Anda di halaman 1dari 34

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

PRINSIP II DAN III OECD :


PT SumalindoLestari Jaya Tbk

Nama Kelompok:

Bayu Ari Bowo (1506773791)


Iga Cindy Pratiwi (1506774043)
Purnellatika Azani (1506701123)
Yuha Nadhirah Qintharah (1506701376)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
2015/2016

Universitas Indonesia
Fakultas Ekonomi
Program Studi MAKSI-PPAk
Semester Gasal 2015/2016
STATEMENT OF AUTHORSHIP

Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa tugas terlampir adalah murni
hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain, kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa kami menggunakannya.

Kami memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Ajaran : Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat


Judul Tugas : Prinsip II dan III OECD : PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk

Hari, Tanggal : Rabu, 4 November 2015


Nama Pengajar : Prof. Sidharta Utama, Ph.D

Kelas : A-15/1P

Kelompok 5 :
1. Nama Mahasiswa : Bayu Ari Bowo
Nomor Mahasiswa : 1506773791
2. Nama Mahasiswa : Iga Cindy Pratiwi
Nomor Mahasiswa : 1506774043
3. Nama Mahasiswa : Purnellatika Azani
Nomor Mahasiswa : 1506701123
4. Nama Mahasiswa : Yuha Nadhirah Qintharah
Nomor Mahasiswa : 1506701376

(Dibuat oleh seluruh anggota kelompok)

Tandatangan :

Bayu Ari BowoIga Cindy Pratiwi Purnellatika Azani Yuha Nadhirah Qintharah
1506773791 1506774043 1506701123 150670137

DAFTAR ISI
2|Page
HALAMAN JUDUL 1
STATEMENT OF AUTHORSHIP 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
BAB II LANDASAN TEORI 7
I. Prinsip II OECD : Perlindungan atas Hak-hak Pemegang Saham 7
ASEAN Corporate Governance Scorecard (Bagian A) 9
II. Prinsip III OECD : Perlakuan yang Sama terhadap Pemegang Saham 13
ASEAN Corporate Governance Scorecard (Bagian B) 15
BAB III PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk 19
I. Profil Perusahaan 19
II. Sejarah Singkat 20
III. Tata Kelola Perusahaan 21
IV. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan 22
V. Konflik Antar Pemegang Saham PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk 23
VI. Gugatan Pemegang Saham terhadap PT SLJ 25
VII. Reorganisasi PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk 26
BAB IV Analisa Penerapan Prinsip II dan III OECD PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk
28
I. Analisia Penerapan Prinsip II OECD PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk 28
II. Analisia Penerapan Prinsip Ketiga OECD PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk 29
III. ASEAN Corporate Governance Scorecard 30
BAB V KESIMPULAN 31
REFERENSI 32
LAMPIRAN I 33
LAMPIRAN II 34

3|Page
BAB I

PENDAHULUAN

Adanya pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian di dalam perusahaan


menyebabkan munculnya teori keagenan. Menurut Jensen dan Meckling (1976), hubungan
keagenan sebagai “agency relationship as a contract under which one or more person (the
principals) engage another person (the agent) to perform some service on their behalf which
involves delegating some decision making authority to the agent”. Hubungan keagenan
merupakan suatu kontrak atau perjanjian antara satu atau lebih orang selaku pemilik yang
memerintah orang lain selaku agen untuk melakukan suatu jasa atas nama pemilik termasuk
pemberian wewenang dalam pengambilan keputusan1. Manajemen merupakan pihak yang
dikontrak (agen) oleh pemegang saham (prinsipal) untuk bekerja demi kepentingan
pemegang saham dengan tujuan memaksimalkan nilai perusahaan.

Masalah keagenan muncul karena sifat dasar self interestmanajemen yang cenderung
untuk mendahulukan kepentingan pribadi dan tidak lagi memaksimalkan nilai perusahaan.
Selain itu, adanya asymmetry informationyang membuat pemilik atau pemegang saham selalu
pada posisi yang dirugikan dibandingkan manajemen. Asymmetry information adalah suatu
situasi dimana salah satu pihak (manajemen) dalam transaksi memiliki informasi yang lebih
banyak dibanding pihak lain (pemilik atau pemegang saham).Teori keagenan dan informasi
asimetri inilah yang menjadi cikal bakal munculnya isu corporate governance dengan tujuan
untuk mengendalikan konflik pepentingan antara agent (manajer) dengan principle (pemilik).

Corporate governance atau tata kelola perusahaan adalah rangkaian proses,


kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta
pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup
hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan
pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang
saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan,
pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas 2.
Saat ini, penerapan corporate governance bukan lagi merupakan pilihan bagi perusahaan,
tetapi sudah menjadi keharusan untuk diimplementasikan. Hal ini diperkuat dengan adanya
tuntutan dari publik kepada perusahaan untuk menerapkan corporate governance serta
adanya regulasi yang mengatur penerapannya.

OECD3 mengelompokkan prinsip-prinsip corporate governance menjadi 6 bagian, yai


1
https://bungrandhy.wordpress.com/2013/01/12/teori-keagenan-agency-theory/
2
www.wikipedia.org
3
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD - Organisation for Economic Co-operation and
Development) merupakan sebuah organisasi internasional dengan tiga puluh negara yang menerima prinsip
demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas. Berawal tahun 1948 dengan nama Organisasi untuk Kerja
Sama Ekonomi Eropa (OEEC - Organisation for European Economic Co-operation), dipimpin oleh Robert
Marjolin dari Perancis, untuk membantu menjalankan Marshall Plan, untuk rekonstruksi Eropa setelah Perang
Dunia II. Kemudian, keanggotaannya merambah negara-negara non-Eropa, dan tahun 1961, dibentuk kembali

4|Page
OECD4 mengelompokkan prinsip-prinsip corporate governance menjadi 6 bagian,
yaitu :

1. Kerangka tata kelola (Ensuring the basis for an effective corporate governance
framework),
2. Perlindungan atas hak-hak pemegang saham (The rights of shareholders and key
ownership function),
3. Perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang saham (The equitable treatment of
shareholders),
4. Peranan stakeholders dalam corporate governance (The role of stakeholders in
corporate governance),
5. Keterbukaan dan Tranparansi (Disclosure and transparency), dan
6. Tanggungjawabdewan komisaris (The responsibilities of the board).

Di Indonesia, praktek Good Corporate Governance (GCG) mulai banyak dikenal


pada saat terjadinya krisis ekonomi tahun 1997. Banyaknya bank dan perusahaan besar yang
jatuh pada saat krisis tersebut diduga karena buruknya corporate governance. Pengaturan
penerapan GCG di Indonesia berawal dari usulan penyempurnaan peraturan pada Bursa Efek
Jakarta (BEJ), yang sekarang bernama Bursa Efek Indonesia (BEJ) atau Indonesia Stock
Exchange (IDX), dimana para emitennya diwajibkan untuk mengangkat komisaris
independen serta membentuk audit commite. Pada tahun 1999, pemerintah membentuk
lembaga khusus yang bernama Komite Nasional mengenai Kebijakan Corporate Governance
(KNKCG). Tugas utama KNKCG adalah merumuskan dan menyusun rekomendasi kebijakan
nasional mengenai GCG, serta memprakarsai dan memantau perbaikan di bidang corporate
governance di Indonesia. Pedoman umum GCG pertama kali muncul di tahun 2001 melalui
KNKGC, disusul dengan pedoman pedoman CG bidang Perbankan tahun 2004 dan Pedoman
Komisaris Independen dan Pedoman Pembentukan Komite Audit yang Efektif. Pada tahun
2004, KNKGC diubah menjadi Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dengan
diperluas cakupan tugasnya, yaitu tidak hanya sosialisasi governance di sektor korporasi,
tetapi juga sektor publik. KNKG menyempurnakan pedoman GC pada tahun 2006.

