Anda di halaman 1dari 37

KANKER KULIT

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Keperawatan Sistem
Integumen

Disusun oleh :

1. Clarisa Oktaviani (30120115017)


2. Demy Fransisca H (30120115019)
3. Desy Sahuleka (30120115020)
4. Elyzabeth Sianipar (30120115026)
5. Hendrikus Novanolo Laia (30120115029)
6. Maria Marcelina (30120115035)

PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS

PADALARANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kanker kulit adalah yang paling umum dari semua kanker pada manusia, dengan insiden
1 juta orang di Amerika Serikat di diagnosis setiap tahun dengan penyakit kanker ganas
kulit(Wax, 2012). Kanker adalah penyakit yang tidak mengenal status sosial dan dapat
menyerang siapa saja dan muncul akibat pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan
tubuh yang berubah menjadi sel kanker dalam perkembangannya. Sel-sel kanker ini dapat
menyebar kebagian tubuh lainnya sehingga dapat menimbulkan kematian baik secara langsung
maupun tidak langsung. Sel kanker berbahaya karena dapat menyebabkan kematian (WHO,
2008). Setiap tahun sekitar 440.000 orang Australia dirawat karena kanker kulit dan lebih dari
1.850 orang kehilangan hidup mereka karena penyakit ini (Lauren, 2011). Data dari The Cancer
Association of South Africa (CANSA) memperlihatkan bahwa pada tahun 2000-2001 kanker
yang paling sering terjadi adalah kanker kulit yang terdiri atas karsinoma sel basal, karsinoma sel
skuamosa, dan melanoma. Insiden kanker kulit di Afrika Selatan nomor dua setelah Australia.
Dilaporkan 20.000 kasus baru dan lebih dari 700 kematian yang diakibatkannya setiap tahun
(Suriadiredja, 2012). Di Indonesia penyakit kanker saat ini menjadi penyebab kematian keenam
berdasarkan data dari survey kesehatan rumah tangga (SKRT) 2002. Kepala Bagian Radiologi
RSCM FKUI Dokter Soehartati PhD di Jakarta mengatakan bahwa salah satu penyakit kanker
yang banyak dialami penduduk Indonesia saat ini adalah kanker kulit dengan persentase 7 persen
(Depkes, 2003).

B. RUMUSAN MASALAH
1) Apa pengertian dari kanker kulit?
2) Apa saja klasifikasi dari kanker kulit?
3) Bagaimana anatomi dan fisiologi dari kulit?
4) Apa saja etiologi dari kanker kulit?
5) Apa saja tanda dan gejala dari kanker kulit?
6) Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh kanker kulit?
7) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien kanker kulit?
C. TUJUAN
1) Untuk mengetahui pengertian dari kanker kulit.
2) Untuk mengetahui klasifikasi dari kanker kulit
3) Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari kulit
4) Untuk mengetahui etiologi dari kanker kulit
5) Untuk mengetahui tanda dan gejala dari kanker kulit
6) Untuk mengetahui komplikasi dari kanker kulit
7) Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari kanker kulit.

D. SISTEMATIKA PENULISAN

Makalah ini disusun dalam 3 BAB yang terdiri dari


BAB I: PENDAHULUAN, yang terdiri dari Latar Belakang, Rumusan masalah,Tujuan,dan
Sistematika Penulisan. BAB II: TINJAUAN TEOROTIS, yang terdiri dari A. Anatomi dan
Fisiologi, Pengertian, Klasifikasi, B. Konsep Dasar C. Konsep Askep, pengkajian, Diagnosis
keperawatan, Perencanaan dan Evaluasi. Makalah ini diakhiri dengan BAB III: PENUTUP,
yang terdiri dari kesimpulan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

Kanker/Cancer adalah pertumbuhan dari sel tubuh yang bersifat merusak dan tidak
beraturan serta menyebar melalui jaringan yang normal. (Rushdal, 1999).

Kanker kulit adalah penyakit di mana kulit kehilangan kemampuannya untuk regenerasi
dan tumbuh secara normal. Sel-sel kulit yang sehat secara normal dapat membelah diri secara
teratur untuk menggantikan sel-sel kulit mati dan menumbuhkan kulit baru.(Jacobs B, Segal RJ,
2005)

Kanker kulit ialah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang
tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh
yang lain (Ajoemedi soemardi, 2006).

Kanker kulit adalah penyakit dimana kulit kehilangan kemampuannya untuk generasi dan
tumbuh secara normal.Sel-sel kulit yang sehat secara normal dapat membelah diri secara teratur
untuk menggantikan sel-sel kulit mati dan tumbuh kembali ( Tiro, 2010).

B. ANATOMI FISIOLOGI

Kulit merupakan barier protektif yang memiliki fungsi vital seperti perlindungan terhadap
kondisi luar lingkungan baik dari pengaruh fisik maupun pengaruh kimia, serta mencegah
kelebihan kehilangan air dari tubuh dan berperan sebagai termoregulasi. Kulit bersifat lentur dan
elastis yang menutupi seluruh permukaan tubuh dan merupakan 15% dari total berat badan orang
dewasa (Paul et al., 2011).

Fungsi kulit antara lain sebagai proteksi kulit adalah melindungi tubuh dari kehilangan
cairan elektrolit, trauma mekanik dan radiasi ultraviolet,sebagai barier dari invasi
mikroorganisme patogen, merespon rangsangan sentuhan, rasa sakit dan panas karena terdapat
banyak ujung saraf, tempat penyimpanan nutrisi dan air yang dapat digunakan apabila terjadi
penurunan volume darah dan tempat terjadinya metabolisme vitamin D (Richardson, 2003;
Perdana kusuma, 2007).
Kulit terdiri dari dua lapisan yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang
merupakan lapisan epitel dan lapisan dalam yaitu dermis yang merupakan suatu lapisan jaringan
ikat.

a. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar kulit yang terdiri dari epitel berlapis bertanduk,
mengandung sel malonosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada
berbagai tempat di tubuh, paling tebal terdapat pada telapak 6 tangan dan kaki. Ketebalan
epidermis hanya sekitar 5% dari seluruh ketebalan kulit. Epidermis terdiri atas lima lapisan
(dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) yaitu stratum korneum, stratum
lusidum, stratum granulosum, stratum spinosumdan stratum basale (stratum Germinatum)
(Perdanakusuma, 2007).
b. Dermis
Dermis tersusun oleh sel-sel dalam berbagai bentuk dan keadaan, dermis terutama terdiri
dari serabut kolagen dan elastin. Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen akan
berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Sedangkan serabut elastin terus meningkat dan
menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai
dewasa. Pada usia lanjut kolagen akan saling bersilang dalam jumlah yang besar dan serabut
elastin akan berkurang mengakibatkan kulit terjadi kehilangan kelenturanannya dan tampak
berkeriput (Perdanakusuma, 2007).
Di dalam dermis terdapat folikel rambut, papilla rambut, kelenjar keringat, saluran keringat,
kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah dan ujung saraf dan sebagian
serabut lemak yang terdapat pada lapisan lemak bawah kulit (TranggonodanLatifah, 2007).
c. Lapisan Subkutan
Lapisan subkutan merupakan lapisan dibawah dermis yang terdiri dari lapisan lemak.
Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan
di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda 7 menurut daerah tubuh dan keadaan
nutrisi individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi
(Perdanakusuma, 2007).
Gambar 2.1 StrukturKulitManusia (Perdanakusuma, 2007).
C. ETIOLOGI

Secara umum etiologi dari kanker kulit belum diketahui secara pasti namun memiliki
banyak factor yang potensial antara lain:

1. Terpapar oleh radiasi ultraviolet secara berlebihan (baik ultraviolet A maupun ultraviolet
B).
2. Luka yang lama tidak sembuh(chronic non-healing wounds),khususnya luka bakar,
diantaranya adalah Marjolin’s ulcer yang bias berkembang menjadi karsinoma sel
skuamosa.
3. Genetic
4. Tahi lalat berukuran lebih besar dari 20 mm berisiko tinggi berkembang menjadi kanker.
5. Human papilloma virus (HPV) sering dihubungkan dengan karsinoma sel skuamosa pada
genital, anus, mulut, faring dan jari tangan.
6. Toksin arsenik merupakan salah satu resiko peningkatan insiden karsinoma sel skuamosa.
Kekurangan beberapa vitamin dan mineral tertentu dan merokok.
D. MANIFESTASI KLINIS

Secara Umum :

 Benjolan kecil yang membesar


 Benjolan yang permukaannya tidak rata dan mudah berdarah
 Tahi lalat yang berubah warna
 Koreng atau borok dan luka yang tidak mau sembuh
 Bercak kecoklatan pada orang tua
 Bercak hitam ysng menebal pada telapak kaki dan tangan

E. KLASIFIKASI

Kanker kulit terbagi menjadi tiga jenis antara lain Karsinoma Basal, Karsinoma Sel Skuamosa
dan Melanoma Maligna.

