Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIKUM FENOMENA DASAR MESIN

PENGUJIAN PERFORMA MESIN


UJI DYNO TEST

A. Tujuan Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan untuk memenuhi tujuan sebagai
berikut:
1. Untuk mengenalkan beberapa jenis dinamometer pada
mahasiswa yang terdapat dilaboratorium.
2. Untuk mengetahui alat – alat yang digunakan saat pengujian
performa mesin.
3. Untuk mengetahui teknologi yang digunakan saat pengujian
performa mesin.
4. Untuk mengetahui prosedur pengujian performa mesin.
5. Untuk mengetahui rpm, torsi, serta daya dari sepeda motor
yang sedang diuji.

B. Manfaat Praktikum
Praktikum ini mempunyai beberapa manfaat yaitu:
1. Mahasiswa dapat mengetahui jenis dinamometer yang ada
pada laboratorium.
2. Mahasiswa mengetahui alat – alat yang digunakan saat
pengujian performa mesin.
3. Mahasiswa mengetahui teknologi yang digunakan saat
pengujian performa mesin.
4. Mahasiswa mengetahui prosedur pengujian performa mesin.
5. Mahasiswa mengetahui rpm, torsi, serta daya dari sepeda motor
yang sedang diuji.
C. Alat dan Bahan
1. Alat
Pada praktikum ini digunakan beberapa alat untuk
membantu jalannya praktikum diantaranya:
a. Rachet Strap

Gambar 1 Tie Down.


Rachet Strap digunakan sebagai alat bantu untuk
mengikat sepeda motor pada Chassis Dynamometer.

b. Chassis Dynamometer

Gambar 2 Chassis Dynamometer


Chassis Dynamometer berperan sebagai simulasi
sepeda motor ketika bergerak di jalanan.
c. Computer (PC)

Gambar 3 Computer (PC)


Computer berfungsi sebagai alat bantu hitung besar
torsi dan daya yang terjadi ketika praktikum berlangsung.

d. Sepeda Motor Megapro

Gambar 4 Sepeda Motor


Sepeda motor menjadi bahan utama praktikum torsi dan
daya ini. Sepeda motor berperan sebagai penghasil besar nilai
daya torsi dan daya yang akan dianalisa dalam praktikum ini.
e. Lambda Sensor

f. RPM Pick UP Clamp

g. Thermocouple
h. Thermometer & Humidity Meter

2. Bahan
a. Bahan Bakar Kendaraan

D. Dasar Teori
1. Definisi Performa Dasar Mesin
Ada banyak definisi tentang performa mesin (engine
performance) apabila kita membaca sejumlah literature, di antaranya
adalah:
a. Performa mesin merupakan jumlah daya guna yang dapat
dihasilkan pada kecepatan tertentu dengan throttle terbuka lebar
(Crouse & Anglin, 1997:12)
b. Studi tentang performa mesin (engine performance)
membandingkan daya efektif (brake horsepower/bhp) atau daya
yang dikirimkan (delivery horsepower) atau kadang – kadang
disebut daya poros (shaft horsepower) yang dihasilkan mesin
dengan daya indikator (indicated horsepower/ihp) (Obert,
1973:43).
c. Performa mesin (engine performance) lebih tepatnya didefinisikan
sebagai:
1) Daya maksimum (atau torsi maksimum) yang ada pada
setiap kecepatam dalam rentang operasi penggunaan mesin.
2) Rentang kecepatan dan daya dalam operasi mesin.
d. Kemampuan kendaraan (engine performance) menjelaskan
hubungan antara kecepatan maksimum (maximum speed)
dengan pemakaian bahan bakar (fuel consumption)
(Swisscontact, 2001:9-10).
e. Kinerja dari suatu mesin kendaraan umumnya ditunjukkan
dalam 3 besaran, yaitu tenaga yang dapat dihasilkan, torsi yang
dihasilkan, dan jumlah bahan bakar yang dikonsumsi.
f. Kemampuan mesin (engine performance) adalah prestasi dari
suatu mesin, dimana prestasi tersebut erat hubungannya
dengan daya mesin yang dihasilkan serta daya guna dari mesin
tersebut. (Arismunandar, 2002:32).
g. Daya yang berguna adalah daya poros, karena poros itulah
yang menggerakkan beban. Daya poros itu sendiri dibangkitkan
oleh daya indikator yang merupakan daya gas pembakaran
yang menggerakkan torak/piston (Arismunandar, 2002:32)
Dari tujuh definisi di atas, memiliki kesamaan dalam
menjelaskan pemahaman akan performa mesin (engine
performance), yaitu perbandingan antara daya yang dapat
digunakan dengan daya yang dihasilkan dari pembakaran
bahan bakar.

