Anda di halaman 1dari 39

PENATALAKSANAAN FRAKTUR

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 6
ABDUL KHAFIDZ NAYIU

NADILLAH ADJAMI

SANGRILA LAGARUSU

SERLI YANTI TANGAHU

SUMIRA UMANAHU

Kelas : IIB / D-IV Keperawatan

Mata Kuliah : Keperawatan Medikal Bedah 2 ( KMB 2 )

Dosen Pengajar : Yusrin Aswad S.ST, M.Kes

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO


T.A 2017/2018
PENATALAKSANAAN FRAKTUR

Prinsip penanganan fraktur adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi


semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang
(imobilisasi). Pada anak-anak reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan
sempurna seperti semula karena tulang mempunyai kemampuan remodeling.
Agar penanganannya baik, perlu diketahui kerusakan apa saja yang terjadi, baik
pada jaringan lunaknya maupun tulangnya. Mekanisme trauma juga harus diketahui,
apakah akibat trauma tumpul atau tajam, langsung atau tak langsung.
Reduksi berarti mengembalikan jaringan atau fragmen ke posisi semula (reposisi).
Dengan kembali ke bentuk semula, diharapkan bagian yang sakit dapat berfungsi kembali
dengan maksimal. Retaining adalah tindakan mempertahankan hasil reposisi dengan fiksasi
(imobilisasi). Hal ini akan menghilangkan spasme otot pada ekstremitas yang sakit
sehingga terasa lebih nyaman dan sembuh lebih cepat. Rehabilitasi berarti mengembalikan
kemampuan anggota gerak yang sakit agar dapat berfungsi kembali.
Pengelolaan fraktur secara umum mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada
umumnya, yaitu jangan mencederai pasien, pengobatan didasari atas diagnosis yang tepat,
pemilihan pengobatan dengan tujuan tertentu, mengikuti “law of nature”, pengobatan yang
realistis dan praktis, dan memperhatikan setiap pasien secara individu. Penatalaksanaan
fraktur sendiri terdiri dari dua, yaitu konservatif dan operasi.

A. PENATALAKSANAAN KONSERVATIF
1. PEMBALUTAN
Proteksi tanpa reposisi dan imobilisasi digunakan pada penanganan fraktur dengan
dislokasi fragmen patahan yang minimal atau dengan dislokasi yang tidak akan
menyebabkan kecacatan dikemudian hari. Contoh adalah pada fraktur kosta, fraktur
klavikula pada anak-anak, fraktur vertebrae dengan kompresi minimal.
Istilah pembalut merujuk pada aplikasi secara luas maupun secara sempit
pembalutan untuk tujuan terapeutik. Apapun alasannya, perlu diingat bahwa jika tidak
diterapkan dengan benar, membalut dapat lebih cepat dan mudah menyebabkan injury.
Tekanan pembalutan harus tidak melebihi tekanan hidrostatik intravaskuler, jika membalut
bertujuan untuk mengurangi pembentukan edema tanpa meningkatkan tahanan vaskuler
yang dapat merusak aliran darah.

Tujuan:

 Menahan bagian tubuh supaya tidak bergeser dari tempatnya.


 Menahan pembengkakan yang dapat terjadi pada luka .
 Menyokong bagian tubuh yang cedera dan mencegah agar bagian itu tidak bergeser
Menutup bagian tubuh agar tidak terkontaminasi .
 Melindungi atau mempertahankan dressing lain pada tempatnya .
Macam – macam pembalutan

 Mitella adalah pembalut berbentuk segitiga


 Dasi adalah mitella yang berlipat-lipat sehingga berbentuk seperti dasi
 Pita adalah pembalut gulung
1. Mitella:
 Bahan pembalut terbuat dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan berbagai
ukuran. Pnjang kaki antara 50-100cm
 Pembalut ini dipergunakan pada bagian kaki yang tebentuk bulat atau untuk menggantung
bagian anggota badan yang cedera .
 Pembalut ini biasa dipakai pada cedera di kepala, bahu, dada, siku, telapak tangan, pinggul,
telapak kaki, dan untuk menggantung lengan.
2. Dasi:
 Pembalut ini adalah mitella yang dilipat-lipat dari salah satu sisi segitiga agar beberapa
lapis dan berbentukseperti pita dengan kedua ujung-ujungnya lancip dan lebamya antara 5-
10cm.
 Pembalut ini biasa dipergunakan untuk membalut mata, dahi (atau bagian kepala yang
lain), rahang, ketiak, lengan, siku, paha, lutut, betis dan kaki terkilir.
3. Pita/Elastic Bandage ( Gulung ):
 Pembalut ini dapat dibuat dari kain katun, kain kassa, flanel atau bahan elastis.
 Yang paling sering adalah dari kassa, hal ini karena kassa mudah menyerap air, darah dan
tidak mudah bergeser ( Kendor).
 Macam-macam pembalut dan penggunaannya :
⁻ Lebar 2,5 cm - Biasa untuk jari-jari
⁻ Lebar 5cm - Biasa untuk leher dan pergelangan tangan
⁻ Lebar 7,5 cm - Biasa untuk kepala, lengan atas, lengan bawah, betis dan kaki
⁻ Lebar 10 cm - Biasa untuk paha dan sendi pinggul
⁻ Lebar >10-15cm - Biasa untuk dada, perut, dan punggung

Prosedur pembalutan

1) Perhatikan tempat atau letak yang akan dibalut dengan menjawab pertanyaan,
a. Bagian dari tubuh yang mana ?
b. Apakah ada luka terbuka atau tidak ?
c. Bagaimana luas luka tersebut ?
d. Apakah perlu membatasi gerak bagian tubuh tertentu atau tidak?
2) Pilih jenis pembalut yang akan dipergunakan, dapat salah satu atau kombinanasi.
3) Sebelum dibalut, jika luka terbuka perlu diberi desinfektan atau dibalut dengan pembalut
yang mengandung desinfektan. Jika terjadi disposisi/dislokasi perlu direposisi. Urut-urutan
tindakan desinfeksi luka terbuka:
 Letakkan sepotong kasa steril di tengah luka (tidak usah ditekan) untuk melindungi luka
selama didesinfeksi.
 Kulit sekitar luka dibasuh dengan air, disabun dan dicuci dengan zat antiseptik.
 Kasa penutup luka diambil kembali. Luka disiram dengan air steril untuk membasuh
bekuan darah dan kotoran yang terdapat di dalamnya.
 Dengan menggunakan pinset steril (dibakar atau direbus lebih dahulu) kotoran yang tidak
hanyut ketika disiram dibersihkan.
 Tutup lukanya dengan sehelai sofratulle atau kasa steril biasa. Kemudian di atasnya dilapisi
dengan kasa yang agak tebal dan lembut.
 Kemudian berikan balutan yang menekan.
Apabila terjadi pendarahan, tindakan penghentian pendarahan dapat dilakukan
dengan cara:

