Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 5

BLOK MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN

SISTEM RUJUKAN

Kelompok Tutorial 10

Anggota Kelompok :

1. Ginanjar Hidayatullah (151610101078)


2. Nurafifa Dwi Putri I. (151610101079)
3. Auridho P.P.D. (151610101080)
4. Moch. Bahrul Ulum (151610101081)
5. Luaily Rizqon Amalina (151610101082)
6. Nurina Dyah Ayu Nirmala (151610101083)
7. Devita Titania N. (151610101084)
8. Karin Pinta Aulia (151610101085)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2017

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................... 2
SKENARIO................................................................................................. 3
STEP 1......................................................................................................... 4
STEP 2......................................................................................................... 5
STEP 3.......................................................................................................6
STEP 4.......................................................................................................9
STEP 5......................................................................................................10
STEP 7......................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................27

2
SKENARIO 5

SISTEM RUJUKAN
Seorang pasien mengeluhkan sakit gigi parah disertai pipi bawah belakang bengkak
sampai ke daerah leher. Keadaan sudah berlangsung selama satu minggu. Berdasarkan hasil
anamnesis diketahui bahwa pasien menderita diabetes. Dokter mengkonsul pasien tersebut ke
dokter penyakit dalam. Setelah diperiksa oleh dokter gigi di Puskesmas Kecamatan Sehat,
hasil menunjukkan bahwa pasien tersebut memerlukan tindakan pembedahan. Tenaga dan
peralatan yang ada di puskesmas kurang memadai sehingga dokter gigi merujuk pasien
tersebut ke rumah sakit yang merupakan pelayanan kesehatan tingkat dua.

3
STEP 1
IDENTIFIKASI KATA SULIT

1. Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau
masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal
dalam arti satu strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun secar horizontal
dalam arti antar strata sarana pelayanan kesehatan yang sama
2. Konsultasi adalah suatu cara untuk meminta pendapat ke dokter lain (dokter ahli) atau
dokter yang dianggap lebih kompeten atas suatu kasus yang sedang ditangani.
3. Fasilitas Kesehatan tingkat 2 adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang didalamnya
terdapat pelayanan spesialistik, contohnya adalah Rumah sakit daerah tipe A.

4
STEP 2

RUMUSAN MASALAH

1. Apa tujuan dari sistem rujukan?


2. Apa saja jenis atau macam rujukan?
3. Apa saja macam pelimpahan wewenang dalam rujukan?
4. Apa syarat untuk melakukan sebuah rujukan?
5. Apa keuntungan dari sistem rujukan?
6. Bagaimana jalur rujukan?
7. Bagaimana sistem rujukan pada program BPJS ?
8. Apa yang diperbolehkan apabila terjadi rujukan dari faskes tk 1 lalu ke faskes tingkat
3?
9. Apakah diijinkan untuk melakukan rujukan lintas provinsi ?

5
STEP 3
BRAINSTORMING

1. Tujuan dari sistem rujukan


Tujuan umum :
 Pemerataan pemberian pelayanan kesehatan tertentu dengan biaya yang
murah.
Tujuan khusus :
 Pelayanan kesehatan rehabilitatif dan kuratif
 Pelayanan kesehatan promotif dan preventif
 Mengurangi pengeluaran biaya yang berulang
 Penghematan biaya
 Terjadi kerjasama karena ada pelimpahan wewenang
2. Jenis rujukan :

Menurut rujukan upaya kesehatan, rujukan dibagi menjadi:


a) Rujukan Upaya Kesehatan Perorangan
Cakupannya adalah kasus penyakit.Apabila suatu Puskesmas tidak mampu
menanggulangi satu kasus tertentu maka wajib merujuk ke yang lebih mampu.
b) Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat
Cakupannya adalah masalah kesehatan masyarakat yang terdiri dari KLB (Kejadian
Luar Biasa), pencemaran lingkungan, dan bencana.
Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari:
a) Rujukan Internal
Rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam institusi tersebut.
Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas induk
b) Rujukan Eksternal
Rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan kesehatan, baik
horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal
(dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).
Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari ::
a) Rujukan Medik
Rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan (kuratif) dan
pemulihan (rehabilitatif). Misalnya: merujuk pasien puskesmas dengan penyakit
kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum daerah.
6
b) Rujukan Kesehatan Rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya
peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya:
merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas),
atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit
Kesehatan Kerja).
3. Macam-macam pelimpahan wewenang :
a. Interval referral : pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderita
sepenuhnya kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama
jangka waktu tersebut dokter tersebut tidak ikut menanganinya
b. Collateral referral : menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan
penderita hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja
c. Cross referral : menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan
penderita sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya
d. Split referral : menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan
penderita sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka
waktu pelimpahan wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi
rujukan tidak ikut campur.
4. Syarat-syarat rujukan :
 Harus tepat dalam merujuk
 Mempertimbangkan dari aspek keterjangkauan
 Kemampuan finasial pasien
 Kelengkapan formulir seperti rekam medis dan hasil diagnosis
 Kerja sama dengan fasilitas kesehatan yang ditunjuk
 Mempertimbangkan dari aspek transportasi dan resiko
 Menyiapkan surat rujukan yang berisi : (nomor surat,tempat dibuatkannya
surat, diagnosis dan terapi)
5. Keuntungan dari sistem rujukan ;
 Pasien mendapatkan pelayanan yang terbaik
 Menambah pengetahuan dan keterampilan bagi tenaga kesehatan
 Menghindari over medikasi
 Tidak membutuhkan biaya berlebih
 Menurunkan angka kematian

7
6. Pada beberapa sistem seperti sistem rujukan bertingkat, maka alur rujukan dimulai
dari faskes I – faskes II dan faskes III apabila diperlukan. Namun hal tersebut tidak
berlaku pada pasien darurat. Tahapan yang harus dilalui oleh perujuk antara lain :
1) Segi perujuk :
 Harus menjelaskan alasan kenapa dilakukan rujukan
 Membuat surat rujukan
 Mencatat laporan rujukan
 Stabilisasi keadaan umum pasien
 Menyerahkan surat rujukan ke pihak yang berwenang.
2) Segi pihak yang dirujuk :
 Membuat laporan penerimaan rujukan
 Melakukan diagnosis kasus
 Apabila pasien meninggal, penerima harus membuat surat rujukan balik.
7. Sistem rujukan pada BPJS adalah sistem rujukan bertingkat, dimana pasien harus
menjalani pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan I. Akan tetapi, ada beberapa
pengecualian seperti :
 terjadi keadaan gawat darurat : Kondisi kegawatdaruratan mengikuti
ketentuan yang berlaku
 bencana : Kriteria bencana ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan atau
Pemerintah Daerah
 kekhususan permasalahan kesehatan pasien : untuk kasus yang sudah
ditegakkan rencana terapinya dan terapi tersebut hanya dapat dilakukan di
fasilitas kesehatan lanjutan
 pertimbangan geografis
 pertimbangan ketersediaan fasilitas.

8. Rujukan boleh langsung ke faskes III apabila sarana dan prasarana tidak mendukung
pada faskes II untuk menangani kasus tersebut.
9. Rujukan antar provinsi diperbolehkan, dengan mempertimbangkan aspek geografis
dan keadaan pasien. Karena tujuan utama dari pelayanan kesehatan adalah
menurunkan resiko kematian pasien dan mempercepat penyembuhan.

8
STEP IV
MAPPING

Sistem Rujukan

Syarat Macam atau Tujuan rujukan Prosedur


Rujukan Jenis rujukan
Rujukan

Kesehatan
paripurna

9
STEP V
LEARNING OBJECT

Mahasiswa mampu mehamami dan menjelaskan :


1. Peraturan sistem rujukan
2. Syarat rujukan
3. Macam/jenis rujukan
4. Tujuan dan manfaat rujukan
5. Prosedur rujukan

10
STEP VII

GENERALISATION

LO 1. Peraturan Sistem Rujukan

Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2013 tentang pelayanan kesehatan pada
jaminan kesehatan nasional. Pada bagian keempat tentang pelayanan kesehatan rujukan
tingkat lanjutan di pasal 20 dan 21 dijelaskan sebagai berikut:
Pasal 20
(1) Pelayanan Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan meliputi :
a. administrasi pelayanan;
b.pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh dokter spesialis dan
subspesialis;
c. tindakan medis spesialistik baik bedah maupun non bedah sesuai dengan indikasi
medis;
d.pelayanan obat dan bahan medis habis pakai;
e. pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis;
f. rehabilitasi medis;
g.pelayanan darah;
h.pelayanan kedokteran forensik klinik;
i. pelayanan jenazah pada pasien yang meninggal di Fasilitas Kesehatan;
j. perawatan inap non intensif; dan
k.perawatan inap di ruang intensif.
(2) Administrasi pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas biaya
pendaftaran pasien dan biaya administrasi lain yang terjadi selama proses perawatan
atau pelayanan kesehatan pasien.
(3) Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi spesialistik oleh dokter spesialis dan
subspesialis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b termasuk pelayanan
kedaruratan.
(4) Jenis pelayanan kedokteran forensik klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
h meliputi pembuatan visum et repertum atau surat keterangan medik berdasarkan
pemeriksaan forensik orang hidup dan pemeriksaan psikiatri forensik.

