Anda di halaman 1dari 4

4.

3 PEMBAHASAN

1. Pembuatan Zat Warna dari Daun Tarum Areuy


Proses pembuatan zat warna alam dari tarum areuy yaitu zat warna indigo dilakukan dengan
melewati beberapa tahapan yaitu pemotongan daun, perendaman daun, penyaringan daun, aerasi,
pengendapan pasta dan penguapan/pembentukan zat warna bubuk.
Pada pembuatannya perendaman dilakukan lebiah baik antara 24- 48 jam karena dengan begitu
zat warna akan keluar dari daun dan berpindah pada air secara sempurna. Apabila proses
perendaman dilakukan lebih lama kemungkinan kerusakan pada zat warna dikarenakan serangan
mikroorganisme. Selain itu, cara pembuatan zat warna harus dilakukan dengan benar, apabila saat
perendaman dilakukan lebih lama akan menjadi pasta tetapi akan cepat busuk dan bau dikarenakan
serangan mikroorganisme. Sehingga zat warna lebih tahan dalam bentuk bubuk dibandingkan
dalam bentuk pasta.
Selain itu, pada proses pembuatan zat warna indigo dibutuhkan suasana alkali untuk
mempermudah dan mempercepat proses pengendapan zat warna. Alkali yang dipakai adalah
Na2CO3, ditambahkan saat proses aerasi. Aerasi adalah penambahan udara agar terbentuk busa
berwarna yang menunjukkan zat warna telah keluar, pada prosesnya pun dilakukan hingga busa
tidak berwarna kembali yang berarti zat warna kembali turun pada air dan membentuk endapan
pasta. Setelah menjadi endapan pasta lebih baik diuapkan dan dipanaskan hingga berbentuk zat
warna kering dan digerus hingga menjadi bubuk. Zat warna indigo lebih tahan dalam bentuk bubuk
dibandingkan dalam bentuk pasta karena dalam bentuk bubuk ketahanan zat warna lebih tinggi
dibandingkan berbentuk pasta.

2. Pencelupan dengan Zat Warna Indigo


Zat warna indigo adalah zat warna yang termasuk pada golongan zat warna bejana. Zat warna
indigo ini tidak larut dalam air sehingga pada pencelupannya dilakukan pelarutan zat warna indigo
terlebih dahulu. Agar zat warna indigo ini larut, zat warna direduksi dengan penambahan Na2S2O4
hingga terbantuk Hn dan menjadikan asam leuco sedikit larut, dengan menambahan alkali yaitu
NaOH dilakukan dalam suasana alkali akan membentuk garam leuco yang warna kuning. Setelah
menjadi garam leuco ini dilakukan pencelupan pada kain kapas putih. Pada pencelupannya
digunakan variasi reduktor : alkali dan variasi suhu untuk mengetahui titik optimum suhu proses
dan variasi reduktor : alkali dalam proses pencelupannya.
Ada juga penambahan garam yaitu NaCl membantu proses penyerapan zat warna/difusi zat
warna pada kain kapas. Setelah selesai proses pencelupannya/zat warna sudah berikatan dengan
serat, gugus zat warna kembali menjadi zat warna yang tidak larut dalam air sehingga zat warna
indigo ini tahan terhadap pencucian karena zat warna indigo yang tidak larut dalam air. Hanya
dengan penambahan Clor yang dapat merusak zat warna indigo, karena zat warna indigo tidak
tahan terhadap clor.
Tahapan terakhir dilakukan oksidasi denga cara diangin-angin untuk membangkitkan warna
dan dilakukannya proses pencucian untuk menghilangkan sisa zat warna yang tertinggal di
permukaan kain.
Pada evaluasi secara fisik ketuaan warna lebih baik pada suhu kamar, terbukti dengan hasil
celupan paling tua dan rata. Semakin tinggi penambahan suhu, hasil pencelupan zat warna semakin
muda. Ini dikarenakan pengaruh suhu pada saat pencelupan, suhu optimum yang didapat adalah
suhu kamar karena hasil yang paling tua dan rata. Penambahan suhu pada proses pencelupan zat
warna indigo mengakibatkan penyerapan zat warna yang tidak stabil, karena saat pencelupan serat
menggelembung pori-pori serat terbuka pada suhu tinggi, sedangkan zat warna akan masuk pada
serat tersebut. Penyebab belang/tidak rata adalah penambahan suhu tinggi yang tidak stabil
mengakibatkan penyerapan zat warna tidak merata.
Pada variasi reduktor : alkali baik dan optimum pada perbandingan 8 : 4 karena hasil yang
didapat dengan perbandingan lebih besar sama saja. Bahkan dengan perbandingan reduktor : alkali
yang lebih besar ada yang penyerapannya semakin turun contohnya di 12 : 6 yang hasilnya pudar.

