Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut WHO, setiap tahunnya kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir
mengalami asfiksia, hampir 1 juta bayi ini kemudian meninggal. Di Indonesia, dari
seluruh kematian bayi, sebanyak 57% meninggal pada masa BBL (usia dibawah 1
bulan). Setiap 6 menit terdapat satu bayi meninggal. Penyebab kematian BBL di
indonesia adalah BBLR 29%, Asfiksia 27%, trauma lahir, Tetanus Neonatorum, infeksi
lain dan kelainan kongenital (JNPK-KR, 2008; h.145).
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007,
mengestimasikan AKB di Indonesia dalam periode 5 tahun terakhir, yaitu tahun 2003-
2007 sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Banyak faktor yang mempengaruhi angka
kematian tersebut, yaitu salah satunya asfiksia sebesar 37% yang merupakan penyebab
kedua kematian bayi baru lahir (Depkes.RI, 2008). Hal ini ditemukan baik dilapangan
maupun dirumah sakit rujukan di indonesia. Di Amerika diperkirakan 12.000 bayi
meninggal atau menderita kelainan akibat asfiksia perinatal. (Wiknjosastro, 2010; h.10).
Departemen Kesehatan menargetkan angka kematian ibu pada 2010 sekitar 226
orang dan pencapaian target Millennium Development Goals (MDGs) yang ke 5 pada
tahun 2015 menjadi 102 orang per tahun. Serta Depkes telah mematok target penurunan
AKB di Indonesia dari rata-rata 36 meninggal per 1.000 kelahiran hidup menjadi 23 per
1.000 kelahiran hidup pada 2015.
Berbagai upaya yang aman dan efektif untuk mencegah dan mengatasi penyebab
utama kematian BBL adalah pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan persalinan
normal/dasar dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga professional. Untuk
menurunkan angka kematian BBL karena asfiksia, persalinan harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan keterampilan manajemen asfiksia
pada BBL. Kemampuan dan keterampilan ini digunakan setiap kali menolong
persalinan. (JNPK-KR, 2008; h.145).

1
1.2 Tujuan Penulisan

a. Tujuan Umum
Memberikan gambaran hasil asuhan keperawatan pada kasus anak dengan
asfiksia
b. Tujuan Khusus
1) Menjelaskan konsep dasar asfiksia yang terdiri dari pengertian,
klasifikasi, etiologi/fator risiko, manifestasi klinis, komplikasi,
pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan asfiksia.
2) Menjelaskan hasil asuhan keperawatan dari pengkajian sampai evaluasi.

1.3 Manfaat penulisan

a. Penulis
Memberikan informasi tambahan pada penulis mengenai asuhan keperawatan pada
anak dengan asfiksia melalui sebuah pembelajaran studi kasus, memperoleh
pengetahuan dan pengalaman menganalisa dan memecahkan masalah pada sebuah
kasus klien dengan asfiksia, serta dapat mengembangkan minat dan kemampuan
penulisan makalah ilmiah.
b. Pembaca
Memberikan informasi tambahan bagi pembaca sebagai bahan acuan dalam
melakukan proses asuhan keperawatan pada anak dengan asfiksia.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Asfiksia Neonatorum

2.1.1 Definisi

Asfiksia pada bayi baru lahir (BBL) menurut IDAI (Ikatatan Dokter Anak
Indonesia) adalah kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada saat lahir
atau beberapa saat setelah lahir (Prambudi, 2013).

Menurut AAP asfiksia adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh kurangnya
O2 pada udara respirasi, yang ditandai dengan:

1. Asidosis (pH <7,0) pada darah arteri umbilikalis

2. Nilai APGAR setelah menit ke-5 tetep 0-3

3. Menifestasi neurologis (kejang, hipotoni, koma atau hipoksik iskemia


ensefalopati)

4. Gangguan multiorgan sistem.

Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan


asidosis.

Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis. Bila
proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau
kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. Pada
bayi yang mengalami kekurangan oksigen akan terjadi pernapasan yang cepat
dalam periode yang singkat. Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan
akan berhenti, denyut jantung juga mulai menurun, sedangkan tonus
neuromuscular berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode
apnea yang dikenal sebagai apnea primer. Perlu diketahui bahwa kondisi
pernafasan megap-megap dan tonus otot yang turun juga dapat terjadi akibat
obat-obat yang diberikan kepada ibunya. Biasanya pemberian perangsangan
dan oksigen selama periode apnea primer dapat merangsang terjadinya
pernafasan spontan. Apabila asfiksia berlanjut, bayi akan menunjukkan
pernafasan megap-megap yang dalam, denyut jantung terus menurun, tekanan
darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terlihat lemas (flaccid).
Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apnea
yang disebut apnea sekunder (Saifuddin, 2009).

3
Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur segera
setelah lahir. Seringkali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan
mengalami asfiksia sesudah persalinan. Masalah ini mungkin berkaitan dengan
keadaan ibu, tali pusat, atau masalah pada bayi selama atau sesudah persalinan
(Depkes RI, 2009).

Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur segera
setelah lahir. Seringkali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan
mengalami asfiksia setelah persalinan. Masalah ini mungkin saling berkaitan
dengan keadaan ibu, tali pusat atau masalah pada bayi selama atau sesudah
persalinan.(JNPK KR 2008; h. 146).

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan
dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang
menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2010;
h.421)

Asfiksia neonatorum merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir yang
mengalami gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir,
sehingga bayi tidak dapat memasukkan oksigen dan tidak dapat mengeluarkan
zat asam arang dari tubuhnya. (Dewi.2010; h.102)

Dengan demikian asfiksia adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera
bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum
lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat
hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau
masalah yang mempengarui kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan.

2.1.2 Klasifikasi

a. Asfiksia Berat (nilai APGAR 0-3)


Pada kasus asfiksia berat, bayi akan mengalami asidosis, sehingga
memerlukan perbaikan dan resusitasi aktif dengan segera. Tanda dan gejala
yang yang muncul pada asfiksia berat adalah sebagai berikut: (Dewi.2010;
h.102).
1) Frekuensi jantung kecil, yaitu <40 per menit.
2) Tidak ada usaha napas
3) Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada
4) Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu

4
b. Asfiksia Sedang (nilai APGAR 4-6)
Pada asfiksia sedang, tanda gejala yang muncul adalah sebagai berikut:
1) Frekuensi jantung menurun menjadi 60-80 kali permenit
2) Usaha nafas lambat
3) Tonus otot biasanya dalam keadaan baik
4) Bayi masih bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan
5) Bayi tampak siannosis

c. Asfiksia Ringan (nilai APGAR 7-10)


Pada asfiksia ringan, tanda dan gejala yang sering muncul adalah sebagai
berikut:
1) Bayi tampak sianosis
2) Adanya retraksi sela iga
3) Bayi merintih
4) Adanya pernafasan cuping hidung
5) Bayi kurang aktifitas

2.1.3 Etiologi

Penyebab terjadinya Asfiksia menurut (DepKes RI, 2009):


a. Faktor Ibu
1) Preeklamsia dan eklamsia.
2) Perdarahan abnormal (plasenta prervia atau plasenta).
3) Partus lama atau partus macet.
4) Demam selama persalinan.
5) Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV).
6) Kehamilan post matur.
7) Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.

b. Faktor Bayi
1) Bayi Prematur (Sebelum 37 minggu kehamilan).
2) Persalinan sulit (letak sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ektraksi
vakum, forsef).
3) Kelainan kongenital.
4) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan).

c. Faktor Tali Pusat


1) Lilitan tali pusat.
2) Tali pusat pendek.
3) Simpul tali pusat.
4) Prolapsus tali pusat.