11
(5) Pelayanan jenazah pada pasien yang meninggal di Fasilitas Kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf i terbatas hanya bagi Peserta meninggal dunia pasca
rawat inap di Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS tempat pasien
dirawat berupa pemulasaran jenazah dan tidak termasuk peti mati.
Pasal 21
(1) Peserta yang menginginkan kelas perawatan yang lebih tinggi dari pada haknya, dapat
meningkatkan haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan, atau
membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan dengan
biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas perawatan.
(2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi Peserta
Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan tidak diperkenankan memilih kelas yang
lebih tinggi dari haknya. Pasal 22 (1) Dalam hal ruang rawat inap yang menjadi hak
Peserta penuh, Peserta dapat dirawat di kelas perawatan satu tingkat lebih tinggi. (2)
BPJS Kesehatan membayar kelas perawatan Peserta sesuai haknya dalam keadaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Apabila kelas perawatan sesuai hak Peserta telah tersedia, maka Peserta ditempatkan
di kelas perawatan yang menjadi hak Peserta.
(4) Perawatan satu tingkat lebih tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 3
(tiga) hari.
(5) Dalam hal terjadi perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) lebih dari 3 (tiga)
hari, selisih biaya tersebut menjadi tanggung jawab Fasilitas Kesehatan yang
bersangkutan atau berdasarkan persetujuan pasien dirujuk ke Fasilitas Kesehatan yang
setara.

LO 2. Syarat Rujukan

 Harus tepat dalam merujuk


 Mempertimbangkan dari aspek keterjangkauan
 Kemampuan finasial pasien
 Kelengkapan formulir seperti rekam medis dan hasil diagnosis
 Kerja sama dengan fasilitas kesehatan yang ditunjuk
 Mempertimbangkan dari aspek transportasi dan resiko
 Menyiapkan surat rujukan yang berisi : (nomor surat,tempat dibuatkannya surat,
diagnosis dan terapi)

12
LO 3. Macam / Jenis Rujukan

Sebagaimana pada Permenkes No. 1 Tahun 2012 tentang sistem rujukan, pada pasal
7,8,9, dan 10 disebutkan bahwa:

Pasal 7
(1) Rujukan dapat dilakukan secara vertikal dan horizontal.
(2) Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan rujukan antar
pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatan.
(3) Rujukan horizontal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan rujukan antar
pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan.
(4) Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dari tingkatan
pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi atau
sebaliknya.
Pasal 8
Rujukan horizontal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dilakukan apabila
perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien
karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan yang sifatnya sementara atau
menetap.
Pasal 9
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang
lebih tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dilakukan apabila:
a. pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau sub spesialistik;
b. perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan.
Pasal 10
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan pelayanan yang
lebih rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dilakukan apabila:
a. permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan
kesehatan yang lebih rendah sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya;
b. kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih baik
dalam menangani pasien tersebut;
c. pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani oleh tingkatan
pelayanan kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan
pelayanan jangka panjang; dan/atau

13
d. perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
pasien karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan.
Sistem Kesehatan Nasional membedakan rujukan menjadi dua macam yakni :
1. Rujukan Kesehatan
Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan
derajat kesehatan. Dengan demikian rujukan kesehatan pada dasarnya berlaku untuk
pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Rujukan kesehatan dibedakan atas
tiga macam yakni rujukan teknologi, sarana, dan operasional (Azwar, 1996). Rujukan
kesehatan yaitu hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan atau specimen ke fasilitas
yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan uang menyangkut masalah kesehatan
yang sifatnya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif).
Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan opersional (Syafrudin, 2009).
2. Rujukan Medik
Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya penyembuhan penyakit serta pemulihan
kesehatan. Dengan demikian rujukan medik pada dasarnya berlaku untuk pelayanan
kedokteran (medical service). Sama halnya dengan rujukan kesehatan, rujukan medik ini
dibedakan atas tiga macam yakni rujukan penderita, pengetahuan dan bahan bahan
pemeriksaan (Azwar, 1996). Menurut Syafrudin (2009), rujukan medik yaitu pelimpahan
tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang timbul baik secara vertikal maupun
12 horizontal kepada yang lebih berwenang dan mampu menangani secara rasional. Jenis
rujukan medic antara lain:
a. Transfer of patient.
Konsultasi penderita untuk keperluan diagnosis, pengobatan, tindakan operatif dan lain –lain.
b. Transfer of specimen
Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.
c. Transfer of knowledge / personal.
Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu layanan
setempat.

