Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An “L” DENGAN DIAGNOSA

“Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)“


PERAWATAN PARKIT
RS. BHAYANGKARA MAKASSAR

Oleh
17 Wa Ode Srirahayu
144 2017 0016

CI Lahan CI Institusi

( ) ( )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
LAPORAN PENDAHULUAN
“Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)“

Oleh
Wa Ode Srirahayu
144 2017 0016

CI Lahan CI Institusi

( ) ( )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
KONSEP DASAR PENYAKIT

A. KONSEP MEDIS
1. Pengertian
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran
pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang
menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan
retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan.
ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau
lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga
telinga tengah dan pleura. ISPA umumnya berlangsung selama 14 hari.
Yang termasuk dalam infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek
biasa, sakit telinga, radang tenggorokan, influenza, bronchitis, dan juga
sinusitis. Sedangkan infeksi yang menyerang bagian bawah saluran nafas
seperti paru itu salah satunya adalah Pneumonia.(WHO)
ISPA adalah timbulnya infeksi di saluran nafas yang bersifat akut
(awitan mendadak) yang disebabkan masuknya mikroorganisme (virus,
bakteri, parasit, jamur). Secara anatomis penyakit ini dibedakan ISPA
bagian atas dan ISPA bagian bawah. Batas antara kedua kelainan ini
terletak di laring. Infeksi yang mengenai laring ke atas disebut sebagai
ISPA bagian atas, sedangkan bila mengenai dibawah laring disebut
sebagai ISPA bagian bawah.
2. Etiologi
a. Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA
diantaranya bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza
yang di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran
pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung.
b. Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia
dibawah 2 tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum
sempurna.
c. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko
serangan ISPA.
d. Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian
ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi
kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.
e. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara
pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat
kesaluran pernapasannya.
f. Faktor Pencetus ISPA
1) Usia
Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita
atau terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan
anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih
rendah.
2) Status Imunisasi
Anak dengan status imunisasi yang lengkap, daya tahan tubuhnya
lebih baik dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya
tidak lengkap.
3) Lingkungan
Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di
kota-kota besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya
penyakit ISPA pada anak.
g. Faktor Pendukung terjadinya ISPA
1) Kondisi Ekonomi
Keadaan ekonomi yang belum pulih dari krisis ekonomi yang
berkepanjangan berdampak peningkatan penduduk miskin disertai
dengan kemampuannya menyediakan lingkungan pemukiman yang
sehat mendorong peningkatan jumlah Balita yang rentan terhadap
serangan berbagai penyakit menular termasuk ISPA. Pada akhirnya
akan mendorong meningkatnya penyakit ISPA dan Pneumonia
pada Balita.
2) Kependudukan
Jumlah penduduk yang besar mendorong peningkatan jumlah
populasi Balita yang besar pula. Ditambah lagi dengan status
kesehatan masyarakat yang masih rendah, akan menambah berat
beban kegiatan pemberantasan penyakit ISPA.
3) Geografi
Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki potensi daerah endemis
beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman
bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh geografis dapat mendorong
terjadinya peningkatan kaus maupun kemaian penderita akibat
ISPA. Dengan demikian pendekatan dalam pemberantasan ISPA
perlu dilakukan dengan mengatasi semua faktor risiko dan faktor-
faktor lain yang mempengaruhinya.
4) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
PHBS merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA.
Perilaku bersih dan sehat tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya
dan tingkat pendidikan penduduk. Dengan makin meningkatnya
tingkat pendidikan di masyarakat diperkirakan akan berpengaruh
positif terhadap pemahaman masyarakat dalam menjaga kesehatan
Balita agar tidak terkena penyakit ISPA yaitu melalui upaya
memperhatikan rumah sehat dan lingkungan sehat.
5) Lingkungan dan Iklim Global
Pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, gas
buang sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah
merupakan ancaman kesehatan terutama penyakit ISPA. Demikian
pula perubahan iklim gobal terutama suhu, kelembapan, curah
hujan, merupakan beban ganda dalam pemberantasan penyakit