5
2.1.4 Patofisiologis

Gangguan suplai darah teroksigenasi melalui vena umbilical dapat terjadi pada
saat antepartum, intrapartum, dan pascapartum saat tali pusat dipotong. Hal ini
diikuti oleh serangkaian kejadian yang dapat diperkirakan ketika asfiksia
bertambah berat.

Awalnya hanya ada sedikit nafas. Sedikit nafas ini dimaksudkan untuk
mengembangkan paru, tetapi bila paru mengembang saat kepala dijalan lahir
atau bila paru tidak mengembang karena suatu hal, aktivitas singkat ini akan
diikuti oleh henti nafas komplit yang disebut apnea primer.

Setelah waktu singkat-lama asfiksia tidak dikaji dalam situasi klinis karena
dilakukan tindakan resusitasi yang sesuai –usaha bernafas otomatis dimulai.
Hal ini hanya akan membantu dalam waktu singkat, kemudian jika paru tidak
mengembang, secara bertahap terjadi penurunan kekuatan dan frekuensi
pernafasan. Selanjutnya bayi akan memasuki periode apnea terminal. Kecuali
jika dilakukan resusitasi yang tepat, pemulihan dari keadaan terminal ini tidak
akan terjadi.

Frekuensi jantung menurun selama apnea primer dan akhirnya turun di bawah
100 kali/menit. Frekuensi jantung mungkin sedikit meningkat saat bayi
bernafas terengah-engah tetapi bersama dengan menurun dan hentinya nafas
terengah-engah bayi, frekuensi jantung terus berkurang. Keadaan asam-basa
semakin memburuk, metabolisme selular gagal, jantung pun berhenti. Keadaan
ini akan terjadi dalam waktu cukup lama.

2.1.5 Manifestasi Klinis


Selama apnea primer, tekanan darah meningkat bersama dengan pelepasan
ketokolamin dan zat kimia stress lainnya. Walupun demikian, tekanan darah
yang terkait erat dengan frekuensi jantung, mengalami penurunan tajam selama
apnea terminal.

Terjadi penurunan pH yang hampir linier sejak awitan asfiksia. Apnea primer
dan apnea terminal mungkin tidak selalu dapat dibedakan. Pada umumnya
bradikardi berat dan kondisi syok memburuk apnea terminal.

Asfiksia biasanya merupakan akibat hipoksia janin yang menimbulkan tanda-


tanda klinis pada janin atau bayi berikut ini : (Depkes RI, 2007)
a. DJJ lebih dari 100x/menit atau kurang dari 100x/menit tidak teratur
b. Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala

6
c. Tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot, dan organ
lain
d. Depresi pernafasan karena otak kekurangan oksigen
e. Bradikardi (penurunan frekuensi jantung) karena kekurangan oksigen
pada otot-otot jantung atau sel-sel otak
f. Tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot jantung,
kehilangan darah atau kekurangan aliran darah yang kembali ke plasenta
sebelum dan selama proses persalinan
g. Takipnu (pernafasan cepat) karena kegagalan absorbsi cairan paru-paru
atau nafas tidak teratur/megap-megap
h. Sianosis (warna kebiruan) karena kekurangan oksigen didalam darah
i. Penurunan terhadap spinkters
j. Pucat

2.1.6 Diagnosis

Untuk dapat menegakkan gawat janin dapat ditetapkan dengan melakukan


pemeriksaan sebagai berikut :

a Denyut jantung janin.


Frekeunsi denyut jantung janin normal antara 120 – 160 kali per menit;
selama his frekeunsi ini bisa turun, tetapi di luar his kembali lagi kepada
keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak
banyak artinya, akan tetapi apabila frekeunsi turun sampai di bawah 100
per menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan
tanda bahaya. Di beberapa klinik elektrokardiograf janin digunakan untuk
terus-menerus mengawasi keadaan denyut jantung dalam persalinan.

b Mekonium di dalam air ketuban.


