Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penelitian pada dasarnya merupakan satu upaya memahami
masalah-masalah yang ditemui dalam kehidupan manusia salah satunya
penelitian pendidikan. Penelitian merupakan cara mencari kebenaran
melalui metode ilmiah, Karena dalam mengungkapkan kebenaran
penelitian menggunakan metode ilmiah yang meliputi: perumusan
masalah, melakukan studi literatur, merumuskan praduga-praduga,
pengumpulan data, mengolah data, menganalisis data, dan mengambil
kesimpulan. Dalam hal pengumpulan data, instrumen sangat penting
dalam penelitian, Karena instrumen merupakan alat ukur dan akan
memberikan informasi tentang apa yang kita teliti. Informasi yang akurat
diperoleh melalui instrumen yang valid dan reliabel (Sappaile, 2007).
Instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran
dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap
instrument harus mempunyai skala. Banyak sekali teknik analisis statistik
yang dapat digunakan untuk analisis korelasional ini, baik statistik
parametrik maupun nonparametrik. Penggunaan masing-masing teknik
analisis tersebut sangat tergantung pada jenis skala datanya (Muhson,
2015). Skala adalah alat pengumpul data untuk memperoleh gambaran
kuantitatif aspek-aspek tertentu. Skala dapat berbentuk skala sikap yang
biasanya ditujukan untuk mengukur variabel yang bersifat internal
psikologis dan diisi oleh responden yang bersangkutan. Selain itu, skala
dapat pula berbentuk skala penilaian yakni apabila skala tersebut ditujukan
untuk mengukur variabel yang indikator-indikatornya dapat diamati
(Muljono, 2002).
Salah satu hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan
penyusunan instrumen yang baik adalah mengenai validitasnya. Oleh
sebab itu, validasi instrument merupakan salah satu hal yang harus
diperhatikan peneliti sebelum instrumen tersebut digunakan (Hidayati,
2015). Skala yang telah ditulis merupakan konsep instrumen yang harus

1
melalui proses validasi, baik validasi teoretik maupun validasi empirik
(Muljono, 2002).
Instrumen yang digunakan dalam penelitian haruslah valid dan
reliabel. Nurkancana (1992: 141) menyatakan bahwa suatu alat pengukur
dapat dikatakan alat pengukur yang valid apabila alat pengukur tersebut
dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat.
Dalam hal validitas dan reliabilitas, tentunya dipengaruhi oleh (1)
instrumen, (2) subjek yang diukur, dan (3) petugas yang melakukan
pengukuran. Dalam hal pengukuran, khususnya dalam pendidikan
tentunya yang terpenting adalah informasi hasil ukur yang benar. Sebab
dengan hasil ukur yang tidak atau kurang tepat maka akan memberikan
informasi yang tidak benar, sehingga kesimpulan yang diambil juga tidak
benar.

B. Rumusan Masalah
1. Apa jenis-jenis skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian?
2. Bagaimana cara dan perbedaan validitas skala dalam penelitian
kuantitatif dan kualitatif?

C. Tujuan
1. Mengetahui jenis – jenis skala pengukuran yang digunakan dalam
penelitian
2. Mengetahui cara dan perbedaan validitas skala dalam penelitian
kuantitatif dan kualitatif

BAB II

PEMBAHASAN

2
1. Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan


untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur,
sehingga alat ukur tersebut jika digunakan akan menghasilkan data kuantitatif.
Menurut Sekaran (2006:15) ada empat tipe skala dasar: nominal, ordinal, interval,
dan rasio.
1. Skala Nominal
Skala nominal adalah skala yang memungkinkan peneliti untuk
menempatkan subyek pada kategori atau kelompok tertentu. Menurut
Indriantoro (2002:97) skala nominal merupakan skala pengukuran yang
menyatakan kategori, kelompok atau klasifikasi dari kontruk yang diukur
dalam bentuk variabel.
Skala ini digunakan untuk memperoleh data pribadi seperti gender
atau departemen tempat seorang bekerja, dimana pengelompokan individu
atau objek. Contohnya: jenis kelamin (yang terdiri dari pria dan wanita).
2. Skala Ordinal
Skala ordinal adalah skala pengukururan yang tidak hanya
menyatakan kategori, tetapi juga menyatakan peringkat kontruk yang
diukur (Indriantoro, 2002:98). Kelebihan skala ini jika dibandingkan
dengan skala nominal adalah skala ordinal menyatakan kategori dan
peringkat.
Skala ini digunakan untuk memeringkat preferensi atau kegunaan
beragam jenis produk oleh konsumen dan untuk mengurutkan tindakan
individu, objek, atau peristiwa. Contohnya: kategori dari yang buruk
sampai yang baik dengan memberi nomor urut sesuai dengan
tingkatannya.
3. Skala Interval
Skala interval merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori,
peringkat dan jarak kontruk. Sedangkan menurut Indriantoro (2002:99)
adalah skala menentukan perbedaan, urutan, dan kesamaan besaran
perbedaan dalam variabel sehingga skala interval lebih kuat dibanding
skala nominal dan ordinal. Skala ini digunakan untuk respon beragam
item yang mengukur suatu interval bisa dihasilkan dengan skala lima atau
tujuh point. Contoh: Skala Likert.
4. Skala Rasio
Skala rasio merupakan skala pengukuran yang menunjukkan kategori,
peringkat, jarak dan perbandingan kontruk yang diukur. Skala ini
menggunakan nilai absolute, sehingga memperbaiki kelemahan skala
interval yang menggunakan nilai relatif (Indriantoro, 2002:101). Kegunaan
skala ini adalah digunakan dalam penelitian organisasi ketika angka pasti
faktor-faktor objektif.