ISPA.
Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap
kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi
kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara
pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat
kesaluran pernapasannya. Kelainan pada sistem pernapasan terutama
infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan ibro kistik,
menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri. Infeksi
saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus,
sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim
dingin.
Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan
musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin .
3. Patofisiologi
Dalam proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi (pernapasan) di
dalam tubuh terdapat tiga tahapan yakni ventilasi, difusi, dan transportasi.
a. Ventilasi
Proses ini merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari
atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer, dalam proses
ventilasi ini terdapat beberapa hal yang mempengaruhi, di antaranya
adalah perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru. Semakin tinggi
tempat maka tekanan udara semakin rendah.
Demikian sebaliknya, semakin rendah tempat tekanan udara
semakin tinggi. Hal lain yang mempengaruhi proses ventilasi
kemampuan thoraks dan paru pada alveoli dalam melaksanakan
ekspansi atau kembang kempisnya, adanya jalan napas yang dimulai
dari hidung hingga alveoli yang terdiri atas berbagai otot polos yang
kerjanya sangat dipengaruhi oleh sistem saraf otonom, terjadinya
rangsangan simpatis dapat menyebabkan relaksasi sehingga dapat
terjadi vasodilatasi, kemudian kerja saraf parasimpatis dapat
menyebabkan konstriksi sehingga dapat menyebabkan vasokonstriksi
atau proses penyempitan, dan adanya refleks batuk dan muntah juga
dapat mempengaruhi adanya proses ventilasi, adanya peran mukus
ciliaris yang sebagai penangkal benda asing yang mengandung
interveron dapat mengikat virus.
Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah komplians
(complience) dan recoil yaitu kemampuan paru untuk berkembang
yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya surfaktan
yang terdapat pada lapisan alveoli yang berfungsi untuk menurunkan
tegangan permukaan dan masih ada sisa udara sehingga tidak terjadi
kolaps dan gangguan thoraks atau keadaan paru itu sendiri. Surfaktan
diproduksi saat terjadi peregangan sel alveoli, surfaktan disekresi saat
klien menarik napas, sedangkan recoil adalah kemampuan untuk
mengeluarkan CO2 atau kontraksi atau menyempitnya paru. Apabila
complience baik akan tetapi recoil terganggu maka CO2 tidak dapat
keluar secara maksimal.
Pusat pernapasan yaitu medula oblongata dan pons pun dapat
mempengaruhi proses ventilasi, karena CO2 memiliki kemampuan
merangsang pusat pernapasan. Peningkatan CO2 dalam batas 60
mmHg dapat dengan baik merangsang pusat pernapasan dan bila
pCO2 kurang dari sama dengan 80 mmHg maka dapat menyebabkan
depresi pusat pernapasan.
b. Difusi Gas
Merupakan pertukaran antara oksigen alveoli dengan kapiler
paru dan CO2 kapiler dengan alveoli. Dalam proses pertukaran ini
terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya, di antaranya :
1) pertama, luasnya permukaan paru.
2) Kedua,tebal membran respirasi/permeabilitas yang terdiri atas
epitel alveoli dan interstisial keduanya. Ini dapat mempengaruhi
proses difusi apabila terjadi proses penebalan.
3) Ketiga, perbedaan tekanan dan konsentrasi O2, hal ini dapat terjadi
seperti O2 dari alveoli masuk ke dalam darah oleh karena tekanan
O2 dalam rongga alveoli lebih tinggi dari tekanan O2 dalam darah
vena pulmonalis (masuk dalam darah secara berdifusi) dan pCO2
dalam arteri pulmonalis juga akan berdifusi ke dalam alveoli
4) Keempat, afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan
saling mengikat Hb
c. Transportasi Gas
Merupakan transportasi antara O2 kapiler ke jaringan tubuh
dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler. Pada proses transportasi, O2 akan
berikatan dengan Hb membentuk Oksihemoglobin (97%) dan larut
dalam plasma (3%). Kemudian pada transportasi CO2 akan berikatan
dengan Hb membentuk karbominohemoglobin (30%), dan larut dalam
plasma (5%), kemudian sebagian menjadi HCO berada pada darah
(65%).
Pada transportasi gas terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi, di antaranya curah jantung (cardiac output ) yang
dapat dinilai melalui isi sekuncup dan frekuensi denyut jantung. Isi
sekuncup ditentukan oleh kemampuan otot jantung untuk berkontraksi
dan volume cairan. Frekuensi denyut jantung dapat ditentukan oleh
keadaan seperti over load atau beban yang dimiliki pada akhir diastol.
Pre load atau jumlah cairan pada akhir diastol, natrium yang paling
berperan dalam menentukan besarnya potensi aksi, kalsium berperan
dalam kekuatan kontraksi dan relaksasi. Faktor lain dalam menentukan