Mekonium pada presentasi-sunsang tidak ada artinya, akan tetapi pada
presentasi – kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan
harus menimbulkan kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban
pada presentasi-kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri
persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

c Pemeriksaan pH darah janin.


Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukan lewat servik dibuat
sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah
ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila
pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya
oleh beberapa penulis.
7
Tabel 2.1
Penilaian dan Keputusan

PENILAIAN Sebelum bayi lahir :


· Apakah kehamilan cukup bulan ?
Sebelum bayi lahir :
· Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium
(warna kehijauan) ?
Segera setelah bayi lahir (jika bayi cukup bulan) :
· Menilai apakah bayi menangis atau bernapas/megap-
megap ?
· Menilai apakah tonus aot baik ?
KEPUTUSAN Memutuskan bayi perlu resusitasi jika :
· Bayi tidak cukup bulan atau bayi megap-megap/tidak
bernapas dan atau tonus otot bayi tidak baik
· Air ketuban bercampur mekonium.
TINDAKAN Mulai lakukan resusitasi segera jika :
· Bayi tidak cukup bulan dan atau bayi megap-megap/tidak
bernapas dan tonus otot bayi tidak baik :
Lakukan tindakan resusitasi BBL
· Air ketuban bercampur mekonium :
Lakukan resusitasi sesuai dengan indikasinya
(JNPK-KR 2008; h.151)

Bila semua jawaban ”ya” maka bayi dapat langsung dimasukkan dalam
prosedur perawatan rutin dan tidak dipisahkan dari ibunya. Bayi dikeringkan,
diletakkan di dada ibunya dan diselimuti dengan kain linen kering untuk
menjaga suhu. Bila terdapat jawaban ”tidak” dari salah satu pertanyaan di atas
maka bayi memerlukan satu atau beberapa tindakan resusitasi berikut ini secara
berurutan:

Langkah awal dalam stabilisasi

1. Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer)
dalam keadaan telanjang agar panas dapat mencapai tubuh bayi dan
memudahkan eksplorasi seluruh tubuh. Bayi dengan BBLR
memiliki kecenderungan tinggi menjadi hipotermi dan harus
mendapat perlakuan khusus.

8
2. Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya
Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam
posisi menghidu agar posisi farings, larings, dan trakea dalam satu
garis lurus yang akan mempermudah masuknya udara. Posisi ini
adalah posisi terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan
sungkup dan/atau untuk pemasangan pipa endotrakeal.

3. Membersihkan jalan napas sesuai keperluan


Aspirasi mekoneum saat proses persalinan dapat menyebabkan
pneumonia aspirasi. Salah satu pendekatan obstetrik yang
digunakan untuk mencegah aspirasi adalah dengan melakukan
penghisapan mekoneum sebelum lahirnya bahu (intrapartum
suctioning), namun bukti penelitian dari beberapa senter
menunjukkan bahwa cara ini tidak menunjukkan efek yang
bermakna dalam mencegah aspirasi mekonium.

Cara yang tepat untuk membersihkan jalan napas adalah bergantung


pada keaktifan bayi dan ada/tidaknya mekonium. Bila terdapat
mekoneum dalam cairan amnion dan bayi tidak bugar (bayi
mengalami depresi pernapasan, tonus otot kurang dan frekuensi
jantung kurang dari 100x/menit) segera dilakukan penghisapan
trakea sebelum timbul pernapasan untuk mencegah sindrom aspirasi
mekonium. Penghisapan trakea meliputi langkah-langkah
pemasangan laringoskop dan selang endotrakeal ke dalam trakea,
kemudian dengan kateter penghisap dilakukan pembersihan daerah
mulut, faring dan trakea sampai glotis. Bila terdapat mekoneum
dalam cairan amnion namun bayi tampak bugar, pembersihan sekret
dari jalan napas dilakukan seperti pada bayi tanpa mekoneum.

