Anda di halaman 1dari 38

TUGAS MATA KULIAH PONDASI II

TURAP BERJANGKAR

Disusun Oleh :
(Kelompok IV)
1. Aqidatul Izzah (1115020006)
2. Rizki Maya Sari (1115020072)
3. Salma Adrea Ramadhiani (1115020057)
4. Slamat Adianto Halawa (1115020073)

Kelas : 3 Sipil 3

Dosen Pengajar : Ir. Sri Respati

JURUSAN TEKNIK SIPIL


PROGRAM STUDI KONSTRUKSI SIPIL
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat, nikmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah
ini kami susun sebagai tugas pada mata kuliah Pondasi II.
Dalam menyelesaikan makalah ini kami juga mengalami banyak kesulitan.
Berkat bimbingan yang telah diberikan, kami mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian makalah ini sehingga merasa lebih
ringan dan lebih mudah dalam menulis makalah ini. Dengan ini, selayaknya kami
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Sri Respati, Ir. Sebagai dosen mata kuliah Pondasi II ini.
2. Kedua Orang tua kami yang telah memberikan dukungannya dengan
memberikan semangat dan doa untuk kelancaran pembuatan makalah ini.
3. Teman-teman yang telah memberikan semangat dan masukan, dan juga
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami selaku penulis mengucapkan puji syukur sebesar-besarnya kepada
Allah SWT, atas kemudahan yang penulis terima selama pembuatan makalah ini.
Kritik dan saran sangatlah bermanfaat untuk membangun penulis agar menjadi
pribadi yang lebih baik lagi. Kami menyadari bahwa teknik penyusunan dan materi
yang disajikan masih kurang sempurna, sebagai mahasiswa kami masih perlu
banyak belajar dalam pengetahuannya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dan semua pihak yang membutuhkan, Aamiin..

Depok, November 2017

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB II DASAR TEORI ......................................................................................... 3
2.1 Pendahuluan ............................................................................................. 3
2.2 Tipe-tipe Turap ......................................................................................... 3
2.2.1 Turap Kayu........................................................................................ 3
2.2.2 Turap Beton ....................................................................................... 4
2.2.3 Turap Baja ......................................................................................... 4
2.3.2 Dinding Turap Diangker ................................................................... 5
2.3.3 Dinding Turap dengan Landasan (Platform)..................................... 6
2.3.4 Bendungan Elak Seluler .................................................................... 6
BAB III PEMBAHASAN ....................................................................................... 8
3.1 Perancangan Dinding Turap Diangker ..................................................... 8
3.1.1 Metode Ujung Bebas ......................................................................... 8
3.1.2 Metode Ujung Tetap ....................................................................... 17
3.2 Perancangan Blok Angker ...................................................................... 19
3.2.1 Blok Angker Memanjang di Dekat Permukaan Tanah ................... 19
3.2.2 Blok Angker Pendek di Dekat Permukaan Tanah .......................... 20
3.2.3 Blok Angker pada Kedalaman Besar .............................................. 21
3.3 Letak Angker .......................................................................................... 21
3.4 Batang Pengikat dan Balok Horisontal .................................................. 22
3.5 Contoh Soal ............................................. Error! Bookmark not defined.

ii
BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 32
4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 32
4.2 Saran ....................................................................................................... 32

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Turap kayu.......................................................................................... 4


Gambar 2. 2 Turap beton. ....................................................................................... 4
Gambar 2. 3 Tampang turap baja ............................................................................ 5
Gambar 2. 4 (a) Dinding turap kantilever. (b) Dinding turap diangker. ................ 6
Gambar 2. 5 (a) Dinding turap dengan landasan yang didukung tiang-tiang.
(b) Bendungan elak selular. ............................................................... 7
Gambar 3. 1 Pengaruh kedalaman turap pada distribusi tekanan dan ..........
perubahan bentuknya. ........................................................................ 8
Gambar 3. 2 Tekanan tanah pada turap diangker dengan metode ujung bebas.
(a) Turap pada tanah granuler (pasir) - (cara- 1) . (b) Turap pada tanah
granuler (pasir) - (cara-2). (c) Turap pada tanah kohesif (lempung) 10
Gambar 3. 3 Turap diangker pada tanah granuler (pasir), untuk γ' = 0,4γ (Cemica,
1995). ............................................................................................... 12
Gambar 3. 4 Turap diangker pada tanah granuler (pasir), untuk γ' = 0,5γ (Cemica,
1995). ............................................................................................... 13
Gambar 3. 5 Turap diangker pada tanah granuler (pasir), untuk γ' = 0.6γ
(Cernica,1995). ................................................................................ 13
Gambar 3. 6 Turap diangker pada tanah kohesif diurug tanah granuler (pasir). ...
untuk tanah granuler dengan γ' = 0,4γ (Cemica, 1 995). ................. 15
Gambar 3. 7 Turap diangker pada tanah kohesif diurug tanah granuler (pasir). ...
untuk tanah granuler dengan γ' = 0,4γ (Cemica, 1 995). ................. 16
Gambar 3. 8 Turap di angker pada tanah kohesif diurug tanah granuler (pasir), ...
untuk tanah granuler dengan γ' = 0,6γ (Cernica, 1 995). ................. 16
Gambar 3. 9 Perancangan turap diangker dengan metode ujung tetap. ................ 17
Gambar 3. 10 Kapasitas blok angker. (a) Blok angker memanj ang di dekat
permukaan tanah. (b) Blok angker pendek di dekat permukaan
tanah. (c) Blok angker terletak sangat dalam (Teng 1 962). ......... 20

iv
Gambar 3. 11 Penempatan angker. (a) Angker tidak memberikan tahanan. (b) .....
Kapasitas angker terganggu. (c) Blok angker bekerja penuh ..........
(Teng.1962). .................................................................................. 22
Gambar 3. 12 Pemasangan batang pengikat (tie rod) dan balok horisontal ( wale).
(a) Wale di luar permukaan turap. (b) Wale didalam permukaan .....
turap. .............................................................................................. 22

