophy
• Honor core data
• Micropores in order of microns
• Helium molecule is in order of amstrong
• Water molecule is in the order of nanometer
• Clay bound water (within clay structure and on clay
surface) and its existence depends on type of clay
(reactive clay vs non-reactive clay)
• Water boiling temperature < cleaning temperature
toluene
• Capillary bond water evaporate during cleaning
• Clay bound water remains held during cleaning

128
129
The Fact and Finding
• SCAL data give m = 1.83 to 2.12 and n=2.0-2.1. indicating
insignificant amount of reactive clays. Therefore, there is
very little, if any clay bound water.
• Porosity derived from density log match better with
conventional routine core porosity.
• In the application of various methods of Sw determination,
archie equation results in better matches with the SCAL
data, meaning that clay correction is not necessary.
• When effective porosity and clay corrected Sw are used in
building static model, implementation of capillary pressure
data in model initialization result in much lower than the
volumetric static estimates.

130
Saturasi Fluida

131
Saturasi Fluida ( simbol: S)

S f  fraksi  V f V p atau S f %  V f V p 100

1. Saturasi fluida adalah fraksi atau prosentase volume pori-


pori yang diisi oleh fluida.
2. Saturasi air mula-mula ( Swi ) didalam reservoir hidrokabon
yang produktif berkisar antara 10% - 60%
3. Saturasi hidrokarbon awal (SHC i) dalam reservoir produktif:
40% - 90%.
4. Dalam reservoir hidrokarbon berlaku: SHCi + Swi = 1,0 atau
Soi + Swi =1,0 atau Sgi + Swi = 1,0 atau So + Sw = 1,0 atau
Sg + Sw = 1,0 atau So + Sg + Sw = 1,0.
132
Ukuran pori versus saturasi fluida

Ukuran pori Ukuran pori


besar kecil

133
Swi versus Porositas

134
Contoh Sw versus k
1
0.9
y = 0,519x-0,09
0.8 R² = 0,933
0.7

Sw (fraksi)
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0.1 1
k (md)
10 100 1000

100
RT-1
90
y= 45.77x-0.20 RT-2&3
80 R² = 0.477
RT-4
70
Swirr  65 .592 k 0.1914
60
Swirr, %

y= 54.01x-0.11
R² = 0.96
50

40 y = 38.78x -0.06
R² = 0.843
30

20

10

0
0.01 0.1 1 10 100 1000 135
Permeability, md
Contoh Swirr versus Specific Surface Area

Swirr as function of surface area and core porosity - pleistocene sandstone


136
Distribusi Saturasi Air didalam reservoir
pada arah vertikal
Garis tekanan oil.

Beda tekanan
fasa oil dg fasa air

Garis tekanan
air formasi.

137
Bilamana suatu fluida dapat mengalir dalam pori-pori?
• Suatu fluida dapat mengalir dalam pori-pori bila:
- ada perbedaan tekanan
- fluida ini menerus berhubungan dari
satu pori ke pori yang lain
- fluida yg berawal dari saturasi terendah harus
melampau critical saturation-nya.

138
Istilah beberapa Saturasi Fluida :
1. Saturasi air mula-mula (Swi) atau connate water saturation (Swc)
2. Irreducible water saturation (Swirr);
(Swi atau Swc belum tentu sama dengan Swirr )
3. Critical gas saturation (Sgc) : kondisi 3 fasa, P < Pb
4. Residual gas saturation (Sgr) : kondisi 2 fasa
5. Residual oil saturation (Sor)
6. Critical condensate saturation : kondisi 3 fasa
7. Residual hydrocarbon saturation berkisar antara 15 – 40 %.
8. Remaining oil saturation (Srem)

139
Skala reservoir:

Gas well
Oil well

Pres
Pres
Oil reservoir Gas reservoir
GWC
OWC
Aquifer
Aquifer

Pres  Pb : NO GAS, saturasi gas = 0 Pres  Pd : NO CONDENSATE, saturasi


condensate = 0

140
Skala reservoir:

Gas well
Oil well

Pres
Pres
Oil reservoir Gas reservoir
GWC
OWC
Aquifer
Aquifer

Pres < Pb : GAS EXISTS, Pres < Pd : CONDENSATE terbentuk,


saturasi gas > 0. saturasi condensate > 0.
Gas dpt mengalir bila Sg Condensate dpt mengalir bila Scon >
> Sgc. Scon,c

141
Skala makroskopic:

Water Oil and Water Oil & Oil and Water


Water Water Water
in pores in pores

Oil is movable Oil is immobile


(residual oil)

Gas and Water Gas & Gas and Water Water


Water Water
Water in pores
in pores

Gas is movable Gas is immobile


(residual gas

142
Skala mikroskopik:

Pembentukan residual oil dalam water-wet system

143
Pembentukan residual oil dalam oil-wet system

144
Residual Oil or Gas Saturation

145
Sumber Data Saturasi
Data saturasi mula-mula dalam reservoir dapat diperoleh dengan
cara langsung dan tidak langsung.

Cara Langsung :
1. Routine core analysis, yaitu ekstraksi contoh batuan reservoir
( fresh core sample) di laboratorium.
2. Special core analysis atau SCAL, yaitu berdasarkan pengukuran
tekanan kapiler (drainage cycle) sebagai fungsi dari saturasi air
(atau disebut juga drainage capillary pressure test) pada core
sample yang telah mengalami proses core cleaning. Proses core
cleaning ini disebut core restoration.
Core restoration dilakukan dengan menempatkan fresh core sample (core plug) ke dalam labu gelas
berisi cairan pelarut (solvent seperti toluene) lalu labu ini dipanaskan pada suhu kira-kira 120 oC
sampai semua air teruapkan dan core sample benar2 bersih untuk kemudian didinginkan dan core
sample dikeringkan dalam oven pada temperatur sekitar 80 oC. Setelah kering, core sample dijenuhi
dengan air formasi atau air garam. Bila core sample berasal dari reservoir minyak, lalu minyak terkait
diinjeksikan kedalam core sample tersebut sampai air tidak dapat didesak lagi oleh minyak. Air yang
tersisa didalam pori-pori ini disebut dengan irreducible water. 146
Retort extraction

147
Solvent extraction (routine analysis)

148
Sw hasil ekstraksi routine core
(Contoh core reservoir minyak)
Jenis lumpur Jenis lumpur
untuk coring untuk coring

149
Metoda untuk mendapatkan
irreducible saturation atau
residual saturation
(Special Core Analysis atau SCAL)

150
Alat centrifuge

151
Porous plate membrane

152
Sumber Data Saturasi (lanjutan)
Tidak langsung : Dari hasil interpretasi log listrik (wire line electric
logs). Dikatakan tidak langsung karena alat log ini hanya mengukur
formation resistivity (Rt) yang kemudian digunakan untuk
menentukan saturasi air Swc atau Swi.

Saturasi hidrokarbon mula-mula adalah (1 – Swi atau 1 – Swc).

Data dari contoh batuan (core sample) biasanya terbatas dalam


jumlah dan ini diambil dari beberapa sumur saja; sedangkan data
log lebih rinci sepanjang interval produktif dan semua sumur
memiliki data log. Namundemikian, data dari core analysis sangat
penting untuk digunakan sebagai kalibrasi interpretasi log.

153
Fungsi electric log
1. Material batuan (solid) dan HC memiliki tahanan terhadap arus
listrik (resistivity,Rt) besar dibanding resistivity air formasi.
2. Air garam (air formasi) memiliki tahanan listrik (Rw ) kecil sekali.
Tahanan batuan berpori yang berisi 100% air formasi (Ro) jauh
lebih besar dibanding tahanan listrik air itu sendiri. Jadi kita bisa
tulis Ro = FRw dimana F adalah formation resistivity factor. Harga
F ditentukan di lab atau menggunakan persamaan empirik.
3. Resistivity batuan yang mengandung hidrokarbon (Rt)lebih
besar dibanding yang hanya berisi air 100%; makin kecil volume
air (yaitu makin besar volume hidrokarbon) dalam pori-pori
semakin besar resistivity-nya.
4. Saturasi air ditentukan dengan menggunakan persamaan Archie:
Sw = (Ro/Rt)1/n
dimana n adalahj eksponen saturasi berharga antara 1,2 – 3.
Harga n ditentukan di lab.
154
17.500ppm

Ro = FRw
atau F = Ro/Rw Formation Resistivity Factor

Porosity, fraction 155


Resistivity Index

Water Saturation, fraction 156


Kalibrasi: Log Interpretation vs Core Data

Porosity Sw
Routine Core
DATA
SCAL DATA

157
Perata-rataan nilai saturasi

• Harga saturasi suatu reservoir pd umumnya


bervariasi, misalnya 20% hingga 70%.
• Pada umumnya distribusi saturasi dianggap
sama dengan distribusi porositas.
• Harga rata-rata: aritmatik dg bobot maupun
tanpa bobot.
Swrata-rata = (Sw1 + Sw2 + ... + Sn)/n
Swrata-rata = (Swihi)/hi
dimana h = tebal lapisan batuan yang dievaluasi.
158
Permeability
(Permeabilitas)

159
Permeabilitas

Permeabilitas adalah salah satu sifat fisik batuan berpori. Sifat


fisik ini menyatakan ukuran kemudahan batuan berpori
untuk dapat dilalui oleh fluida.
Ukuran kemudahan ini tidak dipengaruhi oleh sifat fisik fluida,
ataupun besarnya tekanan yang diberikan kepada fluida untuk
mengalir melalui pori-pori batuan ini.
Sifat seperti ini disebut sebagai sifat intrinsic batuan berpori;
artinya bahwa permeabilitas merupakan sifat spesifik.
Selama syarat hukum Darcy terpenuhi, fluida apapun (cairan
ataupun gas) yang digunakan untuk mengukur permeabilitas,
nilai permeabilitas yang dihasilkan adalah sama.

