Anda di halaman 1dari 16

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN

PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN


PENGELOLAAN USAHATANI

Land Use Planning of Ciliwung Watershed Area Using an Institutional


Approach through Farm Management Improvement Perspective

1 2 3 4
Tri Ratna Saridewi , Setia Hadi , Akhmad Fauzi , dan I Wayan Rusastra
1
Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor
Jl. Cibalagung No. 1, Kotak Pos 188, Bogor 16610
E-mail: trsdewi74@yahoo.com
2
Fakultas Pertanian IPB
Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
E-mail: set2460@yahoo.com
3
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
Jl. Kamper, Wing 10 Level 4, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
E-mail: fauziakhmad@gmail.com
4
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Jl. A. Yani No. 70, Bogor 16161
E-mail: wrusastra@yahoo.com

Naskah diterima: 4 April 2014; direvisi: 23 Mei 2014; disetujui terbit:10 Juni 2014

ABSTRACT

Rapid development on Ciliwung watershed converts farmland to other uses causing decreased catchment area
and flood. Flood occurrence on Ciliwung watershed indicates that current land use planning is not in accordance
with its carrying capacity. Currently, most of the policies issued to manage watershed are dominated by structural
approach. Moreover, land use planning often leads regional and sectoral conflicts. Based on a literature study, a
non-structural approach should be done prior to a structural approach. Land use planning using an institutional
approach is part of a non-structural approach. An institutional approach in managing Ciliwung watershed could be
based on Ostrom’s Institutional Analysis and Development (IAD). Payment mechanism for environmental services
and compensation can be carried out through the operation and maintenance of irrigation and watershed
management simultaneously. Good watershed quality is able prevent flood incidence and to guarantee continuity
of irrigation water supply resulting in farming productivity improvement. Optimum allocation of Ciliwung watershed
can be achieved by accommodating both conservation and economic requirements simultaneously. Effective
institutional interaction is the appropriate way to ensure implementation of integrated watershed management.

Keywords: Ciliwung watershed, land use planning, institutional approach, farming management

ABSTRAK

Pembangunan yang sangat pesat di Daerah Aliran Sungai Ciliwung mendorong terjadinya konversi lahan
pertanian menjadi lahan terbangun. Hal ini menyebabkan berkurangnya daerah resapan air sehingga terjadi
banjir. Banjir tersebut merupakan indikasi bahwa tata ruang saat ini tidak sesuai dengan daya dukung wilayah.
Selama ini, kebijakan pemerintah untuk penyelesaian pengelolaan kawasan DAS lebih didominasi oleh
penyelesaian secara struktural. Selain itu, perencanaan penataan ruang yang telah disusun seringkali
menimbulkan adanya konflik sektoral dan kewilayahan. Melalui studi literatur, dapat diketahui bahwa pendekatan
yang bersifat nonstruktural harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pendekatan struktural. Penataan ruang
menggunakan pendekatan kelembagaan merupakan bagian dari pendekatan nonstruktural. Pendekatan
kelembagaan dalam pengelolaan kawasan DAS Ciliwung dapat mengacu pada Ostrom’s Institutional Analysis
and Development (IAD). Mekanisme imbal jasa lingkungan dan pemberian kompensasi dapat dilakukan melalui
operasi dan pemeliharaan irigasi serta pengelolaan DAS secara bersamaan. Kualitas DAS yang terjaga dengan
baik mampu menanggulangi banjir sekaligus menjaga kontinuitas air irigasi sehingga produktivitas usahatani
meningkat. Alokasi tata ruang kawasan DAS Ciliwung yang optimum dapat diperoleh dengan mengakomodir
kebutuhan konservasi dan ekonomi secara bersamaan. Interaksi kelembagaan yang efektif merupakan langkah
yang tepat untuk menjamin implementasi pengelolaan DAS secara terpadu.

Kata Kunci: DAS Ciliwung, tata ruang, pendekatan kelembagaan, pengelolaan usahatani

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN
PENGELOLAAN USAHATANI Tri Ratna Saridewi, Setia Hadi, Akhmad Fauzi, dan I Wayan Rusastra
87
PENDAHULUAN berpengaruh terhadap luas lahan dan
produktivitas usahatani yang menggunakan
sistem irigasi. Menurut Sumaryanto et al.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung memiliki (2003), luas lahan sawah yang digarap petani
nilai sangat strategis karena melintasi dua di Daerah Irigasi DAS Brantas pada musim
provinsi, yaitu Jawa Barat yang meliputi kemarau (MK) umumnya lebih rendah dari
Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota musim hujan (MH). Rata-rata luas sawah
Depok di bagian hulu dan tengah serta DKI garapan pada MH, MK-1, dan MK-2 adalah
Jakarta di bagian hilir. Kegiatan pembangunan 0,35; 0,33; dan 0,27 ha dan produktivitas
yang sangat cepat di DKI Jakarta sangat ber- usahatani padi pada MH, MK-1, dan MK-2
pengaruh terhadap pola pemanfaatan lahan adalah 56,5; 54,9; dan 53,2 ku GKG per hektar
bukan hanya pada bagian hilir, tetapi juga dengan tingkat penggunaan masukan
pada bagian hulu dan tengah. Di samping termasuk dalam katagori sangat intensif.
perkembangan dan kemajuan yang demikian Keberadaan lahan pertanian harus
cepat, DAS Ciliwung kini menjadi sorotan tetap dipertahankan karena selain berfungsi
banyak pihak karena dianggap sebagai sebagai faktor produksi utama bagi usahatani,
penyebab terjadinya banjir di Jakarta, dengan lahan pertanian juga memiliki fungsi ekologis
tingkat kerugian yang cenderung meningkat sebagai daerah resapan air bagi DAS.
setiap tahunnya. Pengesahan Undang-undang Nomor 41 Tahun
Banjir terjadi karena perubahan dan 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
pengelolaan penggunaan lahan yang tidak Pangan Berkelanjutan (PLP2B) merupakan
tepat (Woube, 1999), sedangkan perubahan regulasi yang diharapkan dapat melindungi
penggunaan lahan bersifat dinamis terhadap dan mengendalikan alih fungsi lahan per-
besarnya debit aliran sebagai respon terhadap tanian. Undang-undang tersebut mengatur
curah hujan (Asdak, 2010). Curah hujan tinggi bahwa penetapan Kawasan Pertanian Pangan
yang tidak mampu diserap oleh tanah karena Berkelanjutan (KP2B) merupakan bagian inte-
daerah resapan air yang berkurang dan gral dari Rencana Tata Ruang Wilayah
saluran sungai yang tidak mampu menampung Kabupaten. Berdasarkan Barus et al. (2012) di
kelebihan limpasan air menyebabkan banjir. Kabupaten Bogor banyak ditemukan ham-
Irianto (2000) menyebutkan bahwa dalam paran sawah di kawasan lindung, Hak Guna
kurun waktu tahun 1981-1999, hulu DAS Usaha (HGU), dan kehutanan. Proses legalitas
seluas 14.860 ha telah beralih fungsi, meliputi status lahan sawah tersebut harus diupayakan
pengurangan 2 ha hutan, 35 ha kebun oleh pemerintah kabupaten agar memper-
campuran, 43 ha sawah teknis, 18 ha sawah mudah proses perhitungan bentuk dan
tadah hujan, dan 152 ha tegalan dan besaran insentif terkait perlindungan lahan
semuanya berubah menjadi kawasan pertanian. Kendala lain yang dihadapi adalah
pemukiman. Kondisi DAS Ciliwung semakin banyaknya sawah yang direncanakan sebagai
memburuk akibat sistem drainase dan pola kawasan pemukiman. Oleh karena itu, di-
penggunaan lahan yang kurang baik di daerah perlukan aturan yang menjamin terlindunginya
hilir, yang menyebabkan kontribusi aliran sawah di sekitar kawasan pemukiman.
permukaan dari daerah hilir sebesar 57,56 Perlindungan terhadap lahan pertanian
persen sedangkan dari daerah hulu dan dapat diupayakan melalui penyusunan penata-
tengah berkontribusi sebesar 42,44 persen an ruang. Penataan ruang adalah upaya aktif
(BPDAS, 2007a,b). Selain itu, rumah-rumah manusia untuk mengubah pola dan struktur
liar yang dibangun di bantaran sungai Ciliwung pemanfaatan ruang dari satu keseimbangan
menyebabkan erosi dan penyempitan sungai menuju keseimbangan baru yang lebih baik
Ciliwung (KLH, 2012). (Rustiadi et al., 2009). Dalam penyusunan
Alih fungsi lahan pertanian, selain model pengelolaan tata ruang secara terpadu
menurunkan luas lahan garapan juga dan pendekatan menyeluruh (holistik) suatu
menyebabkan gangguan keseimbangan ekosistem, konsep dasar pewilayahan Daerah
hidrologi DAS yang ditandai dengan Aliran Sungai (DAS) sangat diperlukan
perbedaan debit air sungai yang sangat tinggi (Haridjaja, 2008). Lebih lanjut dijelaskan, bah-
antara musim penghujan dan musim kemarau. wa DAS merupakan suatu wilayah kesatuan
Peningkatan debit air sungai pada musim ekosistem yang dibatasi oleh pemisah
penghujan dan penurunan debit air sungai topografis dan berfungsi sebagai tempat
pada musim kemarau berpengaruh terhadap aktivitas dan perlindungan alam (hidrologi,
ketersediaan air irigasi yang selanjutnya konservasi plasma nutfah, dan sebagainya) di

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 32 No. 2, Desember 2014: 87 – 102

