Anda di halaman 1dari 51

PENETAPAN RESIDU DIFENOCONAZOLE PADA

PRODUK CURACRON 500EC DENGAN MENGGUNAKAN


KROMATOGRAFI GAS DI LABORATORIUM
PT. SYNGENTA INDONESIA GUNUNG PUTRI

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Diajukan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan


Matakuliah Praktik Kerja Lapangan (PKL)

Disusun oleh :

TESHYA DAMAYANTI
NIM : 15612157

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan Praktek Kerja
Lapangan di PT. SYNGENTA INDONESIA Gunung Putri Bogor dan dapat
menyusun laporan Praktek Kerja Lapangan yang berlangsung selama satu bulan,
periode 22 Januari hingga 15 Februari 2018.

Program Praktek Kerja Lapangan ini merupakan salah satu tugas kuliah
yang harus ditempuh untuk menyelesaikan program Strata-1 (S1) di Program
Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam, Universitas Islam
Indonesia, Yogyakarta. Laporan ini disusun berdasarkan hasil analisis yang
dilakukan oleh penulis selama melakukan analisis sampel produk pestisida pada
tanggal 05 Februari 2018 – 14 Februari 2018 di Laboratorium PT. SYNGENTA
INDONESIA Gunung Putri Bogor.

Tersusunnya laporan Praktek Kerja Lapangan ini tidak lepas dari


dukungan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Allah SWT atas izinnya penulis diberikan kesehatan dan kelancaran dalam
menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan ini.
2. Ibu Nita Herlina selaku Kepala Laboratorium PT. Syngenta Gunung Putri.
3. Bapak Luki Wahyudi selaku pembimbing Praktik Kerja Lapangan di
Laboratorium PT. Syngenta Gunung Putri atas penjelasan, bimbingan,
bantuan dan kesabarannya dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan
serta dalam penyusunan laporan.
4. Bapak Muhidin, Bapak Mulyana serta Bapak Reza selaku pembimbing
laboratorium yang telah memandu dan memberikan pengarahan dalam
analisis di laboratorium.
5. Serta semua pihak lainya yang tidak bisa dituliskan penulis satu per satu
yang telah membantu selama pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan di PT.
Syngenta Indonesia Gunung Putri.

ii
6. Ibu Dr. Is Fatimah M.Si, selaku Ketua Program Studi Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Indonesia.
7. Bapak Prof. Riyanto, Ph.D selaku dosen pembimbing Praktek Kerja
Lapangan, atas bimbingan, arahan, motivasi dan dukungannya.
8. Kedua orang tua, kakak serta keluarga besar yang senantiasa memberikan
semangat, dukungan, motivasi, dan doanya sehingga dapat melaksanakan
Praktek Kerja Lapangan ini dengan baik.
9. Teman seperjuangan yaitu Listya Wahyu Madyaningrum, terima kasih
atas kerja samanya.
10. Miftakhul Khoirun Annisa yang selalu memberi semangat untuk
mengerjakan laporan.
11. Talitha Widya Utami yang selalu memberi bantuan dalam pengeditan
halaman.
Penulis menyadari bahwa Laporan Praktek Kerja Lapangan ini masih jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari
semua pihak untuk memperbaiki kedepannya. Akhir kata, penulis berharap agar
laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya untuk semua
pembaca.
Bogor, 15 Februari 2018

Penulis

iii
PENETAPAN RESIDU DIFENOCONAZOLE PADA PRODUK
CURACRON 500EC DENGAN MENGGUNAKAN
KROMATOGRAFI GAS DI LABORATORIUM
PT. SYNGENTA INDONESIA GUNUNG PUTRI

TESHYA DAMAYANTI

INTISARI
Telah dilakukan analisis penetapan residu difenoconazole pada produk
CURACRON 500EC dengan menggunakan kromatografi gas di laboratorium PT.
SYNGENTA INDONESIA Gunung Putri. Kromatografi gas dipilih untuk metode
analisis residu pestisida karena kromatografi gas memiliki teknik analisis yang
cepat, dapat menghasilkan batas deteksi yang lebih rendah serta akurat. Analisis
ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi residu difenoconazole yang terdapat
dalam produk CURACRON 500EC karena tangki main process vessel (MPV)
maupun mesin filling line digunakan secara bergantian antar produk CURACRON
500EC dengan SCORE 250EC. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, produk
CURACRON 500EC mengandung residu difenoconazole dengan konsentrasi
sebesar 943,2 ppm. Sesuai dengan hasil analisis data, dapat ditentukan nilai
recovery yang berguna untuk mengetahui adanya kesalahan sistematik. Pada
analisis ini nilai recovery yang didapatkan sebesar 125,0631%. Nilai recovery
tersebut sesuai dengan range yang telah ditetapkan sehingga metode analisis ini
dapat diterapkan di PT. SYNGENTA INDONESIA Gunung Putri.

Kata kunci: Difenoconazole, CURACRON 500EC, Kromatografi gas

iv
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii


INTISARI ............................................................................................................. iv
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar belakang .......................................................................................... 1
1.2 Tujuan penelitian ...................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 3
2.1 Pestisida .................................................................................................... 3
2.1.1 Pengertian pestisida ....................................................................... 3
2.1.2 Formulasi pestisida ........................................................................ 4
2.1.3 Jenis-jenis pestisida.................................................................... 6
2.1.4 Klasifikasi pestisida menurut rumus kimia ................................ 7
2.2 Difenoconazole ........................................................................................ 9
2.2 Kromatografi gas .................................................................................... 10
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 12
3.1 Alat ........................................................................................................ 12
3.2 Bahan ..................................................................................................... 12
3.3 Posedur kerja ......................................................................................... 12
3.3.1 Pembuatan larutan induk ............................................................. 12
3.3.2 Pembuatan larutan 1 (100 ppm)................................................... 12
3.3.3 Pembuatan larutan 2 (larutan standard 20 ppm) .......................... 12
3.3.4 Pembuatan larutan pengotor ........................................................ 13
3.3.5 Pembuatan larutan test (produk dalam produk)........................... 13
3.3.6 Pembuatan larutan spike .............................................................. 13
3.3.7 Penetapan residu difenoconazole dalam CURACRON 500EC... 13
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 14
4.1. Gambaran umum perusahaan ............................................................... 14
4.1.1 Sejarah singkat perusahaan .......................................................... 14
4.1.2 Logo perusahaan .......................................................................... 16

v
4.1.3 Visi dan misi perusahaan ............................................................. 16
4.1.4 Lokasi perusahaan ....................................................................... 16
4.1.5 Struktur organisasi perusahaan .................................................... 17
4.2 Proses produksi produk PT. Syngenta Gunung Putri ............................ 18
4.3 Proses pengolahan limbah PT. Syngenta ............................................... 19
4.3.1 Proses pengolahan limbah cair herbisida..................................... 19
4.3.2 Proses pengolahan limbah cair fungisida dan insektisida ........... 21
4.3.3 Proses pengolahan limbah padat.................................................. 22
4.4 Analisis residu difenoconazole pada produk CURACRON 500EC ...... 23
4.5 Preparasi sampel .................................................................................... 24
4.6 Penetapan residu difenoconazole dalam produk CURACRON 500EC 24
4.7 Hasil analisis dengan kromatografi gas ................................................. 26
BAB V. PENUTUP .............................................................................................. 28
5.2 Kesimpulan ............................................................................................ 28
5.2 Saran ...................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 29
LAMPIRAN ......................................................................................................... 30
Lampiran 1. Kromatogram hasil analisis ..................................................... 30
Lampiran 2. Analisis data ............................................................................ 42