 Pembalut tekan, dipertahankan sampai pendarahan berhenti atau sampai pertolongan yang
lebih mantap dapat diberikan.
 Penekanan dengan jari tangan di pangkal arteri yang terluka. Penekanan paling lama 15
menit.
 Pengikatan dengantourniquet.
 Digunakan bila pendarahan sangat sulit dihentikan dengan cara biasa.
 Lokasi pemasangan: lima jari di bawah ketiak (untuk pendarahan di lengan) dan lima jari di
bawah lipat paha (untuk pendarahan di kaki)
 Cara: lilitkan torniket di tempat yang dikehendaki, sebelumnya dialasi dengan kain atau
kasa untuk mencegah lecet di kulit yang terkena torniket. Untuk torniket kain, perlu
dikencangkan dengan sepotong kayu. Tanda torniket sudah kencang ialah menghilangnya
denyut nadi di distal dan kulit menjadi pucat kekuningan.
 Setiap 10 menit torniket dikendorkan selama 30 detik, sementara luka ditekan dengan kasa
steril.
 Elevasi bagian yang terluka
4) Tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan :
 Dapat membatasi pergeseran atau gerak bagian tubuh yang memang perlu difiksasi
 Sesedikit mungkin membatasi gerak bagian tubuh yang lain
 Usahakan posisi balutan yang paling nyaman untuk kegiatan pokok penderita
 Tidak mengganggu peredaran darah, misalnya pada balutan beriapis, lapis yang paling
bawah letaknya disebelah distal
 Tidak mudah kendor atau lepas
1. Cara membalut dengan mitella

a. Salah satu sisi mitella dilipat 3 - 4 cm sebanyak 1 - 3 kali


b. Pertengahan sisi yang telah terlipat diletakkan diluar bagian yang akan dibalut, lalu ditarik
secukupnya dan kedua ujung sisi itu diikatkan
c. Salah satu ujung yang bebas lainnya ditarik dan dapat diikatkan pada ikatan b, atau
diikatkan pada tempat lain maupun dapat dibiarkan bebas, hal ini tergantung pada tempat
dan kepentingannya

2. Cara pembalutan dengan dasi

a. Pembalut mitella dilipat-lipat dari salah satu sisi sehingga berbentuk pita dengan masing-
masing ujung lancip
b. Bebatkan pada tempat yangakan dibalut sampai kedua ujungnya dapat diikatkan
c. Diusahakan agar balutan tidak mudah kendor dengan cara sebelum diikat arahnya saling
menarik
d. Kedua ujungnya diikatkan secukupnya

3. Cara membalut dengan pita

a. Berdasar besar bagian tubuh yang akan dibalut maka dipilih pembalutan pita ukuran lebar
yang sesuai
b. Balutan pita biasanya beberapa lapis, dimulai dari salaah satu ujung yang diletakkan dari
proksimal ke distal menutup sepanjang bagian tubuh , yang akan dibalut kemudian dari
distal ke proksimal dibebatkan dengan. arah bebatan saling menyilang dan tumpang tindih
antara bebatan yang satu dengan bebatan berikutnya
c. Kemudian ujung yang dalam tadi (b) diikat dengan ujung yang lain secukupnya

Prinsip-prinsip pembalutan

1) Balutan harus rapat rapi jangan terialu erat karena dapat mengganggu sirkulasi.
2) Jangan terialu kendor sehingga mudah bergeser atau lepas.
3) Ujung-ujung jari dibiarkan terbuka untuk merigetahui adanya gangguan sirkulasi.
4) Bila ada keluhan balutan terialu erat hendaknya sedikit dilonggarkan tapi tetap rapat,
kemudian evaluasi keadaan sirkulasi.
2. BIDAI
Bidai atau spalk adalah alat dari kayu, anyaman kawat atau bahan lain yang kuat
tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian tulang yang patah
tidak bergerak (immobilisasi).

Tujuan Pembidaian

1. Mencegah pergerakan / pergeseran dari ujung tulang yang patah


2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang patah
3. Memberi istirahat pada anggota badan yang patah
4. Mengurangi rasa nyeri
5. Mempercepat penyembuhan

Macam-macam Bidai
1. Bidai keras
Umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang kuat dan
ringan. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam keadaan
darurat. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan.
2. Bidai improvisasi
Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang.
Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan improvisasi si
penolong. Contoh : majalah, koran, karton dan lain-lain.

Prinsip Pembidaian
1. Lakukan pembidaian pada tempat dimana anggota badan mengalami cidera ( korban yang
dipindahkan)
2. Lakukan juga pembidaian pada persangkaan patah tulang, jadi tidak perlu harus dipastikan
dulu ada tidaknya patah tulang
3. Melewati minimal dua sendi yang berbatasan
Indikasi Pembidaian
1. Adanya fraktur, baik terbuka maupun tertutup
2. Adanya kecurigaan terjadinya fraktur
3. Dislokasi persendian

Persiapan Alat
1. Bidai sesuai kebutuhan (untuk ekstremitas atas 2 bidai, untuk ekstremitas bawah 3 bidai)
2. Kassa gulung atau elastis bandage
3. Gunting
4. Kassa steril
5. Plester
6. Sarung tangan
7. Bantalan

Pelaksanaan
1. Perkenalan, identifikasi pasien, penjelasan prosedur dan inform consent
2. Jaga privasi dan keamanan klien
3. Dekatkan alat ke pasien
4. Cuci tangan
5. Pakai sarung tangan
6. Bagian ekstremitas yang cedera harus terlihat seluruhnya, pakaian harus dilepas, jika perlu
digunting dan lakukan pengkajian area cedera
7. Periksa nadi, fungsi motorik, dan sensorik (PMS) ekstremitas bagian distal dari tempat
cedera sebelum pemasangan bidai
8. Jika ekstremitas tampak pucat dan nadi tidak teraba, coba luruskan dengan tarikan perlahan
secukupnya, hingga nadi teraba, tetapi bila terasa ada tahanan jangan diteruskan
9. Bila curiga adanya dislokasi pasang bantalan atas bawah (lokasi dislokasi) jangan mencoba
untuk diluruskan
10. Bila ada patah tulang terbuka, tutup bagian tulang yang keluar dengan kasa steril dan
jangan memasukkan tulang yang keluar ke dalam
11. Pasang balut bidai dalam posisi tersebut dengan melewati 2 sendi, jangan terlalu ketat dan
terlalu kendor
12. Periksa nadi, fungsi motoric, dan sensorik (PMS) ekstremitas bagian distal dari tempat
cedera setelah pemasangan bidai
13. Bereskan alat dan cuci tangan

Evaluasi pasca pembidaian


1. Periksa sirkulasi daerah ujung pembidaian. Misalnya jika membidai lengan maka periksa
sirkulasi dengan memencet kuku ibu jari selama kurang lebih 5 detik. Kuku akan berwarna
putih kemudian kembali merah dalam waktu kurang dari 2 detik setelah dilepaskan.
2. Pemeriksaan denyut nadi dan raba seharusnya diperiksa di bagian bawah bidai paling tidak
satu jam sekali. Jika pasien mengeluh terlalu ketat,atau kesemutan, maka pembalut harus
dilepas seluruhnya. Dan kemudian bidai di pasang kembali dengan lebih longgar. Tekan
sebagian kuku hingga putih, kemudian lepaskan.Kalau 1-2 detik berubah menjadi merah,
berarti balutan bagus. Kalau lebihdari 1-2 detik tidak berubah warna menjadi merah, maka
longgarkan lagi balutan, itu artinya terlalu keras. Meraba denyut arteri dorsalis pedis pada
kaki (untuk kasus di kaki).Bila tidak teraba, maka balutan kita buka dan longgarkan.
Meraba denyut arteri radialis pada tangan untuk kasus di tangan. Bila tidak teraba, maka
balutan kita buka dan longgarkan.

3. PEMASANGAN GIPS

Gips dalam bahasaa latin disebut kalkulus, dalam bahasa ingris disebut plaster of
paris, dan dalam belanda disebut gips powder. Gips merupakan mineral yang terdapat di
alam berupa batu putih yang mengandung unsur kalsium sulfat dan air. Gips adalah alat
imobilisasi eksternal yang kaku yang di cetak sesuai dengan kontur tubuh tempat gips di
pasang.Gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk imobilisasi bagian tubuh dengan
mengunakan bahan gips tipe plester atau fiberglass. Jadi gips adalah alat imobilisasi
eksternal yang terbuat dari bahan mineral yang terdapat di alam dengan formula khusus
dengan tipe plester atau fiberglass.

Tujuan

Untuk mengimobilisasi bagian tubuh dalam posisi tertentu dan memberikan tekanan yang
merata pada jaringan lunak yang terletak didalamnya.

