Anda di halaman 1dari 43

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Dunia usaha saat ini semakin berkembang, banyak sebagian orang
mendirikan bermacam-macam usaha baru dengan berbagai operasi yang lebih
efektif dan efisien. Suatu perusahaan memerlukan kinerja yang baik khususnya
yaitu dalam kinerja keuangan. Masalah keuangan sangat penting sekali bagi
perusahaan. Jika kinerja keuangan perusahaan tersebut kurang baik atau kurang
memuaskan maka operasi dalam perusahaan tersebut juga akan turun, sebaliknya
jika kinerja perusahaan dalam perusahaan tersebut sangat baik maka operasi
perusahaan tersebut pun akan baik.

Kinerja perusahaan khususnya dalam kinerja keuangan terhadap laporan


keuangan yang merupakan data penting bagi perusahaan mengenai informasi
pelaporan keuangan. Publik atau pengguna laporan keuanagan dapat mengetahui
baik atau buruknya kinerja perusahaan melalui pelaporan laba yang diumumkan
oleh perusahan pada bursa efek. Informasi laba yang tercantum dalam laporan
keuangan dapat digunakan untuk menilai manajemen perusahaan, menaksir risiko
dalam investasi atau kredit serta juga dapat membantu mengestimasi kemampuan
laba yang refresentatif (FASB, 1985 dalam M. Daud dan Mulyani, 2012).

Laba merupakan salah satu indicator yang terdapat dalam laporan


keuangan yang berpengaruh dalam penilaian kinerja perusahaan. Laba dapat
diukur untuk menilai kinerja manajemen serta sebagai alat ukur untuk
memprediksi laba yang akan dating, karena disetiap perusahaan terutama kantor
pusat menetapkan target laba yang akan dicapainya untuk setiap unit perusahaan
yang tersebar diberbagai daerah atau anak cabang perusahaan. Selain itu, dalam
Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1, dijelaskan pula bahwa
juga dapat membantu mengestimasi laba, dan refresentatif dalam jangka panjang,
memprediksi laba, dan menaksir risiko dalam investasi atau kredit.
2

Informasi laba mempunyai peran penting bagi suatu perusahaan termasuk


dengan kualitas laba tersebut, oleh karena itu kualitas laba menjadi pusat
perhatian bagi investor, kreditur, pembuat kebijakan akuntansi dan pemerintahan.
Tuntutan publik yang berkembang seiring dengan maraknya kasus-
kasuspenyimpangan korporasi yang terjadi diseluruh duniaselama beberapa
decade terakhir ini, agar bisnis dijadikan secara bersih dan bertanggung jawab.
Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan sebuah tata
pengelolaan perusahaan yang baik atau yang biasa disebut Good Corporate
Governance (Solla, 2012) dalam Oktaviani. dkk (2015).

Lemahnya corporate governance merupakan salah satu penyebab krisis


keuangan di Indonesia, sekaligus mengindikasikan kegagalan laporan keuangan
mencapai tujuannya dalam menyampaikan fakta yang sebenarnya mengenai
kondisi ekonomi perushaan terutama informasi terhadap laba kepada para
penggunanya, dengan tata kelola yang baik diharapkan kualitas laporan keuangan
akan dinilai dengan baik oleh investor. Unsure dan mekanisme Corporate
Governance ini dapat meningkatkan kualitas laba dan akan mengontrol sifat dan
motivasi manajer dalam melakukan kinerja operasional perushaan. Oleh karena
itu implikasi yang timbul dari adanya GCG yang kuat disuatu perusahaan diduga
akan mempengaruhi hubungan manajemen laba dan kualitas laba (Rifani, 2013)
dalam Oktaviani, dkk (2015).

Suatu perusahaan terdapat tanggung jawab dalam organisasinya atau


tanggung jawab dari masing-masing jabatan. Tanggung jawab tersebut bisa
diartikan dengan menerapkan GCG untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Organisasi perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip GCG dapat melakukan
arahan kepada manajemen perusahaan terkait dengan menghasilkan laba dan
beperan serta dalam pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kualitas
perusahaan , baik dalam kualitas di perusahaan tersebut maupun dari luar. Struktur
Organisasi didalam tata kelola perusahaan terdapat dewan direksi yang merupakan
salah satu pihak yang berwenang didalam suatu perusahaan dan memiliki
tanggung jawab penuh terhadap kualitas perusahan baik dari segi mengelolan
3

maupun membuat laporan tahunan, serta menerapkan prinsip-prinsip Good


Corporate Governance untuk mencapai tujuan strategi perusahaan.

Organization for Economic Corporate and Development (OECD)


menjelaskan bahwa Corporate Governance merupakan struktur yang disusun
untuk menetapkan dan mencapai tujuan perusahaan, dan untuk melakukan
pengawasan pada kinerja perusahaan. Dengan adanya tata kelola yang baik maka
perusahaan akan terhindar dari kondisi yang buruk. Mekanisme Good Corporate
Governance diukur dari kepemilikan manajerial, dewan komisaris, dewan direksi,
dan komisaris independen. Jumlah dewan komisaris yang terlalu banyak dapat
menimbulkan permasalahan agensi yang muncul dari pemisahan antara
manajemen dan kontrol yang dapat meningkatkan kemungkinan buruknya sebuah
perusahaan. Komposisi dewan komisaris dalam suatu perusahaan harus
sedemikian rupa sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif,
tepat, dan cepat.

Berdasarkan beberapa penelitian, yang mengidentifikasikan beberapa


kesimpulan yang berbeda, maka dari latar belakang diatas peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Dewan Direksi dan Dewan
Komisaris Terhadap Laba (Pada Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas
dan Transportasi yang Terdaftar di BEI Periode 2014-2016)”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan sebelumnya
perumusan masalah yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Apakah dewan komisaris berpengaruh terhadap laba.
2. Apakah dewan direksi berpengaruh terhadap laba.

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh dewan komisaris terhadap
laba.
4

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh dewan direksi terhadap laba.

1.4 Kegunaan Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya sebagai
berikut:
1. Kegunaan Teoritis
a. Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan mengenai
laba, dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laba.
b. Bagi akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi tambahan untuk
melakukan penelitian lebih lanjut bagi perkembangan ilmu ekonomi akuntansi.
2. Kegunaan Praktis
a. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan daoat memberikan informasi mengenai kondisi
keuangan perusahaan dan dapat membantu dalam pengambilan keputusan.
b. Bagi investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengevaluasi
kinerja keuangan perusahaan dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan bagi investor yang ingin berinvestasi di perusahaan.
c. Bagi kreditur
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk
menilai risiko kredit yang akan diberikan pada perusahaan.

1.5 Objek Penelitian


Objek dalam penelitian ini adalah Perusahaan Jasa Sektor Infrastruktur,
Utilitas dan Transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-
2016. Dan dapat diakses melalui www.idx.co.id.
5

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka


2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Jensen dan Meckling (1976), menjelaskan hubungan keagenan adalah
sebagai berikut:
“Teori keagenan (agency theory) adalah suatu kontrak dimana satu
atau lebih orang (principal) memerintah orang lain (agen) untuk
melakukan suatu jasa atas nama principal serta member wewenang
kepada agen membuat keputusan yang terbaik bagi principal”.

Menurut Jensen dan Meckling (1976) apabila agen dan principal berupaya
memaksimalkan utilitasnya masing-masing, serta memiliki keinginan dan
motivasi yang berbeda, maka agen tidak selalu bertindak sesuai keinginan
prinsipal. Suatu ancaman bagi pemegang saham (prinsipal), jika manajer (agen)
bertindak untuk kepentingannya sendiri dan bukan untuk kepentingan pemegang
saham. Manajer yang mempunyai akses informasi yang lebih mengenai
perusahaan dituntut untuk selaku transparan dalam pengelolaan perusahaan.
Pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk memastikan
bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan
dan ketentuan yang berlaku. Upaya ini menimbulkan apa yang disebut sebagai
agency cost yang menurut teori agency adalah biaya yang mencakup pengeluaran
untuk pengawasan oleh pemegang saham dan biaya yang dikeluarkan oleh
manajemen untuk menghasilkan laporan yang transparan, termasuk biaya audit
yang indepent dan pengendalian internal.

