Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan gaya hidup berdampak terhadap perubahan pola penyakit yang terjadi
di masyarakat. Masalah kesehatan yang berhubungan dengan gaya hidup dan merupakan
masalah yang cukup serius terjadi di negara maju dan negara berkembang adalah
peningkatan jumlah kasus diabetes melitus (Meetoo & Allen,2010). Diabetes melitus
adalah penyakit metabolisme yang merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah di atas nilai normal. Penyakit
ini disebabkan gangguan metabolisme glukosa akibat kekurangan insulin baik secara
absolut maupun relatif. Diabetes melitus merupakan masalah besar di Indonesia. Ada 2
tipe diabetes melitus yaitu diabetes melitus tipe 1 / diabetes juvenil yang umumnya
didapat sejak masa kanak-kanak dan diabetes melitus tipe 2 yang didapat setelah dewasa
(Riskesdas Sumatera Barat, 2013).
Pada pasien diabetes juga mengalami perubahan perilaku karena penyakit
diabetes yang di alaminya. Perubahan perilaku bisa terjadi setiap saat, dan merupakan
proses yang dinamik serta tidak dapat dielakkan. Berubah berarti beranjak dari keadaan
yang semula. Tanpa berubah tidak ada pertumbuhan dan tidak ada dorongan. Namun
dengan berubah terjadi ketakutan, kebingungan dan kegagalan dan kegembiraan. Setiap
orang dapat memberikan perubahan pada orang lain. Merubah orang lain bisa bersifat
implicit dan eksplisit atau bersifat tertutup dan terbuka. Kenyataan ini penting khususnya
dalam kepemimpinan dan manajemen. Pemimpin secara konstan mencoba
menggerakkkan sistem dari satu titik ke titik lainnya untuk memecahkan masalah. Maka
secara konstan pemimpin mengembangkan strategi untuk merubah orang lain dan
memecahkan masalah.
Perilaku merupakan basil hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon
Skinner, cit. Notoatmojo 1993). Perilaku tersebut dibagi lagi dalam 3 domain yaitu
kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif diukur dari pengetahuan, afektif dari sikap
psikomotor dan tindakan (ketrampilan).

Page | 1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian perilaku ?
2. Apa saja Perubahan perilaku pada klien dengan DM?

Page | 2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perilaku
Perilaku merupakan basil hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon
Skinner, cit. Notoatmojo 1993). Perilaku tersebut dibagi lagi dalam 3 domain yaitu
kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif diukur dari pengetahuan, afektif dari sikap
psikomotor dan tindakan (ketrampilan).
B. Perubahan perilaku pada klien dengan DM
Perubahan perilaku dapat di lihat dari segi emosional meliputi sikap menyangkal,
obsesip, marah, dan takut. Bersikap emosional menghadapi penyakit serius memang
wajar, dan pada beberapa keadaan tertentu sikap ini bahkan dapat membantu atau bersifat
protektif.
1. Sik ap menyangkal
Banyak orang yang menyangkal sewaktu mengetahui sewaktu dirinya
menyandang diabetes dan tidak mau menerima kenyataan bahwa iya harus menjalani
kehidupan sebagai penyandang diabetes. Bahkan ada penyandang diabetes yang
memerlukan beberapa tahun sampai iya mau mengubah cara hidupnya. Mereka tidak
mau tahu bahwa banyaknya makanan dan kelebihan berat badan sangat berhubungan
dengan tingginya kadar glukosa darah, dan juga berhubungan dengan gejala-gejala
diabetes seperti mudah lelah, mudah infeksi dan lain-lain.
Sikap menyangkal dapat diatasi dengan membangun rasa percaya diri. Ada tiga
faktor penting untuk membangun rasa percaya diri :
a. Pengetahuan
Apa pengetahuan/ pengertian mengenai diabetes yang dialami.
b. Keterampilan
Kemampuan mengenai diabetes dari hari kehari.
c. Kemampuan untuk mengendalikan emosi

2. Obsesi
Obsesi adalah kebalikan dari sikap penyangkalan terhadap diabetes. Pasien yang
terobsesi biasanya sangat memperhatikan setiap hal mengenai diabetesnya. Ia akan
melakukan semua hal sesempurna mungkin, karena yakin bahwa dengan demikian

Page | 3
diabetesnya dapat dikendalikan dengan sempurna. Tetapi sayangnya manajemen
diabetes bukan suatu hal yang sempurna. Sifat selalu ingin sempurna mungkin tidak
akan berlangsung lama, sedangkan pengendalian diabetes harus berlangsung seumur
hidup. Suatu ketika sikap obsesip ini mungkin akan menyebabkan kelelahan dan
kekecewaan dan merasa bahwa diabetes telah membatasi segala segi kehidupan.

