Anda di halaman 1dari 9

A.

Menelusuri Konsep Keberagaman Islam dan Membangun Persatuan Umat dalam Keberagaman

Cermati teks berikut.

Seperti diketahui, Islam sebagai realitas religio-kultural berada pada dua korpus besar: Islam sebagai
korpus wahyu, dan Islam sebagai korpus historis. Islam pada korpus pertama adalah Islam ideal yang
berada dalam kerangka wahyu, bersifat normatif atau high tradition, sebagaimana dikandung dan
ditunjukkan oleh teks-teks Al-Quran; sedangkan Islam historis adalah Islam yang berada pada
kerangka local tradition sebagaimana yang dibaca, dimengerti, dipahami dan dipraktikkan oleh
umatnya dalam konteks waktu dan ruang yang berbeda-beda.

Bassam Tibi (1991) menyebut Islam wahyu sebagai models for reality dan Islam historis sebagai
models of reality. Bila pada model pertama Islam berisi daftar sejumlah doktrin dan dogma, maka
Islam pada model kedua berisi "kotak-kotak" multikultural yang menunjukkan realitas religio-kultural
yang penuh dengan keberagaman.

Delapan kotak (wilayah) sebagai cultural domains berikut menggambarkan wilayah yang disebut
realms of Islam: 1) Arab, 2) Persia, 3) Turki, 4) Anak Benua India, 5) Indo-Melayu, 6) Sudanic Afrika
(Afrika Hitam), 7) Sino Islamic, dan 8) Western Hemisphere (Barat).

Satu hal yang juga harus dipahami, bahwa keberagaman kultural tersebut sama sekali tidak dapat
dilepaskan dari pemahaman terhadap syariat Islam yang bersumber pada nash-nash keagamaan (Al-
Quran dan As-Sunnah) dan melahirkan keberagaman pemahaman serta praktik-praktik keagamaan
yang sarat dengan perbedaan antara umat Islam pada satu realm dengan umat Islam pada realm
lain. Dengan kata lain, secara religio-kultural pada diri Islam historis tidak hanya dijumpai
keberagaman yang disebut "multikultural", namun juga didapati keberagaman yang disebut
”multisyariat”

Kenyataannya, dalam waktu yang sangat panjang, keberagaman kultural dan syariat tersebut telah
melahirkan pelbagai konflik keumatan dan kemasyarakatan yang tak mudah diselesaikan. Lebih
ironis lagi, pelbagai bentuk khilafiah dan konflik tersebut --termasuk di Indonesia-- justru
memperoleh penguatan dari dan dalam proses-proses inkulturasi dan sosialisasi melalui kegiatan
politik, pendidikan, sosial-keagamaan serta sosial-budaya.

Umat Islam, sebagaimana umat-umat beragama lainnya yang telah dahulu lahir, terdiri dari beragam
mazhab dan keyakinan religius. Sebagai contoh, di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan
Muhammadiyah merupakan dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar yang memiliki
corak khas dalam keyakinan religiusnya.

Bagaimanakah corak keyakinan religius Anda? Apa cenderung ke NU, Muhammadiyah atau lainnya?
Atau mungkin tidak satu pun

Delapan kotak (wilayah) sebagai cultural domains berikut menggambarkan wilayah yang disebut
realms of Islam: 1) Arab, 2) Persia, 3) Turki, 4) Anak Benua India, 5) Indo-Melayu, 6) Sudanic Afrika
(Afrika Hitam), 7) Sino Islamic, dan 8) Western Hemisphere (Barat).
Satu hal yang juga harus dipahami, bahwa keberagaman kultural tersebut sama sekali tidak dapat
dilepaskan dari pemahaman terhadap syariat Islam yang bersumber pada nash-nash keagamaan (Al-
Quran dan As-Sunnah) dan melahirkan keberagaman pemahaman serta praktik-praktik keagamaan
yang sarat dengan perbedaan antara umat Islam pada satu realm dengan umat Islam pada realm
lain. Dengan kata lain, secara religio-kultural pada diri Islam historis tidak hanya dijumpai
keberagaman yang disebut "multikultural", namun juga didapati keberagaman yang disebut
”multisyariat”

Kenyataannya, dalam waktu yang sangat panjang, keberagaman kultural dan syariat tersebut telah
melahirkan pelbagai konflik keumatan dan kemasyarakatan yang tak mudah diselesaikan. Lebih
ironis lagi, pelbagai bentuk khilafiah dan konflik tersebut --termasuk di Indonesia-- justru
memperoleh penguatan dari dan dalam proses-proses inkulturasi dan sosialisasi melalui kegiatan
politik, pendidikan, sosial-keagamaan serta sosial-budaya.

