Anda di halaman 1dari 26

HALAMAN JUDUL

PERKEMBANGAN PAHAM LIBERALISME

Di ajukan Guna Memenuhi Tugas Matakuliah Sejarah Intelektual

Oleh

HAPPY KHOIRUNNISA’ 110210302016

DHILA JONED 110210302033

NAIMATUL AINIYAH 1102103020

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2013
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Perkembangan Paham
Liberalisme

Penulisan makalah adalah salah satu tugas matakuliah Sejarah Intelektual .


Dalam Penulisan makalah ini, penulis merasa masih banyak kekurangan-
kekurangan baik pada teknik penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penulis belum maksimal. Untuk itu kritik dan saran
dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih


yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan
makalah ini, khususnya kepada Dosen Pembimbing matakuliah Sejarah
Intelektual, Drs. Maryono. M.Hum yang telah membimbing dan mengarahkan
bagaimana seharusnya makalah ini dibuat.

Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang


setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan
semua bantuan ini sebagai ibadah, serta makalah ini dapat menjadi manfaat bagi
pembaca. Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Jember, 26 Oktober 2013

Penulis

ii
DAFTAR ISI

iii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Liberalisme berasal dari kata bahasa Inggris, liber yang artinya bebas,
sehingga liberalisme merupakan usaha atau perjuangan menuju kebebasan.
Liberalisme merupakan sebuah paham ketatanegaraan dan ekonomi yang
menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga dan
pemerintah tidak boleh turut campur. Liberalisme sendiri dilatarbelakangi oleh
pemikiran John Locke. Ia beranggapan bahwa hak asasi manusia meliputi hak
hidup, kemerdekaan, dan hak milik. Hak-hak tersebut tercakup dalam hak politik.
Liberalisme menitikberatkan hak asasi yang melekat pada diri manusia sejak lahir.

Selain itu, J.J. Rousseau dalam bukunya The Contract Social menyatakan
bahwa manusia dilahirkan bebas. Hak dasar ini ditafsirkan sebagi tak ada pihak
lain yang boleh mengambilnya termasuk penguasa, kecuali bila ada persetujuan
dengan pihak yang bersangkutan. Paham ini menuntut kemerdekaan individu
dalam bentuk kemerdekaan ekonomi dan kemerdekaan politik. Liberalisme juga
menuntut adanya kemerdekaan agama.

Liberalisme muncul dari paham individualisme. Paham ini menempatkan


kepentingan individu sebagai pusat tujuan hidup manusia. Di bidang politik,
liberalisme menimbulkan tampilnya paham demokrasi dan nasionalisme. Paham
demokrasi menjelaskan bahwa masyarakat terbentuk dari individu-individu.
Setiap individu memiliki kewenangan untuk menentukan segala-galanya bagi
negara. Dengan demikian, negara merupakan sarana untuk mencapai tujuan.
Nasionalisme pun juga mengutamakan kemerdekaan individu. Nasionalisme
menjelaskan bahwa negara terdiri atas individu-individu. Oleh karena itu, setiap
negara harus merdeka, bebas dari penindasan negara lain atau pihak manapun.
Dengan kata lain, negara berhak menentukan nasibnya sendiri.

1
Liberalisme beranggapan bahwa manusia yang bersangkutanlah yang
paling tahu akan kebutuhannya. Olehnya itu, manusia harus mendapatkan
kebebasan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing, mengakui
adanya produksi bebas dan perdagangan bebas. Bagi liberalisme, kesejahteraan
sosial yang ada diselesaikan melalui musyawarah dan pengakuan persamaan
manusia.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis dapat merumuskan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari Liberalisme?
2. Bagaimana latar belakang lahirnya liberalisme?
3. Bagaimana Perkembangan Liberalisme (di Amerika ) ?
4. Bagaimana Bentuk Liberialisme di bidang Politik, Ekonomi,Agama ?
5. Bagaimanakah pengaruh Liberalisme terhadap perkembangan sejarah
nasional di Indonesia?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka penulis menetapkan tujuan
pembuatan makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari Liberalisme.
2. Untuk mengetahui latar belakang serta lahirnya liberalisme.
3. Untuk mengetahui Perkembangan Liberalisme (di Amerika )
4. Untuk mengetahui Bentuk Liberalisme di bidang Politik, Ekonomi,Agama
5. Untuk mengetahui pengaruh Liberalisme terhadap perkembangan sejarah
nasional di Indonesia.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Liberalisme

2
Liberalisme berasal dari kata liberal yang bermakna bebas dari batasan,
bebas berpikir, leluasa dan sebagainya. Kata ini aslinya mulai dikenali pada abad
ke-14 melalui Prancis, Latinnya adalah Liberalis. Dan suffixisme yang melekat
setelah kata liberal menunjukkan bahwa “kebebasan berpikir” ini merupakan jenis
kecendrungan yang kemudian belakang hari membentuk sebuah maktab. Dari
sudut pandang etimologi, liberal dapat dilekatkan pada seseorang yang dalam
pandangan-pandangan atau perilaku beragam yang diperbuatnya ia bersikap
toleran. Dengan kata lain, ia tidak bersikap puritan dan fanatik terhadap
pandangannya sendiri. Keyakinan terhadap kebebasan pribadi. Pendapat dan sikap
politik yang menghendaki terjaganya tingkat kebebasan di hadapan hegemoni
pemerintah atau setiap institusi lainnya yang mengancam kebebasan manusia.
(Burdeau, Georges, Le Liberalisme: 16)

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik


yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang
utama. Secara umum,liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas,
dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak
adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme
menghendaki adanya pertukaran gagasan yang bebas,ekonomi pasar yang
mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dansuatu sistem
pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan
terhadap pemilikan individu. Paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi
tumbuhnyakapitalisme.