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kategori bisnis PT. Syngenta Indonesia………………………………..15

Table 2. Daerah pemasaran PT. Syngenta Indonesia………………………...…..15

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur molekul difienoconazole…………………………….……...10

Gambar 2. Logo PT. Syngenta Indonesia………………………………………..16

Gambar 3. Proses produksi PT. Syngenta Indonesia…………………………….18

Gambar 4. Proses pengolahan limbah cair herbisida….…………………………21

Gambar 5. Proses pegolahan limbah cair fungisida dan insektisida……………..22

Gambar 6. Proses pengolahan limbah padat……………………………………..23

viii
1

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah salah satu mata kuliah di
Program Studi Ilmu Kimia FMIPA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
dengan beban 2 Satuan Kredit Semester (SKS) yang dilaksanakan oleh
mahasiswa di luar lingkup perguruan tinggi dengan melaksanakan magang di
sebuah instansi tertentu seperti industri, instansi pemerintah, BUMN, lembaga
penelitian, laboratorium, dan institusi pendidikan yang sesuai dengan program
studi kimia.
Praktek Kerja Lapangan merupakan wujud aplikasi terpadu antara
sikap, kemampuan dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa dibangku
kuliah. Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan diberbagai perusahaan dan
instansi akan sangat berguna bagi mahasiswa untuk dapat menimba ilmu
pengetahuaan, keterampilan dan pengalaman. Melalui Praktek Kerja Lapangan
ini mahasiswa akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan cara
berpikir, menambah ide-ide yang berguna dan dapat menambah pengetahuaan
mahasiswa sehingga dapat menumbuhkan rasa disiplin dan tanggung jawab
mahasiswa.
Oleh karena itu semua teori-teori yang dipelajari dari berbagai mata
kuliah dibangku kuliah dapat secara langsung dipraktekkan di PT.
SYNGENTA INDONESIA Gunung Putri yang berhubungan dengan pestisida.
Dalam hal ini dapat diketahui bahwa teori yang dipelajari sama dengan yang
ditemui didalam prakteknya sehingga teori tersebut dapat dilaksanakan
dengan baik. Sebagaimana diketahui bahwa teori merupakan suatu ilmu
pengetahuan dasar bagi perwujudan praktek.
PT. Syngenta Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang
bergerak dibidang pertanian. PT. Syngenta Indonesia bagian dari Syngenta
AG yang berkedudukan di Swiss. Resmi berdiri sejak tanggal 1 November
2001, sebagai hasil penggabungan usaha antara PT. Novartis Agro Indonesia
dan PT. Zeneca Agri Products Indonesia. PT. Syngenta Indonesia

1
2

membangun pabrik benih jagung hibrida (transgenik) di Pasuruan,


Jawa Timur dan mendirikan pabrik pestisida di Gunung Putri, Bogor, Jawa
Barat. Di PT. Syngenta terdapat 4 jenis pestisida yang diproduksi yaitu
herbisida, fungisida, insektisida, rodentisida. Contoh produk dari herbisida
yaitu GRAMOXONE 276SL, produk dari fungisida yaitu SCORE 250EC,
produk dari insektisida yaitu CURACRON 500EC, dan produk dari
rodentisida yaitu KLERAT R-MB.
Dalam proses produksi, tangki main process vessel (MPV) maupun
mesin filling line digunakan secara bergantian antara produk satu dengan
produk yang lain. Salah satunya adalah produksi produk CURACRON
500EC yang sebelumnya digunakan untuk memproduksi produk SCORE
250EC yang memiliki bahan aktif difenoconazole. Sehingga, analisis ini
penting dilakukan karena adanya kemungkinan produk CURACRON 500EC
mengandung bahan aktif produk SCORE 250EC yaitu difenoconazole.
CURACRON 500EC adalah salah satu produk insektisida racun kontak dan
lambung dengan bahan aktif profenofos 500 g/L. CURACRON 500EC
digunakan untuk mengendalikan berbagai macam hama serangga dengan
berwujud pekatan berwarna kuning kecoklatan yang dapat diemulsikan dalam
air.
Kromatografi gas dipilih untuk metode analisis residu pestisida karena
kromatografi gas memiliki kelebihan diantaranya teknik analisis yang cepat,
dapat menghasilkan batas deteksi yang lebih rendah, akurat dengan resolusi
yang meningkat, serta dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan
kuantitatif senyawa dalam suatu campuran (Nollet, 2004).

1.2 Tujuan penelitian


1. Mengenal lebih dalam tentang PT. SYNGENTA INDONESIA
2. Mengetahui konsentrasi residu difenoconazole dalam produk
CURACRON 500EC
3. Mengetahui nilai recovery penetapan residu difenoconazole dalam produk
CURACRON 500EC
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pestisida

2.1.1 Pengertian pestisida


Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan sida
yang berasal dari kata caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat
diartikan secara sederhana sebagai pembunuh hama. Secara umum
pestisida dapat didefenisikan sebagai bahan yang digunakan untuk
mengendalikan populasi jasad yang dianggap sebagai pest (hama)
yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan
kepentingan manusia (Sartono, 2001). USEPA dalam Soemirat
(2005) menyatakan pestisida sebagai zat atau campuran zat yang
digunakan untuk mencegah, memusnahkan, menolak, atau
memusuhi hama dalam bentuk hewan, tanaman, dan
mikroorganisme penggangu. Pengertian pestisida menurut
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 dalam Kementrian
Pertanian (2011) dan Permenkes RI No.258/Menkes/Per/III/1992
adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus
yang dipergunakan untuk :

1. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak


tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
2. Memberantas rerumputan
3. Mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan
4. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan
peliharaan atau ternak
5. Memberantas atau mencegah hama-hama air
6. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad
renik dalam bangunan rumah tangga alat angkutan, dan alat-
alat pertanian

3
4

7. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat


menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu
dilindungi dengan penggunaan tanaman, tanah dan air