2.1.2 Laba
Laba secara operasional merupakan perbedaan antara pendapatan yang
direalisasi yang timbul dari transaksi selama satu periode dikurangi dengan biaya
yang berkaitan dengan pendapatan tersebut. sedangkan Commite on Terminology
6

dalam Harahap (2013:112) mendefinisikan: “Laba sebagai jumlah yang berasal


dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain, dan kerugian dari
penghasilan atau penghasilan operasi”.
Besar kecilnya laba sebagai pengukur kenaikan sangat bergantung pada
ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya. Jadi dalam hal ini laba hanya
merupakan angka artikulasi dan tidak didefinisikan tersendiri secara ekonomik
seperti halnya aktiva atau utang.

2.1.3. Dewan Direksi


Dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas:
“Direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan
bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan untuk
kepentingan perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan
serta mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan
sesuai dengan ketentuan anggaran dasar”.
Sutojo (2008:25) menjelaskan bahwa :
“Tugas utama direksi menurut Indonesian Code for Corporate
Governance adalah mengelola perusahaan secara keseluruhan, setiap
anggota direksi harus mempunyai watak yang baik dan mempunyai
pengalaman yang dibutuhkan perusahaan. Semua anggota direksi
mempunyai kewajiban menerapkan prinsip-prinsip good corporate
governance”.

2.1.3.1.Kewenangan Dewan Direksi


1. Salah satu organ perseroan yang memiliki kewenangan penuh atas
pengurusan dan hal-hal terkait kepentingan perseroan sesuai dengan maksud
dan tujuan perseroan.
2. Mewakili perseroan untuk melakukan perbuatan hukum baik di dalam
maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan UUPT dan anggaran
dasar.
7

Kewenangan direksi untuk mewakili perseroan bersifat tidak terbatas dan


tidak bersyarat, kecuali ditentukan lain dalam UUPT. Dalam hal anggota direksi
terdiri lebih dari satu orang, yang berwenang mewakili perseroan adalah setiap
anggota direksi, kecuali ditentukan lain dalam anggaran dasar.

2.1.3.2.Tanggungjawab Dewan Direksi


Direksi bertanggungjawab atas pengurusan perseroan dengan itikad baik.
Tanggungjawab direksi melekat penuh secara pribadi atas kerugian perseroan,
apabila anggota direksi yang bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan
tugasnya.
2.1.3.3.Tugas Dewan Direksi
Tugas dewan direksi sesuai dengan pasal 100 UUPT:
1. Membuat daftar pemegang saham, daftar khusus, risalah RUPS dan risalah
rapat direksi;
2. Membuat laporan tahunan dan dokumen keuangan perseroan;
3. Memelihara seluruh daftar, risalah dan dokumen keuangan perseroan.

2.1.4. Dewan Komisaris


Wardhani (2007) menyatakan bahwa:
“Dewan komisaris adalah dewan yang dibentuk untuk monitoring
kinerja perusahaan serta meminimalisir permasalahan agensi yang
timbul antara dewan direksi dan pemegang saham”.
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dewan
komisaris dapat terdiri dari komisaris yang tidak berasal dari pihak terafiliasi yang
dikenal sebagai komisaris independen dan komisaris yang terafiliasi. Yang
dimaksud dengan terafiliasi adalah pihak yang mempunyai hubungan bisnis dan
kekeluargaan dengan pemegang saham pengendali, anggota direksi dan dewan
komisaris lain, serta dengan perusahaan itu sendiri. Mantan anggota direksi dan
dewan komisaris yang terafiliasi serta karyawan perusahaan, untuk jangka waktu
tertentu termasuk dalam kategori terafiliasi. Salah satu dari komisaris independen
harus mempunyai latar belakang akuntansi atau keuangan. Anggota dewan
8

komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS (Rapat Umum Pemegang


Saham) melalui proses yang transparan. Pemberhentian anggota dewan komisaris
dilakukan oleh RUPS berdasarkan alasan yang wajar dan setelah itu kepada
anggota dewan komisaris diberi kesempatan untuk membela diri.

2.1.4.1. Prinsip Dasar Dewan Komisaris


Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) prinsip dasar
dewan komisaris adalah dewan komisaris sebagai organ perusahaan bertugas dan
bertanggungjawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan
nasihat kepada direksi serta memastikan bahwa perusahaan melaksanakan GCG.
Namun demikian, dewan komisaris tidak boleh turut serta dalam mengambil
keputusan operasional. Tugas komisaris utama sebagai primus inter pares adalah
mengkoordnasikan kegiatan dewan komisaris. Perusahaan yang terdiri lebih dari
dua orang anggota dewan komisaris, memiliki jumlah komisaris independen
paling kurang 30% dari jumlah seluruh anggota dewan komisaris. Menurut
Emirzon dalam Hanifah (2013) suatu perseroan seyogyanya paling sedikit 20%
dari anggota dewan komisaris harus berasal dari kalangan luar perseroan, hal ini
berguna untuk meningkatkan efektifitas atas peran pengawasan dan transparansi
dari pertimbangannya. Menurut Deviachita dan Achmad (2012) pengukuran
dewan komisaris dengan cara menghitung jumlah dewan komisaris pada periode t,
termasuk komisaris independen.
Dewan Komisaris = Σ Anggota dewan komisaris

2.2. Penelitian Terdahulu


Adapun penelitian terdahulu yang mendukung penelitian ini dapat dilihat
dalam table dibawah ini:
Table 2.2
Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti dan Judul Penelitian Hasil Penelitian
Tahun Penelitian
Deviachita dan Achmad Analisis Pengaruh Kepemilikan manajerial,
9

(2012) Mekanisme Corporate kepemilikan


Governance Terhadap institusional dan
Financial Distress keahlian komite audit
berpengaruh positif
terhadap financial
distress.
Ukuran dewan
komisaris, proporsi
dewan komisaris
independen, dan
aktivitas dewan
komisaris terbukti tidak
berpengaruh terhadap
financial distress.
Fahma Anjani Khairin Pengaruh Dewan Dewan Komisaris tidak
Nisaa (2017) Komisaris dan berpengaruh terhadap
Profitabilitas Terhadap financial distress.
Kondisi Financial Profitabilitas
Distress berpengaruh terhadap
financial distress.
Awahyuni (2017) Pengaruh Struktur Dewan Struktur dewan direksi
Direksi dan Kualitas dan kualitas auditor
Auditor Terhadap tidak memiliki pengaruh
Kualitas Laba yang signifikan terhadap
kualitas laba.
R Harry Purbakusuma Pengaruh Hasil Pengembalian aktiva dan
(2014) Pengembalian Aktiva dan rasio harga terahadap
Rasio Harga Terhadap laba berpengaruh pada
Laba Pada Harga Saham harga saham.
10

2.3. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis


2.3.1. Pengaruh Dewan Direksi Terhadap Laba
Teori Keagenan (Agency Theory) dari Jensen dan Meckling (1976); Scott
(2000); yang memandang sebagai salah satu versi dari game theory yang membuat
suatu model kontraktual antara dua atau lebih orang (pihak), dimana salah satu
pihak disebut agent dan pihak yang lain disebut principal. Agency theory
menjelaskan bahwa permasalahan antara manajemen dan pemilik muncul karena
adanya perbedaan kepentingan diantaranya kedua, sehingga dibutuhkan
pengawasan dari pihak independen, dalam hal ini struktur dewan direksi membuat
mekanisme agar manajemen tidak bertindak sesuai dengan keinginannya, karena
dewan direksi harus menjalankan tugasnya untuk kepentingan perusahaan maupun
kepentingan pemilik.
Suatu perusahaan terdapat tanggungjawab dalam organisasinya atau
tanggungjawab dari masing-masing jabatan. Tanggungjawab tersebut bisa di
artikan dengan menerapkan good corporate governance untuk mencapai tujuan
yang diinginkan. Organisasi perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip good
corporate governance dapat melakukan arahan kepada manajemen perusahaan
terkait dengan menghasilkan laba dan berperan serta dalam pembangunan
ekonomi untuk meningkatkan kualitas perusahaan, baik dalam kualitas di
perusahaan tersebut maupun di luar perusahaan. Guna menciptakan kualitas yang
baik di dalam perusahaan ada baiknya tersusun organisasi, salah satunya yaitu
struktur dewan direksi. Penelitian Awahyuni (2017) melakukan penelitian
Struktur Dewan Direksi terhadap laba dan menunjukkan hasil bahwa Struktur
Direksi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kualitas Laba.

