Anda di halaman 1dari 3

TKI dan Harga Diri Bangsa

Sabtu, 21 Februari 2015 14:42

Oleh Paul Budi Kleden, SVD


Tinggal di Roma, Italia

PRESIDEN Jokowi memang akrab dengan dunia para tenaga kerja Indonesia di luar negeri
(TKI). Pemilihannya mendapat perhatian dan diminati para TKI secara mencolok. Insiden di
Hongkong akibat protes para pemilih yang merasa tidak terakomodasi hak pilihnya memberi
catatan tersendiri mengenai peran politis para TKI dalam proses pemilihan presiden. Dan tidak
lama setelah dilantik, Presiden Jokowi membuat telekonferensi atau e-blusukan dengan para
TKI di sejumlah negara.

Dalam pertemuan dengan para warga Indonesia di Seoul dalam kunjungannya ke Korea,
Jokowi menyatakan tekatnya untuk mengurangi jumlah pengiriman TKI. Dan pada hari Jumad,
13 Februari yang lalu, pada kesempatan memberikan sambutan pada Munas II Partai Hanura
di Jojgakarta, Jokowi mengumumkan rencana pemerintahannya untuk menghentikan
pengiriman TKI, khususnya para pembantu rumah tangga (PRT) ke luar negeri.

Jokowi tidak mengaitkan kehendaknya ini dengan isu perdagangan manusia yang semakin
menggila dewasa ini. Yang menjadi pertimbangan utamanya adalah soal harga diri bangsa.
Menurut logika presiden, mengirimkan para pembantu rumah tangga ke luar negeri adalah
tindakan yang merendahkan martabat bangsa Indonesia. Agar martabat bangsa tetap tinggi atau
kembali ditinggikan, pemerintah mesti menghentikan pengiriman para pembantu rumah tangga
ke luar negeri.

Kehendak pemerintah dan argumen utamanya dapat dipertanyakan karena beberapa alasan.
Pertama, soal kemerdekaan mencari kerja. Setiap orang mempunyai hak untuk mencari dan
menjalankan pekerjaan yang dikehendakinya, selama pekerjaan tersebut, berdasarkan
keputusan dapat dimengerti dan sah dari pemerintah, tidak dikategorikan sebagai pekerjaan
terlarang. Pekerjaan-pekerjaan yang dilarang dinilai sebagai tindakan kriminal dan tidak etis.
Misalnya, pekerjaan sebagai pengedar narkoba adalah terlarang karena membahayakan hidup
banyak orang. Di negara tertentu, karena pertimbangan etis, memperkerjakan diri untuk
memuaskan nafsu seksual para pelanggan merupakan hal yang dilarang. Pekerjaan membantu
rumah tangga orang lain tentu bukanlah pekerjaan yang kriminal dan tidak etis. Karena itu,
tidak ada alasan untuk melarang orang melakukan pekerjaan tersebut.

Presiden Jokowi memang tidak berbicara secara langsung tentang pelarangan. Dia berbicara
mengenai penghentian pengiriman para PRT ke luar negeri. Penghentian dapat dilakukan
dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan memperbaiki kondisi ekonomi dalam negeri
sedemikian, sehingga tidak ada lagi warga yang merasa perlu ke luar negeri untuk mencari
pekerjaan sebagai PRT. Langkah ini mengandaikan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik.
Cara yang lain untuk menghentikan adalah dengan melakukan pelarangan.

Tampaknya, langkah pertama memang menjadi pilihan Presiden, namun tidak tertutup
kemungkinan langkah ini akan digandengkan dengan pelarangan. Sebab, juga apabila kondisi
ekonomi bangsa sudah sangat baik, tidak tertutup kemungkinan bahwa ada orang tetap bertekad
mau mencari kerja sebagai PRT di luar negeri. Pemerintah yang memandang ini sebagai
pencorengan harga diri bangsa, akan mengambil langkah pelarangan. Dan jika sampai PRT
dilarang ke luar negeri, maka hal ini sungguh bermasalah karena mengerangkeng kebebasan
orang untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan yang halal.

Alasan kedua adalah kebebasan untuk mencari dan menjalankan pekerjaan di tempat yang
dipilih. Kebebasan bergerak, termasuk untuk mendapatkan dan menjalankan pekerjaan, adalah
hak setiap orang. Jika seorang warga dapat membuktikan bahwa ada pekerjaan yang didapatnya
di satu negara lain, maka negara asalnya tidak mempunyai hak untuk melarangnya selama
pekerjaan tersebut tidak merupakan sesuatu yang terlarang. Umumnya, selama tidak ada
persoalan dari negara penerima, negara asal dinilai membatasi kebebasan warganya jika
melarang warga ke luar negeri untuk bekerja. Namun, satu negara dapat mencegah perjalanan
warganya keluar negeri jika ada informasi yang cukup meyakinkan bahwa warganya akan
diperlakukan secara tidak manusiawi. Para PRT umumnya mempunyai jaminan bahwa ada
pihak yang akan mempekerjakan mereka. Maka, tidak ada alasan untuk melarang TKI yang
menjadi PRT.

