Anda di halaman 1dari 10

Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)

Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

PENGAMATAN PERILAKU CACING TANAH (Lumbricus sp.)


Nadia Fairuz Aprilia (10615038)

ABSTRAK

Taksis adalah pergerakan seluruh anggota tubuh yang dikendalikan oleh stimulus. Stimulus dapat berupa
perubahan suhu, senyawa kimia, mekanik, cahaya dan pergerakan atau arus air. Pada praktikum kali ini,
akan dilakukan percobaan mengenai taksis dari cacing tanah (Lumbricus terrestis) terhadap beberapa jenis
stimulus. Metode Binomial test digunakan untuk menganalisis data respon cacing tanah terhadap getaran,
sinyal stress (senyawa kimia garam) dan respon cacing terhadap preferensi habitatnya. Chi-Square test
digunakan untuk menguji respon cacing tanah terhadap sentuhan dengan benda tumpul dan benda tajam,
lalu Kolmogorov-Smirnof test untuk melihat adanya perbedaan pada latensi perilaku cacing. Cacing tanah
memiliki bentuk morfologi yang bersegmen – segmen, memiliki klitelum, mulut pada bagian anterior, dan
anus pada bagian posterior. Bagian dorsal berwarna lebih gelap dibandingkan dengan bagian ventral.
Sentuhan cotton bud dan jarum jara memberikan respon berupa escape response yaitu menjauh dari
stimulus tersebut dan bagian yang paling merespon adalah anterior. Ketika disentuhkan garam cacing
mengeluarkan lendir untuk berkomunikasi memberikan sinyal bahaya kepada cacing lain. Cacing tanah
merespon stimulus getaran atau mekanotaksis dengan keluar dari tanah atau menjauhi getaran. Sehingga
respon cacing terhadap stimulus-stimulus tersebut disebut perilaku yang berfungsi untuk bertahan hidup
dari bahaya dengan menghindari sumber bahaya tersebut.
Kata-kata kunci: Stimulus, Cacing tanah, Respon

I. PENDAHULUAN
Taksis merupakan pergerakan suatu organisme sebagai respon terhadap adanya
stimulus dari luar (eksternal) yang mengenainya secara langsung. Pergerakan organisme
ini dapat berlangsung ke arah stimulus (respon positif); berupa respon menjauhi arah
stimulus (respon negatif) maupun bergerak ke arah tertentu dari stimulus. Terdapat
beberapa macam taksis. Pertama adalah termotaksis, yaitu respons terhadap stimulus
suhu. Kemotaksis yaitu respons terhadap stimulus senyawa-senyawa kimia. Kemudian
mekanotaksis yaitu respons terhadap stimulus gerakan. Fototaksis yaitu respons terhadap
stimulus cahaya dan rheotaksis merupakan respon terhadap stimulus pergerakan atau arus
air (Russel et al., 2011). Pada praktikum kali ini, akan dilakukan percobaan mengenai
taksis dari cacing tanah terhadap beberapa jenis stimulus, yaitu sentuhan, getaran, dan
senyawa kimia. Cacing tanah (Lumbricus sp.) merupakan hewan invertebrata yang
memiliki peran penting dalam menyuburkan tanah, meningkatkan daya serap air
permukaan dan memperbaiki struktur tanah sehingga sering dimanfaatkan dalam bidang
pertanian. Cacing tanah berasal dari kelas Oligochaeta, family Lumbricidae dengan nama
spesies Lumbricus terrestis. Berdasarkan Subowo (2002) anatomi cacing tanah adalah
mulut yang diselubungi oleh prostomium, faring untuk menelan makanan, esophagus
menghubungkan faring dengan tembolok, tembolok untuk menyimpan cadangan

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 1
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

