Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Uji kompetensi adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian yang dapat
mendukung program keahlian di sekolah dan program penguasan keahlian yang diperoleh
melalui kegiatan praktek langsung di Dunia Usaha atau Dunia Industry.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa mengenai teori dan
praktek yang di dapat di sekolah, maka para siswa Sekolah Menengah Negeri 7 Bandung di
haruskan melaksanakan uji kompetensi di tempat Praktek Kerja Industri.

1.2 TUJUAN UJI KOMPETENSI

Secara umum, tujuan dari uji kompetensi adalah meningkatkan wawasan siswa pada
aspek – aspek yang potensial dalam dunia kerj yang sebenarnya.

Selain itu, adapun tujuanpokok dari uji kompetensi yaitu:

1. Meningkatkan kemampuan, memperluas dan memantapkan keterampilan siswa sebagai


bekal kerja yang sesuai.
2. Sebagai uji kemampuan setelah melaksanakan praktek kerja industri (prakerin)
3. Menguji keterampilan siswa dalam hal penggunaan instrument kimia analisis yang lebih
modern, dibandingkan dengan fasilitas yang tersedia di sekolah terutama dalam
kesempatan praktek yang diberikan oleh lembaga penelitian perusahaan industri
4. Menguji dan memantapkan pengaplikasian teori yang telah diperoleh selama belajar di
sekolah dengan teknologi baru dalam lapangan kerja.
1.3 TUJUAN PEMBUATAN LAPORAN UJI KOMPETENSI

Sebagai kelanjutan dari Uji Kompetensi setelah melaksanakan praktek kerja Industri,
maka siswa diwajibkan membuat laporan Uji Kompetensi.

Adapun tujuan dalam pembuatan laporan Uji Kompetensi adalah :

1 Siswa mampu mencari alternatif pemecahan masalah kejuruan sesuai dengan progam
studi yang di pilihnya scara lebih luas dan mendalam yang terungkap dari karya tulis.
2 Siswa mampu memahami, memantapkan, dan mengembangkan pelajaran yang di
dapat dari sekolah dan penerapannya di Dunia Usaha/Dunia Industri.
3 Menambah perbendaharaan perpustakaan sekolah dan menunjang peningkatan
pengetahuan siswa selanjutnya.
4 Mengembangkan kemampuan berpikir terutama dalam mengevaluasi data dan
membahas hasil analisis selama melaksanakan praktek kerja industri.
5 Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Uji Kompetensi.

Dengan adanya laporan ini, semoga dapat memberikan wawasan bagi penulis khususnya
dan bagi pembaca yang akan terjun dalam program keahlian ini untuk lebih mempersiapkan diri.

1.4 METODE PENULISAN

Dalam penyusunan laporan Uji Kompetensi ini digunakan beberapa metode, baik dalam
hal penyusunan maupun pengolahan data. Beberapa metode yang digunakan adalah sebagai
berikut:

a. Pengamatan (Observasi)

Yaitu mengumpukan data dengan melakukan kajian ulang dari laporan praktek kerja
indrusti.

b. Kepustakaan (Library)
yaitu dengan cara mempelajari beberapa buku sumber yang berhubungan dalam
penyusunan laporan.
c. Diskusi (Discussion)
yaitu pengumpulan data dengan melakukan Tanya jawab secara langsung dengan
pembimbing mengenai materi dalam penyusunan laporan.

1.5 WAKTU PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI


Uji Kompetensi dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Kualitas Lingkungan
PDAM Kota Bandung yang bertempatkan di jalan Atlas No. 6 Antapani Bandung. Waktu
pelaksanaan dimulai tanggal 17 sampai dengan 21 September 2012.
BAB II
TUJUAN PUSTAKA

1.1 Besi (Fe)

Air merupakan sebagian terbesar dari seluruh permukaan bumi yaitu sekitar 1,4 triliun
kilometer kubik tersedia di bumi, dari jumlah ini 98,3 % terdapat di lautan dan 1,6 membeku
sebagai es dan sisanya adalah air tanah dan hanya jumlah kecil terdapat di danau-danau dan
sungai-sungai.

