Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat TYM atas rahmatNya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan
judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NEONATUS HIPERBILIRUBINEMIA” .
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas diakhir semester 6 dalam mata kuliah keperawatan
Anak. Dalam penyusunan makalah ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada para pihak
yang telah membantu kelancaran tugas , terutama dosen …………………………yang telah
memberi banyak pengarahan serta ilmu kepada kami para mahasiswa.

Semoga makalah yang penulis buat ini, bermanfaat bagi pembaca. Penulis juga mengharapkan
kritik dan saran, agar tugas selanjutnya dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya dan
sesungguhnya semua itu bersifat membangun.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.. 1
DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN.. 3
1.1 Latar Belakang. 3
1.2 Rumusan Masalah. 3
1.3 Tujuan. 3

1.4 Sistematika
Penelitian…………………………………………………………………………………. 4
BAB II KAJIAN TEORI 5
2.1 Definisi 5
2.2 Prevalensi 5
2.3 Etiologi dan Faktor Resiko. 6
2.3.1 Etiologi 6
2.3.2 Faktor Resiko. 6
2.4 Klasifikasi 7
2.4.1 Ikterus Fisiologik. 7
2.4.2 Ikterus non-Fisiologis 8
2.5 Manifestasi Klinis 9
2.6 Patofiologis 9
2.7 Komplikasi 10
2.8 Pemeriksaan Penunjang. 10
2.9 Penatalaksanaan medis 11
BAB III TINJAUAN KASUS. 13
3.1 Kasus 13
3.2 Asuhan Keperawatan. 13
BAB IV PENUTUP. 18
4.1 Kesimpulan. 18
4.2 Saran. 18
DAFTAR PUSTAKA.. 19

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru lahir adalah
terjadinya hiperbillirubinemia yang merupakan salah satu kegawatan pada bayi baru lahir karena
dapat menjadi penyebab gangguan tumbuh kembang bayi. Kelainan ini tidak termasuk
kelompok penyakit saluran pencernaan makanan, namun karena kasusnya banyak dijumpai
maka harus dikemukakan. Kasus ikterus ditemukan pada ruang neonatus sekitar 60% bayi aterm
dan pada 80 % bayi prematur selama minggu pertama kehidupan. Ikterus tersebut timbul akibat
penimbunan pigmen bilirubin tak terkonjugasi dalam kulit. Bilirubin tak terkonjugasi tersebut
bersifat neurotoksik bagi bayi pada tingkat tertentu dan pada berbagai keadaan. Ikterus pada bayi
baru lahir dapat merupakan suatu gejala fisiologis atau patologis. Ikterus fisiologis terdapat pada
25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan sebesar 80%.
Ikterus tersebut timbul pada hari kedua atau ketiga, tidak punya dasar patologis, kadarnya tidak
membahayakan, dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologis adalah
ikterus yang punya dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut
hiperbilirubinemia. Dasar patologis yang dimaksud yaitu jenis bilirubin, saat timbul dan
hilangnya ikterus, serta penyebabnya.

Neonatus yang mengalami ikterus dapat mengalami komplikasi akibat gejala sisa yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh sebab itu perlu kiranya penanganan
yang intensif untuk mencegah hal-hal yang berbahaya bagi kehidupannya dikemudian hari.
Perawat sebagai pemberi perawatan sekaligus pendidik harus dapat memberikan pelayanan yang
terbaik dengan berdasar pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
I.2 Rumusan Masalah

Apa definisi hiperbilirubin?

Apa saja etiologi dan faktor resiko hiperbilirubin?

Bagaimana patofisiologi hiperbilirubin?

Bagaimana penatalaksanaan klien hiperbilirubin?


Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan hiperbilirubin?

I.3 Tujuan
Untuk mengetahui definisi hiperbilirubin
Untuk mengetahui etiologi dan faktor resiko hiperbilirubin?
Untuk mengetahui patofisiologi hiperbilirubin
Untuk mengetahui penatalaksanaan klien hiperbilirubin
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan hiperbilirubin

I.4 Sistematika Penulisan

BAB I : Membahas tentang pendahuluan terdiri atas: Latar Belakang, Rumusan Masalah,
Tujuan, Sistematika Penulisan.