Rujukan secara konseptual terdiri atas:

 Rujukan upaya kesehatan perorangan yang pada dasarnya menyangkut masalah medic
perorangan yang antara lain meliputi:
a) Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobafan, rindakan operasional dan lain
– lain

14
b) Rujukan bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium klinik
yang lebih lengkap.
c) Rujukan ilmu pengetahuan antara lain dengan mendatangkan atau mengirim
tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk melakukan rindakan, member
pelayanan, ahli pengetahuan dan teknologi dalam meningkatkan kualitas
pelayanan.
 Rujukan upaya kesehatan masyarakat pada dasarnya menyangkut masalah
kesehatan masyarakat yang meluas meliputi:
a) Rujukan sarana berupa bantuan laboratorium dan teknologi kesehatan.
b) Rujukan tenaga dalam bentuk dukungan tenaga ahli untuk penyidikan, sebab
dan asal usul penyakit atau kejadian luar biasa suatu penyakit serta
penanggulannya pada bencana alam, dan lain – lain
c) Rujukan operasional berupa obat, vaksin, pangan pada saat terjadi bencana,
pemeriksaan bahan (spesimen) bila terjadi keracunan massal, pemeriksaan air
minum penduduk dan sebagainya.
Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari : Rujukan internal dan
rujukan eksternal
a) Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam
institusi tersebut Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas
pembantu) ke puskesmas induk.
b) Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit - unit dalam jenjang
pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan kepuskesmas rawat
map) maupun vertikal (dan puskesmas ke rumah sakit umum daerah).
Menurut indikasinya, sistem rujukan dibagi menjadi :

a. Rujukan Kasus Dengan Atau Tanpa Pasien :

 Dari posyandu/sekolah/pustu ke puskesmas, indikasinya : semua


kelainan/kasus/keluhan yang ditemukan pada jaringan keras dan jaringa lunak
didalam rongga mulut
 Dari poli gigi puskesmas ke rumah sakit yang lebih mampu, indikasinya : semua
kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi, perawat gigi) di
puskesmas yang memerlukan tindakan diluar kemampuannya.

b. Rujukan Model (Prothetic Atau Orthodonsi) :

15
Indikasinya : pelayanan kesehatan gigi yang memerlukan pembuatan prothesa
termasuk mahkota dan jembatan, plat orthodonsi, obturator, feeding plate, inlay, onlay, uplay.

c. Rujukan Spesimen :

Indikasinya : semua kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter


gigi, perawat gigi) di puskesmas yang memerlukan pemeriksaan penunjang
diagnostik/laboratorium sehubungan dengan kelainan dalam rongga mulutnya.

d. Rujukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi :

Indikasinya : keadaan dimana dibutuhkan peningkatan ilmu pengetahuan dan atau


ketrampilan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, agar dapat memberikan pelayanan yang
lebih optimal.

e. Rujukan Kesehatan Gigi :

Indikasinya : semua kegiatan peningkatan promosi kesehatan dan pencegahan kasus


yang memerlukan bantuan teknologi, sarana dan biaya operasional.

LO 4. Tujuan dan Manfaat Rujukan

Tujuan dari sistem rujukan

Tujuan umum :

 Pemerataan pemberian pelayanan kesehatan tertentu dengan biaya yang murah.

Tujuan khusus :

 Pelayanan kesehatan rehabilitatif dan kuratif


 Pelayanan kesehatan promotif dan preventif
 Mengurangi pengeluaran biaya yang berulang
 Penghematan biaya
 Terjadi kerjasama karena ada pelimpahan wewenang

Manfaat Rujukan

Menurut Azwar (1996), beberapa manfaat yang akan diperoleh ditinjau dari unsur pembentuk
pelayanan kesehatan terlihat sebagai berikut :

16
1. Sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan Jika ditinjau dari sudut pemerintah
sebagai penentu kebijakan kesehatan (policy maker), manfaat yang akan diperoleh antara lain
membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam peralatan
kedokteran pada setiap sarana kesehatan; memperjelas sistem pelayanan kesehatan, karena
terdapat hubungan kerja antara berbagai sarana kesehatan yang tersedia; dan memudahkan
pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan.

