Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN

TOPIK : Diabetes Gestasional


TEMPAT : Kampus C Poltekkes Palangka Raya
PEMATERI : MUHAMAD HAKIM
HARI/TANGGAL : Selasa 14 November 2017
WAKTU : 13.00-SELESAI

I. LATAR BELAKANG
Diabetes adalah penyakit kronis (menahun) yang terjadi ketika pankreas
(kelenjar ludah perut) tidak memproduksi cukup insulin, atau ketika tubuh tidak
secara efektif menggunakan insulin. Menurut American Diabetes Association
(ADA) 2010, DM adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya. (Fadma dkk, 2014) Sedangkan diabetes tipe 1 sendiri
termasuk jenis diabetes dengan produksi insulin yang rendah. Oleh karena itu
diabetes tipe 1 disebut juga diabetes ketergantungan insulin, atau dikenal dengan
istilah penyakit autoimun diabetes dengan penyebab yang belum diketahui pasti
Kadar gula dalam darah biasanya dikendalikan oleh hormon insulin. WHO pada
September 2012 menjelaskan bahwa jumlah penderita DM di dunia mencapai 347
juta orang dan lebih dari 80% kematian akibat DM terjadi pada negara miskin dan
berkembang.
Penyebab kurangnya produksi insulin oleh pankreas pada penderita diabetes
tipe 1 belum diketahui hingga saat ini sehingga belum dapat disimpulkan cara
pencegahannya. Diabetes tipe ini dapat timbul pada usia berapa pun, umumnya
menyerang pasien di bawah usia 40 tahun, khususnya anak-anak (childhood-onset
diabetic). Terkadang dikenal dengan istilah diabetes remaja.

II. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM (TIU)

1
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan, klien diharapkan mampu memahami
tentang diabetes tipe 1
III. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS (TIU)
Setelah penyuluhan di berikan, klien dapat memahami :
1. Pengertian diabetes tipe 1
2. Penyebab diabetes tipe 1
3. Tanda dan gejala diabetes tipe 1
4. Komplikasi diabetes melitus
5. Penatalaksanaan diabetes tipe 1
6. Menyebutkan faktor resiko diabetes melitus

IV. STRATEGI PELAKSANAAN


No Tahap Waktu Penyuluhan Peserta
Kegiatan
1. Pembukaan 3 menit a) Menyampaikan a) Memperhatikan
salam dan dan mendengarkan
perkenalan
b) Membuat kontrak
waktu dan topik
c) Menjelaskan TIU
dan TIK
2. Pengembangan 17 menit a) Menjelaskan a) Memperhatikan
tentang diabetes dan mendengarkan
tipe 1
3. Penutup 5 menit a) Memberi peluang a) Mengajukan
pertanyaan pertanyaan
b) Evaluasi atau b) Memahami materi
menyimpulkan yang telah
materi yang sudah disampaikan
disampaikan c) Menjawab
c) Menanyakan pertanyaan
kembali materi
yang sudah d) Menjawab salam

2
dijelaskan
d) Memberikan
salam

V. GARIS BESAR MATERI (MATERI TERLAMPIR)


1. Pengertian diabetes tipe 1
2. Penyebab diabetes tipe 1
3. Tanda dan gejala diabetes tipe 1
4. Komplikasi diabetes mellitus
5. Penatalaksanaan diabetes tipe 1
6. Faktor resiko diabetes melitus