3. Marah
Keadaan yang emosional yang sering didapatkan pada penyandang diabetes
adalah marah. Mereka marah karena merasa hidupnya terganggu atau tertekan.
Mereka merasa dicabut kebebasannya karena banyak larangan dan keharusan
menyangkut kehidupannya sebagai penyandang diabetes. Mereka tidak dapat lagi
makan makanan kesukaannya, harus minum obat secara teratur, lengannya harus
ditusuk jarum suntik secara rutin untuk pemeriksaan darah atau suntik insulin.
Kemarahan ini sering dipicu oleh sikap lingkungannya yang tidak mendukung,
misalnya keluarga atau teman bersikap seperti polisi yang selalu mengawasi
makanannya, latihan jasmaninya, atau kadar glukosa darahnya. Ia merasa seprti
tahanan yang dikelilingi oleh para penjaga, bukan sebagai orang yang disayang.
Target kemarahannya sering diarahkan kepada dokter atau tenaga kesehatan
lainnya. Dokter dianggapnya memberi perintah atau larangan yang sulit dilakukan,
dokter terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mendengar segala keluhannya,
ahli gizi memberikan rancangan menu makan yang tidak sesuai selera.
Rasa marah ini wajar saja dirasakan karena merupakan respon emosi yang normal
pada penyandang diabetes. Misalnya anda marah karena dilarang makan makanan
yang lezat yang sangat anda sukai dan biasa anda makan sebelum menyandang
diabetes. Rasa marah tidak akan dirasakan seumur hidup yang penting adalah
bagaimana anda mengendalikan emosi dan mencari cara lain yang sesuai dengan
keinginan anda sehingga dapat mengurangi rasa marah. Bila dilarang makan jenis
makanan tertentu, pilihlah jenis makanan lainnya yang sesuai selera anda dan
dibolehkan. Setiap larangan pasti ada alternatif pilihan lainnya. Jadi anda berhak
memilih bukan ditentukan oleh orang lain.
4. Frustasi
Penyandang diabetes sering merasa frustasi karena setiap hari harus selalu
memikirkan diabetes. Mereka merasa lkebebasannya terganggu, kadang-kadang
glukosa darah tetap tinggi walaupun ia merasa sudah melakukan segala sesuatu

Page | 4
dengan benar. Mereka tidak dapat memperkirakan apa yang akan terjadi dikemudian
hari akibat diabetesnya. Salah satu contohnya pasien yang frustasi akan mengatakan “
saya telah melakukan segalanya dengan benar, tetapi gula darah tetap tinggi.
Sudahlah, saya menyerah “. Untuk menghindari frustasi coba analisis apa yang
menyebabkan glukosa darah naik seperti apakah ada makanan berlebih ? apakah lupa
latihan jasmani ? Bila ternyata semuanya sudah dilakukan dengan benar, coba dari
penyebab lainnya seperti apakah sudah minum obat ? apakah ada stress dipekerjaan ?
bila ternyata tetap tidak menemukan jawaban yang memuaskan, cobalah untuk
meminta pertolongan tenaga kesehatan.

5. Takut
Banyak hal yang menimbulkan ketakutan pada penyandang diabetes. Penyandang
diabetes akan lebih sering memikirkan kematian bila ada keluarganya yang
meninggal akibat komplikasi diabetes.
takut wajar dirasakan, bahkan dapat memperkuat motivasi untuk mengendalikan
diabetes dengan baik. Kadang-kadang penyandang diabetes mengalami stress yang
menimbulkan emosi berat, misalnya depresi, ansietas, atau kecemasan dan gangguan
makan. Gangguan ini dapat berlangsung lama terasa makin berat dan sering berulang.
Keadaan ini akan menyebabkan pengendalian menjadi lebih sulit.