2.1.2 Formulasi pestisida


Bahan terpenting dalam pestisida yang bekerja aktif terhadap
hama sasaran disebut bahan aktif. Produk jadi yang merupakan
campuran fisik antara bahan aktif dan bahan tambahan yang tidak
aktif dinamakan formulasi. Formulasi sangat menentukan bagaimana
pestisida dengan bentuk dan komposisi tertentu harus digunakan,
berapa dosis atau takaran yang harus digunakan, berapa frekuensi
dan interval penggunaan, serta terhadap jasad sasaran apa pestisida
dengan formulasi tersebut dapat digunakan secara efektif. Selain itu,
formulasi pestisida juga menentukan aspek keamanan penggunaan
pestisida dibuat dan diedarkan dalam banyak macam formulasi,
sebagai berikut (Djojosumarto, 2008) :
1. Formulasi Padat
a. Wettable Powder (WP) merupakan sediaan bentuk tepung
(ukuran partikel beberapa mikron) dengan aktivitas bahan
aktif relatif tinggi (50 – 80%), yang jika dicampur dengan air
akan membentuk suspensi. Pengaplikasian WP dengan cara
disemprotkan.
b. Soluble Powder (SP) merupakan formulasi berbentuk tepung
yang jika dicampur air akan membentuk larutan homogen.
Digunakan dengan cara disemprotkan.
c. Butiran, umumnya merupakan sediaan siap pakai dengan
konsentrasi bahan aktif rendah (sekitar 2%). Ukuran butiran
bervariasi antara 0,7 – 1 mm. Pestisida butiran umumnya
digunakan dengan cara ditaburkan di lapangan (baik secara
manual maupun dengan mesin penabur).
d. Water Dispersible Granule (WG atau WDG) berbentuk
butiran tetapi penggunaannya sangat berbeda. Formulasi
5

e. WDG harus diencerkan terlebih dahulu dengan air dan


digunakan dengan cara disemprotkan.
f. Soluble Granule (SG), mirip dengan WDG yang juga harus
diencerkan dalam air dan digunakan dengan cara
disemprotkan bedanya, jika dicampur dengan air, SG akan
membentuk larutan sempurna.
g. Tepung hembus, merupakan sediaan siap pakai (tidak perlu
dicampur dengan air) berbentuk tepung (ukuran partikel 10 –
30 mikron) dengan konsentrasi bahan aktif rendah (2%)
digunakan dengan cara dihembuskan (dusting).
2. Formulasi Cair
a. Emulsifiable Concentrate atau Emulsible Concentrate (EC),
merupakan sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair
dengan kandungan bahan aktif yang cukup tinggi. Oleh
karena menggunakan solvent berbasis minyak, konsentrat ini
jika dicampur dengan air akan membentuk emulsi (butiran
benda cair yang melayang dalam media cair lainnya).
Bersama formulasi WP, formulasi EC merupakan formulasi
klasik yang paling banyak digunakan saat ini.
b. Water Soluble Concentrate (WCS), merupakan formulasi
yang mirip dengan EC, tetapi karena menggunakan sistem
solvent berbasis air maka konsentrat ini jika dicampur air
tidak membentuk emulsi, melainkan akan membentuk larutan
homogen. Umumnya formulasi ini digunakan dengan cara
disemprotkan.
c. Aquaeous Solution (AS), merupakan pekatan yang bisa
dilarutkan dalam air. Pestisida yang diformulasi dalam
bentuk AS umumnya berupa pestisida yang memiliki
kelarutan tinggi dalam air. Pestisida yang diformulasi dalam
bentuk ini digunakan dengan cara disemprotkan.
6

d. Soluble Liquid (SL), merupakan pekatan cair. Jika dicampur


air, pekatan cair ini akan membentuk larutan. Pestisida ini
juga digunakan dengan cara disemprotkan.
e. Ultra Low Volume (ULV), merupakan sediaan khusus untuk
penyemprotan dengan volume ultra rendah, yaitu volume
semprot antara 1 – 5 liter/hektar. Formulasi ULV umumnya
berbasis minyak karena untuk penyemprotan dengan volume
ultra rendah digunakan butiran semprot yang sangat halus.

2.1.3 Jenis-jenis pestisida


Pestisida dapat digolongkan menjadi bermacam-
macam dengan berdasarkan fungsi dan asal katanya.
Penggolongan tersebut disajikan sebagai berikut (Sartono,
2002).
1. Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa
Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga
disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk membunuh
tungau atau kutu.
2. Algisida, berasal dari kata alga yang dalam bahasa
latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi untuk melawan
algae.
3. Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa
latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai pembunuh dan
mengontrol populasi burung.
4. Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani
spongos yang berarti jamur. Berfungsi untuk membunuh
jamur atau cendawan.
5. Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti
tanaman setahun. Berfungsi membunuh gulma (tumbuhan
pengganggu).
7

6. Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti


potongan, keratan atau segmen tubuh. Berfungsi untuk
membunuh serangga.
7. Larvisida, berasal dari kata Yunani lar Berfungsi untuk
membunuh ulat atau larva.
8. Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang
berarti berselubung tipis lembek. Berfungsi untuk
membunuh siput.
9. Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa
Yunani nema yang berarti benang. Berfungsi untuk
membunuh nematoda (cacing yang hidup di akar).
10. Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur.
Berfungsi untuk membunuh telur.
11. Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti
pengerat. Berfungsi untuk membunuh binatang pengerat,
seperti tikus.

2.1.4 Klasifikasi pestisida menurut rumus kimia


Atas dasar rumus kimia pestisida dapat diklasifikasikan
menjadi (Soemirat, 2003) :

1. Pestisida Golongan Organoklorin


Sifat dari pestisida ini adalah senyawa yang tidak
reaktif, memiliki sifat yang tahan atau persisten baik
dalam tubuh maupun lingkungan dan memiliki kelarutan
yang sangat tinggi dalam lemak dan memiliki
kemampuan terdegradasi yang lambat. Organoklorin
dibagi dalam beberapa bagian yaitu diklorodifenil etan
(DDT, DDD, portan, metoksiklor, metioklor), siklodin
(aldrin, dieldrin, hePT.aklor, chlordane dan endosulfan)
dan sikloheksan benzene terklorinasi (HCB, HCH).
8

Semua organoklorin merupakan racun saraf (Sartono,


2002).
2. Pestisida Golongan Piretroid
Piretrum adalah pestisida alami yang merupakan
ekstrak dari bunga chrysanthemum, Phyretrum
cinerariaefollium (Dalmantian insect flower). Piretroid
memiliki beberapa keunggulan diantaranya diaplikasikan
dengan takaran relatif sedikit, spectrum pengendaliannya
luas, tidak persisten dan memiliki efek melumpuhkan
yang sangat baik.
3. Pestisida Golongan Organofosfat
Pestisida golongan organofosfat banyak digunakan
karena sifat-sifatnya yang menguntungkan. Cara kerja
golongan ini selektif, tidak persisten dalam tanah, dan
tidak menyebabkan resistensi pada serangga. Bekerja
sebagai racun kontak, racun perut, dan juga racun
pernafasan. Dengan takaran yang rendah sudah
memberikan efek yang memuaskan, selain kerjanya cepat
dan mudah terurai. Golongan organofosfat sering disebut
dengan organic phosphates, phosphoris insecticides,
phosphates, phosphate insecticides dan phosphorus esters
atau phosphoris acid esters. Golongan organofosfat
struktur kimia dan cara kerjanya berhubungan erat dengan
gas syaraf. Pestisida yang termasuk dalam golongan
organofosfat seperti profenofos. Profenofos non-sistemik
ini memiliki aktivitas translaminar dan ovisida.
Profenofos digunakan untuk mengendalikan berbagai
serangga hama (terutama LepidoPT.era) dan tungau.
LD50 (tikus) sekitar 358 mg/kg; LD50 dermal (kelinci)
472 mg/kg (Sastroutomo, 2002).
9

4. Pestisida Golongan Karbamat


Pestisida dari golongan karbamat adalah racun saraf
yang bekerja dengan cara menghambat kolinesterase.
Pestisida dari golongan karbamat relatif mudah diurai di
lingkungan dan tidak terakumulasi oleh jaringan lemak
hewan. Karbamat juga merupakan pestisida yang banyak
anggotanya. Beberapa jenis pestisida karbamat seperti
benfurakarb. Benfurakarb merupakan pestisida sistemik
yang bekerja sebagai racun kontak dan racun perut serta
diaplikasikan terutama sebagai pestisida tanah. LD50
(tikus) 205,4 (jantan) – 222,6 (betina) mg/kg; LD50
dermal (kelinci) > 2.000 mg/kg (Sartono, 2002).