VI. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

VII. MEDIA
1. Power Point

VIII. EVALUASI
Evalusai dengan tes formatif memberikan pertanyaan kembali mengenai diabetes
tipe 1
A. Evaluasi proses
1) Peserta antusias terhdap materi penyuluhan
2) Tidak ada peserta yang meninggakan tempat penyuluhan sebelum acara
selesai
3) Peserta mengajukan pertanyaan.
B. Evaluasi hasil
1) Peserta mengerti tentang diabetes tipe 1
2) Peserta mengerti tentang Penyebab diabetes tipe 1
3) Peserta mengetahui tanda dan gejala diabetes tipe 1
4) Peserta mengerti tentang komplikasi diabetes melitus
5) Peserta mengetahui Penatalaksanaan diabetes tipe 1
6) Peserta mengerti tentang faktor resiko diabetes mellitus
3
C. Pertanyaan
1) Apakah pengertian diabetes tipe 1 ?
2) Apakah penyebab diabetes tipe 1 ?
3) Apa saja tanda dan gejala diabetes tipe 1 ?
4) Apa saja komplikasi diabetes mellitus ?
5) Bagaiamana Penatalaksanaan diabetes tipe 1 ?
6) Apa saja faktor resiko diabetes mellitus ?

IX. DAFTAR PUSTAKA


a. Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC. Jogjakarta;mediaction
b. Price & Wilson. (2006). Patofisiologi Edisi 6. Jakarta : EGC
c. Soegondo, Sidartawan. 2009. Penatalaksanaan Diababetes Melitus Terpadu.
Jakarta;FKUI
d. Suyono, Waspadji dkk. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu
Edisi II Cetakan ke-7. Jakarta: Badan Penerbit FKUI Kementerian Kesehatan
RI. 2014. Situasi dan Analisis Diabetes. Jakarta diunduh dari
www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
diabetes.pdfpada tanggal 19 Oktober 2017

Lampiran materi

4
MATERI PENYULUHAN DIABETES TIPE 1

A. Pengertian
Diabetes melitus atau merupakan penyakit gangguan metabolik menahun akibat
pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak menggunakan insulin yang
diproduksi secara efektif.(Kementerian Kesehatan RI, 2014) Menurut American Diabetes
Association (ADA) 2010, DM adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya. (Fadma dkk, 2014).
Menurut American Diabetes Association (ADA) Diabetes mellitus merupakan
penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Diabetes Mellitus
adalah suatu keadaan dimana terjadinya peningkatan kadar gula dalam darah yang
mengakibatkan gangguan metabolisme dan berkembang menjadi gangguan multisistem
karena keterbatasan insulin di dalam tubuh seseorang.
Diabetes memiliki beberapa tipe, salah satunya adalah diabetes tipe 1. Diabetes tipe
1 yaitu disebabkan oleh destruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoinum.
Akibatnya pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tidak memproduksi insulin
sama sekali.

B. Penyebab
Tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas. Kombinasi faktor
genetik, imunologi dan mungkin pula lingkungan diperkirakan turut menimbulkan
destruksi sel beta.Faktor-faktor genetik. Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes
tipe I itu sendiri, tetapi mewarisi suatu kecenderungan atau predisposisi genetik ke
arah terjadinya diabetes tipe I. kecenderungan ini ditemukan pada individu yang
memiliki tipe antigen HLA(human leucocyt antigen) tertentu. HLA merupakan
kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun
lainnya. Resiko terjadinya diabetes tipe I meningkat tiga hingga lima kali lipat pada
individu yang memiliki salah satu dari kedua tipe HLA tersebut.
Faktor-faktor imunologi. Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu
respon otoimun. Respon ini merupakan respon abnormal dimana antibodi terarah pada
jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi pada jaringan tersebut yang dianggapnnya

5
seolah-olah jaringan asing. Factor-faktor ;lingkungan. Adanya faktor eksternal yang
dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel
beta. (IrawanSusiloImim, dkk, 2000)

