Anda di halaman 1dari 171

PREEKLAMSI BERAT DAN EKLAMSI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pre eklamsi berat adalah kehamilan > 20 minggu dengan tekanan darah
≥160/110 mmHg dengan proteinuria 2 gr/24 jam atau ≥+2 dipstick
Eklamsi adalah kejang pada wanita hamil dengan pre eklamsi yang
penyebab kejangnya tidak disebabkan oleh penyebab lain
TUJUAN 1. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi
(AKB) akibat pre eklamsi berat (PEB) dan eklamsi
2. Mampu mengatasi keadaan gawat darurat pada pre eklamsi dan
eklamsi
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Menerima dan menganamnese pasien dengan cepat dan tepat
2. Memeriksa tanda-tanda vital
3. Pemeriksaan kehamilan (inspeksi, palpaasi, auskultasi, dan VT bila
perlu) sesuai dengan keadaan pasien
BILA PASIEN KEJANG
1. Pasang infus RL dan drip MgSO4 (SM 40%) 6gr 20 tpm, MgSO4
20% 4gr IV pelan-pelan(5 menit)
2. Berikan oksigen 4-6 liter/menit
3. Pasang Dower Catheter (DC)
4. Isap lender dengan suction
5. Cek darah lengkap dan protein urine
6. Kolaborasi dengan dr. IGD/dr. Obgyn untuk pemberian terapi dan
tindakan selanjutnya
7. Lindungi pasien agar tidak terjadi trauma (ikat tidak terlalu kuat)
PREEKLAMSI BERAT DAN EKLAMSI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 8. Baringkan pasien pada posisi miring kiri untuk mencegah terjadinya
asfiksia. Bila perlu tindakan operasi maka siapkan pasien untuk
tindakan operasi
9. Kolaborasi dengan bidan kamar bersalin (VK) untuk perawatan
selanjutnya
10. Pindahkan pasien ke kamar bersalin dengan menggunakan tempat
tidur dan O2 bila perlu sesuai kondisi pasien
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD dan merawat pasien ini di ruang khusus
2. Merawat dan memberikan terapi lanjutan dari IGD sesuai hasil
kolaborasi bidan IGD dengan dr. Obgyn
3. Memonitor dan mencatat cairan masuk dan keluar serta
mengobservasi tanda-tanda vital pasien
4. Setelah 2 jam pemberian dosis awal SM 40%, lakukan pemeriksaan
obstetric (periksa luar dan periksa dalam), temukan nilai Bishop, dan
kolaborasi dengan dr. Obgyn jaga. Bila nilai Bishop 8, serviks
matang, lakukan amniotomi dan induksi persalinan/akselerasi
persalinan dengan 10 tpm, dinaikkan 5 tetes setiap 10 menit sampai
maksimal 40 tpm/his adekuat
5. Memonitor kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf
6. Bila diperlukan tindakan operasi maka persiapkan pasien untuk
tindakan operasi seperti ; permintaan izin tindakan medis (ITM) dan
izin tindakan bedah (ITB), permintaan darah ke PMI, dan
menghubungi petugas kamar operasi
PREEKLAMSI BERAT DAN EKLAMSI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR BIDAN RUANG NIFAS
1. Menerima pasien dari IGD, kamar bersalin dan kamar operasi
2. Memberikan perawatan lanjutan pasien post partum dan pasien post
SC
3. Memberikan terapi pada pasien post partum maupun post SC sesuai
advis dokter yang tertulis pada status pasien
4. Berkolaborasi dengan dr. Obgyn pada kasus gawat darurat yang
terjadi di ruang nifas
5. Membuat perincian biaya perawatan selama pasien dirawat
DOKTER OBGYN
1. Melakukan informed consent pada keluarga pasien tentang tindakan
yang akan dilakukan serta resiko tindakan tersebut
2. Melaksanakan tindakan medis operasi
3. Bertanggung jawab terhadap penanganan kasus tersebut
4. Konsultasi dengan konsulen terkait
5. Membuat resume saat pasien pulang atau meninggal
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Instalasi Rawat Jalan
3. Instalasi Rawat Inap
4. Kamar Bersalin
5. Kamar Operasi
6. Ruang Nifas
PENANGANAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Hipertensi dalam Kehamilan adalah tekanan darah ≥ 140/90 mmHg
sejak 5 bulan kehamilan
TUJUAN 1. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat hipertensi dalam
kehamilan (HDK)
2. Mampu mengatasi keadaan gawat darurat pada HDK maupun pre
eklamsi dan eklamsi
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


Penanganan Umum :
1. Jika pasien tidak sadar (kejang)
 Minta tolong segera mobilisasi semua tenaga yang ada dan
siapkan fasilitas gawat darurat
 Segera lakukan penilaian terhadap keadaan umum dan tanda-
tanda vital sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan dahulu
kepada keluarga
2. Jika pasien tidak bernafas / nafas dangkal
 Periksa dan bebaskan jalan nafas
 Jika tidak bernafas, mulai ventilasi dengan masker dan balon
 Intubasi jika perlu
 Jika pasien bernafas berikan oksigen 4-6 L/m
3. Jika pasien tidak sadar / koma
 Bebaskan jalan nafas
 Miringkan ke sisi kiri
 Periksa apakah ada kaku kuduk
PENANGANAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Jika pasien syok, tangani syok
 Jika pasien pendarahan, atasi pendarahan
 Jika diagnose eklamsi, tangani sesuai SOP eklamsi
Penanganan Khusus Hipertensi Dalam Kehamilan Tanpa Protein
Urine
Jika pasien datang ke IGD kebidanan pada hari dan jam kerja, maka
pasien langsung disarankan ke poli klinik Spesialis Obstetri dan
Gynekologi. Tetapi bila pasien datang pada hari sabtu, minggu / hari
libur, pasien ditangani dulu oleh dr. jaga IGD kemudian pasien dan
keluarga diberi resep dan penjelasan tentang penyakit / kondisi pasien,
selanjtnya pasien dipulangkan dan kembali ke poli spesialis keesokan
harinya.
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Intalasi Rawat Jalan
3. MR
4. Kasir
PENANGANAN PRE EKLAMSI RINGAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pre eklamsi ringan adalah keadaan dimana dijumpainya tekanan darah
≥140/90 mmHg disertai proteinuria kurang dari 3 gr/24 jam
TUJUAN 1. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) akibat pre
eklamsi (PE)
2. Mampu mengatasi keadaan gawat darurat pada pasien pre eklamsi
sehingga tidak terjadi preeklamsi berat / eklamsi
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


Jika Usia Kehamilan <37 minggu
1. Jika pasien datang ke IGD kebidanan pada hari dan jam kerja, maka
pasien langsung disarankan ke poli klinik spesialis Obstetri an
Gynekologi (rawat jalan)
2. Tetapi bila pasien datang pada hari sabtu, minggu / hari libur, pasien
ditangani dulu oleh dr.jaga IGD
3. Pantau tekanan darah, reflek, dan DJJ
4. Berikan konseling kepada pasien ddan keluarga tentang tanda-tanda
bahaya pre eklamsi dan eklamsi
5. Anjurkan lebih banyak istirahat
6. Tidak perlu diberikan obat-obatan dan perbanyak makan sayur dan
buah
7. Kemudian pasien dipulangkan dan dianjurkan kembali ke dokter
spesialis Obgyn keesokan harinya
PENANGANAN PRE EKLAMSI RINGAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 8. Tetapi jika pasien tidak memungkinkan untuk dirawat jalan, maka
bidan IGD cukup berkolaborasi dengan dr. jaga IGD selanjutnya
pasien dirawat di ruang bersalin
9. Bila perlu pasang infus sesuai advis dr.IGD
10. Petugas IGD mengantar pasien ke ruangan bersalin
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima dan melanjutkan perawatan pasien per dari IGD sesuai
hasil kolaborasi bidan dengan dr. IGD
2. Pantau tensi pasien setiap 8-12 jam, cek protein urine setiap hari
3. Tidak perlu diberikan obat-obatan
4. Tidak perlu diberi diuretic kecuali terapat oedem paru, dekompensasi
kordis dan gagal ginjal
5. Jika tekanan darah diastole normal, kolaborasi dengan dr. Obgyn
untuk memulangkan pasien
6. Beri konseling kepada pasien dan keluarga pasien tentang bahaya pre
eklamsi / eklamsi
7. Anjurkan pasien untuk control 2X seminggu di poli / puskesmas
untuk memantau tekanan darah
8. Jika tidak ada tanda—tanda perbaikan, kolaborasi dengan dr. Obgyn
untuk penanganan dan observasi kesehatan janin selanjutnya
9. Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terganggu, kolaborasi
dengan dr. Obgyn untuk pertimbangkan terminasi kehamilan
10. Jika pertumbuhan janin baik, tetapi tidak ada tanda perbaikan pada
ibu, lanjutkan perawatan sampai kehamilan aterm
PENANGANAN PRE EKLAMSI RINGAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR Jika Usia Kehamilan >37 minggu
1. Jika serviks matang, kolaborasi ddengan dr. Obgyn untuk tindakan
terminasi kehamilan, pecahkan ketuban dan induksi persalinan
dengan oksitosin/prostaglandin sesuai SPO
2. Jika serviks belum matang, kolaborasi dengan dr. Obgyn untuk
tindakan terminasi kehamilan dengan SC
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Intalasi Rawat Jalan
3. Instalasi Kamar Bersalin
4. MR
ABORTUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Abortus adalah semua kehamilan yang berakhir sebelum periode
viabilitas janin (sebelum berat janin 500 gr) atau kehamilan < 20 minggu
lengkap dari hari pertama haid terakhir
TUJUAN 1. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat abortus
2. Mampu mengatasi keadaan gawat darurat pada pasien abortus dan
syok
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Menerima dan menganamnesa pasien dengan cepat dan tepat
2. Lakukan pemeriksaan klinik (periksa tanda vital, palpasi, jika terdapat
nyeri tekan waspadai adanya KET)
3. Bila terdapat tanda syok (pucat, keringat dingin, pingsan, tekanan
darah systole <90 mmHg, nadi kecil dalam) lakukan tindakan
penanganan syok
4. Pasang infus RL
5. Jika perdarahan hebat lakukan pemeriksaan dalam dan bila porsio
terbuka lakukan eksplorasi stosel (micro kuret)
6. Pasang Dower Catheter (DC) bila perlu
7. Cek darah rutin
8. Kolaborasi dengan dr. IGD untuk pemberian terapi
9. Bila keadaan syok/septic belum teratasi, kolaborasi dengan perawat
ICU aan rawat di ruang ICU
10. Bila keadaan membaik kolaborasi dengan bidan kamar bersalin untuk
perawatan selanjutnya
ABORTUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 11. Pindahkan pasien ke kammar bersalin dengan menggunakan tempat
tidur dan O2 bila perlu sesuai kondisi pasien
DOKTER JAGA IGD
1. Melakukan pemeriksaan terhadap pasien
2. Memberika terapi
3. Berkolaborasi dengan dr. Obgyn untuk melakukan tindakan
selanjutnya
BIDAN RUANG BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Merawat dan memberikan terapi lanjutan dari IGD sesuai hasil
kolaborasi bidan IGD dengan dr. Obgyn
3. Memonitor dan mencatat cairan masuk dan keluar serta mengukur,
mencatat dan mengobservasi tanda vital pasien
4. Bila keadaan umum baik, dan perdarahan sedikit pasien dipuaskan
dan kolaborasi dengan dr. Obgyn jaga untuk tindakan kuret keesokan
harinya
5. Membuat persetujuan tindakan medik untuk tindakan kuret
6. Bila ada tanda septic/syok, KET segera kolaborasi dengan dr. Obgyn
jaga untuk tindakan lebih lanjut
7. Bila pasien anemia (Hb <10 gr%), buatkan surat pengantar dan
contoh darah ke PMI
ABORTUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR BIDAN RUANG NIFAS
1. Menerima pasien post kuret dari kamar bersalin
2. Memberikan perawatan lanjutan pasien post kuret
3. Memberikan terapi pada pasien post kuret sesuai advis dr. Obgyn
yang tertulis pada status pasien
4. Merawat pasien dengan abortus septic sebelum melakukan kuret
5. Berkolaborasi dengan dr. Obgyn jaga pada kasus gawat darurat di
ruangan nifas
6. Membuat perincian biaya perawatan selama pasien dirawat
7. Membuat kartu kontrol dan jelaskan kapan pasien harus control
DOKTER OBGYN
1. Melakukan informed consent pada keluarga pasien tentang tindakan
yang akan dilakukan serta resiko tindakan tersebut
2. Melaksanakan tindakan medic kuretase
3. Bertanggung jawab terhadap penanganan kasus tersebut
4. Membuat resume saat pasien pulang atau meninggal
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Intalasi Rawat Jalan
3. Instalasi Rawat Inap
4. Instalasi Kamar Bersalin
5. Nifas
ABORTUS IMMINENS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Abortus imminens adalah keadaan dimana perdarahan berasal dari intra
uterine sebelum umur kehamilan 20 minggu, dengan atau tanpa kolik
uterus, tanpa pengeluaran hasil konsepsi dan tanpa dilatasi serviks
TUJUAN 1. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat abortus
2. Mampu mengatasi keadaan gawat darurat pada pasien abortus dan
syok
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Menerima dan menganamnesa pasien dengan cepat dan tepat
2. Lakukan pemeriksaan klinik (periksa tanda vital, palpasi, jika terdapat
nyeri tekan waspadai adanya KET)
3. Anjurkan pasien untuk tidak melakukan aktifitas fisik berlebihan atau
hubungan seksual
4. Observasi 4-8 jam
5. Jika perdarahan berhenti, lakukan asuhan antenatal seperti biasa
6. Jika perdarahan berlanjut, pasang infus RL dan kolaborasi dengan dr.
IGD untuk pemberian drip duvadillan 3 ampul 30 tpm
7. Bila keadaan membaik, kolaborasi dengan bidan kamar bersalin
untuk perawatan selanjutnya
8. Pindahkan pasien ke kamar bersalin dengan menggunakan tempat
tidur/kursi roda sesuai keadaan pasien
ABORTUS IMMINENS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR DOKTER JAGA IGD
1. Melakukan pemeriksaan terhadap pasien
2. Memberikan terapi
3. Bila perlu berkolaborasi dengan dr. Obgyn untuk tindakan
selanjutnya
BIDAN RUANG BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Merawat dan memberikan terapi lanjutan dari IGD sesuai hasil
kolaborasi bidan IGD dengan dr. jaga IGD
3. Memonitor dan mencatat cairan masuk dan keluar serta mengukur,
mencatat dan mengobservasi tanda vital pasien
4. Bila perdarahan berlanjut, nilai kondisi janin dengan USG, dan
kolaborasi dengan dr. Obgyn bila diperlukan tindakan kuretase
5. Membuat persetujuan tindakan medik untuk tindakan kuret
6. Bila ada tanda septic/syok, KET segera kolaborasi dengan dr. Obgyn
jaga untuk tindakan lebih lanjut
DOKTER OBGYN
1. Melakukan informed consent pada keluarga pasien tentang tindakan
yang dilakukan
2. Melakukan tindakan medik kuretase
3. Bertanggung jawab terhadap penanganan kasus tersebut
4. Membuat resume saat pasien pulang atau meninggal
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Instalasi Rawat Jalan dan Instalasi Rawat Inap
3. Kamar Bersalin
4. Ruang Nifas
INDUKSI DAN AKSELERASI PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Induksi Persalinan adalah upaya melahirkan bayi demi manfaat yang
lebih baik dibandingkan melanjutkan kehamilan
TUJUAN 1. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi
(AKB)
2. Untuk mencapai his 3-5 X dalam 10 menit, lamanya >40 detik atau
his yang adekuat
3. Agar terjadinya persalinan atas indikasi waktu
4. Mencegah terjadinya persalinan lama
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Kaji ulang indikasi


2. Periksa DJJ (denyut jantung janin) teratur dan tidak ada gawat janin
3. Lakukan pemeriksaan dalam dengan menggunakan sarung tangan
DTT untuk menentukan nilai Bishop
4. Catat hasil pemeriksaan pada lembar SOAP bidan, lakukan
amniotomi
5. Bila setelah 1 jam amniotomi, his / proses persalinan tetap tidak
terjadi, kolaborasi dengan dr. Obgyn untuk tindakan induksi
persalinan sesuai advis dr. Obgyn (oksitosin 10 iu dalam cairan RL 20
tpm, atau oksitosin 5 iu dalam cairan RL dengan tetesan bertingkat
mulai dari 12 tpm kemudian dinaikkan 4 tpm setiap 15 menit sampai
tetesan maksimal 40 tpm
6. Observasi ketat DJJ setiap 15-30 menit selama induksi berlangsung,
jika terjadi gawat janin (DJJ <100 x/m atau >160 x/m) berikan
oksigen sebanyak 4-5 L/m dan posisi ibu miring ke kiri
INDUKSI DAN AKSELERASI PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 7. Jika tetap gawat janin, hentikan induksi dan segera kolaborasi dengan
dr. Obgyn jaga untuk tindakan selanjutnya (SC)
8. Jika DJJ normal (stabil), lakukan evaluasi setiap 4 jam dan catat pada
lembar partograf, dan SOAP bidan. Pantau kemajuan persalinan
sesuai partograf bila perlu kolaborasi dengan dr. Obgyn bila terjadi
gawat darurat
9. Bila persalinan tidak terjadi dalam waktu 18 jam, berikan antibiotik
cefotaxime / ceftriaxone 1 gr/IV
10. Pasang Dower Catheter (DC)
11. Jika pasien akan dilakukan SC segera siapkan ITM, ITB, darah, cukur
rambut kemaluan, cek laboratorium darah lengkap, dan
12. Kolaborasi dengan kamar operasi dan ruang nifas
UNIT TERKAIT 1. Rekam Medik
2. Kamar Bersalin
3. OK
4. Ruang Nifas
5. IGD
DIABETES MELLITUS GESTASIONAL (DMG)
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Diabetes Mellitus Gestasional adalah kadar gula pada tes pembebanan
75 gr pada kehamilan 24-30 minggu antara 140-200 mg/dl
TUJUAN 1. Mencegah komplikasi DMG pada ibu dan janin
2. Mengetahui penatalaksanaan DMG pada ibu dan bayi baru lahir
3. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi
(AKB)
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Melakukan anamnesa adanya faktor resiko Diabetes Mellitus
Gestasional
2. Melakukan pemeriksaan kehamilan daan pemeriksaan laboratorium
darah glucose tolerans test
3. Menegakkan diagnosa kebidanan
4. Berkolaborasi dengan dr jaga IGD/ dr. Obgyn sesuai diagnosa
kebidanan dan hasil pemeriksaan laboratorium glucose tolerans test
5. Berkolaborasi dengan bidan kamar bersalin sesuai hasil diagnosa
kebidanan dan hasil kolaborasi dengan dr. Obgyn serta berkolaborasi
dengan OK bila diperlukan tindakan operasi
6. Siapkan keluarga dan pasien bila diperlukan tindakan operasi
7. Berkolaborasi dengan petugas laboratorium untuk pemeriksaan darah
lengkap
DIABETES MELLITUS GESTASIONAL (DMG)
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR PORTER
Mengantar pasien ke kamar bersalin / OK
DOKTER JAGA IGD
Berkolaborasi dengan dr. Obgyn, SMF Internis dan SMF penyakit anak
DOKTER OBGYN
Memberikan advis tentang terapi dan tindakan selanjutnya bagi pasien
tersebut
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Melanjutkan terapi dan perawatan sesuai hasil kolaborasi
dokter/bidan IGD dengan dr. Obgyn
3. Mengobservasi dan mengevaluasi kemajuan persalinan
4. Menolong persalinan normal jika pasien rencana partus per vaginam
5. Siapkan alat resusitasi bayi jika ada resiko terjadi asfiksia pada bayi
6. Berkolaborasi dengan perawat perinatologi, jika terjadi asfiksia pada
bayi
7. Berkolaborasi dengan bidan ruang nifas dan OK bila diperlukan
tindakan operasi
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. Kamar Bersalin
4. Ruang Nifas
MOLA HIDATIDOSA
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Mola Hidatidosa adalah suatu proliferasi sel trofoblas yang berasal dari
kehamilan
TUJUAN 1. Mencegah komplikasi akibat mola hidatidosa
2. Segera melakukan evakuasi kavum uteri dari jaringan mola hidatidosa
3. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat mola hidatidosa
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Segera lakukan penilaian klinik, bila pasien perdarahan dan syok,
segera lakukan penanganan syok
2. Pasang infus RL, sekalian ambil sampel darah
3. Cek laboratorium lengkap
4. Buat pengantar permintaan darah ke PMI
5. Berkolaborasi dengan dr jaga IGD dan tegakkan diagnosa mola
hidatidosa
6. Keluarga diminta untuk mengurus MR dan rawat inap
7. Dokter jaga IGD berkolaborasi dengan dr. Obgyn
8. Kolaborassi dengan bidan kamar bersalin
9. Jika keadaan pasien baik, antar pasien ke kamar bersalin
PORTER
Antar pasien ke kamar bersalin dalam keadaan sudah terpasang infus RL
dan O2 jika diperlukan
MOLA HIDATIDOSA
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR DOKTER JAGA IGD
1. Berkolaborasi dengan dr. Obgyn jagaa
2. Menjelaskan tentang keadaan pasien dan tindakan yang akan
dilakukan
3. Memberikan terapi sesuai hasil kolaborasi dengan dr. Obgyn
4. Menandatangani formulir rawat inap
DOKTER OBGYN
Memberikan terapi dan tindakan selanjutnya bagi pasien tersebut
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Melanjutkan terapi dan perawatan sesuai dengan hasil kolaaborasi
dokter/bidan IGD dengan dr. Obgyn
3. Memantau dan mengevaluasi keadaan umum pasien dan membuat
SOAP dilembar SOAP bidan
4. Meminta ITM
5. Berkolaborasi dengan dr. Obgyn untuk tindakan kuretase
6. Bila diperlukan tindakan evakuasi segera, siapkan pasien untuk
tindakan evakuasi mola
7. Bila keadaan umum pasien baik, persiapkan untuk tindakan evakuasi
untuk keesokan hari
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. Kamar Bersalin
EPISIOTOMI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Episiotomi adalah insisi dari perineum untuk memudahkan persalinan
dan mencegah rupturnya perineum totalis
TUJUAN 1. Mempercepat kala II
2. Mencegah bayi asfiksia
3. Membuat panduan dan standar dalam melakukan tindakan episiotomi
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Episiotomi dilakukan bila perineum telah tipis atau kepala bayi
tampak sekitar 3-4 cm
2. Meletakkan kedua jari diantara kepala bayi dan perineum dengan
menggunakan sarung tangan steril
3. Gunakan gunting dan buat sayatan 3-4 cm medio lateral
4. Jaga perineum dengan tangan pada saat kepala bayi lahir agar insisi
tidak meluas
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. Kamar Bersalin
4. Ruang Nifas
PELAYANAN PASIEN GAWAT TIDAK DARURAT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pasien gawat tidak darurat adalah pasien yang penyakit / kondisi
kehamilannya tidak mengancam jiwa ibu dan bayinya
TUJUAN 1. Mempercepat pelayanan pasien-pasien gawat darurat kebidanan yang
datang ke IGD kebidanan
2. Memperbaiki pencatatan kasus-kasus gawat darurat dan bukan gawat
darurat
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Semua pasien yang datang ke IGD di triase oleh dokter/bidan jaga
IGD, apakah masuk kasus gawat darurat atau bukan
2. Pasien tidak gawat tidak darurat yang datang pada jam kerja / jam
poliklinik, diarahkan ke poliklinik dokter spesialis
3. Paada hari libur / minggu dan diluar jam poliklinik dan pasien tidak
gawat darurat, dapat dilayani dokter jaga IGD tetapi prioritas terakhir
4. Pasien yang tidak gawat darurat yang sudah diperiksa dr IGD dan
harus dirawat maka petugas menganjurkan keluarga pasien ke
medical record untuk mengambil status rawat inap dan petugas IGD
mengantar pasien ke ruangan
PELAYANAN PASIEN GAWAT TIDAK DARURAT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 5. Bila pasien tidak perlu dirawat maka dr IGD memberikan resep dan
menjelaskan mengenai penyakit / kondisi ibu dan bayi kepada pasien
/ keluarga serta di anjurkan control ke poliklinik
6. Pasien yang tidak gawat darurat yang sudah dilayani di IGD, dicatat
di register, biaya administrasi di urus di kasir bila pasien umum, jika
pasien peserta jaminan social / askes harus melampirkan fotokopi
kartu askes / syarat-syarat peserta jaminan social
UNIT TERKAIT 1. MR
2. Instalasi Rawat Jalan
3. IGD
4. Ruang Nifas
5. Kamar Bersalin
SYOK OBSTETRI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Syok Obstetri adalah kegagalan system sirkulasi dalam
mempertahankan aliran yang adekuat pada organ vital, sehingga timbul
anoksia jaringan sehingga dapat mengancam keselamatan jiwa pasien
TUJUAN 1. Mampu mengatasi keadaan gawat darurat pada syok
2. Memperbaiki kondisi pasien, serta memperbaiki sirkulasi volume
cairan
3. Mengurangi angka kematian ibu akibat syok
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN Jaga / dr. Jaga IGD