2.2 Difenoconazole
Senyawa difenokonazol adalah fungisida bersifat sistemik dan dapat
diserap melalui daun. Difenokonazol memiliki nama IUPAC 1-[2-[2-chloro-
4-(4-chloro-phenoxy)-phenyl]-4-methyl[1,3]dioxolan-2-ylmethyl]-1H-1,2,4-
triazol dengan rumus molekul C19H17Cl2N3O3. Difenokonazol mempunyai
spektrum yang luas, yaitu dapat mengendalikan cendawan dari kelas
Ascomycetes, Bacidiomycetes, dan Deuteromycetes, termasuk diantaranya
Altenaria, Rhizoctonia, dan SePT.oria. Fungisida ini telah banyak digunakan
untuk pengendalian berbagai penyakit pada tanaman buah-buahan, sayuran,
dan bijibijian termasuk padi (Djojosumato, 2008).
Fungisida berbahan aktif difenokonazol merupakan golongan Triazol
yaitu salah satu senyawa yang dikenal sebagai zat pengatur tumbuh (ZPT.).
Zat pengatur tumbuh mempunyai pengaruh biologis antara lain meningkatkan
klorofil daun sehingga daun berwarna hijau tua, dan mendorong pembungaan
pada beberapa tanaman tertentu (Anonima, 2010). Mekanisme kerja ZPT.
golongan Triazol adalah menghambat senessence berarti akan memperbanyak
fotosintat dan mengarahkan fotosintat lebih banyak ke pembentukan dan
perkembangan bulir padi. Zat pengatur tumbuh ini dapat pula berperan
sebagai fungisida yang menghambat pertumbuhan penyakit yang disebabkan
10

oleh cendawan (Wattimena, 1988). Berikut ini adalah struktur molekul dari
difenaconazole beserta sifat kimia dan fisikanya :

Gambar 1. Struktur molekul difenoconazole


Sifat Kimia dan Fisika
Bentuk fisik : putih, tidak berbau, bubuk Kristal halus
Massa molekul : 406,3
Titik lebur : 82-83 ºC
Titik didih : 100,8 ºC pada 3,7 mPa
Suhu dekomposisi : 337 ºC
Kepadatan relatif : 1,39 pada 22 ºC
Tekanan uap : 3,32 × 10-8 Pa pada 25 ºC
Kelarutan dalam pelarut organic : Aseton , diklorometan, etil asetat, hexan
Kelarutan di dalam air : 15 mg/L pada 25 ºC
(EFSA, 2011)

2.2 Kromatografi gas


Kromatografi gas adalah alat yang digunakan untuk pemisahan suatu
zat atau senyawa yang umumnya bersifat volatil. Senyawa volatil merupakan
senyawa yang mudah menguap pada suhu kamar. Sampel yang dapat
digunakan dalam GC ini ada dua wujud yaitu cair dan gas. Prinsip kerja dari
kromatografi gas yaitu sampel yang diinjeksikan ke dalam aliran fase gerak,
kemudian akan dibawa oleh fase gerak yang berupa gas inert ke dalam kolom
untuk dilakukan pemisahan komponen sampel berdasarkan kemampuannya
interaksi diantara fase gerak dan fase diam. Pemisahan tercapai dengan
partisi sampel antara fase gas bergerak dan fase diam berupa cairan dengan
11

titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat dan
penunjangnya (Khopkar, 2007).
Dalam kromatografi gas, fase gerak berupa gas lembam seperti
helium, nitrogen, argon, dan hidrogen digerakkan dengan tekanan melalui
pipa yang berisi fase diam. Tekanan uap atau keatsirian memungkinkan
komponen menguap dan bergerak bersama-sama dengan fase gerak yang
berupa gas. Kromatografi gas merupakan metode yang sangat tepat dan cepat
untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Komponen campuran dapat
diidentifikasi dengan menggunakan waktu retensi yang khas pada kondisi
yang tepat. Waktu retensi adalah waktu yang menunjukkan berapa lama
suatu senyawa tertahan dalam kolom (Gritter, 1991)
Keuntungan menggunakan kromatografi gas yaitu waktu analisis
yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi, dapat menggunakan
kolom lebih panjang untuk menghasilkan efesiensi pemisahan yang tinggi,
hanya membutuhkan campuran cuplikan yang sangat sedikit, dan
kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat sehingga
analisis relatif lebih cepat dan sensitifitasnya tinggi, sedangkan kerugian
menggunakan kromatografi gas yaitu hanya dapat digunakan untuk
menganalisis sampel yang mudah menguap, tidak dapat dipakai untuk
memisahkan campuran dalam jumlah yang besar, dan fase gas dibandingkan
sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat
terlarut (Adamovics, J.A., 1997)
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kromatografi gas merk Hawlett
Packard 6890 series dan kromatografi gas merk 7890B Agilent Technologies,
neraca Sartorius, kaca arloji, labu ukur 25 mL Pyrex, labu ukur 100 mL Pyrex,
corong, pipet volume 5 mL Pyrex, erlenmeyer 250 mL Pyrex, pipet tetes, dan vial.

3.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu standard difenoconazole,
kloroform, sampel produk SCORE 250EC, sampel produk CURACRON 500EC,
1,2-diklorobenzena, dan fase gerak (gas nitrogen).

3.3 Posedur kerja

3.3.1 Pembuatan larutan induk


Pada pembuatan larutan induk digunakan 0,025 gram standard
difenoconazole yang dilarutkan dengan kloroform dalam 25 mL labu
ukur hingga tanda batas. Larutan kemudian disonicate selama 10
menit hingga homegen.

3.3.2 Pembuatan larutan 1 (100 ppm)


Larutan 1 dibuat dengan mengambil larutan induk sebanyak 5
mL dengan cara dipipet yang dimasukkan kedalam labu ukur 25 mL.
Lalu ditambahkan dengan kloroform hingga tanda batas. Selanjutnya
larutan disonicate selama 10 menit hingga homogen.

3.3.3 Pembuatan larutan 2 (larutan standard 20 ppm)


Pembuatan larutan standard 20 ppm dibuat dengan mengambil
larutan 1 sebanyak 5 mL dengan cara dipipet yang dimasukkan
kedalam labu ukur 25 mL. Lalu ditambahkan dengan kloroform
hingga tanda batas. Selanjutnya larutan disonicate selama 10 menit
hingga homogen.

12
13

3.3.4 Pembuatan larutan pengotor


Sampel produk SCORE 250EC dipipet sebanyak 5 mL dalam
labu ukur 100 mL. Setelah itu, ditambahkan sampel produk
CURACRON 500EC hingga tanda batas. Kemudian larutan
disonicate selama 10 menit hingga homogen.