Pengelolaan sumber danya air sangat penting, agar dapat dimanfaatkan secara
berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu langkah pengelolaan yang
dilakukan adalah pemantauan dan interpretasi data kalitas air, mencakup kualitas fisika,
kimia, dan biologi. Namun, sebelum melangkah pada tahap pengelolaan, diperlukan
pemahaman yang baik tentang terminology, karakteristik, dan interkoneksi parameter-
parameter kualitas air.

besi merupakan salah satu elemen yang dapat ditemui hampir pada setiap tempat di bumi,
pada semua lapisan geologis dan semua badan air. Pada umumnya besi yang ada di dalam
air dapat bersifat terlarut sebagai Fe 2+ atau Fe3

Besi dalam air berbentuk ion bervalensi dua (Fe2+) dan bervalensi tiga (Fe3+) . Dalam
bentuk ikatan dapat berupa Fe2O3, Fe(OH)2, Fe(OH)3 atau FeSO4 tergantung dari unsur
lain yang mengikatnya.

Besi terlarut dalam air dapat berbentuk kation ferro (Fe2+) atau kation ferri (Fe3+). Hal
ini tergantung kondisi pH dan oksigen terlarut dalam air. Besi terlarut dapat berbentuk
senyawa tersuspensi, sebagai butir koloidal seperti Fe (OH)3, FeO, Fe2O3dan lain-Iain.
Konsentrasi besi terlarut yang masih diperbolehkan dalam air bersih adalah sampai dengan
0,1 mg/l.
1.1.1 Sumber besi (Fe)

Kandungan Fe di bumi sekitar 6.22 %, di tanah sekitar 0.5 – 4.3%, di sungai sekitar 0.7
mg/l, di air tanah sekitar 0.1 – 10 mg/l, air laut sekitar 1 – 3 ppb, pada air minum tidak lebih
dari 200 ppb. Pada air permukaan biasanya kandungan zat besi relatif rendah yakni jarang
melebihi 1 mg/L sedangkan konsentrasi besi pada air tanah bervariasi mulai dan 0,01 mg/l
sampai dengan + 25 mg/l. Di alam biasanya banyak terdapat di dalam bijih besi hematite,
magnetite, taconite, limonite, goethite, siderite dan pyrite (FeS), sedangkan di dalam air
umumnya dalam bentuk terlarut sebagai senyawa garam ferri (Fe3+) atau garam ferro (Fe2+);
tersuspensi sebagai butir koloidal (diameter < 1 mm) atau lebih besar seperti, Fe(OH)3; dan
tergabung dengan zat organik atau zat padat yang anorganik (seperti tanah liat dan partikel
halus terdispersi). Senyawa ferro dalam air yang sering dijumpai adalah FeO, FeSO4,
FeSO4.7 H2O, FeCO3, Fe(OH)2, FeCl2 sedangkan senyawa ferri yang sering dijumpai yaitu
FePO4, Fe2O3, FeCl3, Fe(OH)3.

Pada air yang tidak mengandung oksigen O2, seperti seringkali air tanah, besi berada
sebagai Fe2+ yang cukup dapat terlarut, sedangkan pada air sungai yang mengalir dan terjadi
aerasi, Fe2+ teroksidasi menjadi Fe3+ yang sulit larut pada pH 6 sampai 8 (kelarutan hanya di
bawah beberapa m g/l), bahkan dapat menjadi ferihidroksida Fe(OH)3, atau salah satu jenis
oksida yang merupakan zat padat dan bisa mengendap.

1.1.2 Sifat-sifat besi (Fe)

Unsur besi mempunyai sifat – sifat yang sangat mirip dengan mangan sehingga
pengaruhnya juga hampir sama meskipun beberapa hal berbeda terutama nilai ambang batas.
Di dalam air bersih besi (Fe) dan mangan dapat berpengaruh seperti tersebut dibawah ini :

1. Menimbulkan penyumbatan pada pipa, secara langsung oleh deposit (tubercule)


yang disebabkan oleh endapan besi sedangkan secara tidak langsung, disebabkan oleh
kumpulan bakteri besi yang hidup di dalam pipa, karena air yang mengandung besi,
disukai oleh bakteri besi.