Ada tiga hal yang mendasar dari Ideolog Liberalisme yakni Kehidupan,
Kebebasan dan Hak Milik (Life, Liberty and Property). Dibawah ini, adalah nilai-
nilai pokok yang bersumber dari tiga nilai dasar Liberalisme tadi:

a. Kesempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being).

Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam


segala bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi
dan kebudayaan. Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda,

3
sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan
tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu
semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak
dari demokrasi.

b. Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, dimana setiap


orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya,
maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik
dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan kenegaraan
dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan – dimana
hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu.( Treat the
Others Reason Equally.)
c. Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah
tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak
menurut kehendak rakyat.(Government by the Consent of The People or
The Governed)

d. Berjalannya hukum (The Rule of Law). Fungsi Negara adalah untuk


membela dan mengabdi pada rakyat. Terhadap hal asasi manusia yang
merupakan hukum abadi dimana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh
pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. Maka
untuk menciptakan rule of law, harus ada patokan
terhadap hukum tertinggi (Undang-undang), persamaan dimuka umum,
dan persamaan sosial.

e. Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu.(The Emphasis of


Individual)[2]

f. Negara hanyalah alat (The State is Instrument). Negara itu sebagai suatu
mekanisme yang digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar
dibandingkan negara itu sendiri. Di dalam ajaran Liberal Klasik,
ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi

4
dirinya sendiri, dan negara hanyalah merupakan suatu langkah saja ketika
usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.

g. Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse


Dogatism). Hal ini disebabkan karena pandangan filsafat dari John
Locke (1632 – 1704) yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu
didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah
berubah.

2.2 Latar belakang lahirnya liberalisme

Lahirnya paham liberalisme merupakan embrio dari perjuangan kaum


liberal yang menentang setiap tindakan yang dianggap menekan kebebasan
individu sebenarnya telah ada di Inggris sebagai reaksi terhadap penindasan yang
dilakukan oleh kaum bangsawan dan kaum agama di zaman absolute monarki
,dimana setiap orang harus tunduk terhadap kekuasaan bangsawan dan agama
dengan adaya kekangan tersebut orang-orang ingin melepaskan diri dan
memperjuangkan kemerdekaan individu .untuk memperjuangkan kemerdekaan .
Kebebasan individu akhirnya dijamin dengan dikeluarkannya Magna Charta th
1215. Isinya piagtam ini Antara lain bahwa seseorang kecuali budak, tidak boleh
ditangkap, dipenjar, disiksa, diasingkan atau disita hak miliknya tanpa cukup alas
an menurut hukum. Kemudian terjadi di beberapa negara.pada tahun 1776 tercatat
dua peristiwa penting dalam sejarah dunia dalam usaha memperjuangkan/kebesan
individu.

Peristiwa yang pertama adalah ditandatanganinya Declration of


Independence dari tiga belas daerah koloni Inggris di Amerika utara dengan
deklarasi ini, maka lepaslah tiga belas koloni ini dari belenggu penjajahan Ingris
dan lahirlah negara Amerika Serikat.Negara ini selanjutnya memegang peranan
yang penting dalam perkembangan sejarah dunia.

5
Peristiwa kedua adalah penerbitan buku karya guru besar dari Skotlandia
yaitu “ The Wealth Of Nations “. Buku karya Adam Smith ini antara lain
mengungkapkan bahwa pembentukan harga di pasar bebas terjadi menurut suatu
mekanisasi dan menentukan arah bagi tenaga kerja, sumber alam dan modal
dalam produksi dan distribusi. Adam Smith (1723-1790) melarang campur tangan
pemerintah dalam urusan ekonomi karena memerintah mempunyai fungsi-fungsi
vital. Pendapat ini menjadi dasar bagi paham liberal dalam bidang ekonomi. Oleh
karena itu, Adam Smith diberi julukan Babak Ekonomi Liberal.

Perturnbuhan dan perkembangan perjuangan kaum liberal semakin nyata


dengan munculnya golongan borjuls di Prancis pada abad ke-18 yang
rnenyuarakan liberalisme sebagai aksi protes terhadap kepincangan yang ada di
Prancis selama itu. Golongan borjuis berhasil rnendekati rakyat untuk menentang
kekuasaan raja yang absolut guna rnendapatkan kebebasan dan kemerdekan dalam
biclang polltik, ekonomi, dan agama. Gerakan ini diilhami oleh buah karya ahll
piker seperti Montesquieu (menulis L’esprit des Lois: jiwa undang-undang) dan
J.J. Rousseau (yang menulis Du Contract socia). Gerakan liberalisme ini akhinya
meningkat menjadi gerakan politik dengan meletusnya Revolusi Prancls tahun
1789. Satu naskah penting dalam bidang politik yang dihasilkan di vvaktu
Revolusi Prancis adalah yang lazim clisebut "La Declaration des Droits de
L’homme et clu Citoyen" (pernyataan hak-hak asasi manusia clan warga negara),
dikumandangkan pada 27 Agustus 1791. Isinya antara lain Sebagai berikut.

1) Persarnaan dalam lapangan politik dan sosial bagi semua warga negara.

2) Penghormatan akan hak milik.

3) Kedaulatan bangsa dan negara.

4) Kemungkinan bagi semua warga negara untuk memegang jabatan-


jabatan umum.

5) Penghormatan akan pendirian, kepercayaan dan agama.

6) Kemerdekaan berbicara dan pers.

6
Selanjutnya lewat kekuasaan Napoleon Bonaparte, paham liberalisme ini
disebarluaskan ke seluruh Eropa dan kemudian menyebar ke seluruh dunia dengan
semboyan ”liberte, egalite, dan fraternite” (kebebasan, persamaan dan
persaudaran). Jadi, Revolusi Prancls itu sebenarnya revolusinya golongan borjuis
yang menuntut adanya kebebasan dan kemerdekaan; dan mereka itu kemudian
disebut golongan liberal.