Tujuan pemasangan gips antara lain:

 Imobilisasi kasus dislokasi sendi


 Fiksasi fraktur yang telah di reduksi
 Koreksi cacat tulang
 Imobilisasi padakasus penyakit tulang setelah dilakukan operasi
 Mengoreksi deformitas

Jenis-jenis Gips

Kondisi yang ditangani dengan gips menentukan jenis dan ketebalan gips yang
dipasang. Jenis-jenis gips sebagai berikut:

1) Gips lengan pendek Gips ini dipasang memanjang dari bawah siku sampai lipatan telapak
tangan, dan melingkar erat didasar ibu jari.
2) Gips lengan panjang Gips ini dipasang memanjang. Dari setinggi lipat ketiak sampai
disebelah prosimal lipatan telapak tangan. Siku biasanya di imobilisasi dalam posisi tegak
lurus.
3) Gips tungkai pendek Gips ini dipasang memanjang dibawah lutut sampai dasar jari kaki,
kaki dalam sudut tegak lurus pada posisi netral,
4) Gips tungkai panjang, gips ini memanjang dari perbatasan sepertiga atas dan tengah paha
sampai dasar jari kaki, lutut harus sedikit fleksi.
5) Gips berjalan. Gips tungkai panjang atau pendek yang dibuat lebih kuat dan dapat disertai
telapak untuk berjalan
6) Gips tubuh Gips ini melingkar di batang tubuh
7) Gips spika gips ini melibatkan sebagian batang tubuh dan satu atau dua ekstremitas (gips
spika tunggal atau ganda)
8) Gips spika bahu Jaket tubuh yang melingkari batang tubuh, bahu dan siku
9) Gips spika pinggul Gips ini melingkari batang tubuh dan satu ekstremitas bawah (gips
spika tunggal atau ganda).

Indikasi Pemasangan Gips

1) Untuk pertolongan pertama pada faktur (berfungsi sebagai bidal).


2) Imobilisasi sementara untuk mengistirahatkan dan mengurangi nyeri misalnya gips korset
pada tuberkulosis tulang belakang atau pasca operasi seperti operasi pada skoliosis tulang
belakang.
3) Sebagai pengobatan definitif untuk imobilisasi fraktur terutama pada anak-anak dan fraktur
tertentu pada orang dewasa.
4) Mengoreksi deformitas pada kelainan bawaan misalnya pada talipes ekuinovarus
kongenital atau pada deformitas sendi lutut oleh karena berbagai sebab.
5) Imobilisasi untuk mencegah fraktur patologis.
6) Imobilisasi untuk memberikan kesempatan bagi tulang untuk menyatu setelah suatu operasi
misalnya pada artrodesis.
7) Imobilisas setelah operasi pada tendo-tendo tertentu misalnya setelah operasi tendo
Achilles.
8) Dapat dimanfaatkan sebagai cetakan untuk pembuatan bidai atau protesa.

Bahan-bahan Gips

a) Plester.
Gips pembalut dapat mengikuti kontur tubuh secara halus. Gulungan krinolin
diimregasi dengan serbuk kalsium sulfat anhidrus ( Kristal gypsum ). Jika basah terjadi
reaksi kristalisasi dan mengeluarkan panas. Kristalisasi menghasilkan pembalut yang kaku .
kekuatan penuh baru tercapai setelah kering , memerlukan waktu 24-72 jam untuk
mongering. Gips yang kering bewarna mengkilap , berdenting, tidak berbau,dan kaku,
sedangkan gips yang basah berwarna abu-abu dan kusam, perkusinya pekak, terba lembab,
dan berbau lembab.
b) Nonplester.
Secara umum berarti gips fiberglass, bahan poliuretan yang di aktifasi air ini
mempunyai sifat yang sama dengan gips dan mempunyai kelebihan karna lebih ringan dan
lebih kuat, tahan air dan tidak mudah pecah.di buat dari bahan rajuutan terbuka, tidak
menyerap, diimpregnasi dengan bahan pengeras yang dapat mencapai kekuatan kaku
penuhnya hanya dalam beberapa menit.
c) Nonplester berpori-pori,
Dengan pemasangan gips ini masalah kulit dapat di hindari. Gips ini tidak menjadi
lunak jika terkena air,sehingga memungkinkan hidro terapi. Jika basah dapat dikeringkan
dengan pengering rambut.

Persiapan

Persiapan alat –alat untuk pemasangan gips :

 Bahan gips dengan ukuran sesuai ekstremitas tubuh yang akan di gips
 Baskom berisi air hangat
 Gunting perban
 Bengkok
 Perlak dan alasnya
 Waslap/duk
 Pemotong gips
 Kasa dalam tempatnya
 Alat cukur
 Sabun dalam tempatnya
 Handuk
 Krim kulit
 Spons rubs ( terbuat dari bahan yang menyerap keringat)
 Padding (pembalut terbuat dari bahan kapas sintetis)
Persiapan pasien

Pasien dikaji secara umum sebelum pemasangan gips terhadap gejala dan tanda,
status emosional, pemahaman tujuan pemasangan gips, dan kondisi bagian tubuh yang
akan di pasang gips, termasuk status neurovaskuler, lokasi pembengkakan, memar, dan
adanya abrasi. Data yang harus terpenuhi antara lain adanya rasa gatal atau nyeri
,keterbatasan gerak, rasa panas pada daerah yang di pasang gips dan apakah ada luka di
bagian yang akan digips. Misalnya luka operasi, luka akibat patah tulang; apakah ada
sianosis : apakah ada pendarahan; apakah ada iritasi kulit; apakah ada bau atau cairan yang
keluar dari bagian dari bagian tubuh yang di akan di gips.Bila ada luka dirawat dan ditutup
kassa, ukur TD, nadi dan RR.

Persiapan lingkungan

 Memposisikan klien sesuai kebutuhan daerah pemasangan/pelepasan gips.


 Memberitahu dan menjelaskan tujuan tindakan.
 Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman

Prosedur

Prosedur Rasional

A. Siapkan klien dan jelaskan pada prosedur yang ·Membuat pasien mengerti akan
akan dikerjakan. prosedur tindakan yang akan dilakukan
sehingga dapat mengurangi cemas.

B. Siapkan alat-alat yang akan digunakan untuk ·Membantu agar tindkana berjalan
pemasangan gips dengan mudah.
C. Daerah yang akan di pasang gips dicukur,
dibersihkan,dan di cuci dengan sabun,
kemudian dikeringkan dengan handuk dan di ·Membuat permukaan yang akan
beri krim kulit (bila perlu). dipasang gips lembab, bersih, sehingga
D. Sokong ekstremitas atau bagian tubuh yang pemasangan gips tidak akan merusak
akan di gips. integritas kulit klien.

·Meminimalkan gerakan,
E. Posisikan dan pertahankan bagian yang akan mempertahankan reduksi dan
di gips dalam posisi yang di tentukan dokter kesegarisan, meningkatkan
selama prosedur. kenyamanan.

·Memungkinkan pemasangan gips yang


baik, mengurangi insidensi komplikasi
F. Pasang duk pada klien.
(mis : malunion, nonunion, kontraktur)

·Menghindari pajanan yang tidak perlu,


melindungi bagian badan lain terhadap
kontak dengan bahan gips.

