Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pneumotoraks termasuk ke dalam penyakit sistem pernapasan.
Pneumotoraks merupakan masuknya udara ke dalam rongga pleura yang
disebabkan oleh pecahnya bleb sub pleura pada paru-paru dengan
pengembangannya. Oleh karena itu penulis mengangkat judul ini yang
mempunyai pengaruh sangat besar terhadap kehidupan.

B. Ruang Lingkup Masalah


Pada makalah ini penulis hanya membahas tentang asuhan keperawatan
dengan gangguan sistem pernapasan akibat obstruktif dan trauma
pneumotoraks.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengatahui dan memahami tentang
pneumotoraks.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengetahui definisi dari pneumotoraks
b. Mahasiswa mengatahui penyebab dari pneumotoraks
c. Mahasiswa memahami tanda dan gejala dari pneumotoraks
d. Mahasiswa memahami penatalaksanaan dan komplikasi
pneumotoraks

1
D. Metode Penulisan
Pada penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode naratif,
dimana penulis hanya memaparkan bagian-bagian yang penting dan inti
permasalahan yang penulis angkat dari buku sumber.

E. Sistematika Penulisan
Pada penyusunan laporan studi kasus ini penulis menggunakan
sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN terdiri dari latar belakang, ruang lingkup,
tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika
penulisan.
BAB II : TINJAUAN TEORITIS terdiri dari definisi penyakit,
anatomi fisiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan
diagnostik, penatalaksanaan dan komplikasi.
BAB III : PENUTUP terdiri dari kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi Penyakit
Pneumotoraks adalah terdapatnya udara di dalam rongga pleura
akibat robekan pleura ( Patifisiologi, Sylvia A Price dan Lorraine Mc
Carty Wilson; hal 295 ).
Pneumotoraks adalah masuknya udara karena pleura. Antara
pleura viseral dan parietal ( Keperawatan Kritis vol I edisi IV Hudak
dan Gallo; hal 561 ).

2. Anatomi dan Fisiologi


a. Anatomi
Sistem Pernafasan

3
b. Fisiologi
Pleura merupakan satu lapis sel mesotelial, ditunjang oleh
jaringan ikat, pembuluh-pembuluh darah kapiler dan pembuluh-
pembuluh getah bening. Rongga pleura dibatasi oleh dua lapisan
tipis sel mesotelial terdiri atas pleura parietalis dan pleura viseralis.
Pleura parietalis melapisi otot-otot dinding dada, tulang dan
kartilago, diafragma dan mediastinum sangat sensitif terhadap nyeri.
Pleura viseralis melapisi paru dan menyusup ke dalam semua fisura
dan tidak sensitif terhadap nyeri. Rongga pleura individu sehat terisi
cairan 10 – 20 ml dan berfungsi sebagai pelumas diantara kedua
lapisan pleura.

3. Etiologi
a. Trauma atau iatrogenik
b. Luka tusuk atau luka tembak atau tusukan jarum/kanul
c. Karena pengobatan / therapi TB

4. Patofisiologi
Cedera tumpul Trauma dada yang menghubungkan
ruang intra pleura dengan tekanan
atmosfer
Rusuk yang fraktur menusuk
Atau merobek membran pleura Saat inspirasi

Udara memasuki rongga pleura Udara memasuki Udara terhisap kedalam


rongga pleura ruang intra pleura

Meningkatkan tekanan intra pleura


dan mengempiskan paru Meningkatkan tekanan
Saat ekspirasi udara intra pleura
tidak dapat keluar
Paru-paru kolaps
Pneumotoraks terbuka
Tension pneumotoraks
Pneumotoraks tertutup

4
5. Manifestasi Klinik
Dispnea, nyeri pleuritik hebat, trakea bergeser menjauhi sisi
yang mengalami pneumotoraks, takikardia, sianosis, pergerakan dada
berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena perkusi hipersonor
di atas pneumotoraks, perkusi meredup da atas paru-paru yang kolaps,
sura napas berkurang pada sisi yang terkena dan fnemitus vokal dan
berkurang.

