Anda di halaman 1dari 13

.

ANATOMI FISIOLOGI
1. Anatomi Tulang Belakang
Tulang punggung atau vertebra adalah tulang tak beraturan yang membentuk
punggung yang mudah digerakkan. terdapat 33 tulang punggung pada manusia, 5 di
antaranya bergabung membentuk bagian sacral, dan 4 tulang membentuk tulang ekor
(coccyx). Tiga bagian di atasnya terdiri dari 24 tulang yang dibagi menjadi 7 tulang cervical
(leher), 12 tulang thorax (thoraks atau dada) dan, 5 tulang lumbal. Banyaknya tulang
belakang dapat saja terjadi ketidaknormalan. Bagian terjarang terjadi ketidaknormalan adalah
bagian leher. 1
Struktur umum 1

Sebuah tulang punggung terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang terdiri
dari badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari
arcusvertebrae. Arcus vertebrae dibentuk oleh dua “kaki” ataupediculus dan dua lamina, serta
didukung oleh penonjolan atau procesus yakni procesus articularis, procesus transversus, dan
procesus spinosus. Procesus tersebut membentuk lubang yang disebut foramen vertebrale.
Ketika tulang punggung disusun, foramen ini akan membentuk saluran sebagai tempat
sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Di antara dua tulang punggung dapat ditemui
celah yang disebut foramen intervertebrale.
Tulang punggung cervical
Secara umum memiliki bentuk tulang yang kecil dengan spina atau procesus
spinosus (bagian seperti sayap pada belakang tulang) yang pendek, kecuali tulang pertama
dan ke-2 dan 7 yang procesus spinosusnya pendek. Diberi nomor sesuai dengan urutannya
dari C1-C7 (C dari cervical), namun beberapa memiliki sebutan khusus seperti C1 atau atlas,
C2 atau aksis. Setiap mamalia memiliki 7 tulang punggung leher, seberapapun panjang
lehernya.
Tulang punggung thorax
Procesus spinosusnya akan berhubungan dengan tulang rusuk. Bagian ini dikenal
juga sebagai ‘tulang punggung” dalam konteks manusia. Bagian ini diberi nomor T1 hingga
T12.
Tulang punggung lumbal
Bagian ini (L1-L5) merupakan bagian paling tegap konstruksinya dan menanggung
beban terberat dari yang lainnya. Bagian ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi
tubuh, dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil.
Tulang punggung sacral
Terdapat 5 tulang di bagian ini (S1-S5). Tulang-tulang bergabung dan tidak
memiliki celah atau diskus intervertebralis satu sama lainnya.
Tulang punggung coccygeal
Terdapat 3 hingga 5 tulang (Co1-Co5) yang saling bergabung dan tanpa celah.
Beberapa hewan memiliki tulang coccyx atau tulang ekor yang banyak, maka dari itu
disebut tulang punggung kaudal (kaudal berarti ekor).
2. Fisiologi tulang belakang 1
Tulang merupakan kerangka tubuh yang menyebabkan tubuh dapat berdiri tegak,
Tempat melekatnya otot-otot sehingga memungkinkan jalannya pembuluh darah, tempat
sumsum tulang dan saraf yang melindungi jaringan lunak, juga tulang merupakan organ yang
digunakan manusia untuk mengangkat dan membawa barang-barang yang berat. Jisim tulang
adalah organ yang kita gunakankan untuk melakukan aktiviti seharian. Sehingga kita tidak
dapat membayangkan bagaimana terganggunya kita bila ada kerosakan yang terjadi pada
tulang kita.
Dari keterangan di atas, ada 4 fungsi utama jaringan tulang :
a. Fungsi mekanik, sebagai penyokong tubuh dan tempat melekat jaringan otot untuk
pergerakan. Otot merupakan alat gerak aktif, sedangkan tulang merupakan alat gerak pasif.
b. Fungsi Protektif, Melindungi berbagai alat vital dalam tubuh dan juga sumsum tulang.
c. Fungsi Metabolik, Sebagai cadangan dan tempat metabolisme berbagai mineral yang penting
seperti kalsium dan phospat.
d. Fungsi Hemopetik, berlangsungnya proses pembentukan dan perkembangan sel darah.