2. Istilah Dalam Performa Dasar Mesin


Menurut Crouse & Anglin (1997:121-129), ada beberapa
istilah yang terkait dengan performa mesin (engine performance).
Diantaranya adalah kerja, energy, daya, torsi, daya kuda,
inersia, dan gesekan.
a. Kerja (Work)
Kerja (work) adalah perpindahan obyek yang
disebabkan oleh gaya. Obyek dipindahkan oleh dorongan,
tarikan, atau diangkat. Contohnya, ketika beban diangkat,
beban itu bergerak ke atas berlawanan dengan gaya Tarik
gravitasi.
Kerja diukur dalam bentuk jarak dan gaya. Jika beban
5 pound diturunkan ke tanah sejauh 5 feet, kerja yang
dilakukan oleh beban itu sebesar 25 foot-pound (ft-lb), atau 5
feet dikalikan 5 pound. Jarak dikalikan gaya sama dengan
kerja. Dalam sistem metris, kerja dapat diukur dalam satuan
meter-kilogram (mkg) atau dalam joule (J).
b. Energi (Energy)
Energi adalah kemampuan atau kapasitas untuk
melakukan kerja. Ketika kerja dilakukan pada sebuah objek,
maka energi tersimpan dalam objek tersebut.
Beban dapat menghasilkan kerja lebih banyak jika beban
itu dilepaskan. Ketika kendaraan bermotor dipercepat, kerja
telah dilakukan oleh kendaraan tersebut. Mesin harus
bekerja untuk menghasilkan perpindahan/pergerakan
kendaraan. Energi disimpan dalam kendaraan bermotor.
c. Daya (Power)
Kerja dapat dilakukan dengan diperlambat atau
dipercepat. Laju kerja (kerja per satuan waktu) diukur dalam
bentuk daya (power). Mesin yang dapat melakukan kerja
dengan baik dalam waktu yang pendek disebut mesin
berdaya tinggi (high-powered machine). Daya adalah laju atau
kecepatan pada kerja yang dilakukan.
d. Torsi (Torque)
Torsi adalah gaya puntir atau gaya putar. Anda
mengaplikasikan torsi pada permukaan sekrup ketika Anda
melepaskannya. Anda mengaplikasikan torsi pada roda
kemudi ketika anda mengemudikan kendaraan pada posisi
berbelok. Mesin menghasilkan torsi ke roda sehingga
membuatnya berputar.
Torsi tidak perlu dipertentangkan dengan daya. Torsi
adalah gaya putar yang mungkin atau tidak mungkin
dihasilkan dalam gerakan. Daya adalah laju kerja yang
dilakukan. Ini berarti sesuatu yang harus bergerak.
Torsi diukur dalam pound-feet (lb-ft, tidak perlu dibedakan
dalam ft-lb seperti pada kerja) atau dalam sistem metris
diukur dalam newton-meter (N.m).
e. Daya Kuda (Horsepower)
Daya kuda (horsepower) adalah daya seekor kuda atau
ukuran laju yang dapat dilakukan oleh seekor kuda. Satu
daya kuda (horsepower) sama dengan 33.000 ft-lb kerja per
menit. Rumus untuk daya kuda (horsepower) adalah:
𝑓𝑡−𝑙𝑏 𝑝𝑒𝑟 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝐿𝑥𝑊
Hp = = 33.000 𝑥 𝑡
33.000