2. Sudut pandang masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan Jika ditinjau dari sudut
masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan (health consumer), manfaat yang akan diperoleh
antara lain meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama
secara berulangulang dan mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena
diketahui dengan jelas fungsi dan wewenang sarana pelayanan kesehatan.

3. Sudut pandang kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan. Jika


ditinjau dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan (health
provider), manfaat yang diperoleh antara lain memperjelas jenjang karir tenaga kesehatan
dengan berbagai akibat positif lainnya seperti semangat kerja, ketekunan, dan dedikasi;
membantu peningkatan pengetahuan dan keterampilan yakni melalui kerjasama yang terjalin;
memudahkan dan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan mempunyai
tugas dan kewajiban tertentu.

LO 5. Prosedur Rujukan

TATA LAKSANA RUJUKAN

Menurut Syafrudin (2009), tatalaksana rujukan diantaranya adalah internal antar-petugas di


satu rumah; antara puskesmas pembantu dan puskesmas; antara masyarakat dan puskesmas;
antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya; antara puskesmas dan rumah sakit,
laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya; internal antar-bagian/unit pelayanan
di dalam satu rumah sakit; antar rumah sakit, laboratoruim atau fasilitas pelayanan lain dari
rumah sakit.

PERSIAPAN PENDERITA

Sebelum dikirim keadaan umum penderita harus diperbaiki lebih dahulu. Keadaan umum
ini perlu dipertahankan selama dalam perjalanan. Untuk itu infuse maupun obat-obatan yang

17
diperlukan untuk itu perlu disertakan pada waktu pasien diangkut. Surat rujukan perlu
disiapkan sesuai dengan format terlampir. Seorang paramedik perlu mendampingi penderita
dalam perjalanan, untuk menjaga keadaan umum penderita.

Pasien yang akan dirujuk sudah diperiksa, dan disimpulkan bahwa kondisi pasien layak
serta memenuhi syarat untuk dirujuk, tanda-tanda vital (vital sign) berada dalam kondisi
baik/stabil serta transportable, memenuhi salah satu syarat berikut untuk dirujuk:

a. Hasil pemeriksaan pertama sudah dapat dipastikan tidak mampu diatasi secara tuntas
di fasyankes.
b. Hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang medis ternyata pasien tidak
mampu diatasi secara tuntas ataupun tidak mampu dilayani karena keterbatas
kompetensi ataupun keterbatasan sarana/prasarana.
c. Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap, tetapi pemeriksaan
harus disertai pasien yang bersangkutan.
d. Apabila telah diobati di fasyankes tingkat pertama dan atau dirawat di fasyankes
perawatan tingkat pertama di Puskesmas perawatan/RS D Pratama, ternyata masih
memerlukan pemeriksaan, pengobatan, dan atau perawatan di fasyankes rujukan yang
lebih mampu, untuk dapat menyelesaikan masalah/ Kesehatan nya dan dapat
dikembalikan ke fasyankes perujuk.

Langkah-langkahnya

1. Petugas memberi penjelasan alasan pasien dirujuk pada pasien / keluarga pasien
2. Petugas memberikan informasi pilihan fasilitas rujukan yang dapat melayani pasien.
3. Petugas menanyakan kepada pasien dan keluarga pasien tentang keputusan mereka.
4. Petugas membuat dan melengkapi surat persetujuan rujukan untuk pasien yang bersedia
dirujuk atau surat penolakan rujukan bagi pasien yang tidak bersedia dirujuk.
5. Perawat menanyakan ketersediaan tempat pada Rumah Sakit tujuan (menerima /
menolak).
6. Jika fasilitas kesehatan menerima pasien, petugas menyampaikan informasi pada fasilitas
rujukan yang dituju bahwa akan ada penderita yang dirujuk. Petugas juga membuat dan
melengkapi surat rujukan sesuai dengan SOP Rujukan
7. Jika fasilitas kesehatan menerima pasien, petugas memberitahu pasien untuk memilih
fasilitas rujukan lainnya.