BAB II: Definisi, Prevalensi, Etiologi dan Faktor Resiko, Klasifikasi, Manifestasi Klinis,
Patofisiologi, Komplikasi, Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan Medis.
BAB III: Membahas tentang Kasus dan Asuhan Keperawatan

BAB IV: Dalam bab ini menjelaskan tentang Kesimpulan dan Saran Neonatus
Hiperbilirubinemia
BAB II
KAJIAN TEORI
II.1 Definisi

Hiperbilirubinemia ialah terjadinya peningkatan kadar bilirubin dalam darah, baik oleh faktor
fisiologik maupun non-fisiologik, yang secara klinis ditandai dengan ikterus

Hiperbilirubinemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar bilirubin dalam darah
>5mg/dL, yang secara klinis ditandai oleh adanya ikterus, dengan faktor penyebab fisiologik dan
non-fisiologik.

Mathindas, Wilar, dan Wahani. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Manado: Jurnal
Biomedik. Volume 5. Nomor 1, Suplemen, Maret 2013, hlm. S4-10

Ikterus adalah suatu keadaan kulit dan membran mukosa yang warnanya menjadi kuning akibat
peningkatan jumlah pigmen empedu di dalam darah dan jaringan tubuh. Hiperbilirubin adalah
suatu keadaan dimana kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi
menimbulkan kernikterus, jika tidak ditanggulangi dengan baik.

Hidayati, Elli, dan Martsa Rahmaswari. 2015. Hubungan Faktor Ibu Dan Faktor Bayi Dengan
Kejadian Hiperbilirubinemia Pada Bayi Baru Lahir (Bbl) Di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Koja, Jakarta Utara Tahun 2015. Jakarta: Rakernas Aipkema 2016

Kesimpulan : neonatus hiperbilirubinemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar


bilirubin dalam darah >5mg/dL pada bayi preterm maupun aterm, yang secara klinis ditandai
oleh adanya ikterus. Ikterus atau jaundiceterjadi akibat akumulasi bilirubin dalam darah sehingga
kulit, mukosa dan atau sklera bayi tampak kekuningan.
II.2 Prevalensi
Indikator derajat kesehatan masyarakat komponen kesehatan diantaranya adalah Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Indonesia masih berada pada posisi
terendah di ASEAN untuk masalah AKB pada tahun 2007, dinegara-negara ASEAN seperti
Singapura 3/1000 per Kelahiran Hidup (KH), Malaysia 5,5/1000 per KH, Thailand 17/1000 per
KH dan di Indonesia mencapai 34/1000 KH. Hasil survey tahun 2012, Angka Kematian
Neonatus (AKN) pada tahun 2012 sebesar 19/1000 KH, menurun dari 20/1000 KH di tahun 2007
dan 23/1000 KH di tahun 2002 .
Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati biliaris (lebih dikenal
dengan kernikterus). Ensefalopati biliaris merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling
berat.

Hasil penelitian pada tahun 2007 angka kejadian hiperbilirubin mencapai angka 2,6%, dan dari
penelitian yang di lakukan di RSUD Kota Bandung diperoleh hasil kejadian hiperbilirubin
mencapai 12,3%. Wilayah kota administrasi Jakarta Utara merupakan salah satu daerah
administratif di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Pusat
kesehatan masyarakat jakarta utara salah satunya adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Koja Jakarta Utara. Menurut data di RSUD Koja Jakarta Utara tahun 2013 kejadian
hiperbilirubin sebanyak 123 bayi, dan terjadi peningkatan ditahun 2014 menjadi 148 bayi.

Hidayati, Elli, dan Martsa Rahmaswari. 2015. Hubungan Faktor Ibu Dan Faktor Bayi Dengan
Kejadian Hiperbilirubinemia Pada Bayi Baru Lahir (Bbl) Di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Koja, Jakarta Utara Tahun 2015. Jakarta: Rakernas Aipkema 2016
II.3 Etiologi dan Faktor Resiko
II.3.1 Etiologi
ASI Yang Kurang

Bayi yang tidak mendapat ASI cukup saat menyusui dapat bermasalah karena tidak cukupnya
asupan ASI yang masuk ke usus untuk memproses pembuangan bilirubin dari dalam tubuh. Hal
ini dapat terjadi pada bayi prematur yang ibunya tidak memroduksi cukup ASI.
Peningkatan Jumlah Sel Darah Merah

Peningkatan jumlah sel darah merah dengan penyebab apapun berisiko untuk terjadinya
hiperbilirubinemia. Sebagai contoh, bayi yang memiliki jenis golongan darah yang berbeda
dengan ibunya, lahir dengan anemia akibat abnormalitas eritrosit (antara lain eliptositosis), atau
mendapat transfusi darah; kesemuanya berisiko tinggi akan mengalami hiperbilirubinemia.
Infeksi
Bermacam infeksi yang dapat terjadi pada bayi atau ditularkan dari ibu ke janin di dalam rahim
dapat meningkatkan risiko hiperbilirubinemia. Kondisi ini dapat meliputi infeksi kongenital virus
herpes, sifilis kongenital, rubela, dan sepsis.