88
mana aliran air atau sungai akan keluar Kodoatie dan Sjarief (2010) yang menyatakan
melalui suatu outlet tunggal. bahwa pengelolaan sumber daya air di-
Berdasarkan Undang-Undang Penata- definisikan sebagai aplikasi dari cara struktural
an Ruang Nomor 26 Tahun 2007, DAS dan nonstruktural untuk mengendalikan
Ciliwung berskala nasional karena melintasi sumber daya air alam dan buatan manusia
dua provinsi. Beberapa kementerian dan untuk kepentingan/manfaat manusia dan
pemerintah daerah bertanggung jawab ter- tujuan-tujuan lingkungan. Tindakan-tindakan
hadap pengelolaan DAS Ciliwung, sehingga struktural (structural measures) untuk penge-
diperlukan pembagian wewenang, mekanisme lolaan air adalah fasilitas-fasilitas terbangun
koordinasi, dan operasionalisasi kegiatan yang yang digunakan untuk mengendalikan aliran
jelas dalam sebuah kelembagaan DAS air baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
Ciliwung. Kegagalan dalam pengelolaan DAS Tindakan-tindakan nonstruktural (nonstructural
Ciliwung diakibatkan oleh rendahnya kinerja measures) untuk pengelolaan air adalah
kelembagaan pemerintah dalam pengelolaan program-program atau aktivitas yang tidak
DAS (Karyana, 2007). Suwarno (2011) me- membutuhkan fasilitas-fasilitas terbangun.
nambahkan bahwa kebijakan pemerintah Kebijakan pengelolaan DAS yang
dalam pengelolaan hulu DAS Ciliwung tidak dilakukan oleh pemerintah selama ini lebih
efektif karena perilaku pelaku kebijakan masih didasarkan pada tupoksi kementerian terkait,
diwarnai paradigma sektoral tanpa memper- sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan
hatikan sinergi antarsektor untuk memperoleh Menteri Kehutanan Nomor 39 Tahun 2009
hasil yang lebih besar. tentang Pedoman Penyusunan Rencana
Pengelolaan DAS Terpadu. Peraturan ini
Berdasarkan hal tersebut, penataan
menjelaskan beberapa kementerian sebagai
ruang kawasan DAS sangat diperlukan agar
pemangku kepentingan yang terkait langsung
diperoleh alokasi pemanfaatan ruang yang dengan pengelolaan DAS (pengendalian
sesuai dengan kondisi dan kapasitas sumber banjir) adalah Kementerian Kehutanan dan
daya wilayah, memenuhi kebutuhan konser- Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian
vasi dan ekonomi yang mendukung pengelola- Kehutanan bertugas melakukan penataan
an usahatani secara bersamaan dalam sistem hutan, pengelolaan kawasan konservasi, dan
kelembagaan yang kuat. Penulisan makalah ini rehabilitasi DAS. Kementerian Pekerjaan
bertujuan untuk menganalisis pentingnya pen- Umum bertugas melakukan pengelolaan
dekatan kelembagaan dalam penataan ruang sumber daya air dan tata ruang. Kementerian
kawasan untuk pengelolaan kawasan DAS dan Pertanian berperan dalam pembinaan
merumuskan perspektif pengelolaan usahatani masyarakat dalam pemanfaatan lahan
di Daerah Aliran Sungai Ciliwung (DAS pertanian dan irigasi.
Ciliwung). Untuk mencapai tujuan tersebut,
makalah ini dibagi menjadi empat bab, yaitu Terkait dengan tugas tersebut,
Kementerian Kehutanan pada tahun 2010
Pendahuluan, Pendekatan Pengelolaan Daerah
sampai 2013 telah melaksanakan kegiatan
Aliran Sungai, Pendekatan Kelembagaan,
rehabilitasi hutan dan lahan, memperbaiki
Perspektif Pemantapan Pengelolaan Usahatani,
bangunan konservasi berupa sumur resapan,
dan Penutup. Bab Pendekatan Kelembagaan
embung, dam pengendali, dan kegiatan sipil
dibagi menjadi empat subbab, yaitu Common
teknis berbasis alur sungai (gully plug),
Pool Resources, Ostrom’s Institutional
sedangkan tahun 2014 melakukan kebijakan
Analysis and Development, Mekanisme
konservasi tanah dan air dan pemanfaatan
Kompensasi, dan Penataan Ruang sebagai rekayasa teknologi (Kemenhut, 2014).
Pendekatan Kelembagaan. Kementerian Pekerjaan Umum juga melaku-
kan kegiatan yang hampir sama, yaitu usaha-
PENDEKATAN PENGELOLAAN DAERAH usaha struktural meliputi pembangunan
ALIRAN SUNGAI waduk, embung, situ dan pembangunan sumur
resapan, normalisasi badan air dan usaha non-
struktural yang meliputi reboisasi, penertiban
Kebijakan pengelolaan DAS (daerah aliran praktek pertanian konservasi di perbukitan,
sungai) yang dilakukan oleh pemerintah dike- mencegah masyarakat membuang sampah di
lompokkan menjadi dua cara, yaitu kebijakan sungai, relokasi penduduk di bantaran sungai
struktural dan nonstruktural. Pengelompokan (Kementerian PU, 2014). Kegiatan yang di-
ini mengacu pada definisi Grigg (1996) dalam lakukan oleh kedua kementerian tersebut lebih

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN
PENGELOLAAN USAHATANI Tri Ratna Saridewi, Setia Hadi, Akhmad Fauzi, dan I Wayan Rusastra
89
didominasi oleh kegiatan struktural, yang langsung dengan tujuan untuk mengoptimal-
ditandai dengan alokasi dana yang lebih besar kan kepentingan ekonomi dan kesejahteraan
dibandingkan nonstruktural (Suwarno, 2011). sosial tanpa mengganggu kestabilan
Pendekatan struktural yang selama ini ekosistem. Metode pengelolaan DAS terpadu
dikerjakan sebagai syarat keharusan (pengendalian banjir) dapat dilakukan dengan
(necessary condition) bagi kementerian, metode struktural dan nonstruktural, disajikan
ternyata belum dapat menyelesaikan pada Gambar 1.
permasalahan banjir di DAS Ciliwung karena Menurut Kodoatie dan Sjarief (2010)
bencana banjir masih terjadi setiap tahun dan pada masa lalu metode struktural lebih
dampaknya cenderung lebih besar ditandai diutamakan dibandingkan dengan metode non-
dengan jumlah kerugian akibat banjir yang struktural. Saat ini banyak negara maju meng-
cenderung meningkat sepanjang tahun. Hal ini ubah pola pengendalian banjir dengan lebih
menunjukkan bahwa pendekatan struktural mengutamakan metode nonstruktural, yang
belum cukup, sehingga perlu meningkatkan kemudian dikomplemen dengan pendekatan
kegiatan yang menggunakan pendekatan non- struktural karena dalam jangka panjang
struktural sebagai syarat kecukupan (sufficient memberikan hasil yang lebih baik. Sebagai
condition) bagi Kementerian Kehutanan dan contoh, kondisi tata guna lahan yang sudah
Pekerjaan Umum. padat karena bangunan menyebabkan kenaik-
an aliran permukaan dan pengurangan
Pengelolaan DAS terpadu menurut resapan air. Upaya perbaikan sungai dengan
Kodoatie dan Sjarief (2010) merupakan pelebaran (metode struktural) akan memberi-
penanganan integral yang mengarahkan kan pengaruh maksimal dua kali lipat saja,
semua stakeholders dalam pengelolaan banjir. itupun bila proses pelebaran sebesar dua kali
Pengelolaan bencana banjir terpadu tersebut lipatnya bisa berjalan lancar. Perlu diperhati-
dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang kan pelebaran sungai/drainase harus diper-
mengkoordinasikan pengembangan, pengelola- tahankan secara menyeluruh sampai ke hilir.
an banjir dan pengelolaan aspek lainnya yang Bilamana dilakukan pelebaran hanya dilakukan
terkait secara langsung maupun tidak pada daerah hulu tetapi daerah hilir tidak dapat

Pengendalian banjir

Metode struktural Metode nonstruktural

Perbaikan dan Bangunan pengendali • Pengelolaan DAS


pengaturan sistem banjir • Pengaturan tata guna lahan
sungai
• Pengendalian erosi
• Bendungan (dam)
• Sistem jaringan sungai • Pengembangan daerah banjir
• Kolam revisi
• Perbaikan sungai • Pengaturan daerah banjir
• Pembuatan check dam
• Perlindungan tanggul (penangkap sedimen) • Penanganan kondisi darurat
• Sudetan (by pass) • Bangunan pengurang • Peramalan banjir
kemiringan sungai • Peringatan bahaya banjir
• Aliran banjir
• Pembuatan polder • Asuransi
• Penegakan hukum

Sumber: Kodoatie dan Sugiyanto (2006) dalam Kodoatie dan Sjarief (2010)

Gambar 1. Kerangka Pikir Pengendalian Banjir melalui Pengelolaan DAS Terpadu

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 32 No. 2, Desember 2014: 87 – 102

90
dilebarkan maka akan terjadi penyempitan alur Pengelolaan risiko yang dimaksud dalam
sungai, dan akhirnya daerah hulu kembali ke penelitian ini adalah para perencana dalam
posisi semula. Selain itu, potensi kembali pada pengelolaan banjir seharusnya tidak hanya
lebar sungai semula cukup besar akibat mempertimbangkan langkah-langkah untuk
sedimentasi dan morfologi sungai yang belum mengurangi kemungkinan banjir, tetapi juga
stabil. Demikian pula kedalaman sungai yang mempertimbangkan pilihan tata ruang untuk
dikeruk menjadi dua kali akan kembali ke antisipasi dampak banjir yang semakin besar.
kedalaman semula akibat besarnya sedimen- Metode yang digunakan adalah kerangka
tasi. Oleh karena itu, metode nonstruktural Analisis dan Pengembangan Kelembagaan
harus dikedepankan lebih dahulu. Pengaturan Ostrom (Ostrom’s Institutional Analysis and
tata guna lahan dalam jangka panjang akan Development, IAD) yang menekankan
memperluas daerah resapan air dan menurun- partisipasi masyarakat dalam pengelolaan
kan air aliran permukaan (Kodoatie dan Sjarief, risiko banjir. Fokus Belanda dalam
2010). pengelolaan risiko banjir adalah mengurangi
Tindakan pengelolaan menyeluruh kemungkinan terjadi banjir dengan standar
yang menggabungkan metode nonstruktural keselamatan yang tinggi melalui pembangunan
dan struktural disebut sebagai flood control fisik (tanggul dan bendungan). Pengelola banjir
toward flood management (Hadimuljono, 2005 di Inggris mempunyai kecenderungan mem-
dalam Kodoatie dan Sjarief, 2010). Skala pengaruhi keputusan perencanaan tata ruang
prioritas pada flood control toward flood sebagai alat untuk antisipasi banjir, yaitu
management tercantum pada Gambar 2. mengarahkan perkembangan wilayah ke
daerah yang kecil kemungkinannya terkena
Van den Hurk et al. (2014) mem- banjir.
bandingkan kerangka kelembagaan melalui
pengelolaan risiko (risk management) banjir Berdasarkan kerangka IAD, Belanda
antara Belanda dan Kerajaan Inggris. yang memiliki standar keselamatan yang tinggi