1) Karsinoma Basale

Karsinoma sel basal adalah suatu tumor kulit yang bersifat ganas, berasal dari sel-sel
basal epidermis dan apendiknua. Tumor ini berkembang lambat dan tidak/jarang bermetatase.
Keganasan pada karsinoma ini ialah lokal (lozalized malignant) yaitu invasi ke tumor ke jaringan
dibawah kulit (sub kulit), fasia, otot dan tulang, umumnya tidak menyebabkan kematian.

Etiologi

Sampai saat ini masih belum diketahu pasti penyebabnya. Dari beberapa penelitian
menyatakan bahwa faktor predisposisi yang memegang peranan penting perkembangan
karsinoma sel basal. Faktor predisposisi yang diduga sebagai penyebab yaitu :

Faktor internal :

 Umur
 Ras
 Genetic dan,
 Jenis kelamin.

Faktor eksternal :

 Radiasi ultraviolet (UV B 290-320 nm)


 Radiasi ionisasi
 Bahan-bahan karsiogenik, mis : arsen, inorganik, zat-zat kimia, hidrokarbon polisiklik
 Trauma mekanis kulit mis: bekas vaksin, bekas luka bakar, iritasi kronis dll.
Phatofisiologi

Karsinoma sel basal dari epidermis dan adneksa struktur( folikel rambut, kelenjar ekstrin).
Terjadinya didahului dengan regenerasi dari kolagen yang sering dijumpai pada orang yang
sedikit pigmennya dan sering mendapat paparan sinar matahari, sehingga nutrsisi pada epidermis
terganggu dan merupakan prediksi terjadinya suatu kelainan kulit. Melanin berfungsi sebagai
energy yang dapat menyerap energy yang berbeda jenisnya dan menghilang dalam bentuk panas.
Jika energy masih terlalu besar dapat merusal sel dan mematikan sel atau mengalami mutasi
untuk selanjutnya menjadi sel kanker.

Beberapa peneliti mengatakan karsinoma sel basal merupakan gabungan pengaruh sinar
matahari,tipe kulit,warna kulit dan factor predisposisi lainnya. Paningkatan radiasi ultraviolet
dapat menginduksi terjadinya keganasan kulit pada manusia melalui efek imunologik dan efek
karsinogenik. Transformasi sel menjadi ganas akibat radiasi ultraviolet diperkirakan berhubngan
dengan terjadinya perubahan pada DNA yaitu terbentuknya Photo Product yang disebut dimejr
pirimidin yang diduga berperan pada pembentukan tumor. Reaksi sinar ultraviolet menyebabkan
efek terhadap proses karsinogenik pada kulit antara lain: induksi timbulnya menjadi sel kanker,
menghambat immunosourveillance dengan menginduksi limfosit T yang spesifik untuk tumor
tertentu.

Manifestasi Klinis

Karsinoma sel basal umumnya mudah di diagnosis secara klinis. Ruam dari karsiona sel
basal terdiri dari satu atau beberapa nodul kecil seperti lilin (waxy), semitranslusen berbentuk
bundar dengan bagian tengah lesi sekung (central depresion) dan bisa mengalami ulserasi dan
pendarahan, sedangkan bagian tepi maningi seperti mutirara yang merupakan tanda khas yang
pada pinggiran tumor ini.

Pada kulit sering dijumpai tanda-tanda kerusakan seperti telngektase dan atropi. Lesi
tumor ini tidak menimbulakan rasa sakit. Adanya ulkus menandakan suatu proses kronis yang
berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan ulkus ini secara perlahan-perlahan dapat
bertambah besar.

Gambaran klinik karsinoma sel basal bervariasi. Terdapat 5 tipe dan 2 sindroma klinik yaitu:
1. Tipe Nodula-ulseratif (Ulkus Rodens)
Jenis ini dimulai dengan nodus kecil 2-4 mm, translusen, warna pucat seperti lilin (waxy-
nodulo). Dengan inspeksi yang teliti, dapat dilohat perubahan pembuluh darah superficial
melebar (telangiektasi).
Permukaan nodus mula-mula rata tetapi kalau lesi membesar, terjadi cekungan ditengahnya
dan pinggir lesi menyerupai bintil-bintil seperti mutiara (pearly border). Nodus mudah
berdarah pada trauma ringan dan mengadakan erosi spontan yang kemudian menjadi ulkus
yang terlihat di bagian sentral lesi.
Kalau telah terjadi ulkus, bentuk ulkus seperti kawah, berbatas tegas, dasar irreguler dan
ditutupi oleh krusta. Pada palpasi teraba adanya indurasi disekitar lesi terutama pada lesi
yang mencapai ukuran lebih dari 1 cm, biasanya berbatas tegas, tidak sakit atau gatal.
Dengan terutama ringan atau bila krusta diatasnya diangkat, mudah berdarah.
.
2. Tipe pigmented
Gambaran klinsnya sama dengan nodula-ulseratif, adanya pada jenis ini berwarna coklat
atau berbintik-bintik atau homogen (hitam merata) kadang-kadang menyerupai melanoma.
Banyak dijumpai pada ordang dengan kulit gelap yang tinggal pada daerah tropis.

3. Tipe morphea-like atau fibrosing


Merupakan jenis yang agak jarang ditemukan. Lesinya berbentuk plakat yang berwarna
kekuningan dengan tepi yang tidak jelas, kadang-kadang tepinya meninggi. Pada
permukaannya tampak beberapa folikel rambut yang mencekung sehingga memberikan
gambaran seperti sikatriks. Kadang-kadang tertutup krusta yang melekat erat. Jarang
menagalami ulserasi. Tepi ini cenderung invasif kearah dalam. Tepi ini menyerupai penyakit
morphea atau skleroderma.

4. Tipe superfisial
Berupa bercak kemerahan dengan skuama halus dan tepi yang meninggi. Lesi dapat meluas
secara lambat, tanpa mengalami ulserasi. Umumnya multipel, terutama dijumpai pada badan,
kadang-kadang pada leher dan kepala.
5. Tipe fibroepitelial
Berupa satu atau beberapa nodul yang keras dan sering bertangkai pendek,permukaannya
halus dan sedikit kemerahan. Terutama dijumpai dipunggung. Tipe ini sangat jarang
ditemukan.

Sindroma klinik yang merupakan bagian penting dari karsinoma sel basal yaitu:
1. Sindroma karsinoma sel basal nevoid
Dikenal sebagai sindroma Gorlin-Goltz merupakan suatu sindroma yang
diturunkan secara autosomal dan terdiri dari:
- Kelainan kulit; berupa nodul kecil yang multipel yang terdapat pada kanak-kanak
atau akhir pubertas, terutama dijumpai pada muka dan badan
- Selama stadium nevoid, ukurdan dan jumlah nodur bertambah. Sering setelah umur
dewasa, lesinya mengalami ulserasi dan kedalam stadium neoplastik dimana terjadi
invasi, destruksi dan multilasi. Kematian dapat terjadi karena invasi ke otak terdapat
cekungan (pit’s) pada telapak tangan dan kaki.
- Kelainan tulang : berupa kista pada rahang, kelainan pada tulnag iga dan tulang
belakang (skoliosis, spina bifida).
- Kelainan sistem saraf : berupa perubahan menonjol dan retardasi mental.
- Kelainan mata : berupa katarak, buta congenital.
2. Sindroma linear and generalized folicular basal cell nevi. Merupakan jenis yang sangat
jarang ditemui pada lesi yang liner, berupa nodul disertai komode dan kista epidermal,
tersusun seperti garis dan unilateral. Biasanya terdapat sejak lahir. Pada jenis generalized
folicular ditemukan adanya kerontokan rambut bertahap, akibat kerusakan folikel rambut
akibat pertumbuhan tumor.
3. Sindroma bazex : atrophoderma dengan multipel karsinoma sel basal. Disamping itu ada
juga tipe-tipe klinis yang jarang dijumpai yaitu : fibro epirelioma, giant pore BCC, wild
fire BCC, angiomatous BCC, lipoma like BCC, giant exophytic BCC, hiperkreatotic
BCC dan intra oral BCC.
Penatalaksanaan