Dimana:
Hp = daya kuda (horsepower)
L = panjang (feet)
W = gaya (pound)
T = waktu (menit) yang dibutuhkan untuk
memindahkan W melalui L
Pada sistem metris, daya yang keluar dari mesin diukur
dalam kilowatt (kW). Jumlah kelistrikan mesin dapat
dihasilkan jika mesin digunakan untuk menjalankan
generator listrik. Satu daya kuda (horsepower) sama dengan
0,746 kW, dan satu kW sama dengan 1,34 hp. Rumus kedua
untuk daya kuda (horsepower) adalah:
𝑡𝑜𝑟𝑠𝑖 𝑥 𝑟𝑝𝑚
Hp = 5252
f. Inersia (Inertia)
Inersia adalah property dari semua obyek material.
Inersia menyebabkan hambatan perubahan kecepatan atau
arah kecepatan. Obyek yang tidak bergerak cenderung
mempertahankan posisinya. Pergerakan obyek cenderung
menjaga gerakan pada kecepatan dan arah yang sama.
Ketika kendaraan bermotor masih diam, inersia harus
dihasilkan oleh daya untuk membuatnya bergerak. Untuk
menambah kecepatan, daya yang lebih besar harus
dihasilkan. Untuk mengurangi kecepatan, rem haruslah
berfungsi. Rem menyebabkan inersia kendaraan menjadi
lambat. Demikian juga ketika kendaraan mengelilingi kurva,
inersianya cenderung bergerak pada garis lurus. Roda pada
jalan menyebabkan kecenderungannya.
g. Gesekan (Friction)
Gesekan (friction) adalah hambatan untuk bergerak diantara
dua obyek yang berhubungan dengan yang lain. Gesekan
atau hambatan untuk bergerak, akan bertambah dengan
adanya peningkatan beban. Beban tertinggi akan
menyebabkan gesekan terbesar. Ada tiga jenis gesekan,
yaitu: dry, geasy, viscous.