B. KONSEP DASAR MEDIS


1. Pengertian

Low Back Pain (LBP) atau dalam bahasa indonesia adalah nyeri punggung bawah (NPB)
adalah suatu gejala berupa nyeri dibagian pinggang yang dapat menjalar ke tungkai kanan
atau kiri. Dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikular atau keduanya.

Nyeri ini terasa di antara sudut iga terbawah dan lipat bokong bawah yaitu didaerah
lumbal atau lumbosakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai. Nyeri
yang berasal dari daerah punggung bawah dapat dirujuk ke daerah lain atau sebaliknya nyeri
yang berasal dari daerah lain dirasakan di daerah punggung bawah (refered pain) 6.
2. Klasifikasi
NPB disebabkan oleh berbagai kelainan atau perubahan patologik yang mengenai
berbagai macam organ atau jaringan tubuh. Oleh karena itu beberapa ahli membuat
klasifikasi yang berbeda atas dasar kelainannya atau jaringan yang mengalami kelainan
tersebut. Macnab menyusun klasifikasi NPB sebagai berikut: 6
a. Viserogenik : NPB yang bersifat viserogenik disebabkan oleh adanya proses patologik di
ginjal atau visera di daerah pelvis, serta tumor retroperitoneal.
b. Neurogenik : NPB yang bersifat neurogenik disebabkan oleh keadaan patologik pada saraf
yang dapat menyebabkan NPB.
c. Vaskulogenik : Aneurisma atau penyakit vaskular perifer dapat menimbulkan NPB atau
nyeri yang menyerupai iskialgia.
d. Psikogenik : NPB psikogenik pada umumnya disebabkan oleh ketegangan jiwa atau
kecemasan, dan depresi, atau campuran antara kecemasan dan depresi.
e. Spondilogenik : NPB spondilogenik ini ialah suatu nyeri yang disebabkan oleh berbagai
proses patologik di kolumna vertebralis yang terdiri dari unsur tulang (osteogenik), diskus
intervertebralis (diskogenik), dan miofasial (miogenik), dan proses patologik di artikulasio
sakroiliaka.
3. Etiologi dan Faktor Resiko 4,6
a. Kongenital, misalnya Faset tropismus (asimetris), kelainan vertebra misalnya sakralisasi,
lumbalisasi, dan skoliosis serta Sindrom ligamen transforamina yang menyempitkan ruang
untuk jalannya nervus spinalis hingga dapat menyebabkan NPB.
b. Trauma dan gangguan mekanik: Trauma dan gangguan mekanik merupakan penyebab utama
NPB. Orang yang tidak biasa melakukan pekerjaan otot atau sudah lama tidak melakukannya
dapat menderita NPB akut, atau melakukan pekerjaan dengan sikap yang salah dalam waktu
lama akan menyebabkan NPB kronik. Trauma dapat berbentuk lumbal strain (akut atau
kronik), fraktur (korpus vertebra, prosesus tranversus), subluksasi sendi faset (sindroma
faset), atau spondilolisis dan spondilolistesis.
c. Radang (Inflamasi), misalnya Artritis Rematoid dan Spondilitis ankilopoetika (penyakit
Marie-Strumpell)
d. Tumor (Neoplasma): Tumor menyebabkan NPB yang lebih dirasakan pada waktu berbaring
atau pada waktu malam. Dapat disebabkan oleh tumor jinak seperti osteoma, penyakit Paget,
osteoblastoma, hemangioma, neurinoma, meningioma. Atau tumor ganas, baik primer
(mieloma multipel) maupun sekunder: (metastasis karsinoma payudara, prostat, paru tiroid
ginjal dan lain-lain).
e. Gangguan metabolik: Osteoporosis dapat disebabkan oleh kurangnya aktivitas/imobilisasi
lama, pasca menopouse, malabsorbsi/intake rendah kalsium yang lama, hipopituitarisme,
akromegali, penyakit Cushing, hipertiroidisme/tirotoksikosis, osteogenesis imperfekta,
gangguan nutrisi misalnya kekurangan protein, defisiensi asam askorbat, idiopatik, dan lain-
lain. Gangguan metabolik dapat menimbulkan fraktur kompresi atau kolaps korpus vertebra
hanya karena trauma ringan. Penderita menjadi bongkok dan pendek dengan nyeri difus di
daerah pinggang.
f. Degenerasi, misalnya pada penyakit Spondylosis (spondyloarthrosis deforman), Osteoartritis,
Hernia nukleus pulposus (HNP), dan Stenosis Spinal.
g. Kelainan pada alat-alat visera dan retroperitoneum, pada umumnya penyakit dalam ruang
panggul dirasakan di daerah sakrum, penyakit di abdomen bagian bawah dirasakan didaerah
lumbal.
h. Infeksi : Infeksi dapat dibagi ke dalam akut dan kronik. NPB yang disebabkan infeksi akut
misalnya : disebabkan oleh kuman pyogenik (stafilokokus, streptokokus, salmonella). NPB
yang disebabkan infeksi kronik misalnya spondilitis TB (penyakit Pott), jamur, osteomielitis
kronik.
i. Problem psikoneurotik : NPB karena problem psikoneuretik misalnya disebabkan oleh
histeria, depresi, atau kecemasan. NPB karena masalah psikoneurotik adalah NPB yang tidak
mempunyai dasar organik dan tidak sesuai dengan kerusakan jaringan atau batas-batas
anatomis, bila ada kaitan NPB dengan patologi organik maka nyeri yang dirasakan tidak
sesuai dengan penemuan gangguan fisiknya.
j. Adapun faktor resiko untuk NPB antara lain adalah: usia, jenis kelamin, obesitas, merokok,
pekerjaan, faktor psikososial, dan cedera punggung sebelumnya.

