Anda di halaman 1dari 8

A.

Pengertian Hukum
Ketiadaan definisi hukum yang dapat diterima oleh seluruh pakar dan ahli hukum pada
gilirannya memutasi adanya permasalahan mengenai ketidaksepahaman dalam
definisi hukum menjadi mungkinkah hukum didefinisikan atau mungkinkah kita
membuat definisi hukum ? Lalu berkembang lagi menjadi perlukah kita mendefinisikan
hukum ?

Ketiadaan definisi hukum jelas menjadi kendala bagi mereka yang baru saja ingin
mempelajari ilmu hukum. Tentu saja dibutuhkan pemahaman awal atau pengertian
hukum secara umum sebelum memulai untuk mempelajari apa itu hukum dengan
berbagai macam aspeknya. Bagi masyarakat awam pengertian hukum itu tidak begitu
penting. Lebih penting penegakannya dan perlindungan hukum yang diberikan kepada
masyarakat.

Materi Hukum
Setiap orang akan berurusan atau terikat dengan hukum. Namun, apa sesungguhnya
hukum itu? Kita sulit mendefinisikan secara lengkap. Hal itu dikarenakan hukum
memiliki pengertian yang luas. Banyak ahli hukum memberikan pengertian hukum
secara berbeda-beda, tetapi belum ada satu pengertian yang mutlak dan memuaskan
semua pihak tentang hukum itu.

Defenisi Hukum Menurut Para Ahli


Hukum ialah salah satu dari norma dalam masyarakat. Berbeda dari tiga norma
lainnya, norma hukum memiliki sanksi yang lebih tegas. Hukum sulit didefinisikan
karena kompleks dan beragamnya sudut pandang yang hendak dikaji. Beberapa
pengertian hukum menurut para ahli hukum adalah sebagai berikut :
1. Drs. E. Utrecht, S.H.
Dalam bukunya yang berjudul Pengantar dalam Hukum Indonesia (1953), beliau
mencoba membuat suatu batasan sebagai pegangan bagi orang yang sedang
mempelajari ilmu hukum. Menurutnya, hukum ialah himpunan peraturan-peraturan
(perintah dan larangan) yang mengatur tata tertib kehidupan bermasyarakat yang
seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan karena pelanggaran
petunjuk hidup itu dapat menimbulkan tindakan dari pihak pemerintah.
2. Achmad Ali
Hukum adalah seperangkat norma tentang apa yang benar dan apa yang salah, yang
dibuat atau diakui eksistensinya oleh pemerintah, yang dituangkan baik dalam aturan
tertulis (peraturan) ataupun yang tidak tertulis, yang mengikatdan sesuai dengan
kebutuhan masyarakatnya secara keseluruhan, dan dengan ancaman sanksi bagi
pelanggar aturan itu.
3. Immanuel Kant
Hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang
yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang lain, menuruti
peraturan hukum tentang kemerdekaan (1995).
4. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja
Hukum ialah keseluruhan kaidah-kaidah serta asas-asas yang mengatur pergaulan
hidup dalam masyarakat dan bertujuan memelihara ketertiban serta meliputi lembaga-
lembaga dan proses guna mewujudkan berlakunya kaidah sebagai kenyataan dalam
masyarakat.
5. J.C.T. Simorangkir
Hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa dan menentukan tingkah laku
manusia dalam lingkungan masyarakat dan dibuat oleh lembaga berwenang.
6. Mr. E.M. Meyers
Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan. Ditujukan
kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat dan yang menjadi pedoman bagi
penguasapenguasa negara dalam melakukan tugasnya.
7. S.M. Amin
Dalam bukunya yang berjudul “Bertamasya ke Alam Hukum,” hukum dirumuskan
sebagai berikut: Kumpulan kumpulan peraturan yang terdiri atas norma dan sanksi
sanksi. Tujuan hukum itu adalah mengadakan ketertiban dalam pergaulan manusia,
sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara.
8. P. Borst
Hukum adalah keseluruhan peraturan bagi kelakuan atau perbuatan manusia di dalam
masyarakat. Yang pelaksanaannya dapat dipaksakan dan bertujuan mendapatkan tata
atau keadilan.
9. Prof. Dr. Van Kan
Hukum adalah keseluruhan peraturan hidup yang bersifat memaksa untuk melindungi
kepentingan manusia di dalam masyarakat.

Jadi, hukum adalah suatu sistem yang dibuat manusia untuk membatasi tingkah laku
manusia agar tingkah laku manusia dapat terkontrol , hukum adalah aspek terpenting
dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan, Hukum mempunyai
tugas untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu
setiap masyarat berhak untuk mendapat pembelaan didepan hukum sehingga dapat
di artikan bahwa hukum adalah peraturan atau ketentuan-ketentuan tertulis maupun
tidak tertulis yang mengatur kehidupan masyarakat dan menyediakan sangsi bagi
pelanggarnya.
B. Unsur-unsur Hukum

1. Apabila kita lihat dari beberapa perumusan tentang berbagai pengertian


hukum, dapatlah diambil kesimpulan bahwa hukum itu meliputi unsur-unsur :
2. peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat;
3. peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
4. peraturan itu bersifat memaksa; dan
5. sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas.