Tokoh yang memengaruhi paham Liberalisme Klasik cukup banyak – baik


itu dari awal maupun sampai taraf perkembangannya. Berikut ini akan dijelaskan
mengenai pandangan yang relevan dari tokoh-tokoh terkait mengenai Liberalisme
Klasik.

1. Marthin Luther

Gerakan Reformasi Gereja pada awalnya hanyalah serangkaian protes


kaum bangsawan dan penguasa Jerman terhadap kekuasaan imperium Katolik
Roma.

Pada saat itu keberadaan agama sangat mengekang individu. Tidak ada
kebebasan, yang ada hanyalah dogma-dogma agama serta dominasi gereja. Pada
perkembangan berikutnya, dominasi gereja dirasa sangat menyimpang dari
otoritasnya semula. Individu menjadi tidak berkembang, kerena mereka tidak
boleh melakukan hal-hal yang dilarang oleh Gereja bahkan dalam mencari
penemuan ilmu pengetahuan sekalipun. Kemudian timbullah kritik dari beberapa
pihak – misalnya saja kritik oleh Marthin Luther; seperti : adanya komersialisasi
agama dan ketergantungan umat terhadap para pemuka agama, sehingga
menyebabkan manusia menjadi tidak berkembang; yang berdampak luas,
sehingga pada puncaknya timbul sebuah reformasi gereja (1517) yang menyulut
kebebasan dari para individu yang tadinya “terkekang”.

2. John Locke dan Hobbes;

7
Kedua tokoh ini berangkat dari sebuah konsep sama. Yakni sebuah konsep
yang dinamakan konsep negara alamiah" atau yang lebih dikenal dengan konsep
State of Nature. Namun dalam perkembangannya, kedua pemikir ini memiliki
pemikiran yang sama sekali bertolak belakang satu sama lainnya. Jika ditinjau
dari awal, konsepsi State of Nature yang mereka pahami itu sesungguhnya
berbeda. Hobbes (1588 – 1679) berpandangan bahwa dalam “State of Nature”,
individu itu pada dasarnya jelek (egois) – sesuai dengan fitrahnya. Namun,
manusia ingin hidup damai. Oleh karena itu mereka membentuk suatu masyarakat
baru – suatu masyarakat politik yang terkumpul untuk membuat perjanjian demi
melindungi hak-haknya dari individu lain dimana perjanjian ini memerlukan
pihak ketiga (penguasa). Sedangkan John Locke (1632 – 1704) berpendapat
bahwa individu pada State of Nature adalah baik, namun karena adanya
kesenjangan akibat harta atau kekayaan, maka khawatir jika hak individu akan
diambil oleh orang lain sehingga mereka membuat perjanjian yang diserahkan
oleh penguasa sebagai pihak penengah namun harus ada syarat bagi penguasa
sehingga tidak seperti ‘membeli kucing dalam karung’. Sehingga, mereka
memiliki bentuk akhir dari sebuah penguasa/ pihak ketiga (Negara), dimana
Hobbes berpendapat akan timbul Negara Monarkhi Absolute sedangkan Locke,
Monarkhi Konstitusional. Bertolak dari kesemua hal tersebut, kedua pemikir ini
sama-sama menyumbangkan pemikiran mereka dalam konsepsi individualisme.
Inti dari terbentuknya Negara, menurut Hobbes adalah demi kepentingan umum
(masing-masing individu) meskipun baik atau tidaknya Negara itu kedepannya
tergantung pemimpin negara. Sedangkan Locke berpendapat, keberadaan Negara
itu akan dibatasi oleh individu sehingga kekuasaan Negara menjadi terbatas –
hanya sebagai “penjaga malam” atau hanya bertindak sebagai penetralisasi
konflik.

3. Adam Smith

Para ahli ekonomi dunia menilai bahwa pemikiran mahzab ekonomi klasik
merupakan dasar sistem ekonomi kapitalis. Menurut Sumitro Djojohadikusumo,

8
haluan pandangan yang mendasari seluruh pemikiran mahzab klasik mengenai
masalah ekonomi dan politik bersumber pada falsafah tentang tata susunan
masyarakat yang sebaiknya dan seyogyanya didasarkan atas hukum alam yang
secara wajar berlaku dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pemikir ekonomi
klasik adalah Adam Smith (1723-1790).

Pemikiran Adam Smith mengenai politik dan ekonomi yang sangat luas,
oleh Sumitro Djojohadikusumo dirangkum menjadi tiga kelompok pemikiran.
Pertama, haluan pandangan Adam Smith tidak terlepas dari falsafah politik,
kedua, perhatian yang ditujukan pada identifikasi tentang faktor-faktor apa dan
kekuatan-kekuatan yang manakah yang menentukan nilai dan harga barang.
Ketiga, pola, sifat, dan arah kebijaksanaan negara yang mendukung kegiatan
ekonomi ke arah kemajuan dan kesejahteraan mesyarakat. Singkatnya, segala
kekuatan ekonomi seharusnya diatur oleh kekuatan pasar dimana kedudukan
manusia sebagai individulah yang diutamakan, begitu pula dalam politik.