2. Besi dan mangan sendiri dalam konsentrasi yang lebih besar dan beberapa mg/l,
akan memberikan suatu rasa pada air yang menggambarkan rasa logam, atau rasa obat.
3. Keberadaan besi dan mangan juga dapat memberikan kenampakan keruh dan
berwarna pada air dan meninggalkan noda pada pakaian yang dicuci dengan
menggunakan air ini, oleh karena itu sangat tidak diharapkan pada industri kertas,
pencelupan/textil dan pabrik minuman.

4. Meninggalkan noda pada bak-bak kamar mandi dan peralatan lainnya (noda
kecoklatan disebabkan oleh besi dan kehitaman oleh mangan).

5. Endapan logam ini juga yang dapat memberikan masalah pada sistem penyediaan
air secara individu (sumur).

6. Pada ion exchanger endapan besi dan mangan yang terbentuk, seringkali
mengakibatkan penyumbatan atau menyelubungi media pertukaran ion (resin), yang
mengakibatkan hilangnya kapasitas pertukaran ion.

7. Menyebabkan keluhan pada konsumen (seperti kasus “red water”) bila endapan
besi dan mangan yang terakumulasi di dalam pipa, tersuspensi kembali disebabkan
oleh adanya kenaikan debit atau kenaikan tekanan di dalam pipa/sistem distribusi,
sehingga akan terbawa ke konsumen.

8. Fe2+ juga menimbulkan corrosive yang disebabkan oleh bakteri golongan


Crenothric dan Clonothrix.
1.2 Spektrofotometri Serapan Atom ( SSA ) / AAS

Spektrofotometri serapan atom merupakan salah satu metode analisis yang dapat
digunakan untuk menentukan unsur - unsur di dalam suatu bahan dengan kepekaan,
ketelitian serta selektivitas tinggi.

Pada perkembangan terakhir cara analisis spektrofotometer serapan atom selain atomisasi
dengan nyala (FAAS= Flame Atomic Absorption Spectrophotometry), dapat juga dilakukan
atomisasi tanpa nyala yaitu dengan menggunakan energi listrik pada batang karbon (GFAAS
= Grafit Furnace Atomic Absorption Spectrophotometry) atau bahkan hanya dengan
penguapan (CVAAS= Cold Vapor Atomic Absoption Spectrophotometry), misalnya pada
analisis Hg.

Proses atomisasi dengan energi listrik pada batang atom dapat mengurangi gangguan
spektrum emisi dari nyala atau absorpsi oleh nyala dan besarnya suhu dapat diatur dengan
mudah dengan mengatur arus listrik yang digunakan.

Spektrofotometri serapan atom adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada proses
penyerapan energi radiasi atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state).

Penyebab energi tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam atom ke tingkat


energi yang lebih tinggi (exited state). Pengurangan intensitas radiasi yang diberikan
sebanding dengan jumlah atom pada tingkat energi dasar yang menyerap energi radiasi
tersebut. Dengan mengukur intensitas radiasi yang diteruskan (transmitan) atau mengukur
intensitas radiasi yang diserap (absorbansi) maka konsentrasi unsur di dalam cuplikan dapat
ditentukan.

Metode analisis ini sangat selektif karena frekuensi radiasi diserap adalah karakteristik
untuk setiap unsur. Radiasi yang diserap ini adalah radiasi resonansi, yaitu radiasi yang
berasal dari di-eksitasi atom dari tingkat eksitasi ke tingkat energi dasar.

Dalam spektrofotometri serapan atom, lampu katoda rongga (Hollow Cathode Lamp)
digunakan sebagai sumber radiasi resonansi yang diberikan. Lampu ini sesuai dengan unsur
yang akan dianalisis. Radiasi resonansi ini mempunyai panjang gelombang atau frekuensi
yang karakterisitik untuk setiap unsur.