C. Tanda dan gejala


Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang
tinggi. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk
mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air
kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah
yang banyak (poliuri).
Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak
minum (polidipsi). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita
mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita
seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).
D. Komplikasi diabetes mellitus
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi akut
dan kronis. Menurut PERKENI komplikasi DM dapat dibagi menjadi dua kategori,
yaitu: (Restiyana, 2015)
a) Komplikasi akut
1. Hipoglikemia, adalah kadar glukosa darah seseorang di bawah nilai normal (<
50 mg/dl). Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita DM tipe 1 yang
dapat dialami 1-2 kali per minggu, kadar gula darah yang terlalu rendah
menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi sehingga tidak
berfungsi bahkan dapat mengalami kerusakan.
2. Hiperglikemi, adalah apabila kadar gula darah meningkat secara tiba-tiba,
dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya, antara lain
ketoasidosis diabetik, Koma Hiperosmoler Non Ketotik (KHNK) dan
kemolakto asidosis.
b) Komplikasi Kronis
1. Komplikasi makrovaskuler, komplikasi makrovaskuler yang umum
berkembang pada penderita DM adalah trombosit otak (pembekuan darah pada
sebagian otak), mengalami penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung
kongetif, dan stroke.

6
2. Komplikasi mikrovaskuler, seperti neuropati (kerusakan syaraf) dikaki yang
meningkatkan kejadian ulkus kaki, infeksi dan bahkan keharusan untuk
dilakukan amputasi kaki. Retinopati diabetikum yang merupakan salah satu
penyebab utama kebutaan, terjadi akibat kerusakan pembuluh darah kecil
diretina. Nefropati yang merupakan penyebab gagal utama pada ginjal.

E. Penatalaksanaan diabetes tipe 1


1. Pemberian insulin
Insulin diperlukan pada keadaan :
1. Penurunan berat badan yang cepat.
2. Hiperglikemia berat yang disertai ketoasidosis.
3. Ketoasidosis diabetik.
4. Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat.
Insulin merupakan pengobatan penyandang DM tipe 1 yang harus diberikan
segera setelah diagnosis ditegakkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pemberian insukin adalah jenis preparat, dosis insulin, waktu dan cara
penyuntikan, serta penyimpanan insulin.
Insulin disuntikkan dibawah kulit kedalam lapisan lemak, biasanya di lengan,
paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangan kecil agar tidak terasa
terlalu nyeri. Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memliki
kecepatan dan lama kerja
2. Tata laksanan nutrisi
Keteraturan jadwal makan serta pengaturan diet penting untuk di laksanakan
karena dengan adanya pengaturan diet dan pengelolaan makanan yang baik
diharapkan kadar glukosa darahnya dapat dikontrol dan komplikasi hipoglikemia
tidak sering terjadi.
Salah satu pilar utama pengelolaan diabetes adalah perencanaan makan. Tujuan
perencanaan makan dan pengelolaan diabetes antara lain: mempertahankan kadar
glukosa darah dan lipid dalam batas-batas normal, menjamin nutrisi yang optimal
untuk pertumbuhan anak dan remaja, ibu hamil dan janinnya, mencapai dan
mempertahankan berat badan ideal (Syahbudin, 2005). Sedangkan menurut Maulana
(2008) perencanaan makan (meal planning) bertujuan untuk mempertahankan kadar
glukosa darah senormal mungkin dan mengusahakan agar berat badan mencapai
batas normal. Pada dasarnya mengelola penyakit Diabetes Mellitus sebenarnya

