Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kasus kecelakaan lalu lintas merupakan keadaan serius yang menjadi masalah
kesehatan di negara maju maupun berkembang. Di negara berkembang seperti
Indonesia, perkembangan ekonomi dan industri memberikan dampak kecelakaan
lalu lintas yang cenderung semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara pertambahan jumlah kendaraan (14-15% per tahun)
dengan pertambahan prasarana jalan hanya sebesar 4% per tahun. Lebih dari 80%
pasien yang masuk ke ruang gawat darurat adalah disebabkan oleh kecelakaan
lalu lintas, berupa tabrakan sepeda motor, mobil, sepeda, dan penyeberang jalan
yang ditabrak. Sisanya merupakan kecelakaan yang disebabkan oleh jatuh dari
ketinggian, tertimpa benda, olah raga, dan korban kekerasan.1,2
Kecelakaan merupakan serangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian yang
tidak terduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada benda, luka
atau kematian.1 Lebih dari 1,2 juta orang meninggal setiap tahun akibat
kecelakaan di dunia, cedera akibat kecelakaan menjadi penyebab utama kematian
secara global. Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang mempengaruhi semua sektor kehidupan, negara-negara dengan
tingkat pengahasilan rendah dan menengah kehilangan sekitar 3% dari APBN
akibat kecelakaan lalu lintas.3
Ilmu kedokteran kehakiman dan medikolegal (kedokteran forensik)
memanfaatkan ilmu kedokteran untuk membantu penegak hukum dalam
menangani kasus hukum. Hukum dan fungsinya mengatur seluruh aspek
kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas,
haruslah dipisahkan antara pelanggaran dan kejahatan. Karena untuk melakukan
penuntutan didepan hukum maka kejadian yang terjadi haruslah merupakan

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 1


kejahatan, sementara pada kecelakaan lalu lintas kejahatan yang terjadi
merupakan kejahatan yang tidak disengaja atau dikarenakan oleh tindakan
kelalaian atau kealpaan.3
Berikut akan dilaporkan sebuah kasus seorang korban kecelakaan lalu lintas
yang mengalami luka-luka pada tubuhnya yang telah dilakukan pemeriksaan di
IGD RS Kemala Hikmah Bhayangkara.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui aspek medikolegal pada kasus kecelakaan lalu lintas yang
berkaitan dengan konsumsi alkohol.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi kecelakaan lalu lintas dilihat dari aspek hukum.
2. Mengetahui dasar hukum yang mengatur tentang kecelakaan lalu lintas.
3. Mengetahui dasar hukum yang mengatur kecelakaan lalu lintas akibat
konsumsi alkohol.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 2


BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Korban


 Nama : Tn. Taufik
 Jenis kelamin : Laki-Laki
 Usia : 34 tahun
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Swasta
 Alamat : Bintaro, Ampenan
 Status : Lajang
 No RM : 078331

2.2 Uraian Singkat Kejadian


Pasien datang ke IGD RS Kemala Hikmah Bhayangkara pada tanggal 14
Desember 2017 jam 02.00 WITA dengan keluhan luka-luka di tubuhnya setelah
ditemukan tidak sadar di jalan oleh pengantar pasien. Pengantar mengaku pasien
tidak sadar setelah bertabrakan dengan taksi. Pengantar pasien mengaku pasien
mengalami luka-luka akibat terjatuh dari sepeda motor yang dikendarai bersama
temanya akibat rem yang blong sekitar pukul 01.30 WITA. Saat datang ke IGD,
dari mulut dan badan pasien tercium bau alkohol yang menyengat.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 3


2.3 Dokumentasi

Gambar 1: Dua buah luka terbuka pada alis kanan

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 4


Gambar 2, 3 dan 4. Pengukuran dua buah luka terbuka pada alis kanan

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 5


Gambar 5. Luka berbentuk bulat pada bahu kanan

Gambar 6. Dua
buah luka bentuk
tidak teratur pada
dinding lateral
kanan thoraks dan
abdomen