1. Lakukan pemeriksaan umum dan khusus
2. Kolaborasi dengan dr. jaga IGD / dr. Obgyn jaga
3. Menstabilkan kondisi pasien :
 Pada kasus perdarahan 20-30 menit setelah penanganan awal,
kesadaran membaik, tekanan sistol meningkat, dan produksi urine
> 30 ml/jam
 Pada kasus septik syok setelah 20-30 menit penanganan awal,
kesadaran membaik, pernafasan normal, orientasi pada
lingkungan baik dan urine > 30 ml/jam
SYOK OBSTETRI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 4. Memperbaiki volume dan sirkulasi darah
5. Mencari penyebab syok dan memberi pengobatan yang efisien
6. Kolaborasi dengan bidan kamar bersalin / bidan ruang nifas
PEKARYA / PORTER
Mengantar pasien dalam kondisi berinfus, oksigen tetap dipasang bila
perlu di damping perawat / bidan
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Melanjutkan terapi sesuai hasil kolaborasi dr. jaga / bidan jaga IGD
dengan dr. Obgyn
3. Melakukan pemeriksaan obstetri lebih lanjut (jika dicurigai plasenta
previa jangan lakukan pemeriksaan dalam)
4. Membuat diagnosa obstetri dan segera berkolaborasi dengan dr.
Obgyn jaga untuk tindak selanjutnya atau bila ada kasus gawat
darurat di ruangan
BIDAN RUANG NIFAS
Melanjutkan perawatan pasien di ruangan sampai pasien dinyatakan
sembuh dan boleh pulang. Membuat perincian biaya pasien pulang dan
menyeraahkannya ke kasir
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Kamar Bersalin
3. Ruang Nifas
4. MR
5. Kasir
PENERIMAAN PASIEN GAWAT DARURAT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Penerimaan pasien gawat darurat adalah suatu proses penerimaan
pasien gawat darurat kebidanan yang dilakukan dengan cepat dan tepat
TUJUAN Sebagai acuan untuk melayani pasien gawat darurat kebidanan pada saat
masuk IGD
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Penyediaan formulir rekam medic gawat darurat yang sudah


bernomor khusus yang bersatu dengan rekam medic
2. Setelah pasien di triase untuk masuk IGD dilakukan pemeriksaan
oleh dokter IGD
3. Pada pasien yang perlu dirawat menurut dr. jaga IGD tetapi tidak
gawat darurat pasien langsung masuk ruangan, dan diberi tindakan
sesuai SOP ruangan
4. Pada pasien yang tidak sadar / gawat darurat (eklamsi, syok, KET,
tidak sadar / koma, sepsis) dilakukan Allo anamneses diberi tindakan
sesuai SOP dan dr. IGD / bidan berkolaborasi dulu dengan dr. Obgyn
/ spesialis lain setelah keadaan umum pasien stabil baru masuk
ruangan
PENERIMAAN PASIEN GAWAT DARURAT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 5. Tetapi jika sudah beberapa kali (>3 X) dr. spesialisnya tidak bisa
dihubungi dan menurut dr. IGD kondisi pasien stabil bisa dimasukkan
ruangan maka pasien boleh di pindahkan ke ruangan dan ruangan
yang selanjutnya berkolaborasi dengan dr. spesialisnya
6. Catat identitas pasien pada formulir rekam medik
7. Pembayaran dilakukan setelah semua pelayanan dilakukan
UNIT TERKAIT 1. Rekam Medik
2. Kasir
3. IGD
4. Kamar Bersalin
5. Ruang Nifas / Instalasi Rawat Inap
PERDARAHAN PASCA PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Perdarahan Pasca Persalinan (hemoraghia post partum / HPP)
adalah perdarahan > 500 cc yang terjadi setelah proses persalinan
TUJUAN 1. Untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat perdarahan post
partum
2. Mampu mengatasi keaadaan gawat darurat pada HPP
3. Menstabilkan kondisi psien, dan memberikan terapi yang optimal
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Segera perbaiki keadaan umum pasien, evaluasi cepat. Jika terjadi
syok lakukan peanganan syok
2. Periksa jumlah darah yang hilang
3. Cari sebab perdarahan
4. Jika kontraksi uterus lembek (atonia) :
 Keluarkan bekuan darah
 Dan kemungkinan sisa plasenta
 Massage uterus
 Kosongkan kandung kemih kalau perlu pasang dower catheter
(DC)
 Drip syntosinon 1-2 ampul dalam 500 ml RL
 Misoprostol 2 tab per rektal sambil terus memijat / memasase
uterus
 Jika menolong dan tekanan darah nomal beri ergometrin 0,2 mg
IM / IV
PERDARAHAN PASCA PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 5. Jika perdarahan terus berlangsung segeraa berkolaborasi dengan dr.
Obgyn sambil melakukan kompresi bimanual internal / kompresi
aorta abdominal
6. Jika tidak berhasil juga kolaborasi dengan dr. Obgyn siapkan pasien
dan keluarga untuk tindakan histerektomi
7. Jika karena robekan jalan lahir lakukan heacting / penjahitan
8. Jika karena retensio lakukan manual plasent
9. Cek laboratorium HB dan BT, CT, ambil contoh darah dan buat
pengantar permintaan darah ke PMI
10. Kolaborasi dengan dr. jaga Obgyn, petugas OK dan bidan ruang nifas
DOKTER JAGA IGD
1. Memeriksa dan memberikan terapi pada pasien
2. Meminta informed consent
3. Berkolaborasi dengan dr. jaga Obgyn
PORTIR
Mengantar pasien ke ruangan dalam keadaan terpasang infus, dan
oksigen bila perlu
PERDARAHAN PASCA PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR BIDAN RUANG NIFAS
1. Menerima pasien dari IGD
2. Memberi perawatan dan terapi lanjutan dari IGD
3. Mengambil hasil lab, jika Hb < 10 gr% segera membuat permintaan
darah ke PMI untuk transfusi darah
4. Meminta persetujuan tranfusi kepada keluarga / pasien
5. Membuat perincian biaya pasien selama dirawat
6. Memberikan konseling kepada pasien sesuai kebutuhan pasien
7. Memberi kartu control dan menjelaskan kapan pasien harus kembali
kontrol ke dokter
UNIT TERKAIT 1. Rekam Medik
2. Kasir
3. Instalasi Rawat Inap
4. IGD
PENANGANAN HPP KARENA SISA PLASENTA
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Perdarahan Post Partum perdarahan pervaginam yang melebihi 500 cc
psa persalinan (hemoraghia post partum / HPP) karena plasenta lahir
tidak lengkap (sisa plasenta)
TUJUAN 1. Untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat perdarahan post
partum
2. Mampu mengatasi keaadaan gawat darurat pada HPP / sisa plasenta
3. Menstabilkan kondisi pasien, dan memberikan terapi yang optimal
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Segera perbaiki keadaan umum pasien, evaluasi cepat. Jika terjadi
syok lakukan penanganan syok
2. Periksa jumlah darah yang hilang
3. Cari sebab perdarahan
4. Jika kemungkinan karena sisa plasenta :
 Lakukan pemeriksaaan dalam dengan menggunakan sarung
tangan panjang DTT
 Jika porsi masih terbuka, masukkan tangan ke dalam kavum uteri
dan raba bagian dalam uterus untuk mencari sisa plasenta
 Eksplorasi manual uterus menggunakan tenknik manual plasenta
 Keluarkan sisa plasenta dengan menggunakan tangan
 Infus drip oksitosin 10 iu 30 tpm
5. Cek laboratorium HB dan BT, CT, ambil contoh darah dan buatkan
pengantar permintaan darah ke PMI
6. Keadaan umum membaik pindahkan pasien ke ruang perawatan (RN)
PENANGANAN HPP KARENA SISA PLASENTA
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 7. Jika porsio sudah menutup kolaborasi dengan dokter jaga IGD, bidan
kamar bersalin untuk memindahkan pasien ke kamar bersalin, untuk
persiapan kuret yang akan dilakukan oleh dr. Obgyn
DOKTER JAGA IGD
1. Memeriksa dan memberikan terapi pada paien
2. Meminta informed consent
3. Berkolaborasi dengan dr. jaga Obgyn
PORTIR
Mengantar pasien ke ruangan dalam keadaan terpasang infus, dan
oksigen bila perlu
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Melanjutkan terapi dari IGD
3. Kolaborasi dengan dr. Obgyn jika ddiperlukan tindakan kuret
4. Meminta ITM
5. Menyiapkan alat, obat dan pasien untuk tindakan kuret
PENANGANAN HPP KARENA SISA PLASENTA
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR BIDAN RUANG NIFAS
1. Menerima pasien dari IGD
2. Memberi perawatan dan terapi lanjutan dari IGD
3. Mengambil hasil lab, jika Hb < 8 gr% segera membuat permintaan
darah ke PMI untuk transfusi darah
4. Meminta persetujuan transfusi kepada keluarga / pasien
5. Membuat perincian biaya pasien selama dirawat
6. Memberikan konseling kepada pasien sesuai kebutuhan pasien
7. Memberi kartu kontrol dan menjelaskan kapan pasien harus kembali
kontrol ke dokter
UNIT TERKAIT 1. Rekam Medik
2. Kasir
3. Instalasi Rawat Inap
4. IGD
KOMPRESI BIMANUAL INTERNA
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Kompresi Bimanual Interna adalah suat tindakan untuk mengontrol
dengan segera perdarahan post partum dengan menggunakan tangan
penolong
TUJUAN 1. Untuk menghentikan perdarahan post partum (HPP)
2. Untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat perdarahan post
partum
3. Mampu mengatasi keaadaan gawat darurat pada HPP / atonia uteri
4. Menstabilkan kondisi pasien, dan memberikan penanganan yang
optimal
KEBIJAKAN

PROSEDUR DOKTER, BIDAN JAGA IGD dan BIDAN KAMAR BERSALIN


1. Kaji ulang indikasi
2. Beri dukungan moril
3. Minta ITM
4. Pasang infus + oksitosin 10 iu 30 tpm
5. Cegah infeksi sebelum tindakan
6. Masukkan tangan kedalam lumen vagina, ubah menjadi kepalan, dan
letakkan dataran punggung jari telunjuk hingga mengelilingi porniks
anterior dan dorong segmen bawah uterus ke kranio-anterior
7. Upayakan tangan luar mencakup bagian belakang korpus uteri
sebanyak mungkin
KOMPRESI BIMANUAL INTERNA
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 8. Lakukan kompresi uterus dengan meletakkan telapak tangan luar
dengan kepalan tangan dalam
9. Tetap berikan tekanan sampai perdarahan berheenti dan uterus
berkontraksi dengan baik
10. Setelah uterus berkontraksi dengan baik lepaskan tangan secara
perlahan
11. Observasi KU pasien, jika baik pindahkan ke ruang perawatan
12. Kolaborasi dengan bidan ruang nifas
DOKTER JAGA IGD
1. Memeriksa dan memberikan terapi, dan menjelaskan kondisi pasien
pada keluarga
2. Meminta informed consent
3. Berkolaborasi dengan dokter jaga Obgyn
PORTIR
Mengantar pasien ke ruangan dalamkeadaan terpasang infus, dan oksigen
bila perlu
KOMPRESI BIMANUAL INTERNA
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR BIDAN RUANG NIFAS
1. Menerima pasien dari IGD
2. Memberi perawatan dan terapi lanjutan dari IGD
3. Mengambil hasil lab, jika Hb < 8 gr% segera membuat permintaan
darah ke PMI untuk transfusi darah
4. Meminta persetujuan transfusi kepada keluarga / pasien
5. Membuat perincian biaya pasien selama dirawat
6. Memberikan konseling kepada pasien sesuai kebutuhan pasien
7. Memberi kartu kontrol dan menjelaskan kapan pasien harus kembali
kontrol ke dokter
UNIT TERKAIT 1. Rekam Medik
2. Kasir
3. Instalasi Rawat Inap
4. IGD
TINDAKAN EKSTRAKSI VAKUM
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Tindakan Vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk
mempercepat kala II dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi
pada bayi
TUJUAN 1. Mempercepat kala II pada ibu yang sudah tidak mampu mengedan
2. Menurunkan angka kesakitan ibu akibat infeksi dan kecacatan pada
kala II lama
3. Menurunkan angka kematian bayi (AKB) akibat asfiksia karena kala
II lama
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN JAGA IGD


1. Kaji ulang indikasi
2. Beri dukungan moril
3. Pasang infus jika pasien perlu di infus
4. Ambil darah untuk cek HB, BT, CT dan contoh darah untuk ke PMI
5. Kolaborasi dengan dokter IGD dan Obgyn
6. Kolaborasi dengan bidan kamar bersalin
7. Pindahkan pasien ke kamar bersalin dengan menggunakan brancart
TINDAKAN EKSTRAKSI VAKUM
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR DOKTER JAGA IGD
1. Memeriksa dan memberikan terapi, dan menjelaskan kondisi pasien
pada keluarga
2. Meminta informed consent
3. Berkolaborasi dengan dokter jaga Obgyn
PORTIR
Mengantar pasien ke ruangan dalamkeadaan terpasang infus, dan oksigen
bil perlu
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Minta ITM
3. Siapkan pasien :
 Siapkan ibu posisi litotomi
 Perut bawah dan lipatan paha dibersihkan dengan sabun
 Pasang kain bersih di bawah bokong pasien
4. Siapkan alat vakum
5. Siapkan obat-obatan :
 Oksitosin / Syntosinon
 Ergometrin / Metergin 0,1 mg
 Spuit 3 ml 3 buah
 Lidocain
 Larutan antiseptic / betadin
TINDAKAN EKSTRAKSI VAKUM
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 6. Siapkan alat partus set, heacting set dan kateter
7. Sapkan lampu sorot
8. Suction bayi
9. Alat resusitasi bayi
10. Obat-obatan untuk bayi (neo-k, tetes mata, bicnat, epineprin,
antibiotic dll)
DOKTER OBGYN
1. Kaji ulang dengan syarat :
 Presentasi belakang kepala
 Janin cukup bulan
 Pembukaan lengkap
 Kepala di Hodge III-IV
2. Pencegahan infeksi
3. Periksa dalam untuk menilai posisi kepala bayi dengan meraba sutura
sagitalis dan ubun-ubun kecil / posterior
4. Nilai apakah diperlukan episiotomi, atau tidak perlu dilakukan
episiotomi
5. Pastikan tidak ada vagina / porsio yang terjepit
6. Pompa hingga tekanan skala 10 (silastik) atau negatif -0,2 kg/cm2
(malmstorm) dan periksa aplikasi mangkuk, minta asisten
menurunkan tekanan secara bertahap
7. Setelah 2 menit naikkan hingga skala 60 (silastik) atau negatif -0,6
kg/cm2 (malmstorm), periksa aplikasi mangkuk tunggu 2 menit lagi
8. Periksa apakah ada jaringan vagina yang terjepit, jika ada turunkan
tekanan, dan lepaskan jaringan yang terjepit tersebut
TINDAKAN EKSTRAKSI VAKUM
No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 9. Setelah mencapai tekanan yang maksimal, lakukan traksi searah
dengan sumbu panggul dan tegak lurus dengan mangkok
10. Tarikan dilakukan pada puncak his, dengan mengikuti sumbu jalan
lahir, pada saat penarikan (pada puncak his) minta pasien untuk
meneran
11. Tarikan bisa diulangi sampai 3 X saja
12. Lakukan pemeriksaan DJJ dan aplikasi mangkok diantara his
13. Saat oksiput sudah berada di simpisis, lakukan tarikan kearah atas
hingga lahirlah berturut-turut dahi. Muka dan dagu. Segera lepaskan
mangkok vakum dengan membuka tekanan negatif
14. Selanjutnya lahirkan bayi dan palsenta seperti persalinan normal
15. Eksplorasi jalan lahir dan periksa robekan jalan lahir
16. Lakukan penjahitan jalan lahir
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Observasi TTV, kontraksi uterus dan perdarahan
2. Setelah 2 jam dan KU pasien baik pindahkan ke ruang perawatan
3. Kolaborasi dengan bidan ruang nifas
TINDAKAN EKSTRAKSI VAKUM
No. Dokumen No. Revisi Halaman

5/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR BIDAN RUANG NIFAS
1. Menerima pasien dari IGD
2. Memberi perawatan dan terapi lanjutan dari IGD
3. Mengambil hasil lab, jika Hb < 10 gr%, segera membuat permintaan
darah ke PMI untuk transfusi darah
4. Meminta persetujuan transfusi kepada keluarga / pasien
5. Membuat perincian biaya pasien selama dirawat
6. Memberikan konseling kepada pasien sesuai kebutuhan pasien
7. Memberi kartu kontrol dan menjelaskan kapan pasien harus kembali
kontrol ke dokter
UNIT TERKAIT 1. Rekam Medik
2. Kamar Bersalin
3. Instalasi Rawat Inap / Ruang Nifas
4. IGD
TINDAKAN KURETASE
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Tindakan Kuretase adalah proses pengeluaran dan pelepasan jaringan
yang melekat pada kavum uteri dengan melakukan infasi dan manipulasi
menggunakan alat kuret / AVM atau suction kedalam kavum uteri
TUJUAN 1. Mengeluarkan sisa konsepsi pada abortus inkompletus, sisa plasenta
2. Pada hiperplasi / biopsi endometrium, untuk terapi perdarahan dan
pemeriksaan patologi anatomi
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN KAMAR BERSALIN


1. Melakukan persiapan bila keadaan ibu baik pasien di anjurkan
berkemih dan vulva hygiene
2. Baringkan pasien pada posisi litotomi
3. Pasang kain alas bokong pada penutup perut atas
4. Berikan anastesi sesuai advis dokter
5. Pasang tensi dan observasi pernafasan
6. Siapkan alat kuretase :
 AVM
 Tang kuretase kecil-sedang / suction
 Tenakulum
 Spekulum cocor bebek / sim
 Klem ovum / Fenster klem
 Cunam abortus
 Tampontang
 Sonde uterus
 Dilatator uterus (bila perlu), dan
TINDAKAN KURETASE

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Mangkok logam untuk jaringan
7. Alat-alat lain :
 Lampu sorot, alat resusitasi (Ambu bag),oksigen
 Kain kasa 2-5 lembar
 Disposable 10 ml, 5 ml, dan 3 ml
 Obat-obatan : Analgetik tramadol, sedative, diazepam, anti
emetik, metoclopramide, ketamine / ketalar, sulfas atropine
DOKTER OBGYN
1. Gunakan masker, apron, topi, dan baju tindakan
2. Cuci tangan di air mengalir dengan menggunakan sabun
3. Pasang sarung tangan DTT dan sepatu boat / alas kaki tertutup
4. Beri tahu pasien bahwa tindakan akan dimulai
5. Bersihkan vulva, perineum dan 1/3 luar vagina dengan aantiseptik
betadine
6. Pasang speculum sim
7. Bersihkan servik dan dinding vagina menggunakan tampon tang
dengan larutan betadine, serta keluarkan gumpalan darah sehingga
tampak OUE
8. Jepit bibir atas servik dengan tenakulum pada posisi jam 1, pegang
tenakulum dengan tangan kiri
9. Keluarkan jaringan konsepsi dengan cunam abortus sebanyak-
banyaknya dengan memperhatikan kontraksi uterus
10. Dilanjutkan dengan tindakan kuretase dengan sendok kuretase yang
di inginkan
11. Setelah yakin bersih lakukan dekontaminasi alat dan cuci tangan
12. Pemantauan pasien pasca tindakan dan membuat laporan rekam
medic
TINDAKAN KURETASE
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Kamar Bersalin
3. MR
TINDAKAN PENJAHITAN PERINEUM TINGKAT III
DAN IV
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Robekan perineum dibagi atas IV Tingkat
1. Tingkat I : Robekan hanya terjadi pada selaput lender vagina dengan
atau tanpa mengenai kulit perineum
2. Tingkat II : Robekan mengenai selaput lender vagina dan otot
transversalis tetapi tidak mengenai otot sfinter ani
3. Tingkat III : Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfinter
ani
4. Tingkat IV : Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfinter
ani dan mukosa rektum
TUJUAN 1. Membuat panduan dan standar penanganan robekan perineum dengan
pencegahan infeksi
2. Robekan perineum tingkat I dan II dapat dilakukan oleh bidan
sedangkan robekan tingkat II dan IV dilakukan oleh dokter Obgyn
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN IGD