4. Mengeringkan bayi, merangsang pernapasan dan, meletakkan pada


posisi yang benar
Meletakkan pada posisi yang benar, menghisap sekret, dan
mengeringkan akan memberi rangsang yang cukup pada bayi untuk
memulai pernapasan. Bila setelah posisi yang benar, penghisapan
sekret dan pengeringan, bayi belum bernapas adekuat, maka
perangsangan taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau
menyentil telapak kaki, atau dengan menggosok punggung, tubuh
atau ekstremitas bayi.

Bayi yang berada dalam apnu primer akan bereaksi pada hampir
semua rangsangan, sementara bayi yang berada dalam apnu
sekunder, rangsangan apapun tidak akan menimbulkan reaksi
pernapasan. Karenanya cukup satu atau dua tepukan pada telapak

9
kaki atau gosokan pada punggung. Jangan membuang waktu yang
berharga dengan terus menerus memberikan rangsangan taktil.
Keputusan untuk melanjutkan dari satu kategori ke kategori
berikutnya ditentukan dengan penilaian 3 tanda vital secara simultan
(pernapasan, frekuensi jantung, dan warna kulit). Waktu untuk
setiap langkah adalah sekitar 30 detik, lalu nilai kembali, dan
putuskan untuk melanjutkan ke langkah berikutnya.

2.1.7 Penatalaksanaan

Bayi baru lahir dalam apnu primer dapat memulai pola pernapasan biasa,
walaupun mungkin tidak teratur dan mungkin tidak efektif, tanpa intervensi
khusus. Bayi baru lahir dalam apnu sekunder tidak akan bernapas sendiri.
Pernapasan buatan atau tindakan ventilasi dengan tekanan positif (VTP) dan
oksigen diperlukan untuk membantu bayi memulai pernapasan pada bayi baru
lahir dengan apnu sekunder.

Menganggap bahwa seorang bayi menderita apnu primer dan memberikan


stimulasi yang kurang efektif hanya akan memperlambat pemberian oksigen
dan meningkatkan resiko kerusakan otak. Sangat penting untuk disadari bahwa
pada bayi yang mengalami apnu sekunder, semakin lama kita menunda upaya
pernapasan buatan, semakin lama bayi memulai pernapasan spontan.
Penundaan dalam melakukan upaya pernapasan buatan, walaupun singkat,
dapat berakibat keterlambatan pernapasan yang spontan dan teratur.

Perhatikanlah bahwa semakin lama bayi berada dalam apnu sekunder, semakin
besar kemungkinan terjadinya kerusakan otak. Penyebab apa pun yang
merupakan latar belakang depresi ini, segera sesudah tali pusat dijepit, bayi
yang mengalami depresi dan tidak mampu melalui pernapasan spontan yang
memadai akan mengalami hipoksia yang semakin berat dan secara progresif
menjadi asfiksia. Resusitasi yang efektif dapat merangsang pernapasan awal
dan mencegah asfiksia progresif. Resusitasi bertujuan memberikan ventilasi
yang adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk
menyalurkan oksigen kepada otak, jantung dan alat – alat vital lainnya
(Saifuddin,2009).

Antisipasi, persiapan adekuat, evaluasi akurat dan inisiasi bantuan sangatlah


penting dalam kesuksesan resusitasi neonatus. Pada setiap kelahiran harus ada
setidaknya satu orang yang bertanggung jawab pada bayi baru lahir. Orang
tersebut harus mampu untuk memulai resusitasi, termasuk pemberian ventilasi
tekanan positif dan kompresi dada. Orang ini atau orang lain yang datang harus
memiliki kemampuan melakukan resusitasi neonatus secara komplit, termasuk
melakukan intubasi endotrakheal dan memberikan obat-obatan.