Skala
Metode
Prioritas
I Metode Nonstruktural
- Pengelolaan DAS - Penanganan kondisi darurat
- Pengaturan tata guna lahan - Peramalan banjir
- Pengendalian erosi - Peringatan bahaya banjir Pengelolaan
- Pengembangan daerah banjir - Asuransi banjir

- Pengaturan daerah banjir - Penegakan hukum


II Metode Struktural : Bangunan Pengendali Banjir
menuju
- Bendungan (dam)
- Kolam retensi
- Pembuatan check dam (penangkap sedimen)
- Bangunan pengurang kemiringan sungai
- Pembuatan polder Pengawasan
III Metode Struktural : Perbaikan & Pengaturan Sistem Sungai banjir
- Perbaikan sistem jaringan sungai
- Pelebaran atau pengerukan sungai (river improvement)
- Perlindungan tanggul
- Pembangunan tanggul banjir
- Sudetan (by-pass)
- Aliran banjir
Sumber: Hadimuljono (2005) dalam Kodoatie dan Sjarief (2010)

Gambar 2. Pengawasan Banjir Menuju Pengelolaan Banjir

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN
PENGELOLAAN USAHATANI Tri Ratna Saridewi, Setia Hadi, Akhmad Fauzi, dan I Wayan Rusastra
91
menyebabkan masyarakat tidak berperan PENDEKATAN KELEMBAGAAN
dalam pengelolaan risiko banjir dan bahkan
informasi masyarakat tentang risiko tersebut
sangat rendah. Berbeda dengan kondisi di Konsep Daerah Aliran Sungai sebagai manaje-
Inggris, standar keselamatan yang rendah men atau unit perencanaan berkembang
mendorong pemerintah, baik pusat maupun menjadi beberapa tahapan (Molle, 2009). Teori
daerah serta swasta untuk meningkatkan pertama pada abad ke-18 mendefinisikan DAS
keterlibatan dan kesadaran dan tanggung sebagai himpunan semua lereng yang dibatasi
jawab masyarakat dalam pengelolaan risiko. oleh jatuhnya air hujan yang jatuh ke sungai
Pada tahap selanjutnya, masyarakat pada yang sama. Pada abad ke-19 definisi DAS
daerah rawan banjir telah mampu melakukan tidak hanya fokus pada hidrologi dan unit
evakuasi serta memiliki ketahanan terhadap pengelolaan, tetapi telah berkembang pada
banjir. Berdasarkan hal tersebut, maka Van pemecahan masalah penyimpanan dan alokasi
den Hurk (2014) menyimpulkan bahwa air, pengendalian banjir atau manajemen
lembaga-lembaga di Inggris lebih serius dan risiko. Batas politik atau administratif, kekuatan
konsisten dalam pengelolaan risiko sosial ekonomi dan sistem kekuasaan dalam
dibandingkan Belanda. manajemen sumber daya air yang seringkali
tidak sesuai DAS, maka DAS telah menjadi
Marshall (2013) menganalisis pen-
konstruksi politik dan ideologi. Pada awal abad
dekatan struktural dan nonstruktural berdasar-
ke-20, perencanaan dan manajemen DAS
kan biaya transaksi dari dana untuk program
dikaitkan dengan sentralisasi dan dominasi
infrastruktur (fund an infrastructure programme)
negara dalam pembangunan infrastruktur skala
dan dana untuk program pembelian kembali
besar. Pengelolaan DAS secara bertahap ber-
terhadap air (fund a water buy-back pro-
ubah menjadi koordinasi lembaga untuk meng-
gramme) di Murray-Darlin Basin Australia.
akomodir kepentingan masyarakat lokal dan
Kedua program tersebut merupakan program
keberagaman pemangku kepentingan (stake-
untuk melestarikan ekosistem DAS melalui
holders).
pengumpulan simpanan air lingkungan
(environmental water). Air yang mengalir pada Kelembagaan merupakan kumpulan
sungai tersebut sebagian besar digunakan aturan main (rules of game) dan organisasi,
untuk irigasi, yaitu sebesar 96 persen. berperan penting dalam mengatur peng-
Masyarakat di daerah tersebut khawatir, jika gunaan/alokasi sumber daya secara efisien,
penggunaan air berlebihan dapat mengganggu merata dan berkelanjutan (Rustiadi et al.,
terjadi keseimbangan ekologis DAS tersebut, 2009). Selanjutnya dijelaskan, bahwa dalam
sehingga diperlukan program untuk meng- konsep ekonomi kelembagaan, organisasi
hemat penggunaan air. Program infrastruktur merupakan suatu bagian (unit) pengambil
merupakan program untuk pengadaan infra- keputusan yang di dalamnya diatur oleh sistem
struktur agar dapat menghemat air. Pembelian kelembagaan atau aturan main. Aturan main
kembali terhadap air merupakan program mencakup kisaran yang luas dari bentuk yang
untuk membeli setiap penghematan peng- berupa konstitusi dari suatu negara, sampai
gunaan air irigasi karena penggunaan tek- kesepakatan antara dua pihak (individu)
nologi hemat air. Dalam hal ini pemerintah tentang pembagian manfaat dan beban (biaya)
membeli setiap penghematan air yang dilaku- yang harus ditanggung oleh tiap-tiap pihak
kan oleh petani. Biaya transaksi merupakan guna mencapai tujuan tersebut.
substansi yang proporsional dari seluruh biaya Komponen utama yang mencirikan
pengelolaan sumber daya yang akan mem- suatu kelembagaan terdiri atas (1) property
pengaruhi instrumen dalam menentukan pilih- right, yaitu hak dan kewajiban yang didefinisi-
an optimal dan model kebijakan. Biaya tran- kan dan diatur oleh hukum, adat, dan tradisi
saksi adalah sumber daya yang digunakan atau konsensus yang mengatur hubungan
untuk menentukan, menjalankan, merawat, dan antaranggota masyarakat dalam hal kepenting-
transfer hak kepemilikan (property right). Ber- annya terhadap sumber daya; (2) batas
dasarkan hal tersebut, biaya transaksi untuk yuridiksi, yaitu menentukan siapa dan apa
meningkatkan (upgrade) infrastruktur dari pro- yang tercakup dalam suatu kelembagaan, dan
gram infrastruktur (infrastructure programme) (3) aturan representasi, yang menentukan
lebih besar dibandingkan biaya transisi siapa yang berhak dalam proses pengambilan
teknologi dalam program pembelian kembali keputusan yang berhubungan dengan sumber
terhadap air (a water buy-back programme). daya yang dibicarakan (Rustiadi et al., 2009).

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 32 No. 2, Desember 2014: 87 – 102