4. Patofisiologi 4,6
Struktur spesifik dalam system saraf terlibat dalam mengubah stimulus menjadi
sensasi nyeri. Sistem yang terlibat dalam transmisi dan persepsi nyeri disebut sebagai system
nosiseptif. Sensitifitas dari system ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah factor dan intensitas
yang dirasakan berbeda diantara tiap individu. Reseptor nyeri (nosiseptor) adalah ujung saraf
bebas dalam kulit yang berespon hanya pada stimulus yang kuat, yang secara potensial
merusak, dimana stimuli tersebut sifatnya bisa kimia, mekanik, ataupun termal. Kornu
dorsalis dari medulla spinalis merupakan tempat memproses sensori, dimana agar nyeri dapat
diserap secara sadar, neuron pada system assenden harus diaktifkan.
Stimulus ini akan direspon dengan pengeluaran berbagai mediator inflamasi yang
akan menimbulkan persepsi nyeri. Mekanisme nyeri merupakan proteksi yang bertujuan
untuk mencegah pergerakan sehingga proses penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk
proteksi adalah spasme otot, yang selanjutnya dapat menimbulkan iskemia. Nyeri yang
timbul dapat berupa nyeri inflamasi pada jaringan dengan terlibatnya berbagai mediator
inflamasi; atau nyeri neuropatik yang diakibatkan lesi primer pada system saraf. Iritasi
neuropatik pada serabut saraf dapat menyebabkan dua kemungkinan.
Pertama, penekanan hanya terjadi pada selaput pembungkus saraf yang kaya
nosiseptor dari nervinevorum yang menimbulkan nyeri inflamasi. Nyeri dirasakan sepanjang
serabut saraf dan bertambah dengan peregangan serabut saraf misalnya karena pergerakan.
Kemungkinan kedua, penekanan mengenai serabut saraf. Pada kondisi ini terjadi perubahan
biomolekuler di mana terjadi akumulasi saluran ion Na dan ion lainnya. Penumpukan ini
menyebabkan timbulnya mechano-hot spot yang sangat peka terhadap rangsang mekanikal
dan termal. Hal ini merupakan dasar pemeriksaan Laseque.
5. Manifestasi klinis 4,6
a. Perubahan dalam gaya berjalan
1) Berjalan terasa kaku.
2) Tidak bias memutar punggung.
3) Pincang.
b. Persyarapan
Ketika dites dengan cahaya dan sentuhan dengan peniti,pasien merasakan sensasi pada kedua
anggota badan,tetapi mengalami sensasi yang lebih kuat pada daerah yang tidak dirangsang.
c. Nyeri.
1) Nyeri punggung akut maupun kronis lebih dari dua bulan.
2) Nyeri saat berjalan dengan menggunakan tumit.
3) Nyeri otot dalam.
4) Nyeri menyebar kebagian bawah belakang kaki.
5) Nyeri panas pada paha bagian belakang atau betis.
6) Nyeri pada pertengahan bokong.
7) Nyeri berat pada kaki semakin meningkat.