160
Aliran Fluida melalui Media Berpori
Konsep aliran fluida melalui pori-pori dikemukakan oleh Henry Darcy (1856).
Hukum Darcy berlaku untuk aliran laminer, isotermal, fluida satu
fasa dalam pori-pori, fluida newtonian (yaitu fluida yg
viskositasnya tidak dipengaruhi oleh stress-strain), tidak
termampatkan (incompressibe), dan fluida tidak bereaksi dengan
batuan.
P1 P2
ΔP = P1 – P2

Fluida masuk Sampel batuan Fluida keluar


(q, μ) berpori dan (q, μ)
permeable

ΔL
Luas penampang media berpori =161
A
Hukum Darcy dinyatakan dalam persamaan matematis:
q = -(k/µ)A(dP/dL) atau q = (k/µ)A(ΔP/ΔL)

Ini adalah persamaan aliran fluida dalam media berpori. Fluida dimaksud
mengalir melalui pori-pori yang saling berhubungan. Ukuran pori-pori
dan struktur pori-pori mempengaruhi kinerja aliran fluida. Ini berarti
ukuran pori-pori dan struktur pori menentukan permeabilitas k.
Persamaan diatas dapat ditulis sebagai:

k = (qµ)/{A(ΔP/ΔL)}.
Permeabilitas k = 1 darcy bilamana laju alir q = 1 cc/detik
viskositas µ = 1 centipoise, luas penampang A = 1 cm2, dan
gradien tekanan dP/dL = 1 atm/cm.

1 darcy = 1000 millidarcy


= 0,9869 x 10-8 cm2 = 0,9869 mikron2  1 mikron2
162
Coba analogikan dengan pipa kapiler.
Q
Q

Persamaan Hagen-Poiseuille : Q = (/8)(ΔP/μL)r4

Dalam aliran fluida melalui pipa kapiler, kita tahu bahwa pada
harga qµ/r4ΔL yang tetap, makin kecil ukuran pipa semakin
besar kehilangan tekanan (pressure loss) ΔP.
Analogi: ukuran pipa makin kecil  harga k media berpori
semakin kecil.
Jadi adalah benar bhw makin kecil ukuran pori-pori rata-rata
(terutama pore throat) yang dimiliki batuan berpori,
semakin rendah permeabilitas batuan itu.
Demikian juga bila pipa kapiler itu berliku-liku, ΔP akan makin
besar dan menghasilkan k yang kecil. Lika-liku dalam
batuan berpori merupakan bagian dari bentuk dari struktur
pori-pori.
163
Kenyataan di lapangan bahwa reservoir minyak dan gas
bumi mengandung lebih dari satu fasa (minyak dan
air, atau minyak, gas dan air, atau gas dan air). Untuk
situasi seperti ini kita akan bahas dalam topik
permeabilitas efektif dan relatif.

Sementara ini kita fokus pada permeabilitas


absolut dahulu. Permeabilitas absolut adalah
permeabilitas media berpori (batuan berpori)
yang diukur berdasarkan aliran fluida satu
fasa; fluida ini 100% menjenuhi dan mengalir
melalui seluruh pori-pori efektif.

164
Pemeabiltas thd Gas

165
Permeabilitas absolut terhadap gas (Permeability to gas)

Permeabilitas absolut batuan terhadap gas adalah permeabilitas


yang menyatakan kemudahan batuan untuk dapat dilalui oleh
gas dimana pori-pori batuan hanya terisi 100% oleh gas.

Adalah perlu selalu diingat bahwa permeabilitas merupakan sifat


fisik batuan. Istilah permeabilitas gas atau gas permeability
seperti yang umum digunakan bukan berarti gas yang
memiliki permeabilitas. Istilah yang lebih benar dalam bahasa
inggris adalah permeability to gas atau dalam bahasa
Indonesia adalah permeabilitas terhadap gas.

Ingat intrinsic property! Apakah permeabilitas yg diukur dengan


menggunakan fluida gas merupakan intrinsic property?
166
Pengukuran permeabilitas terhadap gas
Pengukuran permeabilitas terhadap gas di laboratorium
dilakukan dengan menggunakan gas permeameter, yaitu alat
yang dirancang khusus untuk pengukuran permeabilitas
batuan berpori terhadap gas. Gas helium biasanya digunakan
karena gas helium adalah inert gas. Dalam routine core
analysis, pengukuran permeabilitas batuan umumnya
dilakukan pada tekanan rendah.
Karena gas sifatnya kompresibel, laju alir pada sisi masuk core
sample tidak sama dengan laju alir pada sisi keluarnya. Jadi
penentuan permeabilitas terhadap gas memerlukan laju alir
pada tekanan rata-rata. Pengukuran laju alir gas biasanya
dilakukan di sisi keluar dengan menggunakan wet test meter.
q @ Prata = (Pout x qout)/Prata
Harga q pada Prata kemudian digunakan untuk perhitungan kg
berdasarkan persamaan Darcy. 167
Ruska gas permeameter

168
Confining Pressure
Agar kondisi core sample mirip dengan kondisi didalam reservoir maka core
sample harus pada kondisi terkompresi, yaitu core sample diletakkan
dalam core holder yang dapat diberikan tekanan dari segala arah
(confining pressure) sebesar net overburden pressure (NOB). Core holder
memiliki 2 sisi, inlet untuk masuknya aliran gas dan outlet untuk keluarnya
aliran gas. Pressure gauge atau alat pengukur tekanan dapat dipasang di
kedua sisi. Wet test meter untuk mengukur laju alir gas dipasang di sisi
outlet.

Hasil pengukuran permeabilitas batuan terhadap gas di laboratorium


khususnya perlu dimaknai. Sifat gas sangat kompresibel (highly
compressible) dan seluruh molekul gas selalu bergerak walaupun dalam
kondisi tidak mengalir. Jarak antar molekul-molekul gas sangat dipengaruhi
oleh ukuran molekul gas dan tekanan yang bekerja dalam pori-pori. Oleh
karena itu, harga permeabilitas terukur tergantung pada jenis gas dan
tekanan pengukuran.

169
Klinkenberg effect
Perubahan permeabilitas terukur thd gas dg perubahan tekanan
alir didalam media berpori
kL = kG - m(1/Prata-rata) 10
Bila didefinisikan b = m/kL Gas

Slippage effect increases


maka: H2

Klinkenberg Factor b
kL = kG/1 + (b/Prata-rata) 1
N2
Permeabilitas

CO2 0.1

0.01
kL 0.01 0.1 1 10 100 1000
Permeability to Liquid, kL (md)
Bila fluida in-compressible

0
0 1/Prata-rata
Pin Pout
Catatan: Prata-rata = (Pin +Pout)/2 Gas in Gas out
170
Klinkenberg correction
Seperti dikemukakan pada slide sebelumnya mengenai sifat gas pada tekanan
rendah, orang bernama Klinkenberg mendapatkan bhw permeabilitas
batuan terhadap gas pada tekanan rendah berbanding terbalik dengan
tekanan rata-rata (Pin + Pout)/2 aliran gas tersebut. Makin besar tekanan
rata-rata, semakin kecil permeabilitas terukur; tekanan rata-rata menuju
, harga permeabilitas terukur mendekati permeabilitas terhadap cairan.

Klinkenberg menyatakan bhw hal tersebut merupakan sifat diffusi gas. Alur
gerak bebas rata-rata (mean free path) molekul gas berbanding terbalik
dengan tekanan. Pada tekanan alir rendah, sifat gas seperti ini
menyebabkan fenomena gas slippage dan laju alir gas banyak dipengaruhi
oleh proses diffusi, sedikit oleh viscous forces, sehingga (Pin – Pout) atau
pressure drop-nya kecil. Makin kecil ukuran ukuran molekul (atau berat
molekul) gas semakin besar mean free path-nya dan memudahkan
terjadinya fenomena gas slippage. Sekali lagi, ini terjadi pada tekanan
rendah, << 10 atm. Demikian juga semakin rendah permeabilitas.
171
Klinkenberg correction (lanjutan)
Apabila permeabilitas yang diinginkan adalah permeabilitas yang
sifatnya intrinsic, maka permeabilitas yang diukur dengan
menggunakan gas harus dikoreksi. Pengukuran harus
dilakukan pada beberapa tekanan rata-rata sehingga
diperoleh beberapa harga kg. Lalu plot gas permeability kg
(sumbu-y) versus 1/Prata (sumbu-x) dimana Prata = (P1 + P2)/2
dan titik-titik data menghasilkan garis lurus, kemudian garis ini
diekstrapolasi sehingga memotong sumbu-y pada harga 1/Prata
= 0. Perpotongan ini menghasilkan suatu harga kg yang
merupakan equivalent liquid permeability kℓ atau disebut juga
sebagai klinkenberg-corrected permeability.
Plot tersebut diatas menghasilkan persamaan:
kℓ = kg – m(1/Prata)
dimana m adalah kemiringan garis lurus yang dihasilkan tadi.
172
Contoh: k < 5 md
5.

4.5

4.

3.5

3.

kL (md)
2.5 Series1
Linear (Series1)
y = 0.8275x - 0.0413
2.
R² = 0.9932

1.5

1.

0.5

0.
0. 0.5 1. 1.5 2. 2.5 3. 3.5 4. 4.5 5.
kG (md) 173
Contoh: k >5 md
200.

180.

160.

140.

120.

100. Series1

kL (md) Linear (Series1)

80.
y = 0.9587x - 0.4338
R² = 0.9979

60.

40.

20.

0.
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

kG (md) 174
Kesimpulan permeabilitas absolut

Pengukuran permeabilitas absolut harus dilakukan dengan core sample pada


kondisi NOB sebagai confining pressure di lab. Core sample terjenuhi dan
dialiri 100% fluida satu fasa. Pengukuran permeabilitas harus memenuhi
syarat hukum Darcy.
Bahwa permeabilitas terhadap gas (kg) tergantung pada tekanan aliran maka
hasil pengukuran di laboratorium dimaknai sebagai informasi kualitatif
mengenai kualitas batuan (core sample).
Pengukuran permeabilitas terhadap gas pada beberapa harga tekanan rata-
rata digunakankan utk menentukan equivalent liquid permeability atau
disebut juga klinkenberg-corrected permeability, yang nilainya sama
dengan permeabilitas terhadap cairan (liquid permeablity).
Pengukuran permeabilitas terhadap cairan tidak tergantung pada jenis cairan
maupun tekanan yang digunakan selama syarat hukum Darcy berlaku.

