Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN

Batubara merupakan salah satu energi yang memiliki kompletisitas dalam susunan kimia.
Menurut undang-undang nomor 4 tahun 2009, batubara merupakan endapan senyawa organik
karbon yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan dan bisa terbabar. Batubara
dalam artian lain juga bisa disimpulkan sebagai batuan yang terbentuk dari proses
pengendapan tumbuh-tumbuhan yang diendapkan dengan proses fisika dan kimia dimana
warna dari batubara tersebut berwarna coklat sampai hitam (tergantung jenisnya) dan bisa
dibakar.

Cadangan batubara Indonesia hanya 0.6% dari total cadangan batubara dunia. Endapan
batubara tersebar secara merata di seluruh Indonesia. Endapan batubara dengan jumlah besar
ditemukan di cekungan Aceh, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Menurut data Badan Geologi (2011), jumlah sumber daya batubara mencapai 161 miliar ton
dengan cadangan sebesar 28 miliar ton.

Eksplorasi perlu dilakukan untuk mengetahui keberadaan potnsi endapan batubara disuatu
daerah. Kita dapat menghitung sumberdaya batubara dari data-data hasil eksplorasi yang
didapatkan. Perhitungan cadangan diperlukan untuk menghitung berapa banyak cadangan
batubara. Sumberdaya batubara akan menjadi cadangan batubara jika pada saat studi
kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang.

Perhitungan cadangan berperan penting dalam menentukan kuantitas suatu endapan bahan
galian. Reserves coal dalam hal ini merupakan jumlah cadangan batubara yang dapat
ditambang (tertambang). Sebelum menghitung jumlah cadangannya, pertama kita harus
membuat permodelan batubaranya. Pemodelan batubara adalah bagian awal dari suatu proses
perhitungan cadangan. Pemodelan batubara mempunyai peranan yang sangat penting dalam
memberikan gambaran hasil interpretasi bentuk endapan batubara yang terdapat pada daerah
yang akan dihitung cadangannya. Banyak perusahaan tambang umumnya menggunakan
metode log bor, berdasarkan data log bor dapat diketahui kondisi bawah permukaan dan juga
untuk memperoleh berbagai data lain seperti kedalaman dan ketebalan lapisan bahan galian.

Berdasarkan hasil eksplorasi sebelumnya yang dilakukan oleh tim eksplorasi PT Bhumi
Rantau Energi, kajian geologi awal menunjukkan bahwa deposit batubara tersebut bernilai
potensial. Hal ini lah yang mendasari dilakukannya perhitungan cadangan batubara.
BAB 2
METODOLOGI

Telah banyak dikemukakan mengenai berbagai metode perhitungan cadangan dan kalaupun
ada perbedaan hanya berupa sedikit modifikasi dari sesuatu yang sangat urnum. Pada
prinsipnya, metode perhitungan cadangan harus dapat menghitung dengan cepat, dipercaya,
dan mudah dilakukan cek ulang. Perbedaan dari berbagai metode perhitungan cadangan
biasanya dibedakan menurut penentuan perhitungannya yang dipisahkan menjadi bagian-
bagian atau blok. Hal ini didasarkan oleh faktor struktur geologi, ketebalan, kadar, nilai
ekonomi, kedalaman, dan lapisan penutup. Oleh karena itu, dalam pemilihan metode
tergantung pada kondisi geologi endapan mineral, sistem eksplorasi, penambangan, dan
faktor ekonomi. Beberapa metode perhitungan cadangan yang umum digunakan, yaitu
sebagai berikut:

1. Metode Penampang (cross section)

Metode ini masih sering dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari perhitungan. Hasil
perhitungan secara manual ini dapat dipakai sebagai alat pembanding untuk mengecek hasil
perhitungan yang lebih canggih menggunakan komputer. Hasil perhitungan secara manual ini
tidak dapat digunakan secara langsung dalam perencanaan tambang menggunakan komputer.

Gambar 1. Sketsa Perhitungan Volume Endapan dengan Metode Penampang

Keuntungan metode cross section dapat menggambarkan keadaan geologi endapan mineral,
prosedurnya cepat, dan sederhana, tetapi menuntut analisa bentuk dan ukuran penampang
guna menentukan rumus yang tepat. Metode ini merupakan pilihan yang tepat untuk endapan
mineral ysng seragam, sering pula pada endapan yang berbentuk perlapisan atau endapan
placer.
2. Metode polygon

Metode polygon ini merupakan metode perhitungan yang konvensional. Metode ini umum
diterapkan pada endapan-endapan yang relatif homogeny dan mempunyai geometri yang
sederhana.
Kadar pada suatu luasan di dalam polygon ditaksir dengan nilai conto yang berada di tengah-
tengah polygon sehingga metode ini sering disebut dengan metode polygon daerah pengaruh
(area of influence). Daerah pengaruh dibuat dengan membagi dua jarak antara dua titik conto
dengan satu garis sumbu.