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Sinar X vertebra ; mungkin memperlihatkan adanya fraktur, dislokasi, infeksi, osteoartritis
atau scoliosis.
b. Computed tomografhy ( CT ) : berguna untuk mengetahui penyakit yangmendasari seperti
adanya lesi jaringan lunak tersembunyi disekitar kolumna vertebralis dan masalah diskus
intervertebralis.
c. Ultrasonography : dapat membantu mendiagnosa penyempitan kanalis spinalis.
d. Magneting resonance imaging ( MRI ) : memungkinkan visualisasi sifat dan lokasi patologi
tulang belakang.
e. Meilogram dan discogram : untuk mengetahui diskus yang mengalami degenerasi atau
protrusi diskus.
f. Venogram efidural : Digunakan untuk mengkaji penyakit diskus lumbalis dengan
memperlihatkan adanya pergeseran vena efidural.
g. Elektromiogram (EMG) : digunakan untuk mengevaluasi penyakit serabut syaraf tulang
belakang ( Radikulopati )

7. Penatalaksanan 4,6
a. Penatalaksanaan Keperawatan.
Informasi dan edukasi.
Pada NPB akut: Imobilisasi (lamanya tergantung kasus), pengaturan berat badan, posisi
tubuh dan aktivitas, modalitas termal (terapi panas dan dingin) masase, traksi (untuk distraksi
tulang belakang), latihan : jalan, naik sepeda, berenang (tergantung kasus), alat Bantu (antara
lain korset, tongkat)
NPB kronik: psikologik, modulasi nyeri (TENS, akupuntur, modalitas termal), latihan kondisi
otot, rehabilitasi vokasional, pengaturan berat badan posisi tubuh dan aktivitas
b. Medis
Formakoterapi.
1) NPB akut: Asetamenopen, NSAID, muscle relaxant, opioid (nyeri berat), injeksi epidural
(steroid, lidokain, opioid) untuk nyeri radikuler
2) NPB kronik : antidepresan trisiklik (amitriptilin) antikonvulsan (gabapentin, karbamesepin,
okskarbasepin, fenitoin), alpha blocker (klonidin, prazosin), opioid (kalau sangat diperlukan)
Invasif non bedah
1) Blok saraf dengan anestetik lokal (radikulopati)
2) Neurolitik (alcohol 100%, fenol 30 % (nyeri neuropatik punggung bawah yang intractable)
Bedah
HNP, indikasi operasi :
1) Skiatika dengan terapi konservatif selama lebih dari empat minggu: nyeri berat/intractable /
menetap / progresif.
2) Defisit neurologik memburuk.
3) Sindroma kauda.
4) Stenosis kanal : setelah terjadi konservatif tidak berhasil
5) Terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan neurofisiologik dan radiologik.

C. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Aktivitas dan istirahat
Gejala: Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk, mengemudi dalam waktu
lama, membutuhkan papan/matras waktu tidur, penurunan rentang gerak dari ekstrimiter pada
salah satu bagian tubuh, tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda: Atropi otot pada bagian tubuh yang terkena, gangguan dalam berjalan.

b. Eliminasi
Gejala Konstribusi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya inkontenensia/retensi urine
c. Integritas Ego
Gejala Ketakutan akan timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan, finansial keluarga.
Tanda Tampak cemas, defresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat
d. Neurosensori
Gejala : Kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki
Tanda Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotania, nyeri tekan/spasme
pavavertebralis, penurunan persesi nyeri (sensori)
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin,
membengkokan badan, mengangkat defekasi, mengangkat kaki, atau fleksi pada leher, nyeri
yang tidak ada hentinya atau adanya episode nyeri yang lebih berat secara interminten; nyeri
menjalar ke kaki, bokong (lumbal) atau bahu/lengan; kaku pada leher
(servikal). Terdengar adanya suara “krek” saat nyeri baru timbul/saat trauma atau merasa
“punggung patah”, keterbatasan untuk mobilisasi/membungkuk kedepan
Tanda Sikap: dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena, perubahan cara berjalan:
berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian tubuh yang terkena,
nyeri pada palpasi.
f. Keamanan
Gejala : Adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi
g. Penyuluhan dan pembelajaran
Gejala : Gaya hidup ; monoton atau hiperaktif
Pertimbangan : DRG menunjukan rata-rata perawatan:10,8 hari
Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan batuan transportasi, perawatan diri dan
penyelesaian tugas-tugas.
2. Diagnosa keperawatan 3
a. Nyeri akut b/d agen injuri (fisik, kelainan muskuloskeletal dan system syaraf vaskuler
b. Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, kerusakan muskuloskeletal, kekakuan sendi atau
kontraktur
c. Gangguan pola tidur b.d nyeri, tidak nyaman