Mathindas, Wilar, dan Wahani. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Manado: Jurnal
Biomedik. Volume 5. Nomor 1, Suplemen, Maret 2013, hlm. S4-10
II.3.2 Faktor Resiko
Umur Kehamilan (minggu)

Penelitian Maisels, dkk mendapatkan bahwa hiperbilirubinemia terjadi terbanyak pada bayi
preterm (rata-rata umur kehamilan 38,1 ± 3 minggu). Penelitian yang dilakukan oleh Sarici, dkk
menemukan bahwa neonatus dengan umur kehamilan 36-37 minggu memiliki faktor risiko 5,7
kali terjadinya hiperbilirubinemia dibandingkan neonatus dengan umur kehamilan 39-49 minggu.
Risiko hiperbilirubinemia akan meningkat sesuai dengan menurunnya umur kehamilan (0,6 kali
per minggu dari umur kehamilan). Pada penelitian prospektif, neonatus dengan umur kehamilan
35-37 minggu, 2,4 kali mengalami hiperbilirubinemia dibandingkan neonatus dengan umur
kehamilan 38-42 minggu, dan menjadi kelompok risiko tinggi.

Berat Lahir (gram)

Ikterus pada bayi prematur timbul pada hari ke 2-5 dan ikterus berat lebih jelas terlihat pada bayi
kecil (berat lahir < 2500 gram atau umur kehamilan < 37 minggu).

Sepsis

Dari penelitian yang kami lakukan, didapatkan hubungan bermakna antara awitan sepsis dengan
kadar bilirubin, bayi dengan sepsis awitan lambat mempunyai risiko 32,3 kali lebih besar terjadi
hiperbilirubinemia dibanding mereka dengan sepsis awitan dini. Pada sepsis awitan lambat
timbul implikasi buruk pada berbagai organ, khususnya sistem hepatobilier sehingga kadar
bilirubin menjadi lebih tinggi. Hiperbilirubinemia karena sepsis timbul pada hari ke 2-7 setelah
lahir dan pada pemeriksaan fisik tampak ikterus berat.1 Penelitian yang dilakukan oleh Maisels,
dkk mendapatkan bahwa sebagian besar neonatus yang dirawat kembali dengan
hiperbilirubinemia adalah sehat dan tidak menderita sepsis. Penelitian oleh Sgro M dkk
menemukan satu dari 93 kasus (0,01%) yang di rawat kembali mengalami sepsis dan
menyebabkan hiperbilirubinemia berat.

Sholeh Kosim dkk. 2007. Hubungan Hiperbilirubinemia dan Kematian di NICU RSUP Dr
Kariadi Semarang. Semarang: Sari Pediatri, Vol. 9, No. 4, Desember 2007
II.4 Klasifikasi
II.4.1 Ikterus Fisiologik
Menurut Ridha (2014) ikterus fisiologis memiliki tanda-tanda, antara lain sebagai berikut :
Warna kuning akan timbul pada hari kedua atau ketiga setelah bayi lahir dan tampak jelas pada
hari kelima sampai keenam dan menghilang sampai hari kesepuluh.

Kadar bilirubin indirek tidak lebih dari 10 mg/dl pada neonatus kurang bulan dan 12,5 mg/dl
pada neonatus cukup bulan.
Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak lebih dari 5 mg/dl per hari.
Kadar bilirubin direk tidak lebih dari 1 mg/dl.

Bentuk ikterus ini umumnya terjadi pada bayi baru lahir dengan kadar bilirubin tak terkonjugasi
pada minggu pertama >2 mg/dL.

Pada bayi cukup bulan yang diberi susu formula, kadar bilirubin akan mencapai puncaknya
sekitar 6-8 mg/dl pada hari ke-3 kehidupan dan kemudian akan menurun cepat selama 2-3 hari
diikuti dengan penurunan lambat sebesar 1 mg/dL selama 1 sampai 2 minggu.