Gambar 2. Metode area influence (poligon)


Metode polygon ini mempunyai kelemahan jika hanya memiliki sedikit data-data yang
dibutuhkan, kelemahan tersebut antara lain:

 Belum memperhitungkan tata letak (ruang) nilai data di sekitar polygon,


 Tidak ada batasan yang pasti sejauh mana nilai conto mempengaruhi distribusi ruang.

3. Metode Model Blok (Grid)

Aspek yang paling penting dalam perhitungan cadangan adalah metode penaksiran, terdapat
bermacam- macam metode penaksiran yang bisa dilakukan yaitu metode klasik yang terdiri
dari NNP (Neighborhood Nearest Point) dan IDW (Inverse Distance Weighting) serta metode
non klasik yaitu penaksiran cadangan dengan meggunakan Kriging.

Permodelan dengan komputer untuk merepresentasikan endapan bahan galian umumnya


dilakukan dengan model blok (block model). Dimensi block model dibuat sesuai dengan
disain penambangannya, yaitu mempunyai ukuran yang sama dengan tinggi jenjang. Semua
informasi seperti jenis batuan, kualitas, dan topografi dapat dimodelkan dalam bentuk blok.
Data yang digunakan pada penghitungan cadangan ini adalah :

1. Peta topografi daerah penelitian

Merupakan data survey pemetaan topografi daerah penelitian yang dilakukan oleh
perusahaan, berupa data koordinat dan elevasi. Data tersebut digunakan sebagai batas atas
(surface) dalam memodelkan batubara, perancangan pit dan dalam perhitungan jumlah
volume overburden.

2. Data geometri lereng

Hasil penelitian geoteknik merupakan rekomendasi yang diberikan perusahaan untuk


pembuatan desain tambang. Penelitian geoteknik ini digunakan untuk memberikan
rekomendasi desain lereng tambang, kemiringan lereng pada bagian low wall dirancang sama
dengan kemiringan pada lapisan batubara yaitu dengan slope 30°. Kemiringan lereng tunggal

pada bagian high wall adalah sebesar 60o dengan tinggi jenjang 10 meter dan lebar jenjang
penangkap 5 meter. Disebelah luar jenjang penangkap disediakan tanggul (safety
berm) setinggi 0,5 meter dan lebar 1 meter. Tanggul berfungsi untuk menghalangi longsoran
ke bawah jenjang. Lereng keseluruhan terdiri atas lereng tunggal yang jumlahnya bervariasi

tergantung kondisi topografi dengan kemiringan over all sebesar 45o. Lereng pada bagian
side wall dirancang sama dengan lereng pada bagian highwall. Jumlah lereng tunggal pun
bervariasi tergantung kondisi topografi dilokasi side wall. Sedangkan untuk SR, perusahaan
merekomendasikan untuk menggunakan SR maksimal 3.

3. Data pemboran eksplorasi

Data hasil pemboran yang telah dilakukan oleh perusahaan dengan jumlah lubang bor
sebanyak 36 titik. Data pemboran terdiri dari koordinat titik bor, elevasi titik bor, total
kedalaman bor, elevasi roof dan floor batubara, ketebalan batubara. Data – data tersebut
digunakan sebagai data untuk memodelkan batubara yang ada dilokasi penelitian.

Sedangkan tahapan secara umum untuk menghitung cadangan adalah :

a. Meng-import data koordinat topografi.

b. Meng-import data lubang bor

c. Membuat permodelan endapan batubara.

d. Membuat cropline serta kontur struktur seam.

e. Membuat batasan daerah yang akan ditaksir sumberdayanya.


f. Membuat desain pit yang akan digunakan sebagai batas bawah dalam perhitungan
cadangan dan topografi sebagai batas atasnya.

Analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain memplot data hasil pemboran,
memodelkan endapan batubara, menghitung volume batubara dan overburden pada daerah
penelitian, menentukan pit limit berdasarkan stripping ratio, Pembuatan desain pit
berdasarkan rekomendasi perusahaan, dan melakukan perhitungan cadangan pada desain pit
yang telah diolah.
BAB 3
PENGOLAHAN DATA

Dari hasil permodelan batubara yang telah dilakukan diketahui daerah penelitian memiliki
seam batubara yang beragam dengan ketebalan yang berbeda- beda dan tersebar dari arah
timur laut menuju barat daya dengan arah sebaran N 280° E dan kemiringan 35°. Dari hasil
section dapat kita lihat seam yang paling tebal adalah seam G yang memiliki 2 subseam,
subseam GL serta subseam GU dan seam O yang memiliki 5 subseam, subseam OL1L,
subseam OL1U, subseam OL2, subseam OU1, subseam OU2.