18
8. Jika semua fasilitas rujukan tidak bersedia menerima pasien atau pasien dan keluarga
pasien tidak bersedia untuk dirujuk, maka pasien ditangani sesuai dengan SOP alternatif
penanganan pasien yang memerlukan rujukan tetapi tidak mungkin dilakukan
9. Petugas memastikan pasien dalam kondisi stabil saat dirujuk Untuk pasien dalam
keadaan stabil dengan keadaan umum baik dan tidak memenuhi kriteria emergensi,
pasien ke fasilitas rujukan tanpa didampingi petugas / diantar ambulan. Apabila
pasien dalam keadaan emergensi, tangani pasien sesuai dengan SOP rujukan pasien
emergensi
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MERUJUK PASIEN
Menurut Pedoman Sistem Rujukan Nasional, Kementrian Kesehatan RI tahun 2013, SOP
merujuk pasien dapat dibedakan berdasarakan tingkatan fasilitas kesehatan, yakni:

• Tata Laksana Sistem Rujukan pada Faskes Tk. 1

• Tata Laksana Sistem Rujukan pada Faskes Tk. 2

• Tata Laksana Sistem Rujukan pada Faskes Tk. 1

Prosedur Klinis

1) Pada kasus non emergensi, maka proses rujukan mengikuti prosedur rutin yang
ditetapkan. Provider Kesehatan yang berwenang menerima pasien di fasyankes
tingkat pertama, melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
medik yang mampu dilakukan di fasyankes tingkat pertama, untuk menentukan
diagnosa Utama/Diagnosis Kemungkinan, dan Diagnosis Banding, disertai
kelengkapan kode diagnosis untuk fasyankes tingkat pertama

2) Dalam kondisi pasien saat kedatangan dalam kondisi emergensi dan membutuhkan
pertolongan kedaruratan medik, petugas yang berwenang segera melakukan
pertolongan segera (prosedur life saving) untuk menstabilkan kondisi pasien di
fasyankes, sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO)

3) Menyimpulkan bahwa kasusnya telah memenuhi syarat untuk dirujuk, sebagaimana


tercantum pada salah satu kriteria dalam syarat merujuk pasien diatas.
4) Untuk mempersiapkan rujukan, kepada pasien/ keluarga perlu diberikan penjelasan
dengan bahasa yang dapat dimengerti pasien/keluarga, dan informed concent sebagai
bagian dari prosedur operasional yang sangat erat kaitannya dengan prosedur teknis
pelayanan pasien harus dilakukan.

19
5) Penjelasan diberikan berkaitan dengan:
a. Penyakit/masalah Kesehatan pasien dan kondisi pasien saat ini,
b. Tujuan dan pentingnya pasien harus dirujuk,
c. Kemana pasien akan dirujuk,
d. Akibat atau risiko yang mungkin terjadi pada kondisi Kesehatan pasien
ataupun keluarga/lingkungannya apabila rujukan tidak dilakukan, dan
keuntungan apabila dilakukan rujukan,
6) Rencana dan proses pelaksanaan rujukan, serta tindakan yang mungkin akan
dilakukan di fasyankes rujukan.
7) Hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh pasien/keluarga,
8) Penjelasan-penjelasan lain yang berhubungan dengan proses rujukan termasuk
berbagai persyaratan secara lengkap, untuk memberi kesempatan kepada
pasien/keluarga mengambil keputusan secara cerdas dalam mengatasi
penyakit/masalah Kesehatan pasien.
9) Putusan akhir atas rencana pelaksanaan rujukan seperti dijelaskan, ada pada pasien/
keluarga sendiri, apakah yang berkepentingan setuju ataukah menolak untuk dirujuk
ke salah satu fasyankes rujukan sesuai dengan alur sistem rujukan yang ditetapkan.
Kesepakatan akhir atas hasil penjelasan dinyatakan dengan pembubuhan tanda-tangan
dua belah pihak dalam format Informed concent sesuai prosedur.
10) Atas persetujuan rujukan dari pasien/keluarga, provider berwenang mempersiapkan
rujukan dengan memberikan tindakan pra rujukan sesuai kondisi pasien sebelum
dirujuk berdasarkan SPO.
11) Menghubungi kembali unit pelayanan di fasyankes tujuan rujukan, untuk memastikan
sekali lagi bahwa pasien dapat diterima di fasyankes rujukan atau harus menunggu
sementara ataupun mencarikan fasyankes rujukan lainnya sebagai alternatif.
12) Untuk pasien gawat darurat, dalam perjalanan rujukan ke fasyankes yang dituju, harus
didampingi provider yang kompeten dibidangnya yang dapat memantau kondisi
pasien sekaligus mengambil tindakan segera bilamana diperlukan, dan sedapat
mungkin selalu menjalin komunikasi dengan fasyankes tujuan rujukan. Bagi pasien
bikan gawat darurat, perjalanan rujukan tidak perlu didampingi petugas Kesehatan