proses transportasi adalah kondisi pembuluh darah latihan/olahraga
(exercise ), hematokrit (perbandingan antara sel darah dengan darah
secara keseluruhan atau HCT/PCV), eritrosit, dan Hb.(Hidayat A. Aziz
Alimul, 2006)
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
1) Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum
menunjukkan reaksi apa-apa.
2) Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa.
Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan
sebelumnya rendah.
3) Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala
penyakit,timbul gejala demam dan batuk.
4) Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat yaitu :
a) Dapat sembuh sempurna.
b) Sembuh dengan atelektasis.
c) Menjadi kronos.
d) Meninggal akibat pneumonia.
4. Manifestasi Klinis
a. Batuk, pilek dengan nafas cepat atau sesak nafas
Pada umur kurang dari 2 bulan, nafas cepat lebih dari 60 x / mnt.
Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam,
adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan
membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau
bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts;
1990; 451).
b. Demam.
Pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika
anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali
demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh
bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.
c. Meningismus.
Adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens,
biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya
adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk,
terdapatnya tanda kering dan brudzinski.
d. Anorexia.
Biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan
menjadi susah minum dan bahkan tidak mau minum.
e. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa
selama bayi tersebut mengalami sakit.
f. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi
saluran pernafasan akibat infeksi virus.
g. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena
adanya lymphadenitis mesenteric.
h. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit
akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
i. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran
pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya
infeksi saluran pernafasan.
j. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak
terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).
5. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan
adalah :
a. Kultur
Kultur tenggorok dapat dilakukan untuk mengidentifikasi organisme
yang menyebabkan faringitis.
b. Pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah
meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai
dengan adanya thrombositopenia
c. Biopsi
Prosedur biopsi mencakup tindakan mengeksisi sejumlah kecil
jaringan tubuh, dilakukan untuk memungkinkan pemeriksaan sel-sel
dari faring, laring, dan rongga hidung. Dalam tindakan ini mungkin
saja pasien mendapat anastesi lokal, tropical atau umum tergantung
pada tempat prosedur dilakukan.
d. Pemeriksaan pencitraan
Termasuk di dalamnya pemeriksaan sinar-X jaringan lunak, CT Scan,
pemeriksaan dengan zat kontras dan MRI (pencitraan resonansi
magnetik). Pemeriksaan tersebut mungkin dilakukan sebagai bagian
integral dari pemeriksaan diagnostik untuk menentukan keluasan
infeksi pada sinusitis atau pertumbuhan tumor dalam kasus tumor
6. Penatalaksanaan
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus
yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan
program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan
antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit
ISPA) .
Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :
a. Upaya pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
1) Mengusahakan Agar Anak Mempunyai Gizi Yang Baik
a) Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah
makanan yang paling baik untuk bayi.
b) Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.
c) Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup
yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat,
lemak, vitamin dan mineral.
d) Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal.
Protein misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu,
karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau
minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buah-
buahan.
e) Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk
mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu
diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.
Dinkes DKI (2005)
2) Mengusahakan Kekebalan Anak Dengan Imunisasi
Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu
mendapatkan imunisasi yaitu DPT (Depkes RI, 2002). Imunisasi
DPT salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis
yang salah satu gejalanya adalah infeksi saluran nafas (Gloria
Cyber Ministries, 2001).
3) Menjaga Kebersihan Perorangan Dan Lingkungan
Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi
pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya perilaku yang tidak
mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit.
Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah
sehat, desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).
4) Pengobatan Segera
Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua
tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada
tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang
mengandung vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan
makanan yang terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus
segera dibawa ke dokter (PD PERSI, 2002)
b. Pengobatan dan perawatan
Prinsip perawatan ISPA antara lain :
1) Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
2) Meningkatkan makanan bergizi
3) Bila demam beri kompres dan banyak minum
4) Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung
dengan sapu tangan yang bersih
5) Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis
tidak terlalu ketat.
6) Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila
anak tersebut masih menetek
c. Pengobatan antara lain :
1) Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol atau
dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus
segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk
waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan
dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan
kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air
(tidak perlu air es).
2) Mengatasi batuk. Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu
ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur
dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.
3) Pemberian makanan. Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-
sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya,
lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu
tetap diteruskan.
4) Pemberian minuman. Usahakan pemberian cairan (air putih, air
buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan
membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan
menambah parah sakit yang diderita.
5) Lain-lainnya. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut
yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.
Jika pilek, bersihkan hidung , yang berguna untuk mempercepat
kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
7. Komplikasi
Adapun komplikasinya adalah
a. Meningitis
b. OMA
c. Mastoiditis
d. Kematian
A. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian (Menurut Khaidir Muhaj (2015):
a. Identitas Pasien
1) Umur
Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak
usia dibawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa anak pada usia muda akan lebih
sering menderita ISPA daripada usia yang lebih lanjut(Anggana
Rafika, 2014).
2) Jenis kelamin
Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun,
dimana angka kesakitan ISPA anak perempuan lebih tinggi
daripada laki-laki di negara Denmark (Anggana Rafika, 2014).
3) Alamat
Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota
keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk
ISPA. Penelitian oleh Kochet al (2003) membuktikan bahwa
kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi secara bermakna
prevalensi ISPA berat .Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA
dan penyakit gangguan pernafasan lain adalah rendahnya kualitas
udara didalam rumah ataupun diluar rumah baik secara biologis,
fisik maupun kimia. Adanya ventilasi rumah yang kurang
sempurna dan asap tungku di dalam rumah seperti yang terjadi di
Negara Zimbabwe akan mempermudah terjadinya ISPA anak
(Anggana Rafika, 2014)
4) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama:
Klien mengeluh demam
b) Riwayat penyakit sekarang:
Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit
kepala, badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan
menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan.
c) Riwayat penyakit dahulu:
Klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang
d) Riwayat penyakit keluarga:
Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami
sakit seperti penyakit klien tersebut.
e) Riwayat sosial:
Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang
berdebu dan padat penduduknya
b. Pemeriksaan Persistem
1) B1 (Breath) :
a) Inspeksi:
(1) Membran mucosa hidung faring tampak kemerahan
(2) Tonsil tanpak kemerahan dan edema
(3) Tampak batuk tidak produktif
(4) Tidak ada jaringna parut pada leher
(5) Tidak tampak penggunaan otot- otot pernapasan
tambahan,pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan
hiperventilasi
b) Palpasi
(1) Adanya demam
(2) Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher
/ nyeri tekan pada nodus limfe servikalis
(3) Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
c) Perkusi : Suara paru normal (resonance)
d) Auskultasi
(1) Suara napas vesikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua
sisi paru

