Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN

Dalam menentukan kecepatan disolusi intrinsik, melibatkan zat murni


dalam proses disolusi, hal ini dimaksudkan agar partikel – partikel dari zat padat
dapat lebih mudah terlarut dalam medium disolusi dibandingakan dengan bentuk
sediaan padat. Proses disolusi ini diawali dengan terpisahnya molekul larutan dari
permukaan padatan, lalu bergerak menjauhi permukaan memasuki pelarut,
tergantung pada kedua proses ini dan cara bagaimana proses transport molekul zat
murni berlangsung. Karakteristik disolusi suatu obat dapat digambarkan secara
fisika. Terdapat tiga dasar model fisika yang bisa menggambarkan mekanisme
kecepatan suatu disolusi yang melibatkan zat murni (sampel), yaitu model lapisan
difusi (diffusion layer model), model halangan antar muka (interfacial barier
model) dan model Dankwert (Dankwert model).

Suatu produk farmasi yang masih dalam bentuk zat murni perlu dilakukan
uji disolusi intrinsik sebelum dibuat dalam bentuk sediaan, tujuannya adalah
untuk menentukan bentuk – bentuk sediaan yang akan dibuat sesuai dengan sifat
zat aktif, sehingga dapat tercapai kecepatan melarutnya dalam cairan tubuh. Dari
pengukuran kecepatan disolusi intrinsik ini, dapat mengetahui tingkat kecepatan
absorbsi dari suatu zat murni, jika berada dalam tubuh dan tingkat kecepatannya
dalam memberikan efek bagi tubuh, baik berupa efek terapi, efek samping hingga
efek toksik, karena keadaan farmakokinetika obat dalam tubuh akan berbeda,
sebab di dalam tubuh dapat memungkinkan terjadinya interaksi obat baik dengan
protein maupun enzim dan dapat mempengaruhi kadar obat dalam darah.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat


murni yaitu temperatur (suhu), medium, kecepatan perputaran, ketepatan letak
vertikal poros, vibrasi dari permukaan zat murni. Suhu mempengaruhi disolusi,
semakin tinggi suhu yang digunakan maka semakin cepat proses disolusi yang
terjadi. Medium yang digunakan adalah air, namun ada beberapa zat yang tidak
terlarut dalam air, maka penambahan zat organik dapat merubah sifat atau
surfaktan yang digunakan untuk menambah kelarutan. Kecepatan perputaran,
kenaikan dalam pengadukan akan mempercepat kelarutan, kecepatan pengadukan
yang digunakan umumnya berada pada kisaran 50 atau 100 rpm. Ketepatan letak
vertikal yang poros juga berpengaruh, dimana letak yang kurang sentral dari
posisi putaran dayung atau keranjang dapat menimbulkan hasil yang tidak baik.
Vibrasi akan timbul, maka hasil yang diperoleh akan lebih tinggi, permasalahan
terkait dengan vibrasi berasal dari poros motor, proses pemanasan atau adanya
faktor dari luar.