3. Rencana Keperawatan, Tujuan, dan Krireria hasil 3,5

N Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi


o (NANDA) (NOC) (NIC)
1. Nyeri akut b/d agen injuri Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri (1400)
(fisik, kelainan keperawatan selama 3 x 24
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
muskuloskeletal dan jam nyeri berkurang / hilang komprehensif (lokasi, karateristik,
system syaraf vaskuler dengan kriteria : durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor
Tingkat nyeri (2102) presipitasi).
Batasan karakteristik 1. Melaporkan nyeri berkurang2./ Observasi reaksi non verbal dari
Verbal hilang ketidaknyamanan.
1. Menarik nafas panjang,
2. Frekuensi nyeri berkurang 3./ Gunakan teknik komunikasi terapetik
merinti hilang untuk mengetahui pengalaman nyeri
2. Mengeluh nyeri 3. Lama nyeri berkurang klien.
Motorik 4. Ekspresi oral berkurang 4./ Evaluasi pengalaman nyeri masa
1. Menyeringaikan wajah. hilang lampau.
2. 5.
Langkah yang terseok- Ketegangan otot berkurang 5./ Evaluasi bersama klien dan tim
seok hilang kesehatan lain tentang ketidak
3. 6. Dapat istirahat
Postur yang kaku / tidak efektifan kontrol nyeri masa lampau.
stabil 7. Skala nyeri berkurang 6./ Bantu klien dan keluarga untuk
4. Gerakan yang amat lambat menurun mencari dan menemukan dukungan.
atau terpaksa 7. Kontrol lingkungan yang dapat
Respon autonom Kontrol Nyeri (1605) mempengaruhi nyeri (suhu ruangan,
- Perubahan vital sign 1. Mengenal faktor-faktor pencahayaan, dan kebisingan)
penyebab 8. Kurangi faktor presipitasi nyeri.
2. Mengenal onset nyeri 9. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
3. Jarang / tidak pernah (farmokologi, non farmakologi dan
menggunakan analgetik interpersonal)
4. Jarang / tidak pernah
10. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
melaporkan nyeri kepada tim menentukan intervensi.
kesehatan. 11. Ajarkan tentang teknik non
5. Nyeri terkontrol farmakologi.
- 12. Berikan analgetik untuk mengurangi
Tingkat kenyamanan nyeri.
(2100) 13. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
1. Klien melaporkan kebutuhan
14. Tingkatkan istirahat
istirahat tidur tercukupi 15. Kolaborasi dengan dokter jika ada
2. Melaporkan kondisi fisik keluhan dan tindakan nyeri tidak
baikMelaporkan kondisi berhasil
psikis baik 16. Monitor penerimaan klien tentang
manajemen nyeri.
Andministrasi Analgetik (2210)
 1. Tentukan lokasi, karateristik kualitas,
- dan derajat nyeri sebagai pemberian
- obat
2. Cek riwayat alergi
3. Pilih analgenik yang diperlukan atau
kombinasi dari analgetik ketika
pemberian lebih dari satu.
4. Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya nyeri.
5. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik pertama
kali
6. Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat.
7. Evaluasi efektifitas analgesik tanda
dan gejala (efek sampingan)
2 Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan
1. Koreksi tingkat kemampuan
b.d nyeri, kerusakan keperawatan selama 3 x 24 mobilisasi dengan sekala 0-4
muskuloskeletal, kekakuan jam klien mampu mencapai 0 : Klien tidak tergantung pada orang
sendi atau kontraktur mobilitas fisik dengan kriteria lain
: 1 : Klien butuh sedikit bantuan
Batasan karakteristik : 2: Klien butuh bantuan sederhan
1. Postur tubuh kaku tidak Mobility Level (0208) : 3 : Klien butuh bantuan banyak