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 6


Pemeriksaan
 GCS E3V4M6
 Tanda vital: Tekanan darah 120/80, denyut nadi 100 kali/menit, frekuensi
napas 20 kali/menit, suhu 36.5 °C
 Status lokalis
o Terdapat sebuah luka terbuka yang berada di alis kanan dengan
ukuran panjang tiga sentimeter dan lebar nol koma tiga sentimeter.
Kedalaman luka kurang lebih nol koma dua sentimeter. Ujung pertama
luka berada tiga sentimeter dari pangkal hidung dan satu sentimeter
dari alis. Ujung kedua luka berada enam sentimeter dari pangkal
hidung dan satu sentimeter dari alis. Batas luka terlihat jelas, tebing
luka tidak rata, warna dasar luka merah, terdapat jembatan jaringan.
Tebing luka terdiri dari kulit, serta jaringan bawah kulit. Tidak
ditemukan luka lebam atau memar di sekitar luka.
o Terdapat sebuah luka terbuka yang berada dua sentimeter dari alis
kanan dengan ukuran panjang dua sentimeter dan lebar nol koma
delapan sentimeter. Kedalaman luka kurang lebih nol koma dua
sentimeter. Ujung pertama luka berada tujuh sentimeter dari pangkal
hidung dan satu sentimeter dari atas alis kanan. Ujung kedua luka
berada delapan sentimeter dari telinga kanan dan satu sentimeter dari
alis. Batas luka terlihat jelas, tebing luka tidak rata, warna dasar luka
merah, tidak terdapat jembatan jaringan.Tebing luka terdiri dari kulit,
serta jaringan bawah kulit. Tidak ditemukan luka lebam atau memar di
sekitar luka.
o Terdapat sebuah luka dengan bentuk bundar berada di bahu kanan,
pusat luka terletak dua belas sentimeter diatas lipat siku dan tujuh
sentimeter dibawah puncak bahu. Luka berukuran tiga belas sentimeter
kali tujuh sentimeter untuk ukuran terbesar nya. Garis batas luka tegas.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 7


Permukaan kulit di dalam garis batas luka terlihat lebih tinggi
dibandingkan dengan tepi kulit di sekitarnya dan berwarna kebiruan.
Kulit ari pada luka masih utuh.
o Terdapat dua buah luka tidak teratur memanjang dari pinggir dada
sebelah kanan dan dinding pinggir perut sebelah kanan. Luka pertama
memiliki batas teratas sejauh lima sentimeter di bawah garis mendatar
yang melewati puting susu dan delapan sentimeter sebelah kanan garis
tengah tubuh. Batas terbawah luka adalah lima belas sentimeter dari
garis tengah yang melewati pusat. Batas ter kanan luka adalah
sembilan sentimeter diatas garis tubuh yang melewati pusat dan dua
pulus sentimeter ke kanan dari garis tengah tubuh. Batas terkiri luka
adalah sepuluh sentimeter di atas garis tubuh yang melewati pusat dan
sebelas sentimeter ke kanan dari garis tengah tubuh. Luka berukuran
panjang sepuluh sentimeter dan lebar delapan sentimeter. Luka
memiliki kedalaman yang berbeda dengan kisaran 1-2 milimeter.
Sifat-sifat luka adalah garis batas luka tidak teratur pada tepi luka
bagian atas berwarna kehitaman, sedangkan tepi luka bagian bawah
berwarna merah-kebiruan. Tidak terlihat tebing luka yang jelas. Dasar
luka tidak rata terdiri dari kulit ari yang sebagian mengelupas. Di
sekitar luka bagian atas terlihat kulit yang berwarna kebiruan.
o Luka kedua memiliki batas teratas sejauh tiga sentimeter di atas garis
mendatar yang melewati pusat dan tujuh sentimeter ke kanan dari garis
tengah tubuh. Batas terbawah luka adalah delapan sentimeter di bawah
garis mendatar yang melewati pusat dan tujuh belas sentimeter sebelah
kanan garis tengah tubuh. Batas terkanan luka adalah sejajar dengan
pusat dan dua puluh dua sentimeter ke kanan dari garis tengah tubuh.
Batas terkiri luka adalah 4 sentimeter diatas garis mendatar yang
melewati pusat dan sepuluh sentimeter ke kanan dari garis tengah
tubuh. Luka berukuran panjang dua belas sentimeter dan lebar

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 8


sembilan sentimeter. Luka memiliki kedalaman yang berbeda dengan
kisaran 1-2 milimeter. Sifat-sifat luka adalah garis batas luka tidak
teratur pada tepi luka bagian atas berwarna kehitaman, sedangkan tepi
luka bagian bawah berwarna merah-kebiruan. Tidak terlihat tebing
luka yang jelas. Dasar luka tidak rata terdiri dari kulit ari yang
sebagian mengelupas. Di sekitar luka bagian atas terlihat kulit yang
berwarna kebiruan.