Tujuan karsinoma sel basal yaitu kesembuhan dengan hasil kosmetik yang baik karena
umumnya kasinoma sel basal terdapat pada wajah. Terapi dapat bersifcat preventif dan kuratif.
Banyak metode pengobatan karsinoma sel basal yaitu :

- Preventatif
Oleh karena sinar matahari predisposisi utama untuk terjadi kanker kulit maka
perlu diketahui perlindungan kulit terhadap sinar matahari, terutama bagi ordang-orang
yang sering melakukan aktifitas diiluar rumah dengan cara memakai sunscreens (tabir
surya) selama terpajan sinar matahari. Penggunaan tabir surya untuk kegiatan diluar
rumah diperlukan tabir surya dengan SPM yang lebih tinggi (>15-30).

Adanya hubungan antara terbentuknya berbagai radikal bebas antara lain akibat sinar UV
oada beberapa jenis kanker kulit, telah banyak dilaporkan. Pemakaian antioksidan dapat
berfungsi untuk menetralkan kerusakan atau mempertahankan fungsi dari serangan
radikal bebas. Telah banyak bukti bahwa terpaparnya jaringan dengan radika bebas dapat
mengakibatkan brbagai gejala klinik atau penyakit yang cukup serius.

Akibat reaksi oksidatid radikan bebas di DNA menimbulkan mutasi yang akhirnya
menyebabkan kanker. Diantarda antioksidan tersebut adalah; betakaroten, vitamin E dan
vitamin C.

- Kuratif
1. Bedah eksisi
Bedah eksisi atau bedah skalpel pada KSB dini memberikan tingkat sembuhan yang
tinggi.
2. Radioterapi (pria diasiio nisasi)
Penyinaran lokal memberikan lapangan radiasi meiputi tumor dengan 1-2 cm jaringan
sehat sekelilingnya. Penyinaran dilakukan dedngan dosis 200 cGy per fraksi, 5 fraksi
dalam 1 minggu dengan total dosis 4000 cGy.
3. Kuretasi dan elektrodesikasi
Dilakukan pada tingkat yang dini, cara yang terbaik dengan cara cutting dan
koagulasi dibanru dengan curettage. Jika hendak mengambil spesimen jaringan untuk
pemeriksaan histopatologi, dilakukan dengan electro section (pure cutting). Terlebih
dahulu diberi marker 3-5 mm di luar tumor.
4. Bedah beku (cryosurgery)
Bedah beku adalah suatu metode pengobatan dengan menggunakan bahan yang dapat
menurunkan suhu jaringan tubuh dari puluhan sampai ratusan derajat Celsius di
bawah nol (subzero). Efek yang ingin dicapai:
a. Perubahan sel epidermal dan epidermolisis dengan pembekuan ringan dimana
terjadi vesikulasi (tampak vesikel atau bula), kemudian diikuti krustasi dan proses
wound healing tanpa jaringan parut dan kemungkinan hipopigmeentasi.
b. Cryonecrsis, destruksi serta nekrosis sel dalam jaringan dermis dan jaringan
dibawahnya dengan cara pembentukan kristal es intra dan ekstra sel, akibatnya
terjadi kerusakan membran sel dan perubahan konsentrasi elektrolit, iskemik,
respon immunologik selama masa pencarian kristal es (thaw period)
5. Bedah kimia
F. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, erosi jaringan lunak efek metastasi kanker basal,
sekunder intervensi pascabedah
Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi.
Kriteria:
- Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala nyeri 0-1 (0-4).
- Dapat mengindetifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.
- Pasien tidak gelisah.
Intervensi Rasional
Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST Menjadi parameter dasar untuk melihat sejauh
mana rencana intervensi yang diperlukan dan
sebagai evaluasi keberhasilan dari intervensi
menajemen nyeri keperawatan.
Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan
pereda nyeri nonfarmakologi dan noninvasif nonfarmakologi lainnya telah menunjukan
keefektifan dalam mengurangi nyeri.
Lakukan menajemen nyeri keperawatan:
- Atur posisi fisiologis dan imobilisasi Posisi fisiologis akan meningkatan asupan O2 ke
eksremitas yang mengalami selulitis jaringan yang mengalami peradangan subkutan.
Pengaturan posisi idealnya adalah pada ardah
yang berlawanan dengan letak dari selulitis.
Bagian tubuh yang mengalami inflamasi lokal
dilakukan imobilisasi untuk menurunkan
respons peradangan dan meningkatkan
- Istirahatkan klien kesembuhan.
Istirahat diperlukan selama fase akut. Kondisi
ini akan meningkatkan suplai darah pada
- Menajemen lingkungan: lingkungan tenang jaringan yang mengalami peradangan.
dan batasi pengunjung. Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus
nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung
akan membantu meningkatkan kondisi O2
ruangan yang akan berkurdang apabila banyak
- Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam. pengunjung yang berada di ruangan.
Meningkatkan asuhan O2 sehingga akan
- Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri. menurunkan nyeri sekunder dari peradangan.
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat
menurunkan stimulus internal dengan
mekanisme peningkatan produksi endorfin dan
enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri
untuk tidak dikirimkan ke korteks serebri
sehingga menurunkan persepsi nyeri.
Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga
nyeri akan berkurang.

Kecemasan b.d kondisi penyakit, kerusakan luas pada jaringan kulit


Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam kecemasan pasien berkurang.
Kriteria evaluasi:
- Pasien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi
penyebab atau faktor yang memengaruhi, kooperatif terhadap tindakan, wajah rileks.
Intervensi Rasional
Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasa, Reaski verbal/nonverbal dapat menunjukan rasa
dampingi pasien dan lakukan tindakan bila agitasi marah, dan gelisah
menunjukan perilaku merusak.
Hindari konfrotasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa mardah,
menurunkan kerja sama dan mungkin
memperlambat penyembuhan.
Mulai melakukan tindakan untuk mengurang Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak
kecemasan. perlu
Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh
istirahat
Bina hubungan saling percaya Mereka harus didorong untuk mengekspresikan
perasaan terhadap seseorang yang mereka
percayai. Mendengarkan keprihatinan mereka
dan selalu siap memberikan perawatan yang
terampil serta penuh kehangatan merupakan
intervensi yang penting untuk mengurangi
ansietas.
Orientasikan pasien terhadap prosedur rutin dan Orientasi dapar menurunkan kecemasan
aktivitas yang diharapkan
Beri kesempatan kepada pasien untuk Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
mengungkapkan ansietasnya kekhawatiran yang tidaj di ekspresikan.
Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat Memberikan waktu untuk mengekspresikan
perasaan, menghilangkan cemas dan perilaku
adaptasi. Adanya keluarga dan teman-teman
yang dipilih pasien melayani aktivitas dan
penglihatan (misalnya: membaca) akan
menurunkan perasaan terisolasi. Pengaturan
agar anggota keluarga dan setiap teman
dekatnya untuk lebih banyak mencurahkan
waktu mereka bersama pasien dapat menjadi
upaya yang bersifat suportif.
Kolaborasi:
Meningkatkan relaksasi dan menurunkan
- Berikan anti cemas sesuai indikasi contohnya
kecemasan.
diazepam.
2) Karsinoma Sel Skuamosa

Karsinoma sel skuomosa adalah suatu proliferasi ganas dari keratinosit epidermis yang
merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan salah satu dari kanker kulit
yang sering dijumpai setelah basalioma.