175
Permeabilitas thd Cairan

176
Permeabilitas absolut terhadap cairan (Permeability to liquid)

Permeabilitas absolut terhadap cairan adalah permeabilitas yang diukur


dengan menggunakan cairan dalam kondisi pori-pori terjenuhi 100% oleh
cairan itu.
Pengukuran permeabilitas terhadap cairan di laboratorium dilakukan dengan
menggunakan liquid permeameter, yaitu alat yang dirancang khusus
untuk pengukuran permeabilitas batuan berpori terhadap cairan.
Rangkaian alat ini mirip dengan gas permeameter, bedanya terletak pada
alat ukur laju alir fluida. Pada liquid permeameter, pompa cairan (constant
rate pump) dihubungkan degan sisi inlet dari core holder.
Cairan yang umum digunakan adalah air garam atau brine, yaitu larutan 2%
NaCl atau KCl. Air garam digunakan untuk mengindari kemungkinan
terjadinya clay swelling. (Sering dilakukan compatibility tests)
Cairan bersifat incompressible sehingga permeabilitas terukur tidak
dipengaruhi oleh tekanan aliran. Selama syarat hukum Darcy terpenuhi,
cairan apapun (air ataupun minyak) yang digunakan akan menghasilkan
nilai permeabilitas terukur yang sama.

177
Pengaruh salinitas air terhadap permeabilitas
Sebagian batuan reservoir diketahui mengandung mineral
lempung (clays, seperti montmorillonite atau smectite dan
illite) yang cukup reaktif terhadap air. Clays semacam ini dapat
menyerap air sehingga mengembang (swelling), pori-pori
batuan mengecil, dan akibatnya permeabilitas berkurang.
Dispersi dapat juga terjadi pada clays tertentu.
Air yang diserap oleh clays tergantung pada kadar garam dalam
air itu. Clay swelling tidak dikehendaki sama sekali dan harus
dihindari.
Penggunaan larutan garam 2% KCl atau CaCl2, NaCl, atau NH4Cl
(baik untuk bahan dasar lumpur bor, fluida komplesi atau
kerja ulang/workover, atau untuk mematikan sumur (killing
fluid) dapat mencegah terjadinya clay swelling dan dispersi.

178
Gambar proses swelling dan deflokulasi/dispersi

179
Contoh harga CEC (Cation Exchange Capacity)

Jenis clay CEC (meq/100 gram)


Montmorilonite 80 – 150
Illite 10 - 40
Chlorite 10 - 40
Kaolinite 1 - 10
Mixed layer illite-smectite 80 - 140

180
Pengaruh kadar garam thd adsorpsi molekul H2O
pada montmorillonite

181
Swelling dan Dispersi

182
Pengaruh penurunan kadar garam secara bertahap
pada permeabilitas Berea sandstone

183
Pengaruh saturasi minyak terhadap
permeabilitas sandstone.
(single phase flow) Bandingkan
@ Sor
Hanya air
garam

@ Swc

184
Pencegahan Swelling dan Dispersi Clays

185
Air Permeability versus Porosity
(pengaruh grain size dan struktur vug)

• Catatan: Ingat vug hanya dimiliki oleh batuan


karbonat.

186
Permeabilitas versus Porositas

Kita sudah membahas tentang porositas. Makin besar ukuran


pori-pori, semakin besar harga porositas. Walaupun ini tidak
selalu demikian, karena susunan butiran yang sama tetapi
ukuran butiran berbeda dapat menghasilkan porositas yang
sama tetapi permeabilitas berbeda.
Dengan kecenderungan makin besar porositas semakin besar
ukuran pori-pori, dan makin besar pori-pori semakin mudah
fluida untuk mengalir (yaitu semakin besar permeabilitasnya),
maka makin besar porositas cenderung semakin besar
permeabilitas. Tetapi tergantung ukuran pore throat.
Distribusi ukuran pori-pori batuan karbonat lebih bervariasi shg
permeabilitas lebih heterogen dibanding batupasir.

187
Permeability versus Porosity – Carbonate samples
Porosity vs Permeability

10000

1000

100
Permeability at NOB, md

10

y = 0.1249e0.3054x
R2 = 0.8122

0.1

0.01
0 5 10 15 20 25 30 35
Porosity at NOB, % 188
Permeability vs Porosity – Carbonate samples
10000

1000

100
k, md

10

0.1

0.01
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4

f, fraksi
189
Pengaruh grain size pada hubungan k-f
non-vuggy Carbonate samples

190
Pengaruh grain size pada hubungan k-f
non-vuggy Carbonate samples

191
Pengaruh separate-vugs pada hubungan k-f
vuggy Carbonate samples

192
Pengaruh separate-vugs pada hubungan k-f
vuggy Carbonate samples

193
k-f cross-plot – Sandstone samples
Conventional Core
10000

1000

100

10
k, md

0,1

0,01

0,001
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5
f, fraction 194
Persamaan empirik untuk memperkirakan
Permeabilitas absolut
• Permeabilitas absolut ka secara tidak langsung juga dapat
diperoleh secara empirik berdasarkan harga-harga porositas
dan irreducible water saturation dari hasil interpretasi logs,
sebagai contoh :

f 4.4
Persamaan Timur : k a  0,136
Swi 2

1
Persamaan Coates : ka 2  100f 2
1  Swi
Swi

195
Distribusi statistik untuk Permeabilitas

196
Perata-rataan harga Permeabilitas
• Pada umumnya data core analysis dari suatu
reservoir memperlihatkan spektrum harga
permeabilitas cukup lebar.
• Seringkali engineers mengkorelasikan dg porositas
walaupun seringkali cara ini tidak selalu benar.
• Distribusi data porositas bersifat normal, sedangkan
data permeabilitas pd umumnya log normal.
• Untuk distribusi log normal, harga rata-rata pd
umumnya didekati dg rata-rata geometrik:
kG = (k1k2k3.......kn)1/n
197
Rata-rata untuk perlapisan
• Reservoir berlapis, bila tebal tiap lapisan
diketahui maka:
k1h1 + k2h2 + k3h3 +... + knhn
(i) paralel : krata-rata = h + h + h ......+ h
(Linier ataupun radial) 1 2 3 n

ℓ1 + ℓ2 + ℓ3......+ ℓn
• (ii) seri: 1. linier, krata-rata =
ℓ1/k1+ ℓ2/k2+ ℓ3 /k3+.....+ ℓn/kn

log(router/rinner)
2. radial, krata-rata =
log(r1/rinner)/k1 + .... + log(router/rn)/kn

198
Derajat heterogenitas reservoir
• Homogen: menyatakan kesamaan/kemiripan
properties pada semua posisi.
• Heterogen: properties sangat bervariasi dari satu
posisi ke posisi yg lain. Tingkat heterogenitas umumnya
dilihat dari keragaman harga permeabilitas.
• Isotropik: istilah untuk menyatakan
kesamaan/kemiripan harga-harga permeabilitas pada
berbagai arah.
• Anisotropik: istilah untuk menyatakan adanya
perbedaan signifikan dari permeabilitas pada berbagai
arah.
199
Permeability anisotropy
Susunan butir-butir batuan, sementasi, distribusi ukuran pori-
pori dan konektivitas-nya sangat dipengaruhi oleh arah
pengendapan, jenis dan variasi material yang diendapkan,
arah aliran air selama dan setelah pengendapan, proses
diagenesa yang bekerja, dan lain sebagainya.
Itu semua menyebabkan permeabilitas batuan dapat berbeda
untuk arah-arah yang berbeda baik pada skala mikro, makro
maupun mega.

kk kj

ki ki

kj
kk
200
Permeability anisotropy (lanjutan)
Anisotropy secara umum adalah ketidaksamaan didalam sifat
fisik pada arah yang berbeda. Dalam hal permeabilitas,
anisotropy menyatakan perbedaan harga permeabilitas bila
permeabilitas diukur pada arah aliran yang berbeda.

Permeability anisotropy arah vertical (vertical anisotropy)


menyatakan derajat perbedaan nilai permeabilitas vertical
terhadap permeabilitas horizontal.

Permeability anisotropy arah lateral (lateral anisotropy)


menyatakan derajat perbedaan nilai permeabilitas untuk arah
lateral yang berbeda.

201
Beberapa pendekatan utk memperkirakan heterogenitas
• Deposisi menghasilkan sedimentasi berlapis (stratifikasi), setiap
lapisan beda porositas dan permeabilitas. Secara lateral-pun
properties dapat bervariasi.
• Definisi kihi = flow capacity dan fihi = storage capacity
dimana hi adalah tebal lapisan-i maka pembuatan tabulasi
mulai dari k terbesar berurutan ke k terkecil dan menentukan
capacity kumulatif serta plotnya akan memberikan gambaran
tingkat heterogenitas.
1 Luas ABCA
C Lorentz coefficient, CL = Luas ADCA
Total flow capacity (kh)

B
CL : 0 hingga 1 ; 0 = uniform
1 = perbedaan permeabilitas
antar lapisan sangat kontras.

D CL tidak unik karena distribusi properties yang


0A berbeda dapat memiliki harga CL yang sama. 202
0 Total storage capacity (fh) 1
Dykstra-Parsons coefficient
• Cara lain untuk menentukan derajat heterogenitas
perlapisan adalah dengan analisa statistik, koefisien
Variasi: V = SD/X50% dimana SD = deviasi standar &
X50% = harga permeabiltas pada probabilitas 50%.
• Untuk distribusi log normal, 15.9% dan 84.1% dari
total sampel memiliki harga X < (X50% - SD) dan X <
(X50% + SD).
• Dykstra dan Parsons memberikan rumus
permeability variation:
k50% - k84.1%
V = k50%
V = 0 homogen dan V = 1 sangat heterogen. 203
Penentuan permeability variation pada probability log paper

Log scale

Probability scale

204
Vertical anisotropy (kv/kh)
• Pada umumnya di setiap posisi di dalam reservoir,
permeabilitas berbeda untuk arah yang berbeda.
• Permeabilitas kontras umumnya antara
permeabilitas horizontal dan permebilitas vertikal.

kv

krata-rata = (khkv)0.5

kh 205
Vertical permeability vs. Horizontal permeability
(Contoh Sandstone)
10000

1000
Vertical Permeability, md

100
Rata-rata:
kv > kh kv/kh  0.45

10
Mayoritas rentang
0.15 < kv/kh < 0.85
1 Garis kv = kh

0.1

0.01
0.01 0.1 1 10 100 1000 10000
Horizontal Permeability, md
206
Vertical permeability vs. Horizontal permeability
(Contoh Carbonate)
Pada contoh ini
vertical anisotropy
carbonate lebih
Garis kv = kh
bervariasi.