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lereng adalah sebuah permukaan tanah yang terbuka, yang berdiri
membentuk sudut tertentu terhadap sumbu horisontal, atau dapat dikatakan lereng
adalah permukaan tanah yang memiliki dua elevasi yang berbeda dimana
permukaan tanah tersebut membentuk sudut. Secara umum ada jenis lereng
berdasarkan proses terjadinya yaitu lereng alami dan lereng buatan. Lereng alami
adalah lereng yang terbentuk secara alami melalui proses geologi misalnya lereng
perbukitan dan tebing sungai. Sedangkan lereng buatan adalah lereng yang dibuat
manusia untuk keperluan tertentu, misalnya tanggul sungai, urugan untuk jalan
raya, dan lereng bendungan.
Perbedaan elevasi pada permukaan tanah seperti lereng dapat
mengakibatkan pergerakan massa tanah dari bidang dengan elevasi yang tinggi
menuju bidang dengan elevasi yang lebih rendah. Kelongsoran Lereng
disebabkan pergerakan atau gaya tersebut akan menghasilkan tegangan geser
yang berfungsi sebagai gaya penahan dan apabila berat massa tanah yang
bekerja sebagai gaya pendorong itu lebih besar dari tegangan geser tersebut
maka akan mengakibatkan kelongsoran.
Untuk mencgah terjadinya kelongsoran ada beberapa metode yang dapat
digunakan salah satunya yaitu menggunakan sheet pile (turap) sebagai penahan
tanah. Sheet pile (turap) adalah suatu konstruksi yang berupa dinding menerus yang
dibuat dengan cara menghubungkan potongan – potongan / section yang saling
mengunci yang bertujuan untuk menahan tekanan horisontal akibat tanah dan air.
Selain berfungsi untuk menahan tanah sheet pile juga berfungsi untuk menahan
masuknya air ke lubang galian sehingga cocok untuk digunakan di daerah tepi laut
atau sungai, Karena fungsinya sebagai penahan tanah maka konstruksi ini juga
digolongkan sebagai jenis lain dari dinding penahan tanah (retaining wall),
perbedaan mendasar antara sheet pile dan dinding penahan tanah terletak pada
keuntungan penggunaan sheet pile yang tidak diperlukannya pengeringan air

1
(dewatering). Analisis sheet pile didasarkan pada gerakan menyeluruh dari
kekuatan geser tanah, jenis yang umum digunakan yaitu turap kantilever dan turap
berjangkar. Penambahan jangkar dimaksudkan untuk menambah stabilitas turap
dan angka keamanan , namun penambahan jangkar berarti juga tambahan metode
konstruksi dan biaya.
Dari uraian diatas penulis akan mengemukakan pembahasan turap yaitu
turap berjangkar.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah itu Turap Berjangkar?
2. Berapa jenis Turap Berjangkar?
3. Bagaimana cara perhitungan Turap Berjangkar?

1.3 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini yaitu mengetahui tentang turap berjangkar
dengan cara perhitungannya.

2
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Pendahuluan
Dinding turap adalah dinding vertikal relatif tipis yang berfungsi kecuali
untuk menahan tanah juga berfungsi untuk menahan masuknya air ke dalam
lubang galian. karena pemasangan yang mudah dan biaya pelaksanaan yang relatif
murah, turap banyak digunakan pada pekerjaan- pekerjaan, seperti: penahan tebing
galian sementara, bangunan-bangunan di pelabuhan, dinding penahan tanah,
bendungan elak dan lain lain. Dinding turap tidak cocok untuk menahan tanah
timbunan yang sangat tinggi karena akan memerlukan luas tampang bahan turap
yang besar. Selain itu, dinding turap juga tidak cocok digunakan pada tanah yang
mengandung banyak batuan-batuan, karena menyulitkan pemancangan.

2.2 Tipe-tipe Turap


Tipe turap dapat dibedakan menurut bahan yang digunakan. Bahan turap
tersebut bermacam-macam, contohnya: kayu, beton bertulang, dan baja.

2.2.1 Turap Kayu


Turap kayu digunakan untuk dinding penahan tanah yang tidak begitu
tinggi, karena tidak kuat menahan beban-beban lateral yang besar. Turap ini tidak
cocok digunakan pada tanah berkerikil, karena turap cenderung pecah bila
dipancang. Bila turap kayu digunakan untuk bangunan permanen yang berada di
atas muka air, maka perlu diberikan lapisan pelindung agar tidak mudah
lapuk.Turap kayu banyak digunakan pada pekerjaan-pekerjaan sementara,
misalnya untuk penahan tebing galian. Bentuk-bentuk susunan turap kayu dapat
dilihat pada Gambar 2.1.