6. Klasifikasi
Pneumotoraks dibagi menjadi tiga macam yaitu :
a. Pneumotoraks terbuka atau pneumotoraks traumatik adalah
gangguan pada dinding dada berupa hubungan langsung antara
ruang pleura dan lingkungan
b. Pneumotoraks tertutup atau pneumotoraks spontan adalah kecacatan
yang menyebabkan terbentkunya hubungan antara rongga pleura
dan atmosfir dapat menutup sendiri
c. Tension pneumotoraks adalah suatu pneumotoraks yang progresif
dan cepat sehingga membahayakan jiwa pasien dalam waktu yang
singkat

7. Pemeriksaan Diagnostik
Analisa gas darah arteri memberikan gambaran hipoksemia
meskipun pada kenyataannya banyak pasien sering tidak diperlukan.
Pada pemeriksaan foto dada tampak gambaran sulkus kostafreniteus
radiolusen. Sedang pneumotoraks tension pada gambaran foto dadanya
tampak jumlah udara hemitoraks yang cukup besar dan susunan
mediastinum kontra lateral bergeser.

5
8. Penatalaksanaan
Tindakan pengobatan pneumotoraks tergantung beratnya. Jika
pasien dengan pneumotoraks ukurannya kecil dan stabil, biasanya
hanya diobservasi dalam beberapa hari ( minggu ) dengan foto dada
tanpa harus dirawat inap di rumah sakit. Pada prinsipnya diupayakan
pengembangan paru sesegera mungkin antara lain dengan pemasangan
water sealed drainage (WSD). Pasien pneumotoraks dengan klinik tidak
sesak napas dan luas pneumotoraks < 15% cukup dilakukan observasi.
Namun demikian bila didapatkan penyakit paru yang mendasarinya
perlu dipasang WSD ( tindakan dekompresi ). Apabila ada batuk dan
nyeri dada diobati secara simtomatis. Selanjutnya evaluasi foto dada
setiap 12 – 24 jam selama dua hari. Pneumotoraks ukuran kecil
umumnya secara spontan akan diresorbsi, meskipn terjadinya
progresifitas pneumotoraks nya tetap diperhatikan.

9. Komplikasi
Pneumotoraks tensi dapat mengakibatkan kegagalan respirasi
akut. Bio-pneumotoraks, hidro-pneumotoraks / hemo-pneumotoraks,
henti jantung paru dan kematian. Pneumomediastinum dan emfisema
subkutan sebagai akibat pneumotoraks spontan / tertutup.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Data Fokus Keperawatan
a. Data Subyektif
1) Perjalanan trauma
2) Kapan trauma terjadi
b. Data Obyektif
1) Nyeri tajam tiba-tiba dalam dada
2) Dispnea, ansietas, diaphorexis, nadi lemah dan cepat

6
3) Terhentinya pergerakan dada normal pada sisi yang terkena
4) Trakea berdeviasi kea rah sisi yang tidak terkena
5) Hiperesonansi pada perkusi
6) Suara pernapasan menurun / tidak ada
7) Vokal frenitus menurun atau tidak ada
8) Tidak terdapat suara tambahan

2. Diagnosa Keperawatan
1. Pola pernapasan tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru
2. Resiko tinggi terhadap trauma / penghentian napas b.d sistem
drainase dada
3. Kurangnya pengetahuan b.d terpajan pada informasi

3. Intervensi Keperawatan
a. Pola pernapasan tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru
- Mengidentifikasi etiologi / faktor pencetus dari pneumotoraks
- Evaluasi fungsi pernapasan
- Awasi kesesuaian pola pernapasan bila menggunakan ventilasi
mekanik
- Auskultasi bunyi napas
- Catat pengembangan dada dan posisi trakea
- Kaji fremitus
- Kaji pasien adanya nyeri tekan, bila batuk, napas dalam
- Pertahankan posisi nyaman dengan meninggikan kepala tempat
tidur
- Bila selang dada dipasang periksa pengontrol, penghisap untuk
jumlah hisapan yang benar
- Periksa batas cairan pada botol penghisap
- Observasi gelembung udara botol penampung