Trendline
garis merah

207
kv/kh

Jadi, kisaran harga kv/kh: 0,1 - 1,0

208
Lateral impermeable streak
• Pada umumnya vertical anisotropy > 0.5 sudah
dianggap baik.
• Pada skala reservoir atau sekitar sumur,
permeabilitas arah vertical dapat dipengarui
oleh lapisan tipis yang less permeable atau

oil
bahkan shale streak.

Lubang sumur
oil oil
Jika ada shale streak,
aliran air spt tergambar.
Shale streak
Jika shale streak
tidakada??
Oil zone
Cement 209
Oil-Water Contact plug
Water zone
Penggunaan Potensial
dalam Aliran Fluida

• Di dalam reservoir, pengaruh gravitasi dapat


berpengaruh pada aliran fluida.
• Pada aliran horizontal, pengaruh gravitasi
adalah sama pada semua posisi sehingga tidak
ada perbedaan potensial.
• Definisi potensial:
Ф = P - ρgh
dimana h secara vertikal diukur dari suatu
bidang referensi yang disebut sebagai datum.
210
Datum
• Datum adalah suatu posisi atau bidang atau titik
yang dipilih sebagai referensi sehingga tekanan
dimanapun didalam reservoir dapat mengacu
pada datum ini.
• Datum dapat dipilih: bidang kontak fluida-fluida
atau tengah-tengah dari kolom hidrokarbon.
P Potensial: Ф = P - ρgh

h
- (h berharga negatif kearah atas)

Datum (Garis NOL)

+ (h berharga positif searah arah gayab gravitasi)211


Contoh:
Seringkali tekanan pada suatu titik didalam reservoir
dinyatakan dg tekanan pada datum. Test tekanan statik
P= 1900 psi @ -2090 FTSS
Reservoir Minyak =
Datum - 2200 FTSS
Bidang kontak (OWC)

Aquifer

Berapakah tekanan reservoir pada datum bila gradien tekanan minyak 0,40 psi/FT ?

Preservoir @ datum = 1900 psi – 0,40psi/FT(-110 FT) = 1944 psi.

Negatif krn posisi test sebelah


atas dari datum

212
Aliran fluida dan
Gradien tekanan vs. Gradien potensial
P1
A
1

α h1
P2

h2 2
Datum

• Aliran dengan prinsip gradien tekanan: v = q/A = - (k/μ)(dP/dℓ)


= - (k/μ)(P1-P2)/L

• Aliran dengan prinsip gradien potensial: v = q/A = - (k/μ)(dФ/dℓ)


= - (k/μ){dP/dℓ - ρg(dh/dℓ)}
sin α
= - (k/μ)(Ф1 – Ф2)/L
213
1 2
Aliran hirozontantal : FLOW

(Aliran terjadibila P1 > P2; P


Apa yg terjadi bila P1 = P2 ?) Ф

Aliran miring:

Agar terjadi aliran dari titk-1 ke titik-2 maka Ф1 > Ф2 relatif


terhadap datum.
Tetapi bila P1 = P2 sehingga Ф1 < Ф2 relatif terhadap datum
maka aliran terjadi dari titik-2 ke titil-1.

INGAT: Posisi berjarak negatif bila berada diatas datum dan positif bila dibawah datum!
214
Sifat Kebasahan Batuan
(Rock wettability)

215
Sifat Kebasahan Batuan
(Rock wettability)
• Rock wettability merupakan sifat batuan untuk dapat dibasahi
oleh salah satu fluida relatif terhadap fluida yang lain.
Kebasahan ini merupakan hasil interaksi antara bagian
padatan batuan dan fluida yg mengisi pori-pori
• Didalam pori-pori batuan reservoir tentunya ada lebih dari
satu fluida. Misalnya untuk reservoir minyak dimana pori-
porinya terisi juga dengan air. Bila air ini lebih mudah
membasahi butir-butir batuan (dinding pori-pori) maka
batuan ini dikatakan sebagai water-wet. Sebaliknya, bila
minyak yang lebih mudah membasahi batuan itu maka sifat
kebasahan batuan itu adalah oil-wet.
• Sifat kebasahan diantaranya itu bisa weakly water-wet,
intermediate, neutral, mixed wet, dan weakly oil-wet.
216
Sifat kebasahan batuan
Fundamental: Sudut kontak (contact angle).
Umumnya sudut kontak diukur melalui fasa air.

Pipa kapiler
Water
Water Gas
OIL 

Lempeng kristal
Water
Oil or Gas

 Water

Semua contact angle yg tergambar diatas adalah receding contact angle 217
Contact angle hysteresis
(Receding versus Advancing)

Water

Water

OIL R
A

OIL Water (Kondisi statik)


R

Water (Kondisi air didesak


OIL
A oleh minyak)
218
Rock wettability (lanjutan)
• Gas tidak membasahi batuan bila air dan atau minyak berada
bersama-sama gas. Jadi sifat kebasahan batuan reservoir gas
selalu water-wet.
• Fluida yang membasahi batuan disebut sebagai wetting phase
dan fluida yang tidak membasahi batuan disebut dengan non-
wetting phase. Gas selalu sebagai non-wetting phase.
• Sifat kebasahan dapat mempengaruhi distribusi fluida (air dan
minyak atau gas) dalam pori-pori dan proses displacement,
resistivity batuan reservoir, bentuk kurva tekanan kapiler, dan
bentuk kurva tekanan permeabilitas relatif. Ini akan dibahas
dalam topik-topik berikutnya.

219
Pengaruh wettability pada distribusi fluida dan
proses displacement (water-wet system).

220
Pengaruh wettability pada distribusi fluida dan
proses displacement (oil-wet system).

221
222
Rock wettability (lanjutan)

• Penentuan sifat kebasahan suatu batuan :


- pengukuran sudut kontak (kuantitatif)
- uji imbibisi (kualitatif)
- uji imbibisi dan pendesakan (displacement)
(kuantitatif)
- capillary pressure (imbibition dan drainage)
(kuantitatif).

223
Pengukuran sudut kontak

224
Spontaneous imbibition pada batuan berpori
Tanpa diberikan tekanan Imbibisi

Butir minyak lepas dari core dan naik ke


permukaan air.

Silinder gelas

Air

Swc
Core (water wet)
(Soi = 1- Swc) berisi minyak dan air

Imbibisi = proses pendesakan fluida yg tidak membasahi oleh fluida pembasah.


(kebalikan dari imbibition adalah drainage) 225
Apa yang terjadi bila core sample bersifat oil-wet ??

Silinder gelas
Air

Core (oil-wet) berisi


Swc
(Soi = 1- Swc) minyak dan air

226
Uji imbibisi spontan

So = Sor
Sw = 1 - Sor
(oil-wet)

Sw = Swirr
So = 1 - Swirr
(water-wet)

227
Hasil uji imbibisi

Water-wet sample

Oil-wet sample

228
Uji imbibisi dan pendesakan (metoda Amott)

(Spontaneous)
Brine
(Spontaneous)
Oil

229
Metoda capillary pressure (metoda USBM)

Wettability Index:
Secondary drainage utk water-wet - neutral ;
secondary imbibition utk oil-wet.

Luas dibawah kurva Pc oil displacing water



WI = log

Luas dibawah kurva Pc water displacing oil

Primary imbibition utk water-wet - neutral ;


Prymary drainage utk oil-wet.

230
USBM method for water-wet system
(Menggunakan kurva data tekanan kapiler)

I. Primary drainage
II. Primary imbibition
III. Secondary drainage.

231
USBM method for neutral-wet system
(Menggunakan kurva data tekanan kapiler)

I. Primary drainage
II. Primary imbibition
III. Secondary drainage.

232
USBM method for oil-wet system
(Menggunakan kurva data tekanan kapiler)

I. Primary imbibition
II. Primary drainage
III. Secondary imbibition

233
Wettability evaluation

234
Kapileritas dan
Tekanan Kapiler

235
Sifat Kapileritas Batuan Berpori
• Batuan berpori dan permeabel dapat
dianalogikan dengan kumpulan pipa-pipa
kapiler yang tidak beraturan.
• Sifat kapileritas batuan berpori itu sebagai
akibat interaksi antara komponen padat
pembentuk batuan dan molekul-molekul
fluida serta antar molekul-molekul fluida yg
dapat menghasilkan tegangan antar-muka.
• Fluida yg dapat berinteraksi dg batuan disebut
sebagai Fluida pembasah (wetting phase).
Fluida yg tidak berinteraksi disebut fluida yg
tidak membasahi (non-wetting phase). 236
Contoh sederhana Fenomena kapileritas
Diameter-dalam pipa kapiler: d1 d2 d3

Sifat kapileritas
Fluida yang ada
ini
dalam sistem ini
memperlihatkan
adalah air dan
bahwa pipa
udara. Disini air
kapiler dengan
adalah wetting
diameter-dalam
phase dan udara
yang lebih kecil
sebagai non-
menghisap air
wetting phase.
lebih banyak
dibanding pipa
Free water level kapiler yang lebih
besar. Gaya
Bejana berisi air kapiler ini
diimbangi oleh
gaya gravitasi.

237
Fenomena kapileritas:
Gambar pipa-pipa kapiler tadi menjelaskan bahwa, pada kondisi statik,
pipa kapiler ketika bersentuhan dengan fluida pembasah atau
wetting phase (dalam hal ini air) segera menghisap air (wetting
phase). Air yang terhisap mendesak udara (non-wetting phase)
sampai tekanan hidrostatik sama dengan tekanan kapiler yg terjadi
didalam pipa kapiler itu. Fenomena ini disebut dengan spontaneous
imbibition.

Jumlah air atau wetting phase yang terhisap itu tergantung pada ukuran
diameter pipa kapiler. Makin kecil ukuran pipa kapiler semakin besar
bagian ruang pipa kapiler yang terisi oleh air. Selain ukuran pipa
kapiler, daya hisap ini dipengaruhi juga oleh wettability pipa kapiler
dan tegangan antar permukaan wetting phase (air) dengan non-
wetting phase (udara).

Ini dapat menjelaskan bahwa, didalam reservoir minyak dan gas bumi,
porositas yang kecil cenderung memiliki saturasi air yang lebih besar
dibanding porositas yang besar. Hal ini diakibatkan perbedaan
besarnya gaya kapiler. Coba perhatikan gambar pada slide berikut ini.
238
Spontaneous imbibition pada batuan berpori
Tanpa diberikan tekanan Imbibisi

Butir minyak lepas dari core dan naik ke


permukaan air.