G. Pasang spongs rubs (bahan yang menyerap


keringat) pada bagian tubuh yang akan di
pasang gips, pasang dengan cara yang halus
dan tidak mengikat. ·Melindungi kulit dari bahan gips,
H. Balutkan gulungan bantalan tanpa rajutan melindingi dari tekanan, lipatan diatas
dengan rata dan halus sepanjang bagian yangtepi gips; menciptakan tepi bantalan
lembut, melindungi kulit dari abrasi.
di gips. Tambahkan bantalan didaerah tonjolan
tulang dan pada jalur saraf (mis: caput fibula)
·Melindungi kulit dari tekanan gips,
I. Pasang gips secara merata pada bagian tubuh.
melindungi kulit pada tonjolan tulang,
Pembalutan gips secara melingkar mulai dari
dan melindungi saraf superfissial.
distal ke proksimal tidak terlalu kendor atau
ketat. Pada waktu membalut, lakukan dengan
gerakan bersinambungan agar terjaga
·Membuat gips menjadi lembut, solid
ketumpangtidihan lapisan gips. Lakukan
dengan kontur yang baik,
dengan gerakan yang bersinambungan agar
terjaga kontak yang konstan dengan bagian memungkinkan pemasangan yang
tubuh. lembut. Membuat gips yang lembut,
J. Setelah pemasangan, haluskan tepinya, potong solid, dan mengimobilisasi. Serta
serta bentuk dengan pemotong gips. membuat gips sedemikian rupa
K. Bersihkan Partikel bahan gips dari kulit yang
sehingga dapat memberi dukungan yang
terpasang gips. adekuat serta dapat memperkuat gips.
L. Sokong gips selama pergeseran dan
pengeringan dengan telapak tangan. Jangan
diletakkan pada permukaan keras atau pada
tepi yang tajam dan hindari tekanan pada gips.

·Melindungi kulit dari abrasi. Menjamin


kisaran gerakan sendi disekitarnya.

·Menjaga agar partikel tidak lepas dan


masuk kebawah gips.

·Bahan gips mengeras dalam beberapa


M. Tanyakan pada klien jika hal ini menyebabkan
ketidak nyamanan atau nyeri. menit. Kekerasan maksimal gips
sintesis terjadi dalam beberapa menit.
Kekerasan maksimal pada gips terjadi
bersama pengeringan (24-72 jam)
N. Mendokumentasikan prosedur dan respons bergantung pada tebalnya gips dan
klien pada catatan klien. lingkungan. Mencegah lekukan dan
daerah tekanan.

·Mengobservasi adakah efek yang


ditimbulkan gips pada pasien yang
mengganggu kenyamanan pasien,
sehingga dapat melakukan intervensi.
·Sebagai catatan/pegangan untuk
perawat.

Yang diperhatikan dalam Pemasangan Gips, yaitu :

 Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan.


 Gips patah tidak bisa digunakan.
 Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien.
 Jangan merusak / menekan gips.
 Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
 Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama.
Evaluasi

a.Melaporkan berkurangnya nyeri

 meninggikan ekstremitas yang di gips


 melakukan teknik manajemen nyeri
 menggunakan analgetik oral
b. Memperlihatkan peningkatan kemampuan mobilitas

 mempergunakan alat bantu yang aman


 berlatih untuk meningkatkan kekuatan
 Mengubah posisi sesering mungkin
 melakukan latihan sesuai kisaran gerakan sendi yang tidak tertutup gips
c. Terjaganya peredaran darah yang adekuat pada ekstremitas

 Memperlihatkan warna kulit yang normal


 Mengalami pembengkakan minimal
 Mampu memperlihatkan pengisian kapiler yang adekuat
 Memperlihatkan gerakan aktif jari tangan dan kaki
 Melaporkan sensasi normal pada bagian yang digips.
d. Klien secara aktif berpartisipasi dalam program terapi

 meninggikan eksterimitas yang terkena.


 berlatih sesuai intruksi
 Menjaga gips tetap kering.
 Melaporkan setiap masalah yg timbul.
 Tetap melakukan tindak lanjut atau mengadakan perjanjian dengan dokter
 Tidak memperlihatkan adanya komplikasi
e. Memperlihatkan penyembuhan abrasi dan laserasi

 Tidak memperlihatkan tanda dan gejala infeksi


 Memperlihatkan kulit yang utuh saat gips dibuka

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan pemasangan Gips :

 Mudah didapatkan.
 Murah dan mudah dipergunakan oleh setiap dokter.
 Dapat diganti setiap saat.
 Dapat dipasang dan dibuat cetakan sesuai bentuk anggota gerak.
 Dapat dibuat jendela/lubang pada gips untuk membuka jahitan atau perawatan luka selam
imobiliasi.
 Koreksi secara bertahap jaringan lunak dapat dilakukan membuat sudut tertentu.
 Gips bersifat rediolusen sehingga pemeriksaan foto rontgen tetap dapat dilakukan
walaupun gips terpasang.
 Merupakan terapi konservatif pilihan untuk menghindari operasi.
Kekurangan pemasangan Gips :

 Pemasangan gips yang ketat akan memberikan gangguan atau tekanan pada pembuluh
darah, saraf atau tulang itu sendiri.
 Pemasangan yang lama dapat menyebabkan kekakuan pada sendi dan mungkin dapat
terjadi.
 Alergi dan gatal-gatal akibat gips.
 Berat dan tidak nyaman dipakai oleh penderita.
Perawatan

 Gips tidak boleh basah oleh air atau bahan lain yang mengakibatkan kerusakan gips.
 Setelah pemasangan gips harus dilakukan pemantauan yang teratur, tergantung dari lokasi
pemasangan.
 Gips yang mengalami kerusakan atau lembek pada beberapa tempat, harus diperbaiki.

4. TRAKSI
Ada 2 cara :
1) Traksi kulit
Skin traksi merupakan penarikan bagian tulang yang mengalami fraktur dengan
menempelkan plaster dengan teknik pembebatan secara langsung pada kulit untuk
mempertahankan bentuk, dalam jangka waktu pendek antara 48 jam sampai 72 jam.
Contoh pada fraktur suprakondelier pada anak-anak, fraktur femur, HNP dan kontraktur
sendi.
Traksi kulit digunakan untuk mengontrol spasme kulit dan memberikan imobilisasi.
Bila dibutuhkan beban traksi yang berat dan dalam waktu yang lama, sebaiknya gunakan
traksi skelet. Traksi kulit terjadi akibat beban menarik tali, spon karet atau bahan kanvas
yang diletakkan kekulit. Traksi pada kulit meneruskan traksi kestruktur muskulosketal.
Beratnya beban yang dapat dipasang sangat terbatas, tidak boleh melebihi toleransi kulit,
tidak lebih dari 2-3 kg. Traksi pelvis umumnya 4,5-9 kg, tergantung berat badan klien.
Beban tarikan pada traksi kulit tidak boleh melebihi 5 kg, karena bila beban berlebih
kulit dapat mengalami nekrosis akibat tarikan yang terjadi karena iskemia kulit. Pada kulit
yang tipis, beban yang diberikan bahkan lebih kecil lagi dan pada orang tua tidak boleh
dilakukan traksi kulit. Traksi kulit banyak dipasang pada anak-anak karena traksi skelet
pada anak dapat merusak cakram episifis. Jadi beratnya beban traksi kulit antara 2-5 kg.
Traksi kulit dapat mengakibatkan iritasi kulit .Kulit yang Sensitive dan rapuh pada lansia
harus diidentifikasi pada lansia harus diidentifikasi pada pengkajian awal. Reaksi kulit
yang berhubungan langsung dengan plester dan spon harus dipantau ketat.
Traksi kuli tharus dipasang dengan kuat agar kontak dengan plester dan spon tetap
erat. Gaya geseran pada kulit harus dicegah. Plester traksi harus dipalpasi setiap hari untuk
mengetahui adanya nyeri tekan.Pada ekstremitas bawah, tumit, dan tendon Achilles harus
diinspeksi beberapa sekali.
Boot spon harus diangkat untuk melakukan inspeksi tiga kali sehari perlu bantuan
perawat lain untuk menyangga ekstremitas selama inspeks. Lakukan perawatan punggung
minimal tiap dua jam untuk mencegah ulkus dekubitus. Gunakan kasur udara, busa
densitas pada untuk meminimalkan terjadinya ulkus kulit.
Lama traksi, baik traksi kulit maupun traksi skelet bergantung pada tujuan traksi.
Traksi sementara untuk imobilisasi biasanya hanya beberapa hari, sedangkan traksi untuk
reposisi beserta imobilisasi lamanya sesuai dengan lama terjadinya kolus fibrosa. Setelah
terjadi kolus fibrosa, ekstremitas imobilitas dengan gips. Traksi kulit apendikuler( hanya
pada ekstremitas ) digunakan pada orang dewasa, termasuk traksi ekstensi Buck, traksi
Russel, dan traksi Dunlop.