3
Gambar 2. 1 Turap kayu.

2.2.2 Turap Beton


Turap beton merupakan balok-balok beton yang telah dicetak sebelum
dipasang dengan bentuk tertentu. Balok-balok turap dibuat saling mengkait satu
sama lain (Gambar 2.2). Masing-masing balok, kecuali dirancang kuat menahan
beban-beban yang bekerja pada turap, juga terhadap beban-beban yang akan
bekerja pada waktu pengangkatannya. Ujung bawah turap biasanya dibentuk
meruncing untuk memudahkan pemancangan.

Gambar 2. 2 Turap beton.

2.2.3 Turap Baja


Turap baja (Gambar 2 .3) sangat umum digunakan, karena lebih
menguntungkan dan mudah penanganannya. Keuntungan-keuntungannya antara
lain:
1. Turap baja kuat menahan gaya-gaya benturan pada saat pemancangan .
2. Bahan turap relatif tidak begitu berat.
3. Turap dapat digunakan berulang-tilang.
4. Turap baja mempunyai keawetan yang tinggi.
5. Penyambungan mudah, bila kedalaman turap besar.

4
Gambar 2. 3 Tampang turap baja

2.3 Tipe-tipe Dinding Turap


Terdapat 4 tipe dinding turap yaitu:
1. Dinding turap kantilever.
2. Dinding turap diangker.
3. Dinding turap dengan landasan/panggung (platform) yang didukung tiang-
tiang.
4. Bendungan elak seluler (cellular cofferdam).

2.3.1 Dinding Turap Kantilever


Dinding turap kantilever (Gambar 2.4a) merupakan turap yang dalam
menahan beban lateral mengandalkan tahanan tanah di depan dinding. Defleksi
lateral yang terjadi relatif besar pada pemakaian turap kantilever. Karena luas
tampang bahan turap yang dibutuhkan bertambah besar dengan ketinggian tanah
yang ditahan (akibat momen lentur yang timbul), turap kantilever hanya cocok
untuk menahan tanah dengan ketinggian sedang.

2.3.2 Dinding Turap Diangker


Dinding turap diangker cocok untuk menahan tebing galian yang dalam.
tetapi masih juga bergantung pada kondisi tanah (Gambar 2. 4b). Dinding turap ini
menahan beban lateral dengan mengandalkan tahanan tanah pada bagian turap yang
terpancang ke dalam tanah dengan di bantu oleh angker yang dipasang pada bagian
atasnya. Kedalaman turap menembus tanah bergantung pada besamya tekanan
tanah. Untuk dinding turap yang tinggi, diperlukan turap baja dengan kekuatan
tinggi. Stabilitas dan tegangan- tegangan pada turap yang diangker bergantung pada

5
banyak faktor. Misalnya kekakuan relatif bahan turap, kedalaman penetrasi
turap, kemudah- mampatan tanah, kuat geser tanah, keluluhan angker dan lain-
lainnya.

Gambar 2. 4 (a) Dinding turap kantilever. (b) Dinding turap diangker.

2.3.3 Dinding Turap dengan Landasan (Platform)


Dinding turap semacam ini dalam menahan tekanan tanah lateral dibantu
oleh tiang-tiang, dimana di atas tiang-tiang tersebut dibuat landasan untuk
meletakkan bangunan tertentu (Gambar 2.5a). Tiang-tiang pendukung landasan
juga berfungsi untuk mengurangi beban lateral pada turap. Dinding turap ini dibuat
bila di dekat lokasi dinding turap direncanakan akan dibangun jalan kereta
api, mesin derek, atau bangunan-bangunan berat lainnya.

2.3.4 Bendungan Elak Seluler


Bendungan elak seluler (cellular cofferdam) merupakan turap yang
berbentuk sel-sel yang diisi dengan pasir (Gambar 2.5b). Dinding ini menahan
tekanan tanah dengan mengandalkan beratnya sendiri.

6
Gambar 2. 5 (a) Dinding turap dengan landasan yang didukung tiang-tiang.
(b) Bendungan elak selular.

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Perancangan Dinding Turap Diangker


Telah disebutkan bahwa untuk menahan beban-beban lateral yang besar
lebih baik jika dipakai dinding turap diangker. Distribusi tekanan pada turap yang
diangker menjadi tidak sama dengan distribusi tekanan dinding turap kantilever.
Gambar 3.1 memperlihatkan hubungan antara kedalaman penembusan turap,
distribusi tekanan lateral, dan garis perubahan bentuknya.

3.1.1 Metode Ujung Bebas


Pada metode ujung bebas (free end method) atau disebut juga metode tanah
bebas (free earth method), kedalaman turap di bawah dasar galian dianggap tidak
cukup untuk menahan tekanan tanah yang terjadi pada bagian atas dinding turap.
Karena itu, keruntuhan terjadi oleh akibat rotasi dinding turap terhadap ujung
bawahnya.

Gambar 3. 1 Pengaruh kedalaman turap pada distribusi tekanan dan


perubahan bentuknya.

Dalam analisis stabilitas turap diangker dengan metode ujung bebas, terdapat
anggapan-anggapan sebagai berikut:
1. Turap merupakan bahan yang sangat kaku dibandingkan dengan tanah di
sekitamya.