13) Selama perjalanan pasien gawat-darurat, dalam kendaraan pengantar petugas


Kesehatan pendamping rujukan perlu melengkapi kebutuhan obat dan peralatan

20
medis/emergensi yang diperkirakan dibutuhkan pasien selama dalam perjalanan
rujukan

14) Kendaraan Puskesmas Keliling atau ambulans dan Provider pendamping rujukan
harus tetap menunggu pasien di IGD tujuan sampai ada kepastian pasien tersebut
mendapat pelayanan dan keputusan apakah harus dirawat inap atau rawat jalan di
Fasyankes rujukan, atau dapat dipulangkan langsung dengan saransaran tindak-lanjut
penanganan oleh fasyankes perujuk.

15) Apabila tersedia perangkat Teknologi Komunikasi (Radio medik)/Teknologi


Informasi Komunikasi (Tele Medikine/e-health/u-health) dalam suatu Sistem
Rujukan, dapat dimanfaatkan untuk kelancaran merujuk pasien:
a. Untuk mendapatkan saran-saran dalam mempersiapkan rujukan pasien,
melakukan tindakan pra-rujukan, sebelum pasien dirujuk,
b. Proses konsultasi melalui Radio-komunikasi Medik ataupun Tele Medikine/e-
Health, dapat dilanjutkan selama perjalanan rujukan ke fasyankes rujukan bila
pasien dapat dirujuk (transportable),
c. Bila kondisi pasien tidak dapat dirujuk (tidak transportable), atau kondisi
geografis tidak memungkinkan melakukan rujukan segera, maka fasyankes
rujukan dapat memberikan saran atas permintaan rujukan dari fasyankes
perujuk, dan atau panduan atas tindakan yang terpaksa harus dilakukan segera
pada pasien bersangkutan.
d. Langkah-langkah dan ketentuan melakukan rujukan menggunakan perangkat
teknologi dimaksud akan diatur tersendiri, melengkapi pedoman sistem
rujukan.
Prosedur Administratif
A. Dilakukan sejalan dengan prosedur teknis pada pasien,
B. Melengkapi catatan rekam medis pasien, setelah tindakan untuk menstabilkan kondisi
pasien pra-rujukan,
C. Setelah provider berwenang memberikan penjelasan secara lengkap dan
pasien/keluarga telah memberikan keputusan akhir, setuju ataupun menolak untuk
dirujuk, maka format informed concent secara prosedur administrative rujukan harus
dichek ulang kelengkapannya, antara lain adanya tanda tangan dua-belah pihak,
provider berwenang dan pasien/keluarga, baik bagi pasien/keluarga yang setuju
dirujuk maupun yang menolak untuk dirujuk

21
D. Selanjutnya format informed concent yang telah ditanda-tangani tersebut disimpan
dalam rekam medik pasien bersangkutan. Bila telah digunakan perangkat TIK/ICT,
format informed concent dapat dilengkapi dengan foto, rekaman pembicaraan proses
pengambilan keputusan, dan lainnya.
E. Apabila pasien/keluarga setuju untuk dirujuk, maka fasyankes perujuk membuat surat
rujukan pasien rangkap 2.
a. Lembar pertama dikirim ke fasyankes rujukan bersama pasien.
b. Lembar dua disimpan sebagai arsip, bersama rekam medik pasien bersangkutan.
F. Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien,
G. Administrasi pengiriman pasien harus diselesaikan, ketika pasien akan segera dirujuk.

Tata Laksana Sistem Rujukan pada Faskes Tk. 2


Prosedur Klinis

1) Merujuk horisontal ke fasyankes lain setingkat untuk kebutuhan layanan yang tidak
dapat dilakukan, atau

2) Merujuk pasien ke fasyankes tingkat ketiga, atau.