2) Traksi skeletal (skeletal traction)


Traksi skeletal merupakan traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera
pada sendi panjang untuk mempertahankan bendek dengan memasukan pins atau kawat
kedalam tulang.
Metode ini sering digunakan untuk menangani fraktur femur, tibia, humerus,dan tulang
leher. Traksi dipasang langsung ketulang dengan menggunakan pin metal atau kawat (misal
Steinman’s pin, Kirchner wire) yang dimasukkan kedalam tulang disebelah distal garis
fraktur, menghindari saraf, pembuluh darah, otot, tendon, dan sendi. Tong yang dipasang
dikepala (missal Gardner Wells tong ) difiksasi dikepala untuk memberikan traksi yang
mengibolisasi fraktur leher.
Traksi skelet biasanya menggunakan beban 7-12 kg untuk mencapai efek terapi.Beban
yang dipasang biasanya harus dapat melawan daya pemendekan akibat spasm eotot yang
cedera. Ketika otot rileks, beban traksi dapat dikurangi untuk mencegah terjadinya
dislokasi garis fraktur dan untuk mencapai penyembuhan fraktur. Mengutip pendapat
Sjamsuhidajat ( 1997 ), bahwa beban traksi untuk reposisi tulang femur dewasa biasanya 5-
7 kg,pada dislokasi lama panggul bisa 15-20 kg.
Kadang-kadang traksi skelet bersifat seimbang, yang menyokong ekstremitas terkena,
memungkinkan klien dapat bergerak sampai batas-batas tertentu, memungkinkan klien
dapat bergerak sampai batas-batas tertentu, dan memungkinkan kemandirian klien maupun
asuhan keperawatan sementara traksi yang efektif tetap dipertahankan. Bebat Thomas
dengan pengait Pearson sering digunakan bersama traksi skelet pada fraktur femur. Dapat
pula digunakan dengan traksi kulit dan aparatus suspensi seimbang lainnya.
Untuk mempertahankan traksi tetap efektif, pastikan tali tetap terletak dalam alur roda
pada katrol, tali tidak rusak, pemberat tetap tergantung dengan bebas, dan simpul pada tali
terikat erat. Evaluasi posisi klien, karena klien yang merosot ke bawah dapat menyebabkan
traksi tidak efekif. Beban tidak boleh diambil dari traksi skelet kecuali jika terjadi keadaan
yang membahayakan jiwa. Bila beban diambil, tujuan penggunaannya akan hilang dan
dapat terjadi cidera.
Kesajajaran tubuh klien harus dijaga agar garis tarikannya efektif. Kaki diposisikan
sedemikian rupa sehingga dapat dicegah terjadinya Footdrop ( plantar fleksi ), rotasi
kedalam ( inversi ). Kaki klien harus disangga dalam posisi netral dengan alat ortopedi.
Perlu dipasang pegangan diatas tempat tidur, agar klien mudah untuk berpegangan.
Alat itu sangat berguna untuk membantu klien bergerak dan defekasi ditempat tidur, serta
menaikkan pingguldari tempat tidur untuk memudahkan perawatan punggung. Lindungi
tumit untuk dilakukan inspeksi, karena klien sering menggunakan sebagai penyangga,
sehingga dapat menyebabkan cedera pada jaringan tersebut. Tempat penusukan pin (luka)
perlu dikaji. Lakukan inspeksi paling sedikit tiap delapan jam dari adanya tanda inflamasi
dan bukti adanya infeksi.
Pada klien terpasang traksi perlu melakukan latihan, berguna untuk menjaga kekuatan
dan tonus otot, serta memperbaiki peredaran darah. Latihan dilakukan sesuai kemampuan.
Latihan aktif meliputi menarik pegangan diatas tempat tidur., fleksi dan ekstensi kaki,
latihan rentang gerak, dan menahan beban bagi sendi yang sehat. Pada ekstremitas yang
diimobilisasi, lakukan latihan kuadrisepdan pengesetan gluteal.
Dorong klien untuk melakukan latihan fleksi dan ekstensi pergelangan kaki dan
kontraksi isometrik otot-otot betis, sebanyak 10 kali setiap jam saat klien terjaga, dapat
mengurangi risiko trombosis vena dalam. Dapat juga diberikan stoking elastis, alat
kompresi dan terapi antikoagulan untuk mencegah terbentuknya trombus.
Pengankatan pin dapat dilakukan setelah sinar-X menunjukkan terbentuknya kalus. Pin
dipotong sedekat mungkin dengan kulit dan diangkat oleh dokter kemudian dipasang gips
atau bidai untuk melindungi tulang yang sedang proses penyembuhan.

Kontraindikasi
 Hipermobilitas : Hipermobilitas pada sendi tidak boleh diberikan teknik ini kecuali dengan
pertimbangan bahwa fisioterapis dapat menjaga dalam batasan gerak yang normal pada
sendi tersebut. Selain itu tidak boleh diaplikasikan pada pasien yang mempunyai potensial
nekrose pada ligament dan kapsul sendi.
 Efusi Sendi : Efusi sendi tidak boleh dilakukan mobilisasi. Hal ini dikarenakan pada kapsul
yang ditraksi akan mengalami penggelembungan karena menampung cairan dari luar.
Keterbatasan ini berasal dari perubahan yang terjadi dari laur dsan respon otot terhadap
nyeri bukan karena pemendekan otot.
 Inflamasi : Pada tahap ini tidak boleh dilakukan traksi karena menimbulkan nyeri serta
memperberat kerusakan pada jaringan.
 Fraktur humeri dan osteoporosis
 Keseleo akut, strain, dan peradangan
 Ketidakstabilan tulang belakang
 Kehamilan
 Hernia hiatus
 Claustrophobia
Prinsip Traksi Efektif
Pada pemasangan traksi, harus dipikirkan adanya kontraksi, yaitu gaya yang bekerja
dengan arah yang berlawanan. Umumnya berat badan pasien dan pengaturan posisi tempat
tidur mmnpu memberi kontraksi. Yang harus diperhatikan dalam hal pemasangan traksi ini,
antara lain:

 Kontraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif.


 Traksi harus bersinambungan atau tidak boleh putus agar reeduksi dan imobilisasi bteratur
efektif, terutama traksi skelet
 Pemberat tidak boleh diambil, kecuali jika traksi nuntuk tujuan intermiten.
 Setiap factor yang dapat mengurangi tarikan atau mengubah garis resultan tarikan harus
dihilangkan.
 Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi dipasang
 tali tidak boleh macet
 pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat yidur atau lantai
 simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh
 katrol atau kaki tempat tidur

Prinsip Prawatan Traksi

1. Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ) dan
aktivitas terapeutik.
2. Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.
3. Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
4. Beri penguatan pada balutan awal/ pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan teknik
aseptic dengan tepat.
5. Pertahankan linen klien tetap kering, bebas keriput.
6. Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.
7. Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi, nafas
dalam.
8. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan
9. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema, eritema.
Persiapan alat

 Skin traksi kit


 k/p pisu cukur
 k/p balsam perekat
 k/p alat rawat luka
 katrol dan pulley
 beban
 K/p Bantalan conter traksi
 k/p bantal kasur
 gunting
 bolpoint untuk penanda/ marker
Traksi kulit

 Bantal keras (bantal pasir )


 Bedak kulit
 Kom berisi air putih
 Handuk
 Sarung tangan bersih
Traksi skeletal

 Zat pembersih untuk perawatan pin


 Set ganti balut
 Salep anti bakteri (k/p)
 Kantung sampah infeksius
 Sarung tangan steril
 Lidi kapas
 Povidone Iodine (k/p)
 Kassa steril
 Piala ginjal
Persiapan pasien

 Mengatur posisi tidur pasien supinasi


 Bila ada luka dirawat dan ditutup kassa
 Bila banyak rambut k/p di cukur
 Anestesi
 Ukur TD, nadi dan RR
Persiapan lingkungan

 Memberitahu dan menjelaskan tujuan tindakan.