1. Lakukan pemeriksaan umum dan khusus
2. Periksa tingkat robekan perineum
3. Bila perlu pasang infus
4. Siapkan alat
5. Bila perlu gunakan anastesi local
TINDAKAN PENJAHITAN PERINEUM TINGKAT III
DAN IV
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 6. Lakukan penjahitan robekan perineum Tingkat I dan II caranya :
 Lakukan desinfeksi dengan larutan antiseptic pada daerah
episiotomi
 Jahit mukosa vagina secara jelujur dengan catgut kromik 2-0
 Mulai kira-kira 1 cm di atas puncak episiotomi sampai batas
vagina
 Jahit otot perineum dengan benang 2-0 secara interuptus
 Jahit kulit secara interuptus atau subkutikuler dengan benang 2-0
7. Jika robekan perineum tingkat III dan IV kolaborasi dengan dokter
Obgyn untuk melakukan tindakan heacting perineum
BIDAN RUANG NIFAS
1. Menerima pasien dari IGD
2. Melanjutkan perawatan dan terapi dari IGD sesuai advis dokter
3. Bila perlu transfusi darah
4. Memberikan konseling personal hygiene kepada pasien
5. Membuat perrincian biaya pasien selama di rawat
6. Membuat kartu kontrol dan menjelaskan kepada pasien kapan harus
kontrol kembali ke dokter
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. Instalasi Rawat Inap / Ruang Nifas
PLASENTA MANUAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Plasenta Manual adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat
implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum
uteri menggunakan tangan penolong
TUJUAN 1. Melahirkan plasenta
2. Mencegah perdarahan post partum
3. Menurunkan angka kematian ibu (AKI)
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Kaji ulang indikasi


2. Persetujuan tindakan medic
3. Kolaborasi dengan dokter IGD / dr. Obgyn untuk pemberian sedatif
dan analgetik (Pethidin dan diazepam IV)
4. Beri antibiotik
5. Pasang sarung tangan DTT
6. Jepit tali pusat dengan kokher dan tegangkan sejajar lantai
7. Masukkan tangan secara obstetrik dengan menelusuri bagian bawah
tali pusat
8. Tangan sebelah menelusuri tali pusat masuk ke dalam kavum uteri,
sementara itu tangan yang sebelah lagi menahan fundus uteri
sekaligus untuk mencegah inversio uteri
9. Dengan bagian lateral jari-jari tangan di cari insersi pinggir plasenta
10. Buka tangan obsstetrik menjadi seperti memberi salam, jari-jari
dirapatkan
11. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling
bawah
PLASENTA MANUAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 12. Gerakkan tangan kanan ke kiri dan ke kanan sambil bergeser ke
kranial, sehingga semua permukaan plasenta dapat dilepaskan
13. Jika plasenta tidak dapat dilepaskan, kemungkinan plasenta akreta
maka segera siapkan segera kolaborasi dengan dr. Obgyn untuk
persiapan laparotomi
14. Pegang plasenta dan keluarkan tangan bersama plasenta
15. Pindahkan tangan luar ke supra simpisis untuk menahan uterus saat
plasenta dikeluarkan
16. Eksplorasi untuk memastikan tidak ada plasenta yang tersisa di dalam
uterus
17. Beri oksitosin 10 iu dalam 500 ml cairan RL IV dan massase uterus
untuk merangsang kontraksi
18. Jika perdarahan masih banyak dan TD normal beri ergometrin 0,2 mg
IM, atau misoprostol 2 tab per rektal
19. Periksa apakah plasenta lengkap atau tidak, jika tidak lengkap
lakukan eksplorasi ke dalam kavum uteri
20. Periksa dan perbaiki robekan jalan lahir
21. Observasi ketat TTV, kontraksi uterus dan perdarahan. Cek Hb bila <
8 gr% berikan transfusi darah
22. Catat semua tindakan pada lembar SOAP bidan
23. Kolaborasi dengan ruang nifas dan pindahkan pasien ke ruangan nifas
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Ruang Bersalin
3. Ruang Nifas
4. MR
PERBAIKAN ROBEKAN SERVIKS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Perbaikan Robekan Serviks adalah suatu tindakan penjahitan pada
serviks yang rupture
TUJUAN 1. Mencegah perdarahan post partum yang disebabkan robekan serviks
2. Menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat HPP
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Kaji ulang indikasi


2. Ijin tindakan medik
3. Jika perlu pasang infus
4. Siapkan alat
5. Pakai sarung tangan DTT
6. Buka serviks dengan menggunakan speculum sims
7. Asisten menahan fundus
8. Bibir serviks dijepit dengan klem ovum, pindahkan klem secara
bergantian searah jarum jam sehingga seluruh serviks dapat diperiksa,
pada bagian serviks yang robek lalu pasang 2 klem di antara robekan
9. Jahit serviks dengan catgut chromic 2-0 secara jelujur mulai dari
apeks
10. Jika sulit dicapai dan diikat apeks dapat di coba jepit dengan klem
ovum / klem arteri dan dibiarkan 4 jam, setelah 4 jam klem dilepas
sebagian saja, 4 jam kemudian klem dilepas seluruhnya
11. Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina. Lakukan
laparotomy
PERBAIKAN ROBEKAN SERVIKS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
UNIT TERKAIT 1. MR
2. Ruang Nifas
3. IGD
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pemeriksaan Ginekologi adalah pemeriksaan yang dilakukan secara
bimanual untuk mengetahui organ genetalia. Pemeriksaan ini lebih focus
pada penampilan genetalia eksterna, adneksa, parametrium, dan organ
dalam kavum pelvik
TUJUAN 1. Untuk mengetahui bentuk, arah, besar dan konsisten uterus
2. Untuk mengetahui keadaan adneksa dan perimetrium
3. Untuk mengetahui kehamilan intra atau ekstra uterin
4. Konfirmasi adanya perdarahan pervaginam, infeksi, flour albus,
kanker, tumor dll
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Minta persetujuan tindakan medis


2. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang prosedur, tujuan
pemeriksaan, efek dari pemeriksaan (ada perasaan tidak nyaman,
tetapi tidak menimbulkan gangguan pada kandungan ibu)
3. Pastikan pasien dan keluarga mengerti dan menyetujui secara lisan
untuk dilakukan pemeriksaan
4. Persiapan bahan dan alat
 Pasien dianjurkan untuk BAK, lepaskan pakaian dalam,
persilahkan baring di meja ginekologi dengan posisi litotomi
 Kapas dan larutan antiseptik betadin
 Spekulum cocor bebek
 Lampu sorot
 Sarung tangan steril / DTT
 Apron
 Lap tangan / handuk kering
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 5. Pemeriksaan
 Cuci tangan dengan air mengalir kemudian keringkan
 Pakai sarung tangan steril / DTT
 Pemeriksa duduk pada kursi yang telah tersedia
 Beri tahu pasien
 Usap vagina, vulva dan perineum menggunakan larutan antiseptik
 Lakukan pemeriksaan secara inspeksi pada daerah vagina dan
perineum
 Buka celah antara kedua labia mayor kanan dan kiri, perhatikan
muara uretra dan introitus vagina
 Raba dan telusuri kedua labia mayor kanan kiri menggunakan jari
telunjuk kiri, lalu masukkan spekulum secara hati-hati dengan
tangan kanan sejajar introitus vagina
 Setelah spekulum masuk 1/2, lalu putar 90 derajat sehingga
tangkainya kea rah bawah lalu tekan pengungkit spekulum hingga
tampak lumen vagina dan serviks
 Perhatikan secara seksama apakah ada kelainan atau tidak
 Setelah periksa secara inspeksi selesai, keluarkan spekulum dan
rendam spekulum ke dalam larutan klorin 0,5 %
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Pemeriksa lalu berdiri kemudian lakukan pemeriksaan dengan
cara :
 Colok vagina dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan
kanan
 Tentukan besar, arah dan konsisten keadaan perimetrium dan
tanda Hegar
 Tangan kiri menahan uterus di atas simpisis
 Lalu lepaskan tangan yang di dalam vagina dan tangan kiri
yang di atas simpisis
 Bersihkan vulva dengan larutan antisepttik
 Beri tahu pasien bahwa pemeriksaan telah selesai
6. Pencegahan Infeksi
 Kumpulkan dan rendam semua peralatan yang telah dipakai ke
dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit
 Masukkan semua bahan habis pakai ke dalam tempat sampah
yang telah tersedia
 Masukkan tangan dan cuci ke dalam larutan klorin, setelah itu
lepas dan rendam sarung tangan ke dalam larutan klorin
 Cuci tangan dengan menggunakan sabun dibawah air mengalir
dan keringkan dengan lap / handuk kering dan bersih
7. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien dan keluarga
8. Kolaborasi dengan dr. IGD / dr. Obgyn
9. Bila perlu kolaborasi dengan petugas laboratorium, VK, poli Obgyn
dan ruang nifas
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. Instalasi Rawat Jalan
4. Laboratorium
5. Ruang Nifas
6. Kamar Bersalin
PERSALINAN NORMAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Persalinan Normal adalah proses keluarnya bayi, plasenta dan selaput
ketuban dari rahim ibu pada usia kehamilan 37 minggu atau lebih tanpa
disertai adanya penyulit
TUJUAN 1. Petugas / bidan RS mampu menyiapkan ruangan dan menolong
persalinan normal
2. Menyiapkan semua perlengkapan bahan, alat dan obat-obatan yang
esensial
3. Petugas / bidan mampu memberikan pelayanan asuhan saying ibu
selama persalinan
4. Melakukan pencegahan infeksi
5. Menurunkan angka kematian ibu dan bayi (AKI & AKB)
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN IGD


1. Melakukan anamnese singkat, dan pemeriksaan kehamilan pada ibu
hamil dengan tanda-tanda inpartu (inspeksi, palpasi, VT dan TTV)
2. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang hasil pemeriksaan
dan tindakan yang akan dilakukan
3. Berkolaborasi dengan dr. jaga
4. Menganjurkan keluarga untuk mendaftarkan pasien mengambil rawat
inap di MR
5. Berkolaborasi dengan bidan / petugas kamar bersalin, jika ada tempat
di kamar bersalin, pasien di antarkan ke kamar bersalin oleh porter
PERSALINAN NORMAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR DOKTER IGD
1. Melakukan pemeriksaan fisik
2. Memberi terapi
3. Menandatangani formulir rawat inap
PORTIR / PETUGAS IGD
Mengantar pasien ke kamar bersalin
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Meminta ITM
3. Memantau kemajuan persalinan serta mencatatnya di lembar
partograf dan di lembar SOAP bidan
4. Melakukan asuhan persalinan kala I
5. Berkolaborasi dengan dr. Obgyn bila terjadi kasus gawat darurat
6. Melakukan pertolongan persalinan normal kala II, kala III dan kala
IV
7. Melakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir
8. Melakukan dekontaminasi alat, dan tempat partus
9. Membuat laporan persalinan dan SOAP
10. Memantau keadaan umum pasien pasca persalinan selama 2 jam, jika
keadaan umum baik pasien dipindahkan ke ruang nifas
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Ruang Bersalin
3. Ruang Nifas
4. MR
EPISIOTOMI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Episiotomi adalah insisi dari perineum untuk memudahkan persalinan
dan mencegah rupturnya perineum totalis
TUJUAN 1. Mempercepat kala II
2. Mencegah bayi asfiksia
3. Membuat panduan dan standar dalam melakukan tindakan episiotomi
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Episiotomi dilakukan bila perineum telah tipis atau kepala bayi
tampak sekitar 3-4 cm
2. Meletakkan kedua jari diantara kepala bayi dan perineum dengan
menggunakan sarung tangan steril
3. Gunakan gunting dan buat sayatan 3-4 cm medio lateral
4. Jaga perineum dengan tangan pada saat kepala bayi lahir agar insisi
tidak meluas
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. Kamar Bersalin
4. Ruang Nifas
PERSALINAN DENGAN DISTENSI UTERUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Persalinan dengan Distensi Uterus adalah ibu bersalin dengan uterus
yang lebih besar dari umur kehamilan
TUJUAN 1. Petugas / bidan RS mampu menyiapkan ruangan dan menolong
persalinan dengan distensi uterus
2. Menyiapkan semua perlengkapan bahan, alat dan obat-obatan yang
esensial
3. Petugas / bidan mampu memberikan pelayanan asuhan sayang ibu
selama persalinan
4. Melakukan pencegahan infeksi
5. Menurunkan angka kematian ibu dan bayi (AKI & AKB), akibat HPP
/ partus lama
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN IGD


1. Melakukan anamnese singkat, dan pemeriksaan kehamilan pada ibu
hamil dengan tanda-tanda inpartu dengan distensi uterus (inspeksi,
palpasi, VT dan TTV)
2. Menegakkan diagnosa kehamilan (pastikan penyebab distensi uterus)
3. Jika pada pemeriksaan ditemukan janin ganda, cari tanda-tanda :
 Kepala janin teraba lebih kecil dibandingkan dengan ukuran
uterus
 Besar uterus melebihi ammenorea
 Teraba 2 ballotemen atau lebih
 Terdengar lebih dari satu denyut jantung bayi dengan
menggunakan Doppler
PERSALINAN DENGAN DISTENSI UTERUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Pada USG ditemukan 2 janin atau lebih
4. Pasang infus RL, sekalian ambil contoh darah untuk pemeriksaan lab
dan darah ke PMI
5. Berkolaborasi dengan dr. jaga
6. Menganjurkan keluarga untuk mendaftarkan pasien dan mengambil
status rawat inap di MR
7. Berkolaborasi dengan bidan / petugas kamar bersalin, jika ada tempat
pasien diantarkan ke kamar bersalin oleh porter / petugas IGD
8. Jika VK tidak ada tempat pasien di observasi dan di tolong di IGD
9. Jika distensi disebabkan karena anak besar :
 Kolaborasi dengan dr. jaga / dr. Obgyn
 Catat semua advis dokter pada lembar SOAP bidan
 Pastikan tidak ada CPD, pindahkan pasien ke kamar bersalin
untuk persalinan pervaginam di ruang bersalin secara APN
 Jika CPD, siapkan SC, (pasang infus, RL, passing Dower
Catheter, cukur, minta ijin medic, cek lab lengkap dan keluarga di
anjurkan mengurus darah ke PMI)
 Kolaborasi dengan petugas OK, petugas laboratorium dan bidan
RN
 Pasien diantar ke kamar operasi oleh petugas IGD
10. Jika distensi disebabkan karena hidramnion :
 Biarkan persalinan berlangsung dan gunakan partograf untuk
memantau kemajuan persalinan
 Jika ketuban pecah spontan, periksa apakah ada prolapus tali
pusat, jika ada dan persalinan tidak mungkin segera terjadi
(pembukaan serviks belum lengkap) segera siapkan SC
PERSALINAN DENGAN DISTENSI UTERUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR DOKTER IGD
1. Melakukan pemeriksaan fisik
2. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada keluarga & pasien dan
tindakan selanjutnya
3. Memberi terapi
4. Berkolaborasi dengan dr. spesialis
5. Menandatangani formulir rawat inap
PORTIR / PETUGAS IGD
Mengantar pasien ke kamar bersalin
BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Membuat diagnosa, fase persalinan dan melakukan penatalaksanaan
fase persalinan tersebut
3. Meminta ITM
4. Memantau kemajuan persalinan serta mencatatnya di lembar
partograf dan dilembar SOAP, jika terjadi kelainan pada DJJ (gawat
janin) pasin dimiringkanke kiri, beri oksigen 4-5 L/mnt
5. Jika sampai 3X his DJJ tetap abnormal segera berkolaborasi dengan
dr. Obgyn
6. Jika janin ganda :
 Janin 1
 Siapkan alat resusitasi bayi
 Pastikan infus sudah terpasang dan dalam keadaan baik
 Periksa presentasi janin, jika presentasi kepala :
 Jika ketuban pecah, pecahkan ketuban dengan setengah
koher dengan hati-hati agar tidak terjadi penumbungan tali
pusat
PERSALINAN DENGAN DISTENSI UTERUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Periksa DJJ, untuk menilai keadaan janin
 Jika his tidak adekuat kolaborasi untuk tindakan induksi
persalinan
 Jika kemajuannya persalinannya baik sesuai partograf
 Melakukan asuhan persalinan normal (APN)
 Janin ke-2 atau berikutnya :
 Tentukan presentasi janin
 Jika presentasi bokong :
 Hitung taksiran BB janin, jika tidak lebih besar dari janin
1, lakukan persalinan spontan
 Berkolaborasi dengan dr. Obgyn bila terjadi kasus gawat
darurat (his tidak kuat, gawat janin dll)
7. Melakukan pertolongan persalinan normal kala II, kala III dan kala
IV
8. Melakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir
9. Melakukan dekontaminasi alat, dan tempat partus
10. Membuat laporan persalinan dan SOAP
11. Mengobservasi pasien pasca salin selama 2 jam jika keadaan umum
baik pasien di pindahkan ke ruang nifas
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. OK
4. Ruang Nifas
5. Kamar Bersalin
PERSALINAN DENGAN PARUT UTERUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Persalinan dengan Parut Uterus adalah ibu bersalin dengan parut pada
uterus karena bekas SC, miomektomi atau rupture uteri
TUJUAN 1. Petugas / bidan RS mampu menganalisa dan memberikan tindakan
persalinan dengan parut uterus
2. Menyiapkan semua perlengkapan bahan, alat dan obat-obatan dan
pasien dengan parut uterus
3. Petugas / bidan mampu memberikan pelayanan asuhan sayang ibu
selama persalinan
4. Menurunkan angka kematian ibu dan bayi (AKI & AKB), akibat
rupture uteri / perdarahan
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN IGD


1. Melakukan anamnese singkat, dan pemeriksaan kehamilan pada ibu
hamil dengan tanda-tanda inpartu dengan parut uterus (inspeksi,
palpasi, VT dan TTV)
2. Pasang infus dan ambil contoh darah untuk pemeriksaan laboratorium
dan PMI, jika mungkin pasien dilakukan SC
3. Cari sebab terjadinya parut uterus (bekas SC, rupture uteri dll)
4. Lakukan persalinan untuk persalinan percobaan :
 Riwayat SC sebelumnya adalah insisi tranversa rendah
 Presentasi janin adalah presentasi vertex normal
 Jika diperlukan dapat dilakukan SC cito
PERSALINAN DENGAN PARUT UTERUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 5. Tetapi jika kriteria diatas tidak terpenuhi atau :
 Riwayat SC < 3 th
 SC 2X atau lebih
 Indikasi SC yang lalu CPD
 Terdapat tanda-tanda CPD, rupture uteri atau telah terjadi rupture
uteri
 Terjadi gawat janin
6. Segera kolaborasi dengan dr. Obgyn untuk tindakan SC
7. Jelaskan pada pasien / keluarga tentang kondisi dan tindakan yang
akan dilakukan
8. Beri dukungan moril
9. Pasang DC, cukur, minta ITM / ITB, dan keluarga anjurkan untuk
urus darah ke PMI, pasien dipuasakan
10. Kolaborasi dengan petugas OK, lab, dan RN
11. Jika OK, dr. Obgyn dan pasien sudah siap, pasien di antar ke OK oleh
porter / petugas
12. Selanjutnya setelah pasien selesai operasi pasien dijemput oelh
petugas ruang nifas dari OK ke RN
DOKTER IGD
1. Melakukan pemeriksaan fisik
2. Memberi terapi
3. Kolaborasi dengan dr. spesialis
4. Menandatangani formulir rawat inap
PORTIR / PETUGAS IGD
Mengantar pasien ke kamar bersalin / OK
PERSALINAN DENGAN PARUT UTERUS
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Membuat diagnosa, fase persalinan dan melakukan penatalaksanaan
fase persalinan tersebut
3. Meminta ITM
4. Mengamati dan memantau kemajuan persalinan serta mencatatnya di
lembar partograf dan di lembar SOAP, jika terjadi kelainan pada DJJ
(gawat janin) pasien dimiringkan ke kiri, beri oksigen 4-5 L/mnt
5. Jika sampai 3X his DJJ tetap abnormal segera kolaborasi dengan dr.
Obgyn
6. Melakukan pertolongan persalinan normal kala II, III dan IV
7. Melakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir
8. Melakukan dekontaminasi alat, dan tempat partus
9. Membuat laporan persalinan SOAP
10. Mengobservasi pasien pasca salin selama 2 jam jika keadaan umum
baik pasien dipindahkan ke ruang nifas
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. OK
4. Ruang Nifas
5. Kamar Bersalin
GAWAT JANIN DALAM PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Gawat Janin adalah suatu keadaan dimana denyut jantung janin (DJJ)
<100 x/mnt atau >180 x/mnt atau air ketuban hjau kental pada letak
kepala
TUJUAN 1. Petugas / bidan RS mampu menganalisa dan memberikan tindakan
persalinan dengan gawat janin
2. Menyiapkan semua perlengkapan bahan, alat dan obat-obatan dan
pasien dengan gawat janin
3. Petugas / bidan mampu memberikan pelayanan asuhan sayang ibu
dan bayi selama persalinan
4. Menurunkan angka kematian bayi (AKB), akibat asfiksia
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN IGD


1. Pasien dimiringkan ke kiri
2. Berikan oksigen 4-5 L/mnt
3. Jelaskan pada pasien / keluarga tentan kondisi dan tindakan yang
akan dilakukan
4. Beri dukungan moril
5. Cari penyebab terjadinya gawat janin
6. Jika disebabkan karena ibu demam, infeksi atau obat-obatan
kolaborasi dengan dr. jaga / Obgyn untuk penanganan yang sesuai
7. Catat semua advis yang diberikan oleh dokter ke dalam lembar SOAP
bidan / lembar kuning IGD
8. Jika sebab dari ibu tidak diketahui dan DJJ tetap abnormal dalam 3X
kontraksi, lakukan VT untuk mencari penyebab gawat janin :
GAWAT JANIN DALAM PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Jika terdapat perdarahan dengan nyeri yang hilang timbul atau
menetap, pikirkan kemungkinan terjadi solusio plasenta
 Jika terdapat tanda-tanda infeksi beri antibiotik (cefotaxime 1
gr/IV sesuai advis dokter
 Jika tali pusat terdapat dibawah bagian terendah janin / vagina,
lakukan penanganan prolapses tali pusat
9. Jika DJJ tetap abnormal atau terdapat tanda-tanda lain (ketuban
bercampur meconium pada letak kepala), dan sudah ada pembukaan
serviks > 5 cm rencanakan persalinan
10. Pasien dipindahkan ke kamar bersalin dengan menggunakan brancart
dan oksigen oleh porter / petugas IGD
11. Jika belum ada pembukaan serviks, segera kolaborasi dengan dokter
Obgyn untuk tindakan SC
12. Pasang DC, cukur, minta ITM / ITB, dan keluarga anjurkan untuk
mengurus darah ke PMI, pasien dipuasakan
13. Kolaborasi dengan petugas OK, lab dan RN
14. Jika OK, dr. Obgyn dan pasien sudah siap pasien diantar ke OK oleh
porter / petugas
15. Selanjutnya setelah pasien selesai operasi pasien dijemput oleh
petugas ruang nifas dari OK ke RN
DOKTER IGD
1. Melakukan pemeriksaan fisik
2. Memberi terapi
3. Kolaborasi dengan dokter spesialis
4. Menandatangani formulir rawat inap
PORTIR / PETUGAS IGD
Mengantar pasien ke kamar bersalin / OK
GAWAT JANIN DALAM PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR BIDAN KAMAR BERSALIN
1. Menerima pasien dari IGD
2. Membuat diagnosa, fase persalinan dan melakukan penatalaksanaan
fase persalinan tersebut
3. Meminta ITM
4. Mengobservasi dan memantau kemajuan persalinan serta
mencatatnya di lembar partograf dan di lembar SOAP, jika terjadi
kelainan pada DJJ (gawat janin) pasien dimiringkan ke kiri, beri
oksigen 4-5 L/mnt
5. Jika sampai 3X his DJJ tetap abnormal segera kolaborasi dengan
dokter Obgyn untuk tindakan selanjutnya
6. Jika terjadi kasus gawat darurat di ruangan / tidak ada kemajuan
persalinan sesuai lembar partograf (terletak pada garis bertindak)
7. Segera berkolaborasi dengan dr. Obgyn
8. Lakukan tindakan sesuai advis dokter
9. Jika partus pervaginam melakukan pertolongan persalinan normal
kala II, kala III dan kala IV
10. Jika pasien akan dilakukan SC :
 Siapkan pasien
 Pasang infus
 Pasang DC, cukur
 Meminta ITM pada keluarga pasien, ambil contoh darah dan
menganjurkan keluarga untuk mengurus darah ke PMI
 Kolaborasi dengan petugas OK, petugas laboratorium dan petugas
RN
 Jika pasien, dokter, laboratorium dan OK sudah siap antarkan
pasien ke OK
GAWAT JANIN DALAM PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 11. Jika janin lahir secara spontan
12. Melakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir
13. Melakukan dekontaminasi alat, dan tempat partus
14. Membuat laporan persalinan dan SOAP
15. Mengobservasi pasien pasca salin selama 2 jam jika keadaan umum
baik pasien di pindahkan ke ruang nifas
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. OK
4. Ruang Nifas
5. Kamar Bersalin
PROLAPSUS TALI PUSAT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Prolapsus tali pusat adalah keadaan menumbungnya tali pusat di
samping atau melewati bagian bawah janin di jalan lahir setelah ketuban
pecah
TUJUAN 1. Petugas / bidan RS mampu menganalisa dan memberikan tindakan
pada persalinan dengan prolapsus tali pusat
2. Menyiapkan semua perlengkapan alat, obat-obatan dan pasien dangan
prolapsus tali pusat
3. Petugas / bidan mampu memberikan pelayanan asuhan saying ibu dan
bayi selama proses persalinan
4. Menurunkan angka kematian bayi (AKB), prolapsus tali pusat
KEBIJAKAN