Etiologi

Seperti pada umumnya kanker yang lain, penyebab kanker kulit ini juga belum diketahui
secara pasti. Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan pertumbuhan Karsinoma Sel
Skuamosa pada kulit yaitu :

 Sinar Matahari
Paparan sinar matahari yang berlebihan. Kerusakan kulit akibat paparan sinar ultraviolet
merupakan faktor risiko utama tidak hanya pada Karsinoma Sel Skauamosa, tapi juga
kanker kulit pada umumnya.
 Bahan Karsinogen seperti Arsenic
 Warna kulit
Orang berkulit terang lebih rentan mengidap KSS karena pigmen kulitnya lebih sedikit
dibandingkan dengan orang berkulit gelap.
 Suka menggelapkan kulit, baik dengan paparan sinar matahari secara langsung atau
dengan menggunakan alat khusus.
 Usia
Risiko KSS cenderung meningkat pada lansia.
 Pengaruh keturunan
Risiko Anda untuk mengidap KSS akan meningkat jika memiliki anggota keluarga yang
menderita kanker kulit.
 Sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya karena mengonsumsi obat imunosupresan,
pengidap limfoma, atau pengidap kanker darah.
Pathofisiologi

KSS muncul sebagai akibat dari berbagai kejadian molekular yang menyebabkan
kerusakan genetik yang mempengaruhi kromosom dan gen, yang akhirnya menuju kepada
perubahan DNA. Akumulasi perubahan-perubahan tersebut memicu terjadinya disregulasi sel
pada batas dimana terjadinya pertumbuhan otonom dan perkembangan yang invasif. Proses
neoplastik mula-mula bermanifestasi secara intraepitel dekat membran dasar sebagai suatu hal
yang fokal, kemudian terjadi pertumbuhan klonal keratinosit sel yang berubah secara berlebihan,
menggantikan epitelium normal. Setelah beberapa waktu atau beberapa tahun, terjadi invasi
membran dasar jaringan epitel menandakan awal kanker invasive.

Premalignansi oral merupakan ciri lesi yang dapat beresiko untuk berubah menjadi
pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan bertransformasi menjadi kanker diikuti dengan
kekacauan fungsi normal jaringan. Proses patologis premalignansi mempengaruhi epitel
skuamosa berlapis yang melindungi rongga mulut. Gambaran utama yang terlihat mendahului
perjalanan keganasan adalah displasia epitel yaitu yang secara histologis menggambarkan
kombinasi gangguan pematangan dan gangguan proliferasi sel. Derajat displasia epitel dan
karsinoma yakni displasia ringan, displasia menengah, displasia berat (karsinoma in situ) dan
karsinoma.

Walaupun lesi displastik disebut potential malignant, tetapi tanpa dirawat dapat juga
menetap tanpa perubahan yang cepat untuk beberapa bulan atau tahun dan sebagian dapat
mengalami kemunduran ataupun spontan hilang. Tidak ada gambaran klinis ataupun histologis
yang dapat digunakan untuk memperkirakan kapan lesi berubah menjadi ganas atau sembuh
spontan.

Manifestasi Klinis

Karsinoma sel skuamosa umumnya sering terjadi pada usia 40-50 tahun dengan lokasi
yang tersering adalah pada daerah yang terbanyak terpapar sinar matahari seperti wajah, telinga,
bibir bawah, punggung, tangan, tungkai bawah.

Secara klinis ada 2 bentuk Karsinoma Sel Skuamosa yaitu :


a. Karsinoma Sel Skuamosa In Situ
Karsinoma sel skuamosa ini terbatas pada epidermis dan terjadi pada berbagai lesi
kulit yang telah ada sebelumnya seperti solar keratosis, kronis radiasi keratosis,
hidrokarbon keratosis, arsenikal keratosis, kornu kutanea, penyakit bowen dan
eritroplasia Queyrat. Karsinoma in situ dapat menetap di epidermis dalam jangka
waktu yang lama dan tak dapat diprediksi, dapat menembus lapisan basal sampai ke
dermis dan selanjutnya bermetastase mellalui saluran getah bening regional.
b. Karsinoma Sel Skuamosa Invasif
Karsinoma Sel Skuomosa invasif dapat berkembang dari KSS in situ dan dapat juga
dari kulit normal maupun jarang. KSS invasif yang dini baik muncul pada karsinoma
in situ, lesi premaligna atau kulit normal, biasanya adalah berupa nodul kecil dengan
batas yang tidak jelas, berwarna sama dengan warna kulit atau agak sedikit eritema.
Permukaan mula-mula lembut kemudian berkembang menjadi verukosa atau
papilomatosa. Ulserasi timbul didekat pusat dari tumor, lebih cepat atau lambat sering
sebelum tumor berdiameter 1-2 cm. Permukaan tumor mungkin granular dan mudah
berdarah, sedangkan pinggir ulkus biasanya meninggi dan mengeras.

Diagnosis Karsinoma Sel Skuamosa

Diagnosa Karsinoma Sel Skuamosa dapat diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik
(eufloresensi), pemeriksaan dermoskopi, dan pemeriksaan histopatologi.

1. Anamnesis ditanyakan adalah apakah sering terpapar sinar matahari dalam waktu yang
cukup lama secara terus menerus?.Apakah ada riwayat kulit terbakar yang berulang
akibat paparan sinar matahari?Apakah menderita penyakit-penyakit yang mengakibatkan
supresi pada imunitas seperti HIV? Apakah pernah terpapar bahan arsenik dan polycyclic
hydrocarbons?.Apakah pernah terpapar bahan batubara dan produk-produk industri yang
mengandung batubara? Apakah pasien merokok?

2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik berupa inspeksi untuk melihat eufloresensi kulit akan didapatkan
kelainan-kelainan berupa nodul yang keras dengan batas yang tidak tegas, permukaannya
mula-mula licin seperti kulit normal yang akhirnya berkembang menjadi
papiloma.Ulserasi dapat terjadi, umumnya mulai timbul pada waktu berukuran 1-2cm,
diikuti pembentukan krusta dengan pinggir yang keras serta mudah berdarah.

3. Pemeriksaan dermoskopi
Seperti halnya pada Karsinoma Sel Basal, hal yang diperhatikan
adalah ABCDE (asymmetry, irregular borders, multiple colors, diameter >6
mm, enlarging lesion), bila hal tersebut didapatkan pada lesi yang diperiksa,
kemungkinan lesi tersebut bersifat ganas (karsinoma).

4. Pemeriksaan Penunjang dilakukan pemeriksaan histopatologi dengan melakukan biopsi


jaringan kulit yang dicurigai mengandung sel-sel kanker tersebut (skin biopsy).

Penatalaksanaan

Terapi pembedahan terdiri dari pembedahan dengan eksisi, pembedahan dengan menggunakan
teknik Mohs Micrographic Surgery (MMS), curretage and cautery, dan cryosurgery.

1. Pembedahan dengan eksisi


Pada teknik ini , tumor di eksisi beserta dengan jaringan normal disekitarnya dengan
batas yang telah ditentukan sebelumnya untuk memastikan seluruh sel kanker sudah
terbuang.
2. Pembedahan dengan teknik Mohs Micrographic Surgery (MMS)
Mohs Micrographic Surgery (MMS) adalah sebuah teknik pembedahan yang pertamakali
dilakukan oleh Frederic Mohs di tahun 1940.4 Pada teknik ini , tumor di eksisi beserta
dengan jaringan normal disekitarnya dengan batas yang telah ditentukan sebelumnya.
Indikasi penggunaan teknik Mohs Micrographic Surgery (MMS) antaralain: Lokasi
tumor : terutama di bagian tengah wajah, sekitar mata, hidung,dan telinga. Ukuran
tumor : berapapun, tapi khususnya >2cm. Subtipe histologi : morfoik, infiltratif,
mikronodular, dan subtipe basoskuamosa. Definisi batas tumor yang kurang baik melalui
klinis. Lesi yang berulang (rekuren). Ada keterlibatan perivaskular dan perineural.

Radiasi Radiasi menggunakan sinar x-ray dengan energi tinggi untuk membunuh sel
kanker.Dikatakan bahwa, radiasi bukanlah untuk menyembuhkan kanker, melainkan
sebagai terapi adjuvan setelah pembedahan untuk mencegah rekurensi dari sel kanker
atau untuk mencegah metastasis.