 Menyiapkan posisi pasien sesuai kebutuhan.
 Menyiapkan lingkungan aman dan nyaman
Langkah-langkah prosedur

 Mencuci tangan
 Memakai handscone
 Beri tanda batas pemasangan plester gips menggunakan bolpoint
 k/p beri balsam perekat
 Ambil skintraksi kit lalu rekatkan plester gips pada bagian medial dan lateral kaki secara
simetris dengan tetap menjaga immobilisasi fraktur
 Pasang katrol lurus dengan kaki bagian fraktur
 Masukkan tali pada pulley katrol
 Sambungkan tali pada beban ( 1/7 BB = maksimal 5 kg
 k/p pasang bantalan contertraksi atau bantal penyangga kaki
 Atur posisi pasien nyaman dan rapikan
 Beritahu pasien bahwa tindakan sudah selesai dan pesankan untuk manggil perawat bila
ada keluhan
 Buka tirai/ pintu
 Alat dikembalikan, dibersihkan dan dirapikan
 Sarung tangan dilepas
 Mencuci tangan
Traksi Kulit

 Cuci tangan dan pasang sarung tangan


 Cuci, keringkan dan beri bedak kulit sebelum traksi dipasang kembali
 Lepas sarung tangan
 Anjurkan klien untuk menggerakkan ekstremitas distal yang terpasang traksi
 Berikan bantalan dibawah akstremitas yang tertekan
 Berikan penyokong kaku (foot plates) dan lepaskan setiap 2 jam lalu anjurkan klien latihan
ekstremitas bawah untuk fleksi, ekstensi dan rotasi
 Lepas traksi setiap 8 jam atau sesuai instruksi
Traksi Skeletal

 Cuci tangan
 Atur posisi klien dalam posisi lurus di tempat tidur untuk mempertahankan tarikan traksi
yang optimal
 Buka set ganti balut, cairan pembersih dan gunakan sarung tangan steril
 Bersihkan pin serta area kulit sekitar pin, menggunakan lidi kapas dengan teknik menjauh
dari pin (dari dalam ke luar)
 Beri salep anti bakteri jika diperlukan sesuai protokol RS
 Tutup kassa di lokasi penusukan pin
 Lepas sarung tangan
 Buang alat – alat yang telah dipakai ke dalam plastik khusus infeksius
 Cuci tangan
 Anjurkan klien menggunakan trapeze untuk membantu dalam pergerakan di tempat tidur
selama ganti alat dan membersihkan area punggung/ bokong
 Berikan posisi yang tepat di tempat tidur

Keuntungan Pemakaian Traksi


a. Menurunkan nyeri prasme
b. Mengoreksi dan mencegah deformitas
c. Mengobilisasi sendi yang sakit
Kerugian Pemakaian Traksi

a. Perawatan rumah sakit lebih lama


b. Mobilisasi terbatas
c. Penggunaan alat-alat lebih banyak
Evaluasi

a) Menunjukan tidak ada tanda iritasi kulit, ekstremitas warna normal, dan hangat, tidak
bengkak, dan nadi teraba.
b) Menunjukan tidak terdapat tanda infeksi: suhu dibawah 37oC, jumlah sel darah putih 5000-
10.000/mm3, tidak ada nyeri pada luka, tidak ada tanda kemerahan dan drainase pada sisi
pin.
c) Menggunakan mekanisme koping efektif
d) Menyebutkan peningkatan kenyamanan:
e) Kadang-kadang meminta analgesia oral
f) Melakukan aktivitas perawatan diri, memerlukan sedikit bantuan pada saat memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
g) Pola eliminasi defekasi teratur, dan perut lemas.
h) Klien mengerti dengan program terapi, klien menunjukkan pemahaman terhadap program
terapi (menjelaskan tujuan traksi, berpartisipasi dalam rencana perawatan).
i) Klien mengekspresikan perasaan dengan aktif, dan tingkat ansietas klien menurun.
j) Nyeri berkurang, klien mampu mengubah posisi sendiri sesering mungkin sesuai
kemampuan traksi, klien dapat beristirahat nyenyak.
k) Mobilitas klien meningkat, klien melakukan latihan yang dianjurkan, menggunakan alat
bantu yang aman.
l) Tidak ditemukan adanya dekubitus dan nyeri tekan. Kulit tetap utuh, atau tidak terjadi luka
tekan lebih luas.
B. PENATALAKSANAAN OPERASI
1. ORIF
ORIF adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada
tulang yang mengalami fraktur. ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi), open reduksi
merupakan suatu tindakan pembedahan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang
patah / fraktur sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya. Internal fiksasi biasanya
melibatkan penggunaan plat, sekrup, paku maupun suatu intramedulary (IM) untuk
mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid
terjadi.

Keuntungan cara ini adalah :

⁻ Reposisi anatomis.
⁻ Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
⁻ Ketelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur.
⁻ Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf di sekitarnya.
⁻ Stabilitas fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai.
⁻ Perawatan di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi.
⁻ Potensi untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta kekuatan otot
selama perawatan fraktur.

Kerugian yang potensial juga dapat terjadi antara lain :

⁻ Setiap anastesi dan operasi mempunyai resiko komplikasi bahkan kematian akibat dari
tindakan tersebut.
⁻ Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan pemasangan gips
atau traksi.
⁻ Penggunaan stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu sendiri.
⁻ Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak, dan struktur yang
sebelumnya tak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan
selama tindakan operasi.
Indikasi ORIF :

a. Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi. Misalnya :
⁻ Fraktur talus
⁻ Fraktur collum femur.
b. Fraktur yang tidak bisa di reposisi tertutup. Misalnya :
⁻ Fraktur avulsi
⁻ Fraktur dislokasi.
c. Fraktur yang dapat di reposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya :
- Fraktur Monteggia.
- Fraktur Galeazzi
- Fraktur antebrachii
- Fraktur pergelangan kaki
d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman member hasil yang lebih baik dengan operasi,
misalnya ; fraktur femur.

Persiapan dan Prosedur ORIF


a. Persiapan alat dan Ruangan
- Alat tidak steril : Lampu operasi, Cuter unit, Meja operasi, Suction, Hepafik, Gunting
- Alat Steril : Duk besar 3, Baju operasi 4, Selang suction steril, Selang cuter Steril,side 2/0,
palain 2/0,berbagai macam ukuran jarum
- Set Orif :
1) Koker panjang 2
2) Klem bengkok 6
3) Bengkok panjang 1
4) Pinset cirugis 2
5) Gunting jaringan 1
6) Kom 2
7) Pisturi 1
8) Hand mest
9) Platina 1 set
10) Kassa steril
11) Gunting benang 2
12) Penjepit kasa 1
13) Bor 1
14) Hak Pacul 1
15) Hak Sedang 1
16) Hak Duk 3

b. Prosedur Operasi :
- Pasien sudah teranastesi GA
- Tim bedah melakukan cuci tangan (Scrub)
- Tim bedah telah memakai baju operasi (Gloving)
- Lakukan disinfeksi pada area yang akan dilakukan sayatan dengan arah dari dalam keluar,
alkohol 2x, betadine 2x
- Pasang duk pada area yang telah di disinfeksi (Drapping)
- Hidupkan cuter unit
- Lakukan sayatan dengan hand mest dengan arah paramedian
- Robek subkutis dengan menggunakan cuter hingga terlihat tulang yang fraktur
- Lakukan pengeboran pada tulang
- Pasang platina
- Lakukan pembersihan bagian yang kotor dengan cairan NaCl
- Jahit subkutis dengan plain 2/0
- Jahit bagian kulit dengan side 2/0
- Tutup luka dengan kassa betadine, setelah itu diberi hepafik