Di tingkat ASEAN menyepakati rencana implementasi ASEAN Capital Market


Forum (ACMF Implementation Plan) pada tahun 2009 untuk mempromosikan
pengembangan pasar modal yang terintegrasi. Salah satu alat yang digunakan dalam
memeringkat kinerja CG perusahaan publik di ASEAN adalah dengan ASEAN Corporat
Governance Scorecard. Prinsip-prinsip CG pada OECD digunakan sebagai acuan dalam
penyusunan scorecard tersebut. Hasil atas penilaian di Indonesia adalah bahwa sebagian

menjadi OECD oleh Konvensi tentang Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. (Sumber :
www.wikipedia.org)
4
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD - Organisation for Economic Co-operation and
Development) merupakan sebuah organisasi internasional dengan tiga puluh negara yang menerima prinsip
demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas. Berawal tahun 1948 dengan nama Organisasi untuk Kerja
Sama Ekonomi Eropa (OEEC - Organisation for European Economic Co-operation), dipimpin oleh Robert
Marjolin dari Perancis, untuk membantu menjalankan Marshall Plan, untuk rekonstruksi Eropa setelah Perang
Dunia II. Kemudian, keanggotaannya merambah negara-negara non-Eropa, dan tahun 1961, dibentuk kembali
menjadi OECD oleh Konvensi tentang Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. (Sumber :
www.wikipedia.org)

5|Page
besar perusahaan publik belum menerapkan prinsip-prinsip CG yang berlaku global. Hal ini
terlihat dari rata-rata nilai 43,4% dengan nilai maksimum 75,4% dan nilai minimum 20,8%.
Berdasarkan hasil penilaian di tahun 2012 dan 2013, terdapat peningkatan yang signifikan
dalam tata kelola emiten di Indonesia. Namun, masih terdapat beberapa aspek yang
memerlukan perbaikan, terutama terkait dengan informasi agenda dan hasil RUPS, informasi
pada situs web emiten, serta proses nominasi direksi dan dewan komisaris.5

5
ASEAN Corporate Governance Scorecard : Country Reports and Assesments 2012-2013; Join initiative of the
ASEAN Capital Market Forum (ACMF) and the Asian Development Bank (ADB)

6|Page
BAB II

LANDASAN TEORI

I. Prinsip II OECD : Perlindungan atas Hak-hak Pemegang Saham

Prinsip OECD (2004) memastikan dasar untuk kerangka kerja tata kelola perusahaan
yang efektif, hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan, perlakuan yang adil terhadap
pemegang saham, peran pemegang saham dalam CG, keterbukaan tata kelola perusahaan dan
transparansi, serta tanggung jawab dewan. Terdapat 6 bagian prinsip-prinsip penerapan CG
yang dikembangkan oleh OECD, yaitu :

1. Ensuring the basis for an effective corporate governance framework,


2. The rights of shareholders and key ownership function,
3. The equitable treatment of shareholders,
4. The role of stakeholders in corporate governance,
5. Disclosure and transparency, dan
6. The responsibilities of the board.

Paper ini akan membahas tentang prinsip nomor 2, yaitu perlindungan atas hak-hak
pemegang saham, dan prinsip nomor 3 yaitu perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang
saham.

Prinsip CG OECD tentang tata kelola menyebutkan bahwa kerangka tata kelola
perusahaan harus melindungi hak-hak pemegang saham dan memfasilitasi pelaksanaan hak-
hak pemegang saham. Pada prinsip nomor 2 tersebut, terdapat 7 bagian, yaitu :

a) Hak-hak dasar pemegang saham termasuk hak untuk:


1. Metode pendaftaran kepemilikan yang aman
2. Mengalihkan atau memindahkan saham
3. Mendapatkan informasi yang relevan dan material tentang korporasi secara tepat
waktu dan teratur
4. Berpartisipasi dan memberikan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS)
5. Mengangkat dan memberhentikan Direksi dan Dewan Komisaris
6. Mendapatkan bagian dalam keuntungan perusahaan

b) Hak-hak pemegang saham untuk berpartisipasi dan mendapatkan cukup informasi dalam
pengambilan keputusan penting perusahaan, seperti :
1. Perubahan anggaran dasar perusahaan atau akte pendirian atau dokumen-dokumen
tentang pengelolaan perusahaan lainnya
2. Otorisasi penambahan atau penerbitan saham baru
3. Transaksi luar biasa (extraordinary transaction), termasuk pengalihan sebagian
atau hampir seluruh aset yang berdampak pada penjualan perusahaan.

7|Page
C. Pemegang saham memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara efektif dan
memberikan suara dalam RUPS serta diberikan informasi mengenai peraturan-peraturan
termasuk prosedur penyampaian hak suara. Hal ini meliputi :
1. Informasi yang memadai dan tepat waktu terkait tanggal, lokasi, dan agenda
RUPS, termasuk masalah-masalah yang akan diputuskan dalam rapat
2. Kesempatan untuk bertanya kepada pengurus, termasuk pertanyaan berkaitan
dengan audit eksternal tahunan, mengusulkan butir-butir agenda rapat, dan
mengajukan pemecahannya dalam batas-batas yang wajar.
3. Pemberian fasilitas kepada pemegang saham untuk berpartisipasi efektif dalam
keputusan-keputusan pokok corporate governance, termasuk mengusulkan dan
memilih calon anggota pengurus. Selain itu, kewajaran atas komponen penggajian
atau kompensasi bagi anggota pengurus dan karyawan harus didasarkan pada
persetujuan pemegang saham.
4. Pemegang saham harus dapat memberikan hak suara secara langsung atau in
absentia, dan efek yang sama harus diberikan kepada mereka, baik yang secara
langsung atau in absentia.

D. Struktur dan komposisi modal yang memungkinkan pemegang saham tertentu untuk
mendapatkan tingkat pengendalian yang tidak proporsional dengan kepemilikan ekuitas
mereka harus diungkapkan.

E. Pasar untuk pengendalian perusahaan berfungsi secara efisien dan transparan


1. Peraturan dan prosedur yang mengatur akuisisi perusahaan di pasar modal, dan
transaksi yang luar biasa, seperti merger dan penjualan aset perusahaan dalam
jumlah yang substansial, harus diatur secara jelas dan diungkapkan sehingga
investor mengetahui hak-hak dan pilihan-pilihannya. Transaksi harus terjadi pada
harga transparan dan dalam kondisi yang adil yang melindungi hak-hak semua
pemegang saham sesuai dengan klasifikasinya.
2. Perangkat anti-take-over tidak boleh digunakan untuk melindungi manajemen dan
dewan direksi dari akuntabilitas.

F. Pelaksanaan hak-hak atas kepemilikan oleh seluruh pemegang saham, termasuk investor
institusi, harus difasilitasi. Hal-hal yang diatur adalah :
1. Investor institusi yang bertindak dalam kapasitas secara fidusia harus
mengungkapkan keseluruhan tata kelola perusahaan dan kebijakan pemungutan
suara berkaitan dengan investasinya, termasuk tata cara yang telah ditetapkan
untuk memutuskan penggunaan hak suara mereka.
2. Investor institusi yang bertindak dalam kapasitas secara fidusia harus
mengungkapkan bagaimana mereka menangani conflict of interest (konflik
kepentingan) yang material yang mungkin mempengaruhi pelaksanaan hak-hak
pemilik utama berkaitan dengan investasinya.
G. Pemegang saham, termasuk pemegang saham institusi, harus diperbolehkan untuk saling
berkonsultasi tentang masalah-masalah berkenaan dengan hak-hak dasar pemegang
saham sebagaimana didefinisikan dalam prinsip-prinsip tersebut di atas, dapat
dikecualikan untuk mencegah penyalahgunaan.