10
Bila dengan mempertimbangkan faktor risiko, sebelum bayi lahir diidentifikasi
bahwa akan membutuhkan resusitasi maka diperlukan tenaga terampil
tambahan dan persiapan alat resusitasi. Bayi prematur (usia gestasi < 37
minggu) membutuhkan persiapan khusus. Bayi prematur memiliki paru imatur
yang kemungkinan lebih sulit diventilasi dan mudah mengalami kerusakan
karena ventilasi tekanan positif serta memiliki pembuluh darah imatur dalam
otak yang mudah mengalami perdarahan Selain itu, bayi prematur memiliki
volume darah sedikit yang meningkatkan risiko syok hipovolemik dan kulit
tipis serta area permukaan tubuh yang luas sehingga mempercepat kehilangan
panas dan rentan terhadap infeksi. Apabila diperkirakan bayi akan memerlukan
tindakan resusitasi, sebaiknya sebelumnya dimintakan informed consent.

Definisi informed consent adalah persetujuan tertulis dari penderita atau


orangtua/wali nya tentang suatu tindakan medis setelah mendapatkan
penjelasan dari petugas kesehatan yang berwenang. Tindakan resusitasi dasar
pada bayi dengan depresi pernapasan adalah tindakan gawat darurat. Dalam hal
gawat darurat mungkin informed consent dapat ditunda setelah tindakan.
Setelah kondisi bayi stabil namun memerlukan perawatan lanjutan, dokter
perlu melakukan informed consent.

Lebih baik lagi apabila informed consent dimintakan sebelumnya apabila


diperkirakan akan memerlukan tindakan. Oleh karena itu untuk menentukan
butuh resusitasi atau tidak, semua bayi perlu penilaian awal dan harus
dipastikan bahwa setiap langkah dilakukan dengan benar dan efektif sebelum
ke langkah berikutnya. Secara garis besar pelaksanaan resusitasi mengikuti
algoritma resusitasi neonatal.

11
12
2.1.8 Komplikasi

a. Edema otak & Perdarahan otak


Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut
sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan
menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang
berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan
perdarahan otak.

b. Anuria atau oliguria


Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia,
keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang
disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan
lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah
yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah
mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.

c. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran
gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan
kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak
tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.

d. Komplikasi bayi dengan resusitasi berkelanjutan/kompleks


(Perinasia, 2012) Bayi yang membutuhkan VTP berkepanjangan, intubasi,
dan atau kompresi dada kemungkinan mengalami stress berat dan beresiko
mengalami disfungsi multiorgan yang mungkin tidak terlihat sehingga bayi
perlu dirawat di ruang perawatan lanjutan.

13
2.2 Asuhan Keperawatan

2.2.1 Pengkajian

a) Sirkulasi
Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180x/menit.
Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg sistollik, 40 sampai 45 mmHg
(diastolik).
 Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik
intensitas maksimaltepat di kiri dari mediasternum pada
ruang intercosta III/IV.
 Murmur biasanya terjadi diselama beberapa jam pertama
kehidupan.
 Tali pusat putih dan bergelatin memngandung 2 arteri 1
vena.

b) Eliminasi
Dapat berkemih saat lahir :
 Makanan / cairan gram
 Berat Badan : 2500-4000
 Panjang Badan :44-45 cm
 Turgor kulit elastis (bervariasis sesuai gestasi)

c) Neurosensori
 Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas
 Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap
selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama
reaktivitas). Penampilan asimetris (molding, edema,
hematoma)
 Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menagis tinggi
menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemia atau efek
nerkotik yang menjang)

14
d) Pernafasan
 Skor APGAR : skor optimal antara 7-10
 Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
 Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang kreleks umum
awalnya silidrik thorak : kertilago xifoid menonjol umum
terjadi.

e) Keamanan
Suhu rentan 36,5 ºC- 37,5 ºC. Ada vermiks (jumlah dan
distribusi tergantung pada usia gestasi).

f) Kulit
Kulit lembut, fleksibel, pengelupasan tangan atau kaki dapat
terliahat, warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang
menunjukkan memar minor ( misal : kelahiran dengan forseps), atau
perubahan warna herliquin, petekie pada kepala atau wajah ( dapat
menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau
tanda nukhal), becak portuine, telengiektasis (kelopak mata, antara alis
dan mata atau pada nukhal), atau bercak mongolia (terutama punggung
bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (
penampakan elektroda internal). ( Manjoer, 2000 ).