8
2. Kondisi tekanan tanah yang bekerja dianggap memenuhi syarat teori
Rankine atau Coulomb.
3. Turap dianggap berotasi dengan bebas pada ujung bawahnya, namun tidak
dizinkan bergerak secara lateral di tempat angket. Pada kapasitas
ultimitnya, turap runtuh akibat gerakan angker ke arah luar.
Diagram tekanan tanah yang bekerja pada dinding turap diangker, dengan
keruntuhan terjadi rotasi turap terhadap ujung bawahnya tersebut, diperlihatkan
dalam Gambar 3.2.
a) Turap pada tanah granuler
1. Cara-1
Diagram tekanan tanah aktif dan pasif yang bekerja pada turap dengan titik
putar pada ujung bawahnya.
Tekanan tanah aktif yang bekerja pada bagian belakang turap:

Tekanan tanah pasif yang bekerja pada bagian belakang turap:

Dengan mengambil momen terhadap angker dapat diperoleh:

9
Gambar 3. 2 Tekanan tanah pada turap diangker dengan metode ujung bebas.
(a) Turap pada tanah granuler (pasir) - (cara- 1) . (b) Turap pada tanah granuler
(pasir) - (cara-2). (c) Turap pada tanah kohesif (lempung)

Jumlah momen terhadap angker sama dengan nol:

Penyelesaian dari Persamaan diatas dilakukan dengan coba-coba untuk


mendapatkan D. Gaya pada angker (ƩFH = 0):

2. Cara-2
Hitungan dilakukan dengan menjumlahkan gaya-gaya tekanan aktif dan
pasif. Gambar tekanan tanah netto pada turap diperlihatkan pada Gambar
3.2b. Dari gambar ini, jarak y (titik pada tekanan nol) dapat dihitung dengan
persamaan:

dengan
q’ = ƩγiHi = tekanan tanah pada kedalaman yang sama dengan dasar
galian (gunakan γ' bila tanah terendam air)
y2 = berat volume tanah di bawah dasar galian.

10
Kp2, Ka2 = koefisien tekanan tanah pasif dan aktif untuk tanah di bawah dasar
galian.
Dengan menghitung momen terhadap angker sama dengan nol, diperoleh :

dengan Pa = tekanan tanah aktif total di belakang turap (luasan OA BC). Gaya pada
angker, ƩFH = 0:

Jadi,

Prosedur untuk merancang dinding turap yang dipancang pada tanah granuler
dengan ujung bebas adalah sebagai berikut:
1. Hitung dan gambarkan diagram tekanan tanah aktif dan pasif berdasarkan Ka
dan Kp.
2. Hitung tekanan akibat tekanan overburden pada kedalaman turap H, q' = ƩγiHi
(gunakan γ' bila tanah terendam air)
3. Tentukan letak titik bertekanan nol dengan persamaan:

dengan
q' = ƩγiHi = tekanan akibat tanah urug dan beban terbagi rata pada
elevasi yang sama dengan dasar galian. Gunakan berat volume apung
(γ') bila tanah terendam air.
Kp2, Ka2 = koefisien tekanan pasif dan aktif tanah di bawah dasar
galian.
4. Ambil momen terhadap angker :

Dari persamaan ini akan diperoleh D1.


5. Hitung gaya pada angker :

11
6. Tentukan besamya momen maksimum dan dinding turap, yaitu pada titik
dengan gaya lintang nol.
7. Pilihlah dimensi turap berdasarkan momen maksimum tersebut.
8. Untuk keamanan, kalikan kedalaman turap (D), dengan faktor I ,2 - I ,4 atau
dengan membagi koefisien tekanan tanah pasif dengan faktor I ,5 sampai 2
pada langkah (3) dan (4).
Bila turap terletak pada tanah granuler (pasir), Gambar 3.3 sampai Gambar 3.5
dapat digunakan untuk menghitung penetrasi turap (D), momen maksimum
pada turap (Mmak) dan gaya pada angker (T) yang dipasang pada jarak hi =
0,25H (H = tinggi galian) untuk nilai-nilai berat volume apung tanah γ' = 0,4, 0,5
dan 0,6γ. Untuk nilai -nilai diantaranya dilakukan cara interpolasi.

Gambar 3. 3 Turap diangker pada tanah granuler (pasir), untuk γ' = 0,4γ (Cemica,
1995).

12
Gambar 3. 4 Turap diangker pada tanah granuler (pasir), untuk γ' = 0,5γ (Cemica,
1995).

Gambar 3. 5 Turap diangker pada tanah granuler (pasir), untuk γ' = 0.6γ
(Cernica,1995).

13
b) Turap pada tanah kohesif
Tekanan tanah di bawah dasar galian:

Karena pada φ = 0, Ka = Kp = I, maka


Pp - Pa =4c - q'
Dengan memperhatikan Gambar 3.2c,
PP = (4c - q' )D
Momen gaya-gaya Pp dan Pa terhadap angker,

Gaya pada angker diperoleh dengan ƩFH = 0,


T= Pa - (4c - q ')D
Prosedur perancangan turap diangker yang terletak pada tanah kohesif dengan
metode ujung bebas, adalah sebagai berikut:
1. Gambarkan diagram tekanan tanah aktif dan pasif.
2. Hitung tekanan tanah akibat tekanan overburden dan beban terbagi rata pada
elevasi yang sama dengan dasar galian (q' = ƩγiHi). Gunakan γ' bila tanah
terendam air.
3. Dengan menggunakan kuat geser undrained (cu), ambillah momen terhadap
angker

Dari persamaan ini diperoleh D.