makanan, ampela untuk menggiling makanan, kelenjar untuk menetralkan makanan yang
bersifat asam dan usus untuk menyerap sari-sari makanan. Cacing tanah sangat sensitif
terhadap senyawa kimia, sentuhan dan cahaya, dan reaksi menghindar pada kondisi yang
tidak cocok. Cacing tanah memiliki organ sensorik yang berkembang baik dan memiliki
struktur sederhana. Struktur organ tersebut terdiri dari sel tunggal atau kelompok yang
khusus terdapat pada sel ektodermal. Terdapat 3 tipe organ sensorik pada cacing tanah,
yaitu reseptor epidermal, reseptor buccal yang terdapat pada rongga mulut dan reseptor
cahaya. Reseptor epidermal dan reseptor buccal merupakan organ yang merespon
stimulus kimiawi. Reseptor epidermal terdistribusi pada bagian epidermis, terutama pada
sisi lateral dan pemukaan ventral tubuh. Sedangkan reseptor buccal terletak dirongga
mulut, organ ini berfungsi untuk merespon stimulus kimia yang berasal dari makanan
(Lee, 1985). Cairan mucus pada cacing tanah berfungsi sebagai sarana komunikasi cacing
tanah, misalnya digunakan untuk menunjukkan suatu tempat dan berperan ketika cacing
tanah mencari pasangan untuk melakukan proses reproduksi. Alat komunikasi lain dari
cacing tanah adalah cairan selom yang dihasilkan oleh korpuskula selom. Cairan selom
bersifat alkaline, tidak berwarna, mengandung air, garam, dan beberapa protein. Diduga
cairan selom ini dihasilkan oleh sel kloragogen yang berfungsi mengekskresikan produk
dari cairan selom. Senyawa kimia ini berfungsi sebagai alat komunikasi dan dapat
bertahan aktif pada suatu tempat dalam waktu yang lama. Selain itu, sifat dari senyawa
tersebut sangat spesifik dan karena setiap cacing memiliki kemoreseptor yang sangat
sensitif, maka senyawa tersebut dapat dideteksi oleh cacing tanah jenis lain dengan mudah
(Susilowati, 2007). Tujuan dari praktikum kali ini antara lain adalah mendeskripsikan
pola pergerakan cacing, mengidentifikasi respon cacing tanah akibat stimulus berupa
sentuhan, mengidentifikasi respon cacing tanah terhadap getaran, mengidentifikasi
respon cacing tanah akibat stimulus berupa senyawa kimia yang juga merupakan suatu
sinyal stress dari hewan tersebut, dan mengidentifikasi pemilihan tipe habitat dari cacing
tanah.

II. METODE
II.1. Pengamatan Morfologi Cacing Tanah
Cacing tanah diletakkan pada cawan petri lalu diamati dibawah mikroskop stereo.
Kemudian morfologi dari cacing tanah dideskripsikan dan digambar.

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 2
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

II.2. Pengamatan Respon Cacing Tanah Terhadap Sentuhan


Cacing tanah ditempatkan pada cawan petri. Cacing tanah diberi stimulasi pada
tubuh cacing dengan menyentuh bagian anterior, posterior dan klitelum dengan
menggunakan cotton bud. Respon dari cacing tanah dicatat. Percobaan diulangi kembali
dengan mengganti cotton bud dengan jarum jara. Percobaan dilakukan pada 3 individu
cacing yang berbeda. Respon cacing dicatat (1 untuk merespon, dan 0 untuk tidak
merespon).
II.3. Pengamatan Respon Cacing Tanah Terhadap Getaran
Satu ekor cacing dimasukkan ke dalam botol ukuran 1,5L yang telah diisi oleh tanah
setinggi 5 cm, kemudian ditutup dengan tanah hingga 10 cm. Berikutnya, botol diletakkan
di atas tangan. Botol diketuk-ketuk dengan tangan hingga menimbulkan getaran. Respon
yang terjadi diamati (latensi) cacing terhadap getaran, batas waktu pengamatan adalah 2
menit. Apabila cacing muncul ke permukaan maka respon bernilai 1, sementara apabila
cacing tidak muncul ke permukaan, maka respon bernilai 0. Pengamatan dilakukan
sebanyak 3 kali ulangan pada tiap individu cacing. Ruangan dikondisikan dalam keadaan
gelap.
II.4. Pengamatan Respon Cacing Tanah Terhadap Sinyal Stress
Satu ekor cacing dimasukkan ke cawan petri dan diberikan sentuhan cotton bud yang
telah diberi larutan garam di bagian anteriornya sampai cacing mengeluarkan lendir.
Cacing 1 dipindahkan keluar dan dimasukkan cacing 2 ke cawan petri yang terdapat lendir
cacing 1. Dicatat respon dan latensi hingga mendekati/menjauhi sumber senyawa kimia
(batas waktu pengamatan 2 menit). Dilakukan pengulangan 3 kali dengan menggunakan
rangkaian di atas (cacing 2-cacing 3 ; cacing 3-cacing 4).
II.5. Pengamatan Preferensi Habitat Cacing Tanah
Cawan petri dibagi menjadi 2 bagian menggunakan marker lalu ditandai bagian
kontrol dan zat (larutan garam). Tanah pada bagian zat disemprot 2 kali dengan larutan
garam yang sudah tersedia dan didiamkan 10 menit untuk mengering. Kemudian air
disemprotkan ke bagian sebelah cawan petri yang lain (kontrol). Satu ekor cacing yang
sudah disediakan diletakan di bagian tengah cawan petri. Diamati respon dan latensi
cacing mendekati/menjauhi rangsang selama 2 menit. Apabila cacing menjauhi zat yang
didedahkan menuju daerah kontrol, maka nilai respon adalah 1. Sementara apabila cacing
tetap berada di daerah rangsang atau tidak melakukan pergerakan selama 2 menit, maka