Pada bayi cukup bulan yang mendapat ASI, kadar bilirubin puncak akan mencapai kadar yang
lebih tinggi (7-14 mg/dL) dan penurunan terjadi lebih lambat, bisa terjadi selama 2-4 minggu,
bahkan dapat mencapai 6 minggu

Pada bayi kurang bulan yang mendapat susu formula juga akan terjadi peningkatan kadar
bilirubun dengan kadar puncak yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama, demikian pula dengan
penurunannya bila tidak diberikan fototerapi pencegahan. Peningkatan kadar billirubin sampai
10-12 mg/dl masih dalam kisaran fisiologik, bahkan hingga 15 mg/dL tanpa disertai kelainan
metabolism bilirubin.

Frekuensi ikterus pada bayi cukup bulan dan kurang bulan ialah secara berurut 50-60% dan 80%.
Umumnya fenomena ikterus ini ringan dan dapat membaik tanpa pengobatan. Ikterus fisiologik
tidak disebabkan oleh faktor tunggal tetapi kombinasi dari berbagai faktor yang berhubungan
dengan maturitas fisiologik bayi baru lahir. Peningkatan kadar bilirubin tidak terkonjugasi dalam
sirkulasi bayi baru lahir disebabkan oleh kombinasi peningkatan ketersediaan bilirubin dan
penurunan klirens bilirubin.
II.4.2 Ikterus Non-Fisiologi

Menurut Kosim (2012) ikterus patologis tidak mudah dibedakan dari ikterus fisiologis. Keadaan
di bawah ini merupakan petunjuk untuk tindak lanjutnya sebagai berikut :
Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam.
Setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi.

Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg/dl pada neonatus kurang bulan dan 12,5 mg/dl pada
neonatus cukup bulan.
Peningkatan bilirubin total serum > 0,5 mg/dl/jam.
Adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi muntah, letargis, malas menetek,
penurunan berat badan yang cepat, apnea, takipnea atau suhu yang tidak stabil.

Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi kurang
bulan.

Jenis ikterus ini dahulu dikenal sebagai ikterus patologik, yang tidak mudah dibedakan dengan
ikterus fisiologik. Terdapatnya hal-hal di bawah ini merupakan petunjuk untuk tindak lanjut,
yaitu:
ikterus yang terjadi sebelum usia 24 jam
Setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi
Peningkatan kadar bilirubin total serum >0,5 mg/dl/jam
Adanya tanda-tanda penyakit yang men-dasar pada setiap bayi (muntah, letargis, malas menyusu.
Penurunan berat badan yang cepat, apnea, takipnea, atau suhu yang tidak stabil

Ikterus yang bertahan setelah delapan hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi
kurang bulan.

Mathindas, Wilar, dan Wahani. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Manado: Jurnal
Biomedik. Volume 5. Nomor 1, Suplemen, Maret 2013, hlm. S4-10

II.5 Manifestasi Klinis


Gejala Hiperbilirubinemia dikelompokan menjadi 2 fase yaitu akut dan kronik: (Surasmi, 2003)
Gejala akut
Lethargi (lemas)
Tidak ingin mengisap
Feses berwarna seperti dempul
Urin berwarna gelap

Gejala kronik
Tangisan yang melengking (high pitch cry)
Kejang
Perut membuncit dan pembesaran hati
Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental
Tampak matanya seperti berputar-putar

Sebagian besar kasus hiperbilirubinemia tidak berbahaya, tetapi kadang-kadang kadar bilirubin
yang sangat tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak (Kern icterus). Gejala klinis yang tampak
ialah rasa kantuk, tidak kuat menghisap ASI/susu formula, muntah, opistotonus, mata ter-putar-
putar keatas, kejang, dan yang paling parah bisa menyebabkan kematian.

Mathindas, Wilar, dan Wahani. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Manado: Jurnal
Biomedik. Volume 5. Nomor 1, Suplemen, Maret 2013, hlm. S4-10
II.6 Patofisiologi

Bilirubin diproduksi dalam sistem retikuloendotelial sebagai produk akhir dari katabolisme heme
dan terbentuk melalui reaksi oksidasi reduksi. Pada langkah pertama oksidasi, biliverdin
terbentuk dari heme melalui kerja heme oksigenase, dan terjadi pelepasan besi dan karbon
monoksida. Besi dapat digunakan kembali, sedangkan karbon monoksida diekskresikan melalui
paru-paru. Biliverdin yang larut dalam air direduksi menjadi bilirubin yang hampir tidak larut
dalam air dalam bentuk isomerik (oleh karena ikatan hidrogen intramolekul). Bilirubin tak
terkonjugasi yang hidrofobik diangkut dalam plasma, terikat erat pada albumin.