PROSEDUR BIDAN IGD / VK


1. Lakukan anamnesa
2. Lakukan pemeriksaan umum dan khusus
3. Segera raba tali pusat
4. Jika tali pusat masih berdenyut, berarti janin masih hidup maka
segera lakukan :
 Berikan oksigen 4-6 L/mnt melalui masker / kanula nasal
 Posisikan ibu tredelenburg
 Lakukan VT untuk menilai permukaan serviks dan tindakan
selanjutnya
 Jelaskan pada keluarga dan pasien tentang hasil pemeriksaan dan
tindakan yang akan dilakukan
 Beri dukungan moral
PROLAPSUS TALI PUSAT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 5. Jika ibu pada persalinan kala I :
 Pakai sarung tangan DTT, lalu masukkan tangan dalam vagina
dorong ke atas bagian terendah janin sehingga tekanan pada tali
pusat dapat dikurangi
 Tangan yang lain menahan bagian terendah di supra pubis dan
evaluasi keberhasilan reposisi tsb
 Segera kolaborasi dengan dr. Obgyn, petugas laboratorium dan
OK untuk tindakan SC
 Siapkan pasien untuk tindakan operasi
6. Jika ibu pada persalinan kala II :
 Pada presentasi kepala, kolaborasi dengan dr. Obgyn untuk
tindakan vakum
 Jika presentasi bokong lakukan ekstraksi bokong / kaki
 Jika letak lintang segera siapkan SC
 Siapkan alat dan segera resusitasi bayi baru lahir
7. Jelaskan pada pasien / keluarga tentang kondisi dan tindakan yang
akan dilakukan
8. Jika tali pusat tidak berdenyut berarti janin telah mati dan bukan
kasus gawat darurat lagi
9. Catat semua advis yang diberikan oleh dokter dan tindakan yang
dilakukan
10. Kolaborasi dengan petugas OK, lab dan RN
11. Jika OK, dr. Obgyn dan pasien sudah siap pasien di antar ke OK oleh
portet / petugas
12. Selanjutnya setelah pasien selesai operasi pasien dijemput oleh
petugas ruang nifas dari OK ke RN
13. Melakukan dekontaminasi alat, dan tempat partus
PROLAPSUS TALI PUSAT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 14. Membuat laporan persalinan dan SOAP
15. Mengobservasi pasien pasca salin selama 2 jam jika KU baik pasien
di pindahkan ke ruang nifas
DOKTER IGD
1. Melakukan pemeriksaan fisik
2. Memberi terapi
3. Kolaborasi dengan dokter spesialis
4. Menandatangani formulir rawat inap
PORTIR / PETUGAS IGD
Mengantar pasien ke kamar bersalin / OK
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. MR
3. OK
4. Ruang Nifas
5. Kamar Bersalin
AUDIT MATERNAL-PERINATAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Aktivitas terpadu secara terus menerus di antara para pemberi layanan
untuk mengevaluasi kasus-kasus yang dinilai bermasalah baik dari segi
pelayanan, pendidikan maupun penelitian
TUJUAN Menyelenggarakan pertemuan Audit Maternal-Perinatal (AMP)
1. Untuk mengidentifiikasi masalah yang menyebabkan kematian
maternal perinatal
2. Menentukan apakah kematian maternal dan perinatal yang terjadi
sesungguhnya mmenyebabkan kematian yang seharusnya dapat
dicegah atau tidak
3. Memantau penerapan standar pelayanan medic dan keperawatan
4. Membuat rumusan ususlan untuk memecahkan permasalahan
termasuk membuat rekomendasi ke pihak-pihak di luar SMF Obgyn,
SMF Anak dan unit-unit terkait, sehingga permasalahan serupa tidak
terulang lagi
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Sekretaris AMP memilih kasus untuk dipresentasikan pada AMP


2. Sekretaris AMP meminta persetujuan ketua AMP, apabila tidak
disetujui maka sekretaris AMP akan memilih kembali kasusnya
3. Apabila kasus yang diajukan sekretaris AMP disetujui oleh ketua
maka dibuat laporan kasus dan dibuat undangan kepada staf, bidan /
perawat maternal dan perinatal
4. Staf maternal dan perinatal sebagai moderator pertemuan AMP,
moderator memimpin diskusi kaasus yang diajukan. Petugas
sekretariat menyiapkan formulir AMP dan peralatan audio visual
5. Moderator menyimpulkan diskusi dan membuat rekomendasi untuk
kasus yang diajukan
6. Pengelola maternal dan perinatal menidaklanjuti rekomendasi AMP
AUDIT MATERNAL-PERINATAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
UNIT TERKAIT 1. SMF Obgyn
2. SMF Anak
3. SMF Bedah
TRANSPORTASI NEONATUS KE RAWAT GABUNG
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Memindahkan neonatus / bayi baru lahir dari kamar bersalin, kamar
bersalin IGD untuk mengikuti ibu yang dirawat di ruang nifas atau ruang
perawatan lainnya, atauu dari ruang observasi perinatal ke ruang rawat
gabung (ruang nifas)
TUJUAN Perawatan neonatus / bayi baru lahir bersama ibunya untuk
meningkatkan pemberian ASI
KEBIJAKAN

PROSEDUR Petugas yang berwenang memberi instruksi pemindahan :


1. Bidan jaga kamar bersalin
2. Perawat perinatologi yang merawat neonatus di ruang observasi
setelah disetujui oleh DPJP di ruang perinatal
Syarat neonatus yang masuk ke ruang rawat gabung :
1. Berat lahir cukup (>2500 gr – 4000 gr)
2. Cukup bulan
3. Sesuai masa kehamilan
4. Lahir spontan
5. Nilai Apgar pada menit ke-2 >7
6. Keadaan umum baik
7. Tidak didapatkan kelainan bawaan
Yang menerima di rawat gabung :
Bidan / perawat ruang rawat gabung yang dinas jaga padaa saat itu
TRANSPORTASI NEONATUS KE RAWAT GABUNG
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR Tata cara pemindahan :
1. Bidan / perawat jaga senior sebelumnya memberitahu ruang rawat
gabung kalau ada neonatus yang akan dikirim ke ruang tersebut
2. Menyiapkan surat-surat yang diperlukan, melengkapi rekam medis
dan data identitas neonatus sesuai prosedur
3. Bayi diberi pakaian dan diantar oleh perawat/bidan /PRT dari ruang
asal bayi (ruang perinatal/ruang bersalin) dengan menggunakan
cradle (kereta bayi)
4. Sesampainya di ruang rawat gabung bayi diserahkan ke bidan jaga
senior saat itu dengan diperiksa keadaan umumnya, identitas dan
catatan mediknya diberi tanda terima penyerahan bayi
UNIT TERKAIT 1. Ruang Maternal
2. Ruang Perinatal
3. Ruang Nifas
4. IGD
TRANSPORTASI NEONATUS DARI INSTALASI
GAWAT DARURAT KE RUANGAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Memindahkan neonatus / bayi baru lahir dari Instalasi Gawat Darurat
(IGD) ke tempat perawatan yang sesuai dengan masalah neonatus
tersebut
TUJUAN Memindahkan neonatus / bayi baru lahir dari Instalasi Gawat Darurat
(IGD) ke tempat perawatan yang sesuai dengan masalah neonatus
tersebut dengan kondisi sarana dan prasarana yang optimal
KEBIJAKAN

PROSEDUR Petugas yang berwenang memberi instruksi pemindahan :


1. Dokter spesialis anak atau dokter jaga ruang perinatal
2. Jika yang tersebut diatas tidak ada, ditentukan oleh dokter triage
yang bertugas jaga pada saat itu
Tata cara pemindahan :
1. Sebelum mengirim atau memindahkan neonatus, petugas yang
berwenang atau perawat senior yang bertugas, memberi informasi
terlebih dahulu termasuk memberikan keterangan tujuan dan masalah
yang didapatkan saat itu ke ruangan yang dituju dengan telepon yang
ada.
2. Menyiapkan surat-surat yang diperlukan, melengkapi rekam medis
dan data identitas neonatus sesuai prosedur
TRANSPORTASI NEONATUS DARI INSTALASI
GAWAT DARURAT KE RUANGAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR Tata laksana pemindahan :
1. Neonatus dalam keadaan stabil dan layak transport, termasuk dijaga
suhu tubuhnya untuk pencegahan hipotermia. Selam transportasi
dijaga keadaan umum, jalan nafas, oksigenisasi dan masalah yang
dihadapi naonatus
2. Peralatan medis
Perlengkapan peralatan medis yang dibutuhkan harus tersedia
lengkap yaitu peralatan resusitasi neonatus, tabung oksigen, isap
lender dan inkubator transport
3. Sarana transportasi
Menggunakan inkubator transport atau box bayi yang dilengkapi
dengan penghangat, dll yang diperlukan neonatus dalam perjalanan
4. Petugas kesehatan
Petugas IGD mendampingi neonatus ke ruangan, disesuaikan dengan
masalah yang dihadapi neonatus. Saat transportasi masa petugas
pendamping :
 Jika kondisi neonatus membutuhkan pengawasan ketat atau jika
tidak ada dokter jaga anak maka dokter triage yang bertugas saat
itu
 Diperlukan 2 perawat dengan minimal 1 perawat yang sudah
mahir dalam resusitasi neonatus
 Jika diperlukan pemeriksaan radiologi sehubungan dengan
masalah neonatus tersebut, maka harus diyakinkan betul bahwa
kondisi neonatus tersebut dalam kondisi stabil dan maneuver
radiologi yang akan dilakukan tidak ada menambah masalah pada
neonatus tersebut
TRANSPORTASI NEONATUS DARI INSTALASI
GAWAT DARURAT KE RUANGAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Ruang Perinatal
3. Ruang PICU
4. Ruang Anak
PELAYANAN RAWAT GABUNG PENUH
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Merupakan satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru
dilahirkan tidak dipisahkan melainkan ditempatkan dalam satu ruangan
bersama-sama selama 24 jam penuh
TUJUAN Perawatan neonatus/bayi baru lahir bersama ibunya untuk meningkatkan
pemberian ASI
KEBIJAKAN

PROSEDUR Syarat neonatus yang mendapatkan pelayanan rawat gabung penuh


:
1. Berat lahir cukup (>2500 gr)
2. Berat lahir besar >4000 gr tanpa hipoglikemi
3. Cukup bulan
4. Sesuai masa kehamilan atau lebih bulan tanpa komplikasi
5. Lahir spontan
6. Nilai Apgar pada menit ke-2 >7
7. Keadaan umum baik
8. Tidak didapatkan kelainan bawaan
9. Persalinan SC yang ibunya sudah dapat merawat
10. Potensial terinfeksi (KPD >18 jam air ketuban keruh) tanpa tanda
infeksi
Tata laksana :
1. Di kamar bersalin
 Minimal 30 menit setelah bayi lahir, bayi disusukan/diletakkan ke
payudara ibunya walaupun ASI belum keluar, untuk memulai
mengisap payudara ibu agar merangsang pengeluaran AS
PELAYANAN RAWAT GABUNG PENUH
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Memberikan penyuluhan mengenai ASI dan rawat gabung
terutama bagi ibu-ibu yang belum pernah mendapatkan
penyuluhan
 Menyelenggarakan rawat gabungkan bayi untuk ibu bayi yang
memenuhi kriteria. Sebelum ibu dan bayi dikirim ke ruang rawat
gabung, bayi diperiksa oleh dokter anak/dokter jaga ruang
perinatal untuk memastikan bayi dalam keadaan sehat dan data
ibu dan bayi dicatat lengkap dibuku caatatan medic
2. Di ruang rawat gabung/nifas
 Bayi diletakkan dalam tempat tidur bayi di samping ibu sehingga
ibu mudah untuk menjangkaunya
 Bidan harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat
mengenali tanda-tanda abnormal, kemudian melaporkannya
kepada Dokter anak bila menemukannya
 Ibu boleh meneteki sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan bayi
 Bidan harus mengawasi agar bayi disusukan paling sedikit 8 kali
dalam 24 jam tanpa perlu penjadwalan (sesuai keinginan dan
kebutuhan bayi –on demand feeding). Setiap kali menyusukan
bayi harus mendapatkan ASI dari kedua payudara secara
bergantian
UNIT TERKAIT 1. SMF Ilmu Kesehatan Anak
2. SMF Kebidanan
3. Instalasi Rawat Inap
4. Tim PKRS
TRANSPORTASI BAYI BARU LAHIR DARI RUANG
BERSALIN KE RUANG PERINATAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Memindahkan neonatus/bayi baru lahir dari ruang bersalin ke ruang
perinatal sesuai dengan indikasi pasien
TUJUAN Memindahkan neonatus/bayi baru lahir dari ruang bersalin ke ruang
perinatal sesuai dengan indikasi/masalah neonatus untuk mendapatkan
perawatan lanjutan yang lebih optimal
KEBIJAKAN

PROSEDUR Indikasi bayi baru lahir yang dirawat di Ruang Perinatal :


1. Skor Apgar kurang dari 7 pada menit ke-5 atau mengalami proses
persalinan yang sulit
2. Berat lahir rendah (<2300 gr)
3. Berat lahir besar (≥4000 gr) dengan hipoglikemi
4. Bayi kurang bulan
5. Bayi dengan klinis sepsis segera ssetelah lahir (lahir sesak, letargis,
sianosis, pucat)
6. Persalinan vakum ekstraksi
7. Persalinan sectio caesaria (SC) yang ibunya belum dapat rawat
gabung
8. Potensial terinfeksi (ketuban pecah >18 jam, air ketuban keruh/hijau)
dengan tanda-tanda infeksi
9. Bayi dengan kelainan kongenital yang dikhawatirkan mengganggu
proses menyusui (contoh : labiopalatoschisis)
10. Bayi dengan ibu Hbsag (+), HIV atau tersangka HIV atau ibu yang
menderita penyakit menular lainnya
TRANSPORTASI BAYI BARU LAHIR DARI RUANG
BERSALIN KE RUANG PERINATAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 11. Bayi dengan ibu yang mengalami eklamsi, perdaarahan post partu dan
tidak memungkinkan untuk dilakukan raawaat gabung
12. Ibu bayi menderita penyakit jiwa
Tata cara pemindahan :
1. Sebelum mengirim atau memindahkan neonatus, petugas yang
berwenang atau bidan senior yang bertugas, memberi informasi
terlebih daahulu termasuk memberikan keterangan tujuan dan
masalah yang didapatkan saat itu ke ruang perinatal dengan telepon
yang ada
2. Menyiapkan surat-surat yang diperlukan, melengkapi rekam medis
dan data identitas neonatus sesuai prosedur
3. Untuk bayi baru lahir yang dirawat di ruang perinatal karena indikasi
dari ibu, maka bidan kamar bersalin harus menyertakan surat
keterangan dari dokter spesialis kandungan yang menyertakan bahwa
kondisi ibu tidak memungkinkan untuk dilakukan rawat gabung. Jika
dokter spesialis kandungan tdak ada maka yang membuat pernyataan
adalah dokter jaga IGD pada saat dinas itu
Tata laksana pemindahan :
1. Neonatus dalam keadaan stabil dan layak transport, termasuk dijaga
suhu tubuhnya untuk pencegahan hipotermia. Selama transportasi
dijaga, keadaan umum, jalan nafas, oksigenisasi dan masalah yang
dihadapi neonatus
2. Peralatan medis
Perlengkapan peralatan medis yang dibutuhkan harus tersedia
lengkap yaitu peralatan resusitaasi neonatus, tabung oksigen, isap
lender dari inkubator transport
TRANSPORTASI BAYI BARU LAHIR DARI RUANG
BERSALIN KE RUANG PERINATAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 3. Sarana transportasi
Menggunakan inkubator transport atau box bayi yang dilengkapi
dengan penghangat dll yang diperlukan neonatus dalam perjalanan
4. Petugas kesehatan
Petugas ruang bersalin mendampingi neonatus ke ruang perinatal,
disesuaikan dengan masalah yang dihadapi neonatus. Saat
transportasi maka petugas pendamping :
 Jika kondisi neonatus membutuhkan pengawasan ketat maka
bidan senior yang bertugas saat itu dengan didampngi oleh 1
bidan
 Jika kondisi neonatus dalam keadaan baik maka bidan junior/PRT
dapat melakukan tindakan pemindahan bayi ke ruang perinatal
UNIT TERKAIT 1. Ruang Bersalin
2. Ruang Perinatal
3. IGD
IDENTIFIKASI BAYI BARU LAHIR
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pemberian identitas/pengenal diri pada bayi baru lahir di
TUJUAN 1. Memberikan identifikasi agar bayi tidak tertukar selama perawatan
2. Mencegah terjadinya kesalahan prosedur
3. Bila ada kelainan bawaan pada bayi, orang tua atau keluarga bayi
segera mengetahui
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Perawat/bidan yang membantu persalinan memastikan nama lengkap


bayi dan nomor RM
2. Menuliskan identitas pada label bayi dan label gelang ibu
3. Memasang label yang telah ditulis nama ibu, jenis kelamin bayi dan
nomor RM bayi pada gelang bayi dan ibu
 Untuk bayi laki-laki gelang warna biru
 Untuk bayi perempuan gelang warna merah muda
 Warna gelang ibu disesuaikan dengan jenis kelamin bayi
 Apabila bayi kembar (>2) jumlah gelang ibu sama dengan jumlah
bayi yang dilahirkan dan dsesuaikan dengan jenis kelamin bayi
4. Memasang gelang tersebut pada pergelangan tangan tangan kanan
bayi dan pada pergelangan tangan kiri ibu dan kunci mati
5. Bila bayi tidak punya ekstremitas atas/ tangan kanan, gelang bisa
dipasang pada tangan kiri atau kaki
6. Bila bayi tidak punya ekstremitas atas/ tangan kiri, gelang bisa
dipasang pada tangan kanan atau kaki
IDENTIFIKASI BAYI BARU LAHIR
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 7. Bila ibu/bayi tidak punya ekstremitas atas dan bawah, identitas dapat
diberikan atau ditempel di dada dengan menggunakan plester yang
sudah diberi identitas bayi
8. Membuat cap jempol ibu pada form RM (RM 2.3.2) setelah
persalinan
9. Membuat cap kaki kiri dan kanan bayi pada form RM (RM 2.3.2)
10. Memberi tanda di box bayi/inkubator
11. Bidan kamar bersalin mencatat identitas bayi baru lahir ke dalam
buku register persalinan dan nomor RM pada berkas RM bayi
12. Bidan kamar bersalin mencatat dalam buku register persalinan dan
memberikan nomor RM untuk bayi
13. Bidan kamar bersalin membuat surat keterangan lahir sesuai jenis
kelamin bayi dan ditandatangani oleh DPJP
14. Bidan kamar bersalin memberikan surat keterangan lahir kepada ibu
bayi/keluarga
UNIT TERKAIT 1. Ruang Bersalin
2. Ruang Perinatal
3. Ruang Nifas
MENERIMA BAYI BARU LAHIR DENGAN
TINDAKAN SECTIO CAESARIA (SC)
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Menerima bayi baru lahir dengan tindakan ssectio caesaria (SC) dari
kamar operasi
TUJUAN 1. Melakukan resusitasi bayi baru lahir
2. Mencegah hipotermia pada bayi
3. Memindahkan bayi dari kamar operasi ke ruang perinatal
KEBIJAKAN

PROSEDUR Dokter/perawat menyiapkan alat :


1. Radiant warmer
2. Alat-alat resusitasi :
 1 set ambu bag
 Laringosskop
 ET dengan ukuran 2,5 ; 3 ; 3,5
3. Stetoskop
4. Peralatan infus, selang infus, cairan, plester, gunting
5. Spuit 3, 5, 10 cc, netadine, alkohol 70%, kasa alkohol, tali
pengikat/tali pusat steril, 1 set pemotong tali pusat
6. Flowmeter beserta selang oksigen
7. Selang penghisap dan air hangat steril
8. Pipa ukuran Fr 8/5 40 cm untuk menghisap lender
9. Selimut untuk alas resusitasi sertaa untuk membungkus bayi
10. Status bayi
11. Kertas untuk catatan
12. Bantalan cap untuk stempel kaki
MENERIMA BAYI BARU LAHIR DENGAN
TINDAKAN SECTIO CAESARIA (SC)
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR Langkah-langkah (dilakukan oleh dokter dan perawat) :
1. Peralatan disiapkan di ruang perinatal
2. Peralatan dibawa/disiapkan diruang tindakan
3. Memakai baju operasi, masker dan topi
4. Cuci tangan
5. Memakai jas operasi steril
6. Memakai handscone
7. Memegang duk steril untuk menerima bayi
8. Bila bayi lahir segera diterima dan dilakukan resusitasi diruang
tindakan resusitasi
9. Bila kondisi bayi baik, resusitasi berhasil, bayi dibawa ke ruang
perinatologi dengan radiant warmer
10. Bila kondisi bayi buruk, lakukan intubasi, siapkan obat-obatan bila
diperlukan, segera dibawa ke ruang perinatal
11. Siapkan ruang NICU
12. Petugas minimal 2 orang untuk menerima bayi baru lahir dengan
tindakan
UNIT TERKAIT 1. Ruang Bersalin
2. Ruang Perinatal
3. OK
4. IGD
PENDELEGASIAN TUGAS PERSALINAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pemberian tugas sesuai wewenang kepada seseorang yang mempunyai
kompetensi untuk melakukan suatu tindakan medis, tindakan medis
mencakup persalinan per vaginam
TUJUAN Memberikan pertolongan cepat dan tepat
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Menerima pasien datang