183

keyakinan religius yang ada cocok dengan keyakinan religius Anda? Tidak perlu dituliskan, cukup
disimpan dalam pikiran Anda saja!

NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di


Indonesia. Kedua ormas ini memiliki kekayaan budaya yang sangat besar manfaatnya bagi bangsa
Indonesia. NU memiliki pondok-pondok pesantren yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia,
terutama di Pulau Jawa. Muhammadiyah memiliki sekolah-sekolah dari taman kanak-kanak hingga
perguruan tinggi di seluruh pelosok Indonesia. NU memiliki banyak kiai, sedangkan Muhammadiyah
memiliki banyak cendekiawan muslim. Namun, pada periode terakhir ini, NU pun memiliki banyak
sekolah dan cendekiawan muslim, sedangkan Muhammadiyah pun memiliki banyak pesantren dan
kiai. Kedua ormas ini memiliki banyak lembaga sosial. NU memiliki banyak lembaga pemberdayaan
umat dan lembaga rehabilitasi sosial, sedang Muhammadiyah memiliki banyak rumah sakit,
poliklinik, dan panti asuhan.

Dalam paham dan praktik keislaman, Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah ini memiliki
karakteristik yang berbeda, selain tentunya lebih banyak kesamaannya.

Coba Anda kumpulkan pelbagai informasi melalui studi eksplorasi mengenai karakteristik
keberagamaan NU dan Muhammadiyah, baik kesamaan maupun perbedaan keduanya. Tunjukkan
sikap akademik Anda melalui esai singkat! Lakukan hal yang sama terhadap aliran / organisasi
keagamaan (Islam) lainnya!

Selain NU dan Muhammadiyah, di Indonesia banyak ormas Islam lainnya. Ada ormas-ormas yang
bertarap nasional (seperti NU dan Muhammadiyah), dan ada juga yang bertarap regional (hanya di
daerah tertentu saja). Coba Anda diskusikan dengan kawan-kawan Anda dari pelbagai daerah,
ormas-ormas yang Anda dan kawan Anda kenali. Dalam pergumulan bermasyarakat, secara historis
di antara penganut masing-masing ormas (dengan ciri khas keyakinan religiusnya) pernah terjadi
gesekan pemikiran, mulai dari debat hingga saling menyalahkan dan saling merendahkan pemikiran
ormas Islam pesainganya. Jamaah ormas Islam A bergesekan dengan jamaah dari ormas Islam B,
bergesekan dengan jamaah dari ormas Islam C, dan seterusnya.
Sebagian umat Islam kalau salat selalu memulai dengan membaca ushalli (yakni niat salat yang agak
dikeraskan / diucapkan). Misalnya, ushallī fardha zhuhri arba‟a raka‟ātin mustaqbilal ka‟bah (qiblati)
lillāhi ta‟āla Artinya, Saya mendirikan salat fardu Zuhur empat rakaat menghadap kakbah / kiblat
(tetapi hati menghadap Allah) dengan niat lillāhi ta`āla (karena dan untuk Allah Taala), kemudian
Takbiratul iḫram (membaca Allāhu Akbar). Adapun sebagian yang lain memulai salat tanpa membaca
ushalli dan langsung Takbiratul Iḫram. Pada masa lalu umat Islam yang merupakan jamaah dalam
satu masjid yang sama sering menonjolkan kekhasan keyakinan dan amalan religius masing-masing
sehingga menimbulkan gesekan-gesekan.