2.3.2. Pengaruh Dewan Komisaris Terhadap Laba


Dewan komisaris berperan untuk memonitoring dan implementasi
kebijakan direksi. Dewan komisaris bertanggungjawab mengawasi tindakan
direksi dan memberikan nasehat kepada direksi jika dipandang perlu. Kecilnya
jumlah komisaris berarti fungsi monitoring yang dijalankan dalam perusahaan
tersebut relatif lebih lemah, dibandingkan dengan perusahaan yang tidak
11

mengalami tekanan keuangan (Triwahyuningtias dan Muharam, 2012). Jumlah


dewan komisaris yang terlalu banyak menimbulkan kerugian berupa
permasalahan agensi yang muncul dari pemisahan antar manajemen dan control
sehingga dapat meningkatkan kemungkinan sebuah perusahaan berada dalam
kondisi kesulitan keuangan (Deviacita dan Achmad, 2012).
12

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian dasar atau basic research. Menurut
Sekaran (2014:10), penelitian dasar atau basic research adalah “Penelitian yang
terutama dilakukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap masalah
tertentu yang kerap terjadi dalam konteks organisasi dan mencari metode
untuk memecahkannya”.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode verifikatif. Metode
verifikatif adalah jenis penelitian yang menjelaskan sifat hubungan tertentu atau
menentukan perbedaan antar kelompok dalam suatu situasi. Alat bantu yang
digunakan adalah software Statistical Package for Social Science (SPSS), melalui
analisis regresi berganda. Karena penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruh dewan direksi dan dewan komisaris terhadap laba.

3.2. Operasionalisasi Variabel


Variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel dependen
(dependent variable) dan variabel independen (independent variable)
3.2.1. Variabel Dependen (Y)
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah laba. Laba yang berkualitas
adalah laba yang mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya
(Boediono, 2005) dalam Nadirsyah, (2015)

3.2.2. Variabel Independen (X)


Variabel independen dalam penelitian ini adalah:
1) Dewan Direksi
Dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas: “Direksi
adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggungjawab penuh atas
pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai dengan maksud
13

dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik di dalam maupun di


luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar”.
Masing-masing anggota dewan direksi dapat melaksanakan tugas dan
mengambil keputusan sesuai dengan pembagian tugas dan wewenangnya.

2) Dewan komisaris
Wardhani (2007) menyatakan bahwa: “Dewan komisaris adalah dewan
yang dibentuk untuk monitoring kinerja perusahaan serta meminimalisir
permasalahan agensi yang timbul antara dewan direksi dan pemegang
saham”.

Tabel 3.1
Operasionalisasi
Variabel Pengukuran Skala Ukur
Laba Laba = Penjualan – (Harga Pokok+Beban) Rasio
Dewan Direksi Ukuran Dewan Direksi = Σ anggota dewan Rasio
direksi
Dewan Komisaris Dewan Komisaris = Σ anggota dewan Rasio
komisaris

3.3. Populasi dan Sampel


3.3.1. Populasi
Populasi merupakan batas dari suatu objek penelitian dan sekaligus
merupakan batas bagi proses induksi (generalisasi) dari hasil penelitian yang
bersangkutan (Efferin, dkk 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah
Perusahaan Jasa Telekomunikasi dan Kontruksi Non Bangunan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia.

3.3.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi elemen yang memenuhi syarat untuk
dijadikan sebagai objek penelitian (Efferin, dkk 2012).
14

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan


menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling adalah
pengambilan sampe dalam hal ini terbatas pada jenis orang tertentu yang dapat
memberikan informasi yang diinginkan, entah karena mereka adalah satu-satunya
yang memilikinya, atau memenuhi beberapa kriteria yang ditentukan oleh peneliti
(Sekaran, 2014:136).
Kriteria yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah:
1) Perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi bangunan yang
terdaftar di BEI yang secara berturut-turut menerbitkan annual report selama
periode 2014 sampai 2016.
2) Perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang selama
periode 2014-2016 tidak mempbulikasikan laporan keuangan dan dalam mata
uang asing, serta tidak mempbulikasikan laporan tahunan selama periode
penelitian.
3) Perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang mengalami
kerugian selama periode penelitian.
4) Perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang mengalami
penurunan laba secara berturut-turut selama periode penelitian
Berdasarkan kriteria tersebut, penentuan sampel dapat dilihat dalam tabel
berikut:
Tabel 3.2
Kriteria Sampel Penelitian
No. Kriteria Jumlah
1. Perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan 34
transportasi yang tercatat di BEI periode 2014
sampai 2016.
Tidak masuk kriteria:
2. Perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan 9
transportasi yang selama periode 2014-2016 tidak
mempbulikasikan laporan keuangan serta tidak
15

mempublikasikan laporan tahunan selama periode


penelitian.
3. Perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan 13
transportasi yang mengalami kerugian selama
periode penelitian.
4. Perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan 2
transportasi yang mengalami penurunan laba
secara berturut-turut selama periode penelitian
Jumlah perusahaan jasa sektor infrastruktur, utilitas dan 10
transportasi yang memenuhi kriteria
Sampel x 3 tahun 30
Sumber : Data diolah Bursa Efek Indonesia (BEI)

Berdasarkan hasil dari pengamatan data sekunder terdapat 34 perusahaan


jasa sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dari periode tahun 2014 sampai 2016, namun dari jumlah tersebut
yang memenuhi kriteria dalam purposive sampling hanya 10 perusahaan jasa
sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang menjadi sampel pada penelitian
ini. Perusahaan tersebut dapat dilihat berdasarkan pada tabel berikut:

Tabel 3.3
Daftar Perusahaan
No. Kode Nama Perusahaan
1. CASS Cardig Aero Services Tbk.
2. ASSA Adi Sarana Armada Tbk.
3. TLKM PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk.
4. BALI PT Bali Towerindo Sentra Tbk.
5. IBST Inti Bangun Sejahtera Tbk.
6. TBIG PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.
7. TOWR Sarana Menara Nusantara Tbk.
16

8. RAJA Rukun Raharja Tbk.


9. CMNP Citra Marga Nusaphala Persada Tbk.
10. META Nusantara Infrastructure Tbk.
Sumber: www.idx.co.id

3.4. Teknik Pengumpulan Data


3.4.1. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Metode
penelitian kuantitatif dapar diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan
pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel
tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data
bersifat kuantitatif atau statistic, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan (Sugiyono, 2014:13)
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Sumber sekunder adalah data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari
dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literature, buku-buku,
serta dokumen perusaghaan (Sugiyono, 2014:141). Data sekunder yang digunakan
dalam penelitian ini meliputi laporan keuangan yang telah dipublikasikan.
3.4.2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a. Metode dokumentasi, merupakan metode pengumpulan data yang bersumber
pada benda-benda tertulis. Metode dokumentasi dalam penelitian ini adalah
data sekunder yang diambil dari BEI periode 2014 sampai 2016 pada setiap
perusahaan jasa telekomunikasi dan kontruksi non bangunan yang terdaftar
dan sesuai dengan kriteria pemilihan sampel.
b. Metode studi pustaka, yaitu metode yang digunakan dengan memahami
literature-literatur yang memuat pembahasan yang berkaitan dengan
penelitian yang terdapat pada perpustakaan. metode studi pustaka dalam
penelitian ini adalah jurnal-jurnal, buku, serta jurnal ilmiah dan lain-lain yang
berkaitan dengan teori penelitian ini.
17

3.5. Metode Analisis Data


3.5.1. Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang
dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum,
sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali, 2013:19).