4. Hitung gaya pada angker : T= Pa - (4c - q')D
5. Tentukan besar momen maksimum pada turap, yaitu pada titik dengan gaya
lintang sama dengan nol.
6. Pilih lah dimensi turap berdasarkan momen maksimum yang diperoleh
tersebut.
7. Untuk keamanan, kalikan kedalaman turap (D) dengan faktor 1 ,2 sampai
1 ,4 atau gunakan nilai c sebesar 50-70%-nya dalam langkah 3 dan 4.

14
Bila tanah bawah berupa tanah kohesif (lempung) yang diurug dengan pasir,
Gambar 3.6 sampai Gambar 3.8 dapat digunakan untuk menghitung penetrasi
turap (D), momen maksimum pada turap (Mmak) dan gaya pada angker (1) yang
dipasang pada jarak hi = 0,25H (H = tinggi galian) untuk nilai-nilai berat volume
apung tanah granuler γ' = 0,4, 0,5 dan 0,γy. Untuk nilai-nilai diantaranya dilakukan
dengan cara interpolasi.

Gambar 3. 6 Turap diangker pada tanah kohesif diurug tanah granuler (pasir).
untuk tanah granuler dengan γ' = 0,4γ (Cemica, 1 995).

15
Gambar 3. 7 Turap diangker pada tanah kohesif diurug tanah granuler (pasir).
untuk tanah granuler dengan γ' = 0,4γ (Cemica, 1 995).

Gambar 3. 8 Turap di angker pada tanah kohesif diurug tanah granuler (pasir),
untuk tanah granuler dengan γ' = 0,6γ (Cernica, 1 995).

16
3.1.2 Metode Ujung Tetap
Metode ujung tetap (fixed end method) atau metode tanah tetap (fixed earth
method) didasarkan pada pertimbangan bahwa kedalaman penembusan turap sudah
cukup dalam, sehingga tanah di bawah dasar galian mampu memberikan tahanan
pasif yang cukup untuk mencegah ujung bawah turap berotasi. Di sini, dianggap
terdapat satu titik balok (B) di dekat permukaan dasar galian (Gambar 3.9).
Tahanan tanah terhadap rotasi bebas ujung bawah turap memberi pengertian
bahwa tahanan pasif berkembang pada sisi belakang dinding turap pada jarak
tertentu di atas ujung bawahnya. Tahanan terhadap rotasi ini digantikan oleh gaya
R.

Gambar 3. 9 Perancangan turap diangker dengan metode ujung tetap.

Pada metode ujung tetap terdapat anggapan-anggapan sebagai berikut:


1. Kondisi tekanan tanah yang bekerja dianggap memenuhi teori Rankine
atau Coulomb.
2. Turap bebas berotasi , namun tidak diijinkan bergerak pada angkemya.
3. Titik balik (B) (Gambar 3.9b) ditentukan dari teori elastis. Lokasi titik
tersebut merupakan fungsi dari φ tanah timbunan.

17
4. Diagram tahanan tanah pasif OACE (Gambar 3.9c) dipermudah
dengan digantikan oleh diagram tekanan ODE dan gaya reaksi R.
Didasarkan pada anggapan-anggapan tersebut, perancangan dinding turap dengan
metode ujung tetap dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Tentukan besamya tekanan tanah aktif dan pasif (pa dan Pr)·
2. Tentukan kedalaman titik 0, dengan persamaan:

dengan
q' = ƩγHi = tekanan akibat tanah urug dan beban terbagi rata pada
elevasi yang sama dengan dasar galian. Gunakan berat volume
apung (y') bila tanah terendam air.
Ka2. Kp2.= koefisien tekanan aktif dan pasif tanah di bawah dasar
galian.
3. Tentukan letak titik B dengan menggunakan Gambar 3.9e.
4. Tentukan gaya geser horisontal R1 pada titik balik B. R1 adalah rekasi
horisontal pada titik B dengan menganggap turap sebagai balok seder- hana
yang ditumpu pada titik B dan angker.
5. Dengan menganggap bagian BE pada turap sebagai balok sederhana
(simple beam) (Gambar 3.9d), h itung panjang BE dengan cara
mengambil momen terhadap E sama dengan nol.
6. Kedalaman penetrasi turap D sama dengan jumlah panjang bagian BE
ditambah x (lihat Gambar 3.9c). Untuk keamanan, kalikan D dengan faktor
I ,2 - I ,4.
Metode ujung tetap ini hanya cocok untuk turap yang secara keseluruhan
terletak di dalam tanah granuler. Pada umumnya titik balik B dan titik dengan
tekanan nol (0) ditempatkan di dekat permukaan dan x dapat diambil sama dengan
y. Karena itu, kedalaman penetrasi turap (D) dapat dinyatakan oleh persamaan:

18
dengan
y = j arak titik 0 dari garis galian tanah
R1 = reaksi horisontal pada titik 0 dengan mengganggap turap didukung
pada titik 0 dan angker
Ka2, KP2 = koefisien tekanan tanah aktif dan pasif, tanah di bawah garis
galian

3.2 Perancangan Blok Angker


Blok angker dapat dipasang di dekat permukaan tanah atau jauh dari
permukaan tanah. Tahanan angker ke dua kondisi tersebut akan dibahas di bawah
ini.
3.2.1 Blok Angker Memanjang di Dekat Permukaan Tanah
Jika kedalaman puncak blok angker sebesar h, dengan h kurang dari 1 /3 -1
/2 H (H = kedalaman dasar blok) (Gambar 3.10a), kapasitas angker (7) dapat
dihitung dengan menganggap puncak blok angker memanjang sampai permukaan
tanah.