3
Empat skala sebagaimana disebutkan diatas dengan skala yang digunakan
dalam mengukur sikap atau perilaku berbeda. Skala tersebut dibagi menjadi dua
ketegori yaitu skala peringkat dan skala rangking (Sekaran, 2006:30). Berikut
penjelasan dari masing-masing skala tersebut:
1. Skala Peringkat
Skala peringkat (rating scale) merupakan skala yang memiliki
beberapa kategori respon dan digunakan untuk mendapatkan respon yang
terkait dengan objek, peristiwa, atau orang yang dipelajari. Skala ini
terbagi menjadi beberapa skala, yaitu:
a. Skala dikotomi
skala yang menawarkan dua pilihan jawaban yang harus dipilih
salah satunya. Literatur lainnya seperti Cooper (2006:38) dan
Indriantoro (2002) menyebutnya sebagai ketegori sederhana.
Contoh: Apakah Anda mempunya kartu kredit? ‘Ya’ ‘Tidak’
b. Skala kategori
skala yang digunakan untuk mengukur sikap yang berisi beberapa
alternatif ketegori pendapat yang memungkinkan bagi responden
untuk memberikan alternatif penilaian.
Contoh: Sangat Bagus, Bagus, Sedang, Jelek, Sangat Jelek
c. Skala Likert
skala yang digunakan untuk mengukur sikap dengan menyatakan
setuju atau ketidaksetujuannya terhadap subyek, objek atau
kejadian tertentu.
Contoh: (1) Sangat setuju, (2) Setuju, (3) Netral, (4) Tidak Setuju,
(5) Sangat Tidak Setuju.
d. Skala Deferinsial Semantik
skala pengukuran sikap dengan menggunakan pernyataan ekstrem
yang penilaiannya terdiri dari dua kutup.
Contoh: Baik-Buruk, Kuat-Lemah, Modern-Kuno.
e. Skala Numerikal
skala semantik yang penilaian menggunakan nomor terdiri atas 5
atau 7 alternatif.
Contoh: ___________________________
Sangat Sering 1 2 3 4 5 Tidak
Pernah
f. Skala peringkat terperinci
skala pengukuran yang menyatakan pilihan responden dengan
melingkari nomor satu dari 5 atau 7 titik yang ada.
g. Skala jumlah konstan atau tetap
skala yang digunakan untuk pengukuran sikap dengan
mendistribusikan sejumlah poin dan mengakumulasikannya.
h. Skala stapel

4
skala yang digunakan untuk mengukur sikap dengan penilaian
mulai dari +3 sampai -3 atas item yang ada.
i. Skala peringkat Grafis
skala yang pengukuran yang menggunakan peringkat grafis atas
jawaban responden untuk pertanyaan tertentu.
j. Skala consensus
skala pengukuran sikap berdasarkan ketepatan atau relevansinya
dengan konsep.
Selain yang disebut diatas, skala peringkat juga bisa diukur dengan
menggunakan penskalaan multidimensional.
2. Skala Rangking
Skala rangking (rangking scale) merupakan skala yang digunakan
untuk membuat perbandingan antar objek, peristiwa, atau orang, dan
mengungkap pilihan yang lebih disukai dan merangkingnya. Adapun
metode yang dipakai adalah perbandingan berpasangan, pilihan yang
diharuskan, dan skala komparatif.
a. Skala perbandingan berpasangan adalah skala yang digunakan
ketika diantara sejumlah kecil objek, responden diminta untuk
memilih antara dua objek ‘yang dibandingkan pada satu waktu.
b. Skala pilihan yang diharuskan adalah skala pengukuran dengan
meminta responden untuk merangking objek secara relatif satu
sama lainnya.

2. Validitas Instrumen

Validitas merupakan proses mengumpulkan bukti untuk mendukung


interpretasi fakta dari suatu nilai tes (Ary dkk, 2006). Sedangkan menurut
Sugiyono (2010) validitas adalah pengujian atas instrumen penelitian yang
menyatakan bahwa intrumen tersebut memang benar-benar dapat digunakan untuk
mengukur apa yang seharusnya diukur. Hal ini selaras dengan pertanyataan
Ghiselli dkk (1981: 266) dalam Yogiyanto (2010:120). Misalnya ‘meteran’ yang
valid adalah meteran yang dapat mengukur panjang secara tepat dan teliti, karena
meteran memang alat untuk mengukur panjang.