Agar tata tertib dalam masyarakat itu tetap terpelihara, maka haruslah kaidah-kaidah
hukum itu ditaati. Akan tetapi, tidaklah semua orang mau menaati kaidah-kaidah
hukum itu. Agar supaya sesuatu peraturan hidup kemasyarakatan benar-benar
dipatuhi dan ditaati sehingga menjadi kaidah hukum, maka peraturan hidup
kemasyarakatan itu harus diperlengkapi dengan unsur memaksa.

Dengan demikian, hukum itu mempunyai sifat mengatur dan memaksa. Barangsiapa
yang dengan sengaja melanggar sesuatu kaidah hukum akan dikenakan sanksi yang
berupa hukuman. Sifat hukum yang demikian itu menunjukkan ciri-ciri hukum, yaitu :

1. adanya perintah dan atau larangan;


2. perintah dan atau larangan itu harus dipatuhi setiap orang; dan
3. adanya sanksi atau hukuman.

C. Ciri-Ciri Hukum
Hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketenteraman, kedamaian,
kesejahteraan dan kebahagiaan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Dengan
adanya hukum maka tiap perkara dapat di selesaikan melaui proses pengadilan
dengan prantara hakim berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku,selain itu Hukum
bertujuan untuk menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak dapat menjadi hakim
atas dirinya sendiri.

Berikut adalah ciri-ciri hukum :

1. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat;


2. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
3. Peraturan itu bersifat memaksa;
4. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut tegas;
5. Berisi perintah dan atau larangan; dan
6. Perintah dan atau larangan itu harus dipatuhi oleh setiap orang.
D. Sifat Hukum
Hugo de Groot dalam "De Jure Belli ac facis" (1625) yang mengatakan bahwa
pengertian hukum adalah peraturan tentang perbuatan moral yang menjamin
keadilan.

Hukum adalah salah satu dari norma yang ada dalam masyarakat. Norma hukum
memiliki hukuman yang lebih tegas. Hukum merupakan untuk menghasilkan
keteraturan dalam masyarakat, agar dapat terwujud keseimbangan dalam masyarakat
dimana masyarakat tidak bisa sebebas-bebasnya dalam bermasyarakat, mesti ada
batasan agar ketidakbebasan tersebut dapat menghasilkan keteraturan. Ada berbagai
macam pengertian hukum menurut para ahli, sehingga membuat tidak adanya
pengertian dari hukum yang memiliki satu arti.

Berikut ini adalah sifat dari hukum, sebagai berikut :


a. Besifat Mengatur
Hukum dikatakan memiliki sifat mengatur karena hukum memuat berbagai peraturan
baik dalam bentuk perintah maupun larangan yg mengatur tingkah laku manusia
dalam hidup bermasyarakat demi terciptanya ketertiban di masyarakat
b. Bersifat Memaksa
Hukum dikatakan memiliki sifat memaksa karena hukum memiliki kemampuan dan
kewenangan memaksa anggota masyarakat untuk mematuhinya. hal ini dibuktikan
dengan adanya sanksi yg tegas terhadap orang-orang yg melakukan pelanggaran
terhadap hukum.
c. Bersifat Melindungi
Hukum dikatakan memiliki sifat melindungi karena hukum dibentuk untuk melindungi
hak tiap-tiap orang serta menjaga keseimbangan yg serasi antara berbagai
kepentingan yg ada.

E. Tujuan Hukum
Dalam literatur hukum, dikenal ada dua teori tentang tujuan hukum, yaitu teori etis
dan utilities. Teori etis mendasarkan pada etika. isi hukum itentukan oleh keyakinan
kita yang etis tentang yang adil dan tidak. Menurut teori ini, hukum bertujuan untuk
semata-mata mencapai keadilan dan memberikannya kepada setiap orang yang
menjadi haknya.

Tujuan hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketenteraman,


kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam tata kehidupan bermasyarakat.
Dengan adanya hukum maka tiap perkara dapat di selesaikan melaui proses
pengadilan dengan prantara hakim berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku,
selain itu hukum bertujuan untuk menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak
dapat menjadi hakim atas dirinya sendiri.

Sedangkan teori utilities, hukum bertujuan untuk memberikan faedah bagi sebanyak-
banyaknya orang dalam masyarakt. Pada hikikatnya, tujuan hukum adalah manfaat
dalam memberikan kebahagiaan atau kenikmatan besar bagi jumlah yang terbesar.