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


a Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi mukus
banyak.
b Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi atau
hiperventilasi.
c Kerusakan pertukaran jaringan berhubungan dengan ketidak seimbangan
perfusi ventilasi

15
2.2.3 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Intervensi


Keperawatan Kriteria
Hasil
Bersihan jalan Pasien Beri posisi
nafas tidak mempertahankan jalan telentang dengan
efektif nafas paten. leher sedikit
berhubungan KH: jalan nafas ekstensi dan
dengan produksi bersih, anak bernafas hidung
mukus banyak. dengan mudah, mengarah ke
pernafasan atas.
dalam batas normal.
Beri posisi untuk
mencegah aspirasi
sekresi beri posisi
miring.

Aspirasi eksresi dan jalan


nafas sesuai kebutuhan.

Pola nafas tidak Pasien menunjukkkan Pertahankan


efektif pola nafas yang kepatenan jalan
berhubungan efektif. nafas dengan
dengan KH: Ekspansi dada melakukan
hipoventilasi simetris, Tidak ada penghisapan
atau bunyi nafas tambahan, lendir.
hiperventilasi. Kecepatan dan irama
resparasi dalam batas Pantau status
normal. pernafasan dan
oksigenasi
sesuai

16
kebutuhan

Auskultasi jalan
nafas untuk
mengetahui
adanya
penurunan
ventilasi.

Kolaborasi
dengan dokter
untuk
memeriksa ADG
dan pemakaian
alat bantu nafas.

Kerusakan Tidak ada Tentukan dasar


pertukaran kesulitan upaya
jaringan pernafasan, pernafasan,
berhubungan PaO2 dalam pengarahan
dengan ketidak batas normal, dinding dada,
seimbangan frekuensi warna kulit dan
perfusi ventilasi pernafasan selaput
dalam batas membran.
normal.
KH : Akral Pertahankan
tidak dingin. pernafasan dan
curah jantung.
Catat setiap 30
menit, frekuensi
lebih dari 60
x/menit
mengindikasikan

17
bahwa dalam
keadaan gawat
nafas.

Pantau kulit,
aktivitas,
pertahankan
konsentrasi O2
konstan paling
sedikit 15-20
menit sebelum
dengan
konsentrasi 5-
10%.

18
BAB 3
PEMBAHASAN

KASUS
Seorang bayi perempuan lahir 20 menit yang lalu. Berdasarkan pemeriksaan
fisik nilai APGAR 6 yang menunjukan bayi tersebut mengalami asfiksia
sedang. Bayi lahir dengan riwayat ibu preeklamsia berat. Status kehamilan
G3P2A0.

RESUME
Ny. A usia 30 tahun datang ke rumah sakit dengan usia kehamilan 36
minggu. Status kehamilan G3P2A0. Riwayat ibu preeklamsia berat. Bayi
perempuan Ny. A telah lahir 20 menit yang lalu, lahir spontan dengan lilitan
tali pusat dan berdasarkan pemeriksaan fisik nilai APGAR 6 yang
menunjukan bayi tersebut mengalami asfiksia sedang. Kemudian bayi tidak
segera menangis, pernafasan lemah (nafas megap-megap), seluruh badan
merah, ekstermitas biru, dan frekuensi jantung belum teratur. Hasil
pengukuran tanda-tanda vital didapat data sebagai berikut : suhu 36,6 ;
pernafasan 34x/menit, jantung 110x/menit. Hasil pemeriksaan antropometri
didapat data sebagai berikut : Berat Badan 3400 gram dan Panjang Badan 50
cm. Tidak ada refleks rooting, ada refleks sucking dan swallowing.