92
Sehubungan dengan ketiga komponen ini sesuai dengan pendapat Molle et al. (2010),
tersebut, dan dengan mengacu pada kerangka yang menyatakan bahwa pengelolaan DAS di
metodologis yang digunakan Van den Hurk et negara-negara berkembang harus dimulai dari
al. (2014) yang menggunakan kerangka dalam reformasi pengaturan kelembagaan,
Ostrom’s Institutional Analysis and Develop- melalui mekanisme yang rinci untuk mengatasi
ment (IAD) maka kunci keberhasilan penge- ketidakseimbangan dalam akses terhadap air
lolaan DAS Ciliwung dengan pendekatan dan pengakuan hak air bagi masyarakat
kelembagaan adalah partisipasi masyarakat, miskin.
setelah fungsi kawasan sebagai kawasan Karakteristik CPRs yang ada pada
khusus (kawasan lindung, sempadan sungai) DAS menjadikan DAS Ciliwung sebagai sistem
ditetapkan. Kerangka ini pada awalnya kelembagaan yang kompleks. Berdasarkan
dikembangkan Ostrom untuk analisis common property right, kawasan DAS Ciliwung terbagi
pool resources (CPRs), sehingga analisis menjadi dua kelompok, yaitu milik negara
kelembagaan dalam kerangka ini dapat (state property) dan milik individu (private
dijadikan acuan dalam pengelolaan DAS. property). Daerah yang menjadi milik negara
dalam sebuah DAS adalah hutan lindung,
sungai beserta sempadan sungai, mata air,
Common Pool Resources danau, dan embung. Selain itu, maka lahan
Daerah aliran sungai dan lahan pertanian adalah milik individu. Pengelolaan DAS me-
pangan termasuk dalam klasifikasi common libatkan banyak pihak, baik pemerintah mau-
pool resources (CPRs), berdasarkan sifat pun nonpemerintah. Kementerian Kehutanan
persaingan dan sifat eksklusivitasnya (Rustiadi bertanggung jawab dalam pengelolaan kawas-
et al., 2009). CPRs merupakan sumber daya an lindung, Kementerian PU bertanggung jawab
yang dimiliki bersama oleh suatu komunitas dengan sumber daya air. Pemerintah daerah
atau kelompok, dan istilah CPRs menjelaskan yang mempunyai tanggung jawab menyusun
bahwa sumber daya memiliki dua karakteristik RTRW harus mengacu pada ketetapan
utama. Pertama, memiliki sifat persaingan Kementerian Kehutanan dan Kementerian PU
(rivalness) di dalam pemanfaatannya, dalam untuk menjaga kawasan konservasi. Salah
arti setiap konsumsi atau pemanenan sese- satu permasalahan yang terjadi adalah, hingga
orang atas sumber daya akan mengurangi saat ini batas sempadan sungai DAS Ciliwung
kemampuan orang lain di dalam memanfaat- belum ditetapkan, sehingga pemanfaatan yang
kan sumber daya tersebut. Kedua, adanya mengarah kepada perusakan masih terus
biaya (cost) yang harus dikeluarkan untuk terjadi, seperti bangunan yang berdiri di
membatasi akses sumber daya pada pihak- sempadan menyebabkan longsor dan erosi,
pihak lain untuk menjadi pemanfaat pembuangan sampah dan limbah yang
(beneficiaries) (Ostrom 1999). Sifat persaingan menyebabkan pendangkalan sungai. Per-
pada lahan pertanian pangan terpenuhi karena masalahan lain adalah kerusakan di kawasan
ketersediaan lahan yang sesuai untuk per- lindung, dan upaya rehabilitasi yang dilakukan
tanian pangan semakin terbatas, setiap oleh Kementerian Kehutanan berjalan lambat.
konversi lahan pertanian akan mengurangi Dalam pengelolaan sungai, pemerintah daerah
kemampuan bersama dalam penyediaan menyerahkan kepada pemerintah pusat
pangan. Sifat eksklusivitas lahan pertanian karena DAS Ciliwung berskala nasional, me-
dicirikan berdasarkan perspektif publik bahwa nyebabkan penanganan tidak optimal karena
sangat sulit mencegah terjadinya alih fungsi saling lempar tanggung jawab. Hal yang
lahan pertanian pangan yang tersubur terpenting adalah tidak ada lembaga yang
(Rustiadi dan Wafda, 2008). bertanggung jawab dalam pembinaan kepada
masyarakat untuk berperan aktif dalam
Kecenderungan pemanfaatan ber- pengelolaan DAS, padahal partisipasi merupa-
lebihan (overuse) dan adanya penumpang kan kunci keberhasilan. Ada beberapa
bebas (free rider) merupakan masalah yang komunitas yang melakukan kegiatan pem-
sekaligus penciri dari sumber daya CPRs, binaan, tetapi belum menjangkau seluruh
untuk itu diperlukan mekanisme dan sistem kawasan. Kurangnya pembinaan terhadap
kelembagaan yang dapat mencegah atau masyarakat menyebabkan kesadaran dan
menghindarinya. Dampak kelembagaan dalam tanggung jawab masyarakat dalam pengelola-
berbagai degradasi sumber daya jelas terlihat an DAS Ciliwung masih rendah, salah satu
terutama pada sumber daya yang memiliki indikator adalah tingginya limbah rumah
karakteristik CPRs (Rustiadi et al., 2009). Hal tangga pada sungai.

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN
PENGELOLAAN USAHATANI Tri Ratna Saridewi, Setia Hadi, Akhmad Fauzi, dan I Wayan Rusastra
93
Menurut Fauzi (2010), sistem alokasi politis, aturan main, minat, dan ekspektasi aktor
sumber daya pada DAS mengacu pada dan bahkan political will akan menguatkan
riparian water right, yaitu hak menggunakan air kebijakan yang pertama diberlakukan (Ostrom
bagi masyarakat yang berada di tepi sungai. 2006). Pada awalnya IAD digunakan untuk
Pengelolaan daerah tepi sungai tersebut menganalisis kelembagaan common pool
sering menggunakan istilah riparian. Dalam resources (CPRs), tetapi pada perkembangan-
sistem riparian seorang pemilik lahan yang nya IAD berkembang untuk membandingkan
berada di daerah riparian memiliki hak yang privat good dan public good dan juga untuk
sama dengan pemilik lahan yang berada di menganalisis kebijakan seperti perencanaan
daerah riparian lainnya (disebut on sequal kebijakan.
standing) untuk pemanfaatan air. Hak Kerangka IAD dibentuk oleh arena
kepemilikan riparian tidak hilang meskipun aksi (action arena), merupakan kombinasi dari
pemilik lahan di daerah riparian tersebut tidak situasi aksi (action situation) dan partisipan
memanfaatkan air. Sistem riparian ini (participants) secara bersama. Action arena
memberlakukan prinsip antrian karena mereka dipengaruhi oleh tiga tipe faktor eksogen, yaitu
yang berada di hulu sungai memiliki hak physical/material conditions, attributes of the
terlebih dulu atas air dibandingkan mereka community dan rule-in-use. Definisi rules-in-
yang berada di hilir sungai. Sistem riparian ini use dimulai dari definisi rules, yaitu berbagi
memiliki banyak kelemahan karena alokasi air pemahaman para partisipan tentang
tidak didasarkan pada kriteria ekonomi pelaksanaan aturan terutama pada tindakan
sehingga sering menimbulkan eksternalitas apa (atau hasil) yang dibutuhkan, dilarang atau
pada sumber daya yang bersifat common diijinkan. Rules dapat digunakan untuk
property. Secara umum, eksternalitas menjelaskan orang atau organisasi mana yang
didefinisikan sebagai dampak (positif atau berkuasa menyusun kebijakan, tindakan mana
negatif) yang terjadi jika kegiatan produksi atau yang dapat dipertanggungjawabkan, atau
konsumsi dari satu pihak mempengaruhi prosedur mana yang dijadikan acuan keputus-
utilitas (kegunaan) dari pihak lain secara tidak an politis. Berdasarkan kerangka IAD ini,
diinginkan, dan pihak pembuat eksternalitas partisipasi atau keterlibatan masyarakat secara
tidak menyediakan kompensasi terhadap pihak langsung sangat penting dalam pengelolaan
yang terkena dampak. DAS, khususnya pengendalian banjir secara
berkelanjutan, karena partisipasi masyarakat
Ostrom’s Institutional Analysis and memberikan hasil yang lebih serius dan
Development konsisten dibandingkan penyelesaian melalui
pembangunan sarana fisik.
Kerangka Ostrom’s Institutional Analysis and
Development (IAD) dalam makalah ini meng-
gunakan definisi kelembagaan sebagai pe- Mekanisme Kompensasi
mahaman terhadap aturan, norma atau
Degradasi lingkungan yang terjadi pada
strategi yang memberikan insentif bagi perilaku
kawasan DAS Ciliwung banyak terkait dengan
pada situasi yang berulang (Van den Hurk et
karakteristik manusia yang memanfaatkan dan
al., 2014). Keberadaan aturan formal seperti
mengelola lingkungan dan juga hubungan
hukum atau prosedur, atau aturan informal
antara sesama manusia (social system).
seperti kebiasaan, standar prosedur mem-
Kerusakan tersebut menimbulkan biaya kerugi-
pengaruhi pikiran dan rutinitas manusia pada
an ekonomi, penurunan ketahanan pangan,
kebijakan situasional. Kerangka IAD merupa-
degradasi lingkungan, dan hilangnya jasa
kan pemetaan berbagai tingkatan konsep
ekosistem. Hal ini menggambarkan eksternali-
sebagai cara memahami proses kebijakan
tas yang disebabkan oleh perubahan penutup-
secara sistematis, untuk menganalisis ke-
an DAS yang cenderung lebih banyak dialami
lembagaan yang menyusun aksi bersama
atau dirasakan oleh kelompok penduduk yang
(collective action) sebagai dasar penentuan
miskin (Molle et al., 2010).
kegiatan dan pencapaian hasil. Pengembang-
an kelembagaan yang sesuai dengan ke- Sebuah studi kasus di New York pada
butuhan sangat diperlukan karena kelembaga- tahun 1997, tentang perlindungan DAS melalui
an mengacu pada jalur ketergantungan (path upaya-upaya inovatif dan kooperatif berbagai
dependency). Berarti, bahwa sekali suatu pemangku kepentingan DAS, dapat dilakukan
kebijakan ditegakkan, maka pola mobilisasi dengan membuat memorandum persetujuan

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 32 No. 2, Desember 2014: 87 – 102