3.3.5 Pembuatan larutan test (produk dalam produk)


Larutan test dibuat dengan menimbang 5 gram larutan pengotor
yang dimasukkan kedalam 250 mL erlenmeyer dengan
menambahkan 50 mL larutan 1,2-diklorobenzena. Selanjutnya
larutan disonicate selama 10 menit hingga homogen.

3.3.6 Pembuatan larutan spike


Pembuatan larutan spike dibuat dengan menimbang 5 gram
sampel produk CURACRON 500EC yang dimasukkan kedalam 250
mL erlenmeyer dengan menambahkan 50 mL larutan 1,2-
diklorobenzena. Kemudian ditambahkan 10 mL larutan 1 dan 5 mL
SCORE 250EC. Selanjutnya larutan disonicate selama 10 menit
hingga homogen.

3.3.7 Penetapan residu difenoconazole dalam CURACRON 500EC


Penetapan difenoconazole dalam CURACRON 500EC
dilakukan dengan cara larutan standard 20 ppm, larutan test, dan
larutan spike dimasukkan kedalam masing-masing vial serta diberi
label. Kemudian masing-masing vial diletakkan di tempat sampel
pada GC. Lalu instrument GC diatur berdasarkan standar analisis
difenoconazole menggunakan GC dengan diinjek sebanyak 3 kali.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran umum perusahaan

4.1.1 Sejarah singkat perusahaan


Syngenta, nama ini muncul dari kombinasi istilah yang
berbeda. “Syn” dalam bahasa Yunani, yang berarti sinergi dan
kekuatan konsolidasi. “Genta” (gens) berasal dari bahasa latin, yang
berhubungan dengan orang atau masyarakat. Oleh karena itu,
Syngenta berarti membawa sinergi melalui orang. Syngenta
memiliki sejarah panjang dan mengesankan. Asal mula Syngenta
adalah pada tahun 1758 ketika Johann Rudolf Geigy-Gemuseus
memulai bisnis kimia di Bazel-Swiss, diikuti dengan didirikannya
dari Sandoz pada tahun 1876, Ciba pada tahun 1884 dan Imperial
Chemical Industries (ICI) pada tahun 1926. Pada periode berikutnya,
Ciba dan Geigy digabung membentuk Ciba-Geigy pada tahun 1970
dan perusahaan ini berganti nama Ciba pada tahun 1992. Kemudian
ICI melakukan reorganisasi, menjadi Zeneca di 1993. Pada tahun
1996, Ciba dan Sandoz bergabung untuk membentuk Novartis. Pada
tahun 2001, agribisnis dari Novartis dan Zeneca bergabung untuk
membentuk Syngenta.
Syngenta Indonesia adalah salah satu perusahaan agrikultur
terdepan dengan bisnis utama meyediakan solusi perlindungan
tanaman dan benih berkualitas tinggi. Syngenta Indonesia, melalui
badan hukumnya, PT. Syngenta Indonesia dan PT. Syngenta Seed
Indonesia, mempekerjakan sekitar 700 orang dan memiliki
manufaktur dan fasilitas Research and Development (R&D).
Syngenta Indonesia memiliki 3 kategori bisnis yaitu perlindungan
tanaman, benih tanaman serta padang rumput dan pertamanan.
Setiap kategori diawasi oleh tim khusus dan didukung oleh produk-

14
15

produk yang dipasarkan melalui jaringan pemasaran yang luas untuk


memenuhi kebutuhan petani.

Tabel 1. Kategori bisnis PT. Syngenta Indonesia


Perlindungan Tanaman Benih Padang Rumput dan Pertamanan
Herbisida Jagung Vector control
Fungisida Sayuran Lawn
Insektisida Ornamental

Dalam rangka untuk menyediakan cakupan pasar yang luas,


jangkauan petani dan untuk memastikan pengalihan teknologi yang
efektif untuk petani, usaha Syngenta adalah membagi menjadi 3
daerah pemasaran yang berbeda, yaitu Jawa, Sumatra dan Indonesia
bagian timur (Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara dan papua).
Masing-masing daerah pemasaran dikelola oleh kepala komersial.

Tabel 2. Daerah Pemasaran PT. Syngenta Indonesia


Jawa Sumatra Indonesia bagian timur
Padi Padi Padi
Jagung Jagung Jagung
Sayuran Sayuran Kelapa sawit
Kedelai Kelapa sawit Cokelat
Karet Sayuran
Kopi

Syngenta Indonesia memiliki 2 tempat produksi. Tempat


perlindungan tanaman terletak di Gunung Putri, Bogor dan tempat
produksi benih adalah di Pasuruan, Jawa Timur. Lokasi tempat
produksi Gunung Putri, pabrik perlindungan tanaman adalah 3.1ha,
dibangun di zona industri Gunung Putri pada tahun 1981. Lokasi
pabrik benih Pasuruan adalah investasi senilai 27 juta dollar AS yang
terletak di Zona Industri Pasuruan dengan luas lahan 10ha dan
16

memiliki kapasitas produksi benih 5000 metric ons per tahun. Pabrik
ini mulai beroperasi pada tahun 2011.

4.1.2 Logo perusahaan


Syngenta mempunyai logo yaitu daun berwarna hijau dan
tulisan kata Syngenta yang berwarna biru. Daun berhubungan
dengan pertanian, warna hijaunya melambangkan tanaman atau
kehidupan, dan warna biru bermakna air yang membawa kesegaran
pada tanaman dan membantu pertumbuhan tanaman sampai dipanen.

Gambar 2. Logo PT. Syngenta Indonesia.

4.1.3 Visi dan misi perusahaan


Visi dari PT. Syngenta adalah “Bringing Plant Potential To
Life”. Adapun Misi dari PT. Syngenta Indonesia adalah melalui ilmu
pengetahuan, jaringan perusahaan di seluruh dunia, dan komitmen
kami untuk selalu membantu para petani meningkatkan
produktivitasnya, sekaligus menjaga lingkungan, meningkatkan
kesehatan dan kualitas hidup bersama.

4.1.4 Lokasi perusahaan


Lokasi perusahaan adalah suatu tempat dimana perusahaan
itu melakukan kegiatan fisik. Kedudukan perusahaan dapat berbeda
dengan lokasi perusahaan, karena kedudukan perusahaan adalah
kantor pusat dari kegiatan fisik perusahaan. Lokasi PT. Syngenta
Indonesia Gunung Putri di Jl Raya Tlajung Udik Km 62, 8, Tlanjung
Udik, Gunung Putri, Cibinong 16962, Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Sedangkan lokasi PT. Syngenta Seed Indonesia terletak di Jln.
17

Kraton Industri Raya No.4 Desa Curah Dukuh Kec. Kraton, PIER
Pasuruan Jawa Timur.