3.5.2. Uji Asumsi Klasik


Model regresi berganda harus memenuhi uji asumsi klasik. Dimana uji
asumsi klasik ini bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi yang
diperoleh dapat menghasilkan estimator linier yang baik. Apabila dalam suatu
model telah memenuhi uji asumsi klasik tersebut, maka dapat dikatakan sebagai
model ideal (Ghozali, 2016:91). Uji asumsi klasik terdiri dari:

3.5.2.1.Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2016:154). Uji
statistic yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji
statistic non parametric Kolmogorov-Sminov (K-S). uji K-S dilakukan dengan
membuat hipotesis:
H0 : Data residual berdistribusi normal
HA: Data residual berdistribusi tidak normal
Uji normalitas ini menggunakan Kolmogorov-Sminov. Uji K-S dilakukan
dengan pediman sebagai berikut:
a. Nilai Sig atau signifikansi atau porbabilitas < 0.05, maka distribusi data
adalah tidak normal.
b. Nilai Sig atau signifikansi atau probabilitas >0.05, maka distribusi adalah
normal.

3.5.2.2.Uji Multikolinieritas
Uji miltikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang
18

independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal.


Variabel orthogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesame
variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2016:103). Untuk mendeteksi ada
atau tidaknya multikolinieritas di dalam model regresi adalah sebagai berikut:
a. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat
tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen hanya yang tidak
signifikan mempengaruhi variabel dependen.
b. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar
variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0.90),
maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinieritas. Multikolinieritas
dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atu lebih variabel
independen.
c. Multikolinieritas dapat juga dilihat dari nilai tolerance dan lawannya variance
inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel
independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai
tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena
VIF=1/Tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan
adanya multikolinieritas adalah nilai tolerance ≤ 0.10 atau sama dengan nilai
VIF ≥ 10.

3.5.2.3.Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi
korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena
adanya observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya
autokorelasi yaitu dengan menggunakan Run Test. Run Test sebagai bagian dari
statistic-non parametic dapat pula digunakan untuk menguji apakah antar residual
terdapat korelasi yang tinggi. Jika antar residual tidak terdapat hubungan korelasi
maka dikatakan bahwa residual adalah acak atau random. Run Test digunakan
19

untuk melihat apakah data residual terjadi secara random atau tidak (sistematis)
(Ghozali, 2016:116).
H0 : residual (res_1) random (acak)
HA: residual (res_1) tidak random

3.5.2.4.Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Jika varian dari residual satu ke pengamatan lain tetap, maka disebut
homoskedastisitas dan jika berbeda heteroskedastisitas. Kebanyakan data
crossection mengandung situasi heteroskedastisitas karena data ini menghimpun
data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang dan besar) (Ghozali,
2016:134). Ada cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas, yaitu
dengan uji glejser seperti halnya uji park, glejser mengusulkan untuk meregres
nilai absolute residual terhadap variabel independen (Gujarati, 2003) dalam
Ghozali (2016:137).

3.5.3. Analisis Regresi Linier Berganda


Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
analisis linier berganda. Analisis tersebut dilakukan untuk mengukur kekuatan
pengaruh antara variabel Struktur Dewan Direksi dan Dewan Komisaris terhadap
variabel Laba.
Persamaan regresi dalam penelitian ini adalah:

Y =α+b1x1+b2x2+e

Keterangan:

Y = Laba

α = Konstanta

b 1,2,3,4 = Koefisien Regresi


20

x1 = Struktur Dewan Direksi

x2 = Dewan Komisaris

e = Error.

3.5.4. Pengujian Hipotesis


Uji Parsial (uji t)
Uji Parsial (uji t) dalam analisis regresi linear berganda bertujuan untuk
mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel
dependen (Ghozali, 2016:171). Hipotesis sendiri merupakan jawaban sementara
pada rumusan masalah peneliti, dimana rumusan masalah sendiri dinyatakan
dalam bentuk kalimat pertanyaan. Berikut ini beberapa langkah untuk melakukan
pengujian hipotesis:
a. Rumusan Hipotesis
a) H0: β1=0, artinya tidak ada pengaruh dari variabel independen (X)
terhadap variabel dependen (Y).
b) HA: β1≠0, artinya terdapat pengaruh antara variabel independen (X)
terhadap variabel dependen (Y).
b. Tentukan tingkat signifikansi (α)
Tingkat signifikansi yang digunakan untuk penelitian adalah sebesar 5% atau
0,05. Berikut ini criteria untuk pengambilan keputusan atas hasil pengujian
hipotesis berdasarkan tingkat signifikansi:
a) Apabila nilai signifikansi α < 0,05 maka HA diterima. Artinya terdapat
pengaruh yang signifikan antara satu variabel independen terhadap
variabel dependen.
b) Apabila nilai signifikansi α > 0,05 maka Ha ditolak. Artinya tidak
terdapat pengaruh yang signifikan antara satu variabel independen
terhadap variabel dependen.
21

3.5.5. Uji Koefisiensi Determinasi (R2 )


Koefisien determinasi (R2 ) digunakan untuk mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali,
2016:95). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol sampai dengan satu. Nilai
R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam
menjelaskan variabel dependen sangat terbatas dengan kata lain ada variabel-
variabel diluar variabel independen yang diteliti yang mempengaruhi variabel
dependen. Nilai koefisien determinasi mendekati satu berarti variabel-variabel
independen hamper memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variabel dependennya. Kelemahan koefisien determinasi adalah bisa
terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap
penambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak
memperhatikan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena
itu, banyak peneliti yang menggunakan adjusted R2 dalam mengevaluasi model
regresi yang terbaik (Ghozali, 2016:95).
Tidak seperti R2 adjusted R2 dapat naik atau turun apabila suatu variabel
independen ditambahkan ke dalam suatu model. Dalam kenyataannya, nilai
adjusted R2 dapat bernilai negatif walaupun yang dikehendaki harus bernilai
positif. Menurut Gujarati dalam Ghozali (2016:96) jika dalam uji empiris didapat
nilai adjusted R2 negatif, maka nilai adjusted R2 dianggap bernilai 0. Secara
matematis jika nilai R2 = 1, maka adjusted R2 = R2 = 1 sedangkan jika nilai R2 = 0,
maka adjusted R2 = (1-k)/(n-k). jika k>1, maka adjusted R2 akan bernilai negatif.
22

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Profil Objek Penelitian


Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan jasa telekomunikasi dan
konstruksi non bangunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun
2014 sampai 2016. Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode
purposive sampling atau pengambilan sampel dengan menggunakan kriteria
tertentu.

4.1.1. Profil Perusahaan


Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdiri dari
berbagai sektor. Bursa Efek Indonesia mencatat untuk perusahaan jasa, terdapat
sektor infrastruktur, utilitas dan jasa transportasi, dan sub sektor telekomunikasi
dan sub sektor konstruksi non bangunan. Perusahaan yang dijadikan objek dalam
penelitian ini adalah perusahaan jasa telekomunikasi dan konstruksi non
bangunan. Berikut profil perusahaan yang menjadi objek dalam penelitian ini.
1. Cardig Aero Services Tbk.
PT Cardig Aero Services, Tbk dan anak perusahaan (CAS Group atau
CAS) merupakan salah satu pemimpin industri jasa penunjang penerbangan
Indonesia, yang juga menyediakan solusi jasa boga dan pengelolaan prasarana.
Setelah merevitalisasi brand grup guna mencerminkan nilai CAS Group secara
utuh pada tahun sebelumnya, pada tahun 2014 kami menyelaraskan
pengembangan usaha dalam rangka mempersiapkan CAS untuk memacu
pertumbuhan melalui penyediaan solusi terpadu antar bidang usaha jasa
dirgantara, solusi jasa boga, serta pengelolaan prasarana.
2. Adi Sarana Armada Tbk.
Perseroan didirikan pada tanggal 17 Desember 1999 dengan nama PT
Quantum Megahtama Motor. Pada tanggal 22 Januari 2003, PT Quantum
Megahtama Motor berganti nama menjadi PT Adira Sarana Armada atau yang
dulu lebih dikenal dengan ADIRA Rent (selanjutnya disebut ASSA atau
23