2. Petugas kamar bersalin (bidan, dokter) memberikan informasi kepada
pasien dan keluarga pasien tentang proses persalinan di
3. Petugas menjelaskan semua proses persalinan akan ditangani oleh
dokter spesialis tersebut berhalangan karren sesuatu hal (sedang
operasi, dalam perjalanan) maka persalinan akan ditolong dokter
spesialis ahli dan bidan yang ditunjuk
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. ICU
3. ICCU
4. Ruang Bersalin
BEDAH SECTIO CAESARIA EMEERGENSI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Penanganan/penatalaksanaan bedah sesar secara terpadu antar bagian
Obgyn, IGD, Anastesi, ruang bersalin, ruang perinatal, dan patologi
klinik
TUJUAN Agar pelaksanaan bedah sesar dapat berjalan secara cepat dan tepat
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Pelayananan pasien harus cepat dan tepat


2. Indikasi dan kriteria pasien yang akan dilakukan bedaah sesar
emergensi sesuai dengan diagnosa yang dilakukan oleh Obgyn
3. Pasien yang akan dilakukan bedah sesar telah disiapkan
4. Pemeriksaan laboratorium rutin, BT,CT,GDS, ureum, kretain,HbsAg,
anti HIV, dll dilakukan oleh patologi klinik (petugas laboratorium),
sebelum dilakukan tindakan bedah sesar sampel diambil di ruangan
5. Pemeriksaan EKG dilakukan sebelum operasi (bila perlu)
6. Konsultasi anastesi atas pasien dilakukan oleh bagian Obgyn
7. Konsultasi perinatal atas pasien dilakukan oleh bagian perinatal
8. Transportasi pasien dari ruang bersalin ke OK IGD dilakukan oleh
bidan dan dokter ruang bersalin
9. Serah terima pasien dilakukan antara petugas kamar bersalin dengan
perawat kamar operasi IGD
10. Petugas OK IGD menyiapkan kamar operasi berikut peralatan medis
dan non medis yang akan dipergunakan
BEDAH SECTIO CAESARIA EMERGENSI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 11. Pelaksanaan bedah sesar dilakukan oleh bagiaan Obgyn setelah ada
jawaban konsultasi medis yang akan dipergunakan
12. Bayi baru lahir menjadi tanggung jawab SMF Anak/perinatal
13. Selama 24 jam pertama post bedah sesar pasien menjadi tanggung
jawab anastesi
14. Transportasi dari kamar OK IGD ke ruang perawat (RN) dilakukan
oleh petugas RN dan melihat kondisi pasien
15. Transportasi dari kamar OK IGD ke ruang perawatan lain (kelas I, II
atau III), dilakukan oleh petugas sesuai pasien berasal
16. Transportasi dari OK IGD ke ruang ICU/ICCU dilakukan oleh
petugas OK IGD didampingi oleh petugas sesuai pasien berasal dan
melihat kondisi pasien
17. Waktu dibutuhkan mulai diagnosa ditegakkan dan keputusan
dilakukan bedah sesar tidak lebih dari 60 menit untuk pasien gawat
dan tidak lebih dari 120 menit untuk kriteria pasien emergensi tidak
gawat
18. Untuk pasien yang perlu optimalisasi dikerjakan setelah pasien
ditentukan layak operasi (tidak ada batasan, kecuali pasien life
saving)
UNIT TERKAIT 1. SMF Obgyn
2. Anastesi
3. IGD
4. ICU/ICCU
IMMUNISASI HEPATITIS B PADA BAYI KURANG
BULAN DAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
INDKASI Pada semua bayi kurang bulan dengan berat lahir rendah yang kondisinya
stabil secara medis
KONTRA INDIKASI Imunisasi Hepatitis B tidak boleh diberikan pada bayi dengan kondisi
yang tidak stabil, yaitu :
1. Memerlukan alat bantu pernafasan
2. Menderita infeksi berat (sepsis)
3. Mengalami gangguan metabolic (hipoglikemi, gangguan elektrolit,
hipo albumin)
4. Gangguan fungsi renal
5. Gangguan krdiovaskular
6. Gangguan fungsi respirasi
7. Sedang dalam fase pemulihan dari kondisi penyakitnya
KEBIJAKAN

EFEK SAMPING Reaksi lokal ringan : bengkak, nyeri tekan, kemerahan, gatal, bintik-
bintik merah
Reaksi sistemik ringan : demam tidak tinggi dalam 1-2 hari
Reaksi sistemik berat : syok analfilaktif
SEDIAAN Dosis tunggal dan dosis multiple
IMMUNISASI HEPATITIS B PADA BAYI KURANG
BULAN DAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR Posisi bayi :
Telentang di atas meja periksa, orang tua/pengasuh bisa diminta
membantu memegang bayi.
Cara imunisasi :
 Beri desinfektan pada lokasi penyuntikan
 Lokasi : daerah anterolateral paha (otot vastus lateralis) kanan
 Ukuran jarum : bila tidak memakai dosis tunggal, dipakai jarum
ukuran 26 G (jarum insulin)
 Arah jarum : membentuk sudut 45°-60° ke dalam otot vastus
lateralis, mengarah ke lutut
Waktu pemberian : 1 jam setelah pemberian vit K (di anterlateral kiri)
Dosis vaksin hepatitis B : 0,5 ml IM
Dosis HBIG (bila tersedia/orang tua bersedia) : 0,5 ml IM
Status immunologis ibu :
1. Ibu HbsAg negatif :
 Bayi berat lahir >2000 gr : imunisasi Hep B, 2 jam sesudah lahir
 Bayi berat lahir <2000 gr : imunisasi Hep B pada usia kronologis
30 hari, atau sebelum pulang dari rumah sakit
2. Ibu HbsAg positif :
 Bayi di imunisasi Hep B, 2 jam setelah lahir, dan HBIG dalam 12
jam berikutnya, bila tersedia dan orang tua bersedia membeli
IMMUNISASI HEPATITIS B PADA BAYI KURANG
BULAN DAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 3. Ibu yang tidak diketahui status HbsAg nya :
 Bayi berat lahir >2000 gr : imunisasi Hep B 2 jam setelah lahir.
HBIG dapat ditunda sampai 7 hari sambil menunggu hasil tes
HbsAg ibu
 Bayi berat lahir <2000 gr : imunisasi Hep B 2 jam setelah lahir +
HBIG dalam 12 jam setelah dilahirkan bila tersedia dan orang tua
bersedia membeli
UNIT TERKAIT 1. Ruang Perinatal
2. Ruang Bersalin/Maternal
PENANGANAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN (ANC)
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pemeriksaan kehamilan adalah kegiatan memeriksakan kehamilan sejak
diketahui oleh ibu yang bersangkutan hamil sampai dengan persiapan
persalinan.
TUJUAN Untuk memberikan pelayanan antenatal yang berkualitas dan untuk
deteksi dini komplikasi kehamilan.
KEBIJAKAN

PROSEDUR Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 x selama


kehamilan yaitu 1 x pada trimester I 1 x, Pada trimester II 2 x ,dan pada
trimester III.
Proses pemeriksaan dan pemantauan antenatal :

1. Tenaga kesehatan :
Bersikap ramah, sopan dan bersahabat pada setiap kunjungan;
2. Pada kunjungan pertama :
 Melakukan anamese riwayat, mengisi kartu ibu secara lengkap
 Memastikan bahwa kehamilan diharapkan
 Tentukan taksiran persalinan. Jika hari pertama hari terakhir
(HPHT) tidak diketahui, tanyakan kapan pertama kali dirasakan
pergerakan janin dan cocokan dengan hasil pemeriksaan tingi
fundus uteri. Jelaskan bahwa taksiran persalinan hanyalah suatu
perkiraan
 Pemeriksaan laboratorium rutin (tingkat HB)
 Memberikan imunisasi TT sesuai ketentuan
PENANGANAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN (ANC)
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 3. Pada setiap kunjungan :
 Menilai keadaan umum (fisik) dan psikologis ibu hamil. Bila ada
indikasi dapat dilakukan pemeriksaan lainnya seperti urine,
protein, glucose dan lain-lain, Bila ada kelainan, ibu hamil
ditangani sesuai kelainan yang ada
 Mengukur berat badan dan lingkar lengan atas. Jika berat badan
tidak bertambah dan pengukuran lengan menunjukkan kurang
gizi, beri penyuluhan tentang gizi dan lakukan pemeriksaan
&pengobatan lebih lanjut
 Mengukur tekanan darah dengan posisi ibu hamil duduk atau
berbaring
 Posisi tetap sama pada pemeriksaan pertama maupun berikutnya.
Letakkan tensimeter di permukaan yang datar, setinggi
jantungnya. Gunakan ukuran manset yang sesuai. Ukur tekanan
darah (tekanan darah > 140/90 mmHg, atau peningkatan diastole
15 mmHg atas lebih kehamilan >20 minggu, paling sedikit pada
pengukuran 2 x berturut-turut pada selisih waktu 1 jam, berarti
ada kenaikan nyata, ibu perlu ditangani sesuai prosedur yang ada.
 Periksa Hb pada kunjungan I dan pada kehamilan > 28 minggu
 Pada daerah endemis malaria perlu diberi profilaksis dan
penyuluhan saat kunjungan pertama
 Tanyakan apakah ibu hamil meminum tablet zat besi sesuai
ketentuan dan apakah persediannya cukup. Tablet zat besi berisi
60 mg zat besi dan 500 mg asam folat paling sedikit diminum 1
tablet sehari selama 90 hari berturut-turut. Ingatkan ibu hamil agar
tidak meminumnya dengan the/kopi
 Tanyakan/periksa tanda/gejala PMS dan ambil tindakan sesuai
ketentuan
PENANGANAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN (ANC)
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Tanyakan ibu hamil tentang pendarahan, nyeri epygastrium, sesak
napas, nyeri perut, demam, bila dipandang
 Lakukan pemeriksaan fisik ibu hamil secara lengkap. Periksa
payudara, lakukan penyuluhan dan perawatan untuk pemberian
ASI ekslusif
 Pastikan pemeriksaan kehamilan pada keadaan kandung kencing
ibu kosong sebelum diperiksa
 Ukur tinggi fundus uteri dalam cm dengan menggunakan meteran
baju (sesudah kehamilan >24 minggu tinggi fundus dalam cm
diukur dari simfisis pubis sampai ke fundus uteri sesuai dengan
umur kehamilan dalam minggu)
 Tanyakan apakah janin sering bergerak &dengarkan denyut
jantung janin
 Beri penyuluhan tentang cara perawatan dini selama kehamilan,
tanda bahaya pada kehamilan,perawatan payudara, kurang gizi
dan anemia, imunisasi IMD, KB, kehamilan resiko tinggi dan
lain-lain
 Dengarkan keluhan yang disampaikan ibu dan beri nasehat dan
penaganan jika diperlukan. Semua ibu memerlukan dukungan
moril selama kehamilan
 Bicarakan tentang tempat persalinan, beri nasehat mengenai
persiapan persalinan
 Catat semua temuan pada kartu ibu. Pelajari semua temuan untuk
menentukan tindakan selanjutnya
UNIT TERKAIT Poliklinik KIA dan Kandungan
PENANGANAN PEMERIKSAAN DALAM VAGINA
DIBIDANG OBSTETRI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pemeriksaan dalam dengan memasukkan jari (pada umumnya jari
telunjuk dan jari tengah) kedalam vagina.
TUJUAN Mengetahui keadaan kehamilan dan persalinan
KEBIJAKAN

PROSEDUR PD harus dilakukan dengan cara yang aseptic, yaitu desinfeksi daerah
vulva dan vagina dengan kapas sublimate desinfektan dan pemeriksaan
memakai sarung tangan steril.
Penilaian PD :
1. Umum
 Vulva dan urethra
 Vagina : supel atau tidak, striktura, tumor dan lain-lain
 Otot antara vagina dan sekitarnya
 Serviks uteri : konsistensi, posisi,penipisan,pembukaan, raba kulit
ketuban
 Presentasi janin dan penurunannya
 Titik penunjuk
 VU dan rectum : kosong atau terisi, adanya masa, dll
2. Panggul, dinilai ukuran dan bentuk Pintu Atas Panggul
 Promontorium tak teraba
 Linea inominata teraba kurang dari setengah lingkaran
 Pintu tengah panggul : Spina ischiadika tidak menonjol,
kelengkungan sacrum cukup, dinding samping pelvic sejajar
 Pintu bawah panggul : acrus pubis lebih dari 90°, mobilitas tulang
koksigis cukup
PENANGANAN PEMERIKSAAN DALAM VAGINA
DIBIDANG OBSTETRI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 3. Penurunan Janin
Turunnya bagian bawah janin dapat ditentukan dengan :
 Bidang Hodge
 Hodge I : bidang yang dibentuk pada lingkaran atas panggul
dan bagian atas simpisis dan promontorium
 Hodge II : bidang ini sejajar dengan bidang hodge I terletak
setinggi bagian bawah simpisis
 Hodge III : bidang ini sejajar dengan hodge I dan II terletak
setinggi spina ischiadika kanan dan kiri
 Hodge IV : bidang ini sejajar dengan hodge I, II dan III,
terletak setinggi os koksigis
 Station
 Station 0, yaitu bidang setinggi spina ischiadika
 Bidang-bidang diatas station 0 :
 Station 1 : 1 cm diatas station 0
 Station 2 : 2 cm diatas station 0
 Station 3 : 3 cm diatas station 0
 Station 4 : 4 cm diatas station 0
 Station 5 : 5 cm diatas station 0
UNIT TERKAIT Kamar Bersalin
PENANGANAN MANAJEMEN ASUHAN KEHAMILAN

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Manajemen asuhan kehamilan merupakan langkah-langkah yang
ditempuh dalam memberikan asuhan pada ibu hamil.
TUJUAN 1. Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan
bayi dengan memberikan pendidikan gizi, kebersihan diri dan proses
kelahiran bayi;
2. Mendeteksi dan menatalaksana komplikasi medis, bedah ataupun
obstetri selama kehamilan;
3. Mengembangkan persiapan persalinan serta rencana kesiagaan
menghadapi komplikasi;
4. Membantu menyiapkan ibu untuk menyusui dengan sukses
menjalankan puerperium normal dan merawat anak secara fisik,
psikologis dan sosial;
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. LANGKAH I : PENGKAJIAN


Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk nilai keadaan
pasien secara keseluruhan antara lain :
 Anamnese
 Biodata;
 Riwayat kesehatan termasuk faktor herediter;
 Riwayat menstruasi;
 Riwayat obstetrik dan ginekologi, nifas dan laktasi;
 Biopsikososial, spiritual dan cultural.
PENANGANAN MANAJEMEN ASUHAN KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR Pemeriksaan fisik (sesuai kebutuhan) dan tanda tanda vital :
 Inspeksi : Palpasi, Auskultasi, Perkusi;
 Pemeriksaan penunjang;
 Laboratorium;
 Diagnostik lain : USG dan lain-lain;
Catatan keadaan pasien terbaru atau sebelumnya. Dan Pemeriksaan
khusus
2. LANGKAH II : INTERPRETASI DATA
Lakukan identifikasi terhadap diagnosa, masalah dan kebutuhan ibu
hamil berdasarkan data yang telah dikumpulkan pada langkah I
3. LANGKAH III : IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH
POTENSIAL
Mengidentifikasi diagnose/masalah potensial yang mungkin terjadi
berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi;
4. LANGKAH IV : IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA
Identifikasi tindakan segera oleh bidan atau dokter atau ada hal yang
perlu dikonsultasikan;
5. LANGKAH V : RENCANA ASUHAN
Merencanakan asuhan yang rasional sesuai dengan temuan pada
Iangkah sebelumnya;
6. LANGKAH VI : IMPLEMENTASI ASUHAN
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efektif dan
aman;
7. LANGKAH VII : EVALUASI
Mengevaluasi keefektivan asuhan yang sudah diberikan, mengulangi
proses menejemen jika belum efektif
PENANGANAN MANAJEMEN ASUHAN KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR FORMAT PENGKAJIAN PRENATAL

 Nomor Medrec :
 Tempat :
 Tanggal :
 Identitas Klien Identitas Suami
 Nama : Nama :
 Umur : Umur :
 Agama : Agama :
 Suku : Suku :
 Pendidikan : Pendidikan :
 Pekerjaan : Pekerjaan :
 Status Perkawinan :
 Alamat :
Tanggal masuk RS :
 Edema di wajah :
 lkterus pada mata :
 Pucat pada mulut :
 Leher (pembengkakan saluran limfe atau pembengkakan kelenjar
tyroid) :
 Tangan dan kaki :
 Edema di jari tangan :
 Pucat pada kuku :
 Varises vena :
 Reflek-reflek :
 Dada dan payudara :
 Ukuran, Simetris :
 Puting payudara (menonjol/masuk) :
PENANGANAN MANAJEMEN ASUHAN KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Keluarnya kolostrum/cairan lain
 Retraksi
 Massa
 Nodul aksila
 Abdomen
 Pigmentasi di linea alba
 Striae gravidarum
 Luka bekas operasi
 Tinggi Fundus Uteri (>12 minggu)
 Letak, presentasi, posisi, dan penurunan kepala (>36 minggu)
 Denyut jantung janin (>18 minggu)
 Genitalia luar
 Varises
 Perdarahan
Cairan yang keluar :
 Pengeluaran dari uretra
 Kelenjar bartolini : bengkak (massa), cairan yang keluar
 Genetalia dalam
 Vagina meliputi cairan yang keluar, luka dan darah;
 Servik meliputi cairan yang keluar, luka (lesi), kelunakan, posisi,
mobilitas, tertutup atau terbuka
PENANGANAN MANAJEMEN ASUHAN KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

5/5

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Ukuran adneksa, bentuk, posisi, nyeri, kelunakan, massa (pada
trimester pertama);
 Uterus, meliputi ukuran, bentuk, mobilitas, kelunakan dan massa
pada trimester pertama.……………………………………...........
 Pemeriksaan penunjang
 Laboratorium
 USG
 Papsmear dan kultur getah serviks
 Pengkajian dilakukan oleh :.………….........................................
 Tanggal : .………………………………………………..………
 Kesimpulan :….……………………………………….………….
UNIT TERKAIT Ruang Obgyn

DOKUMEN Format Pengkajian


PENANGANAN PEMERIKSAAN
LEOPOLD/MANUVER (PEMERIKSAAN KEHAMILAN
(PALPASI) )

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN PEMERIKSAAN LEOPOLD/MANUVER
Pemeriksaan Leopold dilakukan pada kehamilan cukup bulan setelah
pembesaran uterus yang dapat membedakan bagian melalui palpasi.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah melakukan Leopold pada
pemeriksaan palpasi
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Cuci tangan;


2. Menjelaskan kepada pasien prosedur yang akan dilakukan;
3. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien;
4. Pemeriksa menghadap ke kepala pasien, gunakan ujung jari kedua
tangan untuk melakukan palpasi fundus uteri;
5. Bila kepala bayi berada di bagian fundus, yang akan teraba adalah
keras, rata, bulat, mudah bergerak;
6. Bila bokong bayi teraba di bagian fundus, yang akan teraba adalah
lembut, tidak beraturan/tidak rata, melingkar dan sulit digerakkan;
7. Letakkan kedua tangan pada posisi abdomen. Pertahankan uterus
dengan tangan yang satu dan palpasi sisi lain untuk menentukan
lokasi punggung janin.
8. Bagian punggung akan teraba jelas, rata, cembung, kaku, dan tidak
dapat digerakkan. Bagian-bagian kecil (tangan dan kaki) akan teraba
kecil : bentuk/posisi tidak jelas dan menonjol dan mungkin dapat
bergerak aktif atau pasif;
9. Letak kepala : teraba bagian besar, bulat, keras, melenting.
PENANGANAN MANAJEMEN ASUHAN KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 10. Letak sungsang : teraba bagian besar yang tidak bulat, tidak rata,
tidak melenting.
11. Letak lintang : teraba bagian besar (kosong);
12. Letakkan tiga ujung jari kedua tangan pada kedua sisi abdomen klien
tepat diatas simfisis dan minta klien menarik nafas dalam dan
menghembuskan nafasnya. Pada saat klien menghembuskan nafas
tekan jari tangan ke bawah
13. Secara perlahan dan dalam sekitar bagian presentasi. Bagian kepala
akan teraba keras, rata. Dan mudah digerakkan jika tidak terikat atau
tertahan, sulit digerakkan jika terikat atau tertahan. Bagian bokong
akan teraba lembut dan tidak rata;
14. Bidan menghadap ke kaki klien secara perlahan gerakkan jari tangan
ke sisi bawah abdomen ke atas pelvis sehingga ujung jari salah satu
tangan menyentuh tulang terakhir, ini adalah bagian ujung kepala.
Jika bagian ujung terletak di bagian yang berlawanan dengan
punggung adalah bagian pundak bayi, dan kepala pada posisi fleksi.
Jika kepala pada posisi ekstensi ujung kepala akan terletak pada
bagian yang sama dengan punggung dan bagian oksiput menjadi
ujung kepala;
Hasil :
 Convergen : sebagian kecil kepala turun ke dalam rongga
panggul;
 Sejajar : separuh dari kepala masuk ke dalam rongga panggul;
 Divergen : bagian terbesar dari kepala masuk ke dalam rongga
panggul dan ukuran terbesar kepala sudah melewati PAP
UNIT TERKAIT Poli klinik KIA dan Kandungan
PENANGANAN KONSELING PADA IBU HAMIL

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Konseling pada ibu hamil merupakan nasihat/anjuran yang diberikan
kepada ibu hamil dalam menghadapi proses kehamilan.
TUJUAN 1. Membantu klien melihat permasalahannya supaya Iebih jelas sehingga
klien dapat memilih sendiri jalan keluarnya;
2. Untuk memberikan konseling kesehatan yang tepat untuk
mempersiapkan kehamilan yang sehat dan terencana serta menjadi
orang tua yang bertanggung jawab;
3. Mampu menjadi konselor yang baik sehingga jumlah kelompok yang
resiko tinggi yang mendapat konseling meningkat, pengobatan resiko
tinggi menjadi Iebih efektif dan komplikasi dapat dicegah;
4. Membantu pasien mengubah perilakunya sehingga AKI dan AKB
berkurang;
5. Membantu pasien memilih alat kontrasepsi yang cocok.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Menatap klien;


2. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti;
3. Menunjukkan minat, salam, sambutan ramah, duduk enak, beri
komentar "ya atau terus”
4. Arahkan pembicaraan bila klien pindah ke topik lain;
5. Menggunakan pertanyaan terbuka;
6. Mengulang pertanyaan klien;
7. Menerangkan dengan jelas;
8. Merespons;
PENANGANAN KONSELING PADA IBU HAMIL

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
dNIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 9. Memberi dukungan;
10. Memperlakukan klien dengan sopan;
11. Memberi informasi yang diperlukan;
12. Menggunakan humor atau cara lain yang santai;
13. Tidak mengkritik;
14. Intonasi suara sama dengan klien;
15. Menggunakan ekspresi wajah;
16. Berbicara tidak terlalu cepat dan lambat
17. Menafsirkan dengan kata-kata sendiri;
18. Tidak menyela;
19. Tidak mengambil alih pembicaraan;
20. Wajar;
21. Mohon maaf sebelum menanyakan masalah sensitif atau pribadi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam konseling :
1. Kerahasiaan;
2. Tatap muka;
3. Terencana dan mempunyai tujuan;
4. Hubungan konselor klien harus baik;
5. Klien harus tahu apa itu konseling, dan apa yang diharapkan dari
konselor;
6. Beri kesempatan pasien untuk bicara;
7. Konselor menjadi pendengar yang baik;
8. Lakukan komunikasi verbal dan non verbal;
9. Ada tanggapan dan saran dari konselor.