94
(Memorandum of Agreement, MOA 1997). beberapa daerah telah menjalankan mekanis-
MOA ini merupakan upaya untuk meyakinkan me PES tersebut, di antaranya adalah
berbagai pemangku kepentingan, bahwa Lampung dan Nusa Tenggara Barat. Fauzi and
pengelolaan DAS yang memiliki tujuan ganda Anna (2013) membandingkan skema PES
yaitu pembangunan ekonomi dan menjaga yang telah dilaksanakan di Lampung dan Nusa
kualitas air secara berkelanjutan dapat dilaku- Tenggara Barat, dengan mengacu pada
kan secara berhasil. Dalam prosesnya, strategi definisi umum mekanisme PES. Mekanisme
dan praktek yang sedang dikembangkan PES tersebut ditekankan pada empat hal, yaitu
adalah mencoba menyeimbangkan antara transaksi sukarela, besaran jasa lingkungan,
perlindungan DAS dengan pengembangan pembeli dan penjual, dan bentuk transaksi.
masyarakat dan kekuasaan negara dengan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua
hak-hak pribadi pemilik tanah (Pires, 2004). wilayah tersebut memiliki kelembagaan yang
kompleks. Selain itu, ada dua hal yang dapat
Sehubungan dengan adanya ekster- digarisbawahi, yaitu (1) mekanisme yang
nalitas tersebut, pemerintah telah mengatur bersifat perintah (mandatory) lebih ideal jika
melalui UU PPLH Nomor 32 tahun 2009. dibandingkan dengan sukarela (voluntary)
Dalam UU tersebut wilayah yang memperoleh karena kendala kemiskinan dan sosial
manfaat atas pengelolaan DAS mempunyai ekonomi lain, dan (2) kelembagaan sistem
kewajiban untuk memberikan imbal jasa/ keuangan PES yang melibatkan swasta lebih
kompensasi kepada wilayah yang memper- sederhana dan lebih berpeluang untuk
tahankan kualitas DAS. UU tersebut membagi dijalankan dibandingkan kelembagaan sistem
pengelolaan lingkungan menjadi dua mekanis- keuangan pemerintah. Kedua hal tersebut
me, yaitu pembayaran untuk jasa lingkungan dapat dijadikan dasar bahwa mekanisme
(payment for environmental Services, PES) kompensasi antardaerah dapat diterapkan di
dan kompensasi untuk jasa lingkungan kawasan DAS Ciliwung untuk menjaga kualitas
(compensation for environmental services, lingkungan. Permasalahan yang harus dianalis
CES). Kedua mekanisme tersebut sama-sama untuk menjalankan kompensasi berdasarkan
mengacu mekanisme pasar untuk mengelola UU tersebut adalah mendefinisikan siapa yang
lingkungan khususnya daerah konservasi, membayar dan penerima kompensasi, jaringan
yang membedakan adalah lembaga yang kompensasi, dan menetapkan standar kom-
terlibat di dalamnya. CES merupakan kerja pensasi (Jun et al., 2008).
sama antarpemerintah, sedangkan PES
dilakukan oleh swasta. Prinsip kompensasi yang diperkenal-
kan oleh Kaldor dan Hicks adalah suatu
Menurut ESCAP (2009), PES merupa- perubahan sebaiknya dibuat jika ada potensi
kan transaksi sukarela untuk jasa lingkungan, keuntungan sehingga semua dapat menjadi
dibeli oleh sedikit-dikitnya seorang pembeli lebih baik dengan mendistribusikan kembali
jasa lingkungan dari sedikit-dikitnya seorang barang atau pendapatan akibat perubahan
penyedia lingkungan, jika dan hanya jika tersebut (Just et al., 1982). Hicks menyaran-
penyedia jasa lingkungan tersebut memenuhi kan pengukuran kesejahteraan yang tidak
persyaratan dalam perjanjian dan menjamin langsung dikaitkan dengan perolehan dan
penyediaan jasa lingkungan. Jasa lingkungan pengurangan utilitas dengan menggunakan
merupakan manfaat yang diperoleh masya- ukuran alternatif, yaitu dengan interpretasi
rakat dari hubungan timbal-balik yang dinamis Willingness to Pay (WTP). Nilai WTP dapat
yang terjadi di dalam lingkungan hidup, antara didekati dengan Contingent Valuation Method
tumbuhan, binatang dan jasad renik, dan (CVM), merupakan metode langsung penilaian
lingkungan nonhayati. Dalam sebuah transaksi ekonomi melalui pertanyaan kemauan sese-
PES, pemanfaat dari jasa lingkungan orang membayar. CVM merupakan metode
membayar atau menyediakan bentuk lain yang dapat digunakan untuk mengukur nilai
imbalan kepada pemilik lahan atau orang yang ekonomi bagi orang yang tidak secara
berhak menggunakan lingkungan tersebut, langsung atas perubahan suatu kebijakan, dan
untuk mengelola lingkungan sedemikian rupa dapat pula digunakan untuk menganalisis
hingga menjamin jasa lingkungan. kebijakan yang bersifat ex-ante (Fauzi 2014).
Permasalahan terkait dengan UU Roumasset and Wada (2013) juga me-
PPLH adalah belum ditetapkan definisi ngembangkan metodologi penilaian untuk jasa
operasional dalam bentuk peraturan pemerin- lingkungan daerah hulu sehingga diperoleh
tah sehingga pemerintah daerah belum nilai optimal dalam konservasi air tanah dan
memiliki acuan yang jelas. Meskipun demikian, DAS. Investasi ekologi akan mengurangi

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN
PENGELOLAAN USAHATANI Tri Ratna Saridewi, Setia Hadi, Akhmad Fauzi, dan I Wayan Rusastra
95
shadow prices air tanah relatif terhadap air pembangunan berkelanjutan, harus meng-
tanah itu sendiri dan konservasi DAS integrasikan model perubahan distribusi peng-
seharusnya terjadi sampai biaya marginal dari gunaan lahan dan model distribusi hidrologi
investasi sama dengan keuntungan marjinal. (Du et al., 2012). Selain itu, pemahaman
hidrologi dan hubungan ekologis dalam
ekosistem DAS sangat diperlukan. Pilihan
Penataan Ruang sebagai Pendekatan yang harus diambil dalam pengelolaan DAS
Kelembagaan harus memperhatikan dampak yang akan
Penataan ruang merupakan salah satu diterima bagian hilir (Hipple et al., 2005; Molle
pendekatan nonstruktural dalam pengelolaan dan Mamanpoush, 2012). Lin et al. (2009)
banjir. Penataan ruang adalah upaya aktif menyatakan bahwa tata ruang yang berbeda
manusia untuk mengubah pola dan struktur menghasilkan output total hidrologi yang
pemanfaatan ruang dari satu keseimbangan berbeda. Dampak urbanisasi terhadap
menuju kepada keseimbangan baru yang lebih distribusi hidrologi dapat digunakan oleh
baik. Unsur penataan ruang menyangkut dua penentu kebijakan untuk mengevaluasi
hal, yaitu unsur fisik ruang dan unsur nonfisik kebijakan penataan ruang.
(kelembagaan). Unsur fisik meliputi peng- Chen et al. (2005) mengembangkan
aturan pemanfaatan ruang fisik, penataan metode untuk menentukan alternatif
struktur/hierarki pusat-pusat aktivitas sosial pengelolaan tata guna lahan kawasan DAS
ekonomi, penataan jaringan keterkaitan antar- Nankan di Taoyuan County Taiwan. Konsep
pusat-pusat aktivitas, dan pengembangan dan teori sistem analisis yang digunakan
sistem sarana prasarana. Unsur nonfisik/ adalah kerangka driving force-state-response
kelembagaan (institutional arrangement) men- (DSR) yang mengintegrasikan pengelolaan
cakup aspek-aspek penyusunan aturan-aturan sumber daya lahan, air, dan udara dalam
(rule) dan aspek pengorganisasian atas pem- analisisnya. Dengan kerangka DSR tersebut,
bagian peran (role) dalam rangka meng-
ditentukan alokasi penggunaan lahan yang
implementasikan aturan-aturan penataan
paling efektif dan efisien berdasarkan manfaat
ruang. Inti dari unsur kelembagaan adalah
bersih dengan tetap memperhatikan carrying
mengatur hubungan antarmanusia di dalam
capacity menggunakan model optimasi alokasi
penataan ruang dan mengatur cara manusia
tata ruang secara dinamis. Asumsi yang
memanfaatkan atau mengelola ruang beserta
dibangun dalam DSR adalah dampak
sumber daya di dalamnya. Dengan demikian,
selama manusia dianggap sebagai pihak yang langsung dari kuantitas sumber daya air,
paling menentukan dalam dinamika tata ruang, kualitas air sungai, dan kualitas udara ditentu-
maka sangat penting untuk mengarahkan cara kan oleh aktivitas manusia. Berdasarkan hasil
pandang (sistem nilai) manusia tentang diri- dapat diketahui bahwa prosedur pengelolaan
nya, masyarakat, dan sumber daya di dalam tata guna lahan dari kerangka DSR dapat
ruang, serta mengatur perilaku manusia digunakan sebagai panduan bagi pemerintah
terhadap ruang dan sumber dayanya (Rustiadi untuk menyusun kebijakan perkotaan dan
et al., 2009). perencanaan regional.
Penyebab utama banjir adalah per- Van den Hurk (2013) menjelaskan
ubahan penggunaan lahan dan pengelolaan bahwa spatial planning merupakan masalah
lahan yang tidak tepat. Pembangunan koordinasi dan integrasi kebijakan spasial se-
perkotaan memberikan gambaran yang jelas cara menyeluruh, tetapi terlihat bahwa spatial
tentang dampak perubahan penggunaan lahan planner berhubungan dengan kelembagaan
terhadap pengelolaan air. Tanah bervegetasi yang lebih kompleks dari regulasi tata ruang
diganti dengan permukaan kedap air sehingga dan berada pada ketegangan dan kontradiksi
meningkatkan aliran permukaan dan me- secara sektoral. Dengan adanya kompleksitas
ngurangi infiltrasi, melewati penyimpanan tersebut, maka pendekatan spatial layer yaitu
alami, dan memenuhi subpermukaan (Weather mengelompokkan spatial planning berdasar-
and Evans 2009). Kondisi penutupan DAS kan pola sumber daya air dan tanah,
berpengaruh terhadap interaksi daerah hulu konektivitas infrastruktur dan aktivitas masya-
dan hilir, air permukaan, air tanah, air pada rakat dalam menggunakan sumber daya dan
daerah hilir dan siklus hidrologi suatu DAS konektivitas tersebut perlu dilakukan. Pen-
(Molle and Mamanpoush 2012). Oleh karena dekatan ini mencakup perspektif sektor yang
itu, dalam pengelolaan DAS, perencanaan berbeda sehingga dapat digunakan untuk
sumber daya air dan pengelolaan banjir untuk menganalisis tanggung jawab dan posisi

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 32 No. 2, Desember 2014: 87 – 102