3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah metode dengan menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel
Kanker.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan pasca tindakan eksisis bedah.
Tujuan : dalam waktu 1x 24 jam nyeri berkurang / hilang atau teradaptasi
Criteria evaluasi :
- Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala nyeri 0-1 (0-4).
- Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau mnurunkan nyeri.
- Pasien tidak gelisah.
Intervensi Rasional
Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST Menjadi parameter dasar untuk mengetahui sejauh
mana intervensi yang diperlukan dan sebagai
evaluasi keberhasilan dari intervensi manajemen
nyeri keperawatan.
Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan
nyeri nonfarmakologi dan noninvasif nonfarmakologi lainnya telah menunnjukkan
keefektifan dalam mengurangi nyeri.
Lakukan manajemen nyeri keperawatan:
Atur posisi fisiologis dan imobilisasi ekstermitas Posisi fisiologs akan meningkatkan asupan O2 ke
yang mengalami selulitis jaringan yang mengalami peradangan subkutan.
Pengaturan posisi idealnya adalah pada arah yang
berlawanan dengan letak dari selulitis.
Bagian tubuh yang mengalami inflamasi local
dilakukan imobilisasi untuk menurunkan respons
peradangan dan meningkatkan kesembuhan
Lingkungan tenang akan menrunkan stimulus nyeri
eksternal dan pembatasan pengunjung akan
Manajemen lingkungan: lingkungan tenang dan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang
batasi pengunjung akan berkurang apabila banyak pengunjung yang
berada di ruangan.
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan
stimulus internal dengan mekanisme peningkatan
Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri produksi endorphin dan enkefalin yang dapat
memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimkan ke
korteks serebri sehingga menurunkan persepsi
nyeri.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri
analgetik. akan berkurang.

Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit


Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam kecemasan pasien berkurang
Krteria evaluasi :
Pasien menyatakan kecemasan berkurang mengenal perasaannya, data mengidentifikasi penyebab dan
factor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan dan wajah rileks.
Intervensi Rasional
Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan Reaksi verbal/ nonverbal dapat menujukkan rasa
damping pasien serta melakukan tindakan bila gatal,marah,gelisah.
menunjukkan perilaku merusak.
Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa
marah,menurunkan kerja sama dan mungkin
memperlambat penyembuhan.
Beri dukungan psikologis Dukungan ini mencakup upaya membiarkan pasien
untuk mengekspresikan perasaannya tentang
keseriusan neoplasma kulit, pengertia terhadap
kekesalan,serta depresi yang diperlihatkan pasien
dan penymapaian kesan bahwa perawat dapat
memahami semua perasaan ini.
Bina hubungan salig percaya Mereka harus didukung untuk mengekspresikan
perasaan terhadap seseorang yang mereka percayai.
Mendengarkan keprihatinan mereka dan selalu siap
untuk memberikan perawatan yang terampil serta
penuh kehangatan merupakan intervensi yang
penting untuk mnegurangi ansietas.
Beri kesempatan kepada pasien untuk Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
mengungkapkan ansietasnya kekhawatiran yang tidak diekspresikan.
Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat. Member waktu untuk mengekspresikan perasaan
serta meghilangkan cemas dan perilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih
pasien melayani aktifitas dan pengalihan
(misalnya:membaca) akan menurunkan perasaan
terisolasi.
Pengaturan agar anggota keluarga dan setiap teman
dekatnya untuk lebih banyak mencurahkan waktu
mereka bersama pasien dapat menjadi upaya yang
bersifat suportif.
Kolaborasi: Meningkatkan relaksasi dan mneurunkan
Berikan anti cemas sesuai indikasi contohnya kecemasan.
diazepam

Pemenuhan informasi b.d. intervensi diagnostic,intervensi radiasi,kemoterapi, dan eksisi bedah


Tujuan: dalam waktu 1x24 jam informasi kesehatan terpenuhi.
Criteria evaluasi:
- Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan
- Pasie termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah diberikan.
Intervensi Rasional
Kaji tingkat oengetahuan pasien tentang prosedur Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh kondisi
diagnotik, pembedahan kolostomi sementara, dan sosial ekonomi pasien. Perawat menggunakan
rencana perawatan rumah. pendekatan yang sesuai dengan kondisi individu
pasien. Dengan mengetahui tingkat pengetahuan
tersebut perawat dapat lebih terarah dalam
memberikan pendidikan yang sesuai dengan
pengetahuan pasien secara efisien dan efektif.
Cari sumber yang meningkatkan penerimaan Keluarga terdekat dengan pasien perlu dilibatkan
informasi. dalam pemenuhan informasi untuk menurunkan
resiko misinterprestasi terhadap informasi yang
diberikan.
Pemenuhan informasi berhubungan dengan intervensi diagnostic, intervensi radiasi, kemoterai, dan eksisi
bedah.
Intervensi Rasional
Jelaskan tentang terapi dengan kemoterapi Pasien perlu mengetahui bahwa kemoterapi
diberikan sebagai pelengkap terapi bedah dan terapi
radiasi.
Jelaskan ami terapi radiasi.meng Pengetahuan tentang karisnoma sel skuamosa
walaupun tidah bersifat radiosensitive dan pada
kebanyakan pasien jika memberikan efek
penyusutan tumor akan menambah semangat pada
pasien untuk melakukan terapi.
Jelaskan dan lakukan pemenuhan atau persiapan
pembedahan, meliputi:
 Diskusian jadwal pembedahan. Pasien dan keluarga harus diberitahu waktu
dimulainya pembedahan. Apabila rumah sakit
mempunyai jadwal kamar operasi yang padat, lebih
baik pasien dan keluarga diberitahukan tentang
banyaknya jadwal operasi yang telah ditetapkan
sebelum pasien.
Pasien sudah menyelesaikan adminitrasi dan
 Persiapan adminitrasi dan informed mengetahui secara financial biaya pembedahan.
consent. Pasien sudah mendapat penjelasan tentang
pembedahan kolektomi atau kolostomi oleh tim
bedah dan menandatangani informend consent.
Manfaat dan intruksi preoperative telah dikenal
sejak lama. Setiap pasien diajarkan sebagai seorang
 Lakukan pendidikan kesehatan individu, dengan mempertimbangkan segala
preoperative. keunikan ansietas, kebutuhan, dan harapan-
harapan.
Jika sesi penyuluhan dilakukan beberapa hari
sebelum pembedahan, pasien mungkin tidak ingat
 Programkan instruksi yang didasarkan pada tentang apa yang telah dikatakan. Jika instruksi
kebutuhan individu direncanakan dan diberikan terlalu dekat dengan waktu pembedahan,
diimplementasikan pada wktu yang tepat. pasien mungkin tidak dapat berkonsentrasi atau
belajar karena ansietas atau efek dari medikasi
praanestesi.
Beritahu persiapan pembedahan:
 Persiapan puasa. Puasa dilakukan minimal 6-8 jam sebelum
pembedahan. Apabila intervensi pembedahan
dilaksanakan dengan menggunakan anastesi umum.
Tujuan dari persiapan kulit preoperative adalah
untuk mengurangi sumber bakteri tanpa menciderai
 Persiapan kulit. kulit.
Beritahu pasien dan keluarga kapan pasien sudah Pasien akan mendapat manfaat bila mengetahui
bisa dikunjungi. kapan keluarga dan temannya dapat berkunjung
setelah pembedahan.
Beri informasi tentang managemen nyeri Managemen nyeri dilakukan untuk peningkatan
keperawatan. control nyeri pada pasien.
Berikan motivasi dan dukungan moral. Intervensi untuk meningkatkan keinginan pasien
dalam pelaksanaan dalam pengobatan jangka
panjang.

3) Melanoma Maligna

Melanoma maligna adalah sebuah kanker dari sel yang menghasilkan melanin. Oleh
karena itu, bisa timbul pada kulit, mukosa, retina, dan leptomeninges (Chan dan Greenbaum,
2013).
Melanoma maligna merupakan sebuah keganasan dari sel yang menghasilkan pigmen
(melanosit), biasanya berada di kulit tapi juga ditemukan di telinga, saluran pencernaan, mata,
mulut, mukosa genital, dan leptomeninges (McCourt, Dolan, dan Gormley, 2014).