Aktivitas Post Operasi ORIF


Tahapan pelaksanaan ambulasi dini yang dilakukan pada pasien pasca operasi yaitu:
 Sebelum pasien berdiri dan berjalan, nadi, pernafasan dan tekanan darah pasien harus
diperiksa terlebih dahulu.
 Jika pasien merasakan nyeri, perawat harus memberikan medikasi pereda nyeri 20 menit
sebelum berjalan, karena penggunaan otot untuk berjalan akan menyebabkan nyeri.
 Pasien diajarkan duduk di tepi tempat tidur, menggantungkan kakinya beberapa menit dan
melakukan nafas dalam sebelum berdiri. Tindakan ini bertujuan untuk menghindari rasa
pusing pada pasien.
 Selanjutnya, pasien berdiri di samping tempat tidur selama beberapa menit sampai pasien
stabil. Pada awalnya pasien mungkin hanya mampu berdiri dalam waktu yang singkat
akibat hipotensi ortostatik.
 Jika pasien dapat berjalan sendiri, perawat harus berjalan dekat pasien sehingga dapat
membantu jika pasien tergelincir atau merasa pusing.
 Perawat dapat menggandeng lengan bawah pasien dan berjalan bersama. Jika pasien
tampak tidak mantap, tempatkan satu lengan merangkul pinggul pasien untuk menyokong
dan memegang lengan paling dekat dengan perawat, dengan menyokong pasien pada siku.
 Setiap penolong harus memegang punggung lengan atas pasien dengan satu tangan dan
memegang lengan bawah dengan tangan yang lain.
 Bila pasien mengalami pusing dan mulai jatuh, perawat menggenggam lengan bawah dan
membantupasienduduk di ataslantaiatau di kursiterdekat.
 Pasien diperkenankan berjalan dengan walker atau tongkat biasanya dalam satu atau dua
hari setelah pembedahan. Sasarannya adalah berjalan secara mandiri.
 Pasien yang mampu mentoleransi aktivitas yang lebihberat, dapat dipindahkan ke kursi
beberapa kali sehari selama waktu yang singkat.

2. OREF
OREF adalah reduksi terbuka dengan fiksasi internal di mana prinsipnya tulang
ditransfiksasikan di atas dan di bawah fraktur , sekrup atau kawat ditransfiksi di bagian
proksimal dan distal kemudian dihubungkan satu sama lain dengan suatu batang lain.
Fiksasi eksternal digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan
jaringan lunak . Alat ini memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur kominutif (hancur
atau remuk). Pin yang telah terpasang dijaga agar tetap terjaga posisinya , kemudian
dikaitkan pada kerangkanya. Fiksasi ini memberikan rasa nyaman bagi pasien yang
mengalami kerusakan fragmen tulang.

Indikasi
- Fraktur terbuka grade II dan III
- Fraktur terbuka yang disertai hilangnya jaringan atau tulang yang parah.
- Fraktur yang sangat kominutif ( remuk ) dan tidak stabil.
- Fraktur yang disertai dengan kerusakan pembuluh darah dan saraf.
- Fraktur pelvis yang tidak bisa diatasi dengan cara lain.
- Fraktur yang terinfeksi di mana fiksasi internal mungkin tidak cocok. Misal : infeksi
pseudoartrosis ( sendi palsu ).
- Kadang – kadang pada fraktur tungkai bawah diabetes melitus.

Keuntungan dan Komplikasi


Keuntungan eksternal fiksasi adalah :
Fiksator ini memberikan kenyamanan bagi pasien, mobilisasi awal dan latihan awal
untuk sendi di sekitarnya sehingga komplikasi karena imobilisasi dapat diminimalkan.
Sedangkan komplikasinya adalah :.
- Infeksi di tempat pen ( osteomyelitis ).
- Kekakuan pembuluh darah dan saraf.
- Kerusakan periostium yang parah sehingga terjadi delayed union atau non union .
- Emboli lemak.
- Overdistraksi fragmen.

Persiapan OREF
- Persiapan psikologis
Penting sekali mempersiapkan pasien secara psikologis sebelum dipasang fiksator
eksternal Alat ini sangat mengerikan dan terlihat asing bagi pasien. Harus diyakinkan
bahwa ketidaknyamanan karena alat ini sangat ringan dan bahwa mobilisasi awal dapat
diantisipasi untuk menambah penerimaan alat ini, begitu juga keterlibatan pasien pada
perawatan terhadap perawatan fiksator ini.

- Pemantauan terhadap kulit, darah, atau pembuluh saraf.


Setelah pemasangan fiksator eksternal , bagian tajam dari fiksator atau pin harus
ditutupi untuk mencegah adanya cedera akibat alat ini. Tiap tempat pemasangan pin dikaji
mengenai adanya kemerahan , keluarnya cairan, nyeri tekan, nyeri dan longgarnya
pin.Perawat harus waspada terhadap potensial masalah karena tekanan terhadap alat ini
terhadap kulit, saraf, atau pembuluh darah.
- Pencegahan infeksi
Perawatan pin untuk mencegah infeksi lubang pin harus dilakukan secara rutin. Tidak
boleh ada kerak pada tempat penusukan pin, fiksator harus dijaga kebersihannya. Bila pin
atau klem mengalami pelonggaran , dokter harus diberitahu. Klem pada fiksator eksternal
tidak boleh diubah posisi dan ukurannya.
- Latihan isometrik
Latihan isometrik dan aktif dianjurkan dalam batas kerusakan jaringan bisa menahan. Bila
bengkak sudah hilang, pasien dapat dimobilisasi sampai batas cedera di tempat lain.
Pembatasan pembebanan berat badan diberikan untuk meminimalkan pelonggaran puin
ketika terjadi tekanan antara interface pin dan tulang.
Aktivitas Post Operasi OREF
 Static Contraction: Static contraction merupakan kontraksi otot secara isometric untuk
mempertahankan kestabilan tanpa disertai gerakan. Dengan gerakan ini maka akan
merangsang otot-otot untuk melakukan pumping action sehingga aliran darah balik vena
akan lebih cepat. Apabila system peredaran darah baik maka oedema dan nyeri dapat
berkurang. Contoh yang bias diberikan yakni memberi arahan kepada pasien dengan cara
mendorong tembok, dan mengangkat barbel.
 Latihan Pasif: Merupakan gerakan yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan dari luar
sedangkan otot penderita rileks.Disini gerakan pasif dilakukan dengan bantuan terapis.
Contohnya dengan memandu pasien melakukan range of motion (ROM) tapi dengan
bantuan perawat.
 Latihan Aktif: Latihan aktif merupakan gerakan murni yang dilakukan oleh otot-otot
anggota tubuh pasien itu sendiri. Tujuan latihan aktif meningkatkan kekuatan otot. Gerak
aktif tersebut akan meningkatkan tonus otot sehingga pengiriman oksigen dan nutrisi
makanan akan diedarkan oleh darah. Dengan adanya oksigen dan nutrisi dalam darah,
maka kebutuhan regenerasi pada tempat yang mengalami perpatahan akan terpenuhi
dengan baik dan dapat mencegah adanya fibrotik. Contohnya sama dengan latihan pasif
tapi bedanya tidak dengan bantuan perawat.
 Latihan Jalan: Salah satu kemampuan fungsional yang sangat penting adalah berjalan.
Latihan jalan dilakukan apabila pasien telah mampu untuk berdiri dan keseimbangan sudah
baik. Latihan ini dilakukan secara bertahap dan bila perlu dapat menggunakan walker.
Selain itu dapat menggunakan kruk tergantung dari kemampuan pasien. Pada waktu
pertama kali latihan biasanya menggunakan teknik non weight bearing (NWB ) atau tanpa
menumpu berat badan. Bila keseimbangan sudah bagus dapat ditingkatkan secara bertahap
menggunakan partial weight bearing (PWB) dan full weight bearing (FWB).Tujuan latihan
ini agar pasien dapat melakukan ambulasi secara mandiri walaupun masih dengan alat
bantu.