96
pihak-pihak yang terlibat dalam spatial digantikan dengan faktor produksi lain.
planning. Ketersediaan lahan yang cukup untuk
Nielsen et al. (2013) menjelaskan usahatani merupakan syarat mutlak untuk
bahwa Uni Eropa telah memperkenalkan mewujudkan peran sektor pertanian secara
prinsip pengelolaan DAS terpadu yang berkelanjutan. Tersedianya lahan pangan
menggabungkan kesesuaian tata ruang berkaitan erat dengan beberapa hal, yaitu:
dengan ekosistem dan sistem sosial serta potensi sumber daya lahan pertanian,
integrasi pengelolaan air lintas sektor pada produktivitas lahan, fragmentasi lahan
berbagai skala pengelolaan. Dalam me- pertanian, skala luasan pengusahaan lahan
rancang pelaksanaan kegiatan, setiap negara pertanian, sistem irigasi, rente lahan (land
anggota harus mengatasi konflik antarpelaku rent), konversi lahan pertanian, pendapatan
dan antarlembaga yang berbeda. Tujuan yang petani, kapasitas sumber daya manusia, dan
ingin diperoleh Nielsen adalah eksplorasi kebijakan pertanian (Rustiadi dan Wafda,
kekuatan dan kelemahan pengelolaan ke- 2008).
lembagaan DAS yang berbeda. Metode yang Konversi lahan pertanian sangat
digunakan dalam penelitian ini adalah studi disayangkan karena lahan-lahan di Pulau
komparasi berbagai tingkatan tata kelola, Jawa sebagian besar adalah lahan subur yang
sistem pemerintahan, dan efektivitas kelem- sangat potensial untuk kegiatan pertanian
bagaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan tanaman pangan. Selain dari sifat fisik tanah,
bahwa pemerintah pusat mempunyai peran konversi lahan sawah juga menyebabkan
yang paling dominan dalam perumusan ren- kepemilikan lahan oleh petani di kawasan DAS
cana pengelolaan DAS. Namun demikian, Ciliwung semakin kecil, dengan luas
mekanisme interaksi seperti pelaksanaan kepemilikan rata-rata 0,12 ha (BPDAS Citarum
norma, gagasan dan insentif dapat mendorong Ciliwung, 2011). Kepemilikan lahan yang kecil
interaksi kelembagaan yang efektif dan dapat menyebabkan petani sulit mengelola lahan
membantu mengatasi adanya permasalahan pertanian dengan memperhatikan teknik-teknik
koordinasi dalam implementasi kebijakan. konservasi. Selain itu, dalam proses produksi
Selain itu, interaksi kelembagaan dari waktu ke juga seringkali terjadi penurunan kualitas dan
waktu akan memperbaiki pengelolaan DAS kuantitas sumber daya lahan dan air yang
terpadu. berimplikasi pada keberlanjutan dan
Lembaga koordinasi pengelolaan DAS kecukupan produksi pertanian (Rustiadi dan
yang tergabung dalam Tim Koordinasi Wafda, 2008).
Pengelolaan Sumber Daya Air Ciliwung- Aktivitas bercocok tanam yang kurang
Cisadane (TKPSDA-CC) yang berada di mengindahkan kaidah-kaidah konservasi tanah
bawah Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung- dan air di DAS bagian hulu telah mengakibat-
Cisadane merupakan lembaga yang cukup kan proses sedimentasi yang serius pada
mewakili pemangku kepentingan pengelolaan waduk dan sungai di bagian tengah dan hilir
DAS. Lembaga ini beranggotakan aparat dari DAS yang bersangkutan. Besarnya proses
lembaga terkait dan lembaga nonpemerintah sedimentasi yang berlangsung di dalam
dengan proporsi yang sama. Keanggotaan waduk/sungai tidak hanya mempengaruhi
masyarakat (nonpemerintah) bersifat terbuka kualitas waduk, tetapi juga mengakibatkan
karena proses untuk menjadi anggota tim terjadinya pendangkalan pada saluran-saluran
diumumkan secara terbuka di media masa. irigasi yang mendapatkan aliran air dari
Lembaga yang sudah ada ini sebaiknya waduk/sungai tersebut. Pendangkalan yang
diefisienkan dan tidak perlu dibentuk lembaga terjadi pada saluran irigasi dapat mengurangi
baru. Koordinasi secara intensif perlu kapasitas tampung air pada saluran-saluran,
dilakukan pada seluruh tahapan kegiatan, dengan demikian mengurangi sawah atau
mulai tahap perencanaan, pelaksanaan hingga ladang yang menggunakan irigasi dari saluran
evaluasi. tersebut (Asdak, 2010).
Konversi lahan sawah dan lahan
PERSPEKTIF PEMANTAPAN bervegetasi lain menjadi bangunan yang
PENGELOLAAN USAHATANI kedap air menyebabkan berkurangnya daerah
resapan air sehingga menurunkan fungsinya
untuk menahan dan mendistribusikan air aliran
Lahan merupakan faktor produksi utama yang permukaan secara aman. Penelitian yang
unik bagi usahatani karena tidak dapat dilakukan oleh Wu et al. (2001) untuk

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN
PENGELOLAAN USAHATANI Tri Ratna Saridewi, Setia Hadi, Akhmad Fauzi, dan I Wayan Rusastra
97
mengetahui pengaruh penggunaan lahan budi tingkat primer dan sekunder dilakukan oleh
daya terhadap jumlah air yang diresapkan ke pemerintah, sedangkan tingkat tersier
dalam tanah (perkolasi) dan air aliran pengelolaan diserahkan kepada petani. Oleh
permukaan (runoff) dari curah hujan pada karena itu, kontribusi petani dalam membiayai
lahan budi daya padi (sawah) dan lahan pada operasi dan pemeliharaan irigasi pada tingkat
pertanian lahan kering di Chiai County Taiwan tersier sangat diperlukan karena anggaran
pada tahun 1981 sampai 1990. Dalam yang tersedia tidak mencukupi, padahal hal ini
penelitian diasumsikan bahwa perkolasi sangat menentukan keberlanjutan kinerja
menunjukkan pengisian air tanah dan aliran air irigasi.
permukaan menunjukkan besaran banjir. Hasil Permasalahan operasi dan peme-
penelitian menunjukkan bahwa perkolasi pada liharaan irigasi di tingkat tersier, terutama
lahan sawah sebesar 17 persen, sedangkan
berkaitan dengan anggaran, merupakan
pada lahan kering sebesar 14 persen, pada
masalah yang selalu dihadapi oleh negara
aliran permukaan pada lahan sawah sebesar
berkembang termasuk Indonesia. Permasalah-
27 persen, dan pada padi lahan kering sebesar
an dalam operasi dan pemeliharaan irigasi
55 persen. Berdasarkan hal tersebut dapat
terkesan hanya menjadi tanggung jawab
dijelaskan bahwa jika lahan sawah dikonversi
petani dan Kementerian Pertanian sebagai
menjadi lahan kering, maka terjadi penurunan
lembaga pembina. Hal ini terjadi karena hingga
jumlah air yang diresapkan menjadi air tanah
saat ini manfaat lahan yang telah dipahami
dan peningkatan air aliran permukaan. Dengan
secara luas hanya sebagai media produksi,
kata lain, dapat dijelaskan bahwa budi daya
sedangkan manfaat lain sebagai penyeimbang
padi dapat meningkatkan kapasitas simpan air
ekologis sering terabaikan. Padahal, keberada-
tanah dan mengurangi banjir.
an lahan sawah dalam kawasan DAS memiliki
Menurut Arsyad (2008), air harus tiga jenis manfaat utama, yaitu (1) media
diperlakukan sebagai sumber daya yang produksi padi, (2) penyangga kualitas
multiguna dalam suatu DAS, terutama untuk lingkungan dan pemelihara keseimbangan
menjaga aliran air yang cukup dengan kualitas ekologis, dan (3) memberi nutrisi bagi air
yang cukup pada saat diperlukan dan menjaga tanah, menjaga aliran sungai, mengurangi air
keberlanjutan fungsi sosial, ekologi, dan aliran permukaan, dan stabilisasi cuaca (Wu et
hidrologi DAS serta fungsi lahan basah. al., 2001). Keberadaan lahan sawah dapat
Pemakaian air oleh sektor pertanian pada mencegah atau mengurangi terjadinya banjir.
negara berkembang rata-rata 80 persen dari Lahan pertanian merupakan common pool
total pemakaian oleh manusia. Mengingat resources (CPRs), sehingga pengelolaan dan
besarnya pemakaian air di sektor pertanian, pemanfaatan lahan yang tidak tepat dapat
maka efisiensi penggunaan air irigasi akan memberikan dampak negatif (eksternalitas)
sangat besar artinya bagi penyediaan air untuk terhadap pihak lain. Pengelolaan lahan
penggunaan lain atau memperluas lahan yang seharusnya didasarkan sebagai satu kesatuan
dapat dialiri. sistem DAS karena lahan pertanian merupa-
Banyak pakar berpendapat bahwa kan CPRs. Berdasarkan kerangka IAD, maka
dalam era perubahan iklim, meskipun insiden partisipasi masyarakat penting dalam
banjir sering terjadi tetapi diprediksi akan pengelolaan CPRs karena memberikan hasil
terjadi kelangkaan air. Masalah tersebut dapat yang berkelanjutan.
diatasi dengan perubahan pengelolaan irigasi Partisipasi masyarakat dalam penge-
dari pengelolaan yang bersifat protektif lolaan DAS harus mencakup seluruh
menjadi produktif. Menurut Sumaryanto masyarakat dari hulu hingga hilir, masyarakat
(2007), pengelolaan irigasi tipe protektif yang bermata pencaharian sebagai petani
memiliki tujuan utama menyelamatkan maupun nonpetani dengan dukungan pemerin-
tanaman dari kekurangan air, sedangkan tipe tah. Masyarakat yang telah berpartisipasi
proaktif ditekankan pada optimalisasi pasokan dalam pengelolaan DAS harus mendapat
air irigasi sesuai kebutuhan. Determinasi insentif dari masyarakat yang dapat menikmati
penerapan irigasi yang lebih produktif dan kualitas lingkungan di kawasan DAS tersebut.
berkelanjutan adalah partisipasi petani dalam Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya,
menerapkan pola tanam yang lebih produktif interaksi ini dapat dilakukan dengan pem-
dan partisipasinya dalam membiayai operasi bayaran atau kompensasi terhadap jasa
dan pemeliharaan irigasi di tingkat tersier. lingkungan, yang dapat diterapkan di kawasan
Hingga saat ini pemeliharaan irigasi pada DAS Ciliwung. Imbal jasa lingkungan yang