Faktor Risiko.
a. Faktor Genetik
Berdasarkan hasil penelitian 25-40% dari anggota keluarga yang menderita melanoma
maligna diidentifikasi terdapat germline mutation pada cyclin-dependent kinase inhibitor 2A
(CDKN2A) dan juga sedikit didapatkan mutasi pada cyclin-dependent kinase 4 (CDK4).
Terdapat dasar rasional untuk hubungan antara kejadian melanoma dan mutasi pada CDKN2A
dan CDK4 karena kedua tersebut adalah tumorsuppresor genes (Miller dan Mihm, 2006).
Mutasi pada tumor-suppressor genes seperti c-kit, p53, dan BRAF dilaporkan
meningkatkan risiko melanoma maligna. Namun, masih belum jelas seberapa pentingya mutasi
dari gen-gen ini dianggap sebagai faktor risiko melanoma maligna (Holterhues, 2011).

b. Faktor Lingkungan
Paparan radiasi ultraviolet (UV) dari matahari menjadi faktor penting dikaitkan dengan
peningkatan kejadian melanoma maligna, terutama pada sinar matahari yang membakar kulit
dalam waktu singkat tapi berulang-ulang (Putra, 2008).
Dari hasil penelitian yang lain juga memperlihatkan bahwa paparan sinar matahari yang
berlebihan, berulang-ulang tetapi dalam waktu singkat (intermittent), dan lama dapat
menyebabkan terjadinya melanoma maligna. Terutama pada waktu intens terpapar oleh sinar
matahari seperti membakar kulit pada waktu anak-anak ataupun remaja menjadi faktor risiko
melanoma maligna (Holterhues, 2011).
Perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih menyukai berjemur ataupun karena
pekerjaan yang memang harus terpapar matahari juga menjadi risiko terjadinya melanoma. Sama
halnya dengan pemakaian sunbed (MacKie, Hauschild, dan Eggermont, 2009).

c. Fenotipe
Orang Caucasian, rambut pirang atau merah, banyak freckles (ephelides), terdapat lebih dari
50 banal melanocytic nevi, nevi besar, atypical nevi, dan dysplastic nevi merupakan faktor risiko
melanoma maligna (MacKie, Hauschild, dan Eggermont, 2009).

d. Status Sosio-ekonomi
Melanoma maligna lebih sering pada orang yang memiliki status sosio-ekonomi tinggi
memungkinkan mereka terkena terpapar sinar UV berulang-ulang tapi dalam waktu singkat yang
tinggi dan berlebihan (olahraga outdoor, olahraga musim dingin, dan sunbathing). Peningkatan
kekayaan pada Caucasian dalam waktu 6 dekade ini berkontribusi dalam peningkatan insiden
melanoma maligna (de Vries et al., 2006).

e. Penyakit Dahulu dan Penyerta


Orang yang berisiko selanjutnya, yaitu orang yang pernah menderita melanoma maligna
sebelumnya, yang menderita xeroderma pigmentosum, giant congenital pigmented naevus.
Selain itu, orang yang dengan kondisi immune compromised seperti terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV), Hodkin’s disease, dan orang yang mendapat terapi cyclosporine
A berisiko menderita melanoma maligna (Chan dan Greenbaum, 2013).

Patofisiologi.
a. Proliferasi dari Melanosit (benign lesions)
Hal yang pertama terjadi yaitu sebuah proliferasi dari melanosit menjadi benign nevus.
Secara klinis, nevi ini berbentuk datar dan sedikit menonjol dengan warna yang seragam atau
gambaran teratur dari pigmen dot-like pada sebuah latar yang cokelat atau hitam kecokelatan.
Secara histologi, lesi ini memiliki peningkatan jumlah dari kumpulan melanosit yang bersarang
sepanjang lapisan basalis (Paek et al., 2008).

b. Dysplastic Nevi (random atypia)


Selanjutnya perkembangan dari pertumbuhan yang abnormal. Ini mungkin terdapat pada
tempat yang sebelumnya ada benign nevus atau pada tempat yang baru. Secara klinis lesi ini
mungkin asimetris, batasan tidak rata, mengandung lebih dari satu warna, atau memiliki diameter
yang lebih besar. Secara histologi, lesi ini memiliki sel yang abnormal bentuk yang bebas dan
sel-seln ya tidak berdampingan lagi (Miller dan Mihm, 2006).

c. Fase Radial-growth (pertumbuhan intraepidermal)


Selama fase radial-growth, sel-sel memiliki kemampuan untuk berproliferasi secara
intraepidermal. Secara klinis, lesi ini kadangkadang bisa menonjol. Lesi ini tidak lagi
memperlihatkan sel abnormal yang bebas dan sebagai gantinya dia memperlihatkan bentuk sel
kanker di seluruh lesi (Paek et al., 2008).
d. Fase Vertical-growth (invasi dermis)
Lesi yang berlanjut ke fase vertical-growth memiliki kemampuan untuk masuk ke dermis dan
membentuk nodul besar, meluas ke papillary dermis. Sel-sel kanker bisa juga masuk ke reticular
dermis dan sel adipose (Miller dan Mihm, 2006).

e. Metastasis Melanoma
Akhir dari semua perkembangan kanker yaitu berhasil menyebarkan sel-sel kanker ke bagian
kulit lain dan organ-organ tubuh lainnya, dimana sel-sel tersebut bisa berproliferasi dan
metastasis (Miller dan Mihm, 2006).

Manifestasi Klinis.
1. Superficial Spreading Melanoma(SSM)
SSM merupakan subtipe MM yang paling sering (70% kasus cutaneous melanoma
maligna), terutama pada orang kulit putih. Sering ditemukan pada usia di atas 40 tahun,
lebih sering pada wanita dengan predileksi di tungkai bawah. Pada pria biasanya SSM
ditemukan di daerah punggung atas. SSM awalnya ditandai dengan perkembangan
lambat radial growth phase sebelum menginvasi dermis (vertical growth phase). Lesi
SSM biasanya dimulai dari bentuk papul dan selanjutnya bentuk nodus dan ulkus. Warna
lesi SSM bervariasi tidak hanya coklat dan hitam, tetapi juga merah muda, biru, dan abu-
abu. Lesi SSM bersifat asimetris dan batas tidak tegas. Pada umumnya SSM timbul pada
kulit normal (de novo) dan asimptomatik.
2. Nodular Melanoma (NM)
NM merupakan jenis MM kedua terbanyak (15-30%) pada orang kulit putih. Lesi ini
lebih agresif dibanding SSM. Predileksi di punggung atas untuk laki-laki, dan di tungkai
bawah untuk wanita. Biasanya NM ditemukan pada usia pertengahan. Lesi NM dapat
berupa nodul, polipoid, atau pedunculated. Lesi berwarna biru atau hitam, dapat merah
muda atau kemerahan. Pertumbuhan NM agresif mulai dalam beberapa minggu hingga
bulan, dapat mengalami ulserasi dan mudah berdarah hanya karena trauma ringan. Lesi
awal biasanya asimetris, batas tidak tegas dengan ukuran >6 mm.