UNIT TERKAIT Poli klinik KIA dan Kandungan


PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Asuhan persalinan normal merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi
(janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat dihidup diluar
kandungan melalui jalan lahir.
TUJUAN Untuk menjaga kelangsungan hidup dan meningatkan derajat kesehatan
ibu dan bayi dan Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai
dalam mendukung pertolongan persalnan yang bersih dan aman untuk
ibu dan bayi
KEBIJAKAN

PROSEDUR Tersedianya alat dan bahan yakni :


1. Pelindung diri;
2. Handuk kecil pribadi;
3. Handuk besar 2 (dua) buah;
4. Set partus;
5. Alat pengukur tanda vital;
6. Oksitosin 20 unit;
7. Spuit 3 cc 2 buah, spiut 10 cc 1 buah, spuit 1 cc I buah;
8. Vitamin K 0,5 cc;
9. Salep mata;
10. Dopler atau monoaural;
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 11. Bengkok;
12. Ember tempat alat tenun kotor; Tempat sampah;
13. Kantong plastik;
14. Duk steril;
15. Kapas detol dalam kom;
16. Egometrin
17. Lidokain;
18. Set hekting;
19. Benang catgut;
20. Kasa steril;
20. Betadin dalam botol dan Baskom berisi larutan klorin 0,5 %;
Perlengkapan baju ibu dan bayi;
21. Alat tulis;
 Timbangan bayi;
 Pengukur panjang bayi;
 Status ibu dan bayi;
 Stempel kaki bayi;
 Minuman manis untuk hidrasi;
22. Tersedianya tenaga dokter/bidan/ perawat
Langkah-langkah asuhan persalinan normal :
1. Mendengar dan melihat adanya gejala dan tanda kala II;
2. Pasien merasa adanya dorongan kuat untuk meneran;
3. Pasien merasakan adanya tekanan yang meningkat pada rektum dan
vagina;
4. Perineum tampak menonjol;
5. Vulva dan anus tampak membuka.
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 6. Memastikan kelengkapan peralatan, bahan, dan obat-obatan esensial
untuk menolong persalinan dan penatalaksanaan komlikasi pada
pasien dan bayi baru lahir. Menyiapkan tempat datar dan keras, 2
kain, 1 handuk bersih dan kering, dan lampu sorot 60 watt dengan
jarak 60 cm dari tubuh bayi, untuk penanganan, bayi asfiksia.
7. Meletakkan kain diatas perut pasien dan tempat resusitasi serta ganjal
bahu bayi;
8. Menyiapkan oksitoksin 10 unit dan spuit sekali pakai dalam set
partus.
9. Memakai celemek plastik;
10. Melepaskan dan menyimpan perhiasan yang dipakai, cuci tangan
dengan sabun dibawah alir yang mengalir kemudian keringkan
dengan tisu atau handuk kecil pribadi;
11. Memakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan
untuk melakukan pemeriksaan dalam;
12. Memasukan oksitosin ke spuit (gunakan tangan yang memakai sarung
DTT dan steril). Pastikan tidak terjadi kontaminasi pada spuit;
13. Membersihkan vulva dan perineum;
14. Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan
Iengkap.
15. Bila selaput ketuban belum pecah, dan pembukaan sudah lengkap
lakukan amniotomi;
16. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mecelupkan tangan yang
masih memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5 %
kemudian lepaskan sarung tangan dan rendam dalam keadaan terbalik
selama 10 menit. Cuci kedua tangan;
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 17. Memeriksa DJJ saat uterus tidak berkontraksi untuk memastikan DJJ
dalam keadaan normal (120-160 kali/menit).
18. Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal;
19. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dalan dan DJJ dan temuan
lainnya ke dalam partograf.
20. Memberi tahu pasien dan keluarga bahwa pembukaan sudah lengkap
dan janin dalam keadaan baik. Bantu pasien mengatur posisi nyaman
sesuai dengan keinginannya;
21. Meminta keluarga untuk membantu menyiapkan posisi meneran. Bila
ada rasa ingin meneran, bantu pasien untuk beralih ke posisi stengah
duduk atau posisi lain yang diinginkannya dan pastikan bahwa is
merasa nyaman;
22. Membimbing pasien untuk meneran saat merasa ada dorongan kuat
untuk meneran.
23. Membimbing pasien agar dapat meneran dengan benar dan efektif;
24. Mendukung dan memberi semangat pada pasien saat meneran,
perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai;
25. Membantu pasien untuk mengambil posisi nyaman sesuai dengan
pilihanya;
26. Menganjurkan pasien untuk beristirahat saat tidak ada his;
27. Menganjurkan / member semagat pada pasien;
28. Memberi intake cairan (minum);
29. Menilai DJJ setiap his selesai.
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

5/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 30. Menganjurkan pasien untuk berjalan, jongkok, atau mengambil posisi
nyaman jika belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60
menit;
31. Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di atas perut
pasien, jika kepala telah membuka vulva dengans diameter 5-6 cm;
32. Meletakkan kain bersih yang dilipat sepertiga bagian dibawah bokong
pasien;
33. Membuka tutup set partus dan memperhatikan kelengkapan slat dan
bahan;
34. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan;
35. Melindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain bersih
dan kering, setelah tangan kiri
36. Melakukan penekanan perineum dengan gaya tekanan kebawah dan
kedalam. Tangan yang lain menahan kepala bayi agar tidak terjadi
defleksi maksimal dan membantu lahirnya kepala. Menganjurkan
pasien untuk mengeran perlahan atau bernapas cepat dan dangkal.
37. Membersihkan mata, hidung, dan mulut bayi dari lender, darah, dan
air ketuban dengan menggunakan kasa steril;
38. Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat, ambil tindakan
yang sesuai jika hal itu terjadi. Segera lanjutkan proses kelahiran
bayi;
39. Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas
kepala bayi;
40. Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat didua tempat
dan potong diantara kedua klem tersebut;
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

6/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 41. Tunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan.
42. Setelah kepala melakukan paksi luar pengang secara biparietal dan
anjurkan pasien untuk meneran saat ada kontraksi. Dengan lembut
gerakan kepala kearah bawah hingga bahu depan muncul dibawah
arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas untuk melahirkan bahu
belakang;
43. Menggeser tangan dominan kebawah untuk menyanggah kepala,
leher, dan siku sebelah bawah setelah kedua bahu lahir;
44. Setelah tubuh dan lengan lahir sanggah kepala bayi dengan tangan
dominan sementara tangan yang lain berada di perineum untuk
bersiap menangkap tungkai bawah bayi (masukkan telunjuk diantara
kaki dan pegang masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-
jari lainnya);
45. Melakukan penilaian segera :
46. Apakah bayi menangis kuat/menangis spontan;
47. Apakah bayi bergerak aktif ?
48. Jika bayi tidak menagis, tidak bernapas, atau megap-megap, lakukan
langkah-langkah resusitasi.
49. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala, bagian tubuh
yang lain kcuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks kaseosa.
50. Ganti handuk basah dengan handuk kering dan biarkan bayi diatas
perut pasien.
51. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi janin
kedua (kehamilan gemeli);
52. Memberitahu pasien bahwa dia akan disuntuk oksitosin agar uterus
berkontraksi dengan baik;
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

7/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 53. Menyuntikan oksitosin 10 unit secara IM seperti luar paha atas dalam
waktu 1 menit setelah bayi lahir. Lakukan aspirasi sebelum
penyuntikan;
54. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusar
setelah 2 menit ayi lahir. Mendorong isi tali pusat kearah distal
pasien, lalu menjepit kembal tali pusat pada jarak 2 cm dari klem
pertama;
55. Pemotongan dan pengikatan tali pusat:
56. Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (sambil
melindungi perut bayi) kemudian lakukan penguntingan tali pusat
diantaran kedua kiem tersebut;
57. Ikat tali pusat dengan benang memakai cord cleam steril;
58. Lepaskan klem dan masukkan kedalam wadah yang telah
disediakan.Meletakkan bayi agar ada kontak kulit dengan pasien;
59. Meletakkan bayi tengkurap didada pasien. Luruskan bahu bayi hingga
bayi menempel pada dad/perut pasien. Usahakan kepala bayi berada
di atas payudara pasien dengan posisi lebih rendah dari putting;
60. Menyelimuti pasien dan bayi dengan kain hangat, kemudian pasang
topi dikepala bayi;
61. Memindahan kiem pada tali pusat hingga berjarak 5 10 cm dari vulva;
62. Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut pasien ditepi atas
simfisis untuk mendeteksi munculnya kontraksi, sementara tangan
yang lain menegangkan tali pusat;
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

8/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 63. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat kearah bawah
sambil tangan yang lain mendorong uterus kearah belakang dan atas
(dorsokranial) secara hati-hati untuk mencegah inverse uterus. Jika
plasenta belum juga lahir setelah 30-40 detik, hentikan. Penegangan
tali pusat tungguhingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi
prosedur diatas
64. Melakukan penegangan tali pusat dan lakukan dorongan dorsokranial
hingga plasenta terlepas, minta pasien meneran sambil penolong
menarik tali pusat dengan arah sejajar dengan lantai dan kemudian
arahkan keatas mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan
dorsokranial;
65. Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak 5-
10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta;
66. Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat,
maka lakukan hal sebagai berikut :
67. Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit secara IM;
68. Lakukan kateterisasi kandung kemih dengan teknik aseptik jika
kandung kemih penuh;
69. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan;
70. Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya;
71. Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir atau bila
terjadi perdarahan, segera lakukan manual plasenta.
72. Saat plasenta muncul di Introitus vagina, lahirkan plasenta dengan
kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban
terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang
telah disediakan;
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

9/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 73. Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau sarung
tangan steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput ketuban.
Gunakan jari-jari tangan untuk mengeluarkan bagian selaput plasenta
yang tertinggal
74. Melakukan masase uterus segera setelah plasenta dan selaput lahir.
Meletakkan telapak tangan diatas fundus dan lakukan masase dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus
teraba keras).
75. Melakukan tindakan yang diperlukan (memastikan kandung kemih
kosong, membersihkan bekuan darah dan selaput ketuban di vagina,
melakukan kompresibimanual interna, dan memantau perkembangan
kontraksi) jika uterus tidak berkontraksi selama 15 menit dimasase;
76. Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bagian bayi,
lalu pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta
kedalam kantong plastik atau tempat khusus;
77. Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan;
78. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervagina;
79. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit dengan kulit pasien
selama paling sedikit 1 jam.
80. Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini
dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama biasanya berlangsung
sekitar 1-15 menit, dan bayi cukup menyusu dengan satu payudara;
81. Biarkan bayi berada diatas dada pasien selama 1 jam walaupun bayi
sudah berhasil menyusu.
82. Menimbang dan melakukan pengukuran antropometri pada bayi 1
jam setelah lahir
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

10/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 83. Memberi tetes mata profilaksis dan vitamin K1 1 mg IM dipaha
anterolateral.
84. Memberikan imunisasi hepatitis B di paha kanan anterolateral setelah
1 jam pemberian vitamin K1.
85. Letakkan bayi dalam jangkauan ibu agar sewaktuwaktu bisa
disusukan;
86. Letakkan bayi kembali pada dada ibu bila bayi belum berhasil
menyusu dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil
menyusu.
87. Melakukan pemantauan kontraksi uterus dan jugs perdarahan
pervagina.
88. 2 sampai 3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan;
89. Setiap 15 menit pada jam pertama;
90. Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan;
91. Jika uterus tidak berkontraksi dengan balk, lakukan asuhan yang
sesuai untuk penatalaksanaan atonia uterus.
92. Mengajarkan pasien/ibu atau keluarga cara melakukan masase uterus
dan menilai kontraksi;
93. Mengevaluasi dan memperkirakan jumlah perdarahan;
94. Memeriksa nadi pasien dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama 1 jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama
jam kedua pascapersalinan;
95. Periksa suhu setiap jam selama 2 jam pertama pascapersalinan;
96. Lakukan tindakan yang sesuain untuk temuan yang tidak normal;
97. Memeriksa kembali keadaan bayi bahwa bayi bernapas dengan balk (
40 - 60 kali/menit ) serta suhu 36,5 - 37,5 °c;
98. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi selama 10 menit, cuci dan bilas peralatan setelah
didekontaminasi;
PENANGANAN 60 LANGKAH ASUHAN
PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen No. Revisi Halaman

11/11

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 99. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi kedalam tempat
sampah yang sesuai;
100.Membersihkan pasien dari sisa cairan ketuban, lendir dan darah
dengan menggunakan air DTT, bantu memakaikan pakaian yang
bersih dan kering.
101.Memastikan pasien merasa nyaman. Membantu dalam memberikan
ASI dan anjurkan keluarga untuk memberi pasien minuman dan
makanan yang diinginkannya;
102. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%;
103.Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%, lalu
balikkan bagian dalam keluar kemudian rendam kembali selama 10
menit;
104. Mencuci kedua tangan dengan sabun dibawah air mengalir
kemudian keringkan dengan menggunakan handuk bersih;
105.Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda
vital dan asuhan kala IV.
UNIT TERKAIT Kamar Bersalin
PENANGANAN PERDARAHAN ANTE PARTUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Perdarahan ante partum : perdarahan pervaginam pada usia kehamilan 22
minggu atau lebih
TUJUAN Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Perdarahan fornises : hanya dikerjakan pada presentasi kepala


 PDMO : bila akan mengakhiri kehamilan / persalinan
 USG
 Diagnosis diferensial
2. Solusio plasenta
 Batasan : terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada fundus
uteri/ corpus uteri sebelum janin lahir.
 Ringan : perdarahan kurang dari 100 – 200 cc, uterus tidak
tegang, belum ada tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta
kurang dari 1/8 bagian permukaan. Kadar fibrinogen plasma lebih
dari 250 mg%
 Sedang : perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda
prarenjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta
1/4 sampai 2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen 120 – 150
mg%.
 Berat : uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda
renjatan, biasanya bayi telah mati, pelepasan plasenta bisa terjadi
pada lebih dari 2/3 bagian permukaan atau keseluruhan bagian
permukaan.
PENANGANAN PERDARAHAN ANTE PARTUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 3. Plasenta previa
Batasan : plasenta yang letaknya tidak normal sehingga dapat
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.
OBSTETRI PATOLOGI
Kriteria diagnosis
1. Anamnesis :
 Perdarahan pervaginam pada usia 22 minggu atau lebih
 Timbulnya perdarahan pervaginam secara spontan tanpa
melakukan aktifitas atau akibat trauma pada abdomen.
 Disetai nyeri atau tanpa nyeri akibat kontraksi uterus
2. Beberapa faktor predisposisi :
 Riwayat solusio plasenta
 Perokok
 Hipertensi
 Multi paritas, janin besar
3. Pemeriksaan :
 Fisik umum : Keadaan tensi, nadi, pernafasan
 Obstetrik : Periksa luar : - Bagian bawah janin belum masuk
 Pada / tidak kelainan letak
 Perdarahan fornises : hanya dikerjakan pada presentasi kepala
 PDMO : bila akan mengakhiri kehamilan / persalinan
 USG
 Diagnosis diferensial
4. Solusio plasenta
 Batasan : terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada fundus
uteri/ corpus uteri sebelum janin lahir.
PENANGANAN PERDARAHAN ANTE PARTUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Ringan : perdarahan kurang dari 100 – 200 cc, uterus tidak
tegang, belum ada tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta
kurang dari 1/8 bagian permukaan. Kadar fibrinogen plasma lebih
dari 250 mg%
 Sedang : perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda
prarenjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta
1/4 sampai 2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen 120 – 150
mg%.
 Berat : uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda
renjatan, biasanya bayi telah mati, pelepasan plasenta bisa terjadi
pada lebih dari 2/3 bagian permukaan atau keseluruhan bagian
permukaan.
5. Plasenta previa
Batasan : plasenta yang letaknya tidak normal sehingga dapat
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.
6. Plasenta previa :
Atasi renjatan, resusitasi cairan dan transfusi darah. Bila tidakteratasi
dilakukan upaya penyelamatan yang optimal, bila teratasi dilakukan
partus perabdominal
7. Perawatan rumah sakit
Pasien perlu segera dirawat
8. Penyulit (komplikasi yang mungkin timbul)
 Pada ibu :
 Renjatan
 Gagal ginjal akut / tubular nekrosis
 DIC (Disseminated Intravascular Coagulation)
 Plasenta acreta
 Atonia uteri / uterus couvelaire
 Perdarahan pada impantasi uterus di segmen bawah
PENANGANAN PERDARAHAN ANTE PARTUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Pada janin :
 Asfiksia
 Infeksi
Informed consent Diperlukan secara tertulis saat pasien masuk rumah
sakit Lama perawatan (tanpa komplikasi) : 7 hari
9. Masa pemulihan
Enam minggu setelah tindakan / melahirkan
10. Output / lengkap
11. Komplikasi : diharapkan minimal / tidak ada
12. Kesembuhan : diharapkan sempurna
UNIT TERKAIT Ruang Obgyn
VAGINAL TOILET

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Vaginal toilet merupakan tindakan mencuci vagina dengan menggunakan
air hangat dan larutan betadin.
TUJUAN Untuk persiapan operasi.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Memberitahukan kepada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan;


2. Cuci tangan;
3. Memakai hanskun;
4. Desinfeksi vulva dan sekitarnya dengan kapas basah steril;
5. Pasang spekulum cocor bebek dalam vagina pasien sampai terlihat
portio/mulut rahim;
6. Cuci vagina dengan menggunakan kasa dan larutan betadin;
7. Keringkan vagina dengan kasa steril, ambil tampon, ujungnya diberi
gential violet/betadin;
8. Masukkan tampon dengan ujung yang diberi gentian violet/betadin
menutupi mulut rahim dan biarkan ujung satunya sedikit keluar dari
mulut vagina;
9. Spekulum dilepas;
UNIT TERKAIT Kamar Bersalin
PENANGANAN INSPEKSI VULVA DAN VAGINA
HYGIENE

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Vulva hygine merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu
membersihkan vulva sendiri
TUJUAN 1. Untuk mengetahui apakah ada penyakit infeksi di jalan lahir;
2. Untuk mengetahui apakah ada valises;
3. Untuk mengetahui kebersihan vulva;
4. Untuk mengetahui apakah ada odema vulva.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Membersihkan vestibulum dengan arah dari atas ke bawah;


2. Mengamati/memperhatikan :
3. Tidak adanya infeksi, oedema, varises, hyperemia pada labia mayora
dan minora;
4. Klitoris ada tidaknya hypermetropi, infeksi;
5. Lubang uretra (polip, eritema, pengeluaran nanah, for albus);
6. Lubang vagina (infeksi, prolaps, darah, nanah, fluor albus, varises);
7. Perineum (bekas luka, infeksi);
8. Anus (bekas luka, hemoroid, benjolan).
9. Merapikan pasien;
10. Memberitahu kalau tindakan sudah selesai;
11. Merapikan alat dan tempat.
UNIT TERKAIT Poli Klinik
Kamar Bersalin
PENANGANAN TRANSFUSI DARAH

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Transfusi darah merupakan tindakan memasukkan darah melalui vena
dengan menggunakan seperangkat alat tranfusi pada pasien yang
membutuhkan.
TUJUAN 1. Untuk memenuhi kebutuhan darah;
2. Memperbaiki perfusi jaringan
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Cuci tangan;


2. Periksa identitas pasien;
3. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan;
4. Hubungkan cairan NaCI 0,9% dan seperangkat tranfusi dengan
menusukkannya Isi cairan NaCI 0,9% ke dalam perangkat transfusi
dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi
sebagian. Kemudian buka penutup, hingga selang terisi dan udaranya
keluar;
5. Letakkan pengalas;
6. Lakukan pembendungan dengan tourniquet;
7. Gunakan sarung tangan;
8. Desinfeksi daerah yang akan di tusuk;
9. Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas;
10. Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar melalui
jarum infuse/abocath;
11. Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang tranfusi;
12. Buka tetesan;
13. Lakukan desinfeksi dengan betadin dan tutup dengan kasa steril;
14. Beri tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester;
PENANGANAN TRANSFUSI DARAH

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 15. Beri tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester;
16. Setelah NaCI 0,9% masuk sekitar ± 15 menit, ganti dengan darah
yang sudah disiapkan;
17. Darah sebelum dimasukkan, terlebih dahulu cek warna darah,
identitas pasien, jenis golongan darah, dan tanggal kadaluwarsa;
18. Lakukan obsevasi tanda-tanda vital selama pemakaian tranfusi;
19. Catat respons terjadi;
20. Cuci tangan.
UNIT TERKAIT Kamar Bersalin
PELAYANAN KONTRASEPSI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Memberikan pelayanan kontrasepsi kepada pasangan usia subur sesuai
dengan tujuan ber-KB, apakah untuk membatasi jumlah anak atau
mengatur jarak kehamilan.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah pelayanan kontrasepsi.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Lakukan konseling pada klien dan suami dengan 6 langkah :