Bila terjadi gangguan pada ikatan bilirubin tak terkonjugasi dengan albumin baik oleh faktor
endogen maupun eksogen (misalnya obat-obatan), bilirubin yang bebas dapat me-lewati
membran yang mengandung lemak (double lipid layer), termasuk penghalang darah otak, yang
dapat mengarah ke neurotoksisitas.

Bilirubin yang mencapai hati akan diangkut ke dalam hepatosit, dimana bilirubin terikat ke
ligandin. Masuknya bilirubin ke hepatosit akan meningkat sejalan dengan terjadinya peningkatan
konsentrasi ligandin. Konsentrasi ligandin ditemukan rendah pada saat lahir namun akan
meningkat pesat selama beberapa minggu kehidupan.

Bilirubin terikat menjadi asam glukuronat di retikulum endoplasmik retikulum melalui reaksi
yang dikatalisis oleh uridin difosfoglukuronil transferase (UDPGT). Konjugasi bilirubin
mengubah molekul bilirubin yang tidak larut air menjadi molekul yang larut air. Setelah
diekskresikan kedalam empedu dan masuk ke usus, bilirubin direduksi dan menjadi tetrapirol
yang tak berwarna oleh mikroba di usus besar. Sebagian dekonjugasi terjadi di dalam usus kecil
proksimal melalui kerja B-glukuronidase. Bilirubin tak terkonjugasi ini dapat diabsorbsi kembali
dan masuk ke dalam sirkulasi sehingga meningkatkan bilirubin plasma total. Siklus absorbsi,
konjugasi, ekskresi, dekonjugasi, dan reabsorbsi ini disebut sirkulasi enterohepatik. Proses ini
berlangsung sangat panjang pada neonatus, oleh karena asupan gizi yang terbatas pada hari-hari
pertama kehidupan.

Mathindas, Wilar, dan Wahani. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Manado: Jurnal
Biomedik. Volume 5. Nomor 1, Suplemen, Maret 2013, hlm. S4-10
II.7 Komplikasi

Pada umumnya, peningkatan kadar bilirubin tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan.
Namun pada beberapa kasus dapat berhubungan dengan beberapa penyakit, seperti penyakit
hemolitik, kelainan metabolik dan endokrin, kelainan hati, dan infeksi.5,6 Pada kadar lebih 20
mg/dl, bilirubin dapat menembus sawar darah otak (blood brain barrier) sehingga bersifat toksik
terhadap sel otak.5 Peningkatan bilirubin serum akan menyebabkan bilirubin yang belum
dikonjugasi di hati atau unconjugated bilirubin masuk ke dalam sel saraf dan merusaknya,
disebut kern ikterus. Pada kern ikterus fungsi otak terganggu dan mengakibatkan kecacatan
sepanjang hidup atau kematian

Sholeh Kosim dkk. 2007. Hubungan Hiperbilirubinemia dan Kematian di NICU RSUP Dr
Kariadi Semarang. Semarang: Sari Pediatri, Vol. 9, No. 4, Desember 2007

II.8 Pemeriksaan Penunjang


Visual

Metode visual memiliki angka kesalahan yang cukup tinggi, namun masih dapat digunakan bila
tidak tersedia alat yang memadai. Pemeriksaan ini sulit di-terapkan pada neonatus kulit
berwarna, karena besarnya bias penilaian. Secara evident base, pemeriksaan metode visual tidak
direkomendasikan, namun bila ter-dapat keterbatasan alat masih boleh diguna-kan untuk tujuan
skrining. Bayi dengan skrining positif harus segera dirujuk untuk diagnosis dan tata laksana lebih
lanjut.
Panduan WHO mengemukakan cara menentukan ikterus secara visual, sebagai berikut:

Pemeriksaan dilakukan pada pencaha-yaan yang cukup (di siang hari dengan cahaya matahari)
karena ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan buatan dan bisa tidak
terlihat pada pencahayaan yang kurang.