7
mudah asal penderita bisa mendisiplinkan diri dan melakukan olahraga secara teratur,
menuruti saran dokter dan tidak mudah patah semangat. Dalam merencanakan makan
untuk pasien diabetes pertama-tama haruslah dipikirkan secara matang apakah diet
itu dipatuhi atau tidak. Jalan terbaik adalah dengan membuat perencanaan makan
yang cocok untuk setiap pasien, artinya harus dilakukan individualisasi, sesuai
dengan cara hidupnya, pola jam kerjanya latar belakang kulturnya, tingkat
pendidikannya, penghasilannya dan lain-lain.
Perencanaan makanan (meal planning) untuk memberikan kesan kepada pasien
agar tidak terlalu menakutkan, karena kata diet selalu dihubungkan dengan
penderitaan sehingga atau dengan segala macam larangan makan berbagai jenis
makanan, hingga kepatuhan pasien rendah. Diet biasannya diartikan pengaturan
makan selamanya sesuai kebutuhan gizi, kebiasaan dan kesukaan pasien (PERKENI,
1998). Dalam rekomendasi diet menurut ADA (2004) karbohidrat sebesar 55-60%
dan lemak 35%. Ternyata karbohidrat 70-75% masih dapat ditoleransikan terutama
pada pasien yang kurang mampu dan bekerja kasar seperti tukang becak, kuli
pelabuhan dan lain-lain. Diet untuk seorang penderita Diabetes Mellitus terdiri dari 2
yaitu A dan B. Diet B dengan komposisi 60-70% karbohidrat, 20-30% lemak, dan
10-20% protein, lebih cocok untuk orang Indonesia dibanding dengan diet A yang
terdiri atas 40-50% karbohidrat, 30-35% lemak dan 20-25% protein (Maahs & Darcy,
2004). Menurut Soegondo (2009) Anjuran konsumsi karbohidrat untuk pasien
diabetes di Indonesia adalah 60-70% energi. Karbohidrat dalam diet memiliki efek
langsung pada tingkat glukosa darah. Standar yang dianjurkan adalah makanan
dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein, lemak, sesuai
dengan kecukupan gizi baik. Karbohidrat sebesar 60-70%, protein 10-15% lemak 20-
25%. Jumlah energi disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut
dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal
(Waspadji, 2005).
Karbohidrat dikonversikan ke glukosa darah dengan cepat dalam waktu jam setelah
makan akan secara langsung berkaitan dengan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi.
Jumlah karbohidrat total yang diperlukan setiap harinya didasarkan pada kebutuhan
energi seseorang yang harus terdiri dari 60-70% karbohidrat per hari (Blanchette,
1996). Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari kebutuhn energi total yaitu 60-70%,
sedangkan kebutuhan protein dan lemak masing-masing 10-15% dan 20-25% dari
kebutuhan energi total (Almatsier, 2005).

8
3. Latihan jasmani
Latihan jasmani akan membantu mempertahankan berat badan ideal. Pada
beberapa penelitian terlihat bahwa latihan jasmani dapat meningkatkan kapasitas
kerja jantung dan mengurangi terjadinya komplikasi jangka panjang. Latihan
jasmani juga membantu kerja meabolisme tubuh sehingga dapat mengurangi
kebutuhan insulin.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan latihan jasmani ialah pemantauan
terhadap kemungkinan terjadinya hipoglikemia, sehingga perlu diperhatikan
beberapa hal sebelum melakukan latihan jasamani seperti: jenis latihan jasmani,
intensitas, tingkat kebugaran serta kebiasaan sehari-hari klien.
Manfaat olahraga bagi diabetes meningkatkan penurunan kadar glukosa darah,
mencegah kegemukan, ikut berperan dalam mengatasi kemungkinan kompikasi
aterogenik, gangguan lipid darah, peningkatan tekanan darah, hiperkoagulasi
darah.

4. Home monitoring(pemantauan mandiri)


DM tipe I merupakan penyakit kronik dan memerlukan pengobatan jangka
panjang sehingga klien DM serta keluarganya harus dapat melakukan
pemantauan sendiri kadar glukosa darahnya serta penyakitnya di rumah.
Disamping itu, penyandang DM serta keluarganya harus mengetahui komplikasi
yang sering terjadi seperti hipoglikemia dan cara-cara mengatasinya. Terdapat
bukti bahwa control metabolisme yang baik akan mengurangi terjadinya
komplikasi.

F. Faktor resiko diabetes mellitus tipe 1


Tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas. Kombinasi faktor
genetik, imunologi dan mungkin pula lingkungan diperkirakan turut menimbulkan
destruksi sel beta.Faktor-faktor genetik. Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes
tipe I itu sendiri, tetapi mewarisi suatu kecenderungan atau predisposisi genetik ke
arah terjadinya diabetes tipe I.