Secara berangsur-angsur gesekan-gesekan keyakinan religius di antara ormas-ormas Islam menjadi


hilang. Faktor penyebabnya bisa karena kesadaran masing-masing orang dalam ormas yang berbeda
untuk membina kerukunan antara umat dan antar-umat beragama dalam rangka membangun
persatuan bangsa, atau mungkin juga karena faktor-faktor lainnya. Dengan terbukanya informasi
dan komunikasi, juga dengan semakin lancarnya tranportasi antardaerah dan antarnegara, maka
arus masuk keyakinan religius yang berbeda ke wilayah Indonesia pun menjadi semakin mudah.
Keberagaman mazhab masyarakat muslim Indonesia, disebabkan faktor masyarakat bersekolah ke
negeri muslim lainnya atau karena faktor keberhasilan dakwah keyakinan-keyakinan religius yang
berbeda sehingga menganut keyakinan religius dari negeri-negeri muslim lain.

Karena faktor promosi masyarakat muslim dunia atau karena pemikiran asli kaum muslimin
Indonesia, atau gabungan dari keduanya menjadikan masyarakat muslim Indonesia memberikan
reaksi atas dakwah mazhab baru ini. Gerakan menolak mazhab baru

ini sejak awal Revolusi Islam Iran, bahkan benih-benihnya jauh sebelum Revolusi Islam Iran, hingga
sekarang terus berlangsung dan tidak pernah surut. Gerakan mazhab baru, misalnya, berupa
penutupan paksa Majelis-majelis taklim dan lembaga-lembaga pendidikan Islam Syiah. Mengapa
masyarakat Indonesia menolak mazhab Syiah? Tentu tidak semua ajaran Syiah ditolak. Keyakinan
religius yang bersumber dari Syiah ada yang tidak ditolak. Prof. Dr. M. Amien Rais ketika menjadi
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pernah melontarkan gagasan zakat profesi 20%.
Gagasan ini terpengaruh oleh ajaran khumus (zakat 20%) dari Islam Syiah, walaupun dasar-dasar
pemikirannya bisa digali dari Al-Quran.

Selain menolak Islam Syiah, masyarakat muslim Indonesia pun menolak Ahmadiyah dan Islam Liberal
(terutama JIL, Jaringan Islam Liberal). Ahmadiyah dinilai sudah keluar dari Islam karena memiliki
keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad saw. muncul nabi baru yakni Mirza Gulam Ahmad
(Pakistan). Setelah itu dimungkinkan akan datang lagi nabi lainnya. Adapun menurut keyakinan
religius kaum muslimin Indonesia, Nabi Muhammad saw. adalah penutup para nabi (nabi terakhir).
Demikian juga JIL dinilai sudah keluar dari Islam karena memiliki keyakinan bahwa semua agama
adalah sama. Adapun menurut keyakinan religius kaum muslimin, hanya Islam-lah satu-satunya
agama yang benar dan diridai oleh Allah. Implikasinya, JIL antara lain membolehkan pernikahan
antar-agama. Adapun menurut keyakinan religius kaum muslimin, wanita muslimah tidak boleh
dinikahi kecuali oleh lelaki muslim. Pria muslim boleh menikah dengan wanita dari ahli kitab dengan
persyaratan yang sangat ketat.

Amati foto di atas. Melihat keragaman mazhab dan keyakinan religius, para ulama dan cendekiawan
muslim menggagas perlunya kesatuan umat, yang lebih dikenal dengan “ukhuwah islamiah”
(Persaudaraan Muslim).
Konsep Islam tentang Keragaman dalam Keberagaman

Dalam kaitannya dengan agama, Islam merupakan petunjuk bagi manusia menuju jalan yang lurus,
benar dan sesuai dengan tuntunan kitab suci Al Qur’an yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad
SAW. Kalau dikaitkan dengan konteks perubahan zaman sekarang, bagaimana Islam memandang
keberagaman/pluralitas yang ada dinegeri ini, bahkan di dunia. Sebagaimana yang telah disebutkan
berkali-kali oleh Allah SWT didalam Al Qur’an. Islam sangat menjunjung keberagaman/pluralitas,
karena keberagaman/pluralitas merupakan sunnatullah, yang harus kita junjung tinggi dan kita
hormati keberadaannya.