8|Page
ASEAN Corporate Governance Scorecard (Bagian A)

Dalam memberikan penilaian pelaksanaan corporate governance bagi perusahaan go


public, ACMF mengembangkan ASEAN Corporate Governance Scorecard template. Terdapat
2 level penilaian, level 1 adalah five major sections terkait dengan prinsip-prinsip OECD,
sedangkan level 2 adalah two additional sections terkait bonus dan penalti.Prinsip 2 OECD,
yaitu hak pemegang saham diatur pada level 1 bagian A - ASEAN Corporate Governance
Scorecard. Terdapat 26 pertanyaan untuk menilai bagian A ini, yaitu :

9|Page
10 | P a g e
Bonus dan penalty terkait Prinsip II OECD, yaitu hak pemegang saham diatur pada
level 2 bagian A - ASEAN Corporate Governance Scorecard. Terdapat 8 pertanyaan untuk
menilai level 2 bagian A ini, yaitu :
Level 2:Additional Section(Bonus&Penalty)
BONUS
A Rightsof Shareholders
Right toparticipateeffectivelyinandvoteingeneral shareholdersmeetingandshouldbe
A.1 informedof therules, includingvotingprocedures,thatgoverngeneral shareholders
meeting.
1 A.1.1 (B) Does the company allow the use of OECD Principle II (C)
secure electronic voting in absentia at (4) Shareholders should be able to vote in person or
the general meetings of shareholders? in absentia, and equal effect should be given to
PENALTY votes whether cast in person or in absentia.
A Rightsof Shareholders
Right toparticipateeffectivelyinandvoteingeneral shareholdersmeetingandshouldbe
A.1 informedof therules, includingvotingprocedures,thatgoverngeneral shareholders
meeting.
2 A.1.1 (P) Did the company fail or neglect to offer OECD Principle II (A)
equal treatment for share repurchases
to all shareholders?
Shareholders,includinginstitutional shareholders, shouldbeallowedtoconsultwitheach
A.2 otheronissuesconcerningtheirbasicshareholderrightsasdefinedinthePrinciples, subject
toexceptionstoprevent abuse.
3 A.2.1 (P) Is there evidence of barriers that OECD Principle II (G)
prevent shareholders from Shareholders, including institutional shareholders,
communicating or consulting with other should be allowed to consult with each other on
shareholders? issues concerning their basic shareholder rights as
defined in the Principles, subject to exceptions to
prevent abuse.

11 | P a g e
No Code Question GuidingReference
Level 2:Additional Section(Bonus&Penalty)
PENALTY
A Rightsof Shareholders
Righttoparticipateeffectivelyinandvoteingeneral shareholdersmeetingandshouldbe
A.3 informedof therules,includingvotingprocedures,thatgoverngeneral shareholders
meeting.
4 A.3.1 (P) Did the company include any additional OECD Principle II (C) 2
agenda item at the most recent AGM for
which due notice has not been given?

Capital structuresandarrangementsthatenablecertainshareholderstoobtainadegreeof
A.4
control disproportionatetotheirequityownershipshouldbedisclosed.

Did the company fail to disclose the


existence of:
5 A.4.1(P) Shareholders agreement? OECD Principle II (D)
6 A.4.2(P) Voting cap? OECD Principle II (D)
7 A.4.3(P) Multiple voting rights? OECD Principle II (D)

Capital structuresandarrangementsthatenablecertainshareholderstoobtainadegreeof
A.5
control disproportionatetotheirequityownershipshouldbedisclosed.

8 A.5.1 (P) Is a pyramid ownership structure and/ or OECD Principle II (D):


cross holding structure apparent? Capital structures and arrangements that enable
certain shareholders to obtain a degree of control
disproportionate to their equity ownership should
be disclosed.
Some capital structures allow a shareholder to
exercise a degree of control over the corporation
disproportionate to the shareholders’ equity
ownership in the company. Pyramid structures, cross
shareholdings and shares with limited or multiple
voting rights can be used to diminish the capability
of non-controlling shareholders to influence
corporate policy.

Metodologi atas penilaian yang digunakan terhadap level 1 pada bagian A adalah
setiap pertanyaan mengandung nilai 1 (satu) untuk jawaban “Yes” dan 0 (nol) untuk jawaban
“No”. Beberapa pertanyaan bisa saja dijawab “N/A” (Not Applicable)apabilapraktik atas
pertanyaan CG tersebut memang dilaksanakan oleh perusahaan karena diwajibkan oleh
undang-undang atau peraturan yang berlaku di negara dimana perusahaan yang dinilai
berada. Namun, apabila perusahaan tersebut tidak melaksanakan praktik tersebut, dinilai
“No”.

II. Prinsip III OECD : Perlakuan yang Sama terhadap Pemegang Saham

12 | P a g e
Selain prinsip kedua, paper ini juga akan membahas prinsip ketiga OECD yaitu
perlakuan yang sama terhadap pemegang saham. Pada prinsip ketiga ini ditekankan
perlunya persamaan perlakuan kepada seluruh pemegang saham termasuk pemegang
saham minoritas dan pemegang saham asing.Prinsip ini menekankan pentingnya
kepercayaan investor di pasar modal. Untuk itu industri pasar modal harus dapat
melindungi investor dari perlakuan yang tidak benar yang mungkin dilakukan oleh
manajer, dewan komisaris, dewan direksi, atau pemegang saham utama perusahaan.
Untuk melindungi investor, diperlukan suatu informasi yang jelas mengenai hak dari
pemegang saham, seperti hak untuk memesan efek terlebih dahulu dan hak pemegang
saham utama untuk memutuskan suatu keputusan tertetu dan hak untuk mendapatkan
perlindungan hukum jika suatu saat terjadi pelanggaran atas hak pemegang saham
tersebut.

Terdapat beberapa sub prinsip dalam prinsip ketiga OECD, antara lain:

A. Semua pemegang saham harus diperlakukan secara adil

Semua investor harus memperoleh informasi mengenai hak yang dapat mereka miliki
dari semuajenissahamyangakanmaupuntelahmereka miliki.Strukturmodalyangoptimal
ditentukanolehmanajemenperusahaanmaupunpemegangsaham.Halini efektif untuk
mendistribusikan risiko dan tetap menjaga kepentingan kelangsungan perusahaan.

1) Hak pemegang saham minoritas harus dilindungi dan kepentingannya pun harus
tetap dijaga. Potensi penyalahgunaan ditandai dengan sistem hukum yang
memungkingkan pemegang saham pengendali untuk melaksanakan suatu tingkat
pengendalian yang tidak sesuai. Dengan kata lain mereka melakukan
pemanfaatan dan berujung pada penyalahgunaan. Kunci tuntuk melindungi
pemegang saham minoritas adalah adanya pembagian yang jelas.

2) Setiap suara dalam perusahaan harus dilakukan dengan cara yang disepakati
bersama. Hal ini diperlukan untuk menggambarkan keseimbangan yang wajar
bahwa suara pemegang saham selalu memperhatikan keinginan pemegang saham
dan tidak memaksakan hal yang berlebihan. Prinsip ini tidak berlaku untuk
pelaksanaan hak suara oleh wali atau orang lain yang bertindak dibawah hukum
khusus,

3) Hambatan untuk memberikan suara harus dihapuskan. Investor asing yang berada
di luar negeri harus mendapatkan informasi mengenai perusahaan dengan
lengkap dan terperinci. Teknologi yang sudah canggih seharusnya dapat
digunakan sebagai alat komunikasi yang memadai untuk saling bertukar
informasi antara investor dan perusahaan meskipun jarak jauh memisahkan
sehingga investor asing tetap dapat memberikan hak suaranya.
4) Proses dan prosedur untuk rapat umum pemegang saham harus memungkinkan
semua pemegang saham memperoleh hak yang sama. Prosedur yang dibuat
seharusnya tidak terlalu sulit atau mahal untuk memberikan suara. Hak untuk
berpartisipasi adalah hak yang fundamental sehingga setiap pemegang saham
13 | P a g e
seharusnya bisa menggunakan haknya tersebut. Beberapa perusahaan saat ini
masih mengenakan biaya untuk pengambilan suara. Oleh sebab itu, sebaiknya
perusahaan membuat peraturan dan prosedur yang sekiranya dapat memudahkan
pemegang saham yang ingin menggunakan hak suaranya.

