Anda di halaman 1dari 5

INOVASI MENJAGA STERILISASI ALAT DI RUANG RAWAT

INAP RSD dr. SOEBANDI JEMBER

TUGAS

Oleh:
Kelompok 10

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan No. 37 Jember Telp./Fax. (0331) 323450
INOVASI MENJAGA STERILISASI ALAT DI RUANG RAWAT
INAP RSD dr. SOEBANDI JEMBER

diajukan guna memenuhi tugas Program Profesi Ners (P2N)


Stase Keperawatan Bedah

Oleh:
Imelda Fitrah, S.Kep. NIM 082311101033
Putri Mareta Hertika, S.Kep. NIM 122311101014
Desi Rahmawati, S.Kep. NIM 122311101021
Alfun Hidayatulloh, S.Kep. NIM 122311101047

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan No. 37 Jember Telp./Fax. (0331) 323450
Inovasi Menjaga Sterilisasi I

Oleh : Desi Rahmawati, S.Kep. NIM 122311101021

Pada saat melakukan perawatan luka ketika ketersediaan peralatan set


rawat luka, kemungkinan yang dapat dilakukan perawat adalah: menyiapkan
setidanya 3 pinset berupa pinset anatomis dan sirugis, menyiapkan 2 gunting
jaringan, 1 gunting kasa. Kemudian memodifikasi pinset serta gunting jaringan
dengan memberikan lapisan kasa sehingga tidak dapat terkontaminasi langsung
dengan luka pasien sehingga memperkecil resiko infeksi nosokomial pada pasien
satu ke pasien lainnya. Ketika selasai melakukan tindakan kasa yang
terkontaminasi tadi dibuag kemudian diganti oleh kasa steril yang baru. Untuk
menggunakan ulang setidanya 1 menit sebelum melakukan perawatan luka pada
pasien yang lain alat yang digunkan tadi perlu didesinfeksi menggunakan larutan
fenol sehingga dapat meminimalkan pertumbuhan patogen.

Selain menular melalui pemakaian peralatan medis bersama, penularan


infeksi dapat pula terjadia akibat kondisi lingkungan yang kurang bersih. Oleh
karena itu sebagai perawat kita juga harus sering mencuci tangan dengan pedoman
5 moment hand hygiene, serta mengganti linen tempat tidur pasien secara teratur.

Sumber:
Dr. jan Tambayong. 1994. Mikrobiologi untuk keperawatan. Mikrobiologi
kedokteran FKUI. Jakarta: Bina Rupa Aksara
Inovasi Menjaga Sterilisasi II
Oleh :Alfun Hidayatulloh, S.Kep. NIM 122311101047

Perawatan luka secara umum menggunakan satu set perawatan luka terdiri
dari 1 pinset serugis, 2 pinset anatomis, 2 kom, dan 1 gunting jaringan. Ada
berbagai kondisi yang mempengaruhi kontaminasi peralatan steril, diantaranya
adalah kecerobohan petugas kesehatan, jumlah peralatan yang tidak seimbang
dengan pasien, keterbatasan ruangan yang tidak mampu melakukan sterilisasi alat
secara madiri dan lain sebagainya. Berbagai keterbatasan yang ada maka perlu
adanya suatu upaya untuk meminimalkan terjadinya infeksi karena alat yang tidak
steril. Sterilasasi alat seharusnya dilakukan di sentral sterilisasi alat di rumah sakit.
Ada berbagai cara desinfeksi tingkat tinggi baik secara merebus, mengukus
ataupun kimia. Tetapi berbagai cara tersebut kurang efektif dan efisien dalam hal
waktu.
Desinfektan akan membantu mencegah infeksi terhadap pasien yang
berasal dari peralatan maupun dari staf medis yang ada di rumah sakit dan juga
membantu mencegah tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien. Perlu
diperhatikan bahwa desinfektan harus digunakan secara tepat. Pada penelitian
Kurniati dan Winarto (2008) desifeksi dilakukan pada jaringan dengan
menggunakan povidon iodine dan alkohol 70% yang merupakan bahan habis
pakai yang mudah dijumpai dan selalu ada di setiap ruang rawat inap bedah. Hasil
penelitian menunjukkan kontaminasi kuman flora normal dari hasil kultur darah
yang menggunakan desinfektan povidon iodine dan alkohol 70% lebih sedikit
dibandingkan dengan menggunakan desinfektan alkohol 70%. Banyak zat kimia
yang digolongkan sebagai antiseptik (zat yang dapat menghambat atau
menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup) salah satunya adalah
alkohol 60-90% dan iodine.
Aktivitas melawan aktivitas mikrobiologis alkohol (60-90%) terhadap
bakteri gram-positif: sangat baik, bakteri gram-negatif: sangat baik, TB: sangat
baik, virus: sangat baik, jamur: sangat baik, endospora:tidak ada, dengan
kecepatan relatif: cepat (10-15 menit). Kekurangan alkohol merusak karet atau
lateks dan tidak dapat dipakai sebagai bahan pembersih (Syaifudin, 2005).
Aktivitas melawan aktivitas mikrobiologis iodine terhadap bakteri gram-positif:
sangat baik, bakteri gram-negatif: sangat baik, TB: baik, virus: sangat baik, jamur:
baik, endospora: sedang, dengan kecepatan relatif: sedang (10-20 menit)
(Signaterdadie’s.2009)
Modifikasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Membersihkan alat bekas pakai terlebih dahulu dengan iodine untuk
membersihkan kotoran yang menempel pada bagian ujung alat steril karena
alkohol tidak memiiki kemampuan sebagai pembersih.
2. Bilas sisa iodine yang menempel pada ujung alat stril dibersihkan
menggunakkan alkohol (60-90%).
3. Bersihkan menggunakan NaCl untuk menghilangkan sifat korosif alkohol.
4. Keringkan menggunakan kasa steril.
5. Alat siap digunakan.
Mungkin cara diatas tidak efektif 100% untuk menjaga alat tetap steril akan
tetapi dapat meminimalkan terjadinya infeksi nosokomial dari penggunaan alat
dengan menggunakan bahan habis pakai yang mudah ditemukan diruangan.
Kewaspadaan petugas kesehatan untuk mempertahankan konsep steril baik
terhadap handscoon steril dan peralatan steril merupakan kunci utama dalam
mencegah kejadian infeksi nosokomial.

Sumber:
Kurniati dan Winarto .2008. Perbedaan Desinfeksi Antara Povidon Iodine dan
Alkohol 70 % Dengan Alkohol 70 % terhadap Hasil Kultur Darah
Septikemia. Artikel karya tulis ilmiah. Semarang: FK UNDIP
Saifuddin, 2005. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan
Kesehatan denghan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Signaterdadie’s, 2009. Desinfektan. (Online),
(http://www.signaterdadie’s.com/2009/10/04/desinfektan.html. /diakses
tanggal, 05-01-2017, jam 19.30 WIB)