Validitas dalam Penelitian Kuantitatif


Terdapat tiga tipe validitas instrumen dalam penelitian kuantitatif yaitu:
a. Validitas Isi
Validitas isi merupakan cara uji validitas yang mengukur tingkat dimana
isi dari item-item cukup mewakili keseluruhan item yang relevan sesuai
penelitian. Hal ini dapat dilakukan dengan metode penilaian dan evaluasi panel
dengan rasio validitas isi (Cooper, 2006:17).
Validasi ini dilakukan dengan menyampaikan kisi-kisi, indikator dan butir
instrumen kepada ahli untuk ditelaah secara kuantitatif dan kualitatif. Paling tidak,

5
ada 3 ahli dalam bidang yang terkait yang dilibatkan untuk proses validasi
instrumen penelitian. Berdasarkan penilaian para ahli, selanjutnya peneliti
menghitung indeks kesepakatan ahli atau kesepakatan validator dengan
menggunakan indeks validitas yang diusulkan oleh Aiken atau Gregory.
Ada hal lain yang perlu diperhatikan terkait dengan validitas isi.
Keterwakilan indikator dari domain yang akan diukur benar-benar perlu menjadi
perhatian. Beberapa ahli menggolongkan hal ini sebagai validitas logis.
Kebenaran konsep yang dinyatakan dalam instrumen merupakan hal yang dapat
dijadikan kriteria dan bahan pertimbangan untuk mengisi skor dalam format
penilaian. Jika instrumen berbentuk pilihan ganda, maka keberadaan kunci
jawaban, keberfungsian distraktor, format penulisan, keterbacaan butir,dan juga
berfungsinya gambar atau tabel juga dapat dijadikan pertimbangan. Beberapa ahli
mengategorikan ini sebagai validitas kenampakan (face validity).
a) Langkah-langkah untuk membuktikan validitas isi

(1) Memberikan kisi-kisi dan butir instrumen, berikut rubrik penskorannya


jika ada kepada beberapa ahli yang sesuai dengan bidang yang diteliti
untuk mohon masukan. Banyaknya ahli yang dimohon untuk memberi
masukan paling tidak 3 orang ahli dengan kepakaran yang relevan dengan
bidang yang diteliti.

(2) Masukan yang diharapakan dari ahli berupa kesesuaian komponen


instrumen dengan indikator, indikator dengan butir, benarnya substansi
butir, kejelasan kalimat dalam butir, jika merupakan tes, maka pertanyaan
harus ada jawabannya/kuncinya, kalimat-kalimat tidak membingungkan,
format tulisan, simbol, dan gambar yang cukup jelas. Proses ini sering
disebut telaah kualitatif yang meliputi aspek substansi, bahasa, dan
budaya.

(3) Berdasarkan masukan ahli tersebut, kisi-kisi dan atau instrumen kemudian
diperbaiki.

(4) Meminta ahli untuk menilai validitas butir, berupa kesesuaian antara butir
dengan indikator. Penilaian ini dapat dilakukan misalnya dengan skala
Likert (Skor1: Tidak Valid, Skor 2= kurang valid, Skor 3= cukup valid,
skor 4= valid, skor 5 = sangat valid). Dapat pula penskoran dengan
melihat relevansi butir dengan indicator (Skor1: Tidak Relevan, Skor 2=
kurang relevan, Skor 3= cukup relevan, skor 4= relevan, skor 5 = sangat
relevan).

(5) Menghitung indeks kesepakatan ahli (rater agreement) dengan indeks


Aiken V atau indeks Gregory, yang merupakan indeks untuk menunjukkan
kesepakatan hasil penilaian para ahli tentang validitas, baik untuk butir
maupun untuk perangkatnya.

6
b) Membuktikan Validitas Isi Instrumen

Setelah memberikan kisi-kisi dan butir instrumen, serta rubrik


penskorannya kepada para ahli, peneliti juga memberikan format penilaian ahli
untuk mengetahui kesesuaian butir dengan indikator.

Contoh:

Soal No. Skor Relevansi Butir dengan Indikator Ket.


1 2 3 4
Tidak Kurang Cukup Sangat
Relevan Relevan Relevan Relevan
1
2
3
4
5
Tabel 1. Format penilaian ahli untuk mengetahui kesesuaian butir dengan
indikator

Setelah itu peneliti mengumpulkan hasil penilaian dari para ahli tersebut:

No. Ahli 1 Ahli 2 Ahli 3


Butir
1 4 3 3
2 2 4 4
3 4 2 3
4 3 4 4
5 3 3 4
Tabel 2. Hasil Penilaian dari 3 ahli

 Dengan menggunakan Indeks Validasi Aiken


Indeks Aiken merupakan indeks kesepakatan para ahli terhadap kesesuaian
butir (atau sesuai tidaknya butir) dengan indikator yang ingin diukur
menggunakan butir tersebut. Indeks V ini nilainya berkisar diantara 0-1.
Dari hasil perhitungan indeks V, suatu butir atau perangkat dapat
dikategorikan berdasarkan indeknya. Jika indeksnya kurang atau sama dengan 0,4
dikatakan validitasnya kurang, 0,4-0,8 dikatakan validitasnya sedang, dan jika
lebih besar dari 0,8 dikatakan sangat valid.