B. Insider trading dan perlakuan kasar harus dilarang dalam kegiatan perusahaan. Hal-hal
yang dapat merugikan perusahaan dan investor karena telah terjadi manipulasi pasar
modal yang dilarang dalam peraturan sekuritas dilarang keras untuk terjadi. Namun
tidak semua yuridiksi melarang tindakan prakter tersebut, meskipun begitu, kegiatan
seperti itu sangat tidak dianjurkan dalampraktek kegiatan di perusahaan.

C. Anggota dewan dan eksekutif kunci harus mengungkapkan kepada dewan apakah
mereka secara langsung, tidak langsung, atau atas nama pihak keitga, memiliki
kepentingan material dalam suatu transaksi yang berpengaruh besar terhadap
perusahaan. Mereka berkewajiban untuk memberitahukan bisnis-bisnis apa saja yang
sedang mereka kelola diluar kegiatan perusahaan kepada dewan, sehingga kegiatan
transaksi yang dilakukan dapat menjadi jelas dan transparan serta dapat diidentifikasi
dampak atas kegiatan mereka terhadap kegiatan perusahaan.

ASEAN Corporate Governance Scorecard (Bagian B)

Sama halnya dengan prinsip kedua OECD, prinsip ketiga yaitu perlakuan yang adil
bagi seluruh pemegang saham, diatur pada level 1 bagian B - ASEAN Corporate Governance
Scorecard. Terdapat 16 pertanyaan untuk menilai bagian B ini, antara lain:

14 | P a g e
B1. Terkait Hak Suara dan Kepemilikan Saham dan B2 Terkait Surat Edaran
Pemberitahuan RUPS

No Code Question Guiding Reference


B EQUITABLE TREATMENT OF SHAREHOLDERS
B.1 Shares and voting rights
1 B.1.1 Do the company's ordinary or common OECD Principle III (A) All
shares carry one vote for one share? shareholders of the same series of
a class should be treated equally.
(1) Within any series of a class, all
shares should carry the same
rights. All investors should be able
to obtain information about the
rights attached to all series and
classes of shares before they
purchase. Any changes in voting
rights should be subject to
approval by those classes of shares
which are negatively affected.

B.2 Notice of AGM/Circulars


1 B.2.1 Has all pertinent information (including OECD Principle III(C) Shareholders
notices, accompanying statements, and should have the opportunity to
circulars) in relation to the general participate effectively and vote in
meeting been made available prior to the general shareholder meetings and
general meeting? should be informed of the rules,
including voting procedures, that
2 B.2.2 Does each resolution in the AGM deal govern shareholder meetings
with only one item, i.e., there is no
bundling of several items into the same
resolution?

3 B.2.3 Are the company's notice of


AGM/circulars fully translated into English
—and published at the same time as the
local-language versionL

No Code Question Guiding Reference


B.2 Notice of AGM/Circulars
4 B.2.4 Are the profiles of directors/commissioners OECD Principle III(C) Shareholders
seeking election/re-election included? should have the opportunity to
5 B.2.5 Are the auditors seeking appointment/ re- participate effectively and vote in
appointment clearly identified? general shareholder meetings

15 | P a g e
6 B.2.6 Has an explanation of the dividend policy been
provided?
7 B.2.7 Is the amount payable for final dividends
disclosed? and should be informed of the
8 B.2.8 Were the proxy documents made easily rules, including voting
available? procedures, that govern
shareholder meetings

B3. Terkait Pelarangan atas Insider Trading dan Perlakuan Kasar

No Code Question Guiding Reference


B EQUITABLE TREATMENT OF SHAREHOLDERS

B.3 Insider trading and abusive self-dealing should be prohibited.

1 B.3.1 Does the company have policies and/or rules OECD Principle III (B) Insider trading
prohibiting directors/commissioners and and abusive dealing should be
employees to benefit from knowledge which is not prohibited
generally available to the market?

2 B.3.2 Are the directors/commissioners required to report


their dealings in company shares

B4. Terkait Transaksi (RPTs) oleh Direksi dan Karyawan Kunci

No Code Question Guiding Reference


B EQUITABLE TREATMENT OF SHAREHOLDERS

B.4 Related-party transactions (RPTs) by directors and key executives.

1 B.4.1 Does the company have a policy requiring (directors/commissioners) OECD Principle III (C) Members
to inform the board about their business, financial and other of the board and key executives
interests? should be required to disclose
2 B.4.2 Does the company have a policy requiring a committee of to the board whether they,
independent directors/commissioners to review material/significant directly, indirectly or on behalf
RPTs to determine whether they are in the best interests of the of third parties, have a material
company? interest in any transaction or
3 B.4.3 Does the company have a policy requiring board members matter directly affecting the
(directors/commissioners) to abstain from participating in the board corporation.
discussion on a particular agenda when they are conflicted?
4 B.4.4 Does the company have policies on loans to directors/commissioners
either forbidding this practice or ensuring that they are being
conducted at arm's length basis and at market rates?

B5. Terkait Perlindungan terhadap Pemegang Saham Minoritas dari Tindakan


Pelanggaran

No Code Question Guiding Reference


B EQUITABLE TREATMENT OF SHAREHOLDERS

16 | P a g e
B.5 Protecting minority shareholders from abusive actions

1 B.5.1 Were there any RPTs that can be classified as OECD Principle III (A) All
financial assistance to entities other than shareholders of the same series of
wholly-owned subsidiary companies? a class should be treated equally.
(2) Minority shareholders should
2 B.5.2 Does the company disclose that RPTs are be protected from abusiveactions
conducted in such a way to ensure that they are by, or in the interest of, controlling
fair and at arms' length shareholders acting either directly
or indirectly, and should have
effective means of redress.

Bonus dan penalty terkait prinsip 3 OECD, yaitu perlakuan yang sama terhadap seluruh pemegang
saham diatur pada level 2 bagian B - ASEAN Corporate Governance Scorecard. Terdapat 4 pertanyaan
untuk menilai level 2 bagian B ini, pertama terkait dengan bonus yaitu :

No Code Question Guiding Reference


BONUS
B Equitable treatment of shareholders
B.1 Notice of AGM
B.1.1(B) Does the company release its notice of OECD Principle II (C)
AGM (with detailed agendas and (1) Shareholders should be furnished
explanatory circulars), as announced to with sufficient and timely information
the Exchange, at least 28 days before the concerning the date, location and
date of the meeting? agenda of general meetings, as well as
full and timely information regarding
1 the issues to be decided at the
meeting.
(3) Effective shareholder participation
in key corporate governance decisions,
such as the nomination and election of
board members, should be facilitated.
OECD Principle III (A)
B.2.1(B) Does the company have a policy OECD Principle III
requiring directors / Commissioners and (B) Insider trading and abusive dealing
2 key officers to notify the Board or its should be prohibited
delegate at least one day before they
deal in the company shares?

Selanjutnya, berikut terdapat 2 pertanyaan penaltyterkait dengan prinsip ketiga dari OECD dalam
ACMF:

No Code Question Guiding Reference


PENALTY
B Equitable treatment of shareholders
B.1 Insider trading and abusive self-dealing should be prohibited.

17 | P a g e
Has there been any conviction of insider OECD Principle III: The Equitable
trading involving directors/commissioners, Treatment of Shareholders
1 B.1.1(P)
management and employees in the past (B) Insider trading and abusive dealing
three years? should be prohibited.
Has there been any cases of non- OECD Principle III
compliance with the laws, rules and (B) Insider trading and abusive dealing
2 regulations pertaining to significant or should be prohibited
material related party transactions in the
past three years?

BAB III

PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk

18 | P a g e
I. Profil Perusahaan

PT.Sumalindo Lestari Jaya, Tbk adalah perusahaan kayu di Kalimantan Timur yang
terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sejak 21 Maret 1994.

Visi:

Menjadi industri perkayuan terpadu terbaik di dunia dan bertanggung jawab sosial,
memberikan solusi dengan menghasilkan produk-produk ramah lingkungan yang
menggunakan bahan baku dari hutan yang dikelola secara lestari.