6. Depresi
depresi tidak jelas factor penyebab dan factor pemicunya kalau pun ada maka respon
emosional yang toimbul selalu berlibahn dan berlangsung lama. Diagnosis depresi
ditegakkan menjadi 5, bila terdapat gejala khas berikut ini, selama 2 minggu atau
lebih :
a. Perasaan sedih (depressed mood) sepanjang hari, dan terjadi hamper setiap hari.
b. Sulit tidur atau tidur terlalu banyak yang terjadi hamper setiap hari.
c. Merasa lesu, lelah tidak bertenaga, hamper setiap hari.
d. Perasaan murung dan hilang setiap hari.
e. Tidak ada perhatian atau minat terdahap aktifitas sehari-hari, hamper setiap hari.
f. Merasa hidup ini tidak berharga, tidak berguna, merasa bersalah tanpa alas an
serta kehilangan rasa percaya diri, hampir setiap hari.
g. Pandangan suram dan pesimistik terhadap masa depan.
h. Tidak dapat berpikir/ berkonsentrasi/ mengambil keputusan hampir setiap hari.

Page | 5
i. Terus-menerus memikirkan kematian ingin mati. Atau ingin bunuh diri.

7. Ansietas/Kecemasan
Setiap penyandang diabetes umumnya mengalami rasa cemas terhadap segala hal
yang terjadi berhubungan dengan diabetesnya, misalnya: cemas terhadap kadar
glukosa darah yang tinggi atau cemas terhadap komplikasi akibat diabetesnya atau
lain-lain. Cemas yang timbul cukup berat, dan berlangsung lama (6 bulan).
Diagnosis kecemasan ditegakkan bila dalam waktu 6 bulan anda mengalami minimal
3 dari 6 keadaan berikut :
a. Rasa gelisah atau khawatir yang berlebihan, seperti mau mendapatkan
musibah.
b. Kewaspadaan berlebihan, sehingga mengganggu tidur, sukar konsentrasi.
c. Mudah lelah.
d. Merasa pikiran kosong
e. Mudah tersinggung
f. Otot-otot tegang tidak bisa santai.
Beberapa gejala diatas memang hampir mirip dengan gejala depresi selain itu, satyu
orang pasien dapat mengalami lebih dari satu jenis gangguan psikis. Terdapat
beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi ansietas antara lain :
a. Cobalah untuk identifikasi kecemasan yang anda alami
b. Carilah jalan keluar untuk mengatasi kecemasan tersebut.

8. Gangguan Makan
Penyandang diabetes biasanya memperhatikan makanan sehari-hari, terutama pada
wanita muda yang sangat memperhatikan berat badannya karena selalu ingin
langsing. Hal ini kadang-kadang terjadi berlebihan sehingga timbulnya gangguan
makan. Terdapat dua jenis gangguan makan, keduanya berpengaruh buruk bagi
penyandang diabetes :
a. Anoreksia nefrosa, pasien ini biasanya sangat membatasi jumlah makanan yang
dimakannya, sering sampai dibawah 1000 kalori perhari. Mereka cenderung
untuk melakukan olahraga yang berlebihan.
b. Bullimia nefrosa. Pasien ini biasanya makan dalam jumlah besar dalam satu kali
makan lalu berusaha mengeluarkan apa yang dimakannya dengan berbagai cara

Page | 6
memuntahkannya, menggunakan obat pencahar atau obat diuretika (obat untuk
memperbanyak kencing).
Gejala berikut ini tidak normal dan dapat dipakai sebagai pedoman kemungkinan
terjadinya gangguan makan :
1) Sangat khawatir mengalami kenaikan berat bada/menjadi gemuk, padahal saat
ini badan masih kurus. Badan <85% dari berat badan ideal.
2) Menganggap diri kegemukan padahal orang lain mengatakan anda kurus.
3) Olahraga berlebihan (meleboihi kebutuhan)
4) Tidak memperdulikan akibat buruk dari kondisi badan yang kurus.
5) Mempunyai kebiasaan makan banyak pada sekali makan yang terjadi minimal
2x seminggu selama 3 bulan.
6) Mempunyai kebiasaan obat pencahar/diuretika untuk menurunkan berat
badan, atau berusaha untuk memuntahkan makanan yang baru dimakan.

Berbeda dengan kegiatan diatas, gangguan makan dapat berupa : perasaan


tidak dapat berhenti makan dan tidak dapat mengatur jenis atau jumlah
makanan yang dimakan. Semua jenis gangguan makan tersebut dapat
berpengaruh buruk pada pengendalian glukosa darah, yang berakibat
timbulnya komplikasi diabetes akut maupun kronis.