3. Ketuaan Warna
Ketuaan warna hasil pencelupan dapat dilihat dari nilai K/S yang terbesar yang dihasilkan dari
uji spektrofotometri kain. Dari data dan grafik yang dihasilkan dari uji spektrofotometri kain ini
dapat dilihat nilai K/S yang besar untuk kain hasil celupan pada suhu 30oC dengan ketuaan yang
paling tinggi.

4. Kerataan Warna
Kerataan warna hasil pencelupan dapat dilihat dari standar deviasi dari beberapa data K/S kain
yang terkecil. Dari data dan grafik yang dihasilkan dapat dilihat bahwa kerataan warna dari kain
hasil celupan 30oC menit memiliki nilai standar deviasi yang relative lebih besar pada suhu 60-
90oC terus menurun hingga celupan 60 menit.
Hal tersebut menunjukkan untuk kain dengan suhu kerataan paling baik dimiliki kain hasil
celupan 30oC dan sebaliknya pada suhu celupan 90oC kerataan warnanya tidak baik.

5. Uji Tahan Cuci


Uji ketahanan cuci dilakukan untuk mengetahui ketahanan luntur kain terhadap pencucian. Uji
ini dilakukan dengan cara melapisi kain contoh uji dengan kain kapas dan kain polyester dengan
ukuran yang sama yang kemudian dimasukkan dalam tabung berisi larutan sabun dan dicuci
menggunakan mesin Launder O meter. Pada uji ini dihasilkan kain kapas dan kain polyester putih
yang ternodai sangat sedikit. Noda yang dihasilkan tersebut kemudian diukur dengan staining scale.
Pada uji tahan cuci yang palong baik variasi suhu di 90oC, sedangkan pada variasi reduktor
semua baik. Sedangkan pada uji grey scale semua baik. Ini sesuai literatur yang menyebutkan
bahwa tahan cuci zat warna indigo baik.

6. Uji Tahan Gosok


- Uji tahan gosok kering
Uji tahan gosok kering dilakukan dengan tujuan untuk menguji ketahanan luntur
warna kain terhadap gosokan dalam keadaan kering dengan menggunakan alat crockmeter
dimana kain hasil celup dilapisi dengan kain kapas putih dan digosok dengan alat
crockmeter 10 putaran. Hasil uji ini kemudian dievaluasi dengan grey scale.
Dapat diketahui yang tahan gosoknya paling baik pada variasi suhu dan reduktorpun
semuanya sama baik dengan nilai 4/5. Pada dasarnya zat warna indigo tidak tahan terhadap
gosok namun saat mengamatan uji gosok ternyata tahan gosoknya baik berarti pada
pencelupannya saat mengikatan zat warna dengan serat kuat karena zat warna yang tidak
larut dalam air dan mencelup permanen, dan pada pencuciannya lunturan warna bersih
tanpa ada yang tertinggal sehingga saat uji gosok warnanya baik.

- Uji tahan gosok basah


Uji tahan gosok basah dilakukan dengan tujuan untuk menguji ketahanan luntur
warna kain terhadap gosokan dalam keaadaan basah dan dilakukan sama seperti uji tahan
gosok kering.
Dan hasil yang didapatkan sama persis dengan tahan uji gosok kering, pada variasi
suhu maupun reduktor pun tahan uji gosok basah baik.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan data hasil prkatikum yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa:

 Pembuatan zat warna alam diperlukan perhatian khusu pada prosesnya dengan tahapan yang
sesuai yaitu pemotongan daun, perendaman daun, penyaringan daun, pengendapan dan
penguapan
 Dapat mencelup kain kapan putih
 Pencelupannya dibutuhkan pereduksian dan pembuatan leuco agar larut dalam air dan dapat
mencelup kain kapas
 Pencelupan kapas putih paling optimum pada variasi suhu suhu 30oC dan variasi perbandingan
reduktor 8 : 4
 Hasil pencelupan paling tua pada sampel dengan pariasi suhu kamar
 Kerataan yang didapat paling baik pada suhu kamar
 Uji tahan pencucian paling baik variasi suhu pasa suhu 90oC pada variasi reduktor : alkali
semua hasilnya baik.
 Uji tahan gosok variasi suhu maupun reduktor didapatkan hasil yang baik.

5.2 SARAN