Kulit bayi ditekan dengan jari secara lembut untuk mengetahui warna di bawah kulit dan
jaringan subkutan.
Keparahan ikterus ditentukan berdasarkan usia bayi dan bagian tubuh yang tampak kuning.
Bilirubin Serum
Pemeriksaan bilirubin serum merupakan baku emas penegakan diagnosis ikterus neonatorum
serta untuk menentukan perlunya intervensi lebih lanjut. Pelaksanaan pemeriksaan serum
bilirubin total perlu dipertimbangkan karena hal ini merupakan tindakan invasif yang dianggap
dapat meningkatkan morbiditas neonatus.
Bilirubinometer Transkutan

Bilirubinometer merupakan instrumen spektrofotometrik dengan prinsip kerja memanfaatkan


bilirubin yang menyerap cahaya (panjang gelombang 450 nm). Cahaya yang dipantulkan
merupakan representasi warna kulit neonatus yang sedang diperiksa
Pemeriksaan Bilirubin Bebas Dan CO

Bilirubin bebas dapat melewati sawar darah otak secara difusi. Oleh karena itu, ensefalopati
bilirubin dapat terjadi pada konsentrasi bilirubin serum yang rendah.

Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengukur kadar bilirubin bebas, antara lain dengan
metode oksidase-peroksidase. Prinsip cara ini yaitu berdasar-kan kecepatan reaksi oksidasi
peroksidasi terhadap bilirubin dimana bilirubin menjadi substansi tidak berwarna. Dengan pen-
dekatan bilirubin bebas, tata laksana ikterus neonatorum akan lebih terarah. Pemecahan heme
menghasilkan biliru-bin dan gas CO dalam jumlah yang ekuivalen. Berdasarkan hal ini, maka
pengukuran konsentrasi CO yang dikeluarkan melalui pernapasan dapat digunakan sebagai
indeks produksi bilirubin

Mathindas, Wilar, dan Wahani. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Manado: Jurnal
Biomedik. Volume 5. Nomor 1, Suplemen, Maret 2013, hlm. S4-10

II.9 Penatalaksanaan Medis


Fototerapi

Fototerapi dapat digunakan tunggal atau dikombinasi dengan transfusi peng-ganti untuk
menurunkan bilirubin. Bila neonatus dipapar dengan cahaya ber-intensitas tinggi, tindakan ini
dapat menurunkan bilirubin dalam kulit. Secara umum, fototerapi harus diberikan pada kadar
bilirubin indirek 4-5 mg/dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram
harus difototerapi bila kon-sentrasi bilirubin 5 mg/dl. Beberapa pakar mengarahkan untuk
memberikan fototerapi profilaksis 24 jam pertama pada bayi berisiko tinggi dan berat badan lahir
rendah.
Intravena Immunoglobulin (IVIG)
Pemberian IVIG digunakan pada kasus yang berhubungan dengan faktor imunologik. Pada
hiperbilirubinemia yang disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah ibu dan bayi,
pemberian IVIG dapat menurunkan kemungkinan dilakukannya transfusi tukar.
Transfusi Pengganti

Transfusi pengganti digunakan untuk mengatasi anemia akibat eritrosit yang rentan terhadap
antibodi erirtosit maternal; menghilangkan eritrosit yang tersensitisasi; mengeluarkan bilirubin
serum; serta meningkatkan albumin yang masih bebas bilirubin dan meningkatkan
keterikatannya dangan bilirubin.

Terapi Medikamentosa
Phenobarbital dapat merangsang hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi
bilirubin dan mengeks-kresikannya. Obat ini efektif diberikan pa-da ibu hamil selama beberapa
hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan phenobarbital post natal masih
menjadi pertentangan oleh karena efek sampingnya (letargi). Coloistrin dapat mengurangi
bilirubin dengan mengeluar-kannya melalui urin sehingga dapat menu-runkan kerja siklus
enterohepatika.

Mathindas, Wilar, dan Wahani. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Manado: Jurnal
Biomedik. Volume 5. Nomor 1, Suplemen, Maret 2013, hlm. S4-10

BAB III
TINJAUAN KASUS
III.1 Kasus
Seorang ibu melairkan anak dengan BB 2,8 kg panjang 39 cm, Setelah beberapa hari warna kulit
dan kuku bayi kuning jaundice dan warna sklera bayi tampak ikteri . ibu bayi mengataan bayi
sering muntah. Saat BAK warna urine bayi gelap dan BAB bayi cair warna feses pucat. TTV
bayi TD : TTV bayi : TD : 90/50mmHg,Nadi:135 kali/menit, RR 40 kali/ menit, Suhu :38 ⁰C.
Turgor kuit >2 detik, Kulit bayi tampak kering, Kulit terba hangat. Ibu bayi mengatakan bayi
tidak mau menyusu, bayi kesulian dalam menghisap ASI. Hasil lab:kadar bilirubin 12 mg/dl.
Bayi dibrikan fottoterapi. Bayi tampak lemas, tampak lesi di kulit. ibu bayi tampak
cemas dengan keadan bayinya.
III.2 Asuhan Keperawatan
Data fokus