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 32 No. 2, Desember 2014: 87 – 102

98
dilakukan oleh masyarakat Lombok Nusa kombinasi tiga pendekatan, yaitu (1) mengatur
Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu jadwal tanam, (2) melakukan water saving
contoh mekanisme interaksi antara masya- dengan membangun sumur-sumur di areal
rakat hulu, hilir serta pemerintah. Masyarakat persawahan, dan (3) mempertahankan kelem-
bagian hilir DAS di Mataram membayar baban tanah selama mungkin (Sumaryanto,
Rp1.000 per rumah tangga per bulan untuk 2013). Kegiatan tersebut sesungguhnya
jasa lingkungan dibayarkan melalui PDAM termasuk dalam salah satu upaya peng-
Mataram. Dana tersebut dikumpulkan dan hematan air agar ketersediaan air di kawasan
diserahkan kepada kelompok tani di hulu DAS lebih terjaga. Pembuatan sumur resapan
(secara bergiliran) untuk menanam dan akan memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu
memelihara pohon dan kelompok tani memilih ketersediaan air sepanjang musim dan
tanaman kopi. Setelah empat tahun terjadi pencegahan dampak banjir di lahan usahatani.
perbaikan kualitas lingkungan hulu dan terjadi Pembuatan sumur resapan tersebut sama
peningkatan pendapatan masyarakat, melalui dengan program yang direkomendasikan oleh
tanaman kopi mereka usahakan (Fauzi and Kementerian PU. Dengan melakukan kegiatan
Anna, 2013). yang sama, maka petani di kawasan DAS
Payung hukum dari pembayaran imbal Ciliwung akan memperoleh kompensasi jasa
jasa lingkungan telah tertuang dalam UU lingkungan karena termasuk pihak yang
PPLH Nomor 32 Tahun 2009, sehingga dapat mengelola lingkungan sehingga jasa
diadaptasi oleh pemerintah yang berada di lingkungan tetap terjaga. Kompensasi jasa
kawasan DAS Ciliwung. Lembaga yang me- lingkungan yang diberikan kepada petani
ngelola mekanisme pembayaran kompensasi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas
dapat dilakukan oleh lembaga pengelola irigasi usahatani sekaligus menjaga lingkungan dan
yang selama ini sudah ada. Menurut pada akhirnya pendapatan petani akan
Sumaryanto (2007) pengelola irigasi di tingkat meningkat. Petani yang pendapatannya telah
tersier dilakukan oleh petani secara kolektif, meningkat diharapkan lebih mencintai profesi
dan diorganisasikan dalam Perkumpulan dan lahan usahataninya sehingga mereka
Petani Pemakai Air (P3A). Selanjutnya, dijelas- tidak mau menjual lahan dan konversi lahan
kan bahwa di daerah irigasi Brantas organisasi pertanian dapat dicegah.
tersebut adalah Himpunan Petani Pemakai Air Berdasarkan uraian di atas, Kementeri-
(HIPPA) yang memiliki tugas mencakup tiga an Pertanian dapat dikatakan sebagai lembaga
aspek, yaitu (1) pelaksanaan distribusi air yang sesungguhnya paling efektif untuk mem-
irigasi dan drainase, (2) pemeliharaan jaringan bantu meningkatkan kepedulian dan kesadar-
irigasi, dan (3) pengelolaan keuangan. Tugas an masyarakat dalam pengelolaan DAS
pokok tersebut sesungguhnya dapat diperluas karena petani adalah kelompok masyarakat
pada pengelolaan DAS, bukan hanya terbatas yang berhubungan langsung dengan sumber
pada irigasi. Dengan demikian terjadi hubung- daya air. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor
an yang saling menguntungkan, dana operasi 39 Tahun 2009 juga menyebutkan bahwa
dan pemeliharaan irigasi dapat diperoleh dari dalam pengelolaan DAS terpadu, Kementerian
dana kompensasi jasa lingkungan, dan Pertanian berperan dalam pembinaan masya-
kualitas lingkungan dapat terjaga dengan baik rakat dalam pemanfaatan lahan pertanian dan
karena pengelolaan dan pemeliharaan yang irigasi agar selalu dalam kondisi yang baik.
dilakukan oleh perkumpulan petani pemakai Koordinasi dan kerja sama petani dan
air. Kualitas jaringan irigasi yang baik dan Kementerian Pertanian dengan TKPSDA-CC
kualitas lingkungan yang menjamin keter- dalam pengelolaan kawasan DAS Ciliwung
sediaan air sepanjang musim akan meningkat- akan memberikan hasil yang lebih baik dan
kan keberhasilan usahatani, dan kesejahtera- berkelanjutan.
an petani akan meningkat. Mengingat pentingnya keberadaan
Contoh lain yang dapat dilakukan pada lahan sawah maka diterbitkan UU Nomor 41
kawasan DAS Ciliwung adalah mengikuti Tahun 2009, dan pemerintah kabupaten/kota
upaya yang dilakukan oleh komunitas petani di harus menjadi perintis penyelamatan sawah
Desa Jati, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora. melalui penetapan Rencana Tata Ruang
Untuk meminimalkan risiko gagal panen dan Wilayah (RTRW). RTRW Kabupaten Bogor
sekaligus meningkatkan indeks pertanaman Tahun 2005-2025 telah disusun dengan
sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan mengacu pada RTRW Nasional, dan pe-
iklim, petani di daerah tersebut menerapkan netapannya telah melalui proses koordinasi

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN
PENGELOLAAN USAHATANI Tri Ratna Saridewi, Setia Hadi, Akhmad Fauzi, dan I Wayan Rusastra
99
dengan Kementerian PU dan Kementerian pada penyelesaian secara struktural,
Kehutanan sebagai kementerian yang ber- sementara hasil penelitian menjelaskan bahwa
hubungan langsung dengan pengelolaan DAS. kegagalan pengelolaan DAS Ciliwung
Implementasi RTRW sangat tergantung dari disebabkan oleh rendahnya kinerja
masyarakat yang berada pada wilayah kelembagaan pemerintah.
tersebut karena manusia merupakan penentu Pendekatan kelembagaan dalam
dalam dinamika tata ruang dan hubungan pengelolaan kawasan DAS Ciliwung dapat
antar manusia di dalam penataan ruang mengacu pada Ostrom’s Institutional Analysis
merupakan inti dari unsur kelembagaan. and Development (IAD). Kerangka IAD me-
Adanya kompensasi jasa lingkungan akan rupakan pemetaan berbagai tingkatan konsep
meningkatkan nilai lahan pertanian, sehingga sebagai cara memahami proses kebijakan
diharapkan konversi lahan dapat dicegah. secara sistematis, untuk menganalisis
Partisipasi masyarakat, terutama petani dalam kelembagaan yang menyusun collective action
implementasi RTRW yang telah disusun, sebagai dasar penentuan kegiatan dan
sebagai upaya perlindungan lahan pertanian pencapaian hasil. Mekanisme imbal jasa
sangat dibutuhkan. Partisipasi ini sangat lingkungan dapat dilakukan untuk mengurangi
diperlukan karena secara property right lahan- eksternalitas negatif sekaligus memperbaiki
lahan pertanian adalah milik individu kualitas lingkungan dalam pengelolaan kawas-
masyarakat. an DAS Ciliwung. Pembayaran kompensasi
jasa lingkungan diharapkan dapat digunakan
PENUTUP untuk operasi dan pemeliharaan irigasi dan
meningkatkan kualitas usahatani. Pemberian
insentif tersebut diharapkan dapat meningkat-
Kegiatan pembangunan yang pesat di kan kesejahteraan petani sehingga mencegah
kawasan DAS Ciliwung meningkatkan petani melakukan fragmentasi lahan dan
kebutuhan terhadap ruang untuk pemukiman, konversi lahan.
fasilitas publik, dan lahan terbangun lainnya. Penataan ruang yang mengakomodir
Dinamika kebutuhan terhadap ruang di- kebutuhan konservasi dan ekonomi secara
sebabkan adanya peningkatan jumlah pen- bersamaan akan menghasilkan alokasi tata
duduk dan pembangunan berbagai sektor ruang dan pembangunan kawasan DAS
ekonomi menyebabkan terjadinya dinamika Ciliwung yang berkelanjutan. Penataan ruang
sosial-ekonomi. Sampai saat ini sasaran ruang merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk
untuk menampung kedinamisan tersebut mempertahankan keberadaan lahan usahatani.
adalah kegiatan konversi kawasan pertanian Usahatani yang memberikan keuntungan yang
dan kawasan hutan menjadi lebih terbuka atau besar kepada petani akan mencegah ter-
bahkan tidak bervegetasi. Kawasan yang lebih jadinya fragmentasi lahan dan konversi lahan
terbuka ini selanjutnya akan lebih peka ter- pertanian, sehingga penataan ruang dapat
hadap curah hujan yang tinggi dan meng- diimplementasikan dengan baik, sesuai pe-
akibatkan banjir di kawasan DAS. Perubahan rencanaan. Instrumen yang dibutuhkan untuk
peruntukan lahan yang menyebabkan banjir mengimplementasikan penataan ruang adalah
tersebut menunjukkan bahwa tata ruang yang dengan kelembagaan yang baik. Interaksi
ada saat ini tidak sesuai dengan daya dukung kelembagaan yang efektif merupakan langkah
wilayah. yang tepat untuk mengatasi fragmentasi
Tata ruang di daerah hulu yang tidak kegiatan pengelolaan DAS yang dilakukan
sesuai dengan daya dukung wilayah dapat oleh beberapa kementerian, pemerintah
menimbulkan banjir daerah hilir. Kondisi ini daerah dan lembaga yang terlibat. Efektivitas
diperparah oleh tata ruang di daerah hilir yang kelembagaan pengelolaan DAS diharapkan
juga tidak tepat, sehingga kejadian banjir juga akan berdampak positif terhadap
terparah menimpa daerah hilir. Dengan kata pengelolaan usaha tani, pendapatan petani,
lain, aktivitas yang dilakukan dalam satu dan keberlanjutan pertanian sepanjang daerah
wilayah dapat memberikan eksternalitas aliran sungai.
negatif pada wilayah lain, dengan dampak Partisipasi aktif kelembagaan lokal dan
kerugian yang cenderung semakin besar masyarakat kawasan DAS Ciliwung sangat
setiap tahunnya. Kebijakan pemerintah untuk diperlukan karena sebagai sumber daya milik
penyelesaian masalah terkait dengan banjir bersama, kunci keberhasilan pengelolaan
dan eksternalitas selama ini lebih dominan kawasan DAS adalah partisipasi masyarakat.