 Validitas Per Butir * Validitas secara keseluruhan

7
Ket:
s = r - l0
V = indeks kesepakatan ahli mengenai validitas butir
r = skor kategori pilihan ahli
l0 = skor terendah dalam kategori penskoran
n = banyaknya ahli
m = banyaknya butir
c = banyaknya kategori yang dapat dipilih ahli

No. Butir Ahli 1 Ahli 2 Ahli 3 S1 S2 S3 Σs V


1 4 3 3 3 2 2 7 0,78
2 2 4 4 1 3 3 7 0,78
3 4 2 3 3 1 2 6 0,67
4 3 4 4 2 3 3 8 0,88
5 3 3 4 2 2 3 7 0,78
11 11 13 35 0,78
Tabel 3. Hasil menghitung indeks kesepakatan ahli mengenai validitas

Selanjutnya hasil tersebut diinterpretasikan, Jika indeks kesepakatan


tersebut kurang dari 0,4 maka dikatakan validitasnya rendah, diantara 0,4-0,8
dikatakan validitasnya sedang (mediocare) dan jika lebih dari 0,8 dikatakan tinggi.

Sehingga dari tabel di atas dapat kita simpulkan bahwa butir 1,2,3,4 dan 5
memiliki validitas sedang. Dan secara keseluruhan semua butir memiliki validitas
sedang.

 Dengan menggunakan Indeks Validasi Gregory


Indeks ini juga berkisar diantara 0-1. Dengan membuat tabel kontingensi
pada dua ahli, dengan kategori pertama tidak relevan dan kurang relevan menjadi
kategori relevansi lemah, dan kategori kedua untuk yang cukup relevan dan sangat
relevan yang dibuat kategori baru relevansi kuat. Indeks kesepakatan ahli untuk
validitas isi merupakan perbandingan banyaknya butir dari kedua ahli dengan
kategori relevansi kuat dengan keseluruhan butir.
Dari hasil penilaian para ahli pada tabel 3., kemudian skor tersebut
dikategorikan ulang. Kategori pertama: tidak relevan (skor 1) dan kurang relevan
(skor 2) diketagorikan ulang mejadi kategori relevansi lemah, dan kategori kedua:
cukup relevan (skor 3) dan sangat relevan (skor 4) dikategorikan ulang menjadi
kategori relevansi kuat.

Contohnya pada tabel berikut:

No. Butir Ahli 1 Ahli 2 Ahli 3


1 Kuat Kuat Kuat
2 Lemah Kuat Kuat
3 Kuat Lemah Kuat

8
4 Kuat Kuat Kuat
5 Kuat Kuat Kuat

Setelah itu, peneliti membuat tabel kontingensi ketiga ahli pada relevansi
lemah kuat.

Ahli 1 Lema Lema Lema Kuat Kuat Kuat Lema Kuat


h h h h
Ahli 2 Lema Lema Kuat Lema Lema Kuat Kuat Kuat
h h h h
Ahli 3 Lema Kuat Lema Lema Kuat Lema Kuat Kuat
h h h h
Total 0 0 0 0 1 0 1 3
Kategor A B C D E F G H
i

Koefisien validitas isi dihitung dengan formula:

H 3
Koefisien Validitas isi= = =0,6
( A +B+ C+ D+ E+ F +G+ H ) 8

Selanjutnya hasil tersebut diinterpretasikan, Jika indeks kesepakatan


tersebut kurang dari 0,4 maka dikatakan validitasnya rendah, diantara 0,4-0,8
dikatakan validitasnya sedang (mediocare) dan jika lebih dari 0,8 dikatakan tinggi.
Pada kasus ini karena koefisien validitas isinya 0,6, maka dikatakan validitasnya
sedang.

b. Validitas Konstruk
Terkait dengan instrumen penilaian aspek non-kognitif yang berupa
angket, suatu angket dikatakan valid jika pertanyaan pada angket tersebut mampu
untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh angket tersebut. Validitas
akan merujuk kepada sejauh mana hasil pengukuran suatu instrumen dapat
ditafsirkan terhadap atribut yang diukur.
Suatu instrumen non tes mempunyai validitas konstruk, jika instrumen
tersebut dapat digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan yang
didefinisikan. Misalnya untuk mengukur minat terhadap matematika, perlu
didefinisikan terlebih dahulu apa itu minat terhadap matematika, demikian juga
untuk mengukur kemandirian belajar siswa maka perlu terlebih dahulu
didefinisikan mengenai apa itu kemandirian belajar siswa. Setelah konsep atau
defenisi itu diperoleh selanjutnya disiapkan instrumen yang digunakan untuk
mengukur minat terhadap matematika sesuai definisi. Dalam hal ini, untuk
melahirkan definisi tentu saja diperlukan teori-teori. Sutrisno Hadi menyatakan
bahwa jika memang bangunan teorinya sudah benar, maka hasil pengukuran
dengan alat pengukur yang berbasis pada teori itu sudah dipandang sebagai hasil