Misi:

 Mengelola kelompok usaha industri perkayuan terpadu di bidang kayu lapis dan kayu
lapis olahan, MDF serta produk-produk turunan lainnya yang berkaitan dengan
industri perkayuan serta mempunyai tanggung jawab social;
 Menjaga keberlangsungan kebutuhan bahan baku yang dipenuhi dari hutan alam dan
hutan tanaman yang dikelola berdasarkan prinsip pengelolaan hutan lestari;
 Melakukan proses produksi yang memenuhi standar ramah lingkungan; dan
 Memberikan nilai tambah produk melalui peningkatan nilai disetiap proses
tahapannya, pengembangan produk, sumber daya manusia dan jalur distribusi.

PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk berdiri sejak tanggal 14 April 1880 dan memiliki
empat anak perusahaan yang ditunjukan dalam bagan berikut:

(Sumber : www.idx.co.id)

II. Sejarah Singkat

Sejak mulai awal dibentuk, PT SLJ mengkhususkan diri di bidang kehutanan dan
industri perkayuan dengan mengelola 1 areal IUPHHK (dahulu Hak Pengusahaan Hutan)

19 | P a g e
seluas 132.000 ha dan pabrik kayu lapis dengan kapasitas produksi 66.000 m3/tahun. Pada
Tahun 1985 PT SLJ melakukan penggabungan usaha dengan 4 (empat) Perseroan perkayuan
yakni PT. Rimba Nusantara, PT. Emporium Lumber, PT. Rimba Lapis Permai dan PT. Gonpu
Indonesia Limited. Melalui penggabungan usaha tersebut PT SLJ mendapat tambahan areal
hutan alam seluas 150.000 ha dan kapasitas produksi kayu lapis dan kayu lapis olahan
menjadi 120.000m3/tahun. PT SLJ kian berkembang hingga pada Tahun 1994 dan resmi
menjadi Perseroan terbuka (Go Publik) melalui Penawaran Umum 25.000.000 saham biasa
atas nama kepada masyarakat dan mencatatkan seluruh saham yang telah dikeluarkan di
Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Dana yang dihasilkan dari penawaran umum ini membiayai investasi pembangunan
industri MDF dengan kapasitas produksi 100.000/m3 pertahun serta untuk membiayai
pengembangan hutan tanaman PT SLJ dan anak perusahaan. Pada tahun 1998 PT SLJ
melakukan Penawaran Umum Terbatas I dalam rangka Penerbitan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu (Right Issue I) dengan menawarkan 343.750.000 saham. Dana yang
dihasilkan untuk mengakuisisi seluruh saham yang ditempatkan dan disetor di PT. Suryaraya
Wahana (PT. SRW). PT.SRW adalah Perseroan yang memiliki investasi di bidang industri
MDF (MDF Line II) berkapasitas 100.000/m3 dengan spesifikasi produk berukuran tipis,
industri perekat, memiliki ijin industri pulp and paper serta pengembangan hutan tanaman.
Pada tahun yang sama, usaha PT.SRW tersebut digabungkan ke dalam PT SLJ.

Pada tahun 2002, PT. Astra International Tbk selaku pemegang saham mayoritas PT
SLJ sebesar 75% menjual seluruh kepemilikan sahamnya kepada PT. Sumber Graha
Sejahtera (PT. SGS). PT.SGS merupakan sebuah perseroan telah cukup lama berkecimpung
di bidang Perkayuan Indonesia. Pada bulan Juli 2006, PT SLJ melakukan Penawaran Umum
Terbatas II dengan menawarkan 155.713.448 saham dan sebanyak 155.713.488 waran seri I.
Dana yang dihasilkan dari Right Issue II sebagian besar digunakan untuk membiayai program
Strategic Cost Reduction Perseroan (pembangunan Power plant dan Mini rotary plant ).
Diakhir tahun 2006, PT SLJ mengakuisisi 60% saham PT. Orica Resindo Mahakam yang
bergerak dibidang industri perekat. Sebagian besar hasil produksi industri ini digunakan
untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perekat bagi pabrik PT SLJ.

Tahun 2008, PT SLJ mengambil alih areal IUPHHK Hutan Alam PT. Essam Timber
yang berlokasi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur dengan luas 355.800
hektar. Melalui anak perusahaan mereka yaitu PT. Sumalindo Alam Lestari, mereka
mengambil alih 99.2 % saham PT. Wana Kaltim Lestari berupa suatu unit usaha hutan
tanaman industri dengan luas 16.280 hektar di propinsi Kalimantan Timur.

Pada tahun 2009, PT SLJ kembali mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dengan
memberikan 1(satu) ijin pengelolaan hutan alam seluas 69.765 ha yakni PT. Sumalindo
Lestari Jaya Tbk (PT. SLJ Tbk) sesuai SK 438/Menhut-II/2009 tanggal 27 Juli 2009. Areal
baru ini berlokasi di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, berdampingan dengan areal
hutan alam PT SLJ dan anak perusahaan lainnya yakni IUPHHK-HA PT. SLJ-Unit- II Long
Bagun dan areal IUPHHK- HA PT. Essam Timber.

20 | P a g e
Akhirnya pada tahun 2010, PT SLJ melaksanakan Penawaran Umum Terbatas (PUT)
III pada 24 Maret sampai 30 Maret 2010 dengan melepas saham sejumlah 1.236.022.311
lembar saham. Diakhir tahun tersebut, PT SLJ melakukan divestasi sebagian saham pada
anak perusahaan mereka yaitu PT. Sumalindo Mitra Resindo.

III. Tata Kelola Perusahaan

Berikut adalah penjabaran tata kelola perusahaan yang tercantum dalam laporan
keuangan tahunan mereka yang dipublikasikan tahun 2011:

Dalam menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dengan sungguh-


sungguh, Dewan Komisaris perusahaan melakukan kontrol melalui fungsi utamanya sebagai
pengawas Direksi dalam menjalankan tata kelola perusahaan. Fungsi pengawasan Dewan
Komisaris tersebut dilaksanakan melalui mekanisme yang sudah ditentukan antara lain
melalui optimalisasi fungsi Komite Audit sebagai Komite independen yang dibentuk oleh
Dewan Komisaris dan berperan membantu Komisaris mendapatkan informasi mengenai
kondisi serta aktifitas- aktifitas tertentu yang sedang atau telah dilaksanakan oleh perusahaan,
melalui laporan rutinnya.

Sementara itu Direksi perusahaan memastikan bahwa setiap rencana kerja, strategi
maupun kebijakan yang akan diambil dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan sehari-hari
selalu mengikutsertakan peran para karyawannya melalui divisi-divisi yang dibentuk dalam
organisasi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dengan demikian apa yang diputuskan
dan dilaksanakan tetap berpedoman pada prinsip GCG, dan tentu berpedoman pula pada
peraturan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal, bidang kehutanan, anggaran
dasar perusahaan serta peraturan dan ketentuan lain yang berlaku.

Dalam menganut prinsip keterbukaan, perusahaan juga menugaskan salah seorang personil
sebagai sekertaris perusahaan. Fungsi dan peran utama dari Sekretaris perusahaanadalah :

 Sebagai Penghubung antara perusahaan dengan lembaga regulator pasar modal yakni
Bapepam dan LK serta BEI dimana saham-saham perusahaan dicatatkan.
 Sebagai pusat informasi bagi para pemegang saham dan seluruh stakeholdersyang
memerlukan informasi-informasi penting dan akurat yang berkaitan dengan kegiatan
maupun perkembangan perusahaan.
 Memberikan masukan kepada Direksi perusahaan agar tindakan korporat yang
dilakukan Direksi maupun transaksi yang dilakukan oleh korporat sesuai dengan
peraturan dan perundangan yang berlaku di pasar modal (Undang-undang no. 8 tahun
1995).
 Menyelenggarakan Rapat Pemegang Rapat Direksi, Rapat Dewan Komisaris.
 Menyampaikan setiap hal yang pertimbangan Direksi dan sesuai peraturan yang
berlaku perlu segera disampaikan kepada masyarakat.