Seperti dalam (Qs Al Hujurat:13), Allah SWT telah menyatakan” Wahai para manusia, sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki, dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-
bangsa, dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal”. Dari ayat Al Qur’an tadi, itu menunjukan
bahwa Allah sendiri lah yang telah menciptakan keberagaman, artinya keberagaman didunia ini
mutlak adanya.

Dengan adanya keberagaman ini, bukan berarti menganggap kelompok, madzab, ataupun
keberagaman yang lain sejenisnya menganggap kelompoknyalah yang paling benar. Yang harus kita
ketahui disini adalah, keberagaman sudah ada sejak zaman para sahabat, yaitu ketika Nabi wafat,
para sahabat saling mengklaim dirinyalah yang pantas untuk menjadi pengganti Nabi.

Ajaran islam mengutamakan persaudaraan atau ukhuwwah dalam menyikapi keberagaman, istilah
Ukhuwwah dijelaskan dalam Qs. Al-Hujurat, 49:10,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”

Ketegasan syariah islam memberikan gambaran betapa perhatiannya Islam terhadap permasalahan
keberagaman, dengan mengutamakan persaudaraan, keharmonisann, dan perdamaian. Beberapa
hadist memeberikan perumpaan bahwa sesama muslim diibaratkan satu tubuh,

“perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama
tubuh, jika satu tubuh anggota sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan
demam” (HR.Muslim)
Perumpamaan yang lain diibaratkan bangunan;

“orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan
sebagian yang lain” (sahahih Muslim no.4684)

Penyebab munculnya perbedaan aliran antara lain;

1) Adanya pergolakan politik dalam negeri,

2) Mengalirnya pemikiraan non-muslim,

3) Akibat proses perubahan kultural dan politik, dari masyarakat tradisional ke modern dan dari
politik regional ke dunia. (Adeng, 2008)

Islam memberikan beberapa prinsip dasar dalam menyikapi dan memahami pruralisme ini.

1) Prinsip keberagamaan yang lapang

Salah satu masaah yang serius dalam menyikapi keberagamaan adalah masalah klaim kebenaran.
Padahal untuk mencapai kepasrahan yang tulus kepada tuhan (makna generik dari kata islam)
diperlukan suatu pemahaman yang sadar dan bukan hanya ikut-ikutan. Oleh sebab itu sikap
kelapangan dalam mencapai kebenaran ini bisa dikatakan sebagai makna terdalam keislaman itu
sendiri. Diceritakan dalam hadist nabi bersabda kepada sahabat Utsman bin Mazhun “ Dan
sesungguhnya sebaik-baik agama disisi Allah adalah semangat pencarian kebenaran yang lapang (Al
Hanifiyah Al Samhah) “.

2) Keadilan yang obyektif

Dalam konteks pruralisme, Keadilan mencakup pandangan maupun tindakan kita terhadap pemeluk
agama lain. Kedangkalan dalam tindakan seringkali karena kita tidak suka dan menganggap orang
lain sebagai bukan bagian dari kelompok kita (outsider) maka kita bisa berbuat tidak adil terhadap
mereka dalam memutuskan hukum, interkasi sosial maupun hal-hal lain.

Islam mengajarkan bahwa kita harus menegakkan keadilan dalam sikap dan pandangan ini dengan
obyektif terlepas dari rasa suka atau tidak suka (like and dislike). Seperti yang diterangkan dalam QS.
Al-Maidah ayat 8,

“hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran)
karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum mendorong
kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena adil itu lebih dekat kepada taqwa”
3) Menjauhi kekerasan dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain termasuk ketika melakukan
dakwah

“Serahkanlah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan jalan bijaksana dan pelajaran yang baik dan
bantahlahlah mereka dengan lebih baik” QS. An Nahl ayat 12

“Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada
jalan yang sesat” QS. Al Baqoroh ayat 256

Dalam berdawah kita harus mengutamakan dialog, kebijaksanaan dan cara-cara argumentatif
lainnya (interfaith dialogue). Tiap agama mempunyai logikanya sendiri dalm memahami tuhan dan
firmannya, kedua bahwa dialog bukanlah dimaksudkan untuk saling menyerang tetapi adalah upaya
untuk mencapai kesepahaman, dan mempertahankan keyakinan kita