 Sapa dan salam dengan sopan dan ramah
 Tanyakan informasi tentang klien, pengalaman ber-KB dan
keinginan metode
 Uraikan pilihan metode KB
 Bantu klien memilih dan memutuskan pilihan
 Jelaskan tentang metode yang dipilih klien
 Buat rencana kunjungan ulang
2. Pastikan tempat dan waktu konseling memenuhi syarat :
 Ruangan tertutup : menjamin kerahasiaan dan keleluasaan
menyampaikan pikiran dan perasaan,aman dan nyaman
 Waktu : saat pemeriksaan kehamilan, kelas ibu hamil, selama
proses/pasca bersalin, sebelum /sesudah pelayanan kontrasepsi
3. Gunakan media lembar balik Alat Bantu Pengambilan Keputusan
(ABPK) ber-KB
4. Pastikan klien dan suami sudah mendapatkan informasi penting, yaitu:
 Efektivitas dari metode kontrasepsi
 Keuntungan dan keterbatasan
 Kembalinya kesuburan setelah melahirkan
 Efek samping jangka pendek dan panjang
PELAYANAN KONTRASEPSI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Gejala dan tanda yang membahayakan
 Kebutuhan untuk pencegahan terhadap infeksi menular seksual
(HBV,HIV/AIDS)
 Waktu dimulainya kontrasepsi
5. Tujuan klien ber-KB apakah untuk membatasi jumlah anak/mengatur
jarak kehamilan
6. Jika klien sudah menentukan kontrasepsi yang dipilih, klien
memberikan persetujuan berupa tanda tangan pada lembar informed
consent.
7. Jika klien sudah mengisi lembar informed consent, lakukan pelayanan
KB sesuai metode kontrasepsi yang dipilih
8. Ucapkan salam dan terima kasih
PELAYANAN KONTRASEPSI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR Algoritme KB pasca salin :

PUS (Pasangan Usia Subur)

TIDAK
YA

Membatasi Anak Kontrasepsi Mantap

TIDAK
YA

-ASI
Ibu Menyusui Eksklusif Gunakan
MAL selama 6
-Belum KB lain
bln pasca salin
Haid setelah 6
-Bayi < 6 bln pasca
bln salin

Gunakan
TIDAK
KB
sebelum
hub
seksual Gunakan -Non Hormonal
pertama KB lain -Hormonal
setelah 6 -Progestin/kombinasi
mg pasca
salin

-Non Hormonal
-Hormonal Progestin
PELAYANAN KONTRASEPSI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
UNIT TERKAIT 1. Unit Kebidanan
2. Unit Poli Klinik
PENDAMPINGAN PASIEN SELAMA MELAHIRKAN
OLEH SUAMI/KELUARGA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Suatu keadaan dimana pasien yang akan melahirkan ditemani oleh
suami/keluarga.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah pasien ditunggu/ditemani oleh
suami/keluarga selama melahirkan.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Beritahu suami/keluarga maksimal 2 orang untuk menemani pasien


diruangan melahirkan.
2. Ajarkan suami dan anggota keluarga mengenai cara-cara bagaimana
mereka dapat memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan
dan kelahiran bayinya.
3. Beritahu kepada suami/keluarga, jika perlu bantuan silahkan
memanggil petugas/bidan jaga di pos jaga.
UNIT TERKAIT Kamar Bersalin
PENANGANAN PASIEN DENGAN PROLAPSUS TALI
PUSAT

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Suatu keadaan dimana tali pusat menutupi jalan lahir, ada dua prolapsus
tali pusat yaitu prolapsus tali pusat terkemuka yang diketahui pada saat
ketuban masih utuh dan prolapsus tali pusat menumbung yang diketahui
pada saat ketuban sudah pecah. Kedua keadaan ini membahayakan
kehidupan janin.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menangani kejadian
prolapsus tali pusat
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Tali Pusat Berdenyut


Jika tali pusat berdenyut berarti janin masih hidup :
 Berikan oksigen 4-6liter/menit melalui masker atau kanula nasal.
 Posisi ibu trendelenburg.
 Diagnosis terhadap tahapan persalinan melalui pemeriksaan
dalam segera.
 Jika terjadi pada ibu pada Persalinan Kala I :
 Dengan sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi (DTT)
masukkan tangan ke dalam vagina dan bagian terendah janin
segera didorong ke atas sehingga tahanan pada tali pusat dapat
dikurangi.
 Tangan yang lain menahan bagian terendah di suprapubis dan
evaluasi keberhasilan reposisi.
PENANGANAN PASIEN DENGAN PROLAPSUS TALI
PUSAT

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Jika bagian terbawah janin telah terpegang dengan kuat di atas
rongga panggul, keluarkan tangan dari vagina. Letakkan tangan
tetap di atas abdomen sampai dilakukan SC.
 Jika tersedia berikan sarbutamol 0,5mg IV secara perlahan untuk
mengurangi kontraksi rahim.
 Segera lakukan SC
 Jika terjadi pada ibu pada persalinan kala II :
 Pada persentasi kepala lakukan segera persalinan dengan vakum
dengan episiotomi.
 Jika persentasi bokong dan letak lintang, siapkan SC
 Siapkan segera resusitasi neonatus
UNIT TERKAIT 1. Kamar Bersalin
2. OK
PELATIHAN BIDAN DI RS

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Melakukan pelatihan bidan yang berhubungan dengan pekerjaan
diruangan.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk melakukan pelatihan
bidan agar pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan standar prosedur
operasional RS.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Kepala ruangan mengidentifikasikan jenis pelatihan yang diperlukan


diruangan yang bersangkutan
2. Kepala ruangan melaporkan kepada kepala bagian keperawatan
tentang jenis pelatihan yang akan dilaksanakan
3. Kepala bagian keperawatan melaporkan kepada bagian diklat RS
4. Bagian diklat bersama CI akan menyusun jadwal pelatihan secara
periodik dan kemudian dikonfirmasikan kepada kepala ruangan
5. Kepala ruangan memberitahukan kepada bidan pelaksana tentang
pelatihan yang akan diikuti beserta jadwal diadakannya pelatihan
6. Buat evaluasi pelatihan dan dokumentasikan dimasing-masing
ruangan
UNIT TERKAIT 1. Ruang Bersalin
2. Ruang Kebidanan
3. Ruang Perinatologi
RUJUKAN PASIEN KEBIDANAN SECARA
TIMBAL BALIK

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Memberikan informasi kepada pihak yang merujuk mengenai
penanganan yang telah dilakukan selama pasien dirawat di RS Pratama
Sukadana.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk membuat rujukan
pasien kebidanan secara timbal balik
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Ingatkan dokter yang menangani pasien untuk mengisi formulir


rujukan balik yang sudah disediakan oleh instansi/pihak yang
merujuk pasien
2. Berikan surat rujukan balik kepada instansi/pihak yang merujuk
dengan pengesahan pihak RS dan tanda tangan dr yang menangani
3. Surat rujukan balik langsung diberikan kepada petugas yang merujuk
4. Arsif rujukan balik disimpan di map kebidanan
UNIT TERKAIT 1. Kamar Bersalin
2. Ruang Perawatan Kebidanan
PERSIAPAN PASIEN YANG AKAN DILAKUKAN
TINDAKAN CURETAGE

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Mempersiapkan pasien yang akan dilakukan tindakan curettage
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk persiapan pasien yang
akan dilakukan tindakan curettage
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga tindakan yang akan dilakukan
2. Lakukan informed consent
3. Cek status dan jaminan pasien, konfirmasi administrasi rawat inap
4. Lakukan persiapan pasien :
 Puasa minimal 6 jam sebelum tindakan
 Tidak menggunakan kosmetik, perhiasan atau gigi palsu
 Cek TTV, pengeluaran pervaginam, hasil laboratorium
5. Lakukan Persiapan alat :
 Oksigen dan selangnya
 Speculum cocor bebek ukuran M : 1 buah
 Tenaculum : 1 buah
 Penster Klem : 1 buah
 Kom bethadin : 1 buah
 Bethadin secukupnya
 Kasa steril : 2 buah
 Sendok curetage no.2 dan no.6
 Selang suction : 1 buah
 Suction busi : 1 buah
 Doek steril : 1 buah
PERSIAPAN PASIEN YANG AKAN DILAKUKAN
TINDAKAN CURETAGE

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Underpad : 1
6. Lakukan persiapan obat :
 Anesfar : 1
 Pethidin : 1
 Ketamin sesuai kebutuhan
 Bledstop : 1
 Keterolac 30mg : 1
 Ondansetron : 1
 Sulfas Atropin : 1
 Spuit 5cc : 1
 Spuit 10cc : 1
 Spuit 3cc : 1
 Infuse RL : 1
 Tranfusi set : 1
 Vemflon no.18 : 1
7. Konfirmasi jadwal curettage dengan dr Sp.OG
 Lapor dengan anastesi
UNIT TERKAIT 1. Unit Rawat Inap
2. IGD
3. HCU
4. Kamar bersalin
5. Kamar bayi
6. Unit Perawatan Kebidanan.
IBU MELAHIRKAN DENGAN HBsAG POSITIF
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Bayi yang dilahirkan dari ibu yang hasil pemeriksaan darahnya HbsAg
positif.
TUJUAN Mengelola bayi yang dilahirkan dari ibu yang hasil pemeriksaan
darahnya HbsAg positif.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Berikan dosis awal Vaksin Hepatitis B (VHB) 0,5 ml IM segera


setelah lahir (sebaiknya 12 jam setelah lahir) dilanjutkan dosis ke-2
dan ke-3 sesuai dengan jadwal imunisasi hepatitis.
2. Apabila orang tua bersedia membeli Imunoglobulin Hepatitis B,
berikan Imunoglobulin Hepatitis B 200 IU (0,5 ml) IM disuntikan
pada paha sisi yang lainnya, dalam waktu 24 jam setelah lahir atau
paling lambat 48 jam setelah lahi.
3. Yakinkan Ibu untuk tetap menyusui bayinya.
UNIT TERKAIT 1. Unit Kamar Bayi
2. Unit Kamar Bersalin
3. Unit Farmasi
4. Unit Obgyn
PENGAWASAN KALA IV

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Pengawasan pasien postpartum mulai dari setelah plasenta lahir sampai
dengan 2 jam postpartum meliputi pengawasan tanda-tanda vital, tinggi
fundus uteri, kontraksi uterus, perdarahan dan kandung kemih.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk mengoptimalkan
kesehatan ibu dan bayi 2 jam postpartum.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Petugas cuci tangan dengan sabun dan air mengalir


2. Pastikan dan bimbing ibu menyusui bayinya
3. Lakukan pemeriksaan TTV bayi dan ibu
4. Lakukan pemeriksaan tinggi fundus uteri, kandung kemih, kontraksi
uterus dan perdarahan
5. Bantu ibu untuk berkemih dan ajarkan ibu membersihkan
kemaluannya.
6. Ganti pembalut ibu
7. Petugas cuci tangan dengan sabun dan air mengalir
8. Catat hasil pemeriksaan di lembar observasi
UNIT TERKAIT Ruang Bersalin
MENERIMA PASIEN BARU INPARTU

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Menerima pasien yang baru masuk dengan kehamilan aterm dan ditandai
rasa sakit karena adanya his yang sering, dan teratur disertai keluar lendir
darah, pecah ketuban dengan pemeriksaan dalam serviks mendatar dan
telah ada pembukaan.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menerima pasien baru
dengan baik, sopan dan sesuai kebutuhan pasien.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Pasien dan keluarga diterima dengan penuh perhatian


2. Perkenalkan diri dan sarana yang ada di rumah sakit.
3. Bila pasien dapat berdiri, timbang berat badan dan tinggi badan.
4. Lakukan pengkajian dan catat di lembar pengkajian.
5. Lakukan pemeriksaan :
 Petugas cuci tangan
 Inspeksi (Pasien ditidurkan posisi telentang)
 Perhatikan/Lihat keadaan pasien dari ujung rambut sampai ujung
kaki :
 Apakah ada anemia atau tidak
 Bentuk perut
 Adanya striae
 Apakah ada oedema
 Lakukan pemeriksaan TTV
 Lakukan pemerisaan palpasi :
 Pasien diberitahu
 Pasien ditidurkan dalam posisi telentang
MENERIMA PASIEN BARU INPARTU

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Lakukan palpasi menurut Leopold :
Leopold I : untuk menentukan yang ada di fundus
Leopold II : menentukan letak punggung anak/janin
Leopold III : menentukan bagian terbawah janin
Lepold IV : menentukan sejauh mana kepala masuk ke rongga
panggul
 Lakukan pemeriksaan auskultasi :
Kriteria persiapan alat :
 Stekoskop
 Dopler/CTG
 Jam
Kriteria Pelaksanaan :
 Pasien ditidurkan dalam posisi telentang
 Pasien diberitahu/ditenangkan
 Bidan melakukan palpasi untuk menentukan arah punggung
anak/janin
 Setelah teraba punggung janin, bidan meletakan Doppler
 Untuk menentukan DJJ
 Jam didekatkan supaya mudah menghitung DJJ
 DJJ normal 120-160x/menit
 Melakukan pemeriksaan dalam :
Kriteria persiapan alat :
 Steril : sarung tangan, kapas DTT, korentang
 Tidak steril : alas bokong
6. Kriteria pelaksanaan :
 Pasien ditidurkan dalam posisi dorsal recumbent
 Petugas menggunakan sarung tangan
MENERIMA PASIEN BARU INPARTU

No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Buka labia mayora dan dibersihkan dengan kapas dari atas ke
bawah. Masukkan jari tengah dan jari telunjuk secara hati-hati,
membelok ke bawah dalam garis medial jangan menimbulkan
rasa sakit.
 Tentukan besarnya : pembukaan, ketuban, portio, letak bagian
terendah Hodge I-IV
 Sambil memperhatikan : promontorium teraba/tidak, spina
ischiadika teraba/tidak, arcus pubis sempit/tidak, sacrum
menonjol/tidak, kelainan-kelainan dinding vagina dan keadaan
dasar panggul.
 Sarung tangan dilepas
 Petugas cuci tangan
 Beritahukan hasil pemeriksaan kepada pasien dan keluarga
7. Pasien dan alat-alat dibereskan
8. Catat hasil pemeriksaan
9. Petugas berkolaborasi dengan dokter
10. Buat surat pengantar rawat inap pasien
11. Buat gelang pasien : nama, tanggal lahir dan no Rekam Medis.
Kemudian dipasangkan pada pergelangan tangan pasien
12. Ganti pakaian pasien sesuai dengan pakaian yang disediakan
13. Kirim formulir laboratorium pasien
UNIT TERKAIT 1. Kamar Bersalin
2. Pendaftaran Rawat Inap
3. Unit Laboratorium
4. Unit Perawatan Kebidanan
PENGGUNAAN INKUBATOR

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Suatu cara penggunaan inkubator di ruang vk secara benar.
TUJUAN Memberikan pelayanan yang optimal kepada bayi yang membutuhkan
alat medis inkubator.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Cara Menghidupkan :


 Untuk mengoperasikan alat, colokkan alat pada sumber daya
listrik.
 Siapkan sampel yang akan diinkubasi kemudian letakkan pada
rak dalam ruanginkubator kemudian tutup pintu inkubator.
 Jika persiapan sampel telah selesai, tekan tombol POWER pada
posisi ON, maka alatakan langsung menyala ditandai dengan
display menyala.
2. Cara Penggunaan :
 Siapkan sampel yang akan diinkubasi kemudian letakkan pada
rak dalam ruanginkubator kemudian tutup pintu inkubator.
 Set TIMER dengan memutar tombol TIMER sesuai waktu yang
diinginkan, di set awalper 10 jam . jadi jika ingin menginkubasi selama
24 jam putar tombol pada posisi 2lebih 4 strip.
 Untuk set suhu, tekan tanda < kemudian digit hijau akan
berkedip. Naikkan atauturunkan dengan menekan ^/v kemudian
tekan MD (enter).Catatan: SV : digit hijau suhu yang
diinginkanPV: digit merah, suhu yang ada sekarang
UNIT TERKAIT Ruang Bersalin
MEMBERIKAN OBAT MELALUI VAGINA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Obat vaginal tersedia dalam bentuk supositoria dan cream, digunakan
untuk mengobati infeksi lokal. Cairan yang keluar dari vagina biasa
bersifat asam, yang membantu melindungi vagina terhadap infeksi.
TUJUAN Untuk mengobati infeksi lokalmembersihkan vagina untuk persiapan
operasi memberikan antiseptic untuk mengurangi pertumbuhan
bakterimenghilangkan bau atau ekresi berlebihan.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Persiapan
Cek catatan perawat dan catatan medis
2. Persiapan alat :
 Obat yang diberikan
 Kartu obat
 Sarung tangan bersih
 Jeli / pelumas
 Tissue
 Aplikator untuk memasukkan supositoria/ cream
 Handuk penutup
3. Persiapan klien :
 Berikan salam, identifikasi klien, panggil klien dengan namanya
 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
 Membuat rencana waktu yang tepat saat pemberian
4. Pelaksanaan :
 Mencuci tangan dan palkai sarung
 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada klien
 Membuka pakaian hanya bagian yang diperlukan
 Menganjurkan klien dalam posisi dorsal recumben
MEMBERIKAN OBAT MELALUI VAGINA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Membuka labia, bersihkan dengan kapas yang dibasahi air hangat
dari arah depan ke belakang
 Pemberian supositoria dengan cara :
 Buka bungkus aluminium foil dan oleskan pelumas (k/p) pada
ujungnya
 Dengan tangan kiri rengangkan labia
 Masukkan ujung supositoria ke dinding canal vagina
sepanjang jari telunjuk
 Tarik jari dan bersihkan pelumas yang tersisa pada orifisium
 Anjurkan klien tetap pada posisinya selama 10 menit
 Pakaikan pembalut k/p
 Lepaskan sarung tangan, cuci tangan
 Dokumentasikan tentang pemberian obat
 Pemberian krim vagina dengan cara :
 Isi aplikator sejumlah cream yang ditentukan
 Lumasi aplikator k/p
 Masukkan hati-hati aplikator kearah bawah dan ke belakang
mengikuti searah dan sepanjang vagina ( kira-kira 7.5 cm )
 Masukkan obat dengan mendorong pluger, kemudian
keluarkan aplikator dengan plunger ditekan
 Anjurkan klien tetap dalam posisinya selama 10 menit
 Gunakan pembalut untuk menahan kalau ada drainage
 Cuci aplikator dengan sabun dan air hangat
 Buka sarung tangan dan cuci tangan
 Dokumentasikan tentang pemberian obat
5. Sikap :
 Menjaga privacy klien
 Hati – hati
UNIT TERKAIT 1. Unit Rawat Inap dan Rawat Jalan
2. IGD
MEMASANG GURITA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Tindakan untuk mengimobilisasi daerah bekas operasi / abdomen
dengan menggunakan alat bantu gurita.
TUJUAN 1. Mengimobilisasi daerah bekas operasi
2. Mencegah komplikasi post operasi (evecerasi, dehiscence)
3. Mengurangi nyeri saat klien mobilisasi
4. Memberikan rasa nyaman
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Persiapan
Cek catatan perawat dan catatan medis
2. Persiapan Alat :
Gurita bersih
3. Persiapan klien :
 Berikan salam, identifikasi klien, panggil klien dengan namanya.
 Memberitahu dan menjelaskan kepada klien mengenai prosedur
yang akan dilakukan
 Menyiapkan lingkungan dan privacy dengan menutup
gorden/skerm, k/p menutup jendela dan pintu
4. Pelaksanaan :
 Perawat mencuci tangan
 Membantu klien dalam posisi tidur terlentang
 Membebaskan pakaian di daerah yang akan dipasang gurita
 Meletakkan gurita di bawah badan sesuai kebutuhan
 Mengikat tali gurita dengan cukup kuat dan rapi, perhatiakn
posisi tali gurita, jangan diikat tepat diatas luka.
 Merapihkan klien dan lingkungannya.
 Perawat mencuci tangan.
MEMASANG GURITA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Menulis pada catatan perawat waktu pelaksanaan, tingkat rasa
nyaman klien dan respon klien terhadap prosedur
5. Sikap :
 Hati-hati
 Sabar
 Menjaga privacy klien
UNIT TERKAIT Unit Rawat Inap, Kamar Bersalin
INISIASI MENYUSU DINI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/1

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Suatu proses memberikan kesempatan kontak antara ibu dan bayi segera
setelah bayi lahir.
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah bonding antara ibu dan bayi,
membantu keberhasilan pemberian ASI yang pertama, menurunkan
angka kesakitan dan kematian ibu akibat perdarahan pasca salin dan
menurunkan angkan kesakitan dan kematian bayi akibat hipotermi dan
infeksi
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Lakukan perawatan bayi baru lahir dengan APGAR 1 menit dan %
menit pertama
2. Bila APGAR baik (7-10) segera berikan bayi pada ibu untuk didekap
3. Anjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya (<30 menit setelah bayi
lahir)
4. Setelah beberapa saat, ambil kembali bayi untuk dibersihkan
5. Bersihkan ibu dan sisa-sisa darah
6. Lakukan rawat gabung total/parsial (tergantung keadaan ibu dan bayi)
UNIT TERKAIT Ruang Obgyn, Ruang Perinatologi
PENANGANAN PERDARAHAN POST PARTUM
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Adalah perdarahan lebih dari 500cc yang terjadi setelah bayi lahir.
Perdarahan post partum dini, yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam
pertama setelah kala III
TUJUAN Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas
KEBIJAKAN

PROSEDUR Perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam sebanyak 500 cc


yang terjadi setelah bayi lahir. Perdarahan post partum dini adalah
perdarahan pasca perslinan yang terjadi <24 jam.
1. Diagnosa ditegakkan dengan tanda – tanda / gejala sebagai berikut:
 Penderita shock / tidak
 Anemia, muka pucat
 Perdarahan keluar terus menerus dari vagin
 Tinggi fundus uteri naik
 Penderita gelisah, keringat dingin
 Kontraksi uterus lembek
 Sebab-sebab perdarhan post partum dini
 Atonia uteri
 Ruptura jalan lahir ( uterus, Cervix, vagina, dan perineum )
 Retensio plasentae
 Gangguan pembekuan darah
PENANGANAN PRESENTASI BOKONG

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Adalah keadaan dimana janin letaknya memanjang dengan bokong
menempati bagian bawah rongga rahim
TUJUAN Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Kriteria Diagnosa :


 Gerakan janin dirasa bagian bawah
 Teraba kepala di fundus uteri
 DJJ setinggi / lebih tinggi pusat ibu
 Periksa dalam : teraba bokong, anus, kaki
 Pemeriksaan Penunjang : USG
2. Penatalaksanaan :
 Dalam kehamilan
 Pada kehamilan <34 minggu
 Posisi Lutut Dada ( PLD )
 Berhasil : tunggu sampai aterm
 Gagal PLD - kontrol tiap minggu
 Versi luar :
 Berhasil : aterm bila tidak ada kontra indikasi
 Gagal : PLD - kontrol tiap minggu
 Dalam persalinan :
 Pembukaan kurang 4 cm, ketuban +, tidak ada kontra indikasi
: VL
 Gagal : nullipara TBJ >3000 gr : SC
 Pembukaan lebih 4 cm, ketuban +/-
PENANGANAN PRESENTASI BOKONG