Syarat gas yang digunakan dalam AAS adalah sebagai berikut :

1. Campuran gas memberikan suhu nyala yang sesuai untuk atomisasi unsur yang
akan dianalisis sehingga diperoleh efisiensi atomisasi yang tinggi.
2. Disarankan tidak menggunakan oksigen murni karena mudah terjadi ledakan.
3. Gas cukup murni dan bersih, ketidakmurnian gas dan atau adanya debu dapat
menyebabkan spektrum dan nyala tidak stabil.
4. Gas-gas cukup aman, tidak beracun dan mudah dikendalikan.

Untuk keperluan rutin, cukup sediakan 2 jenis campuran gas, yaitu:

1. Udara-asetilen, dapat digunakan analisis 35 unsur, temperature nyala 1900-


21000C
2. N2O-asetilen, dapat digunakan analisis 37 unsur, temperature nyala 2200-32000C

2.2.1 Atomizer

Atomizer terdiri atas sistem pengabut (nebulizer) dan sistem pembakar (burner) sehingga
sistem atomizer disebut juga dengan sistem pengabut-pembakar (burner - nebulizer system).

2.2.2 Monokromator dan detektor

Pada analisis kuantitatif, ada tiga macam metode yang sesuai dan secara umum lebih
sering digunakan pada penentuan unsur di dalam suatu bahan, seperti yang akan diuraikan di
bawah ini :

1. Metode relatif, yaitu dengan mengukur absorbansi atau transmitasi dari larutan
blanko, larutan standar, dan larutan cuplikan.
2. Metode kurva kalibrasi / standar, yaitu dengan membuat kurva antara konsentrasi
larutan standar (sebagai absis) lawan absorbansi (sebagai ordinat) yang kurva
tersebut berupa garis lurus. Kemudian dengan cara menginterpolasikan adsorbansi
larutan cuplikan ke dalam kurva standar tersebut, akan diperoleh konsentrasi
larutan cuplikan.
3. Metode penambahan standar.
Untuk kondisi tertentu, metode kurva kalibrasi baik karena adanya matrik yang
mengganggu pengukuran absorbansi atau transmitannya.

Pada metode ini, dibuat sederetan larutan cuplikan dengan konsentrasi yang
masing – masing ditambah larutan standar, dan unsur yang dianalisis oleh
konsentrasi mulai dari 0 ppm sampai konsentrasi tertentu.

Absorbansi masing – masing larutan diukur dan dibuat kurva absorbansi terkonsentrasi
unsur standar yang ditambahkan. Ekstrapolasi dari kurva ke konsentrasi akan diperoleh
intersep yang merupakan konsentrasi unsur di dalam cuplikan yang diukur.
2.2.3 Komponen alat AAS

Secara umum, komponen-komponen spektrometer serapan atom (SSA) adalah sama


dengan spektrometer UV/Vis. Keduanya mempunyai komponen yang terdiri dari sumber
cahaya, tempat sample, monokromator, dan detektor. Analisa sample di lakukan melalui
pengukuran absorbansi sebagai fungsi konsentrasi standard dan menggunakan hukum Beer
untuk menentukan konsentrasi sample yang tidak diketahui. Walaupun komponen-
komponenya sama, akan tetapi sumber cahaya dan tempat sampel yang digunakan pada SSA
memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari yang digunakan dalam spektrometri molekul
(misal: UV/Vis).

2.2.4 Sumber Cahaya

Karena lebar pita pada absorpsi atom sekitar 0.001 nm, maka tidak mungkin untuk
menggunakan sumber cahaya kontinyu seperti pada spektrometri molekuler dengan dua
alasan utama sebagai berikut:

a. Pita-pita absorpsi yang dihasilkan oleh atom-atom jauh lebih sempit dari pita-pita
yang dihasilkan oleh spektrometri molekul. Jika sumber cahaya kontinyu digunakan, maka
pita radiasi yang diberikan oleh monokromator jauh lebih lebar daripada pita absorpsi,
sehingga banyak radiasi yang tidak mempunyai kesempatan untuk diabsorpsi yang
mengakibatkan sensitifitas atau kepekaan SSA menjadi jelek.