2.3 Perkembangan Liberalisme di Amerika

Kita tahu bahwa paham liberalisme semakin merajalela di berbagai Negara


dibelahan dunia. Dan tampaknya keberhasilan sistem liberal di Amerika Serikat
yang notabene Negara maju mampu menyedot perhatian khalayak dunia akan
pentingnya menengok suatu ideologi yang mendasari sebuah kebebasan sebagai
nilai luhur politik yang utama. Yang perlu kita kaji pertama kali adalah bagaimana
sebenarnya teori dari ideologi ini, dimana ideologi ini mencita-citakan sebuah
masyarakat yang bebas dalam artian sistem pemerintahan bisa dikatakan
transparan dan mendukung serta menolak adanya pembatasan hak indiviu. Dan
fenomena yang sekarang terjadi di masyarakat modern, liberalisme sangat mudah
tumbuh dinegara yang menganut sistem demokrasi. Sesuatu yang lazim kita
temukan di Negara demokrasi besar seperti Amerika Serikat, kebebasan dijunjung
tinggi disana, karena pada dasarnya, latar belakang Amerika merdeka adalah

9
menuntut kebebasan yang sebenarnya tidak mutlak, karena dalam ideologi ini,
kebebasan harus bisa dipertanggungjawabkan. Maka dari itu sampai sekarang,
kebebasan hak individu, kebebasan pasar dan juga pengembangan kemampuan
individu secraa bebas dan maksimal. Tentu saja Negara yang memegang ideologi
liberalisme yang cukup sukses adalah Amerika Serikat, dimana penggunaan
sistem demokrasi yang memang sangat mendasari aktifitas perpolitikannya.

Paham liberal di Amerika Serikat (AS) disebut liberalisme modern atau


'liberalisme baru. Sekarang para politis di AS rnengakui bahwa paham liberalisme
klasik ada kaitannya dengan kebebasan individu yang bersifat luas. Akan tetapi
mereka menolak ekonomi yang bersifat laissez faire atau liberalisme klasik yang
menuju ke pemerintahan interventionism yang berupa penyatuan persarnaan sosial
dan ekonomi.

Liberalisme AS mulai bangkit pada awal abad ke-2O sebagai suatu


alternatif ke politik nyata yang merupakan interaksi internasional yang dominan
pada waktu itu. Presiden Franklin Roosevelt yang pada saat itu adalah seorang
yang berpaharn liberal self proclaimed menawarkan bangsa itu menuju ke suatu
kesuksesan baru dengan Cara rnembangun institusi kolaboranf yang didukung
orang-orang Amerika sendiri dan berjanji akan rnenarik AS ,keluar dari tekanan
yang besar tersebut. Untuk mengantisipasiakhir Perang Dunia ll, Roosevelt
merancang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai suatu alat berupa harapan
akan kerja sama tirnbal balik claripada mernbuat ancarnan dan penggunaan
kekuatan perang untuk mernecahkan bermasalanan politis internasional tersebut.
Roosevelt juga mengunakari badan tersebut (PBB) untuk mernasukan orangb-
orang Afrika yang tinggal di Amerika ke dalarn._militer. AS serta membuat badan
pendukung hak dan kebebasan para wanita sebagai penekanan atas kebebasan
individu yang selanjutnya dilanjutkan oleh Presioen John F. Kennedy dengan
pembangunan Patung Liberty (196l) sebagai simbol kebebasan individu untuk
hidup.

10
Sebenarnya, liberalisme yang dianut oleh AS, sebagairnana yang
ditekankan oleh Wilson dan Roosevelt adalah dengan menekankan kerja sama
serta kolaborasi timbal balik dan usaha individu, bukan dengan membuat ancaman
dan pemaksaan sebagai untuk pemecahan permasalahan politis, baik di dalam
maupun luar. Suatu paham liberal di AS itu mungkin seperti institusi dan prosedur
politis yang mendorong kebebasan ekonomi, perlindungan yang Iemah dari agresi
oleh yang kuat, dan kebebasan dari norma-norma social bersifat membatasi. Sejak
Perang Dunia Il, liberalisme di AS telah dihubungkan dengan liberalisme modern,
pengganti paham ideology liberalisme klasik dimana kepemilikan individu sangat
bebas. Sehingga pada saat itu banyak berdiri perusahaan-perusahaan swasta akibat
dari sistem ekonomi liberalisme ini. Sebenarnya saat ini Amerika Serikat tidak
semata-mata hanya menganut sistem ekonomi liberalisme atau kapitalisme.
Pemerintah Amerika Serikat dewasa ini juga sudah mulai ikut mengatur
perekonomian di negaranya karena bagaimanapun peran pemerintah dalam
kegiatan perekonomian sangatlah signifikan. Maka dari itu, sekarang sudah
terhitung banyak perusahaan-perusahaan yang tadinya milik individu kemudian
mulai diambil alih oleh negaranya contohnya Pemerintah Amerika Serikat yang
akhirnya mengambil alih dua perusahaan dalam bidang pembiayaan perumahan
Fannie Mae dan Freddie Mac guna mencegah adanya krisis finansial yang
mungkin dapat berlanjut. Dan juga beberapa sumber-sumber produksi yang
notabene berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat luas juga sudah mulai di
ambil haknya oleh Negara. Ini membuktikan bahwa Amerika Serikat sudah
mengarahkan sistem ekonominya mendekati atau mengadopsi niali-nilai sistem
ekonomi sosialisme. Ini disebabakan pemerintahan Amerika Serikat mulai
ketakutan dan khawatir terhadap keadaan perekonomiannya yang kita tahu sedang
kacau. Dimana tak sedikit perusahaan-perusahaan besar yang bangkrut, kemudian
banyak pula kredit macet yang menghantui ekonomi Amerika Serikat yang
akhirnya hanya akan berimbas pada krisis global. Maka berdasarkan apa yang tadi
kita diskusikan di atas, Amerika Serikat untuk saat ini menganut sistem ekonomi
campuran antara kapitalisme dan sosialisme. Dan memang pada dasarnya tak ada