Silinder gelas
Air

Swc
Core (water wet)
(Soi = 1- Swc) berisi minyak dan air

Imbibisi = proses pendesakan fluida yg tidak membasahi oleh fluida pembasah.


(kebalikan dari imbibition adalah drainage) 239
Swi versus Porositas

240
Soal:
Perhatikan slide sebelumnya yang menunjukkan
pipa-pipa kapiler dan anggap panjang ketiga pipa
kapiler itu sama, L, yang diukur dari free water
level. Diameter-dalam masing-masing pipa kapiler
itu d1, d2, dan d3. Tinggi air didalam masing-
masing pipa kapiler adalah H1, H2, dan H3.
Hitunglah fraksi volume masing-masing pipa kapiler
yang diisi oleh air diatas FWL. Jelaskan apa
artinya ini.
Juga, hitunglah fraksi volume masing-masing pipa
kapiler yang diisi oleh udara. Jelaskan apa artinya
ini.
241
Tekanan Kapiler

242
Pipa kapiler berisi 2 jenis fluida immiscible
Pipa kapiler

Non-wetting r Wetting phase (W-P)


phase (NW-P) R

r = jari-jari kelengkungan antar permukaan W-P dan NW-P


R = jari-jari pipa kapiler
= sudut kontak (tingkat kebasahan) yg diukur melalui wetting phase

Tekanan kapiler: Pc = cos(1/R + 1/r)


dimana  adalah tegangan antar-muka fluida tersebut.

(1/R + 1/r) = 1/rc ; rc disebut dg mean radius of curvature.

243
Tekanan Kapiler
Jadi, tekanan kapiler dipengaruhi oleh ukuran kapiler,
tegangan antar permukaan, dan sifat kebasahan batuan.
Apabila pada slide sebelumnya r = R, maka tekanan kapiler
menjadi: 2  cos( )
Pc  = PNW-P - PW-P
r PNW-P PW-P
Sisi non-wetting phase Sisi wetting phase

Sistem air dan minyak:


Pc  Po  Pw  Sistem air dan gas: Pc  Pg  Pw
Data tekanan kapiler dilaporkan sebagai fungsi dari saturasi fluida
pembasah (wetting phase). Data tekanan kapiler versus saturasi
air (Sw) dapat digunakan untuk memperkirakan irreducible water
saturation (Swirr), yaitu saturasi air dimana air tidak dapat
didesak lagi atau tidak dapat mengalir lagi atau immobile. Ingat:244
Swc  Swirr.
Imbibisi dan drainase – Water-wet system
irreversible hysteresis
Water-wet: Water sebagai W-P

I. Primary drainage
II. Primary imbibition
III. Secondary drainage.

Proses drainage:
NW-P mendorong W-P

Proses imbibisi :
W-P mendorong NW-P

INGAT! : Pc = PNW-P – PW-P

245
Contoh Pc berharga positif dan negatif
irreversible hysteresis
Water-wet: Water sebagai W-P

I. Primary drainage
II. Primary imbibition
III. Secondary drainage.

Proses drainage:
NW-P mendorong W-P

Proses imbibisi :
W-P mendorong NW-P

INGAT! : Pc = PNW-P – PW-P

246
Imbibisi dan drainase – Oil-wet system
Oil-wet : oil sebagai W-P dan
water sebagai NW-P

I. Primary imbibition
II. Primary drainage
III. Secondary imbibition

Primary drainage

247
Contoh Pc berharga positif dan negatif
Oil-wet : oil sebagai W-P dan
water sebagai NW-P

I. Primary imbibition
II. Primary drainage
III. Secondary imbibition

Primary drainage

248
Tekanan kapiler didalam sistem pori-pori

W-P

NW-P

Jari lengkungan
antar-muka fluida
yg terukur pada fasa
yg membasahi
bernilai negatif.
Convex surface
(cembung keluar)
Convex-concave surface
(cekung kedalam)

249
Proses injeksi mercury kedalam pori-pori
Mean radius of curvature
semakin kecil, bisa krn pori-
pori sisanya semakin kecil
dan/atau memasuki celah
PT 1 2 antar butiran.

PT 1 2 3

PT 1 2 3 4

PT
(Threshold or Entry pressure)

PT Core
250
Wetting phase

Non-wetting Butir batuan


phase

r1
r2
INGAT !: Pc = 2  cos /r Butir batuan
atau
r = 2  cos /Pc
Saturasi wetting phase makin kecil
dengan membesarnya Pc, atau
Pc semakin besar mengakibatkan
saturasi wetting phase makin kecil 251
Mengapa tekanan kapiler meningkat secara
tajam dengan berkurangnya Sw ?

• Dari slide sebelumnya:


 karena juga adanya pori-pori kecil
DAN/ATAU
 radius of curvature mengecil sehingga
saturasi fluida terdesak semakin
berkurang.

252
DISTRIBUSI UKURAN PORI dari data mercury injection capillary pressure (MICP).
Dalam hal injeksi merkuri ini, wetting phase-nya adalah vakum atau hampa, dan merkuri
sebagai non-wetting phase. Sistem seperti ini dapat digunakan untuk memperkirakan
ukuran pori-pori atau menentukan pore aperture (lihat Pers. kapiler).

253
Pada kondisi Proses drainage Coba lihat lagi persamaan Pc pada
reservoir slide sebelumnya bahwa Pc
berbanding terbalik dengan ukuran
pori atau kelengkungan permukaan r
Ukuran pori kecil
yang terbentuk antara fluida yg ada
dan lebih
didalam pori.
bervariasi.
Artinya bahwa bentuk kurva Pc vs. Sw
dipengaruhi oleh distribusi ukuran
pori-pori batuan itu.

Ukuran pori lebih


besar dan seragam.
Pct = threshold
pressure, yaitu
tekanan yg
diperlukan agar non-
wetting phase dapat
mendesak wetting
phase dari pori-pori
terbesar untuk
pertama kali.
254
Perhatikan bahwa Pc membesar dengan berkurangnya Sw.
Bagaimana bentuk kurva Pc dari fracture?

255
Tekanan Kapiler
(Lanjutan)

Secara umum untuk sistem didalam reservoir :

Pc = Phc – Pw
Pc = 0 berarti Phc = Pw

Konvensi : Pc = 0 yaitu posisi diatas mana saturasi hidrokarbon


mulai akan > 0 berapapun kecilnya, atau batas teratas untuk
Sw = 100%.

Pc = 0 itu disebut sebagai Free Water Level (FWL)


tidak harus sebagai Oil-Water Contact (utk oil res.) atau
Gas-Water Contact (utk gas res.).
256
Konversi Pc

Pcres = Pclab(σ cos θ)res/(σ cos θ)lab

Sistem Contact angle IFT (dyne/cm)


Lab: Air-brine 0o 70
Air-mercury 140o 480
Oil-water 0o - ? (bervariasi) ? - 35 (bervariasi)

Reservoir: Gas-water 0o 60
Gas-oil 0o 50
Oil-water 0o - ? 20 - 35
257
Hubungan Pc dg Tinggi dr FWL

• Bila h adalah jarak vertikal keatas yang diukur dari suatu posisi
referensi dibawah zona hidrokarbon maka h = 0 ada pada Free
Water Level (atau Pc = 0), maka hubungan h dengan Pc (setelah
konversi dari data lab ke kondisi reservoir) adalah

Pc
h
0,433 w   hc 
dimana h = ft; Pc = psi; ρ = densitas fluida dalam satuan gr/cc
maka grafik h vs. Sw dapat dibuat berdasarkan data Pc vs. Sw , atau
dengan kata lain kita bisa mengetahui distribusi saturasi secara
vertikal didalam reservoir mulai dari Free Water Level hingga ke
batas atas reservoir. (Anda harus paham apa yg dimaksud dengan
batas atas reservoir)
258
Distribusi saturasi didalam reservoir
• Didalam proses akumulasi minyak dan gas bumi kedalam
cebakan (reservoir) yang semula berisi air (Sw = 100%) dan bila
air ini dianggap sebagai wetting phase maka proses akumulasi
itu adalah proses drainage.
• Dalam proses akumulasi hidrokarbon (minyak dan atau gas
bumi), saturasi air didalam pori-pori cebakan itu berkurang
mulai dari 100% sampai tercapai connate water saturation,
Swc.
• Didalam reservoir hidrokarbon, connate water saturation itu
berharga mulai dari Swirr dan membesar secara gradual
hingga 100% ke arah posisi Free Water Level.
• Swc = Swirr yaitu situasi dimana connate water tidak dapat
mengalir. Artinya, Swc > Swirr maka connate water dapat
mengalir. Jadi bagian zona hidrokarbon yang memiliki Sw >
Swirr dapat memproduksikan air atau bersifat mobile. Zona
ini disebut sebagai zona transisi.
259
Distribusi saturasi didalam reservoir

Bila memproduksi minyak pada zona transisi maka minyak dan air akan
terproduksi bersama-sama (karena Sw > Swirr dan So > Sor tapi kearah
bawah So menuju NOL). Sedangkan diatas zona transisi hanya minyak
yang dapat terproduksi karena Sw = immobile dan tentu So > Sor dan So
maksimum = 1 - Simmoble.
Hanya minyak terproduksi
Minyak + air Batas atas reservoir
(impermeable layer)
Interval perforasi Pc
atau Drainage Pc curve
OIL
h

Transistion Zone
0
0 Sw 1.0
WATER Oil-Water Contact Swirr
0
Somaksimum
260
Hubungan Pressure gradient (dari RFT) dg Pc

Semua titik merah = data RFT Pc min. atau


h min. dimana
Sw = Swc or Swirr

Pc or h
Transistion zone
Sor
0
0 Sw 1

Pc
Semua titik biru = data RFT
h
0,433 w   hc 

261
Distribudi Fluida arah vertikal dalam res.

Berapakah Swirr dan Sor ?

262
Skema 3 reservoir terpisah oleh lapisan impermeable

Lapisan impermeabel

Patahan (fault)
??

(Lowest Known Oil)


(Highest Known Water)

??

263
Dimana posisi Oil-Water Contact atau
Gas-Water Contact ?
(Bila kita punya data RFT)

– Pct (threshold pressure) harus diketahui dari kurva Pc vs. Sw


setelah konversi dari data lab ke kondisi reservoir

Pct
– DOWC atau DGWC = DFWL 
0,433 w   hc 
dimana DOWC = kedalaman posisi OWC atau DGWC = kedalaman
posisi GWC.