“Katakanlah olehmu (wahai Muhammad) wahai Ahli kitab marilah menuju ketitik pertemuan antara
kami dan kamu” QS. Ali Imran ayat 64

4) Menjadikan keragaman agama tersebut sebagai kompetisi positif dalam kebaikan

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang mereka menghadap kepadanya, maka berlomba-
lombalah dalam berbuat kebajikan” QS. Al Baqarah ayat 148

Ketika ada pemeluk agama lain berbuat amal sosial dengan semisal melakukan advokasi terhadap
masyrakat tertindas seperti kaum buruh, pelecehan seksual dan sebagainya maka kita tidak boleh
begitu mencurigainya sebagai gerakan pemurtadan atau bahkan berusaha menggagalkannya tetapi
hal tersebut haruslah menjadi pemacu bagi kita kaum muslimin untuk berusaha menjadi lebih baik
dari mereka dalam hal amal sosial.

Kalau keempat prinsip ini bisa kita pegang Insya Allah akan tercipta hubungan yang lebih harrmonis
antar umat beragama, hubungan yang dilandasi oleh sikap saling menghargai, menghormati dan
saling membantu dalam kehidupan sosial. Sehingga kehadiran agama (khususnya islam) tidak lagi
menjadi momok bagi kemanusiaan tetapi malah menjadi rahmat bagi keberadaan tidak hanya
manusia tetapi sekaligus alam semsta ini. ( Wallahu A’lam Bishawab). Manusia Terbaik Adalah Yang
Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Agama sebagai Salah Satu Parameter Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Adapun Islam dalam menaggapi perbedaan dalam persatuan dan kesatuan bangsa adalah:
Konsep Toleransi dalam Islam (Kebebasan Beragama)

Radikalisme Islam mendorong Barat memelihara isu “:teroris Islam” agar dunia waspada dan ikut
memberantas kelompok ekstrimis Islam. Dan menghapus citra Islam dengan mengatakan Islam
adalah agama yang intoleransi. Islam adalah agama yang sangat toleransi. Jelas ini tidak pantas jika
Islam dituduh agama yang ekstrim dan radikal. Apalagi dengan mengatakan Al Qur’an dan Nabi
Muhammad sebagai inti dari semua teror.

Islam mengakui keberagaman ada, termasuk keberagaman dalam agama. Dalam Islam seorang
muslim dilarang memaksa orang lain untuk meninggalkan agamanya dan masuk Islam dengan
terpaksa, karena Allah telah berfirman:

‫الدين ف إكراه ال‬

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).”(QS. Al Baqarah: 256)

Sejarah telah mengabadikan kepemimpinan Rosulullah saw dan sikap tasamuh beliau dalam
memperlakukan penduduk Madinah yang plural. Seperti yang tertulis dalam “Piagam Madinah”
(shahifah madinah). Diantara isi piagam disebutkan tentang adanya kesepakatan, bahwa jika ada
penyerangan terhadap kota Madinah atau penduduknya, maka semua ahlu shahifah (yang terlibat
dalam Piagam Madinah) wajib mempertahankan dan menolong kota Madinah dan penduduknya
tanpa melihat perbedaan agama dan qabilah

Batasan toleransi dalam perspektif islam

Seperti yang terjadi di masa sahabat, saat seorang munafik yang bernama Musailah Al Kadzdzab
(dan pengikutnya) mengaku bahwa dirinya nabi setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Melihat hal
tersebut para sahabat tidak tinggal diam dan membiarkan pengikut Musailamah terus menyebarkan
ajaran sesatnya. Karena disitu ada mashlahah untuk menjaga agama (hifdz al din) yang merupakan
faktor dharury (primer) dalam kehidupan umat Islam. Allah telah berfirman dengan tegas dan jelas
bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para Nabi dan tidak ada Nabi setelah Nabi
Muhammad.