Data subjektif Data objektif

1. BB bayi 2,8 kg panjang 39 cm


2. Warna kulit dan kuku bayi kuning
jaundice
3. Warna sklera bayi tampak ikteri
4. TTV bayi : TD : 90/50mmHg,
Nadi:135 kali/menit,
RR: 40 kali/ menit,
Suhu :38 ⁰C.
5. Turgor kuit >2 detik
6. Kulit bayi tampak kering
7. Kulit terba hangat
1. Ibu bayi mengataan bayi sering muntah.
8. Bayi dibrikan fottoterapi
2. Ibu bayi mengatakan saat BAK warna urine
bayi gelap 9. Hasil lab:kadar bilirubin 12 mg/dl
3. BAB bayi cair warna feses pucat 10. Bayi ampak lemas,
4. Ibu bayi mengatakan bayi tidak mau 11. Tampak lesi di kulit
menyusu, bayi kesulitan dalam menghisap ASI,
12. Ibu bayi tampak cemas dengan keadan
5. Ibu bayi mengatakan bayinya rewel bayinya.

Analisa data

Data fokus Masalah keperwatan Etiologi

DS: Kerusakan integrias kulit Terapi radiasi


1. Ibu bayi mengatakan
bayinya rewel
DO:
1. Warna kulit dan kuku
bayi kuning jaungdis
2. Warna sklera bayi
tampak ikteri
13. TTV bayi : TD : TTV
bayi : TD : 90/50mmHg,
Nadi:135 kali/menit,
RR: 40 kali/ menit,
Suhu :38 ⁰C.

3. Turgor kuit >2 detik


4. Kulit bayi tampak kering
5. Bayi dibrikan fottoterapi
6. Tampak lesi di kulit

DS:
1. Ibu bayi mengataan bayi
sering muntah.
2. Saat BAK warna urine
bayi gelap dan BAB bayi
cair warna feses pucat
3. Ibu bayi mengatakan
bayi tidak mau menyusu, bayi
kesulian dalam menghisap
ASI,.
DO: Kekurangan volume cairan Kehilangan cairan aktif
1. TTV bayi :TD :
90/50mmHg
Nadi:135 kali/menit,
RR: 40 kali/ menit,
Suhu :38 ⁰C.
2. Turgor kuit >2 detik
3. Bayi ampak lemas,

DS:
1. Ibu bayi mengatakan
bayi tidak mau menyusu, bayi
kesulian dalam menghisap
ASI,
2. Ibu bayi mengatakan
bayinya rewel

DO:
1. TTV bayi :
TD : 90/50mmHg,
Nadi:135 kali/menit,
RR: 40 kali/ menit,
Suhu :38 ⁰C.
Turgor kuit >2 detik
2. Kulit bayi tampak kering
3. Kulit terba hangat
4. Bayi dibrikan fottoterapi Hipertermi Pemaparan suhu tingggi
Diagnosa

No. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan Integritas kulit bd terapi radiasi

2. Kekurangan volume cairan bd kehilangan cairan aktif

3. Hipertermi bd pemaparan suhu tinggi

Intervensi

Diagnosa
No Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Keperawatan

1. Monitor warna dan keadaan kulit


setiap 4 – 8 jam
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2. Monitor kadaan bilirubin direks
3x24jama diharapkan dan indireks, laporkan pada Data
integritas kulit normal Obyektifkter jika ada kelainan
dengan kritera hasil :
3. Ubah posisi miring atau
1. Ttv kembali normal tengkurap.
TD :70-90/50mmHg,
4. Perubahan posisi setiap 2 jam
Nadi:120-130kali/menit, berbarengan dengan perubahan
posisi, lakukan massage dan monitor
RR: 30-40 kali/ menit,
keadaan kulit.
Suhu :36-37,5 ⁰C.
5. Jaga kebersihan dan kelembaban
2. Integritas kulit yang kulit
baikbisa di pertahankan
Kerusakan integrias
3. Tidak ada luka/lesi
kulit bd terapi Kolaborasi Pemeriksaan lab (
1 radiasi 4. Perfusi jaringan baik Bilirubin )
5. mampu melindungi Kolaborasi pemberian salep kulit
kulit dan mempertahankan
kelembaban kulit

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama
1x24jama diharapkan
volume caIRAn kembali
normal dengan kritera hasil
:
1. TTV normal
a. TD :70-90/50mmHg,
b. Nadi:120-
130kali/menit,
c. RR: 30-40 kali/ menit,
d. Suhu :36-37,5 ⁰C.