– Atau berdasarkan/konfirmasi interpretasi logs (Rt, GR, SP), dan


DST bila ada.

– Kesalahan penentuan Contact memberikan kesalahan


perhitungan cadangan atau Hydrocarbon Reserve.
264
Seringkali data tekanan kapiler diperoleh dari hasil pengukuran
banyak sampel batuan inti (core samples) sehingga sering juga
diperlukan harga rata-ratanya. Tetapi datanya perlu ditransform
dulu ke kondisi reservoir seperti dijelaskan pada slide sebelumnya.

Perata-rataan (normalisasi) data tekanan kapiler dilakukan secara


umum dengan menggunakan metoda Leverett J- function :

1
Pc  k  2
J S w    
 f 

Pengubahan kembali menjadi satu kurva Pc yaitu berdasarkan


perata-rataan k dan f terkait.
265
Contoh data untuk
perata-rataan.

Hal yg perlu
dicermati untuk
dipelajari disini
adalah bagaimana
dan apa yg
mempengaruhi
bentuk kurva
tekanan kapiler dan
bagaimana
menentukan Swc
atau Swirr. (garis
panah merah).

266
Hasil perata-rataan
menjadi J-function.

Bila kurva J-function bisa


dibuat persamaan sebagai
fungsi dari Sw maka
persamaan ini dapat
digunakan untuk
membuat kurva Pc untuk
harga k dan ф yang lain.
Data points tidak
spread, menunjukkan
Untuk perata-ratan Pc rock type yg sama.
maka k harus dirata-
ratakan secara
geometrik dan ф
dirata-ratakan secara
aritmatik.

267
Contoh lain 1 set Capillary Pressure Data.
(apakah kasus data ini dapat dirata-ratakan menjadi satu kurva J-Function??)
Composite Oil-Brine Capillary Pressure
by Centrifuge Method

200

180

160

140

120
Preessure, psi

100

80

60

40

20

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Brine Saturation, percent pore space
268
Contoh ada pengelompokan data points
Menunjukkan adanya beberapa rock type.

Capilary
Capillary Pressure
J-Function
50

45

40

35

30 Por<5%
5%<Por<9%
25
J

9%<Por<15%
20 Por>15%

15

10

0
0 20 40 60 80 100
Sw, %

269
Pengukuran Tekanan Kapiler
• Tekanan kapiler untuk keperluan keteknikan reservoir diperoleh
dari pengukuran di laboratorium.
• Pengukuran dilakukan pada core sample dengan proses
displacement, yaitu proses pendesakan fluida yang ada dalam
core sample oleh fluida lain yang diinjeksikan kedalam core ini.
• Ada 2 proses yang dapat dilakukan, yaitu proses drainage dan
proses imbibition.
• Proses drainage yaitu proses pendesakan wetting phase oleh
non-wetting phase. Sedangkan proses imbibition adalah
sebaliknya, yaitu proses pendesakan non-wetting phase oleh
wetting phase.
• Dalam setiap proses itu, saturasi yang didesak berkurang dan
saturasi yang mendesak tentunya bertambah.
270
Proses Drainage dan Proses Imbibition
Pada akhir proses
drainage diperoleh
saturasi irreducible
wetting phase Swirr
Imbibition process
Pada akhir proses
Drainage process imbibition diperoleh Sw
maksimum dan saturasi
residual non-wetting
phase Srnw.

Non-wetting phase bisa


berupa minyak, bisa juga gas,
atau kedua-duanya. Kalau
minyak maka Srnw = Sor;
kalau gas maka Srnw = Sgr.

Sw minimum Sw maksimum pd akhir proses imbibisi


akhir drainage Srnw = (1 – Swmaksimum)
271
Pengaruh wettability pada Pc drainage dan imbibition
Pc negatif
Water-wet Oil-wet

Intermediate wet

272
Alat pengukur Pc

• Alat pengukur tekanan kapiler suatu contoh batuan


(core sample atau core plug) pada dasarnya mengukur
tekanan pendesakan sebagai fungsi saturasi air.
• Beberapa alat pengukur berdasarkan prinsip kerjanya :
- Porous plate (bisa utk drainage & imbibition)
- Mercury injection (umum utk drainage)
- Centrifuge (bisa utk drainage & imbibition)
- Dynamic displacement (bisa utk drainage & imbibition)

273
Pipa gelas

274
275
276
277
278
Permeabilitas untuk media berpori yg
berisi lebih dari satu jenis fluida

279
Permeabilitas Efektif
• Beberapa waktu lalu kita sudah membahas
mengenai permeabilitas absolut, yaitu
permeabilitas batuan terhadap satu fasa fluida
dengan saturasi fluida ini 100% didalam pori-
pori.
• Didalam reservoir hidrokarbon tentunya tidak
pernah hanya satu fasa, sehingga kita perlu
menentukan permeabilitas effektif terhadap
masing-masing fluida.

280
Permeabilitas Efektif (lanjutan)
• Karena pori-pori batuan reservoir ditempati oleh lebih
dari satu fasa fluida maka ruang pori-pori yang dapat
dialiri oleh setiap fluida lebih kecil dibanding bila hanya
ada satu fasa. Dengan demikian permeabilitas efektif
selalu lebih kecil dibanding permeabilitas absolut (kabs)
batuan tsb.
Jadi kef < kabs
• Simbol yang umum digunakan untuk permeabilitas
efektif:
- kw = perm. efektif terhadap air
- ko = perm. efektif terhadap minyak
- kg = perm. efektif terhadap gas.
281
Aliran 2 fasa didalam pori-pori
Air = WP (wetting phase)
Minyak = NWP (non-wetting phase) Dinding pori-pori
Sw1 < Sw2
So1 > So2 air air

Situasi: Sw1 minyak


FLOW
air

Dinding pori-pori

air air

Situasi: Sw2 minyak


FLOW
air

282
Dalam situasi manakah debit alir minyak lebih besar ?
• Persamaan Darcy: q = (k/μ)A(ΔP/ΔL)
• qo = (ko/μo)A(ΔP/ΔL) atau ko = (qoμo)/(AΔP/ΔL)
• qw = (kw/μw)A(ΔP/ΔL) atau kw = (qwμw)/(AΔP/ΔL)

• Pada kondisi μo, μw, A, dan (ΔP/ΔL) konstan maka qo


dan qw masing-masing berturut-turut bergantung
pada harga ko dan kw.
• Laju atau debit alir suatu fluida tergantung pada
volume (saturasi)nya didalam pori-pori. Ingat bhw
volume fluida per satuan volume pori adalah
SATURASI.
• Kesimpulan: ko dan kw adalah fungsi dari saturasi.
283
Permeabilitas Efektif (lanjutan)
• Makin besar saturasi suatu fluida, semakin
besar ruang pori-pori yang ditempatinya
sehingga fluida ini semakin mudah mengalir.
• Adalah perlu diingat kembali bahwa saturasi
suatu fluida bertambah menyebabkan saturasi
fluida lain berkurang.
• Perlu diingat juga, bila ada tiga fasa didalam
pori-pori, saturasi fluida yang mana yang
berkurang dan mana yang bertambah?
• INGAT: Sf1 + Sf2 + Sf3 = 1.0 284
Permeabilitas Efektif (lanjutan)

• Sebagai contoh, suatu reservoir minyak


dengan tekanan sudah berada dibawah
bubble point-nya dan air ada pada kondisi Swirr
maka bila saturasi gas bertambah (dg
menurunnya tekanan reservoir) menyebabkan
saturasi minyak berkurang. Pertanyaannya
adalah apa yang terjadi dengan permeabilitas
efektif terhadap masing-masing fluida
tersebut (yaitu bagaimana dg ko, kg, dan kw)?
285
Permeabilitas Efektif (lanjutan)
• Contoh lain, suatu reservoir minyak yang sedang
berproduksi mengalami invasi air dari akuifer (zona
air) dan air sudah mulai ikut terproduksi.
Pertanyaannya adalah:
1) saturasi fluida yang mana yang bertambah?
2) saturasi fluida yang mana yang berkurang?
3) permeabilitas efektif terhadap fluida apa yang membesar?
4) permeabilitas efektif terhadap fluida apa yang mengecil?

286
Permeabilitas Efektif (lanjutan)
• Jawab pertanyaan berikut ini:
1. Untuk sistem minyak dan air:
Swirr kw = ?
Sw kw = ? dan ko = ? ; kalau kg = ?

2. Untuk sistem minyak+air+gas:


Sgc kg = ?
Sg < Sgc kg = ?
Sg kg = ? dan ko = ? ; kalau kw = ? 287
Permeabilitas Relatif
• Bila representasi kef sebagai fungsi dari saturasi
dinyatakan dalam bentuk grafis maka tidak ada
standar skala untuk grafik kef versus Saturasi.
• Penyederhanaan dilakukan dengan normalisasi
terhadap harga permeabilitas absolut atau bahkan
lebih sering terhadap base permeability atau harga
permeabilitas non-wetting pada harga Swi atau Swc.
• Penyederhanaan atau normalisasi ini didefinisikan
dengan istilah permeabilitas relatif, (kr) = kef/kbase.
Perlu dicatat: Bila permeabilitas absolut yg digunakan maka
permeabilitas absolut harus permeabilitas terhadap cairan.
288
Permeabilitas Efektif sebagai fungsi saturasi
(w = wetting phase ; nw = non-wetting phase)
kef = kabs

knw kw
kefektif

0
0 Wetting phase saturation 1.0
289
1.0 Non-wetting phase saturation 0
Permeabilitas Relatif (lanjutan)

• Definisi:
kr = kef/kabs atau kr = kef/kbase

kef = kr x kabs atau kef = kr x kbase

290
Permeabilitas relatif berdasarkan definisi kr = kef/kabs
1.0

krnw krw
kr

0
0 Wetting phase saturation 1.0
291
1.0 Non-wetting phase saturation 0
Permeabilitas relatif berdasarkan definisi kr = kef/kb
1.0
krnw End point

krnw
kr

krw
End point

krw

? ?
0
0 Wetting phase saturation 1.0
292
1.0 Non-wetting phase saturation 0
Pengaruh permeabilitas absolut terhadap kurva kr
Perhatikan end point pada kedua
gambar sebelah kiri dan kanan.