stabil. 1. Klien dapat melakukan 4 :Klien sangat tergantung pada
2. Jalan terseok-seok mobilitas secara bertahap pemberian pelayanan
3. Gerak lambat dengan tanpa merasakan nyeri
2. Atur posisi klien
4. Membatasi perubahan2. Penampilan seimbang 3. Bantu klien melakukan perubahan
gerak yang mendadak atau3. Menggerakkan otot dan sendi gerak.
cepat 4. Mampu pindah tempat tanpa
4. Observasi / kaji terus kemampuan
bantuan gerak motorik, keseimbangan
5. Berjalan tanpa bantuan 5. Ukur tanda-tanda vital sebelum dan
sesudah melakukan latihan.
6. Anjurkan keluarga klien untuk
melatih dan memberi motivasi.
7. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
(fisioterapi untuk pemasangan korset)
8. Buat posisi seluruh persendian dalam
letak anatomis dan nyaman dengan
memberikan penyangga pada lekukan
lekukan sendi serta pastikan posisi
punggung lurus.
3. Gangguan pola tidur b.d Setelah dilakukan tindakan Peningkatan Tidur / Sleep
nyeri, tidak nyaman keperawatan selama 3 x 24 Enhancement (1850)
jam klien dapat terpenuhi
1. Kaji pola tidur / pola aktivitas
Batasan karakteristik : kebutuhan tidurnya dengan
2. Anjurkan klien tidur secara teratur
1. Pasien menahan sa-kit kriteria : 3. Jelaskan tentang pentingnya tidur
(merintih, me-nyeringai) yang cukup selama sakit dan terapi.
2. Pasien mengungkapkan Tidur (0004) 4. Monitor pola tidur dan catat keadaan
tidak bisa tidur karena
a. Jumlah jam tidur cukup fisik, psykososial yang mengganggu
nyeri b. Pola tidur normal tidur
c. Kualitas tidur cukup 5. Diskusikan pada klien dan keluarga
d. Tidur secara teratur tentang tehnik peningkatan pola tidur
e. Tidak sering terbangun Manajemen lingkungan (6480)
f. Tanda vital dalam batas 1. Batasi pengunjung
normal 2. Jaga lingkungan dari bising
Rest (0003) 3. Tidak melakukan tindakan
a. Istirahat Cukup keperawatan pada saat klien tidur
b. Kualitas istirahat baik Anxiety Reduction (5820)
c. Istirahat fisik cukup 1. Jelaskan semua prosedur termasuk
d. Istirahat psikis cukup pera-saan yang mungkin dialami
Anxiety control (1402) selama men-jalani prosedur
a. Tidur adekuat 2. Berikan objek yang dapat
b. Tidak ada manifestasi fisik memberikan rasa aman
c. Tidak ada manifestasi
3. Berbicara dengan pelan dan tenang
perilaku 4. Membina hubungan saling percaya
d. Mencari informasi untuk
5. Dengarkan klien dengan penuh
mengurangi cemas perhatian
e. Menggunakan teknik
6. Ciptakan suasana saling percaya
relaksasi untuk mengurangi
7. Dorong orang tua mengungkapkan
cemas pera-saan, persepsi dan cemas secara
f. Berinteraksi sosial verbal
8. Berikan peralatan / aktivitas yang
menghibur untuk mengurangi
ketegangan
9. Anjurkan untuk menggunakan teknik
relaksasi
10. Berikan lingkungan yang tenang
11. Batasi pengunjung

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. 2009. Buku Ajar Anatomi Umum. FK
UNHAS
Brunner and Suddarth. 2000. Medical Surgical Nursing. Philadelphia: JB Lippincot Company.
NANDA International. 2012. Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC

Harsono. 2000. Buku Ajar Neurologi Klinis. Edisi 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

2005. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Judith M. Wilkinson.2007. Buku saku diagnosis keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil
NOC ed. 7. Jakarta : EGC

Muttaqin, Arief. 2013. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem persarafan. Jakarta : EGC