Alasan ketiga labelisasi dan tuduhan ke alamat para PRT sebagai penyebab rendahnya harga
diri bangsa. Labelisasi ini bertolak dari pandangan yang merendahkan PRT. Menurut anggapan
ini, karena pekerjaan membantu rumah tangga orang lain adalah sesuatu yang rendah, maka
melakukan pekerjaan tersebut di luar negeri adalah sesuatu yang merendahkan martabat
bangsa. Namun, mengapa pekerjaan ini dianggap rendah? Sangat boleh jadi, anggapan ini
muncul karena tidak diperlukan keahlian khusus untuk melakukan pekerjaan ini. Menurut
konsep ini, semakin banyak syarat yang dituntut untuk melakukan satu pekerjaan, semakin
tinggi nilai pekerjaan tersebut. Namun, pandangan ini mengabaikan kegunaan satu pekerjaan
dan hanya membatasi diri pada syarat pendidikan formal yang dibutuhkan untuk melakukan
satu pekerjaan. Syarat lain seperti kejujuran, ketelatenan dan disiplin diri diabaikan karena
yang lebih dipentingkan adalah pendidikan. Sebab itu, pandangan yang merendahkan para PRT
dan menganggap mereka sebagai biang rendahnya harga diri bangsa di mata dunia
internasional, lahir dari pandangan yang sempit tentang pekerjaan dan nilainya.

Alasan keempat adalah soal inkonsistensi. Jika menurut logika Presiden Jokowi, pekerjaan
sebagai PRT merendahkan martabat bangsa, maka seharusnya yang dihentikan dan dilarang
bukan hanya pengiriman mereka ke luar negeri, melainkan juga di dalam negeri. Bila benar
anggapan bahwa pekerjaan membantu rumah tangga orang lain adalah sesuatu yang tidak
pantas bagi warga negara Indonesia, maka pemerintah harus berusaha untuk menghentikan arus
pencarian jenis pekerjaan ini, juga di dalam negeri. Dan bila mau melarangnya, maka mesti
juga memaklumkan PRT sebagai jenis pekerjaan yang tidak sah di Indonesia.

Konsekuensinya, mempekerjakan mereka adalah tindakan melawan hukum. Dapat


dibayangkan, jika Presiden melakukan hal ini, akan muncul berbagai demonstrasi, terutama
dari para ibu rumah tangga para elit, tidak terkecuali istri Presiden sendiri.
Tekad menghentikan atau juga melarang para PRT lebih merupakan sebuah sikap untuk
memoles sesuatu yang dipandang sebagai image tanpa mempertimbangkan secara mendalam
kontribusi konkret dari para PRT itu sendiri. Tindakan ini tidak bedanya seperti melarang para
tukang bejak bekerja di Jakarta, karena dianggap mencoreng martabat bangsa apabila para tamu
dari luar negeri mesti melihat sejumlah warga yang mengayuh sepeda memboceng orang lain
di jalan-jalan ibukota negara. Namun, image ini adalah bayangan yang diciptakan sendiri.
Selama pekerjaan yang dilakukan para warga itu halal, artinya etis dan bukan kriminal,
Presiden atau siapapun tidak perlu merasa harga dirinya dan martabat diri bangsa sedang
tercemar.
Yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan para TKI terutama PRT bukanlah menghentikan
atu melarang pengiriman mereka. Kasus-kasus kekerasan dan perdagangan manusia harus
dihadapi dengan perangkat hukum yang jelas dan keseriusan penerapannya. Para PRT memang
harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, baik untuk melaksanakan
tugasnya di dalam maupun di luar negeri, maupun untuk mengetahui apa yang menjadi haknya
sebagai pekerja.

Selain itu, pemerintah pun perlu membuka dan mengakui, bahwa para TKI, termasuk para PRT,
telah membantu mengangkat harga diri dan martabat jutaan anak bangsa. Pendapatan yang
mereka kirimkan kepada keluarga mereka adalah modal utama bagi pendidikan bagi anak atau
saudara-saudari mereka. Sebab itu, mereka tidak pantas dipandang sebagai kelompok orang
yang merendahkan martabat bangsa. *