Perseroan). Diawal pendirian, ASSA bergerak di bidang usaha penyewaan


kendaraan dengan jaringan nasional. Seiring dengan perubahan identitas tersebut,
Perseroan melakukan perubahan Anggaran Dasar dengan bidang kegiatan usaha
diperluas menjadi jasa penyewaan atau rental dan manajemen kendaraan dengan
pelanggan utama dari pelanggan korporasi terkemuka di Indonesia. Ekspansi
bidang usaha tersebut merupakan wujud konsistensi Perseroan terhadap
pertumbuhan industri nasional sekaligus untuk menangkap peluang baru dalam
pasar penyewaan kendaraan.
Perubahan identitas Perseroan kembali dilakukan pada tanggal 7
September 2009 melalui perubahan nama Perseroan menjadi PT Adi Sarana
Armada dengan ASSA sebagai merek dagang utama menggantikan ADIRA rent.
Transformasi identitas Perusahaan tersebut merupakan Laporan Tahunan PT Adi
Sarana Armada Tbk penguatan komitmen ASSA untuk menyediakan solusi
penyewaan kendaraan terintegrasi di tingkat nasional mulai dari jasa penyewaan
jangka panjang dan pendek, sistem pengelolaan kendaraan, pelayanan logistik
hingga penyediaan juru mudi profesional.
3. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk.
Adalah operator telekomunikasi seluler GSM pertama di Indonesia dengan
layanan pascabayarkartuHALO yang diluncurkan pada tanggal 26 Mei 1995.
Saham Telkomsel dimiliki oleh Telkom Indonesia sebesar 65% dan sisanya oleh
singtel sebesar 35%. Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Asia yang
menawarkan layanan GSM prabayar.
Telkomsel mengklaim sebagai operator telekomunikasi seluler terbesar di
Indonesia dengan 81,644 juta pelanggan per 31 Desember 2007 dan pangsa
pasar sebesar 51% per 1 Januari 2007. Jaringan Telkomsel telah mencakup 288
jaringan roaming internasional di 155 negara pada akhir tahun 2007. Telkomsel
telah menjadi operator seluler ketujuh di dunia yang mempunyai lebih dari 100
juta pelanggan dalam satu negara per Mei 2011. Saat ini Telkomsel menggelar
lebih dari 84.000 BTS yang menjangkau sekitar 98% wilayah populasi di
Indonesia. Sebagai operator selular nomor 6 terbesar di dunia dalam hal jumlah
pelanggan, Telkomsel merupakan pemimpin pasar industri telekomunikasi di
24

Indonesia yang kini dipercaya melayani lebih dari 139 juta pelanggan pada tahun
2014. Dalam upaya memandu perkembangan industri telekomunikasi selular di
Indonesia memasuki era baru layanan mobilebroadband, Telkomsel secara
konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi 3G, HSDPA, HSPA+, serta
uji coba teknologi Long Term Evolution (LTE). Kini Telkomsel
mengembangkan jaringan broadband di 100 kota besar di Indonesia. Untuk
membantu pelayanan kebutuhan pelanggan, Telkomsel kini didukung akses
callcenter 24 jam dan 430 pusat layanan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Telkomsel memiliki tiga produk GSM, yaitu simPATI (prabayar), Kartu
AS (prabayar), dan kartuHALO (pascabayar). Selain itu, Telkomsel juga
memiliki layanan internet nirkabel lewat jaringan telepon seluler, yaitu
TelkomselFlash.
4. PT Bali Towerindo Sentra Tbk.
PT. Bali Towerindo Sentra Tbk. (BALI) merupakan perusahaan yang
bergerak di bidang jasa menara dan Sharing Transmisi. Bisnis utamanya adalah
persewaan tower untuk berbagai kegunaan. Diantaranya menara Base
TransceiverStation (BTS) yang biasa digunakan oleh operator seluler. BALI
terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014 pada Papan Pengembangan.
Perusahaan didirikan pada tahun 2006 dan berpusat di Jakarta, Indonesia.
5. Inti Bangun Sejahtera Tbk.
PT Inti Bangun Sejahtera didirikan pada tahun 2006 berdasarkan Akta
Pendirian No. 7 tanggal 28 April 2006 dibuat dihadapan Yulia, S.H., Notaris di
Jakarta. Akta tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. W7-
00873.HT.01.01-TH.2006 tanggal 22 September 2006, serta telah diumumkan
dalam Berita Negara Republik Indonesia No.12 tanggal 9 September 2007,
Tambahan No.1337. Perusahaan di dirikan dengan kegiatan usaha utama dibidang
jasa penguatan sinyal dalam gedung (In-buildingserviceprovider).
Perusahaan terus meningkatkan usaha jasa penguat sinyal dalam gedung,
selain mengembangkan potensi untuk memenuhi kebutuhan Operator akan
menara. Hingga saat ini, Perusahaan telah memiliki menara builtto suit yang
25

tersebar di wilayah-wilayah strategis dan potensial, yang sebagian besar menara


berlokasi di wilayah Jawa dan Sumatera.
Pada Maret 2012, Perusahaan melakukan pelepasan atas aset yang
berhubungan dengan kegiatan usaha jasa penguat sinyal, seiring dengan fokus
Perusahaan menjadi Perusahaan penyedia menara telekomunikasi dan jaringan
infrastruktur di Indonesia. Pada April 2012, Perusahaan mengubah statusnya
menjadi Perusahaan terbuka sehingga namanya menjadi PT Inti Bangun Sejahtera
Tbk, dan sejak Agustus 2012, Perusahaan telah sukses bertransformasi menjadi
Perusahaan publik yang sahamnya dicatat dan diperdagangkan secara umum di PT
Bursa Efek Indonesia (“BEI”). Perusahaan terus berinovasi untuk
mengembangkan potensi dalam persaingan pasar penyedia menara telekomunikasi
dan jaringan infrastruktur di Indonesia.
6. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk ("TBIG") merupakan perusahaan
induk dari Tower Bersama Group. TBIG didirikan pada tahun 2004 dan sahamnya
tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tanggal 26 Oktober 2010.
Tower Bersama Group merupakan salah satu dari dua perusahaan menara
independen terbesar di Indonesia. Kegiatan usaha utama Perseroan adalah
menyewakan towerspace pada sites sebagai tempat pemasangan perangkat
telekomunikasi milik penyewa untuk transmisi sinyal berdasarkan skema
perjanjian sewa jangka panjang melalui Entitas Anak. Perseroan juga
menyediakan akses untuk operator telekomunikasi ke jaringan repeater dan IBS
milik Perseroan sehingga dapat memancarkan jaringan sistem telekomunikasi di
gedung-gedung perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan yang terletak pada
wilayah perkotaan.
7. Sarana Menara Nusantara Tbk.
PT. Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) beroperasi pada jasa investasi
dan manajemen dan menyediakan dukungan untuk layanan telekomunikasi.
TOWR mengoperasikan situs menara telekomunikasi bagi operator
telekomunikasi nirkabel di Indonesia. Situs menara TOWR terletak di Jawa,
Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. TOWR tercatat di Bursa Efek Indonesia di
26

tahun 2010 pada Papan Pengembangan. Perusahaan didirikan pada tahun 2002
dan berpusat di Kudus, Jawa Tengah, Indonesia.
8. Rukun Raharja Tbk.
PT. Rukun Raharja Tbk. (RAJA) beroperasi sebagai penyedia jasa
pelabuhan laut. RAJA mengelola dan mengoperasikan pelabuhan Bitung di
Sulawesi Utara. Perusahaan juga terlibat dalam industri real estate. RAJA tercatat
di Bursa Efek Indonesia di tahun 2006 pada Papan Pengembangan. Perusahaan
didirikan pada tahun 2006 dan berpusat di Jakarta, Indonesia.
9. Citra Marga Nusaphala Persada Tbk.
CMNP pada awal pendiriannya 13 April 1987 adalah sebuah konsorsium,
terdiri dari beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta
nasional yang bergerak di bidang infrastruktur, khususnya pengusahaan jalan tol
dan bidang terkait lainnya.
Berdirinya CMNP membuka era baru kemitraan masyarakat dan swasta
dalam pengusahaan jalan tol, melalui perannya membangun jalan tol ruas
Cawang – Tanjung Priok (NorthSouth Link/ NSL) sepanjang 19,03 km.
Keberhasilan pelaksanaan pilot proyek tersebut, membuat Pemerintah
memberikan kepercayaan kepada CMNP untuk membangun jalan tol ruas
Tanjung Priok – Jembatan Tiga/ Pluit (HarbourRoad/ HBR) sepanjang 13,93 km.
Penyelesaian ruas jalan tol NSL dan HBR sepanjang 32,96 km atau yang
dikenal dengan Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono, MSc dengan masa konsesi 31 tahun
3 bulan ini, telah memungkinkan sistem jaringan Jalan Tol Dalam Kota Jakarta
(Tomang- Cawang- Tanjung Priok – Ancol Timur – Jembatan Tiga – Pluit –
Grogol – Tomang) dapat beroperasi secara terpadu, di bawah pengelolaan
bersama PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan CMNP dengan sistem bagi hasil.
10. Nusantara Infrastructure Tbk.
PT. Nusantara Infrastructure Tbk. (META) beroperasi pada pembangunan
infrastruktur di Indonesia. META melayani kendaraan dan kapal. META memiliki
konsesi infrastruktur dibagian Barat dan Timur Indonesia yang memberikan
pertumbuhan yang berkelanjutan bagi bisnis. Aset portofolio META meliputi:
Sektor Energi, Sektor Pelabuhan, Sektor Jalan Tol, dan Sektor Air. META tercatat
27