b. Karena banyak radiasi dari sumber cahaya yang tidak terabsorpi oleh atom, maka
sumber cahaya kontinyu yang sangat kuat diperlukan untuk menghasilkan energi yang besar
di dalam daerah panjang gelombang yang sangat sempit atau perlu menggunakan detektor
yang jauh lebih sensitif dibandingkan detektor fotomultiplier biasa, akan tetapi di dalam
prakteknya hal ini tidak efektif sehingga tidak dilakukan.
2.2.5 Lampu Katode Berongga (Hollow Cathode Lamp)

Bentuk lampu katode dapat dilihat pada gambar dibawah Ciri utama lampu ini adalah
mempunyai katode silindris berongga yang dibuat dari logam tertentu. Katode and anode
tungsten diletakkan dalam pelindung gelas tertutup yang mengandung gas inert (Ne atau Ar)
dengan tekanan 1-5 torr. Lampu ini mempunyai potensial 500 V, sedangkan arus berkisar
antara 2 – 20 mA.

Adapun gas pengisi terionisasi pada anode, dan ion-ion yang hasilkan dipercepat menuju
katode dimana bombardemen ion-ion ini menyebabkan atom-atom logam menjadi terlepas
ke permukaan dan terbentuk awan/populasi atom. Proses ini disebut dengan percikan atom
(sputtering). Lebih jauh lagi, tumbukan ini menyebabkan beberapa atom tereksitasi dan
kemudian kembali pada keadaan dasar dengan memancarkan spektrum atom yang spesifik.
Spektrum gas pengisi (dan komponen lain yang terdapat dalam katode) juga dipancarkan.
Jendela atau tempat dimana radiasi keluar dari lampu biasanya dibuat dari silika sehingga
dapat menggunakan panjang gelombang di bawah 350 nm.
2.2.6 Nyala

Fungsi nyala adalah untuk memproduksi atom-atom yang dapat mengabsorpsi radiasi
yang di pancarkan oleh lampu katode tabung.

Pada umumnya, peralatan yang di gunakan untuk mengalirkan sample menuju nyala
adalah nebulizer pneumatic yang di hubungkan dengan pembakar (burner). Diagram
nebulizer dapat di lihat pada Gambar. Sebelum menuju nyala, sample mengalir melalui pipa
kapiler dan dinebulisasi oleh aliran gas pengoksidasi sehingga menghasilkan aerosol.
Kemudian, aerosol yang terbentuk bercampur dengan bahan bakar menuju ke burner.
Sample yang menuju burner hanya berkisar 5-10% sedangkan sisanya (90-95%) menuju
tempat pembuangan (drain). Pipa pembuangan selalu berbentuk”U” untuk menghindari gas
keluar yang dapat menyebabkan ledakan serius. Sample yang berada pada nyala kemudian
diatomisasi, dan cahaya dari lampu katode tabung dilewatkan melalui nyala. Sample yang
berada pada nyala akan menyerap cahaya tersebut.
2.2.7 Jenis-jenis nyala

Ada 3 jenis nyala dalam spektrometri serapan atom yaitu:

1. Udara– Propana

Jenis nyala ini relatif lebih dingin (1800oC) dibandingkan jenis nyala lainnya. Nyala
ini akan menghasilkan sensitifitas yang baik jika elemen yang akan diukur mudah
terionisasi seperti Na, K, Cu.

2. Udara– Asetilen

Jenis nyala ini adalah yang paling umum dipakai dalam AAS. Nyala ini
menghasilkan temperatur sekitar 2300oC yang dapat mengatomisasi hampir semua
elemen. Oksida-oksida yang stabil seperti Ca, Mo juga dapat analisa menggunakan
jenis nyala ini dengan memvariasi rasio jumlah bahan bakar terhadap gas
pengoksidasi.

