Anda di halaman 1dari 7

POTENSI EKSTRAK GRACILARIA SP.

SEBAGAI ANTIBAKTERI DAN


ANTIJAMUR
Nining Puji Astuti
Jurusan Biologi, Fakultas MIPA UNNES

Abstrak:
Gracilaria sp. merupakan salah satu jenis rumput laut yang melimpah di Indonesia.
Gracilaria sp. memiliki hasil metabolit sekunder yang memiliki potensi untuk dikembangkan
menjadi antimikroba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Gracilaria sp.
dalam menghambat pertumbuhan bakteri (antibakteri) dan jamur (antijamur). Pembuatan ekstrak
Gracilaria sp. dengan menggunakan metode maserasi sedangkan pengujian aktifitas antibakteri
dan antijamur dengan menggunakan metode difusi agar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Gracilaria sp. mampu menghambat
pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aerus serta mampu menghambat
pertumbuhan jamur Aspergillus flavus dan Penicillium sp. Semakin besar konsentrasi ekstrak maka
daya hambatnya semakin besar pula, yang ditunjukkan dengan semakin besarnya zona hambat
pertumbuhan bakteri dan jamur.

Kata Kunci: antimikroba, antibakteri, antijamur, Gracilaria sp.

Pedahuluan:
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Hal ini tentunya memberi banyak hal
yang menguntungkan Indonesia terutama dalam hal kekayaan sumber daya alam di laut. Salah satu
sumber daya alam yang melimpah di laut Indonesia adalah rumput laut.
Van Bosse (melalui ekspedisi Laut Siboga pada tahun 1899-1900), sebagaimana dikutip oleh
Suparmi dan Sahri (2009), melaporkan bahwa Indonesia memiliki kurang lebih 555 jenis dari 8.642
spesies rumput laut yang terdapat di dunia. Dengan kata lain, perairan Indonesia sebagai wilayah
tropis memiliki sumber daya plasma nutfah rumput laut sebesar 6,42% dari total biodiversitas
rumput laut dunia. Rumput laut dari kelas alga merah (Rhodophyceae) menempati urutan terbanyak
dari jumlah jenis yang tumbuh di perairan laut Indonesia yaitu sekitar 452 jenis, setelah itu alga
hijau (Chlorophyceae) sekitar 196 jenis dan alga coklat (Phaeophyceae) sekitar 134 (Winarno,
dalam Suparmi dan Sahri (2009)).
Salah satu jenis alga merah yang banyak dibudidayakan dan dimanfaatkan di Indonesia adalah
Gracilaria sp. yang umumnya tumbuh di perairan dangkal dengan iklim tropik dan subtropik.
Rumput laut jenis ini mengandung agar, yang biasa disebut agarofit sebagai hasil metabolit primer
yang banyak dimanfaatkan untuk industri makanan, kosmetik dan kesehatan. Selain hasil metabolit
primer, hasil metabolit sekunder dari rumput laut juga banyak diteliti. Hasil tersebut adalah
senyawa bioaktif yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi antimikroba seperti
antibakteri, antijamur, antivirus, dan lain-lain (Hutasoit, et.al., 2013).
Seperti yang kita tahu, kehidupan manusia tidak pernah lepas dari pengaruh mikroba seperti
bakteri, jamur, virus, dan lain-lain. Bakteri yang umum dijumpai di sekitar manusia adalah jenis
Escherichia coli dan Staphylococcus aereus. E. coli adalah bakteri yang banyak ditemukan di usus
besar manusia yang berperan sebagai flora normal. Akan tetapi E. coli juga dapat menyebabkan
infeksi primer pada usus misalnya diare. Sedangkan S. aereus adalah bakteri flora normal pada kulit
dan selaput lendir manusia. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit infeksi pada manusia dan
hewan.