4.1.5 Struktur organisasi perusahaan


Dalam perusahaan diperlukan struktur organisasi yang jelas,
yang dapat menunjukkan hubungan antar karyawan disuatu bagian
dengan bagian yang lain agar jelas kedudukan, wewenang, dan
tanggung jawab masing-masing. Struktur organisasi digunakan untuk
menggambarkan pembagian tugas setiap pejabat, serta hubungan
setiap bagian dalam organisasi tersebut. Dengan adanya
pengorganisasian yang menyangkut pembagian tugas dan tanggung
jawab masing-masing staff tersebut, maka diharapkan mampu
melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya masing- masing.
Struktur organisasi yang digunakan oleh PT. Syngenta
Indonesia Gunung Putri menunjukkan bahwa kekuasaan secara
langsung dari direktur utama yang dibantu oleh beberapa manajer
yang kemudian diteruskan kepada staff dan karyawan di bawahnya.
Hal ini berarti bahwa PT. Syngenta Indonesia Gunung Putri
menggunakan struktur garis dan staff. Setiap divisi mempunyai tugas
dan wewenang yang berbeda-beda.
18

4.2 Proses produksi produk PT. Syngenta Gunung Putri

Gambar 3. Proses produksi PT. Syngenta Gunung Putri

Produksi pada PT. Syngenta Gunung Putri dibagi menjadi 3


jenis pestisida yaitu insektisida, herbisida, dan fungisida. Produksi
pestisida dilakukan sesuai dengan recipe yang sudah ditetapkan oleh
laboratorium berupa worksheet. Bagian produksi akan menyiapkan
formulasi bahan baku sesuai dengan worksheet. Setelah bahan baku
tersebut dilakukan pengecekan, maka bahan baku tersebut siap
dipompa ke dalam tangki MPV untuk dilakukan pencampuran. Pada
setiap jenis pestisida memiliki tangki MPV masing-masing. Pada
herbisida, bahan baku selain dipompa ke dalam tangki MPV secara
19

manual dari drum dapat juga dilakukan transfer dari tangki


penyimpanan bahan baku ke dalam tangki MPV menggunakan
sistem komputer. Pencampuran pada tangki MPV membutuhkan
waktu ±30 menit untuk herbisida, ±1 jam untuk insektisida dan
±3jam untuk fungisida. Pelarut yang digunakan pada herbisida
adalah air, sedangkan pada insektisida dan fungisida adalah solvent.
Proses pencampuran dapat dihentikan jika telah disetujui oleh
laboratorium. Setelah pencampuran selesai, produk ditransfer ke
dalam tangki holding vessel (HV) yang digunakan untuk
menampung produk. Tangki HV ini harus memiliki volume yang
lebih besar dari tangki MPV karena proses pengemasan bersifat
kontinu dan untuk menghindari terjadinya tumpah. Produk jadi
dikemas dalam berbagai ukuran kemasan menggunkan botol, jeriken,
dan drum. Produk dimasukkan kedalam kemasan menggunakan
mesin. Kemasan jenis botol terbuat dari bahan HDPE, cOeX, atau
PET. Penggunaan jenis bahan botol tergantung pada jenis material
yang terkandung dalam pestisida. HDPE digunakan pada produk
AGRIMEC 18EC, cOeX digunakan pada produk ALIKA 247SC dan
lainnya menggunakan PET.

4.3 Proses pengolahan limbah PT. Syngenta

4.3.1 Proses pengolahan limbah cair herbisida


Limbah cair herbisida berasal dari 2 sumber yaitu,

a. Proses pencucian mesin


Limbah cair ini dapat langsung digunakan kembali dalam
produksi produk yang sama, syaratnya adalah tidak adanya
kontaminasi. Namun, apabila ada kontaminasi, limbah dapat
dikumpulkan dan diolah ditempat pengolahan limbah cair
herbisida.
20

b. Limbah cair pel lantai


Limbah ini akan dikumpulkan dalam drum dan diolah pada
tempat pengolahan limbah cair herbisida.

Teknik pengolahan limbah cair herbisida ini menggunakan


teknik koagulasi, kemudian teknik filtrasi. Teknik koagulasi
dilakukan dengan memasukkan limbah cair herbisida yang berasal
dari pencucian mesin, pel lantai, maupun air cucian baju karyawan
ke dalam bak penampungan. Limbah dalam bak akan dipompa ke
dalam tangki flokulator. Di dalam tangki flokulator ini akan
ditambahkan bahan koagulan dan terjadi proses koagulasi yang
ditandai dengan adanya pemisahan antara air dan lumpur. Bahan-
bahan koagulan ini diformulasikan oleh pihak laboratorium. Setelah
ditambahkan bahan koagulan, pihak laboratorium akan mengambil
sampel untuk dianalisis. Setelah dianalisis, campuran air dan lumpur
akan dipisahkan. Air akan dipompa menuju proses filtrasi yaitu
dilewatkan dalam tangki yang berisi sand filter kemudian karbon,
dan yang terakhir zeolit kemudian air akan ditampung dalam bak
kontrol. Di dalam bak kontrol biasanya air telah berwarna jernih,
namun harus dilakukan analisis oleh laboratorium untuk memastikan
bahwa air ini dapat dibuang ke lingkungan. Jika air sudah cukup
bersih, maka air dapat dibuang melalui saluran air. Lumpur yang
telah dipisahkan dengan air akan dimasukkan dalam filter press, air
yang terkandung dilumpur akan dikumpulkan dan diolah dengan
teknik koagulasi dan filtrasi. Lumpur yang telah dipress akan
dikumpulkan dan ditimbang yang selanjutnya akan dikirim ke pihak
ketiga. Dengan mekanismenya sebagai berikut :
21

Gambar 4. Proses pengolahan limbah cair herbisida

4.3.2 Proses pengolahan limbah cair fungisida dan insektisida


Limbah cair fungisida dan insektisida tidak dapat diolah
bersama dengan limbah cair herbisida karena material yang
22

digunakan fungisida dan insektisida lebih kompleks untuk diolah


limbahnya. Sehingga limbah cair fungisida dan insektisida yang
berasal dari pencucian mesin ataupun limbah pel lantai dapat
langsung dikumpulkan dalam drum dan dikirim ke pihak ketiga.
Dengan mekanimenya sebagai berikut :

Gambar 5. Proses pengolahan limbah cair fungisida dan insektisida

4.3.3 Proses pengolahan limbah padat


PT. Syngenta hanya dapat mengolah limbah cair herbisida,
sedangkan limbah lain dikumpulkan di waste house dan akan
dikirimkan ke pihak ketiga untuk diolah. Limbah padat ini terdiri
dari, limbah padat kontaminasi dan limbah padat non kontaminasi.
Limbah padat kontaminasi ini merupakan limbah padat yang
berhubungan langsung dengan bahan kimia, seperti bekas kemasan
produk yaitu botol, cup, drum, dan lain-lain. Pada saat dikumpulkan
di waste house, limbah padat akan dipisahkan berdasarkan
kategorinya. Limbah padat khusus drum metal akan dipress untuk
memaksimalkan muatan saat pengangkutan ke pihak ketiga. Khusus
drum herbisida dapat dipakai kembali sebagai kemasan. Pihak ketiga
23

yang bekerja sama dengan PT. Syngenta dalam pengolahan limbah


padat adalah Holcim.