‫عليما شء بكل هللا وكان النبيي وخاتم هللا رسول ولكن رجالكم من أحد أبا محمد كان ما‬

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. Al
Ahzab: 40)

Toleransi semacam ini jelas tidak dibenarkan dalam agama Islam. Karena seorang yang mengaku
muslim berarti meyakini dan bersakasi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad
saw adalah utusan Allah dan meyakini bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad saw.
Al Asas al fikri li tasamuh al muslimin

Yusuf Qordhowi dalam kitabnya fi fiqh al aqliyat al muslimah menyebutkan beberapa faktor toleransi
muslim terhadap non-muslim:

a. Nilai kemanusiaan yang mulia.

‫آدم بن كرمنا ولقد‬

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.”(QS. Al Isra’: 70)

b. Perbedaan yang dimuka bumi ini adalah sesuai dengan kehendak Allah Sang Maha Pencita alam
semesta dan isinya.

‫مختلفي يزالون وال واحدة أمة الناس لجعل ربك شاء ولو‬

“Jikalau Tuhan-mu mengkehendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka
senantiasa berselisih pendapat.”(QS. Hud: 118)

c. Perbedaan tersebut adalah menjadi pertanggung jawaban antara dia dan Allah di akhirat nanti.

‫تختلفون فيه كنتم فيما القيامة يوم بينكم يحكم هللا تعملون بما أعلم هللا فقل جادلوك وإن‬

“Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah, “Allah lebih mengetahui tentang apa yang
kamu kerjakan” Allah akan mengadilindiantara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu
dahulu selalu berselisih”.(QS. Al Hajj: 68-69)

d. Allah telah memerintahkan untuk berbuat adil dan berakhlak mulia.

‫تعدلوا أال عىل قوم شنآن يجرمنكم وال بالقسط شهداء هلل قوامي كونوا آمنوا الذين أيها يا‬

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.”(QS. Al Ma’idah: 8)
Implementasi Keragaman dalam Keberagaman

Mencermati berbagai ulasan mengenai keragaman dan keberagaman dalam perspektif islam dan
juga agama sebagai salah satu parameter persatuan dan kesatuan bangsa diatas, maka langkah
konkrit untuk menyikapi itu semua adalah membangun tali silaturrahmi yang mengedepankan
toleransi intern umat islam.

“siapa yang senang diperluas rezekinya dan diperpanjang umurnya maka hendaklah dia
bersilaturrahmi” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan terjalinnya tali silaturrahmi maka banyak peluang kerja sama dalam berbagai aspek
kehidupan dan janii Allah melaui sabda Nabi SAW, akan mengundang rezki material dan spiritual.
Maka dari itu sesama muslim dilarang untuk memutus tali silaturrahmi, jika terjadi pertikaian harus
segera berdamai.

Jalinan silaturrahmi dengan mengedepankan toleransi tidak hanya saat berhubungan dengan antar
umat beragama saja, namun bagaimana sesama muslim mampu hidup damai, rukun, saling
menghormati antar golongan keislaman berbeda mahdzab. Istilah toleransi maka menghargai setiap
pendapat maupun perbedaan hal yang dimiliki oleh seseorang maupun kelompok.

“hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena boleh
jadi) mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula
wantita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita (yang
diperolokkan) lebih baik daripada wanita-wanita (yang mengolok-olok0 dan janganlah kamu mencela
dirimu sendiri dan janganlah kamu memanggil dengan gelar-gelar yang buru. Seburuk-buruk
panggilan ialah panggilan yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka
mereka itulah orang-orang yang lalim” Q.S. Al-Hujurat ayat 11

Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab rapuhnya tali persatuan dan kesatuan di kalangan
umat antara lain (Sudarto,2014;100):

1) Munculnya sifat kecurigaan/ prasangka buruk yang berlebihan terhadap kelompok lain

2) Munculnya interpretasi yang juga menjadi penyebab adanya kecurigaan tanpa bukti yang
berujung pada konflik

3) Mencari kejelekan-kejelekan orang lain

“hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik padanya. Dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang” Q.S. Al-Hujurat ayat 12

Oleh karena itu, untuk mencegah adanya perpecahan dalam persatuan dan kesatuan bangsa maka
kita harus menjunjung tinggi toleransi dan senantiasa menjaga tali silaturrahmi dalam berbagai
aspek kehidupan. Berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk mengharapkan ridho-Nya.

Anda mungkin juga menyukai