11
sistem yang sempurna, semua sistem sejatinya bekerja saling melengkapi satu
sama lain.
Inilah yang kemudian membuat beberapa Negara terbuka hatinya untuk
tidak selalu fokus pada suatu sistem yang dianut oleh Negara maju hanya karena
keberhasilan yang berhasil didulang. Sejatinya setiap sistem pasti pernah didesain
untuk sebuah keadaan tertentu, dan mungkin memang keadaan Amerika Serikat
sampai sekarang cocok dengan sistem demokrasi. Namun faktanya seperti yang
dikuak diatas bahwa Amerika Serikat pun yang notabene Negara demokrasi besar
juga memasukkan unsur-unsur sosialis yang dominan dinegara komunis. Ini
membuktikan bahwa setiap Negara pada dasarnya mencari sistem yang paling
cocok dan pas dengan keadaan yang sekarang. Dan memang setiap sistem pada
dasarnya juga saling melengkapi, tinggal bagaimana memilah-milah nilai-nilai
yang terkandung pada sebuah sistem atau ideologi dan menyempurnakannya
dengan unsure-unsur ideologi lain yang bisa dijalankan dengan selaras.

2.4 Bentuk Liberalisme Dalam Bidang Politik, Ekonomi, dan Agama

Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa liberalisme menurut


kemerdekaan individu terhadap kaum bangsawan dalam bentuk kemerdekaan
politik dan ekonomi sedangkan terhadap golongan gereia / agama liberalisme
menurut kemerdekaan dalam bidang agama. Dengan demikian paham liberal
nampak dalam bidang politik, ekonomi dan agama.

1. Liberalisme Dalam Bidang Politik

Komponen dasar politik liberal mulai ditetapkan setelah revolusi, berturut-


turut di Inggris (1688), Amerika (1776), dan Prancis (1789).Diantaranya yang
utama adalah prinsip aturan hokum yang memberitahukan berbagai pernyataan
hak-hak asasi manusia (bill of rights) dan konstitusi yang dirancang untuk
menetapkan tatanan politik baru yang muncul dari pristiwa-pristiwa tersebut. Ada
dua kriteria yang menjadi pedoman dalam mengkerangkakan dokumen-dokumen

12
ini. Pertama, hukum harus diterapkan secara tidak memihak dan berlaku untuk
umum. Tidak ada pengecualian khusus bagi kelompok-kelompok tertentu, seperti
pendeta/pastor, kaum ningrat atau golongan bangsawan seperti yang dialami atau
terjadi pada masa lalu. Kedua, hokum ada untuk menjamin sebesar mungkin hak-
hak yang sama bagi setiap individu dalam mencapai rencana hidupnya sendiri,
bagi kebanyakan kaum liberal, pada dasarnya hak-hak yang paling mendasar
sehubungan dengan ini adalah hak-hak kepemilikan pribadi dan kebebasan
beragama. Hak-hak ini merupakan hal yang niscaya bagi pemahaman mereka atas
kebajikan toleransi dan mekanisme pasar yang mereka anggap sebagai penjemaan
dari sebuah etos baru. Seperti yang akan kita lihat, kedua komitmen ini telah
dimodifikasi, meskipun yang dimodifikasi bukanlah pertimbangan umum yang
mendasarinya. Paham liberal dalam bidang politik nampak dalam demokrasi dan
nasionalisme.

a. Golongan liberal beranggapan bahwa masyarakat terbentuk oleh individu-


individu. Oleh karena itulah individulah yang berhak menentukan segalanya
dalam masyarakat (negara). Kedaulatan harus berada ditangan rakyat. Dengan
demikian timbullah sistem pemerintahan. Demokrasi, yang menuntut adanya
UUD, pemilihan umum, kemerdekaan pers, dan kemerdekaan berbicara.

b. Paham liberal mengutamakan kemerdekaan individu. Negara terdiri dari


individu-individu. Negara adalah milik dari pada individu yang membentuk
negara itu, maka yang berhak mengatur dan menentukan nasib suatu negara ini
menghendaki pemerintahan sendiri dan menentang segala bentuk campur
tangan serta penindasan dari bangsa lain. Dengan demikian liberalisme
melahirkan semangat nasionalisme. Di Asia umumnya dan di Indonesia
khususnya, nasionalisme ini muncul sebagai akibat adanya penindasan dari
bangsa barat, sedangkan di negara-negara Eropa, nasionalisne muncul untuk
menentang kekuasaan raja yang absolute.

2. Liberalisme Dalam Bidang Ekonomi

Memurut golongan liberal, setiap individu akan lebih mengetahui


kebutuhannya sendiri dari pada orang lain. Oleh karena itu seandainya setiap
13
individu diberi kemerdekaan untuk mendapatkan kebutuhannya, pasti kebutuhan
rakyat akan terpenuhi. Jadi liberalisme menurut sistem perekonomian yang bebas
tanpa adanya campur tangan pemerintah, dengan semboyannya laisser faire,
laisser passer, le monde va de lui-meme. Salah satu pemikir ekonomi klasik
adalah Adam Smith (1723-1790). Pemikiran Adam Smith mengenai politik dan
ekonomi yang sangat luas, oleh Sumitro Djojohadikusumo dirangkum menjadi
tiga kelompok pemikiran. Pertama, haluan pandangan Adam Smith tidak terlepas
dari falsafah politik, kedua, perhatian yang ditujukan pada identifikasi tentang
faktor-faktor apa dan kekuatan-kekuatan yang manakah yang menentukan nilai
dan harga barang. Ketiga, pola, sifat, dan arah kebijaksanaan negara yang
mendukung kegiatan ekonomi ke arah kemajuan dan kesejahteraan mesyarakat.
Singkatnya, segala kekuatan ekonomi seharusnya diatur oleh kekuatan pasar
dimana kedudukan manusia sebagai individulah yang diutamakan, begitu pula
dalam politik.