3. Nitrous oksida – Asetilen

Jenis nyala ini paling panas (3000oC), dan sangat baik digunakan untuk
menganalisa sampel yang banyak mengandung logam-logam oksida seperti Al, Si.
Ti, W.
BAB III
METODA PENGUJIAN

3.1 Pemeriksaan Besi (Fe)

Ruang lingkup

Metoda ini digunakan untuk penentuan logam besi, Fe dalam air


dan air limbah secara metode spektrofotometri serapan atom (SSA) pada
kisaran kadar Fe 0,3 mg/L sampai dengan 66,0 mg/L dan panjang
gelombang 248,3 nm

Metode Acuan

JIS. K.0102.57.2.2002, testing methods for industrial wastewater

Istilah dan definisi


- Larutan induk logam besi, Fe
Larutan yang mempunyai kadar logam besi, Fe 1000 mg/L yang
digunakan untuk membuat larutan baku dengan kadar yang lebih rendah.
- Larutan baku logam besi, Fe
Larutan induk logam besi yang diencerkan dengan air suling sampai kadar
tertentu.
- Larutan kerja logam besi, Fe
Larutan baku logam besi, Fe yang diencerkan, digunakan untuk membuat
kurva kalibrasi dan mempunyai kisaran kadar Fe 0,5 mg/L; 1,0 mg/L; 2,0
mg/L; 3,0 mg/L; 4,0 mg/L; dan 6,0 ml/L
- Larutan blanko
Air suling yang diasamkan atau perlakuan sama dengan contoh uji.
- Larutan pengencer
Larutan yang digunakan untuk mengencerkan larutan kerja, yang dibuat
dengan cara menambahkan asam nitrat pekat ke dalam air suling sampai
pH2
- Kurva kalibrasi
Grafik yang menatakan hubungan kadar larutan kerja dengan hasil
pembacaan absorbansi masuk yang merupakan garis lurus

Cara Uji

 Prinsip
penambahan asam nitrat bertujuan untuk melarutkan analit logam
dan menghilangkan zat-zat pengganggu yang terdapat dalam contoh uji air
dan air limbah dengan bantuan pemanasan listrik, kemudian diukur
dengan SSA menggunakan gas asetilen, C2H2

 Bahan
 Air suling
 Asam nitrat, HNO3
 Gas asetilen, C2H2
 Larutan standar logam besi,Fe
 Peralatan
 Gelas piala 250mL
 Kertas saring whatman 40, dengan ukuran pori 0,42 µm
 Labu semprot
 Labu ukur 100 mL
 Lampu hilow katoda Fe
 Pemanas listrik
 Pipet ukut 5 mL; 10 mL; 20mL; 30mL; 40mL dan 60 mL
 Spektrofotometri serapan atom, SSA
 Persiapan dan pengawetan contoh uji
Bila contoh uji tidak dapat segera di analisa, maka contoh uji
diawetkan dengan penambahan HNO3 p sampai pH kurang dari 2 dengan
waktu penyimpanan maksimum 6 bulan

Persiapan Pengujian

 persiapan contoh uji


 masukan 100 mL contoh uji yang sudah dikocok sai homogeny
kedalam gelas piala
 tambahkan 5mL asam nitrat.
 Panaskan di pemanas listrik sampai larutan contoh hamper kering
 Ditambahkan 50 mL air suling, masukan ke dalam labu ukur 100
melalui kertas saring dan tepatkan 100ml dengan air suling.
 Pembuatan larutan baku logam besi Fe 100 mg/L
 Pipet 10 mL larutan induk logam bsi, Fe 1000 mg/L ke dalam labu
ukur 100 mL
 Tepatkan dengan larutan pengencer sampai tanda tera
 Pembuatan larutan baku logam besi, Fe 10 mg/L
 Pipet 50 mL, larutan standar logam besi, Fe 100 mg/L kedalam
labu ukur 500 mL
 Tepatkan demgan larutan pengencer hingga tanda tera
 Pembuatan larutan baku logam besi, Fe
 Pipet 0 mL; 5mL; 10 mL; 20 mL; 30 mL; 40 mL dan 60 mL
larutan baku besi, Fe 10 mg/L masing-masing kedalam labu ukur
100 mL
 Tambahkan larutan pengencer sampai tanda tera sehingga
diperoleh konsentrasi logam besi 0,0 mg/L; 0,5 mg/L; 1,0 mg/L;
2,0 mg/L; 3,0 mg/L; 4,0 mg/L dan 6,0 mg/L
 Prosedur dan pembuatan kurva kalibrasi
 Optimalkan alat SSA sesuai petunjuk penggunaan alat
 Ukur masing-masing larutan kerja yang telah dibuat pada panjang
gelombang 248,3 nm
 Buat kurva kalibrasi untuk mendapatkan persamaan garis regrensi
 Lamjutkan dengan pengukuran contoh uji yang sudah di
persiapkan
 Pengamatan
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pembuatan Kurva Kalibrasi