9
yang valid. Namun demikian, walaupun secara teoritis dapat dikatakan sudah
valid, pengujian secara empiris terhadap suatu instrumen non-tes tetap diperlukan
untuk mengungkap seberapa jauh setiap variabel yang akan diukur dapat
dijelaskan oleh setiap dimensi dalam instrumen yang telah disusun.
Jadi validitas konstruk merupakan salah satu tipe validitas internal rasional
suatu instrumen yang menunjukkan sejauh mana instrumen tersebut mengungkap
suatu trait atau konstruk teoretik yang hendak diukurnya. Dalam hal ini konstruk
merupakan kerangka dari suatu konsep. Pengertian konstruk ini bersifat
terpendam dan abstrak sehingga berkaitan dengan banyak indikator perilaku
empiris yang menuntut adanya uji analisis seperti analisis faktor.
Dalam suatu penelitian biasanya digunakan istrumen yang melibatkan
bayak butir sehingga untuk memahaminya digunakan faktor analisis. Analisis
faktor digunakan untuk mereduksi data, dengan menemukan hubungan antar
variabel yang saling bebas, yang kemudian terkumpul dalam variabel yang
jumlahnya lebih sedikit untuk mengetahui struktur dimensi laten, yang disebut
dengan faktor. Faktor ini merupakan variabel yang baru, yang disebut juga dengan
variabel latent, variabel konstruk dan memiliki sifat tidak dapat diketahui
langsung (unobservable). Proses dalam analisis faktor dimulai dengan
mengumpulkan variabel. Variabel-variabel yang saling berkorelasi tinggi dapat
dikatakan mewakili satu faktor.
Analisis faktor juga dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengidentifikasi variabel dasar atau faktor yang menerangkan pola hubungan
dalam suatu himpunan variabel amatan. Analisis faktor sering digunakan pada
reduksi data untuk mengidentifikasi sejumlah kecil faktor yang menerangkan
beberapa faktor yang mempunyai kemiripan karakter. Tujuan reduksi data adalah
untuk mengeliminasi variabel independen yang saling berkorelasi sehingga akan
diperoleh jumlah variabel yang lebih sedikit dan tidak berkorelasi. Variabel-
variabel yang saling berkorelasi mempunyai kesamaan/kemiripan karakter dengan
variabel lainnya sehingga dapat dijadikan satu faktor.

Tujuan utama dari analisis faktor adalah mendefinisikan struktur suatu


data matrik dan menganalisis struktur saling hubungan (korelasi) antar sejumlah
besar variabel dengan cara mendefinisikan satu set kesamaan variabel atau
dimensi atau faktor. Dengan analisis faktor akan diidentifikasi dimensi suatu
struktur dan kemudian menentukan sampai seberapa jauh setiap variabel dapat
dijelaskan oleh setiap dimensi. Jadi analisis faktor ingin menemukan suatu cara
meringkas informasi yang ada dalam variabel asli atau variabel awal menjadi satu
set dimensi baru.

a) Hal-hal yang harus dipenuhi untuk melakukan analisis faktor

10
(1)Variabel dependennya harus berupa data kuantitatif pada tingkat
pengukuran interval atau ratio karena data kategori tidak dapat dilakukan
analisis faktor, dan

(2) Data harus berdistribusi normal bivariat untuk tiap pasangan variabel dan
pengamatan harus saling bebas. Selain itu analisis faktor menghendaki
bahwa matrik data harus memiliki korelasi yang cukup agar dapat
dilakukan analisis faktor. Jika berdasarkan data visual tidak ada nilai
korelasi diatas 0,30 maka analisis faktor tidak dapat dilakukan. Cara lain
menentukan dapat tidaknya dilakukan analisis faktor adalah dengan
melihat matriks korelasi secara keseluruhan. Untuk menguji apakah
terdapat korelasi antar variabel digunakan uji Barlett test of sphericity. Jika
hasilnya signifikan berarti matriks korelasi memiliki korelasi signifikan
dengan sejumlah variabel. Uji lain yang dapat digunakan untuk melihat
interkorelasi antar variabel dan dapat tidaknya analisi faktor dilakukan
adalah Measure of Sampling Adequacy (MSA). Nilai MSA ini bervariasi
antara 0 sampai 1, jika nilai MSA < 0,50 maka analisis faktor tidak dapat
dilakukan.