Berikut adalah Tujuan Hukum :

1. Mendatangkan kemakmuran masyarakat mempunyai tujuan;


2. Mengatur pergaulan hidup manusia secara damai;
3. Memberikan petunjuk bagi orang-orang dalam pergaulan masyarakat;
4. Menjamin kebahagiaan sebanyak-banyaknya pada semua orang;
5. Sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir dan batin;
6. Sebagai sarana penggerak pembangunan; dan
7. Sebagai fungsi kritis.

Berkenaan dengan tujuan hukum (menjamin kepastian hukum), ada beberapa


pendapat dari para ahli hukum sebagai berikut :
1. Aristoteles (Teori Etis )
Tujuan hukum semata-mata mencapai keadilan. Artinya, memberikan kepada setiap
orang, apa yang menjadi haknya. Disebut teori etis karena isi hukum semata-mata
ditentukan oleh kesadaran etis mengenai apa yang adil dan apa yang tidak adil.
2. Jeremy Bentham (Teori Utilitis )
Hukum bertujuan untuk mencapai kemanfaatan. Artinya hukum bertujuan menjamin
kebahagiaan bagi sebanyak-banyaknya orang/masyarakat (Jeremy Bentham : 1990).
3. Geny (D.H.M. Meuvissen : 1994)
Hukum bertujuan untuk mencapai keadilan, dan sebagai unsur keadilan adalah
”kepentingan daya guna dan kemanfaatan”.
4. Van Apeldorn
Tujuan hukum ialah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Hukum
menghendaki perdamaian. Perdamaian di antara manusia dipertahankan oleh hukum
dengan melindungi kepentingan-kepentingan hukum manusia seperti: kehormatan,
kemerdekaan jiwa, harta benda dari pihak-pihak yang merugikan (Van Apeldorn :
1958).
5. Prof Subekti S.H.
Tujuan hukum adalah menyelenggarakan keadilan dan ketertiban sebagai syarat
untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan (Subekti : 1977).
6. Purnadi dan Soerjono Soekanto
Tujuan hukum adalah kedaimaian hidup manusia yang meliputi ketertiban ekstern
antarpribadi dan ketenangan intern pribadi (Purnadi - Soerjono Soekanto: 1978).

F. Fungsi Hukum
Apabila kita perhatikan definisi-definisi hukum atau rumusan dari para sarjana hukum
tersebut, pada dasarnya kita dapat menemukan adanya unsur-unsur hukum, ciri-ciri
hukum, dan sifat hukum.

Adapun fungsi dari hukum adalah, sebagai berikut :

1. Sebagai Perlindungan, Hukum melindungi masyarakat dari ancaman bahaya;


2. Fungsi Keadilan, Hukum sebagai penjaga, pelindung dan memberikan keadilan
bagi manusia; dan
3. Dalam Pembangunan, Hukum dipergunakan sebagai acuan tujuan negara.

Fungsi dari hukum secara umum adalah :

1. Hukum berfungsi untuk melindungi kepentingan manusia;


2. Hukum berfungsi sebagai alat untuk ketertiban dan keteraturan masyarakat;
3. Hukum berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial (lahir
batin);
4. Hukum berfungsi sebagai alat perubahan social (penggerak pembangunan);
5. Sebagai alat kritik (fungsi kritis); dan
6. Hukum berfungsi untuk menyelesaikan pertikaian.

Tugas dari Hukum adalah sebagai berikut :

1. Menjamin adanya kepastian hukum;


2. Menjamin keadilan, kebenaran, ketentraman dan perdamaian; dan
3. Menjaga jangan sampai terjadi perbuatan main hakim sendiri dalam pergaulan
masyarakat.
KAIDAH HUKUM
Pengertian Kaidah Hukum adalah peraturan yang secara resmi dibuat oleh
penguasa masyarakat (penguasa) negara yang mengikat setiap orang dan
kebelakuannya dapat dipaksakan oleh aparat penegak hukum, sehingga keberlakuan
peraturan tersebut dapat dipertahankan. Dari definisi kaidah hukum ini, menunjukkan
bahwa pada dasarnya ditujukan pada sikap lahiriah manusia atau perbuatan yang
nyata dilakukan oleh manusia.

Tujuan kaidah hukum ialah kedamaian. Kedamaian adalah suatu keadaan akan
adanya keserasian antara (nilai) ketertiban eksternantara pribadi dengan nilai
ketenteraman intern pribadi. Adapun tugas kaidah hukum ini yaitu untuk mencapai
keadilan, yaitu keserasian antara (nilai) kepastian hukum dengan (nilai)
kesebandingan hukum. hubungan antara tugas dan tujuan hukum ini yaitu untuk
pemberian nilai kepastian hukum yang mengarah pada ketertiban ekstern pribadi,
sedangkan pemberian kesebandingan hukum ini akan mengarah pada ketenteraman
intern pribadi.