7
- Evaluasi ketidaknormalan / kontinuitas gelembung botol
penampung
- Tentukan lokasi kebocoran udara
- Berikan kasa berminyak atau bahan lain yang tepat disekitar sisi
pemasang sesuai indikasi
- Awasi perubahan air penampung
- Kolaborasi dengan dokter untuk mengkaji seri foto toraks
- Kaji kapasitas vital / pengukuran volume tidal
- Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan oksigen tambahan
melalui kanul / masker sesuai indikasi

b. Resiko tinggi terhadap trauma / penghentian napas b.d sistem


drainase dada
- Kaji pasien, tujuan / fungsi untuk drainase
- Pasang kateter toraks pada dinding dada dan berikan panjang
ekstra sebelum memindahkan atau mengubah posisi pasien
- Anjurkan pasien untuk menghindari berbaring / menarik selang
- Identifikasi perubahan / situasi yang harus dilaporkan pada
perawat
- Observasi tanda distres pernapasan bila kateter toraks lepas /
tercabut

c. Kurangnya pengetahuan b.d kurangnya terpajan pada informasi


- Kaji patologi masalah individu
- Identifikasi kemungkinan kambuh / komplikasi jangka panjang
- Kaji ulang tanda / gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat
- Kaji ulang praktek kesehatan yang baik

8
4. Evaluasi
No Diagnosa Etilogi yang mungkin Hasil yang diharapkan
1. Pola napas tidak Penurunan ekspansi - Paru-
efektif paru paru mengembang
kembali dan kardiak
output normal
- Pasien
mampu membersihkan
jalan napasnya tanpa
kesulitan
2. Resiko tinggi Sistem drainage dada - Pasien
terhadap trauma memiliki gas darah
penghentian napas arteri dalam batas
normal
3. Kurangnya Kurangnya terpajan - Pasien
pengetahuan pada informasi mengatakan untuk
tindak lanjut
perawatan

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Paru dapat kolaps sebagian / total sehubungan dengan pengumpulan udara
( pneumotoraks ) pada area pleura / potensial. Perubahan tekanan intratorakal
yang ditimbulkan oleh peningkatan volume area pleura menurunkan kapasitas
paru, menyebabkan distres pernapasan dan masalah pertukaran gas dan
menghasilkan tegangan pada struktur mediastinal yang dapat mengganggu
jantung dan sirkulasi sistemik. Pneumotoraks dapat terjadi karena traumatik
dan spontan.

B. Saran
Mahasiswa diharapkan dapat memperluas wawasan dan mencari
pengalaman yang lebih dalam menangani asuhan keperawatan pada klien
dengan gangguan sistem pernapasan akibat trauma dan obstruksi khususnya
pneumotoraks.

10
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan
Hidayah-Nya yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah mata kuliah KMB I yang berjudul “ Asuhan Keperawatan Dengan
Gangguan Sistem Pernapasan Akibat Obtruksi Dan Trauma : Pneumotoraks “
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
semua pihak atas bantuan dan bimbingannya, sehingga studi kasusu ini dapat
terselesaikan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Iing Tobi’in, SKM. Selaku Direktur Akper Dharma Husada Cirebon
2. Ibu Sunani, AMK. Selaku coordinator mata kuliah KMB I
3. Bapak Fitra Herdian, Skp. Selaku pembimbing dalam penyusunan makalah ini
4. Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat
bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Cirebon, Oktober 2007

Penulis

11
DAFTAR PUSTAKA

Asih, Niluh Gede Yasmin, Skp, dkk. 2003. Keperawatan Medikal Bedah Klien
Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : EGC.

Doengoes, Marilyn E dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk


Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.

Hudak, Carolyn M dkk. 1997. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Jakarta :


EGC.

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses


Keperawatan. Bandung : EGC.

Price, Sylvia Anderson dkk. 1999. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakarta : EGC.

Tjokronegoro , Prof.dr. Arjatmo ph.Dsp dkk. 2001. Buku Ajar Penyakit Dalam
Jilid II. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

12