19
Gambar 3. 10 Kapasitas blok angker. (a) Blok angker memanj ang di dekat
permukaan tanah. (b) Blok angker pendek di dekat permukaan tanah. (c) Blok
angker terletak sangat dalam (Teng 1 962).

Dari keseimbangan L.FH = 0, kapasitas angker ultimit:


Tu = Pp- Pa
dengan
Tu = kapasitas ultimit blok angker (kN/m)
Pa = tekanan tanah aktif total (kN/m)
Pp = tekanan tanah pasif total (kN/m)
Pp dan Pa dapat dihitung dari teori-teori yag telah dipelajari, yaitu dengan
menganggap gesekan dan adhesi antara tanah dan dinding blok angker nol.

3.2.2 Blok Angker Pendek di Dekat Permukaan Tanah


Gambar 3.10b memperlihatkan blok angker pendek dengan panjang L yang
didukung gaya angker T. Pengamatan-pengamatan dalam pengujian menunjukkan
bahwa saat keruntuhan terjadi, tanah yang terangkat lebih panjang dari panjang blok
angker. Teng (1962) mengusulkan persamaan untuk menghitung kapasitas ultimit
blok angker pendek sebagai berikut:
l. Untuk tanah granuler

dengan
T = kapasitas ultimit balok angker pendek
L = panjang balok angker
Pa , Pp = tekanan tanah aktif dan pasif total
Ko = koefisien tekanan tanah saat diam (K0 dapat diambil = 0,4)
γ = berat volume tanah
Kp, Ka = koefisien tekanan tanah pasif dan aktif
H = kedalaman dasar blok angker terhadap permukaan tanah
φ = sudut gesek dalam tanah

20
2. Untuk tanah kohesif:

dengan c = kohesi tanah.

3.2.3 Blok Angker pada Kedalaman Besar


Kapasitas angker ultimit untuk blok angker yang dalam' (h > H) (Gambar
3.10c) secara pendekatan sama dengan kapasitas dukung pondasi yang dasamya
terletak pada kedalaman 1/2 dari kedalaman blok angker (Terzaghi, 1 943).

3.3 Letak Angker


Letak angker harus sedemikian rupa sehingga tidak terletak pada zone tanah
yang tidak stabil. Blok angker akan bekerja penuh jika:
1. Zone aktif turap yang akan runtuh tidak memotong bidang longsor blok
angker.
2. Blok angker terletak di bawah garis yang ditarik dari ujung bawah turap
yang membuat sudut rp terhadap horisontal.
Penempatan blok angker yang benar dan tidak benar seperti yang disarankan
oleh Teng ( 1962), diperlihatkan dalam Gambar 3.11.

21
Gambar 3. 11 Penempatan angker. (a) Angker tidak memberikan tahanan. (b)
Kapasitas angker terganggu. (c) Blok angker bekerja penuh (Teng.1962).

3.4 Batang Pengikat dan Balok Horisontal


Dalam suatu sistem turap diangker, balok horisontal yang disebut wale
adalah balok yang berfungsi menahan gaya horisontal turap. Gaya ini oleh wale
ditransfer ke batang pengikat (tie rod). Umumnya wale merupakan sepasang besi
profil U yang dipasang horisontal. Gambar 3.12 menunjukkan pemasangan wale
diluar permukaan turap dan didalam permukaan turap. Batang pengikat dapat
berbentuk bulat atau persegi yang dibuat dari baja. Jika batang pengikat dipasang
tegak lurus terhadap turap, maka wale mumi menahan momen, sedang batang
pengikat umumnya batang yang menahan tarik.
Jika terdapat lapisan tanah lunak di bawah batang pengikat, akibat beban
tanah urug, tanah lunak ini akan berkonsolidasi, sehingga terjadi penurunan.
Penurunan kecil saja akan berak ibat batang pengikat menjadi melengkung atau
melonggar. Untuk mengeliminasi hal ini, maka batang pengikat didukung tiang-
tiang pada interval 6 - I 0 m. Tiang-tiang harus dipancang sampai lapisan tanah kuat
di bawah lapisan tanah lunak tersebut.

Gambar 3. 12 Pemasangan batang pengikat (tie rod) dan balok horisontal (wale).
(a) Wale di luar permukaan turap. (b) Wale didalam permukaan turap.

22
3.5 Tipe Jangkar
1. Penjangkaran dengan tahanan geser. Jenis ini memakai batang jangkar yang
silindris yang digrout di dalam lubang bor dan gaya tarik ditimbulkan dari
tahanan geser yang bekerja sekelilingnya.
2. Penjangkaran dengan plat pemikul. Jenis ini menggunakan suatu plat massif
yang dipasang di dalam tanah sehingga tekanan tanah pasif yang berkerja
dapat menahan gaya tarik.
3. Penjangkaran gabungan. Dimana ada bagian-bagian yang diperbesar dan
tekanan pasif Bersama-sama tahanan geser batangnya yang menahan gaya
tarik, sehingga dapat disebut sebagai gabungan dari keddua metode
terdahulu.
Untuk membuat penjangkaran dengan diameter besar pembuatan lubangnya perlu
menggunakan mata bor khusus atau semburan air bertekanan tinggi.