293
Bagaimana pengaruh faktor-faktor yang lain?

• Pengaruh viskositas fluida? k=(qμ)/(AΔP/ΔL)


• Pengaruh sifat kebasahan batuan?  → krw & kro
dan perpotongan kro & krw curves bergeser ke kiri.
• Pengaruh tegangan antar-permukaan (interfacial
tension)? IFT → krw dan perpotongan kro & krw
curves bergeser ke kiri.
• Sistem rekahan? no pore throat, no interstitial pore
space → perpotongan kro & krw curves ada pada Sw 
50% .
• Temperatur? masih kontradiksi.
294
Suatu bagian reservoir telah berproduksi dengan kadar
air sudah mencapai 25%. Saturasi air Sw pada situasi
ini diperkirakan sudah 40%. Berapakah permeabilitas
efektif terhadap minyak bila ko@Swi = 150 md? Data
relative permeability diberikan dibawah ini.

CONTOH
Lihat Gambar sebelah kiri:
Sw = 40% → kro = 0,29
kro = ko/kbase dan diketahui utk contoh ini
bahwa kbase = ko@Swi = 150md
Dapat ditulis bhw ko(Sw)= kro(Sw)kbase
Jadi ko(Sw=40%)=0,29150md= 43,5md.

295
Contoh kr vs.Sw dari banyak samples
1.0

0.9 Kro 110


0.8 Krw 110
Kro 125
0.7
Krw 125
0.6 Kro 212
Krw 212
Kr

0.5
Kro 233
0.4
Krw 233
0.3 Kro 246
Krw 246
0.2
Kro 256
0.1 Krw 256
0.0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Sw %
296
Perata-rataan Permeabilitas Relatif (kr vs Sw)
Sebaiknya dilakukan berdasarkan rock type (ingat kegunaan J-
Function).
• Tersedia beberapa data SCAL k r vs S w
• Setiap data set normalized terhadap saturasi mobile hydrocarbon
(1 – Swc – Sor):
* S w  S wc (dari harga Sw = Swc
Untuk reservoir minyak Sw = 1  S  S hingga
wc or Sw = Swmax = 1 – Sor)

• Normalisasi k ro terhadap k ro @ S wc

 k ro ( S w )
k ro 
k ro @ S wc
Pada Sw = Swc maka Sw*= 0 & kro(Swc) = kro@Swc dan kro* = 1.
Pada Sw = Swmax = 1 – Sor maka Sw* = 1 dan kro* = 0. 297
Perata-rataan Permeabilitas Relatif (kr vs Sw) (Lanjutan)

• normalisasi k rw terhadap k rw @ sor


(dari harga Sw = Swc hingga Sw = Swmax = 1 – Sor)

krw ( S w )
k *
rw

krw @ Sor
• Hasil tahap normalized: Sw* = 0 – 1, kro* = 1 – 0 & krw* = 0 – 1.
• Kurva k r* vs. S w* dari banyak sampel itu dicari trend line-nya.
1

kro*
&
krw*

0
0 Sw* 1 298
Perata-rataan Permeabilitas Relatif (kr vs Sw) (Lanjutan)

• Rata-ratakan (arithmatic average) harga-harga data asli dari


setiap sampel harga: S wc , S or , k ro @ S wc dan k rw @Sor

sehingga diperoleh harga rata-rata : S wc , Sor , kro @S wc


dan k rw @ S or

299
Perata-rataan Permeabilitas Relatif (kr vs Sw)
(Lanjutan)

• Lakukan de–normalisasi untuk jadi kurva tunggal kr vs. Sw (rata2)


Ini
S w = S w* (1 – S wc - Sor ) + S wc menggunakan
persamaan
normalisasi pd
kro S w  = kro S w  kro @ S wc slide
sebelumnya
dengan harga

krw Sw  = krw Sw  krw @ Sor


* rata-rata untuk
Swc, Sor, kro@Swc
dan krw@Sor
dari data asli
* semua samples.
(Pilih harga-harga S w : 0, 0.1, 0.2, 0.3 ………..,1.0
 *
dan baca k ro & k rw - nya).
Pada Sw* = 0 maka Sw = Swc dan kro(Swc) = 1 & krw(Swc) = 0
dan Sw* = 1 maka Sw = 1 – Sor dan kro@(1-Sor) = 0 & krw@(1-Sor) < 1.
300
Hasil Perata-rataan Permeabilitas Relatif (kr vs Sw)
(Lanjutan)

kr kro

Swc rata-rata
krw Sor rata-rata

0
0 Sw 1 301
Contoh data sets kr vs.Sw
1.0

0.9 Kro 110


0.8 Krw 110
Kro 125
0.7
Krw 125
0.6 Kro 212
Krw 212
Kr

0.5
Kro 233
0.4
Krw 233
0.3 Kro 246
Krw 246
0.2
Kro 256
0.1 Krw 256
0.0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Sw %
302
Hasil normalisasi
1
Trendline kro*
kro*
&
krw* Trendline krw*

0
0 Sw* 1

303
Kurva Relative
HasilPermeability Sukowati 2
Denormalisasi

1.000

0.800

0.600 Kro
Krw
Kr

0.400

0.200

0.000
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
Sw 304
Permeabilitas Relatif 3 Fasa
Fluida 3 Fasa didalam pori-pori
(disini air sebagai wetting phase)
Water
Oil
Gas
Oil
Water

Permeabilitas relatif thd fluida yang membasahi batuan


(wetting phase) hanya dipengaruhi oleh Swetting phase,
karena wetting phase lebih sulit mengalir dibanding
fluida non-wetting phase.
305
krw vs. Sw
(Water sebagai wetting phase)

krw hanya dipengaruhi


oleh Sw karena air
bersentuhan langsung
dg butir batuan dan
lebih sulit mengalir
dibanding fluida non-
wetting phase.

306
kro untuk sistem 3 Fasa

0.01
Garis-garis iso-kro
0.05 Ingat satuan k
r
adalah
fraksional.
Titik A: Sw=40%, So=60%, Sg=0%
kro = 0.34 0.60
B
Titik B: Sw=20%, So=60%, Sg=20%
kro = 0.38

(kro)A < (kro)B A


Ini karena aliran oil sbg non-
wetting phase lebih
dipengaruhi oleh saturasi
wetting phase dan lagi pula
IFTgas-oil < IFToil-water 307
krg untuk sistem 3 Fasa
Gas sebagai fasa yg paling tidak
mudah membasahi batuan
dipengaruhi oleh kombinasi
saturasi cairan (oil dan water).
Karena itu krg umumnya
dinyatakan fungsi dari SLIQUID.

308
Saturasi dan Diagram Aliran
Diagram ini menunjukkan kondisi saturasi dimana masing2 fasa dapat
mengalir.

3 Fasa mengalir
Hanya Gas mengalir
%minimum Oil dalam aliran
Gas & Water mengalir
Gas & Oil mengalir

Hanya Water Hanya Oil mengalir


mengalir
Oil & Water mengalir

309
Persamaan empirik untuk permeabilitas relatif

    1 2S 
1. Corey model :
* 4 * 3
krw  S w kro  1  S
*
w w

S w  S wi

*
dimana S w
1  S wi

3
 S w  S wirr 
2. Jones model : k rw   
 1  S wirr 
2
 0.9  S w 
k ro   
 0.9  S wirr 
310
KOMPRESIBILITAS BATUAN

311
• Porositas dipengaruhi oleh kompaksi
• Apa yang dimaksud dengan kompaksi?
• Kompaksi di alam versus di laboratorium
• Apa implikasinya terhadap produksi
hidrokarbon?

312
Kompresibilitas Batuan (C)

Kompresibilitas (isothermal) didefinisikan sebagai


perubahan volume relatif terhadap volume mula-
mula sebagai akibat perubahan tekanan dalam
sistem itu pada temperature tetap (isothermal, ini
dianggap berlaku didalam reservoir karena
temperatur reservoir dianggap konstan selama
masa produksi).
1  V 
C  
V  P T
psi1

313
• Ingat PNOB = POB – Ppore atau Ppore = POB – PNOB
• Ppore = tekanan yg ada dalam pori2 = tekanan fluida yg
terkandung dalam pori2 batuan reservoir = Preservoir.
• Jadi bila Pres turun maka PNOB membesar sehingga volume
pori2 berkurang dan porositas mengecil maka ada effect
kompresi terhadap fluida yg sifatnya mobile. Kompresi ini =
sebagian tenaga yg menyebabkan fluida bergerak ke sumur.
• Ingat juga bahwa penurunan tekanan reservoir menyebabkan
fluida mengembang. Pengembangan fluida juga merupakan
sebagian tenaga yg menyebabkan fluida bergerak kearah
tekanan yg lebih kecil (yaitu kearah sumur produksi).
• Jadi, perubahan volume yg terjadi pada reservoir adalah
perubahan volume pori2 (shrinks) plus perubahan volume
fluida itu sendiri (expands) karena fluida itu juga memiliki
kompresibilitas dengan perubahan tekanan.
314
• Perubahan total yang terjadi adalah perubahan
volume pori2 plus fluidanya.
• Perubahan volume itu dimanifestasikan dengan
volume fluida yg terproduksi. Bila ada air, minyak,
dan gas didalam pori2:
dVtot = dVp + dVw + dVo + dVg = Vol. Prod.
• Perubahan relatif terhadap volume pori2 karena
perubahan tekanan ΔP: (yaitu kompresibilitas total)
ct = cr + cwSw+ coSo + cgSg
• Kompresibilitas efektif (yaitu relatif terhadap volume
hidrokarbon):
ce = (cr + cwSw+ coSo + cgSg )/(1 - Sw)
• Bagaimana untuk aquifer? 315
Penentuan Kompresibilitas Batuan
Kompresibilitas isothermal untuk batuan reservoir, C f
dapat diukur pada core sample di laboratorium, tetapi ini jarang
dilakukan. Bila data ini tidak tersedia maka korelasi yang ada
dalam pustaka terkait dapat digunakan. Salah satu korelasi
empirik grafis dari Hall (slide berikutnya).