2) B2 (Blood) : kardiovaskuler Hipertermi


3) B3 (Brain) : penginderaan Pupil isokhor, biasanya keluar cairan
pada telinga, terjadi gangguan penciuman
4) B4 (Bladder) : perkemihan Tidak ada kelainan
5) B5 (Bowel) : pencernaan Nafsu makan menurun, porsi makan tidak
habis Minum sedikit, nyeri telan pada tenggorokan
6) B6 (Bone) : Warna kulit kemerahan(Benny:2015)
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi
pada saluran pernafasan, aadanya secret
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan
produksi sekret.
c. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
d. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
e. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan
kehilangan cairan
f. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak dan batuk
g. Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit berhubungan
dengan kurang informasi
3. Intervensi keperawatan
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada
saluran pernafasan, aadanya sekret
1) Tujuan : Pola nafas kembali efektif
2) Kriteria : Usaha nafas kembali normal dan meningkatnya suplai
oksigen ke paru-paru.
3) Intervensi
a) Observasi tanda vital, adanya cyanosis, serta pola, kedalaman
dalam pernafasan
b) Berikan posisi yang nyaman pada pasien
c) Ciptakan dan pertahankan jalan nafas yang bebas.
d) Anjurkan untuk tidak memberikan minum selama periode
tachypnea.
e) Kolaborasi
a) Pemberian oksigen
b) Nebulizer
c) Pemberian obat bronchodilator
 Rasional
a) Semi fowler dapat meningkatkan ekspansi paru dan
memperbaiki ventilasi
b) Untuk memperbaiki ventilasi agar tidak terjadi aspirasi
c) untuk memenuhi kebutuhan oksigen
d) Mengencerkan sekret dan memudahkan pengeluaran secret
e) Untuk vasodilatasi saluran pernapasan
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan
produksi sekret.
1) Tujuan : Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret
2) Kriteria Hasil : Jalan nafas yang bersih dan patent, meningkatnya
pengeluaran sekret, suara napas bersih
3) Intervensi
a) Kaji bersihan jalan napas klien
b) Auskultasi bunyi napas
c) Berikan posisi yang nyaman
d) Lakukan suction sesuai indikasi
e) Anjurkan keluarga untuk memberikan air minum yang hangat
f) Kolaborasi
(1) Pemberian ekspectorant
(2) Pemberian antibiotic