Adapun terkait dengan ukuran sampel atau banyaknya responden adalah 5


sampai 10 kali jumlah item, misalnya dalam satu angket dimuat 15 butir, maka
banyaknya responden yang harus mengisi kuesioner antara 75 sampai 150 orang.

b) Langkah-langkah melakukan uji validitas konstruk dengan


menggunakan analisis faktor

Adapun langkah-langkah melakukan uji validitas konstruk dengan


menggunakan analisis faktor antara lain yakni:

(1) Memilih variabel yang akan dianalisis


Pemilihan variabel yang akan dianalisis berkaitan dengan variabel
mana yang akan dilibatkan untuk analisis.
(2) Ekstraksi awal seperangkat faktor
Ekstraksi awal merupakan metode dalam analisis faktor untuk
mereduksi data dari beberapa variabel menjadi beberapa faktor yang lebih
sedikit. Untuk melakukan ekstraksi awal ini ada beberapa pendekatan yang
dapat digunakan, namun yang paling sering digunakan adalah:
(a) Pendekatan eksploratori (exploratory factor analysis) atau EFA melalui
metode Principal Component Analysis atau analisis komponen utama,
merupakan suatu metode ekstraksi faktor yang digunakan untuk
membentuk kombinasi linier yang tidak berhubungan dari variabel
observasi. Urutan komponen menjelaskan bahwa semakin kecil porsi
varian dan tidak ada korelasi satu dengan lainnya.

11
(b) Pendekatan konfirmatori (confirmatory factor analysis) atau CFA
melalui metode analisis Maximum Likelihood (ML) atau metode
kemungkinan maksimum, merupakan metode ekstraksi faktor yang
menghasilkan estimasi parameter yang paling mungkin untuk
menghasilkan matriks korelasi observasi jika sampel berasal dari
distribusi normal multivariate.

(3) Ekstraksi akhir seperangkat faktor dengan rotasi

Rotasi merupakan metode yang digunakan dalam analisis faktor


untuk mereduksi data dari beberapa variabel menjadi beberapa faktor yang
lebih sedikit jika menggunakan metode ekstraksi masih belum dapat
diperoleh komponen faktor secara jelas. Beberapa metode pada ekstraksi
antara lain: varimax methode, quartimax methode dan equamax method.

(4) Menyusun skala untuk digunakan analisis lanjut.

c) Prosedur menggunakan program SPSS for windows untuk


melakukan analisis faktor

(1) Bukalah file yang akan dianalisis,

(2) Dari menu utama SPSS pilih Analyze, kemudian submenu Data Reduction,
lalu pilih Factor,

(3) Pada kotak Variabels isikan variabel yang akan dianalisis,

(4) Pilih Descriptives dan aktifkan semua pilihan yang ada khususnya KMO
and Barlett’s test of sphericity, kemudian pilih Continue,

(5) pilih Rotation dan aktifkan pilihan Varimax, lalu pilih Continue dan
abaikan pilihan lainnya, lalu tekan Continue, dan

(6) Tekan Ok.

Penggunaan Varimax dalam pilihan Rotation lebih disarankan


karena metode Varimax terbukti sangat berhasil sebagai pendekatan
analitik untuk mendapatkan rotasi orthogonal yakni rotasi dengan sudut 90
derajad pada suatu faktor.

c. Validasi Kriteria
Validitas berdasarkan kriteria merupakan cara uji validitas dikatakan
terpenuhi jika pengukuran tersebut mampu membedakan individu menurut suatu
kreteria yang diharapkan dapat diprediksi (Sekaran, 2006:43).Validitas kriteria
dibuktikan dengan melihat kebermanfaatan dari interpretasi skor hasil pengukuran
(usefulness).Validitas kriteria diketahui dengan mengestimasi korelasi skor tes

12
peserta dengan skor kriteria. Korelasi ini disebut dengan koefisien validitas, yang
menyatakan derajat hubungan antara prediktor dengan kriteria. Dilihat dari segi
waktu untuk memperoleh skor kriterianya, prosedur validasi berdasar kriteria
menghasilkan dua macam validitas:
1. Validitas Konkuren : Jika kriteria yang telah ada saat skor penilaian
diperoleh atau rentang waktu perolehan kedua data tidak terlalu lama.

2. Validitas Prediktif : Jika kriteria keberhasilan ditunggu beberapa lama,


misalnya kurun waktu tertentu.

Validitas kriteria dapat memprediksikan suatu skor kemampuan ke skor


kriteria dalam rangka memprediksikan kemampuan atau performen peserta tes.
Prediksi ini dilakukan melalui persamaan regresi.

Langkah-langkah validitas kriteria:

1. Menyiapkan kriteria yang mengukur konstruk yang bersesuaian.

2. Sampel diminta mengerjakan tes/instrumen yang akan dibuktikan


validitasnya juga tes yang menjadi kriteria.