3. Pengukuran Performa
a. Jenis – Jenis Dinamometer
1) Fluid Dynamometer
Pengereman fluida dibagi menjadi 2 jenis, yaitu jenis
gesekan (friction) dan agitator. Pada jenis gesekan, gaya
meningkat dari geseran viskus fluida antara rotor dan
strator. Sedangkan pada jenis agitator, gaya meningkat dari
perubahan momentum fluida yang dipindahkan dari sudu
rotor ke sudu stator dan kembali lagi.
Daya mesin diserap oleh air yang bersikulasi melalui
dynamometer. Penyerapan energy ini akan menghasilkan
kenaikan temperatur air dan kapasitas pendingin yang
cukup harus sesuai dengan disipasi laju daya. Mesin
otomotif, pesawat terbang, dan kapal yang diuji dengan fluid
dynamometer dalam rentang kapasitas 50 hp – 100.000 hp dan
dioperasikan dari kecepatan yang sangat rendah (50 rpm) –
kecepatan 20.000 rpm. Apabila dibandingkan dengan
dinamometer jenis yang lain, inersia pengereman fluida
pada jenis dinamometer ini sangat kecil.
2) Fan Brake Dynamometer
Propeller atau kipas dapat menyuplai beban untuk
pengujian dengan waktu yang lama dimana akurasi tidak
dipentingkan. Permasalahan utama pengereman kipas (fan
brake) adalah sulitnya menyetel beban. Untuk
memvariasikan beban dilakukan dengan merubah radius (r)
sudu, ukuran sudu, atau sudut sudu. Operasi ini biasanya
membutuhkan penghentian mesin. Perubahan massa jenis
udara selama pengujian berlangsung juga akan merubah
beban.
3) Eddy-Current Dynamometer
Salah satu dinamometer elektrik terlama adalah eddy-
current dynamometer. Bentuk kesederhanaannya terdiri dari
sebuah piringan (disk) yang digerkkan oleh mesin di bawah
pengujian dalam medan magnet (magnetic field). Kekuatan
medan magnet dikontrol dengan memvariasikan arus listrik
(current) melalui koil yang diletakkan pada kedua sisi
piringan. Piringan sebagai konduktor yang memotong
medan magnet. Arus dimasukkan ke dalam piringan, tidak
ada arus eksternal yang eksis, arus yang dimasukkan
membuat panas piringan. Untuk penyerapan daya yang
besar, panasnya piringan menjadi excessive dan sulit untuk
dikontrol.
4) Electric Dynamometer
Sebuah generator listrik dapat digunakan untuk
membebani mesin, tetapi output generator harus diukur
dengan instrument elektrik dan dikoreksi dalam magnitude
untuk efisiensi generator. Karena efisiensi generator
tergantung pada beban, kecepatan, dan temperature, dalam
laboratorium pengujian performa mesin ingin didapatkan
dari hubungan magnetic diantara armature dan strator
adalah sama terhadap torsi pengujian mesin yang
menggerakkan armature.
Sebuah electric dynamometer dimungkinkan
dimodifikasi dengan variasi kontrol untuk aplikasi mesin
otomotif. Pengukuran jalan torsi dan kecepatan mesin
(pengukuran yang lain termasuk: temperature mesin,
tekanan, dll) dibuat dengan strain-gage transducer dan sebuah
tachometer generator serta direkam secara simultan pada
sebuah tape recorder.
5) Chassis Dynamometer
Jalan atau track pengujian merupakan kondisi cuaca
yang tidak dapat dikontrol. Padahal, kendaraan yang melaju
di atas jalan harus mengatasi (1) hambatan angin (wind
resistance) dan (2) hambatan rolling (rolling resistance) oleh
roda terhadap permukaan jalan. Pengaruh ini dapat
diperkirakan dan chassis dynamometer dapat dioperasikan di
bawah beban jalan.
4. Pengukuran Kecepatan
Kecepatan sesaat (rpm) poros yang berputar dapat
diukur dengan tachometer yang dapat dibangkitkan oleh sebuat
voltmeter dan DC generator. Kecepatan rata – rata diukur dengan
menghitung jumlah putaran poros selama periode pengujian.

5. Pengukuran Konsumsi Bahan Bakar


Metode yang digunakan dengan mengukur aliran
volume bahan bakar dalam interval waktu dan
mengkonversikan volume ke massa setelah mengukur gravitasi
spesifik. Cara kerjanya adalah dengan memompa bahan bakar
ke salah satu gelas ukur akan jatuh melewati tanda kalibrasi,
dan timing waktu akan dimulai pada saat itu. Ketika level
bahan bakar mencapai tanda kalibrasi yang bawah, waktu
pengukuran dihentikan. Dengan mengkonversikan volume
bahan bakar antara titik kalibrasi ke berat (lb) bahan bakar,
konsumsi bahan bakar dalam pound per jam (lb/h) dapat
ditentukan.

6. Pengukuran Konsumsi Udara


Kerja yang dilakukan oleh motor pembakaran dalam
(internal combustion engine) tergantung pada jumlah energi yang
dibebaskan ketika campuran udara dan bahan bakar
dibebaskan ketika campuran udara dan bahan bakar dibakar.
Namun udara yang dimasukkan ke dalam silinder jauh lebih
besar daripada volume bahan bakar yang dimasukkan. Oleh
karena itu, studi tentang perbandingan udara – bahan bakar (air
– fuel ratio) dihitung dan variasi performa mesin dilakukan
dengan variasi perbandingan udara.
E. Standar Operasional Prosedur (SOP)
1. Siapkan alat – alat untuk pengujian.
2. Pastikan AC pada ruangan dinyalakan agar mendekati suhu standart
(25oC).
3. Naikkan kendaraan pada chassis dynamometer.
4. Posisikan kendaraan dengan benar, lalu ikat roda depan menggunakan
rachet strap pada chasis dynamometer.
5. Pastikan posisi ban belakang berada di atas roller dan kendaraan tidak
dalam posisi miring.
6. Buka program Sport Dyno pada desktop computer.
7. Setting program sebelum melakukan pengukuran agar didapat data
sesuai dengan keinginan.