1
Jenis jamur yang umum dijumpai di sekitar manusia antara lain adalah Aspergillus flavus dan
Penicillium sp. yang umumnya menyerang bahan makanan pasca panen dimana jamur tersebut
menghasilkan senyawa aflatoksin yang sangat beracun bagi manusia. Aflatoksin tidak dapat
dinetralisir melalui pemasakan sehingga upaya menghindari kontaminasi jamur jenis tersebut perlu
dilakukan.
Melihat adanya beberapa jenis bakteri dan jamur yang memiliki efek merugikan bagi manusia
serta prospek Gracilaria sp. yang memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antimikroba,
maka pengolahan Gracilaria sp. sebagai antibakteri dan antijamur perlu dibuktikan dan
dikembangkan.

Tujuan:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Gracilaria sp. dalam menghambat
pertumbuhan bakteri (Escherichia coli dan Staphylococcus aereus) dan jamur (Aspergillus flavus
dan Penicillium sp.).

Metode:
Metode yang digunakan untuk mengetahui potensi Gracilaria sp. sebagai antibakteri dan
antijamur didapat dari menganalisis sumber data primer yang didapat secara online dengan
menggunakan Google Scholar. Pencarian dengan menggunakan kata kunci “Gracilaria sp.”,
“manfaat”, “marine alga”, antibakteri”, dan “antijamur”. Dari pencarian online tersebut diperoleh
12 jurnal nasional, 5 skripsi, 1 tesis, 1 artikel seminar, 1 artikel internasional dan 1 artikel nasional.
Setelah diteliti ulang, sumber yang dipakai hanya yang terbitan 2011 keatas dengan pertimbangan
pembaharuan data. Dan lebih khusus lagi data yang digunakan dalam tulisan ini merujuk kepada 2
jurnal nasional terbitan tahun 2011 (untuk potensi antibakteri) dan 2013 (untuk potensi antijamur)
sebagai sumber utama.
1. Uji Potensi Antibakteri
Untuk pengujian potensi antibakteri dari ekstrak Gracilaria sp. ada beberapa tahapan yang
dilakukan yaitu:
Pertama, tahap pengambilan sampel, dimana sample sebanyak 5 kg diambil dari perairan
Kalianda, Lampung Selatan. Kedua, tahap pembuatan ekstrak Gracilaria sp. yang telah
dikeringkan kemudian diblender dan simplisia yang dihasilkan diambil 50 gram untuk
dimaserasi selama 2 hari di dalam erlenmeyer berisi 100 ml metanol 70%. Larutan yang
dihasilkan dipanaskan untuk memperoleh ekstrak kental. Ketiga, tahap pembuatan medium TSA
(Tryptone Soya Agar) dan medium TSB (Tryptone Soya Broth) dimana bubuk TSA dan TSB
sebanyak 10 gram dan 7,5 gram dimasukkan dalam erlenmeyer kemudian ditambahkan 250 ml
aquades dan dipanaskan serta dilanjut dengan dihomogenkan menggunakan magnetic stirer.
Setelah itu disterilkan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C dengan tekanan 15 lbs selama 15
menit.
Keempat, tahap peremajaan bakteri dimana biakan bakteri E. coli dan S. aureus sebanyak
satu ose diinokulasikan ke dalam medium agar miring TSA secara terpisah dan aseptis. Bakteri
E. coli dan S. aureus sebanyak dua ose diinokulasikan kedalam medium TSB yang terpisah.
Selanjutnya masing-masing diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Peremajaan dilakukan
setiap minggu. Kelima, tahap pengujian aktivitas antibakteri ekstrak dimana pengujian dilakukan
dengan cara difusi agar. Cara kerja metode difusi agar adalah bakteri uji yang telah diremajakan
diinokulasikan kedalam TSA sebanyak 200 μl lalu diratakan. Ke dalam medium yang berisi

2
bakteri lalu dimasukkan kertas cakram 6 mm dan ditetesi dengan larutan ekstrak dengan
konsentrasi 100% sebanyak 20 μl (5 μg). Setelah itu di simpan selama 24 jam pada suhu 37 oC di
ukur diameter hambatan yang terbentuk menggunakan penggaris.
Setelah diketahui bahwa ekstrak memiliki aktivitas antibakteri selanjutnya dilakukan
penetapan konsentrasi hambat minimum dari ekstrak tersebut dengan metode agar padat. Sampel
ekstrak dibuat dengan berbagai konsentrasi mulai dari yang besar hingga yang kecil yaitu, 10%,
5%, 1%, dan 0,05%. Pelarut yang digunakan adalah aquades. Selanjutnya di uji aktivitas anti
bakterinya. Diameter zona hambat yang terbentuk karena adanya daya antibakteri dari hasil
ekstraksi yang diukur dari sisi sebelah kiri sampai sisi sebelah kanan dengan menggunakan
penggaris.