Gambar 3. 13 Tipe-Tipe Jangkar

3.6 Metode Penjangkaran


1. Metode penjangkaran dengan grouting
Setelah suatu bataring PC baja atau kabel baja terpasang sebagai
batang tarik di dalam lubang hasil pengeboran, dilaksanakan grouting dan
batang tarik ini dijangkar. Untuk menghindari mengalir keluarnya adukan
semen dari lubang waktu sedang di grouting, perlu dipasang alat khusus

23
didalam lubang tersebut yaitu “packer” untuk menahan tekanan tinggi. Cara
ini dimaksudkan untuk mengeraskan dinding lubang secukupnya, yang agak
terurai karena adanya grouting dengan suatu kekuatan leleh yang besar.

2. Metode penjangkaran dengan lubang bertekanan (jangkar PS)


Adalah metode dimana suatu tabung yang dapat mengembang dan
dimasukkan ke dalam lubang hasil pengeboran dan adukana mengisi bagian
luar dari dinding tabung, kemudian air bertekanan dimasukkan kedalam
tabung tersebut agar mengembang, sehingga bagian luaur tabung tertekan
dan dapat menjadi keras. Setelah mengeras tabung tersebut kemudian
dikeluarkan dan batang tarik dimasukkan mengganti tempat tabung tadi dan
diberi tambahan adukan.

Gambar 3. 14 Metode jangkar tabung tekan

3. Metode penjangkaran dengan penekanan (jangkar baji)


Suatu PC baja dimasukkan ke dalam lubang dan adukan diisikan ke
dalam dasar lubang, lalu dimasukkan beton bertulang yang berlubang
ditengahnya sebagai inti dari jangkar ini dengan batang baja tadi sebagai
pengarahnya dipukul masuk ke dalam adukannya, hal ini menyebabkan
adukan ini memperbesar dinding lubangnya, sehingga tahanan cabut dari
jangakr tersebut diperbesar.

24
Gambar 3. 15 Metode jangkar dengan inti yang dipancang

4. Metode penjangkaran plat


Metode ini disebut metode penjangkaran mekanis, terdiri dari batang
baja dan bagian jangkar yang terbuat dari plat baja dan dimasukkan kedalam
tanah dengan dipukul. Setelah dimasukkan batang-batang baja itu ditarik
sehingga plat tadi berputar dan menjadi plat penahan. Dalam metode
penjangkaran mekanis ini ada juga suatu jenis yang jangkarnya dimasukkan
kedalam lubang bor, sebagai tambahan dari jenis jangkar yang dipukul
seperti meode jangkar dengan plat tadi. Jenis jangkar yang dipukul biasanya
dipergunakan untuk beban rencana yang agak kecil dimana gaya tarik
kurang dari 20 ton. Hal ini ditandai dari cara pelaksanaannya yang mudah
dan prinsipnya sederhana.

25
Gambar 3. 16 Metode plat jangkar

5. Metode jangkar UAC


Metode ini adalah dengan pembesaran lubang. Telah dikembangkan di
Inggris dan banyak digunakan disana. Caranya berdasarkan bahwa setelah
dibor sampai kedalaman yang diperlukan, suatu mata bor khusus dipakai
untuk memperbesar bagian dasar lubang yang mengakibatkan
meningkatnya tahanan cabut jangkar tersebut. Metode pelaksanaannya
setelah dasar lubang dibesarkan adalah seperti metode jangkar gabungan.

Gambar 3. 17 Metode jangkar UAC

3.7 Metode Penjangkaran Prategang Pratekan dengan Grouting


Metode penjangkaran pratekan prategang dengan grouting
(prestressed grouted ground anchor) adalah komponen konstruksi yang
ditanam pada tanah atau batu (rock) yang digunakan untuk menyalurkan
gaya ke bumi. Grouting diisi ke lubang hasil pengeboran. Penjangkaran
dengan grouting terdiri dari 3 (tiga) bagian penting yaitu :
a. Anchorage
b. Free stressing (unbonded) length
c. Bond length

26
Seperti terlihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 3. 18 Proses Penjangkaran Angkur

Anchorage merupakan kombinasi dari anchor head, bearing plate


dan trumpet yang mempunyai kapasitas mentransfer gaya prategang dari
baja prategang (bar atau stand) ke bumi atau konstruksi pendukung.
Unbonded length adalah bagian baja prategang yang bebas untuk
mengalami perpanjangan atau pemuluran secara elastis (elongate
elastically) dan mentransfer gaya perlawanan dari “bond length” ke
struktur. Sebuah bondbreaker dari plastic ditempatkan pada tendon di
bagian unbonded length untuk mencegah baja prategang tersebut dari
pengikatan akibat rembesan grouting. Hal tersebut memungkinkan baja
prategang pada unbonded length untuk mengalami perpanjangan tanpa
hambatan saat testing dan stressing dan tetap dalam keadaan unbonded
setelah lock-off.
Tendon bond length adalah panjang baja prategang yang diikat oleh
grouting dan mempunyai kemampuan mentrasnfer tegangan yang terjadi
akibat beban yang bekerja ke bumi.
Untuk selanjutnya istilah tendon berarti termasuk baja prategang
(strand atau bar), perlindungan terhadap karat, sheaths (sheatings),
centralizer, spacer dan dalam hal ini tidak termasuk anchorage dan

27
grouting. Sheats adalah lapisan pembungkus bergelombang yang
melindungi baja prategang dari karat pada unbonded length. Posisi tendon
harus ditengah pada lubang bor agar minimum igrouting yang menutupinya
tercapai. Spacer digunakan untuk menyekat antar baja prategang atau bar
masing-masing terikat dengan cukup terhadap anchor grout.