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 3
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

NA. Jika cacing mendekati zat yang didedahkan nilainya adalah 0. Lakukan pengulangan
sebanyak 3 kali pada individu yang sama dan juga pengulangan menggunakan 3 individu
berbeda.
II.6. Analisis Data
Binomial test digunakan untuk menguji respon cacing tanah terhadap getaran, sinyal
stress (senyawa kimia) dan respon cacing terhadap preferensi habitatnya. Kemudian Chi-
Square test digunakan untuk menguji respon cacing tanah terhadap sentuhan, untuk
melihat hubungan antara respon cacing tanah dengan bagian tubuh yang disentuh, melihat
hubungan antara respon cacing tanah dengan alat yang digunakan dan hubungan antara
respon cacing tanah dengan alat yang digunakan pada bagian tubuh anterior, klitelium
dan posterior dari cacing tanah. Terakhir digunakan Kolmogorov-Smirnof test untuk
melihat adanya perbedaan pada latensi perilaku cacing menjauhi stimulus sinyal stress
dan pergerakan cacing untuk mencapai permukaan (ketika mekanotaksis).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


III.1. Pengamatan Morfologi Cacing Tanah

Hasil Pengamatan Literatur

Gambar 3.1 Morfologi Cacing


(Dokumentasi Pribadi, 2018) Gambar 3.2 Morfologi Cacing Literatur
(Edwards, 1996)
Tabel 3.1.1 perbandingan pengamatan morfologi cacing tanah hasil pengamatan dan hasil literatur
Pada tabel 3.1.1 menunjukan bagian morfologi cacing tanah hasil pengamatan dan
hasil literatur. Dari hasil pengamatan bagian morfologi cacing yang dapat diamati adalah
prostomium yang berada di bagian anterior, klitelum, seta, anus yang berada pada bagian

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 4
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

posterior. Berdasarkan hasil literatur terdapat bagian prostomium, klitelum, seta dan anus,
sehingga pengamatan morfologi hasil pengamatan sesuai dengan morfologi cacing hasil
literatur (Edward & Lofty, 1977).

III.2. Respon Terhadap Sentuhan


Data hasil percobaan dari respon cacing tanah terhadap sentuhan dari benda tumpul
(cotton bud) dan benda tajam (jarum jara) dapat dilihat pada grafik berikut:
160
140
Jumlah Individu

120
100
80
60
40
20
0
Respon Tidak Respon Tidak
Respon Respon
cotton bud jarum jara

Anterior Klitelum Posterior

Gambar 3.3 Respon Cacing Tanah Terhadap Stimlus Sentuhan Benda Tumpul dan Benda
Tajam.

Dari gambar 3.3 dapat dilihat bahwa jumlah cacing yang merespon lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah cacing yang tidak merespon baik pada pemberian stimulus
benda tumpul maupun benda tajam. Selain itu respon terhadap sentuhan dianalisis
menggunakan Chi-Square test dengan 2 variabel bebas (bagian tubuh dan jenis alat) dan
1 variabel terikat (respon cacing tanah) dengan H0 tidak terdapat hubungan signifikan
antar variabel dan H1 menunjukkan terdapat hubungan signifikan antar variabel. Pada
hasil analisis didapat P-value<0,05 maka terdapat hubungan antara respon cacing tanah
dengan bagian tubuh yang disentuh dan terdapat hubungan antara respon cacing tanah
dengan alat yang digunakan. Pada analisis hubungan respon cacing tanah dengan cotton
bud dan jarum jara yang disentuhkan pada bagian bagian tubuh tertentu hanya bagian
anterior yang terdapat hubungan respon dengan alat yang digunakan, sedangkan pada
bagian klitelum dan posterior tidak terdapat hubungan antara respon cacing tanah dengan
alat yang digunakan pada bagian tersebut karena P-value yang didapat lebih besar dari
0,05. Hal ini sesuai dengan literatur, bagian anterior cacing merupakan bagian paling
sensitif terhadap stimulus dibanding bagian lainnya. Hal ini karena adanya reseptor

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 5
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

buccal yang terdapat pada bagian mulut yang diselubungi oleh prostomium. Prostomium
memiliki banyak syaraf sensori (Susilowati dan Rahayu, 2007). Reseptor yang terdapat
di bagian posterior dan klitelum adalah reseptor epidermal yang terdistribusi besar pada
bagian sisi lateral dan permukaan ventral tubuh (Koptal et al., 1980).