Gambar 3. Section Seam Batubara


Adapun proses pembuatan pit limit didasari dari seam O, caranya dengan menghitung
lingkup daerah seam O yang memiliki SR maksimal 3, sehingga terbentuklah pit limit SR 3.
Seperti yang terlihat dihasil pit limit SR 3 memiliki warna yang beragam, warna merah
mewakilkan daerah yang SR nya melebihi 3, sedangkan warna lainnya mewakilkan daerah
yang memiliki SR kurang dari sama dengan 3.

Pembuatan desain pit pun diprioritaskan kepada seam O yang telah diketahui pit limit SR 3
nya dengan ketentuan dari perusahaan yaitu SR maksimal desain pit adalah 3 dengan bench
setinggi 10 m dan lebar 5 m. Untuk slope perusahaan menyarankan pada daerah high wall
menggunakan overall slope 45° dengan single slope 60°, sedangkan untuk daerah low wall
dirancang menggunakan kemiringan yang sama dengan kemiringan batubara yang ada pada
daerah penelitian dan untuk side wall dirancang sama dengan kemiringan lereng yang ada
pada high wall. Adapun elevasi terendah pada pit yang didesain terletak pada elevasi -89.
Desain pit itu sendiri nantinya akan digunakan untuk menghitung cadangan yang ada pada
daerah penelitian.
Perhitungan cadangan batubara dilakukan dengan cara mengoverlay peta topografi yang ada
dengan desain final pit yang sudah diolah sebelumnya. Overlay yang dilakukan akan
membentuk suatu perpotongan antara peta topografi dengan desain final pit yang berbentuk
garis poligon. Garis tersebut akan digunakan sebagai salah satu elemen dalam perhitungan
cadangan. Topografi dan desain final pit kemudian dibuat bentuk 3 dimensinya yang juga
digunakan sebagai batas dalam perhitungan cadangan.

Tabel 1. Perhitungan Cadangan Batubara pada pit yang telah dirancang

No Seam Subseam Cadangan (Ton)

1 G GL 78.206,34
2 GU 13.960,98
3 H HL1L 16,72
4 HL1U 137,21
5 HL2L 12,59
6 HL2U 32,11
7 HU1 1.895,50
8 HU2 569,87
9 I IL 34.709,07
10 IU 45.128,17
11 K K 75.093,74
12 L LL 107.914,15
13 LU1 169.170,32
14 LU2L 5.903,11
15 LU2U 7.085,44
16 M MU1 248,34
17 O OL1L 41.451,37
18 OL1U 177.936,52
19 OL2 53.697,46
20 OU1 1.344.890,13
21 OU2 632.815,77
Total Cadangan 2.790.874,91
Gambar 4. Pit Limit Seam O Berdasarkan SR 3

Gambar 5. Desain Final Pit.


Dari desain pit didapatkan jumlah overburden sebesar 6.513.883,34 BCM dan jumlah
cadangan batubara sebesar 2.790.874,91 Ton sehingga SR dari pit yang dirancang adalah
sebesar 2,4.
BAB 4
PENUTUP

Kesimpulan yang dapat diambil adalah :


1. Dari permodelan batubara yang telah dihasilkan, terdapat 8 seam batubara yang
memungkinkan untuk ditambang yaitu seam F, seam G, seam H, seam I, seam K, seam
L, seam M dan seam O. Dimana penyebarannya dimulai dari timur laut menuju barat
daya dengan kemiringan 35°.

2. Desain pit menggunakan geometri lereng dengan single slope untuk high wall 600 dan

overall slope untuk high wall antara 450 sedangkan untuk low wall mengikuti
kemiringan batubara berdasarkan dari rekomendasi perusahaan yaitu 30°.
3. Area yang direncanakan akan dibuat pit untuk dilakukan penambangan dengan SR 3
adalah seam O.
4. Dari hasil desain final pit yang telah dilakukan perhitungan dengan menggunakan
software didapatkan jumlah overburden sebesar 6.513.883,34 BCM dan jumlah
cadangan batubara sebesar 2.790.874,91 Ton dengan stripping ratio 2,4:1.