Atas dasar semangat liberalisme, kaum kapitalis berhasil mengembangkan


usahanya demi keuntungan yang berusaha mempengaruhi politik pemerintah
untuk mengadakan perlusan wilayah guna menunjang industrinya. Dengan
demikian akibat lebih lanjut timbul imperalisme modern.

Liberalisme dapat didefinisikan sebagai suatu doktrin dan seperangkat


prinsip-prinsip untuk mengorganisasi dan menangani ekonomi pasar agar upaya
dapat mencapai efisiensi, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan individu secara
maksimal.

Ciri umum :

Semua bentuk liberalisme mempunyai komitmen yang kuat terhadap pasar


dan mekanisme harga sebagai cara untuk mengorganisir hubungan ekonomi
domestik dan internasional.

Pemikiran nasional dari sistem pasar adalah bahwa sistem pasar


meningkatkan efisiensi, memaksimalkan pertumbuhan ekonomi dan oleh
karenanya memaksimalkan kesejahteraan umat manusia.

14
Tujan utama dari aktivitas ekonomi adalah untuk memberikan
keuntunganmaksimal bagi konsumen walaupun mereka percaya bahwa aktivitas
ekonomi dapat juga meningkatkan national power. Premis fundamental
liberalisme adalah bahwa konsumen, perusahaan atau rumah tangga adalah basis
masyarakat. Individu akan bertindak rasional dan akan memaksimalkan atau
memuaskan nilai-nilai tertentu dengan biaya seminimal mungkin.

Kaum liberal beragumen bahwa individu akan berusaha untuk mencapai


tujuan hingga suatu equilibrium pasar tercapai, yakni biaya yang berhubungan
dengan pencapaian tijuan itu sepadan dengan keuntungan yang diperoleh.
Liberalisme juga menganggap bahwa suatu pasar ada dalam yang mana individu-
individu mempunyai informasi yang lengkap dan oleh karenanya memilih
tindakan yang paling tepat.

Liberalisme menganggap bahwa ekonomi pasar ditentukan oleh hukum


permintaan. Orang akan membeli barang dalam jumlah besar jika harga rendah
dan akan membeli barang dalam jumlah sedikit jika harga tinggi. Pada prinsipnya
kaum liberal percaya bahwa perdagangan dan hubungan ekonomi adalah
mengakibatkan hubungan yang damai dan saling menguntungkan dalam
perdagangan dan memperluas inter-depensi antar bangsa. Sementara politik
cenderung membagi bangsa-bangsa, ekonomi sebaliknya menyatukan bangsa-
bangsa. Ekonomi liberal internasional akan berpengaruh terhadap perdamaian
international. Akan tetapi perlu di tekankan bahwa walaupun setiap negara
memperoleh keuntungan absolute, perolehan mereka secara ‘relatif’ tak sama.

1.3 Liberalisme Dalam Bidang Agama

Masalah hubungan antara makhluk dengan penciptanya adalah masalah


pribadi. Oleh karena itu menurut golongan liberal, tidak seorangpun yang
diperkenankan mempengaruhi atau memaksa kebebasan beragama.. Kebebasan
beragama ini mempunyai arti :

a. Bebas untuk memilih suatu agama,

b. Bebas untuk menjalankan ajaran agama sesuai dengan agamanya,


15
c. Bebas untuk tidak memilih agama.

2.5 Pengaruh Liberalisme terhadap perkembangan sejarah nasional di


Indonesia

Liberalisme berpengaruh terhadap perkembangan paham demokrasi dan


nasionalisme atas bangsa-bangsa di dunia. Bagi bangsa yang sedang terjajah,
liberalisme sejalan dengan pertumbuhan paham nasionalisme yang sama-sama
menginginkan terbentuknya negara yang berpemerintahan sendiri. Kesadaran
tersebut tumbuh karena setiap bangsa memiliki hak untuk menentukan nasibnya
sendiri.

Berikut Pengaruh Liberalisme Terhadap Perkembangan Sejarah Nasional


di Indonesia :

Bidang Ekonomi

Sistem ekonomi kolonial antara tahun 1870 dan 1900 pada umumnya
disebut sistem liberalisme. Yang dimaksudkan disini adalah bahwa pada masa itu
untuk pertama kalinya dalam sejarah kolonial, modal swasta diberi peluang
sepenuhnya untuk mengusahakan kegiatan di Indonesia, khususnya perkebunan-
perkebunan besar di Jawa maupun di luar Jawa. Selama masa ini, pihak-pihak
swasta Belanda maupun swasta Eropa lainnya mendirikan berbagai perkebunan-
perkebunan kopi, teh, gula, dan kina. Pembukaan perkebunan-perkebunan besar
ini dimungkinkan oleh Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) yang
dikeluarkan pada tahun 1870. Pada suatu pihak Undang-undang Agraria membuka
peluang bagi orang-orang asing, artinya orang-orang bukan pribumi Indonesia
untuk menyewa tanah dari rakyat Indonesia. (Poesponegoro, Marwati Djoned:
118, 1993)