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 32 No. 2, Desember 2014: 87 – 102

100
Peningkatan peran dalam pengelolaan kawas- Fauzi, A. and Z. Anna. 2013. The complexity of the
an akan memberikan hasil yang lebih Institution of Payment for Environmental
berkelanjutan. Peran serta kelembagaan lokal, Services: A Case Study of Two Indonesian
kelompok pemerhati lingkungan, organisasi PES Schemes. Ecosystem Services 6: 54-
63.
masyarakat, swasta serta lembaga pendidikan
akan memberikan masukan yang baik kepada Haridjaja, O. 2008. Pentingnya Konservasi Sumber
masyarakat serta mencegah terjadinya ekster- Daya Lahan. Dalam S. Arsyad dan E.
nalitas dari kegiatan yang dilakukan. Rustiadi (Eds.). Penyelamatan Tanah, Air
dan Lingkungan. Crestpent Press dan
Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA Hipple, J. D., B. Drazkowski, and P.M. Thorsell.
2005. Development in the Upper
Mississippi Basin: 10 Years after the Great
Arsyad, S. 2008. Konservasi Tanah dan Air dalam Flood of 1993. Landscape and Urban
Penyelamatan Sumberdaya Air. Dalam S. Planning 72: 313-323.
Arsyad dan E. Rustiadi (Eds.). Pe-
nyelamatan Tanah, Air dan Lingkungan. Irianto, S. 2000. Kajian Hidrologi Daerah Aliran
Crestpent Press dan Yayasan Obor Sungai Ciliwung Menggunakan Model
Indonesia. Jakarta. HEC-1. Tesis. Pasca Sarjana, Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Asdak, C. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah
Aliran Sungai. Gadjah Mada University Jun, Q., L. Rongzi, Z. Jingzhu, and D. Hongbing.
Press. Yogyakarta. 2008. Establishing Eco-compensation
Mechanism in Bohai Sea Water Under
Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum Framework of Ecosystem Approach. China
Ciliwung. 2011. Penyusunan Rencana Population, Resources and Environment.
Tindak Pengelolaan DAS Ciliwung. BPDAS 18(2): 60-64.
Ciliwung Citarum. Bogor.
Just, R.E., D.L. Hueth, and A. Schmitz. 1982.
Barus, B., D.R. Panuju, K. Munibah, L.S. Iman, B.H. Applied Welfare Economics and Public
Trisasongko, N. Widiana, dan R. Kusumo. Policy. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliff.
2012. Model Pemetaan Sawah dan
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Karyana. 2007. Analisa Posisi dan Peran Lembaga
dengan Penginderaan Jauh dan Sistem serta Pengembangan Kelembagaan di
Informasi Geografis. Disampaikan dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.
Seminar dan Ekspose Hasil-Hasil Kegiatan Disertasi. Pasca Sarjana. Institut Pertanian
dan Penelitian P4W-LPPM IPB. P4W- Bogor. Bogor.
LPPM IPB. Bogor. Kementerian Kehutanan RI. 2014. Pengelolaan
Chen, C.H., W.I. Liu, S.L. Liaw, and C.H Yu. 2005. DAS Terpadu: Salah Satu Konsepsi
Development of Dynamic Strategy Penanggulangan Banjir dan Tanah
Planning Theory and System for Longsor. Disampaikan dalam Rapat Kerja
Sustainable River Basin Land Use Komisi IV Tanggal 03 Februari 2014 di
Management. Science of the Total Jakarta.
Environment 346: 17-37. Kementerian Lingkungan Hidup RI. 2012. Status
Du, J., L. Qian, H. Rui, T. Zuo, D. Zheng, Y. Xu, and Lingkungan Hidup Indonesia 2012. Pilar
C.Y. Xu. 2012. Assessing The Effects of Lingkungan Hidup Indonesia. KLH.
Urbanization on Annual Runoff and Flood Jakarta.
Events Using an Integrated Hydrological Kementerian Pekerjaan Umum RI. 2014.
Modeling System for Qinhuai River Basin, Penanganan Bencana dan Pengendalian
China. Journal of Hydrology 464-465: 127- Banjir. Disampaikan dalam Rapat Kerja
139. Komisi IV Tanggal 03 Februari 2014 di
Economic and Social Commission for Asia and the Jakarta.
Pacific. 2009. Kebijakan Sosial Ekonomi Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief. 2010. Tata Ruang Air.
Inovatif untuk Meningkatkan Kinerja Penerbit ANDI. Yogyakarta.
Lingkungan: Imbal Jasa Lingkungan
Lin, Y., P.H. Verburg, C. Chang, H. Chen, and M.
(Terjemahan: W. Suroso). PBB. Bangkok.
Chen. 2009. Developing and Comparing
Fauzi, A. 2010. Ekonomi Sumber Daya dan Optimal and Empirical Land-Use Models
Lingkungan. Teori dan Aplikasi. PT for The Development of An Urbanized
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Watershed Forest in Taiwan. Landscape
Fauzi, A. 2014. Valuasi Ekonomi dan Penilaian and Urban Planning 92: 242-254.
Kerusakan Sumber Daya Alam dan Marshall, G.R. 2013. Transaction Cost, Collective
Lingkungan. IPB Press. Bogor. Action and Adaptation in Managing

PENATAAN RUANG DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DALAM PERSPEKTIF PEMANTAPAN
PENGELOLAAN USAHATANI Tri Ratna Saridewi, Setia Hadi, Akhmad Fauzi, dan I Wayan Rusastra
101
Complex Social-Ecological Systems. Berkelanjutan. Jurnal Agro Ekonomi 25 (2):
Ecological Economics 88: 185-194. 148-177.
Molle, F. 2009. River-Basin Planning and Sumaryanto. 2013. Estimasi Kapasitas Adaptasi
Management: The Social Life of A Petani Padi terhadap Cekaman
Concept. Geoforum 40: 484-494. Lingkungan Usahatani Akibat Perubahan
Iklim. Jurnal Agro Ekonomi 31 (2): 115-
Molle, F. and A. Mamanpoush. 2012. Scale,
141.
Governance and The Management of
River Basins: A case study from Central Sumaryanto, Wahida, dan M. Siregar, 2003.
Iran. Geoforum 43: 285-294. Determinan Efisiensi Teknis Usahatani
Padi di Lahan Sawah Irigasi. Jurnal Agro
Molle, F., P. Wester, and P. Hirsch. 2010. River Ekonomi 21 (1): 72-96.
Basin Closure: Processes, Implicatioan
and Responses. Agricultural Water Suwarno, J. 2011. Pengembangan Kebijakan
Management 97: 569-577. Pengelolaan Berkelanjutan DAS Ciliwung
Hulu Kabupaten Bogor. Disertasi. Pasca
Nielsen, H.O., P. Frederiksen, H. Saarikoski, A. Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rytkonen, and A.B. Pedersen. 2013. How
Van den Hurk, M. 2013. Towards a Tailored
Different Insitutional Arrangements
Institutional Analysis within the Complex
Promote Integrated River Basin Systems of Delta Regions. The Design of a
Management. Evidence from the Baltic Tool for Institutional Analysis regarding
Sea Region. Land Use Policy 30: 437-445. Flood Risk Management in the Delta Cities
Ostrom, E., R. Gardner, and J. Walker. 2006. Rules, of New Orleans, USA and Rotterdam, the
Games, & Common-Pool Resources. The Netherlands. Thesis. Delft University of
University of Michigan Press. Michigan. Technology. Netherland.
Pires, M. 2004. Watershed Protection for A World Van den Hurk, M., E. Mastenbroek, and S.
City: The Case of New York. Land Use Meijerink. 2014. Water Safety and Spatial
Policy 21: 161-175. Development: An Intitutional Comparison
between the United Kingdom and the
Rustiadi, E. dan R. Wafda. 2008. Urgensi Netherlands. Land Use Policy 36: 416-426.
Pengembangan Lahan Pertanian Pangan
Wheater, H. and E. Evans. 2009. Land Use, Water
Abadi dalam Perspektif Ketahanan
Management and Future Flood Risk. Land
Pangan. Dalam S. Arsyad dan E. Rustiadi
Use Policy 26S: S251-S264.
(Eds.). Penyelamatan Tanah, Air dan
Lingkungan. Crestpent Press dan Yayasan Woube, M. 1999. Flooding and Sustainable Land–
Obor Indonesia. Jakarta. Water Management in The Lower Baro–
Akobo River Basin, Ethiopia. Applied
Rustiadi, E., S. Saefulhakim, dan D.R. Panuju, Geography 19: 235-251.
2009. Perencanaan dan Pengembangan
Wilayah. Crestpent Press dan Yayasan Wu, R.S., W.R. Sue, C.B. Chien, C.H. Chen, J.S.
Obor Indonesia. Jakarta. Chang, and K.M. Lin 2001. A Simulation
Model for Investigating the Effect of Rice
Sumaryanto. 2007. Identifikasi Faktor-faktor yang Paddy Fields on the Runoff System.
Kondusif untuk Merintis Pengelolaan Irigasi Mathematical and Computer Modelling 33:
di Tingkat Tersier yang Lebih Produktif dan 649-658.

FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 32 No. 2, Desember 2014: 87 – 102

102