 Grouting
Grouting untuk soil dan rock adalah jenis grouting murni atau tanpa
agregat dan mengacu pada ASTM C150, dengan water cement ratio antara
0,4 – 0,55 terhadap berat dan semen yang dipakai type I dan semen grouting
harus mencapai kekuatan 21 Mpa pada saat akan stressing serta dapat pula
memakai additive untuk mengatasi masalah panas yang timbul dan jauhnya
jarak pompa saat dilakukan penekanan grouting. Grouting ini adalah suatu
campuran Portland cement yang menyalurkan gaya dari tendon ke bumi dan
juga memberikan perlindungan terhadap karat.

 Material Tendon
Spesifikasi steel bar dan strand tebdon mengacu pada ASTM A722
dan ASTM A416 sedangkan strand yang digunakan seven wire diameter
15,2 mm (0,6 inch) grade 270, sedangkan bar tendon umumnya diameter 26
mm, 32 mm, 36 mm, 45 mm, dan 64 mm dengan panjang tanpa sambungan
+/- 18 m. desain angker dengan beban +/- 2077 kN dapat digunakan bar
tendon dengan diameter 64 mm single. apabila digunakan sambungan maka
harus diperhatikan perlindungan karatnya.

 Spacers and Centralizer


Unit spacer/centralizers ditempatkan secara teratur dengan interval
biasanya 3 m sepanjang daerah anchor bond. Untuk strand tendon, spacer
biasanya dipasang untuk memberikan jarak/spasi antar strand minimum 6 –
13 mm dan terhadap bagian terluar grouting minimum 13 mm. Spacer dan

28
centralizer dibuat dari bahan anti karat dan mudah untuk mengalirkan bahan
grouting.

3.8 Contoh Soal


Turap dengan angker ditunjukkan pada Gambar C1.4. Data tanah sebagai
berikut:
Di atas galian: γd = 13 kN/m3, γ’ = 10 kN/m3, φ= 30°, c = 0 kPa
Di bawah galian : γ' = I 0 kN/ m3, φ = 33°, c = 0 kPa
Tentukan kedalaman turap dengan cara uj ung bebas, dan hitung gaya pada angker.
Untuk menghitung tekanan tanah pada dinding digunakan teori Rankine.

Penyelesaian:
Tanah di atas galian : Ka1 = tg2 (45° - φ/2) = tg2 (45° - 15 °) = 0,33
: Kp1 = tg2 (45°+ φ/2}= tg2 (45° + 15°) = 3
Tanah di bawah galian : Ka2 = tg2 (45° - 16,5°) = 0,29
: Kp2 = tg2 (45° + 16,5°) = 3 ,39
Tekanan tanah pada kedalaman dasar galian:

Kedalaman

29
Gambar 3.13.

Elevasi muka air di muka dan di belakang turap sama, maka tekanan air
pada turap nol (saling meniadakan). Hitungan tekanan tanah dan momen terhadap
A, diperlihatkan dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1.

Jarak titik tangkap gaya-gaya terhadap titik A:

Menurut Persamaan :

30
Dengan cara coba-coba, diperoleh D1 = 2, 15 m
y + D = 0,89 + 2, 15 = 3,04 m
Kedalaman penembusan turap D = 1,2 x 3,04 = 3,65 m
Panjang turap total = 3,65 + 8 = 1 1 ,65 m
Gaya pada angker (diambil pada D1 = 2,15 m)

31
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Turap berjangkar digunakan secara luas pada konstruksi penahan air
dan sebagai penyangga dinding lubang galian yang dalam, hal itu dikarenakan
turap ini dilengkapi dengan penyangga yang disebut jangkar yang diletakkan
didekat puncak dinding dan perletakkannya pada tanah dianggap perletakkan
bebas, karena diasumsikan bahwa kedalaman pemancangan di bawah
permukaan galian tidak cukup membuat kaku ujung bawah dinding. Stabilitas
dinding ini ditimbulkan oleh tahanan tanah pasif yang terjadi di depan dinding
bersama-sama gaya angker.
Dalam merencankan turap berjangkar, maka harus mengikuti tahapan
berikut:
1. Menentukan jenis turap (turap berjangkar)
2. Menghitunng beban-beban yang bekerja pada turap
3. Menentukan kedalaman penetrasi turap
4. Menentukan profil turap
5. Menentukan gaya jangkar, dan
6. Merencanakan kontruksi jangkar.

4.2 Saran
Dalam penulisan tugas makalah “turap berjangkar” ini, penulis
menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan yang belum penulis
ketahui. Untuk itu penulis sangat mengharapakan kritikan, masukan, dan ide-
ide yang dapat menyempurnakan makalah ini dari dosen pembimbing Pondasi
II dan teman-teman dari kelompok lain.

32