16
System ekonomi liberal mempermudah bank ekspor maupun impor modal.
Penanaman modal di Indonesia terutama terjadi pada industri gula, timah, dan
tembakau yang mulai berkembang sejak tahun 1885. dengan dihapuskannya
tanam paksa secara berangsur-angsur, maka tanaman wajib pemerintah diganti
dengan perkebunan-perkebunan yang diusahakan oleh pengusaha-pengusaha
swasta.
Penghapusan tanam paksa menyebabkan munculnya sistem ekonomi
liberal, dimana Indonesia dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan modal
mereka. Pada masa Liberalisme, komersialisme terhadap bangsa Indonesia
tampak dengan:
1. Indonesia dijadikan tempat untuk mencari bahan mentah untuk kepentingan
Industri orang-orang Eropa
2. Indonesia dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan modal bagi para
pengusaha swasta asing. Dengan cara menyewa tanah rakyat untuk dijadikan
perkebunan-perkebuan besar.
3. Indonesia juga dijadikan sebagai tempat untuk memasarkan hasil-hasil
Industri Eropa.
Pada masa Liberalisme ini pulalah merupakan awal munculnya
industrialisasi di Indonesia. Munculnya Industrialisasi ditandai dengan
dikeluarkannya Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) tahun 1870 ,yang
memberikan peluang bagi pengusaha asing (pengusaha dari Inggris, Belgia,
Perancis, Amerika Serikat, Cina, dan Jepang) untuk menyewa tanah dari rakyat
Indonesia tetapi tidak boleh menjualnya. Mereka mulai datang ke Indonesia untuk
menanamkan modal dan untuk memperoleh keuntungan yang besar.
Tanah penduduk Indonesia yang awalnya merupakan milik pribadi
tersebut harus disewa untuk jangka waktu tertentu (25 tahun untuk tanah
pertanian, 75 tahun untuk tanah ladang) oleh para pemilik modal swasta asing.
Penduduk hanya mendapatkan uang sebagai uang sewa tanah tersebut.Tanah yang
disewa kemudian dijadikan `perkebunan-perkebunan besar yang dilengkapi
dengan pabrik-pabrik untuk mengolah hasil perkebunan tersebut. Perkebunan-
perkebunan tersebut diantaranya Perkebunan Kopi, Teh, Gula, Kina dan
Tembakau. Di Deli, Sumatra Timar. Industri di Indonesia awalnya memang hanya

17
industri perkebunan tetapi perkembangannya di Indonesia terdapat industri mesin,
industri tambang, dsb. Para pengusaha Indonesia tidak mampu mengalah
pengusaha swasta asing.
Sebagai ganti dari eksploitasi pemerintah akan dijalankan kebebasan
berusaha dan kerja paksa akan diganti dengan kerja bebas. Akan teatapi sekali lagi
perlu diingat, baik partai liberal maupun partai konservatif sepakat bahwa daerah
jajahan harus membantu Negara induk dalam kesejahteraan materialnya.
Keduanya tidak berkeberatan akan penyumbangan surplus anggaran belanja
Hindia- Belanda kepada Nedherland. Soal yang dihadapai golongan liberal adalah
bukan bagaimana mengatur daerah koloni, tetapi bagaimana mengatur daerah
koloni untuk mendapatkan uang. Dengan demikian, penghapusan tanam paksa
tidak berarti berakhirnya penderitaan rakyat karena penarikan modal pemerintah
digantikan dengan pemasukan modal swasta.
Terbukanya Indonesia bagi swasta asing berakibat munculnya perkebunan-
perkebunan swasta asing di Indonesia seperti perkebunan teh dan kina di Jawa
Barat, perkebunan tembakau di Deli, perkebunan tebu di Jawa Tengah dan Jawa
Timur, dan perkebunan karet di Serdang. Selain di bidang perkebunan, juga terjadi
penanaman modal di bidang pertambangan batu bara di Umbilin. Menurut
Swanto, dkk. (1997) pengaruh gerakan liberal terhadap Indonesia secara umum
adalah :
1). Tanam paksa dihapus.
2). Modal swasta asing mulai ditanamkan di Indonesia.
3). Rakyat Indonesia mulai mengerti akan arti pentingnya uang.
4). Usaha kerajinan rakyat terdesak oleh barang impor.
5). Pemerintah Hindia Belanda membangun sarana dan prasarana.
6). Hindia Belanda menjadi penghasil barang perkebunan yang penting

Perkebunan-perkebunan gula, kopi, tembakau dan tanaman-tanaman


perdaganagn lainnya mengalami perkembangan yang paling pesat antar tahun
1870 dan 1885. Selama masa ini para pengusaha-perkebunan-perkebuann
memperoleh keuntungan-keuntungan yang besar sekali dari penjualan tanaman

18
dagang ini di pasaran dunia. Untuk sebagian besar perkembangna pesat ini
disebabkan oleh pembukaan terusan Suez dalam tahun 1869 yang sangat
mengurangi jarak antra Negara penghasil tanaman dagang dan pasaran-pasaran
dunia yang terpenting di dunia.
Setelah tahun 1885 perkembangan tanaman dagang mulai berjalan agak
seret yang disebabkan oleh jatuhnya harga-harga koli dan gula di pasaran dunia.
Dalam tahun 1891 harga tembakau di pasaran dunia juga jatuh dengan pesat
sehingga membahayakan kelangsungan hidup perkebunan-perkebunan. Jatuhnya
harga.
Kondisi-kondisi yang menguntungkan bagi penanam modal asing dijamin
oleh pemerintah colonial, seperti tenaga kerja dan sewa tanah yang murah. Hal itu
dapat dilihat dari isi Undang-Undang agrarian tahun 1870, suatu peraturan yang
umumnya dianggap sebagai dimulainya politik colonial liberal di hindia Belanda.
Peraturan tersebut pada pokoknya berisi dua hal, yaitu pengambilalihan tanah
milik penduduk tidak diperbolehkan, dan orang asing boleh menyewa tanah untuk
perkebunan. Tidak mengherankan bahwa sesudah tahun 1870 modal asing
semakin meningkat mengalir ke Jawa secara intensif.
Pada tahun 1882 pajak kepala diadakan dengan maksud untuk
menggantikan wajib kerja. Jumlah per kepala dipungut dari semua warga desa
yang kena wajib kerja. Pada tahun ini juga dihapuskan pancen diensten, yang
terdiri atas 15 jenis, kecuali kerja wajib untuk perbaikan jalan, dam, tanggul dan
saluran air. Dalam politik liberal penetrasi usaha kapitalis berpenetrasi sampai ke
individu. Konversi tanah yang dikuasai perseorangan menjadi tanah yang dikuasai
tuan perkebunan berarti tanah masuk obyek komersialisasi. Perkembangan
selanjutnya sebagian ditentukan oleh factor-faktor modernisasi lain, seperti
komunikasi, birokrasi, adukasi dan industrialisasi pertanian.
Pelaksanaan politik kolonial liberal ternyata tidak lebih baik dari pada
tanam paksa. Justru pada masa ini penduduk diperas oleh dua pihak. Pertama oleh
pihak swasta dan yang kedua oleh pihak pemerintah. Pemerintah Hindia Belanda
memeras penduduk secara tidak langsung melelui pajak-pajak perkebunan dan
pabrik yang harus dibayar oleh pihak swasta. Padahal, pihak swasta juga ingin