2. Uji Potensi Antijamur


Untuk pengujian potensi antijamur dari ekstrak Gracilaria sp. ada beberapa tahapan yang
dilakukan yaitu:
Pertama, menyiapkan media PDA (Potato Dextrose Agar) dengan komposisi 250 g
kentang, 17 g Agar, 25 g gula, dan 1 liter air. Semua bahan dicampur kemudian disterilkan
dengan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Setelah suhu media 40°C, ditambahkan
streptomycin 100 mg untuk menekan pertumbuhan bakteri. Media PDA sebanyak 20 ml
dimasukkan ke Petridish. Kedua, persiapan inokulum jamur patogen yang diperoleh dari biji
jagung yang ditumbuhi jamur. Biji jagung dengan gejala serangan A. flavus dan Penicillium sp.
disterilkan dengan merendam dalam alkohol 70% selama 1 menit. Setelah dibilas dengan
aquades steril, biji tersebut ditanam pada media PDA di dalam petridish. Jamur uji yang
diperoleh disubkultur untuk mendapatkan biakan murni. Ketiga, menyiapkan sampel Gracilaria
sp. yang diperoleh dari pantai Geger dan pantai Sawangan Nusa Dua sebanyak 2 kg berat basah.
Gracilaria sp. yang diperoleh dicuci, dikeringkan tanpa terkena sinar matahari kemudian
dipotong-potong lalu dimasukkan ke dalam gelas kaca sebanyak 500 g ditambahkan dengan
pelarut 1000 ml metanol selama 48 jam dengan pengocokan 5 rpm (shaker). Hasil rendaman
yang telah disaring dievaporasi dengan alat evaporator pada suhu 49- 500C sampai semua pelarut
menguap. Ekstrak pekat yang diperoleh dikumpulkan dan siap diuji.
Uji pembentukan zona hambat dilakukan terhadap ekstrak kasar dengan metode difusi
sumur (Berghe & Vlientinck, dalam Hutasoit et.al.(2013)). Uji ini dilakukan dengan menentukan
daya hambat ekstrak dengan melihat terbentuknya zona bening disekitar sumur ekstrak.
Sebanyak 2 ml suspensi spora jamur uji konsentrasi 2x105 konidia/ml dimasukkan ke dalam
cawan petri kemudian dituangi PDA 20 ml yang masih cair. Biakan tersebut digoyang sampai
konidia bercampur rata ke seluruh media. Setelah beku dibuat lubang dengan cork borer Ø 5 mm
dan selanjutnya lubang sumur diisi 40 µl ekstrak dengan konsentrasi 0, 0,5, 1,0, 2,0, dan 4%.
Biakan diinkubasi selama 3x24 jam dan diameter zona bening yang terbentuk diukur. Kategori
hambatan ditentukan mengikuti kategori Davis Stout (Ardiansyah, dalam Hutasoit et.al.(2013)).
Tabel 1. Ketentuan Daya Hambat Ekstrak Biota Laut Menurut Kategori Davis Stout
(Ardiansyah, dalam Hutasoit et.al.(2013)).
Zona hambat Daya hambat
≤5 mm Lemah
6 – 10 mm Sedang
11 – 20 mm Kuat
>20 mm Sangat kuat