3. Menghitung koefisien korelasi antara skor instrumen yang akan


dibuktikan validitasnya dengan instrumen kriteria dengan rumus:

Σ(X− X )(Y −Y )
¿
√ Σ ( X− X ) . Σ(Y −Y )²
2

Validitas dalam penelitian Kualitatif


Dalam penelitian kuantitatif, yang diuji validitas dan reliabilitas adalah
instrumen penelitiannya. Sedangkan dalam penelitian kualitatif yang diuji
validitas dan reliabilitas adalah data hasil penelitiannya. Peneltian kualitatif
menghadapi persoalan penting mengenai pengujian keabsahan data hasil
penelitian.

Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena


beberapa hal, yaitu antara lain (Bungin, 2007):

a. Subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian


kualitatif.

b. Alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi (apapun


bentuknya) mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara
terbuka apalagi tanpa kontrol (dalam observasi partisipasi)

13
c. Sumber data kualitatif yang kurang kredibel akan mempengaruhi hasil
akurasi penelitian.

Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek
penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh penelitia. Dengan kata lain,
data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan oleh
peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. Dalam
penelitian kualitatif, temuan atau data hasil penelitian dapat dikatakan valid jika
tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan oleh peneliti dengan apa yang
sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Kebenaran realitas data dalam
penelitian kualitatif tidaklah bersifat tunggal, tetapi jamak dan tergantung pada
kemampuan peneliti mengkonstruksi fenomena yang diamati.

Keabsahan data hasil penelitian kualitatif dinilai berdasarkan empat


kriteria, yaitu:

1. Uji Kredibilitas

Konsep validitas dalam penelitian kualitatif yang sering digunakan adalah


kredibilitas. Kredibilitas menjadi sesuatu hal yang penting ketika
mempertanyakan kualitas hasil suatu penelitian kualitatif. Suatu hasil penelitian
kualitatif dikatakan memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi terletak pada
keberhasilan studi tersebut mencapai tujuannya mengeksplorasi masalah atau
mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang
majemuk atau kompleks. Guba dan Lincoln (1989) menambahkan bahwa tingkat
kredibilitas yang tinggi juga dapat dicapai jika para partisipan yang terlibat dalam
penelitian tersebut mengenali benar tentang berbagai hal yang telah
diceritakannya. Hal ini merupakan kriteria utama untuk menilai tingkat
kredibilitas data yang dihasilkan dari suatu penelitian kualitatif.

Uji kredibilitas data hasil penelitian kualitatif dilakukan dengan cara (1)
perpanjangan pengamatan, (2) peningkatan ketekunan dalam penelitian, (3)
triangulasi, (4)diskusi dengan teman sejawat, (5) analisis kasus negatif, dan
(6)member check (Sugiyono, 2014: 368).

2. Pengujian Transferability

Transferability berhubungan dengan hingga mana hasil penelitian dapat


diterapkan atau digunakan dalam situasi lain. Nilai transfer bergantung pada
pemakai, hingga manakala hasil penelitian tersebut dapat digunakan dalam
konteks dan situasi sosial lain. Generalisasi hanya dapat dicapai bila obyek studi
dapat dilepaskan sepenuhnya dari pengaruh konteks penelitian, suatu hal yang
nyaris mustahil dilakukan dalam penelitian kualitatif. Tranferabilitas dalam
penelitian kualitatfi tidak dinilai sendiri oleh penelitinya melainkan oleh para
pembaca hasil penelitian tersebut. Jika pembaca memperoleh gambaran dan

14
pemahaman yang jelas tentang laporan penelitian (konteks dan foku penelitian),
hasil penelitian itu dapat dikatakan memiliki transferabilitas yang tinggi (Bungin,
2003). Oleh karena itu, peneliti perlu membuat laporan penelitian secara rinci,
jelas, sistematis, dan dipercaya, agar orang lain dapat memahami betul hasil
penelitian. Sehingga ada kemungkinan ia bisa menerapkan hasil penelitian
tersebut di tempat lain. jika pembaca laporan memperoleh gambaran yang sangat
jelas bagaimana suatu penelitian dapat diberlakukan (transferability) maka
laporan tersebut memenuhi standar transferabilitas.

3. Pengujian Dependability

Istilah reliabilitas dalam penelitian kualitatif dikenal dengan istilah


dependabilitas. Pertanyaan mendasar berkaitan dengan isu reliabilitas adalah
sejauh mana temuan penelitian kualitatif memperlihatkan konsistensi hasil temuan
ketika dilakukan oleh peneliti yang berbeda dengan waktu yang berbeda tetapi
dilakukan dengan metodologi dan interview script yang sama. Tingkat
dependabilitas yang tinggi pada penelitian kualitatif dapat diperoleh dengan
melakukan suatu analisis data yang terstruktur dan berupaya untuk
menginterpretasikan hasil penelitian dengan baik sehingga peneliti lain akan dapat
membuat kesimpulan yang sama dalam menggunakan perspekif, data mentah, dan
dokumen analisis penelitian yang sedang dilakukan (Sterubert & Carpenter,
2003).