pada Bursa Efek Indonesia di tahun 2001 pada Papan Pengembangan. Perusahaan
didirikan pada tahun 1995 dan berpusat di Jakarta, Indonesia.

4.1.2. Data Penelitian


Data penelitian yang diperoleh untuk variabel independen yaitu struktur
dewan direksi dan dewan komisaris dengan variabel dependen yaitu laba adalah
disajikan pada tabel 4.1 sampai 4.3.

Tabel 4.1
Data Dewan Direksi
KODE DEWAN DIREKSI
NO.
PERUSAHAAN 2014 2015 2016
1. CASS 4 4 4
2. ASSA 5 5 5
3. TLKM 8 8 9
4. BALI 4 4 4
5. IBST 3 3 3
6. TBIG 5 5 5
7. TOWR 5 7 7
8. RAJA 3 3 2
9. CMNP 6 6 3
10. META 4 4 4
Sumber: Data Sekunder yang diolah, (2017)

Berdasarkan data pada tabel 4.1 dapat dilihat jumlah dari anggota dewan
direksi memiliki minimum 2 Anggota dan maksimum 9 anggota dewan direksi
dan setiap tahun rata-rata tidak mengalami perubahan jumlah anggota dewan
direksi.
28

Tabel 4.2
Data Dewan Komisaris
KODE DEWAN KOMISARIS
NO
PERUSAHAAN 2014 2015 2016
1. CASS 5 5 5
2. ASSA 3 3 4
3. TLKM 7 7 7
4. BALI 3 3 3
5. IBST 3 3 3
6. TBIG 5 5 4
7. TOWR 3 3 3
8. RAJA 3 4 4
9. CMNP 4 4 4
10. META 3 3 3
Sumber: Data Sekunder yang diolah, (2017)

Berdasarkan data pada tabel 4.2 dapat dilihat keanggotaan jumlah dari
anggota dewan komisaris memiliki minimum 3 anggota dan maksimum 7 anggota
dewan komisaris dan setiap tahun rata-rata tidak mengalami perubahan jumlah
anggota dewan komisaris.

Tabel 4.3
Data Laba
NO Kode LABA (dalam ribuan rupiah)
Perusahaan 2014 2015 2016
1. CASS 269.760.085 293.571.512 296.376.558
2. ASSA 42.947.776 34.176.340 62.150.985
3. TLKM 21.446.000.000 23.317.000.000 29.172.000.000
4. BALI 89.077.835 120.797.157 196.629.742
5. IBST 231.389.628 314.894.939 444.850.966
29

6. TBIG 1.372.104.000 1.445.027.000 1.301.393.000


7. TOWR 1.098.655.000 2.964.686.000 3.042.987.000
8. RAJA 110.652.735 126.693.739 103.507.114
9. CMNP 411.081.488 453.344.149 508.516.948
10. META 152.359.970 211.031.020 220.020.814

Sumber: Data Sekunder yang diolah, (2017)

Berdasarkan data pada tabel 4.3 dapat dilihat laba pada perusahaan jasa
sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi periode 2014-2016 yang menjadi
sampel mengalami penurunan terus menerus setiap tahunnya.

4.2. Analisis Data dan Pembahasan


4.2.1. Hasil Analisis Data
1. Hasil Analisis Data Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data
penelitian yang diambil yang dilihat dari minimum, maksimum, rata-rata (mean)
dan standar deviasi. Berikut adalah hasil dari statistik deskriptif dari masing-
masing variabel dengan menggunakan IBM SPP Statistics 21.

Tabel 4.4
Hasil Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic
Dewan Direksi 30 2 9 4.73 .310 1.701
Dewan 30 3 7 3.97 .232 1.273
Komisaris
Laba 30 34176340 29172000000 2995122783.33 1361148290.620 7455316228.824
30
Valid N
(listwise)

Sumber : Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistics 21, 2017
30

Berdasarkan tabel 4.4 maka dapat diketahui statistic deskriptif dari


masing-masing variabel dengan 10 sampel (N) perusahaan jasa sektor infratruktur,
utilitas dan transportasi yang diteliti. Laba memiliki nilai terendah (minimum)
sebesar Rp34.176.340.000, nilai tertinggi (maximum) sebesar
Rp29.172.000.000.000, rata-rata (mean) sebesar Rp2.995.122.783.330 dan standar
deviasi sebesar Rp7.455.316.228.824. Mean memiliki nilai yang lebih kecil
daripada standar deviasi yaitu Rp2.995.122.783.330 < Rp7.455.316.228.824 yang
artinya sampel yang memiliki perbedaan yang relatif besar (data variatif).
Dewan direksi (X1) memiliki nilai terendah (minimum) sebesar 2, nilai
tertinggi (maximum) untuk dewan direksi sebesar 9. Rata-rata (mean) secara
keseluruhan sebesar 4,73 dan standar deviasi sebesar 1,701. Standar deviasi
memiliki nilai yang lebih kecil daripada mean yaitu 1,701 < 4,73 yang artinya
sampel yang dimiliki besarnya hampir sama antar masing-masing variabel (data
tidak variatif).
Dewan komisaris (X2) memiliki nilai terendah (minimum) sebesar 3. Nilai
tertinggi (maximum) untuk dewan komisaris sebesar 7. Sedangkan untuk rata-rata
(mean) sebesar 3,97 dan standar deviasi sebesar 1,273, mean memiliki nilai yang
lebih besar daripada standar deviasi yaitu 3,97 > 1,273 yang artinya sampel yang
dimiliki besarnya hampir sama antar masing-masing variabel (data tidak variatif).

2. Hasil Analisis Data Uji Asumsi Klasik


Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi yang
diperoleh menghasilkan estimator linear yang baik. Apabila dalam suatu model
telah memenuhi asumsi klasik, maka dapat dikatakan model tersebut sebagai
model ideal atau menghasilkan estimarot linear tidak bias yang terbaik. Asumsi-
asumsi yang harus dipenuhi dalam menyusun regresi linear agar hasilnya tidak
bias, maka harus dilakukan uji asumsi klasik diantaranya:
A. Uji normalitas
1) Uji Grafik Normal Probability Plots (P-Plots)
Uji normalitas data juga dapat dilakukan dengan memperhatikan
penyebaran data (titik) pada Normal P-Plot of Regresion Standardized Residual
31

dari variabel dependen, dimana jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan
mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti garis
diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas. Berikut adalah
hasil uji grafik normal probability plots.