21 | P a g e
IV. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

PT SLJ berupaya melakukan kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat


(Community Development).Kegiatan sosial tersebut dilakukan melalui pola pendekatan
partisipatif dan disesuaikan dengan kebutuhan komunitas, adat istiadat serta kondisi lainnya
dari masyarakat desa/daerah setempat. Program tanggung jawab sosial dan lingkungan
perusahaan dan anak perusahaan memiliki 4 (empat) tujuan dan sasaran utama yakni :

1) Meningkatkan kualitas pendidikan dan kehidupan spiritual masyarakat sekitar


areal kerja ;
2) Mengurangi tingkat pengangguran di wilayah kerja melalui pemberdayaan
masyarakat setempat ;
3) Meningkatkan pengetahuan dan tanggung jawab masyarakat terhadap pentingnya
menjaga kelestarian hutan,dengan bersama-sama membangun hutan
kemasyarakatan diantaranya bertujuan untuk sama-sama melindungi hutan dari
praktek ilegal logging.
4) Meringankan beban masyarakat di wilayah-wilayah yang terkena bencana.

Beberapa program kegiatan sosial yang telah dilakukan PT SLJ kepada masyarakat
antara lain :

 Membangun berbagai fasilitas, infrastruktur antara lain pembangunan atau


penyediaan fasilitas perusahaan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat seperti
sarana jalan/jembatan dan juga sebagai sarana penghubung antar desa, fasilitas
balai pengobatan, fasilitas penerangan listrik desa, pemeliharaan instalasi air
bersih, pembangunan/perbaikan tempat peribadatan dan bantuan paket
penggemukan ternak.
 Peningkatan bidang pendidikan atau lebih dikenal dengan metode Partisipasi
Rural Appraisal (PRA) disalurkan melalui renovasi ruang belajar sekolah,
penyerahan bea siswa, penempatan guru honor, bantuan paket buku-buku
penunjang belajar dan bantuan transportasi sekolah.
 Pekerjaan repair veneer dari industri kayu lapis yang diserahkan ke masyarakat
sekitar industri di kecamatan Samarinda Seberang.

V. Konflik Antar Pemegang Saham PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk

Sejak tahun 2011, terjadi konflik antar pemegang saham yang melibatkan Persiden
Direksi, Amir Sunarko, dengan beberapapemegang saham PT SLJ.Konflik ini diawali oleh
menurunnya hasil kinerja perusahaan yang kian merugi disetiap tahunnya. Berikut adalah
hasil kinerja keuangan PT SLJ yang dipublikasikan pada website Bursa Efek Indonesia per
akhir Desember 2014 (dalam Jutaan Rupiah):

22 | P a g e
(Sumber : www.idx.co.id)

Terlihat bahwa performa keuangan PT SLJ kian menurun hingga tahun 2013. Kerugian
terbesar mereka alami di tahun 2013 dengan total rugi bersih senilai Rp 325.579.000.000 atau
meningkat sebesar 116,07% dibandingkan kerugian pada tahun 2012. Total ekuitas juga
menurun drastis di tahun 2013 yaitu minus Rp 371.996.000.000 yang disebabkan karena laba
ditahan mereka yang kian menurun setiap tahunnya. Selain itu penurunanekuitas juga dipicu

23 | P a g e
oleh menurunnya harga saham PT SLJ di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2011 yang
ditunjukan dalam gambar berikut:

(Sumber : www.idx.co.id)

Atas menurunya performa keuangan dan harga saham tersebut, PT SLJ mengklaim
bahwa kerugian yang dialami setiap tahunnya terjadi sebagai dampak dari krisis ekonomi
tahun 2008. Menurut Dewan Komisaris PT SLJ, Wijiasih Cahyasasi,program kerja yang
direncanakan untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan belum dapat sepenuhnya
terealisasi karena berbagai kendala, terutama terbatasnya bahan baku dan minimnya modal
kerja. Sedangkan menurut Presiden Direktur PT SLJ tahun 2012, Amir Sunarko, kendala
terbesar PT SLJ pada tahun-tahun tersebut antara lain adalah terbatasnya bahan baku kayu
karena faktor cuaca yang cukup ekstrim sepanjang tahun, serta rencana divestasi anak

24 | P a g e
perusahaan yang diharapkan akan menjadi sumber pendanaan modal kerja yang belum
terlaksana.

Akibatnya beberapa program kerja yang telah dicanangkan sebagai upaya


memperbaiki kinerja operasional melalui peningkatan pendapatan usaha serta menurunkan
beban pokok pendapatan dan beban usaha belum dapat direalisasikan. Dalam pernyataanya,
ia mengklaim bahwa untuk menghindari semakin tingginya beban biaya produksi karena
volume rendah yang dikarenakan oleh kurangnya bahan baku kayu dan modal kerja,
manajemen terpaksa mengambil keputusan pada saat kondisi tertentu untuk mengurangi
kegiatan operasional produksi.

VI. Gugatan Pemegang Saham terhadap PT SLJ

Salah seorang pemilik saham PT SLJ, Deddy Hartawan Jamin, mempertanyakan


penurunan hasil kinerja PT SLJ kepada, Amir Sunarko. Namun, jawaban Direktur Utama PT
SLJ tersebutmasih tetap sama, bahwa menurunnya harga saham PT SLJ ditimbulkan sebagai
dampak dari krisis ekonomi 2008.Namun, banyak sekali pihak yang berpendapat bawha
kerugian yang dialami PT SLJ merupakan sebuah hal yang sangat kontras jika dibandingkan
dengan besarnya hak penguasaan hutan kayu di Indonesia yang dimiliki oleh PT SLJ. Harga
saham PT SLJ pada 2007 senilai Rp 4.800/ lembar saham menurun drastis di tahun 2012
menjadi hanya sebesar Rp 100/ lembar saham. Tanggung jawab PT SLJ atas perlindungan
nilai saham mereka tentu sangat dipertanyakan oleh para pemegang saham PT SLJ.

Bebagaiupaya untuk mendapat keterbukaan dari PT SLJ atas kasus tersebut dilakukan
oleh para pemegang saham minoritas, namun dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),
upaya untuk mendapat keterbukan dari PT SLJ selalu digagalkan karena kekalahan mereka
dalam voting yang didominasi dan dikendalikan oleh para pemegang saham mayoritas.

Atas kegagalan dan kekalahan dalam voting RUPS tersebut, Deddy Hartawan Jamin
akhirnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.Ada dua hal yang
dituntutnya, antara lain audit terhadap pembukuan perusahaan dan audit dalam bidang
industri kehutanan. Hasil gugatan tersebut dikabulkan oleh majelis hakim PN Jakarta
Selatan. Upaya untuk memperjuangkan keterbukaan tersebut sempat mendapat halangan dari
Sumalindo dengan mengajukan Kasasi di Mahkamah Agung, namun tindakan tersebut
mendapat penolakan di tahun 2012.

Konflik antar pemegang saham ini juga dipicu ketika Direktur PT SLJ mengumumkan
bahwaPT Sumalindo Hutani Jaya (salah satu Pemegang Saham Publik Minoritas PT SLJ)
telah dijual kepada PT Tjiwi Kimia Tbk. Berbagai pihak beranggapan bahwa selain penjualan
tersebut tidak memiliki manfaat sama sekali bagi PT SLJ dan penjualan tersebut dinilai
sangat merugikan. Hal tersebut dianggap merugikan karena pada tanggal 1 Juli 2009, PT
Sumalindo Hutani Jaya telah menerbitkan Zero Coupon Bond (surat utang tanpa bunga) atas

25 | P a g e
utangnya kepada PT SLJ sebesar lebih dari Rp 140 Miliyar Rupiah, untuk jangka waktu satu
tahun.