2. Bayi tidak muntah


1. Pastikan intake cairan adequat
3. Bayi mau menyusu,
bayi tidak kesulian dalam 2. Menyiapkan intake cairan
menghisap peroral atau cairan parenteral untuk
mengganti cairan tubuh yang hilang
4. Berat badan stabil
pada saat tindakan fototerapi
5. Turgor kuit <2 detik
3. Memonitoring pada output
6. Bayi tidaklemas diantaranya jumlah urine, warna,
Kekurangan volume buang air besarnya
7. BAK dan BAB
cairan bd
kembali normal 4. Mengkaji status hidrasinya
Kehilangan cairan
2 aktif Kolaborasi pemberian cairan IV

Manajmen pengaturan suhu:


Hipertermi bd
Setelah dilakukan tindakan
Pemaparan suhu 1. Pertahankan suhu lingkungan
keperawatan selama
3 tinggi yang netral
1x24jama diharapkan
hiertermi teratasil dengan 2. Cek tanda Vital setiap 2 – 4 jam
kritera hasil : sesuai yang dibutuhkan
Termoregulation normal: 3. monitor suhu sesering mingkin,
paling tidak setiap 2 jam sesuai
1. Ttv normal:
kebutuhan
a. TD :70-90/50mmHg,
4. monitor suhu bayi baru lahir
b. Nadi:120- sampai stabil
130kali/menit,
5. monitor tekanan darah nadi dan
c. RR: 30-40 kali/ menit, respirasi seusai kebutuhan

d. Suhu :36-37,5 ⁰C. 6. monitor intake dan output


7. Pertahankan suhu tubuh 36,50 C
– 370 C
2. suhu tubuh
dalam rentang normal 8. Lakukan kompres/axilia untuk
mencegah cold/heat stress
3. Nadi dan respirasi
dalam batas normal
4. Tidak ada perubahan Kolaborasi pemberian antipiretik
warna kulit jika demam

5. Turgor kuit < 2 detik


6. Kulit bayi tidak
tampak kering

BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan

Hiperbilirubin adalah suatu kedaaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg %
pada minggu pertama yang ditendai dengan ikterus pada kulit, sclera dan organ lain. Keadaan ini
mempunyai potensi meningkatkan kern ikterus, yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat
perlengketan kadar bilirubin pada otak. Hiperbilirubin ini keadaan fisiologis (terdapat pada 25-50
% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi pada neonates kurang bulan). Hiperbilirubin ini
berkaitan erat dengan riwayat kehamilan ibu dan prematuritas. Selain itu, asupan ASI pada bayi
juga dapat mempengaruhi kadar bilirubin dalam darah.
IV.2 Saran

Dalam melaksanakan tindakan keperawatan, perawat juga harus menerapkan universal


precaution agar keselamatan penderita dan perawat dapat terjaga. Konsep legal etik juga harus
dilakukan agar klien dapat merasa nyaman dan kondisi klien dapat segera membaik.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayati, Elli, dan Martsa Rahmaswari. 2015. Hubungan Faktor Ibu Dan Faktor Bayi Dengan
Kejadian Hiperbilirubinemia Pada Bayi Baru Lahir (Bbl) Di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Koja, Jakarta Utara Tahun 2015. Jakarta: Rakernas Aipkema 2016

Mathindas, Wilar, dan Wahani. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Manado: Jurnal
Biomedik. Volume 5. Nomor 1, Suplemen, Maret 2013, hlm. S4-10

M.Sholeh Kosim dkk. 2007. Hubungan Hiperbilirubinemia dan Kematian di NICU RSUP Dr
Kariadi Semarang. Semarang: Sari Pediatri, Vol. 9, No. 4, Desember 2007

http://dokumen.tips/documents/makalah-hiperbilirubin-5654893804cdc.html

http://www.academia.edu/29464372/Askep_Hiperbilirubin_PDF_docx

http://dokumen.tips/documents/makalah-hiperbilirubin-5654893804cdc.html