Pada tab pertama ada class of dyno, di dalam tab tersebut dipilih
class of dyno yang diinginkan ada engine dan vehicles. Jika memilih
engine maka dalam kotak torque calculation dipilih torque at engine.
Jika memilih vehicles, maka dalam kotak torque calculation dipilih
torque at roller.
Pada tab kedua, terdapat tab program. Di dalam tab program yang
disetting ada 3, yaitu pada kolom RPM steps, disana pilih rpm sesuai
dengan keinginan, biasanya 500-1000. Setelah itu, pilih kolom power
dan speed pilih satuan berdasarkan keinginan.

Pada tab ketiga terdapat tab auto S/S. pada settingan ini, tidak ada
yang dirubah.

Pada tab keempat terdapat tab option. Di dalam tab keempat


terdapat kolom correction factor yang disetting, di dalam correction
factor bisa dipilih sesuai dengan standart keinginan.
Pada tab kelima terdapat tab colours. Dalam tab ini tidak disetting
apa – apa.
8. Pasang RPM pick up clamp pada kabel busi.
9. Pasang instrument lain seperti thermocouple, lambda sensor jika
diperlukan.
10. Nyalakan mesin motor hingga mencapai suhu operasional (60oC)
11. Klik tombol start hijau untuk masuk ke program warm up.
12. Masukkan nama data kendaraan, serta volume mesin.

13. Masukkan temperature dan humidity.


14. Klik tombol start hijau untuk masuk ke program running.

15. Buka throttle kendaraan sampai menyentuh limiter rpm. Lalu lepaskan
secara spontan.
16. Data akan keluar dalam bentuk grafik.
F. Pembahasan
Dari pengujian yang dilakukan di atas chassis dynamometer
menggunakan sepeda motor Megapro didapatkan hasil torsi dan
daya yang berbentuk grafik seperti di bawah ini.

Selain dipresentasikan dalam bentuk grafik. Data yang


didapatkan juga di presentasikan dalam bentuk statistik sehingga
memudahkan kita dalam membaca data hasil penelitian torsi dan
daya yang sudah dilakukan di atas chassis dynamometer.
Jika kita lihat dari statistik di atas, kita dapat menentukan
torsi dan daya maksimal yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.
Torsi dan daya maksimal yang muncul ditunjukkan dalam angka
yang berwarna merah. Pada rpm 6459 kita mendapatkan torsi
maksimal sebesar 83.37 Nm. Kemudian pada rpm 7563 kita
mendapatkan daya maksimal sebesar 10.3 HP.
Setelah didapatkan data torsi dan maksimal. Kemudian kita
bandingkan dengan spesifikasi pabrik kendaraan motor tersebut
untuk menganalisa apakah motor tersebut masih memenuhi
standar pabrikan.
G. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum
fenomeda dasar mesin, yaitu:
a. Ada beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk
mengukur torsi dan daya, yaitu prony brake dynamometer,
water brake dynamometer, dan chassis dynamometer.
b. Pada chassis dynamometer akan muncul data torsi dan daya
berupa grafik yang dapat dibandingkan dengan standart
pabrikan yang ada.

2. Saran
Adapun saran yang ada, yaitu:
a. Alat yang rusak agar segera diganti atau diperbaiki agar mahasiswa
dapat praktik dengan lancar.