Brink (1991) menyatakan ada tiga jenis uji atau tes yang dapat dilakukan
untuk menilai reliabilitas atau dependabilitas data penelitian kualitatif, yaitu:

a. Stabilitas Stabilitas dapat dinilai atau diuji ketika menanyakan berbagai


pertanyaan yang identik dari seorang partisipan pada waktu yang berbeda
menghasilkan jawaban yang sama.

b. Konsistensi Konsistensi dapat dinilai jika interview script yang digunakan


peneliti dapat menghasilkan suatu jawaban partisipan yang terintegrasi dan
sesuai dengan pertanyaan atau topik yang diberikan.

c. Ekuivalensi Ekuivalensi dapat diuji dengan penggunaan bentuk-bentuk


pertanyaan alternatif yang memiliki kesaman arti dalam satu wawancara
tunggal dapat menghasilkan data yang sama atau dengan menilai
kesepakatan hasil observasi dari dua orang peneliti.

Uji dependability dapat juga dilakukan dengan cara melakukan


pemeriksaan terhadap proses penelitian ke lapangan oleh pembimbing atau
pemeriksa. Bagaimana peneliti mulai menetukan maslaah, memasuki lapangan,
menentukan sumber data, melakukan analisis data, melakukan uji keabsahan data,
sampai membuat kesimpulan harus dapat ditunjukkan oleh penliti. Jika peneliti

15
tidak mempunyai dan tidak dapat menunjukkan”jejak aktivitas lapangannya”
maka dependabilitas penelitiannya patut diragukan.

4. Pengujian Konfirmability

Objektivitas atau konfirmabilitas dalam penelitian kualitatif lebih diartikan


sebagai konsep transparansi, yaitu kesediaan peneliti mengungkapkan secara
terbuka tentang proses dan elemen-elemen penelitiannya sehingga memungkinkan
pihak lain atau peneliti lain melakukan penelitian tentang hasil temuannya.
Streubert dan Carpenter (2003) menjelaskan bahwa konfirmabilitas merupakan
suatu proses pemeriksaan kriteria, yaitu cara atau langkah peneliti melakukan
konfirmasi hasil-hasil temuannya. Pada umumnya, cara yang banyak dilakukan
peneliti untuk mengkonfirmasi penelitiannya adalah dengan merefleksikan hasil-
hasil penelitiannya pada jurnal terkait, peer teaching, konsultasi dengan peneliti
ahli, atau melakukan konfirmasi data atau informasi dengan cara
mempresentasikan hasil penelitiannya pada suatu konferensi untuk memperoleh
berbagai masukan untuk kesempurnaan hasil penelitiannya.

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Jenis-jenis skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ada 4

16
(menurut Sekaran), yaitu: nominal, ordinal, interval, dan rasio.
Sedangkan untuk mengukur sikap dan perilaku ada 2 skala yaitu skala
peringkat dan skala rangking.
2. Cara validasi skala dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif berbeda.
Hal ini disebabkan karena dalam penelitian kuantitatif yang diuji
validitas dan reliabilitas adalah instrumen penelitiannya. Sedangkan
dalam penelitian kualitatif yang diuji validitas dan reliabilitas adalah
data hasil penelitiannya.

B. DAFTAR PUSTAKA
Ary,Donald; Cheser,LJ, Razawieh A, Sorensen, Cl. 2006. Introduction to
Researchin Education. International Student Edition. Seventh
Edition. Belmont: USA.

Brink, P. (1991). Issues of Reliability and Validity. In Morse, J (ed).


Qualitative nursing research: A Contemporary Dialogue, London:
Sage, pp. 164-186.
Bungin, B. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman
Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Cooper, Donald R & Schindler, Pamela S. 2006. Metode Riset Bisnis
Volume 2. Jakarta: PT Media Global Edukasi.
Hidayati, K. (2015) ‘Validasi Instrumen Non Tes dalam Penelitian
Pendidikan Matematika’, pp. 503–511.
Indriantoro, Nur & Supono, Bambang. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis
untuk Akuntansi & Manajemen. Yogyakarta: BPFE
Muhson, A. (2015) ‘Teknik Analisis Kuantitatif’.Yogyakarta : UNY Press
Muljono, P. (2002) ‘Instrumen penelitian’.Yogyakarta:UNY Press
Nurkancana, Wayan., PPN. Sunartana. Evaluasi Hasil Belajar, Surabaya:
Usaha Nasional, 1992.
Sappaile, B. I., Pendidikan, P. and Penelitian, P. (2007) ‘Konsep instrumen
penelitian pendidikan’, (66).
Sekaran. 2006. Research Method for Business; Metodologi Penelitian
untuk Bisnis Jilid 2. Jakarta: Salemba Empat.
Streubert, H.J. & Carpenter, D.R. (2003). Qualitative Research in
Nursing: Advancing the
Humanistic Imperative. 3th (eds). Philadelphia: Lippincott, PA.

Sugiyono. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta


. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

17
Yogiyanto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan
Pengalaman-Pengalaman. Yogyakarta: BPFE.

18