ANALISA DATA
Masalah
NO DATA
Keperawatan
1 Data Subjektif : Bersihan jalan nafas
Ny. A mengatakan usianya 30 tidak efektif
tahun datang ke rumah sakit berhubungan dengan
dengan usia kehamilan 36 obstruksi lendir
minggu. Status kehamilan
G3P2A0. Riwayat ibu
preeklamsia berat.

19
Data Objektif :
Bayi lahir spontan dengan
lilitan tali pusat dan
berdasarkan pemeriksaan fisik
nilai APGAR 6. Kemudian
bayi tidak segera menangis,
pernafasan lemah (nafas
megap-megap), seluruh badan
merah, ekstermitas biru, dan
frekuensi jantung belum
teratur.
Hasil pengukuran tanda-tanda
vital didapat data sebagai
berikut:
suhu 36,6 ; pernafasan
34x/menit ; jantung
110x/menit. Hasil pemeriksaan
antropometri didapat data
sebagai berikut : Berat Badan
3400 gram dan Panjang Badan
50 cm. Tidak ada refleks
rooting, ada refleks sucking
dan swallowing.

Diagnosa Keperawatan :
Gangguan Pemenuhan O2

20
Intervensi Keperawatan :
Diagnosa Tujuan dan
NO Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
Gangguan Tujuan : Kebutuhan O2 Letakkan bayi
terlentang dengan
Pemenuhan O2 terpenuhi
alas yang datar,
kepala lurus, dan
leher sedikit
tengadah/ekstensi
dengan meletakkan
bantal atau selimut
diatas bahu bayi
sehingga bahu
terangkat 2-3 cm

Bersihkan jalan
nafas, mulut, hidung
bila perlu.

Observasi gejala
kardinal dan tanda-
tanda cyanosis tiap 4
jam

Kolaborasi dengan
team medis dalam
pemberian O2 dan
pemeriksaan kadar
gas darah arteri.

BAB IV

21
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas secara spontan dan
teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami
asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan
kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengarui
kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan.

Bayi baru lahir pada kasus mengalami asfiksia yang disebabkan dari faktor ibu yaitu
riwayat ibu yang mengalami preekslamsia dan dari faktor bayi yaitu melahirkan
dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu serta faktor tali pusat yaitu lahir
spontan dengan lilitan tali pusat. Berdasarkan pemeriksaan fisik nilai APGAR 6 yang
menunjukan bayi tersebut mengalami asfiksia sedang.

4.2 Saran
Untuk menurunkan angka kematian BBL karena asfiksia, persalinan harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan keterampilan manajemen
asfiksia pada BBL. Kemampuan dan keterampilan ini digunakan setiap kali menolong
persalinan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Vivian Nanny lia. 2011. Asuhan Neonates Bayi dan Anak Balita. Jakarta : Salemba
Medika

Notoatmodjo Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

KR, JNPK. 2008. Asuhan persalinan normal. Jakarta :TIM

Soepardan, Suryani.2009. Konsep kebidanan. Jakarta : EGC

Saminem. 2010. Dokumentasi Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC

Sulistyawati Ari dan Esti Nugraheni. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin .Jakarta:
Salemba Medika

Prawirohardjo, sarwono. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : PT bina Pustaka

Rukiyah, Ai yeyeh, Lia Yulianti. 2010. Asuhan Neonates Bayi dan Balita. Jakarta : Salemba
medika

Manuaba, Ida Bagus Gede. 2010. Ilmu kebidanan penyakit kandungan dan KB. Jakarta :
EGC

Sulistyawati, Ari. Esti Nugraha. 2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Jakarta :
Salemba Medika

Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka

23