3
Uji hambatan terhadap pembentukan koloni jamur dengan cara Media PDA 20 ml yang
masih cair dituangkan ke dalam cawan petri yang telah berisi ekstrak dengan konsentrasi 0, 0,5,
1,0, 2,0 dan 4%. Cawan petri digoyang sampai media dan estrak tercampur merata dan dibiarkan
sehingga memadat. Setelah beku dibuat lubang Ø 5 mm dan selanjutnya lubang tersebut diisi
koloni jamur A. flavus dan Penicillium sp. yang telah dibiakkan sebelumnya. Pengamatan
dilakukan terhadap diameter koloni jamur. Daya hambat ekstrak dihitung dengan rumus berikut:
Daya Hambat Ekstrak
Diameter koloni kontrol − diameter koloni perlakuan
= 𝑋 100%
Diameter koloni kontrol

Hasil dan Pembahasan:


1. Uji Potensi Antibakteri

Berdasarkan gambar dan tabel hasil pengujian menunjukkan bahwa pada konsentrasi 100%
ekstrak Gracilaria sp. memiiki zona hambat paling besar terhadap bakteri E. coli dibandingkan
dengan bakteri S. aereus. Konsentrasi 100% adalah konsentrasi maksium sehingga zona hambat
yang dihasilkan juga maksimum. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Suwanto yang dikutip oleh
Melki, et.al. (2011).
Berdasarkan hasil pengujian ini dikatakan bahwa ekstrak Gracilaria sp. memiliki daya
hambat yang kuat terhadap aktivitas bakteri E. coli dan S. aereus sesuai dengan kategori yang
disampaikan oleh Davis dan Stout yang dikutip oleh Melki, et.al. (2011).

4
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa ekstrak Gracilaria sp. konsentrasi 0,05% sampai 10%
memiliki daya hambat yang lebih tinggi terhadap E. coli dibandingkan dengan S. aereus. Perbedaan
ini disebabkan karena kemampuan setiap bakteri dalam melawan aktivitas antibakteri berbeda-beda
tegantung pada ketebalan dan komposisi dinding selnya. Dinding sel bakteri gram negatif lebih tipis
dibandingkan bakteri gram positif. Struktur bakteri gram negatif memiliki membran lapisan luar
yang menyelimuti lapisan tipis peptidoglikan, struktur luar peptidoglikan ini adalah lapisan ganda
yang mengandung fosfolifid, protein dan lipopolisakarida. Lipopolisakarida terletak pada lapisan
luar dan merupakan karakteristik bakteri gram negatif . Sementara sel bakteri gram positif memiliki
dinding sel yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dimana di dalamnya mengandung
senyawa teikoat dan lipoteikoat (Pelczar, dalam Milki et.al. (2011).

2. Uji Potensi Antijamur

5
Tabel dan gambar diatas menujukkan bahwa ekstrak Gracilaria sp memiliki potensi untuk
dijadikan antijamur bagi jamur A. flavus dan Penicillium sp. Ekstrak Gracilaria sp. memiliki
aktivitas daya hambat yang lebih kuat terhadap jamur A. flavus dibandingkan terhadap jamur
Penicillium sp. Begitu pula aktivitas daya hambat ekstrak Gracilaria sp. terhadap pertumbuhan
koloni jamur A. flavus lebih kuat dibandingkan terhadap pertumbuhan koloni jamur Penicillium sp.
Dan semakin tinggi konsentrasi ekstrak Gracilaria sp. maka diameter zona bening (zona hambat)
terhadap pertumbuhan jamur semakin besar karena ekstrak yang berdifusi kedalam sel jamur
semakin meningkat yang selanjutnya menyebabkan makin terganggunya pertumbuhan jamur
bahkan menyebabkan kematian jamur.
Keefektivan penghambatan merupakan salah satu kriteria pemilihan suatu senyawa
antimikroba untuk pestisida nabati. Kerusakan yang ditimbulkan komponen antimikroba dapat
bersifat fungisidal (membunuh jamur) dan fungistatik (mengentikan sementara pertumbuhan
jamur). Sifat tersebut tergantung pada sifat senyawa aktif, konsentrasi, dan media yang digunakan.
Mekanisme penghambat mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain (1) gangguan pada senyawa penyusun dinding sel, (2) peningkatan
permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, (3)
mengiknaktivasi enzim, dan (4) destruksi atau kerusakan fungsi material genetik.