Gambar 6. Proses pengolahan limbah padat

4.4 Analisis residu difenoconazole pada produk CURACRON 500EC


Pada analisis yang berjudul “Penetapan Residu Difenoconazole pada
Produk CURACRON 500EC dengan Menggunakan kromatografi gas”
dilakukan untuk mengetahui konsentrasi residu difenoconazole pada sampel
produk CURACRON 500EC. Difenoconazole adalah bahan aktif yang
terdapat dalam produk SCORE 250EC yang memiliki banyak atom klorida,
oksida, dan N dengan elektronegativitas yang tinggi yang dapat dideteksi
dengan GC, sehingga instrumen GC dapat digunakan untuk menentukan
konsentrasi residu pestisida difenokonazol dalam CURACRON 500EC.
CURACRON 500EC merupakan salah satu pestisida yang tergolong kedalam
insektisida yang diproduksi oleh PT. Syngenta Gunung Putri dengan
kandungan bahan aktif profenofos 500 g/L.
24

4.5 Preparasi sampel


Preparasi sampel merupakan tahapan penting dalam suatu analisis.
Optimasi pada tahapan preparasi sampel perlu dilakukan dengan tujuan
mendapatkan hasil optimal. Preparasi sampel dilakukan beberapa langkah
yaitu pembuatan larutan induk, pembuatan larutan 1 (100 ppm), pembuatan
larutan standard (20 ppm), pembuatan larutan pengotor, pembuatan larutan
test (produk dalam produk) serta pembuatan larutan spike. Pada pembuatan
larutan induk, larutan 1 serta larutan standar, pelarut yang digunakan yaitu
kloroform yang bersifat non polar karena standard difenoconazole dapat larut
dalam kloroform. Larutan standard adalah suatu larutan dengan konsentrasi
yang diketahui secara pasti yang dapat digunakan untuk mengindentifikasi
dari suatu senyawa serta untuk menetapkan konsentrasi lain yang belum
diketahui. Kemudian dilakukan sonikasi selama 10 menit dengan tujuan
menghomogenkan pelarut dan mempercepat waktu kontak antara sampel
dengan pelarut. Sonikasi dilakukan juga pada pembuatan larutan pengotor,
larutan test dan larutan spike. Pada pembuatan larutan pengotor, larutan test,
dan larutan spike pelarut yang digunakan yaitu 1,2-diklorobenzena. Larutan
test dibuat dengan tujuan untuk mengetahui konsentrasi residu difenoconazole
yang ada dalam produk CURACRON 500EC dalam ppm. Sedangkan larutan
spike digunakan untuk mengetahui adanya kesalahan sistematik dengan hasil
yang diperoleh dapat digunakan untuk mengetahui nilai % recovery.
Diharapkan nilai recovery yang dihasilkan mendekati 100%. Selanjutnya
larutan standard, larutan test dan larutan spike dimasukkan kedalam masing-
masing vial yang siap untuk dianalisis dengan kromatografi gas yang
sebelumnya sudah dioptimasi.

4.6 Penetapan residu difenoconazole dalam produk CURACRON 500EC


Pada analisis residu difenoconazole dalam produk CURACRON
500EC menggunakan instrumen kromatografi gas. Kromatografi gas adalah
salah satu teknik spektroskopi yang menggunakan prinsip pemisahan
berdasarkan pada perbedaan kecepatan migrasi komponen-komponen suatu
cuplikan di dalam kolom. Perbedaan migrasi ini terjadi karena perbedaan
25

interaksi komponen-komponen tersebut dengan fasa diam dan fasa gerak.


Kromatografi gas dapat digunakan dalam mengidentifikasi suatu senyawa.
Analisis dalam kromatografi gas bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
Analisis kualitatif berupa pengidentifikasian senyawa yang terkandung dalam
suatu campuran dengan menggunakan perbandingan waktu retensi antara
analit standar dengan sampel. Sedangkan analisis kuantitatif dapat
diaplikasikan untuk mengetahui nilai-nilai yang berhubungan dengan
kromatogram seperti penentuan kadar atau jumlah analit yang dilakukan
dengan membandingkan luas puncak analit dengan luas puncak standar.

Pada analisis kali ini kromatografi gas dioptimasi dengan mengatur


suhu injektor pada suhu 250°C, detektor pada suhu 300°C dan suhu kolom
mencapai 200°C. Hal ini bertujuan agar semua komponen berubah menjadi
gas dan keluar meninggalkan kolom. Adapun fase gerak atau gas pembawa
yang digunakan yaitu nitrogen dengan kecepatan alir 20 mL/min. Gas
pembawa yang digunakan harus bersifat inert, murni serta sesuai/cocok
dengan detektor yang digunakan. Gas pembawa ini berfungsi mengangkut
komponen-komponen sampel dalam kolom menuju detektor dan hasilnya
direkam oleh recorder. Penggunaan gas nitrogen karena detektor yang
digunakan pada analisis ini yaitu FID (Flame Ionization Detector). Kepekaan
detektor FID akan lebih meningkat jika gas nitrogen digunakan sebagai gas
pembawanya. FID bekerja berdasarkan pembakaran solute sehingga terjadi
ionisasi. Ion akan ditangkap oleh pengumpul ion dan meningkatkan daya
hantar serta akan meningkatkan arus listrik yang mengalir diantara dua
elektroda. Arus diperkuat oleh amplifier dan direkam oleh rekorder. FID
mengukur C+ sehingga hasil yang didapat cukup peka dan sensitif. Detektor
pada kromatografi adalah suatu sensor elektronik yang berfungsi mengubah
sinyal gas pembawa dan komponen-komponen di dalamnya menjadi sinyal
elektronik. Sinyal elektronik detektor akan berguna untuk analisis kualitatif
maupun kuantitatif terhadap komponen-komponen yang terpisah di antara fase
diam dan fase gerak. Sedangkan fase diam yang digunakan yaitu HP-5 (fenil
26

5%-metilpolisiloksan 95%). HP-5 termasuk dalam kolom kapiler yang bersifat


non polar.

Proses terjadinya pemisahan dengan kromatografi gas yaitu gas


nitrogen yang bertekanan tinggi dialirkan kedalam kolom HP-5, kemudian
masing-masing sampel yang berupa larutan standard, larutan test, dan larutan
spike diinjeksikan kedalam aliran gas dan ikut terbawa kedalam kolom.
Dimana setiap larutan diinjek sebanyak 3 kali dengan durasi 10 menit setiap
injekkan. Di dalam kolom akan terjadi proses pemisahan dari masing-masing
sampel menjadi komponen-komponen penyusunnya. Komponen-komponen
tersebut satu persatu akan keluar kolom dan mencapai detektor yang
diletakkan di ujung akhir kolom. Hasil pendeteksian direkam oleh rekorder
dan dikenal sebagai kromatogram. Jumlah peak pada kromatogram
menyatakan jumlah komponen yang terdapat dalam cuplikan dan kuantitas
suatu komponen ditentukan berdasarkan luas peaknya.