III.3. Mekanotaksis
Data hasil percobaan dari respon cacing tanah terhadap getaran (mekanotaksis) dapat
dilihat pada grafik berikut:

22%

78%

Muncul ke Permukaan Tetap di Dalam

Gambar 3.4 Mekanotaksis pada Cacing Gambar 3.5 Boxplot Latensi Mekanotaksis pada
Tanah. Cacing Tanah.

Merujuk pada gambar 3.4 dapat dilihat bahwa jumlah presentase cacaing tanah yang
tidak merespon terhadap adanya getaran yang timbul adalah lebih banyak daripada cacing
yang menuju ke permukaan. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyebutkan
bahwa cacing tanah merespon getaran tersebut sebagai suatu stimulus yang dianggap
getaran dari turunnya air hujan ataupun gempa, sehingga ketika ada hal tersebut cacing-
cacing akan merespon dengan cara keluar dari permukaan tanah (Lee, 1985).
Kemungkinan cacing yang digunakan untuk percobaan mekanotaksis telah digunakan
untuk perlakuan lainnya sehingga cacing sudah melakukan adaptasi. Respon cacing tanah
terhadap mekanotaksis dianalisis juga menggunakan Binomial test dengan H0 cacing
tanah merespon mekanotaksis dan H1 cacing tanah tidak merespon mekanotaksis. Pada
hasil analisis didapat P-value>0,05 maka tidak cukup bukti untuk menyatakan bahwa
cacing tanah menunjukkan respon mekanotaksis berupa menjauhi terhadap getaran.
Dapat dilihat pada gambar 3.5 boxplot yang didapat dari latensi cacing tanah menjauhi
tanah dengan kandungan garam, menyatakan bahwa data tersebar, tidak ada pencilan atas

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 6
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

maupun bawah dan standar deviasinya kecil. Batas waktu pengamatan adalan 3 menit
kemudian dilakukan analisis menggunakan Kolmogorov-Smirnov test dengan hasil tidak
terdapat perbedaan latensi perilaku cacing tanah untuk menjauhi sumber getaran pada
tanah dan latensi perilaku cacing terdistribusi normal.

III.4. Respon Cacing Tanah Terhadap Sinyal Stress


Data hasil percobaan dari respon cacing tanah terhadap garam yang (perlakuan) dapat
dilihat pada grafik berikut:

7%

93%

Respon terhadap Stimulus


Tidak ada respon

Gambar 3.7 Boxplot Latensi Terhadap Sinyal


Gambar 3.6 Respon Terhadap Sinyal
Stress (garam) pada Cacing Tanah.
Stress (garam) pada Cacing Tanah.

Dari gambar 3.6 menunjukkan bahwa cacing cenderung menghindar dari cacing tanah
lain yang mengeluarkan lendir pada tubuhnya. Pengeluaran lendir ini merupakan salah
satu komunikasi dari cacing tanah untuk memberikan sinyal bahaya pada cacing tanah
lainnya. Cairan selom dihasilkan korpuskula selom yang didistribusikan oleh sel-sel
kloragogen. Ketika larutan garam disentuhkan ke bagian anterior cacing menggunakan
cotton bud menjadi stimulus yang ditangkap oleh reseptor epidermal sebagai suatu bentuk
ancaman, sehingga sel kloragogen dengan cepat mendistribusikan cairan selom untuk
melindungi permukaan tubuh. Ketika cairan selom dikeluarkan dari tubuh cacing tanah,
cairan ini berfungsi sebagai penanda adanya bahaya. Cairan ini dapat bertahan aktif pada
suatu tempat dalam waktu yang lama, sehingga semua jenis cacing dapat mendeteksi
adanya bahaya dari senyawa aktif di tempat tersebut. Cacing memiliki kemoreseptor yang
sangat sensitif di seluruh permukaan tubuhnya (Agustinus, 2009). Batas waktu
pengamatan adalah 2 menit kemudian dilakukan analisis menggunakan Kolmogorov-

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 7
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

Smirnov test dengan hasil terdapat perbedaan latensi perilaku cacing tanah untuk
merespon stimulus tanda bahaya. Dapat dilihat pada gambar 3.5 boxplot yang didapat
menyatakan bahwa data latensi perilaku tidak terdistribusi normal, terdapat pencilan dan
standar deviasinya besar.