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Pembukaan lebih 4 cm, ketuban +/-
 Nulipara TBJ >3000 gr : SC
 Nulipara TBJ <3000 gr : evaluasi : partus maju : pervaginam
 Multipara : evaluasi : partus maju : pervaginam
 Multigravida, ketuban (-) lebih 12 jam : SC
 Partus tak maju + KK (+) atau KK (-) <12 jam : stimulasi
 Ketuban (-) >12 jam : SC
 Kepala deflexi : SC
 Janin besar : SC
 Pervaginam : Bracht, manual aid, ekstraksi
UNIT TERKAIT 1. Klinik Kebidanan
2. Ruang Bersalin
3. Kamar Operasi
4. Ruang Rawat Inap (Perina)
PENANGANAN INFEKSI INTRA PARTUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Infeksi intra partum yaitu infeksi yang terjadi dalam persalinan yang
ditandai dengan suhu naik ≥ 38°C, air ketuban keruh kecoklatan, berbau
dan lekosit ≥ 15.000/mm². infeksi dapat terjadi antepartum, berupa
khorioamnionitis yang mungkin asimtomatik.
TUJUAN Mencegah dan memberikan terapi infeksi intra partum untuk menurunkan
morbilitas ibu dan anak
KEBIJAKAN

PROSEDUR Prosedur layanan :


1. Identifikasi Infeksi :
Terjadi pada kala I, II, III, IV dan nifas
 Menentukan kasus dengan kemungkinan infeksi kala I, II, III dan
IV Sebab infeksi : infeksi nasokomial
 Infeksi iatrogenik, prosedur yang tidak aseptik
 ketuban pecah dini
2. Etiologi :
Bakteri aerob dan anaerob antara lain :
 Escheria colli
 Clostridium
 Pseudomonas
 Streptokokus hemolitikus
3. Pencegahan :
 Alat-alat pemeriksaan steril
 Prosedur pemeriksaan aseptik
 Toilet wanita setiap pemeriksaan dan tindakan vaginal
PENANGANAN INFEKSI INTRA PARTUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Penggunaan linn steril sebagai pelengkap pemeriksaan dan
tindakan.
 Obat antiseptik yang memadai
 Pnggunaan tempat dan pakaian khusus bersalin serta
ruangbersalin yang bersih.
 Penggunaan Profilaksis
4. Pemeriksaan keadaan infeksi :
 Tanda vital dan klinis infeksi intra partum
 Pemeriksaan laboratorium
 Klinis : Temperatur 38 - 40°C
 Somnolen, delirium, takhikardi, brakhipneu
 Nadi diatas 90 kali/menit filiformis
 Lab, ALS 1500, BBS Meningkat, Cloting time, Bleeding time
bisa memanjang
 Trombosit tetap atau menurun
 Komplikasi : septikemia, shockseptik, DIC, acut renal failure
5. Terapi, tergantung etiologi atau Broad spectrum
Anti biotika : Amoksilin, Ampicilin, Amoksilin Claculat,
Metronidazole, Gentamicin, Gara micin, Teramicin, Siproploxacin
dan Kanamician
6. Konsultasi : Penyakit dalam
7. Pada nifas Infeksi : Endometritis puerpuralis
8. Diff diagnosa : Mastitis, Typoid
9. Komplikasi :
 Bromcobeletis
 Fleksmasiaalnadolen
 Septikimia/schok septik
PENANGANAN INFEKSI INTRA PARTUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Gejala endometris purpualis: Fibris pada nifas, perdarahan,lochea
berbau,subinvolusi, bila kanamician komplikasi ada kaki sakit,
bengkak, perubahan warna kulit kaki. Terapi : Uterus tonika Anti
biotika yang adekuat
10. Informed consent
Penerangan mengenai : penyakit pronogsa dan komplikasi yang
timbul
11. Diagnosa akhir
 Infeksi intra partum dengan komplikasi atau tidak
 Penyembuhan dengan sembuh total
 Sembuh dengan squalac/ komplikasi
 Tidak sembuh, meninggal
UNIT TERKAIT 1. Ruang Bersalin
2. Laboratorium
3. Ruang Rawat Inap
PENANGANAN BEDAH CAESAR

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Suatu persalinan buatan, Dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi
pada perut dan dinding rahim ( segmen bawah uterus = SBR ) dengan
syarat dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram.
TUJUAN 1. Menguasai dasar – dasar ilmu bedah sesar
2. Mengetahui jenis teknik bedah sesar
3. Memahami indikasi bedah sesar
4. Mengetahui perencanaan, persiapan dan pelaksanaan bedah sesar
KEBIJAKAN

PROSEDUR Prosedur :
1. Ditegakkan diagnosa
 Indikasi ibu :
 Panggul sempit
 DKP/Disproporsi kepala panggul
 Ruptura uteri iminens
 Plasenta previa
 Stenosis serviks/vagina
 Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi janin
 Indikasi Bayi :
 Kelainan letak
 Gawat janin
 Kelainan kongenital
2. Perencanaan :
 Elektif/direncanakan :
 Tentukan umur kehamilan, HPM, DJJ, gerakan janin, USG
PENANGANAN BEDAH CAESAR

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Manuritas para : amnioentesis, pemeriksaan E2, L/s
 Emergency : tanpa melihat keadaan tersebut diatas.
3. Persiapan :
 Informed consent
 Pemeriksaan laboratorium :
 Hitung jenis darah
 Kimia darah
 Golongan darah
 Urinalisa
 Elektrolit
 Konsul anestesi
 Konsul dokter anak perinatologi
4. Alur kegiatan :
 Pemilihan jenis anesthesia
 Infus
 Persiapan alat-alat untuk operasi termasuk kain operasi
 Tentuken turunnye kepala atau begian terbawah janin
 Pemilihan jenis irisan abdominal
 Pemilihan isisi uteri, tranversal atau klasik
 Tutup dinding uterus yang insisi
 Eksplorasi kavum peritoneal dan tentukan bahwa tidak ada
perdarahan dan cidera.
5. Bila perlu perbaikan, diperbaiki dan difikirkan kemungkinan ligasi :
Hypogastrika / histerektomi
6. Riwayat reaksi merugikan
7. Makan minum terakhir
8. Posisi miring kiri
9. Tentukan kedaruratan pasien
PENANGANAN BEDAH CAESAR

No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 1. Pilih anestesi
Umum, epidural spiral, antibiotika profileksis
2. Pilih irisan abdominal
 Derajat daruratan ruang
 Insisi
 Jaringan parut sebelumnya
 Pilih fenensial, vertical
 Insisi, Maylard
 Pilih insisi uteri
 Derajat kedaruratan, Kebutuhan ruang
 Lokasi plasenta
 Identifikasi SBR
 Insisi uterus sebelumnya
 Pilih irisan SBR, irisan transversal atau klasik.
 Tentukan masuknya kepala janin, dorong keatas dengan tinju
transvaginal atau forceps durante op
 Tutup lapisan
 Eksplorasi kavum abdomen
 Pastikan perdarahannya dan Evaluasi Adanya cidera
 Perbaiki, ligasi Hypograstrical / histerektomi
UNIT TERKAIT Kamar Operasi
PENANGANAN VERSI DAN EKSTRAKSI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Versi (pemutaran badan janin) yang dilakukan dengan cara satu tangan
penolong di dinding perut ibu dan tangan yang lain di dalam karumu
uteri, yang segera disusul dengan ekstraksi kaki untuk melahirkan janin.
TUJUAN Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi dan
Menurunkan angka Sectio Cesarea
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Persiapan ibu, janin dan penolong sama dengan persiapan persalinan
dengan bantuan pada umumnya.
2. Ibu diberi nakose yang dapat merelaksasikan dinding uterus ( Ether,
Halothan, Fluothane ).
3. Tangan penolong yang berdekatan dengan bagian kecil janin
dimasukkan kedalam janin lahir secara obstetrik, sedang tangan
yang lain diletakkan di Fundus uteri untuk mendekatkan bagian kecil
janin tersebut.
4. Tangan penolong yang berada di dalam jalan lahir bertugas mencari
kaki janin untuk dibawa keluar. Upaya untuk mendapatkan kedua
kaki ini dapat dilakukan dengan cara :
5. Langsung Memegang kaki janin ( pada pergelangan kaki ) dengan
jari telunjuk dan jari tengah.
6. Tidak langsung Tangan penolong yang berada di dalam jalan lahir
menyelusuri punggung, bokong, paha, tungkai bawah dan akhirnya
pergelangan kaki janin.
PENANGANAN VERSI DAN EKSTRAKSI

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 7. Setelah pergelangan kaki janin terpegang, kemudian ditarik keluar
sampai sebatas lutut dan bersamaan dengan itu tangan penolong yang
berada diluar mendorong / memutar kepala janin kearah Fundus
Uteri.
8. Diusahakan agar badan janin dalam keadaan fleksi.
9. Segera periksa apakah versi telah berhasil, dengan cara :
10. Melihat apakah kaki janin tidak masuk kembali ke dalam jalan lahir
11. Dengan palpasi kepala janin sudah berada di Fundus Uteri.
12. Bila dari evaluasi ini ditentukan versi telah berhasil, maka janin
dilahirkan seperti pada ekstraksi sungsang
UNIT TERKAIT Kamar Bersalin
PENANGANAN INFEKSI NIFAS

No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Infeksi nifas adalah demam pasca persalinan nifas adalah demam pasca
persalinan > 380C yang terjadi selama 2 hari berturut-turut. Kenaikan
suhu ini terjadi sesudah 24 jam pasca persalinan dalam 10 hari pertama
masa nifas, yang disertai dengan gejala infeksi (nyeri, lohia sanguine
purulenta, secret berbau, eritema dan sebagainya).
TUJUAN Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi.
KEBIJAKAN

PROSEDUR 1. Beritahu pada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan;


2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan;
3. Mengukur tanda-tanda vital pasien;
4. Mengetahui tanda-tanda infeksi pada ibu nifas;
5. Umumnya mulai dari 2-3 hari postpartum demam, nyeri perut bagian
bawah, nyer tekan uterus;
6. Disertai lemah, anoreksia, lochia berbau;
7. Penyakit makin berat bila terjadi demam tinggi dan gejala peritonitis;
8. Group A beta hemolytic, streptococcus adalah bakteri utama pada
peritonitis dan septicemia.
9. Melayani obat sesuai prosedur jyang berlaku yaitu :
10. Persalinan pervaginam à amipicilin 1 gr / 6 jam.
11. Obstetri patologi
 Memperbaiki sirkulasi darah di dalam rahim
 Posisi ibu : semua pasien dengan gawat janin harus diletakkan
pada posisi miring
PENANGANAN INFEKSI NIFAS

No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Ditetapkan oleh


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR  Pemberian cairan : pasien diberi cairan infus dekstrose 55, atau
NaCI 0,9% atau riner laktat
Relaksi rahim : bila sedang dalam pemberian tetes oksitosin,
tindakannya adalah tetes oksitosin dihentikan
 Memperbaiki sirkulasi darah tali pusat
Perlu perhatian khusus : bila ada kecurigaan penekanan pada tali
kembali normal pusat posisi ibu dirubah sehingga gambaran
kardiotokografi
Memperbaiki oksigenasi janin
Dengan pemberian O2 darah janin. Hal ini menguntungkan
karena akan menghasilkan kadar oksigen darah janin yang relatif
tinggi akibat daya atinistas darah janin terhadap oksigen tinggi.
Bila usaha tersebut diatas setelah 20 menit tidak berhasil maka
harus diputuskan untuk mengakhiri persalinan
 Seksio besar à flagyl 500 mg/8 jam + cefoxitin 2 gr/6 jam atau
aminoglikosida (gentamisin/tobramycin), 60-100 mg/8 jam,
clindamicin 900 mg/8 jam.
 Antibiotika diberikan hingga 48 jam bebas demam;
 Bila demam berlanjut setelah pemberian kombinasi aminolikosida
– clindamicin, tambahkan golongan penicilin untuk mencakup
enterococcus;
 Antibiotika diberikan minimal 5 hari.
 Memberikan penyuluhan tentang personal hygiene.
 Mendokumentasikan semua tindakan yang diberikan
UNIT TERKAIT 1. Kamar bersalin;
2. Ruang perawatan Kebidanan
ABORTUS SPONTAN INKOMPLIT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN 1. Abortus ialah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan,dan sebagai batasan digunakan
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat anak kurang dari 500
gram.
2. Abortus inkomplit adalah abortus yang sebagian hasil konsepsi telah
keluar dari kavum uteri masih ada yang tertinggal.
TUJUAN 1. Sebagai pedoman bagi petugas dalam menangani pasien dengan
abortus spontan inkomplit
2. Pelaksanaan abortus spontan inkomplit mengikuti langkah-langkah
yang tertuang dalam SOP
KEBIJAKAN

PROSEDUR ALAT DAN BAHAN :


1. APD
2. Inspekulo
3. Tensimeter
4. Stetoskop
5. Rekam:Medis
6. Kertas Resep
7. Surat Permintaan Pemeriksaan Laboratorium
ABORTUS SPONTAN INKOMPLIT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR PELAKSANAAN :
1. Petugas mengucapkan salam dan memperkenalkan diri
2. Petugas Mempersilahkan pasien untuk duduk
3. Petugas menanyakan identitas pasien dan memberikan inform consent
secara lisan pada pasien atau keluarga pasien
4. Petugas melakukan anamnesis
5. Petugas melakukan pemeriksaan fisik, genikologi dan penunjang
6. Petugas menentukan diagnosis
7. Petugas manentukan diagnosis banding :
8. Petugas memberikan tatalaksana farmakologis dan non farmakologis :
a. Pada abortus insipiens tanpa komplikasi :
- Lakukan konseling
- Observasi tanda vital (tensi, nadi, suhu, respirasi)
- Evaluasi tanda-tanda syok, bila terjadi syok karena
perdarahan, pasang IV line (bila perlu 2 jalur) segera berikan
infus cairan NaCl fisiologis atau cairan ringer laktat disusul
dengan darah.
- Jika perdarahan ringan atau sedang dan kehamilan <16
minggu, gunakan jari atau forcep cincin untuk mengeluarkan
hasil konsepsi yang mencuat dari serviks
- Jika perdarahan berat dan usia kehamilan < 16 minggu,
lakukan evakuasi isi uterus. Aspirasi vakum manual (AVM)
merupakan metode yang dianjurkan. Kuret tajam sebaiknya
ABORTUS SPONTAN INKOMPLIT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR - hanya dilakukan apabila AVM tidak tersedia. Jika evakuasi
tidak dapat dilakuka segera: berikan ergometrin 0.2 mg IM
(dapat diulang 15 menit kemudian bila perlu)
- Jika usia kehamilan > 16 minggu berikan infus oksitosin 40
IU dalam 1 L NaCl 0,9% atau RL dengan kecepatan 40 tetes
per menit
- Lakukan pemantauan paska tindakan setiap 30 menit
selama 2 jam, Bila kondisi baik dapat dipindahkan ke ruang
rawat.
- Lakukan pemeriksaan jaringan secara makroskopik dan
kirimkan untuk pemeriksaan patologi ke laboratorium
- Lakukan evaluasi tanda vital, perdarahan pervaginam, tanda
akut abdomen, dan produksi urin tiap 6 jam selama 24 jam.
Periksa kadar Hb setelah 24 jam. Bila kadar Hb > 8gr/dl dan
keadaan umum baik, ibu diperbolehkan pulang.
- Pada keadaan abortus kondisi ibu bisa memburuk dan
menyebabkan komplikasi. Hal pertama yang harus dilakukan
adalah penilaian cepat terhadap tanda vital (nada, tekanan
darah, pernasapan dan suhu). Pada kondisi di jumpai tanda
sepsis atau dugaan abortus dengan komplikasi segera
melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan Sekunder / RS.
ABORTUS SPONTAN INKOMPLIT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

4/4

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 9. Petugas segera melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan sekunder /
RS bila tidak memungkinkan melakukan tindakan diatas
10.Petugas memberikan konseling KIE kepada pasien dan keluarga
pasien mengenai kondisi pasien, terapi yang diberikan, terapi lanjutan
dan segala kemungkinan yang dapat dihadapi pasien.
11.Petugas menanyakan apakah pasien sudah mengerti atau belum
12.Petugas meminta pasien untuk mengulangi penjelasan petugas
(minimal kondisinya dan terapi yang diberikan serta cara minum
obat)
13.Petugas melakukan pencatatan pada rekam medis
UNIT TERKAIT IGD
Poli Kebidanan & Kandungan
Ruang VK
ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Anemia dalam kehamilan adalah kelainan pada ibu hamil dengan kadar
haemoglobin <11g/dl pada trimester II dan III atau <10,5 g/dl pada
trimester II. Penyebab tersering anemia pada kehamilan adalah
defisiensi besi, perdarahan akut, dan defisiensi asam folat.
TUJUAN Sebagai acuan petugas dalam menentukan diagnosis dan
penatalaksanaan Anemia defisiensi besi pada kehamilan

KEBIJAKAN

PROSEDUR Langkah-langkah prosedur :


1. Petugas memanggil pasien sesuai nomor urut antrian
2. Petugas mempersilahkan pasien masuk ke ruang pemeriksaan.
3. Petugas melakukan anamnesa yang tersusun
a. Menanyakan keluhan pasien :
b. Menanyakan riwayat penyakit sekarang
c. Menanyakan riwayat penyakit dahulu
d. Menanyakan riwayat penyakit keluarga
e. Menanyakan riwayat alergi obat
4. Petugas melakukan pemeriksaan vital sign yang diperlukan
5. Petugas melakukan pemeriksaan fisik yang diperlukan / yang
sesuai
6. Jika ada indikasi petugas melakukan pemeriksaan penunjang
7. Petugas menegakkan diagnosa dan atau differential diagnosis
berdasarkan hasil anamnesa,pemeriksaan vital sign, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang (jika diperlukan)
ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR 8. Petugas memberikan terapi sesuai dengan diagnosa yang
ditegakkan : Asam folat 250 µg 3x1
9. Petugas memberikan edukasi kepada pasien :
a. Memberikan pengertian kepada pasien dan keluarga tentang
perjalanan penyakit dan tata laksananya,sehingga meningkatkan
kesadaran dan kepatuhan dalam berobat serta meningkatkan
kualitas hidup pasien
b. Diet bergizi tinggi protein terutama yang berasal dari protein
hewani ( daging, ikan, susu, telur,sayuran hijau )
c. Pemakaian alas kaki untuk mencegah infeksi cacing tambang
10. Petugas memberikan resep kepada pasien untuk diserahkan ke sub
unit farmasi
11. Petugas mendokumentasikan semua hasil anamnesis, pemeriksaan,
diagnosa , terapi, rujukan yang telah dilakukan dalam rekam medis
pasien
12. Petugas rekam medis mengambil rekam medis kembali setelah
pelayanan di tiap- tiap ruangan
13. Petugas mendokumentasikan hasil pemeriksaan,diagnosa, dan terapi
yang sudah tercatat dalam rekam medis ke data simpus
UNIT TERKAIT Poli Kebidanan & Kandungan
Farmasi
INFEKSI PADA UMBILIKUS BAYI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PENGERTIAN Tali pusat biasanya lepass pada hari ke 7 etelah lahir dan lukaa baru
sembuh pada hari ke 15. infeksi pada tali pusat atau jaringan kulit
disekitar perlu dikenali secara dini dalam rangka mencegah sepsis.
TUJUAN Sebagai pedoman petugas didalam menegakkan diagnosis dan
penatalaksanaan infeksi pada umbilicus/tali pusat.

KEBIJAKAN

PROSEDUR Langkah-langkah prosedur


1. Petugas melakukan anamnesis meliputi keluhan utama, riwayat
penyakit skarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga
dan riwayat social.
2. Petugas melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital yang diperlukan.
3. Petugas melakukan pemeriksaan fisik yang diperlukan.
4. Jika terdapat indikasi, petugas melakukan pemeriksaan penunjang.
5. Petugas menegakkan diagnosis dan/atau diagnosis banding
berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang :
a. Anamnesis :
- Keluhan panas, rewel, tidak mau menyusu
b. Faktor resiko :
- Imunitas seluler dan humoral belum sempurna
- Luka umbilicus
- Kulit tipis sehingga mudah lecet
c. Faktor predisposisi : pemotongan dan perawatan tali pusat yang
tidak steril.
INFEKSI PADA UMBILIKUS BAYI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

2/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR d. Pemeriksaan fisik
- Ada tanda-tanda infeksi disekitar tali pusat seperti kemerahan,
panas, bengkak, nyeri dan mengeluarkan pus yang berbau busuk
- Infeksi tali pusat local atau terbatas : bila kemmerahan dan
bengkak terbatas pada daerah kurang dari 1 cm disekitar pangkal
tali pusat.
- Infeksi tali pusat berat atau meluas : bila kemerahan atau bengkak
pada tali pusat meluas melebihi area 1 cm atau kulit disekitar tali
pusat bayi mengeras dan memerah serta bayi mengalami
pembengkakan perut
- Tanda sistemik : demam, tachichardia, hipotensi, letargi,
somnolen, icterus
e. Pemeriksaaan penunjang
6. Penegakan diagnose
a. Diagnose klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. adaya tanda-tanda infeksi disekitar umbilicus seperti
bengkak, kemerahan, dan kekakuan. pada keadaan tertentu ada
lesi berbentuk impetigo bullosa.
b. Diagnosis banding
- Tali pusat normal dengan akumulasi cairan berbau busuk tida
ada taanda-tanda infeksi (pengobatan cukup dibersihkaan
dengan alcohol)
- Granuloma-delayed epithelialization/ granuloma
keterlambatan proses epitelisasi karena kauterisasi.
7. Penatalaksanaan
a. Perawatan local :
- Pembersihan tali pusat dengan menggunakan larutan
antiseptik (klorheksidin/ iodium povidone 2,5%) dengan kain
kasa yang bersih 8 kali sehari sampai tidak ada lagi nanah
pada tali pusat
INFEKSI PADA UMBILIKUS BAYI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

3/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan oleh :


Direktur Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
dr. Maria Fransiska A.S, MARS
NIP. 19840402 201001 2 013
PROSEDUR - Setelah dibersihkan, tali pusat dioleskan dengan saalap
antibiotic 3-4 kali sehari.
8. Perawatan sistemik :
- Bila tanpa gejala sistemik, pasien diberikan antibiotic seperti
kloksasillin oral selama 5 hari
- Bila anak tampak sakit, harus dicek dahulu ada tidaknya tanda-
tanda sepsis. anak dapat diberikan antibiotic kombinasi dengan
aminoglikosida. bila tidak ada perbaikan, pertimbangkan
kemungkinan metichilin resistance staphylococcus aureus
(MRSA).
- Kontrol kembali bila tidak ada perbaikan atau ada tanda-tanda
perluassan infeksi dan komplikasi seperti bayi panas, rewel, dan
mulai tidak mau makan.
9. Petugas memberikan konseling dan edukasi mengenai penyakit,
tatalaksana, komplikasi dan kontrol teratur
10. Kriteria rujukan :
a. bila intake tidak mencukupi dan anak mulai tampak tanda
dehidrasi
b. terdapat tanda komplikasi sepsis
11. Petugas memberikan resep kepada pasien untuk diserahkan ke sub
unit farmasi.
12. Petugas mendokumentasikan semua hasil anamnesis, pemeriksaan,
diagnosis, tterapi dan rujukan yang tealh dilakukan dalam rekam
medis untuk kemudian di input dalam data
UNIT TERKAIT IGD
Poli anak
Perinatologi