2.5 Tatalaksana
a. Tindakan diagnostik
 Pemeriksaan fisik
b. Tindakan terapeutik
 Rawat luka : Larutan NaCl 0,9% dan Povidon iodine
 Hecting luka
 Asam mefenamat 3 x 500 mg selama 5 hari

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 9


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Kecelakaan Lalu Lintas


Menurut Pasal 1 ayat 24 dalam UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan, Kecelakaan Lalu Lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang
tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna
jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.3
Menurut pasal 229 ayat 1 dalam UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan, kecelakaan lalu lintas digolongkan menjadi 3 golongan:
a. Kecelakaan Lalu Lintas ringan;
b. Kecelakaan Lalu Lintas sedang; atau
c. Kecelakaan Lalu Lintas berat.
Kecelakaan lalu lintas ringan merupakan kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan
Kendaraan dan/atau barang. Kecelakaan lalu lintas sedang merupakan kecelakaan
yang mengakibatkan luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang.
Kecelakaan lalu lintas berat merupakan kecelakaan yang mengakibatkan korban
meninggal dunia atau luka berat.3
Dalam penjelasan UU No. 22 tahun 2009, dijelaskan bahwa istilah "luka
ringan" adalah luka yang mengakibatkan korban menderita sakit yang tidak
memerlukan perawatan inap di rumah sakit atau selain yang di klasifikasikan dalam
luka berat. Istilah “luka berat” didefinisikan sebagai luka yang mengakibatkan
korban3:
a. jatuh sakit dan tidak ada harapan sembuh sama sekali atau menimbulkan bahaya
maut;
b. tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan;
c. kehilangan salah satu pancaindra;
d. menderita cacat berat atau lumpuh;
e. terganggu daya pikir selama 4 (empat) minggu lebih;

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 10


f. gugur atau matinya kandungan seorang perempuan; atau
g. luka yang membutuhkan perawatan di rumah sakit lebih dari 30 (tiga puluh) hari

3.2 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas


Lebih dari 1,2 juta orang meninggal setiap tahun di jalan raya di seluruh
dunia, dengan jutaan lainnya menderita luka serius. Dari tahun ke tahun, angka
kejadian kecelakaan lalu lintas terus meningkat (Gambar 7). Tetapi angka kejadian
lalu lintas sempat mendatar pada tahun 2007. Grafik yang mendatar ini harus dilihat
dari latar belakang pertumbuhan populasi global dan motorisasi. Peningkatan
populasi sebesar 4% antara tahun 2010 dan 2013 dan peningkatan 16% kendaraan
terdaftar pada periode yang sama menunjukkan bahwa upaya untuk memperlambat
peningkatan kematian akibat lalu lintas dapat mencegah kematian yang seharusnya
terjadi. 2
Secara global, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama kematian di
kalangan anak muda, dan penyebab utama kematian di antara mereka yang berusia
15-29 tahun. Adapun penyebab kematian terbanyak kedua dan ketiga adalah masing-
masing bunuh diri dan HIV/AIDS (Gambar 8).2

Gambar 7: Angka Kejadian Lalu


Lintas Dunia yang Menunjukkan
Semakin Meningkat

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 11


Gambar 8: 10 Penyebab Kematian Terbanyak pada Orang yang berumur 15-29
tahun.