 Rasional
1) Ronchi menandakan adanya sekret pada jaan nafas
2) Mencegah terjadinya aspirasi sekret (semiprone dan side
lying position).
3) membantu mengeluarkan sekret
4) membantu mengencerkan dahak sehingga mudah untuk
dikelurkan
5) Untuk mengencerkan dahak
6) Mengobati infeksi sehingga terjadi penurunan produksi secret
c. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
1) Tujuan :Nyeri terkontrol atau menghilang
2) Kriteria Hasil :Nyeri terkontrol ditandai dengan klien melaporkan
nyeri menghilang, ekspresi wajah rileks, klien tidak gelisah dan
rewel
3) Intervensi
a) Teliti keluhan nyeri ,catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10),
factor memperburuk atau meredakan lokasinya, lamanya, dan
karakteristiknya.
b) Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap
debu, bahan kimia, asap,rokok. Dan mengistirahatkan
/meminimalkan berbicara bila suara serak.
c) Anjurkan untuk melakukan kumur air garam hangat
d) Kolaborasi
(1) Berikan obat sesuai indikasi
(2) Steroid oral, iv, & inhalasi
(3) Analgesic
 Rasional
a) Identifikasi karakteristik nyeri & factor yang berhubungan
merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih
intervensi yang cocok & untuk mengevaluasi ke efektifan
dari terapi yang diberikan.
b) Mengurangi bertambah beratnya penyakit.
c) Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta
mengurangi nyeri tenggorokan.
d) Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi /
menghambat pengeluaran histamine dalam inflamadi
pernapasan. Analgesi untuk mengurangi rasa nyeri
d. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
1) Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.
2) KH : Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi dengan proses
infeksi hilang
3) Intervensi
a) Kaji peningkatan suhu tubuh yang dialami oleh klien
b) Observasi tanda-tanda vital
c) Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan kompres
dengan air pada daerah dahi dan ketiak
d) Anjurkan keluarga untuk mempertahankan pemberian cairan
melalui rute oral sesuai indikasi
e) Anjurkan keluarga untuk menghindari pakaian yang tebal dan
menyerap keringat
f) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiuretik
 Rasional
a) sebagai dasar dalam menentukan intervensi selanutnya
b) Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan
perkembangan perawatan selanjutnya.
c) Dengan memberikan kompres maka akan terjadi proses
konduksi / perpindahan panas dengan bahan perantara .
d) Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh
meningkat.
e) Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang
tebal dan tidak akan menyerap keringat.
f) Untuk mengontrol panas
e. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan
kehilangan cairan
1) Tujuan :Volume cairan tetap seimbang
2) Kriteria Hasil :Volume cairan tetap seimbang ditandai dengan
turgor kulit baik, membrane mukosa lembab, TTV dalam batas
normal
3) Intervensi Rasional
a) Kaji tanda-tanda dehidrasi
b) Observasi TTV
c) Anjurkan orang tua untuk tetap memberikan cairan peroral
d) Jelaskan kepada orang tua pentingnya cairan yang adekuat bagi
tubuh
e) Kolaborasi pemberian cairan parenteral
 Rasional
a) Sebagai dasar dalam menentukan tindakan selanjutnya
b) Perubahan TTV merupakan indicator terjadinya dehidrasi
c) Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang
d) Peningkatan pengetahuan mengembangkan kooperatif orang
tua dalam tindakan keperawatan
e) Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien
f. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak dan batuk
1) Tujuan : Pola tidur kembali optimal
2) Kriteria Hasil :Pola tidur membaik ditandai dengan orang tua
melaporkan anaknya sudah dapat tidur, klien nampak segar
3) Intervensi
a) Kaji gangguan pola tidur yang dialami klien
b) Ciptakan lingkungan yang tenang
c) Berikan bantal dan seprei yang bersih
d) Kolaborasi
a) Pemberian obat sedatif
b) Pemberian antibiotic
 Rasional
1) Sebagai indicator dalam melakukan tindakan selanjutnya
2) Mengurangi rangsangan suara yang dapat menyebabkan klien
tidak nyaman untuk tidur
3) Meningkatkan kenyamanan
4) Mengobati infeksi sional dan membantu klien untuk istirahat
g. Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit berhubungan
dengan kurang informasi
1) Tujuan : Pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit
anaknya meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan
2) Kriteria Hasil :Pengetahuan orang tua klien meningkat ditandai
dengan orang tua mengerti tentang penyakit anaknya, nampak
tidak sering bertanya, terlibat aktif dalam proses perawatan
3) Intervensi
a) Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses
penyakit anaknya
b) Jelaskan pada keluarga klien tentang Pengertian, penyebab,
tanda dan gejala,pengobatan, pencegahan dan komplikasi
dengan memberikan penkes.
c) Bantu orang tua klien untuk mengembangkan rencana asuhan
keperawatan dirumah sakit seperti : diet, istirahat dan aktivitas
yang sesuai
d) Beri kesempatan pada orang tua klien untuk bertanya tentang
hal yang belum dimengertinya
 Rasional
a) Sebagai dasar dalam menetukan tindakan selanjutnya
b) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga
c) Melibatkan keluarga dalam perencanaan dapat meningkatkan
pemahaman keluarga
d) Menghindari melewatkan hal yang tidak dijelaskan dan belum
dimengerti oleh keluarga
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, U.F, 2013.Waspadai Penyakit Menular, Badan Peneliti dan


Pengembangan Depkes RI, Jakarta.

Agustama.2015.Kajian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada


Balita :http://library.usu.ac.id/index.php?option=com_journal_review.%
diakses pada tanggal 03 Juli 2017

Handayani, dkk. 20013. Perawatan Bayi Dan Anak Edisi 1. Jakarta : Depkes RI.

NANDA. 2015-2017. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika

NANDA International. 2011. Diagnosa Keperawatan Definisi Dan Klasifikasi.


Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Rahmawati, Dewi & Hartono. 2015. Gangguan Pernapasan Pada Anak/ISPA.


Nuha Medika : Yogyakarta.

Susi, Natalia.2012.Penanganan ISPA di Rumah Sakit Kecil Negara Berkembang :


Pedoman Untuk Dokter dan Petugas Kesehatan Senior. EGC : Jakarta