Atau persamaan empirik dari Newman adalah :

Untuk Batupasir : C f 

97,32 106 
1  55,8721f 1, 42859
0,853531
Untuk Karbonat : C f 
1  2,4766410  f 
6 0, 92990

316
Hubungan kompresibilitas efektif batuan dengan porositas
(Hall, 1953). 317
Kompresibilitas (lanjutan) :

Untuk sistem reservoir hidrokarbon secara umum berlaku :

1.Kompresibilitas total : Ct = So Co + Sg Cg + Sw Cw + Cf
2.Kompresibilitas efektif : Ce = Ct / (1-Sw)

Kisaran harga :  Cf umumnya berkisar antara 3 – 5 x 10-6 psi-1


Cw ≈ 2 - 4 x 10-6 psi-1
Cw ≈ 10-5 psi-1 (air plus gas terlarut)
Co ≈ 10-5 psi-1
Cg ≈ 10-4 – 10-3 psi-1

318
Rock Resistivity
• Pengukuran resistivity lapisan batuan bawah
permukaan tanah sangat penting untuk
mengidentifikasi karakteristik batuan dan
fluida yg terkandung.
• Di lapangan, resistivity lapisan batuan diukur
dengan alat electric logs. Data yg diperoleh
diinterpretasi dengan dukungan data core
analysis yg didapatkan dari laboratorium.

319
Wireline logging unit

320
Hasil pengukuran resistivity berdasarkan
electrical well logging

321
Basics: Pada dasarnya resistivity suatu benda dapat diukur.
Berkaitan dg lapisan batuan, komponen2 apa saja yg
berpengaruh thd resistivity itu perlu diketahui.
i
E

A A

• Resistance : r = E/i
• Resistivity : R = rA/ℓ = (EA)/(iℓ)
• Conductivity : C = 1/R
• Kisaran harga Formation Resistivity, R :
R  0,2 - > 1000 ohm-m
322
Sifat Tahanan Listrik Batuan Reservoir
• Reservoir hidrokarbon terdiri atas padatan dan
pori-pori yg berisi air dan hidrokarbon.
• Hidrokarbon memiliki tahanan listrik yg sangat
besar.
• Butir penyusun batuan bisa satu komponen
atau multi komponen dan memiliki tahanan
listrik yg tak terhingga. Kadang mineral tertentu
dapat bersifat konduktif.
• Porositas makin besar, komponen padatan
batuan semakin berkurang.
• Air dalam reservoir umumnya mengandung
garam (5000 > Kadar > 50.000 ppm) shg air
dalam reservoir dapat menghantar arus listrik. 323
Skema fluida dalam pori-pori batuan
Solid
(butiran pembentuk batuan)
Karena hanya air yg
dapat menghantar
SW = 100% arus listrik maka
makin sedikit air
Rt = Ro dalam pori2 semakin
Air (didalam besar resistivity
pori-pori) batuan itu.
SW = 39% Ro < Rt1 < Rt2
Rt = Rt1 Jadi, salah satu
Hidrokarbon
komponen yg
(didalam pori-pori)
mempengaruhi
resistivity batuan
SW = 22% adalah saturasi air Sw.
Rt = Rt2 Tujuan pengukuran
resistivity adalah
untuk menentukan Sw
324
Resistivity of porous rock versus water saturation.

Archie:
Resistivity batuan
reservoir membesar dg
Rt penurunan harga Sw.

Ro

Sw 325
Sifat Tahanan Listrik Batuan Reservoir (lanjutan)
• Resistivity batuan porous dan permeable pada kondisi
Sw = 100% dipengaruhi oleh:
- porositas dan struktur pori-pori
- kadar garam dari air dalam pori-pori
- komponen padatan yg bersifat konduktif
• Tahanan listrik reservoir hidrokarbon tergantung
pada:
- porositas dan struktur pori-pori
- kadar garam dari air dalam reservoir
- saturasi air dalam reservoir terkait
- komponen padatan yg bersifat konduktif
326
Pengaruh Rw dan shale/clays pada F

Clayey sand

327
Hubungan antara resistivity batuan berpori dg Sw = 100%
dan resistivity air yg menjenuhi pori-pori:

• Ro = FRw atau F = Ro/Rw


• dimana Ro = resistivity batuan dg Sw = 100% (Ω-m)
Rw = resistivity air yg menjenuhi pori-pori (Ω-m)
F = formation resistivity factor.
• Apabila komposisi mineral tidak berpengaruh, maka:
F = Ro/Rw = konstan (artinya Ro berbanding lurus thd Rw)
• Persamaan empirik untuk F umumnya dinyatakan sbg:
F = a/fm
dimana f = porositas, m = faktor sementasi, dan a =
konstanta empirik tergantung formasinya.
328
329
Penentuan Saturasi Air, Sw
• Persamaan Archie (untuk Clean Formation):

Sw = (Ro/Rt)1/n = (FRw/Rt)1/n = (aRw/Rtfm)1/n

dimana Ro = resistivity formasi dg Sw = 100%


Rt = true resistivity dg Sw < 100%
n = saturation exponent, 1 – 5
= 2.0 untuk clean & water-wet rocks..
330
Penentuan saturation exponent

Ro = resistvity batuan dg Sw=100%


Rt = resistvity batuan dg Sw < 100%

Resistivity Index = IR = Rt/Ro


(n = 2.0)
maka Saturation Exponent:
Clean formation
n = (log IR1 – log IR2)/(log Sw2 – log Sw1) dan strong water-wet

fraksi !!

PR: Perhatikan gambar di kanan,


apa makna fisik dari n =2.0 dan n = 3.1 ?

331
Permasalahan umum: shaly/clayey formations
• Shale/clays menyebabkan resistivity batuan mengecil
dan dapat mengakibatkan salah interpretasi logs.
• Shale pada umumnyamengandung mineral lempung
(clays).
• Shaly formation harus dibedakan dari clayey formation.
• Mineral lempung tertentu bersifat reaktif thd air,
tergantung kadar garam dalam air-nya.
• Sifat reaktif tersebut ditunjukkan dg harga CEC-nya.
Makin besar CEC, semakin reaktif.
• Penurunan resistivity batuan dipengaruhi oleh
kandungan dan distribusi shale/clays dalam batuan itu.
332
Tiga tipe umum Dispersed Clay pada Sandstone Reservoir Rock 333
Exhangable Cation
Fixed layer

334
335
Tebal Double Layer

• Akumulasi ion dekat permukaan tersebut terbagi atas :


– Lapisan fixed layer
– Lapisan diffuse layer

T
Tebal diffuse layer, δ = kons.
C
dimana c = konsentrasi ion dalam air (bulk water)

336
Tabel Cation Exchange Capacity

Jenis Clay CEC, meq/l

Smectite 80 – 150

Illite 1 – 40

Chlorite 10 – 40

Kaolinite 3 – 15

Mixed-Layer
10 – 150
Illite/Smectite
337
Skema sederhana Pengaruh Mineral Konduktif
thd Resistivity

Air
------------------ ------ R’o << Ro

Mineral conductive Tanpa ada mineral konduktif


Solid

Hidrokarbon
---------------------- - R’t1 << Rt1
-

Contoh mineral konduktif: Pyrite, siderite, glauconite, mineral


lempung (clays) tertentu.
338
Pengaruh Shale/Clays thd resistivity
• Untuk suatu harga Rw, adanya shale atau clays
dapat menyebabkan Ro mengecil sehingga F
juga mengecil. Demikian juga bisa terjadi
terhadap Rt.
• Gambar F vs Rw dan (Rt/Ro) vs Sw (slide
berikutnya)

339
RESISTIVITY

Interval transit
time, Δt

340
Typical Low Resistivity Pay
Rt = 0.2 1 10

Perforated Interval

Perforated Interval:
3762’ – 3812’ & 3845’ – 3855’

Production Performance:
150 – 450 BOPD with
WC0 for  2 years.

341
Pengaruh mineral clay illite:

Clean sand
n = 2.0

342
343
344
• Persamaan untuk Shaly Formation

345
• Persamaan untuk Shaly Formation (lanjutan)

346
Selesai

347
348
Tugas baca
• Baca buku Amyx, Bass, and Whiting :
Chapter I halaman 1 s.d. halaman 22.

349
Diagenesa

350
Skema contoh batuan yang memiliki
rekahan (fractures)
Matrix Fracture

351
Kalibrasi interpretasi logs (Porositas)

352
Reservoir Homogeneity

353
Reservoir Heterogeneity

354
Topik-Topik yang Dibahas untuk Dipahami
• Perangkap hidrokarbon dan Batuan reservoir
• Pori-pori dan porositas
• Saturasi fluida
• Permeabilitas absolut
• Tekanan kapiler
• Permeabilitas efektif dan relatif
• Kompresibilitas
• Aliran fluida dalam batuan berpori
• Sifat kelistrikan (electrical properties) batuan
berpori yang berisi fluida. 355
Lingkungan Pengendapan
• Lingkungan pengendapan suatu batuan dapat
mempengaruhi ukuran dan susunan butir-
butir, ukuran pori-pori, dan porositas batuan
tersebut.
• Ada 4 jenis lingkungan pengendapan utama
yang umum dijumpai sebagai reservoir
hidrokarbon: fluvial, delta plain, delta front
dan prodelta.

356
Neutron Log
Alat log ini menggunakan sumber kimiawi di dalam alatnya, yaitu
americium & beryllium yang memancarkan neutron secara terus
menerus.

Kehilangan energi terbesar akibat benturan terjadi antara neutron


dan atom hydrogen. Konsentrasi atom hydrogen terbesar terutama
dimiliki oleh fluida dalam pori-pori. Benturan itu menimbulkan sinar
gamma yang dicatat oleh alat detector. Sinar gamma ini berkaitan
dengan besarnya porositas batuan.

Data log disajikan dalam skala porosity unit.


Dalam kalibrasi peralatan umumnya mengacu kepada jenis batuan
atau litologi (sandstone, limestone & dolomite) sehingga koreksi
pembacaan log harus sesuai dengan litologi-nya dan chart untuk
koreksinya harus sesuai perusahaan jasanya (misal Schlumberger
atau Halliburton). 357
Katagori Ukuran Butiran Pembentuk Batuan

358
359
Tampak muka Tampak samping

360
361
Model Pipa Kapiler Ideal dalam Silinder Batuan
(φ = porositas dan τ = tortuosity)

L L
Bila L’ = panjang
rata-rata tortuous
pipes, definisi
tortuosity: τ = L’/L

bundle of straight capillary bundle of tortous capillary tubes.


tubes, with varied sizes. (f 2< 1, τ > 1)
(f 1< 1, τ = 1)
Bila jumlah dan ukuran pipa
di model kanan = di model
kiri maka f2 = (L’/L)f1

Baca Amyx, Bass & Whiting halaman 111 – 114: Definisi τ = (L’/L)2
362