Kaidah hukum berasal dari luar diri manusia yaitu dari kekuasaan eksternal diri
manusia yang dipaksakan (heteronom) supaya dapat ditaati dan dilaksanakan.
Masyarakat secara resmi diberi kuasa untuk memberi sanksi atau menjatuhkan
hukuman kepada pelanggar kaidah hukum dan pengadilan sebagai lembaga yang
mewakili masyarakat untuk menjatuhkan hukuman.

Menurut Sudikno Mertokusumo, kaidah hukum tidak mempersoalkan tentang baik


buruknya sikap seseorang karena yang diperhatikan hanya perbuatan lahiriahnya saja.
Kaidah hukum pada intinya ditujukan kepada pelakunya yang konkret, pelaku
pelanggaran yang jelas-jelas berbuat, bukan untuk penyempurnaan diri manusia,
melainkan untuk ketertiban masyarakat agar masyarakar tertib agar tidak memakan
korban kejahatan dan agar tidak terjadi kejahatan.

Sudikno Mertokusumo juga menambahkan bahwa isi kaidah hukum ditujukan pada
sikap lahir manusia. Kaidah hukum mengutamakan perbuatan lahiriah, yaitu
perbuatan yang terlihat. Pada hakikatnya, kaidah hukum terdapat di dalam batin,
bukan pada pikiran dan yang paling utama secara lahiriah tidak melanggar kaidah
hukum. Orang tidak akan diberikan hukuman atau disanksi hanya karena apa yang
dipikirkan atau apa yang terbesit di dalam batinnya. Artinya, tidak seorang pun yang
dapat diberikan hukuman karena sesuatu yang dipikirkan atau terbesit di dalam
batinnya.

Dilihat dari sifatnya , kaidah hukum ini dapat dibagi menjadi dua bagian,
yaitu :
1. Hukum yang imperatif, yaitu kaidah hukum itu bersifat apriori harus ditaati, bersifat
mengikat dan memaksa. Tidak ada pengecualian untuk seorang pun di mata hukum
(equality before the law);
2. Hukum yang fakultatif, yaitu hukum itu tidak secara apriori mengikat. Kaidah
fakultatif bersifat sebagai pelengkap. Contohnya : Setiap warga negara berhak untuk
mengemukakan pendapat. Apabila seoarang berada di dalam forum, maka ia dapat
mengeluarkan pendapatnya atau tidak mengeluarkan sama sekali.
Kaidah Hukum menurut bentuknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Kaidah hukum yang tidak tertulis, biasanya tumbuh dengan masyarakat dan
bergerak sesuai dengan perkembangan masyarakatnya.
2. Kaidah hukum yang tertulis, kaidah ini biasanya dituangkan di dalam tulisan pada
UU dan sebagainya. Kelebihan kaidah hukum yang tertulis yaitu adanya kepastian
hukum, mudah diketahui dan penyederhanaan hukum serta kesatuan hukum.

Kaidah hukum juga dapat berupa hukuman atau sanksi pidana yang terdiri atas
berbagai jenis dan bentuk. Sesuai dengan Bab 2 (pidana), Pasal 10, Kitab UU Hukum
Pidana (KUHP) di antaranya adalah :
a. Pidana Pokok, yang diantaranya :
- Pidana mati;
- Pidana penjara;
- Pidana kurungan;
- Pidana denda;
- Pidana tutupan.

b. Pidana Tambahan, yang diantaranya :


- Pencabutan hak-hak tertentu;
- Perampasan barang-barang tertentu;
- Pengumuman putusan hakim.

Pada dasarnya kaidah hukum ini dapat berupa :


1. Pengecualian (dispensasi), yaitu penyimpangan dari kaidah hukum dengan adanya
dasar yang sah.
2. Pembenaran, contohnya algojo yang dengan perintah UU melaksanakan hukuman
mati, sehingga ia dibenarkan untuk melaksanakan eksekusi mati.
3. Bebas kesalahan, contohnya kasir bank yang ditodong dengan sejata api, maka ia
bebas dari kesalahan.
4. Penyelewengan (delik), yaitu penyimpangan dengan tanpa adanya dasar yang sah.

Kaidah hukum ini mengandung nilai-nilai yuridis. Pada hakikatnya, nilai ialah sifat atau
kualitas yang melekat pada suatu obek, suatu yang ideal bukan yang faktual dan tidak
ada di dalam pengalaman, namun ada pada akal (pikiran manusia). Nilai sebagai
patokan dari tingkah laku, keindahan, efisiensi (harga dari masyarakat), dan mereka
yang berusaha untuk menikmati hidup dengan sepuas-puasnya atau
mempertahankan hidupnya.