4.7 Hasil analisis dengan kromatografi gas


Pada analisis yang telah dilakukan, hasil kromatogram larutan
standard menunjukkan munculnya puncak difenoconazole pada waktu retensi
8,7 menit dengan area standarnya yaitu 0,543747; 0,34402; 0,452769. Waktu
retensi pada standard digunakan untuk mengidentifikasi senyawa
difenoconazole pada larutan test dan larutan spike. Sehingga dapat diketahui
area pada larutan test adalah 25,64296; 28,72238; 26,81854 sedangkan area
pada larutan spike yaitu 609,33258; 673,42096; 613,70227. Dari data tersebut
dapat dilihat bahwa larutan spike memiliki area lebih besar dibandingkan
dengan larutan test. Hal ini terjadi karena pada pembuatan larutan spike
ditambahkan 10 mL larutan 1 dengan konsentrasi 100 ppm dan 5 mL produk
SCORE 250EC yang memiliki bahan aktif difenoconazole sehingga area yang
dihasilkan lebih besar. Setelah itu dapat ditentukan konsentrasi residu
difenoconazole dalam produk CURACRON 500EC yaitu sebesar 943,2 ppm
dengan nilai recovery 125,0631%. Nilai recovery tersebut sesuai dengan
27

range yang telah ditetapkan yaitu 70%-130% sehingga metode analisis ini
dapat diterapkan di PT. SYNGENTA INDONESIA Gunung Putri.
BAB V. PENUTUP

5.2 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis penetapan residu difenoconazole dalam
produk CURACRON 500EC yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. PT. SYNGENTA INDONESIA adalah perusahaan agrikultur dengan 3


kategori bisnis yaitu perlindungan tanaman, benih tanaman serta
padang rumput dan pertamanan.
2. Produk CURACRON 500EC mengandung bahan aktif dari produk
SCORE 250EC dengan konsentrasi residu difenoconazole sebesar
943,2 ppm.
3. Nilai recovery penetapan residu difenoconazole dalam produk
CURACRON 500EC yang diperoleh sebesar 125,0631%. Nilai
recovery tersebut sesuai dengan range yang telah ditetapkan yaitu
70%-130% sehingga metode analisis ini dapat diterapkan di PT.
SYNGENTA INDONESIA Gunung Putri.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka melalui Laporan
Kerja Praktik ini dapat dikemukakan saran yaitu analisis ini dilakukan lebih
lanjut lagi supaya hasil yang diperoleh lebih maksimal.

28
DAFTAR PUSTAKA
Adamovics, J.A., 1997, Chromatographic Analysis of Pharmaceuticals, 2nd
Edition, Marcel Dekker, New York.
Anonima, 2010, Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Difenokonazol dan Ziram
Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah (Oryza sativa L).
dalam: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53981, Diakses
tanggal 13 Februari 2018
Djojosumarto, P., 2008, Pestisida dan Aplikasinya, Agromedia Pustaka, Jakarta
European Food Safety Authorithy (EFSA), 2011, Conclusion on the Peer Review
of the Pesticide Risk Assesment of the Active Substance
Difenoconazole, EFSA, 9 (1), 22-23.
Gritter, R. J., J. M. Bobbit, and A. E. Schwarting., 1991, Pengantar Kromatografi,
Edisi 2, terjemahan Kosasih Padmawinata, Penerbit ITB, Bandung
Khopkar, S.M., 2007, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia,
Jakarta
Nollet, Leo, M. L., 2004, Handbook of Food Analysis, Second Edition, Marcel
Dekker, New York
Sartono, 2001, Racun dan Keracunan, Cetakan I, Widya Medika, Jakarta.
Sartono, 2002, Racun dan Keracunan, Widya Medika, Jakarta
Sastroutomo dan Soetikno S., 1992, Pestisida: Dasar-dasar dan Dampak
Penggunaannya, PT. Gramedia Pustaka Utama, Bandung
Soemirat, J., 2003, Toksikologi Lingkungan, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Soemirat, J., 2005, Taksikologi Lingkungan, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta
Wattimena, G.A., 1988, Zat Pengatur Tumbuh Tanaman, PAU IPB, Bogor

29
LAMPIRAN

Lampiran 1. Kromatogram hasil analisis


1. Hasil kromatogram dari larutan standar difenoconazole injek pertama

30
31

2. Hasil kromatogram dari larutan standar difenoconazole injek kedua


32

3. Hasil kromatogram dari larutan standar difenoconazole injek ketiga


33

4. Hasil kromatogram dari larutan test difenoconazole injek pertama


34
35

5. Hasil kromatogram dari larutan test difenoconazole injek kedua


36
37

6. Hasil kromatogram dari larutan test difenoconazole injek ketiga


38
39

7. Hasil kromatogram dari larutan spike difenoconazole injek pertama


40

8. Hasil kromatogram dari larutan spike difenoconazole injek kedua


41

9. Hasil kromatogram dari larutan spike difenoconazole injek ketiga


42

Lampiran 2. Analisis data


1. Perhitungan respon factor (Rf)

Puncak area larutan standard


𝑅𝑓 =
Konsentrasi larutan standard dalam mg/mL

0,543747
𝑅𝑓 =
0,02

𝑅𝑓 = 27,18735

2. Perhitungan konsentrasi larutan test (Cs)


𝑃𝑢𝑛𝑐𝑎𝑘 𝑎𝑟𝑒𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑓 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑠𝑡
𝐶𝑠 (𝑚𝑔/𝑚𝐿) =
𝑅𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛 𝑓𝑎𝑐𝑡𝑜𝑟

25,64296
𝐶𝑠 =
27,18735

𝐶𝑠 = 0,9432 𝑚𝑔/𝑚𝐿

3. Perhitungan konsentasi (ppm) pada sampel

𝐶𝑠 × 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑠𝑡 × 1000000


𝑝𝑝𝑚 =
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑠𝑡

0,9432 × 55,0093 × 1000000


𝑝𝑝𝑚 = = 943,2 𝑝𝑝𝑚
55009,3

4. Nilai recovery
(𝑝𝑝𝑚 𝑠𝑡𝑑 𝑥 𝑣𝑜𝑙.𝑠𝑡𝑑 (𝑚𝑙))+ (𝑝𝑝𝑚 𝑠𝑝𝑖𝑘𝑒 𝑥 𝑣𝑜𝑙.𝑠𝑝𝑖𝑘𝑒)
Konsentrasi spike teoritis = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑔)
(100 𝑝𝑝𝑚 𝑥 10)+ (250.000 𝑝𝑝𝑚 𝑥 5)
= 5,0180 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 249302,511 ppm

𝑎𝑟𝑒𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑠𝑝𝑖𝑘𝑒 𝑥 𝑝𝑝𝑚 𝑠𝑡𝑑


Konsentrasi sampel spike = 𝑎𝑟𝑒𝑎 𝑠𝑡𝑑

609,33258 𝑥 20 𝑝𝑝𝑚
= 0,543747

= 22412,3565 ppm
43

𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑝𝑖𝑘𝑒


Faktor konversi (b/b) =
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

70,018 𝑔𝑟𝑎𝑚
=
5,0180 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 13,9534

Sampel spike percobaan = Konsentrasi sampel spike x faktor konversi

= 22412,3565 x 13,9534

= 312728,5752 ppm

Konsentrasi spike sebenarnya = konsentrasi spike – konsentrasi sampel

= 312728,5752 – 943,2

= 322785,3752 ppm

𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑠𝑝𝑖𝑘𝑒 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎


Nilai recovery = x 100%
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑠𝑝𝑖𝑘𝑒 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

322785,3752
= x 100%
249302,511

= 125,0631%