III.5. Preferensi Habitat


Data hasil percobaan dari respon cacing tanah terhadap garam pada tanah (perlakuan)
dapat dilihat pada grafik berikut:

26%
Kelompok
Perlakuan
Kelompok Kontrol

74%

Gambar 3.8 Respon Cacing Tanah Terhadap Habitat yang Terdapat Garam.

Hasil percobaan pada gambar 3.8 menunjukkan hasil yang sesuai dengan literatur,
yakni presentase cacing mendekati wilayah kontrol (tanpa garam) lebih besar
dibandingkan menghampiri tanah bergaram. Selain itu, respon cacing tanah terhadap
habitat dengan garam dianalisis menggunakan Binomial test dengan H0 cacing tanah
bergerak ke tanah yang tidak mengandung garam dan H1 cacing tanah bergerak ke tanah
yang mengandung garam. Pada hasil analisis didapat P-value>0,05 maka cacing tanah
memiliki preferensi untuk hidup di tanah yang tidak mengandung garam. Garam
merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kehidupan cacing tanah pada
habitatnya. Salinitas tanah merupakan dampak kadar garam di dalam tanah. Cacing tanah
sangat sensitif terhadap stress garam. Garam merupakan ion yang kuat. Sedangkan cacing
tanah tidak mampu mentoleransi ion kuat tersebut. Kadar garam yang tinggi mampu
merusak kulit sensitif cacing. Cacing tidak mampu mengendalikan regulasi osmosis yang
terjadi. Neurosekretori yang memproduksi lendir untuk kulit cacing akan rusak jika
terkena garam dengan kadar yang tinggi. Selain garam, pemilihan habitat oleh cacing

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 8
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

tanah juga melihat faktor-faktor seperti kondisi lingkungan, ketersediaan bahan organik,
suhu, kelembapan, kadar air, tekstur tanah, dan juga derajat keasaman tanah. Pada
dasarnya, cacing tanah akan menghindari habitat yang tercemar oleh senyawa-senyawa
kimia (Rankin, 2004).

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan kesimpulan bahwa cacing tanah memiliki
pola pergerakan taksis yang dipengaruhi oleh arah datangnya stimulasi. Cacing tanah
memiliki respon terhadap stimulus sentuhan berupa escape response, yakni menjauh dari
stimulus tersebut. Respon cacing tanah terhadap stimulus tekanan atau mekanotaksis
adalah keluar dari tanah atau menjauhi sumber getaran. Komunikasi yang terjadi pada
cacing tanah dapat berupa sinyal kimiawi dengan disekresikannya lendir pada tubuh
cacing tanah. Pemilihan habitat cacing tanah erat kaitannya dengan kondisi lingkungan
seperti, bahan organik, suhu, kelembaban, kadar air, tekstur tanah, dan pH

DAFTAR PUSTAKA
Agustinus, M. 2009. Tingkah Laku Cacing Tanah.
(http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/27/tingkah-laku-cacing- tanah/). Diakses
tanggal 8 Februari 2018 pukul 21.43 WIB.
Edwards, C.A. and P.J. Boblen 1996. Biology and Ecology of Earthworms 3rd
edition.Chapman and Hail, London, UK.
Edward, C.A & J.R. Lofty. 1977. Biology of Earthworm. London. Chapman and Hall.
pp. 77- 221.
Lee, K. E. 1985. Earthworms Their Ecology and Relationshipps With Soils and Land Ise.
Rankin, C.H. 2004. Invertebrate Learning: What Can’t a Worm Learn?. Current
Biology. Elsevier. Vol.14 : 617 – 618.
Russel, Peter, Hertz, Paul, Beverly. 2011. Biology : The Dynamic Science. McMillan :
Cengage Learning.
Subowo, G. 2002. Pemanfaatan Cacing Tanah (Pheretima hupiensis) Untuk
Meningkatkan Produktivitas Ultisols Lahan Kering. Disertasi. Program Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 9
Mata Kuliah Biologi Perilaku (BI-3201)
Semester Genap, Tahun Ajaran 2017-2018

Susilowati, Rahayu Sofia Ery. 2007. Petunjuk Kegiatan Praktikum Tingkah Laku
Hewan. Malang: FMIPA UM
Koptal, K.L., dkk. 1980. Modern Textbook of Zoology Invertebrates. India: Rastogi
Publications.

Praktikum Biologi Perilaku


Modul I - Cacing 10