Pada praktik ini bertujuan untuk menentukan kadar besi pada contoh uji dengan
menggunakan spektrofotometer serapan atom. Metode yang digunakan yaitu dengan
spektrofotometer serapan atom yang didasarkan pada penyerapan energy sinar oleh atom-
atom netral dalam keadaan gas. Keuntungan analisis dengan metode Spektrofotometer
serapan atom yaitu mempunyai kepekaan yang tinggi, pelaksanaan relative sederhana, cepat
karena menggunakan suatu nyala dimana atom atom tersebut mempunyai energy nyala yang
berbeda-beda, dan dapat dilakukan dalam campuran unsure-unsur tanpa melakukan
pemisahan.
Pada saat pembuatan deret standard kurva kalibrasi kita harus memperhatikan ketelitian
kerja kita dan memperhatikan tingkat keakuratan alat serta ketelitian kita dalam pembacaan
alat. Selain itu juga kita harus memperhatikan :
 Gunakan alat ukur yang sudah dikalibrasi
 Gunakan alat gelas bebas dari kontaminasi dengan membilas terlebih dahulu
memakai aquadest.
 Gunakan alat neraca analitik karena tingkat keakuratannya maksimal.
 Hasil koefisien kolerasi regresi linier ( r ) harus lebih besar atau sama dengan
0,995 lebih mendekati satu lebih baik untuk dijadikan standar. Apabila kurang dari 0.995
maka pengukuran larutan standar harus dilakukan pengulangan.
4.2 Analisa
Penambahan asam nitrat bertujuan untuk menjadika larutan atau cuplikan menjadi pH
yang rendah, sehingga pada saat dilakukan pembacaan dengan AAS logam yang terdapat
dalam larutan atau sample tersebut mudah teratomisasi.
Pada saat pembacaan absorbansi yang terbaca di computer tidak stabil dikarenakan
cahaya yang ditembakan oleh lampu hollow catode tidak di serap dengan baik oleh atom
tersebut, karena setiap atom memiliki energy, bila suatu atom memiliki energy pada tingkat
paling rendah, maka atom tersebut berada dalam keadaan tingkat dasar, bila atom tersebut
mengabsorpsi energy radiasi, maka energy atom tersebut menjadi lebih besar sehingga atom
tersebut berada dalam keadaan tingkat tereksitasi, sehingga hasil pembacaan yang terbaca
diambil dari nilai tengah.
Pada saat pembuatan limit diteksi kebanyakan hasil konsentrasi yang terbaca oleh
computer tidak sesuai dengan hasil yang kita inginkan, dikarenakan terjadi sedikit
kontaminasi dari alat yang digunakan.
BAB V

PENUTUPAN

5.1 Kesimpulan

Dalam air bersih terdapat unsure-unsur kimia salah satunya besi. besi apabila terlalu
banyak dikonsumsi akan menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan. Konsentrasi besi
terlarut yang masih diperbolehkan dalam air bersih adalah sampai dengan 0,1 mg/l.

Cara pengujian kadar besi terdapat banyak cara diantaranya metode spektrofotometri
serapan atom dan metoda gravimetric. Metoda analisa yang dilakukan di LPKL PDAM
Tirtawening yaitu metoda spektrofotometri serapan atom dimana sampel yang dianalisa
ditambahkan dengan nitrit acid untuk menurunkan pH sehingga memudahkan
pengatomisasian.

Dalam pembuatan kurva kalibrasi itu sangat mudah akan tetapi kita harus benar benar
meningkatkan ketelitian kerja kita dan memperhatikan tingkat keakuratan alat serta
ketelitian kita dalam pembacaan alat, karena apabila tidak seperti itu akan menghasikan hasil
yang tidak sesuai dan harus dilakukan pengulangan.