3) Merujuk balik pasien ke fasyankes perujuk di tingkat pertama,

4) Rujukan horisontal di fasyankes yang sama atau ke fasyankes setingkat, untuk


melengkapi pemeriksaan dan kebutuhan layanan yang tidak dapat dilakukan, untuk ini
pasien dapat dikirimkan ke:
a. Bagian lain di fasyankes yang sama sesuai tujuan rujukan, disertai permintaan
rujukan, yang lazimnya dituliskan dalam dokumen/file rekam medik pasien,
jawaban rujukan juga akan dituliskan pada file yang sama
b. Fasyankes lain setingkat (tingkat dua), yang dapat memberikan layanan
sebagaimana dibutuhkan pasien. Lazimnya provider perujuk akan menulis
surat rujukan, disertai resume hasil-hasil pemeriksaan dan pelayanan/ tindakan
yang sudah dilakukan, bila perlu dilengkapi dengan foto Röntgen, EKG, dan
informasi lainnya. Fasyankes rujukan harus memberikan jawaban, saran dan
lainnya menurut pertimbangannya
5) Untuk merujuk ke fasyankes rujukan tingkat tiga, maka prosedur operasional yang
harus dilalui berupa:

22
a. Menyiapkan sarana transportasi rujukan, dan akan lebih baik bila dilengkapi
dengan perangkat TIK/ ICT yang dapat menghubungkan fasyankes tujuan
rujukan dengan fasyankes-fasyankes perujuk termasuk ambulans yang
mambawa pasien ke fasyankes rujukan yang dituju.
b. Setiba pasien di fasyankes ketiga penerima rujukan, bila selanjutnya
diputuskan bahwa pasien akan ditangani di Fasyankes rujukan, maka provider
pendamping rujukan secara formal akan menyerahkan tanggung-jawab
penanganan pasien pada provider berwenang di fasyankes rujukan.
c. Pada kondisi pasien yang dirujuk setelah mendapatkan pemeriksaan dan
tindakan/layanan di fasyankes rujukan ternyata tidak perlu dirawat, maka
provider pendamping akan membawa kembali pasien dengan membawa surat
rujukan balik yang disertai saransaran, dan atau obat serta lainnya
d. Kemungkinan bila diputuskan bahwa pasien ingin tetap dirawat di fasyankes
tingkat dua, maka pasien dapat tetap dirawat dan fasyankes berusaha meminta
saran/konsul kepada fasyankes rujukan, dengan bantuan sarana komunikasi
yang tersedia ataupun perangkat TIK/ICT bilamana sudah dikembangkan
dalam sistem rujukan di wilayahnya.
Prosedur Administratif

1) Mempersiapkan dan melengkapi semua surat-surat yang telah dibuat provider


pemberi layanan, surat rujukan pasien dibuat rangkap 2 (dua), satu untuk dikirim dan
satu untuk arsip.

2) Prosedur untuk pasien yang akan dirujuk, dan surat rujukan balik untuk pasien yang
akan dikembalikan ke fasyankes perujuk, disertai alamat yang jelas, serta penjelasan
kepada pasien/keluarga tentang segala sesuatu berhubungan dengan kebutuhan
pelayanannya.

3) Menyimpan pada tempatnya, rekam medis pasien dengan semua kelengkapan yang
perlu diarsipkan di fasyankes rujukan bersangkutan

4) Mengisi laporan bulanan, triwulan pada form.

PROSEDUR PENERIMAAN RUJUKAN


Adapun prosedur sarana kesehatan penerima rujukan adalah:
1) Menerima rujukan pasien dan membuat tanda terima pasien;
2) Mencatat kasus-kasus rujukan dan membuat laporan penerimaan rujukan;

23
3) Mendiagnosis dan melakukan tindakan medis yang diperlukan, serta melaksanakan
perawatan disertai catatan medik sesuai ketentuan;
4) Memberikan informasi medis kepada pihak sarana pelayanan pengirim rujukan;
5) Membuat surat rujukan kepada sarana pelayanan kesehatan lebih tinggi dan mengirim
tembusannya. kepada sarana kesehatan pengirim pertama; dan
6) Membuat rujukan balik kepada fasilitas pelayanan perujuk bila sudah tidak
memerlukan pelayanan medis spesialistik atau subspesialistik dan setelah kondisi
pasien (Kemenkes, 2012).

24
DAFTAR PUSTAKA

1) Pedoman Sistem Rujukan Nasional Kementrian Kesehatan RI tahun 2013

2) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Pedoman Sistem Rujukan


Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal BUK (Bina Upaya Kesehatan) Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.

3) Peraturan Menteri Kesehatan No. 1 Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan

4) Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan pada
Jaminan Kesehatan Nasional

5) Azwar, Azrul. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Sinar Harapan. 1996.

6) Syafruddin.(2009). Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam


Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media

25
26