19
mendapat keuntungan yang besar. Untuk itu, para buruh diibayar dengan gaji yang
sangat rendah, tanpa jaminan kesehatan yang memadai, jatah makan yang kurang,
dan tidak lagi mempunyai tanah karena sudah disewakan untuk membayar hutang.
Disamping itu, para pekerja perkebunan diikat dengan sistem kontrak, sehingga
mereka tidak dapat melepaskan diri. Mereka harus mau menerima semua yang
telah ditetapkan oleh perusahaan. Mereka tidak berani melarikan diri walaupun
menerima perlakuan yang tidak baik, karena mereka akan kena hukuman dari
pengusaha jika tertangkap. Pihak pengusaha memang mempunyai peraturan yang
disebut Poenale Sanctie (peraturan yang menetapkan pemberian sanksi hukuman
bagi para buruh yang melarikan diri dan tertangkap kembali). Keadaan yang
demikian ini menyebabkan tingkat kesejahteraan rakyat semakin merosot
sehingga rakyat semakin menderita.
Jadi, pada masa tanam paksa rakyat diperas oleh pemerintah Hindia
Belanda, sedangkan pada masa politik pintu terbuka rakyat diperas baik
pengusaha swasta maupun oleh pemerintah. Walaupun pemerintah melakukannya
secara tidak langsung. Kekuatan liberal mendesak pemerintahan kolonial
melindungi modal swasta dalam mendapatkan tanah, buruh, dan kesempatan
menjalankan usaha atau perkebunan. Negara menjadi pelayan modal lewat
dukungan infrastruktur dan birokrasi, dengan menelantarkan pelayanan
masyarakat. Dengan demikian politik kolonial liberal yang semula menghendaki
liberalisasi tanah jajahan lalu berkembang menjadi bagaimana mengatur tanah
jajahan untuk memperoleh uang.

Perkebunan-perkebunan besar di Jawa berkembang dengan pesat di dalam


liberal, yang sangat menguntungkan pihak mswasta Belanda maupun pemerintah
colonial, maka di lain pihak tingkat kesejahteraan orang-orang Indonesia di jawa
semakin mundur. Di pihak lain angka-angka yang tersedia mengenai produksi
bahan makanan memperlihatkan bahwa kenaikan produksi ini malahan lebih
rendah lagi daripada kenaikan jumlah penduduk. Disamping itu, krisis yang telah
dialami perkebunan-perkebunan besar sekitar tahun 1885 juga membawa
pengaruh buruk bagi penduduk Jawa karena penyempitan operasi perkebunan-

20
perkebunan ini berarti pula penyempitan penghasilan penduduk Jawa, baik yang
berupa upah bagi pekerjaan di perkebunan maupun yang berupa sewa tanah.
Kemakmuran yang telah menurun dari penduduk Jawa disebabkan oleh
beberapa faktor.Pertama pertumbuhan penduduk yang pesat telah mengakibatkan
perbandingan antara jumlah penduduk (faktor produksi tanah) yang terbatas dilain
pihak tidak lagi seimbang akhirnya berakibat hokum pertambahan hasil yang
berkurang, kenaikan produksi pertanian juga berkurang. Kedua, perkembangan
produksi pertanian yang tidak menguntungkan ini juga tidak dapat diubah dengan
penggunaaan peralatan pertanian yang lebigh efisien berhubung para petani rata-
rata sangat kekurangan modal sebagai akibat kemiskinan mereka. Ketiga, politik
pemerintahan colonial terhadap pulau Jawa. Yang mana berarti bahwa penduduk
Jawalah yang harus menanggung segala beban untuk mengatur dan memerintah
daerah koloni di luar Jawa. Keempat yaitu adanya system perpajakan yang sangat
regresif, artinya sangat memberatkan golongan yang berpendapatan rendah, untuk
sebagian terbesar terdiri dari orang- orang Indonesia pribumi, akan tetapi di lain
pihak sangat meringankan golongan yang berpendapatan tinggi, yang untuk
sebagian besar terdiri atas orang-orang Eropa. Faktor kelima, adanya krisis yang
telah melanda perkebunan-perkebunan besar sekitar tahun 1885. Kejadian ini
telah mendorong perkebunan-perkebunan besar di Jawa untuk mengadakan
penghematan-penghematan drsatis yang dicari dalam penekanan upah dan sewa
tanah sampai tingkat yang serendah mungkin.

21
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

22
DAFTAR PUSTAKA

Suhelmi, Ahmad. 2007. Pemikiran Politik Barat. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama,

Agung,Leo.2013. Sejarah Intelektual.Yogyakarta :Ombak

Deliar Noer. 1998. Pemikiran Politik di Negeri Barat. Jakarta : Mizan,

Poesponegoro, Marwati Djoned. 1993. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta:


Balai Pustaka

Sukarna. 1981. Ideologi : Suatu Studi Ilmu Politik. Bandung : Alumni.

http://arifsetiawan06.blogspot.com/2011/12/liberalisme.html (diakses 25 Oktober


2013)

23