C. PENGOBATAN DEPRESI
Ada beberapa cara/ usaha yang dapat dilakukan oleh diri sendiri. Usaha ini
mungkin agak berat untuk mulai melakukannya, tapi layak dicoba. Mulailah dengan hal
yang paling mudah dan paling sederhana :
a. Bangun pagi jam 07.00 setiap hari, lalu segera mandi.
b. Bila badan bertambah kurus selama mengalami depresi berli lah pakaian baru sesuai
ukuran tubuh anda saat ini.
c. Sering-seringlah menghubungi teman melalui telepon.
d. Jalan-jalan keluar rumah setiap hari.
e. Tambahkan pikiran positif kedalam pikiran anda : “saya tidak ingin mengalami
depresi selamanya. Pasti ada sesuatu cara yang dapat saya lakukan untuk
mengatasinya”.
Anda juga dapat melakukan cara yang sama dalam usaha mengendalikan glukosa darah.
Usaha ini terasa berat pada waktu anda mengalami depresi, tetapi yakinlah diri anda

Page | 7
bahwa mengendalikan gula darah mungkin dapat mengurangi depresi yang anda alami.
Setiap usaha, walaupun tampaknya sederhana akan dapat menolong. Misalnya :
a. Rencanakan untuk mengikuti jadwal (tepat waktu) untuk minum obat antidiabetes
atau insulin selama 3 hari mendatang.
b. Periksa kadar glukosa darah anda lebih teratur, baik dengan alat glucometer yang
anda miliki atau memeriksanya dilaboratorium langganan anda.
c. Mulai membuat jadwal kunjungan control ke dokter yang telah beberapa bulan tidak
anda lakukan.
d. Bagaimana jika anda mulai jalan-jalan sekitar rumah 3x seminggu mulai minggui
depan ?
Setiap aktifitas fisik dapat menolong atau memperbaiki situasi depresi yang anda alami.
Mungkin olahraga adalah pilihan terakhir yang ingin anda lakukan pada waktu anda
mengalami depresi, tetapi perlu diingat bahwa olahraga dapat memberikan beberapa
keuntungan antara lain :
a. Dapat memperbaiki pengendalian glukosa darah secara tepat.
b. Dapat mengaktifkan bahan kimia dari otak yang di sebut endorfrin yang
menimbulkan rasa segar.
c. Dapat meningkatkan rasa percaya diri.
d. Dapat menimbulkan rasa santai, dapat mengatasi gangguan tidur pikiran menjadi
jernih dan dapat berkonsentrasi.

BEROBAT KE DOKTER
Bila anda mengalami dpresi, maka anda dianjurkan untuk menemui dokter ahli. Pergi
kedokter kadang-kadang merupakan keputusan yang berat bila anda measa pesimis dan
menganggap tidak ada yang dapat menolong. Tetapi percayalah bahwa sebenarnya
mereka dapat membantu mengatasi masalah anda.
Anda sendiri yang dapat memutuskan kapan waktunya untuk menemui dokter. Tidak
perlu menunggu sampai terjadi gangguan psikis yang berat untuk menemui dokter.
Pilihlah dokter atau konsultan yang cocok untukl anda. Cocok disini yang dimaksud
adalah yang membuat anda comfortable untuk mengungkapkan segala keluhan, yang
mau dan punya waktu untuk mendengar keluhan anda, serta yang anda yakini
mempunyai keahlian untuk membantu mengatasi masalah depresi yang anda alamio.
Keahlian ini termasuk pengetahuan tentang diabetes, khususnya kondisi diabetes pada
diri anda.

Page | 8
Selain konseling kejiwaan, biasanya dokter akan memberikan obat antidepresi.
Terdapat beberapa macam obat anti depresi. Lama pengobatan pada setiap pasien
berbeda-beda (bersifat individual) dan sulit dibuat patokan secara umum.

Page | 9
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Para penderita diabetes mengalami perubahan perilaku dapat dilihat dari segi
emosional meliputi sikap menyangkal, obsesif, marah, dan takut semuanya tampak
negatif, tetapi sebenarnya tidak selalu demikian. Bersikap emosiaonal menghadapi
penyakit serius memang wajar dan pada beberapa keadaan tertentu sikap ini bahkan
dapat membantu atau bersifat protektif.
B. SARAN
Memang cukup berat untuk mengakui bahwa anda mengalami masalah gangguan
stres emosional. Yang terpenting adalah bila anda mengalami, segeralah minta
pertolongan karena jiwa atau kehidupan anda menjadi taruhan, maka mintalah
pertolongan untuk menyelamatkannya.

Page | 10
DAFTAR PUSTAKA

1. Suyono, slamet dkk.2009.pentalaksanaan DM terpadu.jakarta:Fkui


2. NO NAME.2013.diabetes melitus.diunduh dari
http://eprints.ums.ac.id/26437/3/BAB_I.pdf.di akses tanggal 18 september 2017-09-
18

Page | 11