C. Kebutuhan Nutrisi
Kebutuhan nutrisi yang baik untuk pasien fraktur adalah dengan melakukan diet TKTP
( Tinggi Kalori Tinggi Protein ).

1. Pengertian Diet TKTP


Diet TKTP adalah pengaturan jumlah protein dan kalori serta jenis zat makanan
yang dimakan disetiap hari agar tubuh tetap sehat.
2. Tujuan diet TKTP
Diet TKTP bertujuan untuk :
1) Memberikan makanan secukupnya atau lebih dari pada biasa untuk memenuhi kebutuhan
protein dan kalori. Maksudnya, jumlah makanan khusus kebutuhan protein dan kalori
dibutuhkan dalam jumlah lebih dari pada kebutuhan biasa.
2) Menambah berat badan hingga mencapai normal.
Penambahan berat badan hingga mencapai normal menunjukkan kecukupan energi.
Untuk mengetahui berat badan yang normal, seseorag dapat menggunakan kartu menuju
sehat (KMS), untuk anak balita, anak sekolah, remaja, ibu hamil dan kelompok usia lanjut.
Bagi orang dewasa digunakan Indek Masa Ttubuh (IMT).
3) Mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan.
Artinya, dengan terpenuhinya kebutuhan energi/kalori dan protein di dalam tubuh,
sehingga menjamin terbentuknya sel-sel baru di dalam jaringan tubuh.

 Syarat Diet TKTP


1. Tinggi Energi
2. Tinggi Protein
3. Cukup mineral dan Vitamin
4. Mudah dicerna
5. Diberikan secara bertahap bila penyakit dalam keadaan darurat
6. Makanan yang dapat mengurangi nafsu makan dihindari.

 Macam-macam Diet TKTP


1. TKTP I : Kalori : 2600 kal/kg BB
Protein : 100 g (2 g/kgBB)

2. TKTP II : Kalori : 3000 kal / kg BB


Protein : 125 g (2½ g / kg BB)

Kebutuhan kalori dan protein pada setiap orang berbeda-beda tergantung pada umur
dan berat badan masing-masing orang.
Sumber makanan yang berprotein tinggi (per 100gram)

Protein adalah kelompok makronutrisi berupa senyawa asam amino yang berfungsi
sebagai zat pembangun dan pendorong metabolisme. Zat ini tidak bisa dihasilkan sendiri
oleh manusia kecuali lewat makanan.

Bahan Makanan Nilai Protein


Kacang Kedelai 34,9
Kacang Merah 29,1
Kacang tanah 25,3
Keju 22,8
Kacang Hijau 22,2
Mete 21,2
Udang Segar 21,0
Daging Sapi 18,8
Tempe kacang kedelai murni 18,3
Ayam 18,2
Krupuk Udang 17,2
Ikan Segar 16,0
Telur Bebek 13,1
Telur Ayam 12,0
Jagung Kuning 9,2
Roti putih 8,0
Mie Kering 7,9
Tahu 7,8
beras setengah giling 7,6
Daun singkong 6,8
Bayam 3,5
Kangkung 3,0
Kentang 2,0
Singkong 1,2
Sumber makanan yang tinggi Kalori

Kalori adalah satuan energi. Dalam nutrisi danbahasa sehari-hari, kalori mengacu
pada konsumsi energi melalui makan dan minum danpenggunaan energi melalui aktivitas
fisik.

Bahan Makanan Nilai kalori


Minyak sawit (216 g) 1910
Bawang Bombay (160 g) 64
Wortel (126 g) 52
Nasi (186 g) 242
Terigu (28 g) 102
Tuna (196 g) 204
Susu cair (244 g) 146
Telur (243 g) 347

Makanan yang dianjurkan dan dihindari oleh pasien fraktur

1. Makanan yang dihindari


Makanan yang harus dihindari adalah makanan yang terlalu manis dan gurih yang
dapat mengurangi nafsu makan, seperti gula-gula, dodol, cake, tarcis dan sebagainya.
2. Makanan yang dianjurkan
Makanan yang harus diberikan meliputi :
a) Sumber Kalori : Nasi,Kentang,Roti,Gandum, Jangung dan lain-lain
b) Sumber Protein hewani : ayam,daging,hati,telur,susu dan keju.
c) Sumber protein nabati : kacang-kacangan ,tahu,tempe, dan oncom
d) Sumber Protein Vitamin D : Ikan lele, sarden, ikan salmon, minyak ikan, telur ayam, hati
sapi.
Zat-zat gizi yang di butuhkan pada fraktur
 Kalsium berperan dalam pembentukan tulang dan mempertahankan kepadatan tulang
 Vitamin D mendorong penyerapan kalsium dan membantu membentuk dan
mempertahankan tulang yang kuat
 Fosfor bergabung dengan kalsium untuk membentuk kalsium fosfat, yaitu zat yang
memberikan kekerasan tulang
 Magnesium kira-kira 50% dari seluruh magnesium tubuh ditemukan di dalam tulang dan
berkontribusi pada kerangka fisik tulang

Contoh menu sehari pada nutrisi fraktur

Pagi Siang Malam


Nasi Nasi Nasi
Telur dadar Ikan goreng Daging empal
Daging semur Ayam goreng Telur balado
Ketimun dengan tomat
Tempe bacem Sup sayuran
Iris
Susu Sayur asam Pisang
Pepaya
Pukul 10.00 Pukul 16.00 Pukul 20,00
Bubur kacang hijau Susu Roti panggang
Susu Teh
Daftar Pustaka

Brunicardi FC, Anderson DK, Billiar TR Dunn DL, Huter JG, Pollock RE. Orthopaedics.
Dalam: Brunicardi FC, Anderson DK, Billiar TR Dunn DL, Huter JG, Pollock RE. Schwartz's
Principle of Surgery. The McGraw-Hill Companies: USA. 2004.
Departemen Kesehatan RI. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Jakarta Departemen
Kesehatan. 2003.
Gangguan System Moskuloskeletal. Jakarta : Selemba Medika.

Kholid MN,S.Kep,Ns. 2013. Muskuloskeletal, Jakarta

Klingensmith ME, Chen LE, Glasgow SC, Goers, TA, Melby SJ. Dalam: Klingensmith ME,
Chen LE, Glasgow SC, Goers, TA, Melby SJ. Washington Manual of Surgery, The 5th
Edition. USA: Lippincott Williams & Wilkins. 2008.

Nayagam S. Principles of Fractures. Dalam: Solomon L, Warwick D, Nayagam S. Apley’s


System of Orthopaedics and Fractures Ninth Edition. London: Hodder Education. 2010.

Perry, Peterson, Potter; Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar Azis Alimul Hidayat,
S.Kp; Buku Saku Praktikum KDM
Salter RB. Textbook Disorders and Injuries of The Muskuloskeletal System Third Edition.
USA: Lippincott Williams and Wilkins. 1999.

Schwartz. Principle of Surgery. Mc Graw Hill. Eight edition. 20054.


Sjamsuhidayat, de Jong. BUKU AJAR ILMU BEDAH EDISI 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran ECG. 2011.

Stone,Keith. Current Diagnosisi & Treatment: Emergency Medicine. 6th Ed. Lange.2008.