Gambar 4.1
Hasil Uji Grafik Normal P-Plots
Sumber : Data Sekunder yang diolah IBM SPSS 21, 2017

Berdasarkan gambar 4.1 dapat diketahui bahwa data residual menyebar di


sekirtar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, yang berarti data
residual terdistribusi secara normal dan dikatakan model regresi ini memenuhi
asumsi klasik normalitas.
32

2) Uji Kolmogorov – Smirnov (K-S)


Uji statistic yang digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji
statistic non-parametic Kolmogorov-Smirnov (K-S). nilai Kolmogorov-Smirnov
dengan signifikasi <0.05 maka H0 ditolak dan Ha diterima atau berdistribusi tidak
normal, sedangkan jika nilai Kolmogorov-Smirnov dengan signifikasi >0.05 maka
H0 diterima dan Ha ditolak atau berdistribusi normal. Berikut adalah hasil uji
normalitas.
Tabel 4.5
Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 30

Mean .0000006
Normal Parametersa,b
Std. Deviation 3554453768.98648170
Absolute .136
Most Extreme Differences Positive .127
Negative -.136
Kolmogorov-Smirnov Z .746
Asymp. Sig. (2-tailed) .633

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Sumber : Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistics 21, 2017

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa uji Kolmogorov-Smirnov (K-


S) sebesar 0,746 dengan nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,633 > 0,05 atau nilai
signifikasi > 0,05. Dapat disimpulkan, bahwa hipotesis nol (H0) dapat diterima.
Dengan kata lain, data residual berdistribusi normal, sehingga dapat memenuhi
asumsi klasik normalitas.

B. Uji Multikolonieritas
33

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi


ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi diantara variabel beba. Dalam penelitian ini, bertujuan
untuk melihat ada tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi adalah
dengan melihat nilai tolerance dan lawannya variance inflation factor (VIF). Nilai
tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (VIF = 1/tolerance). Nilai
tolerance yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas
adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Berikut adalah
hasil uji multikolonieritas dengan menggunakan IBM SPP Statistics 21.
Tabel 4.6
Hasil Uji Multikolonieritas

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig. Collinearity
Coefficients Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
-18793767840.480 2377629127.551 - .000
(Constant)
7.904
Dewan 2008499604.878 496099184.138 .458 4.049 .000 .657 1.521
1
Direksi
Dewan 3096300628.754 662931010.172 .529 4.671 .000 .657 1.521
Komisaris
a. Dependent Variable: Laba

Sumber : Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistics 21, 2017

Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui nilai Tolerance variabel dewan


direksi 0,657 dan variabel dewan komisaris 0,657. Hasil uji multikolonieritas
menunjukkan nilai Variance Inflation Factor (VIF) variabel dewan direksi 1,521
dan dewan komisaris 1,521. Sehingga masing-masing variabel memiliki nilai
Tolerance ≤ 0,10 dan nilai VIF ≥ 10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
tidak ada multikolonieritas antar variabel independen dalam model regresi.
34

C. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pada periode t-1 (sebelumnya). Untuk mendeteksi autokorelasi menggunakan Uji
Durbin-Watson (Uji DW). Uji Durbin-Watson (Uji DW) digunakan untuk
autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya
intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lag diantara
variabel independen. Berikut adalah hasil uji autokorelasi dengan menggunakan
IBM SPSS Statistic 21.
Tabel 4.7
Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the Durbin-Watson


Square Estimate

.879a .773 .756 3683748625.557 2.276


1

a. Predictors: (Constant), Dewan Komisaris, Dewan Direksi


b. Dependent Variable: Laba

Sumber : Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistics 21, 2017
Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa model tersebut memberikan
nilai Durbin-Watson (DW) sebesar 2,276, nilai ini akan dibandingkan dengan
nilai tabel Durbin-Watson (DW) dengan menggunakan nilai signifikasi 5%
memiliki nilai du = 1,5666. Jumlah sampel (n) 10 dan jumlah variabel independen
2 (k = 2). Sehingga dapat dikatakan du (1,5666) < d (2,276) < 4 – du(4 – 1,5666 =
2,4334). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi yang
positif atau negatif.

D. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
35

lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut


heteroskedastisitas. Uji heterokedastisitas dalam penelitian ini dilakukan dengan
melihat grafik scatter plot. Untuk mengetahui ada tidaknya pola tertentu pada
grafik scatter plot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang
telah diprediksi dan sumbu X adalah residual yang telah di studentized. Jika titik-
titik menyebar secara acak serta tersebar di atas maupun di bawah angka 0 pada
sumbu Y maka dapat disimpulkan tidak terjadi heterokedastisitas. Berikut adalah
hasil uji heterokedastisitas dengan grafik scatter plot menggunakan IBM SPSS
Statistic 21.

Gambar 4.2
Grafik Scatter Plot
Sumber: Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistics 21, 2017

Berdasarkan gambar 4.2 dapat dilihat bahwa grafik scatter plot


menunjukkan titik menyebar secara acak atau tidak ada pola yang jelas serta
36

tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. dapat disimpulkan
bahwa tidak terjasi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi
dapat digunakan untuk memprediksi laba berdasarkan masukan variabel dewan
direksi dan dewan komisaris.
Selain dengan grafik scatter plot analisis dapat dilakukan dengan
menggunakan uji glejser. Uji glejser mengusulkan untuk meregresi nilai absolute
residual terhadap variabel independen. Jika probabilitas signifikansinya diatas
tingkat kepercayaan sebesar 5% maka dakan disimpulkan bahwa model regresi
tidak mengandung heterokedastisitas. Berikut adalah hasil uji heterokedastisitas
dengan uji glejser.
Tabel 4.8
Hasil Uji Heterokedastisitas dengan Uji Glejser

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.
Coefficients
B Std. Error Beta
- 1001035723.177 -.553 .585
(Constant)
553894196.906
1 Dewan Direksi -55501852.025 208868994.666 -.050 -.266 .792
Dewan 951636354.350 279108972.671 .640 3.410 .002
Komisaris
a. Dependent Variable: RES2

Sumber: Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistics 21, 2017

Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa tidak ada satupun variabel
independen yang signifikan secara statistic mempengaruhi variabel dependen nilai
absolut residual. Hal ini terlihat probabilitas signifikansinya lebih besar 5%
(0,05). Dengan demikian model regresi tidak mengandung adanya
heteroskedastisitas.
37

3. Hasil Analisis Data Uji Regresi Linear Berganda


Analisis ini dilakukan untuk membuktikan apakah ada pengaruh antara
variabel dewan direksi dan dewan komisaris terhadap laba. Berikut adalah hasil
uji Regresi Linear Berganda dengan menggunakan IBM SPSS Statistic 21.

Tabel 4.9
Hasil Uji Regresi Linear Berganda

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.
Coefficients
B Std. Error Beta
- 2377629127.551 -7.904 .000
(Constant)
18793767840.480
1 Dewan Direksi 2008499604.878 496099184.138 .458 4.049 .000
Dewan 3096300628.754 662931010.172 .529 4.671 .000
Komisaris
a. Dependent Variable: Laba

Sumber: Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistics 21, 2017

Berdasarkan tabel 4.9 dapat disusun bahwa persamaan regresi linear


berganda untuk dapat mengetahui nilai konstanta dan koefisien regresi linear
berganda. Sehingga diperoleh hasil persamaan model regresi linear berganda
sebagai berikut.

Y = -18.793.767.840.480 + 2.008.499.604.878 dewan direksi +


3.096.300.628.754 dewan komisaris + e

Persamaan tersebut diartikan sebagai berikut:


a. Nilai konstanta regresi linear berganda adalah sebesar -18.793.767.840.480
artinya jika variabel independen (dewan direksi (X1), dewan komisaris (X2))
bernilai 0 atau dianggap konstan, maka nilai variabel dependen (laba (Y))
adalah sebesar -18.793.767.840.480.
38

b. Koefisien regresi dewan direksi (X1) sebesar 2.008.499.604.878


menunjukkan bahwa jika dewan komisaris dianggap konstan serta variabel
dewan direksi mengalami kenaikan 1 satuan, maka laba akan mengalami
penurunan sebesar 2.008.499.604.878 satuan.
c. Koefisien regresi dewan komisaris (X2) sebesar 3.096.300.628.754.
Menunjukkan bahwa jika dewan direksi dianggap konstan serta variabel
dewan komisaris mengalami kenaikan 1 satuan, maka laba akan mengalami
peningkatan sebesar 3.096.300.628.754.