3. Lentigo Maligna Melanoma (LMM)


LMM merupakan subtipe MM yang jarang, hanya sekitar 10-15% dari semua kasus MM.
Ciri khas muncul pada daerah pajanan kronis terhadap matahari terutama wajah, biasanya
pada usia 70-80 tahun. LMM selalu dimulai dari bentuk Lentigo Maligna in situ. Lentigo
Maligna in situ adalah tumor jinak intraepidermal yang pertumbuhannya lambat dalam 5-
15 tahun, sebelum berubah menjadi bentuk invasif, yaitu LMM. Lentigo Maligna in situ
diawali dengan makula pigmentasi yang meluas bertahap hingga diameternya mencapai
beberapa sentimeter, tepi tidak teratur, dan tidak mengalami indurasi.
4. Acral Lentiginous Melanoma (ALM)
ALM merupakan subtipe MM yang jarang ditemukan pada orang kulit putih (sekitar 2-
8%), sering ditemukan pada orang kulit hitam (60-72%) dan orang Asia (29-46%).
Predileksi usia >65 tahun, di mana lebih sering pada laki-laki. ALM biasanya timbul di
daerah tidak berambut, yaitu telapak

Tes Diagnostik

a. Anamnesis
Memberikan pertanyaan riwayat terpapar sinar matahari yang lama, riwayat kulit terbakar
yang berulang akibat paparan sinar matahari, riwayat menderita melanoma maligna sebelumnya
ataupun keluarga yang pernah menderita melanoma maligna,dan jika memang ada lesi
ditanyakan sesuai Glasgow 7-point checklist dimana jika ada 2 poin dari kriteria mayor seperti
perubahan ukuran, perubahan warna, dan perubahan bentuk dengan 1 poin dari kriteria minor
seperti mengeluarkan darah, perubahan sensasi, inflamasi atau diameter lebih dari 7 mm. Jika
didapatkan 3 poin maka dicurigai terdapat keganasan kulit (McCourt, Dolan, dan Gormley,
2014).

b. Pemeriksaan Fisik
Ada 4 jenis melanoma maligna yang berbeda terlihat dari gambaran klinis:
 Superficial Spreading Melanoma (SSM) merupakan 70% jenis melanoma maligna, biasanya
berkembang pada tempat yang sebelumnya ada naevus, mengalami perubahan yang lambat
hingga membutuhkan beberapa tahun, kemudian tumbuh secara vertikal dan berkembang
menjadi nodula biru kehitaman. Berupa plak berukuran 0,5 – 3 cm dengan tepi meninggi dan
ireguler. Terdapat bermacam-macam warna, seperti abu-abu, biru, hitam, dan kemerahan
(Swetter, Geller, dan Kirkwood, 2004).
 Nodular melanoma (NM), terhitung 15% dari semua melanoma maligna dan bisa menjadi
lebih agresif daripada SSM dengan permulaan klinis yang pendek. Lesi ini berasal dari de
novo di kulit dan lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan, biasanya di badan, kepala,
atau leher. Biasanya berupa papula berwarna biru atau hitam, diameternya 1-2 cm, dan
berbatas tegas (Chan dan Greenbaum, 2013).
 Lentigo Maligna Melanoma (LMM), jenis ini jarang ditemukan di Indonesia, di Negara barat
lokasi yang tersering pada wajah sekitar 4-10% dan umumnya pada usia tua,
pertumbuhannya vertikal dan sangat lambat, berupa makula kecokelatan. (Goldstein dan
Goldstein, 2001).
 Acral Lentigo Melanoma (ALM), ini biasanya banyak ditemukan pada orang kulit berwarna.
Biasa pada orang Asia terutama Jepang, terhitung insiden 70% di Jepang. Lesi ini berwarna
dan sering ditemukan pada telapak tangan, telapak kaki, atau di bawah nail bed. Jenis ini
dinyatakan paling agresif dibanding jenis yang lain (Bandarchi et al., 2010).

c. Pemeriksaan dermoskopi
Pemeriksaan ini dilakukan sesuai dengan manifestasi klinis “Melanoma Maligna”
(Suyatno dan Pasaribu, 2010).

d. Pemeriksaan Histopatologi dengan Biopsi


Pemeriksaan histopatologi dengan biopsi ini merupakan standar diagnosis melanoma maligna.
Apabila ditemukan lesi pigmentasi yang diduga melanoma maligna setelah lesi pigmentasi
memenuhi 2 kriteria mayor dan 1 kriteria minor maka selanjutnya dilakukan biopsi eksisi luas.
Semua lesi yang diduga melanoma maligna seharusnya dihilangkan sempurna vertikal dan
horizontal (Suyatno dan Pasaribu, 2010).
Prinsip biopsi harus sempurna, jenis biopsi tergantung pada ukuran dan lokasi anatomi lesi.
Bila kurang dari 2 cm dilakukan eksisi tumor dengan batas tumor 2-5 mm sedangkan insisi
tumor dilakukan ketika diameter lesi lebih dari 2 cm dan secara anatomi letak lesi sulit seperti di
daerah wajah (Rager, Bridgeford, dan Ollila, 2005).
Tindakan lymph node dissection dan terapi adjuvan dipengaruhi oleh kedalaman lesi. Untuk
5-6 mm punch biopsy dilakukan untuk mengambil lesi yang mencapai subcutaneous fat
(Goldstein dan Goldstein, 2001)

Laporan histopatologi setidaknya memuat sesuai NIH Consensus Conference of 1992 dan the
French Consensus Conference of 1995, sebagai berikut:
 Diagnosis lesi memang berasal dari sel melanosit dan konfirmasi keganasan
 Ketebalan tumor dalam milimeter (berdasarkan metode Breslow)
 Penilaian kesempurnaan eksisi
 Tingkat invasi (Clark)
 Ada dan luas regresi
 Ada dan luas ulkus
Tambahan parameter, yaitu:
 Jenis histologi
 Bertempat di lesi sebelumnya
 Mitotic index
 Invasi ke vaskular
 Tipe sel
 Tumor infiltrating lymphocytes (TILs)
 Fase pertumbuhan; vertikal atau radial (Négrier et al.,2001)

Ketentuan metode Breslow (Suyatno dan Pasaribu, 2010), sebagai


berikut:
 Golongan I : Ketebalan tumor < 0,76 mm
 Golongan II : Ketebalan tumor 0,76-1,5 mm
 Golongan III : Ketebalan tumor > 1,5 mm

Tingkat invasi berdasarkan Clark (Herbst, 2014):


 Tingkat I : Sel melanoma maligna terletak di lapisan luar kulit (epidermis), disebut juga
melanoma maligna in situ
 Tingkat II : Sel melanoma maligna tepat dibawah lapisan epidermis (papillary dermis)
 Tingkat III: Sel melanoma maligna sampai dengan perbatasan papillary dermis dan
reticular dermis
 Tingkat IV: Sel melanoma maligna sampai ke lapisan reticular dermis
 Tingkat V : Sel melanoma maligna tumbuh sampai lapisan lemak di bawah kulit
(subcutaneous fat).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


Diagnosis Keperawatan

1. Nyeri yang berdasarkan tindakan eksisi dan graft kulit.


2. Kecemasan dan depresi berdasarkan konsekuensi melanoma yang dapat membawa
kematian dan menimbulkan cacat.
3. Kurang pengetahuan tentang tanda-tanda dini melanoma.

RencanaKeperawatan

Sasaran utama bagi pasien dapat mencakup penurunan respons nyeri, meningkatnya
pengetahuan tentang melanoma, dan berkurangnya ansietas atau kecemasan.

Nyeri berdasarkan tindakan eksisi dan graft kulit


Tujuan: Dalam waktu 1 x 24 jam berkurang/hilang atau teradaptasi
Kristeriaevaluasi:
- Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala nyeri 0-1 (0-4)
- Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.
- Pasien tidak gelisah
Intervensi Rasional
Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST. Menjadi parameter dasar untuk mengetahui sejauh
mana intervensi yang diperlukan dan sebagai
evaluasi keberhasilan dari intervensi manajemen
nyeri keperawatan.
Kaji factor yang meningkatkan dan menurukan Pengangkatan melanoma dengan pembedahan
respons nyeri pada melanoma. pada berbagai tempat yang berbeda-beda (kepala
serta leher, mata, batang tubuh, abdomen,
ekstermitas, system saraf pusat) akan
menimbulkan berbagai tantangan dengan
mempertimbangkan pengangkatan melanoma
primer, pembuluh dan kelenjar limfe yang
mengintervensi lesi tersebut, serta menjadi tempat
penyebaran lesi metastatic. Intervensi
keperawatan pasca bedah untuk melanoma
maligna berfokus pada peningkatan rasa nyaman
karena mungkin diperlukan tindakan eksisi yang
luas. Graft kulit tipe split-thickness mungkin
harus dilakukan kalau timbul defek yang hilang
akibat pembedahan untuk menangkat melanoma.
Nyeri berdasarkan tindakan eksisi dan graft kulit
Intervensi Rasional
Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan
nyeri non farmakologi dan noninvasif. non farmakologi lainnya telah menunjukkan
keefektifan dalam mengurangi nyeri.
Lakukan manajemen nyeri keperawatan:
 Atur posisi fisiologi dan imobilisasi Posisi fisiologis akan meningkatkan asupan
ekstermitas yang mengalami selulitis O2kejaringan yang mengalami peradangan
subkutan. Pengaturan posisi idealnya adalah pada
arah yang berlawanan dengan letak dari selulitis.
Bagian tubuh yang mengalami inflamasi local
dilakukan imobilisasi untuk menurunkan respons
peradangan dan meningkatkan kesembuhan.
Lingkungan tenangakan menurunkan stimulasi
 Manajemen lingkungan: lingkungan nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan
tenang dan batasi pengunjung. membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang
akanberkurang apabila banyak pengunjung yang
berada di ruangan.
Distraksi (penglihatan perhatian) dapat
 Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri menurunkan stimulasi internal dengan mekanisme
peningkatan produksi endorphin dan enkefalin
yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak
dikirimkan ke korteks serebri sehingg menurukan
persepsi nyeri.
Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik. Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri
akan berkurang.