Di Indonesia, jumlah kematian pada kecelakaan lalu lintas sebanyak 6 dari


100.000 populasi pada tahun 2000. Pada tahun 2009, angka kematian meningkat
menjadi 8,5 per 100.000 populasi (Gambar 9). Pengendara kendaraan roda dua atau
roda tiga memiliki angka kematian paling tinggi, sedangkan angka kematian
terbanyak kedua dan ketiga adalah penumpang bus, dan pejalan kaki, masing-masing
(Gambar 10).2

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 12


Gambar 9. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas per Tahun di Indonesia

Gambar 10. Angka Kematian berdasarkan Kategori Pengguna Jalan

3.3 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas


Berdasarkan Marsaid, M. Hidayat, dan Arsan, terdapat 3 faktor yang
mempengaruhi kecelakaan lalu lintas, yaitu faktor dari manusia, faktor dari
kendaraan, dan faktor dari lingkungan fisik. Lebih lengkapnya dijelaskan di bawah
ini:4
1. Faktor dari manusia:
 Lengah

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 13


 Mengantuk,
 Mabuk
 Lelah
 Tidak Terampil
 Tidak Tertib
 Kecepatan tinggi
2. Faktor dari kendaraan:
 Rem tidak berfungsi
 Ban pecah
 Selip
 Lampu kendaraan tidak nyala
3. Faktor dari lingkungan fisik:
 Kondisi jalanan yang jelek seperti jalanan yang rusak, licin, dan berlubang
 Jalan menikung
 Lampu jalan
 Hujan
3.4 Trauma pada Kecelakaan Lalu Lintas
Pada korban kecelakaan lalu lintas, biasanya ditemukan trauma/tanda
kekerasan yang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok: 5
a. Trauma akibat persentuhan pertama oleh kendaraan (first impact)
Trauma ditimbulkan oleh persentuhan bagian kendaraan dengan tubuh. Bagian
kendaraan yang sering menyebabkan trauma ini biasanya bumper, kaca spion,
pegangan pintu dan spakbor. Trauma biasanya berupa luka lecet jenis tekan.
b. Trauma akibat terjatuh
Pada tubuh korban dapat ditemukan trauma lain yang terjadi akibat terjatuhnya
korban setelah persentuhan pertama dengan kendaraan. Trauma biasanya merupakan
luka lecet jenis geser dan atau luka robek.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 14


c. Trauma akibat terlindas (rollover)
Trauma akibat lindasan ban kendaraan memberikan gambaran cermat terhadap jejas
ban, seringkali dapat membantu pihak yang berwajib untuk mengidentifikasi jenis
kendaraan yang menyebabkan kecelakaan. Deskripsi ban baik mengenai coraknya
maupun ukurannya dengan sketsa atau foto.

3.5 Aspek Hukum Kecelakaan Lalu Lintas


Kewajiban dan tanggung jawab pengemudi, pemilik kendaraan bermotor,
perusahaan angkutan, dan pemerintah serta hak korban sebagaimana tercantum dalam
UU. No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di pasal-pasal berikut
ini:
 Kewajiban dan Tanggung Jawab Pengemudi, Pemilik Kendaraan Bermotor,
dan/atau Perusahaan Angkutan. 3
Pasal 234
 Ayat (1) Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/atau
Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang
diderita oleh Penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga
karena kelalaian Pengemudi.
 Ayat (2) Setiap Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/atau
Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerusakan jalan
dan/atau perlengkapan jalan karena kelalaian atau kesalahan
Pengemudi.
 Ayat (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
tidak berlaku jika: a. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat
dielakkan atau di luar kemampuan Pengemudi; b. disebabkan oleh
perilaku korban sendiri atau pihak ketiga; dan/atau c. disebabkan
gerakan orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan
pencegahan.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 15


Pasal 235
 Ayat (1) Jika korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu Lintas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (1) huruf c, Pengemudi,
pemilik, dan/atau Perusahaan Angkutan Umum wajib memberikan
bantuan kepada ahli waris korban berupa biaya pengobatan dan/atau
biaya pemakaman dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana.
 Ayat (2) Jika terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban
akibat Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229
ayat (1) huruf b dan huruf c, pengemudi, pemilik, dan/atau Perusahaan
Angkutan Umum wajib memberikan bantuan kepada korban berupa
biaya pengobatan dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana.
Pasal 236
 Ayat (1) Pihak yang menyebabkan terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 wajib mengganti kerugian yang
besarannya ditentukan berdasarkan putusan pengadilan.
 Ayat (2) Kewajiban mengganti kerugian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) pada Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 229 ayat (2) dapat dilakukan di luar pengadilan jika terjadi
kesepakatan damai di antara para pihak yang terlibat.
Pasal 237
 Ayat (1) Perusahaan Angkutan Umum wajib mengikuti program
asuransi kecelakaan sebagai wujud tanggung jawabnya atas jaminan
asuransi bagi korban kecelakaan.
 Ayat (2) Perusahaan Angkutan Umum wajib mengasuransikan orang
yang dipekerjakan sebagai awak kendaraan.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 16