Deddy Hartawan Jamin dalam gugatannya mengklaim bahwa tindakan PT SLJ dalam
menjual PT SHJ telah mengabaikan asas good corporate governance, dan banyak
mengabaikan keputusan hukum yang sudah berlaku, sehingga merugikan banyak
pihak.Dalam gugatan tersebut PT SLJ juga dianggap melakukan kesalahan prosedur dalam
mengajukan permohonan persetujuan pengalihan saham kepada Menteri kehutanan tanpa
didahului persetujuan RUPS PT SLJ dan atas dasar dokumen palsu yang mengakibatkan
kerugian bagi Deddy Hartawan Jamin sebagai penggugat.

Atas gugatan tersebut, Deddy Hartawan Jamin melibatkan 11 pihak sebagai tergugat
yang merupakan pemegang saham mayoritas PT SLJ, antara lain PT Sumalindo Lestari Jaya
(SLJ), Amir Sunarko, David, Lee Yuen Chak, Ambran Sunarko, Setiawan Herliantosaputro,
Kadaryanto, Harbrinderjit Singh Dillon, Husni Heron, Sumber Graha Sejahtera, Kantor Jasa
Penilai Publik Benny, Desmar dan Rekan. Dalam gugatan tersebut, Deddy Hartawan Jamin
menuntut ganti rugi materiil maupun immateriil, senilai Rp 18,7 triliun rupiah, karena dana
sebesar itu sesungguhnya adalah bersumber dari PT SLJ. Jika gugatanDeddy Hartawan Jamin
dikabulkan, ganti rugi tersebut selanjutnya akan dikembalikan ke rekening PT SLJ untuk
memperbaiki kinerja dan manajemen mereka.(Sumber : www.nasional.kontan.co.id)

Tanggal 5 Desember 2012 Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta, Soehartono,


akhirnya memutuskan untuk tidak menerima gugatan perdata Deddy Hartawan Jamin
terhadap kelompok pemegang saham mayoritas PT SLJ atas perbuatan melawan hukum yang
dilakukan manajemen PT SLJ dalam penjualan saham PT SLJ kepada PT Pabrik Tjiwi Kimia.
Gugatan tersebut dianggap dianggap tidak beralasan dan tidak memiliki korelasi yang jelas
terhadap objek gugatan.Putusan pengadilan tersebut menyebabkan berbagai pihak yang
merupakan pemegang saham publik PT SLJ merasa heran namun akhirnya mereka tetap
menghargai keputusan Majelis Hakim.Namun Realita ini menunjukkan bahwa posisi
pemegang saham publik sangat lemah dan selalu dibawah pengaruh para pemegang saham
mayoritas dan pengendali perusahaan.

VII. Reorganisasi PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk

Berdasarkan keputusan RUPS-LB tanggal 18 Desember 2012, PT Sumalindo Lestari


Jaya, Tbk berganti nama menjadi PT SLJ Global Tbk dan telah mendapatkan pengesahan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam
Surat Keputusan Nomor. AHU-25591.AH.01.02. Tahun 2013 tertanggal 14 Mei 2013. Atas
pergantian nama ini, perusahaan menjual saham anak usahanya PT Sumalindo Alam Lestari
senilai Rp330 miliar kepada perusahaan grup Salim, yakni PT Mentari Pertiwi Makmur. Hasil
dari penjualan tersebut selanjutnya akan digunakan untuk membayar utang perbankan, pajak
ke pemerintah, reorganisasi perusahaan, modal kerja maupun dana strategis perusahaan.
Berikut ini adalah struktur perusahaan pasca reorganisasi:

26 | P a g e
Berikut adalah komposisi dewan komisaris dan dewan direksi pasca reorganisasi:

Komposisi Dewan Direksi Sesudah Reorganisasi

No Sebelum Reorganisasi Sesudah Reorganisasi (tidak ada


perubahan)
1 Amir Sunarko Presiden Direktur Amir Sunarko Presiden Direktur
2 David Wakil Presdir David Wakil Presdir
3 Rudy Gunawan Direktur Rudy Gunawan Direktur

(Sumber : www.sljglobal.com)

27 | P a g e
BAB IV

Analisa Penerapan Prinsip II dan III OECD


PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk

Perlu digarisawahi bahwa sesuai dengan topik pembelajaran etika yang sedang dipelajari,
maka analisia praktik Corporate Governance sesuai prinsip OECD terhadap PT Sumalindo
Jaya Lestari ini disesuaikan dengan kondisi perusahaan sebelum melakukan reorganisasi di
tahun 2013 dan berubah nama menjadi PT SLJ Global, Tbk.

I. Analisia Penerapan Prinsip II OECD PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk

Prinsip CG OECD tentang tata kelola menyebutkan bahwa kerangka tata kelola
perusahaan harus melindungi hak-hak pemegang saham dan memfasilitasi pelaksanaan hak-
hak pemegang saham. Berikut adalah hasil analisis penerapan prinsip kedua OECD oleh
PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk

 Terkait dengan hak-hak pemegang saham untuk berpartisipasi dan mendapatkan


cukup informasi dalam pengambilan keputusan penting perusahaan. Dalam kasus PT
SLJ, terdapat keterbatasan dalam hal hak-hak pemegang saham dalam untuk
berpartisipasi dalam RUPS, antara lain seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasar
PT SLJ Pasal 15 ayat 3 yang berbunyi: Mereka yang hadir dalam RUPS harus
membuktikan wewenangnya untuk hadir dalam RUPS yaitu sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan oleh Direksi atau Dewan Komisaris pada waktu
pemanggilan RUPS; Pasal 16 ayat 9, bahwa Setiap hal yang diajukan dan diusulkan
oleh para pemegang saham selama pemungutan suara dalam RUPS harus memenuhi 2
syarat yaitu jika usulan tersebut dianggap sesuai dengan peraturan rapat dan jika
usulan tersebut dianggap relevan menurut Direksi.
 Terkait dengan pemegang saham memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara
efektif dan memberikan suara dalam RUPS serta diberikan informasi mengenai
peraturan-peraturan termasuk prosedur penyampaian hak suara. Terkait dengan
prinsip ini, PT Sumalindo telah melaksanakan dalam RUPS nya terkait informasi
peraturan-peraturan termasuk prosedur penyampaian hak suaranya. Tidak terdapat
adanya indikasi pelanggaran dalam prinsip ini.
 Terkait dengan peraturan dan prosedur yang mengatur akuisisi perusahaan di pasar
modal, dan transaksi yang luar biasa, seperti merger dan penjualan aset perusahaan
dalam jumlah yang substansial, harus diatur secara jelas dan diungkapkan sehingga
investor mengetahui hak-hak dan pilihan-pilihannya. Dalam kasus PT Sumalindo,
perusahaan telah menjual salah satu anak perusahaanya diluar kesepakatan dalam
RUPS dan dianggap merugikan bagi beberapa pemegang saham hingga menuai
gugatan ke badan peradilan. Banyak sekali pemegang saham publik yang merasa
kecewa atas keputusan majelis hakim yang menolak gugatan ini.

28 | P a g e
II. Analisia Penerapan Prinsip Ketiga OECD PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk

Pada prinsip ketiga ini ditekankan perlunya persamaan perlakuan kepada seluruh
pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing.Prinsip
ini menekankan pentingnya kepercayaan investor di pasar modal.Pada praktiknya pemegang
saham utama perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk memberikan
pengaruhnya dalam kegiatan operasional perusahaan.Berdasarkan praktik tersebut, seringkali
transaksi yang terjadi hanya memberikan manfaat hanya kepada pihak-pihak tertentu yang
berkepentingan seperti pemegang saham utama, komisaris, atau bahkan dewan direksi.
Berikut adalah hasil analisis prinsip ketiga OECD pada PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk
sebelum dilakukannya reorganisasi tahun 2013:

1) Semua Pemegang Saham Harus Diperlakukan Secara Adil


 Semua investor harus memperoleh informasi mengenai hak yang dapat mereka
miliki dari semuajenissahamyangakanmaupuntelahmereka miliki. Berdasarkan
prinsip ini, hak pemegang saham minoritas harus dilindungi dan kepentingannya pun
harus tetap dijaga. Namun, dalam kasus PT. Sumalindo, perusahaan melakukan
prosedur penjualan surat utang kepada pabrik Tjiwi Kimia (surat hutang dengan
tingkat bunga nol persen) tanpa adanya persetujuan terbuka dalam RUPS dan
penjualan tersebut banyak menuai pro kontra karena sama sekali tidak memberikan
manfaat bagi perusahaan.
 Setiap suara dalam perusahaan harus dilakukan dengan cara yang disepakati
bersama. Namun dalam kasus PT Sumalindo Lestari Jaya, beberapa pemegang
saham sangat sulit untuk melakukan upaya untuk mendapat keterbukaan dari PT SLJ
dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), upaya untuk mendapat keterbukan
dari PT SLJ selalu digagalkan karena kekalahan mereka dalam voting yang
didominasi dan dikendalikan oleh para pemegang saham mayoritas.
 Hambatan untuk memberikan suara harus dihapuskan. Namun dalam aturan RUPS
sebelum PT SLJ melakukan reorganisasi, setiap suara yang akan dikeluarkan oleh
pemegang saham harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rapat, dan jika
menurut direksi suara tersebut tidak relevan, maka suara tersebut tidak akan
dianggap. Disini terlihat bahwa dewan direksi masih memegang kendali yang besar
dalam berjalannya RUPS.
 Proses dan prosedur untuk rapat umum pemegang saham harus memungkinkan
semua pemegang saham memperoleh hak yang sama. Sama halnya dengan poin
sebelumnya, namun dalam aturan RUPS sebelum PT SLJ melakukan reorganisasi,
setiap suara yang akan dikeluarkan oleh pemegang saham harus sesuai dengan
ketentuan yang berlaku dalam rapat, dan jika menurut direksi suara tersebut tidak
relevan, maka suara tersebut tidak akan dianggap. Disini terlihat bahwa dewan
direksi masih memegang kendali yang besar dalam berjalannya RUPS.

2) Insider trading dan perlakuan kasar harus dilarang dalam kegiatan perusahaan. Dalam
kasus PT Sumalindo, tidak terdapat informasi yang mengindikasikan adanya pelanggaran
dalam prinsip ini.

29 | P a g e
3) Anggota dewan dan eksekutif kunci harus mengungkapkan kepada dewan apakah
mereka secara langsung, tidak langsung, atau atas nama pihak keitga, memiliki
kepentingan material dalam suatu transaksi yang berpengaruh besar terhadap
perusahaan. Dalam kasus PT Sumalindo, perusahaan telah melakukan prosedur penjualan
surat utang kepada pabrik Tjiwi Kimia (surat hutang dengan tingkat bunga nol persen)
tanpa adanya kesepakatan dalam RUPS. Hal ini mengindikasikan adanya benturan
kepentingan atas penjualan kepada Tjiwi Kimia tersebut karena prosedur penjualannya
tidak melalui persetujuan RUPS dan dianggap tidak memberikan manfaat sama sekali
terhadap perusahaan, bahkan hingga menuai gugatan dari salah satu pemegang saham

III. ASEAN Corporate Governance Scorecard

ASEAN CG Scorecard merupakan salah satu instrumen dalam menilai pelaksanaan


praktik corporate governance oleh perusahaan. ASEAN CG Scorecard ini mengacu pada
prinsip-prinsip yang ada pada OECD. Pada lampiran 1 tersaji analisa penerapan CG oleh
PT SLJ dengan menggunakan ASEAN CG Scorecard (level 1 – Bagian A dan Bagian B).
Bagian A adalah berbagai pertanyaan untuk mengidentifikasi penerapan OECD terkait
dengan prinsip kedua, dan bagian B adalah terkait dengan prinsip ketiga.

Untuk bagian A (terkait prinsip II), hasil perhitungan dari 26 pertanyaan mengenai
praktik CG, terdapat 13 pertanyaan yang dapat diperhitungkan (pertanyaan dengan jawaban
“Yes” atau “No”). Sedangkan 13 pertanyaan sisanya tidak diperhitungkan (pertanyaan dengan
jawaban “N/A”) karena praktik CG tersebut telah dilaksanakan dengan baik oleh PT SLJ
sebagai pemenuhan kewajiban perusahaan atas undang-undang atau peraturan yang berlaku
di Indonesia. Terdapat 8 pertanyaan dengan jawaban “Y” (“Yes”) dari 13 pertanyaan yang
dapat diperhitungkan. Artinya ASEAN CG Scorecard PT SLJ untuk level 1 bagian A (Hak
para pemegang saham) adalah 61,54%. Melihat hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan
bahwa pelaksanaan penerapan prinsip II OECD terkait pemenuhan hak pemegang saham
dalam praktik GCG mereka belum cukup terimplementasikan dengan baik.

Untuk bagian B (terkait prinsip III), hasil perhitungan dari 17 pertanyaan yang dapat
diperhitungkan (pertanyaan dengan jawaban “Yes” atau “No”), terdapat 8 pertanyaan dengan
jawaban “Y” (“Yes”) dari 17 pertanyaan yang dapat diperhitungkan. Artinya ASEAN CG
Scorecard PT SLJ untuk level 1 bagian B (perlakuan yang adil bagi pemegang saham) adalah
47,06%. Melihat hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan penerapan
prinsip III OECD terkait kesetaraan perlakuan pada pemegang saham dalam praktik GCG
mereka belum cukup terimplementasikan dengan baik.

BAB V

KESIMPULAN

30 | P a g e
Berdasarkan hasil analisia yang dilakukan terhadap PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk sebelum
melakukan reorganisasi menjadi PT SLJ Global, Tbk, dapat disimpulkan bahwa pada masa
itu perusahaan masih membutuhkan banyak perbaikan terhadap tata kelola usaha mereka
terutama berkaitan dengan pemenuhan hak para pemegang saham dan kesetaraan/ perlakuan
yang adil baik itu kepada pemegang saham kendali maupun pemegang saham publik. Selain
banyaknya pemberitaan terkait konflik antar pemegang saham perusahaan, hasil analisis
menggunakan ASEAN Corporate Governance Scorecardyang mengacu pada prinsip kedua
dan ketiga OECD pun menunjukan hasil yang sama yaitu perusahaan masih perlu melakukan
banyak perbaikan terutama terkait dengan transparansi mereka terhadap pemegang saham
minoritas, dan terkait keadilan dalam pemungutan suara yang diselenggarakan dalam RUPS
yang berkenaan dengan keputusan-keputusan yang berdampak material terhadap keuangan
perusahan. Namun demikian, kami berharap semoga dengan dilakukannya reorganisasi oleh
perusahaan pada tahun 2013 lalu, kini PT SLJ dapat lebih memperbaiki tata kelola usaha dan
pertanggungjawaban mereka terhadap para investor sehingga konflik-konflik yang terjadi
sebelum reorganisasi tersebut tidak akan terulang kembali.

REFERENSI

ASEAN Capital Market Forum (ACMF), ASEAN Corporate Governance Scorecard :


Country Reports and Assesments 2012-2013.

31 | P a g e
OECD. (2004 ). OECD Principles of Corporate Governance.

Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal nomor KEP-52/PM/1997.

Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan KEP-614/BL/2011.

Peraturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) No.32/POJK.04/2014 tentang Rencana


danPenyelenggaraan RUPS Perusahaan Terbuka.

Peraturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) No.33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan
Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik.

Peraturan Bapepam no. IX.E.2 tentang Transaksi Material.

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

www.sljglobal.com/corporate-information

www.wikipedia.org

www.idx.co.id

www.bungrandhy.wordpress.com/2013/01/12/teori-keagenan-agency-theory

http://nasional.kontan.co.id/news/gugatan-sengketa-saham-suli-kandas

32 | P a g e
LAMPIRAN I
Penilaian Praktik Corporate Governance PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk dengan
menggunakan ASEAN CG Scorecard template (Bagian A)

33 | P a g e
LAMPIRAN II
Penilaian Praktik Corporate Governance PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk dengan
menggunakan ASEAN CG Scorecard template (Bagian A)

34 | P a g e