4. Hasil Analisis Data Uji Hipotesis


Untuk menguji hipotesis penelitian ini menggunakan uji t. uji t ini
digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen secara parsial atau masing-masing. Dalam penelitian ini variabel bebas
yang diuji adalah dewan direksi dan dewan komisaris terhadap laba. Pengambilan
keputusan pada uji t dapat dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,05. Jika nilai
signifikan < 0,05 maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel
dependen dan sebaliknya jika nilai signifikan > 0,05 maka tidak berpengaruh.
Berikut adalah hasil uji hipotesis dengan menggunakan IBM SPSS Statistic 21.

Tabel 4.10
Hasil Uji Hipotesis
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig. Collinearity
Coefficients Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
-18793767840.480 2377629127.551 - .000
(Constant)
7.904
Dewan 2008499604.878 496099184.138 .458 4.049 .000 .657 1.521
1
Direksi
Dewan 3096300628.754 662931010.172 .529 4.671 .000 .657 1.521
Komisaris
a. Dependent Variable: Laba

Sumber: Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistics 21, 2017
39

Berdasarkan tabel 4.10 dapat diartikan sebagai berikut:


1) Hipotesis pertama (H1), yaitu dewan direksi berpengaruh terhadap laba. Hasil
uji t antara dewan direksi dengan laba menunjukkan hasil signifikan sebesar
4,049 > 0,05. Oleh karena itu, H1 yang menyatakan dewan direksi
berpengaruh terhadap laba ditolak atau H0 diterima. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel dewan direksi tidak berpengaruh terhadap
variabel laba.
2) Hipotesis kedua (H2) yaitu dewan komisaris berpengaruh terhadap laba. Hasil
uji t antara dewan komisaris dengan laba menunjukkan nilai signifikan
sebesar 4,671 > 0,05. Oleh karena itu, H2 yang menyatakan dewan komisaris
berpengaruh terhadap laba ditolak atau H0 diterima. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap
variabel laba.

5. Hasil Analisis Data Koefisien Determinasi (R2)


Koefisien determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model
dalam menerapkan menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien
determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai koefisien determinasi yang kacil
berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel-variabel
independen amat terbatas. Sedangkan nilai yang mendekati satu berarti variabel-
variabel independen memberikan hamper semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen. Berikut adalah hasil analisis data
koefisien determinasi (R2)

Tabel 4.11
Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the
Estimate
40

.879a .773 .756 3683748625.557


1

a. Predictors: (Constant), Dewan Komisaris, Dewan Direksi


b. Dependent Variable: Laba

Sumber: Data Sekunder yang diolah IBM SPSS Statistic 21, 2017

Berdasarkan tabel 4.11 dapat diliat hasil analisis koefisien determinasi (R2)
menunjukkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,773. Dapat diartikan bahwa 77,3
variasi laba dapat dijelaskan oleh variabel independen yaitu dewan direksi dan
direksi komisaris. Sedangkan sisanya yaitu 22,7% (100% - 77,3% = 22,7%)
dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain diluar model.

4.2.2 Pembahasan
4.2.2.1 Pengaruh Dewan Direksi Terhadap Laba
Berdasarkan tabel 4.10 dan kriteria pengujian, dapat disimpulkan bahwa
variabel dewan direksi memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05 maka H0
ditolak. Artinya dewan direksi berpengaruh terhadap laba. Dengan demikian H1
diterima. Dewan direksi berpengaruh karena dewan direksi meningkatkan kinerja
untuk kepentingan pemegang saham dan pribadi, sehingga jika aktivitas
monitoring dari dewan direksi terhadap manajemennya baik maka laba yang
dihasilkan oleh manajemen juga meningkat. Dan sebaliknya jika dalam
menjalankan fungsinya untuk membuat dan mengendalikan keputusan manajerial
serta aktivitas monitoring atas seluruh aktivitas perusahaan termasuk didalamnya
mengawasi kualitas informasi laporan keuangan masih sangat minim dan
dimungkinkan terbentur dengan kepentingan para investor sehingga lebih
mementingkan manajemen laba dari pada laba yang dimiliki.
Hal ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Awahyuni
(2017) yang menunjukan bahwa dewan direksi tidak berpengaruh dengan laba,
tetapi konsisten dengan penelitian Yushita, dkk (2013) yang menunjukan bahwa
dewan direksi berpengaruh terhadap kualitas laba. Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa dewan direksi berpengaruh terhadap laba atau H1 diterima.
Hal ini membuktikan bahwa proporsi dewan direksi semakin besar maka semakin
41

meningkatkan manajerial laba untuk menghasilkan laba perusahaan. Dewan


direksi merupan manajemen yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan
Good Corporate Governace untuk mencapai tujuan perusahaan dan hanya
mengendalikan keputusan manajerial serta melakukan kegiatan monitoring atas
seluruh aktivitas perusahaan termasuk mengawasi kualitas laporan keuangan.

4.2.2.2 Pengaruh Dewan Komisaris Terhadap Laba

Berdasarkan tabel 4.10 dan kriteria pengujian, dapat disimpulkan bahwa


variabel dewan direksi memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05 maka H0
ditolak dan H1 diterima, artinya dewan komisaris berpengaruh terhadap kualitas
laba.
Dewan komisaris merupakan salah atu mekanisme corporate governance
yang diperlukan untuk mengurangi adanya konflik keagenan. Dewan komisaris
bertugas untuk memonitoring kinerja direksi. Berdasarkan penelitian ini dewan
komisaris berpengaruh terhadap laba, hal ini dikarenakan aktivitas monitoring
yang dilakukan dewan komisaris atas dewan direksi. Sehingga jika aktivitas
monitoring baik maka laba yang dihasilkan meningkat. Dewan komisaris tidak
dapat menjamin mekanisme pengawasan berjalan secara efektif, sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Dewan komisaris digunakan untuk memenuhi
persyaratan pendirian perusahaan dan dapat memenuhi harapan untuk dapat
meningkatkan laba.
42

BAB V
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan Dewan Direksi dan Dewan
Komisaris terhadap Laba, maka dapat diuraikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Dewan direksi berpengaruh terhadap kualitas laba.
2. Dewan komisaris berpengaruh terhadap laba.

5.2. Implikasi Penelitian


Adapun saran-saran yang dapat disampaikan peneliti berdasarkan hasil
penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Teoritis
a. Peneliti
Terpenuhinya salah satu tugas mata kuliah Corporate Governance
Program Studi Akuntansi dan menambah wawasan mengenai pengaruh
dewan direksi dan dewan komisaris terhadap laba. Hasil penelitian ini
dapat bermanfaat terutama bagi peneliti karena lebih mengerti dan
memahami mengenai pengaruh dewan direksi dan dewan komisaris
terhadap laba. Terdapat keterbatasan dalam penelitian ini yaitu periode
penelitian yang sangat singkat yaitu dari tahun 2014 sampai 2016, yang
menyebabkan sampel dalam penelitian ini sangat terbatas. Adapun
keterbatasan lainnya yaitu pada jumlah variabel independen yang hanya 2
varibel yaitu dewan direksi dan dewan komisaris.
b. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
perkembangan penelitian selanjutnya terutama dalam mata kuliah
Corporate Governance yang berkaitan dengan laba, dewan direksi dan
dewan komisaris untuk peneliti selanjutnya disarankan perlu melakukan
penelitian ulang dengan objek penelitian yang lebih luas dan periode
yang lebih panjang sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih
43

menyeluruh. Peneliti selanjutnya juga bisa menggunakan variabel lain,


seperti kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional.
2. Praktik
a. Bagi perusahaan
Untuk kebijakan suatu perusahaan sangatlah penting untuk mewaspadai
tindakan manipulasi laba pada perusahaan. Tidak jarang pihak internal
perusahaan melakukan cara yang tidak sehat dalam laporan keuangan
perusahaan untuk menarik para investor agar berinvestasi. Dalam
meningkatkan laba yang berkualitas dengan cara meningkatkan kualitas
barang dan jasa yang diperjual belikan, melakukan kreativitas dan
inovasi untuk produk yang sudah ada ataupun yang terbaru pada
perusahaan, bukan dengan memanipulasi laba pada laporan keuangannya.
b. Bagi manajemen dan calon investor
Dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi kebijakan investor
memilih perusahaan, lebih melihat pada sisi angka laba perusahaan yang
dipublikasikannya.