Kesimpulan:
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ektrak Gracilaria sp. efektif dalam
menghambat pertumbuhan bakteri (Escherichia coli dan Staphylococcus aereus) dan jamur
(Aspergillus flavus dan Penicillium sp.).

Daftar Pustaka
Alamsjah, M.A., Rani F.C., dan Sri S. 2011. Pengaruh Fermentasi Limbah Rumput Laut Gracilaria
sp. Dengan Bacillus subtilis Terhadap Populasi plankton Chlorophyceae. Jurnal Ilmiah
Perikanan dan Kelautan. Vol 3(2): 203-213.
Cholik, Rafsan Syabani. 2015. Optimalisasi Penggunaan Rumput Laut (Gracilaria sp.) Pada Mie
Basah Sbagai Pangan Fungsional Tinggi Serat dan Sumber Iodium. Skripsi. Fakultas Ekologi
Manusia Institut Pertanian Bogor.
Dewi, Aster P., Mardiana, dan Irwan Budiono. 2014. Pemanfaatan Rumput Laut Untuk
Meningkatkan Kandungan Iodium Pada Makanan Tambahan Balita. Unnes Journal of Public
Health. Vol 3(4): 65-73.
Fajarningsih N.D., Dhia Fauziah Y., Idha Yunita, Anisa F., Danar p., Prih S., dan Ekowati C. 2015.
Penapisan Senyawa Hemagglutinin Dari Makroalga Asal Pantai Binuangeun Banten
Indonesia. JPB Kelautan dan Perikanan. Vol 10(1): 19-26.
Hutasoit, S., I Ketut S., dan I Gede K.S. 2013. Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Berbagai Jenis Biota
Laut terhadap Aspergillus flavus LINK dan Penicillium LINK. E-jurnal Argoekoteknologi
Tropika. Vol 2(1): 27-38.
Jamilah, Luthfa. 2013. Pemanfaatan Rumput Laut Gracilaria verrucosa Sebagai Produk Bakto Agar
Dan Aplikasinya Dalam Media Pertumbuhan Mikroorganisme. Skripsi. Fakultas Teknologi
Pertanian Institut Pertanian Bogor.

6
Ma’ruf W.F., Ratna I., Eko Nurcahya D., Eko S., dan Ulfah Amalia. 2013. Profil Rumput Laut
Caulerpa racemosa Dan Gracilaria verrucosa Sebagai Edible Food. Jurnal Saintek Perikanan.
Vol 9(1): 68-74.
Melki, Wike Ayu E.P., dan Kurniati. 2011. Uji Antibakteri Ekstrak Gracilaria sp (Rumput Laut)
terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aereus. Program Studi Ilmu Kelautan
FMIPA Univerisitas Sriwijaya.
Michael dan Rr. Sulistiyaningsih. 2017. Potensi Biota Laut Indonesia Sebagai Antimikroba: Review
Potential Of Indonesia’s Marine Life As An Antimicrobial. Farmaka. Vol 4(3): 1-15.
Nasmia, Syahrir N., dan Eka Rosyida. 2016. Potensi Aktivitas Dari Ekstrak Rumput Laut
Sargassum cinereum Terhadap Bakteri Patoden Ice Ice Pada Gracilaria verrucosa.
Disampaikan pada Seminar Nasional Unmas Denpasar.
Suparmi dan Achmad Sahri. 2009. Mengenal Potensi Rumput Laut: Kajian Pemanfaatan Sumber
Daya Rumput Laut Dari Aspek Industri Dan Kesehatan. Sultan Agung. Vol XLIV(118): 95-
116.
Toy T.S.S., Benedictus S.L., dan Bernat S.P.H. 2015. Uji Daya Hambat Ekstrak Rumput Laut
Gracilaria sp Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphlyococcus aereus. Jurnal e-GiGi, Vol 3(1):
153-159.
Yuniarti, Anita. 2011. Kadar Zat Besi, Serat, Gula Total, Dan Daya Terima Permen Jelly Dengan
Penambahan Rumput Laut Gracillaria sp dan Sargassum sp. Skripsi. Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro Semarang.