Kecemasan dan depresi b.d melanoma yang dapat membawa kematian dan
menimbulkan cacat
Tujuan: Dalam waktu 1 x 24 jam kecemasan pasien berkurang.
Kriteria evaluasi:
- Pasien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat
mengidentifikasi penyebab atau factor memengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan,
dan wajah rileks.
Intervensi Rasional
Kaj itanda verbal dan nonverbal kecemasan, Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukan
damping pasien dan lakukan tindakan bila rasa tagitasi, marah dan gelisah.
menunjukkan perilaku merusak.
Hindari konfrontasi. Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah,
menurunkan kerjasama, dan mungkin
memperlambat penyembuhan.
Beri dukungan psikologis. Dukungan psikologik sangat penting jika
akan dilakukan pembedahan yang
menimbulkan cacat. Dukungan ini mencakup
upaya membiarkan pasien untuk
mengekspresikan perasaannya tentang
kekesalan serta depresi yang diperlihatkan
pasien, dan penyampaian kesan bahwa peawat
dapat memahami semua perasaan ini. Selama
proses penegakan diagnosis dan penentuan
stadium kedalaman, tipe, serta luas tumor,
perawat harus dapat menjawab berbagai
pertanyaan, memberikan penjelasan mengenai
informasi yang disampaikan, dan membantu
menjernihkan kesalahpahaman. Mengetahui
bahwa dirinya menderita melanoma dapat
membuat pasien merasa sangat takut dan
sedih. Penjelasan mengenai sumber-sumber
dana pasien, meknisme koping yang efektif
dan berbagai system dukungan social akan
membantu pasien untuk mengatasi masalah
yang berkaitan dengan penegakkan diagnosis,
pelaksanaan terapi, dan tindakan follow-up
yang berkelanjutan.
Kecemasan dan depresi b.d melanoma yang dapat membawa kematian dan
menimbulkan cacat
Intervensi Rasional
Bina hubungan saling percaya Mereka harus didorong untuk
mengekspresikan perasaan terhadap seseorang
yang mereka percayai untuk mendengarkan
keprihatinan dan selalu siap untuk
memberikan perawatan yang terampil, serta
penuh kehangatan merupakan intervensi yang
penting untuk mengurangi ansietas.
Beri kesempatan kepada pasien untuk Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
mengungkapkan ansietasnya. kekhawatiran yang tidak diekspresikan
Berikan privasi untuk pasien dan orang Memberi waktu untuk mengekspresikan
terdekat. perasaan, menghilangkan cemas dan perilaku
adaptasi. Adanya keluarga dan teman-teman
yang dipilih pasien melayani aktivitas dan
pengalihan (misalnya: membaca) akan
menurunkan perasaan terisolasi. Pengaturan
agar anggota keluarga dan setiap teman
dekatnya untuk lebih banyak mencurahkan
waktu mereka bersama pasien dapat menjadi
upaya yang bersifat suportif.
Kolaborasi: Meningkatkan relaksasi dan menurunkan
- Berikan anticemas sesuai indikasi kecemasan.
contohnya diazepam.

Kurang pengetahuan tentang tanda-tanda dini melanoma


Tujuan: terpenuhinya pengetahuan pasien tentang kondisi penyakit
Kriteria evaluasi:
- Mengungkapan pengertian tentang proses infeksi, tindakan yang dibutuhkan dengan
kemungkinan komplikasi.
- Mengenal perubahan gaya hidup/tingkah laku untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Intervensi Rasional
Beri penekanan akan pentingnya pengenalan Harapan yang terbesar untuk mengendalikan
dini tanda-tanda melanoma. penyakit terletak pada pendidikan pasien
mengenai pengenalan tanda-tanda dini
melanoma. Pasien yang beresiko harus
diajarkan untuk memeriksa kulit dan data
mereka sebulan sekali dengan cara yang
sistematis.
Identifikasi sumber-sumber pendukung yang Keterlibatan keluarga terhadap cara-cara
memungkinkan untuk mempertahankan untuk mendeteksi melanoma akan
perawatan dirumah yang dibutuhkan. meningkatkan resiko metastatis yang lebih
berat.
Ajarkan tentang tanda-tanda bahaya Tanda bahaya melanoma berikut ini:
melanoma. perubahan pada ukuran warna, bentuk, atau
garis bentuk venus, permukaan nnevus atau
kulit disekitar nevus.

Evaluasi

1. Mengalami pengurangan rasa sakit dan gangguan rasa nyaman.


a. Menyatakan bahwa rasa sakit atau nyeri sudah berkurang dan menghilang
b. Memperlihatkan kesembuhan parut bekas pembedahan tanpa bekas, kemerahan, atau
pembengkakan.
2. Mencapai pengurangan kecemasan.
a. Mengekspresikan ketakutan dan khayalan.
b. Mengajukan pertanyaan mengenai kondisi medis
c. Memohon pengulangan fakta-fakta tentang melanoma
d. Mengenali dukungan dan kenyamanan yang diberikan oleh anggota keluarga atau
orang lain yang signifikan
3. Memperlihatkan pengertian terhadap cara-cara untuk mendeteksi melanoma
a. Memperlihatkan cara pelaksanaan pemeriksaan kulit yang mandiri sebulan sekali.
b. Mengutarakan dengan kata-kata tanda bahaya melanoma berikut ini: perubahan pada
ukuran, warna, bentuk atau garis bentuk venus, permukaan venus atau kulit disekitar
venus.
c. Mengidentifikas tindakan untuk melindungi diri dari pajanan sinar matahari.
G. KOMPLIKASI KANKER KULIT

Komplikasi yang terdapat terjadi antara lain :

1 Abses pada kulit.


2 Penyebaran kanker ke organ lain terutama pada jenis Melanoma Maligna yang merupakan
tipe yang paling sering bermetastasis ke organ lain dan dengan jarak yang jauh.
3 Peningkatan resiko infeksi diakibatkan oleh kurangnya higienitas saat perawatan lesi maupun
saat proses pembedahan.
4 Terjadi efek samping akibat radioterapi seperti:
 Kulit terbakar
 Susah menelan
 Kerontokan rambut
 Nyeri kepala
 Mual muntah
 Berat badan menurun
 Kemerahan pada kulit.
5 Terjadi efek samping akibat kemoterapi seperti:
 Anorexia
 Anemia aplastik
 Trombositopeni
 Leukopeni
 Diare
 Rambut rontok
 Mual muntah
 Mulut kering dan,
 Rasa lelah
DAFTAR PUSTAKA

Cipto H, Pratomo U.S et al : Deteksi dan Penatalaksanaan Kanker Kulit Dini, FKUI Jakarta

2001 : 15-24, 30-40, 73-85.

Harahap M: Ilmu Penyakit Kulit cetakan I, Hipokrates, Jakarta 2000, 222-226

Kelompok kerja kanker FK UI / RSUPNCM Protokol Larsinoma Sel Skuamosa kulit. Jakarta.

2011

Brunner and suddart. 2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol 3 Edisi 8. Jakarta : EGC

Arif,Muttaqin. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta: Salemba

Medika

Joyce and Jane.2014. keperawatan Medikal Bedah Manajemen Klinis Untuk hasil Yang

Diharapkan. Edisi 8. Buku ke-2. Jakarta : Salemba Medika

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/56104/4/Chapter%20II.pdf

http://www.kalbemed.com/Portals/6/09_235Melanoma%20Maligna.pdf

Anda mungkin juga menyukai