 Kewajiban dan Tanggung Jawab Pemerintah 3
Pasal 238
 Ayat (1) Pemerintah menyediakan dan/atau memperbaiki pengaturan,
sarana, dan Prasarana Lalu Lintas yang menjadi penyebab kecelakaan.
 Ayat (2) Pemerintah menyediakan alokasi dana untuk pencegahan dan
penanganan Kecelakaan Lalu Lintas.
Pasal 239
 Ayat (1) Pemerintah mengembangkan program asuransi Kecelakaan
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
 Ayat (2) Pemerintah membentuk perusahaan asuransi Kecelakaan Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
 Hak Korban
Pasal 240 Korban Kecelakaan Lalu Lintas berhak mendapatkan:
 Pertolongan dan perawatan dari pihak yang bertanggung jawab atas
terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas dan/atau Pemerintah;
 Ganti kerugian dari pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya
Kecelakaan Lalu Lintas; dan
 Santunan Kecelakaan Lalu Lintas dari perusahaan asuransi.
Pasal 241 “Setiap korban Kecelakaan Lalu Lintas berhak memperoleh
pengutamaan pertolongan pertama dan perawatan pada rumah sakit terdekat
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.
3.6 Pembahasan Kasus
Menurut Pasal 229 ayat (4) UU No. 22 Tahun 2009 kecelakaan lalu lintas
adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan
kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban
manusia dan/atau kerugian harta benda. Pada peristiwa ini, kecelakaan lalu lintas
terjadi tanpa melibatkan pengguna jalan lain atau tunggal sehingga pasien tidak dapat

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 17


dikenakan hukum pidana. Untuk kualifikasi lukanya menurut UU No. 22 tahun 2009
luka yang diderita oleh pasien termasuk luka ringan karena pasien tidak memerlukan
rawat inap.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 18


BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dari pemeriksaan pasien, maka saya
simpulkan bahwa telah diperiksa seorang pasien laki-laki berusia tiga puluh empat
tahun dengan tinggi badan seratus enam puluh sentimeter dan berat badan lima puluh
lima kilogram. Pada orang tersebut ditemukan dua buah luka terbuka pada alis kanan,
satu buah luka memar pada bahu kanan, dua buah luka lecet pada dada dan perut
kanan. Luka-luka tersebut dapat disebabkan oleh persentuhan dengan benda tumpul.
Selama proses penyembuhan luka, korban tidak membutuhkan rawat inap dan tidak
mengganggu aktivitasnya sehari-hari sebagai seorang pekerja swasta.
4.2 Saran
Seorang dokter diharapkan dapat mengetahui dan memahami segala aspek yang
terkait dengan masalah kecelakaan lalu lintas dan dari aspek medikolegalnya oleh
karena angka kecelakaan lalu lintas yang semakin meningkat dari tahun ketahun,.
Seorang dokter harus teliti dalam memeriksa luka-luka yang terdapat dalam tubuh
pasien karena dari sebuah luka tersebut akan membantu penyidik mengungkap kasus
tersebut baik jenis perlukaan yang dialami korban maupun bentuk benda
penyebabnya yang digunakan oleh pelaku.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 19


DAFTAR PUSTAKA
1. Putri CE.Analisis Karakteristik Kecelakaan dan Faktor Penyebab Kecelakaan dan
Faktor Kecelakaan pada Lokasi Blackspot di Kota Kayu Agung. Jurnal
Teknik Sipil dan Lingkungan. 2014;2(1):154-161
2. WHO. Global status report on road safety 2015. 2015.
3. Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009
Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 2009
4. Marsaid, M. Hidayat, Ahsan. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Kecelakaan Lalu Lintas pada Pengendara Sepeda Motor di Wilayah Polres
Kabupaten Malang. Jurnal Ilmu Keperawatan. 2013;1(2):98-112
5. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik
Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Forensic Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia 1997: 37-44.

FORENSIK 2017 |Aspek Medikolegal pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas 20